Anda di halaman 1dari 4

dampak klorin klorin dalam bentuk kimia buatan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan, s eperti penipisan lapisan

ozon dan pemanasan global.selain itu berdampak bagi kes ehatan , senyawa klorin juga dampak menimbulkan dampak bagi kesehatan baik berup a produk maupun limbah yang di hasilkan.senyawa klorin juga dapat disebabkan dar i pembkaran sampah dan kebocoran klorin dalam proses industri.namun dampak-dampa k tersebut mulai diketahui misalnya klorin yang digunakan desinfektan dapat juga bereaksi dengan senyawa-senyawa organik dalam air. Selain itu terbentuknya seny awa organoklorin lain secara tidak sengaja dari pembakaran yang berbasis klorina t hodrokarbon , berdampak negatif terhadap lingkungan , simber atau kegiatan dar i penggunaan klorin yang berpotensi merusak , dapat dibedakan dari beberapa keg iatan : Kebocoran klorin Kebocorab klorin pada saat penyimpanan atau proses pemakaiannya , dapat mencari lingkungan . kebocoran umumnya disebabkan terjadi kecelakaan dan kelalaian . di sinilah masalah teknis yang berperab manusia . gas klorin yang terhirup dapat me ngganggu kesehatan manusia. Penggunaan klorin di industri Berbagai industri yang menggunakan klorin dalam proses kegiatannya akan menghasi lkan limbah yang mengandung klorin. Limbah tersebut dapat berbentuk cair , padat dan gas, industri yang menggunakan klorin antara lain : industri plastik , sem en , pulp ,pelarut dan kertas pestisida .metal , pembangkit listri dan bahan kim ia lainnya . limbah yang mengandung klorin dapat juga dihasilkan oleh kegiatan p engolhan air minum/ bersih, aktivitas dan limbah rumah sakit. Limbah yang mengan dung klorin dapat mencemari lingkungan apabila tidak dilakukan pengolahan sebelu m di buang ke lingkungan. Sifat klorin yang sangat reaktif dan sangat mudah bag i klorin bereaksi dengan senyawa lain dan membentuk senyawa- senyawa baru seper ti senyawa organoklorin yang merupakan senyawa toksik dan dapat menimbulkan efek karsinogen bagi manusia. Senyawa organoklorin merupakan senyawa kimia dimana klorin terikat kuat pada kar bon. Organoklorin merupakan kelompok terbesar dari semua senyawa organik yang merupak an unsur berbasis karbon yang mengandung satu atau lebih unsur klorin . Beberapa contoh terbentuknya senyawa organoklorin yang tidak diharapkan, di anta ranya adalah : Proses pembakaran senyawa yang berbasis klorin dengan hidrokarbon dalam industri kimia yang menghasilkan produk seperti pestisida , plastik dan pelarut , ternyata juga membentuk senyawa lain sebagai produk sampingnya secara tidak se ngaja seperti dioksin . Pembakaran sampah rumah tangga dan limbah dari rumah sakit yang mengandu ng klorin , juga akan membentuk senyawa lain yang tidak di inginkan seperti diok sin , clorofrom dll. Dioksin terbentuk karena adanya pembakaran senyawa klorinathidrokarbon . alur pr oses dioksin sampai ke dalam tubuh manusia melewati makanan . dioksin hasil pemb akaran bersama partikel partikel jatuh ke lahan pertanian / perkebunan, padang r umpurt sebagai makanan ternak atau masuk ke sungai dan laut . dioksin larut dal am lemak dan bersifat hidrofobik, karena sifatnya tersebut maka dioksin masuk da n menempel pada ikan atau ternak yang di konsumsi manusia. Klorin yang digunakan sebagai desinfektan pada proses pengolahan air ber sih , pengolahan air minum , kolam renang dan air pendingin untuk memusnahkan mi koorganisme yang terdapat dalam air , ternyata dapat bereaksi dengan senyawa- se nyawa organik yang terdapat di dalam air dan membentuk kloroamina tersubtitusi. Cara pengendalian Pemanfaatan limbah padat hasil olahan rumput laut dapat juga diarahkan guna peng endalian pencemaran dengan memanfaatakannya sebagai salah satu komponen pendukun g bioremediasi lingkungan terutama untuk lahan pertanian yang terkontaminasi pes tisida. Tentunya, selain limbah hasil olahan rumput laut dari spesies-spesies ek onomis, guna kepentingan bioremediasi jenis rumput laut lain dari jenis jenis ya ng kurang termanfaatkan dan kurang bernilai ekonomis seperti Calothria, Macrosys tis, Oscillatoria dll dapat dijadikan bahan tersebut.

