Anda di halaman 1dari 195

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TnI DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL : POST OPERASI (PEMASANGAN PLATE) FRAKTUR TIBIA

FIBULA 1/3 DISTAL TERBUKA DI RUANG PERAWATAN BEDAH RAJAWALI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAKASSAR TANGGAL 5-11 JANUARI 2010

OLEH :

DEWA ANUGRAH NIM : 07.01.061 \

AKADEMI KEPERAWATAN MAPPA OUDANG MAKASSAR 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TnI DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL : POST OPERASI (PEMASANGAN PLATE) FRAKTUR TIBIA FIBULA 1/3 DISTAL TERBUKA DI RUANG PERAWATAN BEDAH RAJAWALI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAKASSAR TANGGAL 5-11 JANUARI 2010

KARYA TULIS ILMIAH

Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Akademi Keperawatan Mappa Oudang Makassar

OLEH :

DEWA ANUGRAH NIM : 07.01.061

AKADEMI KEPERAWATAN MAPPA OUDANG MAKASSAR 2010

12

HALAMAN PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah ini Berjudul: ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TnI DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL : POST OPERASI (PEMASANGAN PLATE) FRAKTUR TIBIA FIBULA 1/3 DISTAL TERBUKA DI RUANG PERAWATAN BEDAH RAJAWALI

RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAKASSAR TANGGAL 5-11 JANUARI 2010

Telah disetujui untuk diujikan dan dipertahankan. Di depan penguji Akademi Keperawatan Mappa Oudang Makassar Pada Hari Kamis, 19 Agustus 2010

Pembimbing

SYAHARUDDIN, SKM, S.Kep, Ns NIDN : 0904047301

Diketahui OlehDirektur Akademi keperawatan Mappa Oudang Makassar

dr. Hj. A. NURHAYATI, DFM, M. Kes AKBP NRP. 59030832 HALAMAN PENGESAHAN

13

Karya Tulis Ilmiah dengan judul : ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TnI DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL : POST OPERASI (PEMASANGAN PLATE) FRAKTUR TIBIA FIBULA 1/3 DISTAL TERBUKA DI RUANG PERAWATAN BEDAH RAJAWALI

RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAKASSAR. Telah diuji dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji pada hari kamis 19 Januari 2010 di Akper Mappa Oudang Makassar.

Tim Penguji

1. Syaharuddin, SKM, S.Kep Ns

2. Hamzah Tasa, S.Kep Ns, M.Kes

3. Hj. Aminah, S. Kep Ns

Mengetahui, Direktur Akademi Keperawatan Mappa Oudang Makassar

dr. Hj. A. NURHAYATI, DFM, M.Kes AKBP NRP. 59030832

14

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. IDENTITAS PENULIS Nama Tempat/Tgl lahir Suku/Bangsa Jenis kelamin Agama Alamat : DEWA ANUGRAH : WATANSOPPENG, 27 Januari 1989 : Bugis/Indonesia : Laki-laki : ISLAM : Jl. Baji Gau No. 182 Makassar 90223

B. RIWAYAT PENDIDIKAN Pendidikan formal 1. Pada Tahun 1994-1995 TK Perwanida 2. Pada Tahun 1995-2001 SD Negeri 166 Laburawung 3. Pada Tahun 2001-2004 SLTP Negeri 2 Watansoppeng 4. Pada Tahun 2004-2007 SMA Negeri 1 Watansoppeng 5. Pada Tahun 2007-2010 Akademi Keperawatan Mappa Oudang Makassar

15

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala Puji bagi Allah SWT Rabb semesta alam, yang Maha Menciptakan, Menghidupkan dan Mematikan, yang Rahmat-Nya meliputi langit dan bumi, dunia dan akhirat dan kepada-Nyalah semua akan kembali. Shalawat serta salam mudah-mudahan terlimpah kepada Nabiullah Muhammad SAW, yang membawa umat manusia dari alam gelap gulita ke alam yang terang benderang. Tak lupa pula penulis mensyukuri segala Rahmat dan Karunia yang telah dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini

dengan judul ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN. R DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN : HERNIA INGUINAL DI RUANG PERAWATAN KENARI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAPPA OUDANG MAKASSAR. Karya Tulis Ilmiah ini disusun dalam rangka menyelesaikan pendidikan Diploma III Keperawatan pada Akademi Keperawatan Mappa Oudang Makassar. Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis banyak menghadapi hambatan, tetapi berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak Karya Tulis Ilmiah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Untuk itu perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :

16

1. Bapak dewan pembina AKPER Mappa Oudang Makassar, yang telah menyediakan sarana dan prasarana selama pendidikan di Akper Mappa Oudang Makassar. 2. Ibu dr. Hj. A. Nurhayati, DFM, M. Kes selaku Direktur AKPER Mappa Oudang Makassar yang telah banyak memberikan bimbingan dan ajaran seperti anaknya sendiri kepada penulis selama mengkuti pendidikan di Akper Mappa Oudang Makassar. 3. Kepala RS. Bhayangkara Makassar beserta staf yang telah memberikan izin, membantu menyediakan sarana dan prasarana, meluangkan waktu untuk memperoleh data serta memberikan bimbingan dalam melaksanakan asuhan keperawatan. 4. Bapak Syaharuddin, SKM, S. Kep, Ns selaku pembimbing dan penguji I yang begitu banyak memberikan sumbangsih pemikiran, saran, nasehat dan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan selama proses bimbingan di dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini. 5. Bapak Hamzah Tasa, S. Kep Ns, M. Kes sebagai penguji II yang begitu banyak memberikan masukan dan saran demi Ilmiah ini. 6. Ibu Hj. Aminah, S.Kep, Ns sebagai penguji III yang telah memberikan bimbingan dan masukan dalam penyususnan karya tulis ilmiah ini. 7. Bapak & Ibu Dosen beserta Staf Pengajar Akademi Keperawatan Mappa Oudang Makassar yang telah memberikan kuliah dan bimbigan kepada penulis kelengkapan Karya Tulis

17

selama mengikuti pendidikan di Akademi Keperawatan Mappa oudang Makassar. 8. Special buat ayahanda Ramli Mahmud dan ibunda tercinta Nuhera Sinar dan saudara- saudaraku tersayang Dedy Saputra, Dewi Purnama dan Dela Safitri, serta semua keluarga yang tidak sempat dituliskan namanya dalam lembaran ini terimakasih banyak telah memberikan doa, support, kasih

sayang serta dukungan moril yang tak terhitung nilainya sehingga penulis dapat menyelesaikan studinya. 9. Special buat sahabat-sahabatku, Agus junaedi dahlan (Ajudan), Muhaimin (india), Muh. Yusuf(Sufu), Arfiansyah (Ettu), Sumardi (Suma), Masdar (Mas), Agusman (Sagu), Jumain (Jumbo), Ansar (Anshay), syamsuddin (same), Fadil (fade), Faharuddin (Aco), Sofyan (Sofy), A. Ibrahim (Ibeleng), Hasanuddin (Kacang), longa (Ahmad Khair), dan semua temanteman yang tidak sempat penulis tuliskan dalam lembaran ini yang sudah mau berbagi suka dan duka bersama penulis, juga memberikan support, dan semangat kepada penulis selama bersama-sama dalam mengikuti pendidikan. 10. Tak lupa juga saya menghanturkan banyak terima kasih kepada Pak dardin, Pak Herman, Bu Asni, Kak Ridho, Kak Indri, Kak Sahar, Kak Ahmad, Kak Hikma, Kak Halim, Astaga hampir lupa juga ma Mba Sri dan Mba Erna yang senantiasa merelakan barang jualannya untuk saya habiskan sebelum dibayar (utang), begitupun dengan bapak Madjid sekeluarga yang senantiasa memberikan dispensasi dengan penunggakan uang kos dan listrik

18

dan suguhan buka puasa yang hampir setiap hari menyelematkan perut keronconganku bersama teman-teman. 11. Teman-teman kelompok bedah Jumain, Masdar, Fadil, Nona, Nurmi, Mustaina, Sry, Erni, Terimah kasih atas kerja samanya dan kekompakannya selama ujian akhir program. 12. Rekan-rekan aktivis BEM periode I yang telah membantu penulis dalam mencapai kedewasaan dalam berfikir. 13. Para adinda ku di AKPER MAPPA OUDANG dan SMK PRATIDINA yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu terimah kasih banyak atas kerjasamanya dalam penyusunan karya tulis ini Semoga tuhan yang Maha Esa memberikan balasan yang setimpal atas segala bantuan yang diberikan Akhir kata penulis berharap semoga Karya Tulis ini dapat bermanfaat bagi masyarakat umumnya dan tenaga keperawatan khususnya dalam memberikan Asuhan Keperawatan. Akhirnya penulis memohon kepada Allah SWT semoga apa yang telah diperbuat bernilai ibadah disisi-Nya.

Makassar,

Januari 2010

DEWA ANUGRAH

19

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................................ ii HALAMAN PENGESAHANiii DAFTAR RIWAYAT HIDUP...iv KATA PENGANTAR .............................................................................................v DAFTAR ISI .......................................................................................................... ix DAFTAR LAMPIRAN.xi BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang .............................................................................................1 Tujuan Penulisan ..........................................................................................3 Manfaat Penulisan ........................................................................................4 Metodologi ...................................................................................................5 Sistematika Penulisan ...................................................................................7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Konsep Dasar Medis ...........................................................................8 Pengertian ......................................................................................8 Anatomi Fisiologi .........................................................................8 Etiologi ........................................................................................21 Patofisiologi ................................................................................24 Manifestasi Klinik .......................................................................25 Pemerikasan Diagnostik ..............................................................26 1. Penatalaksanaan Medik ...............................................................27 Konsep Dasar Keperawatan ..............................................................28 Pengkajian ...................................................................................28 Penyimpangan KDM ..................................................................29 Diagnosa Keperawatan................................................................30 Rencana Keperawatan ................................................................30 BAB III TINJAUAN KASUS Pengkajian ........................................................................................36

20

Data Fokus .................................................................................46 Analisa Data ...............................................................................47 Diagnosa Keperawatan .....................................................................49 Rencana Keperawatan (Intervensi) ...................................................50 Catatan Tindakan (Implementasi) ....................................................54 Catatan Perkembangan (Evaluasi) ....................................................57 BAB IV PEMBAHASAN Pengkajian .........................................................................................60 Diagnosa Keperawatan......................................................................62 Intervensi ...........................................................................................64 Implementasi .....................................................................................65 Evaluasi .............................................................................................66 BAB V PENUTUP Kesimpulan .......................................................................................67 Saran ..................................................................................................68 DAFTAR PUSTAKA

21

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Seiring deengan kemajuan dan perkem bangan ilmu pengetahuan disegala bidang khususnya kemajuan IPTEK kesehatan dan keperawatan yang merupakan salah satu komponennya dituntut terus berkembangsecara dinamis dengan masalah keperawatan/kesehatan di masyarakat yang kian kompleks. Dalam meningkatkan derajat kesehatan yang optimal perawat merupakan salah satu komponen pembangunan di bidang kesehatan yang perlu dilaksanakan karenan perawat akan memberikan pelayanan kepada manusia secara utuh meliputi biologis, psikososial, dan spiritual yang dapat menunjuang proses penyembuhan penyakit klien. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawah dampak terhadap kompleksnya permasalahan kesehatan di rumah sakit, juga mengalami perkembangan akibat meningkatnya tuntunan kebutuhan masyarakat akan asuhan keperawatan yang diberikan terutama pada pasien fraktur atau patah tulang. Patah tulang (fraktur) adalah retaknya tulang, biasanya disertai dengan cedera di jaringan sekitarnya, dimana sebagian patah tulang merupaka akibat dari cedera, seperti kecelakaan mobil, olah raga atau karena jatuh. Adapun tanda dan gejalanya yaitu nyeri, bengkak, deformitas, alat gerak tidak berfungsi sebagaimana mestinya, berkurangya

22

sensasi yang dapat terjadi karena adanya gangguan saraf dimana saraf itu dapat terjepit atau terputus oleh frangmen tulang. Dan adapun penatalaksanaan dari fraktur adalah dengan cara traksi, gips, fiksasi internal dan fiksasi eksternal. (www. Medicastro dan Anugrah-Argon.com, 23-09 2007). Dengan makin pesatnya kemajuan lalu lintas di indonesia baik dari segi pemakaian jalan, jumlah kendaraan, jumlah pemakai jasa angkutan, bertambahya jaringa jalan dan kecepatan kendaraan maka mayoritas terjadinya fraktur adalah akibat kecelakaan lalu lintas. Menurut data dari kepoloisian Republik Indonesia rata-rata setiap hari terjadi 40 kecelakaan yang menyebabkan 30 kematian dan menurut data dari RS. Sumber waras jakarta angka kejadian fraktur akibat kecelakan lalu lintas adalah sebesar 2.5 % (http://penjelajah

waktu.blogspot.com). Data yang diperoleh dari RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar pada tahun 2004-2006 adalah sebagai berikut : No 1 2 3 Tahun 2005 2006 2007 Laki-laki 31 17 261 Perempuan 11 8 132 Total 42 25 393

23

Derdasarkan data tersebut diatas maka penulis mengangkat kasus dengan judul ; ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN I DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL : POST OPERASI (PEMASANGAN PLATE) FRAKTUR TIBIA FIBULA 1/3 DISTAL TERBUKA DI RUANG PERAWATAN BEDAH RAJAWALI RS.BHAYANGKARA MAPPA OUDANG MAKASSAR. PADA

TANGGAL 5-11 JANUARI 2010 B. Tujuan 1. Tujuan Umum : Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang pelaksanaan Asuhan Keperawatan mulai dari pengkajian sampai pendokumentasian yang terjadi pada klien dengan Gangguan System Musculoskeletal : Fraktur. 2. Tujuan Khusus : Tujuan khusus yang akan dicapai dalam penulisan karya ilmiah ini untuk mendapatkan gambaran dalam : a. Memperoleh pengalaman nyata dalam pengkajian, analisa data dan perumusan diagnosa keperawatan yang terjadi pada klien dengan Gangguan System Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar. b. Memperoleh pengalaman nyata dalam menetapkan perencanaan keperawatan yang terjadi pada klien dengan Gangguan System

24

Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar. c. Memperoleh pengalaman nyata dalam melaksanakan perencanaan asuhan keperawatan yang terjadi pada klien dengan Gangguan System Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar. d. Memperoleh pengalaman nyata dalam melaksanakan evaluasi asuhan keperawatan yang terjadi pada klien Dengan Gangguan System Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar. e. Memperoleh pengalaman nyata dalam memdokumentasikan hasil asuhan keperawatan yang terjadi pada klien dengan Gangguan System Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar. C. Manfaat Penulisan 1. Akademik a. Sebagai bahan masukan bagi institusi pendidikan tentang dalam asuhan

meningkatkan

pengetahuan

mahasiswa

keperawatan klien dengan Gangguan System Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar. b. Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa di institusi kesehatan khususnya pada diploma III Bhayangkara Makassa.

25

2. Rumah Sakit a. Sebagai bahan masukan bagi rumah sakit khususnya didalam usaha meningkatkan pelayanan perawatan dalam pengembangan kwalitas asuhan keperawatan pada klien dengan Gangguan System Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar. b. Dapat menjadikan masukan bagi perawat dalam menetapkan dan meningkatkan kwalitas asuhan keperawatan khususnya bagi klien yang mengalami Gangguan System Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar. 3. Klien dan Keluarga a. Agar klien dan keluarga mendapatkan pengalaman nyata tentang cara dan tehnik pencegahan, perawatan dan pengobatan yang terjadi pada klien dengan Gangguan System Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara mappa Oudang Makassar. b. Agar keluarga memahami dan mengetahui cara yang baik dan benar dalam perawatan dan pencegahan suatu penyakit 4. Penulis a. Sebagai bahan tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dalam mengklasifikasikan ilmu yang telah didapatkan selama pendidikan.

26

b. Hasil penulisan diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis untuk menambah pengetahuan dan keterampilan didalam menangani klien dengan gangguan system musculoskeletal : Fraktur di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar. D. Metode Penulisan Pelaksanaan Asuhan Keperawatan dilakukan Pada Klien Gangguan System Musculoskeletal : Post Operasi (Pemasangan Plate) Fraktur Tibia Fibula 1/3 Distal Terbuka di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa oudang Makassar mulai dari tanggal 5-11 Januari 2010. adapun metodologi yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah : 1. Tempat Ruang Keperawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar. 2. Waktu Mulai dari Tanggal 5 s/d 11 Januari 2010 3. Tehnik Pengumpulan Data Dalam sistem penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menggunakan berbagai metode yaitu : 1) Study Kepustakaan Mempelajari literatur yang berhubungan atau yang berkaitan dengan Karya Tulis Ilmiah tentang asuhan keperawatan pada klien dengan

27

gangguan system musculoskeletal : Post Operasi (Pemasangan Plate) Fraktur Tibia Fibula 1/3 Distal Terbuka di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar, sebagai kerangka teoritis yang dapat mengarahkan pemikiran yang realistisk. 2) Study Kasus Pendekatan yang digunakan dalam studi kasus adalah proses keperawatan yang komprehensif yang meliputi : pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Sedangkan untuk menghimpun data dan mengkaji dengan menggunakan tehnik adalah sebagai berikut : a. Wawancara Tanya jawab untuk memperoleh data riwayat kesehatan yang akurat, antara tenaga kesehatan dan keluarga klien maupun dengan klien sendiri (Auto Anamnese dan Allo Anamnese). b. Pengkajian fisik Tehnik yang digunakan dalam pengkajian ada 4 yaitu : 1) Observasi atau inspeksi yaitu memperoleh data melihat secara langsung untuk mendeteksi tanda-tanda vital yang berhubungan dengan status fisk. 2) Palpasi, dilakukan dengan menggunakan sentuhan atau rabaan untuk mengetahui ciri-ciri jaringan atau oragn.

28

3) Perkusi, adalah metode pemeriksaan dengan cara untuk menentukan batas-batas organ atau bagian tubuh dengan cara merasakan variasi yang ditimbulkan akibat adanya gerakan yang diberikan kebawah jaringan, dengan perkusi kita dapat membedakan apa yang ada dibawah jaringan (udara, cair, zat padat). 4) Auskultasi, merupakan metode pengkajian yang

menggunakan stetoskop untuk memperjelas pendengaran (bunyi jantung, paru-paru, bunyi usus, serta mengukur tekanan darah dan denyut nadi). c. Study Dokumentasi Melihat dan membaca langsung status klien di Ruang Perawatan Bedah Rajawali Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Bhayangkara Mappa Oudang Makassar, pada klien dengan gangguan sistem system musculoskeletal : Post Operasi (Pemasangan Plate) Fraktur Tibia Fibula 1/3 Distal Terbuka di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS. Bhayangkara Mappa Oudang Makassar sistem batasan atau ruang lingkup masalah mulai tanggal 5 s/d 11 januari 2010.

E. Sistematika Penulisan

29

Adapun sistematika penulisan Karya Tuklis Ilmiah ini dibagi dalam 5 BAB dimana setiap BAB akan diuraikan kedalam sub-sub dengan susunan sebagai berikut: BAB I : Pendahuluan Pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II : Tinjaun Teoritis Tinjaun Teoritis meliputi konsep dasar medis yang meliputi pengertian, anatomi fisiologi, etiologi, insiden, patofisiologi, manifestasi klinik, proses penyembuhan tulang, komplikasi, panatalaksanaan fraktur, test diagnostik. Dan konsep dasar keperawatan meliputi : pengkajian dampak KDM, diagnosa, perencanaan dan evaluasi. BAB III : Tinjauan Kasus Tinjauan kasus menguraikan laporan asuhan keperawatan mulai dari pengkajian, pengumpulan data, pengelompokan data, analisa data, diagnosa keperawatan yang muncul, rencana tindakan, penatalaksanaan tindakan keperawatan serta evaluasi tindakan (SOAP). BAB IV : Pembahasan Pembahasan menguraikan mengenai kesenjangan antara teori dan praktek yang ada. Dalam praktek serta pemecahan

30

masalahnya (pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi). BAB V : Penutup Pada Bab ini disimpulkan hasil pelaksanaan study kasus yang dilaksanakan dan berisi saran-saran yang merupakan alternatif tujuan.

31

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. KONSEP DASAR 1. Pengertian Fraktur adalah terputusnya kontuinitas jaringan tulang atau tulang rawa yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (Arief Mansjoer, dkk 2000). Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenal stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorsinya(Brunner & Suddarth. 2000). Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang (Doenges. 2000) Fraktur adalah retaknya tulang, biasanya disertai dengan cedera di jaringan sekitarnya (www.mediacastro.com) Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Syilvia A. Priver.2005). Fraktur adalah terputusnya kontuinitas jaringan tulang yang dapat disebabkan oleh dorongan langsung pada tulang, kondisi patologik, kontraksi otot yang sangat kuat dan secara tiba-tiba atau dorongan secara tidak langsung (Pengantar Ilmu Keperawatan anak, A.Azis Alimul Hidayat. 2005. Hal 141).

