Anda di halaman 1dari 16

Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence) di Jakarta I.

Definisi Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence) Land subsidence (penurunan tanah) adalah suatu fenomena alam yang banyak terjadi di kota-kota besar yang berdiri di atas lapisan sedimen, seperti Jakarta, Semarang, Bangkok, Shanghai, dan Tokyo. Penurunan permukaan tanah ialah pemerosotan secara bertahap atau anjloknya permukaan tanah secara tiba-tiba seiring dengan pergerakan material bumi. Penurunan ini sering disebabkan oleh tiga hal yang jelas berbeda namun semua prosesnya berhubungan dengan air. II. Faktor-Faktor Penyebab Penurunan Muka Tanah Secara Umum(Land Subsidence) Penurunan tanah alami terjadi secara regional yaitu meliputi daerah yang luas atau terjadi secara lokal yaitu hanya sebagian kecil permukaan tanah. Hal ini biasanya disebabkan oleh adanya rongga di bawah permukaan tanah, biasanya terjadi didaerah yang berkapur (Whittaker and Reddish, 1989). Berbagai penyebab terjadinya penurunan tanah alami bisa digolongkan menjadi: Siklus geologi. Sedimentasi daerah cekungan (sedimentary basin). Adanya rongga diabawah permukaan tanah sehingga atap rongga runtuh dan hasil runtuhan atap rongga membentuk lubang yang disebut sink hole. Adanya aktifitas vulkanik dan tektonik. Secara garis besar penurunan tanah bisa disebabkan oleh beberapa hal antara lain (Whittaker and Reddish, 1989), sebagai berikut: Penurunan muka tanah alami (natural subsidence) yang disebabkan oleh proses-proses geologi seperti aktifitas vulkanik dan tektonik, siklus geologi, adanya rongga di bawah permukaan tanah dan sebagainya. Penurunan muka tanah yang disebabkan oleh pengambilan bahan cair dari dalam tanah seperti air tanah atau minyak bumi. Penurunan muka tanah yang disebabkan oleh adanya beban-beban berat diatasnya seperti struktur bangunan sehingga lapisan-lapisan tanah dibawahnya mengalami kompaksi/konsolidasi. Penurunan muka tanah ini sering juga disebut dengan settlement. Penurunan muka tanah akibat pengambilan bahan padat dari tanah (aktifitas penambangan). Berdasarkan tinjauan berbagai macam pustaka, faktor-faktor penyebab terjadinya penurunan muka tanah dapat didefnisikan, sebagai berikut: Pengambilan air tanah yang berlebihan (Burbey J.T., 2005). Penurunan karena beban bangunan (Quaxiang, 2001). Konsolidasi alamiah lapisan tanah (Wei,Q., 2006). Gaya-gaya tektonik (Chang, C.P., 2005). Ekstraksi gas dan minyak bumi (Odijk, D., 2005). Penambangan bawah tanah (Rizos, C., 2007). Ekstraksi lumpur (Deguchi, T., 2007). Patahan kerak bumi (Rahtje et al., 2003) Konstraksi panas bumi di lapisan litosfer (Hamdani et al., 1994) Berat bangunan akan menyebabkan tekanan pada tanah dasar yang menyebar dan semakin kebawah semakin kecil. Jika di bawah tanah ada lapisan tanah kompresibel, tambahan tekanan efektif menyebabkan tanah berkonsolidasi dan mengalami penurunan. Tanah yang kompresibel adalah lempung, lanau lempung atau lempung lanau yang lunak, medium atau kenyang air. Pada prinsipnya, penurunan tanah dari suatu wilayah dapat dipantau dengan menggunakan beberapa metode, baik itu metode-metode hidrogeologis (e.g. pengamatan level muka air tanah serta pengamatan dengan ekstensometer dan piezometer yang

diinversikan kedalam besaran penurunan muka tanah) dan metode geoteknik, maupun metode-metode geodetik seperti survei sipat datar (leveling), survei gaya berat mikro, survei GPS (Global Positioning System), dan InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar). Teknik Pemantauan Land Subsidence dengan GPS GPS adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang berbasiskan pada pengamatan satelit-satelit Global Positioning System [Abidin, 2000; Hofmann-Wellenhof et al., 1997]. Prinsip studi penurunah tanah dengan metode survei GPS yaitu dengan menempatkan beberapa titik pantau di beberapa lokasi yang dipilih, secara periodik untuk ditentukan koordinatnya secara teliti dengan menggunakan metode survei GPS. Dengan mempelajari pola dan kecepatan perubahan koordinat dari titik-titik tersebut dari survei yang satu ke survei berikutnya, maka karakteristik penurunan tanah akan dapat dihitung dan dipelajari lebih lanjut. GPS memberikan nilai vektor pergerakan tanah dalam tiga dimensi (dua komponen horisontal dan satu komponen vertikal). Jadi disamping memberikan informasi tentang besarnya penurunan muka tanah, GPS juga sekaligus memberikan informasi tentang pergerakan tanah dalam arah horisontal. GPS memberikan nilai vektor pergerakan dan penurunan tanah dalam suatu sistem koordinat referensi yang tunggal. Dengan itu maka GPS dapat digunakan untuk memantau pergerakan suatu wilayah secara regional secara efektif dan efisien. GPS dapat memberikan nilai vektor pergerakan dengan tingkat presisi sampai beberapa mm, dengan konsistensi yang tinggi baik secara spasial maupun temporal. Dengan tingkat presisi yang tinggi dan konsisten ini maka diharapkan besarnya pergerakan dan penurunan tanah yang kecil sekalipun akan dapat terdeteksi dengan baik. GPS dapat dimanfaatkan secara kontinyu tanpa tergantung waktu (siang maupun malam), dalam segala kondisi cuaca. Dengan karakteristik semacam ini maka pelaksanaan survei GPS untuk pemantauan pergerakan dan penurunan muka tanah dapat dilaksanakan secara efektif dan fleksibel. III. Data dan Analisis Penurunan Tanah di Jakarta Salah satu penyebab turunnya tanah di Jakarta adalah eksploitasi air tanah yang berlebih. Sejak awal abad ke-20, penduduk Jakarta memanfaatkan air tanah untuk memenuhi kebutuhan mereka, kebutuhan air minum, maupun kebutuhan industri pabrik. Namun seiring waktu, kebutuhan air meningkat, sehingga pemanfaatan air tanah pun juga meningkat. Peningkatan pemanfaatan air tanah menyebabkan turunnya tanah di Jakarta. Peningkatan pemanfaatan air tanah di Jakarta terjadi karena beberapa faktor, yaitu urbanisasi dan padatnya penduduk Jakarta, serta aktivitas industri.

