Anda di halaman 1dari 10

Pertemuan Singkat, Perpisahan Selamanya

Oleh Shoffi Arba Sari

Suara adzan yang berkumandang

membangunkanku dari tidur lelapku. Ku

ambil air wudhlu dan segera menunaikan ibadah sholat subuh. Dan Ku buka jendela kamarku Pagi dunia.. terima kasih Tuhan, Kau telah memberikanku kesempatan untuk menikmati pagi ini. ku ucap syukurku kepada Tuhan . Shoffi .. ayo cepat mandi, sekolah, sekolah !! teriak ibuku. oke, Mak ! jawabku Aku pun mandi bersiap-siap untuk sekolah karena hari itu adalah hari pertamaku masuk sekolah di SMP. Pukul 06.25 WIB aku sudah di tunggu teman-temanku di depan rumah. Aku bergegas mengambil sepeda , berpamitan dengan Ibu dan berangkat sekolah. Hari itu begitu indah dan cerah seperti hatiku yang berbunga-bunga. Sop, udah siapkah untuk hari ini ? tanya Risti, si cewek pintar dari goa hantu. Tentu dong, kan sekolah baru, kakak kelas baru, seragam baru dan bertemu wajahwajah baru . asssiiiikkkkk kataku kegirangan . ooopppssss,, ada yang ketinggalan, Sop. Jangan lupa ntar kenalan sama kakak kelas. Yuhuuuuu kata Nia salah seorang temanku juga. Ah, kalian itu dasar pikirannya Cuma kakak kelas mulu. jawabku. Sesampainya disekolah betapa senangnya aku karena aku bertemu wajah-wajah baru. Aku masuk di ruang kelas VII-C. Aku berkenalan dengan teman baruku. Teeetttt teeeeeeetttttttt suara bel masuk berbunyi. Aku sudah duduk dengan shabatku Nia. Wali kelas kami begitu cantik, anggunm, emm gaul pula, namanya Bu Tendri, seorang guru B.Inggris. Ya anak-anak hari ini perkenalkan diri kalian didepan kelas kata Bu Tendri.

Dan kami pun perkenalkan diri kita masing-masing. Saat giliranku maju kedepan, tibatiba ada orang ketok pintu toookk.. tookkk.. permisi Bu, kata seorang Ibu di luar kelas iya, silahkan masuk kata Bu Tendri Saat itu Bu Tendri berbincang-bincang dengan ibu tadi dan putranya. Ternyata anak tersebut adalah teman baruku juga namun terlambat. Saat dia masuk kelas, semua mata tertuju padanya karena ada yang lain dari dia. Dia tidak seperti anak normal biasanya. Dia memakai tongkat penyangga untuk membantunya berjalan. Setelah akku memperkenalkan diri, Bu Tendri menyuruhnya untuk memperkenalkan dirinya juga. hallooo, teman. Perkenalkan namaku Nur Ikhsan Fadilla. Aku dari SD Muhammadiyah. Slam kenal ya. Kalian bisa panggil aku Ikhsan kata Ikhsan sambil tersenyum manis. Saat itu juga aku ingin mengenalnya dan mendekatinya. Dia pun duduk di belakangku. Kita berbincang-bincang akrab. Sebenarnya aku ingin tanya kenapa dia memakai tongkat itu. Mungkin kakinya sedang sakit barang kali. Suara adzan dzuhur telah berkumandang, kita sekelas pergi kemushola untuk menunaikan ibadah. Aku berjalan dengan Ikhsan dan Nia. Semua teman sudah mengambil air wudhlu. Hanya ada aku, Nia dan Ikhsan di serambi mushola. Sop, bisa bantu aku tanya Ikhsan ha? Bantu apa San ? tanyaku balik kamu takut enggak ? tanya ikhsa lagi lha apa dulu, San ? semoga aku tidak takut .haha kataku Tolong lepasin kaki palsuku ini dong, aku gak bisa. Aku terlalu susah untuk membungkuk, Sop kata Ikhsan Aku terkejut, aku gak bisa berkata-kata, kaget, dan shock . ternyata dugaanku selama ini salah besar. Ku kira dia hanya sakit kaki biasa. Ternyata salah satu kakinya diamputasi. Dan parahnya lagi seluruh badanku merinding, keringat dingin. Sop, kamu takut tanya ikhsan kembali iyaa San aku takut katakku gugup sini aku aja yang lepasin. Aku gak takut kok kata Nia

