Anda di halaman 1dari 1

Mendagri Salah Alamat Soal Gugatan Pemilukada Aceh ke MK

Yul | Rabu, 11 Januari 2012 Jakarta Anggota Komisi II DPR darif fraksi PDI Perjuangan Arif Wibowo dinilai salah alamat soal gugatan Mendagri ke MK terkait kisruh Pemilukada Aceh. "MK tidak memiliki kompetensi absolut untuk mengadili semua sengketa selain enam kewenangan yang menjadi ranahnya," katanya di Jakarta, Rabu (11/1). Sebagaimana diketahui dalam gugatannya ke MK, Mendagri meminta KPU membuka peluang pendaftaran kembali bakal calon kepala daerah Aceh dengan memberi tambahan waktu agar partai-partai yang berhak bisa berpartisipasi. Sehingga konflik yang terjadi di negeri Serambi Mekah ini bisa dihentikan. Menurut Arif, tugas MK hanya menguji undang-undang terhadap UUD, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD, memutus pembubaran partai politik, memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum, pendapat DPR bahwa presiden atau wakil diduga telah melakukan pengkhianatan negara, serta penanganan sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Menurut Arif, Mendagri tidak memiliki dasar hukum untuk menggugat keputusan KIP (Komisi Independen Pemilihan) Aceh tersebut. "Sebab apabila materi yang hendak digugat Mendagri adalah terkait Keputusan KIP tentang penetapan tahapan dan jadwal PemiluKada Aceh, beserta keputusan penetapan pasangan calon dalam Pemilu Kada Aceh, maka pengadilan yang berwenang mengadili yaitu PTUN setempat," ujarnya. Namun, tambahnya, jika Mendagri bermaksud menggugat substansi peraturan KPU tentang pedoman-pedoman penyusunan tahapan, program dan jadwal penyelenggaraan pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah, maka lembaga yang berwenang adalah Mahkamah Agung dalam bentuk uji materiil. Namun jika masalahnya untuk mengakomodir tuntutan DPR Aceh yang bermaksud meminta perpanjangan waktu pencalonan maka ada mekanisme yang bisa ditempuh yaitu menggunakan Pasal 236A UU No 8/2005 tentang Penetapan Perpu No.3/2005. Kalau terjadi bencana alam, kerusuhan, atau gangguan keamanan yang berakibat pemilihan tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan jadwal, pemilihan ditunda yang ditetapkan lebih lanjut dengan PP No.17/2005. Menurut Ketua Pansus RUU Pemilu tersebut, terlihat adanya kepentingan politik dalam gugatan tersebut. Bahkan, semakin menguatkan dugaan bahwa pemerintah masuk dalam pusaran kepentingan salah satu kekuatan politik di Aceh. "Kalau KIP tetap tidak mau mengusulkan penundaan tahapan Pemilu Kada Aceh, maka pemerintah harus berani membuat Perpu atau merevisi PP 17/2005 dengan memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk mengusulkan penundaan sebagian atau seluruh tahapan pemilukada," tegasnya. []