Populasi penduduk Jakarta sekarang adalah 7,5 juta penduduk (Jakarta Local Government Website, 2007) dengan kepadatan penduduk seperti pada tabel 1. Populasi penduduk yang 7,5 juta merupakan populasi penduduk saat akhir minggu. Pada kenyataanya, populasi penduduk Jakarta saat hari kerja berkisar antara 10 11 juta. Penduduk. 2,5 3,5 juta penduduk tersebut berasal dari kota di sekitar Jakarta (Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi, atau bahkan Bandung) yang bekerja di Jakarta. Penduduk Jakarta yang besar ini

meningkatkan pengonsumsian air tanah. Untuk air minum saja, penduduk Jakarta hanya menggunakan 30% air yang berada di permukaan, selebihnya pemenuhan kebutuhan air diambil dari air tanah. Selain itu, pertumbuhan penduduk Jakarta juga meningkatkan pertumbuhan aktivitas industri di Jakarta. Aktivitas industri di Jakarta sangat bergantung dengan air tanah, karena infrastruktur untuk mendapatkan air dari sumber lain tidak terpenuhi. Berdasarkan data, hanya sekitar 3,5 juta meter kubik air bersih dari sumber air permukaan yang digunakan untuk kebutuhan industri. Angka tersebut hanya memenuhi 1% kebutuhan air industri. Jadi, selebihnya didapat dari eksploitasi air tanah. Peningkatan penggunaan air tanah oleh aktivitas manusia ini mengakibatkan persediaan air tanah berkurang sehingga permukaan tanah turun. Hal inilah yang menyebabkan mengapa Jakarta kini sering tertimpa banjir. Perkiraan rata rata penurunan tanah untuk periode dec 1997 sampai dengan September 2005 adalah 1 10 cm/tahun dan mencapai 15 20 cm/ tahun. Penurunan tanah rata rata terbesar terjadi di barat laut Jakarta. Dari observasi periode 1982 1991, penurunan tanah tertinggi terjadi di Cengkareng, Jakarta Utara dengan 8,5 cm/tahun. Di periode 1997 1999, penurunan tanah tertinggi terjadi di Daan Mogot, daerah barat laut Jakarta dengan 31,9 cm/tahun. Angka tersebut menunjukan penurunan tanah di Jakarta masih terus berlangsung. Dampak Penurunan Permukaan Tanah di Jakarta Penurunan Permukaan Tanah di Jakarta membawa beberapa dampak negatif, yaitu: a. Banjir dan Rob Salah satu dampak dari penurunan permukaan tanah di Jakarta adalah banjir. Banjir yang terjadi di Jakarta kian tahun kian meningkat. Banjir yang terjadi pada tahun 2007 lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Banjir pada tahun tersebut mengakibatkan hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di beberapa titik lokasi banjir. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. IV.

Selain banjir yang terjadi akibat curah hujan yang tinggi, banjir rob juga sering terjadi di Jakarta. Banjir rob merupakan banjir yang secara umum disebabkan oleh naiknya permukaan air laut akibat air pasang. Di Jakarta, terutama Jakarta Utara, banjir rob selain karena air pasang, penurunan permukaan tanah dan efek pemanasan global (menyebabkan permukaan air laut naik) juga turut memperparah keadaan. Tercatat terdapat 27 titik di Jakarta Utara yang menjadi titik rawan terjadinya banjir Rob.

b. Kerusakan Infrastruktur Penurunan tanah di Jakarta pertama kali diketahui oleh ilmuan yaitu pada tahun 1978, saat keretakan muncul di jembatan sarinah, di jalan M.H Thamrin. Setelah diteliti, keretakan tersebut terjadi ternyata akibat penurunan permukaan tanah. Selain itu, pada 16 September 2010, jembatan di jalan R.E. Martadinata, Jakarta Utara ambles. Hal ini setelah diteliti, diakibatkan oleh penurunan permukaan tanah Jakarta.

c.

Kerugian Ekonomi Kerusakan infrastruktur serta banjir yang melanda Jakarta juga turut mempengaruhi aspek perekonomian. Dari banjir Jakarta pada tahun 2007, kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan 4,3 triliun rupiah. V. Penyebab Penurunan Permukaan Tanah di Jakarta Pertama adalah karena sifat atau karakteristik geologi tanah di wilayah ibukota yang merupakan lapisan akumulasi endapan (quarter) sedimen yang belum stabil (terus mengalami proses konsolidasi) pada kawasan pantai yang berlansung ribuan tahun lalu yang akhirnya membentuk wilayah delta (oleh karena itu Jakarta juga digolongkan sebagai kota delta/delta city). Kedua karena adanya beban statis (bangunan) dan dinamis (beban bergerak seperti kendaraan bermotor) yang mempercepat terjadinya proses pemadatan lapisan tanah. Ketiga adalah karena adanya gaya teknonis yang menyebabkan getaran dan pergerakan lapisan kulit bumi/tanah yang juga dapat menyebabkan terjadinya penurunan muka tanah. Keempat adalah akibat sangat tingginya laju ekstraksi air tanah (khususnya air tanah dalam) yang sudah melewati daya dukungnya (melebihi kemampuan pengisian kembali).

