Anda di halaman 1dari 3

DARI TATANAN HUKUM PRIMITIF MENUJU KE TATANAN HUKUM MODERN Titik Tolak Sejak terjadinya hukum, maka dalam

benihnya dapat dikatakan telah ada hampir seluruh komponen, yang telah berlangsung berabad-abad untuk kemudian menghasilkan tatanan-tatanan hukum modern masa kini. Restriksi dan larangan tindakan main hakim sendiri pada hakikatnya merujuk pada gagasan kedamaian batin yang merupakan fondasi setiap tertib hukum. Consensus yang terjadi antara yang memerintah dan yang diperintah, bertumpu pada suatu gagasan adanya keseimbangan antara hak-hak dan kewajiban yang dapat dijadikan dasar keadilan. Beberapa aturan, antara lain yang berhubungan dengan pengaturan penyelesaian perselisihan pada hakikatnya lebih mengutamakan kepastian hukum. Pengakuan, pengukuhan, dan pengsanksionisasian kebiasaan oleh penguasa dengan serta merta menunjukkan bahwa atas inisiatif sendiri ia juga dapat mengeluarkan perintah dan larangan. Inilah awal dari perundang-undangan. Juga telah ada peradilan, yang di dalamnya seringkali putusan-putusan yang diambil oleh pejabat-pejabat atau badan-badan peradilan diberlakukan sebagai preseden-preseden untuk waktu yang akan datang. Semula hal-hal ini diteruskan dari mulut ke mulut, tetapi hanya dengan perantara dan pemakaian tulisan maka pencatatan dan penyimpanan putusan-putusan terdahulu itu dimungkinkan, untuk keudian bertumbuh pesat dan berkembang dengan sempurna. Malahan ajaran hukum di dalam arti yang dewasa ini kita berikan kepadanya sudah barang tentu hanya dimungkinkan sejak saat tersebut. I. A. Tatanan-Tatanan Hukum Primitif 1. Sejarah Hukum dan Pra-Sejarah Hukum Penelaahan tatanan-tatanan hukum ini pada hakekatnya tidak termasuk sejarah hukum tetapi tergolong pra-sejarah hukum. Jadi, sejarah huum selaku demikian hanya dapat dipelajari sejak periode yang didalamnya dokumen-dokumen pertama ditulis. Nampaknya tanpa naskah-naskah memang kita hanya dapat mengira-ngira aturan hukum maka yang ada pada zaman dahulu. Kita pun tidak dapat mengetahui dengan pasti tentang hak ikhwal lembaga-lembaga hukum bangsa-bangsa yang hidup sebelum ditemukannya aksara. Bangsa Germania misalnya, tidak meninggalkan dokumendokumen tertulis sebelum abad V setelah Masehi. Oleh sebab itu kita tidak mengetahui terdiri dari apa saja hukum mereka itu. Pada umumnya semua bangsa-bangsa pernah mengalami evolusi hukum selama berabadabad sebelum periode mereka mempergunakan aksara. Sekalipun berkat penemuan-penemuan penggalian dasar tanah, senjata-senjata, periuk-periuk, perhiasan-perhiasan dan sebagainya kita dapat melakukan rekonstruksi aspek-aspek tertentu kehidupan bangsa-bangsa purba zaman perunggu dan besi, akan tetapi agaknya tidak mungkin atas dasar dokumentasi seperti itu kita dapat mendeskripsikan lembaga-lembaga hukum lebih khusus lagi hukum privat bangsa-bangsa tersebut. Kendati pun demikian jika kita ingin mengetahui evolusi hukum tersebut, maka kita tidak dapat tanpa mengetahui sedikit perihal lembaga-lembaga hukum telah ada sebelum aksara dipergunakan; perkawinan, kekuasaan orang tua, pemilikan barang-barang bergerak, hak milik, hukum waris, hibah, persetujuan-persetujuan, tukar menukar dan bahkan jual beli. Bersamaan dengan itu pada bangsa-bangsa tuna aksara tersebut telah dijumpai sebuah organisasi kelompok sosio-politik tertentu yang sedikit banyak sudah memperlihatkan tanda-tanda kemajuan, yang didalamnya terdapat asas-asas pertama, apa yang kini kita sebut hukum public.

