Anda di halaman 1dari 3

MENGENAL BAHAN KOMPOSIT BERPENGUAT SERAT ALAM Bahan komposit merupakan salah satu jenis material yang banyak

diteliti di bidang Fisika Material. Penggunaan material komposit pada masa sekarang ini terus mengalami peningkatan seiring dengan kemajuan banyaknya penggunaan material dengan mengedepankan bobot yang ringan sedangkan sifat mekanisnya tetap terjaga bahkan lebih baik. Contoh mudah dapat kita lihat pada perkembangan material sepeda motor dari tahun 1970an hingga sekarang ini. Sepeda motor pada tahun 70-an tidak ada material yang berasal dari selain logam kecuali hanya roda dan jok saja. Bandingkan dengan sepeda motor pada zaman sekarang ini berapa prosenkah penggunaan logam dalam pembuatan sepeda motor? Kalau kita amati dengan bertambahnya usia dunia penggunaan material logam semakin tidak diminati mengingat salah satu kelemahan logam adalah memiliki berat yang lebih dan cenderung mahal harganya apabila dibandingkan dengan material modifikasi saat ini seperti bahan komposit. Apakah bahan komposit itu? Bahan komposit adalah suatu jenis bahan baru hasil rekayasa yang terdiri dari dua atau lebih bahan dimana sifat masing-masing bahan berbeda satu sama lainnya baik itu sifat kimia maupun fisikanya dan tetap terpisah dalam hasil akhir bahan tersebut (bahan komposit). Komponen penyusun bahan ini terdiri dari matriks dan filler yang berfungsi sebagai penguat (reinforcement) yang bersatu padu untuk saling menguatkan. Matriks dalam komposit berfungsi untuk mendistribusikan beban kedalam seluruh material penguat komposit. Sifat matriks biasanya ulet (ductile). Bahan penguat dalam komposit berperan untuk menahan beban yang diterima oleh material komposit. Sifat bahan penguat biasanya kaku dan tangguh. Bahan penguat yang umum digunakan selama ini adalah serat karbon, serat gelas, keramik. Serat alam sebagai jenis serat yang memiliki kelebihan-kelebihan mulai diaplikasikan sebagai bahan penguat dalam komposit polimer. Jauh sebelum ditemukan bahan-bahan komposit semua peralatan rumah tangga kebanyakan terbuat dari gerabah (keramik) dan kayu. Akan tetapi sekarang bahan-bahan tersebut kebanyakan sudah lama ditinggalkan dengan pertimbangan sudah tidak relevan lagi dengan kemajuan zaman. Bahan-bahan yang berasal dari alam tersebut sudah digantikan dengan bahan-bahan sintetis yang terbukti memiliki kecenderungan tidak ramah lingkungan dan tubuh mahluk hidup. Meskipun beresiko cukup tinggi terhadap kesehatan tubuh kita, bahan-bahan tersebut masih saja dipergunakan, seolah-olah tanpa ada efek sampingnya. Padahal dengan menggunakan bahan-bahan sintetis yang dikemas dalam material komposit tersebut sangat riskan terhadap gangguan kesehatan tubuh seperti dapat menjadi pemicu pertumbuhan kanker, dan sebagainya. Bahan yang ramah lingkungan, mampu didaur ulang, serta mampu dihancurkan sendiri oleh alam merupakan tuntutan teknologi sekarang ini. Salah satu bahan yang diharapkan mampu memenuhi hal tersebut adalah bahan komposit dengan penguat serat alam. Komposit alam atau sering disebut dengan Natural Composite (NACO) merupakan perpaduaan antara dua bagian bahan yang saling bekerjasama agar diperoleh mechanical properties yang lebih baik. Kemajuan bahan-bahan komposit alam sekarang ini semakin berkembang dengan ditemukannya bahan-bahan yang berasal dari alam dengan mechanical properties yang cukup sebagai bahan komposit. Reinforcement alami yang sudah dapat digunakan sebagai penguat pada bahan komposit adalah serat rami, serat sabut kelapa, serat waru, serat nanas, serat rotan, serat pohon pisang, serat enceng gondok,

