Anda di halaman 1dari 35

TUGAS DASAR REPRODUKSI TERNAK SISTEM REPRODUKSI PADA SAPI PERAH

Jurusan/Program Studi Peternakan

Oleh : Agung Dwi Cahyo W. Asih Tri Hastuti Dewi Elliyana K. Dwi Wahyuningrum M. P. Kristian Danu Wijanarko Sahra Hendartika H0511005 H0511014 H0511018 H0511024 H0511041 H0511060

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2012
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL............................................................................... DAFTAR ISI........................................................................................... BAB I. PENDAHULUAN.................................................................... A. Latar Belakang................................................................... BAB II. ISI............................................................................................. A. Sistem Reproduksi............................................................. B. Pubertas.............................................................................. C. Siklus Birahi....................................................................... D. Fertilisai, Implantasi, dan Plasentasi.................................. E. Kebuntingan....................................................................... F. Kelahiran............................................................................ G. Inseminasi Buatan.............................................................. BAB III. KESIMPULAN........................................................................ DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 3 4 4 11 12 14 17 23 27 30

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan reproduksi ternak merupakan suatu proses untuk mempertahankan suatu populasi ternak dan meningkatkan populasi dan produksi ternak. Kegiatan reproduksi berlangsung mulai dari pre-natal sampai dengan post-natal yang berkesinambungan dalam kehidupan ternak. Berbagai proses yang terjadi selama kegiatan reproduksi dalam tubuh ternak ini melibatkan proses faali, fisiologi, dan hormonal. Semua organ tubuh akan mendukung terhadap kelangsungan proses faali, fisiologi dan hormonal. Semua organ tubuh ternak akan mendukung terhadap kelangsungan proses ini. Sehingga menjadi kebutuhan yang esensial untuk selalu memperhatikan organ tersebut, terutama pemahaman masing-masing bagian dan fungsinya. Dengan demikian manifesi yang ditimbulkan dari hasil proses reproduksi seperti datangnya birahi ternak betina, pembuahanm kebuntingan, kelahiran dan siste perkawinan dapat dikuasai dengan baik. Sehingga efisiensi reproduksi akan tercapai. Dalam hal ini diutamakan pada ketepatan dalam memilih dan menentukan waktu yang terbaik untuk dilangsungkan inseminasi atau perkawinan. Dengan demikian ternak akan terus berkembang biak. Selain kuantitas maka segi kualitas selalu yang akan dicapai.

BAB II. ISI A. Sistem Reproduksi 1. Sistem reproduksi jantan

Sistem reproduksi pada ternak jantan berasal dari saluran Wolff dan berkembang dari punggung lipatan kelamin embrio dini. Secara umum anatomi organ reproduksi jantan antara lain : a. Testis atau gonade sebagai organ kelamin utama (primer). b. Saluran reproduksi sekunder yaitu vas deferens, epididymis, vas deferens dan penis (urethra). Kelenjar pelengkap yaitu kelenjar vesicularis seminalis, kelenjar prostate dan kelenjar cowperi (bulurethralis). c. Organ kelamin luar yaitu scrotum dan praeputium. 1) Testis Ternak jantan normal mempunyai dua buah testis. Testis pada sapi berbentuk bulat panjang, terbungkus oleh kapsul berwarna putih mengkilat yaitu Tunica albuginea yang mengandung urat saraf, urat darah dan pembuluh darah yang berkelok-kelok. Testis terletak dalam kantung scrotum. Berat

sebuah testis sapi berkisar antara 300-500 gram, dengan ukuran 13x7x7 cm. Perkiraan berat kedua testis (gram) = 4,5+0,4615xberat badan (kg). Sebuah testis mengandung banyak sekali lobulus atau kantung kecil berbentuk kerucut dengan ujung lancip ditengah testes dan pangkalnya dipinggir testes. Isi dari lobulus ini dalah Tubulus semineterus yang panjang dan berkelok-kelok. Tubuli ini terdiri dari sel membran basal, sel penunjang, sel penghasil cairan testis dan sel benih (spermatogonium dan sel sertoli). Spermatogonium adalah sel benih sejati dari sel sertoli sebagai perawat spermatozoa yang baru akan terbentuk. Fungsi testis adalah : a) Fungsi Produksi : Produksi spermatozoa subur dan motil b) Fungsi Endokrin : Memproduksi hormone jantan (androgen) 2) Epididymis Epididymis berbentuk panjang yang merupakan suatu pembuluh yang timbul dari bagian dorsal testis berasal dari ductus eferens. Epididymis terdiri dari tiga bagian : i. Bagian kepala atau Caput Epididymis ii. Bagian badan atau Corpus Epididymis iii. Bagian ekor atau Cauda Epididymis Fungsi Epididymis adalah : i. Transportasi ii. Pemekatan, konsentrasi spermatozoa iii. Pemasakan dan pendewasaan iv. Timbunan spermatozoa 3) Vas Deferens Vas deferens berasal dari epididymis dan berjalan dari titik terendah testis menuju keatas. Garis tengahnya 0,3-0,47 cm. Vas deferens mengandung sel syaraf yang banyak.

4) Urethra Urethra adalah saluran urogenitalis sebagai saluran pengeluaran urine dan spermatozoa, serta sekresi kelenjar pelengkap. Urethra berasal dari daerah pelvis sebagai kelanjutan ampulla yang tergantung dari tempat bermuaranya ampulla dan berakhir pada ujung penis. Berdasarkan bentuk dan letaknya urethra terdiri dari tiga yaitu : i. Bagian Pelvis, panjang antara 15-20 cm dari muara ampulla berupa pipa dengan urat daging tebal. ii. Bagian yang membengkok, mulai dari pelvis sampai pangkal penis, panjang kira-kira 10 cm. iii. Bagian penis, mulai dari pangkal sampai ujung penis. 5) Penis Penis merupakan jaringan yang dapat menegang sebagai alat kopulasi. Penis terdiri dari tiga bagian : i. Bagian pangkal penis, bagian ini melekat pada badan dan disebut dengan Crus Penis. ii. Bagian badan penis, bagian ini merupakan bagian terpanjang dari penis mulai dari bagian pangkal sampai ujung penis. Bagian badan penis ditengah dapat melipat melingkar menyerupai huruf S dan disebut dengan Flexura sigmoidea. iii. Bagian ujung penis, yaitu bagian yang terujung dari penis dan bebas disebut dengan Gland Penis. Fungsi utama dari penis adalah untuk alat kopulasi. Sedangkan fungsi lainnya yang cukup penting sama dengan urethra yaitu sebagai alat untuk pengeluaran urin, spermatozoa dan sekresi kelenjar pelengkap. 6) Praeputium Praeputium adalah organ kelamin sebagai pelindung penis dari pengaruh luar dan kekeringan terutama pada bagian Gland