Pembedaan antara pra-sejarah dan sejarah hukum pada hakikatnya terletak pada perbedaan antara bangsa-bangsa tuna kasara dan bangsa-bangsa beraksara. Dengan demikian aksar ini dapat dikatakan merupakan factor kebudayaan penting pertama yang menentukan pengevolusian hukum. Periode peralihan dari pra-sejarah hukum berbeda antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Bagi bangsa Mesir hal tersebut berada sekitar abad ke-28 dan 27 SM, bagi bangsa Romawi antara abad ke-6 dan 5 SM, sedangkan bagi bangsa Germania pada abad ke-5 sesudah Masehi dan bagi bangsa-bangsa Afrika tertentu, bangsa-bangsa yang mendiami daerah Amazon dan sebagainya baru pada abad ke-20 ini. 2. Kegunaan dan Keterbatasan Studi tentang Tatanan-Tatanan Hukum Primitif Oleh karena kebanyakan tatanan B. C. Beberapa Informasi Tentang Isi Hukum Primitif 1. Hubungan-Hubungan Keluarga Secara kronologis nampaknya hubungan-hubungan inilah yang paling tua. Dan hal ini barngkali mengklarifikasi mengapa mereka, juga di dalam masyarakat yang telah mengalami proses sekulerisasi seperti didunia barat paling lama merasakan pengaruh agama. Bermacam-macam pengertian yang menyangkut hubungan keluarga telah diketahui oleh pergaulan hidup primitive, seperti eksogami atau kewajiban untuk kawin dengan seorang yang berasal dari keluarga lain (untuk mencegah noda pencampuran darah, tetapi sebenarnya lebih ditujukan pada potensi prokreasi kelompok terhadap kelompok-kelompok lain), endogami bangsa, rasa atau agama yang sama. Poligami atau perkawinan dengan lebih dari satu istri nampaknya lebih merupakan suatu kekecualian. Kekuasaan keluarga pada umumnya diselenggarakan oleh seorang laki-laki, ayah di dalam pergaulan hidup patrilinier, artinya pergaulan-pergaulan hidup yang bertumpu pada keturunan dari ayah kepada anak laki-laki, dan kakak laki-laki dari ibu di dalam pergaulan hidup matrilinier kekuasaan tidak hanya diselenggarakan atas anak-anak, tetapi juga atas semua anggota kelompok dan terkadang tak terbatas. Hukum waris terjadi karena diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup kekuasaan yang ada dalam kelompok. 2. Tentang Kelompok Keluarga Hampir dimana-mana kita jumpai kelompok keluarga sebagai organisasi kemasyarakatan tertua yang dikenal orang. Kelompok keluarga atau yang disebut klan terdiri dari orang-oranng yang berkeyakinan teguh bahwa melalui garis keturunan riil atau pun fiktif, bahkan melalui perkawinan terhadap kelompok keluarga yang sama. Peradaban tertua kehidupan sosia-kultural, pada orang Yunani hal ini disebut Yevog, pada orang Romawi gens, pada orang Arab duar, pada orang Germania seppe, dan seterusnya. Hak-hak individual hanya berperan dan berfungsi dalam kaitannya dengan kepentingan kelompok keluarga dan ia hanya dapat bertindak selaku anggota pergaulan hidup.

3. Tentang Bangsa Bangsa pada umumya muncul ke permukaan dengan sedikit banyak terdiri dari sejumlah besar kelompok keluarga yang membentuk suatu pergaulan hidup dengan nama sendiri, ingatan sendiri, suara batin sendiri, ringkasnya dengan kebudayaan sendiri. Setiap bangsa biasanya juga mempunyai sekalipun tidak merupakan keharusan, suatu bahasa sendiri, suatu wilayah sendiri dan kebiasaan-kebiasaan sendiri, namun tolok ukur kebudayaan bersama pada hakekatnya merupakan sesuatu yang lebih penting. Organisasi sosio-politik bangsa-bangsa berkisar antara pergaulan-pergaulan hidup acephalisch (tak mempunyai pemimpin tunggal) dan Negara sentralistis modern. Tatanan yang paling banyak tersebut luas adalah pengelompokan keluaga-keluarga di bawah pimpinan seorang kepala yang sama, yang terkadang di dalam memerintah rakyatnya dibantu oleh sekelompok terbatas orang-orang tertentu; kepala-kepala keluarga, pemuka-pemuka agama, pendekar perang dan orang-orang bebas yang memiliki sebagian dari tanah. 4. Penguasaaan/Pemilikan Benda-Benda (Bergerak) 5. D. II.