Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH KECEPATAN PUTAR DAN TEKANAN TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN SAMBUNGAN FRICTION WELDING ANTARA BAHAN

PADUAN TEMBAGA DAN PADUAN AlUMINIUM


Adhy Purnomo1), AP Bayuseno 2), Sri Nugroho2), Poedji Haryanto1) 1) Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof. Sudarto SH, Tembalang, Semarang, 50275 Telp : (024)-747317. Fax : (024)7472396 E-mail : a_nomoid@yahoo.com 2) Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Mesin, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Sudarto SH, Tembalang, Semarang, 50275
Abstrak Pengelasan dua material berbeda sulit dilakukan. Bila dilakukan akan terjadi retak panas dan porositas. Upaya untuk memperbaiki, telah dikembangkan proses pengelasan keadaan lumer seperti teknik friction welding (FRW). Proses friction welding (FRW) merupakan teknik pengelasan material dalam kondisi lumer (tidak mencapai titik cair). Prosesnya material dijepit supaya tidak terlempar, sebuah material berputar diarahkan bertemuan material yang disambung, dan pertemuan dua sisi material karena adanya penekanan. Tulisan ini meneliti pengaruh gaya tekan, kecepatan putar dan waktu pengelasan gesek logam yang berbeda, antara paduan aluminium dan paduan tembaga terhadap kualitas sambungan las. Parameternya adalah gaya tekan, kecepatan putar dan waktu kontak. Proses pengelasan menggunakan mesin bubut yang dilengkapi mekanisme pembebanan. Kualitas las diujian foto struktur mikro dan kekerasan pada daerah sambungan las. Hasil pengujian menunjukkan terjadi proses pengelasan pada kedua permukaan metal. Kekerasan meningkat dan adanya percampuran kedua logam di daerah sambungan pengelasan. Kata kunci : tembaga dengan aluminium, berputar, panas, penekanan.

I.

PENDAHULUAN

Aluminium merupakan unsur logam di bumi mencapai 7,5% sampai 8,1% dan bersaing kuat dibandingkan dengan logam lain seperti besi. Aluminium mempunyai sifat mekanik baik dan nilai ekonomis serta serbaguna dalam penggunaannya seperti pada pesawat terbang, otomobil dan industri. Sifat mekanik aluminium dan paduannya memiliki kekuatan relatif tinggi, sangat sesuai penggunaannya untuk berbagai aplikasi karena ringan, fabrikasi, kekuatan dan tahan korosi. Aluminium dengan paduan seperti seri 2000, seri 5000, seri 6000, seri 7000 masing masing mempunyai perbedaan sifat mampu las. Pada Aluminium paduan secara umum dengan perlakuan T3 mempunyai sifat mampu lasnya rendah karena kandungan tembaga (Cu) cukup

tinggi yang menyebabkan mudah terjadi retak panas dan porositas. Maka upaya untuk memperbaiki telah dikembangkan suatu proses pengelasan keadaan lumer seperti teknik friction welding (FW) yang merupakan perbaikan versi proses friction welding dan dapat mengelas beberapa aluminium paduan yang sulit disambung dengan proses pengelasan cair.

Gambar 1. Friction Welding Proses friction welding (FW) merupakan teknik pengelasan baru yang dapat menyambung material

28

dalam kondisi lumer (tidak mencapai titik cair). Prosesnya adalah material yang akan disambung dijepit cukup kuat supaya saat proses pengelasan material yang disambung tidak terlempar. Sebuah material berputar diarahkan bertemuan dua material yang disambung dan bergerak maju pada sumbunya material kemudian pertemuan dua sisi material yang disambung dan diarahkan dengan adanya penekanan. Sebagai mana material menjadi plastis karena panas yang dibangkitkan oleh adanya gesekan antara material, kemudian kedua material yang disambung menjadi dingin dan membentuk ikatan dalam keadaan padat. Proses pengelasan meskipun tidak mencapai pelelehan, prosesnya tetap dilakukan dalam kondisi panas namun tidak menghasilkan gas yang terperangkap, tidak ada porosit serta butiran mikrostruktur halus pada daerah nugget. Pada paper ini peneliti melakukan pengujian sambungan pengelasan gesek logam yang berbeda antara logam paduan aluminium dan logam paduan tembaga. Pengaruh kekerasan di sambungan pengelasan yang terjadi, bila tekanan gesek dirubah, dan dalam waktu gesekan yang berbeda pula.

