P. 1
Undang-Undang Pemilu 2012

Undang-Undang Pemilu 2012

|Views: 718|Likes:
Dipublikasikan oleh Akhmad Fikri Yahmani

More info:

Published by: Akhmad Fikri Yahmani on Nov 23, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2014

pdf

text

original

Undang-Undang No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilu dan Undang-Undang No.

15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu*)
oleh: Dr. Rakhmat Bowo suharto, S.H.M.H.**)
*) Makalah disampaikan pada Workshop dengan tema “Undang-Undang No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilu dan Konsekuensi Yuridis Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Pemilu”, diselenggarakan atas kerjasama Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan Sekretariat DPRD Kabupaten Klaten, Kusuma Sahid Prince Hotel Surakarta, 12-14 Oktober 2012. **) Dosen Fakultas Hukum UNISSULA Semarang.

I. Demokrasi dan Pemilu
 Kedaulatan (souvereiniteit/sovereignty): kekuasaan tertinggi dalam penyelenggaraan negara.  Siapa pemegang kekuasaan tertinggi?  Teori Kedaulatan
a. b. c. d. e. Teori Kedaulatan Negara; Teori Kedaulatan Tuhan; Teori Kedaulatan Raja; Teori Kedaulatan Rakyat; Teori Kedaulatan Hukum.

 Teori kedaulatan negara (huruf a) merupakan konsep kedaulatan yang bersifat eksternal (dibicarakan dalam konteks Hukum Internasional)  Teori kedaulatan huruf b-e, merupakan konsep kedaulatan yang bersifat internal (dibicarakan dalam konteks Hukum Tata Negara).

 Kedaulatan rakyat  demokrasi (demos =rakyat, dan kratein/kratos = kekuasaan)
- Kekuasaan negara dianggap bersumber dan berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. - Rakyatlah penentu akhir penyelenggaraan kekuasaan dalam suatu negara.

 Diidealkan oleh semua negara di dunia  90-95% negara-negara di dunia mengklaim menganut paham demokrasi (praktik penerapannya berbeda-beda).  Kelemahan mendasar sistem demokrasi: terlalu mengandalkan pada suara mayoritas (doktrin one man one vote).

 Negara Hukum yang demokratis (Democratische rechtsstaat) dan Negara demokrasi yang berdasarkan hukum (constitutional democracy). Prinsip demokrasi harus diimbangi dengan prinsip keadilan. nomokrasi (the rule of law/rechtsstaat)  prinsip negara hukum  Prinsip negara hukum: mengutamakan kedaulatan hukum. .  Prinsip demokrasi dan prinsip negara hukum bagaikan dua sisi mata uang:  Negara hukum tanpa demokrasi  hukum represif. supremasi hukum (supremacy of law) kekuasaan tertinggi di tangan hukum.  Demokrasi tanpa supremasi hukum  suasana chaos.

Plebisit (plebicite). g. Recall (the recall). c. e. b. dan Penyaluran pendapat melalui pers bebas.  Ada beberapa cara pengambilan keputusan yang melibatkan rakyat secara langsung: a. h. . Prakarsa (initiative). dimanifestasikan dalam keterlibatan rakyat dalam penetapan kebijakan kenegaraan (menurut waktu dan tata cara tertentu). f. Pemilihan umum (general election). Referendum (referenda). Unjuk rasa. dalam praktik penyelenggaraan negara. Kedua prinsip tersebut. Mogok kerja. d.

Adanya pendidikan kewarganegaraan. e. Adanya pemilu yang bebas.Pemilu merupakan salah satu aspek yang mencirikan konsep negara hukum  Menurut International Commission of Jurist. PEMILU merupakan salah satu mekanisme yang menghubungkan prinsip demokrasi dan prinsip negara hukum. Adanya badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak. Adanya jaminan hak-hak individu dalam konstitusi.Pemilu merupakan wahana demokrasi untuk menyalurkan pendapat rakyat. Adanya kebebasan berserikat/berorganisasi dan beroposisi. d. Adanya kebebasan menyatakan pendapat. f. ada beberapa ciri konsep negara hukum: a. . c. b. . .

jujur.Kultur (budaya hukum masyarakat termasuk stakeholder lainnya). bebas. Dengan kata lain. • Kualitas pemilu ditentukan oleh 3 aspek (Friedmann): . dan rahasia. . . kualitas pemilu mencerminkan kualitas demokrasi. • Penyelenggara pemilu (KPU dan Panwas Pemilu) merupakan faktor yang menentukan penyelenggaraan pemilu yang berkualitas (Langsung. umum.Struktur (kelembagaan penyelenggara pemilu).Substansi (peraturan perundang-undangan). . dan adil= luber dan jurdil). • Integritas dan profersionalisme penyelenggara pemilu merupakan tuntutan demi terselenggaranya pemilu yang berkualitas.• Kualitas demokrasi antara lain dicerminkan oleh kualitas pemilu.