penis. Preputium terbentuk dari kulit. Ruang dalam preputium berisi penis. 7) Scrotum Scrotum merupakan kantung testis. Terdapat sepasang srotum yang masing-masing berisi sebuah testis. Kantung scrotum terdiri atas beberapa lapisan : i. Kulit Scrotum ii. Tunica Dartos iii. Tunica Vaginalis : bagian ini terdiri dari tunica albuginea dan tunica vagina 8) Kelenjar Pelengkap Kelenjar pelengkap terdiri dari tiga kelenjar : i. Kelenjar Vesicularis Kelenjar ini terdapat sepasang, hasil dari sekresi banyak mengandung hexosa, fruktosa dan asam sitrat ii. Kelenjar prostate Pada sapi terdapat sepasang. Fungsi sekresi adalah sebagai sumber antalglutin jantan dan menghasilkan cairan dengan mineral tinggi. iii. Kelenjar Cowperi (bulbo urethralis) Terdapat sepasang. Hasil sekresinya berupa substansi lendir yang licin dan kencal. 2. Sistem reproduksi betina

Bakal ovaria terbentuk dari lipatan kelamin beserta alat persatuannya disepanjang atas dinding perut embrio betina.

Secara umum organ kelamin betina terdiri atas : a. Ovarium atau gonade yaitu organ kelamin betina utama atau organ kelamin betina primer. b. Saluran reproduksi atau organ sekunder yang berada didalam tubuh ternak yaitu oviduct/tuba falopi, uterus, cervix, vagina dan vestibulum. c. Organ kelamin luar yaitu clitoris dan vulva. 1) Ovarium Pada ternak menyusui ovarium terdapat sepasang berkedudukan dekat ginjal, keduanya terletak terpisah pada bagian kanan dan kiri. Sedangkan alat penggantung ligament mesovarium. Ukuran ovarium pada sapi panjang 3,1-4,4 cm dan tinggi 1,9-3,1 cm serta lebar 1,2-1,9 cm. pada anak sapi yang baru lahir mempunyai ovarium kiri dan kanan. Pada sapi dewasa mempunyai ovarium sebelah kanan lebih besar daripada yang kiri. Ovarium terdiri dari 4 (empat) lapisan yaitu : i. Lapisan Epitel Lembaga ii. Tunica Albuginea iii. Lapisan Parenchym iv. Medulla Ada 4 komponen penting dalam tubuh ovarium: i. Follicle : berasal dari sel benih atau epitel benih (superficial epithelium) yang melapisi permukaan ovarium. ii. Corpus Hemorraghium (CH) : kawah yang terisi dengan darah dan cairan limphe sehingga tempat ini berwarna merah atau merah kecoklatan. iii. Corpus Luteum (CL) : merupakan komponen dari ovarium yang berasal dari perkembangan lebih lanjut dari CH. iv. Corpus Albicans (CA) : corpus yang berada di dalam ovarium yang berwarna coklat keputihan atau coklat kepucatan yang berasal dari CL yang sudah tidak ada lagi.

Fungsi ovarium adalah : i. Sebagai alat reproduksi primer ternak betina karena sebagai penghasil sel telur atau ovum. ii. Sebagai penghasil hormone ovarium yang sangat penting dalam pemeliharaan aktivitas kelamin betina. 2) Oviduct Oviduct adalah saluran reproduksi betina antara ovarium dengan uterus. Oviduct terdapat sepasang berupa saluran yang berbentuk bulat, kecil, panjang, berkelok-kelok dan berjalan dari ovarium kebagian sempit dari cornua uteri. Alat penggantung oviduct disebut mesosalphinx yang juga penggantung uterus. Fungsi oviduct : i. Menerima ovarium dari hasil ovulasi ovarium. ii. Menerima spermatozoa yang masuk dari uterus. iii. Tempat terjadinya fertilisasi atau persejiwaan antara spermatozoa dengan ovum. iv. Menyalurkan ovum yang telah dibuahi. v. Pendewasaan spermatozoa sebelum terjadinya fertilisasi. vi. Seleksi spermatozoa yang terjadi di bagian pertemuan antara uterus dengan oviduct tepatnya didaerah UTJ (Utero Tubal Junction). 3) Uterus Uterus adalah organ saluran reproduksi ternak betina penghubung antara oviduct dengan cervix. Terdiri dari dua bagian : i. Bagian badan uterus (corpus uterus) yang berbatasan dengan cervix. ii. Bagian tanduk uterus (cornua uteri) yang berbatasan dengan oviduct.

10

Tipe uterus pada sapi yaitu Bipartitis, adalah uterus yang mempunyai satu cervix, corpus terlihat sangat jelas dan cukup panjang, kedua cornua uteri dipisahkan oleh septum (sekat). Dinding uterus dibagi menjadi 3 lapisan: i. Perimetrium : lapisan terluar dari uterus ii. Myometrium : lapisan dibawah perimetrium iii. Endometrium : lapisan dinding lumen uterus yang terdiri dari epitel Fungsi uterus adalah : i. Untuk berlangsungnya kapasitas pada waktu ternak betina mengalami birahi. ii. Cocok bagi pertumbuhan embrio muda karena cairan uterus. iii. Pada waktu selesai melahirkan, uterus akan memperlancar kelahiran. 4) Cervix Cervix adalah organ kelamin betina berupa urat daging spinchter yang berdinding tebal sebagai penghubung antara uterus dan vagina. Panjang cervix sapi antara 5-10 cm dengan tebal 3-4,4 cm. Fungsi cervix adalah: i. Menjaga masuknya jasad renik ii. Cairan cervix sebagai sarana transportasi iii. Saluran fetus yang akan lahir iv. Sekresi cairan lendir birahi kebuntingan 5) Vagina dan Vestibulum i. Vagina adalah saluran reproduksi betina yang berdinding tipis perpanjangan cervix, mulai dari mulut cervix muka sampai ketempat sambungan urethra. ii. Vestibulum merupakan saluran reproduksi betina kelanjutan dari vagina.

