Anda di halaman 1dari 8

1

THE ETHNIC SWEET MEMORIES OF JAKARTA

“Ladies & gentleman, welcome to Soekarno-Hatta Internasional Airport,


Jakarta, Indonesia. Please remain seated until the fasten seat-belt sign is off. All the
crews would like to say thank you for flying with us and see you on the next flight... “,
suara dari speaker pesawat itu membangunkan Jacques. Sambil mengusap matanya
sejenak ia memalingkan pandangan ke arah jendela pesawat. Di sana terpampang
papan besar yang bertuliskan : “Soekarno-Hatta Airport”, yang membuktikan kalau ia
sudah tiba di tempat tujuannya. Perjalanan yang cukup jauh selama 15 jam dari Paris
sepertinya membuyarkan konsentrasi dan kesadarannya bahwa sekarang ia sudah tiba
di kota Jakarta, Indonesia.
Jacques melirik ke arah jam tangan digitalnya. Di situ tertulis angka 11.30
yang berarti saat ini di Jakarta waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB. Sambil
mengemasi barang bawaannya diiringi dengan rasa capek dan sekaligus senang
Jacques melangkah keluar dari pesawat. Begitu memasuki bandara, udara hangat dan
lembab khas kota Jakarta menghampiri wajahnya dan segera Jacques menuju ke
bagian keimigrasian. Terdapat antrian yang cukup panjang saat itu; Jacques melihat
suasana di sekelilingnya. Teringat 10 tahun yang lalu ketika ia harus meninggalkan
Indonesia karena mengikuti ayahnya yang memang berdomisili di Perancis. Itu
adalah saat yang paling menyedihkan karena ia harus berpisah dengan kedua sahabat
dekatnya. Sekarang, waktulah yang akhirnya akan mempertemukan mereka kembali.
Tak terasa tiba giliran Jacques untuk melapor di bagian imigrasi; prosesnya
berlangsung cukup cepat dan ditutup dengan senyuman polos dari sang petugas
imigrasi sambil mengatakan dengan logat kental Indonesianya : “Welcome to Jakarta,
mister.”
Setelah mengambil bagasi, Jacques langsung menuju ke pintu luar, ia
kebingungan mencari-cari kedua temannya karena saat itu bandara sedang padat
dengan penjemput. Ia menoleh kesana dan kemari mencari-cari siapa tahu ada sosok
yang bisa dikenalinya saat itu, dan akhirnya membuahkan hasil. Tepat di pojok kiri
terlihat dua sosok yang melambaikan tangan pada Jacques. Ya, kedua sosok itu begitu
mudah terlihat karena keduanya terlihat sangat ‘kontras’, yang satunya berwajah
oriental dan berkulit kuning langsat dan satunya lagi berwajah khas orang pribumi
2