32

2. Anatomi & fisiologi a. Pengertian tulang Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang disusun dari tiga sel : osteoblas, osteosoit, dan osteoklas, osteoblas, membangun tulang membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan tulang osteoid melalui suatu proses yang disebut asifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peranan penting dalam nengendapkan kalsium dan fosfat kedalama matriks tulang (Syilvia A. Priver, 2005). b. Fungsi tulang 1) Fungsi tulang secara umum. a) Formasi kerangka: tulang-tulang membentuk rangka tubuh untuk menentukan bentuk dan ukuran tubuh, tulang-tulang menyokong struktur tubuh yang lain. b) Formasi sendi: tulang-tulang membentuk persendian yang bergerak dan tidak bergerak tergantung dari kebutuhan fungsional, sendi yang bergerak menghasilkan bermacammacam pergerakan. c) Perlekatan otot: tulang-tulang menyediakan permukaan untuk tempat melekatnya otot, tendo, dan ligamentum untuk melaksanakan pekerjaannya.

33

d) Sebagai pengungkit: untuk bermacammacam aktivitas selama pergerakan. e) Menyokong berat badan: memelihara sikap tegak tubuh manusia dan menahan gaya tarikan dan gaya tekanan yang terjadi pada tulang, dapat menjadi kaku dan menjadi lentur. f) Proteksi: tulang rongga yang mengandung dan melindungi struktur yang halus seperti otak, medulla. g) Hemopoesis: sumsum tulang tempat pembentukan sel-sel darah, terjadinya pembentukan sel darah merah sebagian besar pada sumsum tulang merah. h) Fungsi immunologi: limfosit B dan makrofag dibentuk dalam system retikuleondotel sumsum tulang. Limposit B diubah menjadi sel-sel plasma membentuk antibody guna keperluan keperluan kekebalan kimiawi sedangkan makrofag berfungsi sebagai fagositotik. i) Penyimpanan kalsium: tulang mengandung 97% kalsium yang terdapat dalam bentuk baik dalam bentuk anorganik maupun garam-garam terutama kalsium posfat. Sebagian besar fosfat disimpan dalam tulang dan kalsium dilepas dalam darah bila dibutuhkan.

34

2) Fungsi tulang secara khusus. a) Sinus-sinus paranasalisdapat menimbulkan nada pada suara. b) Email gigi dikhususkan untuk memoton, menggigit dan mengilas makanan, email merupakan struktur yang terkuat dari tubuh manusia. c) Panggul wanita khusunya untuk memudahkan proses kelahiran. ( Anatomi Fisiolongi untuk mahasiswa keperawatan, Syaifuddin. 2006 halaman 67-68) c. Klasifikasi tulang 1) Tulang panjang (Femur, Humerus, Tibia, dan Fibula ) Terdiri dari dua bagian batang dan bagian ujung tulang pipa ini bekerja sebagai alat ungkit dari tubuh dan kemungkinan bergerak. 2) Tulang pendek (Carplas) Bentuk tidak teratur, sebagian besar terbuat dari jaringan tulang jarang karena diperkuat sifat yang ringan padat dan tipis. 3) Tulang ceper(Tulang Tengkorak) Terdiri dari tulang padat dengan lapisan luar adalah tulang cacellous. 4) Tulang tidak beraturan vertebratae (sama dengan tulang pendek) 5) Tulang sesamoid Tulang terkecil, terpendek sekitar tulang persendiaan dan didukung oleh tendon dan jaringan faksial misalnya patella (cap lutut). (Perawatan Medical Bedah Barbara C. Long

35

3. Etiologi Sebagian besar patah tulang merupakan akibat dari cedera, seperti kecelakaan mobil, olahraga atau terjatuh (www.medicastro.com, 2008) Secara garis besarnya, penyebab fraktur dibagi tiga, yaitu : a. Kekerasan atau trauma langsung Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan, fraktur demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintas atau miring. b. Kekerasan atau trauma tidak langsung Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan. c. Trauma ringan Trauma karena tulang itu sendiri sudah rapuh (fraktur patologik). (www.medicastro.com, 2008)

36

4. Pembagian Patah Tulang Ada lebih dari 150 klasifikasi fraktur, yang utama adalah : a. Incomplete : Fraktur yang hanya melibatkan bagian

potongan menyilang tulang. Salah satu sisi patah dan yang lain hanya bengkok

(greenstick). b. Complete : Garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang, dan fragmen tulang biasanya berubah tempat. c. Tertutup (simple) : Fraktur tidak meluas melewati kulit.

d. Terbuka (compound) : Fraktur tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana potensial untuk terjadi infeksi. e. Patologis : Fraktur terjadi pada penyakit tulang (seperti penyakit kanker, osteoporosis), dengan tak ada trauma atau hanya minimal. (Doenges. M.E. dkk, Edisi 3 Hal. 761, 2000). Berikut ini adalah berbagai jenis fraktur yaitu : a. Grreanstick : Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah

sedang sisi lainnya membengkok. b. Transveral c. Oblik : Fraktur sepanjang garis tengah tulang. : Fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih tidak stabil dibanding

transversal).

37

d. Spiral e. Komunitif

: Fraktur memuntir seputar batang tulang. : Fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frafmen.

f. Depresi

: Fraktur dengan patahan terdorong kedalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah).

g. Kompresi

: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang).

h. Avulsi

: Tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada perlekatannya.

i. Epofisial j. Impaksi

: Fraktur melalui epifisis. : Fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.

(Brunner & Suddart, 2001)

38

39

avulsion comminuted

displaced

greenstick

impacted

interarticular longitudinal oblique

pathologic

spiral

stress

transverse

40

Untuk menjelaskan keadaan fraktur, hal-hal yang perlu di deskipsikan adalah: 1. komplit atau tidak komplit a. Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang . b. Fraktur tidak komplit bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti: 1) Hairline fraktur (patah retak rambut). 2) Buckle fraktur atau Torus fraktur, bila terjadi lipatan dari sesuatu korteks dari kompresi tulang spongiosa di bawahnya, biasanya pada distal radius anak-anak. 3) Greenstick fraktur, mengenai satu korteks dengan anulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak. 2. Berdasarkan garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma. a. Garis Patah Melintang : trauma angulasi atau langsung b. Garis Patah Olik : trauma angulasi c. Garis Patah Spiral : trauma rotasi d. Fraktur Kompresi : trauma aksilla-fleksi pada tulang spongiosa e. Fraktur Avulsi : trauma tarikan/traksi otot pada insersinya ditulang misalnya fraktur patella.

41

3. Berdasarkan Jumlah Garis Patah 1) Fraktur Kominutif :Garis patah lebih dari satu dan saling disebutdisebut pula frsktur bifokal 2) Fraktur Segmental : Garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan 3) Fraktur Multiple : Garis patah lebih dari dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya fraktur femur, fraktur krusis, dan fraktur tulang belakang. 4. Berdasarkan pergeseran anatomis fragmen tulang a. Fraktur Undisplaced, garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser , periosteumnya masih utuh b. Fraktur Displaced, terjadi pergeseran fragmenfragmen fraktur 1) Pergeseran searah dengan sumbu dan overlapping 2) Pergeseran yang membentuk sudut. 3) Pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi. 5. Berdasarkan jenisnya a. Fraktur tertutup, bila tidak terdapat hubungan dengan antara fragmen tulang dengan dunia luar. b. Fraktur terbuka, bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar akibat adanya perlukaan di kulit di bagi atas tiga derajat yaitu: 1) Derajat 1

42

a) Luka < 1 cm b) Kerusakan jaringan lunak sedikit , tak ada tanda luka remuk c) Fraktur sederhana,transfersal, oblik, atau kominutif ringan d) Kontaminasi minimal 2) Derajat II a) Laserasi > 1 cm b) Kerusakan jaringan lunak , tidak luas c) Fraktur kominutif sedang d) Kontaminasi sedang 3) Derajat 111 Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi.derajat terbagi atas : a) Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas atau fraktur segmental sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka. b) Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi pasif . c) Luka pada pembuluh arteri / saraf yang harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.

(Arif Manjoer, dkk. 2000. Halaman 346-347)

43

5. Insiden Fraktur tulang rusuk adalah yang paling Banyak terjadi pada orang dewasa, fraktur femur adalah fraktur yang paling banyak terjadi pada usia muda atau umur setengah baya. Pada pasien yang lebih tua yang sering terjadi adalah fraktur pada pinggul dan pada pergelangan tangan. Kecelakaan merupakan pembunuh nomor tiga di Indonesia setelah penyak jantung dan stroke. Menurut data dari kepeolisian republik indonesia tahun 2003, jumlah kecelakaan dijalan mencapai 13.399 kejadian dengan mencapai 9.865 orang, 6.142 orang mengalami luka berat dan 8.694 mengalami mluka ringan dengan data rata-rata setiap hari

terjadi 40 kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan 30 orang meninggal dunia, data dari Sulawesi Selatan jumlah kecelakaan lalu lintas juga cenderung bmeningkat di mana pada tahun 2001 jumlah korban mencapai 1.717 orang, tahun 2004 jumlah meningkat 3.972 orang, tahun 2005 dari januari sampai september korban mencapai 3.620 orang dengan korban meninggal 903 orang (http/www,medikaster.com)

6. Patofisiologi Tulang bersifat rapuh , namun memiliki kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan, tetapi jika tulag terkena tekanan yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya maka akan terjadi fraktur. Meskipun tulang yang patah tapi jaringan disekitarnya juga akan terpengaruh,mengakibatkan edema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, rupture tendo, kerusakan saraf, dan kerusakan pembuluh darah. Pada

44

mulanya akan terjadi perdarahan disekitar patahan tulang, yang disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah. Reaksi peradangan hebat timbul setelah fraktur.sel-sel darah putih dan sel mast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ketempat tersebut fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Ditempat patah terbentuk bekuan fibrin (hematoma fraktur). Osteoblast segera terangsang dan terbentuk tulang baru imatur yang disebut kalus. Bekuan fibrin secara perlahan mengalami remondelling untuk membentuk tulang sejati. Tulang sejati menggantikan kalus dan secara perlahan mengalami kalsifikasi. Penyembuhan

memerlukan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan. (Corwin, j.E, 2000, dan Prince, A, S, dan Wilson M, L, I995)

45

7. Manifestasi klinik Manifestasi klinik dari fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi,

deformitas,pemendekan ekstremitas,krepitasi, pembengkakan local, dan perubahan warna. a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang dimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang b. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah lengan (gerakan atau luar

biasa).Pergeseran menyebabkan

fragmen

pada

fraktur

tungkai dengan

deformitas

ekstremitas

yang

diketahui

membandingkan dengan ekstremitas yang normal. Ekstremitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot. c. Pada fraktur panjang terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya lah ciderkarena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5 cm . d. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitasi yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya

46

e. Pembengkakan dan perubahan warna local pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cidera. f. Krepitus dapat terdengar sewaktu tulang digerakkan akibat pergeseran ujung-ujung patahan tulang satu sama lain . ( Corwin J. E, 2000,Brunner & suddarth, 2000.)

8. Komplikasi Komplikasi awal pada fraktur adalah a. Syok . Syok hipovolemik atau trumatik akibat perdarahan . b Sindrom emboli lemak. Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk kedalam darah karena tekanan sum-sum tulang lebih tinggi daripada tekanan kapiler atau karena ketokelamin yang dilepaskan oleh reaksi stress pasien akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan terjadinya globula lemak dalam aliran darah, Globula lemak akan bergabung dengan trombosit membentuk emboli yang kemudian menyumbat pembuluh darah kecil. (Brunner & Suddarth, 2001, 2365) Komplikasi penyembuhan fraktur adalah : a. Malunion Fraktur sembuh dengan deformitas (angulasi, perpendekan atau rotasi) b. Delayed union Fraktur sembuh dalam jangka waktu yang lebih dari normal

47

c. Nonunion Fraktur yang tidak menyambung yang juga disebut psuedartrosis. Disebut nonunion jika tidak menyambung dalam waktu 20 minggu.Pada fraktur dengan kehilangan fragmen sehingga ujung-ujung tulang berjauhan, maka dari awal sudah potensial menjadi nonunion dan boleh diberlakukan sebagai nonunion Komplikasi fraktur yang penting adalah : a. Komplikasi dini 1. Lokal a) Vaskuler : compartemen syndrome , truma vaskuler b) Neurologist : lesi medulla spinalis atau saraf ferifer. 2. Sistemik a) Emboli lemak b) Komplikasi lanjut 3. Local a) Kekakuan sendi / kontraktur b) Disuse atrofi otot-otot c) Malunion d) Nonunion / infected nonunion e) Gangguan pertumbuhan (fraktur epifisis) f) Osteoporosis post trauma (Soelarto Reksoprodjo,dkk, 1995, 511)

48

9. Pemeriksaan Diagnostik Hasil laboratorium Tidak ada tes laboratorium yang khusus untuk pasien dengan fraktur, yang perlu diketahui. Hb, hemotokrit sering rendah disebabkan pendarahaan. Laju endap darah meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas. Hasil radiografik Pemeriksaan rontgen : menentukan lokasi (luasnya fraktur/trauma) Scan tulang, tomogram, CT scan/MRI : memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.

10. Proses Penyembuhan Tulang Waktu penyembuhan fraktur bervarisi dari 6-24 minggu, tergantung dari beratnya fraktur. Untuk penyembuhan fraktur (patah tulang) diperlukan imobilisasi. Imobilisasi dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Pembidaian physiologi Pembidaian semacam ini terjadi alami karena menjaga, mencegah pemakaian dan spasmus otot karena rasa sakit pada waktu digerakkan b. Pembidaian secara orthopedic eksternal Ini digunakan dengan gips dan traksi c. Fiksasi internal Pada metode ini kedua ujung tulang yang patah dikembalikan ke posisi asalnya dan di fiksasi dengan plat dan skrup atau diikat dengan kawat.

49

Beberapa faktor yang mempengaruhi penyembuhan tulang: 1) Faktor yang mempercepat penyembuhan fraktur. a) Imobilisasi fragmen tulang. b) Kontrak fragmen tulang maksimal. c) Masukan darah yang memadai. d) Nutrisi yang baik. e) Latihan pembebanan berat badan untuk tulang panjang. f) Hormon-hormon pertumbuhan, tiroid, kalsitonin, vitamin D, streroid anabolic. 2) Faktor yang menghambat penyembuhan fraktur. a) Trauma local ekstensi. b) Kehilangan tulang. c) Immobilisasi yang tidak memadai. d) Rongga atau jaringan diantara fragmen tulang. e) Inspeksi. f) Keganasan local. g) Penyakit tulang metabolik (misalnya penyakit paged). h) Radialis tulang (Nekrosis Radialis). i) Nekrosis Avaskuler. j) Usia (lansia sembuh lebih lama) k) Kortikosteroid (menghambat kecepatan perbaikan). (Prince, A. S dan Wilson M, L. 1995)

50

11.

Penatalaksanaan Penatalaksanaan fraktur ini mengalami banyak perubahan dalam waktu 10 tahun terakhir ini. Traksi dan spica casting atau cast bracing, mempunyai banyak kerugian dalam hal memerlukan masa berbaring dan rehabilitasi yang lama, meskipun merupakan penatalaksanaan noninvasif pilihan untuk anak-anak. Oleh karena itu, tindakan ini tidak banyak dilakukan pada orang dewasa.(www.Cermin Dunia

Kedokteran.com) Bila keadaan penderita stabil dan luka telah diatasi, fraktur dapat diimobilisasi dengan salah satu dari empat cara berikut ini. a. Traksi Comminuted frakture dan fraktur yang tidak sesuai untuk intra medullary nailing paling baik diatasi dengan menipulasi

51

dibawah anestesi dan balanced suding skeletal traction yang dipasang melalui tibial pin. Traksi longitudinal yang memadai diperlukan selama 24 jam untuk mengatasi spasme otot dan mencegah pemendekan, dan fragmen harus dipotong di posterior untuk mencegah

perlengkungan. Enam belas pon biasanya cukup, tetapi penderita yang gemuk memerlukan beban yang lebih besar dari penderita yang kurus membutuhkan beban yang lebih besar dari penderita yang kurus membutuhkan yang kecil. Lakukan pemeriksaan radiologis setelah 24 jam untuk mengetahui apakah berat beban tepat bila terdapat over distraction, berat beban dikurangi, tetapi jika terdapat tumpang tindih, berat ditambah. Pemeriksaan radiologi selanjutnya perlu dilakukan dua kali seminggu selama dua minggu yang pertama dan setiap minggu sesudahnya untuk memastikan apakah posisi dipertahankan. Jika hal ini tidak dilakukan, fraktur dapat berselip perlahan-lahan dan menyatu dengan posisi yang buruk. (www.Cermin Dunia Kedokteran.com)

52

b. Fiksasi interna Intro medullary nail ideal untuk frktur transversal, tetapi untuk fraktur lainnya kurang cocok. Fraktur dapat diperlurus dan terhadap panjangnya dengan nail, tetapi fiksasi mungkin tidak cukup kuat untuk mengontrol rotasi. Nailin diindikasikan jika hasil pemeriksaan radiologi memberi bahwa jaringan lunak mengalami interposisi diantara ujung tulang karena hal ini hampir selalu menyebabkan nonlinion. Keuntungan intra medullary nailing adalah dapat memberikan stabilitas longitudinal serta kesejajaran (alignment) membuat penderita dapat dimobilisasi cukup cepat untuk meninggalkan

53

rumah sakit dalam waktu 2 minggu setelah kerugian meliputi anestesi, trauma bedah tambahan dan infeksi. Closed nailing memungkinkan mobilisasi yang tercepat denagn trauma yang minimal, tetapi paling sesuai untuk transversal tanpa pemendekan. Comminuted fracture paling baik dirawat dengan locking nail yang dapat mempertahankan panjang dan rotasi c. Fiksasi eksternal Bila fraktur yang dirawat dengan traksi stabil dan kalus terlihat pada pemeriksaan radiologis, yang biasanya pada minggu keenam, cast brace dapat dipasang. Fraktur dengan intramedullary nail yang tidak memberi fiksasi yang digid juga cocok untuk tindakan ini.

54

B. Proses Keperawatan Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan system atau metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5 tahap yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. 1. Pengkajian a. Pengumpulan data 1) Anamnese a) Identitas klien Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis. b) Keluhan utama Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan : (1) Provoking Incident : apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri. (2) Quality of Pain : seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.

55

(3) Region : radation, rellef : apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi. (4) Severoity (Scale) of Pain : seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya. (5) Time : berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari. c) Riwayat penyakit sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya

kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain. d) Riwayat penyakit dahulu Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit pagels yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes

56

dengan luka di kaki sangat beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambar proses penyembuhan tulang. e) Riwayat penyakit keluarga Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik. f) Riwayat psikososial Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat. g) Pola-pola fungsi kesehatan (1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu

penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu

57

keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak. (2) Pola nutrisi dan metabolisme Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah

muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien. (3) Pola eliminasi Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan, atau tidak.

58

(4)

Pola tidur dan istirahat Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.

(5)

Pola aktivitas Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka sama bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal ini yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain.

(6)

Pola hubungan dan peran Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap.

(7)

Pola persepsi dan konsep diri Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara

59

optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image). (8) Pola sensori dan kognitif Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur. (9) Pola reproduksi seksual Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji sattus perkawinanya perkawinannya. termasuk jumlah anak, lama

(10) Pola penanggulangan stress Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif. (11) Pola tata nilai dan keyakinan Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan

60

konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien. b. Pemeriksan Fisik Pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum, BB, TTV (TD, nadi, suhu, pernapasan). Menurut Donges ME. dkk pada pasien yang mengalami fraktur adalah sebagai berikut : 1) Aktivitas/Istirahat Gejala : Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri).

Sirkulasi : Tanda : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respons terhadap nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah). Takikardia (respons stress, hipovolemia)

penurunan/tidak ada nadi pada bagian distal yang cedera : pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian yang terkena.

2) Neurosensori Gejala : Hilang gerakan/sensori, spasme otot. Kesemutan

61

Tanda

: Deformitas lokal : angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi (bunyi berjerit), spasme otot, terlihat kelemahan/hilang fungsi. Angitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri) ansietas atau trauma lain

3) Nyeri/Kenyamanan Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan/kerusakan tulang ; dapat berkurang pada mobilisasi) ; tak ada nyeri akibat kerusakan saraf. Spasme/kram otot (setelah imobilisasi) 4) Keamanan Tanda : Laserasi kulit, ovulasi jaringan, perdarahan, perubahan warna. Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).

