Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Selama hamil, kebanyakan wanita mengalami perubahan psikologis dan emosional. Sering kali kita mendengar orang mengatakan betapa bahagianya dia karena akan menjadi seorang ibu dan bahwa dia sudah memiliki nama untuk bayi yang akan dilahirkannya. Namun juga tidak jarang ada wanita yang merasa khawatir kalau terjadi masalah dalam kehamilannya, khawatir jika akan kehilangan kecantikannya, atau ada kemunginan bayinya tidak normal. Sebagai seorang perawat harusnya dapat menyadari adanya perubahan-perubahan ini pada wanita hamil agar kita dapat memberikan dukungan dan memperhatikan kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, dan pertanyaanpertanyaan. Kehamilan melibatkan seluruh anggota keluarga. Karena konsepsi merupakan awal, bukan saja bagi janin yang sedang berkembang, tetapi juga bagi keluarga, yakni dengan hadirnya seorang anggota baru dan terjadinya perubahan hubungan dalam keluarga, maka setiap anggota keluarga harus beradaptasi terhadap kehamilan dan menginterpretasinya berdasarkan kebutuhan masing-masing. Proses adaptasi keluarga terhadap kehamilan ini berlangsung dalam suatu lingkungan budaya yang dipengaruhi oleh tren-tren sosial. Timbul perubahan yang dramatis dalam struktur masyarakat dewasa ini dan perawat harus siap untuk mendukung keluarga dengan orang tua tunggal, keluarga rekonstruksi, dan keluarga dengan kedua orang tua bekerja, serta keluarga tradisional dalam menghadapi kelahiran anak.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, maka timbul beberapa rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana proses adaptasi maternal terhadap kehamilan? 2. Bagaimana proses adaptasi keluarga terhadap kehamilan? 3. Bagaimana pengaruh kehamilan pada kehidupan sosial? 4. Apa saja problem psikologis yang terjadi selama kehamilan? 5. Apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak psikologis yang negatif?

C. Tujuan Penulisan Dalam makalah ini tidak terlepas dari tujuan pembahasan. Adapun tujuan pembahasan dari makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui bagaimana proses adaptasi maternal terhadap kehamilan, 2. Untuk mengetahui bagaimana proses adaptasi maternal terhadap kehamilan, 3. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh kehamilan pada kehidupan sosial, 4. Untuk mengetahui apa saja problem psikologis yang terjadi selama kehamilan, 5. Untuk mengetahui apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak psikologis yang negatif.

BAB II PEMBAHASAN
A. ADAPTASI MATERNAL TERHADAP KEHAMILAN 1. Konsep Adaptasi Maternal Wanita, dari remaja sampai wanita usia sekitar 40-an, menggunakan masa hamil 9 bulan untuk beradaptasi terhadap peran sebagai ibu. Adaptasi ini merupakan proses sosial dan kognitif kompleks yang bukan didasarkan pada naluri, tetapi dipelajari. (Rubin, 1967; Affonso dan Sheptak, 1989 ) Untuk menjadi seorang ibu, seorang remaja harus beradaptasi dari kebiasaan dirawat ibu menjadi seorang ibu yang melakukan perawatan. Sebaliknya, seorang dewasa harus mengubah kehidupan rutin yang dirasa mantap menjadi suatu kehidupan yang tidak dapat diprediksi, yang diciptakan seorang bayi. (Mercer, 1981)

2.

Respon Terhadap Kehamilan Setiap orang memiliki respon yang berbeda terhadap diagnosis kehamilan, namun sebagian orang tua ini merupakan hal yang menggembirakan dan adapula orangtua yang takut dan merupakan peristiwa yang mengejutkan karena ketidaksiapan mereka.

Ambivalen
Ambivalensi didefenisiskan sebagai konflik perasaan yang simultan, seperti cinta dan benci terhadap seseorang, sesuatu, atau suatu keadaan. Ambivalensi adalah respon normal yang dialami individu yang

mempersiapkan diri untuk suatu peran baru. Kebanyakan wanita memiliki sedikit perasaan ambivalen selama hamil. Kadang-kadang respon seorang wanita terhadap kehamilan yang bersifat mendua, bahkan pada kehamilan yang sudah direncanakan. Hal ini disebabkan implikasi yang harus dihadapi seperti pertimbangan finansial, hubungan dengan orang lain, dll. Selain itu, akan timbul tanggung jawab atas bayi yang akan dilahirkannya. Jadi, meskipun calon ibu terlihat gembira namun dia masih membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.