VI.

Solusi Penurunan Permukaan Tanah di Jakarta Menurut para ilmuwan factor keempat merupakan faktor terbesar yang menyebabkan turunnya permukaan air tanah di Jakarta,selain itu hampir semua sebab lain adalah sebab yang natural maka saya akan berfokus pada solusi untuk menangani penyebab nomor empat,sebagai berikut: Pertama adalah hentikan segera tindakan ekstraksi air tanah dalam yang ada. Untuk bisa menghentikan ektrasksi (moratorium) pemerintah perlu segera dan segera menyediakan air bersih perpipaan yang dapat memenuhi hampir seluruh kebutuhan air bersih perkotaan di DKI Jakarta ini. Ada beberapa langkah agar dapat menyediakan air bersih yang cukup tanpa mengekstraksi air dalam tanah yaitu dengan memanfaatkan 13 sungai yang melewati Jakarta,sayangnya semua sungai itu dijadikan tempat pembuangan limbah oleh masyarakat sekitar.Bersihkan sungai,lakukan penyuluhan pada masyarakat sekitar akan pentingnya

sungai di lingkungan mereka,lalu akan tercipta sumber air yang minimal dapat digunakan untuk keperluan mandi,dll.Namun jika pengelolaan sungai yang baik dapat dibuat adanya air bersih yang pelayananya prima tingkat kebocorannya rendah, kualitasnya benar-benar air minum, harganya terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.Ini bisa memecahkan banyak masalah,yang pertama bisa menjaga agar air tanah tetap berada dalam tanah,lalu membuat sumber air yang murah dan sehat bayangkan jika hal ini terealisasikan maka tidak perlu lagi mengimpor air dari daerah luar Jakarta ini berarti menghemat biaya produksi dan transportasi,lalu yang tak kalah penting juga membuat kota Jakarta lebih indah dan sehat. Kedua adalah dengan membangun daerah daerah resapan air,contohnya taman terbuka sekali lagi hal ini tidak hanya berdampak pada kandungan air tanah yang menjaga permukaan tanah Jakarta saja,tapi juga ini sangat berguna untuk menjaga kualitas udara,kesehatan dan tempat bermain untuk anak-anak.Lalu jika keterbatasan lahan,bisa dibuat kebijakan bahwa setiap rumah minimal memiliki atau menyisakan beberapa meter dari rumahnya agar dijadikan tempat resapan air hujan atau sumur biopori.Buatlah lubang-lubang biopori di taman atau di sekitar rumah. Lubang ini membantu mempercepat proses penyerapan air ke dalam tanah, sehingga dapat mengurangi jumlah air yang menguap bebas ke alam.walaupun sedikit tapi andaikan setiap rumah melakukannya maka jika dikalkulasi akan berdampak sangat besar. Ketiga adalah melakukan penghematan akan penggunaan air tanah,misalnya bisa memakai air yang sudah dipakai untuk menyiram kloset seperti di Jepang,jika mungkin mandilah dengan menggunakan shower karena meminimalisasi penggunaan air, gunakan kloset yang mengunakan dua sistem pembilasan air,setiap sistem pembilasan bekerja sesuai dengan volume air yang dikeluarkan,bila kloset hanya digunakan untuk buang air kecil, gunakan pembilasan dengan volume kecil yang tentunya lebih hemat konsumsi air, gunakan air bekas cucian sayuran dan buah untuk menyiram tanaman. Selain hemat, air bekas cucian sayur, buah dan daging ternyata bisa menyuburkan tanaman.dan banyak hal lain yang dapat dilakukan guna menghemat air tanah yang dipakai. VII. Negara Lain yang Mengalami Penurunan Permukaan Tanah 1. Land Subsidence di Amerika Serikat Land subsidence di amerika serikat merupakan masalah global yang mencakupi 17 ribu mil persegi di 45 negara bagian. Penyebab utamanya antara lain adalah masalah air tanah, perbedaan tekanan air tanah, penambangan bawah tanah, compaction, dan thawing permafrost. Permasalahan ini sulit diminimalisasi karena rumitnya mengidentifikasi wilayah yang terkena dampak, memprediksi sebab-akibat, dan membuat perbandingan nilai ekonomi terhadap nilai lingkungan. Dari semua penyebab yang ada diatas, ekstraksi air (penyedotan air) lah yang memiliki andil terbesar dalam penurunan permukaan tanah. Penurunan permukaan tanah di Arizona yang disebabkan perbedaan tekanan air tanah.

. Tanggul dibuat untuk menahan air laut. Tempat pengeboran minyak di Long Beach, California. 2. Land Subsidence di Mexico City Penyebab dari penurunan tanah di Mexico City antara lain adalah pengambilan air tanah, pembangunan yang tidak terkontrol, dan drainase air kotor yang tidak terkontrol. Maksimum penurunan tanah selama abad ke-20 di kota ini mencapai 2 kaki per tahun, total dari penurunan hingga 30 kaki. Daerah pinggiran kota Mexico City mengalami penurunan yang paling parah hingga 20 kaki pada tempo yang lebih singkat dikarenakan pengambilan air tanah yang berlebihan.

Gereja Utama di Mexico City terlihat miring ke kiri, disebabkan oleh penurunan permukaan tanah.

