Anda di halaman 1dari 57

ANDRE YURIS

MUDA UNTUK INDONESIA

Main menu
Skip to content

DESIGN GRAFIS FOTOGRAFI E-BOOK & HAND OUT MANGGARAI MUDA KATOLIK

Aug 8 2008

STUDI ANALISIS WACANA KRITIS


ANALISIS WACANA KRITIS Analisis wacana yang dimaksudkan dalam penelitian ini, adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subyek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang penulis dengan mengikuti struktur makna dari sang penulis sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana dapat di ketahui. Jadi, wacana dilihat dari bentuk hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subyek dan berbagai tindakan representasi. Dalam studi analisis wacana (discourse analysis), pengungkapan seperti itu dimaksudkan dalam

kategori analisis wacana kritis (critical discourse analysis-CDA). Pemahaman dasar CDA adalah wacana tidak dipahami semata-mata sebagai obyek studi bahasa. Bahasa tentu digunakan untuk menganalisis teks. Bahasa tidak dipandang dalam pengertian linguistik tradisional. Bahasa dalam analisis wacana kritis selain pada teks juga pada konteks bahasa sebagai alat yang dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu termasuk praktik ideologi. Analisis Wacana Kritis (CDA) melihat pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial. Praktik sosial dalam CDA dipandang menyebabkan hubungan dialektis antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, istitusi, dan struktur sosial. Konsep ini di pertegas oleh Fairclough dan Wodak yang melihat praktik wacana bias jadi menampilkan efek ideologis artinya wacana dapat memproduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelas sosial, laki-laki dan wanita, kelompok mayoritas dan minoritas dimana perbedaan itu direpresentasikan dalam praktik sosial. Lebih lanjut, Fairclough dan Wodak berpendapat bahwa analisis wacana kritis adalah bagaimana bahasa menyebabkan kelompok sosial yang ada bertarung dan mengajukan ideologinya masingmasing. Berikut disajikan karakteristik penting dari analisis kritis menurut mereka11 above: 1). Tindakan. Wacana dapat dipahami sebagai tindakan (actions) yaitu mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi. Sesorang berbicara, menulis, menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Wacana dalam prinsip ini, dipandang sebagai sesuatu yang betujuan apakah untuk mendebat, mempengaruhi, membujuk, menyangga, bereaksi dan sebagainya. Selain itu wacana dipahami sebagai sesuatu yang di ekspresikan secara sadar, terkontrol bukan sesuatu di luar kendali atau diekspresikan secara sadar. 2). Konteks. Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari wacana seperti latar, situasi, peristiwa dan kondisi. Wacana dipandang diproduksi dan di mengerti dan di analisis dalam konteks tertentu. Guy Cook menjelaskan bahwa analisis wacana memeriksa konteks dari komunikasi: siapa yang mengkomunikasikan dengan siapa dan mengapa; kahalayaknya, situasi apa, melalui medium apa, bagaimana, perbedaan tipe dan perkembangan komunikasi dan hubungan masing-masing pihak. Tiga hal sentaralnya adalah teks (semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak dilembar kertas, tetapi semua jenis ekspresi komunikasi). Konteks (memasukan semua jenis situasi dan hal yang berada dilar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, situsai dimana teks itu diproduksi serta fungsi yang dimaksudkan). Wacana dimaknai sebagai konteks dan teks secara bersama. Titik perhatianya adalah analisis wacana menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam proses komunikasi. 3). Historis, menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks. 4). Kekuasaan. Analisis wacana kritis mempertimbangkan elemen kekuasaan. Wacana dalam bentuk teks, percakapan atau apa pun tidak di pandang sebagai sesuatu yang alamiah wajar dan netral tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan yang dimaksudkan adalah salah satu kunci hubungan anatara wacana dan masyarakat. Ideologi adalah salah satu konsep sentral dalam analisis wacana kritis karena setiap bentuk teks, percakapan dan sebaginya adalah paraktik ideologi atau pancaran ideologi tertentu. Wacana bagi ideologi adalah meduim melalui mana kelompok dominan mempersuasai dan mengkomunikasikan kepada khalayak kekuasaan yang mereka miliki sehingga absah dan benar. Semua karakteristik penting dari analsis wacana kritis tentunya membutuhkan pola pendekatan analisis. Hal ini diperlukan untuk memberi penjelasan bagaimana wacana di kembangkan maupun mempengaruhi khalayak. Michael Foucault adalah salah satu pemikir yang

mengembangkan teori wacana. Dalam studinya, Ia memperlihatkan bahwa manusia muncul karena susunan kata-kata dan benda yang diubah-ubah2. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, sepenggal masa yang disebut modernitas ini menghasilkan susunan yang memberi tempat istimewa pada diri manusia yang sadar diri. Susunan yang dimaksudkan Foucault adalah keretakan hubungan subyek (kata-kata) dan obyek (benda-benda) yang karena suatu hal diutuhkan kembali. Suatu hal yang membuat keretakan hubungan subyek dan obyek di utuhkan kembali adalah kekuasaan dan kekuasaan itu diproduksi oleh wacana. Bagaimana wacana diproduksi, siapa yang memproduksi dan apa efek produksi wacana?. Yang bisa menjawab pertanyaan diatas adalah konsep wacana Michael Foucaault. Dalam konsepnya Foucault tidak memandang wacana sebagai serangkaian kata atau preposisi dalam teks tetapi memproduksi yang lain (sebuah gagasan, konsep atau efek)3. Wacana secara sistematis dalam ide, opini, konsep dan pandangan hidup di bentuk dalam konteks tertentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. Salah satu konsep radikal Foucault adalah tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Tesis keras yang disampaikanya adalah bahwa ilmu-ilmu kemanusiaan merupakan perpaduan yang tidak terpisahkan dari pengtahuan dan kekuasaan. Dalam buku Dicipline and Punish (1976) dia memperlihatkan bagaimana jaman klasik dan moderen. Kelahiran penjara modern adalah penampilan kedaulatan negara memonopoli kekerasan atas warganya untuk melangengkan kekuasaan4. Pengetahuan adalah mesin kekuasaan dan di sebutnya sebagai bio power untuk membentuk individu-individu menjadi subyek-subyek yang menghasilkan pengetahuan untuk memantau diri atau disebut teknik kehadiran (techniques of self) dan manipulasi. Melalui wacana individu bukan hanya memantau dirinya tetapi juga dibentuk, dikontrol dan didisiplinkan. Misalnya pembagian kerja dalam rumah tangga. Pertanyaan selanjutnya yang penting untuk di jawab dalam CDA adalah bagaimana terbentuknya bangunan wacana? Studi analisis wacana seperti yang dijelaskan sebelumnya bukan sekedar mengenai pernyataan, tetapi juga struktur dan tata aturan wacana. Struktur analisis wacana tentunya tidak terlepas dari keterkaitan atau hubungan antara wacana dengan kenyataan. Kenyataan atau realitas dipahami sebagai seperangkat konstruksi sosial yang dibentuk melalui wacana. Dalam CDA, khususnya teori wacana Foucault hal ini disebut struktur diskursif. Struktur diskursif merupakan pandangan kita tentang suatu obyek yang dibentuk dalam batasbatas yang telah ditentukan. Batasan tersebut dicirikan oleh obyek, definisi dari prespektif yang paling dipercaya da dianggap benar. Presepsi kita terhadap suatu obyek dibentuk dan dibatasi oleh paraktik diskursif atau dibatasi oleh pandangan yang mendefinisikan sesuatu yang ini benar dan yang lainya salah. Konsekuensinya adalah bahwa pandangan tertentu membatasi pandangan khalayak dan mengarahkan pada jalan pikiran tertentu dan menghayati itu sebagi sesuatu yang benar5. Ciri lain yang tidak kala penting dalam pembacaan wacana Foucault adalah cirri utama wacana ialah kemampuanya untuk menjadi satu himpunan yang berfungsi membentuk dan melestarikan hubungan-hubungan kekuasaan dalam suatu masyarakat. Dalam suatu masyarakat biasanya terdapat berbagai macam wacana yang berbeda satu sama lain, namun kekuasaan memilih dan mendukung wacana tertentu sehingga wacana tersebut manjadi dominan , sedangkan wacana lain terpinggirkan (marginalized) atau terpendam (submerged) 6. Ada dua konsekuensi dari wacana dominant : pertama, wacana dominan memberikan arahan bagaimana subyek harus dibaca dan dipahami. Pandangan lebih luas menjadi terhalang karena yang diberikan adalah pilihan yang sudah paten dan siap pakai. Kedua, struktur diskursif yang

tercipta atas suatu obyek tidak berarti kebenaran. Batasan yang tercipta tersebut hanya membatasi pandangan kita, tetapi juga menyebabkan wacana lain menjadi tidak domianan dan terpinggirkan. Proses terpingirkannya wacana membawa implikasi: pertama, khalayak tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan informasi yang beragam dan berbagai sudut mengenai suatu peristiwa. Kedua, bisa jadi peminggiran wacana menunjukan praktik ideologi. Acap kali sesorang, kelompok, gagasan, tindakan, kegiatan terpinggirkan menjadi marjinal melalaui penciptaan wacana-wacana tertentu7. Teori wacana kritis yang kemukakan Foucault, secara metodologi analisis banyak di adopsi oleh Sara Mills. Mills menjadikan teori wacana Foucault sebagai ground teori untuk analisis wacana kritis. P endekatan wacana yang mengguanakan teori Foucault sebgai grounded disebut sebagai Analsis Wacana Pendekatan Prancis ( French Discourse Analysis). Sara Mills merupakan salah satu penganut dari teori ini. Walaupun lebih dikenal sebagai seorang feminis, metode anlisisnya sangat cocok untuk menggambarkan realasi kekuasaan dan ideologi yang dibahas dalam penelitian ini. Konsep dasar pemikiran Mills lebih melihat pada bagaimana aktor ditampilkan dalam teks. Posisi posisi ini dalam arti siapa yang menjadi subyek penceritaan dan siapa yang menjadi obyek penceritaan akan manentukan bagaimana struktur teks dan bagaimana makna diperlakuakan dalam teks secara keseluruhan. Selain itu juga diperhatikan bagaimana pembaca dan penulis ditampilkan dalam teks. Bagaimana pembaca mengidentifikasikan dirinya dalam penceritaan teks. Ada dua konsep dasar yang di perhatikan8:Posisi Subyek Obyek, menempatkan representasi sebagai bagian terpenting. Bagaimana satu pihak, kelompok, orang, gagasan,dan peristiwa ditampilkan dengan cara tertentu dalam wacana dan mempengaruhi pemaknaan khalayak. Penekananya adalah bagaimana poisisi dari aktor sosial, posisi gagasan, atau peristiwa ditempatkan dalam teks. Posisi pembaca dalam teks, menurut Mills sangat penting dan diperhitungkan karena pemabaca bukan semata-mata pihak yang hanya menerima teks, tetapi juga ikut melaksanakan transaksi sebagaimana akan terlibat dalam teks. (andrewednes@yahoo.co.id/ www: andreyuris.wordpress.com) Oleh : Yulianus Andre Yuris, Jurnalis Majalah Keluarga Katholik HARMONI Keuskupan Surabaya, Volentir KOMKEP Surabaya.
About these ads

Rate this:

6 Votes

soscialsite

Digg More

Like this:
Like One blogger likes this.

By ANDRE YURIS Posted in ARTIKEL Tagged ARTIKEL, COMMUNICATION SCIENCE 37

Post navigation
MUDA VS TUA SUDAH BASI Sosialisme dan Manusia di Kuba(Che Guevara 1965)

37 comments on STUDI ANALISIS WACANA KRITIS


1.

Annisa September 4, 2008 @ 3:43 am HAI..Abang Yuris. Tertarik banget nih bikin penelitian tentang ideologi menggunakan wacana kritis,, abang bisa bantu ngga ya..hehe bisa ngga saya minta no telpnya abang. buat tanya dan share masalah ideologi yang terdapat dalam tulisan. maklum nisa masih buta masalah ini tapi pengen banget tesisnya ke wacana. mudah-mudahan abang mau bantu. makasih sebelumnya ya bang. Reply

2.

halimaton September 5, 2008 @ 4:32 am haiiiiii, saya ingin mengetahui bahagian-bahagian yang terdapat dalam analisis wacana seperti discourse, field, mode, tenor, dan register. boleh tolong terangkan tak tentang bahagian-bahagian terebut dan bagaimana ia digunakan.

Reply

3.

Putri January 23, 2009 @ 12:23 pm wah rasanya menemukan tempat untuk curhat nih.. salam kenal ya bang..kebetulan bgt saya lagi bingung tentang analisis wacana,,soalny saya lagi skripsi tentang analisis wacan representasi perempuan muallaf dlm film ayatayat cinta..kira saya boleh minta bantuan gag yaaa???ya semacam sharing tentang analisis wacana gituthx a lot Reply

4.

rosit January 27, 2009 @ 8:34 am I appreciate your good article, thanks Reply

5.

diah April 6, 2009 @ 3:52 am salam kenal . sharing dunk tentang CDA nya.. lg skripsi jg nich. konstruksi berita berbahasa daerah pada televisi lokal. n aku pk analisis wacana punya norman fairclough. nyari2 contoh skripsi belum nemu, wacana berita televisi, banyak yg analisis media cetak.. bisa bantu kan gmn cara analisis wacana berita Tv. tenk qyutenk qyu Reply

6.