11

iii. Vagina berfungsi sebagai alat kopulasi menerima penis masuk, sebagai tempat ejakulasi, saluran kelahiran sebagai saluran pengeluaran urin. 6) Vulva dan Clitoris i. Vulva adalah organ kelamin luar dari ternak betina termasuk juga clitoris. Pada sapi mempunyai vulva yang terdiri dari bibir atau labia kanan dan kiri. ii. Vulva berfungsi hanya sebagai lubang masuk dan keluarnya penis dari pejantan pada saat kopulasi, keluarnya urin dan fetus. Pada sapi, penampilan dan letak vulva juga salah satu kriteria penilaian dalam seleksi sesuai karakteristik bangsanya. iii. Clitoris terletak tepat di sebelah dalam ditempat pertemuan bawah bibir vulva berupa tenunan erectil. B. Pubertas Pubertas (kematangan alat kelamin/dewasa kelamin) yang terjadi akibat aktivitas dalam ovarium (indung telur), umur pubertas pada sapi adalah antara 7-18 bulan, atau dengan berat badan telah mencapai kurang lebih 75% dari berat dewasa. Kecepatan tercapainya umur dewasa kelamin tergantung dari: 1. Jenis/bangsa sapi 2. Gizi Bila jumlah dan kandungan gizi pakan kurang jumlah atau mutunya, maka dewasa kelamin akan lebih lama dicapai, hal ini disebabkan berat badan yang kurang. 3. Cuaca Di daerah tropis seperti di Indonesia, umur dewasa kelamin lebih cepat / muda 4. Penyakit

12

Karena mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan berat badan, apalagi bila menyerang alat kelamin, maka kemungkinan besar umur dewasa kelamin lebih lambat dicapai. C. Siklus Birahi Hewan betina dewasa mengalami masa birahi secara periodik dan tahapan ini disebut dengan daur estrus. Sapi betina yang mulai dewasa akan mengalami periode ini biasanya pada umur 10-15 bulan. Hewan betina selama periode ini bersedia kawin dengan hewan jantan. Periode daur birahi sapi antara 18-24 hari. Hewan yang tidak dalam masa birahi akan menolak kawin sedangkan pada hewan yang tidak bunting, periode birahi dimulai sejak permulaan birahi sampai kepermulaan periode berikutnya. Biasanya sapi menjadi birahi pada ovulasi sekitar 6 minggu setelah beranak, tetapi ada variasi individu. Tanda birahi antara lain alat kelamin membengkak, berwarna kemerahan, rasa panas da nada lender jernih keluar dari vulva. Sapi cenderung ingin menaiki sapi lain walaupun sesama jenis kelamin. Menurut Akoso (1996) masa birahi ini berlangsung antara 4-24 jam. Apabila terjadi birahi yang sangat ringan, tanda-tandanya tidak tampak nyata dan keadaan ini disebut birahi tenang. Salah satu penyebab terjadinya birahi tenang adalah tingkat nutrisi hewan yang rendah. Siklus birahi pada sapi betina yang normal biasanya berulang setiap 21 hari, dengan selang antara 17-24 hari. Siklus birahi akan berhenti secara sementara pada keadaankeadaan: 1. Sebelum dewasa kelamin 2. Selama kebuntingan 3. Masa post-partum Siklus birahi dibagi dalam 4 tahap, dan berbeda-beda pada setia spesies hewan. Tahapan dan lamanya pada sapi dapat ditemui dibawah ini :

13

1. Estrus Pada tahap ini sapi betina siap untuk dikawinkan(baik secara alam maupun IB). ovulasi terjadi 15 jam setelah estrus selesai. Lama periode ini pada sapi adalah 12-14 jam. 2. Proestrus Waktu sebelum estrus. Tahap ini dapat terlihat, karena ditandai dengan sapi terlihat gelisah dan kadang-kadang sapi betina tersebut menaiki sapi betina yang lain. Lamanya 3 hari. 3. Metaestrus Waktu setelah estrus berakhir, folikelnya masak kemudian terjadi ovulasi diikuti dengan pertumbuhan / pembentukan corpus luteum (badan kuning). Lama periode ini 3-5 hari. 4. Diestrus Waktu setelah metaestrus, corpus luteum meningkat dan memproduksi hormon progesterone. Periode ini paling lama berlangsungnya karena berhubungan dengan perkembangan dan pematangan badan kuning, yaitu 13 hari.

14

Pada saat dewasa kelamin tercapai, aktivitas dalam ovarium (indung telur) dimulai. Waktu estrus, ovum dibebaskan oleh ovarium. Setelah ovulasi terjadi, bekas tempat ovarium tersebut itu dipenuhi dengan sel khusus dan membentuk apa yang disebut corpus luteum (badan kuning). Corpus luteum ini dibentuk selama 7 hari dan bertahan selam 17 hari, dan setelah waktu itu mengecil lagi karena ada hormon (prostaglandin) yang merusak corpus luteum dan mencegah pertumbuhannya untuk jangka waktu yang relatif lama (sepanjang kebuntingan). D. Fertilisasi, Implantasi, dan Plasentasi Fertilisasi, implantasi, plasentasi adalah suatu peristiwa bersatunya spermatozoa dengan sel ovum atau sel telur. Setelah inti sel spermatozoa bersatu dengan inti sel ovum, maka terjadilah sel baru yang diploid yang disebut embrio. Embrio akan terus berkembang dalam pembelahan sel-selnya. Kemudian sampai pada akhir pengembangannya embrio akan melaksanakan implantasi atau nidasi yaitu proses yang berlangsung secara bertahap untuk terjadinya pertautan antara embrio dengan endometrium sedemikian rupa sehingga tidak akan berubah tempat. Dari hasil implantasi ini terjadi pembentukan plasenta dari tenunan tubuh embrio dengan induknya yang terjalin pada waktu pertumbuhan embrio. Plasenta ini berfungsi sebagai penyalur makanan dari induk kepada fetus kepada induk. Fertilisasi dapat terjadi melalui beberapa proses kejadian. Waktu yang digunakan juga tidak begitu pendek, sebab spermatozoa dengan ovum dihasilkan oleh individu yang berbeda. Perjalanan spermatozoa di saluran kelamin betina yaitu melalui proses berikut. Spermatozoa yang telah diejakulasikan oleh ternak jantan dari tahapan akhir kopulasi secara kawin alam masih menempuh jalan jauh untuk bersatu dengan ovum. Pada sapi deposisi spermatozoa pada kawin alam berada di mulut servix depan sehingga organ servix merupakan penghalang pertama bagi perjalanan spermatozoa. Bila system perkawinan dengan IB maka spermatozoa dapat langsung masuk ke servix yang berbatasan dengan kupus uterus. Sperma yang baru saja diejakulasikan tercampur dengan lendir servix yang mempunyai keuntungan

