Anda di halaman 1dari 23

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP) KONSEP DASAR KEHAMILAN DAN PERSALINAN I.

IDENTITAS Mata Kuliah Kode Mata Kuliah Progran Studi Semester Beban SKS Waktu Pertemuan II. : Biologi Dasar dan Biologi Perkembangan : BD. 201 : D III Kebidanan :I : 4 SKS ( T = 2 SKS P = 2 SKS) : 120 Menit

STANDAR KOMPETENSI Memahami anatomi dan fisiologi sistem tubuh manusia yang berkaitan dengan reproduksi, perkembangan siklus kehidupan manusia sejak prakonsepsi sampe menopause, aspek biokimia yang berpengaruh dalam proses reproduksi, prinsip-prinsip fisika kesehatan dalam praktik kebidanan, prinsp-prinsip biologi reproduksi ke dalam praktik kebidanan.

III.

KOMPETENSI DASAR Memahami fisiologi manusia yang berhubungan dengan siklus alamiah pada sistem reprodukssi

IV. V.

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Menjelaskan fisiologi kehamilan dan persalinan TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa siswa dapat menjelaskan fisiologi kehamilan dan persalinan yang meliputi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Terjadinya kehamilan Perubahan organ-organ pada system reproduksi Perubahan pada organ-organ pada system tubuh lainnya Diagnostic kehamilan Definisi persalinan Sebab-sebab mulainya persalinan Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan :

8. 9. VI.

Fase persalinan Pemeriksaan pasca persalinan

DESKRIPSI MATERI 1. Terjadinya kehamilan 2. Perubahan organ-organ pada system reproduksi 3. Perubahan pada organ-organ pada system tubuh lainnya 4. Diagnostic kehamilan 5. Definisi persalinan 6. Sebab-sebab mulainya persalinan 7. Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan 8. Fase persalinan 9. Pemeriksaan pasca persalinan

VII. STRATEGI DAN METODE 1. Pendekatan Pembelajaran Student Centered Approad 2. Strategi Pembelajaran a. b. c. a. b. c. 1. 2. 3. 4. 5. LCD Power Point Handout White board Spidol Pembelajaran Intraaktive Brain Storming Pembelajaran Meninjau Ulang Ceramah Interactive Lecturing Tanya jawab

3. Metode Pembelajaran

VII. MEDIA PEMBELAJARAN

VIII.

Kegiatan Belajar Mengajar Media/ alat -

Komponen Langkah PENDAHULUAN ( 10 menit) 1. 2. 3. 4. 5.

Uraian Kegiatan Mengucapkan salam Menanyakan kesiapan mahasiswa menerima materi Menginformasikan materi yang akan disampaikan Menyampaikan tujuan perkuliahan Meninjau pemahaman mahasiswa tentang materi yang akan disampaikan

Metode Ceramah Interaktif Brain Storming

Kegiatan mahasiswa 1. Menjawab salam 2. Menjawab 3. Mendengarkan 4. Mendengarkan 5. Menjawab

PENYAJIAN (100 menit)

PENUTUP (10 menit)

1. Menampilkan Slide yang berisi materi materi pokok dan kata kunci dari tiap materi. 2. Menjelaskan dan sharing tentang kata kunci yang terdapat dalam tiap tema dari materi. Materi pokok berisi materi : a. Fisiologi kehamilan 1) Terjadinya kehamilan 2) Perubahan organ-organ pada system reproduksi 3) Perubahan pada organ-organ pada system tubuh lainnya 4) Diagnostik kehamilan b. Fisiologi Persalinan 1) Definisi persalinan 2) Sebab-sebab mulainya persalinan 3) Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan 4) Fase persalinan 5) Pemeriksaan pasca persalinan 3. Pemutaran video yang berhubungan dengan materi yang disampaikan 1. Bersama mahasiswa untuk menyimpulkan materi yang telah disampaikan 2. Memberikan pertanyaan kepada mahasiswa 3. Mengucapkan salam penutup 1

LCD Power point

1. Menyimak 2. Menyimak 3. Menyimak

ceramah

1. Menyimpulkan 2. Menjawab pertanyaan 3. Menjawab salam

IX.

PENILAIAN Prosedur Bentuk tes : Tanya Jawab dilakukan diakhir perkuliahan : Tertulis

Butir Soal dan Jawaban : Terlampir X. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. REFERENSI Anderson PD (1999). Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia. Jones and Buku prasat dan mikrobiologi. FKUI (1995). Buku Ajar: Fisiologi Kedokteran. EGC Jakarta. Gabriel, S (1995), Fisika Kesehatan, EGC Jakarta. Gerenda, S (1996). Biokimia I. Gramedia Jakarta. Guyton, AC (1983), Fisiologi Kedokteran (bagian 2). Edisi 5, Jane Coad (2001) Anatomy dan Physiology, Mosby. Landau BR (1980). Essential Human Anatomy and Physiology, 2nd Martini F. H et.el (2001). Fundamentals of Anatomy and PhysioloBartlet Publiser. Boston. Edisi Bahasa Indonesia EGC Jakarta.

Penerbit :EGC.

