Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH KEBIDANAN Vaginitis sebagai Awal Gangguan Reproduksi

Oleh : Navilla Y Afanin M Oktalavia Dwi N R Dinta Ardeli M Septian Vidya P 115130100111035 115130100111036 115130101111026 115130101111041

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS BRAWIAYA 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Vaginitis adalah gangguan yang dapat menyebabkan infeksi atau peradangan vagina. Para vaginitis infeksi dapat disebabkan oleh organisme seperti bakteri, virus, ragi atau beberapa bahan kimia yang hadir dalam krim, semprotan dan pakaian. Ada kasus yang vaginitis adalah hasil dari hubungan seksual lewat organisme untuk satu pasangan ke yang lain. Vaginitis juga bisa disebabkan dari perubahan hormon atau reaksi alergi seperti iritasi. Faktor lain yang menyebabkan kondisi ini adalah lecet vagina, Gejala yang paling sering ditemukan pada penderita vaginitis & vulvitis adalah keluarnya cairan abnormal dari vagina. Dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak, baunya menyengat atau disertai gatal-gatal dan nyeri. Cairan yang abnormal sering tampak lebih kental dibandingkan cairan yang normal dan warnanya bermacam-macam. misalnya bisa seperti keju, atau kuning kehijauan atau kemerahan. Infeksi vagina karena bakteri cenderung mengeluarkan cairan berwarna putih, abu-abu atau keruh kekuningan dan berbau amis. Setelah melakukan hubungan seksual atau mencuci vagina dengan sabun, bau cairannya semakin menyengat karena terjadi penurunan keasaman vagina sehingga bakteri semakin banyak yang tumbuh. Vulva terasa agak gatal dan mengalami iritasi. Infeksi jamur menyebabkan gatal-gatal sampai hebat dan rasa terbakar pada vulva dan vagina. Kulit tampak merah dan terasa kasar. Dari vagina keluar cairan kental seperti keju. Infeksi ini cenderung berulang pada betina penderita diabetes dan betina yang mengkonsumsi antibiotik. Infeksi karena trichomonas vaginalis menghasilkan cairan berbusa yang berwarna putih, hijau keabuan atau kekuningan dengan bau yang tidak sedap. Gatal-gatalnya sangat hebat. Cairan yang encer dan terutama jika mengandung darah, bisa disebakan oleh kanker vagina, serviks (leher rahim)

atau endometrium. Polip pada serviks bisa menyebabkan perdarahan vagina setelah melakukan hubungan seksual. Rasa gatal atau rasa tidak enak pada vulva bisa disebabkan oleh infeksi virus papiloma manusia maupun karsinoma in situ (kanker stadium awal yang belum menyebar ke daerah lain). Luka terbuka yang menimbulkan nyeri di vulva bisa disebabkan oleh infeksi herpes atau abses. Luka terbuka tanpa rasa nyeri bisa disebabkan ole kanker atau sifilis. Kutu kemaluan (pedikulosis pubis) bisa menyebabkan gatal-gatal di daerah vulva.

1.2 Tujuan

Memahami tentang Vaginitis , Gejala , Kondisi patologis dan penanganannnya

Mengetahui klasifikasi Vaginitis Mengetahui perbedaan antara anatomi normal vagina dengan anatomi abnormal vagina

1.3 Manfaat

Dapat mengetahui gejala dan penanganan Vaginitis (Radang Vagina) pada pet animal terutama pada anjing.