15

mengarahkan sperma berenang menuju kearah sal lendir yaitu dari kripta atau cincin servix. Semua sperma dalam cincin servix pada dasarnya berusaha ingin meneruskan perjalanan masuk ke uterus. Untuk kelompok sperma yang tidak dapat berenang dan kondisinya abnormal baik mati atau bentuknya abnormal maka kelompok ini tidak dapat melanjutkan perjalan akan tinggal di cincin servix dan mati hancur dimakan sel-sel phagocyte. Bagi sperma normal atau hidup memanfaatkan gerakan peristaltic dari dinding uterus terus berenang menuju oviduct lewat corpus atau cornu uterus. Tempat berlangsungnya fertilisasi yang tepat bagian ampulla oviduct. Sperma yang mampu melewati Ampullary Isthmus Junction melewati seleksi menemui ovum untuk fertilisasi dan sperma sudah dianggap dewasa, masak, matang, dan normal untuk melanjutkan fertilisasi. Faktor yang menentukan selama perjalanan disaluran reproduksi betina adalah : a. Adanya dorongan pada waktu ejakulasi b. Kerja penis yang menyerupai kerja piston c. Kekuatan penghisapan uterus d. Kerja kapiler salurn servix e. Kerja rambut getar oviduct f. Aktivitas urat daging saluran reproduksi betina g. Tekanan dari isi perut perut h. Mortilisasi dari spermatozoa Pada sapi betina waktu yang dibutuhkan oleh spermatozoa untuk mencapai uterus kira-kira 40 menit dari ejakulasi dan 100 menit mencapai oviduct. Bila menggunakan IB waktu yang dibutuhkan spermatozoa mencapai 6-9 jam setelah inseminasi pada sapi dewasa dan 4-9 jam pada sapi dara. Pada saluran reproduksi sapi betina dewasa yang mempunyai ukuran panjang 64,94

16

cm dan sapi dara 52,7 cm, rata-rata kecepatan untuk mengarungi saluran tersebut 19,6 mm permenit dan 20,6 mm permenit (Djunuar, 1985). Ketahanan daya gerak dan fertilisasi spermatozoa selama berada di saluran kelamin betina tergantung pada intensitas birahi dan waktu optimal untuk diinseminasi atau ejakulasi pada kawin alam. Pada sapi ketahanan spermatozoa berada di saluran reproduksi saluran betina antara 22-40 jam, umur maksimal fertile rata-rata 16 jam atau 28-30 jam. Peleburan spermatozoa dengan ovum terjadi saat masuknya kepala spermatozoa kedalam ovum. Kepala spermatozoa masuk menyusun kesitoplasma ovum. Pembungkus spermatozoa selanjutnya lebur menjadi satu membran vittelin kemudian terjadi pengerutan protein dan pembelahan inti sel ovum. Cairan hasil pengerutan dikeluarkan ke ruang peri vetiline dan polar bodi yang terbentuk dari hasil pembelahan inti ovum juga dikeluarkan. Kepala spermatozoa terputus perlahan-lahan mengebung sehingga bentuk kepala menjadi hilang dan nucleoli menjadi jelas. Pada saat yang sama terjadi pasangan antara kromosom spermatozoa dengan ovum. Akhirnya terbentuklah individu baru dan peristiwa ini disebut syngami. Fertilisasi ganda atau pembuahan ganda terjadi lebih dari sebuah ovum yang dapat diovulasikan dapat dibuahi. Beberapa kemungkinan terjadinya fertilisasi ganda yaitu : 1. Fraternal Twin ( kembar dua faternal/ kembar dizygotik) Yaitu dua atau tiga atau lebih ovum diovulasikan dan dibuahi sehingga terjadi kembar dua atau tiga. Individu baru ini dapat sama jenis kelamin dan dapat juga beda. Kembar ini tidak sama atau serupa sebab lama dalam kandungan berbeda. Bila anak betina lahir secara kembar dizygotik ini dengan jantan maka anak betina lahir kana steril atau free martin. 2. Identical Twin ( Kembar Identik/ Monozygotik ) Yaitu kembar dua yang berasal dari satu ovum yang dibuahi dan membelah menjadi dua atau masing-masing berkembang menjadi individu

17

baru yang normal. Biasanya kembar ini serupa atau sama dan berjenis kelamin sama. 3. Superfaetasi Yaitu kejadian pembuahan ganda bila dalam satu masa atau waktu birahi dua ovum sudah dibuahi sudah menjadi embrio, maka kedua yang dibuahi menyusui dan menempel pada uterus dan berkembang bersama dengan embrio pertama yang sebelumnya ada. Embrio adalah sel baru dari hasil bersatunya persejiwaan antara spermatozoa dan ovum. Pertumbuhan embrio dimulai dengan membelah diri dari satu sel menjadi dua sel yang seterusnya sampai jumlah 32 buah dan disebut morulla. Diuterus embrio sudah dalam tahapan morulla perkembangan selanjutnya Alastocyte yang mempunyai tropoblas yang berfungsi menyerap cairan nutrisi bagi embrio. Dalam keadaan ini embrio masih dibungkus oleh zona pellucida. Implantasi adalah suatu proses pertautan embrio blastrocyt dengan endomatrium uterus utamanya oleh caruncula atau cotiledone. Peristiwa ini berlangsung bertahap. Begitu zona pellucida yang membungkus balstocyt menyentuh endometrium maka zona pellucida pecah dan blastocyt keluar. Selanjutnya embrio terpaut erat endometrium dan tak akan pindah tempat. Implantasi pada sapi tejadi hari11-40, saat itu merupakan saat paling rawan untuk kelangsungan kehidupan embrio. Plasentasi adalah pembentukan plasenta yaitu berupa tenunan tubuh dari embrio dengan induknya yang terjalin pada waktu pertumbuhan embrio di uterus. Hal ini untuk penyaluran nutrisi dari induk kepada anak dan zat pembuang dari anak kepada induk. Embrio yang berada dalam plasenta disebut dengan fetus. Bentuk morfologis fetus pada kebuntingan sapi terdiri dari amnion atau bagian yang mengelilingi fetus di bagian dalam, chorion atau bagian dari fetus yang menyelimuti bagian luar, allantois atau bagian antara amnion dengan chorion dan kantong kuning telur atau yolk sac. E. Kebuntingan