Pengakuan
Perasaan yang bercampur aduk akan berubah seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Dengan bertambah besarnya perut dan terjadinya berbagai peristiwa positif seperti melihat gambaran ultrasonografi atau mendengar suara jantung yang diperkeras oleh alat pengeras suara, maka ibu hamil mulai menerima janin sebagai calon anaknya dengan demikian mulai mempersiapkan dirinya untuk menghadapi bayi yang akan hadir.

Labilitas Emosional
Labilitas emosional yaitu perasaan gembira yang bergantian dengan perasaan sedih atau kadang-kadang campuran kedua perasaan tersebut. Perubahan hormonal yang merupakan bagian dari respons ibu terhadap kehamilan dapat menjadi penyebab perubahan mood. Bagi wanita itu sendiri, perubahan emosi ini sangat mengganggunya dan dapt membuat dirinya merasa kurang.

3.

Adaptasi Psikologis Dalam Kehamilan Respon psikologis masa hamil berubah setiap saat sesuai dengan trimesternya, yang diawali dengan suatu ketidakpastian (ambivalent) pada kehamilannya dan berfokus hanya pada diri sendiri lalu lambat laun fokus tersebut mulai bergeser ke arah bagaimana ia dapat melindungi janin yang dikandungnya. Trimester I Segera setelah konsepsi, kadar hormon progesterone dan estrogen dalam tubuh akan meningkat sehingga hal ini menimbulkan mual dan muntah pada pagi hari, lemah, lelah dan membesarnya payudara. Ibu merasa tidak sehat dan seringkali membenci kehamilannya. Banyak ibu yang merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan, dan kesedihan. Sering kali pula pada awal kehamilan ini ibu berharap untuk tidak hamil. Pada trimester pertama seorang ibu akan sering mencari tanda-tanda untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya memang hamil. Setiap perubahan yang terjadi pada tubuhnya akan selalu diperhatikan dengan seksama. Karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seorang ibu yang mungkin diberitahukannya kepada orang lain atau dirahasiakannya.

Hasrat untuk melakukan hubungan seks pada wanita yang hamil pada trimester pertama ini berbeda-beda. Walaupun pada beberapa wanita mengalami gairah seks yang lebih tinggi, namun kebanyakan wanita mengalami penurunan libido selama periode ini. Keadaan ini dapat menimbulkan kebutuhan untuk berkomunikasi secara lebih terbuka dan jujur terhadap pasangan. Banyak wanita yang merasa sangat butuh untuk dicintai dan merasa kuat untuk mencintai meski tanpa melakukan seks, juga kecenderungannya selalu ingin diperhatikan oleh orang disekitarnya terutama oleh pasangan. Libido sagat dipengaruhi oleh kelelahan, rasa mual, pembesaran payudara, keprihatinan, dan kekhawatiran semua ini adalah bagian kenormalan dari proses kehamilan pada masa ini. Reaksi pertama kali seorang pria (suami) ketika mengetahui dirinya akan menjadi seorang ayah adalah timbulnya kebanggaan atas

kemampuannya mempunyai keturunan, namun di lain sisi juga akan timbul kekhawatiran akan kesiapannya akan status barunya nanti. Biasanya laki-laki akan mulai berpikir dan sangat memperhatikan keadaan ibu yang sedang hamil dan menghindari hubungan seksual karena takut akan menciderai bayinya. Ada pula pria yang hasrat seksnya terhadap pasangannya yang sedang hamil relative lebih besar. Selain respon yang diperhatikannya, seorang suami juga harus dapat memahami keadaan ini dan menerimanya. Trimester II Pada masa ini adalah masa dimana ibu merasa sehat. Tubuh ibu sudah terbiasa dengan kadar hormon yang lebih tinggi. Perut ibu belum terlalu besar sehingga belum dirasakan sebagi bebab yang berat. Di masa ini ibu sudah mulai menerima kehamilannya dan mulai dapat menggunakan energi dan pikirannya secara lebih konstruktif. Pada trimester ini pula ibu sudah dapat merasakan pergerakan janinnya, dan merasakan kehadiran bayinya sebagai sosok yang diluar dari dirinya sendiri. Banyak ibu yang merasa terbebas dari kecemaasan dan rasa tidak nyaman seperti yang pernah dirasakannya pada trimester awal kehamilan, dan di msaa ini pula cenderung ibu mengalami peningkatan libido.