62

2. Dampak KDM
Trauma Menekan fragmen tulang Fraktur Timbulnya berbagai gejala (manifestasi klinik) Kesalahan interpretasi informasi Perubahan status kesehatan Sum-sum tulang hancur Serpihan sum-sum masuk ke -pembuluh darah Emboli Emboli masuk ke pembuluh darah paru Pelepasan mediator kimia (bradikinin, histamin, serotonin dan prostaglandi) Stimulasi nociceptor Thalamus Nyeri dipersepsikan Nyeri Korteks serebri Fraktur terbuka Terputusnya kontinuitas jaringan tulang Kerusakan pembuluh darah dan jaringan sekitar Penurunan aliran darah ke jaringan Kehilangan fungsi untuk beraktivitas Resiko cedera (tambahan) Kerusakan Terapi restruktif mobilitas fisik (immobilisasi)

Kesalahan menginterpretasi Hambatan transpor O2 dan Kurang informasi Kurang pengetahuan masalah CO2 di paru mengenai kondisi prognosis dan Resiko kerusakan pengobatan pertukaran gas

Resikomasuk Kerusakan integritas kulitdisfungsi Jalan infeksi Resiko mikroorganisme, neuromuskuler perawatan inadekuat perifer

41

3. Diagnosa Keperawatan Merupakan pernyataan yang menjelaskan status kesehatan baik aktual maupun potensial. Perawat memakai proses keperawatan dalam mengindentifikasi dan mengsintesa data klinis dan menentukan intervensi keperawatan untuk mengurangi, menghilangkan atau mencegah masalah kesehatan klien yang menjadi tanggung jawabnya. Diagnosa keperawatan adalah penilaian atau kesimpulan yang diambil dari pengkajian keperawatan, menjelaskan status kesehatan, masalah aktual, resiko, maupun potensial yang dapat diproritaskan. Adapun diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada klien dengan fraktur antara lain : a. Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fargmen tulang, edema, dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi atau immobilisasi, stress, ansietas. b. Resiko tinggi terhadap trauma tambahan berhubungan dengan kehilangan integritas tulang (fraktur). c. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan penurunan atau interupsi aliran darah, hepovolemia. d. Resiko tinggi terhadap kerusakan gas berhubungan dengan perubahan aliran darah, perubahan membran alveolar atau kapiler.

103

e. Kerusakan

mobilitas

fisik

berhubungan

dengan

kerusakan

neuromuskuler, nyeri/ketidaknyamanan, terapi restriktif, immobilisasi tungkai. f. Kerusakan integritas jaringan kulit berhubungan dengan cedera tusuk, fraktur terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen, kawat, sekrup. g. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, prosedur invasif, intraksi tulang. h. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpanjang atau mengingat, salah interpretasi informasi atau tidak mengenal sumber informasi. 4. Rencana keperawatan Setelah diagnosa ditegakkan, maka langkah selanjutnya adalah menyusun rencana keperawatan untuk meminimalisir masalah tersebut. Adapun rencana keperawatan untuk masing-masing diagnosa antara lain : a. Resiko tinggi terhadap trauma tambahan berhubungan dengan kehilangan integritas tulang (fraktur). Tujuan : Mempertahankan stabilisasi dna posisi fraktur. Kriteria : 1) Menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas pada sisi fraktur. 2) Menunjukkan pembentukan kalus atau mulai penyatuan fraktur dengan tepat. 104

Intervensi keperawatan : NO INTERVENSI RASIONAL 1) Pertahankan tirah baring/ 1) Meningkatkan stabilitas, ekstremitas sesuai indikasi. menurunkan kemungkinan gangguan

Berikan sokongan sendi diatas dan dibawah fraktur bila

posisi/ penyembuhan.

bergerak/membalik. 2) Letakkan papan dibawah 2) Tempat tidur lembut atau lentur dapat membuat yang basah,

tempat tidur atau tempatkan pasien pada tempat tidur

deformasi masih

gips

ortopedik.

mematahkan gips yang sudah kering atau

mempengaruhi penarikan traksi. 3) Sokong fraktur dengan bantal/ 3) Mencegah gerakan yang gulungan selimut. Pertahankan posisi netral pada bagian yang sakit dengan bantal pasir, tidak perlu dan perubahan posisi. Posisi yang tepat dari bantal juga dapat mencegah deformitas yang kering. 4) Tugaskan petugas yang cukup 4) Gips panggul/tubuh atau tekanan pada gips

pembebat, gulungan trokanter, papan kaki.

105

untuk

membaik

pasien.

multipel dapat membuat berat dan tidak praktis secara Kegagalan menyokong yang eksterm. untuk ekstremitas dapat

Hindari menggunakan papan abduksi untuk membalik

pasien dengan gips spika.

digips

menyebabkan gips patah. 5) Evaluasi pembebat ekstremitas 5) Pembebat terhadap resolusi edema. Pertahankan traksi posisi/integritas (contoh Sugar) digunakan memberikan fraktur pembengkakan berlebihan. dengan jepitan koaptasi Jonesmungkin untuk imobilisasi dimana jaringan Seiring berkurangnya

edema, penilaian kembali pembelat atau

penggunaan gips plester mungkin untuk diperlukan mempertahankan

kesejajaran fraktur. 6) Pertahankan posisi/integritas 6) Traksi memungkinkan

106

traksi (contoh, Buck, dunlop, Pearson, Russel).

tarikan panjang dan tegangan

pada fraktur

aksis tulang

memengatasi otot/ untuk posisi/

pemendekan memudahkan

penyatuan. Traksi tulang (pen, kawat, jepitan)

memungkinkan penggunaan, berat lebih besar untuk penarikan

traksi daripada digunakan untuk jaringan kulit. 7) Yakinkan bahwa semua klem 7) Yakinkan bahwa susunan berfungsi. Minyak katrol dan periksa tali terhadap tegangan. amankan dan tutup ikatan dengan pelster perekat. 8) Pertahankan katrol traksi berfungsi dengan tepat untuk menghindari interupsi penyambangan fraktur. tidak 8) Jumlah optimal Catatan gerakan : beban traksi

terhambat dengan beban bebas menggantung ; hindari

dipertahankan. Memastikan bebas beban

mengangkat/menghilangkan berat.

selama menggantu posisi

107

pasien

menghindari

penarikan berlebihan tibatiba pada fraktur yang menimbulkan nyeri dan spasme otot. 9) Bantu meletakkan beban di 9) Membantu posisi tepat bawah roda tempat tidur bila diindikasikan. pasien dan fungsi traksi dengan memberikan timbal

keseimbangan balik. 10) Kaji ulang tahanan yang 10) Mempertahankan

mungkin timbul karena terapi, contoh pergelangan tidak

integritas tarikan traksi.

menekuk/duduk dengan traksi Buck atau tidak memutar di bawah pergelangan dengan

traksi Russel. 11) Kaji integritas alat fiksasi 11) Traksi eksternal. Hoffman

memberikan stabilitasasi dan sokongan kaku untuk tulang fraktur tanpa

menggunakan katrol, tali atau beban,

108

memungkinkan mobilitas/ kenyamanan pasien lebih besar dan memudahkan perawatan luka. Kurang atau keketatan berlebihannya klem/ikatan

dapat mengubah tekanan kerangka, menyebabkan

kesalahan posisi. 12) Kaji ulang foto/evaluasi 12) Memberikan bukti visual mulainya kalus/ penyembuhan menentukan pembentukan proses untuk tingkat

aktivitas dan kebutuhan perubahan/ terapi. 13) Berikan/pertahankan stimulasi 13) Mungkin listrik bila digunakan. untuk diindikasikan meningkatkan tambahan

pertumbuhan tulang pada keterlambatan penyembuhan/tidak menyatu.

109

b. Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fargmen tulang, edema, dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi atau immobilisasi, stress, ansietas. Kemungkinan dibuktikan oleh : 1) Keluhan nyeri. 2) Distraksi, fokus pada diri sendiri atau fokus menyempit, wajah menunjukkan nyeri. 3) Perilaku berhati-hati, melindungi, perubahan tonus otot, respon otnomik. Tujuan : Menyatakan nyeri hilang. Kriteria : 1) Menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam aktivitas/istirahat dengan tepat. 2) Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual.

NO 1)

INTERVENSI Pertahankan

RASIONAL

mobilisasi 1) Menghilangkan nyeri dan mencegah posisi kesalahan

bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pembebat, atau traksi (Rujuk ke DK : Trauma, terhadap). risiko tinggi

tulang/tegangan

jaringan yang cedera.

110

2)

Hindari penggunaan sprei/ 2) Meningkatkan bantal plastik di bawah

aliran

balik vena, menurunkan edema, dan menurunkan nyeri.

ekstremitas dalam gips.

3)

Tinggikan tidur;

penutup

tempat 3) Dapat linen

meningkatkan

pertahankan

ketidaknyamanan karena peningkatan produksi

terbuka pada ibu jari kaki.

panas dalam gips yang kering. 4) Evaluasi keluhan nyeri/ 4) Mempengaruhi pilihan/

ketidaknyamanan, perhatikan lokasi dan karakteristik,

pengawasan keefektifan intervensi. ansietas Tingkat dapat

termasuk intensitas (skala 010)/Perhatikan petunjuk nyeri nonverbal (perubahan pada tanda vital dan emosi/

mempengaruhi persepsi/ \reaksi terhadap nyeri.

perilaku) 5) Dorong pasien untuk 5) Membantu masalah untuk

mendiskusikan

menghilangkan ansietas. Pasien dapat merasakan kebutuhan menghilangkan pengalaman kecelakaan. untuk

sehubungan dengan cedera.

111

6)

Jelaskan prosedur sebelum 6) Memungkinkan memulai.

pasien

untuk siap secara mental untuk aktivitas juga dalam tingkat

berpartisipasi mengontrol ketidaknyamanan.

7)

Beri obat sebelum perawatan 7) Meningkatkan aktivitas.

relaksasi

otot dan meningkatkan partisipasi.

8)

Lakukan dan awasi latihan 8) Mempertahankan rentang gerak pasif/aktif. kekuatan/mobilitas yang sakit otot dan resolusi

memudahkan

inflamasi pada jaringan yang cedera. 9) Berikan alternatif tindakan 9) Meningkatkan kenyamanan, contoh pijatan, pijatan punggung, perubahan posisi. 10) sirkulasi

umum; menurunkan area tekanan lokal dan

kelalahan otot. kembali

Dorong menggunakan teknik 10) Memfokuskan manajemen relaksasi stres, contoh latihan

perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat

progresif,

112

napas

dalam,

imajinasi Sentuhan

meningkatkan kemampuan koping

visualisasi. teraputik.

dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode labih lama.

11)

Identifikasi

aktivitas 11) Mencegah menurunkan

kebosanan, tegangan,

terapeutik yang tepat untuk usia pasien, kemampuan fisik, dan penampilan pribadi.

dan dapat meningkatkan kekuatan otot; dapat

meningkatkan harga diri dan kemampuan koping. 12) Selidiki adanya keluhan nyeri 12) Dapat yang tak biasa/tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif/buruk tidak analgesik. hilang dengan terjadinya menandakan komplikasi,

contoh infeksi, iskemia jaringan, sindrom

kompartemen (Rujuk ke DK : Perfusi jaringan, perubahan : perifer,

risiko tinggi terhadap) 13) Lakukan kompres dingin/es 13) Menurunkan 24-48 jam pertama dan sesuai keperluan. edema/

pembentukan hematoma, menurunkan nyeri. sensasi

113

14)

Berikan obat sesuai inbdikasi 14) Diberikan : narkotik dan analgesik non narkotik : NSAID injeksi contoh ketoralak (Todadol); dan/atau contoh (Flckseril), relaksan otot, menurunkan dan/atau spasme

untuk nyeri otot.

Penelitian Toradol telah diperbaiki menjadi lebih efektif menghilangkan tulang, dengan dalam nyeri masa

siklobenzaprin hidroksin

(vistaril). Berikan narkotik sekitar pada janinnya selama 3-5 hari.

kerja lebih lama dan sedikit efek samping bila dibandingkan dengan

agen narkotik. Catatan : Vistaril sering digunakan untuk efek poten dari narkotik untuk

memperbaiki/menghilang kan nyeri panjang. 15) Berikan/awasi analgesik yang 15) Pemberian dikontrol pasien (ADP) bila indikasi. rutin ADP kadar

mempertahankan

analgesik darah adekuat, mencegah dalam fluktuasi penghilangan

nyeri sehubungan dengan

114

tegangan otot/spasme. c. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan penurunan atau interupsi aliran darah, hipovolemia. Tujuan : Mempertahankan terabanya nadi. Kriteria : 1) Kulit hangat atau kering. 2) Sensasi normal. 3) Tanda vital stabil 4) Pengeluaran urine adekuat. NO 1) INTERVENSI Lepaskan perhiasan RASIONAL dari 1) Dapat sirkulasi oedema. 2) Evaluasi adanya/kualitas nadi 2) Penurunan/tak perifer distal terhadap cedera melalui Bandingkan ekstremitas yang sakit. palpasi/Doppler. dengan nadi menggambarkan adanya dapat cedera membendung jika terjadi perfusi jaringan dibuktikan oleh

ekstremitas yang sakit.

vaskuler dan perlunya evaluasi medik segera terhadap sattus sirkulasi. Waspadai bahwa kadangkadang nadi dapat

terhambat oleh bekuan

115

halus

dimana

pulsasi

mungkin teraba. Selain itu, perfusi melalui arteri lebih berlanjut meningkatnya besar dapat setelah tekanan

kompartemen yang telah mengempiskan sirkulasi arteriol/venula otot. 3) Kaji aliran kapiler, warna 3) Kembalinya warna harus kulit, dan kehangatan distal pada fraktur. cepat (3-5 menit). Warna kulit gangguan menunjukkan arterial.

Sianosis diduga karena ada gangguan vena.

Catatan : Nadi perifer, pengisian kapiler, warna kulit, mungkin dan sensasi normal

meskipun ada sindrom kompartemen, sirkulasi biasanya karena superfisial tidak

116

dipengaruhi. 4) Lakukan neuromuskuler. perubahan pengkajian 4) Gangguan Perhatikan motor/ kebas, perasaan jeemutan,

fungsi

peningkatan/ penyebaran nyeri terjadi bila sirkulasi pada saraf tidak adekuat atau saraf rusak.

sensori. Minta pasien untuk melokalisasi ketikdanyamanan. 5) Tes sensasi saraf nyeri/

perifer 5) Panjang dan posisi saraf perineal risiko adanya meningkatkan cedera fraktur pada kaki,

dengan menusuk pada kedua selaput antara ibu jari pertama dan kedua dan kaji

kemampuan untuk dorsofleksi ibu jari bila diindikasikan.

edema/sindrom kompartemen, malposisi alat traksi. atau

6)

Kaji jaringan sekitar akhir gips 6) Faktor untuk titik yang kasar/tekanan. Seliidiki keluhan rasa atau

ini

disebabkan

mengindikasikan

tekanan jaringan/iskemia, menimbulkan keruaskan/ nekrosis.

terbakar di bawah gips.

7)

Awasi

posisi/lokasi

cincin 7) Alat

traksi

dapat tekanan pembuluh terutama

penyokong hebat.

menyebabkan pada darah/saraf,

117

pada aksila dan lipat paha, mengakibatkan

isklemia dan kerusakan saraf permanen. 8) Pertahankan ekstremitas kecuali peninggian 8) Meningkatkan yang cedera vena/ drainase

menurunkan

dikontraindikasikan

edema. Catatan : Pada adanya tekanan peninggian secara peningkatan kompartemen, ekstremitas nyata

dengan meyakinkan adanya sindrom kompartemen.

menghalangi aliran arteri menurunkan perfusi. 9) Kaji keseluruhan panjang 9) Peningkatan lingkar

ekstremitas yang cedera untuk pembengkakan/pembentukan edema. Ukur ekstremitas yang cedera dan bandingkan dengan yang tak cedera. Perhatikan penampilan/luasnya hematoma.

ekstremitas yang cedera dapat diduga ada

pembengkakan jaringan/ edema dapat perdarahan. umum tetapi

menunjukkan Catatan :

Peningkatan 1 inci pada paha orang dewasa dapat sama dengan akumulasi

118

1 unit darah. 10) Perhatikan keluhan nyeri 10) Perdarahan/pembentukan edema berlanjut dalam otot fasial tertutup ketat dengan dapat

ekstrem untuk tipe cedera atau peningkatan gerakan pasif nyeri pada

ekstremitas,

terjadinya parestesia, tegangan otot/nyeri tekan dengan

menyebabkan gangguan aliran darah dan iskemia miositis atau sindrom perli

eritema, dan perubahan nadi distal. jangan tinggikan

kompartemen,

ekstremitas. Laporkan gejala pada dokter saat itu.

intervensi darurat untuk menghilangkan tekanan/ memperbaiki sirkulasi.

Catatan : Kondisi ini memerlukan kedaruratan medik dan memerlukan intervensi segera. 11) Selidiki tanda iskemia 11) Dislokasi faktur sendi

ekstremitas tiba-tiba, contoh penurunan suhu kulit, dan peningkatan nyeri.

(khususnya lutut) dapat menyebabkan kerusakan arteri yang berdekatan, dengan akibat hilangnya aliran darah ke distal.

12)

Dorong pasien untuk secara 12) Meningkatkan

sirkulasi

119

rutin latihan jari/sendi distal. Ambulasi sesegera mungkin

dan

menurunkan darah pada

pengumpulan khususnya ekstremitas bawah.

13). Selidiki

nyeri

tekan, 13) Terdapat pada potensial

peningkatan untuk dan

pembengkakan

dorsofleksi kaki (tanda Homan positif).

tromboflebitis

emboli paru pada pasien imobilisasi selama 5 hari atau lebih.

14)

Awasi tanda vital. Perhatikan 14) Ketidakadekuatan tanda-tanda pucat/sianosis volume sirkulasi mempengaruhi perfusi jaringan. feses/aspirasi darah gaster 15) Peningkatan nyata. perdarahan insiden gaster akan sistem

umum, kulit dingin, perubahan mental. 15) Tes

terhadap

Perhatikan perdarahan lanjut pada sisi trauma/injeksi dan perdarahan terus menerus dari membran mukosa.

menyertai fraktur/trauma dan dapat berhubungan dengan stres dan kadangkadang gangguan yang menunjukkan pembekuan memerlukan

intervensi lanjut.

120

16)

Berikan kompres es sekitar 16) Menurunkan fraktur sesuai indikasi. pembentukan

oedema/ hematom

yang dapat menggangu sirkulasi. 17) Bebat/buat kebutuhan. spalk sesuai 17) Mungkin dilakukan pada keadaan daurat untuk

menghilangkan restrikso sirkulasi diakibatkan pembentukan yang oleh edema

pada ekstremitas yang cedera. 18) Kaji/awasi intrakompartemen. tekanan 18) Peninggian (biasanya mmHg tekanan sampai atau 30

lebih)

menunjukkan kebutuhan evaluasi intervensi. 19) Siapkan bedah untuk (contoh, intervensiu 19) Kegagalan fibulektmi/ untuk segera dan

menghilangkan tekanan/ memperbaiki sindrom

fasiotomi) sesuai indikasi.

kempartemen dalam 4 sampai 6 jam dari

121

timbulnya mengakibatkan kontraktur berat/kehilangan dan

dapat

fungsi

kecacatan

ekstremitas distal cedera atau perlu amputasi. 20) Awasi Hb/Ht, pemeriksaan 20) Membantu kadar kalkulasi dalam kehilangan

koagulasi, protrombin.

contoh

darah dan membutuhkan keefektifan pengantin. terapi

21)

Berikan

warfarin

natrium 21) Mungkin bila

diberikan

(Coumadin) diindiaksikan.

secara profilaktik untuk menurunkan vena dalam. trombus

22)

Berikan

kaus

kaki 22) Menurunkan pengumpulan vena dan dapat aliran sehingga risiko trombus. meningkatkan balik vena,

antiembolitik/tekanan berurutan sesuai indikasi.

menurunkan pembentukan

122

d. Resiko tinggi terhadap kerusakan gas berhubungan dengan perubahan aliran darah, perubahan membran alveolar/kapiler. Tujuan : Mempertahankan fungsi pernafasan adekuat. Kriteria : 1) Tak adanya dispnea atau sianosis. 2) Frekuensi pernafasan dan GDA dalam batas normal. NO INTERVENSI RASIONAL 1. Awasi frekuensi pernapasan 1) Takipnea, dispnea, dan dan upayanya. Perhatikan otot perubahan dalam mental dan tanda dini

stridor, bantu,

penggunaan retraksi,

terjadinya

insufisiensi dan

pernapasan hanya

sianosis sentral.

mungkin

indikator

terjadinya

emboli paru ada tahap awal. Masih adana

tanda/gejala menunjukkan pernapasan luas/cenderung kegagalan. 2) Auskultasi bunyi napas 2) Perubahan dalam/adanya bunyi adventisius ditress

perhatikan terjadinya ketidak samaan, bunyi hiperesonan,

menunjukkan terjadinya

123

juga adanya gemericik/ronki/ mengi dan inspirasi mengorok/ bunyi sesak napas.

komplikasi contoh pneumonia, SDPD.

pernapasan, atelektasis, emboli, Inspirasi

mengorok menunjukkan edema jalan napas atas dan lemak. 3) Atasi jaringan cedera/tulang 3) Ini dengan lembut, khususnya dapat mencegah diduga emboli

terjadinya emboli lemak (biasanya terlihat pada 12-72 jam pertama), yang erat berhubugan dengan fraktur, khususnya tulang panjang dan pelvis.

selama beberapa hari pertama.