Bioremediasi lingkungan tercemar pestisida Dalam pengelolaannya, ketika pencemaran pestisida sudah terlanjur terjadi, alter natif pengolahan tanah terkontaminasi pestisida dapat dilakukan dengan pendekata n biologis (bioremediasi). Secara teknis perkembangan bioremediasi pestisida jug a terkendala dengan kurang efektifnya agent biologis mendegradasi pestisida seba gai akibat dari ketersediaan biologis (bioavaibility) pestisida didalam tanah te rbatas sehingga membatasi keberhasilan mikroba melakukan kontak dan mengurai pes tisida target. Guna memperbaiki performa bioremediasi pestisida, keberhasilan pr oses yang berlangsung dapat tergantung pada (1). ketersediaan mikroorganisme age n bioremediasi, (2). kondisi optimal bagi pertumbuhan dan aktifitas agen mikroba .dan (3) Peningkatan bioavaibilitas pestisida di tanah. Mikroorganisme agent Jenis jenis mikroorganisme lain yang sudah banyak diidentifikasi sebagai agent b ioremediasi pestisida adalah Phanerochaete, Nocardia, Pseudomonas, Alcaligenes, Acinetobacter, dan Burkholderia. Dalam riset riset bioremediasi pestisida Phaner ochaete chrysosporium dikenal mampu mendegradasi ragam pestisida seperti DDT, DD E, PCB, Chlordane, Lindane, Aldrine, Dieldrine dan lain sebagainya. Kendatipun t idak selalu ditemui disetiap jenis tanah dan tempat (kayu atau pohon yang lembab ), keberadaannya Phanerochaete chrysosporium telah banyak dilaporkan oleh peneli ti mikrobiologi Indonesia. Peningkatan ketersediaan biologis pestisida di tanah. Peran rumput laut dan/atau limbah hasil olahan rumput laut dalam kajian bioremed iasi pestisida adalah sebagai penyumbang ion Na+ yang ditenggarai dapat meningka tkan dispersi tanah, kedua adanya senyawa senyawa organik terlarut pada rumput l aut dapat meningkatkan kelarutan dari pestisida sehingga lebih dapat terakses ol eh agent mikroba dan terakhir adanya kandungan asam alginit dan manitol yang dap at berperan sebagai agen pengikat (chelating) serta penggembur tanah. Penambahan rumput laut ataupun limbah rumput laut dalam proses bioremediasi tanah terkonta minasi pestisida dapat merubah sifat dari tanah. Rumput Laut dapat membantu penu runan konsentrasi pestisida (e.g. DDT) melalui mekanisme pelepasan ion ion anorg anik seperti Na+, Ca+, Mg+, dan K+ dan material organik terlarut yang keluar dar i ekstrak rumput laut (Kantachote et al., 2004). Pestisida biasanya terikat dengan ikatan ikatan kimia dengan senyawa humus (humi c substances) terlarut sehingga bioavaibilitasnya menjadi rendah. Lebih lanjut, peningkatan kation (ion ion bermuatan positif, +) anorganik dapat menyebabkan pe ningkatan ikatan ion ion pada tanah yang menyebabkan cross-linking material mate rial humus dengan pestisida tergantikan oleh kation kation tadi setelah didahulu i dengan kondensasi humus. Hal tersebut dapat meningkatkan ketersediaan DDT seca ra biologis dalam tanah untuk dapat termanfaatkan atau paling tidak terlibatkan didalam suatu reaksi dimana agen biologis mikroorganisme aktif. Rumpu laut, terutama Alga Hijau memiliki kandungan karbohidrat dan manitol yang tinggi (chelating agents) yang akan dapat terikat dengan ion-ion anorganik pada tanah. Pengkelatan ini akan menggangu interaksi organo-mineral didalam tanah ter kontaminasi. Peningkatan degradasi pestisida dapat terjadi secara aerobik (adany a oksigen) dan anerobik (tidak adanya oksigen). Rumput laut kaya akan karbohidra t yang dapat menguntungkan pertumbuhan bakteri anaerobik untuk dapat melangsungk an reaksi dechlorinasi guna menghilangkan unsur klor pada pestisida. Rumput laut juga memiliki kandungan vitamin B12 yang dapat mendukung deklorinasi tersebut s ecara anaerobik. Kasus organoklorin Organoklorin Pada Bulu Walet Sarang Putih Hasil penelitian di Yogjakarta mengenai kandungan organoklorin pada sampel berup a bulu walet sarang putih menunjukkan bahwa 10% sampel (n=10) mengandung heptakl or dan 40% sampel (n=10) mengandung pp-DDD. Kandungan heptaklor pada bulu walet sarang putih berkisar antara 0 sampai 0,5855 ppm dan pp-DDD berkisar antara 0 sa mpai 0,0929 ppm. Heptaklor yang terdapat pada bulu walet sarang putih adalah epoxide heptaklor ya ng terakumulasi dalam jaringan lemak pada ikan dan burung, bahkan dapat ditemuka