BAB II ISI 2.1 Definisi Vaginitis adalah istilah umum untuk pembengkakan akibat infeksi pada vagina. Vaginitis ini biasanya berjalan secara kronis sehingga anjing-anjing yang penderita vaginitis tidak memperlihatkan gejala yang spesifik yang mudah di kenali oleh pemilik yang tidak memopunyai latar belakang pengetahuan di bidang kesehatan hewan. Secara anatomi, posisi vagina berada tepat dibawah anus pada saat hewan itu berdiri. Oleh sebab itu biasanya mikroba asal anuslah yang sering di dapati menjadi penyebab vaginitis ini. 2.2 Penyebab Radang Vagina Radang vagina hal ini dapat terjadi akibat beberapa penyebab antara lain perlukaan pada mukosa, pembengkakan pada klitoris bahkan tumor. jika infeksi mikrobial yang sebagian berasal dari anus itu dapat stabil di vagina dan masuk kerahim pada saat birahi (estrus) dimana leher rahim yang biasa disebut serviks akan terbuka secara normal mengikuti siklus hormon reproduksi terjadi maka masuknya agen penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan rahim yang biasa disebut sebagai endometritis atau pyometritis. 2.3 Gejala- gejala dari Radang Vagina Gejala klinis yang sering terlihat adalah vagiana anjing-anjing tersebut akan terlihat membesar dan merah yang harus dibedakan dengan pembengkakan akibat birahi, menghasilkan cairan baik bening maupun bernanah bahkan berdarah yang keluar dari vagina secara terus menerus.

2.4 Diagnosa Dalam penegakan diagnosa vaginitis dan tingkat keparahannya ini biasanya hewan hewan tersebut sebelumnya diperiksa dengan pengamatan dari dekat daerah kelamin luar yang diikuti dengan perabaan-perabaan di daerah perut dimana posisi rahim anjing itu berada. Untuk tingkatran vaginitis ringan, pembengkakan hanya terjadi pada kelamin luar berserta terlihatnya cairan hasil mekanime pertahan tubuh terhadap agen penyakit. Untuk tingkatan vaginitis yang parah biasanya selain vagina yang membengkak, terjadi juga peradangan pada rahim anjing tersebut. Untuk penegasan diagnosa biasanya dilakukan pemeriksaan secara laboratorium. Bahan yang di analisa adalah cairan yang berada di permukaan leher rahim dan darah. Pengambilan cairan ini dilakukan dengan cara swab dengan mempergunakan stenlesteel speculum untruk memperkecil kontaminasi dari luar sedeangkan pengambilan darah dengan spoit dilakukan pada pembuluh darah balik (vena) Hasil swab akan di gunakan sebagai bahan pembiakan mikroba sedangkan darah untuk melihat komposisi darah dalam hal ini sel darah putih. Penggabungan hasil biakan mikroba dan perhitungan jumlah darah sel putih dapat digunakan untuk mendiagnosa keberadaan vaginitis, endometritis dan pyometritis. Jumlah sel darah putih lebih dari 30.000 keatas biasanya mengindikasikan kejadian vaginitis sudah menjalar ke rahim. Jika terjadi bentuk piyometritis tertutup maka bentuk uterus sudah menggembung akibat penumpukan nanah yang tidak dapat keluar dari saluran reproduksi dan jika berlanjut dapat menyebabkan kematian pada hewan tersebut. Pada rumah sakit hewan yang cangih, diagnosa ini dapat dipertegas lagi dengan alat bantu diagnosa seperti ultra sonografi atau ronsen. 2.5 Anatomi Normal Vagina pada Anjing

Gambar 1. Anatomi vagina normal 2.6 Anatomi Anjing yang mengalami Vaginitis

Gambar 1. Anatomi vagina terjadi vaginitis 2.7 Jenis-Jenis Vaginitis Candida (Infeksi Yeast) Infeksi jamur ini disebabkan oleh ragi terlalu banyak dalam tubuh. Jenis yang paling umum kandida adalah candida albicans. Ini adalah jamur yang hidup di permukaan tubuh . Kembali beberapa contoh bahwa akan ada pertumbuhan berlebih dari kandida seperti di musim hangat atau daerah lembab. Ini jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan infeksi contoh itu adalah infeksi jamur vagina. Infeksi ini terjadi di daerah lain dari tubuh yang lembab dan hangat. Bakteri Vaginitis Vaginitis bakteri penyebab keputihan yang susu dan tipis dan memiliki bau amis. Bau ini menjadi lebih jelas setelah melakukan hubungan suatu. Karena kondisi ini adalah dari infeksi bakteri, ini biasanya diobati dengan antibiotik. Vagina A memiliki campuran beberapa jenis bakteri jahat dan baik. Ketika bakteri jahat mengalikan bakteri baik akan berusaha untuk membunuh. Sementara ini bekerja sebagian besar kali, pada waktu bahwa bakteri jahat akan menang infeksi akan terjadi.