4)

Instruksikan dan bantu dalam 4) Meningkatkan latihan nafas dalam dan batuk. Reposisi dengan sering. alveolar Reposisi drainase dan

ventilasi perfusi.

meningkatkan sekret dan

menurunkan

kongesti

pada area paru dependen. 5) Perhatikan kegelisahan, peningkatan 5) Gangguan kacau, letargi, pertukaran

gas/ adanya emboli paru

124

stupor.

dapat

menyebabkan pada

penyimpangan

tingkat kesadaran pasien seperti terjadinya

hipoksemia/ asidosis. 6) Observasi sputum untuk tanda 6) Hemodialisa dapat terjadi adanya darah. 7) dengan emboli paru.

Inspeksi kulit untuk petekie di 7) Ini adalah karaktetistik atas garis puting; pada aksila, meluas ke abdomen/tubuh; paling nyata dari tanda emboli lemak, yang

mukosa mulut, palatum keras, kantung retina. Kolaborasi : 8) Bantu insentif. dalam konjungtiva dan

tampak dalam 2-3 hari setelah cedera.

spirometri 8) Memaksimalkan ventilasi/ oksigenasi dan meminimakan atelektasis.

9)

Berikan tambahan O2 bila 9) Meningkatkan sediaan O2 diindikasikan. untuk oksigenasi optimal jaringan.

10) Awasi

pemeriksaan 10) Menurunnya PaO2 dan peningkatan PaCO2

laboratorium, contoh :

125

Seri GDA, Hb, kalsium, LED, lipase trombosit. serum, lemak,

menunjukkan

gangguan

pertukaran gas/terjadinya kegagalan. Anemia, peningkatan hipokalsemia, LED dan

kadar lipase, gelembung lemak darah/urine/sputum penurunan trombosit (trombositopenia) berhubungan emboli lemak. 11) Berikan obat sesuai indikasi : Heparin dosis rendah. 11) Blok siklus pembekuan dan bertambahnya pembekuan pada adanya tromboflebitis. Steroid telah digunakan Kortikosteroid. dengan keberhasilan mencegah/mengatasi emboli lemak. beberapa untuk mencegah sering dengan dalam dan jumlah

126

e. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri atau ketidaknyamanan, terapi restriktif,

hemobilisasi tungkai. Kemungkinan dibuktikan oleh : 1) Ketidakmampuan untuk bergerak sesuai tujuan dalam lingkungan fisik, dilakukan pembatasan. 2) Menolak untuk bergerak, keterbatasan rentang gerak. 3) Penurunan kekuatan atau kontrol otak. Tujuan : Meningkatkan atau mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin mempertahankan posisi fungsional. Kriteria : 1) Meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit dan mengkompasasi bagian tubuh. 2) Ketiga menunjukkan teknik yang memampukan melakukan aktivitas. NO INTERVENSI RASIONAL 1) Kaji derajat imobilisasi yang 1) Pasiun mungkin dibatasi dihasilkan pengobatan persepsi imobilisasi. pasien oleh cedera/ perhatikan terhadap oleh pandangan

diri/persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi/intervensi

127

untuk

meningkatkan

kemajuan kesehatan. 2) Dorong aktivitas partisipasi pada 2) Memberikan kesempatan untuk energi, kembali meningkatkan mengeluarkan memfokuskan perhatian, rasa

terapeutik/rekreasi. rangsang

Pertahankan

lingkungan contoh, radio, TV, koran, barang milik pribadi/ lukisan, jam, kalender,

kontrol diri/harga diri, dan menurunkan sosial. membantu isolasi

kunjungan keluarga/teman.

3)

Instruksikan

pasien

untuk/ 3) Meningkatkan

aliran

bantu dalam rentang gerak pasien/aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tidak sakit.

darah ke otot dan tulang untuk tonus mempertahankan sendi, meningkatkan otot, gerak

mencegagah dan

kontraktur/atrofi

resorpsi kalsium karena tidak digunakan. 4) Dorong isometrik pengunana mulai latihan 4) Kontraksi otot isometrik dengan tanpa menkuk sendi atau menggerakkan tungkai

tungkai yang tak sakit.

128

dan

membantu

mempertahankan kekuatan dan masa otot. Catatan : Latihan ini dikontraindikasikan pada perdarahan akut/edema. 5) Berikan papan kaki, bebat 5) Berguna pergelangan, gulungan mempertahankan fungsional tangan/kaki, mencegah (contoh jatuh). 6) Tempatkan dalam posisi 6) Menurunkan kontraktur panggul. risiko fleksi dalam posisi

trokanter/tangan yang sesuai.

ekstremitas, dan komplikasi

kontraktur/kaki

telentang secara periodik bila mungkin, bila traksi

digunakan untuk menstabilkan fraktur tungkai bawah. 7). Instruksikan/dorong menggunakan trapeze dan 7) Memudahkan selama higiene/perawatan kulit, dan penggantian linen, menurunkan ketidak gerakan

pasca posisi untuk fraktur tungkai bawah.

129

nyamanan dengan tetap datar di tempat tidur. Pasca melibatkan posisi penempatan

kaki yang sakit datar di tempat tidur dengan lutut menekuk sementara

mengenggam trapeze dan mengangkat tubuh dari tempat tidur. 8) Bantu/dorong perawatan 8) Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, kontrol

diri/kebersihan (contoh mandi, mencukur)

meningkatkan

pasien dalam situasi, dan meningkatkan kesehatan diri langsung. 9) Berikan/bantu dalam 9) Mobilisasi dini

mobilisasi dengan kursi roda, kruk, mungkin. keamanan tongkat, sesegera Instruksikan dalam

menurunkan komplikasi tirah baring (contoh, dan

flebitus) meningkatkan penyembuhan

menggunakan alat mobilitas.

dan

normalisasi fungsi organ.

130

Belajar memperbaiki cara menggunakan penting mempertahankan mobilisasi optimal dan keamanan pasien. 10) Awasi TD dengan melakukan 10) Hipotensi postural adalah aktivitas.perhatikan pusing. keluhan masalah umum menyertai tirah baring lama dan memerlukan khusus intervensi (contoh alat untuk

kemiringan meja dengan peninggian secara

bertahap sampai posisi tegak). 11). Ubah posisi secara periodik 11) Mencegah/menurunkan dan dorong untuk latihan insiden komplikasi kulit/ pernapasan dekubitus, pneumonia). 12) Auskultasi biring usus. Awasi kebiasaan eliminasi dan berikan keteraturan defekasi 12) Tirah baring, penggunaan analgesik, dan perubahan dalam kebiasaan diet (contoh atelektasi,

batuk/napas dalam.

131

rutin. Tempatkan pada pispot, bila mungkin, atau menggunakan bedpan fraktur. Berikan privasi.

dapat peristaltik

memperlambat dan

menghasilkan konstipasi. Tindakan yang eliminasi keperawatan memudahkan dapat

mencegah/membatasi komplikasi. Bedpan

fraktur membatasi fleksi panggul dan mengurangi tekanan lumbal/gips

ekstremitas bawah. 13) Dorong peningkatan masukan 13) Mempertahankan hidrasi ciaran sampai 2000-3000 tubuh, menurunkan risiko infeksi urinarius,

ml/hari, termasuk air asam/jus.

pembentukan batu, dan konstipasi.

14)

Berikan diet tinggi protein, 14) Pada karbohidrat, mineral. vitamin, dan

adanya

cedera nutrisi

musculoskeletal,

Pertahankan

yang diperlukan untuk penyembuhan berkurang dengan cepat, sering

penurunan kandungan protein sampai setelah defekasi

132

pertama.

mengakibatkan penurunan BB 20-30 pon selama traksi tulang. Ini mempengaruhi massa

otot, tonus dan kekuatan. Catatan protein : Makanan meningkat

kandngannya pada usus halus, mengakibatkan gas dan

pembentukan konstipasi,

sehingga

fungsi GI harus secara penuh membaik sebelum makanan meningkat. 15) Tingkatkan jumlah diet kasar. 15) Penambahan bulk pada Batasi makanan pembentuk gas. feses mencegah Makanan membantu konstipasi. pembentukan berprotein

gas dapat menyebabkan distensi abdominal,

khususnya pada adanya penurunan motilitas usus.

133

16)

Konsul dengan ahli terapi 16) Berguna dalam membuat fisik/okupasi rehabilitas spesialis. dan/atau aktivitas individual/program latihan. Pasien dapat bantuan

memerlukan

jangka panjang dengan gerakan kekuatan, dan aktivitas mengandalkan yang berat

badan, juga penggunaan alat. kruk, meninggikan Contoh walker, tongkat, tempat

duduk di toilet, tongkat pengambil/penggapai, khususnya alat makan. 17) Lakukan (pelunak program feses, defekasi 17) Dilakukan enema, meningkatkan usus. terdekat tindakan untuk untuk evakuasi

laksatif) sesuai indikasi. 18)

Rujuk ke perawat spesialis 18) Pasien/orang psikatrik klinikal/ahli terapi sesuai indikasi. memerlukan intensif menerima lebih

kenyataan

134

kondisi/prognosis, imobilisasi mengalami kontrol. lama, kehilangan

f. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan cedera tusuk, fraktur terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen, kawat, sekrup. Kemungkinan dibuktikan oleh : 1) Keluhan gatal, nyeri, kebas, tekanan pada area yang sakit atau area sekitar. 2) Gangguan permukaan kulit, invasi struktur tubuh, destruksi lapisan kulit. atau jaringan. Tujuan : Kriteria Menyatakan ketidaknyamanan. :

1) Menunjukkan perilaku atau tehnik untuk mencegah kerusakan kulit atau memudahkan penyembuhan sesuai indikasi.

2) Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu atau penyembuhan lesi terjadi. NO INTERVENSI RASIONAL 1. Kaji kulit untuk luka terbuka, 1) Memberikan informasi benda asing, kemerahan, tentang dan sirkulasi masalah kulit yang

perdarahan, perubahan warna, kelabu, memutih.

mungkin disebabkan oleh

135

alat dan/atau pemasangan gips atau traksi, atau pembentukan yang edema

membutuhkan

intervensi medik lanjut. 2) Massase kulit dan penonjolan 2) Menurunkan tulang. Pertahankan tempat tekanan

pada area yang peka dan resiko kulit. abrasi/kerusakan

tidur kering dan bebas kerutan. Tempatkan bantalan air/

bantalan lain bawah siku/tumit sesuai indikasi. 3) Ubah posisi dengan sering. 3) Mengurangi Dorong penggunaan trapeze bila mungkin. tekanan

konstan pada area yang sama dan meminimalkan risiko kerusakan kulit. Penggunaan trapeze

dapat menurunkan abrasi pada siku/tumit. 4) Kaji posisi cincin bebat pada 4) Posisi yang tak tepat alat traksi. dapat menyebabkan

cedera kulit/ kerusakan. 5) Penggunana perawatan kulit : gips dan 5) Memberikan gips tetap kering, dan area bersih.

136

Bersihkan sabun dan

kulit air.

dengan Gosok

Catatan : Terlalu banyak bedak lengket dapat bila membuat kontak

perlahan dengan alkohol; dan/atau bedak dengan

dengan air/keringat.

jumlah sedikit borat atau stearat seng. Potong pakaian dalam Berguna untuk bantalan tonjolan tulang,

yang menutup area dan perlebar beberapa inci

mengakhiri akhir gips, dan melindungi kulit. Mencegah pelekukan/pendapatan di atas tonjolan tulang dan area menyokong berat badan (contoh,

diatas gips. Gunakan telapak tangan untuk memasang,

pertahankan atau lepaskan gips dan dukung bantal setelah pemasangan.

punggung tumit), yang akan menyebabkan jaringan.

abrasi/trauma

Bentuk yang tak tepat atau gips kering

mengiritasi pada kulit dibawahnya dan dapat menimbulkan gangguan

137

sirkulasi. Potong kelebihan plester dari akhir gips sesegera mungkin lengkap. Tingkatkan pengeringan saat gips Plester yang lebih dapat mengiritasi dapat abrasi. Mencegah kerusakan kulit dan

mengakibatkan

gips dengan mengangkat linen tempat tidur, pada

kulit yang disebabkan ulserasi, dan/atau saraf. nekrosis, kelumpuhan Masalah ini

memajankan sirkulasi udara.

mungkin tidak nyeri bila terjadi kerusakan saraf. Memberikan Beri bantalan (petal) pada akhir gips dengan plester tahanan air. perlindungan efektif

pada lapisan gips dan kelembaba. mencegah Membantu kerusakan

material gips pada akhir dan menurunkan iritasi kulit/ ekskoriasi. Bersihkan plester masih dari kelebihan kulit saat bila Plester yang kering

dapat melekat ke dalam gips yang telah lengkao

basah,

138

mungkin.

dan

menyebabkan

kerusakan kulit. Lindungi gips dan kulit pada rea perineal. Berikan perawatan sering. Instruksikan pasien/orang terdekat untuk Mencegah kerusakan

jaringan dan infeksi oleh kontaminasi fekal. sakit gesekan dapat menyebabkan jaringan. cedera

menghindari memasukkan objek ke dalam gips. Masase kulit sekitar akhir gips dengan alkohol;

Mempunyai pengering,

efek yang

menguatkan kulit. Krim dan losion tidak

dianjurkan karena terlalu banyak minyak dapat menutup perimeter gips, tidak memungkinkan

gips untuk bernapas. Bedak tidak dianjurkan karena potensial

akumulasi berlebihan di dalam gips. Balik pasien dengan Meminimalkan tekanan

139

sering untuk melibatkan sisi yang tak sakit dan posisi tengkurap dengan kaki pasien di atas kasur. 6)

pada kaki dan sekitar tepi gips.

Traksi kulit dan perawatan 6) Menurunkan kulit : Bersihkan kulit dengan air sabun hangat. Berikan tintur bezoin. kontaminasi kulit.

kadar

kekuatan kulit untuk penggunaan traksi kulit. Plester traksi melingkari tungkai dapat

mempengaruhi sirkulasi. Gunakan plester traksi Traksi dalam dimasukkan garis dengan

kulit (buat beberapa strip moleskin/plester perekat) memanjang pada sisi

akhir plester yang bebas.

tungkai yang sakit. Lebarkan sepanjang tungkai. plester Memungkinkan pengkajian terhadap terselip. Tandai garis dimana Meminimalkan tekanan pada area ini. benda untuk cepat yang

plester keluar sepanjang ekstremitas.

140

Letakkan

bantalan

Memberikan

tarikan

pelindung dibawah kaki dan di atas tonjolan

traksi yang tepat tanpa mempengaruhi sirkulasi.

tulang. Balut lingkar tungkai, dan Bila plester area di bawah tekan,

termasuk

plester

nyeri

bantalan, dengan verban elastik, hati-hati untuk

diduga ada iritasi kulit, dan siapkan untuk sistem

membalut dengan rapat tetapi tidak terlalu ketat. Palpasi jaringan yang

membuka balutan. Mempertahankan integritas kulit.

diplester tiap hari dan catat adanya nyeri tekan atau nyeri. 7)

Lepaskan traksi kulit tiap 7) Mencegah cedera pada 24 jam, sesuai protokol, inspeksi dan berikan bagian tubuh lain.

perawatan kulit. Traksi tulang dan perawatan kulit : Tekuk ujung kawat atau tutup ujung kawat/pen Mencegah berlebihan tekanan pada kulit

meningkatkan evaporasi kelembaban menurunkan yang risiko

dengan karet atau gabus

141

perlindungan/tutup jarum. Beri bantalan/pelindung

ekslorasi.

dari kulit domba, busa. 8) Gunakan tempat tidur busa, 8) Karena bulu domba, bantal apung, atau kasur udara sesuai imobilisasi

bagian tubuh, tonjolan tulang lebih dari area yang sakit oleh gips karena

indikasi.

mungkin

sakit

penurunan sirkulasi. 9) Buat gips dengan katup 9) Memungkinkan pengurangan tekanan dan memberikan akses untuk perawatan luka/kulit.

tunggal, katup ganda atau jendela sesuai protokol.

g. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, prosedur invasif, interaksi tulang. Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi : 1) Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu. 2) Bebas drainase perulen, interna atau demam. NO INTERVENSI RASIONAL 1) Inspeksi kulit untuk adanya 1) Pen atau kawat tidak iritasi atau robekan kontinuitas harus dimasukan melalui kulit yang terinfeksi,

142

kemerahan, atau abrasi (dapat menimbulkan

infeksi tulang). 2) Kaji sisi pen/kulit perhatikan 2) Dapat keluhan rasa peningkatan atau nyeri/ adanya mengidentifikasi

timbulnya infeksi lokal/ nekrosis jaringan yang dapat menimbulkan

terbakar

oedema, eritema drainase/bau tidak enak. 3) Instruksikan pasien

osteomielitis. untuk 3) Meminimalkan kesempatan kontaminasi. untuk

tidak menyentuh sisi insersi.

4)

Tutupi

pada

akhir

gips 4) Gips yang lembab, padat meningkatkan pertumbuhan bakteri.

peritoneal dengan plastik.

5)

Observasi

luka

untuk 5) Tanda perkiraan infeksi gas gangren.

pembentukan bula, krepitasi, perubahan warna kulit

kecoklatan, bau drainase yang tak enak/asam. 6) Kaji tonus otot, refleks tendon 6) Kekakuan otot, spasme dalam dan keammpuan untuk berbicara. tonik otot rahang, dan disfagia menunjukkan

terjadinya tetanus.

143

7)

Selidiki

nyeri

tiba-tba/ 7) Dapat

mengindikasi

keterbatasan gerakan dengan edema lokal/eritema

terjadinya osteomelitis.

ekstremitas cedera. 8). Lakukan prosedur isolasi. 8) Adanya drainase purulen akan kewaspadaan untuk memerlukan luka/linen mencegah

kontaminasi silang. 9). Awasi pemeriksaan 9) Anemia pada dapat terjadi

laboratorium, contoh : Hitung darah lengkap.

osteomielitis;

leukositosis biasanya ada dengan proses infeksi. Peningkatan osteomielitis. pada

LED

Mengidentifikasi organisme infeksi.

Kultur

dan

sensitivitas

Titik menunjukkan peningkatan vaskularitas, menunjukkan osteomielitis.

panas

luka/serum/tulang. Skan radioisotop.

area

144

10

Berikan obat sesuai indikasi, 10) Antibiotik spektrum luas contoh : Antibiotik IV/topikal dapat digunakan secara profilaktik ditujukan atau dapat pada

mikroorganisme khusus.

Diberikan Tetanus toksoid. profilaktik kemungkinan tetanus pada

secara karena adanya luka

terbuka. Catatan : Risiko peningkatan cedera/luka dalam bila terjadi lapangan

kondisi (area luar/jauh). 11) Berikan irigasi luka/tulang dan 11) Debridemen berikan sabun basah/hangat. pembersihan menurunkan mikroorganisme dan lokal/ luka

insiden infeksi sistemik. Antimikrobial drip

kontinu ke dalam tulang diperlukan untuk

145

mengatasi osteomielitis, khususnya darah terganggu. 12) Bantu prosedur contoh insisi/ 12) Banyak drainase, pemasangan drain, terapi O2 hiperbarik. dilakukan prosedur pada bila ke suplai tulang

pengobatan infeksi lokal, osteomielitis, gas. gangren

12) Siapkan pembedahan sesuai 13) Sequestrektomi indikasi. (pengangkatan nekrotik) perlu tulang untuk

membantu penyembuhan dan mencegah perluasan proses infeksi.

