Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

1.1 SKENARIO Ny. Ani, 25 tahun, datang ke poliklinik dengan keluhan tidak haid sampai 4 bulan. Riwayat menarke 13 tahun dan memiliki siklus haid 29-31 hari.

1.2 KATA SULIT 1.2.1 Menarke adalah waktu pertama kalinya mendapat haid, biasanya saat mencapai usia 13 -15 tahun.

1.3 KATA KUNCI 1.3.1 Wanita, 25 tahun 1.3.2 Tidak haid, sejal 4 bulan yang lalu 1.3.3 Menarke usia 13 tahun 1.3.4 Siklus menstruasi

1.4 PERTANYAAN 1.4.1 Sebutkan organ dan hormon yang berperan pada siklus haid? 1.4.2 Jelaskan fisiologi haid normal ! 1.4.3 Apa yang dimaksud dengan amenorhea? 1.4.4 Jelaskan mekanisme kehamilan? 1.4.5 Jelaskan kemungkinan-kemungkinan yang dapat menyebabkan gangguan haid!

Samanuddin Manawari 10 777 011

Page 1

1.5 MIND MAP

Samanuddin Manawari 10 777 011

Page 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 SIKLUS HAID

Gambar 1. Prinsip dasar regulasi fungsi haid


Buku Ilmu Kandungan, Edisi Ketiga. Hal-174

Ada beberapa organ dan hormon yang berpengaruh terhadap siklus haid yaitu hipotalamus menghasilkan GnRH, hipofisis menghasilkan FSH dan LH, Ovarium menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Siklus haid dipengaruhi oleh GnRH yang dihasilkan oleh hipotalamus akan merangsang hipofisis anterior untuk menghasilkan FSH, FSH akan memicu pematangan folikel diovarium setelah itu terjadi sintesis estrogen dalam jumlah besar. Estrogrn selanjutnya akan menyebabkan proliferasi sel-sel endometrium (fase proliferasi/fase folikuler). Estrogen
Samanuddin Manawari 10 777 011 Page 3

yang tinggi akan mengirim sinyal balik ke hipofisis untuk mengeluarkan LH yang akan memicu terjadinya ovulasi dan memicu korpus luteum untuk menghasilkan progesteron. Progesteron akan memicu perubahan sel-sel endometrium menjadi sekretorik (fase sekresi/fase luteal), keadaan ini berlangsung 14 hari, bila tidak terjadi fertilisasi maka korpus luteum akan mengalami degenerasi menjadi korpus albikans dan menyebabkan terjadinya penurunan kadar progesteron. Kadar

progesteron yang rendah akan menyebabkan lapisan endometrium yang tebal akan luruh, maka akan terjadi yang disebut dengan haid.

2.2 AMENOREA Amenorea adalah tidak terjadi haid pada seorang perempuan, dimana klasifikasi amenorea terbagi atas amenorea primer dan amenorea sekunder : 2.2.1 Amenorea primer, yaitu tidak terjadi haid sampai usia 14 tahun, disertai tidak adanya pertumbuhan atau perkembangan tanda kelamin sekunder atau tidak terjadi haid sampai usia 16 tahun, disertai adanya pertumbuhan normal dan perkembangan tanda kelamn sekunder. Sering disebabkan kelainan kongenital seperti aplasia uterus dan vagina (sindrom Mayer-Kustner-V Rokitansky), agenesis atau hipogenesis gonad. 2.2.2 Amenorea sekunder, yaitu keadaan dimana tidak terjadi haid untuk sedikitnya selama 3 bulan berturut-turut pada perempuan yang sebelumnya pernah haid. Dapat disebabkan oleh kelainan pada tingkat hipotalamus (Amenorea Hipotalamus, sindroma kallmann), hipofisis (Adenoma hipofisis, Empty Sella Syndrome, Sindroma Sheehan), ovarium (Sinroma Turner, Premature Ovarian Failure), dan Uterus (Sindroma Mulleri). Keadaan ini juga bisa disebabkan kemungkinan adanya kehamilan.
Buku Ilmu Kandungan, Edisi Ketiga. Hal-174