Ada keadaan tertentu yang tubuh akan mengganggu bakteri baik dari menghancurkan bakteri jahat. Tubuh membunuh bakteri baik yang menyebabkan bakteri jahat untuk bebas berkembang biak menyebabkan infeksi seperti bakteri vaginitis. Penyebab lain vaginitis bakteri adalah negara lemah dari sistem kekebalan tubuh. Jika sistem kekebalan tubuh lemah, bakteri yang baik tidak akan cukup untuk melawan yang buruk. Trikomoniasis Vaginitis Hal ini disebabkan oleh protozoon kecil dikenal sebagai Trichomonas vaginalis. Ini merupakan PMS (penyakit menular seksual). Trikomoniasis adalah penyakit menular dapat disembuhkan pada orang muda yang aktif secara seksual dan segala usia perempuan. Untuk alasan yang tidak diketahui, seseorang dapat memiliki organisme ini waktu yang lama tanpa tanda-tanda memiliki mereka sementara orang lain akan mengembangkan gejala hampir seketika setelah memperolehnya. Chlamydia Vaginitis Ini adalah vaginitis PMS. Perempuan tidak menunjukkan gejala apapun kecuali pendarahan ringan setelah hubungan seksual. Hal ini biasanya mempengaruhi wanita di bawah 30 dengan beberapa mitra seksual. Viral Vaginitis Ini adalah jenis lain dari vaginitis yang merupakan akibat dari infeksi virus. Salah satu bentuk dari hal ini adalah HSV dikenal sebagai herpes. Gejala utama adalah nyeri dengan lesi pada vulva. 2.8 Etiologi Ekosistem vagina normal adalah sangat kompleks. Lactobacillus merupakan spesies bakteri yang dominan (flora normal) pada vagina, tetapi ada juga bakteri lainnya yaitu bakteri aerob dan anaerob. Pada saat bakterial vaginosis muncul, terdapat pertumbuhan berlebihan dari beberapa spesies bakteri yang ditemukan, dimana dalam keadaan normal ada dalam konsentrasi rendah. Penyebab bakterial vaginosis bukan organisme tunggal. Pada suatu analisis dari data flora vagina memperlihatkan bahwa ada 4

kategori dari bakteri vagina yang berhubungan dengan bakterial vaginosis, yaitu : Gardnerella vaginalis Kuman ini bersifat fakultatif, dengan produksi akhir utama pada fermentasi berupa asam asetat, banyak galur yang juga menghasilkan asam laktat dan asam format. Ditemukan juga galur anaerob obligat. Dan untuk pertumbuhannya dibutuhkan tiamin, riboflavin, niasin, asam folat, biotin, purin, dan pirimidin. G. vaginalis dapat diisolasi dalam konsentrasi yang tinggi tanpa tanda-tanda infeksi vagina. Saat ini dipercaya bahwa G. vaginalis berinteraksi dengan bakteri anaerob dan hominis menyebabkan bakterial vaginosis. Peneliti lain memperkuat adanya hubungan antara bakteri anaerob dengan bakterial vaginosis. Bacteroides Spp paling sering dihubungkan dengan bakterial vaginosis. Mikroorganisme anaerob yang lain yaitu Mobilincus Spp, merupakan batang anaerob lengkung yang juga ditemukan pada vagina bersama-sama dengan organisme lain yang dihubungkan dengan bakterial vaginosis. Mobilincus Spp hampir tidak pernah ditemukan pada hewan. 2.9 Patogenesis Salah satu komponen lengkap dari ekosistem vagina adalah mikroflora vagina endogen, yang terdiri dari gram positif dan gram negatif aerobik, bakteri fakultatif dan obligat anaerobik. Aksi sinergetik dan antagonistik antara mikroflora vagina endogen bersama dengan komponen lain, mengakibatkan tetap stabilnya sistem ekologi yang mengarah pada kesehatan ekosistem vagina. Beberapa faktor / kondisi yang menghasilkan perubahan keseimbangan menyebabkan ketidakseimbangan dalam ekosistem vagina dan perubahan pada mikroflora vagina. Dalam keseimbangannya, ekosistem vagina didominasi oleh bakteri Lactobacillus yang menghasilkan asam organik seperti asam laktat, hidrogen peroksida (H2O2), dan bakteriosin. Asam laktat seperti organic acid lanilla yang dihasilkan oleh Lactobacillus, memegang peranan yang penting dalam memelihara pH tetap di bawah 4,5