Riki Susanto April 25, 2009 @ 9:20 am

bang saya sangat tertarik dengan artikel abang. saya minta abantuan nie !!! boleh kan.aq minta tolong dengan abang bantu saya karena saya lagi bnyusun skripsi dengan judul Analisis wacana kritis pada media masa terbitan bengkulu Reply

7.

Ellen May 10, 2009 @ 3:31 am salam kenal pak saya sekarang sedang bikin skripsi tentang analisis tapi saya masih bingung, analisis apa yang akan saya gunakan. jika saya ingin membuat judul mengenai studi tentang program berita di. dengan program berita di tv yang mengalami head to head. sya ingin meneliti dari segi contentnya. apakah bisa menggunakan analisis isi dan wacana? mohon bantuannya Reply

8.

Armiati Rasyid May 26, 2009 @ 7:56 am Salam kenal pakgimana sih menentukan jenis ideologi seseorang dalam AWK? saya pernah meneliti tentang wacana politik AWK tapi yang saya dapatkan hanya jenis kekuasaannyagak bisa menentukan jenis ideologinya Reply

9.

iwan June 3, 2009 @ 5:48 am bos, pengen konsultasi maslah A W K neh, lagi nggarap skripsi tentang analisis wacana kritis terhadap feature, bs bantu g ya Bos/ Reply

10.

cahpct June 5, 2009 @ 1:48 am boleh tanya juga apa beda antara analisis wacana dengan analisis isi?

Reply

11.

Muhammad F.A.S. June 7, 2009 @ 2:03 pm trima kasih..semoga ilmu yang anda bagi tersebut dapat limpahan rahmat-Nya, amin..kalo bisa buat teman-teman yang lain bagi-bagi info tentang teori CDA yang lainnya ya..maaf saya orang yang paling miskin ilmu CDA Reply

12.

alam nugraha July 9, 2009 @ 3:50 pm hai bang assalam..aleik bang ane mau tanya nehbisa minta tolong untuk diprbanyak tenang CDA analisis sara mills nya nggak?? dimana sih biar aku dapat Grand Theori seperti sara mills, yah setidaknya bisa bermanfaat buat skripsi aku..kasih kabar yah bang secepatnyathanks Reply

13.

gafry dokend October 17, 2009 @ 6:06 am makasi untuk penjelasannya. tentang CDA selama ini yg saya temukan kebanyakan dalam buku-buku terjemahan jadi susah untuk dipahami secara mendalam. kalau bisa penjelasan mengenai tematik, konteks,dll disertai jg dengan contoh kongkrit biar yang baca lebih paham lagi. thanks a lot Reply

14.

Andi Habibi October 22, 2009 @ 3:47 pm Analisis wacana kritis menurut sy bgmana kita bsa menghubungkn 1 wacana dgn wacana lain yg dri bentuk wacanax sngat jauh hubx dan perlu penganalisaan yg ckup realistis bgi kita smw agar orang lain mudah mxerap dan memahami lgsung wacana yg dianalisis.

Reply

15.

anne November 15, 2009 @ 1:45 pm skarg saya sdang mengrjakn skripsi nich Pak,,,judulna tentang nalisis wacana pidatonya tokoh-tokoh terkenal,,,kira2 yang cocok untuk sripsi saya tuh peke teori analsis wacananya siapa ya Pak,,,mksh,,, Reply

16.

susilo January 9, 2010 @ 1:35 pm Bagus, trimaksih. Reply

17.

Putri March 2, 2010 @ 11:15 am salam kenal.. saya juga lagi skripsi tentang CDA, Pencitraan BCA melalui tayangan Gebyar BCA. Saya juga lagi kebingungan soalnya contoh2 skripsi CDA banyaknya tentang teks, saya belum nemu contohnya di tayangan. bisa bantuin ga bang..saya stuck niylg ngerjain bab 4. thanks ya.. Reply

18.

Devi June 8, 2010 @ 3:47 pm bagus. mmberi tmbahan pmahaman ttg analisis wacana. hanya, sayang skali, knapa tdk mncantumkan referensi sumber data dr smua data di artikel tsb? seandainya dtuliskan, pmbaca kan jd bs mlacak smber2nya dan mnggali lbh bnyak informasi lg dr rujukan tulisannya mz Andre,, sehingga mz Andre jg bs skaligus mnyuburkan budaya literasi bg pmbaca artikel2 di blog ini..

but, thank you anyway,, ^^ keep writing.. keep sharing..! Reply

19.

hendri August 1, 2010 @ 3:41 am bang aq lagi garap skripsi membedah pemikiran M.foucault.. kalau abang punya artikel tentang tu krim ke email q yauw buat memperkaya refrensi.. matur thanks Reply

20.

vinny October 3, 2010 @ 1:38 pm ass..sy mohon izin mengutip tulisan bapak diatas untuk bahan tulisan saya..semoga bapak ikhlas..wassalam Reply

ANDRE YURIS December 29, 2010 @ 5:32 am Izin diberikan, tp dgn catatan : sumbernya dicantumin ya. Reply

21.

febri October 21, 2010 @ 1:26 pm permisi pake artikel bapak ya Reply

ANDRE YURIS December 29, 2010 @ 5:31 am boleh dipakai n referensinya tetap dicari Reply

22.

Ree Ozora December 25, 2010 @ 10:41 am bisa minta daftar rujukan dari artikel ini? Reply

ANDRE YURIS December 29, 2010 @ 5:29 am to Ree Ozora : Saya nulis ini kebetulan pas jaman kuliah dulu,..jd refrensinya agak lupa tp klu tidak salah coba cek buku ANALSIS WACANA KOMUNIKASIthanks Reply

23. Pingback: 2010 in review ANDRE YURIS 24.

w15h05h1 April 1, 2011 @ 8:15 am kalau analisis wacana digunakan untuk outobiografi seseorang apa bisa? terimakasih sebelumnya.. Reply

ANDRE YURIS April 4, 2011 @ 5:11 am

Thanks sudah mampir di blog ku. Pada dasarnya analsis wacana kritis ditujukan sebagai alat analisa terhadap wacana atau diskursus sosial yang termuat dimass media. Diskursus perlu dipahami sebgai betuk lanjut dari fenomena masyarakat yang ramai diperbincangkan/dibicarakan. Buku adalah salah satu mass media, tapi tentu kita perlu memilah apakah buku tersebut memiliki formulasi sbb: fenomena sosial, ilmiah, dan mendapat perhatian dari masyarakat. tahnks Reply

25.

citra April 7, 2011 @ 5:00 am saya sedang membuat skripsi dengan teori ini, tapi saya bingung bagaimana cara menganalisis posisi subjek-objek dan penulis-pembaca, terutama dalam pembuatan tabel analisisnya. terima kasih mas andre. Reply

ANDRE YURIS April 7, 2011 @ 9:44 am thanks sudah mampir diblog ku,.. tinggal melihat keduanya dalam relasi kuasa..mana yang wacana dominan mana yang tidak, biasanya penulis mencoba menjadi wacana dominan ataupun sebaliknya merupakan antitesis terhadap wacana dominan,..tabelnya sederhana kok..contohnya ada dibeberapa buku thanks andre yuris Reply

citra April 9, 2011 @ 2:15 pm boleh minta referensinya?

26.

anwar April 24, 2011 @ 8:19 am bang! saya mau tanya kalau kita mau teliti tentang wacana iklan apanya yg bagus diteliti? Reply

27.

ziah April 28, 2011 @ 5:59 am assalam pak saya mau nanya judul skripsi saya Analisis wacana pemberitaan kekerasaan TKW, karena menurut saya ini judul jauh dari politik tetapi justru mencondong ke sosial apakah ada ideologi di suatu media. apakah semua berita bisa dianalisis melalui teori teu van dick?kalau tidak, gimana cirir2nya? pak saya kebingungan untuk mengetahui elemen tematik, elemen skematik, elemen sematik, elemen sintaksis, elemen stilistik dan retoris pada suatu berita? apakah menentukan itu sesuai urutan paragraf, saya mempunyai referensi buku eriyanto menurut bapak gimana?saya harap bapak bersedia menjawab pertanyaan saya makasih wassalam Reply

ANDRE YURIS April 28, 2011 @ 9:54 am Dear Ziah, Dalam AW apalagi AWK selalu ada dua wacana yang bertentangan (entah secara ideologi ataupun kepentingan politik media), apa wacana dominan (arus besarpopular) versus wacana subordinat( newwave lah gitu). Jadi kamu memetakan dulu..Kemudian Teori Van Djik adalah salah satu based-teori(teori dasar) dlm AW, jadi perlu diperkuat teori lainya. sekian dulu ya..thank for visiting.. Reply

28.

adhy October 2, 2011 @ 2:40 am

bang gmana kalau kita mnimbulkan wacan dalam suatu brita apa bisa..? Reply

29.

Dewi Ayu Z. (@dewiayuz) July 9, 2012 @ 6:19 am mas, skripsi saya ttg mmperjuangkan kemiskinan dan saya memasukkan teori Foucault yang wacana dan kekuasaan tapi saya bingung apakah memang tepat atau tidak tolong dibantu bang gimna cara memasukkan teori kedalam skripsi saya .. trimakasihh Reply

ANDRE YURIS July 10, 2012 @ 6:54 am Salam Kenal Dewi,..Foucault pada dasarnya menekanakan realsi wacana dengan kekuasaan. Wacana Mayoritas vs minoritas, wacana dominan dgn yg tidak dominan. Kemiskinan sy pikir wacana yg bagus diteliti, misalnya saja soal angka kemiskinan pemerintah beda dgn angka ukuran lsm, baik dinilai dari pendapatan perkapita atau Indeks nat bruto. Yg lain misalnya standard rumah, maupun standar PBB ttg GNDP. Jadi sebenarnya Foucault cukup relefan. Thanks, semoga bisa membantu. Reply

Leave a Reply

Pages

KATOLISITAS PROFILE

ANDRE'S VISITOR

75,884 hits

My Twiteer

Lagi pula Ahok Basuki tidak mungkin secara gegabah memimpin lembaga muslim, pasti ada pendelegasian. #FPIvsAhoksays... 1 month ago Senam muka dipingir @Dam Grape Madiun, bersama temans JATADAR KARINA SURABAYA.says... 2 months ago Hanya rasa iba dan tanda tanya, ketika sang sahabat datang dlm kodisi berubah total..doa n cari jalan smg keceriaanya kembali..to Mosessays... 2 months ago Menjelang bln puasa, ibu warung makan langganan pun menaikan hrga 1500.says... 3 months ago Ancaman GOLKAR thd JK, Menunjukan ketidakpercayaan diri ARB. Jg menambah jauh PARPOL dr iklim demokrasi.says... 3 months ago

NEW POSTING

PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI UNTUK MASA PRAPASKAH 2012 TREND KEKERASAN : PEMERINTAH SBY ABSEN SEKEDAR SALAM BUAT PAK BEYE MENCARI SOSOK TIONGHOA INDONESIA GLOBALISASI DAN SEMANGAT IMLEK

VOX POPULI
daffa on Gunung Welirang, Siksaan bagi Nilai-Nilai Pendidik on Analisis isi (content ana ANDRE YURIS on STUDI ANALISIS WACANA KRI Dewi Ayu Z. (@dewiay on STUDI ANALISIS WACANA KRI iTunes Box on Analisis isi (content ana pontren gowa on PROFILE PAK (POLISI) HOEG Ana on Analisis isi (content ana Pak polisi hoegeng l on polisi hugeng

rudi on Beo Ruteng Puu, photo b dedy on Analisis isi (content ana

Categories KOMUNITAS

ANDRE YURIS 0 FIAN ROGER 0 FREE WEB HOSTING 2 KOMKEP SURABAYA 0 NERA HKY SURABAYA 0 SANGGAR SENDANG 0 UNIQLY RUTENG 0

MASS MEDIA

KOMPAS CETAK 0 KORAN TEMPO 0

PENULIS
o

ANDRE YURIS PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI UNTUK MASA PRAPASKAH 2012

FOTO-FOTO
More Photos

ADMIN

Register Log in Entries RSS Comments RSS

WordPress.com

TRAVELER

FOTOGRAFI ARTIKEL MUDA KATOLIK FOTOGRAFI MANGGARAI DESIGN GRAFIS

Search Blog at WordPress.com. | Theme: iTheme2 by Themify.