146

h. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpanjang atau mengingat, salah interpretasi informasi atau tidak mengenal sumber informasi. Kemungkinan dibuktikan oleh : 1) Pertanyaan atau permintaan informasi, pernyataan salah konsepsi. 2) Tidak akurat mengikuti instruksi atau terjadinya komplikasi yang dapat dicegah. Tujuan : Menyatakan pengobatan. Kriteria : Melakukan dengan benar prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan tindakan. RASIONAL NO INTERVENSI 1) Kaji ulang patologi, prognosis, 1) Memberikan dan harapan yang akan datang pengetahuan klien pilihan dapat pemahaman kondisi, prognosis, dan

dasar dimana

membuat informasi.

Catatan : Fiksasi internal dapat kekuatan mempengaruhi tulang dan

intramedula,

kuku/akar

atau piringan mungkin diangkat beberapa hari kemudian.

147

2).

Beri

penguatan

metode 2) Banyak

fraktur

mobilisasi dan ambulasi sesuai instruksi dengan terapis fisik bila diindikasikan.

memerlukan gips, bebat, atau proses Kerusakan perlambatan penyembuhan dapat penjepit selama

penyembuhan. lanjut dan

terjadi sekunder terhadap ketidaktepatan penggunaan ambulasi. 3) Anjurkan backpack. penggunaan 3) Memberikan tempat alat

untuk membawa artikel tertentu dan membiarkan tangan bebas untuk

memanipulasi kruk atau dapat mencegah

kelelahan otot yang tak perlu bila satu tangan digips. 4) Buat daftar aktivitas dimana 4) Penyusunan pasien dapat melakukannya secara mandiri dan yang sekitar yang aktivitas dan

kebutuhan

memerlukan

148

memerlukan bantuan. 5) Identifikasi sumber masyarakat, rehabilitas, perawatan di rumah.

bantuan. bantuan

tersedianya 5) Memberikan pelayanan contoh di tim untuk perawatan

memudahkan diri dan

pelayanan

mendukung kemandian. Meningkatkan perawatan diri optimal dan

pemulihan. 6) Dorong melanjutkan pasien latihan untuk 6) Mencegah aktif sendi, kelelahan meningkatkan kembalinya aktivitas kekakuan kontraktur, otot,

untuk sendi di atas dan di bawah fraktur.

sehari-hari secara dini. 7) Diskusikan pentingnya 7) Penyembuhan memerlukan fraktur waktu

perjanjian evaluasi klinis.

tahunan untuk sembuh lengkap, dan kerjasama pasien dalam program pengobatan untuk membantu yang

penyatuan

tepat dari tulang. 8) Kaji ulang perawatan pen/luka 8) Menurunkan risiko

149

yang tepat.

trauma

tulang/jaringan

dan infeksi yang dapat berlanjut osteomielitis. 9) Identifikasi tanda-tanda dan 9) Intervensi gejala-gejala yang menurunkan komplikasi infeksi/ sirkulasi. Beberapa menjadi cepat dapat menjadi

beratnya seperti gangguan Catatan kulit : yang dapat

memerlukan evaluasi medik, contoh nyeri berat, demam/ menggigil, perubahan bau tak enak, sensasi,

pembengkakan, paralisis, ibu jari atau ujung jari

gelap

terjadi secara normal bila berjalan pada ekstremitas yang digips atau tangan

putih/dingin, titik hangat, area lunak, gips retak.

menggunakan

yang digips; ini harus membaik dengan istirahat dan peninggian. 10) Diskusikan perawatan gips 10) Meningkatkan pengobatan tepat untuk mencegah gips dan deformitas iritasi postur.

yang hijau atau basah.

kulit/kesalahan

150

Catatan

Pemasangan

gips dingin langsung pada bantal karet atau plastik menjebak panas dan meningkatkan waktu pengeringan. 11) Anjurkan pengering penggunaan 11) Penggunaan yang hatirambut untuk hati dapat mempercepat pengeringan.

mengeringkan area gips yang lembab. 12) Demonstrasikan

penggunana 12) Melindungi kelembaba,

dari yang

kantung plastik untuk menutup plester gips selama cuaca

melunakkan pelster gips dan melemahkan gips. Catatan : GIps serat kaca digunakan lebih sering karena bahan ini tidak dipengaruhi oleh

lembab atau saat mandi. Gips bersih dengan pakaian agak lembab dan bedak penggosok.

kelembaban. Selain itu beratnya ringan dapat

meningkatkan partisipasi pasien dalam aktivitas yang diinginkan.

151

13) Anjurkan penggunaan pakaian 13) Membantu yang adaptif. 14) Anjurkan cara-cara

aktivitas

berpakaian/kerapihan. untuk 14) Membantu mempertahankan kehangatan/melindungi dari cedera. pasca 15) Menurunkan dan kekuatan kekauan

menutupi ibu jari kaki, bila tepat, contoh sarung tangan atau kaus kaki halus. 15) Diskusikan instruksi

pengangkatan gips : Instruksikan pasien untuk melanjutkan latihan sesuai izin. Informasikan pasien

memeprbaiki dan fungsi

ekstremitas yang sakit.

Ini

akan

memerlukan berminggusebelum

bahwa kulit di bawah gips secara umum lembab dan tertutup dengan kalus atau serpihan kulit yang mati. Cuci kulit dengan

waktu minggu

kembali ke penampilan normal. Kulit yang baru secara ekstrem nyeri tekan

perlahan dengan sabun, povidon iodin (Betadin) atau pHisoHex dan air. Minyak dengan minyak pelindung. Informasikan pasien

karena telah dlindungi oleh gips.

Kekuatan

otot

akan

152

bahwa otot dapat tampak lembek dan atrofi (massa otot kurang). anjurkan

menurun dan rasa sakit yang baru dan nyeri sementara terhadap dukungan. Pembengkakan dan sekunder kehilangan

untuk memberi sokongan pada sendi di atas dan di bawah bagian yang sakit dan gunakan alat bantu mobilitas, contoh verban elastik, bebat, penahan, kruk, walker, atau tongkat. Tinggikan ekstremitas

edema cenderung terjadi setelah gips. pengangkatan

sesuai kebutuhan.

(Doengoes Marilynn E, 2000)

153

5. Implementasi Tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan rencana tindakan keperawatan yang telah dibuat. Dalam melaksanakan rencana tersebut harus diperlukan dalam kerja sama dengan tim kesehatan yang lain, keluarga klien dan klien sendiri. Hal-hal yang perlu diperhatikan: a. Kebutuhan dasar klien. b. Dasar dari tindakan. c. Kemampuan perseorangan, keahlian/keterampilan dan perawatan. d. Sumber dari keluarga dan klien sendiri. e. Sumber dari instasi terkait.

6. Evaluasi Tahap evaluasi menentukan kemajuan pasien terhadap pencapaian hasil yang diinginkan dan respon pasien terhadap dan keefektifan intervensi keperawatan. Kemudian mengganti rencana perawatan jika diperlukan. Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan (Doenges Marilynn E, 2000). Hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan adalah a. Mempertahankan stabilitas dan posisi fraktur b. Nyeri yang dirasakan berkurang c. Mempertahankan perfusi jaringan dibuktikan oleh terabanya nadi, kulit hangat,sensasi normal, dan tanda vital stabil 154

d. Mempertahankan fungsi pernapasan yang adekuat e. Mempertahankan posisi fungsional f. Menunjukkan prilaku untuk mencegah kerusakan kulit g. Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu,bebas drainage purulen atau eritema dan demam. h. Menyatakan pemahaman kondisi, prognosis,dan pengobatan.

155

BAB III TINJAUAN KASUS Dibawah penulis menguraikan tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien Tn. I dengan gangguan sistem musculoskeletal di RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar. Pada kasus ini ditetapkan tentang proses asuhan keperawatan klien di dalam menentukan masalah masalah keperawatan yang ada. Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode wawancara dan pengamatan, pemeriksaaan fisik yang sebagai sumber utama adalah klien, keluarga klien serta tim kesehatan lainnya yang ada hubungannya dengan kasus yang dibahas. Pelaksanaan pengkajian pada tanggal 5 11 Januari 2010 dengan hasil pengkajian sebagai berikut : A. Pengkajian. 1. Biodata. a. Identitas Klien. 1. Nama klien 2. Umur 3. Jenis kelamin 4. Agama 5. Suku / Bangs 6. Status 7. Pekerjaan 8. Alamat : Tn. I : 37 tahun. : Laki laki. : Islam. : Makassar / Indonesia. : Kawin. : Petani : Jl.Poros BTN Bongkas Bulukumba. 156

9. No. MR 10. 11. Tgl. Masuk RS

: 358965 : 03 01 2010.

Tgl. Pengkajian : 05 01 2010.

2.

Keluhan Utama. a. Keluhan utama : Nyeri pada kaki kanan. b. Riwayat keluhan utama : Keluhan ini dialami oleh klien sejak post operasi (pemasangan plate) fraktur Tibia Fibula 1/3 distal terbuka sejak saat dikaji pada tanggal 5 Januari 2010, nampak luka robek dengan ukuran 3x1 cm, klien mengeluh nyeri pada kaki kanan, nyeri yang dikeluhkan oleh klien adalah hilang timbul (2 3 menit) dengan skala nyeri sedang ( 5 ) yang menggunakan skala nomerik 4 6. Sifat nyeri yang dikeluhkan seperti ditusuk tusuk dan waktu timbulnya nyeri setiap kali klien beraktivitas dan merupakan faktor pencetus timbulnya nyeri dan faktor yang memperingan adalah bila klien tidak beraktivitas. c. Diagnosa medis : Post operasi fraktur fibia 1/3 distal terbuka.

3. Riwayat Kesehatan. a. Riwayat Kesehatan Sekarang. Pada tanggal 03 01 2010 klien mengalami kecelakaan lalu lintas dan mengalami fraktur Tibia Fibula 1/3 distal terbuka. Klien langsung dibawa ke RS.Bhayangkara Mappa Oudang dan dirawat beberapa hari. Pada tanggal 04 Januari 2010 rencana klien akan dioperasi.

157

b. Riwayat Kesehatan Lalu. Tidak ada riwayat penyakit DHF dan typoid, penyakit yang pernah diderita oleh klien demam, flu, dan sakit kepala. Klien juga mengatakan tidak pernah dirawat di Rumah Sakit sebelumnya. c. Riwayat Kesehatan Keluarga. Genogram 3 generasi.

65

60

70

55

45

40

55

53

49

40

39

50

46

37 Keterangan : : : : Laki laki. Meninggal. Garis perkawinan. : : : Perempuan Klien

30

25

20

16

.. : Tinggal serumah.

Garis keturunan.

158

Genogram I

: Kakek dan nenek klien dari pihak ayah meninggal karena faktor usia

Genogram II : Bapak klien anak ke ke 10 dari 12 bersaudara yang masih hidup dan sehat adapun ke 7 kakak ayah klien meninggal karena factor usia Ibu klien anak ke 4 dari 5 bersaudara yang masih hidup dan sehat. Genogram III : Klien anak pertama dari 5 bersaudara. 4. Riwayat Psikososial. a. Pola Konsep Diri. 1) Gambaran diri : Klien merasa cemas dengan kondisinya. 2) Identitas diri : Klien sadar sepenuhnya tentang dirinya sebagai seorang laki laki. 3) Peran diri : Klien tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai seorang anak karena kondisinya. 4) Ideal diri : Klien berharap dapat segera sembuh dan berkumpul dengan keluarganya. 5) Harga diri : Klien merasa dihargai dan keluarganya sering datang menjeguknya. b. Pola Kognitif. Klien masih mampu berfikir dan mengingat dengan baik kejadian yang dialaminya dan yang terjadi disekitarnya.

159

c. Pola Koping. Klien mengatakan tidak dapat mengambil keputusan sendiri

membutuhkan dukungan dan dorongan dari keluarga. d. Pola Interaksi. Klien dapat berinteraksi dengan keluarga dan tim medis secara baik.

5. Riwayat Spiritual. a. Sebelum sakit klien rajin melaksanakan ibadah (shalat lima waktu), setelah sakit, klien tidak bisa melaksanakan shalat lima waktu dan klien hanya bisa berdoa agar cepat sembuh. b. Klien mengikuti ritual keagamaan seperti maulid Nabi Muhammad SAW dan Isra Miraj.

6. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan Umum Klien. 1) Kasadaran komposmentis. 2) KU : Klien nampak lemah dan cemas, tapi tidak ada tanda

tanda distraksi. 3) Penampilan tubuh sesuai dengan usia. 4) Ekspresi wajah meringis, bicara baik. 5) Tinggi badan, Berat Badan (BB), dan gaya berjalan tidak dikaji karena klien bedrest total.

160

b. Tanda tanda Vital. TD N P S : 130/80 mm Hg. : 100x/menit. : 20x/menit. : 37 C.

c. Sistem Pernafasan. 1) Hidung. a) Inspeksi : Hidung simestris kiri dan kanan, tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak ada secret, polip, dan epistaksis. b) Palpasi 2) Leher. a) Inspeksi : Tidak nampak adanya pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar limfe. b) Palpasi : Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid, dan tidak ada nyeri tekan. 3) Dada. a) Inspeksi total. Gerakan dada mengikuti pernafasan dan tidak terdapat retraksi. Tidak terdapat alat bantu pernafasan. : Bentuk dada tidak dikaji karena pasien bedres : Tidak ada nyeri tekan.

161

b) Palpasi c) Perkusi

: Tidak ada nyeri tekan. : Bunyi resonan pada area paru.

d) Auskultasi : Bunyi vesikuler. d. Sistem Cardiovaskuler. 1) Inspeksi : Konjungtiva tidak anemia, bibir tidak sinosis. Tidak nampak adanya ictus cordis. 2) Palpasi : Tidak teraba adanya ictus cordis ICS ke 5 mild klavikula sinitra. 3) Perkusi : Bunyi jantung pekak

4) Auskultasi : Bunyi jantung 1 (lub) terdengar pada ICS 5 klavikula kiri karena menutupnya katup mitral dan

trikuspidalis. Bunyi jantung II (Dub) terdengar pada ICS 2 midklavikula kiri dan kanan karena menutupnya katup aorta dan pulmonaris. e. Sistem Pencernaan. 1) Bibir dan Sklera. Inspeksi : Bibir kering, sklera tidak ikterus. 2) Mulut. Inspeksi : Tidak ada stomatitis Jumlah gigi 28 Kemampuan menelan baik.

162

3) Gaster. Palpasi : Tidak kembung. Tidak ada nyeri tekan.

4) Abdomen. Inspeksi : Abdomen bentuk datar. Simetris kiri dan kanan. Pergerakan mengikuti irama nafas. Warna kulit sawo matang. Palpasi : Tidak teraba adanya massa benjolan. Tidak ada nyeri tekan pada abdomen. Perkusi Auskultasi f. Sistem Indera. 1) Mata. Inspeksi : Bulu mata simetris kiri dan kanan. Konjungtiva tidak anemi. Sklera tidak ikterus. Lapang Pandang : Klien mampu melihat kesegala arah. Visus : Klien mampu melihat dengan jarak 6 meter. : Bunyi tympani. : Peristaltik 15x/menit

163

2) Hidung. Inspeksi : Penciuman baik. Lubang hidung simetris kiri dan kanan. Tidak ada polip, secret dan episteksis. 3) Telinga. Inspeksi : Keadaan daun telinga simetris kiri dan kanan Kanal auditoris bersih dan tidak terdapat serumen. Palpasi g. Sistem Syaraf. 1) Fungsi Cerebral. a) Status mental : Orientasi baik, klien mampu mengingat kejadian di masa lalu, klien mampu berhitung dan mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. b) Kesadaran : Eyes Motorik Verbal c) Bicara 2) Fungsi cranial Nervus I (Olfaktorius) : Klien mampu membedakan bau balsam dengan bau minyak kayu putih Nervus II (Optikus) : Klien mampu melihat dengan jarak 6 meter : 4 : Tidak ada nyeri tekan.

: 6 : 5

: Klien mampu berbicara dengan baik

164

Nervus III, IV, VI (Okulomotorik, Toklearis, Abdusen). Pupil isochor, dan klien mampu menggerakkan bola matanya ke samping kiri kanan dan ke atas dan ke bawah. Nervus V (Trigeminus) :Klien mampu mengatupkan rahang dan mampu menggerakkan

gerahamnya ke kiri dan ke kanan. Nervus VII (Fasialis) Sensorik : : Klien mampu membedakan rasa

pahit dan manis. Motorik : Klien mampu mengerutkan dahi

dan mampu tersenyum. Nervus VIII (Akustikus) : Klien mampu mendengar dengan baik, dengan jarum jam tangan pada telinga kiri dan kanan. Nervus IX, X (Gelosofaringeus, Vagus). Saat klien dirangsang dengan spatel, klien merasa ingin muntah. Nervus XI (Aksesoris) : Klien tidak mampu menggerakkan kepalanya (menoleh) karena

adanya luka yang sudah di verband pada daerah parietal kiri.

165

Nervus X (Hipoglosus)

: Klien mampu menggerakkan lidahnya dengan baik dan dapat menjulurkan lidahnya ke depan dengan lurus.

h. Fungsi Motorik. 1) Kekuatan otot : 4 3 2 0

Extremitas bawah dan extremitas atas kiri mampu melakukan tahanan kecuali fraktur fibia fibula 1/3 distal terbuka. 2) Massa otot i. Fungsi Sensorik. Fungsi sensorik baik, dapat merasakan sakit bila dicubit, dapat merasakan bila disentuh. j. Fungsi Cerebellum. 1) Keseimbangan : Berjalan tidak dikaji karena klien bedrest total. 2) Koordinasi : Klien mampu menunjukkan : Tidak ada kelainan (otot tidak atropi/hipertropi).

anggota badannya yang diperintahkan. k. Refleks. Refleks Bisep (+) : Terjadi kontraksi otot dengan gerakan fleksi saat diberi stimulasi kecuali fraktur fibia fibula 1/3 distal terbuka.

166

Refleks Trisep (+) : Terjadi kontraksi otot dengan gerakan fleksi saat diberi stimulus kecuali fraktur tibia fibula 1/3 distal terbuka. Patella (+) Babinsky (-) : Ekstensi pada saat diberi stimulus. : Ekstensi ibu jari, jari-jari yang lain fleksi.

l. Sistem Muskuloskeletal. 1) Kepala. Inspeksi : Tampak luka yang sudah diverband pada daerah pariental kiri. Bentuk kepala mesochepal. Inspeksi kiri 2) Vertebra. Tidak dikaji karena klien bedrest total. 3) Pelvis. a) Gaya jalan tidak dikaji karena klien bedrest total. b) ROM tidak terbatas kecuali pada daerah fraktur. 4) Lutut : Tidak ada pembengkakan dan kaku. : Teraba adanya nyeri tekan pada daerah pariental

5) Tangan : Tidak ada pembengkakan, tidak terdapat luka robek pada lengan kanan atas. 6) Kaki : Ada pembengkakan, gerakan baik. Nampak terpasang verband dan spalk pada kaki kanan.

167

m. Sistem Integumen. 1) Rambut. Inspeksi : Berwarna hitam dan tidak mudah tercabut. 2) Kulit. Inspeksi : Warna sawo matang, tampak luka robek pada lengan kanan atas yang sudah di verband. 3) Kuku. Inspeksi : Warna merah mudah, tidak ada sianosis. Kuku klien panjang dan kotor. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.

n. Sistem Endokrin. Inspeksi : Tidak nampak adanya pembesaran kelenjar tyroid. Tidak ada polyuri, polydipsi dan polypagi. Tidak ada riwayat bekas air seni dikelilingi oleh semut. Palpasi : Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid.

o. Sistem Perkemihan. 1) Tidak ada oedem palpebra dan oedem anasarka. 2) Tidak ada nocturia ataupun dusuria. 3) Tidak ada riwayat penyakit hubungan seks (seperti sifilis) p. Sistem Reproduksi. ( Tidak dapat dikaji klien menolak).

168

q. Sistem Imun. Tidak ada riwayat alergi terhadap cuaca, makanan, minuman, obat obatan, debu ataupun bulu binatang.

7. Aktivitas Sehari-hari No. Uraian 1. Nutrisi : a. Selera makan, b. Menu makan, Sebelum Sakit Baik. Nasi + lauk + Pauk + buah. c. Frekuensi makan, d. Makanan yang disukai, e. Makanan pantangan. 2. Cairan : a. Jenis minuman, Air putih + kadangkadang minum teh botol sosro. b. Frekuensi minum 3. Eliminasi (BAB dan BAK). a. Tempat pembuangan WC. BAB & BAK di tempat. Tidur karena klien. Bedrest total. b. Frekwensi BAB, c. Frekwensi BAK, d. Konsistensi BAB. Lembek. 2 x sehari. Belum pernah BAB 1 kali. 8 10 gelas/hari. 8 10 gelas/hari. Air putih + susu coklat. 3 x sehari. Donat. Tidak ada. Saat Sakit Kurang (porsi tidak dihabiskan). - Bubur + telur. 2 x sehari. Donat. Tidak ada.

BAB dan BAK,

4.