7 Tahun 1953 tentang Pemilu. dan 2009. 1982. 2004. lancar. Indonesia telah menyelenggarakan 10 kali pemilu : . 1987. Dilakukan dua kali: 29 September 1955 (Pemilu anggotaanggota DPR). dan 15 Desember 1955 (Pemilu anggotaanggota Dewan Konstituante). penyelenggara pemilu bersifat independent (Panitia Pemilihan Indonesia).terselenggara dengan aman. kebebasan menggunakan hak pilih.Masal Orde Baru: 1971.Masa Orde Lama: 1955. . 1992.II. . Catatan pemilu di Era Orde Lama:  mendapatkan pujian dari berbagai pihak. .demokratis: kebebasan berpolitik. 1977. jujur dan adil . termasuk dari negara-negara asing. dan diikuti oleh lebih 30-an partai politik . . dan 1997.Masa Orde reformasi: 1999. karena: .  Pemilu di Era Orde Lama (1955): Dasar Hukum: UU No. Sejarah Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia  Sampai dengan 2009.

15 Tahun 1969 diubah ketiga kali dengan UU No 1 tahun 1985 dan UU No. 4 tahun 1975. DPR dan DPRD Pemilu 1982 UU No. PDI. karya yang punya wakil di DPR-GR (NU. DPR dan DPRD Dasar hukum Tgl.2 Tahun 1980 dan UU No. 16 tentang Susduk MPR.16 tahun 1969 tentang Susduk MPR. 15 Tahun 1969 tentang Pemilu dan UU No. PSII. Parkindo. DPR dan DPRD Pemilu 1977 UU No. Perti. Golkar 29 Mei PPP. 15 Tahun 1969 diubah ketiga kali dengan UU No 1 tahun 1985 dan UU No. 16 Tahun 1969 tentang Susduk MPR. 15 Tahun 1969 diubah ketiga kali dengan UU No 1 tahun 1985 dan UU No. 15 Tahun 1969 diubah dengan UU No. DPR dan DPRD Pemilu 1987 UU No. Golkar 23 April PPP. MURBA dan Golkar Lembaga Pemilu (LPU). PDI. 16 tahun 1969 tentang Susduk MPR. IPKI. Golkar 9 Juni PPP.ex-officio diketuai oleh Mendagri 2 Mei PPP. 5 Juli parpol dan org. dan UU No. Pemilu di Era Orde Baru (1971 – 1997): Keterangan Pemilu 1971 UU No. PDI. DPR dan DPRD Pemilu 1997 UU No. Parmusi. PNI. Partai Katolik. 16 tahun 1969 tentang Susduk MPR. 3 tahun 1975 tentang Parpol dan Golkar) 4 Mei PPP. Golkar Kontestan Penyelenggaran LPU Dalam LPU ditam bah unsur parpol + Panwaslak Pemilu LPU + Panwaslak Pemilu LPU + Panwaslak Pemilu LPU + Panwaslak Pemilu . Golkar sebagai hasil penyederhanaan partai melalui UU No. PDI. Pelaks. 16 tahun 1969 tentang Susduk MPR. PDI. 15 Tahun 1969 diubah kedua kali dengan UU No. DPR dan DPRD Pemilu 1992 UU No.

2/1999 tentang Parpol.  Pemilu di Era Reformasi (1999-2009) 1.UU No. dan DPRD. Catatan pemilu di era Orde Baru:  Kurang demokratis:  kebebasan berpolitik dan kebebasan menggunakan hak pilih.UU No. . 4/1999 tentang Susduk MPR. 3/1999 tentang Pemilu Anggota DPR. kurang terjamin (pembatasan jumlah parpol. dsb). Penciptaan prakondisi penyelenggaraan pemilu yang demokratis: a.UU No.DPD & DPRD.  penyelenggara pemilu tidak independen (Lembaga Pemilu (LPU) dan Panwaslak. DPR. yang secara ex-officio dikuasai oleh birokrasi Pemerintah). . keberpihakan PNS pada salah satu kontestan. Ditetapkan UU bidang politik. . yaitu: .