#sastra-pembebasan# Pelatihan Critical Discourse Analysis (CDA)


by wikubaskoro Aug 28, 2007; 02:22pm :: Rate this Message: moderate (?) Reply | Print | View Threaded | Show Only this Message Pelatihan Critical Discourse Analysis (CDA) - Use ratings to

Salah satu ragam riset yang berkembang pesat dalam studi komunikasi berfokus pada kajian media. Tidak lagi berkutat pada analisis isi dan

kajian kuantitatif, riset media kini merambah pendekatan-pendekatan baru yang diperkaya lewat kontribusi paradigma-paradigma mutakhir dalam kajian komunikasi. Salah satu ragam kajian yang berkembang adalah Analisis Wacana Kritis, atau Critical Discourse Analysis, (CDA). Sayangnya, walau penelitian dengan CDA menjamur di mana-mana, masih banyak calon peneliti yang kebingungan menerjemahkan teori-teori wacana dalam praktik penelitian maupun analisis. Pelatihan CDA yang kami tawarkan di sini dimaksudkan untuk membantu peserta memahami landasan CDA, ragam metode CDA, dan penerapan teori-teori Kritis dalam analisis. Karena itu, kurikulum pelatihan ini disusun sedemikian rupa, guna memberikan landasan teoritis yang memadai sekaligus mempraktikkan CDA. Materi tiap pertemuan: 1. General Introduction - pengantar menuju metode kualitatif. Memperkenalkan tujuan, signifikansi, diikuti dengan penjelasan tentang teori-teori dasar yang melandasi CDA. Dalam sesi ini, peserta juga akan diajak untuk mencermati pemetaan CDA dan karakteristiknya masing-masing. Beberapa contoh terbaik penelitian CDA akan diperkenalkan. 2. Ragam Metode Kualitatif: Norman Fairclough - Norman Fairclough adalah salah satu teorisi dan periset media yang merumuskan model CDA. Model CDA Fairclough termasuk yang paling populer, karena walau pun ringkas, namun mampu menyentuh banyak level analisis media. Seperti apa metode CDA Fairclough, bagaimana mengaplikasikan metode ini dalam penelitian, apa spesifikasi khusus CDA Fairclough yang membedakannya dengan metode CDA lainnya, itulah yang akan dibahas dalam sesi ini. 3. Ragam Metode Kualitatif: Sara Mills - Sara Mills dikenal sebagai perumus model CDA berbasis gender. Pada perkembangan selanjutnya, model CDA Sara Mills akhirnya tidak cuma digunakan untuk menyentuh permasalahan berwajah 'feminis'--tetapi juga dalam penelitian di ranah-ranah lain yang berkaitan dengan ketimpangan dan ketidaksetaraan. Cari tahu lebih banyak tentang model CDA Sara Mills, serta bagaimana mengaplikasikannya dalam penelitian dalam sesi ini. 4. Ragam Metode Kualitatif: Teun A. van Dijk - Model CDA Teun A. van Dijk termasuk yang paling banyak dipakai, juga yang paling banyak disalahkaprahkan. Kendati demikian, minat orang untuk mengaplikasikan model CDA Van Dijk tak pernah surut. Maklum, model CDA Van Dijk menyentuh banyak level analisis, dan tergolong sederhana namun cakupannya mendalam. Agar tidak terjebak dalam salah kaprah memahami Van Dijk dan teorinya, maka sesi ini mengangkat model CDA Van Dijk, spesifikasinya, serta evaluasi. 5. Latihan 1: Menerapkan CDA 6. Latihan 2: Menerapkan CDA

Di luar ketiga model CDA di atas, pelatihan ini menawarkan alternatif model CDA lainnya, seperti model analisis Ruth Wodak, Shoemaker-Reese, dll. Instruktur: Santi Indra Astuti (Dosen Fikom Unisba, Research Fellow LIPI, dan Research and Development Bandung School of Communication Studies). Peserta pelatihan Mahasiswa studi komunikasi, peminat kajian komunikasi, pers, LSM, dosen, dan lain-lain. Waktu dan tempat Pelatihan ini terdiri dari 6 kali pertemuan @ 2 x 60 menit. Mulai tanggal 17,19,20, 24, 26,27 September 2007 Pk. 15.00 -17.00 Biaya Pendaftaran Rp. 300.000 (termasuk workshop kit, sertifikat, dan snack buka puasa) Tempat dan Pendaftaran Workshop Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung Telp. 022 4261548 Acara ini diselenggarakan oleh Bandung School of Communication Studies dan didukung oleh Tobucil & Klabs wiku kordinator klabs tobucil wikubaskoro.blogspot.com

#sastra-pembebasan# Pelatihan Critical Discourse Analysis (CDA)


by wikubaskoro Aug 28, 2007; 02:22pm :: Rate this Message: moderate (?) Reply | Print | View Threaded | Show Only this Message Pelatihan Critical Discourse Analysis (CDA) - Use ratings to

Salah satu ragam riset yang berkembang pesat dalam studi komunikasi berfokus pada kajian media. Tidak lagi berkutat pada analisis isi dan

kajian kuantitatif, riset media kini merambah pendekatan-pendekatan baru yang diperkaya lewat kontribusi paradigma-paradigma mutakhir dalam kajian komunikasi. Salah satu ragam kajian yang berkembang adalah Analisis Wacana Kritis, atau Critical Discourse Analysis, (CDA). Sayangnya, walau penelitian dengan CDA menjamur di mana-mana, masih banyak calon peneliti yang kebingungan menerjemahkan teori-teori wacana dalam praktik penelitian maupun analisis. Pelatihan CDA yang kami tawarkan di sini dimaksudkan untuk membantu peserta memahami landasan CDA, ragam metode CDA, dan penerapan teori-teori Kritis dalam analisis. Karena itu, kurikulum pelatihan ini disusun sedemikian rupa, guna memberikan landasan teoritis yang memadai sekaligus mempraktikkan CDA. Materi tiap pertemuan: 1. General Introduction - pengantar menuju metode kualitatif. Memperkenalkan tujuan, signifikansi, diikuti dengan penjelasan tentang teori-teori dasar yang melandasi CDA. Dalam sesi ini, peserta juga akan diajak untuk mencermati pemetaan CDA dan karakteristiknya masing-masing. Beberapa contoh terbaik penelitian CDA akan diperkenalkan. 2. Ragam Metode Kualitatif: Norman Fairclough - Norman Fairclough adalah salah satu teorisi dan periset media yang merumuskan model CDA. Model CDA Fairclough termasuk yang paling populer, karena walau pun ringkas, namun mampu menyentuh banyak level analisis media. Seperti apa metode CDA Fairclough, bagaimana mengaplikasikan metode ini dalam penelitian, apa spesifikasi khusus CDA Fairclough yang membedakannya dengan metode CDA lainnya, itulah yang akan dibahas dalam sesi ini. 3. Ragam Metode Kualitatif: Sara Mills - Sara Mills dikenal sebagai perumus model CDA berbasis gender. Pada perkembangan selanjutnya, model CDA Sara Mills akhirnya tidak cuma digunakan untuk menyentuh permasalahan berwajah 'feminis'--tetapi juga dalam penelitian di ranah-ranah lain yang berkaitan dengan ketimpangan dan ketidaksetaraan. Cari tahu lebih banyak tentang model CDA Sara Mills, serta bagaimana mengaplikasikannya dalam penelitian dalam sesi ini. 4. Ragam Metode Kualitatif: Teun A. van Dijk - Model CDA Teun A. van Dijk termasuk yang paling banyak dipakai, juga yang paling banyak disalahkaprahkan. Kendati demikian, minat orang untuk mengaplikasikan model CDA Van Dijk tak pernah surut. Maklum, model CDA Van Dijk menyentuh banyak level analisis, dan tergolong sederhana namun cakupannya mendalam. Agar tidak terjebak dalam salah kaprah memahami Van Dijk dan teorinya, maka sesi ini mengangkat model CDA Van Dijk, spesifikasinya, serta evaluasi. 5. Latihan 1: Menerapkan CDA 6. Latihan 2: Menerapkan CDA

Di luar ketiga model CDA di atas, pelatihan ini menawarkan alternatif model CDA lainnya, seperti model analisis Ruth Wodak, Shoemaker-Reese, dll. Instruktur: Santi Indra Astuti (Dosen Fikom Unisba, Research Fellow LIPI, dan Research and Development Bandung School of Communication Studies). Peserta pelatihan Mahasiswa studi komunikasi, peminat kajian komunikasi, pers, LSM, dosen, dan lain-lain. Waktu dan tempat Pelatihan ini terdiri dari 6 kali pertemuan @ 2 x 60 menit. Mulai tanggal 17,19,20, 24, 26,27 September 2007 Pk. 15.00 -17.00 Biaya Pendaftaran Rp. 300.000 (termasuk workshop kit, sertifikat, dan snack buka puasa) Tempat dan Pendaftaran Workshop Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung Telp. 022 4261548 Acara ini diselenggarakan oleh Bandung School of Communication Studies dan didukung oleh Tobucil & Klabs wiku kordinator klabs tobucil wikubaskoro.blogspot.com

#sastra-pembebasan# Pelatihan Critical Discourse Analysis (CDA)


by wikubaskoro Aug 28, 2007; 02:22pm :: Rate this Message: moderate (?) Reply | Print | View Threaded | Show Only this Message - Use ratings to

Pelatihan Critical Discourse Analysis (CDA)

Salah satu ragam riset yang berkembang pesat dalam studi komunikasi berfokus pada kajian media. Tidak lagi berkutat pada analisis isi dan kajian kuantitatif, riset media kini merambah pendekatan-pendekatan baru yang diperkaya lewat kontribusi paradigma-paradigma mutakhir dalam kajian komunikasi. Salah satu ragam kajian yang berkembang adalah Analisis Wacana Kritis, atau Critical Discourse Analysis, (CDA). Sayangnya, walau penelitian dengan CDA menjamur di mana-mana, masih banyak calon peneliti yang kebingungan menerjemahkan teori-teori wacana dalam praktik penelitian maupun analisis. Pelatihan CDA yang kami tawarkan di sini dimaksudkan untuk membantu peserta memahami landasan CDA, ragam metode CDA, dan penerapan teori-teori Kritis dalam analisis. Karena itu, kurikulum pelatihan ini disusun sedemikian rupa, guna memberikan landasan teoritis yang memadai sekaligus mempraktikkan CDA. Materi tiap pertemuan: 1. General Introduction - pengantar menuju metode kualitatif. Memperkenalkan tujuan, signifikansi, diikuti dengan penjelasan tentang teori-teori dasar yang melandasi CDA. Dalam sesi ini, peserta juga akan diajak untuk mencermati pemetaan CDA dan karakteristiknya masing-masing. Beberapa contoh terbaik penelitian CDA akan diperkenalkan. 2. Ragam Metode Kualitatif: Norman Fairclough - Norman Fairclough adalah salah satu teorisi dan periset media yang merumuskan model CDA. Model CDA Fairclough termasuk yang paling populer, karena walau pun ringkas, namun mampu menyentuh banyak level analisis media. Seperti apa metode CDA Fairclough, bagaimana mengaplikasikan metode ini dalam penelitian, apa spesifikasi khusus CDA Fairclough yang membedakannya dengan metode CDA lainnya, itulah yang akan dibahas dalam sesi ini. 3. Ragam Metode Kualitatif: Sara Mills - Sara Mills dikenal sebagai perumus model CDA berbasis gender. Pada perkembangan selanjutnya, model CDA Sara Mills akhirnya tidak cuma digunakan untuk menyentuh permasalahan berwajah 'feminis'--tetapi juga dalam penelitian di ranah-ranah lain yang berkaitan dengan ketimpangan dan ketidaksetaraan. Cari tahu lebih banyak tentang model CDA Sara Mills, serta bagaimana mengaplikasikannya dalam penelitian dalam sesi ini. 4. Ragam Metode Kualitatif: Teun A. van Dijk - Model CDA Teun A. van Dijk termasuk yang paling banyak dipakai, juga yang paling banyak disalahkaprahkan. Kendati demikian, minat orang

untuk mengaplikasikan model CDA Van Dijk tak pernah surut. Maklum, model CDA Van Dijk menyentuh banyak level analisis, dan tergolong sederhana namun cakupannya mendalam. Agar tidak terjebak dalam salah kaprah memahami Van Dijk dan teorinya, maka sesi ini mengangkat model CDA Van Dijk, spesifikasinya, serta evaluasi. 5. Latihan 1: Menerapkan CDA 6. Latihan 2: Menerapkan CDA Di luar ketiga model CDA di atas, pelatihan ini menawarkan alternatif model CDA lainnya, seperti model analisis Ruth Wodak, Shoemaker-Reese, dll. Instruktur: Santi Indra Astuti (Dosen Fikom Unisba, Research Fellow LIPI, dan Research and Development Bandung School of Communication Studies). Peserta pelatihan Mahasiswa studi komunikasi, peminat kajian komunikasi, pers, LSM, dosen, dan lain-lain. Waktu dan tempat Pelatihan ini terdiri dari 6 kali pertemuan @ 2 x 60 menit. Mulai tanggal 17,19,20, 24, 26,27 September 2007 Pk. 15.00 -17.00 Biaya Pendaftaran Rp. 300.000 (termasuk workshop kit, sertifikat, dan snack buka puasa) Tempat dan Pendaftaran Workshop Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung Telp. 022 4261548 Acara ini diselenggarakan oleh Bandung School of Communication Studies dan didukung oleh Tobucil & Klabs wiku kordinator klabs tobucil wikubaskoro.blogspot.com

Analisis Keberpihakan Wacana


Analisis Teks Berita Ariel Vs Wartawan Berdasarkan Berita Istanaartis.com dengan Artisgosip.com Menggunakan Teori Sara Mills: Analisis Wacana Paradigma Kritis Oleh Hidayat Rahmad As-Scouty 1. Pendahuluan Satu hal yang perlu menjadi catatan dalam analisis wacana paradigma kritis adalah analisisnya melihat bagaimana gramatika bahasa membawa posisi dan makna ideologi tertentu. Dengan kata lain, aspek ideologi itu diamati dengan melihat pilihan bahasa dan struktur tata bahasa yang dipakai. Ideologi itu dalam taraf yang umum