Istrahat tidur :

13.00 14.00

13.00 14.00 169

a. Tidur siang, b. Tidur malam, c. Jam mudah tidur, d. Kebiasaan tidur 5. Olahraga : a. Jenis olahraga yang biasa dilakukan, b. Frekwensi 6 Personal hygiene : a. Mandi, b. Cuci rambut, c. Gunting kuku. sebelum

22.00 05.00 20.00 Nonton TV.

Jarang.

Tidak ada.

Lari.

Klien tidak mampu berolahraga karena sakit.

1x /seminggu.

2x sehari.

Klien

mengatakan

Frekuensi 2x/seminggu. selama sakit tidak Setiap kali panjang. pernah mandi, cuci rambut dan gunting kuku. 1. Klien mengatakan Klien tidak pernah merokok, alkohol minum maupun

7.

Rokok /alkohol dan obat obatan.

akan dirinya tidak merokok, 2. Klien tidak meminum alkohol, 3. Klien tidak kecanduan dengan kopi, 4. Tidak ada ketergantungan obat-obatan.

mengkonsumsi obat-obatan.

8.

Aktivitas /mobilitas fisik.

Klien aktif melakukan

Klien tidak dapat 170

aktivitas sehari-hari dalam hal pemenuhan ADL.

melakukan aktivitas kecuali dibantu oleh keluarga perawat. dan

8. Test Diagnosik Tanggal 3 Januari 2010 a. Thorax Ap : 1) Pulmo gerakan branchovaskuler paru dalam batas normal, 2) Cor : bentuk, letak, ukuran dalam batas normal, 3) Tulang-tulang kesan intak. b. Foto cervical Ap/lateral : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Aligment Cv. Cervicalis kesan normal, Tulang-tulang kesan intak, tidak tampak tanda-tanda fraktur/dislokasi tulang, Mineralisasi tulang dalam batas normal, Discus intervertebralis tidak menyempit, Jaringan lunak paravertebra baik.

c. Laboratorium 1) WBC : 7.8 10 2) RBC : 3.881 3) PLT : 375 10 4) PCT : 276 % 5) HB : 2

171

9. Terapy Saat Ini. Obat anti biotik yaitu ciprofloxacin 1 gr / 12 jam / IV. Asam mefenamat

172

B. DATA FOKUS

Data Objektif 1. Pada kepala daerah parietal kiri.

Data Subjektif 1. Klien mengatakan nyeri pada lengan kanan atas.

2. Nampak terpasang verband dan spalk 2. Klien pada kaki kanan. 3. ADL klien dilayani di tempat tidur.

mengatakan

nyeri

bila

beraktivitas. 3. Klien mengatakan nyeri yang

dirasakan hilang timbul. 4. Klien nampak terbaring lemah di 4. Klien tempat tidur. 5. Klien nampak lesu. mengatakan nyeri yang

dirasakan adalah nyeri sedang. 5. Klien mengatakan tidak mampu beraktivitas kecuali dibantu oleh keluarganya dan perawat.

6. Kaki bagian fraktur.

6. Klien

mengatakan

tidak

dapat

bergerak secara leluasa. 7. Kuku nampak panjang dan kotor. 7. Klien mengatakan susah tidur karena rasa nyeri yang dirasakan. 8. Ekspresi wajah meringis. 8. Klien mengatakan sering terbangun pada malam hari.

9. Klien nampak cemas.

9. Klien mengatakan cemas dengan

173

keadaan penyakitnya. 10. Kekuatan otot 4 3 2 0 10. Klien mengatakan belum pernah mandi.

11. TTV : TD : 130/80 mm Hg. N P S : 100x/menit : 20x/menit : 37 C.

12. Klien sering bertanya-tanya tentang penyakitnya. 13. Nampak terpasang spalk pada kaki Kanan.

174

C. ANALISA DATA

No. 1. DS :

Data

Etiologi Fraktur Tibia Fibula1/3 Distal Terbuka

Masalah Nyeri.

- Nampak terpasang verban dan spalk pada kaki kanan atas. - Klien mengatakan nyerinya hilang timbul. - Klien mengatakan nyeri yang dirasakan adalah nyeri sedang. DO : - Ekspresi wajah meringis. - TTV : TD : 130/80 mmHg. N : 100x /menit. P S : 20x /menit. : 37C.

Terputusnya kontinuitas jaringan

Suplai O2 ke jaringan menurun

Merangsang pengeluaran zat-zat bradikinin, histamine dan prostaglandin

Syaraf-syaraf Afferen/nociceptor Cortex serebri Hipotalamus Dipersepsikan sebagai nyeri

- Skala nyeri sedang (5).

2.

DS : - Klien mengatakan nyeri bila beraktivitas - Klien mengatakan tidak mampu beraktivitas kecuali dibantu keluarganya dan

Fraktur Tibia Fibula1/3 Distal Terbuka

Hambatan mobilitas fisik.

Terputusnya kontinuitas jaringan

175

perawat. - Klien mengatakan tidak dapat bergerak secara leluasa. DO : - Nampak terpasang verband dan spalk pada kaki kanan. - Klien nampak terbaring lemah ditempat tidur. - ADL klien dilayani ditempat tidur.

Kelemahan fisik Keterbatasan gerak Gangguan aktivitas

3.

DS : - Klien mengatakan belum pernah mandi. DO : - Kuku klien nampak panjang dan kotor. - Nampak terpasang spalk pada kaki kanan. Personal Hygiene kurang Keterbatasan aktivitas Fraktur Tibia Fibula1/3 Distal Terbuka Defisit perawatan diri.

4.

DS : - Klien mengatakan susah tidur karena rasa nyeri yang dirasakan. - Klien mengatakan sering terbangun pada malam hari. DO: - Klien nampak lesu.

Fraktur Tibia Fibula1/3 Distal Terbuka

Gangguan pola tidur.

Nyeri

Aktivitas RAS terngganggu

Klien terjaga Gangguan pola tidur 176

5.

DS : - Klien mengatakan cemas dengan keadaan penyakitnya. DO : - Klien sering bertanya - tanya tentang penyakitnya. - Klien nampak cemas. - TTV : TD : 130/80mmHg. N P S : 100x /menit. : 20x /menit. : 37C.

Fraktur Tibia Fibula1/3 Distal Terbuka

Kecemasan.

Terjadi perubahan status kesehatan

Klien selalu bertanya tanya tentang penyakitnya Informasi yang diberikan tidak akurat

Kurang pengetahuan

Stressor meningkat

Kecemasan.

6.

DS : DO : - Tampak luka robek pada kaki bagian fraktur. - Nampak terpasang verband dan spalk pada kaki kanan.

Fraktur Tibia Fibula1/3 Distal Terbuka

Resiko tejadinya infeksi

Adanya luka robek pada lengan kanan atas

Pintu masuk bagi kuman patogen

Media utama bagi tempat berkembang 177

biaknya kuman patogen

Daya tahan tubuh menurun

Resiko terjadinya infeksi

178

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN

No. 1.

Diagnosa Keperawatan Gangguan rasa nyaman nyeri b/d terputus kontinuitas jaringan.

Tgl. Ditemukan 5 Januari 2010

Tgl. Teratasi Belum teratasi

2.

Gangguan mobilitas fisik b/d nyeri dan terapi pengobatan.

5 Januari 2010

Belum teratasi

3.

Defisit

perawatan fisik

diri dan

b/d terapi

5 Januari 2010

6 Januari 2010

kelemahan pembatasan. 4. 5.

Gangguan pola tidur b/d nyeri. Kecemasan b/d kurangnya

6 Januari 2010

7 Januari 2010

pengetahuan tentang penyakit. 6. Resiko infeksi b/d adanya luka.

6 Januari 2010 5 Januari 2010

7 Januari 2010 Belum teratasi

179

E. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN.

No. Diagnosa Keperawatan Tujuan 1. Nyeri b/d terputusnya kontinuitas Nyeri teratasi dengan kriteria : jaringan ditandai dengan : DS : - Klien mengatakan nyeri pada kaki kanan. - Klien mengatakan nyerinya hilang timbul. - Klien mengatakan nyeri yang dirasakan adalah nyeri sedang. DO : - Ekspresi wajah meringis. - TTV : - TD : 130/80 mm Hg. - N - P - S : 100x/menit. : 20x/menit. : 36 c - Ekspresi mengatakan nyeri yang dirasakan pada lengan kanan atas berkurang. - TTV dalam batas normal. - TD : 120 / 70 mm Hg. - N : 60 80x/menit. - P - S : 18 24x / menit. : 36 37 C.

Intervensi Rasional 1. Kaji tingkat nyeri. 1. Untuk mengetahui skala nyeri yang

dirasakan klien dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya. 2. Observasi tanda 2. Perubahan tanda tanda vital. tanda merupakan indikator melaksanakan intervensi selanjutnya. dalam vital

127

3. Berikan

posisi 3. Posisi yang nyaman diberikan mengurangi penekanan daerah nyeri. pada untuk

yang nyaman.

4. Ajarkan relaksasi diskraksi.

tehnik 4. Memperlancarkan dan sirkulasi jaringan dapat merelaksasikan otot otot sehingga O2 ke

setinggi

nyeri berkurang. 5. Penatalaksanaan pemberian analgetik : - Torasic 1 amp / 8 jam/IV. obat 5. Obat dapat analgetik memblok neuri tidak

rangsangan sehingga

ditafsirkan di otak.

128

2.

Gangguan mobilitas fisik b/d nyeri Klien dan terapi pengobatan

mengatakan secara

mampu 1. Kaji mandiri

tingkat 1. Untuk mengetahui sejauh mana

ditandai beraktivitas

kemampuan aktivitas klien.

dengan : DS : - Klien mengatakan nyeri bila beraktivitas. - Klien mengatakan tidak dapat bergerak secara leluasa. - Klienh mengatakan tidak mampu beraktivitas kecuali dibantu oleh keluarganya. DO : - Nampak terpasang verband dan spalk pada kaki kanan atas. - Klien nampak terbaring lemah di tempat tidur. - ADL klien dilayani di tempat tidur.

dengan kriteria : - KU baik, - Nampak kebutuhan klien terpenuhi secara mandiri, - Klien tidak mengeluh nyeri bila beraktivitas.

aktivitas yang dapat ditoleransi oleh

klien dan sebagai indikator intervensi selanjutnya. 2. Observasi. Perkembangan / kemajuan klien dalam beraktivitas. 2. Dapat sejauh perkembangan keadaan dalam mengetahui mana / klien memenuhi

kebutuhan ADL nya. 3. Bantu klien dalam 3. Agar klien merasa memenuhi kebutuhan ADL nya. diperhatikan kebutuhan klien terpenuhi. 129 dan ADL dapat

4. Bantu klien dan 4. Dapat libatkan keluarga dalam melakukan latihan ROM. meningkatkan toleransi dalam dan mengetahui pergerakan abnormal pada kaki dan jari tangan. 5. Libatkan keluarga 5. Keterlibatan klien/ klien dalam setiap tindakan pengobatan. terapi keluarga dalam setiap tindakan pengobatan dapat mempercepat proses penyembuhan dan dapat meningkatkan kemandirian klien. klien beraktivitas dapat

130

6. Melibatkan keluarga dalam

6. Agar klien merasa diperhatikan ADL terpenuhi. dan klien

pemenuhan ADL klien.

3.

Hambatan

perawatan

diri

b/d Personal

hygiene

teratasi 1. Kaji hygiene.

personal 1. Mengetahui personal klien dapat tindakan selanjutnya. hygiene sehingga mengetahui

kelemahan fisik ditandai dengan : DS : - Klien mengatakan belum pernah mandi. DO : - Kuku klien nampak panjang dan kotor.

dengan kriteria : - Kuku klien nampak pendek dan bersih. - Klien mengatakan sudah mandi.

2. Mandikan pasien 2. Memandikan klien tiap hari. dapat mencegah

pertumbuhan kuman. 3. Bantu klien untuk 3. Kebersihan mandi di tempat tidur. kulit

terjaga, tercipta rasa nyaman perasaan segar. 131 dan

4. Anjurkan keluarga klien

4. Agar

klien

kelihatan besih dan merasa nyaman.

untuk mengganti pakaian tiap hari.

5. Bantu klien dan 5. Dengan membantu libatkan keluarga untuk makan dan minum di tempat tidur. klien makan dan minum, klien dapat bersemangat untuk makan.

6. Bantu klien dan 6. Untuk libatkan keluarga untuk BAB dan BAK di tempat tidur. 7. Bantu klien untuk 7. Dengan memotong memotong kuku. kuku klien nampak bersih. memudahkan segala klien. aktivitas

132

4.

Gangguan

pola tidur berhubungan Klien akan mengungkapkan 1. Kaji pola tidur terpenuhi dengan kriteria : - Klien dapat tidur dengan nyenyak. - Klien dapat tidur selama + 7 8 jam/hari .

penyebab 1. Dengan memotong pola kuku klien nampak bersih.

dengan nyeri ditandai dengan : DS : - Klien mengatakan susah tidur karena rasa nyeri yang dirasakan. - Klien mengatakan sering terbangun pada malam hari. DO : - Klien nampak lesu.

gangguan tidur klien. 2. Kaji klien tidur.

kebiasaan 2. Dengan mengetahui sebelum kebiasaan sebelum tidur, klien dapat membantu menentukan intervensi selanjutnya. dalam

3. Berikan yang

posisi 3. Dengan posisi yang nyaman nyaman, klien bisa tidur nyenyak. dapat dengan

pada klien pada saat mau tidur. 4. Anjurkan berdoa tidur.

klien 4. Berdoa sebelum

menenangkan jiwa sehingga tidur

menjadi nyenyak.

133

5.

Kecemasan

b/d

kurangnya Kecemasan

akan

teratasi 1. Kaji

tingkat 1. Sebagai dalam

dasar melakukan

pengetahuan tentang penyakit ditandai dengan kriteria : dengan : DS : - Klien mengatakan cemas dengan keadaan penyakitnya. DO : - Klien sering bertanya tanya tentang penyakitnya. - Klien nampak cemas. - TTV : - TD : 130/80 mm Hg. - N : 100x/menit. - P - S : 20x/menit. : 37 C. - Kriteria mengatakan mengerti tentang penyakitnya. - Klien tidak cemas lagi. - TTV dalam batas normal. TD : 120/70 mm Hg. N : 60 80x/menit. P S : 18 24x/menit. : 36 37 C.

kecemasan klien.

intervensi selanjutnya. 2. Obervasi tanda 2. Kecemasan tanda vital. meningkatkan akibat peningkatan tanda tanda vital. 3. Berikan dorongan 3. Dukungan perawat kepada untuk mengekspresikan perasaannya. klien akan klien sedini membawa mengenal mungkin dan kepada untuk dapat

perasaannya membagi orang lain

mengurangi gangguan perasaannya.

134

4. Beri positif klien.

support 4. Support kepada dapat klien

positif membantu untuk

melakukan koping mengatasi masalah. 5. Anjurkan untuk melakukan pendekatan spiritual. 6. Berikan penjelasan kepada klien dan klien 5. Pendekatan selalu spiritual membantu klien menghadap penyakitnya. 6. Penjelasan yang untuk

singkat dan benar membantu menghilangkan persepsi tentang penyakitnya. salah

keluarga tentang penyakit prosedur pembedahan. dan

135

6.

Resiko terjadinya infeksi b/d adanya Tidak terdapat tanda tanda 1. Kaji tanda tanda 1. Untuk mengetahui luka ditandai dengan : DS : DO : - Nampak terpasang verband dan spalk pada kaki kanan. - Daerah frakur : - TD : 130/80 mm Hg. - N : 100x/menit. - P - S : 20x/menit. : 37 C. infeksi pada klien seperti adanya infeksi. apakah ada tanda tanda infeksi dan sebagai indikasi

kotor, rubor, dolor, dan tumor. - Luka tampak kering. - TTV dalam batas normal. - TD : 120/70 mm Hg. - N : 60 80x/menit. - P - S : 18 24x/menit. : 36 37 C.

dalam intervensi. 2. Observasi tanda 2. Perubahan dari vital tanda vital. sign meningkatkan khususnya apabila suhu

meningkat

merupakan tanda tanda infeksi. 3. Rawat dengan aseptik antiseptik. luka 3. Tehnik aseptik dan tehnik dan antiseptik dapat

mengurangi/mence gah terjadinya

infeksi silang.

136

4. Penatalaksanaan penberian antibiotik : - Ciprolaxacin 1 gr/12 jam.

4. Obat dapat

antibiotik mencegah

terjadinya infeksi.

137

F. TINDAKAN KEPERAWATAN

Hari / Tgl Selasa 05/01/2010

NDX Jam I. 10. 00

Implementasi dan Hasil 1. Mengkaji tingkat nyeri yang dirasakan oleh klien.

10. 20

2. Mengobservasi tanda tanda vital : Hasil : TD : 120/80 mm Hg. N : 80x/menit. P S : 18x/menit. : 36 C.

10. 30

3. Memberikan posisi yang nyaman. Hasil : Klien dalam posisi supinasi.

10.50

4. Mengajarkan dan mengajurkan klien untuk tehnik relaksasi bila nyeri timbul seperti nafas dalam. Hasil : Klien mampu melaksanakan tehnik nafas dalam.

Selasa 05/01/2010

II.

11.00

1. Mengkaji tingkat kemampuan akivitas klien. Hasil : Klien tidak mampu melaksanakan aktivitasnya secara mandiri hanya dengan bantuan keluarga dan perawat

138

dan segala aktivitas klien dilakukan di tempat tidur.

11. 10

2. Mengobservasi perkembangan kemajuan klien dalam beraktivitas. Hasil : Klien mampu duduk di tempat tidur dengan bantuan keluarga.

11.20

3. Melibatkan klien / keluarga daloam setiap tindakan terapi / pengobatan. Hasil : Klien nampak kooperatif.

11. 30

4. Membantu klien dilibatkan keluarga dalam melakukan latihan ROM. Hasil : - Tangan kanan klien tidak dapat digerakkan secara optimal. - Pergerakkan kaki dan jari jari klien baik fleksi, ekstensi, dan abdukasi belum bisa dilakukan.

Selasa,5 Januari 2010

III

11. 40

1. Mengkaji personal hygiene. Hasil : Klien mengatakan belum pernah mandi.

139

11.50

2. Memandikan klien tiap hari. Hasil : Klien mengatakan mau mandi tiap hari.

12.00

3. Membantu klien untuk mandi ditempat tidur. Hasil : Klien mengatakan sudah dimandikan oleh perawat.

12.10

4. Membantu klien dan libatkan keluarga untuk makan dan minum ditempat tidur. Hasil : Klien mau makan dan minum di tempat tidur.

12.10

5. Membantu klien dan libatkan keluarga untuk BAB dan BAK ditempat tidur. Hasil : Klien mengatakan sudah 2 kali BAK dan belum pernah BAB.

12.20

6. Membantu klien untuk memotong kuku. Hasil : Klien mengatakan sudah dipotong kukunya oleh perawat.

Selasa,5 Januari 2010

IV.

12.30

1. Mengkaji kebiasaan klien sebelum tidur. Hasil : Klien mengatakan sebelum tidur klien berdoa.

140

12.40

2. Memberikan posisi yang nyaman pada klien pada saat mau tidur. Hasil : Klien dalam posisi supinasi.

13.00

3. Menganjurkan klien berdoa sebelum tidur Hasil : Klien mengatakan selalu berdoa sebelum tidur. 1. Mengkaji tingkat kecemasan klien.

Selasa,5 Januari 2010

13.10 Hasil : Cemas yang dirasakan sedang. 2. Mengobservasi tanda-tanda vital : 13.20 Hasil : TD N P S 13.40 mengekspresikan perasaannya. Hasil : Klien mengungkapkan perasaannya dan kecemasan yang dihadapi. 4. Menganjurkan klien untuk selalu melakukan 14.10 pendekatan spiritual. Hasil : Klien selalu berdoa. : : : : 130/70 mmHg 80x/menit 20x/menit 36 C

3. Memberikan dorongan kepada klien untuk

141

Selasa,5 Januari 2010

VI

14.30

1. Mengkaji adanya tanda-tanda infeksi. Hasil : Tumor (-) Dolor (-) Kalor (-) Rubor (-)

15.00

2. Mengobservasi tanda-tanda vital. Hasil : TD N P S : 130/70 mmHg : 80x/menit : 21x/menit : 37C

07.30

3. Merawat luka dengan tehnik aseptic antiseptic. Hasil : Mengganti verband setiap hari dengan menggunakan alat steril.

Rabu,6 Januari 2010

07.10

1. Mengkaji tingkat nyeri klien Hasil : Nyeri yang dirasakan klien adalah nyeri sedang.

08.00

2. Mengobservasi tanda-tanda vital. Hasil : TD N P S : 120/70 mmHg. : : : 84x/menit. 18x/menit. 36 C.

18.10

3. Memberi posisi yang nyaman. Hasil : Klien dalam posisi supinasi

142

08.20

4. Mengajarkan dan menganjurkan klien untuk teknik relaksasi dan distraksi bila nyeri timbul. Hasil : Klien mengerti dan bisa melakukan dengan baik

08.30

5. Penatalaksanaan pemberian antibiotik. Hasil : Cifrofloxacin 1 gr/12 jam/IV.

Rabu,6 Januari 2010

II

08.40

1. Mengkaji tingkat kemampuan aktivitas klien. Hasil : Klien tidak mampu melaksanakan aktivitasnya secara mandiri hanya dengan bantuan keluarga dan perawat.

