Anda di halaman 1dari 6

PENGELOLAAN LIMBAH RUMAH TANGGA DI WILAYAH KALI CODE

A.ABSTRAK Bercerita tentang sejarah kali Code, maka tak lepas dari peran seorang budayawan, Y.B. Mangunwijaya atau yang lebih dikenal dengan Romo Mangun. Pada tahun 1970-an, Kali Code relatif tidak dapat dimanfaatkan lagi karena dipenuhi sampah rumah tangga. Karena kepeduliannya yang tinggi terhadap kebersihan lingkungan di Kali Code, maka Romo Mangun melakukan suatu usaha untuk menciptakan lingkungan Kali Code yang bersih dan indah sehingga dapat menjadi sebuah alternatif tempat wisata bagi masyarakat sekitarnya. Pertama kali, Romo Mangun tinggal di bantaran Kali Code untuk memberi contoh kepada warga setempat untuk menjaga kali dengan cara tidak membuang sampah di kali. Hasilnya, sejak saat itu banyak turis lokal hingga mancanegara yang berwisata mengunjungi Kali Code. Sepeninggal Romo Mangun, upaya pelestarian Kali Code diteruskan oleh para pegiat sosial yang tergabung dalam Yayasan Pondok Rakyat. Yayasan ini juga aktif membangun kampung percontohan seperti Badran, Tungkak, Kricak, dan Sidomulyo, yang kondisinya sama dengan kampung Kali Code. Organisasi sosial lainnya Code yang juga memiliki kepedulian terhadap Kota pemberdayaan Kali adalah Pemerti Code. Pemerintah

Yogyakarta juga berpartisipasi dalam program pemberdayaan Kali code1. B.PENDAHULUAN Pemandangan kali Code yang akhir-akhir ini kita lihat ternyata tidak sebaik yang kita harapkan, masih ada beberapa wilayah kali Code yang terlihat kotor. Lingkungan yang kotor dan tercemar benar-benar tercermin di sana, akibat dari tak terkendalinya jumlah rumah yang pelan-pelan dibangun di sekitar Code. Pembuangan limbah rumah tangga dan
1

http://gudeg.net/id/directory/11/1530/Kali-Code.html

penggunaan mandi, cuci, kakus yang dilakukan sehari-hari, membuat keadaannya jauh dari sanitasi. Tata ruang pemukiman di Kali Code masih meminggirkan aspek lingkungan sekitar DAS (Daerah Aliran Sungai). Pemanfaatan lahan di bibir sungai yang eksploitatif membuat rentan terhadap bencana banjir, longsor serta daya tanah aluvial yang semakin melemah. Pembangunan perumahan di bantaran kali sebagai tempat tinggal akan menimbulkan permasalahan ketidakseimbangan ekosistem sungai. Bintarto (1989) mengatakan bahwa ketidakseimbangan wilayah dapat berakibat : 1. Meluasnya kawasan hunian liar (slum area) 2. Meningkatnya pelbagai bentuk kriminalitas
3.

Makin berkurangnya daya tampung kota dan menurunnya kesadaran lingkungan dan gangguan polusi. Munculnya wilayah permukiman di bantaran kali akan menimbulkan

permasalahan ketidakseimbangan ekosistem sungai. Selain itu secara hukum tinggal dan membangun permukiman di sekitar tempat aliran sungai adalah tidak benar dan membahayakan diri dan keluarga. Bibir Kali Code adalah salah satu daerah aliran sungai yang harus dijaga kemanfaataannya untuk pembangunan keberlanjutan. Daerah Aliran Sungai (DAS) secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan wilayah/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada sungai utama ke laut atau danau. DAS berdasarkan fungsi, yaitu: Pertama DAS bagian hulu didasarkan pada fungsi konservasi yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak terdegradasi. Kedua DAS bagian tengah didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk kepentingan sosial dan ekonomi diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada

prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau. Ketiga DAS bagian hilir didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah. Fungsi DAS tersebut tidak selaras dengan kondisi di Kali Code di mana bantaran sungai dibuat pemukiman yang padat tanpa memperhatikan kondisi lingkungan sungai terebut. Fungsi DAS untuk mempertahankan kuantitas air dan air tidak terjadi karena DAS tidak mampu menjadi siklus untuk menerima dan mengumpulkan air hujan serta sedimen unsur hara untuk dialirkan ke sungai karena pemukiman di DAS telah menutup permukaaan tanah sehingga tidak bisa menjalankan siklus hidrologi dengan baik sebagaimana mestinya. Sehingga hal ini berpengaruh terhadap kualitas kuantitas air dan terkait ketinggian air hujan2. Bertambahnya C.TERMINOLOGI Beberapa istilah yang perlu dipahami dan disepakati bersama dalam hal pengertian yang terkandung berkaitan dengan pengelolaan DAS antara lain:
1. Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang

pemukiman

di

bantaran

Kali

Code

juga

berati

bertambah pula limbah rumah tangga yang dihasilkan.

merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas di daratan.

http://www.jelajahbudaya.com/tata-ruang-pemukiman-kali-code-yogyakarta-berdasarkandaerah-aliran-sungai-das.html oleh Ayu Kusumastuti

2. Sub

DAS

adalah

bagian

DAS

yang

menerima

air

hujan

dan

mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai utama.


3. Pengelolaan DAS adalah upaya manusia dalam mengendalikan

hubungan timbal balik antara sumber daya alam dengan manusia di dalam DAS dan dan segala aktifitasnya, dengan tujuan membina kelestarian keserasian ekosistem serta meningkatkan

kemanfaatan sumber daya alam bagi manusia secara berkelanjutan.


4. Pengelolaan DAS Terpadu adalah rangkaian upaya perumusan

tujuan,

sinkronisasi

program,

pelaksanaan

dan

pengendalian

pengelolaan sumber daya DAS lintas para pemangku kepentingan secara partisipatif berdasarkan kajian kondisi biofisik, ekonomi, sosial, politik dan kelembagaan guna mewujudkan tujuan Pengelolaan DAS. D. RUMUSAN MASALAH

Sebelum kami masuk ke dalam perumusan masalah, ada baiknya jika kami melampirkan sebuah artikel berkaitan dengan penelitian kami terhadap kali Code, berdasarkan yang telah kami kutip dari situs http://berita.walhi-jogja.co.id/:
(Senin, 18 Oktober 2010 12:32:33) JOGJA: Kali Code, Jogja, semakin rusak. Kualitas air memburuk. Talud penahan luapan banjir juga sudah renta dan rawan jebol. Sementara, pihak yang berwenang Sejumlah Ketua saling lempar pun Code tanggung Toto jawab. kalangan Pemerti digalakkan pemerintah semisal program kali bersih (prokasih) hingga saat ini belum berhasil. "Prokasih telah gagal. Tiap tahun dilakukan evaluasi. Seharusnya kualitas air semakin meningkat, nyatanya hingga sekarang tidak ada perubahan," ujar dia kepada Harian Jogja saat ditemui di rumahnya di daerah Code Utara, akhir pekan lalu. Menurut dia, Kali Code bukan lagi sebuah sungai melainkan hanya selokan. Kualitas air sangat buruk, padahal sebagian masyarakat masih menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari. Ada ribuan warga yang berdomisili di pinggir sungai yang sebenarnya hidup Sementara program yang

menyebut Kali Code sudah selayak selokan. Pratopo, mengatakan Kali Code yang membelah Kota Jogja selalu dirundung masalah yang belum ada solusinya hingga saat ini. Diantaranya adalah drainase dan limbah yang masih dibuang ke sungai sehingga tak ubahnya seperti selokan. Dikatakan, secara ekosistem, Code memang sudah rusak.

dalam bayang-bayang bencana banjir dan longsor. "Jika kondisi seperti ini terus menerus dibiarkan maka Code akan bernasib sama dengan Kali Ciliwung yang bisa menimbulkan bencana dahsyat," ungkap dia, Toto mengatakan persoalan seperti ini terjadi karena regulasi yang mengatur tentang sungai baik di tingkat pusat (PP) maupun daerah (Perda) belum ada. Raperda sungai yang pernah dibahas telah mangkrak selama lima tahun. Ujung-ujungnya, tidak jelas siapa yang memiliki kewenangan. Pemerti, kata dia, ingin melakukan perbaikan dengan rambat, Tindak melakukan penanaman sampah. adalah tanaman Pihaknya dengan membersihkan lanjut dari