Gambar 2. Diagram umum arah penekanan pengelas gesekan. (AWS A3.0M/A3.0,2010) Pada dasarnya, ada tiga varian Pengelasan gesekan: putar, linear dan orbital (Gambar 3.). Pengelasan rotary gesekan adalah metode paling lama dan paling populer di mana salah satu komponen diputar pada porosnya sementara yang lain tetap diam. Maka dua komponen dibawa bersama di bawah tekanan gesekan. Tergantung pada cara dimana energi rotasi diubah menjadi panas gesekan, las gesekan rotary dapat dibagi menjadi dua variasi proses utama: drive langsung (drive kontinu) dan inersia drive (energi tersimpan). Penggerak langsung telah digunakan secara komersial sejak tahun 1940. Hal ini membutuhkan energi yang konstan dari sumber kelembaman, yang dikembangkan dalam 1960-an, menggunakan energi kinetik yang tersimpan dalam putaran flywheel. Dalam pengelasan gesekan linier (LFW), bagian bergerak di bawah tekanan gesekan relatif terhadap satu sama lain dalam mode bolak balik. Metode ini telah digunakan sejak 1980-an.

II. TEORI DASAR DAN RUJUKAN ARTIKEL


A. Dasar Teori Proses friction welding (FRW) menghasilkan mengelas di bawah kontak kompresi kekuatan benda kerja berputar atau bergerak relatif satu sama lain untuk menghasilkan panas dan plastically. Dibandingkan dengan proses penyambungan lainnya, pengelasan gesekan tidak menyebabkan terjadinya distorsi dan tegangan sisa yang besar. Pengelasan gesekan pada Gambar 2.1. menunjukan hubungan antara waktu dengan beberapa parameter, dalam hal ini parameter tersebut adalah kecepatan putaran, gaya gesekan, gaya penekanan (forging)

Gambar. 3. Variasi metode pengelasan gesekan. (Maalekian, 2007)

PENGARUH KECEPATAN PUTAR DAN ... (Adhy Purnomo, AP Bayuseno, Sri Nugroho, Poedji Haryanto)

29

Metode lain adalah gesekan Pengelasan orbital (OFW) , yang merupakan kombinasi pengelasan gesekan linear dan rotasi. Dengan kata lain, dalam OFW, dua bagian untuk menjadi bergabung diputar di sekitar sumbu longitudinal, dengan kecepatan sudut yang sama konstan. Ketika gerakan komponen berhenti, bagian harus benar disesuaikan dengan membentuk sebuah las. Metode ini diperkenalkan pada awal 1970

Tabel. 1. Konversi beban terhadap tekanan gesek


No 1 2 3 4 Diameter benda uji d (mm) 10 10 10 10 Beban m (kg) 2 2.5 3 5 Tekanan gesek (Pf) (MPa) 39 48 58 97 (forging)

B.

Rujukan Artikel

Gambar 4. Skematis yang menunjukkan langkah dasar dalam proses pengelasan gesekan (Maalekian, 2007) Pengelasan gesekan terjadi bila salah satu benda diputar , dan benda lainnya diam (Gambar 2.3. A). Kedua benda tersebut dipertemukan dalam kondisi salah satu benda berputar dan lainnya diam (Gambar 2.3. B), pada kondisi ini merupakan awal proses pengelasan sampai terbentuk flash. Kemudian putaran benda dihentikan tetapi beban penekanan ditingkatkan, sehingga terjadi pembebanan kejut forging (Gambar 2.3. C), bila pembebanan ini telah dilakukan selama waktu tertentu, maka proses pengelasan gesekan terjadi. Kualitas las yang dihasilkan oleh pengelasan gesekan pada gambar 5. ditentukan oleh beberapa parameter. Parameter dalam pengelasan gesek yaitu gaya gesek yang berakibat adanya tekanan gesek, gaya tempa yang berakibat adanya tekanan tempa, kecepatan putar yang berakibat adanya torsi sehingga menimbulkan panas. Besar tekanan Besar tekanan gesek : (Mpa)................(Haryanto, 2011) Pf= Besar penekanan apabila dikonversikan dengan berat beban ada pada Tabel 2.1.