(antara 3,8 - 4,2), dimana merupakan tempat yang tidak sesuai bagi pertumbuhan bakteri khususnya mikroorganisme yang patogen bagi vagina. Kemampuan memproduksi H2O2 adalah mekanisme lain yang menyebabkan Lactobacillus hidup dominan daripada bakteri obligat anaerob yang kekurangan enzim katalase. Hidrogen peroksida dominan terdapat pada ekosistem vagina normal tetapi tidak pada bakterial vaginosis. Mekanisme ketiga pertahanan yang diproduksi oleh Lactobacillus adalah bakteriosin yang merupakan suatu protein dengan berat molekul rendah yang menghambat pertumbuhan banyak bakteri khususnya Gardnerella vaginalis. G. vaginalis sendiri juga merupakan bakteri anaerob batang variabel gram yang mengalami hiperpopulasi sehingga menggantikan flora normal vagina dari yang tadinya bersifat asam menjadi bersifat basa. Perubahan ini terjadi akibat berkurangnya jumlah Lactobacillus yang menghasilkan hidrogen peroksida. Lactobacillus sendiri merupakan bakteri anaerob batang besar yang membantu menjaga keasaman vagina dan menghambat mikroorganisme anaerob lain untuk tumbuh di vagina. Dalam kondisi normal, kelenjar pada serviks menghasilkan suatu cairan jernih yang keluar, bercampur dengan bakteri, sel-sel vagina yang terlepas dan sekresi dari kelenjar Bartolini. Pada hewan betina, sekret vagina ini merupakan suatu hal yang alami dari tubuh untuk membersihkan diri, sebagai pelicin, dan pertahanan dari berbagai infeksi. Dalam kondisi normal, sekret vagina memiliki pH kurang dari 5,0 terdiri dari sel-sel epitel yang matur, sejumlah normal leukosit, tanpa jamur, Trichomonas, tanpa clue cell. Pada bakterial vaginosis dapat terjadi simbiosis antara G.vaginalis sebagai pembentuk asam amino dan kuman anaerob beserta bakteri fakultatif dalam vagina yang mengubah asam amino menjadi amin sehingga menaikkan pH sekret vagina sampai suasana yang sesuai bagi pertumbuhan G. vaginalis. Beberapa amin diketahui menyebabkan iritasi kulit dan menambah pelepasan sel epitel dan menyebabkan duh tubuh berbau tidak sedap yang keluar dari vagina. Basil-basil anaerob yang menyertai bakterial vaginosis diantaranya Bacteroides bivins, B. Capilosus dan B. disiens yang dapat diisolasikan dari infeksi genitalia. G. vaginalis melekat pada sel-sel epitel vagina in vitro,

kemudian menambahkan deskuamasi sel epitel vagina sehingga terjadi perlekatan duh tubuh pada dinding vagina. Organisme ini tidak invasive dan respon inflamasi lokal yang terbatas dapat dibuktikan dengan sedikitnya jumlah leukosit dalam sekret vagina dan dengan pemeriksaan histopatologis. Timbulnya bakterial vaginosis ada hubungannya dengan aktivitas seksual atau pernah menderita infeksi Trichomonas.