b. 15 tahun 1999 dan NO. Membebaskan tahanan politik masa Orde Baru seperti Dr. d. Menetapkan penyelenggara pemilu (KPU) berdasarkan Keppres No 16 Tahun 1999 . Melarang PNS menjadi anggota atau pengurus parpol (PP No. 12 Tahun 1999). Membuat ABRI bersikap netral terhadap setiap kekuatan politik. Tidak melarang berdirinya parpol baru (dalam waktu 8 bulan sejak Habibie memerintah. g. muncul 141 partai baru). . Dsb. e. c. f. Sri Bintang Pamungkas (Ketua Partai Uni Demokrasi (PUDI)).

dan mandiri. (6) Ketentuan lebih lanjut tentang Pemilu diatur dengan UU. (3) Peserta Pemilu untuk memilih anggota DPR dan DPRD adalah partai politik. (4) Peserta Pemilu untuk memilih anggota DPD adalah perseorangan.  Setelah perubahan keempat (2002). DPD. . (5) Pemilu diselenggarakan oleh suatu komisi Pemilu yang bersifat nasional. tetap. UUD 1945 tidak mengatur secara jelas ketentuan mengenai pemilu.2. yaitu: (1) Pemilu dilaksanakan secara langsung. umum. bebas. (2) Pemilu diselenggarakan untuk memilih anggota DPR. Pelaksanaan Pemilu di Era Reformasi (1999-2009):  Sebelum diubah. ketentuan mengenai pemilu diatur dalam bab VIIB Pasal 22E. Presiden dan Wakil Presiden dan DPRD. dan adil setiap lima tahun sekali. rahasia. jujur.

Pemilu 2009 1. UU No. 2. 6. 3. 10 Th 2008 tentang Pemilu Anggota DPR. DPD dan DPRD. Perpu No. (ditetapkan dlm UU No. 31 Th. 4. 17 Tahun 2009) Tgl pelaksanaan 7 Juni 1999 5 April 2004 (Pileg) 5 Juli 2004 (Pilpres I) 20 Sept 2004 (Pilpres II) 9 April 2009 (Pileg) 8 Juli 2009 (1 putaran) Kontestan Penyelenggara 48 parpol KPU partisan (Keppres No.. 2007 tentang Penyelenggara Pemilu. UU No. UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR. dan DPRD. 2. 12 Th. 3 Th 1999 tentang Pemilu. UU No.2 Th 1999 tentang Parpol. UUD 1945 Bab VIIB Pasal 22E. 2003 tentang Pemilu Anggota DPR. 2 Th 2008 tentang Parpol 4. UUD 1945 Bab VIIB Pasal 22E 2. 22 Th. Pemilu 2004 1. DPD. dan DPRD. UU No. 5. DPR. DPD dan DPRD. DPD. UU No. UU No. UU No. 1 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU No. UU No. 23 Th. 4 Th 1999 Susduk MPR. 22 tahun 2003 tentang Susduk MPR. 16 Th 1999) + Panwaslu 24 parpol (Pileg) 5 pasang calon (Pilpres) KPU non partisan (Keppres No 10 Tahun 2001) + Panwaslu 38 parpol (Pileg) 3 pasang calon (Pilpres) KPU non partisan (Keppres No 101/P/2007 ) + Panwaslu .Pelaksanaan Pemilu di Era Reformasi (1999-2009) lanjutan Keterangan Dasar hukum Pemilu 1999 1. DPR. 3. 2003 tentang Pemilu Presiden dan Wapres. 42 Th 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wapres. UU No. 3. UU No.2003 tentang Parpol. dan DPRD 5.

dsb.Catatan untuk Pemilu di Era Reformasi:  Pemilu di era Reformasi relatif lebih demokratis (pengakuan dari berbagai pihak termasuk pengamat luar negeri). penentuan caleg terpilih.  Sistem dan pengaturan hukum dalam rangka penyelenggaraan pemilu belum tetap/final (UU Pemilu selalu diubah menjelang pemilu). KPU tidak profesional. mulai dari pendaftaran pemilih. pelaksanaan pemilihan.  Pemilu 2009 adalah pemilu terburuk:  ada banyak masalah. . DPT. penetapan peroleh suara. pelanggaran yang dilakukan oleh penyelenggara (KPU).