yakin? Gak takut ? tanya Ikhsan. iyaa ikhsan, tenang aja ntar di bantu Sopi kata Nia Nia pun perlahan-lahan membukakan kaki palsu Ikhsan aku membantu sedikit dengan keadaan mrinding dan keringat dingin. Kemudian kita sholat dan dia sholat dengan duduk. Hari-hari terlewati seperti biasa canda tawa selalu menghiasi kelas VII-C. Sebulan kemudian, Ikhsan jarang berangkat sekolah. Kita pun berinisial untuk menjenguk Ikhsan kerumahnya dengan membawakan buah-buahan kesukaan Ikhsan. Saat di rumah Ikhsan, kita disambut hangat oleh Ibu Ikhsan. Ikhsan waktu itu sedang berada di kamarnya, Ibunya mengantarkan kita ke kamarnya. Ikhsan kaget ketika kita masuk kamarnya, dari raut wajahnya dia begitu senang dengan kedatangan kita. Gimana San kabarmu ? udah baikan ? lama gak jumpa yaa.. kataku Alhamdulilah udah baikan kok. Besok aku udah bisa berangkat sekolah.jawabnya mantab. asiiiikkkk, besok si Endud udah berangkat kata Nia kegirangan ciiiieee cciiiieeee... teriak teman-teman mengejek Nia. apaan sih kalian, aku punya sesuatu buat kalian kata ikhsan. apa San kata Adi bentar-bentar, sabar ya kata Ikhsan Tak lama kemudian Ibu Ikhsan membawakan sebuah gitar. Mas, ini gitarnya kata Ibu Ikhsan. Makasih, Bu kata ikhsan. Ibu ikhsan hanya tersenyum. Dan ikhsan pun mulai memetik gitar itu menyanyikan sebuah lagu dari Peterpan yang berjudul Kisah Cintaku. Kitapun menyanyi bersama-sama di malam yang sesunyi ini aku sendiri tiada yang menemani, akhirnya kini ku sadari dia telah pergi tinggalkan diriku, akankah semuakan terulanmg kisah cintakku yang seperti dulu. Hanya dirimu yang ku cinta dan kukenang didalam hatiku, takkan pernah hilang, bayangan dirimu untuk selamanya. Mengapa terjadi kepada diriku, aku tak percaya kau telah tiada, haruskah ku pergi tinggalkan dunia agar aku dapat berjumpa denganmuu. Tak kusadari air mata ini menetes, terlebih Nia, dia begitu menghayati lagu tersebut.

Setelah hari itu, Ikhsan berangkat sekolah hanya beberapa hari saja. Bu Tendri sempat menceritakan semua tentang Ikhsan. Aku dan teman-teman terkejut mendengarkan cerita Bu Tendri. Ternyata Ikhsan mengidap penyakit kanker tulang sejak ia kelas 6 SD dan sekarang telah memasuki stadium 4. Sungguh, begitu miris hati kita mendengar semua itu. Dan kita hanya bisa berdoa dan memberi suport yang terbaik untuk Ikhsan. Dia tak pernah merasakan sakit sekecil apapun, padahal penyakitnya begitu berbahaya. Namun, dia selalu kuat dan menyembunyikannya dari orang-orang terdekatnya. Sebenarnya ia merasakan sakit yang amat dalam namun dia selalu menutup-nutupi sakit itu dengan ia berikan senyuman. Dia selalu melawan. Melawan dan berusaha melawan penyakit itu. Bulan ramadhan telah tiba, hari itu tepat tanggal 20 September 2008 adalah hari terakhir berangkat sekolah karena hari libur awal puasa telah didepan mata. Saat jam pelajaran berlangsung, kedua orang tua Ikhsan datang kesekolah dan ingin memberi informasi. Assalamualaikum. Wr. Wb., saya Ibu dari Nur Ikhsan Fadilla hanya ingin sedikit memberikan informasi. Nur Ikhsan mengundang teman-teman untuk buka bersama di rumah Ikhsan besok tanggal 22 September 2008, jadi di harap kedatangannya. Oh iya, ibu ujuga ingin berpesan doakan untuk kesembuhan Ikhsan ya. Wassalamualaikum. Wr. Wb kata ibu Ikhsan. Begitu senangnya hati kami ketika diundang keacara tersebut, apalagi itu adalah puasa pertama dan berbuka bersama teman-teman di rumah Ikhsan. Hari yang ditunggu telah tiba, pukul 16.00 aku sudah siap berangkat. Namun, karena sedang ada sedikit halangan aku ditinggal temn-teman, dan aku pun berangkat diantar oleh kakakku. Sesampainya, semua teman sudah kumpul di teras rumah Ikhsan. Ibu Ikhsan datang dan mnyuruh kita untuk masuk kedalam rumah. ayo, silahkan masuk. Ajak Ibu Ikhsan iyaa, Bu, kata kita serempak. Saat masuk rumah, semua sudut ruangan didekorasi indah dan meriah. Kertas dan balon yang beraneka warnah menghiasi ruangan tersebut tak lupa sebuah alunan lagu sholawatan. Ku lihat ada Pak kepala Sekolah, Bu Tendri dan Pak Ustdz sudah berada disana. Kami pun duduk dan berbincang-bincang. Bagus dekorasinya kataku iya, seperti orang ulang tahun ya? tanya Nia iya loh, emm mungkin Ikhsan atau si Zaki yang ulang tahun ya? kataku penasaran

