Anda di halaman 1dari 9

RANCANG BANGUN PERANGKAT LUNAK PENDUKUNG KEPUTUSAN SELEKSI PENERIMA BANTUAN BERAS MISKIN (Studi Kasus Desa Kalibening

Kota Salatiga)
Yusuf S. Nugroho1, Fatah Yasin Al Irsyadi2
1

Jurusan Teknik Informatika Fakultas Komunikasi dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta Email: yusufsn@fki.ums.ac.id 2 Jurusan Teknik Informatika Fakultas Komunikasi dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta Email: fatah@fki.ums.ac.id Abstrak Desa Kalibening merupakan salah satu desa di Kota Salatiga yang terletak di bagian timur pusat kota. Berdasarkan data statistik yang diperoleh dari BPS Kota Salatiga tahun 2009, jumlah penduduknya mencapai 1359 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 344 orang. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan buruh yang tidak memiliki pendapatan bulanan tetap, meskipun tidak sedikit pula yang bekerja sebagai guru, karyawan, pegawai atau bahkan PNS. Hal ini membuat masyarakat Kalibening memiliki tingkat kesejahteraan yang kurang akibat krisis ekonomi di negara Indonesia yang masih bergejolak. Sehingga masyarakat desa ini dipandang layak oleh pemerintah untuk mendapatkan bantuan beras miskin bulanan. Penelitian ini bertujuan membangun sebuah perangkat lunak pendukung keputusan yang mempunyai kemampuan analisis seleksi penerima beras bagi keluarga miskin dengan kriteria yang sudah ditentukan untuk menghasilkan output nilai intensitas prioritas setiap keluarga. Aplikasi ini dirancang dan dibuat menggunakan bahasa pemrograman Java dengan database MySQL. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan studi literatur, observasi, wawancara, analisis sistem, perancangan dan pengujian sistem. Kriteria keluarga miskin yang ditentukan antara lain (1) tidak adanya orang tua yang menanggung keluarga, (2) penghasilan keluarga maksimal Rp 15.000 perhari, (3) tidak memiliki pekerjaan tetap, dan (4) jumlah keluarga minimal 3 orang. Tiap kriteria diberi bobot penilaian. Interval bobot yang dipakai dalam penilaian keluarga ini adalah 0-4. Semakin tinggi nilai bobot penilaian, maka semakin tinggi nilai intensitas prioritas keluarga. Keluarga yang berhak menerima beras adalah keluarga yang memiliki nilai intensitas prioritas lebih dari atau sama dengan 12. Hasil penilaian kelayakan penerima beras dilakukan dengan menggunakan metode langsung (direct), yaitu metode yang digunakan untuk memasukkan data kuantitatif. Nilai ini berasal dari sebuah analisis sebelumnya atau dari pengalaman dan pengertian yang detail masalah keputusan tersebut. Output nilai intensitas prioritas terhadap setiap keluarga dapat secara langsung diketahui dari sistem pendukung keputusan ini. Kata kunci : intensitas prioritas, Java, MySQL, raskin, sistem pendukung keputusan. Pendahuluan Negara Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang mengalami krisis ekonomi cukup lama. Sebagai akibat dari krisis ekonomi ini, kemampuan penduduk Indonesia untuk memenuhi berbagai kebutuhan mendasar seperti makanan, pakaian, dan perumahan semakin meragukan. Perjuangan hidup sehari-hari yang begitu berat masih harus dihadapi banyak orang untuk mendapatkan makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarganya. Dampak keseluruhan dari kondisi ini adalah menurunnya tingkat kesejahteraan di sektor kehidupan tertentu masyarakat Indonesia. Untuk menanggulangi dampak krisis ini, pemerintah melaksanakan suatu program yang berupa pemberian bantuan beras bulanan kepada keluarga miskin di setiap desa di seluruh Indonesia, salah satunya adalah di Desa Kalibening Kota Salatiga. Metode yang dilakukan dalam pengambilan keputusan penerima beras untuk keluarga miskin di Desa Kalibening dilakukan oleh pejabat setempat yaitu Ketua RT/RW dan atau Lurah dengan masih menggunakan cara manual. Database yang digunakan juga masih dalam bentuk kertas, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk pengolahan. Kendala terbesar yang kemungkinan terjadi adalah kesulitan dalam penyimpanan atau pencarian arsip yang telah tersimpan. Adapun kriteria-kriteria yang telah ditentukan oleh pemerintah tidak sepenuhnya digunakan oleh pejabat setempat karena adanya kecenderungan unsur subyektifitas. Hal ini menimbulkan rasa ketidakadilan