yaitu tahapan perencanaan program dan anggaran. Pengaturan Pemilu Menurut Undang-Undang No. UU No. serta penyusunan peraturan pelaksanaan penyelenggaraan Pemilu. dan  sistem distrik berwakil banyak (Single Non-Transferable Vote System) untuk memilih anggota DPD. 2. Sistem Pemilu Tidak ada perubahan  Sistem proporsional terbuka utk memilih anggota DPR dan DPRD (dengan suara terbanyak). Keterangan  Pasal 4 ayat (2) huruf a Jangka waktu dimulainya tahapan pemilu dimulai sekurang-kurangnya 22 bulan sebelum hari pemungutan suara. 8 Tahun 2012 mengatur beberapa hal pokok. yang beberapa di antaranya berisi perubahan dibandingkan dengan pengaturan UU Pemilu sebelumnya: No. 1. 8 Tahun 2012 tentang Pemilu A.III.  Pasal 4 ayat (5)  Pasal 5 . Hal Tahapan Pemilu Pengaturan Ditambah satu tahapan baru.

Keterangan  Pasal 8 ayat (2) Pasal 14 ayat (4) dan Pasal 16 ayat (2) 4.No. (mencapai parliamentary threshold 2. ditetapkan sbg peserta pemilu berikutnya. Jumlah Kursi dan Tidak berubah: Pasal 21-29  DPR = 560 kursi  tiap dapil 3-10 kursi. Daerah  DPRD Prov = 35-100 kursi  tiap dapil 3Pemilihan 12 kursi. nas.  DPRD Kab/Kota = 20-50 kursi  tiap dapil 3-12 kursi . sblm hari pemungutan suara & selesai dlm wkt 5 bln.5% pd pemilu 2009). Parpol yg tdk memenuhi ambang batas di atas/parpol baru. dpt mjd peserta pemilu stlh memenuhi persyaratan yg lbh berat. Hal Peserta dan persyaratan mengikuti pemilu Pengaturan Parpol peserta pemilu terakhir yg memenuhi ambang batas perolehan suara dari jml suara sah scr. 3. & verifikasi parpol dilakukan 20 bln. Pendaft.

KPU Provinsi mendaftarkan & memasukkannya ke dalam daftar pemilih khusus. anggota DPR. Pasal 34 ayat (4) Disinkronisasikan plg lama 2 (dua) bln. Hal Penyusunan Daftar Pemilih Pengaturan 3 bentuk yaitu a. Pasal 34 ayat (2). DPT. DPD. atau Daft Pem tambahan. data Pddk Potensial Pemilih  utk DPS. Dimutakhirkan mjd data Pemilih plg lama 4 bln. dan c. data WNI yg bertmpt tinggal di LN  utk dapil & DPS. Keterangan  Pasal 32 ayat (1) Diserahkan kpd KPU plg lambat 16 bln sblm  Pasal 32 ayat (3). Apabila tdp WN yg memenuhi syarat sbg pemilih tp tdk memiliki identitas kpddkn dan/atau tdk terdaft dlm DPS. data agregat pddk/kecamatan utk dapil DPRD prov/kabupaten/kota. 5.No. hari pemungutan suara. . 6. b. atau DPRD. Pencalonan  Pasal 40 ayat (5)) Penambahan: kewajiban mengundurkan  Pasal 51 ayat (1) diri sbg KaDa & WaKaDa yg ingin mjd calon huruf k.

Proses pengajuan nama balon anggota DPR & DPRD lbh panjang prosesnya. Hal Pengaturan Keterangan terkait keterwakilan perempuan terdapat penambahan penjelasan: “dlm setiap 3 (tiga) balon.500. yaitu dilaks 12 bulan sblm hari pemungutan suara.00. perusahaan. balon perempuan dpt ditempatkan pd urutan 1. dst.  penjelasan Pasal 56 ayat (2)  (Pasal 57 ayat (2)) Pasal 83 ayat (2) 8 Dana Kampanye Jumlah batasan sumbangan dana Pasal 131 ayat (2) kampanye yang berasal dari sumbangan pihak lain kelompok.No. dan/atau badan usaha nonpemerintah dinaikan menjadi sebesar Rp7. atau 2. pelaksnya sama dg kampanye dlm bentuk rapat umum. yaitu hanya selama 21 hari & berakhir smp dg dimulainya masa tenang (3 hari sebelum hari pemungutan suara). 7. tidak hanya pd nmr urut 3. Kampanye kampanye melalui media cetak & media elektronik dikategorikan sbg “iklan kampanye”. .000. atau 3.000.