n pula pada hati, otot dan telur burung. Selain heptaklor, pada bulu mengandung pp-DDD (hasil degradasi yang diturunkan dari dehidroklorinasi biologis dan deklo rinasi reduktif DDT) (Connell & Miller (1995). Senyawa pp-DDD bersifat stabil da n aktif secara biologis. Variasi jenis dan jumlah organoklorin pada bulu walet sarang putih disebabkan ka rena dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah perbedaan daerah jelajah masing -masing walet sarang putih yang ditangkap. Menurut Mardiastuti et.al., (1998), d aerah jelajah walet sarang putih berkisar antara 25 sampai 40 km. Dengan demikia n, semakin jauh daerah jelajah walet sarang putih maka kemungkinan mengalami kon tak dengan insektisida semakin besar. Kemungkinan kedua adalah perbedaan usia masing-masing walet sarang putih yang di tangkap. Hal ini terlihat pada variasi ukuran tubuh walet sarang putih saat peng amatan di lapangan dan variasi berat sampel bulu walet sarang putih yang ditangk ap. Rata-rata ketahanan hidup walet sarang putih adalah 14 tahun (variasi 10 sam pai 20 tahun), sedangkan daya tahan insektisida organoklorin pada jaringan hewan berkisar antara 3 sampai 5 tahun dan kemudian akan terus mengalami transformasi di dalam jaringan hewan dalam waktu 5 tahun (Hassal, 1990 ; Connell & Miller, 1 995). Dengan demikian, semakin besar usia walet sarang putih maka kemungkinan ak umulasi insektisida organoklorin dalam tubuhnya semakin tinggi. Kandungan pp-DDD pada bulu walet dimungkinkan karena masih digunakan DDT. Penggu naan DDT dilarang oleh Pemerintah Indonesia sejak tahun 1973 (Untung, 1993), nam un dijelaskan oleh Anonim (2000) dan Kusno (1994) bahwa DDT masih dianjurkan pen ggunaannya di sektor kesehatan hingga tahun 2000 untuk mengendalikan nyamuk mala ria. Alasan larangan tersebut adalah karena sifat persistensinya yang sangat lam a di tanah maupun di jaringan tanaman dan jaringan hewan. Hal tersebut dijelaska n Untung (1993) bahwa kurun waktu 17 tahun residu DDT dalam tanah masih 39%. Selain DDT, sejak tahun 1990 penggunaan heptaklor dilarang oleh Pemerintah Indon esia (Untung 1993 ; Anonim 2001a), sedangkan oleh Pemerintah Amerika Serikat hep taklor dilarang sejak tahun 1983 (Peterle, 1991). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran kandungan heptaklor pada bulu walet s arang putih antara 0 sampai 0,5855 ppm dan pp-DDD antara 0 sampai 0,0929 ppm. Ha l ini menunjukkan bahwa terdapat 0,5855 mg heptaklor dalam 1 kg bulu walet saran g putih dan 0,0929 mg pp-DDD dalam 1 kg bulu walet sarang putih. Organoklorin dan Kanker Payudara \ Beberapa baris bukti menunjukkan bahwa organoklorin berkontribusi terhadap kanke r payudara di populasi umum. Bukti eksperimental. Ratusan organoklorin telah ter bukti menyebabkan kanker pada hewan laboratorium dan / atau manusia. Dari ribuan yang belum diuji, setidaknya beberapa kemungkinan besar akan berubah menjadi ka rsinogenik. Setidaknya 16 organoklorin atau kelompok organoklorin telah ditemukan secara khu sus menyebabkan kanker payudara di laboratorium hewan, walaupun hanya sedikit te lah diuji untuk efek ini. Beberapa adalah pestisida, seperti DDT, aldrin, dieldr in, dan Chlordane-yang telah dibatasi tetapi tetap Common kontaminan lingkungan hidup dan masih digunakan di negara-negara lain. Tapi organoklorin lain diidenti fikasi sebagai karsinogen mammae masih umum digunakan, termasuk yang berikut: Atrazine: salah satu yang paling banyak digunakan herbisida di Amerika Utara dan Eropa dan kontaminan yang sangat umum air tanah dan air permukaan; Vinyl chloride, ethylene dichloride, dan vinyledene klorida: bahan baku untuk pl astik Common polyvinyl chloride (PVC, atau vinil) dan polyvinylidene klorida (Sa ran wrap); Metilena klorida: pelarut yang umum dan cat-penari telanjang; Dichlorobenzidines, dichloropropane dan Trichloro-propana: intermediet yang digu nakan dalam industri kimia untuk memproduksi pewarna dan bahan kimia lainnya. Sebagian besar organoklorin belum diuji untuk membuktikan besar pengaruhnya terh adap kanker payudara, tetapi kemungkinan bahwa beberapa di antaranya, khususnya mereka yang secara struktural atau toxicologically serupa dengan yang sudah diid entifikasi sebagai karsinogen mammae, ternyata akan menyebabkan efek yang sama. Mekanisme biologis. Penelitian terbaru perilaku organoklorin dalam tubuh menunju kkan bagaimana bahan kimia ini dapat berkontribusi untuk kanker payudara pada ma nusia. Organoklorin telah terbukti menimbulkan mutasi genetik, menekan sistem ke