2.10 Pengobatan dan Pencegahan Pengobatan biasanya diarahkan kepada penyebab peradangan ini. Jikalau vaginitis disebabkab oleh trauma terbuka (luka), maka pengobatan diarahkan untuk menyembuhkan luka tersebut baik berupa tindakan bedah berupa jaitan atau tidakan yang berefek untuk menutup luka tersebut. Jika disebabkan oleh tumor maka tindakan pengobatan diarahkan kepada penghilangan tumor tersebut dari tubuh hewan kesayangan kita. Jika vaginitis masih terjadi hnaya pada alat kelamin luar, dapat dibantu penyembuhan infeksinya dengan pemberian antibiotik. Jika vaginitis sudah sampai ke dalam rahim, biasanya dilakukan tindakan bedah, atau tindakan pembilasan rahim pada kasus kasus tertentu. Hubungi dokter hewan anda untruk mendapatkan penjelasan pengobatan yang lebih lanjut. Pencegahan dari kejadian ini dapat dilakukan dengan melakukan penghitungan sel darah putih (white blood count) tiga minggu setelah selesai masa birahi jika diperlukan atau memperhatikan bentuk dan ada tidaknya cairan selain urine yang keluar tiga minggu setelah selesai masa birahi. Pengobatan vaginitis akan terdiri dari 2 komponen utama yaitu Obat oral, yang biasanya termasuk antibiotik untuk menghilangkan virus atau bakteri. Obat antijamur juga dapat ditentukan, jika anjing memiliki infeksi jamur . DanTopikal krim, yang akan mengurangi pembengkakan dan akan membuat anjing lebih nyaman. Krim mungkin mengandung antibiotik atau fungisida, tetapi juga mungkin mengandung steroid atau agen menenangkan lainnya 2.11 Efek Vagnitis Saat Partus Efek vaginitis saat partus yaitu janin yang dilahirkan mengalami

ensefalitis, eodema sub akut, tetapi kadang-kadang janin yang mati tidak dikeluarkan melainkan tetap didalam dan mengalami mumifikasi. Gejala akut biasanya berupa demam, abortus, kelahiran premature, hidung mengeluarkan cairan eksudat dan hal ini dapat berakhir dengan kematia BAB III PENUTUP Kesimpulan
Vaginitis merupakan penyakit yang dapat berpengaruh dalam awal gangguan reproduksi. Vaginitis adalah istilah umum untuk pembengkakan akibat infeksi

pada vagina. Vaginitis ini biasanya berjalan secara kronis sehingga anjing-anjing yang penderita vaginitis tidak memperlihatkan gejala yang spesifik yang mudah di kenali. Gejala dari vaginitis antara lain Perubahan warna urin, yang kadangkadang mengandung darah,Pembuangan vagina, yang mungkin memiliki konsistensi berbagai warna, tergantung pada penyebab infeksi berusaha untuk buang air kecil. Secara anatomi, posisi vagina berada tepat dibawah anus pada saat hewan itu berdiri. Oleh sebab itu, biasanya mikroba asal anuslah yang sering di dapati menjadi penyebab vaginitis ini. Pengobatan vaginitis ini dapat dibagi menjadi dua yaitu obat oral dan topikal krim. Efek dari vaginitis ini mampu menyebabkan infeksi uterus dan kelahiran premature.

DAFTAR PUSTAKA

Wiknjosastro Hanifa, Prof, dr. DSOG, Kelainan letak alat-alat genital dalam IlmuKandungan, Cetakan Ke III, Penerbit Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta 1999