18

Periode kebuntingan atau Gestation Periode adalah periode kehidupan ternak betina mulai dari fertilisasi sampai kelahiran individu baru yang hidup dan normal. Pertumbuhan dan perkembangan individu baru selama kebuntingan merupakan hasil dari perbanyakan, pertumbuhan dan perubahan susunan serta fungsi sel. Selama kebuntingan uterus bertambah berat dan volume meningkat. Berat fetus yang dikandung pada sapi mencapai 60 persen dari berat keseluruhan sapi. Kebuntingan dini dinyatakan bila betina tidak birahi. Untuk meyakinkan hal ini perlu dilakukakn pemeriksaan kebuntingan biasanya baru dapat dilakukan sesudah 40-60 hari dan tidak kembalinya birahi. Periode Kebuntingan Pertumbuhan individu baru yang terbentuk dari pertumbuhan berupa fetus dalam kandungan berlngsung terus menerus, maka kebuntingan dapat dinyatakan dalam 3 periode kebuntingan yaitu: 1. Periode Ovum Periode ovum, yaitu interval antara pembuahan sampai kira-kira hari ke-12 masa kebuntingan pada sapi, dinamakan demikian karena zygot yang merupkan hasil pembuahan masih memiliki bentuk semula. Zygot tadi di dalam tuba fallopi mulai membelah diri sambil bergerak perlahan-lahan menuju uterus. Dalam waktu 4 hari zygot tadi sudah membelah diri menjadi 16 sel dan sampai di uterus yang sudah dipersiapkan oleh hormon yang mempengaruhinya. Pada hari ke-8 zona pellucid mulai pecah dan sel zygot mendorong keluar. Lapisan-lapisan sel terbentuk dan dari lapisan pembungkus sel itu tumbuh selaput, yang segera memberi makan embrio yang sedang tumbuh tadi. 2. Periode Embrio Periode embrio pada sapi dimulai pada kebuntingan dengan umur 13 sampai 45 hari, ditandai dengan dimulainya pembentukan sebagian besar anggota badan dan organ-orga tubuh. Selama periode ini usus primitif berkembang menjadi slauran pencernaan, paru-paru, hati dan pancreas. Jantung dan peredaran darahnya mulai bekerja, dan kira-kira pada hari ke-

19

21 atau 22, jantung mulai berdetak. Pada periode ini dimulai pembetukan system syaraf, system urat daging dan kerangka, dan system urogenital. Tumbuh juga selaput luar embrio yang berfungsi melindungi dan memberi makan embrio. Salah satu selaput ini disebut amnion, berbentuk kantung yang mempertahankan embrio melayang didalam cairan yang meliputinya, sehingga mencegah bertumbuh ke jaringan lain dan melindunginya terhadap goncangan. Selaput lain, yang disebut allantois, bersambung dengan kantung air kencing embrio dan berfungsi sebagai suatu tempat pembuangan air seni. Di samping itu dinding allantois membawa pembuluh-pembuluh darah embrio keluar untuk berdekatan dengan saluran darah induknya sehingga embrio dapat membuang sisa-sisa pertukaran zatnya dan mengambil oksigen dan zat-zat makannya. Selaput embrio paling luar disebut serosa . Bersama-sama dengan lapisan allantois selaput ini berkembang mengisi ruang cornua uteri yang bunting maupun tidak. Serosa dan allantois bersama-sama membentuk 4 lapis jaringan yang disebut chorion. Bila embrio berumur 30-35 hari chorion mulai saling berlekatan dengan keping benih dari uterus induknya. Pada kebuntingan umur 25-30 hari kuncup bakal kaki dan ekor nampak dan embrio mulai melengkung. Sekitar 45 hari kebuntingan dapat terlihat kaki dan ekor dengan jelas. Pada saat ini panjang embrio kir-kir 3,3 cm dan beratnya kira-kira 2,5 gram 3. Periode Fetus

20

Periode fetus, interval antara umur kebuntingan 46 hari sampai saat lahir ditandai dengan pertumbuhan alat-alat tubuh seperti pembentukan tulang dan rambut dan perubahan-perubahan lain. Selama kebuntingan berat uterus dan isinya dapat mencapai 68 kg (tergantung pada bangsa, umur dan besar sapi). Berat fetus sendiri diperoleh pada waktu 2 bulan akhir lebuntingan. Kira-kira 25% dari berat keseluruhan bersal dari timbunan cairan. Sisanya adalah berat selaput fetus (kira-kira 5% dari berat akhir) dan pertambahan berat uterus sendiri. Awal kebuntingan ternak sapi sulit ditentukan, karena tidak memperlihatkan perubahan kadar hormon yang terpakai untuk pengujian biokimiawi atau biologi terhadap kebuntingan seperti pada manusia. Tidak kembalinya estrus merupakan satu-satunya tanda tentang terjadinya kebuntingan dini. Sesudah 40- 60 hari baru dapat dilakukan pemeriksaan kebuntingan secara klinik. Adanya corpus luteum di ovarium dan perbesaran arteri uterine media merupakan tanda-tanda yang menguatkan namun tidak memastikan kebuntingan. Menurut Djanuar (1985) Kebuntingan pada bangsa sapi perah berlangsung 278-282 hari, kecuali Brown Swiss rata-rata 290 hari. Anakanak sapi jantan dikandung satu hari lebih lama daripada anak-anak sapi betina dan waktu kebuntingan kembar dua biasanya 5-10 hari lebih pendek daripada kebuntingan tunggal. Letak kebuntingan pada ternak sapi biasanya pada daerah perut sebelah kanan. Hal ini disebabkan karena aktivitas ovarium kanan dengan kiri tidak sama. Ovarium kanan pada sapi lebih aktif dan besar bila dibandingkan dengan ovarium kiri.