Edition. Scott. Foresman and Company Glenview. gy 5 th edition, Prentice Hall, New Jersey. 10. Murray RK, et all (1996). Harpers Bio Chemistry. Ed. 24. EGC, Jakarta. 11. Pearce, EC (1999). Anatomi dan Fisiologi untuk paramedic. Gramedia, Jakarta. 12. Sadler, TW (1987). Embriologi Kedokteran Longman, Edisi 07 (terjemahan). Penerbit: EGC. 13. Wijaya (1996). Anatomi dan alat-alat rongga panggul. FKUI, Jakarta. XI. LAMPIRAN 1. Lampiran soal dan jawaban

2. Materi perkuliahan

Lampiran 1 Pertanyaan 1. 2.

: Soal dan Jawaban : Sebutkan tanda-tanda kehamilan?

Sebab Terjadinya Proses Persalinan? : Tanda-tanda kehamilan Presumptive atau perkiraan Probable atau kemungkinan Objective atau tanda positif a. b. c. d. Penurunan fungsi plasenta : kadar progesteron dan estrogen Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser, menIskemia otot-otot uterus karena pengaruh hormonal dan beban, sePeningkatan beban / stress pada maternal maupun fetal dan penestrogen mengakibatkan peningkatan aktifitas kortison,

Jawaban 1. b. c. d.

2. Proses terjadinya persalinan menurun mendadak, nutrisi janin dari plasenta berkurang jadi stimulasi (pacemaker) bagi kontraksi otot polos uterus makin merangsang terjadinya kontraksi ingkatan salinan

prostaglandin, oksitosin, menjadi pencetus rangsangan untuk proses per-

Lampiran 2

: materi

LAMPIRAN MATERI FISIOLOGI KEHAMILAN DAN PERSALINAN


I. PERUBAHAN FISIOLOGI KEHAMILAN Kehamilan adalah suatu keadaan dimana pada diri seorang wanita terdapat janin yang sedang berkembang. Graviditas adalah jumlah kehamilan, sedangkan paritas adalah jumalah kehamilan yang menghasilkan janin hidup, berbeda dengan graviditas yang menyatakan jumlah kehamilan secara keseluruhan. Biasanya dipakai kode 5 digit untuk menulis riwayat kehamilan seorang wanita (GTPAL) : G : Graviditas yakni jumlah kehamilan T : Kehamilan term atau jumlah kehamilan yang cukup bulan P : Kehamilan praterm atau prematur A : Aborsi yakni termasuk jumlah aborsi spontan maupun elektif L : Living yaitu jumlah anak yang hidup saat ini. (Bobak, Lowdermilk, Jensen dalam buku ajar keperawatan maternitas edisi 4, 2005) 1. Perubahan pada sistem reproduksi

a. UTERUS Uterus berkembang sampai xifisternum. Pengurangan tinggi fundus terjadi pada beberapa bulan terakhir kehamilan, pada saat fetus turun ke bawah ke bagian bawah uterus. Hal ini bertujuan untuk membuat jaringan pelvic menjadi lebih lunak dengan tonus uterus yang baik, dengan formasi yang baru dari segmen bawah rahim (Miler dan Harnetty, 1997). Pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus menjadi 1000 gram (berat uterus normal 30 gram) dengan panjang 20 cm dan dinding 2,5 cm. Pada bulan-bulan pertama kehamilan, bentuk uterus seperti buah alpukat agak gepeng.

Gambar : Uterus saat hamil Pada kehamilan 16 minggu, uterus berbentuk bulat. Selanjutnya pada akhir kehamilan kembali seperti bentuk semula, lonjong seperti telur. Hubungan antara besarnya uterus dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui antara lain untuk membentuk diagnosis, apakah wanita tersebut hamil fisiologik, hamil ganda atau menderita penyakit seperti mola hidatidosa dan sebagainya.Pada kehamilan 28 minggu, fundus uteri terletak kira-kira 3 jari diatas pusat atau 1/3 jarak antara pusat ke prosssus xipoideus. Pada kehamilan 32 minggu, fundus uteri terletak antara jarak pusat dan prossesus xipoideus. Pada kehamilan 36 minggu, fundus uteri terletak kira-kira 1 jari dibawah prossesus xipoideus. Bila pertumbuhanjanin normal, maka tinggi fundus uteri pada kehamilan 28 minggu adalah 25 cm, pada 32 minggu adalah 27 cm dan pada 36 minggu adalah 30 cm. Pada kehamilan 40 minggu, fundus uteri turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari dibawah prossesus xipoideus. Hal ini disebabkan oleh kepala janin yang pada primigravida turun dan masuk kedalam rongga panggul.Pada trimester III, istmus uteri lebih nyata menjadi corpus uteri dan berkembang menjadi segmen bawah uterus atau segmen bawah rahim (SBR). Pada kehamilan tua, kontraksi otot-otot bagian atas uterus menyebabkan SBR menjadi lebih lebar dan tipis (tampak batas yang nyata antara bagian atas yang lebih tebal dan segmen bawah yang lebih tipis). Batas ini dikenal sebagai lingkaran retraksi fisiologik. Dinding uterus diatas lingkaran ini jauh lebih tebal daripada SBR. b. SERVIKS UTERI Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormon estrogen. Akibat kadar estrogen yang meningkat dan dengan adanya hipervaskularisasi, maka konsistensi serviks menjadi lunak. Serviks uteri lebih banyak mengandung jaringan ikat yang terdiri atas kolagen. Karena servik terdiri atas jaringan ikat dan hanya sedikit mengandung jaringan otot, maka serviks tidak mempunyai fungsi sebagai spinkter, sehingga pada saat partus serviks akan membuka saja mengikuti tarikan-tarikan corpus uteri keatas dan tekanan bagian bawah janin kebawah. Sesudah partus, serviks akan