3. Land Subsidence di Belanda Pada abad ke-9 hingga abad ke-14, bangsa Belanda mengeringkan daerah laut untuk daerah pertanian. Namun, sekitar abad ke-16 daerah pertanian tersebut mengalami penurunan, sehingga dibuatlah windmill yang berfungsi untuk mengangkut air ke laut. Gambar di sebelah kiri menunjukkan daerah Belanda yang sangat rentan oleh banjir karena penurunan permukaan tanah.

VIII.

Kesimpulan Penurunan tanah merupakan kejadian alam yang dialami di kota-kota besar maupun kecil, seperti Jakarta, Semarang, Bangkok, Shanghai, dan Tokyo. Hal ini bisa terjadi diakibatkan oleh beberapa faktor diantaranya ialah pengambilan air tanah yang berlebihan, penurunan karena beban bangunan, penurunan karena adanya konsolidasi alamiah dari lapisan-lapisan tanah, serta penurunan karena gaya-gaya tektonik, Dll. Penurunan tanah dapat dipantau dengan 2 metode yaitu metode hidrogeologis dan metode geodetik. Penurunan tanah juga mempunyai dampak negatif bagi negara yang menduduki daerah tersebut, misalkankan saja dampak yang terjadi di Jakarta ialah Banjir dan Rob, Kerusakan Infrastruktur, dan Kerugian Ekonomi. Di Jakarta juga pemerintah mulai melakukan beberapa pemecahan solusi untuk kasus ini, diantaranya ialah Pertama, menghentikan segera tindakan ekstraksi air tanah dalam (berlebihan) yang ada, Kedua, dengan membangun daerah daerah resapan air, Ketiga, melakukan penghematan akan penggunaan air tanah. Oleh sebab itu, mengingat akan pentingnya penurunan tanah ini sedangkan banyaknya penduduk pribumi yang kurang peduli tentang hal ini tentu bagaimana nasib generasi-generasi cucu anak kita? Sumber foto http://1.bp.blogspot.com/_mXpzTZc7sYU/TU6TAMjQHyI/AAAAAAAAABw/xiYVdkw2d FM/s1600/Banjir-Jakarta-3.jpg http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQI8CMjxumkt3n4zsb1DrsUYsHVNuGMnz3_p QbTH9MfqS__NhDpxJJ9hhxd http://assets.kompas.com/data/photo/2010/09/19/1508232620X310.jpg

http://keripiku.blogspot.com/2010/10/daftar-lengkap-titik-rawan-banjir-rob.html http://www.mediaindonesia.com/read/2011/10/31/272667/37/5/Awas-Banjir-Rob-MelandaJakarta-Utara http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/mekanika_tanah_lanjut/bab2_konsolidasidanpenu runan.pdf http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/mekanika_tanah_lanjut/bab2_konsolidasidanpenu runan.pdf http://www.suiri.tsukuba.ac.jp/pdf_papers/tercbull08s2/t8supple2_46.pdf http://yudopotter.wordpress.com/2009/05/06/faktor-faktor-penyebab-penurunan-muka-tanahland-subsidence/ http://engineersblogs.blogspot.com/2009/07/pemantauan-penurunan-tanah-land.html www.detiknews.com/read/2011/11/06/181625/1761422/158/firdaus-ali-penurunan-mukatanah-tak-terkendali-jakarta-bisa-tenggelam

Agreen Anggada 16911090 Arif Nurrahman 16911141 Miiccho Van Febty Nanta 16911237 Mochamad Bukhori Zainun 16911219 Muhammad Irfan Zidni 16911042 Muhammad Suyudhi Suryakusuma 16911060 Prihadi Prasetyo 16911003 Robby Caesar Putra 16911261

Penyebab Penurunan Tanah Di Jakarta

Amblasnya Jalan RE Martadinata di Jakarta Utara membuat kondisi Jakarta sebagai ibu
kota Indonesia di pertanyakan kembali. Setelah macet dan banjir, kini penurunan tanah mengancam Jakarta, isu pemindahan ibu kota pun kembali gencar di gulirkan.

Kini penelitian terhadap Jalan RE Martadinata masih terus di lakukan, jalan tersebut juga sudah di amankan oleh aparat kepolisian dengan memasang penutup jalan di kedua sisinya. Apalagi baru baru ini Jalan RE Martadinata kembali amblas sedalam 25 cm.

Menurut para peneliti, amblasnya jalan di Jakarta Utara tersebut di sebabkan oleh 3 faktor.:

1. Penurunan secara alami, karena kondisi batuan yang mengalami pemadatan 2. Penurunan karena adanya penyedotan air tanah secara berlebihan 3. Penurunan akibat beban dari gedung gedung yang ada di Jakarta Utara.

Namun di antara faktor faktor tersebut, penyedotan air tanah secara berlebihan merupakan faktor penting yang di duga sebagai penyebab amblasnya Jl. RE Martadinata. Oleh karena itu para peneliti menyarankan agar pemerintah lebih serius untuk menangani hal ini, sebelum membicarakan pemindahan ibu kota.