dengan kulit sawo matang. Sontak saja Jacques langsung mengenali kedua sahabat
karibnya itu.
Dengan sedikit berlari sambil menebarkan pesona senyumnya Jacques
langsung menghampiri kedua sahabatnya itu. Mereka saling berpelukan, saling
melepas rindu. “Wow, you’re both looked so different guys!... Ups... sorry, kalian
kelihatan beda banget yah dengan foto yang dikirimin waktu itu”, Jacques menatap
kembali kedua sahabatnya itu dengan perasaan senang sekaligus keheranan.
Alung pun tak tinggal diam, “Ah, loe juga kelihatan beda banget! Dah makin
bule aja loe! Emang makan apa aja disana man? Hehehehe....” Teman orientalnya ini
tertawa geli hingga matanya yang cipit tidak terlihat lagi. “Iya nih, dah beda banget,
sekarang dah gede yak!”, Somat pun tak ketinggalan untuk memberikan komentar
tentang sahabat lamanya itu.
“Oklah, you win! Ngomong-ngomong skarang qt langsung jalan aja ya, dah
pegel nich kaki soalnya tadi lama ngantrinya di imigrasi.” Jacques memotong
pembicaraan singkat mereka. Mereka pun langsung menuju ke mobil Alung yang
terletak dekat di parkiran.
Di dalam hatinya, Jacques merasa sangat bangga dan sekaligus terharu,
sekarang kedua sahabat yang dirindukannya selama ini sudah berada bersama
dengannya. Sahabat yang sangat dirindukannya, dimana dia belajar banyak hal,
belajar untuk berbagi dan menolong. Hal yang sangat jarang ditemukannya selama
sekolah dan bergaul dengan orang-orang di Eropa. Ini kesempatan yang sangat langka
bagi Jacques karena baru kali ini ia diizinkan ke Indonesia, itupun karena bujukan dari
ibunya yang memang merindukan anaknya untuk ‘menjenguk’ Jakarta selama satu
minggu.
“S’karang kita mau kemana?” Somat langsung bertanya pada kedua
sahabatnya. “Terserah dech mo kemana, loe yang paling tau seluk beluk Jakarta
kan.”, Alung langsung menjawab pertanyaan Somat. “Ok dech, kalo gitu sekarang
kita makan bakso aja di taman Suropati, kan si JaKe dah lama banget nggak makan
yang gituan hehehehe....”, begitulah Somat memanggil Jacques, namanya sengaja
‘dibetawikan’ agar kedengaran lebih familiar dan mudah diingat.
Somat adalah orang asli Betawi. Pengetahuannya tentang Jakarta memang
sangat menggambarkan bahwa ia adalah orang asli Betawi yang benar-benar
mencintai budaya dan daerahnya. Saat ini ia adalah seorang mahasiswa Fakultas
Ekonomi di salah satu universitas negeri terkemuka di Jakarta. Ia menerima beasiswa
3

penuh dari pemerintah karena prestasinya dalam mengembangkan kebudayaan


Tanjidor di lingkungannya yang berhasil membawa grup musik tersebut hingga ke
Jepang.
Alung sendiri saat ini sudah memiliki usaha sendiri di salah satu kompleks
pertokoan di Mangga Dua walaupun ia juga masih tercatat sebagai mahasiswa
fakultas hukum di salah satu fakultas swasta di Jakarta . Sejak kecil Alung sudah
mewarisi bakat kedua orang tuanya dalam berdagang. Alung selalu yang mengatur
keuangan ketika mereka bertiga sedang jalan-jalan. Tanpa dibilang pun, wajah
oriental Alung langsung menggambarkan asalnya. Orang tuanya memang lahir di
Jakarta, namun budaya dan kebiasaan orang Tiongkok sepertinya tidak akan lepas dari
kehidupan keluarganya. Walaupun sangat perhitungan, tapi Alung tidak pernah pelit
pada kedua sahabatnya itu.
Jacques melengkapi keragaman persahabatan mereka. Ayahnya berasal dari
Perancis. Ayahnya bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta ketika menikah
dengan ibunya yang berasal dari Manado. Jacques lahir di Jakarta, tapi dibesarkan
dalam didikan dan lingkungan khas orang expatriat. Tapi itu tidak membuatnya
menutup diri terhadap orang lain, termasuk terhadap kedua sahabatnya itu. Saat ini
Jacques kuliah di fakultas kedokteran di salah satu universitas negeri di Paris.
Kebetulan saat ini ia sedang libur selama 1 minggu, sehingga ia menyempatkan diri
untuk mengunjungi kedua sahabat karibnya itu.
Setelah menghabiskan 2 mangkok mie bakso, Jacques langsung berkata pada
kedua temannya itu. “Wah, makanan Indonesia memang nggak ada bandingnya yach,
selama disana gw selalu keingat terus ama makanan Indo. Ngomong-ngomong, besok
pagi kita mo kemana? Jadi kan rencana kita nginap di rumah Alung?” Jacques
mengomentari makanan yang baru saja dilahapnya. “Yup, jadi dong, gimana kalo
besok pagi kita ke Monas aja kan kebetulan hari Sabtu, lari pagi terus makan gado-
gado. Loe pasti pengen juga kan makan gado-gado?”, usul Alung sambil sedikit
menggoda Jacques yang saat itu sedang kepedasan karena makan bakso.
Setelah puas menikmati makan malam mereka, Jacques, Alung & Somat pun
langsung menuju ke rumah Alung yang terletak di daerah Mangga besar. Alung
tinggal di Jalan Kemakmuran No. 123. Jacques sangat ingat alamat temannya itu
karena selain nama jalannya yang cukup ‘mencolok’, nomor rumahnya juga cukup
cantik untuk diingat. Tidak ada yang berubah dengan arsitektur rumah Alung.
Artsitektur Cina masih tampak pada pilar dan atap rumahnya, sedangkan bagian
4