Penetapan Hasil Pemilu. cara pemberian suara dilakukan dengan cara mencoblos satu kali pada nomor atau tanda gambar partai politik dan/atau nama calon pada surat suara. 15/2011 ttg Penyelenggara Pemilu) Ketentuan baru: “Parpol Peserta Pemilu hrs memenuhi ambang batas perolehan suara sekurang-kurangnya 3. (sejalan dg UU No. Perolehan Kursi.No. . DPRD Pasal 208 11. rekapitulasi suara di tingkat desa/kelurahan diatur secara mendetail. 9. dan Calon Terpilih. Hal Pemungutan dan Penghitungan Suara Pengaturan pemilih yang tidak terdaftar pada daftar pemilih tetap atau daftar pemilih tambahan dapat menggunakan kartu tanda penduduk atau paspor. Rekapitulasi Suara Tugas dan kewenangan PPS dlm proses Pasal 184-187. Keterangan  Pasal 150 UU  Pasal 154 10.5% dari jumlah suara sah secara nasional utk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi anggota DPR.

maka dlm penghitungan tahap I tdk diperoleh kursi. mk dlm penghitungan tahap I diperoleh sejmlh kursi dg kemungkinan tdp sisa suara yg akan dihitung dlm penghitungan tahap II. Hal Pengaturan Keterangan Metode penetapan perolehan kursi parpol  Pasal 212. dipilih metode kuota murni dengan ketentuan: a. c. apabila jml suara sah suatu Parpol Peserta Pemilu ≤ dari BPP. dimulai dari Parpol Peserta Pemilu yang mempunyai sisa suara terbanyak. apabila jml suara sah suatu Parpol Peserta Pemilu ≥ dari BPP.No. . & jml suara sah tsb dikategorikan sbg sisa suara yang akan dihitung dlm penghitungan tahap II. dg cara membagikan jmlh sisa kursi yg blm terbagi kpd Parpol Peserta Pemilu satu demi satu berturut-turut smp habis. penghitungan perolehan kursi tahap II dlkkn apbl msh tdp sisa kursi yg blm terbagi dlm penghitungan tahap I. dlm hal msh tdp sisa kursi di dapil ybs. b.

utk memperbaiki & melengkapi diberi wkt paling lama 3 x 24 jam sejak diterimanya permohonan oleh MK. Pasal 272 ayat (3). (Pasal 268-270) Terkait dg perselisihan hasil pemilu. Terkait dg mslh hk pemilu. Pelanggaran thd ketentuan tsb mrpk tindak pidana pemilu.No. pelanggaran pemilu dlkkn plg lama 5 hari stlh lap diterima.bag. keterangan tambahan dari pelapor. Dlm hal pengawas pemilu memerlukan (Pasal 249 ayat (6)). Keterangan  Pasal 247 ayat (5) 13. . diatur mengenai sengketa tata usaha negara pemilu. Pasal 272 ayat (3). Hal Partisipasi Masyarakat Pengaturan Ketentuan baru: “Pengumuman prakiraan hasil penghitungan cepat pemilu hanya boleh dilakukan paling cepat 2 jam stlh selesai pemungutan suara di wilayah Ind. 12. tindak lanjut penanganan lap. barat. Batas wkt pelaporan pelanggaran pemilu diperpanjang mjd paling lama 7 hari sejak diketahui dan/atau ditemukannya pelanggaran Pemilu. Penanganan Laporan Pelanggaran Pemilu  (Pasal 249 ayat (4)). Ketentuan baru: Apbl pengajuan permohonan krg lgkp.

Keterangan  Pasal 267 14. 8 Tahun 2012 mengkategorisasi antara tindak pidana yang berupa pelanggaran dengan tindak pidana yang berupa kejahatan. 15. .  Kejahatan: 292-321. Sama seperti UU Pemilu sebelumnya. Majelis Khusus Tindak Pidana Pemilu. Hal Pengaturan Diatur ttg pembentukan Sentra Gakkumdu.  Pasal 266.  Pelanggaran: 273291. Perubahan pengaturan: penghapusan ketentuan pidana minimum. beserta segala sifat yang menyertainya. Ketentuan Pidana UU No.No.