Ada beberapa cara yang di tawarkan oleh para peneliti dan bahkan Sutiyoso selaku mantan Gubernur DKI Jakarta, untuk mengurangi penggunaan air tanah. Antara lain:

1. Pemberian pajak yang tinggi terhadap hotel atau bangunan lainnya yang hanya menggunakan air tanah sebagai pemasok air bersihnya. 2. Penggunaan yang maksimal terhadap air kiriman dari wilayah dataran tinggi, seperti Bogor dan daerah sekitarnya. 3. Merubah air laut menjadi air tawar. Hal ini sudah di lakukan di negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab.

aftar Wilayah DI Jakarta Yang Mengalami Penurunan Tanah 12 cm Pertahun


Posted on September 27, 2010 | Leave a comment

Penurunan permukaan tanah secara signifikan di Jakarta semakin luas. Kondisi tersebut terjadi akibat kian intensifnya pembangunan fisik yang disertai penyedotan air tanah secara tidak terkendali. Naiknya permukaan laut sebagai dampak pemanasan global menyebabkan wilayah Jakarta yang terendam rob atau genangan saat air laut pasang kian luas. Tim dari Kelompok Keilmuan Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang melakukan kajian subsidensi permukaan tanah di 23 titik di sekitar Jakarta menyimpulkan, penurunan permukaan tanah bervariasi, 2 hingga lebih dari 12 sentimeter (cm) selama 10 tahun sejak 1997 hingga 2007. Hasanuddin Z Abidin, salah seorang peneliti, Sabtu (25/9), menyatakan, sebagian besar kawasan barat hingga utara Jakarta mengalami penurunan tanah antara 5 cm dan 12 cm. Adapun wilayah tengah hingga timur penurunan tanahnya hingga 5 cm. Penurunan kawasan timur laut hingga selatan berkisar 2-4 cm.

Penurunan permukaan tanah di sejumlah wilayah juga menurunkan badan jalan dan saluran drainase sehingga retak-retak, rusak, dan menutupi saluran, kata Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Tarjuki. Dinas PU DKI sedang memperbaiki badan saluran drainase yang tertutup agar air lebih cepat mengalir, lanjutnya. Penurunan permukaan tanah juga menciptakan kawasan-kawasan cekung yang lebih cepat tergenang saat banjir. Sebagian kawasan Pademangan, Jakarta Utara, yang beberapa tahun lalu nyaman dilalui, misalnya, kini menjadi langganan rob saat air laut pasang. Kawasan wisata Ancol Taman Impian yang beberapa tahun lalu lebih tinggi daripada permukaan laut kini harus membangun tanggul di sepanjang bibir pantai guna menahan air laut saat pasang. Tanggul pun harus rutin ditinggikan karena permukaan tanah terus turun. Data Dinas Pengembangan DKI Jakarta bahkan lebih mengerikan. Pada periode tahun 1982 hingga 1997 terjadi amblesan tanah di kawasan pusat Jakarta yang mencapai 60 cm hingga 80 cm. Karena merata, amblesan ini menjadi tidak terasa. Ruang terbuka hijau Pengajar di Teknik Lingkungan Universitas Indonesia, Firdaus Ali, mengatakan, penurunan permukaan tanah di Jakarta terutama akibat penyedotan air tanah dalam secara berlebihan, sedangkan ruang terbuka hijau (RTH) sebagai penyerapan air semakin terbatas. Tahun 1984, misalnya, RTH Jakarta masih 28,8 persen dari total luas Jakarta yang mencapai 661,52 kilometer persegi. Namun pada 2003, luas RTH DKI Jakarta tinggal 9,12 persen, Pada 2007, luas RTH DKI Jakarta ditaksir tinggal 6,2 persen karena semua ruang tersisa dikomersialisasi, kata Direktur Keadilan Perkotaan Institut Hijau Indonesia Selamet Daroyni. Di sisi lain, penyedotan air tanah di Jakarta semakin tak terkendali. Batas pengambilan air bawah tanah Jakarta sebenarnya hanya berkisar 186,2 juta meter kubik per tahun. Kenyataannya, volume air tanah yang diambil mencapai 251,8 juta meter kubik per tahun. Defisit pengambilan air tanah telah mencapai 66,6 juta meter kubik per tahun, ujar Selamet. Jika satu truk tangki air berkapasitas 5 meter kubik, defisit air Jakarta setara dengan 13,3 juta truk tangki per tahun. Banyaknya air yang disedot dari dalam tanah dan minimnya air yang terserap ke dalam tanah akibat minimnya RTH menciptakan ruang kosong di bawah permukaan tanah. Keberadaan ruang kosong, ditambah beban berat dari gedung-gedung tinggi, membuat penurunan permukaan tanah di Jakarta berlangsung cepat, kata Direktur Amrta Institute for Water Literacy Nila Ardhianie. Genangan meluas Selain menghadapi turunnya permukaan tanah, Jakarta juga menghadapi persoalan naiknya permukaan laut.

Berdasarkan penelitian Prof Dr Safwan Hadi dan timnya dari Pusat Studi Oseanografi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, kenaikan muka laut tahunan Jakarta rata-rata 0,57 cm. Kesimpulan ini berdasarkan data pengukuran sejak tahun 1925 hingga 2003. Kenaikan muka laut ini sebenarnya relatif rendah. Namun, bagi Jakarta yang mengalami penurunan muka tanah cukup signifikan, hal ini menyebabkan akumulatif naiknya muka laut terhadap posisi Jakarta menjadi tinggi. Ketika dilakukan simulasi menggunakan model numerik dengan memadukan penurunan permukaan tanah dan pasang laut maksimum yang tercapai pada 27 November 2007, yang dilakukan tim ITB, ada empat kecamatan di pesisir utara Jakarta yang rawan tergenang rob, yaitu Cilincing, Tanjung Priok, Pademangan, dan Penjaringan. Saat ini pun genangan rob sudah sering terjadi, terutama saat air laut pasang. Genangan di Kecamatan Tanjung Priok dan Cilincing, misalnya, hingga mencapai 0,86 kilometer (km) dari garis pantai. Sementara daerah terjauh yang tergenang di Kecamatan Pademangan dan Penjaringan masing-masing adalah 4,5 km dan 5,5 km dari garis pantai. Ketika pasang laut dibarengi alun laut atau angin badai, daerah genangan di empat kecamatan tersebut semakin luas, ini ditandai oleh masuknya air semakin jauh ke daratan, yaitu 0,94 km di Cilincing dan mencapai 6,10 km di Penjaringan, Jakarta Utara. Berdasarkan data tersebut, Safwan Hadi membuat simulasi genangan laut di Teluk Jakarta untuk setiap dasawarsa hingga tahun 2050, dengan kenaikan 1 cm per tahun. Dalam simulasi tersebut, Kecamatan Penjaringan, Pademangan, Ancol, Pluit, dan Kamal Muara paling rawan terancam genangan. Ahli geoteknik Adrin Tohari dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyatakan, untuk mencegah ancaman itu terjadi, pengambilan air tanah harus dikendalikan secara ketat. Peneliti air tanah dari Kementerian Riset dan Teknologi, Teddy Sudinda, mengatakan, selain pengendalian pemanfaatan air tanah dalam, harus juga dilakukan resapan atau sumur injeksi. Pembangunan sumur injeksi perlu dirintis di kantor pemerintahan di wilayah Jakarta, ujarnya.

