Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Ajaran islam dibawa Nabi Muhammad yang pada awal dilaksanakan secara murni. Ketika Rasullah wafat, cara beramal dan beribadah para sahabat dan tabiin msih tetap memelihara dan membina ajaran Rasul. Pada abad pertama Hijriyah mulai ada perbincangan tentang teologi. Pada abad ke-5 Hijriyah atau 13 Masehi barulah muncul tarekat sebagai kelanjutan kegiatan kaum sufi. Hal ini ditandai dengan setiap silsilah nya selalu dihubungkan dengan nama pendirinya yang lahir pada abad itu. Sebagaimana yang telah diketahui bahwasanya pada tahun tahun terakhir abad pertama Hijriyah kaum Muslimin menggeluti problematika Jabar dan ikhtiyar. Tentang hal ini ada dua sikap: menerima dan menolak, Misalnya, satu kelompok lebih condong untuk memegangi pendapat tentang adanya kebebasan kehendak. Mereka disebut aliran Qadariyah karena mereka menetapkan bahwa manusia memiliki kemampuan atas perbuatan-perbuatannya. Sedangkan kelompok yang lain berpendapat bahwa manusia terpaksa, tidak bebas memilih. Karena manusia tidak mempunyai kehendak dan kemampuan, tidak bisa apa-apa kecuali yang dikehendaki oleh Allah, tidak mempunyai kemampuan untuk mengerjakan sesuatu, tetapi semua perbuatannya diciptakan oleh Allah. Mereka disebut aliran Jabariyah. Pada awalnya ada tiga kelompok yang mengorbankan problematika ini, dua di antaranya adalah Qadariyah dan satu Jabariyah. Mereka dikenal berani mengritik para khalifah Bani Umayah dan menolak banyak upaya para kahlifah tersebut. Mereka diberi lisan yang cakap untuk berbicara dan argumentasi yang kuat. Mereka berjuang dalam rangka mempertahankan pendapat, sampai menyerahkan nyawa mereka sebagai saksi saksi kebenaran dari prinsip prinsip mereka.

B. Pembahasan masalah 1. Apa saja yang melatar belakangi munculnya aliran jabariyah dan Qadariyah? 2. Siapa saja yang menjadi tokoh aliran Jabariyah dan Qadariyah? 3. Ajaran-ajaran dan perkembangan yang terjadi dalam aliran Jabariyah dan Qadariyah?

C. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui asal usul kemunculan aliran Jabariyah dan Qadariyah. 2. Untuk mengetahui tokoh-tokoh yang melopori munculnya aliran Jabariyah dan aliran Qadariyah. 3. Untuk mengetahui ajaran ajaran yang terdapat dalam aliran Jabariyah dan aliran Qadariyah. 4. Untuk mengetahui perkembangan aliran Jabariyah dan aliran Qadariyah

BAB II PEMBAHASAN

1. Aliran Jabariyah Dan Aliran Qadariyah A. Asal-Usul Aliran Jabariyah Kata Jabariyah berasal dari kata jabara yang berarti memaksa. Dengan kata lain, manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. Menurut Harun Nasution Jabariyah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah1. Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia, tetapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya, di sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat, karena tidak memiliki kemampuan. Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya penjelasan yang sarih. Ada pendapat yang mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir Sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Dan dalam situasi demikian masyarakat arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan di sekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. B. Asal-Usul Aliran Qadariyah Qadariyah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata qadara yang artinya kemampuan atau kekuatan2. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dipahami bahwa Qadariyah dipaksa untuk nama suatu aliran yang memberi penekanan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dalam hal ini, Harun Nasution menegaskan bahwa kaum Qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan. Latar belakang timbulnya Qadariyah ini sebagai isyarat menentang kebijaksanaan politik Bani Umayah yang dianggapnya kejam. Apabila ketetapan Jabariyah berpendapat bahwa khalifah Bani Umayah membunuh orang, hal itu karena sudah ditakdirkan Allah SWT. Mereka mengatakan bahwa kalau Allah SWT. Itu adil, maka Allah SWT. Akan menghukum orang yang bersalah dan memberi pahala kepada orang

1 2

Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta. 2010:25 Sri Mulyati , Mengenal dan memahami tarekat-tarekat muktabarah di indonesia. Jakarta 2005

hlm 27

yang berbuat baik. Manusia harus bebas dalam menetukan nasibnya sendiri dengan memilih perbuatan yang baik atau yang buruk3.