tampak berlipat-lipat dan tidak menutup seperti spinkter. Perubahanperubahan pada serviks perlu diketahui sedini mungkin pada kehamilan, akan tetapi yang memeriksa hendaknya berhati-hati dan tidak dibenarkan melakukannya dengan kasar, sehingga dapat mengganggu kehamilan.Kelenjar-kelenjar di serviks akan berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak. Kadang-kadang wanita yang sedang hamil mengeluh mengeluarkan cairan pervaginam lebih banyak. Pada keadaan ini sampai batas tertentu masih merupakan keadaan fisiologik, karena peningakatan hormon progesteron. Selain itu prostaglandin bekerja pada serabut kolagen, terutama pada minggu-minggu akhir kehamilan. Serviks menjadi lebih lunak dan lebih mudah berdilatasi sesaat sebelum persalinan. c. VAGINA DAN VULVA Vagina dan vulva akibat hormon estrogen juga mengalami perubahan. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vula tampak lebih merah dan agak kebiru-biruan (livide). Warna porsio tampak livide. Pembuluh-pembuluh darah alat genetalia interna akan membesar. Hal ini dapat dimengerti karena oksigenasi dan nutrisi pada alat-alat genetalia tersebut menigkat. Apabila terjadi kecelakaan pada kehamilan/persalinan maka perdarahan akan banyak sekali, sampai dapat mengakibatkan kematian. Pada bulan terakhir kehamilan, cairan vagina mulai meningkat dan lebih kental. Sel epitel juga meningkatkan kadar glikogen. Sel ini berinteraksi dengan hasil dedoelein yang merupakan bakteri komensal dan menghasilkan lingkungan yang lebih asam (Mcfadyen, 1995). Lingkungan ini menyedikan perlindungan ekstra terhadap organisme tapi merupakan keadaan menguntungkan bagi Candida albican (Symon, 1992). d. PAYUDARA Pada kehamilan 12 minggu keatas, dari puting susu dapat keluar cairan berwarna putih agak jernih disebut kolostrum. Kolostrum ini berasal dari kelenjar-kelenjar asinus yang mulai bersekresi. 2. Perubahan sistem kardiovaskuler a. JANTUNG Meningkatnya beban kerja menyebabkan otot jantung mengalami hipertrofi, terutama ventrikel kiri sebagai pengatur pembesaran jantung, pembesaran uterus menekan jantung ke atas dan ke kiri. Suara sistolik jantung dan murmur yang berubag adalah normal. Selama hamil kecepatan darah meningkat yakni jumlah darah yang dialirkan oleh jantung dalam setiap denyutnya sebagai hasil dari peningkatan curah jantung. Hal ini meningkatkan volume darah dan oksigen ke seluruh organ dan jaringan ibu untuk pertumbuhan janin (Symond, 1991). Denyut janyung meningkat dengan cepat setelah usia kehamilan 4 minggu, dari 15 denyut per menit menjadi 70 - 85 denyut per menit, aliran darah meningkat dari 64 ml menjadi 71 ml Pada trimester 3, aliran pada curah jantung mengalami

pengurangan karena ada penekanan pada vena kava inferior oleh uterus. Walaupun curah jantung meningkat pada wanita hamil namun tekanan darah belum tentu ikut meningkat, karna reduksi perifer yang resisten sekitar 50 dari wanita tidak hamil. Jumlah vena dan venula meningkat, hormone progesterone meningkat menyebabkan otot polos berelaksasi dan berdilatasi (Cruishank & Hays, 1991). Hal ini menyebabkan peningkatan produksi vasodilator prostaglandin (Cunningham et al, 1989). Pada kehamilan uterus menekan vena kava sehingga mengurangi darah vena yang akan kembali ke jantung. Curah jantung mengalami pengurangan sampai 30% dan tekanan darah turun hinggal 15% yang dapat membangkitkan pusing, mual dan muntah (Cruishank & Hays, 1991). Vena kava menjadi miskin oksigen pada akhir kehamilan sejalan dengan meningkatnya distensi dan tekanan pada vena kaki, vulva, rectum dan pelvis akan menyebabkan edema di bagian kaki, vena dan hemoroid (Case & Waterhouse, 1994). b. DARAH 1) Aliran dan volume darah Tidak ada peningkatan aliran darah ke otak dan hati (Mcfadyen, 1995). Aliran darah uterus secara fisiologis meningkat karena efek dari angiotensin II di jaringan plasenta (Symond, 1992). Aliran darah ginjal meningkat sebanyak 70 80 % pada akhir trimester I, hal ini akan menambah ekskresi (Davidson & Dunlop, 1995). Peningkatan aliran darah pada kulit dan membran mukosa dan disebagian kaki dan tangan, mencapai maksimum 500 ml per menit pada kehamilan 36 minggu dan untuk membentuk ekstra panas untuk metabolisme fetus. Hal ini menyebabkan ibu hamil sering merasa kepanasan dan berkeringat (de swiet, 1991). Peningkatan volume darah dimulai dari usia kehamilan 10 minggu sampai kehamilan 34 minggu secara progresif (Cruischank & Hays, 1991). Sirkulasi volume darah yang tinggi diperlukan untuk : a) Persediaan aliran darah ekstra untuk plasenta di khorio desidual. b) Menyuplai kebutuhan metabolisme ekstra janin c) Persediaan untuk perfusi ekstra dari ginjal atau organ lain d) Sebagai pengimbang dari arteri yang meningkat dan kapasitas vena. e) Sebagai kompensasi terhadap hilangnya darah pada saat transportasi 2) Faktor pembekuan darah Sistem pembekuan darah dan fibrinogen mengalami akselerasi yang besar pada saat kehamilan. Hal ini mengarah pada perubahan waktu koagulasi dari 12 ke 8 menit ( Cunningham, 1989 ).kapasitas pembekuan darah meningkat yang merupakan salah satu cara untuk mencegah hemoragi pada saat pelepasan plasenta saat bersalin.