pemantauan Penurunan Tanah (Land Subsidence)

FENOMENA LAND SUBSIDENCE Land subsidence (penurunan tanah) adalah suatu fenomena alam yang banyak terjadi di kotakota besar yang berdiri di atas lapisan sedimen, seperti Jakarta, Semarang, Bangkok, Shanghai, dan Tokyo. Dari studi penurunan tanah yang dilakukan selama ini, diidentifikasi ada beberapa faktor penyebab terjadinya penurunan tanah yaitu : pengambilan air tanah yang berlebihan, penurunan karena beban bangunan, penurunan karena adanya konsolidasi alamiah

dari lapisan-lapisan tanah, serta penurunan karena gaya-gaya tektonik. Dari empat tipe penurunan tanah ini, penurunan akibat pengambilan air tanah yang berlebihan dipercaya sebagai salah satu tipe penurunan tanah yang dominan untuk kota-kota besar tersebut. Karena data dan informasi tentang penurunan muka tanah akan sangat bermanfaat bagi aspek- aspek pembangunan seperti untuk perencanaan tata ruang (di atas maupun di bawah permukaan tanah), perencanaan pembangunan sarana/prasarana, pelestarian lingkungan, pengendalian dan pengambilan airtanah, pengendalian intrusi air laut, serta perlindungan masyarakat (linmas) dari dampak penurunan tanah (seperti terjadinya banjir); maka sudah sewajarnya bahwa informasi tentang karakteristik penurunan tanah ini perlu diketahui dengan sebaik-baiknya dan kalau bisa sedini mungkin. Dengan kata lain fenomena penurunan tanah perlu dipelajari dan dipantau secara berkesinambungan. TEKNIK PEMANTAUAN LAND SUBSIDENCE Pada prinsipnya, penurunan tanah dari suatu wilayah dapat dipantau dengan menggunakan beberapa metode, baik itu metode-metode hidrogeologis (e.g. pengamatan level muka air tanah serta pengamatan dengan ekstensometer dan piezometer yang diinversikan kedalam besaran penurunan muka tanah) dan metode geoteknik, maupun metode-metode geodetik seperti survei sipat datar (leveling), survei gaya berat mikro, survei GPS (Global Positioning System), dan InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar). TEKNIK PEMANTAUAN LAND SUBSIDENCE DENGAN GPS GPS adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang berbasiskan pada pengamatan satelit-satelit Global Positioning System [Abidin, 2000; Hofmann-Wellenhof et al., 1997]. Prinsip studi penurunah tanah dengan metode survei GPS yaitu dengan menempatkan beberapa titik pantau di beberapa lokasi yang dipilih, secara periodik untuk ditentukan koordinatnya secara teliti dengan menggunakan metode survei GPS. Dengan mempelajari pola dan kecepatan perubahan koordinat dari titik-titik tersebut dari survei yang satu ke survei berikutnya, maka karakteristik penurunan tanah akan dapat dihitung dan dipelajari lebih lanjut. GPS memberikan nilai vektor pergerakan tanah dalam tiga dimensi (dua komponen horisontal dan satu komponen vertikal). Jadi disamping memberikan informasi tentang besarnya penurunan muka tanah, GPS juga sekaligus memberikan informasi tentang pergerakan tanah dalam arah horisontal. GPS memberikan nilai vektor pergerakan dan penurunan tanah dalam suatu sistem koordinat referensi yang tunggal. Dengan itu maka GPS dapat digunakan untuk memantau pergerakan suatu wilayah secara regional secara efektif dan efisien. GPS dapat memberikan nilai vektor pergerakan dengan tingkat presisi sampai beberapa mm, dengan konsistensi yang tinggi baik secara spasial maupun temporal. Dengan tingkat presisi yang tinggi dan konsisten ini maka diharapkan besarnya pergerakan dan penurunan tanah yang kecil sekalipun akan dapat terdeteksi dengan baik. GPS dapat dimanfaatkan secara kontinyu tanpa tergantung waktu (siang maupun malam), dalam segala kondisi cuaca. Dengan karakteristik semacam ini maka pelaksanaan survei GPS untuk pemantauan pergerakan dan penurunan muka tanah dapat dilaksanakan secara efektif dan fleksibel.