Trimester III Trimester ketiga sering kali disebut-sebut sebagai periode menunggu atau masa waspada, karena pada saat inilah ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya. Gerakan bayi dan pembesaran perut merupakan dua hal yang mengingatkan ibu pada bayinya. Kadang-kadang muncul kecemasan ibu jika bayinya lahir sewaktu-waktu. Hal ini lebih membuat ibu waspada dari sebelumnya kalau saja timbul tanda-tanda akan dimulainya persalinan. Kecemasan lain yang sering muncul pada ibu dalah ketakutan jika terjadi ketidak normalan pada bayinya, bersikap lebih protektif terhadap apapun yang dianggapnya mungkin saja akan membahayakan bayinya. Dan

kecemasan lain yang paling sering muncul adalah rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada saat perlangsungan persalinan dan kelahiran. Trimester ketiga adalah saat persiapan aktif bagi orang tua untuk persiapan kelahiran bayinya, pemilihan nama bayi harusnya telah siap pada masa ini. Keluarga telah menduga-duga jenis kelamin bayinya apakah lakilaki atau perempuan, juga bayi yang lahir nanti akan mirip siapa.

B. ADAPTASI KELUARGA TERHADAP KEHAMILAN 1. Konsep Adaptasi Paternal Secara umum calon ayah, sebagaimana ibu yang menantikan kelahiran anaknya, dianggap telah mempersiapkan diri menjadi orang tua seumur hidupnya. Sadar atau tidak sadar pria akan berfikir untuk memiliki istri dan anak. Respon emosi pria terhadap peran seorang ayah, kekhawatirannya dan kebutuhannya akan informasi berubah-ubah sepanjang masa hamil. Tahap pola perkembangannya dibagi menjadi 3, yaitu : Fase Pengumuman Dapat berlangsung beberapa jam sampai beberapa minggu. Tugas perkembangannya ialah menerima fakta biologis akan kehamilan. Pria perlu merasa mampu menyatakan, Ia hamil dan saya adalah ayahnya. Reaksi pria terhadap kepastian akan kehamilan meliputi rasa suka cita atau rasa terkejut, tergantung pada apakah kehamilan itu diinginkan atau tidak direncanakan. Penerimaan akan suatu kenyataan kehamilan tampaknya lebih lambat pada ayah yang tidak mengenali gejala-gejala awal kehamilan dan hanya sedikit melihat perubahan fisik pasangannya dalam trimester pertama kehamilan.
6

Fase Moratorium Merupakan periode penyesuaian terhadap kenyataan hamil. Tugas perkembangan pada fase ini ialah menerima kehamilan dan mampu menyatakan Kami akan memiliki bayi dan kami berubah. Pria tampaknya mengesampingkan kesdaran akan kenyataan kehamilan untuk sementara waktu. Mereka semakin menilik diri dan semakin terlibat dalam banyak diskusi tentang filosofi kehidupan, agama, praktik membesarkan anak, dan mengasuh anak, serta dalam hubungannya dengan anggota keluarga serta teman-temannya. Bergantung pada kesiapan pria itu dalam menghadapi kehamilan, tahap ini dapat relatif singkat atau berlangsung terus sampai trimester terakhir. Fase Pemusatan Dimulai pada trimester terakhir dan ditandai dengan keterlibatan aktif sang ayah, baik dalam kehamilan maupun hubungannya dengan anaknya. Tugas perkembangannya ialah bernegosiasi dengan pasangannya tentang peran yang ia lakukan selama masa bersalin dan mempersiapkan diri menjadi orang tua. Ia harus mampu mengatakan Saya tahu peran saya selama proses persalinan dan saya akan menjadi orang tua. Pada tahap ini pria berkonsentrasi pada pengalamnnya selama masa kehamilan dan dengan demikian ia dapat semakin seirama dengan pasangannya.