3. Perubahan sistem respirasi Mukosa sistem respirasi menjadi hiperemik dan edema dengan mucus yang hipersekresi mengarah pada sesak dan epiktaksis. Itulah sebabnya banyak wanita hamil yang mengeluh pilek. Kapasitas paru total berkurang 5 % karena elevasi diafragma. Frekuensi respirasi normal berkisar 14 15 napas / menir dengan pernapasan diafragma dan napas yang lebih dalam (Cruishank & Hays, 1991) 4. Perubahan sistem urinary Pada trimester kedua aliran darah ginjal meningkat hingga kehamilan 30 minggu, kemudian menurun secara perlahan. Akibatnya ginjal mengalami pembesaran dan filtrasi glomerular. Perubahan dalam filtrasi glomerulus adalah penyebab peningkatan klirens kreatinin, urea dan asam urat yang sangat diabsopsi pada awal kehamilan (Davidson & Dunlop, 1995). Protein dan asam amino sangat sedikit direabsorpsi, sementara asam amino dan vitamin ditemukan dalam jumlah yang banyak di dalam urine wanita hamil. Hanya protein yang tidak dapat ditemukan pada urine wanita hamil (Cunningham et al, 1989). Ekskresi glukosa meningkat sebagai hasil peningkatan filtrasi glomerulus terhadap glukosa disbanding dengan pengurangan reabsopsi (Buylis & Davidson, 1991) 5. Perubahan pada sistem integument Dari akhir bulan kedua sampai dengan aterm, terjadi peningkatan pituitary melanin stimulating hormone yang menyebabkan bermacam tingkat pigmentasi meskipun masih tergantung pada warna kulit ibu hamil. Kulit terasa seperti terbakar selama kehamilan akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan hal lain (Mcfadyen, 1995). Tempat yang umumnya terpengaruh adalah aerola, garis tengah abdomen, perineum, dan aksila. Hal ini terjadi karna pada beberapa daerah tersebut kadar melanositnya lebih tinggi (Wade, 1984). Hampir semua wanita hamil mempunyai garis pigmentasi yang disebut linea. Biasanya berada di garis tengah otot rektus yang merupakan bagian pertahanan pada saat uterus berkembang dan bertambah besar dan juga menyebabkan tekti diastasis (Cunningham et al, 1989) kulit kepala, muka dan bulu di tubuh selama hamil menjadi lebih tebal 6. Perubahan pada sistem musculoskeletal Ligamen pada simfisis pubis dan sakroiliaka akan menghilang karna berelaksasi sebagai efek dari estrogen (Guyton, 1991). Lemahnya dan membesarnya jaringan menyebabkan terjadinya hidrasi pada trisemester akhir (Mcfadyen, 1995). Simfisis pubis melebar sampai 4 mm pada usia gestasi 32 minggu dan sakrokoksigeus tidak teraba, diikuti terabanya koksigis sebagai pengganti bagian belakang. Meningkatnya pergerakan pelvic menyebabkan