Penelitian

Land

Subsidence

di

Jakarta

dengan

GPS

Land Subsidence telah cukup lama dilaporkan terjadi di wilayah Jakarta. Menurut para peneliti selama ini ada empat tipe land subsidence yang mungkin terjadi di basin Jakarta, yaitu subsidence karena pengambilan air tanah yang berlebihan, land subsidence karena beban bangunan, land subsidence karena adanya konsolidasi alamiah dari lapisan-lapisan tanah, serta land subsidence yang diakibatkan oleh timbulnya gaya tektonik. Secara umum informasi tentang karakteristik dan pola land subsidence (penurunan tanah) di wilayah Jakarta akan sangat bermanfaat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pembangunan yang berkelanjutan di wilayah Jakarta. Pemantauan penurunan tanah di wilayah DKI Jakarta menggunakan teknologi satelit GPS telah dilasanakan secara periodik sejak tahun 1997 sampai dengan akhir tahun 2005 oleh KK Geodesi bekerjasama dengan BAKOSURTANAL dan Pemda DKI, dimana survei pengukurannya telah dilakukan sebanyak 5 periode pengamatan.

Dari hasil pengolahan data survey GPS memang diperoleh informasi mengenai adanya penurunan tanah di wilayah Jakarta, dimana daerah Jakarta utara merupakan wilayah yang cukup signifikan terjadi penurunan tanah. Besarnya penurunan tanah diwilayah Jakarta selama lima periode ini ratarata berkisar antara beberapa centimeter sampai beberapa belas centimeter, dan di daerah tertentu ada yang mencapai beberapa puluh centimeter. Penelitian Land Subsidence di Bandung dengan GPS

Land Subsidence memang belum banyak dilaporkan di wilayah Bandung. Namun demikian, dari hasil beberapa penelitian memperlihatkan adanya bukti land subsidence memang terjadi di daerah Bandung. Kemungkinan besar faktor yang menjadi sebab terjadinya subsidence di Bandung ini karena pengambilan air tanah yang berlebihan, disamping karena adanya efek konsolidasi dari lapisan tanah, dan efek lain. Fenomena land subsidence (penurunan tanah) ini merupakan salah satu faktor yang cukup signifikan penyebab terjadinya banjir di suatu daerah atau kawasan. Ketika titik-titik yang mewakili suatu kawasan mengalami penurunan, yang menyebabkan daerah tersebut menjadi lebih rendah dari tempat-tempat lainnya (membuat cekungan), atau malah lebih rendah dari bentang hidrologi yang ada di sekitarnya, maka daerah tersebut akan menjadi daerah yang berpotensi banjir terutama ketika musim hujan tiba. Pemantauan penurunan tanah di wilayah Bandung dan sekitarnya (Bandung Basin) menggunakan teknologi satelit GPS telah dilasanakan secara periodik oleh KK Geodesi bekerjasama dengan Dinas Pertambangan Jawa Barat sejak tahun 2000 sampai dengan akhir tahun 2005, dimana survei pengukurannya telah dilakukan sebanyak 5 periode pengamatan.

Dari hasil pengolahan data survey GPS memang diperoleh informasi mengenai adanya penurunan tanah di wilayah Bandung, dimana daerah Cimahi, Dayeuh Kolot, dan Cicalengka merupakan wilayah yang cukup signifikan terjadi penurunan tanah. Besarnya penurunan tanah di wilayah Bandung selama lima periode ini ratarata berkisar antara beberapa centimeter sampai beberapa desimeter, dan di daerah yang disebutkan di atas mencapai beberapa puluh centimeter. Daerah-daerah tersebut adalah merupakan daerah Industri yang memang mengkonsumsi air tanah yang cukup banyak. AKARTA, KOMPAS.com Peringatan akan bahaya penurunan permukaan tanah semakin terlihat buktinya di Jakarta Utara. Setelah badan Jalan RE Martadinata ambles, pelataran dermaga A pada pelabuhan pasar ikan Muara Angke juga mengalami penurunan sampai 20 sentimeter. Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan DKI Jakarta Ipih Ruyani, Senin (27/9/2010) di Jakarta Utara, mengatakan, bangunan tempat pendaratan kapal nelayan itu mengalami penurunan dua sampai tiga sentimeter sejak selesai dibangun pada tahun 2003. Luas bangunan yang mengalami penurunan mencapai 400 meter persegi. Meskipun miring karena ada penurunan, dermaga itu masih dapat berfungsi seperti biasa. Namun, kami mulai memasang tetrapot untuk memecah gelombang dan tiang pancang untuk menahan pelataran dermaga. Penurunan ini hanya terjadi pada satu dari empat dermaga yang ada, kata Ipih. Perbaikan pelataran dermaga secara permanen akan dilakukan pada tahun 2011. Pengawasan dan antisipasi akan penurunan permukaan tanah juga dilakukan terhadap bangunan Dinas Pertanian dan Kelautan DKI Jakarta di Jakarta Utara. Pengajar teknik lingkungan Universitas Indonesia, Firdaus Ali, mengatakan, penurunan permukaan tanah sangat berpotensi merusak bangunan infrastruktur, seperti jalan, saluran air, jaringan pipa, dan dermaga. Bangunan infrastruktur biasanya tidak memiliki pondasi kuat sehingga rawan patah atau ambles jika permukaan di suatu lokasi turun lebih cepat dibandingkan lokasi sekitar. Tangkapan air Pemkot Jakarta Pusat berencana membenahi sistem resapan air di dalam kawasan Monas. Lantaran air tanah kian dangkal, saluran drainase di kawasan ini akan diperbaiki. Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Pusat Agus Priyono, Senin, mengatakan, kawasan Monas diharapkan bisa menjadi tempat peresapan air seluas-luasnya di Jakarta Pusat. Kenyataannya, air tanah sudah jenuh sehingga air hujan kerap menggenang, bahkan meluber ke mana-mana.