08.50

2. Membantu klien dalam pemenuhan kebutuhan ADL-nya. Hasil : Segala kebutuhan klien dilayani ditempat tidur.

09.00

3. Membantu klien dan libatkan keluarga dalam melakukan latihan ROM. Hasil : Kaki kanan klien tidak dapat digerakkan secara optimal.

143

09.10

4. Melibatkan keluarga dalam pemenuhan ADL Klien. Hasil : Kebutuhan ADL klien dibantu oleh keluarganya.

Rabu,6 Januari 2010

III

09.20

1. Mengkaji personal hygiene. Hasil : Klien mengatakan belum pernah mandi.

09.30

2.Memandikan klien tiap hari. Hasil : Klien mengatakan mau mandi tiap hari.

09.40

3. Membantu klien untuk mandi ditempat tidur. Hasil : Klien mengatakan sudah dimandikan oleh perawat.

10.00

4. Membantu klien dan libatkan keluarga untuk makan dan minum ditempat tidur. Hasil : Klien mau makan dan minum di tempat tidur.

10.10

5. Membantu klien dan libatkan keluarga untuk BAB dan BAK ditempat tidur. Hasil : Klien mengatakan sudah 2 kali BAK dan belum pernah BAB.

144

10.30

6. Membantu klien untuk memotong kuku. Hasil : Klien mengatakan sudah dipotong kukunya oleh perawat.

Rabu,6 Januari 2010

IV

10.50

1. Mengkaji kebiasaan klien sebelum tidur. Hasil : Klien mengatakan sebelum tidur klien berdoa.

11.10

2. Memberikan posisi yang nyaman pada klien pada saat mau tidur. Hasil : Klien dalam posisi supinasi.

11.20

3. Membantu klien untuk makan dan minum ditempat tidur. Hasil : Klien nampak makan dan minum dengan bantuan keluarga.

Rabu,6 Januari 2010

11.30

1. Kaji tanda-tanda adanya infeksi. Hasil : Tumor (-) Kalor (-) Dolor (-) Rubor (-)

12.00

2.Mengobservasi tanda-tanda vital. Hasil : TD N : 130/70 mmHg : 80x/menit

145

P S 12.30

: 21x/menit : 37C

3. Merawat luka dengan tehnik aseptic antiseptic. Hasil : Mengganti verband setiap hari dengan menggunakan alat steril. 1. Mengkaji tingkat nyeri yang dirasakan oleh

Rabu,6 januari 2010

VI

07.30

klien. Hasil : Nyeri yang dirasakan klien adalah nyeri sedang. 2. Mengajarkan dan menganjurkan klien untuk

08.00

tehnik relaksasi dan tehnik distraksi bila nyeri timbul. Hasil : Klien mampu melaksanakan tehnik nafas dalam. 1. Mengkaji tingkat kemampuan aktivitas klien.

Kamis,7 Januari 2010

08.10

Hasil : Klien tidak mampu melaksanakan aktivitasnya secara mandiri hanya dengan bantuan perawat dan keluarga dan segala aktivitas klien dilakukan di tempat tidur. 2. Membantu klien dan libatkan keluarga dalam

146

08.20

melakukan latihan ROM. Hasil : - Kaki kanan klien dapat digerakkan secara optimal. - Pergerakan kaki dan jari-jari klien baik fleksi, ekstensi, abduksi dan adduksi belum bisa dilakukan. 1. Memandikan pasien tiap hari.

Kamis,7 Januari 2010

II

08.30

Hasil : Klien mengatakan mau mandi tiap hari. 2. Membantu klien untuk mandi ditempat tidur.

08.40

Hasil : Klien mengatakan sudah mandi. 3. Mengkaji kebiasaan klien sebelum tidur.

08.50

Hasil : Klien mengatakan sebelum tidur klien berdoa. 4. Memberikan posisi yang nyaman pada klien

09.00

pada saat mau tidur. Hasil : Klien dalam posisi supinasi.

1. Mengkaji tingkat kecemasan klien.

147

Kamis,7 Januari 2010

III

09.10

Hasil : Cemas yang dirasakan sedang. 2. Mengobservasi tanda-tanda vital :

09.20

Hasil : TD : 130/80 mmHg. N P S : 80x/menit. : 20x/menit. : 36 C.

3. Memberikan penjelasan kepada klien dan 09.30 keluarga tentang penyakitnya dan prosedur pembedahan. Hasil : Klien dapat mengerti dan menerima keadaan penyakitnya. 1. Mengkaji adanya tanda-tanda infeksi : Kamis,7 Januari 2010 IV 09.40 Hasil : Tumor (-) Dolor (-) Kolor (-) Rubor (-)

2. Mengobservasi tanda-tanda vital : 09.50 Hasil : TD N P S : 120/70 mmHg. : 88x/menit. : 20x/menit. : 37 C.

3. Merawat luka dengan tehnik aseptic dengan 10.00 antiseptik.

148

Hasil : Mengganti verband setiap hai dengan menggunakan alat steril

1. Mengkaji tingkat nyeri dirasakan oleh klien Kamis,7 Januari 2010 V 10.10 Hasil : Nyeri yang dirasakan klien adalah nyeri sedang.

2. Mengobservasi tanda-tanda vital : 10.20 Hasil : TD N P S : 120/70 mmHg. : 84x/menit. : 18x/menit. : 37 C.

3. Memberi posisi yang nyaman pada klien. 10.30 Hasil : Klien dalam posisi sim. 4. Penatalaksanaan pemberian obat analgetik 10.40 Hasil : Ketorolac 1 amp/12 jam/IV. 5. Melibatkan keluarga dalam pemenuhan 10.50 kebutuhan ADL klien. Hasil : Kebutuhan ADL klien dibantu oleh Keluarganya. 1. Memandikan pasien tiap hari.

149

Kamis,7 januari 2010

VI

11.00

Hasil : Klien mengatakan mau mandi tiap hari. 2. Membantu klien untuk mandi ditempat tidur.

11.10

Hasil : Klien mengatakan sudah mandi. 3. Mengkaji kebiasaan klien sebelum tidur.

11.20

Hasil : Klien mengatakan sebelum tidur klien berdoa. 4. Memberikan dorongan kepada klien untuk

11.30

mengekspresikan perasaannya. Hasil : Klien mengungkapkan perasaannya dan kecemasan yang dihadapi. 1. Mengkaji adanya tanda-tanda infeksi :

Jumat,8 Januari 2010 I

11.40

Hasil : Tumor (-) Dolor (-)

Kolor (-) Rubor (-)

2. Mengobservasi tanda-tanda vital : 12.00 Hasil : TD N P S : 120/70 mmHg. : 88x/menit. : 20x/menit. : 37 C.

3. Merawat luka dengan tehnik aseptic dengan 12.10 antiseptik.

150

Hasil : Mengganti verband setiap hai dengan menggunakan alat steril.

1.Mengkaji tingkat nyeri dirasakan oleh klien Jumat,8 Januari 2010 II 08.00 Hasil : Nyeri yang dirasakan klien adalah nyeri sedang. 2.Mengobservasi tanda-tanda vital : 08.10 Hasil : TD N P S : 120/70 mmHg. : 84x/menit. : 18x/menit. : 37 C.

3. Memberikan posisi yang nyaman pada klien 08.20 pada saat mau tidur. Hasil : Klien dalam posisi sim. 4.Mengajarkan dan menganjurkan tehnik 08.30 relaksasi dan distraksi bila nyeri timbul. Hasil : Klien mengerti dan bisa melakukan dengan baik. 5. Penatalaksanaan pemberian obat antibiotic. 08.40 Hasil : Ciprofloxacin 1 gr/12 jam/IV. 1.Mengkaji tingkat kemampuan akivitas klien.

151

Jumat,8 Januari 2010

III

08.50

Hasil : Klien tidak mampu melaksanakan aktivitasnya secara mandiri hanya dengan bantuan keluarga dan perawat dan segala aktivitas klien dilakukan di tempat tidur. 2.Mengobservasi perkembangan kemajuan klien

09.00

dalam beraktivitas. Hasil : Klien mampu duduk di tempat tidur dengan bantuan keluarga. 4.Membantu klien dilibatkan keluarga dalam

09.10

melakukan latihan ROM. Hasil : - Tangan kanan klien tidak dapat digerakkan secara optimal. - Pergerakkan kaki dan jari jari klien baik fleksi, ekstensi, dan abdukasi belum bisa dilakukan. 5.Melibatkan klien / keluarga daloam setiap

09.20

tindakan terapi / pengobatan. Hasil : Klien nampak kooperatif.

1.Mengkaji personal hygiene.

152

Jumat,8 Januari 2011

IV

09.30

Hasil

: Klien mengatakan belum pernah mandi.

2.Memandikan klien tiap hari. 09.40 Hasil : Klien mengatakan mau mandi tiap hari. 3.Membantu klien untuk mandi ditempat tidur. 09.50 Hasil : Klien mengatakan sudah dimandikan oleh perawat. 5. Membantu klien dan libatkan keluarga untuk 10.00 makan dan minum ditempat tidur. Hasil : Klien mau makan dan minum di tempat tidur. 6. Membantu klien dan libatkan keluarga untuk 10.10 BAB dan BAK ditempat tidur. Hasil : Klien mengatakan sudah 2 kali BAK dan belum pernah BAB. 7. Membantu klien untuk memotong kuku. 10.20 Hasil : Klien mengatakan sudah dipotong kukunya oleh perawat.

1. Mengkaji kebiasaan klien sebelum tidur.

153

Jumat,8 Januari 2010

10.30

Hasil : Klien mengatakan sebelum tidur klien berdoa. 2. Memberikan posisi yang nyaman pada klien

10.40

pada saat mau tidur. Hasil : Klien dalam posisi supinasi.

1. Mengkaji tingkat kecemasan klien. Jumat,8 Januari 2010 11.00 VI 10.50 Hasil : Cemas yang dirasakan sedang. 2. . Memberikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang penyakitnya. Hasil : Klien dapat mengerti dan menerima keadaan penyakitnya.

1.Mengkaji adanya tanda-tanda infeksi. Sabtu,9 Januari 2010 I 11.10 Hasil : Tumor (-) Dolor (-) Kalor (-) Rubor (-)

2.Mengobservasi tanda-tanda vital. 11.20 Hasil : TD N P S : 130/70 mmHg : 80x/menit : 21x/menit : 37C

154

3.Merawat luka dengan tehnik aseptic antiseptic. 11.30 Hasil : Mengganti verband setiap hari dengan menggunakan alat steril.

1.Mengkaji tingkat nyeri dirasakan oleh klien 08.00 Hasil : Nyeri yang dirasakan klien adalah nyeri sedang. 2.Mengobservasi tanda-tanda vital : 08.10 Hasil : TD N P S : 120/70 mmHg. : 84x/menit. : 18x/menit. : 37 C.

3. Mengajarkan dan menganjurkan klien untuk 08.20 tehnik relaksasi dan tehnik distraksi bila nyeri timbul. Hasil : Klien mampu melaksanakan tehnik nafas dalam. 4. Penatalaksanaan pemberian obat antibiotic. 08.30 Hasil : Ciprofloxacin 1 gr/12 jam/IV.

1. Mengkaji tingkat kemampuan aktivitas klien.

155

Sabtu,9 Januari 2010

II

08.40

Hasil : Klien tidak mampu melaksanakan aktivitasnya secara mandiri hanya dengan bantuan keluarga dan perawat. 2. Membantu klien dalam pemenuhan kebutuhan

08.50

ADL-nya. Hasil : Segala kebutuhan klien dilayani ditempat tidur. 3. Membantu klien dan libatkan keluarga

09.00

dalam melakukan latihan ROM. Hasil : Kaki kanan klien tidak dapat digerakkan secara optimal. Pergerakan kaki dan jari-jari klien baik fleksi, ekstensi, abduksi dan adduksi belum bisa dilakukan. 4. Melibatkan keluarga dalam pemenuhan ADL

09.10

Klien. Hasil : Kebutuhan ADL klien dibantu oleh keluarganya.

1.Mengkaji personal hygiene.

156

Sabtu,9 januari 2010

III

09.20

Hasil

: Klien mengatakan belum pernah mandi.

2.Memandikan klien tiap hari. 09.30 Hasil : Klien mengatakan mau mandi tiap hari. 3.Membantu klien untuk mandi ditempat tidur. 09.40 Hasil : Klien mengatakan sudah dimandikan oleh perawat.

1. Mengkaji kebiasaan klien sebelum tidur. Sabtu,9 Januari 2010 IV 09.50 Hasil : Klien mengatakan sebelum tidur klien berdoa. 2. Memberikan posisi yang nyaman pada klien 10.00 pada saat mau tidur. Hasil : Klien dalam posisi supinasi.

1.Mengkaji tingkat kecemasan klien. Sabtu,9 Januari 2010 10.20 V 10.10 Hasil : Cemas yang dirasakan sedang. 2.Mengobservasi tanda-tanda vital : Hasil : TD : 130/80 mmHg. N : 80x/menit.

157

P S

: 20x/menit. : 36 C.

3. Memberikan dorongan kepada klien untuk 10.30 mengekspresikan perasaannya. Hasil : Klien mengungkapkan perasaannya dan kecemasan yang dihadapi. 4. Menganjurkan klien untuk selalu melakukan 10.40 pendekatan spiritual. Hasil : Klien selalu berdoa. 5. Memberikan penjelasan kepada klien dan 10.50 keluarga tentang penyakitnya dan prosedur pembedahan. Hasil : Klien dapat mengerti dan menerima keadaan penyakitnya.

1. Mengkaji adanya tanda-tanda infeksi : Sabtu,9 Januari 2010 VI 11.00 Hasil : Tumor (-) Dolor (-) Kolor (-) Rubor (-)

2.Mengobservasi tanda-tanda vital : 11.20 Hasil : TD N : 120/70 mmHg. : 88x/menit.

158

P S

: 20x/menit. : 37 C.

3.Merawat luka dengan tehnik aseptic dengan 11.30 antiseptik. Hasil : Mengganti verband setiap hari dengan menggunakan alat steril.

F. TINDAKAN KEPERAWATAN

159

Hari/Tgl 05/01/2010

NDX I.

Jam 15.00

Evaluasi dan SOAP S : - Klien mengatakan nyeri pada kaki kanan atas. - Klien mengatakan nyerinya hilang timbul. - Klien mengatakan nyeri yang dirasakan adalah nyeri sedang. S : - Ekspresi wajah meringis. - TTV : TD : 120/80 mmHg. N P S : : : 80x/menit. 20x/menit. 36 C.

A : Masalah belum teratasi. P : Lanjutkan intervensi : 1. 2. 3. 4. 5. Kaji tingkat nyeri, Observasi tanda-tanda vital, Berikan posisi yang nyaman, Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi Penatalaksanaan pemberian obat analgetik. II. 15.30 S : - Klien mengatakan nyeri bila beraktivitas. - Klien mengatakan tidak dapat bergerak

160

secara leluasa. - Klien mengatakan nyeri yang dirasakan adalah nyeri sedang. O : - Nampak kebutuhan klien dipenuhi di atas tempat tidur. - Nampak terpasang verband dan spalk pada kaki kanan atas. - ADL klien dilayani di tempat tidur. A : - Masalah belum selesai. P : - Lanjutkan intervensi : 1. Kaji tingkat kemampuan aktivitas klien, 2. Observasi perkembangan/kemajuan klien dalam beraktivitas, 3. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan ADLnya 4. Bantu klien dan libatkan keluarga dalam melakukan latihan ROM. 5. Libatkan keluarga klien dalam setiap tindakan terapy/pengobatan.

III.

16.00

S : Klien mengatakan tidak pernah mandi.

161

O : - Klien nampak kotor. - Kuku klien nampak panjang. A : Masalah belum teratasi. P : Lanjutkan intervensi : 1. 2. 3. Kaji personal hygiene klien, Mandikan pasien tiap hari, Bantu klien untuk mandi di tempat tidur 4. Anjurkan keluarga klien untuk mengganti pakaian tiap hari. 5. Bantu klien dan libatkan keluarga untuk makan dan minum di tempat tidur. 6. Bantu klien dan libatkan keluarga untuk BAB dab BAK di tempat tidur. IV. 16.10 7. Bantu klien untuk memotong kuku.

S : - Klien mengatakan susah tidur karena rasa nyeri yang dirasakan, - Klien mengatakan sering terbangun pada malam hari. O : Klien nampak lesu. A : Masalah belum teratasi.

162

P : Lanjutkan intervensi : 1. Kaji penyebab gangguan pola tidur klien. 2. 3. Kaji kebiasaan klien sebelum tidur Berikan posisi yang nyaman klien pada klien pada saat mau tidur. V. 16.20 4. Anjurkan klien berdoa sebelum tidur.

S : Klien mengatakan cemas dengan keadaan penyakitnya. O : - Klien sering bertanya-tanya tentang penyakit. - Klien nampak cemas. TTV : TD N P S : 120/70 mmHg. : 84x/menit. : 21x/menit. : 36 C.

A : Masalah belum teratasi. P : Lanjutkan intervensi : 1. 2. 3. Kaji tingkat kecemasan klien, Observasi tanda-tanda vital, Berikan dorongan kepada klien untuk

163

mengekspresikan perasaannya, 4. 5. Memberikan support kepada klien, Anjurkan klien untuk melakukan pendekatan spiritual, 6. VI. 16.30 Berikan penjelasan kepada klien tentang penyakitnya. S O :: - Nampak adanya tanda-tanda infeki seperti kalor, rubor, dolor dan tumor - Terpasang verband dan spalk pada kaki kanan nampak bersih - Luka tampak kering A P : Tidak ada tanda-tanda resiko infeksi : Pertahankan intervensi 1. Kaji tanda-tanda adanya infeksi 2. Observasi tanda-tanda vital 3. Rawat luka dengan tehnik aseptic dan I. 16.00 antiseptik 4. Penatalaksanaan pemberian obat antibiotik

164

S : - Klien mengatakan nyeri pada kaki kanan. - Klien mengatakan nyerinya hilang timbul, - Klien mengatakan nyeri yang dirasakan adalah nyeri sedang. O : - Ekspresi wajah meringis. - TTV : TD 06/01/2010 N P S : 130/80 mmHg. : 80x/menit.

: 18x/menit. : 36 C.

A : Masalah belum teratasi. P : Lanjutkan intervensi : 1. 2. 3. II. 16.30 4. 5. Kaji tingkat nyeri, Observasi tanda-tanda vital, Berikan posisi yang nyaman, Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi Penatalaksanaan pemberian obat Analgetik. S : - Klien mengatakan nyeri bila beraktivitas, - Klien mengatakan tidak dapat bergerak secara leluasa,

165

O : - ADL klien dilayani di tempat tidur, - Nampak terpasang verband dan spalk pada kanan, - Nampak kebutuhan klien dipenuhi di atas tempat tidur. A : Masalah belum teratasi. P : Lanjutkan intervensi : 1. 2. Kaji tingkat kemampuan aktivitas klien, Observasi perkembangan / kemajuan klien dalam beraktivitas. 3. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan ADL-nya, 4. III. 17.00 Bantu klien dan libatkan keluarga dalam melakukan latihan ROM, 5. Libatkan keluarga klien dalam setiap tindakan terapy / pengobatan. S : - Klien mengatakan sudah mandi. O : - Klien nampak bersih dan segar, - Ekspresi wajah ceria,

166

- Kuku klien nampak pendek dan bersih. A : Masalah teratasi. P : Pertahankan intervensi. 1. 2. 3. Kaji personal hygiene klien, Mandikan pasien tiap hari, Bantu klien untuk mandi di tempat tidur, 4. Anjurkan keluarga klien untuk mengganti pakaian tiap hari. IV. 17.30 5. Bantu klien dan libatkan keluarga untuk makan dan minum di tempat tidur, 6. Bantu klien dan libatkan keluarga untuk BAB dan BAK di tempat tidur, 7. Bantu klien untuk memotong kuku.