pergerakan pada vagina dan hal ini emnyebabkan sakit punggung dan lgamen pada saat hamil tua. Bentuk tubuh selalu berubah menyesuaikan dengan pembesaran uterus kedepan karena tidak adanya otot abdomen. 7. Perubahan pada sistem gastrointestinal Gusi menjadi bengkak, lunak dan berlubang pada saat kehamilan, merupakan efek dari peningkatan kadar estrogen yang mengarah pada perdarahan karna trauma. Peningkatan saliva dan ptyalin adalah masalah umum pada kehamilan. Relaksasi otot polos abdomen dan hipomotilitas karna peningkatan kadar estrogen dan HCG dapat menyebabkan mual dan muntah. Peningkatan nafsu makan pada masa kehamilan bisa dikarenakan hormone progesterone yang memerintah otak untuk mengatur penyimpanan lenak untuk keseimbangan energy. Hal ini bertujuan menggantikan kadar plasma glukosa dan asam amino yang turun pada awal kehamilan. Turunnya osmolaritas plasma dan naiknya kadar prolaktin juga meningkat perasaan haus pada wanita hamil (Hytten, 1990). Adanya tekanan intragrastik yang tidak disertai dengan tonus dari sfingter kardia lambung menyebabkan refluks asam di mulut dan sakit epigastrik atau retrostenal 8. Perubahan sistem endokrin a. Hormon plasenta Sekresi hormone plasenta dan HCG dari plasenta janin mengubah organ endokrin secara langsung. Peningkatan kadar estrogen menyababkan produksi globulin meningkat dan menekan produksi tiroksin, kortikosteroid dan steroid. Akibatnya plasma yang mengandung hormone ini akan meningkat jumlahnya, tapi kadar hormone bebas tidak mengalami peningkatan yang besar (Mcfadyen, 1995) b. Kelenjar hipofisis Berat kelenjar ini meningkat hingga 50 % yang menyebabkan wanita hamil merasa pusing. Sekresi prolaktin, adrenokortikotropik, dan melanocyt stimulating hormone meningkat c. Kelenjar tiroid Kelenjar tiroid pada saat kehamilan akan mengalami pembesaran hingga 13 % karna adanya hyperplasia dari jaringan glandula dan peningkatan vaskularitas. Secara fisiologis akan terjadi peningkatan iodine sebagai kompensasi kebutuhan ginjal terhadap iodine yang meningkatkan laju filtrasi glomerulus. Trekadang kehamilan juga menunjukkan hipertiroid namun fungsinya akan tetap normal. Namun peningkatan konsentrasi tiroksisn dan triodotironin juga dapat merangsang peningkatan laju metabolisme basal. d. Kelenjar adrenal

Karna dirangsang oleh hormone estrogen, kelenjar adrenal memproduksi lebih banyak kortisol plasma bebas dan juga kortikosteroid, termasuk ACTH dan hal ini terjadi dari usia 12 minggu kehamilan hingga aterm. Hal ini menyebabkan penurunan kemampuan ginjal untuk mengatur kadar garam selama kehamilan, menyebabkan retensis cairan dan edema. 9. Perubahan sistem imunologi HCG dapat menurunkan respon imun wanita hamil. Selain itu kadar Ig G, Ig A dan Ig M serum menurun mulai dari minggu ke-10 kehamilan hingga mencapai kadar terendah pada minggu ke-30 dan tetap berada pada kadar ini, hingga aterm. (Salinah, Rusmiati, Maryanah, Ni Nengah Susanti, 2006) 10. Perubahan sistem neurologi Perubahan fisiologis spesifik akibat kehamilan dapat menyebabkan timbulnya gejala neurologis dan neuromuscular sebagai berikut : a. Kompresi saraf panggul atau stasis vascular akibat pembesaran uterus dapat menyebabkan perubahan sensori di tungkai bawah. b. Lordosis dorsolumbar dapat menyebabkan nyeri akibat tarikan pada saraf atau kompresi akar saraf. c. Edema yang melibatkan saraf perifer dapat menyebabkan carpal tunner syndrome selama trimester akhir kehamilan. d. Akroestesia yakni rasa baal dan gatal pada tangan yang timbul akibat posisi bahu yang membungkuk. Keadaan ini berkaitan dengan tarikan pada segmen pleksus brakialis. e. Nyeri kepala akibat ketegangan umum timbul saat ibu merasa cemas. Nyeri kepala juga dihubungkan dengan gangguan penglihatan, seperti kesalahn refraksi, sinusitis, atau migren. f. Nyeri kepala ringan rasa ingin pingsan bahkan pingsan sering terjadi pada awal kehamilan. Dapat disebabkan ketidakstabilan vasomotor, hipotensi posturnal, atau hipoglikemia (Bobak, 2005) II. TANDA KEHAMILAN 1. Presumptive atau perkiraan a) Berhentinya siklus menstruasi secara mendadadak pada wanita yang sebelumnya memiliki siklus menstruasi yang dapat diprediksikan

b) Perdarahan terus menerus selama kehamilan adalah kondisi abnormal, biasanya disebabkan oleh komplikasi kehamilan atau gangguan pada sistem reproduksi yang tidak terdiagnosis (Cunningham et al, 1993) c) Mual dan muntah, hal ini umum terjadi pada usia kehamilan 6 hingga 16 minggu d) Sering berkemih, dikarenakan perubahan hormonal akibat kehamilan yang menyebabkan iritabilitas kandung kemih dan daerah trigonum e) Nyeri tekan pada payudara, terjadi pada awal kehamilan yang dapat disertai dengan perasaan kesemutan f) Persepsi gerakan janin atau quickening, yang merupakan gerakan ringan yang dirasakan ibu di dalam abdomen. Biasanya dapat terdekteksi pada usia kehamilan 16 minggu g) Perubahan vagina, terjadi di usia 8 10 minggu kehamilan yakni perubahan warna membrane mukosa vagina, peningkatan vaskularisasinya terutama di daerah serviks sehingga membuat jaringan berubah warna ungu kebiruan. Di istilahkan dengan Chadwick yang paling jelas terlihat pada wanita yang baru pertama kali hamil h) Sekresi vagina meningkat i) Fatique, terjadi di awal kehamilan yang penyebabnya belum dapat dipastikan 2. Probable atau kemungkinan Umumnya di deteksi saat usia 12 sampai 16 minggu, diantaranya : a) Perubahan abdomen. Peningkatan ukuran uterus menyebabkan pertambahan lingkar abdomen. b) Perubahan uterus, dalam 12 minggu pertama kehamilan uterus menjadi lebih bulat, membesar, lunak dan berbentuk seperti rongga. c) Sketsa janin, pada usia kehamilan 24 minggu telah dapat terdeteksi. Bagian punggung, ekstremitas dan kepala janin menjadi lebih jelas seiring pertambahan usia kehamilan. d) Ballottement, dari usia 16 sampai 24 minggu, ukuran janin lebih kecil dibandingkan jumlah cairan amnion. Selama pemeriksaan vagina,