rumah lainnya sudah direnovasi menjadi lebih modern dan minimalis. Ada
pengalaman yang seru ketika waktu mereka kecil saat perayaan Imlek. Alung
mengajak Somat dan Jacques untuk makan bersama di rumahnya. Alung lupa
memberitahukan bahwa makanan yang disajikan di rumahnya ada yang sebagian
mengandung babi, sehingga akhirnya Somat tanpa sengaja memakan daging haram
itu. Sejak saat itu, makanan untuk Somat selalu disendirikan ketika Alung
mengundang kedua temannya untuk makan bersama.
“Malam Om, Tante. Apa kabar? Ini ada titipan dari Mami, katanya buat
koleksi pajangan tante.” Jacques berbasa-basi sebentar ketika bertemu dengan kedua
orang tua Alung. “Wah, makasih ya Jak, yuk masuk. Tante udah nyiapin kamar buat
kalian biar nanti bisa seru-seruan.”, mamanya Alung langsung menyambut
kedatangan tamu expatriatnya dengan senyuman yang ramah. Ketiganya pun langsung
pulas terlelap.
Paginya, Somat langsung membangunkan kedua temannya itu usai sholat
subuh, “Woi!! Bangun!! Jadi nggak acara jalan-jalannya ke Monas??? Dah jam
stengah 5 nich!!”. Dengan terburu-buru Jacques dan Alung bangun dan segera
mempersiapkan diri untuk lari pagi.
Suasana di Monas pagi itu sangat ramai dan banyak jajanan yang siap
menggoda untuk dicicipi. Setelah berputar-putar dan jogging sebentar, perut sudah
keroncongan, Jacques langsung mengajak mereka berdua untuk sarapan gado-gado.
Sambil menikmati gado-gado, Jacques memandang sekeliling, di sebelah timur
tampak gereja Immanuel dan sebelah utara tampak mesjid Istiqlal. Ia teringat ketika
waktu kecil, saat Idul Fitri Jacques dan Alung mencari-cari Somat setelah sholat Ied.
Karena masih kecil, jadi yang mereka tahu bahwa semua orang muslim sholatnya di
Istiqlal, jadi mereka berdua mencari Somat di Istiqlal dan alhasil mereka tidak
menemukannya, karena Somat sholat di mesjid dekat rumahnya di daerah Condet.
Sambil memandang gereja Immanuel, Somat & Alung juga teringat dulu
ketika menjelang Natal, Alung & Somat biasanya menemani Jacques latihan drama di
gereja. Setelah itu mereka pulang bersama dan biasanya mampir sebentar untuk
makan kerak telor di stasiun gambir. Tak terasa semua memori yang indah ketika
mereka kecil sekarang muncul kembali. Jacques merangkul kedua temannya itu untuk
foto bersama di depan Monas sebagai kenang-kenangan.
Hari ini mereka berencana untuk jalan-jalan di Pekan Raya Jakarta. Jalan-jalan
kali ini memang dikhususkan untuk mengunjungi tempat-tempat yang unik dan
5