2.

Adaptasi Kakek-Nenek Calon kakek-nenek dapat merupakan sumber krisis maturasi bagi calon orang tua. Kehamilan, tidak dapat disangkal lagi, merupakan bukti bahwa individu kini berusia cukup untuk memiliki seorang anak yang akan melahirkan cucunya. Banyak orang berfikir kakek-nenek adalah orang yang tua, berambut putih, dan renta secara fikiran dan fisik. Pada kelompok masyarakat yang mengutamakan orang muda menjadi tua dapat merupakan suatu hal yang aib. Sebagian orang menjadi kakek-nenek pada usia 30-an dan 40-an. Kadang kadang calon ibu yang mengumumkan kehamilannya kepada ibunya disambut dengan kata-kata Berani betul kamu lakukan hal itu kepada saya! Saya belum siap menjadi nenek! baik anak wanita maupun ibunya dapat menjadi terkejut dengan komentar tersebut dan merasa sakit hati. Sedangkan calon kakek-nenek yang lain bukan hanya tidak mendukung, tetapi juga memakai cara-cara terselubung untuk menekan percaya
7

diri calon orang tua yang masih muda. Ibu mungkin membicarakan kehamilannya yang sulit dulu; ayah mungkin membahas tentang pengeluaran yang tidak pernah berakhir untuk membesarkan anak, dan mertua wanita mungkin mengeluhkan kurangnya perhatian anak lelakinya untuk orang lin karena kini hnya tercurah pada kehamilan menantunya. Namun, kebanyakan kakek-nenek dengan sangat gembira menantikan

kehadiran bayi baru dalam keluarga. Hal ini embangkitkan kembali perasaan saat mereka masih muda, rasa suka cita menantikan kelahiran dan menjadi orang tua baru sewaktu anak-anak masih bayi. Mereka mengingat kembali saat bayi mereka pertama kali tersenyum, kata-kata dan angkah-langkah pertama, yang nantinya dapat dipakai untuk mengakui bayi tersebut sebagai anggota keluarga. Rasa puas muncul karena ada kepastian kelanjutan antara generasi terdahulu dan saat ini. Kehadiran kakek-nenek dapat menguatkan sistem keluarga dengan memperluas lingkaran pendukung dan asuhan.

3.

Adaptasi Saudara Kandung Berbagai berita kehadiran seorang adik laki-laki atau perempuan yang baru dapat merupakan krisis utama bagi seorang anak. Anak yang lebih besar sering mengalami perasan kehilangan atau merasa cemburu karena digantikan oleh bayi yang baru. Beberapa faktor yang mempengaruhi respon seorang anak antara lain umur, sikap orang tua, peran ayah, lama waktu berpisah dengan ibu, peraturan kunjungan di rumah sakit, dan bagaimana anak itu dopersiapkan untuk suatu perubahan. Ibu yang memilki anak harus menyediakan banyak waktu dan tenaga untuk mengorganisasi kembali hubungannya dengan anak-anaknya. Ia perlu

mempersiapkan anak-anaknya untuk menyambut kelahiran sang bayi dan memulai proses perubahan peran dalam keluarga dengah melibatkan anak-anaknya dalam kehamilan dan bersikap simpatik terhadap protes anak-anaknya yang lebih besar karena mereka kehilangan tempat dalam hierarki keluarga. Tidak ada anak yang rela menyerahkan posisinya dalam keluarga.

C. PENGARUH KEHAMILAN PADA KEHIDUPAN SOSIAL Kehamilan pada kehidupan sehari-hari seorang wanita sangat bergantung pada dukungan sosialnya. Jika kehamilannya disertai dengan kesadaran bahwa bayi
8