10

tepukan mendadak di bagian presentasi janin membuat janin bergerak naik di dalam cairan amnion, lalu melambung balik ke posisi awal, dan menupuk tangan pemeriksa ( ballottment ). e) Perubahan serviks, pada usia kehamilan 8 minggu serviks mulai melunak dan lubang eksternal serviks memperlihatkan konsistensi atau derajat pelunakan. f) Konstraksi Braxton Hicks, mulai dari beberapa minggu awal kehamilan, uterus berkontraksi setiap 5 sampai 10 menit.hal ini disebut Braxton Hicks, yang biasanya tidak menimbulkan nyeri 3. Objective atau tanda positif Berikut ini cara yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kebenaran janin dalam kandungan seorang wanita, yang menandakan kehamilannya : 1. Deteksi suara denyut jantung janin Menggunakan Dopler suara denyut jantung janin dapat di dengar yaitu mulai usia 10 minggu kehamilan. Suara denyut jantung janin pada umumnya berkisar 120 160 kali per menit. Tempat yang paling tepat untuk mendengarkan suara denyut jantung janin adalah di daerah ounggung janin. Suara yang sering terdeteksi adalah : a. Bising ( blowing murmur atau bunyi mengi ), berasal dari semburan darah yang mengalir melalui tali pusar sesuai dengan denyut jantung janin. b. Bising uterus yakni suara semburan darah yang melalui pembuluh darah besar uterus sesuai dengan denyut nadi ibu ( sekitar 70-80 kali per menit ). 2. Gerakan janin yang dirasakan oleh pemeriksa Gerakan ini sering dapat dirasakan setelah akhir bulan kelima kehamilan. Dengan karakteristik gerakan atau tendangan janin maka kepastian kehamilan akan lebih tinggi. 3. Visualisasi janin Visualisasi kehamilan melalui pemeriksaan USG merupakan konfirmasi akurat dari kehamilan. Terbagi dua yakni transabdominal dan transvaginal, digunakan untuk mendiagnosis kehamilan, mengevaluasi struktur janin dan menentukan usia kehamilan III.Tes kehamilan

11

Semua tes yang ada saat inimendeteksi keberadaan HCG. HCG dapat diukur dengan radioimunoesia dan dideteksi dalam darah enam hari setelah konsepsi atau sekitar 20 hari sejak HPHT. Keberadaan hormone ini di dalam urin pada awal kehamilan merupakan dasar berbagai tes kehamilan di lab dan terkadang dapat dideteksi di dalam urin 14 hari setelah konsepsi (Ganong, 1989). Specimen urin yang pertama dikeluarkan di pagi hari mengandung kadar HCG Yang kira kira sama dengan kadar HCG di dalam serum. Tes latex agglutination inhibition ( LAI ) mudah dilakukan dan hasil diperoleh dalam dua menit. Tes ini akurat 10 hari setelah terlambat haid. Contoh tipe ini adalah preparat Gravidex, Pregnosticon dan UCG beta. Tes hemagglutination inhibition ( HAI ) lebih akurat disbanding LAI namun memerlukan waktu hingga 2 jam untuk mendapatkan hasilnya. Tes ini akurat sekitar 4 hari sesudah terlambat haid, dan dapat dijumpai dipasaran. Radioreceptor assay adalah salah satu kategori terbaru tes kehamilan. Tes serum 1 jam ini memerlukan peralatan yang cukup canggih. Biasanya akurat pada saat haid terlambat 14 hari. Biocept G adalah contoh dari tes ini. Tes kehamilan radioimunoesai untuk subunit beta HCG harus dialkukan di laboratorium. Kehamilan dapat didiagnosis 8 hari setelah ovulasi atau 6 hari sebelum haid berikutnya. Enzim imunoassay memakai kompleks anti HCG monoclonal dan enzim. Perubahan warna membuat hasil mudah dibaca. Confidot adalah tes kehamilan esai imunoenzimatik yang dapat dilakukan dirumah dan dapat dikerjakan sendiri dengan memastikan kehamilan 10 hari setelah fertilisasi, atau sekitar 4 hari sebelum terlambat haid. Enzyme linked immunosorbent assay ( ELISA ) adalah tes kehamilan yang paling popular. Tes ini menggunakan antibody monoclonal spesifik yang dihasilkan oleh teknologi cell line hibrida. Enzim menginduksi reaksi perubahan warna sederhana dan hasil tes ini dapat dibaca dengan mata telanjang. . DAFTAR PUSTAKA Bobak, Irenne M.; Lowdermilk, Deltra Leonard; and Jensen, Margaret Duncan. 2005. Buku Ajar EGC Reeder; Martin; Koniak-Griffin. 2011. Keperawatan Maternitas: kesehatan wanita, bayi, dan keluarga volume 1 edisi 18. Jakarta : EGC Salimah; Rusmiati; Maryanah; Susanti Ni Nengah. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta: EGC Keperawatan Maternitas (Maternity Nursing) Edisi 4. Jakarta:

II. FISIOLOGI PROSES PERSALINAN NORMAL

12

1. a.