Berdasarkan perencanaan seperti diatur dalam Keputusan Presiden RI Nomor 25 Tahun 1995 tentang Pembangunan Kawasan Medan Merdeka di Wilayah DKI Jakarta, kawasan Monas merupakan daerah resapan air. Sementara belum ada perubahan keppres, pihaknya hanya bisa membuat saluran air di silangan Monas. Agus mengatakan, pihaknya masih mengkaji kemungkinan dibuat tandon air di Monas. Tandon itu diharapkan bisa membuat tampungan air yang bisa digunakan antara lain untuk menyirami tanaman di Monas. Namun, pembuatan tandon air itu harus disetujui pemerintah pusat, termasuk perubahan keppres. Sementara itu, area tangkapan air di Jakarta Barat berkurang 10-15 persen per tahun. Untuk itu, diperlukan tambahan wilayah yang bisa dijadikan daerah tangkapan air. Kepala Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Barat Supardiyo, Senin, mengatakan, laju pengurangan daerah tangkapan air itu semakin lama bisa membuat daerah tangkapan air hilang. Situ sebagai area tangkapan air pun semakin susut. Situ di Jakarta Barat menyusut 10-20 persen per tahun karena tidak diimbangi pengerukan. Oleh karena itu, keberadaannya harus dipertahankan, katanya. Daerah yang diharapkan bisa menjadi area tangkapan air di Jakarta Barat, seperti di Kapuk dan Kamal, yang tidak banyak dilirik untuk pembangunan. Bagi warga yang daerahnya minim tangkapan air, Supardiyo menyarankan agar dibuat sumur resapan dan lubang resapan biopori. Dia mengakui, Jakarta Barat berpotensi mengalami insiden jalan ambles, seperti Jalan RE Martadinata di Jakarta Utara. Dengan laju penurunan tanah 1 sentimeter per tahun dan terjadinya pengeboran sumur dalam ilegal, intrusi air laut pun mengancam Jakarta Barat. Daerah Jakarta Barat yang berbatasan dengan Jakarta Utara, seperti Kapuk dan Kamal, merupakan daerah yang rawan intrusi air laut. Warga setempat menuturkan, air sumur mereka sudah berasa payau. Tanah yang labil karena dulunya rawa dan kemudian diuruk untuk jalan, gedung, dan perumahan, harus diwaspadai, ujar Supardiyo. Di Jakarta Selatan, desakan untuk menghentikan laju pembangunan gedung tinggi ataupun superblok terus meningkat. Arsitek lanskap Nirwono Joga menyatakan, awalnya didesain sebagai kawasan hijau dan lahan tangkapan air, sekaligus penyedia air bersih bagi warga Jakarta, tetapi kenyataannya banyak kompleks gedung baru dibangun. Hal itu jelas memakan lahan resapan air ataupun menguras air tanah untuk kepentingan pemancangan pondasi. Data dari Pemerintah Kota Jakarta Selatan menunjukkan, kawasan Kebayoran Baru diperuntukkan sebagai kawasan hijau, tetapi faktanya kawasan ini dipadati bangunan walaupun pepohonan memang tampak rimbun di kanan kiri jalan sebagai jalur hijau. Rumah-rumah di kawasan ini pun banyak berubah fungsi menjadi tempat usaha yang tidak mengindahkan peraturan penyediaan ruang terbuka hijau di lahan miliknya. Namun, dalam beberapa kali kesempatan, Wali Kota Jakarta Selatan Syahrul Effendi menyatakan, fungsi kotanya sebagai kawasan hijau masih dipertahankan. Program

penghijauan, pembuatan biopori, hingga pengembalian lahan terbuka hijau sesuai fungsinya terus dilakukan. (ECA/ART/FRO/NEL)

Jakarta Tenggelam?
Sadarkah anda Jika DKI Jakarta setiap tahun Turun ke Dasar LAUT...??? Jika anda berada dan tinggal di JAKARTA mungkin anda Tidak akan Bisa Merasakannya, namun Jika anda Berada di LAUT dan Mengukur BIBIR Pantai Jakarta anda akan bisa Mengetahuinya, jika DARATAN Jakarta Terus turun ke dasar LAUT.

Belum Lama ini Presiden SBY dan Seluruh Ilmuwan dan Pakar Geologi Mengadakan RAPAT Darurat membahas mengenai DKI Jakarta yg akan Tenggelam, oleh itulah SBY berniat akan Memindahkan Ibu Kota di Tahun 2020, entah itu di Palangkaraya atau Banjarmasin, yg jelas nanti ibu kota akan berada di kalimantan. Banyak yg Bertanya seberapa besar LAJU Tenggelamnya DKI Jakarta...???

Para Ilmuwan sepakat bahwa yg akan Tenggelam terlebih dahulu yaitu JAKARTA UTARA, Di susul Jakarta Barat, PUSAT, TIMUR lalu JAKSEL.

Menurut Para Ilmuwan DKI Jakarta akan Tenggelam 65% di Tahun 2035 dan 100% di Tahun 2050 dengan Menggunakan PERHITUNGAN MATEMATIS Sederhana pun kita bisa Memperkirakan kapan DKI JAkarta akan 100% Tenggelam.

2- 10 Cm adalah Penurunan Tanah Jakarta yg Paling Kecil / Tahun 46 - 50 Cm adalah Penurunan Tanah Jakarta yg Paling Besar / Tahun Sekarang Tahun 2010, jika menggunakan perhitungan 10 Cm *25 tahun dari sekarangan (2035) = 250 CM atau 2.5 Meter, maka DKI Jakarta di Tahun 2035 sudah Turun 250 Cm. Bayangkan Jika 50 Cm * 25 tahun (2035) = 1250 Cm atau 12.5 Meter di Bawah Permukaan LAUT itulah Dki Jakarta di Tahun 2035 Belum Lagi Kenaikan Air LAUT yg di sebabkan oleh Mencairnya KUTUB Utara dan Kutub Selatan sebesar 2-8 Cm Per Tahun.