1.1 Latar Belakang

menunjukkan bagaimana satu kelompok berusaha memenangkan dukungan publik dan bagaimana kelompok lain berusaha dimarjinalkan lewat pemakaian bahasa dan struktur gramatika tertentu. (Periksa Eriiyanto, 2001: 15) Salah satu teori yang menggunakan paradigma kritis dalam analisisnya adalah model analisis Sara Mills. Sara Mills merupakan salah satu penganut teori feminis, metode anlisisnya sangat cocok untuk menggambarkan relasi kekuasaan dan ideologi yang dibahas dalam pemberitaan. Konsep dasar pemikiran Mills lebih melihat pada bagaimana aktor ditampilkan dalam teks. Posisi ini dalam arti siapa yang menjadi subyek penceritaan dan siapa yang menjadi obyek penceritaan akan menentukan bagaimana struktur teks dan bagaimana makna diperlakukan dalam teks secara keseluruhan. Selain itu juga diperhatikan bagaimana pembaca dan penulis ditampilkan dalam teks. Bagaimana pembaca mengidentifikasikan dirinya dalam penceritaan teks. Posisi pembaca dalam teks, menurut Mills sangat penting dan diperhitungkan karena pemabaca bukan semata-mata pihak yang hanya menerima teks, tetapi juga ikut melaksanakan transaksi sebagaimana akan terlibat dalam teks. (periksa: www: andreyuris.wordpress.com) Berdasarkan uraian di atas, dalam tulisan ini model analisis Sara Mills akan diaplikasikan pada berita tentang gossip di istanaartis.com dan artisgosip.com. Berdasarkan berita tersebut kita akan dapat mengetahui siapa sebenarnya kelompok yang dimarjinalkan dan siapa kelompok yang dominan dan dibenarkan dalam teks berita sesuai dengan pemberitaan masing-masing media. Hal ini akan menjadi menarik karena menyangkut media dengan media. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu: a. b. Bagaimana Ariel dan wartawan direpsentasikan dalam pemberitaan media Istanaartis.com? Bagaimana Ariel dan wartawan direpresentasikan dalam pemberitaan media Artisgosip.com? 1.3 Tujuan Penulisan

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu: a. Untuk mengetahui bagaimana Ariel dan wartawan direpsentasikan dalam pemberitaan media Istanaartis.com. b. Untuk mengetahui bagaimana Ariel dan wartawan direpresentasikan dalam media Artisgosip.com. 1.4 Metode dan Teknik Pengumpulan data dilakukan dengan memanfaatkan data sekunder atau bahan tertulis (dari telaah pustaka). Pada proses analisis data digunakan metode padan intralingual dengan teknik hubung banding menyamakan (HBS) sebagai cara untuk menyamaratakan perlakuan terhadap data agar dapat diperoleh tujuan penelitian. Sedangkan mengenai penyajian hasil analisis data penelitian digunakan metode formal dan metode informal terkait penyajian tulisan ini harus menyertakan lambang-lambang dan kata-kata biasa (lihat Mahsun, 2007:102-123). 1.5 Kerangka Teori Pada dasarnya, model analisis wacana Mills menekankan pada bagaimana wanita ditampilkan dalam teks. Mills melihat bahwa selama ini wanita selalu dimarjinalkan dalam teks dan selalu berada dalam posisi yang salah. Pada teks, mereka tidak diberikan kesempatan untuk membela diri. Oleh karena itu, model wacana ini sering disebut sebagai analisis wacana perspektif feminis. Dalam prakteknya, model ini menekankan pada dua aspek. Pertama, bagaimana posisi aktor ditampilkan dalam teks. Siapa yang yang menjadi subjek yang bercerita dan siapa yang menjadi objek yang diceritakan. Kedua, bagaimana pembaca diposisikan dalam teks berdasarkan gaya penceritaan penulis. Berikut disajikan dalam tabel model analisis Sara Mills. Tingkat Posisi Subjek-Objek Yang Ingin Dilihat Bagaimana peristiwa yang diposisikan sebagai

dilihat, objek

dari dan

kacamata siapa peristiwa itu dilihat siapa

subjek,

apakah

masing-masing kesempatan

aktor untuk

mempunyai ataukah Posisi Penulis-Pembaca

menampilkan dirinya sendiri, gagasannya kehadirannya, gagasannya ditampilkan oleh kelompok atau orang lain Bagaimana posisi pembaca ditampilkan dalam teks. Bagaimana pembaca memposisikan dirinya dalam teks yang ditampilkan. Kepada kelompok manakah pembaca mengidentifikasikan dirinya. 2. 2.1.1 Pembahasan Posisi Subjek-Objek Begitu menarik pembicaraan yang ada dalam pemberitaan istanaartis.com ini. Pembicaraannya adalah bagaimana suatu media memarjinalkan media yang lain terkait kasus ini. Pada dasarnya, sesuai dengan model analisis Mills, pihak subjek dalam pemberitaan adalah pihak yang paling mendominasi dalam menceritakan suatu peristiwa. Pemberitaan dalam Istanaartis.com ini sendiri menghadirkan Dewan Pers yang seolah-olah mewakili Ariel sebagai subjek pemberitaan. Dewan Pers mendominasi penjelasan dari awal sampai dengan akhir pemberitaan. Menariknya, dalam kasus Ariel versus Wartawan ini, Dewan Pers sendiri membela Ariel dan menyalahkan wartawan yang nota bene adalah anggotanya sendiri. Sebagai subjek, Dewan Pers langsung menyalahkan wartawan pada awal pemberitaan. Adapun model pernyataan subjek yang memarjinalkan objek sebagai berikut. Dewan Pers menyalahkan wartawan dalam dua peristiwa perusakan kamera kontributor TransTV dan terlindasnya kaki wartawati Tabloid Nova, saat peliputan Ariel dalam waktu yang terpisah. Redaksi ini jelas memposisikan objek yakni wartawan sendiri sebagai pihak yang patut dijadikan aktor pengganggu. Wartawan sendiri sebagai objek tidak berkutik dengan tidak adanya kesempatan sedikitpun untuk menyampaikan pembelaan dalam

2.1 Representasi Ariel dan Wartawan dalam Istanaartis.com

kesempatan pemberitaan ini. Bagir Manan selaku Ketua Dewan Pers menjelaskan secara runtut dan jelas mengenai kesalahan wartawan yang merugikan pihak Ariel dengan dilampirkan bukti-bukti yang kuat berdasarkan penyelidikan versi Dewan Pers sendiri. Hal ini tentunya, semakin menjadikan wartawan pada pihak yang terinjak. Tidak ada pihak lain selain Dewan Pers, wartawan, dan Ariel sendiri yang menjadi aktor dalam pemberitaaan. Katakana saja, seperti adanya keterangan dari pihak kepolisisa yang mungkin dapat menjadi penengah antarkedua belah pihak yang sedang bertikai. Pemberitaan malah menghadirkan Dewan Pers yang tidak sedikitpun membela wartawan dalam kesempatan ini. Beratnya kesalahan objek dalam pemberitaan sendiri diwakili oleh pernyataan Dewan Pers yang mengatakan aksi wartawan dalam meliput berita mengandung pelanggaran terhadap Kode Etik Jurnalistik dan Prinsip Perlindungan Privasi Ariel sebagai Korban dalam kasus ini. Jelas, bahwa Kode Etik merupakan suatu Undangundang yang patut dijaga dan ditaati. Namun, dengan adanya pernyataan ini, semakin memberatkan wartawan sendiri untuk jangankan membela dirinya, malah semakin terdesak dengan Dewan Pers yang seharusnya melindungi dan mengayomi dirinya. Kenyataan bahwa wartawan yang menjadi objek pemberitaan juga semakin diberatkan dengan adanya pembelaan terhadap Ariel oleh Dewan Pers yang mewakilinya, mengatakan bahwa, masalah hanya akan menjadi lebih kompleks saja dengan adanya aksi wartawan yang merasa menjadi korban karena tingkah Ariel yang menurut versi Dewan Pers, Ariel lah yang menjadi Korban wartawan. Selain itu, Dewan Pers juga menyesalkan aksi wartawan yang tidak sesuai standar prosedur operasional yang terkesan memaksa, mendorong, dan menyudutkan pihak sumber berita dalam peliputannya. Berdasarkan beberapa pernyataan dalam pemberitaan oleh subjek sungguh benar-benar memarjinalkan posisi objek. Sekali lagi, objek tidak hanya sebagai pihak yang salah, tetapi juga terdesak oleh pihak yang seharusnya membelanya. Jadi, sudah jelas bahwa kedudukan subjek dalam pemberitaan ini dikuasai oleh Ariel yang diwakili oleh Dewan Pers. Sedangkan objek sendiri menjadi pihak objek yang sangat dimarjinalkan oleh pihak subjek yakni Dewan Pers.

2.1.2

Posisi Pembaca Tentunya, secara mendasar, pembaca secara otomatis akan mengidentifikasikan dirinya pada pihak yang menyalahkan wartawan. Hal ini disebabkan oleh pikiran pembaca yang sudah diarahkan dengan bukti yang kuat dan kehadiran Dewan Pers yang seharusnya membela wartawan karena merupakan anggotanya sendiri, malah membela Ariel yang dalam pemberitaan jelas mewakili Ariel dalam paradigma Sara Mills. Pembaca akan mengidentifikasikan dirinya kepada pihak yang membela Ariel dengan adanya rentetan pernyataan Dewan Pers yang sangat faktual dan dapat dipercaya. Pernyataan yang tentunya sangat memberatkan wartawan sebagai objek yang disalahkan. Pembaca tentunya bisa menyimpulkan bagaimana wartawan yang dijustifikasi melanggar Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers sendiri, bagaimana wartawan setelah diselidiki versi Dewan Pers yang sangat dipercaya dalam hal wartawan sendiri menyatakan wartawan yang tidak sesuai standar prosedur operasional peliputan dan merugikan sumber berita. Wartawan sungguh memaksa dan mendorong sumber berita untuk memberikan keterangan. Jadi, jelas dalam kesempatan ini pihak pembaca dapat diprediksikan memposisikan dirinya pada pihak Ariel yang dalam pemberitaan diwakili oleh Dewan Pers dan akan menyesalkan perbuatan wartawan yang sungguh tidak sepantasnya dilakukan.

2.2 Representasi Ariel dan Wartawan dalam Artisgosip.com 2.2.1 Posisi Subjek-Objek Jika dalam Istanaartis.com, wartawan direpresentasikan sebagai pihak objek yang dimarjinalkan, maka dalam pemberitaan Artisgosip.com wartawan malah menjadi pihak Subjek yang membela dirinya dengan sepenuhnya menguasai pemberitaan. Secara otomatis pula, Ariel dalam hal ini menempati pihak objek yang dimarjinalkan karena sedikitpun tidak diberikan kesempatan dalam memberikan keterangan untuk membela dirinya. Baik kesempatan membela diri oleh diri sendiri maupun oleh pihak Dewan Pers seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya. Kutipan dalam pemberitaan

Istanaartis.com yang menjadi bukti wartawan mendapat predikat subjek dan Ariel menjadi objek dapat dilihat pada kalimat berikut. Ariel yang emosi saat ditanya tentang kasusnya oleh para wartawan juga diduga merusak kamera wartawan dan dilaporkan ke polisi. Bagian pertama pemberitaan, Ariel sebagai objek digambarkan dengan keadaan yang merugikan wartwan dengan merusak kamera wartawan sendiri yang tidak sepantasnya menurut wartawan. Media pemberitaan juga membahasakan Ariel yang sangat emosi pada saat itu. Hal ini tentunya, jelas mengarahkan Ariel sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Satu hal yang menarik juga terjadi dalam pemberitaan ini. Berbeda dengan pemberitaan media sebelumnya, Dewan Pers yang menyatakan wartawan melanggar Kode Etik Jurnalistik dalam proses peliputan malah tidak dijelaskan dalam pemberitaan versi Artisgosip.com ini. Seperti kutipan dalam teks berikut. Saat itu Zikrullah sedang melakukan peliputan terkait pemeriksaan Ariel dan Luna di Gedung Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (11/6/2010). Ternyata, kesalahan wartawan yang memaksa dan mendorong dalam meliput sesuai dengan hasil penyelidikan Dewan Pers tidak dihadirkan. Hal yang dihadirkan malah hanya kegiatan wartawan yang meliput kemudian mendapat perlakuan yang merugikan dirinya. Jadi, terasa jelas bahwa wartawan dalam pemberitaan ini direpresentasikan sebagai subjek pemberitaan dan Ariel menjadi objek yang dimarjinalkan. Wartawan dan media yang memberitakan sepenuhnya menguasai pemberitaan dari awal sampai dengan akhir. Objek sendiri sedikitpun tidak mendapat kesempatan. Objek malah diarahkan kepada hal-hal yang sudah melanggar sesuai dengan aturan Undangundang yang berlaku. Hal ini dibuktikan oleh wartawan dengan langsung menyatakan telah melaporkan objek kepada pihak kepolisian dan seolah-olah sudh dikenakan pasal yang terkait. 2.2.2 Posisi Pembaca

Sudah dapat ditebak, pembaca akan menidentifikasikan dirinya pada pihak wartawan yang menjadi subjek dan menyalahkan Ariel yang menjadi objek. Pembaca ditanamkan dalam pikirannya oleh keadaan wartawan yang dirugikan oleh Ariel. Pembaca diajak untuk menyalahkan Ariel yang dalam keadaan emosi merusak kamera wartawan. Padahal dalam kesempatan tersebut, wartawan hanya berniat untuk meliput dan meminta keterangan saja. Malah diperlakukan tidak adil oleh wartawan. Pembaca juga akan diarahkan pikirannnya untuk membela wartawan dengan adanya bukti kuat yang dilampirkan oleh media yakni Ariel yang sudah jelas dikenai pasal yang memberatkannya sesuai kasus yang terkait. Seolah-olah, Ariel sudah benarbenar salah dalam kasus ini. Jadi, pada akhirnya, jelas dapat dikatakan bahwa pembaca diajak berpikir untuk menyalahkan Ariel yang merusak dan merugikan pihak wartawan.