berbadan sehat jasmani & rohani” “surat ket. g. DPD. 8 Tahun 2012 1. Pengaturan yang lebih rinci dan jelas mengenai pemutakhiran daftar pemilih. Perbaikan akses pemilu bagi penyandang disabilitas utk mjd balon anggota DPR. c. Kec. Kehadiran Majelis Khusus yang terdiri dari hakim khusus untuk menangani perkara tindak pidana pemilu dan sengketa tata usaha pemilu di pengadilan negeri maupun pengadilan tinggi tata usaha negara. sblm direkap di tk. b. e. f. Penguatan jaminan hak pilih. Pengaturan dan kategorisasi masalah hukum dan sengketa pemilu lebih jelas. dan terstruktur. d. (hasil penghitungan suara di TPS. (“surat ket. sistematis. Catatan atas Pengaturan UU No. dan DPRD. rinci.terlebih dahulu dikirim ke tingkat desa/kelurahan untuk dilakukan rekapitulasi oleh PPS). Pengaturan rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2014 diharapkan lebih tertata dan mudah. h. Wkt penyelenggaraan lbh panjang: 22 bln sblm hari pemungutan suara.B. Kwjbn menyerahkan nomor rekening dana kampanye pemilu atas nama parpol. KPU Provinsi wajib melakukan pendaftaran thd WN yg punya hak pilih tetapi tdk memiliki identitas. Beberapa langkah maju: a.sehat jasmani dan rohani”). .

nas. d. ttp tdk. utk dpt diikutkan dlm penentuan perolehan kursi rawan gugatan. Penggunaan sistem proporsional terbuka diikuti peningkatan jml batasan sumbangan dana kampanye dari nonperseorangan (kelompok/badan usaha). . Hal ini telah digugat ke MK dan telah diputuskan. sangat rentan untuk disimpangi & dimanipulasi. Ketentuan lolosnya parpol scr otomatis mjd peserta pemilu 2014 apbl melewati ambang batas parlemen dlm pemilu 2009. Ketentuan yang menyebutkan bhw “Laporan pelanggaran Pemilu disampaikan paling lama 7 hari sejak diketahui dan/atau ditemukannya pelanggaran pemilu”.5% scr.2. Dsb…. c. Transparansi proses rekapitulasi penghitungan suara pemilu (TPS – PPS – PPK – KPU Kabupaten/Kota – KPU Provinsi – KPU). b. dimbangi dengan pengaturan pembatasan belanja kampanye akan menimbulkan ketimpangan/ketidakadilan di kalangan parpol peserta pemilu & calon. e. Beberapa Persoalan: a. & pemberlakuan ambang batas 3.

dsb).  Muncul berbagai masalah spt: Kacaunya regulasi dan kebijakan. Aspek personal: (tidak/kurang profesional dan berintegritas). tidak ada check and balances dengan pengawas pemilu. kacaunya manajemen penyelenggaraan. terlalu superbody. korupsi. . Penyelenggara Pemilu  Penyelenggara pemilu menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan dan kualitas pemilu (luber dan jurdil).  Masalah pemilu dapat bersumber dari faktor penyelenggara pemilu. ketidakkonsistenan keputusan. Aspek kelembagaan penyelenggara pemilu: (tidak independen. suap. risk avoiding. pemihakan (conflict of interest). b. dsb. yang meliputi: a.IV.

 Sifat organisasi Penyelenggara Pemilu:  Sebelum reformasi  sebagai lembaga teknis yang bersifat ad hoc.  Pengaturan Penyelenggara Pemilu di Era Reformasi:  Sebelum tahun 2007  diatur dalam UU Pemilu.  Setelah tahun 2007  diatur dalam UU tentang Penyelenggara Pemilu tersendiri. dan akuntabilitas yang tinggi. integritas. 15 tahun 2011. yaitu UU No. dan mandiri”. . yaitu UU No. 3 Tahun 1999 yang kemudian diganti dengan UU no. dengan personil yang memiliki profesionalisme. 22 Tahun 2007 yang kemudian diganti dengan UU No. tetap. 12 Tahun 2003.  Setelah reformasi Pasal 22E ayat (5) UUD 1945: “Pemilu diselenggarakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional. Diperlukan penyelenggara pemilu yang secara kelembagaan independen.

tetap. dan mandiri yang bertugas melaksanakan pemilu. Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP): lembaga yang bertugas menangani pelanggaran kode etik Penyelenggara Pemilu dan merupakan satu kesatuan fungsi penyelenggaraan pemilu. . 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu A. 3. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu): Lembaga penyelenggara pemilu yang bertugas mengawasi penyelenggaraan pemilu di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Komisi Pemilihan Umum (KPU): Lembaga penyelenggara pemilu yang bersifat nasional. Fungsi penyelenggaraan pemilu dilaksanakan oleh: 1. 2.Pokok-pokok Pengaturan UU No.