Kelembagaan, kata dia, memiliki peran yang sangat vital sehingga nantinya tupoksinya jelas. Komunitas-komunitas yang ada di Kali Code, kata dia, sebenarnya sudah sangat mapan, hanya saja masih bergerak secara sporadis karena belum memiliki guideline. Hal sama juga diungkapkan Ketua Code Wisata Brontokusuman (Dewa Bronto) Nelson Sinaga. Menurut dia, kesemrawutan Kali Code tidak terlepas dari kurangnya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. Semestinya, kata dia, tidak hanya komunitaskomunitas pemerhati Code saja yang berkonsentrasi membersihkan sungai, tetapi juga diikuti oleh semua elemen masyarakat yang lain. "Tiap minggu memang dilakukan pembersihan, tapi jika hal itu tidak diikuti oleh warga di Utara, maka semuanya percuma saja," ujar dia saat ditemui Harian Jogja di Joglo Pinggir Code Jembatan Brontokusuman, akhir pekan lalu. Dulu, tutur dia, anak-anak kecil menjadikan sungai sebagai tempat bermain yang nyaman. Namun sekarang, orangtua malah melarang anaknya untuk bermain di sekitar sungai. Hal itu terjadi karena kondisi sungai yang tidak sehat, banyak sampah, bangkai yang

juga mengusulkan agar Perda segera dibuat. Perda membentuk komisi sungai yang diisi oleh elemen dari perguruan tinggi, LSM, birokrasi, dan swasta. Selain itu, perlu juga diwujudkan pinggiran kali sebagai ruang publik yang nyaman untuk warga. Anak-anak, kata dia, tidak perlu jauhjauh ke Kali Kuning di lereng Merapi hanya untuk Terkait untuk mendapatkan dengan mengantisipasi pengalaman kebencanaan, bila bencana yang dia besar menyenangkan tentang sungai. berpendapat perlu ada sebuah desain khusus melanda yakni penyediaan alat komunikasi dan pembuatan prosedur tetap (protap) yang tegas. "Segenap stakeholder yang memiliki kepentingan terhadap Kali Code harus duduk bersama untuk merumuskan kejelasan soal wewenang. Kalau hal itu tidak bisa dilakukan maka slogan one river, one plan, one integrated management hanya akan sebatas wacana," ungkap dia.

menimbulkan bau busuk. Program Pemkot yang hanya turun setahun sekali ke Kali Code manfaatnya masih kurang. Apalagi warga tidak dibekali dengan peralatan yang memadai. Karena itu, pembersihan pulau-pulau di tengah sungai yang membuat arus menjadi macet seringkali mengalami hambatan. Menurut Nelson, Dewa Bronto memiliki anganangan menjadikan Kali Code sebagai objek wisata alternatif Jogja. Kunci utamanya, kata dia, adalah mempertahankan sungai tetap

bersih sekaligus membangun rasa memiliki warga setempat. Ada banyak paket wisata saja yang bisa dikembangkan misalnya jembatan

penghijauan dan penegakan Perda larangan buang sampah," ujar dia. Faktanya hingga saat ini tidak ada ramburambu larangan. Selain itu tidak juga dilakukan penyuluhan yang intensif kepada warga sehingga kesadaraan mereka tidak mengalami peningkatan. Dia berpendapat tidak adanya koordinasi yang jelas membuat keadaan semakin kacau. Apalagi belakangan ini diwacanakan pembangunan kantung parkir Malioboro di atas Kali Code. Secara ekonomis, kata dia, hal itu memang menguntungkan, namun dari sisi lingkungan hidup jelas merugikan.

gantung sarana outbond, flyng fox, sarana olahraga air dan juga lomba memancing, ungkap dia. Jika dikelola dengan baik, dia berkeyakinan Code akan berkembang menjadi ruang publik idola masyarakat yang pada akhirnya bisa mendatangkan manfaat dari sisi ekonomis. Hanya saja, kata dia, memang masih perlu diperbanyak taman. Wignya Masyarakat Cahyana, Pinggir Umur cuaca pegiat Sungai talud Paguyuban (PMPS) fasilitas pendukung seperti

"Sejak dulu masyrakat Code dekat dengan mitos, yakni tidak boleh sembarangan Code memperlakukannya. Banjir bandang bukan bencana, selatan," Sumber http://harianjogja.com/read/jogja/14734/ melainkan ungkap upaya membersihkan diri dan buang sial ke laut dia.(Harian Jogja/Esdras : Idialfero Ginting)

mengatakan kondisi Code saat ini cukup memprihatinkan. sudah lemah. tebing tua Saat kebanyakan menjadi muncul, dipikirkan sehingga pondasinya ekstrim

diperkirakan akan banyak yang ambrol dan longsor. "Harusnya

Kasus di atas mendasari kami untuk melakukan penelitian berkaitan dengan keadaan kali Code saat ini. Berikut adalah rumusan permasalahan yang telah kami rangkum: Izin tinggal di wilayah pinggiran kali Code Pengelolaan limbah rumah tangga di sekitar kali Code Ada/tidaknya tindakan pemerintah daerah berkaitan dengan pengelolaan limbah di kali Code Kendala pengelolaan limbah di kali Code Efektivitas kegiatan pembersihan kali Code

E. HASIL PENELITIAN