PERSALINAN Pengertian Persalinan/partus adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup, dari dalam uterus melalui vagina atau jalan lain ke dunia luar. Partus normal/partus biasa bayi lahir melalui vagina dengan letak belakang kepala/ubun-ubun kecil, tanpa memakai alat/pertolongan istimewa, serta tidak melukai ibu maupun bayi (kecuali episiotomi), berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam. Partus abnormal adalah bayi lahir melalui vagina dengan bantuan tindakan atau alat seperti versi/ekstraksi, cunam, vakum, dekapitasi, embriotomi dan sebagainya, atau lahir per abdominam dengan sectio cesarea. b. Beberapa istilah Gravida : wanita yang sedang hamil, Para : wanita pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable), In partu : wanita yang sedang berada dalam proses persalinan c. Sebab Terjadinya Proses Persalinan run mendadak, nutrisi janin dari plasenta berkurang 2) Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser, menjadi stimulasi (pacemaker) bagi kontraksi otot polos uterus 3) Iskemia otot-otot uterus karena pengaruh hormonal dan beban, semakin merangsang terjadinya kontraksi 4) Peningkatan beban / stress pada maternal maupun fetal dan peningkatan estrogen mengakibatkan peningkatan aktifitas kortison, prostaglandin, oksitosin, menjadi pencetus rangsangan untuk proses persalinan 1) Penurunan fungsi plasenta : kadar progesteron dan estrogen menu-

3.

PERSALINAN DITENTUKAN OLEH 3 FAKTOR P UTAMA

13

1.

Power

His (kontraksi ritmis otot polos uterus), kekuatan mengejan ibu, keadaan kardiovaskular respirasi metabolik ibu. 2. 3. Passage Passanger : Keadaan jalan lahir.

Keadaan janin (letak, presentasi, ukuran/berat janin, ada/tidak kelainan anatomik mayor) (++ faktor2 P lainnya : psychology, physician, position) Dengan adanya keseimbangan / kesesuaian antara faktor-faktor P tersebut, persalinan normal diharapkan dapat berlangsung. 4. PEMBAGIAN FASE / KALA PERSALINAN a. Kala 1 Pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala pembukaan) b. Kala 2 Pengeluaran bayi (kala pengeluaran) c. Kala 3 Pengeluaran plasenta (kala uri) d. Kala 4 Masa 1 jam setelah partus, terutama untuk observasi 5. HIS His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang dimulai dari daerah fundus uteri di mana tuba falopii memasuki dinding uterus, awal gelombang tersebut didapat dari pacemaker yang terdapat di dinding uterus daerah tersebut. Resultante efek gaya kontraksi tersebut dalam keadaan normal mengarah ke daerah lokus minoris yaitu daerah kanalis servikalis (jalan laihir) yang membuka, untuk mendorong isi uterus ke luar. Terjadinya his, akibat : a. b. Kerja hormon oksitosin Regangan dinding uterus oleh isi konsepsi

c. Rangsangan terhadap pleksus saraf Frankenhauser yang tertekan massa konsepsi

His yang baik dan ideal meliputi :

14

a. Kontraksi simultan simetris di seluruh uterus b. Kekuatan terbesar (dominasi) di daerah fundus c. Terdapat periode relaksasi di antara dua periode kontraksi d. Terdapat retraksi otot-otot korpus uteri setiap sesudah his e. Serviks uteri yang banyak mengandung kolagen dan kurang mengandung serabut otot,akan tertarik ke atas oleh retraksi otot-otot korpus, kemudian terbuka secara pasif dan mendatar (cervical effacement). Ostium uteri eksternum dan internum pun akan terbuka. Nyeri persalinan pada waktu his dipengaruhi berbagai faktor : a. Iskemia dinding korpus uteri yang menjadi stimulasi serabut saraf di pleksus hipogastrikus diteruskan ke sistem saraf pusat menjadi sensasi nyeri. b. Peregangan vagina, jaringan lunak dalam rongga panggul dan peritoneum, menjadi rangsang nyeri c. Keadaan mental pasien (pasien bersalin sering ketakutan, cemas/ anxietas, atau eksitasi) d. Prostaglandin meningkat sebagai respons terhadap stress Pengukuran kontraksi uterus a. Amplitudo : intensitas kontraksi otot polos : bagian pertama peningkatan agak cepat, bagian kedua penurunan agak lambat b. Frekuensi : jumlah his dalam waktu tertentu (biasanya per 10 menit). c. Satuan his : unit Montevide (intensitas tekanan / mmHg terhadap frekuensi). 6. FASE PERSALINAN a. Kala I 1) Kala 1 awal (fase laten) Timbul tiap 10 menit dengan amplitudo 40 mmHg, lama 20-30 detik. Serviks terbuka sampai 3cm. Frekuensi dan amplitudo terus meningkat