B. Hierarkhi Penyelenggara Pemilu Penyelenggara Pemilu Lembaga pelaksana pemilu KPU Sifat: tetap Kedudukan: Pusat KPU Provinsi Sifat: tetap Kedudukan: Provinsi Lembaga pengawas pemilu Bawaslu Sifat: tetap Kedudukan: Pusat Bawaslu Provinsi Sifat: tetap Kedudukan: Provinsi Lembaga penanganan pelanggaran pemilu DKPP Sifat: tetap Kedudukan: Pusat KPU Kab/Kota Sifat: tetap Kedudukan: Kab/kota Panwaslu Kab/Kota Sifat: Ad Hoc Kedudukan: Kab/kota .

KPU Provinsi = 5 orang. Keterangan  Pasal 6 2. Pres/Wapres/Kada/WaKada) Terkait dgn tdk mjd anggota parpol. 5 th spt UU sblmnya. KPU Kabupaten/Kota = 5 orang. b. Seleksi anggota Jml anggota Timsel KPU ditambah mjd plg banyak 11 org.  Masa keanggotaan 5 th. Tambahan syarat: tdk berada dlm satu ikatan perkawinan dg sesama Penyelenggara Pemilu.  Kolektif kolegial  keterwakilan perempuan min. KPU = 7 orang. 30%. Pasal 11 huruf i Pasal 11 huruf m 3. Pasal 12 ayat (1) . & kwjbn Persyaratan mjd anggota  dirinci menurut hierarkhi (KPU. 1. wewenang. Tugas. KPU Prov. tdk lagi ada batasan min.1. 4. Hal Keanggotaan Pengaturan  Jumlah anggota: a.  Pasal 8-10 KPU Kab/Kota) dan jenis pemilu (Legislatif. Komisi Pemilihan Umum (KPU) No. dan c.

. Hal Pengaturan Usia anggota Timsel KPU ditingkatkan mjd min 40 th. 6. Jml calon anggota KPU yg diserahkan Pres kpd DPR diturunkan mjd 14 nama. (b)mengundurkan diri dg alasan yg dpt diterima. menyerahkan rekap hasil suara kpd PPK.m. PPS Penambahan tugas PPS: mlkk. Pemberhentian Alasan pemberhentian lebih dirinci mjd krn: Pasal 27 ayat (1) (a) meninggal dunia. KPU Kab/Kota= 60 hr.No. KPU Prov= tetap (60 hr). Lama wkt proses pemilihan & penetapan anggota diubah: KPU= 30 hr. Keterangan  Pasal 12 ayat (5)  Pasal 14 ayat (1) Pasal 15 ayat (1) Pasal 24 ayat (5) 5.n. atau (d)diberhentikan dg tdk hormat. mengumumkan. (c) berhalangan tetap lainnya. Pasal 45 huruf l.

& merekomendasikan lap pelnggrn pemilu. (c) membntk. Tugas. Kewenangan Bawaslu dirinci: (a) menerima. mengkaji. Keterangan  Pasal 69 ayat (2) 2. (b) menylskan sngkt Pemilu. Pasal 73 ayat (4) . Pasal 73 ayat (3) huruf a. Panwaslu Kec/Lap= 20 th.2. Hal Sifat organisasi Pengaturan Perubahan pengawas pemilu Prov menjadi bersifat tetap dg nama Bawaslu Provinsi. Pasal 85 huruf m. Bawaslu Prov/Panwas Kab/Kota= 30 th. Penambahan syarat: tdk berada dlm satu ikatan perkawinan dg sesama Penyelenggara Pemilu. memberhentikan Bawaslu Prov. 1. Perubahan jml anggota Panwaslu Lapangan: di setiap desa/kelurahan paling sedikit 1 (satu) orang & paling banyak 5 (lima) Pasal 72 ayat (3) 3. (d)melaks wew lain.  pasal 85 huruf b. Keanggotaan Dibedakan syarat usia: Bawaslu= 35 th. mengangkat.kewena Penambahan tugas mengawasi persiapan ngan Bawaslu penyelenggaraan pemilu. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) No.