21

Perubahan Saluran Reproduksi Betina Selama Kebuntingan Selama periode kebuntingan uterus merupakan organ reproduksi utama yang menjalankan kebuntingan. Alat-alat reprosuksi berkembang enam kali atau lebih selama kebuntingan. Cairan dari selubung fetus berkembang lebih dari 85% dari berat fetus. Berat fetus awalnya berkembang lambat kemudian selama 2 bulan terakhir masa kebuntingan fetus meningkat menjadi dua kali lipat. Berat fetus mencapai 605 dari berat anak waktu dilahirkan. Salurn reproduksi yang mengalami perubahan beserta tanda-tandanya selama kebuntingan berlangsung yaitu vulva dan vagina berubah nampak setelah usia kebuntingan mencapai 6-7 bulan. Vulva memerah dan membengkak pada sapi dara. Untuk sapi yang pernah beranak baru terlihat pada usia kebuntingan 8,5-9 bulan. Pada vagina terlihat adanya pertambahan peredaran darah di daerah mukosa vagina. Setelah fertilisasi tampak perubahan pada cincin servix akan menghasilkan lendir yang kental dan makin kental selaras dengan bertambahnya usia kebuntingan. Lendir ini dibutuhkan untuk menyumbat mulut cervix. Terjadinya kontraksi cervix maka cervix akan mengendor ada 25 hari sebelum fetus lahir. Cervix ini bila diraba dengan jari akan membuka. Bila satu jari bias masuk diperkirakan tiga hari kemudian sapi akan melahirkan, dan seterusnya. Lendir kental ini akan mengalir keluar melalui vulva, warna lender ini agak kekuningan. Uterus mengalami perubahan berupa vascularisasi endometrium setelah fertilisasi. Menjelang masuk uterus maka kelenjar uterus menghasilkan susu uterus (histrotope). Uterus tidak berkontraksi. Volume uterus terus mengembang mengikuti pertumbuhn embrio atau fetus yang dikandungnya. Bagian cornu uterus akan berangsur turun, biasanya terjadi pada usia kebuntingan 90 hari. Pada usia 4 bulan ujung uterus smpi ke dasar ruang perut. Pada usia 5 bulan dasar perut dipenuhi oleh uterus yang bunting. Pada usia 9 bulan dinding- dinding uterus bersentuhan dengan dinding rektum.Ovarium pada ternak bunting tetap berfungsi yaitu disebut dengan corpus luteum

22

graviditatum. Corpus luteum ini berwarna kuning tua dan hanya sedikit yang menonjol di permukaan ovarium. Corpus luteum sebagai penghasil hormon progesteron yang sangat berperan dalam mempertahankan kebuntingan, terutama pada saat implantasi sampai pertengahan usia kebuntingan makin mendekati kelahiran corpus luteum berkurang fungsinya. Bila betina tidak bunting maka corpus luteum akan beregenerasi menjadi corpus albicans. Pemeriksaan Kebuntingan pada Sapi Pemeriksaan Kebuntingan pada sapi selain dapat untuk menentukan usia kebuntingan ternak sapi juga sekaligus dapat menentukan diagnosa perbedaan antara kebuntingan dengan kelainan atau gangguan ada organ reproduksi . Patokan usia kebuntingan oleh pelaksana pemeriksa kebuntingan yaitu dengan dasar dimulainya saat inseminasi yang terakhir sampi terjdinya kelahiran. Menurut Partodiharjo (1982) pemeriksaan kebuntingan dilakukan secara teratur dengan interval waktu antara 30-40 hari. Sapi yang kemudian dinyatakan bunting diperiksa kembali setelah 90-120 hari setelah pemeriksaan kebuntingan terakhir. Dengan demikian dapat untuk menghindari inseminasi ulang pada sapi yang sedang bunting. Tenaga pelaksana pemeriksa kebuntingan biasanya diangkat dari antara inseminator yang sudah cukup terampil yang sebelumnya mengikuti kursus pemeriksa kebuntingan. Metode atau cara yang banyak dilakukan untuk memeriksa kebuntingan pada sapi yaitu dengan cara perabaan per rektal. Bila dalam pelaksanaannya dilakukan dengan cermat maka akan menghasilkan hasil yang akurat. Peranan Hornom Selama Kebuntingan Kelenjar hormon yang berperan selama kebuntingan diantranya adalah : 1. Corpus luteum yang menghasilkan hormon progesteron, fungsinya untuk memelihara kebuntingan, pada akhir kebuntingan hormon ini kadarnya berkurang dan akan menurun tajam menjelang kelahiran. Hormon progesteron ini menghambat sekresi hormon LH sehingga tidak terjadi pemasakan corpus luteum selama kebuntingan.

23

2. Plasenta

yang

menghasilkan

hormone

progesteron

dan

estrogen,

Progesteron berada dalam darah plasenta dan organ yang menjadi sasarannya adalah organ uterus, sehingga uterus akan menjadi tenang selam kebuntingan dan fetus nyaman berada dalam uterus. Estrogen bekerja timbal balik dengan progesteron. Sekresi estrogen meningkat sesuai dengan umur kebuntingan dan lebih meningkat menjelang kelahiran. 3. Folikel yang menghasilkan hormone estrogen. Peranan folikel sebagai penghasil hormon estrogen hanya Nampak nyata pada ternak kuda bunting. Sedangkan pada ternak lainnya folikel ini tidak tumbuh atau kadang kala dijumpai pada sapi bunting. 4. Hypothalamus dan hypophysa merupakan kelenjar hormon sebagai pengatur ketiga hormon diatas. Salah satu hormon yang dihasilkan berupa hormon oxsytocin yang pada menjelang kelahiran akan menyebabkan kontraksi urat daging licin uterus untuk memudahkan kelahiran. F. Kelahiran Kelahiran atau sering pula disebut dengan partus adalah suatu proses fisiologi pada saluran reproduksi ternak betina terutama pada uterus yang bunting dalam usaha mengeluarkan fetus dan plasentanya melalui saluran kelahiran (Partodiharjo, 1982). Tanda-tanda kelahiran pada sapi : 1. Terjadi pengendoran ligamen pada daerah sekitar panggul, perut, pangkal ekor, dan kadang kala ekor akan meninggi. 2. Vulva membengkak, lunak dan lemas. 3. Ternak menjadi gelisah. 4. Kelenjar susu membesar dan membengkak pada waktu menjelang kelahiran. 5. Cervix membuka dan lendir kebuntingan yang kental dari servix menjadi lebih encer seperti madu dan keluar dari cervix dalam volume yang banyak. Letak fetus normal dan abnormal