Asherman,

Endometritis

tuberkulosa,

Agenesis

Duktis

Samanuddin Manawari 10 777 011

Page 4

2. 3 MENEGAKKAN DIAGNOSIS SUATU KEHAMILAN 2.3.1 ANAMNESIS Tanyakan adanya keluhan keterlambatan datang bulan yang dialami pasien ? Tanyakan ada/tidaknya mual dan muntah dipagi hari (morning sickness)? Tanyakan ada/tidaknya konstipasi? Tanyakan tentang munculnya kebiasaan akan sering buang air kecil (poliuria)? 2.3.2 PEMERIKSAAN FISIK Tanda hegar, yaitu uterus akan membesar akibat pengaruh estrogen dan progesteron, isthmus uteri akan mengalami hipertrofi menjadi panjang dan lunak. Tanda Chadwick, yaitu vagina dan vulva mengalami

hipervaskularisasi yaitu lebih merah agak kebiruan. Braxton Hicks, yaitu kontraksi korpus uteri akibat adanya buah kehamilan Piskasek, yaitu bagian uterus tempat implantasi hasil konsepsi teraba menonjol daripada bagian lain uterus Payudara akan mengalami perubahan yaitu akan lebih sensitif dan lunak juga mengalami perubahan ukuran yaitu akan membesar. Juga warna puting susu akan menjadi gelap oleh karena hiperpigmentasi. Teraba/terasa gerakan janin pada palpasi atau tampak pada imaging. Ballotement (+). Jika (-) curiga mola hidatidosa. Terjadi peningkatan suhu badan

2.3.3 PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium, test pack (test imunologis) yaitu mendeteksi kadar hCG dari sampel urin. USG untuk memastikan tanda-tanda kehamilan.
Buku Ilmu Kebidanan, Edisi keempat. Hal-213 Kuliah dr. Deviana S Riu,SpOG

Samanuddin Manawari 10 777 011

Page 5

2.4 SINDROM ASHERMAN 2.4.1 DEFINISI Sindroma (kumpulan gejala) Asherman adalah terbentuknya adhesi (perlengketan) pada bagian dalam rahim (endometrium), sebagai akibat dari jaringan parut yang timbul saat tindakan pembedahan. Pasien mengalami pengurangan menstruasi, meningkatnya kejang perut dan rahim, sampai tidak adanya haid (amenorrhea) dan sering menyebabkan kemandulan (infertilitas).Sindroma Asherman merupakan kondisi yang jarang. Pada kebanyakan kasus, terjadi pada wanita yang menjalani tindakan dilatation and curettage (D&C).
Buku Ilmu kandungan, Edisi Ketiga. Hal-177

2.4.2 ETIOLOGI Trauma pada lapisan basal, biasanya setelah dilatasi dan kuretase (D & C) dilakukan setelah, keguguran atau, persalinan atau untuk aborsimedis, yang berkembang menjadi bekas luka intrauterin mengakibatkan adhesi yang dapat menghancurkan rongga uterus dalam berbagai derajat.
Buku Ilmu kandungan, Edisi Ketiga. Hal-177

2.4.3 GEJALA Beberapa pasien merasakan sakit pada perut saat mau menstruasi setiap bulan,nyeri ini mungkin menunjukkan bahwa menstruasi terjadi tetapi darah tidak dapat keluar karena serviks tertutup oleh adhesi atau obstruksi.Derajat Sindrom Asherman tergantung pada tingkat dan ketebalan adhesi, oleh karena itu Sindrom Asherman dapat dinilai menjadi ringan, sedang atau berat. Ringan : Pada tingkat ini, perlengketan yang terjadi tipis,lemah dan mudah dilepaskandengan alat yang sederhana seperti histeroskopi. Kavum endometrium dapat tertutupsebagian atau total oleh perlekatan tersebut, namun tidak terjadi kerusakan yang luas pada endometrium. Sedang : Perlengketan pada tingkat ini lebih tebal dengan untaian jaringan otot yang bercampur dengan jaringan fibrosus. Kavum endometrium dapat dipengaruhisebagian atau seluruhnya.