3. 3

Penutup 3.1 Simpulan Sesuai dengan prinsip analisis wacana paradigma kritis bahwa berita bukanlah refleksi dari realita. Tetapi, berita adalah sebuah konstruksi dari sebuah realita. Begitu pula yang terjadi dalam dua berita yang dibandingkan dalam tulisan ini. Berita pada istanaartis.com sungguh membela pihak Ariel yang menjadi subjek. Sedangkan pada media Artisgosip.com malah menyalahkan pihak Ariel dan membela wartawan. Sesungguhnya, dapat disimpulkan bahwa suatu media dalam pemberitaannya benarbenar membawa ideologi tertentu.

3.2 Saran Tentunya, tulisan ini adalah tulisan yang tidak lengkap dan masih dalam kategori tulisan pemula khususnya dalam pembahasan analisis wacana. Untuk itu, perlu penyempurnaan dari berbagai pihak agar di kemudian hari, isi tulisan ini benar-benar bermanfaat untuk tulisan berikutnya yang terkait.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, berbagai gagasan dan perencanaan merupakan tuntutan yang harus terus berlanjut. Pendidikan harus selalu mengiringi perkembangan kehidupan manusia yang terus mengalami perubahan ke arah penyempurnaan. Pendidikanlah yang diandalkan untuk menjadi pengarah kemajuan. Kebijakan-kebijakan pendidikan baru dalam melakukan parubahan atau penyempurnaan, sebaiknya selalu didasari oleh hasil-hasil pengamatan yang cermat oleh para ahli dan dari hasil-hasil penelitian. Munculnya masalah dalam pendidikan merupakan gejala yang menunjukkan adanya kesenjangan antara hasil pendidikan dengan tuntutan kehidupan. Masalah ini muncul beraneka ragam, mulai dari masalah proses belajar mengajar di kelas yang berhubungan dengan bidang studi, berhubungan dengan kurikulum, berhubungan dengan salah satu jenjang pendidikan, sampai ke masalah yang berhubungan dengan kebijakan dan konsep pendidikan. Berbicara tentang permasalahan proses belajar mengajar dalam pendidikan adalah sesuatu yang sangat membutuhkan pemikiran dan perhatian yang serius untuk pengembangan, sehingga diperlukan gagasan-gagasan dan perencanaan-perencanaan yang betul-betul membutuhkan pikiran dan tenaga ekstra bagi para pendidik untuk memikirkannya. Salah satunya adalah proses belajar mengajar Tata Wacana. Istilah wacana dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, politik, komunikasi, sastra, dan sebagainya. 2 Dalam pembelajaran, wacana merupakan disiplin ilmu baru. Pemunculannya sekitar tahun 70-an. Sebetulnya apakah wacana itu? Firth (dalam Syamsuddin, 1992: 2) mengemukakan bahwa language was only maeningful in its context of

situation. Jadi, pembahasan wacana adalah pembahasan bahasa dan tuturan yang harus dalam satu rangkaian kesatuan situasi atau dengan kata lain, makna suatu bahasa berada dalam rangkaian konteks dan situasi. Pemakaian istilah wacana itu banyak dipakai dalam banyak disiplin ilmu yang lain. Jika istilah wacana dipakai dalam disiplin ilmu bahasa, perlu diperhatikan hal-hal yang berkaitan atau betulbetul bermakna bagi pakar bahasa atau keilmuan kebahasaan. Sebagai contoh adanya istilah wacana politik, sebatas wacana, baru wacana, dan lain-lain. Istilah tersebut bukan dalam pembahasan ilmu bahasa, tetapi dipakai dalam ilmu politik. Dilihat dari awal pemunculannya, istilah wacana bukan muncul dari para ahli ilmu bahasa, melainkan dipopulerkan oleh oleh psikolog, antropolog, dan sosiolog. Mereka beranggapan bahwa kenyataan kegunaan pemakaian bahasa di lapangan bukan dilihat dari struktur bahasa, melainkan dari konteks pemakaian bahasa, yaitu wacana. Brown dan Yule (Terjemahan Soetikno, 1996: xi) mengemukakan bahwa para ahli sosiolinguistik terutama memperhatikan struktur interaksi sosial yang dinyatakan dalam percakapan dan deskripsi-deskripsi mereka yang dititikberatkan pada ciri-ciri konteks sosial, terutama dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi sosiologis. Mata kuliah Tata Wacana merupakan salah satu mata kuliah bidang studi (MKBS), yang diberikan pada semester ganjil (5) dengan bobot 4 SKS di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI. Adapun bahan perkuliahan 3 Tata Wacana yang diberikan di Strata 1 hanya sampai pada masalah menganalisis wacana dialog dan monolog. Diawali dengan adanya kebutuhan pengembangan pembelajaran analisis wacana inilah, penulis ingin mengembangkan materi pembelajaran analisis wacana ini sampai kepada analisis wacana kritis (AWK). Dalam silabi dan satuan acara perkuliahan (SAP) dicantumkah bahwa tujuan pembelajaran Tata Wacana adalah mahasiswa diharapkan dapat memahami konsep tata wacana bahasa Indonesia, dapat menganalisis, mencoba mengajarkan, dan dapat menyelenggarakan seminar kelas tentang hasil pengamatan atau penelitian kecil. Pengembangan pembelajaran yang menyangkut daya nalar mahasiswa tentang pembelajaran wacana sangat berhubungan dengan penggunaaan wacana di masyarakat. Dalam konsepnya, para pakar analisis wacana kritis (selanjutnya disebut AWK) menyatakan bahwa materi yang akan dianalisis oleh AWK adalah wacana-wacana yang mengandung gagasan dominasi dan kekuasaan, di antaranya wacana politik, ras, dan gender. Penelitian mengenai AWK belum banyak dilakukan. Ada beberapa penelitian AWK yang pernah dilakukan, di antaranya penelitian-penelitian yang berkaitan dengan wacana politik. Di bawah ini akan dibahas beberapa hasil penelitian tersebut. Ruswan Dallyono (2003) melaporkan hasil penelitin tentang AWK politik dengan menggunakan wacana yang ada di internet (A Hypertex Base Critical Discoursse Analysis of Democratic Awareness). Hasil temuannya menggambarkan tentang wacana-wacana website berkontribusi pada upaya-upaya 4 demokratisasi di Indonesia. Wacana-wacana website ini mengangkat isu-isu

sensitif, seperti kekerasan-kekerasan TNI di Aceh dan konsep-konsep pemerintahan serta konsep-konsep nasionalisme. Judul penelitiannya adalah The Contribution of News Website to Democration in Indonesia. Anang Santoso (2003) meneliti AWK politik dalam disertasinya, yaitu Bahasa Politik Pasca-Orde Baru. Santoso memaparkan karakteristik bentukbentuk bahasa yang digunakan dalam wacana politik, khususnya wacana politik pasca-Orde Baru beserta konteks penggunaannya, baik konteks lokal (konteks situasi) maupun konteks global (konteks budaya dan ideologi). Disertasi ini membahas pengantar ke arah bahasa politik dan penggunaan AWK sebagai pisau analisis yang relavan untuk membedah fenomena wacana politik Indonesia. Karakteristik bahasa politik pasca-Orde Baru dipaparkan sebagai pola klasifikasi, leksikalisasi, relasi makna (antonimi, sinonimi, dan hiponimi), metafora, ketransitifan bentuk aktif-pasif, modus kalimat, (deklaratif, interogatif, dan imperatif), modalitas, (relasional dan ekspresif), strategi kehadiran diri (kita, saya, kami, dan nomina tertentu), serta struktur teks (konvensi, interaksional, dan penataan teks). Paparan eksplanasi kritis yang dikemukakannya, yaitu mengapa sebuah bentuk bahasa dipilih dan dikedepankan serta mengapa sebuah bentuk bahasa ditinggalkan dan dikemudiankan. Jumadi (2005) dalam disertasinya Representasi Power dalam Kelas (Kelas Etnografi Komunikasi di SMA) mengungkap bahwa power menyebar ke dalam semua situs kehidupan manusia, termasuk dalam wacana kelas. Penggunaan power dalam kelas diduga terkait dengan penggunaan tindak tutur, 5 pengendalian topik tuturan, interupsi, dan overleping dalam proses pembelajaran. Hasil temuan yang dikemukakan Jumadi adalah power merupakan bagian integral wacana kelas. Penggunaan power dalam wacana kelas meliputi penggunaan tindak direktif, asertif, dan ekspersif, yang merepresentasikan power dengan kadar dominasi tertentu. Terkait dengan fungsinya, wacana kelas power difungsikan untuk tindakan preventif, suportif, dan korektif. AWK menganalisis wacana-wacana kritis yang terdapat di berbagai media, di antaranya wacana cerpen. Wacana cerpen dapat menjadi wujud fiksasi dan stabilisasi juga pelembagaan realitas, peristiwa, dan pengalamn hidup. Wacana cerpen sesungguhnya merepresentasikan konstruksi sosial atau bangunan sosial, termasuk di dalamnya peran dan posisi laki-laki dan perempuan dalam masyarakat atau gender. Berkaitan dengan uraian di atas, seorang pengarang cerpen dituntut untuk membuat atau menciptakan konstruksi sosial atas realitas, peristiwa, atau pengalaman hidup dan kehidupan manusia. Oleh karena itu, pengarang perlu membangun atau menciptakan dunia kehidupan di dalam karyanya. Dengan membangun dan menciptakan dunia kehidupan dalam karyanya, pengarang dengan leluasa dapat mengembangkan berbagai kemungkinan penafsiran realitas, peristiwa, atau pengalaman hidup yang diwujudkan dalam cerita, di antaranya tentang gender. Gender dalam hal ini mendefinisikan laki-laki dan perempuan dari sudut nonbiologis. Gender merupakan konstruksi sosio-kultural atau kategori sosial (feminitas dan maskulinitas) tercermin dalam perilaku, keyakinan dan organisasi

6 sosial. Karena itu gender merupakan konsep sosial. Lebih eksplisit lagi pernyataan Meneg UPW (1992: 3) yang menyatakan bahwa gender digunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan. Saptari dan Holzner (1997: 221-222) menyatakan bahwa karya sastra terbukti mempunyai pengaruh besar dalam membentuk, melembagakan, melestarikan, mengarahkan, memasyarakatkan, dan mengoperasikan ideologi gender. Oleh karena itu representasi ideologi gender dalam sastra, termasuk wacana cerpen relatif menonjol dan kuat. Kajian Newton dan Resenfolt (dalam Yulianeta, 2002: 54) memperlihatkan bahwa wacana cerpen Eropa Barat dan Amerika telah menjadi arena penciptaan mitos dan ideologi gender dengan konteks sosial tertentu. Helbwig (Yulianeta, 2002: 55) dalam kajian berjudul Rape in Two Indonesian Novels : An Analysis of the Female Images menyoroti secara mendalam citra perempuan dalam dua novel populer Indonesia, yaitu Karmila karya Marga T dan Ku Gapai Cintamu karya Ashadi Siregar. Secara khusus ahli sastra Indonesia dari Belanda ini mengkaji masalah pemerkosaan dari perempuan yang ditampilkan dalam wacana novel. Keperawanan perempuan merupakan hal yang paling utama. Apabila keperawanan hilang, jalan keluar satusatunya adalah perkawinan, walaupun kawin dengan laki-laki yang memperkosanya. Ideologi gender, yang melahirkan perbedaan gender tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun yang menjadi persoalan, ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, terutama terhadap perempuan. Ketidakadilan akibat perbedaan gender ini terlihat 7 dari peminggiran (marginalisasi) dan subordinasi kaum perempuan. Dengan berkembangnya stereotip yang tidak adil terhadap perempuan, maka sering terjadi kekerasan dan beban kerja yang lebih berat terhadap perempuan (Fakih, 1999: 1213). Marginalisasi terhadap perempuan bisa dilihat sejak dari lingkungan rumah tangga dalam bentuk diskriminasi pada anggota keluarga yang laki-laki dan perempuan, misalnya dengan memprioritaskan anggota keluarga laki-laki harus lebih didahulukan dalam menuntut pendidikan. Sedangkan subordinasi terhadap perempuan, misalnya terlihat dari sikap menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Hal ini terjadi karena pelabelan stereotip kultural yang turuntemurun, yang menganggap perempuan irasional atau emosional, sehingga tidak layak tampil sebagai pemimpin. Contohnya masih ada anggapan bahwa perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi, karena akhirnya akan ke dapur. Ketidakadilan juga dirasakan perempuan akibat adanya stereotip tentang perempuan yang merugikan, misalnya penandaan yang berawal dari asumsi bahwa perempuan bersolek dalam rangka memancing lawan jenisnya, sehingga banyak kasus pelecehan seksual pada perempuan. Kekerasan terhadap perempuan terjadi karena adanya ketidaksetaraan kekuatan. Kekerasan banyak terjadi di masyarakat, misalnya pemerkosaan, pelacuran, pornografi, dan lain-lain. Sedangkan beban kerja bisa dilihat dari tuntutan peran ganda terhadap perempuan. Jika kita melihat kenyataan di masyarakat masih banyak perempuan yang belum menyadari hal ini. Budi Darma (Lilis, 2003: 5) mengatakan bahwa seringkali