15

2) Kala 1 lanjut (fase aktif) sampai kala 1 akhir Terjadi peningkatan rasa nyeri, amplitudo makin kuat sampai 60 mmHg, frekuensi 2-4 kali / 10 menit, lama 60-90 detik. Serviks terbuka sampai lengkap (+10cm) b. Kala 2 Amplitudo 60 mmHg, frekuensi 3-4 kali / 10 menit. Refleks mengejan terjadi juga akibat stimulasi dari tekanan bagian terbawah janin (pada persalinan normal yaitu kepala) yang menekan anus dan rektum. Tambahan tenaga meneran dari ibu, dengan kontraksi otot-otot dinding abdomen dan diafragma, berusaha untuk mengeluarkan bayi c. Kala 3 Amplitudo 60-80 mmHg, frekuensi kontraksi berkurang, aktifitas uterus menurun. Plasenta dapat lepas spontan dari aktifitas uterus ini, namun dapat juga tetap menempel (retensio) dan memerlukan tindakan aktif (manual aid). 7. PERSALINAN KALA 1 (Fase Pematangan / Pembukaan Serviks) Dimulai pada waktu serviks membuka karena his : kontraksi uterus yang teratur, makin lama, makin kuat, makin sering, makin terasa nyeri, disertai pengeluaran darah-lendir yang tidak lebih banyak daripada darah haid Berakhir pada waktu pembukaan serviks telah lengkap (pada periksa dalam, bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi). Selaput ketuban biasanya pecah spontan pada saat akhir kala I Fase laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8 jam Fase aktif : pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung sekitar 6 jam. Fase aktif terbagi atas : a. fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm. b. fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm c. fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm)

Peristiwa penting pada persalinan kala 1

16

1.

Keluar lendir/darah (bloody

show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis, akibat terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus 2. 3. geluaran cairan ketuban sebelum Ostium uteri internum dan Selaput ketuban pecah sponpembukaan 5 cm) eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan mendatar tan (beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban pecah dini jika terjadi penPematangan dan pembukaan serviks (cervical effacement) pada primigravida berbeda dengan pada multipara a. Pada primigravida terjadi penipisan serviks lebih dahulu sebelum terjadi pembukaan pada multipara serviks telah lunak akibat persalinan sebelumnya, sehingga langsung terjadi proses penipisan dan pembukaan b. Pada primigravida, ostium internum membuka lebih dulu daripada ostium eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran kecil di tengah) pada multipara, ostium internum dan eksternum membuka bersamaan (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis lebar) 4. Periode kala 1 pada primigravida lebih lama (+20 jam) dibandingkan multipara (+14 jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase laten pasien primigravida memerlukan waktu lebih lama. 8. PERSALINAN KALA 2 (Fase Pengeluaran Bayi)

Dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap. Berakhir pada saat bayi telah lahir lengkap. His menjadi lebih kuat, lebih sering, lebih lama, sangat kuat. Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2. Peristiwa penting pada persalinan kala 2

17

1. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul. 2. Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat 3. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik) 4. Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar/hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan 5. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi) Lama kala 2 pada primigravida + 1.5 jam, multipara + 0.5 jam. Gerakan utama pengeluaran janin pada persalinan dengan letak belakang kepala : 1. Kepala masuk pintu atas panggul : sumbu kepala janin dapat tegak lurus dengan pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring/membentuk sudut dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior/ posterior) 2. Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat : 1) tekanan langsung dari his dari daerah fundus ke arah daerah bokong, 2) tekanan dari cairan amnion, 3) kontraksi otot dinding perut dan diafragma (mengejan), dan 4) badan janin terjadi ekstensi dan menegang 3. Fleksi : kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala berubah dari diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi diameter suboksipito-bregmatikus (belakang kepala) 4. Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu disertai turunnya kepala, putaran ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis), membawa kepala melewati distansia interspinarum dengan diameter biparietalis 5. Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva, terjadi ekstensi setelah oksiput melewati bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir berturut-turut : oksiput, bregma, dahi, hidung, mulut, dagu.

18

6. Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala berputar kembali sesuai dengan sumbu rotasi tubuh, bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi anteroposterior sampai di bawah simfisis, kemudian dilahirkan bahu depan dan bahu belakang 7. Ekspulsi : setelah bahu lahir, bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan mudah. Selanjutnya lahir badan (toraks,abdomen) dan lengan, pinggul / trokanter depan dan belakang, tungkai dan kaki. 8. PERSALINAN KALA 3 (Fase Pengeluaran Plasenta) Dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap. Berakhir dengan lahirnya plasenta. Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri. Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah. Pada keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi sekitar / di atas pusat. Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir. (jika lepasnya plasenta terjadi sebelum bayi lahir, disebut solusio/abruptio placentae keadaan gawat darurat obstetrik !!). 9. KALA 4 (Observasi Pascapersalinan) Sampai dengan 2 jam postpartum, dilakukan observasi. 7 pokok penting yang harus diperhatikan pada kala 4 : a. b. c. d. e. f. g. Kontraksi uterus harus baik Tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap Kandung kencing harus kosong Luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma Resume keadaan umum bayi Resume keadaan umum ibu

19

20

Anda mungkin juga menyukai