Alasan pemberhentian anggota pengawas pemilu lebih detail: meninggal dunia. mengundurkan diri dg alasan yg dpt diterima. 4. Sedangkan anggota pengawas pemilu Kab/Kota ke bawah diseleksi dan ditetapkan oleh pengawwas pemilu di atasnya.No. Perubahan: seleksi anggota Bawaslu Prov melalui Timsel. atau diberhen-tikan dg tdk hormat. Pengajuan calon anggota Bawaslu kpd DPR dilakukan oleh Pres. Sejmlh 10 nama. Proses pemilihan anggota Bawaslu di DPR diperpanjang mjd 30 hr. Pemberhentian melalui DKPP Keterangan  Pasal 86  Pasal 88 ayat (1) Pasal 89 ayat (1) Pasal 92 Pasal 96 Pasal 99 ayat (1) Pasal 100 . berhalangan tetap lainnya. Hal Pengangkatan dan pemberhentian Pengaturan Perubahan ketentuan Timsel: Timsel KPU mjd timsel Bawaslu.

Hal Kode tetik dan DKPP Pengaturan Kode etik ditetapkan oleh DKPP Keterangan  Pasal 110 DKPP bersifat tetap. 4 orang tokoh masy. d. . dlm hal jml utusan parpol yg ada di DPR berjumlah genap. 1 orang utusan masing2 parpol yg ada di DPR. dlm hal jml utusan parpol yg ada di DPR berjml ganjil atau 5 orang tokoh masy. 1 orang utusan Pemerintah. 1 orang unsur KPU.No. b.  Pasal 109 ayat (1) Keanggotaan DKPP terdiri dari: Pasal 109 ayat (4) a. e. c. 1 orang unsur Bawaslu. 5.

TERIMA KASIH .

Alamat : Jl.M. 1999  Sandwich Program di University of Wollongong.com Pendidikan :  Sarjana Hukum (UGM) : Yogyakarta. Semarang.  Program Doktor Ilmu Hukum di UNDIP: Semarang 2011. 27 April 1966.H. New South Wales.. Pekerjaan : Dosen Fakultas Hukum UNISSULA Semarang. Pucang Adi II/70 Perumahan Pucang Gading.DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Dr.H. Australia. Status : Kawin. 1990  Magister Ilmu Hukum (UNAIR) : Surabaya. . Tempat/tgl Lahir : Kebumen. Alamat email : rahmatbowo@yahoo. Rakhmat Bowo Suharto. 2009. S.

Bag.  Pengalaman Organisasi:  Sekretaris Umum Asosiasi Dosen HTN/HAN Jawa Tengah (2001 – 2007). Riwayat Pekerjaan:  Dosen F. Pusat Kajian Hukum dan Kebijakan Transformatif (PKHKT) Jateng (2003sekarang).  Anggota Majelis Pengawas Notaris Daerah Kabupaten Kendal (2005-2008)  Pengurus Asosiasi Pengajar HTN/HAN Jateng (2007 – sekarang)  Anggota Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat Propinsi Jateng (2008 – sekarang)  Anggota Ikatan Ahli Perubahan Iklim Jawa Tengah (2011 – sekarang).H. UNISSULA.  Penasihat Central Java Police WATCH.2005)  Ketua Pusat Studi Hukum dan Konstitusi FH UNISSULA (2006. Hukum Administrasi Negara F.  Anggota Bidang Hukum dan Politik pada Forum Partisipasi Perguruan Tinggi (FP2T) Kota Semarang (2005 – 2008). Jawa Tengah (2007. Akademik Prog. Magister (S2) Ilmu Hukum UNISSULA (2001. Bag.  Anggota Dewan Etik Perkumpulan PATTIRO (2006-sekarang). HTN/HAN Fakultas Hukum UNISSULA (2000-2004).H. .  Sekjen.  Sek. UNISSULA (2004 – 2005).sekarang). S1 (1991 s/d Sekarang) dan S2 Ilmu Hukum (2001 s/d sekarang) dalam mata kuliah Hukum Administrasi dan Hukum Lingkungan.  Ka.  Anggota Ikatan Pengkaji Lingkungan Indonesia (Inkalindo) Jawa Tengah (2011sekarang).  Ka.2009)  Dekan Fakultas Hukum UNISSULA (2005 – 2009)  Anggota Pokja Hukum pada Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia (2011sekarang). Bid.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->