Mukmin Sahin 1) pada tahun 2009 telah melakukan penelitian penyambungan las gesekan antara stainless-steel (AISI 304) dan tembaga (Gambar 5.), dengan parameter tekanan terhadap struktur mikro, kekerasan dan kekuatan tarik di HAZ. Kekuatan tarik untuk austenitic-stainless baja dan tembaga, dianggap sebagai hasil positif bila dibandingkan dengan logam dasar. Bersama meningkat dan mencapai kekuatan maksimum, dan kemudian menurun lagi sebagai waktu gesekan dan tekanan gesekan meningkat. Waktu gesekan lebih lama menyebabkan kelebihan pembentukan sebuah intermetallic lapisan. Namun, beberapa sambungan menunjukkan kekuatan rendah tergantung pada beberapa akumulasi paduan unsur-unsur di antarmuka dan keberadaan intermetallic lapisan. Hasil pengelasan ditunjukan pada gambar 6. Seperti yang ditunjukkan dari angka-angka kekerasan (Gambar 7.), sementara kekerasan tembaga menurut horizontal jarak meningkat sedikit, yang sedikit berkurang baja. Hal ini disebabkan oleh baja mencapai suhu annealing selama proses pengelasan, yang pada gilirannya mengurangi kekerasan di sisi baja. Di sisi lain, tembaga terjadi pengerasan berkat yang konduktivitas termal tinggi dan perilaku cepat pendinginan.

Gambar 5. Proses pengelasan gesek stainlesssteel (AISI 304) dengan tembaga. (Sahin, 2009)

30

POLINES NATIONAL ENGINEERING SEMINAR TAHUN 2012

Gambar 6. Foto hasil pengelasan gesek stainless-steel (AISI 304) dengan tembaga. (Sahin, 2009)

Gambar 7. Kekerasan di sambungan stainless steel (AISI 304) dan tembaga. (Sahin, 2009)

III. LANGKAH PENGERJAAN


Bahan dipilih berupa batang paduan tembaga dan aluminium ukuran 12,7 x 70 mm dengan arah las melingkar. Material penelitian pada tembaga dan aluminium dilakukan pembubutan, sehingga mempunyai ukuran seperti pada Gambar 8. 10
30 mm 1 0 30 mm

Gambar 9. Material tembaga

Gambar 8. Benda kerja Bahan tembaga yang telah dilakukan pembubutan terlihat pada Gambar 9., sedangkan bahan aluminium yang dilakukan pembubutan sebagai bahan uji terlihat pada Gambar 3.3. di bawah ini.

Gambar 10. Material aluminium

PENGARUH KECEPATAN PUTAR DAN ... (Adhy Purnomo, AP Bayuseno, Sri Nugroho, Poedji Haryanto)

31

Langkah pengelasan gesek dilakukan pada mesin bubut Celtic, dengan menambahkan mekanisme pembebanan untuk menggerakkan tails-stock supaya terjadi tekanan gesek pada kedua permukaan yang akan disambung. Peralatan yang digunakan, mesin bubut, drill chuck, tali beban, bandul (beban) dan mekanisme pembebanan.

Gambar 11. Foto mesin bubut Celtic yang telah dilengkapi Pully untuk pembebanan.

Spindle

Tails Stock

Gambar 12. Foto Bagian berputar dan tidak berputar. Pengoperasian pengelasan gesek diperlukan langkah-langkah yang sesuai dari peneliti sebelumnya, sedangkan langkah yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut : a. Menyiapkan peralatan b. Seting mesin bubut pada putaran 725 (rpm) c. Memasang mekanisme pembebanan pada toolholder d. Seting mekanisme pembebanan dengan tailsstock, menghubungkan dengan tali beban e. Memasang drill chuck pada tails-stock

f. Memasang bahan uji, material paduan aluminium dipasang pada spindle mesin bubut (rotating), dan material paduan tembaga dipasang pada drill chuck (non rotating) g. Memasang beban (bandul beban) sesuai yg ditentukan 2 (kg), 2,5 (kg), 3 (kg) h. Seting antara posisi ketinggian beban dan permukaan kedua bahan uji dipastikan kedua permukaannya saling kontak i. Siapkan stopwatch untuk mengatur waktu kontak j. Siapkan thermocuple infrared untuk mengukur suhu kedua permukaan saat kontak k. Jika sudah dipastikan siap, mesin dioperasikan denga menekan tombol ON l. Pada akhir pengelasan matikan mesin bubut jika sesuai waktu yang di tentukan, dan bersamaan penambahan beban sebagai gaya tempa sebesar 5 (kg) . Parameter yang digunakan dalam peneltian proses pengelasan gesek adalah sebagai berikut : 1. Tekanan gesek (friction pressure) (Pf), [MPa] 2. Watu gesek (t), (friction time) [detik] 3. Putaran mesin (N), [rpm] 4. Tekanan forging (Pu), [MPa] Pengujian kekerasan diukur dengan standar kekerasan Brinnel, karena kedua logam paduan yang dipergunakan dalam pengujian merupakan logam lunak. Pengujian kekerasan dilakukan pada posisi horizontal dari batas sambungan pengelasan gesek seperti pada gambar 3.6.
1 2 3 4 5 6 7

Gambar 13. Posisi Pengujian Kekerasan pada hasil pengelasan gesek

32

POLINES NATIONAL ENGINEERING SEMINAR TAHUN 2012

IV. HASIL PERCOBAAN


Pengelasan gesek berhasil dilakukan dan hasil pengelasan seperti pada gambar 14 dan gambar 4.2.