Samanuddin Manawari 10 777 011

Page 6

Perlengkatan tidak dapat dilepaskan dengan mudah dandapat terjadi perdarahan saat prosedur dilakukan Berat : Perlengketan yang terjadi lebih tebal dibandingkan dengan stadium sedangdan kerusakan pada endometrium sangat luas. Dinding uterus ruptur. 2.4.4 DIAGNOSIS 2.2.4.1 ANAMNESIS Dismenorea dan hypomenorrhea (nyeri ini mungkin menunjukkan bahwa menstruasi terjadi tetapi darah tidak dapat keluar karena serviks tertutup oleh adhesi atau obstruksi) 2.2.4.2 PEMERIKSAAN KLINIS Biasanya normal, tidak ada sesuatu yang berarti. 2.2.4.3 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Gambar 2. Hysteroscopic of uterus with of adhesions

Samanuddin Manawari 10 777 011

Page 7

Gambar 3. HSG (Histero-Salphyngo-Graphy) of uterus with corporal adhesions (])

Gambar 4. USG Transvaginal with adhesions (+)

2.4.5 PENATALAKSANAAN Penanganan sindroma asherman dilakukan dengan melakukan dilatasi kuret untuk menghilangkan perlekatan.
Samanuddin Manawari 10 777 011 Page 8

Saat ini visualisasi langsung menggunakan histeroskopi dan dengan memakai alat gunting dan kateter untuk menghilangkan perlekatan memberikan hasil lebih baik dibandingkan tindakan dilatasi kuret secara membuta.

Selanjutnya dipasang IUD(intra uterine device) untuk mencegah perlekatan pasca operasi. Penggunaan kateter pediatri foley yang diisi cairan 3 ml dan dipasang didalam rongga uterus selama 7 hari bisa menjadi alternatif.

Untuk memacu pertumbuhan endometrium dan mengembalikan siklus haid diberikan stimulus estrogen 2,5 mg setiap hari selama 3 minggu dan progestin 10 mg setiap hari pada minggu ke-3

Buku Ilmu kandungan, Edisi Ketiga. Hal-177

2.4.6 PROGNOSIS Prognosis tergantung dari pembentukan adhesi atau perlengketan. Ringan sampaisedang adhesi biasanya dapat diobati dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Obliterasi luas dari kavum uteri atau pembukaan tuba fallopi (ostium) dan trauma yang dalam pada endometrium atau miometrium mungkin memerlukan intervensi bedah beberapa kali dan terapi hormon atau bahkan sulit dikoreksi.

Samanuddin Manawari 10 777 011

Page 9

DAFTAR PUSTAKA 1. Hendarto Hendy. Gangguan haid/perdarahan uterus abnormal,

Amenorea. Ilmu kandungan. Jakrta 201; PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Edisi Ketiga : hal 173-181. 2. Klein SM, Garcia C-R (1973). "Asherman's syndrome: a critique and current review". Fertility and Sterility 24 (9): 722735..PMID 4725610. 3. Netter AP, Musset R, Lambert A Salomon Y (1956). "Traumatic uterine synechiae: acommon cause of menstrualinsufficiency,sterility,

andabortion". Am J Obstet Gynecol. 71 (2): 36875.PMID 13283012. 4. Stillman RJ, Asarkof, N (1985). "Association between mullerian duct malformations and Asherman syndrome in infertile women". Obstet Gynecol 65 (5): 6737.PMID 3982744. 5. http://www.healthline.com/blogs/pregnancy_childbirth/2008/06/asherman syndrome.html?blog=pregnancy_childbirth&post=2008%2F06%2Fasher mans-syndrome.html 6. http://www.scribd.com/doc/44272099/Asherman-Syndrome

Samanuddin Manawari 10 777 011

Page 10