serat bambu, serat rambut manusia, serat nata decoco, serat arang batok kelapa, dan banyak lagi. Sedangkan matriks yang digunakan biasanya berasal dari bahan polimer (resin). Sesungguhnya ribuan tahun lalu material komposit telah dipergunakan dengan memanfaatkannya serat alam sebagai penguat. Dinding bangunan tua di Mesir yang telah berumur lebih dari 3000 tahun ternyata terbuat dari tanah liat yang diperkuat jerami. Namun pada perkembangan selanjutnya, serat alam ditinggalkan oleh penggunanya karena dianggap tidak layak secara teknis, dan telah ditemukannya material baru yang lebih tangguh dan kuat, yaitu berbagai macam logam dan panduannya.Dengan dikembangkannya bahan-bahan komposit alam tersebut maka bahan-bahan sintetis sekarang ini seharusnya sudah dapat digantikan dengan bahan-bahan yang berasal dari alam mengingat bahan-bahan yang berasal dari alam juga memiliki mechanical properties yang mampu bersaing dengan bahan-bahan sintetis. Meskipun demikian sangat bijaksana apabila terus dilakukan inovasi material untuk memperoleh bahan-bahan yang memiliki mechanical properties yang lebih baik dan sangat ramah dengan tubuh kita yang berarti sehat dipergunakan tanpa ada efek samping. Menurut Prof. Ir. Jamasri, Ph. D, seorang pakar bahan komposit alam dari UGM, penggunaan kembali serat alam, dipicu oleh adanya regulasi tentang persyaratan habis pakai (end of life) produk komponen otomotif bagi negara-negara Uni Eropa dan sebagian Asia. Bahkan sejak tahun 2006, negaranegara Uni Eropa telah mendaur ulang 80% komponen otomotif, dan akan meningkat menjadi 85% pada tahun 2015. Di Asia khususnya di Jepang, sekitar 88% komponen otomotif telah di daur ulang pada tahun 2005 dan akan meningkat pada tahun 2015 menjadi 95%. Oleh karena itu, sebagian besar pabrikan otomotif sedang mengevaluasi dampak lingkungan terhadap umur pakai kendaraan secara keseluruhan mulai dari bahan baku, proses manufaktur sampai pada proses pembuangannya ketika sudah tua. Industri yang paling gencar menggunakan serat alam sebagai material penguat komposit polimer adalah produsen otomotif Daimler Chrysler. Produsen mobil Amerika-Jerman ini mulai meneliti dan menggunakan bahan komposit polimer berbasis serat-serat alam. Bahan komposit ini terutama digunakan sebagai bahan eksterior mobil. Berdasarkan hasil pengembangan mereka dapat diperoleh bahan komposit polimerserat alam dengan kekuatan 40% lebih kuat dan lebih ringan daripada komposit polimer-serat gelas. Kenapa lebih ringan memberikan nilai tambah ?..lebih ringan berarti bisa mengurangi bobot total kendaraan yang pada akhirnya dapat berkontribusi dalam penghematan bahan bakar. Proses pembuatan komposit berbasis serat alam relatif lebih murah dan lebih ramah lingkungan. Pembuatannya mengkonsumsi energi sekitar 70% lebih rendah dibandingkan komposit polimer-serat gelas. Dari segi ekologi, selain kadar karbon yang dihasilkan saat pembuatan lebih rendah, bahan komposit polimer berbasis serat alam ini dapat didaur ulang untuk digunakan kembali (walaupun dari segi kinerja sudah jauh menurun). Aplikasi yang sudah digunakan sejauh ini adalah komposit polimer diperkuat serat alam untuk proses manufacturing produk otomotif (aplikasi struktural). Karena sifat kekuatan serat alam ini bervariasi maka pemanfaatannya akan bervariasi mulai dari bahan komposit untuk penggunaan yang ringan dan tidak terlalu memerlukan kekuatan tinggi sampai bahan komposit untuk penggunaan yang memerlukan kekuatan dan ketangguhan tinggi.

Sampai saat ini komposit serat alam belum banyak digunakan di berbagai industri di Indonesia. Industri yang sudah memanfaatkannya, misalnya PT INKA Madiun yang telah mengaplikasikan komposit baik serat sintetik maupun serat alam sebagai komponen gerbang kereta api, substitusi panel baja dengan panel komposit itu mencapai 60%. Upaya mensubstitusi penggunaan penguat serat dan core sintetik dengan material alam telah dilakukan. Prototipe produk meja kereta eksekutif (K-1) misalnya, telah berhasil dibuat dari komposit berpenguat limbah serat buah sawit. Substitusi meja K-1 tersebut mampu menurunkan biaya bahan baku hingga menjadi 37% dari meja K-1 yang dibuat material komposit sintetik. Negara Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki kekayaan alam yang sangat berlimpah dan belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Sebagai negara dengan keaneka ragaman hayati yang luas memiliki peluang yang besar untuk mengeksplorasi pemanfaatan bahan serat alam sebagai penguat material komposit. Sejauh ini beberapa institusi pendidikan dan penelitian sudah mulai melakukan penelitian penggunaan serat alam sebagai bahan penguat untuk komposit. Mulai dari serat kelapa, serat eceng gondok, serat aren, dan serat alam jenis lainnya. Upaya peningkatan kemampuan rancang bangun dan manufacture material komposit berbasis bahan serat alam ini diharapkan dapat menunjang pembangunan industri dan kemandirian bangsa. Alwiyah nurhayati