kebalan tubuh, dan mengganggu kontrol alami tubuh pada pertumbuhan sel dan repli kasi. Beberapa organoklorin yang dikenal sebagai "hormon aktif": mereka meniru a tau sebaliknya mengganggu tindakan alami alami tubuh hormon seks, termasuk estro gen. Karena estrogen adalah faktor risiko untuk kanker payudara, zat kimia yang bertindak seperti estrogen juga cenderung meningkatkan risiko penyakit. Paparan bahan kimia ini selama masa dewasa dapat menyebabkan estrogen-seperti efek dan m empromosikan kanker payudara. Dan dalam rahim paparan hormon bahan kimia aktif s eumur hidup dapat menyebabkan perubahan dalam sistem endokrin yang dapat menyeba bkan risiko kanker payudara bertahun-tahun kemudian. Kanker payudara pada wanita dengan eksposur yang tinggi. Perempuan terpapar lebi h tinggi dari tingkat normal sintetis kimia-termasuk organoklorin-telah ditemuka n memiliki tingkat tinggi secara signifikan kanker payudara. Kelompok-kelompok i ni termasuk wanita pekerja industri kimia terpapar dioxin, perempuan yang tingga l di dekat lokasi limbah berbahaya, wanita ahli kimia, dan perempuan pekerja ter kena diklorinasi dan non-diklorinasi pelarut. Studi jaringan. Penelitian baru yang penting terhubung organoklorin risiko kanke r payudara di kalangan wanita dari populasi umum-mereka yang tidak biasa eksposu r kimia. Beberapa studi telah menemukan hubungan antara tingkat organoklorin ter tentu dalam darah wanita, lemak, atau jaringan payudara dan risiko kanker payuda ra. Perempuan dengan konsentrasi tertinggi organochlorine tertentu pestisida dal am tubuh mereka telah ditemukan memiliki risiko kanker payudara 4-10 kali lebih tinggi daripada perempuan dengan tingkat yang lebih rendah. Jika penelitian masa depan menegaskan bahwa efek dari bahan kimia ini memang yang kuat, organoklorin akan menjadi di antara yang paling penting faktor risiko kanker payudara yang p ernah diidentifikasi. Kasus Israel. Di Israel, kebijakan nasional untuk melarang organoklorin tampakny a telah membantu mengurangi tingkat kanker payudara. Hingga pertengahan 1970-an, baik tingkat kanker payudara dan tingkat kontaminasi oleh beberapa organochlori ne pestisida termasuk di antara yang paling tinggi di dunia. Setelah tahap yang agresif-program dari orang-orang kimia, tingkat kontaminasi jatuh ke tingkat yan g ditemukan di negara-negara lain, dan kanker payudara kematian segera diikuti, jatuh ke tingkat yang sama dengan yang di negara-negara lain. Penurunan ini, yan g disebarkan di seluruh kelompok usia dalam "dosis-respons" pola, adalah terutam a penting, mengingat peningkatan pesat kanker payudara yang terjadi di negara-ne gara lain selama periode yang sama. Selanjutnya, semua makanan dan faktor risiko reproduksi di Israel benar-benar semakin memburuk selama periode yang bersangku tan. Terkait efek pada orang dan satwa liar. Bukti yang muncul menyangkut kontaminasi organochlorine global dalam array efek kesehatan lain di antara manusia dan sat wa liar. Saat ini tingkat kontaminan dalam kisaran di mana gangguan hormonal dan efek lain diketahui terjadi. Paparan senyawa ini telah dikaitkan dengan ketidak suburan, kegagalan reproduksi, gangguan perkembangan, penekanan kekebalan tubuh, dan kemungkinan kanker lainnya kanker testis-terutama-di kalangan mamalia laut, spesies lain ikan dan satwa liar, dan manusia. Jika tingkat lingkungan organokl orin yang cukup tinggi untuk menyebabkan efek ini, adalah masuk akal bahwa merek a juga cukup tinggi menyebabkan kanker payudara. Kecenderungan di tingkat insiden kanker payudara konsisten dengan meningkatnya k ontaminasi oleh organoklorin. Negara-negara industri, dengan lebih parah polusi, juga cenderung memiliki kanker payudara lebih tinggi daripada kurang tingkat ne gara-negara industri