menarik yang sebagian besar pernah dikunjungi ketika mereka masih kecil. Bertemu
dengan Jacques merupakan kesempatan yang sangat jarang sehingga harus
dimanfaatkan sebaik mungkin. Waktu satu minggu memang sangat singkat, tapi itulah
kesempatan yang ada dan kesempatan yang berharga ini jangan sampai terlewatkan.
Suasana di PRJ sangat ramai dan penuh sesak, lagi-lagi mereka teringat ketika
mereka kecopetan dan akhirnya harus pulang jalan kaki ke rumah Alung untuk diantar
ke rumah masing-masing. Ramai dan sesak, itulah kesan saat Jacques menelusuri
lebih dalam arena PRJ. Ikon ondel-ondel tampak disana-sini, membuatnya merasa geli
sendiri karena waktu kecil sempat merasa takut dengan boneka betawi itu. Tapi rasa
ngeri itu sekarang berubah menjadi rasa kagum akan kekreativitasan masyarakat
Betawi yang mampu mengolaborasikan budaya Betawi dan Tiongkok dalam rupa
sebuah boneka yang kini menjadi maskot ibukota negara Indonesia.
Tak terasa hari pun telah berganti. Tiga hari sudah Jacques berada di Jakarta.
Sambil menghirup udara pagi kota Jakarta yang hangat dan memandang ke langit kota
Jakarta yang selalu mendung, Jacques akhirnya memutuskan hari itu untuk jalan-jalan
ke Pasar Senen. Kebetulan pagi itu Somat harus ke kampusnya karena ada kuliah
tambahan sedangkan Alung harus mengecek sebentar kondisi tokonya yang sudah
ditinggalkan selama beberapa hari. Alhasil, Jacques pun harus jalan-jalan sendiri.
Jalan-jalan sendiri di kota Jakarta bukanlah hal yang sulit bagi Jacques.
Selama belasan tahun ia dibesarkan di Jakarta bersama dengan kedua temannya yang
mengajarkannya seluk beluk kerumitan jalan raya kota Jakarta. Dengan mudah
Jacques pun tiba di Pasar Senen.
Kondisinya juga tetap tidak berubah. Aktivitasnya sangat ramai, karena Pasar
Senen selain berfungsi sebagai tempat transaksi masyarakat, juga merupakan terminal
bus dan stasiun kereta api. Sehingga banyak orang yang lalu lalang, banyak orang
yang menjajakan jualannya dan tak banyak juga yang orang yang merasa heran
melihat sosok ‘indo’ yang berkeliaran di pasar itu. Jacques melanjutkan perjalanannya
ke Kwitang yang memang tak jauh dari Senen. Dari kejauhan sudah tampak rentetan
buku murah yang dijual. Jacques teringat ketika dulu waktu kecil, ia ditugaskan untuk
membuat tugas prakarya. Semua toko buku telah habis disinggahi untuk mencari buku
prakarya yang diinginkan, tapi tak ada satupun yang cocok. Ibunya pun mengajak
Jacques ke Kwitang, dan akhirnya didapatlah buku prakarya yang diperlukannya itu
dengan harga yang sangat terjangkau. Kenangan suasana Kwitang tanpa disadari
membuat Jacques juga mulai rindu pada kedua orang tuanya di Perancis.
6