emm,, mungkin kali Pi, kok Ikhsan gak nongol-nongnol sih? kata Nia oh iya ya, mana Ikhsan. Mungkin masih didalam, Ni Tiba-tiba Ikhsan datang bersama Ibunya, dengan menggunakan kursi roda, dan selang infus. Mukanya pucat, badannya kurus. Namun dia masih bisa tersenyum indah meskipun sedang sakit. Sunnguh, saat itu senyum Ikhsan begitu indah. Tampaknya dia senang dengan kehadiran kita. Kita pun berjabat tangan dengan Ikhsan. Ikhsan, cepet sembuh ya kataku jagoan, cepet sembuh ya, ku tunngu kamu kata Adi ikhsan ndud semangat. Cepet sembuh ya kata Nia Dan teman-teman lain juga ikut menucapkan kepada Ikhasn dan dia hanya memberikan senyuman. Tiba-tiba Ikhsan memberikan isyarat kalau dia sesak nafas. Semua orang yang ada didalam ruangan itu seketika panik semua. Dibantu suster, Ayah Ikhsan dan Ibu Ikhsan, Ikhsan di bawa kekamarnya untuk dipasang bantuan pernafasan dengan menggunakan tabung gas oksigen seperti yang ada dirumah sakit. Meskipun seperti itu, namun acara tetap berlangsung dengan hidmad.Pak kepala Sekolah dan Bu Tendri berpesan agar kita selalu mendoakan kesembuhan Ikhsan. Menuunggu waktu berbuka, Pak Ustadz memimpin doa untuk kesembuhan Ikhsan juga. Adzan maghrib pun berkumandang, dan kami semua berbuka bersama sedangkan Ikhsan terbaring di tempat tidur namun dia tetap bisa melihat kebersamaan kami. Adik Ikhsan mirip sekali dengan Ikhsan, namanya Zaki. Saat makan tiba-tiba Zaki datang. mbak Sopi panggil Zaki dengan malu-malu iyaa, eh Zaki, udah kelas berapa hayoo ktaku, kelas TK nol besar mbak mjawab Zaki denga polos dan berlari menuju Ibunya, Setelah makan kita sholat maghrib berjamaah. Sholat maghrib selesai, kita berpamitan dengan Ikhsan yang masih di tempat tidur. Ketika dia tahu kita kan pamit, dia memberi isyarat kepada susternya untuk melepaskan selang oksigennya dan membantu dia duduk. Kita pun pamit dengan Ikhsan, dan keluarga Ikhsan. Ku lihat Ikhsan , dia masih tersenyum indah, namun tetap saja dia susah untuk berkata, karena mengucapkan kata sedikit saja dia langsung kambuh. Ibu Ikhsan tau kalau anaknya ingin mengatakan sesuatu dengan kami semua. Akhirnya Ibu ikhsan mengatakan sesuatu kepada kami.