perempuan malah menjadi pendukung utama kultur patriarki. Hasil penelitian Darma (2003) mengungkap tentang persepsi perempuan yang mempunyai jabatan 8 di pemerintahan Kota Bandung terhadap kesetaraan gender dan pengarusutamaan gender. Mereka lebih menyukai suaminya yang mempunyai jabatan atau berpenghasilan lebih besar daripada dia, dengan alasan menjaga wibawa suami, baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat. Jadi, masih banyak perempuan walaupun dari kalangan berpendidikan yang menerima saja apa yang dikukuhkan oleh sistem patriarki dan menganggapnya sebagai kodrat yang tak bisa diganggu gugat. Sesungguhnya keadaan tersebut dapat diubah apabila mereka, yaitu laki-laki dan perempuan mau mengubahnya sebagai tanggung jawab pada harkat kemanusiaan. Kajian perempuan atau analisis gender sangat bermanfaat untuk melihat jenis dan bentuk konstruksi ideologi gender yang terepresentasi dan terlembaga dalam wacana sastra (cerpen). Sedangkan teori AWK bermanfaat untuk melihat pengoperasian ideologi gender yang terepresentasi dan terlembaga dalam wacana cerpen. Pemanfaatan AWK didasarkan atas asumsi bahwa cerpen dapat dipandang sebagai wacana AWK, yaitu mempelajari bagaimana dominasi suatu ideologi serta ketidakadilan dijalankan dan dioperasikan melalui teks atau wacana. Menurut Fairclough (2003: 205) AWK melihat wacana sebagai bentuk dan praktik sosial. Menggambarkan wacana sebagai praktik sosial menyebabkan sebuah hubungan dialektis di antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, institusi, dan struktur sosial yang membentuknya. Praktik wacana menampilkan efek ideologi; ia dapat memproduksi dan mereproduksi hubungan kekuasaan yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan, kelas sosial serta kelompok mayoritas dan minoritas melalui representasi posisi sosial yang ditampilkan. Oleh 9 karena itu, ideologi membentuk identitas diri kelompok yang membedakannya dengan kelompok yang lain (van Dijk dalam Eriyanto, 2005: 272). AWK melihat konteks terutama bagaimana ideologi kelompok-kelompok yang ada berperan dalam membentuk wacana. Misalnya dalam wacana cerpen yang memunculkan pencerminan ideologi seseorang, apakah dia feminis, antifeminis, kapitalis, sosial, dan sebagainya. AWK digunakan untuk membongkar pengoperasian ideologi gender dalam wacana sastra, di antaranya model analisis Sara Mills. Fokus perhatian Sara Mills (1997: 183) adalah wacana feminisme, yakni bagaimana perempuan ditampilkan dalam teks, baik dalam cerpen, gambar, foto, maupun media. Oleh karena itu, model analisis ini disebut juga analisis berperspektif feminis. Fokus perhatian analisis ini adalah menunjukkan bagaimana teks bias gender dalam menampilkan perempuan. Perempuan cenderung ditampilkan sebagai pihak yang salah, marginal dibandingkan dengan laki-laki. Ketidakadilan dan penggambaran yang buruk mengenai perempuan inilah yang menjadi sasaran utama dalam tulisan Mills. Fairclough (Lukmana, 2003: 329) menganalisis wacana dalam tiga dimensi, yang mencakup analisis (1) data linguistik, (2) praktik-praktik diskursif, dan (3) praktik-praktik sosial. Jadi, studi kritis terhadap bahasa menyoroti

bagaimana konvensi dan praktik berbahasa terkait dengan hubungan kekuasaan dan proses ideologis yang sering tidak disadari oleh masyarakat. Keterkaitan antara wacana dengan kekuasaan juga ditekankan oleh van Dijk, yang menempatkan AWK sebagai sarana untuk mengkaji peran wacana dalam 10 reproduksi dan resistensi terhadap dominasi. Dominasi didefinisikan sebagai penerapan kekuasaan sosial, para elit, institusi atau kelompok yang berujung pada ketidaksetaraan (inequality) sosial, seperti pada ranah praktik, kelas, dan jenis kelamin (van Dijk, 1993 dalam Lukmana, 2003: 330). Belajar AWK adalah suatu hal baru bila dihubungkan dengan ilmu sastra dan ideologi gender. Penelitian Yulianeta (2002) mengupas masalah ideologi gender dalam novel Saman. Tulisan ini berupaya mengkaji pengoperasian gender berdasarkan konsep AWK Sara Mills (1977) yang berperspektif feminis. Dalam novel Saman ideologi dikonstruksi oleh kelompok yang dominan (laki-laki) dengan tujuan untuk memproduksi dan melegitimasi dominasi mereka. Dari analisis Yulianeta dapat diketahui bahwa novel Saman mencerminkan ideologi gender Ayu Utami, sang pengarang, sebagai seorang feminis. Sebagaimana umumnya wacana feminis, novel Saman menampilkan perempuan sebagai objek penceritaan bukan subjek penceritaan. Sebagai objek representasi, perempuan posisinya selalu didefinisikan, dijadikan bahan penceritaan, dan tidak bisa menampilkan dirinya sendiri, perempuan tetap termarginalisasi dan tersubordinasi. Oleh karena itu, perlu ada penelusuran yang lebih mendalam tentang model AWK dan aplikasinya dalam pengkajian sastra, di antaranya kajian cerpen yang berideologi gender. Selain itu Nenden Lilis (2002) mengupas pemilihan bahan dan perancangan model apresiasi cerpen sebagai wahana penyadaran masalah gender di lingkungan unit Dharma Wanita. Berdasarkan hasil-hasil penelaahan penelitian-penelitian di atas, penulis belum menemukan penelitian mengenai pembelajaran AWK dalam pengkajian cerpen yang 11 berideologi gender, tetapi penulis menemukan penelitian yang sejenis, yaitu penelitian Yulianeta (2002) yang mengkaji masalah ideologi gender dalam novel Saman. Dari uraian di atas, dipandang perlu adanya penelitian mengenai model AWK untuk mengkaji wacana-wacana yang berideologi gender dan dapat dilakukan dalam pembelajaran. Hal inilah yang perlu dilakukan dalam penelitian ini, dengan judul: Penerapan Model Analisis Wacana Kritis dalam Kajian Cerpen Berideologi Gender untuk Mengembangkan Kemampuan Analisis Wacana Mahasiswa (Studi Kuasi-Eksperimen di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI Angkatan 2003-2004). 1.2 Pembatasan Masalah Karya sastra terbagi atas beberapa jenis karangan. Ada tiga bentuk karya sastra, yaitu puisi, prosa dan drama. Dalam penelitian ini sasaran penelitian adalah karya sastra yang dibatasi dalam bentuk prosa fiksi jenis cerpen. Pengajuan cerpen di sini karena pertimbangan pada nilai-nilai praktis cerpen. Nilai-nilai praktis tersebut adalah sebagai berikut: (1) cerpen lebih ringkas dibandingkan dengan novel atau drama dan cerpen bisa selesai dibaca dalam sekali duduk; (2) cerpen

relatif mudah dipahami; (3) cerpen mudah diperoleh, karena tersebar di berbagai media,baik di surat kabar edisi Minggu, majalah, atau buku-buku antologi; (4) cerpen cocok dengan minat masyarakat, karena tidak usah berlama-lama menikmati cerita. Cerpen yang dibahas adalah cerpen berideologi gender dan dibatasi hanya cerpen-cerpen pilihan Kompas, yang dimuat dalam antologi cerpen 1994-2000. Hal ini memudahkan pencarian bahan pembelajaran, karena 12 kualitasnya sudah terseleksi, di samping itu cerpen-cerpen Kompas telah diakui oleh para kritikus sastra Indonesia sebagai indikator cerpen terbaik di Indonesia. Sastrowardoyo (1992 : 1) mengatakan bahwa cerpen yang dimuat dalam Kompas patut diketengahkan sebagai karya sastra, karena selain mempertimbangkan temanya untuk pembaca umum, juga mempertimbangkan nilai estetikanya. Bahkan Dewanto (1993 : 10) menyatakan bahwa dalam satu dasawarsa terakhir, cerpen-cerpen terbaik di Indonesia muncul di Kompas bukan di majalah sastra. Dari antologi cerpen Kompas tahun 1994-2000 yang tidak ditemukan berideologi gender adalah antologi cerpen Kompas tahun 1997 dan 1999, sedangkan tahun 1998 Kompas tidak menerbitkan antologi. Wacana yang akan dianalisis oleh AWK dibatasi hanya pada wacana gender yang mengupas masalah adanya ketimpangan-ketimpangan gender, ketidakadilan gender dan ketidaksetaraan gender. 1.3 Rumusan Masalah Penelitian Sesuai dengan latar belakang yang dipaparkan sebelumnya, maka permasalahan penelitian ini bisa dirumuskan sebagai berikut. Sejauh mana penerapan model AWK dapat mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam mengkaji cerpen yang berideologi gender. Dari rumusan di atas bisa diuraikan pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1) apakah model AWK efektif untuk menganalisis cerpen berideologi gender pada antologi-antologi cerpen pilihan Kompas? 2) apakah proses perencanaan penerapan model AWK dalam pengkajian cerpen yang berideologi gender baik? 13 3) apakah proses pelaksanaan penerapan model AWK dalam pengkajian cerpen yang berideologi gender efektif? 4) apakah hasil penerapan model AWK dapat mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam mengkaji cerpen yang berideologi gender? 1.4 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah penelitian di atas, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah menganalisis dan menjelaskan: 1) keefektifan model AWK dalam menganalisis wacana yang berideologi gender dalam antologi-antologi cerpen pilihan Kompas; 2) proses perencanaan penerapan model AWK dalam pengkajian cerpen yang berideologi gender adalah baik; 3) keefektifan proses pelaksanaan penerapan model AWK dalam pengkajian cerpen berideologi gender; 4) hasil penerapan model AWK untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam mengkaji cerpen berideologi gender.

1.5 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan ilmiah: 1) bagi para teoritis dan praktisi bahasa Indonesia, bahwa efektivitas model AWK dapat digunakan sebagai landasan dalam mengembangkan mata kuliah Tata Wacana. Model yang dirancang dalam penelitian ini dapat menambah wawasan bagi dosen Tata Wacana untuk mengembangkan program pembelajaran di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI.; 14 2) bagi mahasiswa, model AWK ini dapat mengembangkan kemampuan dalam menganalisis cerpen berideologi gender. 1.6 Asumsi Dengan diberikannya perlakuan model belajar AWK maka diasumsikan bahwa: 1) kelompok mahasiswa yang diberi perlakuan model belajar AWK menunjukkan peningkatan dalam menganalisis wacana kritis; 2) kelompok mahasiswa yang diberi perlakuan model belajar AWK menunjukkan peningkatan dalam memahami wacana gender dalam sastra. 1.7 Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Terdapat perbedaan yang signifikan antara pengembangan keterampilan mahasiswa sebelum diberi perlakuan model AWK dalam kajian cerpen yang berideologi gender dengan sesudah diberi perlakuan model AWK dalam kajian cerpen berideologi gender. 1.8 Variabel Penelitian Penelitian ini mempelajari penerapan model belajar AWK dalam kajian cerpen berideologi gender. Dengan demikian, variabel penelitian ini mengkaji dua variabel, yaitu: 1) model belajar AWK sebagai variabel bebas (independent); 2) kemampuan mengkaji cerpen yang berideologi gender sebagai variabel terikat dependent). 15 1. 9 Definisi Operasional Untuk menghindari adanya salah pengertian tentang konsep-konsep yang akan dikaji dalam penelitian ini, maka diperlukan penjelasan beberapa istilah seperti yang tertuang di bawah ini. 1) Penerapan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perihal mempraktikkan, dalam arti upaya untuk mempraktikkan model belajar AWK dalam kajian cerpen berideologi gender. 2) Model yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pola atau cara untuk mempraktikkan belajar AWK dalam mengkaji cerpen yang berideologi gender. 3) Analisis Wacana Kritis (AWK) adalah analisis terhadap wacana-wacana yang kritis, yang berbeda dengan studi bahasa dalam pengertian linguistik tradisional. Yaitu hanya menggambarkan semata dari aspek kebahasaan tetapi juga menghubungkan dengan konteks. AWK mengungkap gagasan yang menonjolkan kekuasaan politik, dominasi, hegemoni, ideologi, kelas

masyarakat, gender, ras, diskriminasi, interes, reproduksi, institusi, struktur sosial, dan peran sosial. AWK yang dimaksud dalam penelitian ini adalah AWK yang menganalisis tentang wacana cerpen berideologi gender, dalam arti wacana cerpen yang mengungkap adanya ketimpangan gender, ketidaksetaraan gender (gender inequality), dan dominasi budaya patriarki yang membuat perempuan dimarginalisasi dan disubordinasi. 4) Kajian cerpen adalah telaah cerpen dilihat dari unsur eksternal (ekstrinsik) yang berdasarkan sosial budaya kehidupan manusia. 16 5) Ideologi gender adalah sistem nilai atau gagasan yang dianut masyarakat berikut proses-proses yang membedakan laki-laki dan perempuan berdasarkan sifat-sifat yang dikonstruksi secara sosial, bukan berdasarkan biologis. 1.10 Paradigma Penelitian Paradigma penelitian dapat digambarkan seperti diagram di bawah ini: Bagan 1.1.
PARADIGMA PENELITIAN - STUDI KULTURAL - FEMINIS - SASTRA FEMINISME - CERPEN BERIDEOLOGI GENDER - BAHASA - AWK