24

Keadaan wajar anak sapi pada waktu dilahirkan teletak dengan posisi yang memungkinkan untuk melewati pintu gerbang pelvis dengan hambatan yang seringan mungkin. Posisi tersebut yaitu kedua kaki depan telentang, dan kepala serta leher lurus sejalan dengan kaki tersebut. Jadi tulang belulang fetus, terutama tulang belikat (scapula) dan tulang-tulang panjang, berposisi sedemikian rupa sehingga sumbu memanjang akan melewati pintu gerbang pelvis. Demikian pula bila kepala dan leher terletak bersama dengan kaki depan sejajar dengan sumbu tulang panjang. Dari posisi yang normal ini kepala dan kaki depan akan terkulai kebawah waktu keluar dari vulva dan pelvis anak sapi terangkat keatas sedangkan kaki depan merentang kebelakang. Pada posisi abnormal tulang belulang kaki-kaki anak sapi seakan terjepit atau terkunci pada tulang-tulang induknya, sehingga mempersulit keluarnya fetus atau sama sekali tidak dapat keluar. Menurut Akoso (1996) mengatakan bahwa 95% dari seluruh kelahiran pada sapi terjadi dengan letak fetus yang normal, dan bila disertai dengan ukuran anak sapi dan induk yang normal biasanya kelahiran tidak mengalami kesulitan. Namun demikian, dari sejumlah 5 % letak fetus abnormal kesulitan kelahiran akan dialaminya. Letak abnormal disebabkan karena kaki depan atau kepala membengkok ke belakang atau bagian pantat terletak pada sisinya atau posisinya memutar, jadi sumbu memanjang dari kepala, scapula, pelvis atau bagian badan mengarah ke keadaan letak anak sapi yang tidak memungkinkan untuk melewati pintu gerbang pelvis. Bila terjadi peristia demikian, pertolongan dokter hewan sangat dibutuhkan. Bila posisi abnormal dapat diperbaiki, sapi akan dapat melahirkan dengan sendirinya. Bila posisi fetus tak

25

dapat dirubah, dokter hewan terpaksa harus memotong-motong anak sapi dan mengeluatkan potongan-potongan anak sapi itu untuk menolong induknya. Menghadapi Kelahiran Proses kelahiran merupakan fase yang kritis dan penting dalam kelangsungan kehidupan ternak melanjutkan keturunannya. Diharapkan setiap terjadi kebuntingan ternak dapat melahirkan anak yang normal dan hidup. Pada induk yang sehat dan normal dalam proses kelahirannya tidak memerlukan bantuan atau pertolongan kelahiran. Sedangkan pertolongan kelahiran baru diberikan bila induk yang melahirkan mengalami kesulitan dan bila induk menyimpang dari tanda-tanda kelahiran serta waktu stadium kelahiran yang tidak normal. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi kelahiran adalah : 1. Pada waktu menjelang kelahiran yaitu a. Mempersiapkan induk untuk melahirkan dengan lancar, aman dan nyaman yaitu dengan memberi keleluasaan bergerak pada waktu ternak bunting sampai beberapa hari sampai menjelang kelahiran. Gerak badan ini penting untuk dilakukan secara rutin setiap hari. b. Mempersiapkan tempat atau kandang melahirkan dan peralatannya untuk menghadapi proses kelahiran. Kandang ini harus memberikan suasana aman dan nyaman bagi induk untuk melahirkan. Kandang harus bersih, tersedia pakan yang bergizi dan air minum yang cukup, serta lantai kandang yang diberi alas jerami kering. Kandang juga harus dilengkapi dengan peralatan untuk pertolongan kelahiran bila induk sulit melahirkan dan membutuhkan pertolongan. Peralatan tersebut diantaranya kain lap bersih, yodium tincture, tali, benang besar, gunting tajam dan bersih, sabun cuci, pisau tajam dan ember. 2. Pada waktu proses kelahiran yaitu: a. Mengamati dengan seksama tanda-tanda kelahiran. b. Mengamati setiap gerak gerik dan tingkah laku induk pada waktu melahirkan.

26

c. Pada proses kelahiran normal tidak perlu dilakukan pertolongan kelahiran. d. Pada proses kelahiran tidak normal seperti anak lama keluar dari induknya maka bisa dilakukan penarikan anak dengan hati-hati dan pelan-pelan. Sewaktu melakukan penarikan maka sesuaikan dengan irama perejanan induk hindarkan pemaksaan. e. Bila uterus lemah kotraksinya dapat diberikan penyuntikan hormon oxytocin dengan syarat sebelumnya cervix sudah dalam keadaan terbuka. f.Bila saat dilahirkan tali pusar belum putus maka dapat dilakukan bantuan pemotongan tali pusar. Cara pemotongan adalah dengan mengikat pusar berjarak kira-kira 5 cm dari perut induk dan buat simpul tali lainnya ke ujung tali pusar dengan jarak antara 2-3 cm lalu guntinglah tepat di bagian tengahnya di antara kedua simpul tadi dengan gunting yang bersih dan setelah tali pusar dipotong, selanjutnya olesi bekas pengguntingan tadi dengan yodium atau obat desinfektan lainnya untuk mencegah infeksi. 3. Selesai proses kelahiran yaitu: a. Menangani anak yang baru saja dilahirkan. Dengan menggunakan kain lap yang bersih dan sudah dibasahi air segera anak di lap pada bagian hidung dan muka selanjutnya sekujur tubuh di lap hingga bersih. b. Membantu memberikan pernafasan buatan bila anak yang lahir mengalami kesulitan bernafas yaitu dengan jalan menggerak-gerakkan kaki depan. c. Membantu anak untuk menemukan atau mendapatkan puting induk untuk menyusui kolostrum induk. d. Mencatat dan menimbang berat lahir anak. e. Menangani induk yang selesai melahirkan. Induk yang baru saja melahirkan dibersihkan terutama dibagian vulva. Memberikan minuman yang bersih dan menyediakan pakan yang cukup di kandang. f.Membersihkan kandang yang melahirkan terutama jerami yang baru selesai digunakan sebagai alas melahirkan, mencuci kandang juga

27

membersihkan

semua

peralatan

yang

telah

digunakan

dan

mengembalikan pada tempatnya semula.

G. Inseminasi Buatan

Inseminasi buatan atau kawin suntik adalah suatu cara atau tehnik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu, yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut insemination gun. Tahapan-tahapan dalam memproduksi semen beku diantaranya yaitu: 1. Mempersiapkan sapi pejantan yang akan diinseminasi yang umurnya 15-18 bulan, tingginya 123 cm dan beratnya minimal 350 kg.