Sorenya Jacques jalan bersama kedua sahabatnya ke Pasar Baru. Pasar etnik
ini sangat ramai. Jika dilihat sepintas, suasanya seperti Bugis Street di Singapura.
Pasar Baru merupakan kompleks pertokoan yang memanjang dimana dari ujung ke
ujung dapat diakses melalui jalan yang berbeda. Banyak orang India yang ditemui
Jacques disini. Walaupun jarang disinggahi ketika kecil, suasana khas yang multietnis
ini membuatnya juga semakin mencintai kota Jakarta.
Somat mengajak kedua temannya untuk menonton lenong yang saat ini sedang
dipertunjukkan di gedung IKJ yang letaknya berseberangan dengan Pasar Baru. Tema
yang diusung adalah “Jakarta, kota Metropolitan”, ada perpaduan antara kehidupan
yang moderen dan tradisional yang diangkat dalam pertunjukan ini. Pertunjukan seni
teater ini sangat khas dan kental dengan budaya betawi. Lenggak lenggok, aksen dan
pembawaan diri yang benar-benar khas Betawi yang berhasil diresapi oleh para
pelakonnya membuat pertunjukan ini menjadi semakin hidup. Jacques sangat puas
dan terkagum dengan pertunjukan tersebut.
Hari berikutnya, mereka bertiga melangkahkan kaki ke Pasar Tanah Abang.
Sama seperti Senen, Tanah Abang juga selain sebagai tempat transaksi sekaligus
merupakan terminal bus. Tak heran kemacetan sudah sangat tampak dari kejauhan.
Sebenarnya tak banyak barang khas yang dijual disini. Semua barang yang ditawarkan
rata-rata sama dengan yang dijual di Pasar Senen ataupun pasar lainnya. Tapi ada hal
yang menarik disini, yaitu banyak orang negro dan Arab yang membentuk cluster
etnik yang unik. Hal ini yang membuat Jacques & Alung kecil sempat ketakutan
ketika melihat postur tubuh mereka yang besar dan tinggi. Waktu itu mereka sempat
bertemu dengan orang negro ketika ibu Somat mengajak mereka belanja keperluan
lebaran - karena saking takutnya sejak saat itu Jacques & Alung pun tidak pernah
berani melangkahkan kaki ke tanah Abang kecuali bila ditemani Somat. Hal-hal yang
kecil seperti inilah yang juga lama kelamaan semakin memperkuat dan mempererat
persahabatan mereka bertiga yang terus berlangsung hingga mereka dewasa.
Malamnya mereka makan bersama di Kemang. Suasana disini sangat
moderen, seakan-akan menambah kecantikan dan pesona kota Jakarta sebagai kota
budaya dan ibukota negara. Disini juga mereka sempat menikmati Kebab, sebenarnya
Jacques agak bosan karena banyak orang Turki juga di Perancis yang menjajakan
makanan ini, tapi demi kedua sahabatnya dia juga turut menikmatinya. Tapi ternyata
rasanya 1800 berbeda, karena Kebab disini dicocokkan dengan selera orang Indonesia
sehingga rasanya lebih pedas dan berbumbu.
7

Hari berikutnya Jacques, Alung dan Somat bersiap-siap untuk jalan-jalan ke


daerah kota dan Mangga dua untuk melihat toko milik Alung dan sekaligus belanja
oleh-oleh buat keluarga & saudara Jacques di Perancis. Karena alasan macet, maka
mereka bertiga lebih memilih untuk naik busway dan bajaj. Ke Mangga dua, mereka
menggunakan Busway. Suasananya cukup nyaman karena lebih tertata dan tidak
macet. Sebelum ke Mangga dua, mereka mampir sebentar di Stasiun Kota untuk
jalan-jalan sebentar sambil berteduh karena udara yang sangat panas. Disini ada
pengalaman yang cukup lucu juga karena di stasiun ini Alung sempat tersesat mencari
kedua orang tuanya yang saat itu sedang sembahyang di klenteng yang berada tepat di
seberang Stasiun Kota. Saat itu Alung sudah agak bosan duduk diam di Klenteng
sehingga ia lebih memilih jalan-jalan di Stasiun Kota. Karena keasikan melihat orang
yang lalu lalang di stasiun, Alung pun tersesat. Untungnya Alung bertemu dengan
Somat yang saat itu sedang mengantar pamannya ke Semarang - akhirnya Alung pun
diantar ke klenteng dimana kedua orang tuanya sedang bersembahyang. Mengingat
kejadian itu, Alung pun tersenyum sendiri sehingga membuat Somat dan Jacques
keheranan karena Somat sendiri pun sudah lupa dengan kejadian itu.
Perjalanan dilanjutkan ke mangga dua dengan menggunakan bajaj. Walaupun
harus sempit-sempitan, mereka toh tetap senang, karena selain di India mungkin
hanya di Jakarta saja yang juga memiliki bajaj, sehingga kesempatan yang ‘langka’
ini pun tak disia-siakan oleh Jacques. Ketika tiba di kawasan Mangga Dua, pertama-
tama mereka mampir di pasar pagi, lalu ke WTC, kemudian ke ITC dimana Alung
membuka toko bajunya dan terakhir menyebrang ke Mall Mangga Dua. Perjalanan ini
cukup melelahkan dan banyak memakan waktu. Jacques termasuk orang yang cukup
selektif dalam memilih barang, sehingga tak heran untuk membeli satu barang saja, ia
membutuhkan waktu yang cukup lama.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari terakhir Jacques di
Jakarta. Besok Jacques sudah harus kembali ke Perancis. Mereka bertiga memutuskan
untuk jalan-jalan ke Ancol. Perjalanan panjang hari ini segera dimulai. Pantai
Karnival menjadi tujuan pertama mereka bertiga di Ancol. Setelah bersantai-santai
dan foto bersama, mereka melanjutkan perjalanan ke Dufan.
Dufan terlihat tetap sama di mata Jacques. Baginya, itulah tempat hiburan
yang paling menarik dan atraktif di Indonesia. Banyak wahana baru yang
ditambahkan. Wahana yang lebih memacu adrenalin tentunya dan juga yang
merupakan hal yang paling disenangi oleh ketiga pemuda ini. Satu pengalaman
8