teman-temannya mas Ikhsan, terimaksih banyak telah datang dalam acara kecilkecilan ini. Ikhsan sangat senang sekali dengan kehadiran teman-teman semua. Ibu harap, teman-teman semua juga ikut mendoakan kesembuhan Ikhsan. Kata Ibu Ikhsan sambil meneteskan air mata sedangkan kita menahan air mata ini keluar karena kita tak ingin melihat dia bersedih. Di teras rumah, mau pulang, Ikhsan keluar dengan menggunakan kursi roda dengan Ayahnya, senyum itu kembali dia berikan kepada kami. Senyum itu tidak bisa hilang dari ingatanku. Senyum itu masih terbayang-bayang. Nia pun juga merasakn hal yang sama denganku. Selama ini Nia menaruh harapan kepada Ikhsan. Dia jatuh cinta dengan Ikhsan. Bukan karena kasihan dengan Ikhsan namun rasa cinta itu tumbuh dengan bergulirnya waktu. Dan Ikhsan tampaknya juga menaruh harapan kepada Nia. Sejak awal pertemuan pertama itu mereka saling mengenal dan semakin dekat. Nia sering curhat tentang Ikhsan padaku. Dia kagum dengan ketabahan Ikhsan dalam menghadapi cobaan ini. 2 hari setelah buka bersama itu aku sedang tidur siang menuunggu waktu berbuka, namun tiba-tiba Nia datang. Tookk. Tookk.. tookkk... Soffiiiiiiiiiii panggil Nia dengan suara ngos-ngosan sepeti dikejar anjing. Masuk aja nduk di kamar Sofi kata Ibuku. Dia masuk kamarku dan menangis histeris. Aku pun terbangun dan melihatnya, dia begitu takut dan tak dapat berkata-kata. Nia, apa yang terjadi ? kenapa kamu menangis? Kamu tau gak sih aku ngantuk berat ? tanyaku. sof, sof, sof kata nia gugup. iya apa? Kenapa kamu itu ? tanyaku kembali anu sof, anu sambil memegang handphonenya apanya yang anu ? aku bingung tauk jaewabku iniiii !! sambil menyerahkan handphonenya dan kembali menagis histeris. Saat ku buka handphonenya, aku membuka sebuah SMS dari Ibu Ikhsan yang membuatklu terklejut dan ingin pingsan. SMS itu bertuliskan 24:08:2008 16:02:29 Dek Nia, inalilahiwainalilahirojiun mas Ikhsan Nur Fadhila sudah di panggil Allah. Mohon teman-teman diberitahu berita ini. (ibu Ikhsan)

Aku pun ikut menangis histeris, semua badanku lemas semua, kringat dingin. Sedangkan Nia masih tak percaya, dan dia masih menangis. Aku bingung harus berbuat apa saat itu. Dan Ku putuskan untuk menghubungi Bu Tendri kalau berita itu benar atau salah.

Tuuuuttt. Tuuuuuttt
Assalamualaikum kataku Waalaikumsalam, dengan siapa? tanya Bu Tendri Ini Sofi Bu, anu Bu,,Anu kataku gugup Iya ada apa Sof, kenapa kamu gugup ? kamu nagis ya? Tanya Bu Tendri penasaran Ibu tau berita tentang Ikhsan ?tanyaku ketakutan Emang Ikhsan kenapa ? Ibu tidak tahu, Nak Anu Bu, anu... Apa? Inalilahiwainalilahirojiun, ikhsan telah dipanggil Tuhan, Bu. Tadi jam empat sore. APAAAAAA?? kata Bu Tendri kaget. Seketika telpon langsung mati tak ada suara Bu Tendri. Semua teman-teman juga aku hubungi namun tak ada yang percaya atas berita itu. Nia masih dikamarku hingga ia tertidur. Sedangkan aku panik dan masih tak percaya. Nia pun ku bangunkan dan kita menghubungi keluarga Ikhsan. Saat kita akan menelepon nomor handphone Ikhsan, suara handphoneku berbunyi, ternyata Bu tendri meneleponku. assalamualaikum waalaikumsalam, Bu. Bagaimana, Bu ? kenapa tiba-tiba mati Bu telponnya? Maaf tadi Ibu shock. Iya berita itu benar Shof. Besok kita melayat di rumahnya kira-kira jam 9. Teman-teman dikasihtau. Nanti ibu mau kerumahnya yasinan. Sudah dulu. Assalamualaikum iya bu, waalaikumussalam Dan berita itu ku sebarkan kepada teman-teman. Nia pun pulang kerumah dengan raut wajah yang sedih sekali, karena orang yang dicintainya telah pergi, dia masih tak percaya apa yang terjadi.