28

2. Persiapan vagina buatan yang suhunya mencapai 42 0C, vagina buatan ini harus licin, karena itu gunakan vaseline agar licin seperti vagina yang asli. 3. Penampungan semen sapi pejantan, sapi pejantan dan spai betina disatukan kemudian sapi-sapi itu akan melakukan fisin (pemanasan sebelum kawin), bila penis jantan telah kelihatan merah, tegang dan kencang, maka penis langsung dimasukan ke vagina buatan. 4. Kemudian sperma dalam vagina buatan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. a. b. c. d. Bila sperma berwarna hijau, ada kotoran yang terdorong Bila sperma berwarna merah, segar, venis teriritasi Bila sperma berwarna cokelat, venis ada yang luka Bila sperma berwarna krem susu bening, maka itulah sperma yang bagus 5. Penentuan konsentrasi semen segar. 6. Proses pengenceran sperma. 7. Proses filing dan sealing, memasukan sperma ke dalam ministrow isi I strow 0,25 CC. 8. Proses pembekuan. 9. After throwing dan water intubator test. Tujuan Inseminasi Buatan 1. Memperbaiki mutu genetika ternak. 2. Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ke tempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya. 3. Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama. 4. Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur. 5. Mencegah penularan/penyebaran penyakit kelamin. Keuntungan Inseminasi buatan: 1. Sangat mempertinggi penggunaan pejantan-pejantan unggul. 2. Pemanfaatan semaksimal mungkin terhadap keunggulan genetik dari daya guna pejantan.

29

3. Penghematan biaya, menghindari bahaya dan menghemat tenaga pemeliharaan pejantan bagi ternak kecil. 4. Semen beku yang digunakan dalam inseminasi buatan berasal dari pejantan unggul hasil seleksi yang amat ketat. 5. Dapat menghindari terjadinya inbreeding. 6. Pemilihan pejantan yang baik lebih mudah dan cepat dilaksanakan. Kerugian Inseminasi buatan: 1. Bila pelaksanaan tidaka tepat akan menyebabkan eisiensi reproduksi menjadi rendah. 2. Inseminator yang ceroboh dapat menyebabkan penularan penyakit kelamin. 3. 4. 5. Inseminasi buatan memungkinkan sebagai alat penyebar abnormalitas genetik. Perdagangan pejantan sebagai bibit menjadi berkurang. Inseminasi buatan belum dapat digunakan dengan baik untuk semua jenis dan bangsa ternak.

30

BAB III. KESIMPULAN

Sistem reproduksi pada sapi perah ada 2 yaitu jantan dan betina. Sistem reproduksi jantan secara umum terdiri dari testis, saluran reproduksi sekunder (vas deferens, epididymis, vas deferens dan penis, kelenjar pelengkap (vesikularis seminalis, kelenjar prostate, kelenjar cowperi)), serta organ kelamin luar yaitu scrotum dan praeputium. Sistem reproduksi betina yaitu ovarium, saluran reproduksi sekunder (oviduct atau tuba falopi, uterus, cervix, vagina, dan vestibulum), organ kelamin luar (clitoris dan vulva). Pubertas yaitu kematanagn alat kelamin atau dewasa kelamin yang terjadi akibat aktivitas dalam ovarium. Kecepatan tercapainya umur dewasa kelamin tergantung dari jenis/bangsa sapi, gizi, cuaca, dan penyakit. Pada sapi siklus birahi dibagi dalam 4 tahap yaitu estrus, Proestrus, metaestrus, dan diestrus. Sapi betina yang mulai dewasa akan mengalami periode siklus birahi biasanya pada umur 1015 bulan. Periode daur birahi sapi antara 18-24 hari. Hewan yang tidak dalam masa birahi akan menolak kawin sedangkan pada hewan yang tidak bunting periode birahi dimulai sejak permulaan birahi sampia kepermulaan berikutnya. Fertilisasi, implantasi, plasentasi adalah suatu peristiwa bersatunya spermatozoa dengan sel ovum atau sel telur.

31

Periode kebuntingan adalah periode kehidupan ternak betina mulai dari fertilisasi sampai kelahiran individu baru yang hidup dan normal. Terdapat 3 periode dalam kebuntingan yaitu periode ovum, periode embrio, dan periode fetus. Kelahiran atau sering pula disebut dengan partus adalah suatu proses fisiologi pada saluran reproduksi ternak betina terutama pada uterus yang bunting dalam usaha mengeluarkan fetus dan plasentanya melalui saluran kelahiran. Inseminasi buatan atau kawin suntik adalah suatu cara atau tehnik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu, yang berasal dari ternak jantan kedalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut insemination gun. DAFTAR PUSTAKA Akoso, B. T. Dr. 1996. Kesehatan Sapi. Penerbit Kanisius: Yogyakarta. Anonim. 2012. Tehnik Inseminasi Buatan Pada Sapi. Didownload dari http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/27554/B10mam_B AB%20II.%20Tinpus.pdf?sequence=8. (Diakses tanggal 4 September 2012 pukul 12.18 WIB). Anonim. 2012. Makalah Biologi Tentang Inseminasi Pada Sapi. Didownload dari http://www.anakciremai. com / 2008 / 07 / makalah - biologi - tentanginseminasi-pada.html. (Diakses tanggal 4 September 2012 pukul 12.40 WIB). Djanuar. R. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi.Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. Mugni Noor Proses Fertilisasi Sampai Implantasi.htm. (Diakses tanggal 5 Sepetember 2012 pukul 17.15 WIB). Partodihardjo, S. 1982. Ilmu Reproduksi Hewan. Penerbit Mutiara: Jakarta. Riyanto. Joko. Ir. M.P. Diktat Kuliah Reproduksi Ternak. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian. UNS: Surakarta.

32

LAMPIRAN

33

Hasil wawancara di Peternakan Sapi Perah Murni Karanganyar Dengan Bapak Din Hari Senin, tanggal 10 September 2012 pukul 14.50 WIB. Di peternakan ini terdapat 20 ekor sapi yang rata-rata beratnya berkisar 400-450 kg. Dulunya terdapat hampir 300 ekor sapi, karena faktor saling memakan maka satu persatu sapi mati yang disebabkan karena kekurangan bahan pakan. Pakan yang diberikan yaitu hijauan (kalanjana dan jerami fermentasi) dan konsentrat yang masing-masing diberikan sebanyak 2 kali setiap hari (pagi dan siang). Pakan yang diberikan sebanyak 10 kg/ekor/hari. Sapi yang berproduksi sebanyak 15 ekor sapi yang setiap harinya menghasilkan paling banyak 15 liter dan rata-rata 10-12 liter setiap ekornya. Sapi yang berproduksi yang telah beranak 1-4 kali. Waktu pemerahan dilakukan 2 kali dalam sehari yaitu pagi dan siang hari, hal ini bersamaan dengan pemberian konsentrat. Pagi hari pada pukul 03.00 WIB dan siang hari pada pukul 11.30 WIB. Sapi yang birahi memiliki ciri-ciri yaitu 3A (Abang, Aboh, Anget). Sapi bunting sampai melahirkan sekitar 9-10 bulan.

34

Foto

35

Anda mungkin juga menyukai