3.

Hasil pengelasan gesek pada tekanan gesek 58 Mpa

Gambar 14. Hasil pengelasan gesek

Gambar 18. Sebaran kekerasan pada arah horizontal Pf 58 MPa, Pu 97 MPa dalam waktu 45, 50, 55 detik. 4.2. Hasil Uji Foto Struktur Mikro Foto struktur mikro hasil pengelasan pada tekanan gesek 58 MPa, tekanan penempaan 97 MPa, dan dalam waktu 45 detik ada pada gambar 4.39.

Gambar 15. Penampang hasil pengelasan

4.1. Hasil Uji Kekerasan


1.

Hasil pengelasan gesek pada tekanan gesek 39 MPa a b c

Gambar 16. Sebaran kekerasan pada arah horizontal Pf 39 MPa, Pu 97 MPa dalam waktu 60, 70, 80 detik.
2.

Gambar 19. Foto struktur mikro 200 X pada Pf 58 MPa, Pu 97 MPa, waktu 45 detik a. pada HAZ aluminium, b. pada sambungan pengelasan gesekan, c. pada HAZ tembaga.

V. ANALISA DAN DISKUSI


Hasil pengelasan gesek pada tekanan gesek 48 Mpa Pengelasan gesek pada putaran mesin 725 rpm, tekanan gesek 39 MPa pengelasan terbentuk pada waktu gesek 60 detik, bila waktu kurang dari itu pengelasan tidak terbentuk. Waktu gesek ditambah menjadi 70 dan 80 detik pengelasan terbentuk dan kekerasan logam kedua paduan di sekitar sambungan juga meningkat. Pada tekanan gesek pada 48 MPa dan 58 MPa, pengelasan terbentuk dengan waktu gesekan 45, 50, dan 55 detik, kekerasan kedua logam paduan meningkat di sekitar sambungan pengelasan gesek. Kekerasan logam induk paduan aluminium 62

Gambar 17. Sebaran kekerasan pada arah horizontal Pf 48 MPa, Pu 97 MPa dalam waktu 45, 50, 55 detik.

PENGARUH KECEPATAN PUTAR DAN ... (Adhy Purnomo, AP Bayuseno, Sri Nugroho, Poedji Haryanto)

33

HBN dan kekerasan logam induk tembaga 71 HBN. Perubahan kekerasan tersebut berada di sekitar daerah sambungan pengelasan. Pengamatan perubahan kekerasan pada jarak 2 sampai 4 mm ke arah horizontal dari sambungan pengelasan menuju ke material induknya. Dengan demikian daerah tersebut yang terkena pengaruh pengelasan. Kekerasan hasil pengelasan gesek meningkat di sekitar sambungan, hal ini terjadi adanya pengaruh panas pada waktu gesekan dan ditambah dengan adanya penekanan penempaan sebesar 97 MPa pada waktu setelah terjadinya lumer dari logam induk. Titik leleh aluminium 660 oC dan tembaga 1084 oC. Bagian logam paduan aluminium lebih besar lumernya dibandingkan dengan logam paduan tembaga. Pada tekanan gesek sebesar 39 MPa hasil pengelasan kekerasannya meningkat dengan bertambahnya waktu gesekan, tetapi kekerasan di sambungan yang paling tinggi pada waktu gesekan 70 detik, yaitu 76 HBN. Waktu gesekan ditambah menjadi 80 detik, kekerasan di sambungan menurun menjadi 69 HBN. Tekanan gesek 48 MPa pengelasan terbentuk pada waktu 45 detik, kekerasan di sambungan pengelasan meningkat dengan bertambahnya waktu gesekan. Waktu gesekan 45 detik kekerasan di sambungan pengelasan 62 HBN, untuk 50 detik sebesar 76 HBN, sedangkan pada 55 detik kekerasan menjadi 69 HBN. Kekerasan pada tekanan gesek 48 MPa efektif pada waktu gesekan 50 detik. Untuk tekanan gesek 58 MPa efektif kekerasannya pada waktu gesekan 45 detik, yaitu 112 HBN. Bertambahnya waktu gesekan menjadi menurun kekerasannya, yaitu pada 50 detik kekerasannya 52 HBN dan untuk 55 detik kekerasannya 59 HBN. Foto struktur mikro pada tekanan gesk 39 MPa di sambungan pengelasan butiran aluminium yang masuk ke daerah logam paduan tembaga sedikit sekali. Pada tekanan gesek 48 MPa butiran aluminium bertambah yang masuk ke daerah logam paduan tembaga, dan pada tekanan gesek 58 MPa semakin banyak.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN


Pada penelitian yang dilakukan peneliti dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Logam yang berbeda dengan titik leleh yang berbeda, yaitu paduan aluminium dan logam paduan tembaga, dapat disambung dengan menggunakan las gesekan. 2. Kekerasan di daerah sambungan terjadi peningkatan, yang efektif pada tekanan gesek 58 MPa, dan waktu gesekan 45 detik sebesar 112 HBN atau ada peningkatan kekerasan 68 %. Pengelasan gesekan mampu untuk menyambung logam yang berbeda, tetapi untuk mendapatkan hasil sambunngan yang efektif diperlukan penentuan parameter antara tekanan gesek dan waktu gesekan yang tepat. LAMPIRAN Kekerasan hasil pengelasan pada tekanan gesek 58 MPa, tekanan penempaan 97 MPa, dan dalam waktu 45 detik. Tabel Kekerasan arah horizontal Pf 58 MPa, Pu 97 MPa, waktu 45 detik Jarak Harga Kekerasan d (mm) Pengujian (HBN) -6 1,00 76 -4 0,85 107 -2 0 +2 +4 +6 0,90 0,83 0,86 0,85 0,83 95 112 104 107 112

Sedangkan sebaran kekerasannya dapat dilihat pada gambar di bawah

Gambar . Sebaran kekerasan pada arah horizontal.

34

POLINES NATIONAL ENGINEERING SEMINAR TAHUN 2012

REFERENSI Akata HE, Sahin M, (2003), An investigation on the effect of dimensional differences in friction welding of AISI 1040 specimens. Ind Lubr Tribol 55(5):223232 ASM, (1993), Welding and Brazing. Metals Handbook, Vol.6. ASM, Metals Park, Ohio ASM International Handbook Committee, (2002), ASM handbook. Alloy phase diagrams, vol 3. ASM international,Materials Park, Ohio. AWS A3.0M/A3.0:2010, An American National Standard, Standard Welding Terms and Definitions, American National Standards Institute, July 1, 2009 BERND F, MELT TREATMENT OF COPPER AND ALUMINIUM THE COMPLEX STEP BEFORE CASTING, Association of Metallurgical Engineers of Serbia (AMES), UDC:669.3571.046.5=2008 Callister, JrWD,Material Science and Engineering-7th ed, John Wiley&Sons, New York, 2007 Haryanto P, (2011), Pengaruh Tekanan, Kecepatan Putar dan Waktu Terhadap Kualitas Sambungan Las pada Pengelasan Gesek Baja st60 dan AISI 304 Koberna M, Fiala J (1993) Intermetallic phases influencing the behaviour of Al-Cu joints. J Phys Chem Solids 54(5):595601 Lee WB, Bang KS, Jung SB (2005) Effects of intermetallic compound on the electrical and

mechanical properties of friction welded Cu/Al bimetallic joints during annealing. J Alloy Compd 390(12):212219 Maalekian M (2007) Friction weldingcritical assessment of literature. Sci Technol Weld Join 12(8):738759 Mumin Sahin, Joining of aluminium and copper material with friction welding,Int J Adv Manuf Technol (2010) 49:527-534 Mumin Sahin, (2009),"Joining of stainless steel and copper materials with friction welding", Industrial Lubrication and Tribology, Vol. 61 Iss: 6 pp. 319 324 Mumin Sahin, (2009), Joining of stainless-steel and aluminium materials by friction welding, Int J Adv Manuf Technol, 41:487497 Ouyang J, Yarrapareddy E, Kovacevic R (2006) Microstructural evolution in the friction stir welded 6061 aluminium alloy (T6-temper condition) to copper. J Mater Process Technol 172:110122 Rhodes CG, Mahoney MW, Bingel WH, Spurling RA, Bampton CC (1997) Effects of friction stir welding on microstructure of 7075 aluminium. Scripta Mater 36(1):6975 Sahin M, Akata HE (2003) Joining with friction welding of plastically deformed steel. J Mater Process Technol 142(1):239246 Ylbas BS, Sahin AZ, Coban A, Abdul Aleem BJ (1995) Investigation into the properties of friction-welded aluminium bars. J Mater Process Technol 54:7681

PENGARUH KECEPATAN PUTAR DAN ... (Adhy Purnomo, AP Bayuseno, Sri Nugroho, Poedji Haryanto)

35