PROSES PEMBELAJARAN MODEL AWK IDEOLOGI GENDER PENERAPAN MODEL AWK UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MAHASISWA DALAM MENGKAJI CERPEN BERIDEOLOGI GENDER
MODEL AWK IDEOLOGI GENDER

PROSES PELAKSANAAN PROSES PERENCANAAN HASIL PRATES PERLAKUAN PASCATES


KAJIAN CERPEN BERIDEOLOGI GENDER

CERPEN

Daftar Pustaka Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka Eriyanto. 2002. Analisis Framing. Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LKiS Eriyanto. 2008. Analisis Wacana. Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik, Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Pranowo, dkk. 2007. Teknik Menulis Makalah Seminar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Waridah, Ernawati. 2008. EYD dan Seputar Kebahasa-Indonesiaan. Jakarta: Kawan Pustaka Posted 25th February by Ibnu Abubakar Labels: Bahasa 0

Add a comment
No more comments

As-Scouty
Tujuh Tahun Kuberlayar Dua Tahun Kutenggelam

Emper Bale

Pecahan Kredit Basah Analisis Keberpihakan Wacana Bentuk Potensial Sebagai Wajah Baru

Pecahan Kredit Basah


1. Kemukakan beberapa contoh kalimat/wacana interferensi/campur kode yang terjadi di lingkungan anda. Jawab : Adapun contoh interferensi atau campur kode dapat dicontohkan dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Sasak dan bahasa Sumbawa. Interferensi bahasa Indonesia-Sasak Lasingan, Kamu yang bilang tadi Side yang kumpulkan tugas saya tadi? Interferensi bahasa Indonesia-Sumbawa Betul ke? Be betul sudah itu. Yang tadi Bapak bawakan ne Satu si yang saya mau. 2. Jelaskan maksud bahwa diglosia dapat terjadi pada masyarakat tutur yang ekabahasa, bilingual, dan multilingual! Jawab : Pada dasarnya, Ferguson menggunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat di mana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu. (Abdul Chaer, 2004:92) Untuk itu, kita hanya berpegang pada prinsip bahwa diglosia merupakan variasi dalam satu bahasa yang memiliki fungsi berbeda tergantung pada penggunaannya. Sebagai contoh adanya ragam T (berupa bahasa baku dan digunakan dalam situasi formal) dan ragaam R (berupa bahasa nonbaku dan digunakan biasa dalam pergaulan sehari-hari).

Jadi, apapun itu, baik ekabahasa, bilingual, maupun multilingual akan selalu ada diglosia di dalamnya karena setiap bahasa memiliki variasi atau ragam yang berbeda di dalamnya.

3. Kemukakan secara singkat fenomena terjadinya kreol dan pidjin sehingga keduanya dapat jelas dibedakan. Jawab : Pidjin dapat dianalogikan sebagai sebuah embrio dalam kandungan. Lama-kelamaan, embrio tersebut akan berbentuk menjadi bayi sebagai analogi kreol berdasarkan analogi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kreol terbentuk dari pidjinisasi. Pidjinisasi terjadi disebabkan oleh adanya campur kode yang terbentuk dari pertemuan dua atau lebih bahasa yang berbeda yang masih dapat dipisahkan bahasa pembentuknya dan kaidah yang digunakan. Peristiwa ini dapat terjadi karena proses migrasi seperti transmigrasi, urbanisasi, dan semacamnya. Sedangkan jika pertemuan dua atau lebih bahasa yang berbeda tersebut lama-kelamaan menjadi suatu bahasa yang baru dan utuh, terbentuk kaidah yang baru dan tidak dapat dipisahkan lagi bahasa pembentuk dan kaidahnya, maka keadaan atau situasi inilah yang disebut dengan kreol 4. Uraikan pernyataan relativitas bahasa menurut Sapir-Whorf. Jawab : Bahasa dapat mempengaruhi budaya dapat dijelaskan berdasarkan contoh ketika di tempat pengisian bahan bakar minyak terdapat tulisan Dilarang Merokok, maka secara tidak langsung manusia akan tidak merokok karena mengindahkan perintah tulisan tersebut dan yang paling mendasar adalah bahasa tersebut memang berhubungan dan berbanding lurus dengan kehidupan manusia dalam artian mengandung konsekuensi tertentu sehingga jelas bahwa bahasa mempengaruhi kebiasaan atau tingkah laku (budaya) masyarakat. Sedangkan mengenai budaya yang mempengaruhi bahasa dapat dibuktikan dengan kebiasaan atau tingkahh laku yang biasa dilakukan masyarakat juga akan berbanding lurus dengan bahasa yang digunakan. Misalnya, orang yang bertingkah lahu sopan dan ramah akah melahirkan bahasa yang halus, ramah, dan sopan juga.

Posted 29th October by Ibnu Abubakar Labels: Bahasa 0

Add a comment
No more comments

Loading Send feedback

Analisis Keberpihakan Wacana


Analisis Teks Berita Ariel Vs Wartawan Berdasarkan Berita Istanaartis.com dengan Artisgosip.com Menggunakan Teori Sara Mills: Analisis Wacana Paradigma Kritis Oleh Hidayat Rahmad As-Scouty 1. Pendahuluan Satu hal yang perlu menjadi catatan dalam analisis wacana paradigma kritis adalah analisisnya melihat bagaimana gramatika bahasa membawa posisi dan makna ideologi tertentu. Dengan kata lain, aspek ideologi itu diamati dengan melihat pilihan bahasa dan struktur tata bahasa yang dipakai. Ideologi itu dalam taraf yang umum menunjukkan bagaimana satu kelompok berusaha memenangkan dukungan publik dan bagaimana kelompok lain berusaha dimarjinalkan lewat pemakaian bahasa dan struktur gramatika tertentu. (Periksa Eriiyanto, 2001: 15) Salah satu teori yang menggunakan paradigma kritis dalam analisisnya adalah model analisis Sara Mills. Sara Mills merupakan salah satu penganut teori feminis, metode anlisisnya sangat cocok untuk menggambarkan relasi kekuasaan dan ideologi yang dibahas dalam pemberitaan. Konsep dasar pemikiran Mills lebih melihat pada bagaimana aktor ditampilkan dalam teks. Posisi ini dalam arti siapa yang menjadi subyek penceritaan dan siapa yang menjadi obyek penceritaan akan menentukan bagaimana struktur teks dan bagaimana makna diperlakukan dalam teks secara keseluruhan. Selain itu juga diperhatikan bagaimana pembaca dan penulis ditampilkan dalam teks. Bagaimana pembaca mengidentifikasikan dirinya dalam penceritaan teks. Posisi pembaca dalam teks, menurut Mills sangat penting dan diperhitungkan karena pemabaca bukan semata-mata pihak yang hanya menerima teks, tetapi juga ikut melaksanakan transaksi sebagaimana akan terlibat dalam teks. (periksa: www: andreyuris.wordpress.com)

1.1 Latar Belakang

Berdasarkan uraian di atas, dalam tulisan ini model analisis Sara Mills akan diaplikasikan pada berita tentang gossip di istanaartis.com dan artisgosip.com. Berdasarkan berita tersebut kita akan dapat mengetahui siapa sebenarnya kelompok yang dimarjinalkan dan siapa kelompok yang dominan dan dibenarkan dalam teks berita sesuai dengan pemberitaan masing-masing media. Hal ini akan menjadi menarik karena menyangkut media dengan media. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu: a. b. Bagaimana Ariel dan wartawan direpsentasikan dalam pemberitaan media Istanaartis.com? Bagaimana Ariel dan wartawan direpresentasikan dalam pemberitaan media Artisgosip.com? 1.3 Tujuan Penulisan Sesuai dengan rumusan masalah di atas, adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu: a. Untuk mengetahui bagaimana Ariel dan wartawan direpsentasikan dalam pemberitaan media Istanaartis.com. b. Untuk mengetahui bagaimana Ariel dan wartawan direpresentasikan dalam media Artisgosip.com. 1.4 Metode dan Teknik Pengumpulan data dilakukan dengan memanfaatkan data sekunder atau bahan tertulis (dari telaah pustaka). Pada proses analisis data digunakan metode padan intralingual dengan teknik hubung banding menyamakan (HBS) sebagai cara untuk menyamaratakan perlakuan terhadap data agar dapat diperoleh tujuan penelitian. Sedangkan mengenai penyajian hasil analisis data penelitian digunakan metode formal dan metode informal terkait penyajian tulisan ini harus menyertakan lambang-lambang dan kata-kata biasa (lihat Mahsun, 2007:102-123).

1.5 Kerangka Teori Pada dasarnya, model analisis wacana Mills menekankan pada bagaimana wanita ditampilkan dalam teks. Mills melihat bahwa selama ini wanita selalu dimarjinalkan dalam teks dan selalu berada dalam posisi yang salah. Pada teks, mereka tidak diberikan kesempatan untuk membela diri. Oleh karena itu, model wacana ini sering disebut sebagai analisis wacana perspektif feminis. Dalam prakteknya, model ini menekankan pada dua aspek. Pertama, bagaimana posisi aktor ditampilkan dalam teks. Siapa yang yang menjadi subjek yang bercerita dan siapa yang menjadi objek yang diceritakan. Kedua, bagaimana pembaca diposisikan dalam teks berdasarkan gaya penceritaan penulis. Berikut disajikan dalam tabel model analisis Sara Mills. Tingkat Posisi Subjek-Objek Yang Ingin Dilihat Bagaimana peristiwa yang subjek, diposisikan apakah sebagai

dilihat, objek

dari dan aktor untuk

kacamata siapa peristiwa itu dilihat siapa masing-masing kesempatan kehadirannya,

mempunyai ataukah Posisi Penulis-Pembaca

menampilkan dirinya sendiri, gagasannya gagasannya ditampilkan oleh kelompok atau orang lain Bagaimana posisi pembaca ditampilkan dalam teks. Bagaimana pembaca memposisikan dirinya dalam teks yang ditampilkan. Kepada kelompok manakah pembaca mengidentifikasikan dirinya. 2. 2.1.1 Pembahasan Posisi Subjek-Objek Begitu menarik pembicaraan yang ada dalam pemberitaan istanaartis.com ini. Pembicaraannya adalah bagaimana suatu media memarjinalkan media yang lain terkait

2.1 Representasi Ariel dan Wartawan dalam Istanaartis.com

kasus ini. Pada dasarnya, sesuai dengan model analisis Mills, pihak subjek dalam pemberitaan adalah pihak yang paling mendominasi dalam menceritakan suatu peristiwa. Pemberitaan dalam Istanaartis.com ini sendiri menghadirkan Dewan Pers yang seolah-olah mewakili Ariel sebagai subjek pemberitaan. Dewan Pers mendominasi penjelasan dari awal sampai dengan akhir pemberitaan. Menariknya, dalam kasus Ariel versus Wartawan ini, Dewan Pers sendiri membela Ariel dan menyalahkan wartawan yang nota bene adalah anggotanya sendiri. Sebagai subjek, Dewan Pers langsung menyalahkan wartawan pada awal pemberitaan. Adapun model pernyataan subjek yang memarjinalkan objek sebagai berikut. Dewan Pers menyalahkan wartawan dalam dua peristiwa perusakan kamera kontributor TransTV dan terlindasnya kaki wartawati Tabloid Nova, saat peliputan Ariel dalam waktu yang terpisah. Redaksi ini jelas memposisikan objek yakni wartawan sendiri sebagai pihak yang patut dijadikan aktor pengganggu. Wartawan sendiri sebagai objek tidak berkutik dengan tidak adanya kesempatan sedikitpun untuk menyampaikan pembelaan dalam kesempatan pemberitaan ini. Bagir Manan selaku Ketua Dewan Pers menjelaskan secara runtut dan jelas mengenai kesalahan wartawan yang merugikan pihak Ariel dengan dilampirkan bukti-bukti yang kuat berdasarkan penyelidikan versi Dewan Pers sendiri. Hal ini tentunya, semakin menjadikan wartawan pada pihak yang terinjak. Tidak ada pihak lain selain Dewan Pers, wartawan, dan Ariel sendiri yang menjadi aktor dalam pemberitaaan. Katakana saja, seperti adanya keterangan dari pihak kepolisisa yang mungkin dapat menjadi penengah antarkedua belah pihak yang sedang bertikai. Pemberitaan malah menghadirkan Dewan Pers yang tidak sedikitpun membela wartawan dalam kesempatan ini. Beratnya kesalahan objek dalam pemberitaan sendiri diwakili oleh pernyataan Dewan Pers yang mengatakan aksi wartawan dalam meliput berita mengandung pelanggaran terhadap Kode Etik Jurnalistik dan Prinsip Perlindungan Privasi Ariel sebagai Korban dalam kasus ini. Jelas, bahwa Kode Etik merupakan suatu Undangundang yang patut dijaga dan ditaati. Namun, dengan adanya pernyataan ini, semakin memberatkan wartawan sendiri untuk jangankan membela dirinya, malah semakin terdesak dengan Dewan Pers yang seharusnya melindungi dan mengayomi dirinya.