merupakan dambaan dirinya, suami, serta orang tuanya, maka lingkungan sosial ini sangat ideal. Tetapi tidak semua ibu hamil memiliki suasana yang ideal ini, ini semua tergantung pada lingkungan mereka masing-masing. Karier Prospek karier pada seorang wanita akan dibatasi dengan adanya kehamilan. Pengaruh kehamilan pada pekerjaan maupun sebaliknya sangat tergantung pada jenis pekerjaan dan orang-orang di tempat wanita itu bekerja. Meninggalkan pekerjaan saat hamil dapat membuat wanita hamil merasa kesepian, menganggap dirinya tidak berguna dan itu dapat menjadi masalah. Selain itu, wanita hamil dapat pula merasakan bahwa kini dia mempunyai banyak waktu untuk menyalurkan hobi, minta dan kegiatannya sampai bayi lahir nantinya. Aspek Finansial Aspek finansial dapat menjadi masalah yang sangat penting terutama jika kehamilan terjadi tanpa diduga. Misalnya, penghasilan suaminya tidak memadai dan dia terpaksa berhenti bekerja maka dia harus tinggal di daerah yang kumuh yang rentan penyakit, atau juga untuk menghemat pengeluaran wanita tersebut mungkin akan mengurangi makan makanan segar kaya protein dan kalsium yang dibutuhkannya. Hubungan dengan Orang Lain Hubungan dengan orang lain akan mengalami perubahan akibat kehamilan. Pasangan suami isteri tidak lagi bebas untuk mengikuti berbagai kegiatan sosial. Persiapan finansial dan fisik merupakan perhatian yang utama dan mungkin saja mereka masuk pada kelompok para orangtua yang baru saja memiliki anak dan membicarakan segala hal mengenai kelahiran anak. Perasaan cemburu bisa muncul dari keluarga yang iri hati terhadap kebahagiaan pasangan tersebut. Sebagian besar masalah yang timbul bisa diatasi, jika pasangan tersebut diberi kesempatan untuk beradaptasi dengan status mereka yang sudah berubah. Pada akhir kehamilan, pasangan tersebut akan merasakan bahwa sebenarnya mereka dikelilingi oleh orang0orang yang mendukung dan memperhatikan mereka. Ketakutan dan kecemasan Wanita hamil dan suaminya mungkin mengalami ketakutan, kekhawatiran, dan berbagai reaksi emosional yang tidak dapat dibagi dengan keluarga ataupun sahabtnya. Mungkin mereka malu dianggap lemah ketika kehamilan dan kelahiran terjadi. Ini merupakan peritiwa yang normal dan banyak dialami.
9

D. PROBLEM PSIKOLOGIS SELAMA KEHAMILAN Masalah psikologis jarang dijumpai dalam masa kehamilan, kendati depresi dapat terjadi pada wanita yang rentan. Kelainan psikologi yang sudah ada sebelumnya dapat membaik atau bertambah parah. Dalam anamnesa riwayat pasien, kita harus pula menanyakan riwayat psikologis di samping riwayat medis. Kesinambungan perawatan merupakan faktor yang penting dalam asuhan maternitas. Penilaian secara objektif terhadap keadaan psikologis dan penyimpangan perilaku perlu dicatat dan bantuan diberikan setelah pasien dirujuk ke dokter psikiatri.

E. LANGKAH-LANGKAH UNTUK MENGURANGI DAMPAK PSIKOLOGIS YANG NEGATIF Menyimak Informasi Seputar kehamilan, Berbagai informasi mengenai kehamilan bisa didapat dari buku, majalah, koran, tabloid, atau situs kehamilan di internet. Dengan mengetahui akar masalah yang terjadi maka ibu bisa lebih tenang menghadapi kehamilan. Ibu pun jadi tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, jika tidak berusaha mencari tahu terhadap perubahan pada dirinya, tak mustahil akan timbul berbagai perasaan yang mungkin saja sangat mengganggu kondisi psikis. Kontrol Teratur, Kontrol bisa dilakukan pada dokter kandungan atau bidan. Saat konsultasi, ibu bisa menanyakan tentang perubahan psikis yang dialami. Biasanya, bila ibu perlu penanganan lebih serius, dokter atau bidan akan menganjurkan ibu untuk menemui psikolog atau psikiater yang dapat membantu kestabilan emosi. Perhatian Suami, Perhatian yang diberikan oleh suami bisa membangun kestabilan emosi ibu. Misalnya, ibu bisa saja meminta suami untuk menemaninya berkonsultasi ke dokter atau bidan agar merasa lebih nyaman karena ada perhatian dari pasangan. Jalin Komunikasi, Jangan pernah menutupi perubahan psikis yang terjadi, tetapi komunikasikanlah hal itu kepada suami. Dengan begitu diharapkan suami bisa berempati dan mampu memberi dukungan psikologis yang dibutuhkan. Dukungan dari lingkungan, terutama suami, sangat berpengaruh terhadap kestabilan emosi ibu hamil. Sebaliknya, perasaan ibu hamil yang dipendam sendiri tidak akan membawa perubahan. Suami tetap tidak acuh dan masalah ibu jadi berkepanjangan.