2. Tokoh-Tokoh Penyebar Aliran Jabariyah Dan Qadariyah A. Tokoh aliran Jabariyah 1) Abu jahm as shafwan Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jaham bin Shafwan. Ia termasuk Maulana Bani Rasib, juga seorang tabiin berasal dari Khurasan, dan bertempat tinggal di Khuffah, ia seorang dai yang fasih dan lincah . Ia menjabat sebagai sekretaris Harits bin Surais seorang mawali yang menentang pemerintahan Bani Umayah di Khurasan. Ia ditawan dalam pemberontakan dan dibunuh pada tahun 128H. Ia dibunuh karena masalah politik dan tidak ada kaiatannya dengan agama. 2) Jad bin dirham Jad adalah seorang Maulana Bani Hakim, tinggal di Damaskus. Ia dibesarkan di dalam lingkungan orang Kristen yang senang membicarakan teologi. Semula ia dipercaya untuk mengajar di lingkungan Bani Umayah, tetapi setelah tampak pikiran-pikirannya yang kontroversial, Bani Umayah menolaknya. Kemudia Al-Jad lari ke Kufah dan disana ia bertemu dengan Jahm untuk dikembangkan dan disebarluaskan. B. Tokoh aliran Qadariyah Tokoh pemikir pertama kali yang menyatakan paham Qadariyah adalah Ma'bad alJauhani. Yang kemudian diikuti oleh Gailan al-Damasyqi. Sementara itu Ibnu Nabatah sebagaimana dikemukakan oleh Ahmad Amin berpendapat bahwa paham Qadariyah itu pertama kali muncul dari seorang asal Irak yang mengaut Kristen lagi. Dari tokoh inilah Ma'bad al-Jauhani dan Ghailan al-Damasyqi menerima paham Qadariyah. Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahqa doktrin Qadariyah pada dasarnya menyatakan bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendakya sendiri. Manusia mempunyai kewenagan untuk melakuakan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang ia lakukan dan juga behak pula memperoleh hukuman atas kejahatan yang diperbuat.

Ibid., h. 28 4

3. Ajaran-Ajaran dan Perkembangan Aliran Jabariyah Dan Qadariyah A. Ajaran dan perkembangan Aliran Jabariyah Ajaran-ajaran Jabariyah dapat dibedakan berdasarkan menjadi dua kelompok, yaitu ekstrim dan moderat. Pertama, aliran ekstrim. Jahm bin Shofwan berpendapat bahwa manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. Di antara pendapat Jahm adalah : Surga dan neraka tidak kekal, dan yang kekal hanya Allah. Kalam Tuhan adalah makhluk. Allah tidak mempunyai keserupaan dengan manusia seperti berbicara, mendengar, dan melihat, dan Tuhan juga tidak dapat dilihat dengan indera mata di akherat kelak. Aliran ini dikenal juga dengan nama al-jahmiyah atau jabariyah Khalisah. Kemudian Jaad bin Dirham, menjelaskan tentang ajaran pokok dari Jabariyah adalah : Al-Quran adalah makhluk dan sesuatu yang baru dan tidak dapat disifatkan kepada Allah. Allah tidak mempunyai siifat yang serupa dengan makhluk, seperti berbicara, melihat dan mendengar. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala hal. Dengan demikian ajaran Jabariyah yang ekstrim tidak mempunyai kehendak dan kemauan bebas sebagaimana dimiliki oleh paham Qadariyah. Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari scenario dan kehendak Allah. Segala akibat, baik dan buruk yang diterima oleh manusia dalam perjalanan hidupnya adalah merupakan ketentuan Allah Kedua, ajaran Jabariyah yang moderat adalah Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik itu positif atau negative, tetapi manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Manusia juga tidak dipaksa, tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan Tuhan4.

Harun Nasution, op.cit, hal 30

B. Ajaran dan Perkembangan aliran Qadariyah Ajaran Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya. Manusia sendirilah yang melakukan baik atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbuatan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. Paham Qadariyah dibawah ke dalam kalangan orang orang arab oleh orang islam yang bukan berasal dari arab padang pasir, hal itu menimbulkan kegoncangan dalam pemikiran mereka yang sebelumnya hidup serba sederhana dan jauh dari pengetahuan. Paham Qadariyah itu mereka anggap bertentangan dengan ajaran islam Paham takdir yang dikembangkan oleh Qadariyah berbeda dengan konsep yang umun dipakai oleh bangsa Arab ketika itu, yaitu paham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu. Dalam perbuatannya, manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah ditentukan sejak zaman azali terhadap dirinya. Dengan demikian takdir adalah ketentuan Allah yang diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta isinya. Dengan demikian bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memperoleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya.

BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan dan penjelasan pada Bab II dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Awal masuknya aliran Jabariyah dan Qadariyah ke masyarakat Arab dalam kehidupan yang sangat sederhana dan jauh dari pengetahuan. 2. Tokoh tokoh penyebar aliran Jabariyah dan Qadariyah antara lain: Mabad al-Juhani, Ghailan al-Damasyqi, Jahm bin Shofwan dan Jad bin dirham. 3. Ajaran dari aliran Qadariyah adalah manusia mempunyai kebebasan dan kemerdekaan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Jadi manusia bebas dan mempunyai kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan perbuatannya. 4. Ajaran dari aliran Jabariyah adalah manusia tidak mempunyai kebebasan dan kemerdekaan dalam mewujudkan perbuatan dan kehendaknya. Sehingga dalam artian manusia dalam paham ini terikat dengan kehendak Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Harun. 2010. Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: Universitas Indonesia Press Mulyati,Sri. 2005. Mengenal dan memahami tarekat-tarekat muktabarah di Indonesia. Jakarta: Kencana file:///G:/aliran-dalam-ilmu-kalam-qadariyah-dan.htmlh