berharga yang tersirat dalam benak mereka bertiga adalah ketika waktu kecil, mereka
ngotot ingin naik kora-kora, tapi ternyata tidak diperbolehkan oleh sang petugas
karena tinggi mereka tidak cukup. Agak kesal juga waktu itu karena mereka bertiga
sebelumnya sudah taruhan siapa yang tidak akan berteriak hingga kora-koranya
berhenti diayunkan.
Perjalanan yang seru dan mengasikkan di Dufan ditutup dengan kunjungan
mereka di Niagara. Basah kuyup sedikit tidak menjadi masalah bagi mereka, yang
penting semuanya bahagia dan adrenalin terpacu. Malamnya mereka makan di
restoran seafood “Bandar Jakarta” yang terletak di kawasan Ancol juga. Ini
merupakan momen yang cukup mengharukan, karena inilah waktu mereka yang
tersisa untuk kumpul bersama sebelum Jacques kembali ke Perancis. “JaKe, nanti loe
baik-baik disana, trus nanti kalo dah sukses jangan lupa ama kita-kita ya!”, Somat
melontarkan pesannya dengan dialek Betawi yang sangat kental. “Iya, ntar kalo loe
dah jadi dokter, kita orang periksanya gratis ya biar ngirit, hehehe...” Alung
menyambung dengan nada yang sedikit meninggi. “Tentu dong, masak sich temen
lama dilupain, loe bedua juga, kalo gw maen kesini lagi ntar ditemenin lagi yak.”,
Jacques menjawab celotehan kedua temannya itu dengan sumringah. Mereka
menikmati makan malam yang nikmat sambil memandang pesona bagian utara kota
Jakarta dan saling mengucapkan salam perpisahan. . .
Semua akhirnya kembali lagi ke kehidupan dan perjuangan masing-masing.
Alung terus menjalankan usahanya sambil kuliah, sementara Somat terus
mengembangkan dan mencintai Tanjidor dan berjuang di kuliahnya. Jacques kembali
menjalani kehidupannya di Eropa sebagai seorang mahasiswa kedokteran. Ada yang
selalu membuat Jacques rindu dengan Jakarta. Ada permata yang terus tertanam
dalam benak Jacques, permata persahabatan yang telah dijalinnya selama bertahun-
tahun, namun juga ada sebuah permata kekayaan budaya yang sangat cantik dan
beragam yang dimiliki oleh kota Jakarta yang tak akan pernah terlupakan.
Au revoir Jakarta!!

Anda mungkin juga menyukai