10

Beraktivitas, Sangat dianjurkan agar ibu mencari aktivitas apa pun yang dapat meredakan gejolak perubahan psikis. Bisa dengan menjahit, melukis, bermain musik, atau apa pun. Umumnya, ibu yang aktif di luar rumah bisa mengatasi berbagai perubahan psikisnya tersebut dengan lebih baik. Perhatikan Kesehatan, Tubuh yang sehat akan lebih kuat menghadapi berbagai perubahan, termasuk perubahan psikis. Kondisi ini bisa terwujud dengan berolahraga ringan dan memperhatikan asupan gizi. Hindari mengonsumsi makanan yang dapat membahayakan janin, seperti makanan yang mengandung zatzat aditif, alkohol, rokok, atau obat-obatan yang tidak dianjurkan bagi kehamilan. Relaksasi, Bila ingin mendapatkan perasaan yang lebih relaks, ibu bisa mengatasinya dengan mendengarkan musik lembut, belajar memusatkan perhatian sambil mengatur napas, senam yoga, dan bentuk relaksasi lainnya.

11

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Wanita, dari remaja sampai wanita usia sekitar 40-an, menggunakan masa hamil 9 bulan untuk beradaptasi terhadap peran sebagai ibu. Adaptasi ini merupakan proses sosial dan kognitif kompleks yang bukan didasarkan pada naluri, tetapi dipelajari. 2. Setiap orang memiliki respon yang berbeda terhadap diagnosis kehamilan, namun sebagian orang tua, ini merupakan hal yang menggembirakan dan adapula orangtua yang takut dan merupakan peristiwa yang mengejutkan karena ketidaksiapan mereka. 3. Respon psikologis masa hamil berubah setiap saat sesuai dengan trimesternya. Baik pada trimester I, trimester II, maupun trimester III. 4. Kehamilan melibatkan seluruh anggota keluarga. Karena konsepsi merupakan awal, bukan saja bagi janin yang sedang berkembang, tetapi juga bagi keluarga, yakni dengan hadirnya seorang anggota baru dan terjadinya perubahan hubungan dalam keluarga, maka setiap anggota keluarga harus beradaptasi terhadap kehamilan dan menginterpretasinya berdasarkan kebutuhan masing-masing. 5. Pengaruh kehamilan pada kehidupan sosial anatra lain karier, aspek finansial, hubungan dengan orang lain, serta ketakutan dan kecemasan. 6. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak psikologis yang negatif antara lain Menyimak Informasi Seputar kehamilan, kontrol teratur, perhatian suami, jalin komunikasi, beraktivitas, perhatikan kesehatan dan relaksasi.

12

DAFTAR PUSTAKA
Andina. 2010. Adaptasi Psikologis dalam Kehamilan In http://andienbecomeamidwife. blogspot.com Diakses tanggal 14 november 2012 Anonim. 2010. Perubahan Adaptasi Psikologi dalam Kehamilan In http://zahramidwife. wordpress.com Diakses tanggal 14 november 2012 Anonim. 2010. Proses Adaptasi Fisiologis dan Psikologis dalam Kehamilan In http:// acehmidwife.wordpress.com Diakses tanggal 14 november 2012 Bobak, dkk. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta : EGC Farren, Helen. 2001. Perawatan Maternitas Edisi 2. Jakarta: EGC Henderson, Christine. 2005. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC Iyha. 2009. Proses, Adaptasi Fisiologis dan Psikologis pada Masa Antenatal In http:// iyhamyu.blogspot.com Diakses tanggal 14 november 2012 Varney, Helen. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume I. Jakarta: EGC.

13