Malam harinya, aku tak bisa tidur masih teringat Ikhsan. Senyumnya yang indah itu adalah senyum terakhir darinya. Dan hari itu adalah hari pertemuan terakhirku dengan dia. Mungkin saat itu dia sudah merasa tidak kuat menahan sakit itu hingga akhirnya dia mengundang kita berbuka bersama untuk perpisahan terakhir. Sunnguh, aku benar-benar sedih dan merasa kehilangan. Apalagi Nia, dia pasti sangat dsedih yang amat dlam dan belum bisa melepasnya. Inilah rencana Tuhan yang tak pernah kita tahu . Tapi mengapa harus Ikhsan ?? dia adalah sosok orang yang sangat kuat, tabah dalam menghadapi cobaan ini. Masih belum percaya aku. Dan seketika itu, aku ingat ketika kita menjenguk ikhsan dan kita menyanyikan lagu Kisah Cintaku. Itu adalah lagu terakhir yang dinyanyikan Ikhsan kepada kami. Dan lirik lagu itu menggambarkan kisah Ikhsan. Seketika ku ambil handphone dan kembali mendengarkan lagu itu, air mata ini menetes dan segera menghubungi Nia. Nia pun juga sedang mendengarkan lagu itu di kamar rumahnya. Malam itu penuh dengan kesedihan dan kenangan yang tak pernah bisa untuk di lupakan. 25 September 2008, jenazah Ikhsan di makamkan. Pukul 09.00 kita sudah berada di rumah duka dan kitapun menyolatkan almarhum. Air mataini tak kuat untuk ditahan. Nia hampir pingsan ketika selesai menyolatkan jenazah. Karangan bunga berdatangan dari mana-mana. Banyak yang hadir saat pemakaman itu. Ku lihat Ayah dan Ibu Ikhsan yang begitu sedih yang amat dalam karena putra pertamanya itu telah dipanggil Tuhan. Apalagi Zaki adik ikhsan, dia masih kecil dan beum tau apa-apa, kini dia telah di tinggal kakak tersayangnya. Setelah pemakaman jenazah Ikhsan, kami pulang dengan raut wajah sedih dan masih belum percaya. Kita masih terngiang-ngiang Ikhsan. Dan kita hanya bisa berdoa semoga dia di terima oleh Allah SWT dan mendapatkan tempat yang terbaik di sana. Nia sudah bisa melepaskan kepergian Ikhsan. Ia memulai hidup baru. Untuk melepas rindu dengan Ikhsan, setiap tahunnya kita berziarah ke makam ikhsan dan bersilaturahmi dirumahnya. Ibunya selalu menyambut kami dengan hangat. setelah lulus SMP kita bersilaturahmi di rumah alm. ikhsan. Ibunya sangat senang sekali ketika kita datang. Toko rumah Ikhsan diganti namanya menjadi IKHSAN ZAKI. Dan Apa lagi Zaki, ia sudah besar dan dia sangat senang sekali saat kita bawakan buah kesukaan Zaki. Zaki, udah gede sekarang. kelas berapa sekarang? tanyaku udah SD mau naik kelas 3 mbak sopi sambil malu-malu mbak, namaku sekarang udah bukan zaki lagi. Kata Zaki polos lha? Sekarang ganti siapa? Power ranger ya? kataku namaku sekarang Ikhsan katanya