S : - Klien mengatakan susah tidur karena rasa nyeri yang dirasakan. O : - Klien nampak lesu. A : Masalah belum teratasi. P : Lanjutkan intervensi. 1. Kaji penyebab gangguan pola tidur V. 17.45 2. Kaji kebiasaan klien sebelum tidur

167

3. Berikan posisi yang nyaman pada klien pada saat mau tidur 4. Anjurkan klien untuk berdoa sebelum tidur S : - Klien mengatakan cemas dengan keadaan Penyakitnya O : - Klien selalu bertanya-tanya tentang Penyakitnya - Klien nampak cemas - TTV : TD N P S A P : 110/70 mmHg : 80x/menit : 18x/menit : 37C

: Masalah belum teratasi : Lanjutkan intervensi 1. Kaji tingkat kecemasan klien 2. Observasi tanda-tanda vital 3. Berikan dorongan kepada klien untuk mengekspresikan perasaannya

VI.

10.00

4. Berikan support positif kepada klien 5. Anjurkan klien untuk selalu melakukan

168

pendekatan spiritual 6. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang penyakitnya S O :: - Nampak adanya tanda-tanda infeki seperti kalor, rubor, dolor dan tumor - Terpasang verband dan spalk pada kaki kanan nampak bersih - Luka tampak kering A P : Tidak ada tanda-tanda resiko infeksi : Pertahankan intervensi 1. Kaji tanda-tanda adanya infeksi I. 10.10 2. Observasi tanda-tanda vital 3. Rawat luka dengan tehnik aseptic dan antiseptik 4. Penatalaksanaan pemberian obat antibiotik S : - Klien mengatakan nyeri pada kaki kanan - Klien mengatakan nyerinya hilang timbul O : - Ekspresi wajah meringis - TTV : TD : 110/70 mmHg

169

N P S A P

: : :

80x/menit 19x/menit 37C

: Masalah belum selesai : Lanjutkan intervensi 1. Kaji tingkat nyeri 2. Observasi tanda-tanda vital 3. Berikan posisi yang nyaman

07/01/2010

II.

10.20 dan

4. Ajarkan dan anjurkan tehnik relaksasi

Distraksi 5. Penatalaksanaan pemberian obat analgetik S : - Klien mengatakan nyeri bila beraktivitas - Klien mengatakan tidak dapat bergerak secara leluasa O : - ADL klien dilayani ditempat tidur - Nampak terpasang verband dan spalk pada kaki kanan A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi

170

1. Kaji tingkat kemampuan aktivitas klien 2. Observasi perkembangan/kemajuan klien dalam beraktivitas 3. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan III. 10.30 ADL-nya 4. Bantu klien dan libatkan keluarga dalam melakukan latihan ROM 5. Libatkan keluarga klien dalam setiap tindakan terapy/pengobatan S : - Klien mengatakan sudah mandi O : - Klien nampak bersih dan segar - Ekspresi wajah ceria - Kuku klien nampak pendek dan bersih A : Masalah teratasi P : Pertahankan intervensi 1. Kaji personal hygiene klien 2. Mandikan klien tiap hari 3. Bantu klien untuk mandi ditempat tidur 4. Anjurkan keluarga klien untuk mengganti pakaian tiap hari IV. 10.40 5. Bantu klien dan libatkan keluarga untuk

171

makan dan minum ditempat tidur 6. Bantu klien dan libatkan keluarga untuk BAB dan BAK ditempat tidur 7. Bantu klien untuk memotong kuku S : - Klien mengatakan tidurnya tadi malam Nyenyak O : - Klien nampak ceria A : Masalah teratasi P : Pertahankan intervensi 1. Kaji penyebab gangguan pola tidur V. 11.00 2. Kaji kebiasaan klien sebelum tidur 3. Berikan posisi yang nyaman pada klien pada saat mau tidur

4. Anjurkan klien untuk berdoa sebelum tidur S : - Klien mengatakan cemas dengan keadaan Penyakitnya O : - Klien selalu bertanya-tanya tentang Penyakitnya - Klien nampak cemas - TTV : TD : 110/70 mmHg

172

N P S

: 80x/menit : 19x/menit : 37C

A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi 1. Kaji tingkat kecemasan klien 2. Observasi tanda-tanda vital 3. Berikan dorongan kepada klien untuk mengekspresikan perasaannya VI. 15.00 4. Berikan support positif kepada klien 5. Anjurkan klien untuk selalu melakukan pendekatan spiritual 6. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang penyakitnya S :O : - Tidak nampak adanya tanda-tanda infeksi seperti kalor, rubor, dolor dan tumor - Terpasang verband dan spalk pada kaki kanan nampak bersih - Luka tampak kewring A : Tidak ada tanda-tanda resiko infeksi

173

: Pertahankan intervensi 1. Kaji tanda-tanda adanya infeksi 2. Observasi tanda-tanda vital 3. Rawat luka dengan tehnik aseptik dan antiseptik 4. Penatalaksanaan pemberian obat

antibiotik

174

G. RESUME KEPERAWATAN

Nama Pasien : Tn I Umur : 37 Tahun

No.Rekam Medik : 358965 Ruang Rawat Tgl.Masuk : Rajawali/ Kamar 2 : 3 Januari 2010

Jenis Kelamin : Laki-Laki Agama Alamat : Islam

: Jl.Poros BTN Bongkas Bulukumba

1. Masalah keperawatan pada saat pasien dirawat a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan b. Mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan terapi pengobatan c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik dan terapi pembatasan d. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri e. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit f. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka 2. Tindakan keperawatan selama dirawat a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 1) Kaji tingkat nyeri 2) Observasi tanda-tanda vital 175

3) Berikan posisi yang nyaman 4) Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi 5) Penatalaksanaan pemberian obat analgetik b. Mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan terapi pengobatan 1) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan ADL-nya 2) Kaji tingkat kemampuan aktivitas 3) Libatkan keluarga dalam pemenuhan ADL c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik dan terapi pembatasan 1) Bantu klien untuk mandi ditempat tidur 2) Bantu klien dan libatkan untuk makan dan minum ditempat tidur 3) Bantu klien untuk memotong kuku d. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri 1) Kaji penyebab gangguan pola tidur 2) Berikan posisi yang nyaman pada klien pada saat tidur 3) Anjurkan klien untuk beredoa sebelum tidur e. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit 1) Kaji tingkat kecemasan klien 2) Observasi tanda-tanda vital 3) Berikan support positif pada klien 4) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang penyakit dan prosedur pembedahan 176

f. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka 1) Kaji tanda-tanda adanya infeksi 2) Observasi tanda-tanda vital 3) Rawat luka dengan tehnik aseptik dan antiseptik 4) Penatalaksanaan pemberian obat antibiotic 3. Evaluasi a. Personal hygiene teratasi b. Resiko infeksi teratasi c. Gangguan pola tidur teratasi 4. Nasehat pada waktu pulang a. Lakukan tehnik relaksasi bila nyeri b. Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan diri c. Minum obat secara teratur d. Rawat luka dengan teknik aseptik dan antiseptik e. Kembali control ke poliklinik bedah secara teratur

177

BAB IV PEMBAHASAN

Dalam praktek keperawatan profesional terhadap klien Fraktur Tibia Fibula 1/3 Distal terbuka di ruang perawatan bedah RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makasar, pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan secara sistematis melalui pemikiran yang matang dengan menerapkan teori dari beberapa disiplin ilmu pengetahuan dihubungkan dengan kebutuhan manusia melalui tahap proses keperawatan yaitu pengkajian, perencanaan, catatan tindakan dan evaluasi. Berikut ini akan membahas perbedaan yang terjadi antara teori dan kasus yang didapat dari asuhan keperawatan pada klien TnI

A. Pengkajian Dari hasil pengkajian ditemukan adanya kesenjangan antara teori dengan kasus, pada teori dijelaskan terjadi gangguan beberapa dari sistem tubuh seperti sistem sirkulasi, neurosensori, nyeri/kenyamanan, keamanan, serta aktifitas/ istirahat, sedangkan pada kasus mendapatkan 3 gangguan sistem tubuh yaitu gangguan aktifitas, nyeri/kenyamanan dan keamanan. Berdasarkan data hasil pengkajian yang dilakukan Tn I maka data yang ditemukan pada kasus adalah klien mengatakan nyeri pada daerah kaki kanan 178

atas, nyeri yang dikeluhkan oleh klien adalah hilang timbul dengan skala nyeri sedang, sifat nyeri yang dikeluhkan seperti ditusuk-tusuk dan waktu timbulnya nyeri setiap kali klien beraktifitas dan merupakan pencetus timbulnya nyeri dan faktor yang memperingan adalah bila klien tidak beraktifitas, sedangkan gejala klinik yang ditemukan pada teori adalah nyeri akibat kerusakan jaringan dan perubahan struktur dan pergerakan bagian-bagian fraktur, bengkak, diformitase atau perubahan bentuk krepitasi yang dapat didengar bila fraktur digerakkan, ecimosis atau perdarahan subkutan, berkurangnya sensasi yang dapat terjadi karena gangguan saraf dimana saraf itu dapat terjepit atau terputusnya oleh fragmen tulang, syok yang dapat disebabkan karena kehilangan darah dan rasa nyeri hebat. Dari data di atas didapatkan kesenjangan antara teori dan kasus dimana pada hal ini disebabkan karena kondisi klien dalam merespon terhadap suatu penyakit yang berbeda.

B. Diagnosa Keperawatan Pada tinjauan teori didapatkan 8 diagnosa keperawatan untuk kasus fraktur yaitu : 1. Nyeri berhubungan dengan fraktur 2. Resiko terjadinya infeksi sekunder berhubungan dengan luka yang masih basah. 3. Gangguan mobilitas fisik/aktivitas berhubungan dengan fraktur

179

4. Gangguan pemenuhan ADL personal hygiene berhubungan dengan kurangnya kemampuan merawat diri 5. Resiko terjadinya gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya pengembangan paru oleh imobilisasi 6. Resiko terjadinya trauma tambahan berhubungan dengan terputusnya integritas tulang 7. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan sirkulasi pada daerah tertekan 8. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya informasi, tentang penyakit. Sedangkan menurut tinjauan kasus didapatkan 6 diagnosa yaitu : 1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan terapi pengobatan 3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik dan terapi pembatasan. 4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri 5. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit 6. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka Dengan melihat kesenjangan antara teori dengan kasus terdapat 3 diagnosa yang ada pada teori tidak ditemukan pada kasus.

180

1. Resiko terjadi trauma tambahan berhubungan dengan terputusnya integritas tulang. Diagnosa ini tidak diangkat karena klien tidak banyak melakukan gerakan yang dapat menyebabkan terjadinya trauma tambahan. 2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan sirkulasi pada daerah tertekan. Diagnosa ini tidak diangkat karena keluarga klien rajin merawat daerah yang tertekan dan keluarga rajin merubah poisi klien setiap saat. 3. Resiko terjadinya gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya pengembangan paru oleh imobilisasi. Diagnosa ini tidak diangkat karena pada waktu pengkajian pernapasan klien masih normal 24x/menit, klien tidak mengalami kesulitan bernafas dan tidak mengalami sianosis. Dengan melihat kesenjangan antara teori dan kasus terdapat 1 diagnosa yang ada pada kasus tidak ditemukan pada teori yaitu : 1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri. Diagnosa ini diangkat karena melihat kondisi klien yang mengalami nyeri sedang pada saat klien mau tidur sehingga terjadi gangguan pola tidu pada klien ditambahkan dengan faktor lingkungan.

C. Perencanaan Pada perencanaan tindakan keperawatan penulis menyusun sesuai teori permasalahan yang dihadapi klien saat itu.

181

1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan. a. Tujuan : Nyeri berkurang/teratasi b. Perencanaan tindakan sebagai berikut : 1) Kaji tingkat nyeri 2) Observasi tanda-tanda vital 3) Berikan posisi yang nyaman 4) Ajarkan posisi yang nyaman 5) Penatalaksanaan pemberian obat analgetik 2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan terapi pengobatan a. Tujuan : Klien mampu keraktivitas b. Peencanaan tindakan sebagai barikut 1) Kaji tingkat kemampuan aktivitas 2) Observasi perkembangan/kemajuan klien dalam beraktivitas 3) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan ADLnya 4) Bantu klien dan libatkan keluarga dalam melakukan latihan ROM 5) Libatkan keluarga klien dalam setiap tindakan terapi pengobatan 6) Libatkan keluarga dalam pemenuhan ADL klien. 3. Defisi perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik dan terapi pembatasan. a. Tujuan : Klien dapat mandi sendiri b. Perencanaan tindakan sebagai berikut : 182

1) Kaji personal hygiene 2) Mandikan klien tiap hari 3) Bantu klien untuk mandi ditempat tidur 4) Anjurkan keluarga klien untuk mengganti pakaian tiap hari 5) Bantu klien melibatkan keluaga untuk makan dan minum ditempat tidur 6) Bantu klien dan libatkan keluaga untuk BAB dan BAK 7) Bantu klien untuk memotong kuku 4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri : a. Tujuan : Klien dapat tidur selam 7 8 jam/hari b. Perencanaan tindakan sebagai berikut : 1) Kaji penyebab gangguan pola tidur klien 2) Kaji kebiasaan klien sebelum tidur 3) Berikan posisi yang nyaman pada klien pada saat mau tidur 4) Anjurkan klien berdoa sebelum tidur Terjadi kesenjangan antara teori dengan kasus. 5. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit. a. Tujuan : Kecemasan klien berkurang/teratasi b. Perencanaan tindakan sebagai berikut : 1) Kaji tingkat kecemasan klien 2) Observasi tanda-tanda vital 3) Berikan dorongan kepada klien untuk mengekspresikan perasaannya 183

4) Berikan support positif kepada klien 5) Anjurkan klien untuk selalu melakukan pendekatan spiritual 6) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang penyakit dan prosedur pembedahan 6. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka. a. Tujuan : Infeksi tidak terjadi b. Perencanaan tindakan sebagai berikut : 1) Kaji tanda-tanda adanya infeksi 2) Observasi tanda-tanda vital 3) Rawat luka dengan teknik aseptik dan antiseptik 4) Penatalaksanaan pemberian antibiotic

D. Implementasi Rencana pelaksanaan yang dibuat diaplikasikan dalam tahap pelaksanaan tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien merupakan rangkaian dari seluruh rencana tindakan yang dibuat sebelumnya. Dalam melaksanakan tindakan tersebut meliputi tindakan mandiri, pendirikan kesehatan dan kolaborasi. Tindakan keperawatan yang penulis lakukan yaitu : 1. Diagnosa I Nyeri pelaksanaan yang diberikan yaitu : mengkaji tingkat nyeri, mengobservasi TTV, memberikan posisi yang nyaman, mengajarkan teknik relaksasi dan distraksi, penatalaksanaan pemberian obat analgetik.

184

2. Diagnosa II Gangguan mobilitas fisik yang diberikan yaitu : mengkaji tingkat kemampuan aktivitas, mengobservasi perkembangan/kemajuan dalam beraktivitas,

membantu klien dalam memenuhi kebutuhan ADLnya, membantu klien melibatkan keluarga dalam melakukan latihan ROM, melibatkan keluarga klien dalam setiap tindakan terapi pengobatan, melibatkan keluarga dalam pemenuhan ADL klien. 3. Diagnosa III Personal hygiene yang diberikan yaitu : mengkaji personal hygiene, mandikan klien tiap hari, membantu klien untuk mandi ditempat tidur, menganjurkan keluarga klien untuk mengganti pakaian tiap hari, membantu klien dan melibatkan keluarga untuk makan dan minum ditempat tidur, membantu klien melibatkan keluarga untuk BAB dab BAK ditempat tidur, membantu klien untuk memotong kuku. 4. Diagnosa IV Gangguan pola tidur yang diberikan yaitu : mengkaji penyebab gangguan pola tidur klien, mengkaji kebiasaan klien sebelum tidur, memberikan posisi yang nyaman pada klien pada saat mau tidur, menganjurkan klien bedoa sebelum tidur. Terjadi kesenjangan antara teori dan kasusu. 5. Diagnosa V

185

Cemas pelaksanaan yang diberikan yaitu : mengkaji tingkat kecemasan klien, mengobservasi tanda-tanda vital, memberikan dorongan kepada klien untuk mengekpresikan perasaannya, memberi support positif kepada klien, menganjurkan klien untuk selalu melakukan pendekatan spiritual,

memberikan penjelasan kepada klien da keluarga tentang penyakit dan prosedur pembedahan 6. Diagnosa VI Resiko infeksi pelaksanaan diberikan yaitu : mengkaji tanda-tanda adanya infeksi, mengobservasi tanda-tanda vital, merawat luka dengan tehnik aseptik dan antiseptik, penatalaksanaan pemberian obat antibiotik.

E. Evaluasi Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan yang mana meliputi pencapaian tujuan keperawatan : 1. Pada pelaksanaan evaluasi ada 3 diagnosa yang belum teratasi yaitu : a. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan Tidak teratasi karena klien masih mengeluh nyeri pada daerah fraktur, ekspresi wajah klien masih tampak meringis. b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan terapi pengobatan Tidak teratasi karena klien tidak mampu beraktivitas secara mandiri, ADL nampak dipenuhi ditempat tidur.

186

c. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit. Tidak teratasi karena klien belum mengerti tentang masalah fraktur yang dialaminya, klien nampak cemas. 2. Diagnosa yang teratasi yaitu : a. Defiit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik dan terapi pembatasan Teratasi pada tanggal 6 Januari 2010, hal ini dilihat dari data bahwa klien mampu memenuhi kebutuhan ADLnya dengan bantuan keluarga. b. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri Teratasi pada tanggal 7 Januari 2010, hal ini dilihat dari data bahwa tidur klien 6 8 jam/hari. c. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka Belum teratasi pada tanggal 5 Januari 2010, hal ini dapat dilihat dari data bahwa masih tampak adanya tanda-tanda infeksi seperti : tumor, kalor, dolor, rubor.

187

BAB V PENUTUP

Setelah menguraikan pembahasan kasus pada klien post operasi fraktur Tibia Fibula 1/3 Distal terbuka di ruang perawatan bedah RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar 5 11 Januari 2010, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut :

A. Kesimpulan 1. Dari hasil pengkajian ditemukan adanya kesenjangan antara teori dengan kasus, pada teori dijelaskan terjadi gangguan beberapa dari sistem tubuh seperti sistem sirkulasi, neurosensori, nyeri/kenyamanan, keamanan, serta aktifitas/ istirahat, sedangkan pada kasus mendapatkan 3 gangguan sistem tubuh yaitu gangguan aktifitas, nyeri/kenyamanan dan keamanan. 2. Penyusunan rencana tindakan keperawatan dilakukan bedasarkan pengkajian yang didapat dari klien dan dilakukan secara bio-psikososial spiritual sehingga rencana tindakan yang diambil bisa lebih efisien dan efektif. 3. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan pada klien post operasi fraktur Tibia Fibula 1/3 Distal terbuka dilakukan sesuai dengan masalah yang muncul pada diagnosa keperawatan.

188

4. Evaluasi dilakukan meliputi SOAP dan didukung oleh peran keluarga secara fisik, serta psikologis amat berpengaruh pada kelancaran proses keperawatan pada klien karena dapat memberikan rasa nyaman dan aman. 5. Di dalam melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan pada klien post operasi Fraktur Tibia Fibula 1/3 Distal terbuka dilakukan secara cermat dan teliti sesuai dengan data yang telah didapatkan.

B. Saran 1. Dalam melakukan pengkajian keperawatan ada baiknya melakukan pendekatan interpersonal terlebih dahulu dengan klien sehingga proses pengkajian dapat berjalan sesuai yang diharapkan. 2. Dalam menyusun rencana keperawatan pada klien fraktur Tibia Fibula 1/3 Distal terbuka harus dilakukan sesuai dengan diagnosa yang muncul. 3. Diharapkan dalam melakukan tindakan keperawatan harus sesuai dengan kebutuhan klien serta memperhatikan fasilitas yang ada. 4. Diharapkan perlunya pendokumentasian evaluasi SOAP agar semua tindakan yang telah dilakukan bisa terlihat dengan jelas. 5. Diharapkan dalam pendokumentasian asuhan keperawatan pada klien post operasi fraktur Tibia Fibula 1/3 Distal terbuka dilakukan dengan berfokus pada proses kepeawatan yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, catatan tindakan dan evaluasi keperawatan.

189

DAFTAR PUSTAKA

Barbara Enggram, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Volume 2 Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

Brunner dan Suddarth, 2000, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume 3, EGC, Jakarta.

Doengoes, Marilyn E. dkk, 2002, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jilid 2, EGC, Jakarta.

Mansjoer A, dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 2, Media Aesculapius, Jakarta.

Sylvia A, Price, dkk, 2002, Patofisiologi Buku 2, Edisi 4, Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

190

191