Kenyataan bahwa wartawan yang menjadi objek pemberitaan juga semakin diberatkan dengan adanya pembelaan terhadap Ariel oleh Dewan Pers yang mewakilinya, mengatakan bahwa, masalah hanya akan menjadi lebih kompleks saja dengan adanya aksi wartawan yang merasa menjadi korban karena tingkah Ariel yang menurut versi Dewan Pers, Ariel lah yang menjadi Korban wartawan. Selain itu, Dewan Pers juga menyesalkan aksi wartawan yang tidak sesuai standar prosedur operasional yang terkesan memaksa, mendorong, dan menyudutkan pihak sumber berita dalam peliputannya. Berdasarkan beberapa pernyataan dalam pemberitaan oleh subjek sungguh benar-benar memarjinalkan posisi objek. Sekali lagi, objek tidak hanya sebagai pihak yang salah, tetapi juga terdesak oleh pihak yang seharusnya membelanya. Jadi, sudah jelas bahwa kedudukan subjek dalam pemberitaan ini dikuasai oleh Ariel yang diwakili oleh Dewan Pers. Sedangkan objek sendiri menjadi pihak objek yang sangat dimarjinalkan oleh pihak subjek yakni Dewan Pers. 2.1.2 Posisi Pembaca Tentunya, secara mendasar, pembaca secara otomatis akan mengidentifikasikan dirinya pada pihak yang menyalahkan wartawan. Hal ini disebabkan oleh pikiran pembaca yang sudah diarahkan dengan bukti yang kuat dan kehadiran Dewan Pers yang seharusnya membela wartawan karena merupakan anggotanya sendiri, malah membela Ariel yang dalam pemberitaan jelas mewakili Ariel dalam paradigma Sara Mills. Pembaca akan mengidentifikasikan dirinya kepada pihak yang membela Ariel dengan adanya rentetan pernyataan Dewan Pers yang sangat faktual dan dapat dipercaya. Pernyataan yang tentunya sangat memberatkan wartawan sebagai objek yang disalahkan. Pembaca tentunya bisa menyimpulkan bagaimana wartawan yang dijustifikasi melanggar Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers sendiri, bagaimana wartawan setelah diselidiki versi Dewan Pers yang sangat dipercaya dalam hal wartawan sendiri menyatakan wartawan yang tidak sesuai standar prosedur operasional peliputan dan merugikan sumber berita. Wartawan sungguh memaksa dan mendorong sumber berita untuk memberikan keterangan.

Jadi, jelas dalam kesempatan ini pihak pembaca dapat diprediksikan memposisikan dirinya pada pihak Ariel yang dalam pemberitaan diwakili oleh Dewan Pers dan akan menyesalkan perbuatan wartawan yang sungguh tidak sepantasnya dilakukan. 2.2 Representasi Ariel dan Wartawan dalam Artisgosip.com 2.2.1 Posisi Subjek-Objek Jika dalam Istanaartis.com, wartawan direpresentasikan sebagai pihak objek yang dimarjinalkan, maka dalam pemberitaan Artisgosip.com wartawan malah menjadi pihak Subjek yang membela dirinya dengan sepenuhnya menguasai pemberitaan. Secara otomatis pula, Ariel dalam hal ini menempati pihak objek yang dimarjinalkan karena sedikitpun tidak diberikan kesempatan dalam memberikan keterangan untuk membela dirinya. Baik kesempatan membela diri oleh diri sendiri maupun oleh pihak Dewan Pers seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya. Kutipan dalam pemberitaan Istanaartis.com yang menjadi bukti wartawan mendapat predikat subjek dan Ariel menjadi objek dapat dilihat pada kalimat berikut. Ariel yang emosi saat ditanya tentang kasusnya oleh para wartawan juga diduga merusak kamera wartawan dan dilaporkan ke polisi. Bagian pertama pemberitaan, Ariel sebagai objek digambarkan dengan keadaan yang merugikan wartwan dengan merusak kamera wartawan sendiri yang tidak sepantasnya menurut wartawan. Media pemberitaan juga membahasakan Ariel yang sangat emosi pada saat itu. Hal ini tentunya, jelas mengarahkan Ariel sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Satu hal yang menarik juga terjadi dalam pemberitaan ini. Berbeda dengan pemberitaan media sebelumnya, Dewan Pers yang menyatakan wartawan melanggar Kode Etik Jurnalistik dalam proses peliputan malah tidak dijelaskan dalam pemberitaan versi Artisgosip.com ini. Seperti kutipan dalam teks berikut. Saat itu Zikrullah sedang melakukan peliputan terkait pemeriksaan Ariel dan Luna di Gedung Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (11/6/2010).

Ternyata, kesalahan wartawan yang memaksa dan mendorong dalam meliput sesuai dengan hasil penyelidikan Dewan Pers tidak dihadirkan. Hal yang dihadirkan malah hanya kegiatan wartawan yang meliput kemudian mendapat perlakuan yang merugikan dirinya. Jadi, terasa jelas bahwa wartawan dalam pemberitaan ini direpresentasikan sebagai subjek pemberitaan dan Ariel menjadi objek yang dimarjinalkan. Wartawan dan media yang memberitakan sepenuhnya menguasai pemberitaan dari awal sampai dengan akhir. Objek sendiri sedikitpun tidak mendapat kesempatan. Objek malah diarahkan kepada hal-hal yang sudah melanggar sesuai dengan aturan Undangundang yang berlaku. Hal ini dibuktikan oleh wartawan dengan langsung menyatakan telah melaporkan objek kepada pihak kepolisian dan seolah-olah sudh dikenakan pasal yang terkait. 2.2.2 Posisi Pembaca Sudah dapat ditebak, pembaca akan menidentifikasikan dirinya pada pihak wartawan yang menjadi subjek dan menyalahkan Ariel yang menjadi objek. Pembaca ditanamkan dalam pikirannya oleh keadaan wartawan yang dirugikan oleh Ariel. Pembaca diajak untuk menyalahkan Ariel yang dalam keadaan emosi merusak kamera wartawan. Padahal dalam kesempatan tersebut, wartawan hanya berniat untuk meliput dan meminta keterangan saja. Malah diperlakukan tidak adil oleh wartawan. Pembaca juga akan diarahkan pikirannnya untuk membela wartawan dengan adanya bukti kuat yang dilampirkan oleh media yakni Ariel yang sudah jelas dikenai pasal yang memberatkannya sesuai kasus yang terkait. Seolah-olah, Ariel sudah benarbenar salah dalam kasus ini. Jadi, pada akhirnya, jelas dapat dikatakan bahwa pembaca diajak berpikir untuk menyalahkan Ariel yang merusak dan merugikan pihak wartawan.

3. 3

Penutup 3.1 Simpulan

Sesuai dengan prinsip analisis wacana paradigma kritis bahwa berita bukanlah refleksi dari realita. Tetapi, berita adalah sebuah konstruksi dari sebuah realita. Begitu pula yang terjadi dalam dua berita yang dibandingkan dalam tulisan ini. Berita pada istanaartis.com sungguh membela pihak Ariel yang menjadi subjek. Sedangkan pada media Artisgosip.com malah menyalahkan pihak Ariel dan membela wartawan. Sesungguhnya, dapat disimpulkan bahwa suatu media dalam pemberitaannya benarbenar membawa ideologi tertentu. 3 3.2 Saran Tentunya, tulisan ini adalah tulisan yang tidak lengkap dan masih dalam kategori tulisan pemula khususnya dalam pembahasan analisis wacana. Untuk itu, perlu penyempurnaan dari berbagai pihak agar di kemudian hari, isi tulisan ini benar-benar bermanfaat untuk tulisan berikutnya yang terkait.

Daftar Pustaka Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka Eriyanto. 2002. Analisis Framing. Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LKiS Eriyanto. 2008. Analisis Wacana. Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik, Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Pranowo, dkk. 2007. Teknik Menulis Makalah Seminar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Waridah, Ernawati. 2008. EYD dan Seputar Kebahasa-Indonesiaan. Jakarta: Kawan Pustaka Posted 25th February by Ibnu Abubakar Labels: Bahasa 0

Add a comment
No more comments

As-Scouty
Tujuh Tahun Kuberlayar Dua Tahun Kutenggelam

Emper Bale

Pecahan Kredit Basah Analisis Keberpihakan Wacana Bentuk Potensial Sebagai Wajah Baru

Pecahan Kredit Basah


1. Kemukakan beberapa contoh kalimat/wacana interferensi/campur kode yang terjadi di lingkungan anda. Jawab : Adapun contoh interferensi atau campur kode dapat dicontohkan dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Sasak dan bahasa Sumbawa. Interferensi bahasa Indonesia-Sasak Lasingan, Kamu yang bilang tadi Side yang kumpulkan tugas saya tadi? Interferensi bahasa Indonesia-Sumbawa Betul ke? Be betul sudah itu. Yang tadi Bapak bawakan ne Satu si yang saya mau. 2. Jelaskan maksud bahwa diglosia dapat terjadi pada masyarakat tutur yang ekabahasa, bilingual, dan multilingual! Jawab : Pada dasarnya, Ferguson menggunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat di mana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu. (Abdul Chaer, 2004:92) Untuk itu, kita hanya berpegang pada prinsip bahwa diglosia merupakan variasi dalam satu bahasa yang memiliki fungsi berbeda tergantung pada penggunaannya. Sebagai contoh adanya ragam T (berupa bahasa baku dan digunakan dalam situasi formal) dan ragaam R (berupa bahasa nonbaku dan digunakan biasa dalam pergaulan sehari-hari).

Jadi, apapun itu, baik ekabahasa, bilingual, maupun multilingual akan selalu ada diglosia di dalamnya karena setiap bahasa memiliki variasi atau ragam yang berbeda di dalamnya.

3. Kemukakan secara singkat fenomena terjadinya kreol dan pidjin sehingga keduanya dapat jelas dibedakan. Jawab : Pidjin dapat dianalogikan sebagai sebuah embrio dalam kandungan. Lama-kelamaan, embrio tersebut akan berbentuk menjadi bayi sebagai analogi kreol berdasarkan analogi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kreol terbentuk dari pidjinisasi. Pidjinisasi terjadi disebabkan oleh adanya campur kode yang terbentuk dari pertemuan dua atau lebih bahasa yang berbeda yang masih dapat dipisahkan bahasa pembentuknya dan kaidah yang digunakan. Peristiwa ini dapat terjadi karena proses migrasi seperti transmigrasi, urbanisasi, dan semacamnya. Sedangkan jika pertemuan dua atau lebih bahasa yang berbeda tersebut lama-kelamaan menjadi suatu bahasa yang baru dan utuh, terbentuk kaidah yang baru dan tidak dapat dipisahkan lagi bahasa pembentuk dan kaidahnya, maka keadaan atau situasi inilah yang disebut dengan kreol 4. Uraikan pernyataan relativitas bahasa menurut Sapir-Whorf. Jawab : Bahasa dapat mempengaruhi budaya dapat dijelaskan berdasarkan contoh ketika di tempat pengisian bahan bakar minyak terdapat tulisan Dilarang Merokok, maka secara tidak langsung manusia akan tidak merokok karena mengindahkan perintah tulisan tersebut dan yang paling mendasar adalah bahasa tersebut memang berhubungan dan berbanding lurus dengan kehidupan manusia dalam artian mengandung konsekuensi tertentu sehingga jelas bahwa bahasa mempengaruhi kebiasaan atau tingkah laku (budaya) masyarakat. Sedangkan mengenai budaya yang mempengaruhi bahasa dapat dibuktikan dengan kebiasaan atau tingkahh laku yang biasa dilakukan masyarakat juga akan berbanding lurus dengan bahasa yang digunakan. Misalnya, orang yang bertingkah lahu sopan dan ramah akah melahirkan bahasa yang halus, ramah, dan sopan juga.

Posted 29th October by Ibnu Abubakar Labels: Bahasa 0

Add a comment
No more comments

Loading Send feedback