Seketika semua teman-teman terkejut dan kita teringat akan kenangan-kenangan sumua tentang Ikhsan. Zaki sendiri yang meminta Ibunya untuk mengganti namanya. Ibu Ikhsan pun menceritakan semua tentang Ikhsan selama ia masih ada di dunia. Ikhsan mengidap penyakit kanker tulang sejak dia duduk di bangku dasar. Selama sakit ia sekolah dirumah. Meskipun sakit namun prestasinya terus meningkat. Dia sempat di rawat di rumah sakit di Surabaya, paling mengagumkan lagi dia menjadi icon di rumah sakit tersebut. Dengan semangatnnya, dia terus memberikan semangat kepada pasien-pasien lain sesama mempunyai penyakit kanker supaya mereka bisa tabah dan kuat menghadapai cobaan hidup ini. Ibu dan Ayah Ikhsan bangga dengan apa yang dilakukan Ikhsan. Dokter dan suster di rumahsakit itu juga tidak menyangka mempunyai pasien seperti ikhsan yang sangat kuat, tabah, dan selau bersemangat dlam menjalani hidup ini. Hal yang sangat membuatku kagum yaitu dia telah merencanakan ingin pergi ketanah suci bersama Ayah, Ibu, dan Zaki kalau dia sembuh dari penyakitnya. Namun Tuhan berkehendak lain, dia ntelah dipanggil Tuhan sebelum dia pergi ketanah suci. Dan impian itu hanya sebatas mimpi ikhsan yang tak menjadi nyata. Padahal uang untuk berangkat ketanah suci sangat cukup malah lebih dari cukup. Dan suatu hari ketika Ayahnya ke Jakarta, Ikhsan menyuruh Ibunya untuk mengambilkan uang tabungan untuk ketanah suci itu di bank untuk di bagikan kepada orang-0oarang yang tidak mampu. Dia rela uangnya dia kasihkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Ayah ikhsan tak mengetahui rencana ikhsan tersebut dan ibunya juga sudah diberi pesan oleh ikhsan untuk tidak mengatakan kepada ayahnya. Namun, Ayahnya tau sendiri apa yang di dilakukan selama ini. Ayahnya hanya bisa menangis melihat anaknya yang benar-benar lebih dari segalanya. Sebelum meninggal dia telah menulis beberapa surat untuk orang-orang yang disayanginya. Yaitu untuk keluarga, teman TK, teman SD, teman SMP, dan teman bermain dirumah.

To: teman-teman VII-C Teman-teman, maafin Ikhsan ya, kalau selama ini Ikhsan mempunyai salah sama kalian. Maaf ya kalau ikhsan juga sudah terlalu sering merepotkan kalian. Ikhsan Cuma berharap kelak kalau Ikhsan pergi kalian tetap jadi sahabat ikhsan. Jangan lupa belajar yang rajin ya From: Ikhsan
Saat ibunya membacakan surat itu. Semua dalam ruangan menangis. Namun surat itu belum sempat ia berikan kepada teman-temannya. Dan surat itu menjadi

bukti akan kesetiakawanan seorang ikhsan. Inilah Ikhsan seseorang yang bisa menjadi motivasi dalam menjalani hidup. Tabah dlam menghadapi setiap cobaan. Selalu mensyukuri dan tak pernah mengeluh dengan apa yang telah diberikan Oleh Tuhan. Inilah rencana Tuhan, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Semoga Ikhsan tenang di Surga bersama orang-orang yang beriman. Dan persahabatn ini takkan pernah putus dan akan terjalain untuk selama-lamanya. Inilah sepenggal lagu dari Bondan Prakoso & Fade2Black yang berjudul R.I.P. Lagu yang sering kita nyanyikan untuk mengenang alm Ikhsan.

MEMORIAN of NUR IKHSAN FADILLA


Sahabat yang terbaik dalam mengejar mimpi, teman terhebat ku untuk dapat berdiri kawan yang tepat untuk sharing hal-hal kecil Hari-hari ku jalani kini semua terasa sunyi Walau hampa pasti ku hadapi Kuucapkan selamat jalan Selamat jalan teman, semoga kau tenang semua canda tawa bayanganmu takkan pernah hilang dalam setip langkah, kau selalu ada sampai kini ku takpercaya kau telah tiada mungkin batu nisan pisahkan dunia kita namun ambisimu kan kujaga selalu membara, gapailah doa yang selalu ku baca menemanimu menuju singga sana surga. Selamat tinggal , tidur yang lelap, mimpi yang yang indah selamat jalan,,,,, Kau adalah milik-Nya, dan kepada-Nya lah kau kembali. Sampai bertemu Brother, dialam sana nanti, Rhyme In Peace