terhadap keluarga miskin lainnya yang seharusnya berhak memperoleh bantuan beras namun pada kenyataannya tidak memperoleh bantuan. Demikian juga keluarga yang seharusnya tidak memperoleh bantuan beras justru mendapatkan bantuan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dibangun sebuah sistem pendukung keputusan yang mempunyai kemampuan analisis penentuan keluarga miskin dengan menggunakan metode langsung (direct), yaitu metode yang digunakan untuk memasukkan data kuantitatif. Nilai-nilai ini berasal dari sebuah analisis sebelumnya atau dari pengalaman dan pengertian yang detail tentang suatu masalah keputusan tersebut. Jika pengambil keputusan memiliki pengalaman atau pemahaman yang besar mengenai masalah yang dihadapi, maka dapat secara langsung memasukkan pembobotan dari setiap kriteria atau alternatif. Bobot penilaian dan alternatif masing-masing keluarga dibandingkan dengan yang lainnya sehingga menghasilkan output nilai intensitas prioritas yang menunjukkan kelayakan setiap keluarga untuk memperoleh bantuan beras miskin. Bahan dan Metode Penelitian Bahan penelitian yang dilibatkan dalam pembuatan sistem ini ada 2 (dua) kategori utama yaitu: 1. Perangkat Lunak Perangkat lunak yang digunakan dalam perancangan dan pembangunan sistem pendukung keputusan ini adalah bahasa pemrograman Java yaitu menggunakan netbeans-6.5beta-windows. Sedangkan untuk pembuatan laporan-laporan dalam aplikasi ini menggunakan jasperreports-3.1.2, dan untuk mendesainnya menggunakan iReport-nb-0.9.1. Java merupakan bahasa pemrograman yang dikembangkan oleh Sun Microsystems. Program ini tidak bergantung dengan platform atau sering dikenal dengan istilah portabilitas, artinya dapat dijalankan pada sembarang komputer dan bahkan pada sembarang sistem operasi. Java juga termasuk bahasa pemrograman Multithreading, yaitu dapat mengerjakan beberapa proses dalam waktu yang bersamaan. Java memiliki keunggulan yang bersifat 'platform independence', artinya baik berupa source program maupun hasil kompilasinya sama sekali tidak bergantung kepada sistem operasi dan platform yang digunakan. Source code dari sebuah aplikasi dengan bahasa Java yang ditulis di atas sistem Windows NT misalnya, dengan mudah dapat dipindahkan ke sistem operasi UNIX tanpa harus mengedit satu baris kodepun, bahkan hasil kompilasinya bisa dijalankan di berbagai sistem komputer. Dalam perancangan sistem ini juga diperlukan adanya sebuah database yang digunakan sebagai tempat datadata kependudukan. Secara teori, database adalah kumpulan data atau informasi kompleks yang disusun menjadi beberapa kelompok dengan tipe data yang sejenis atau lebih dikenal sebagai tabel. Setiap data dapat saling berhubungan satu dengan yang lain atau dapat berdiri sendiri, sehingga mudah diakses. MySQL merupakan program aplikasi yang dapat digunakan untuk membangun dan mengelola database yang disebut dengan DBMS (Database Management System) yang bersifat sebagai database server. Pada awalnya DBMS hanya bisa dijalankan pada sistem operasi Unix dan Linux. Namun karena semakin banyaknya peminat yang menggunakan database ini, MySQL merilis versi yang dapat diinstall pada hampir semua platform, termasuk Windows. 2. Masyarakat Penerima Bantuan Desa Kalibening merupakan salah satu desa di Kota Salatiga yang terletak di bagian timur pusat kota. Jumlah penduduk desa ini berdasarkan data statistik yang diperoleh dari BPS Kota Salatiga tahun 2009 sebanyak 1359 jiwa dengan jumlah kepala keluarga adalah 344 orang. 78% dari jumlah kepala keluarga tersebut diantaranya bekerja sebagai petani dan buruh yang tidak memiliki pendapatan bulanan tetap, meskipun tidak sedikit pula yang bekerja selain sebagai petani dan buruh seperti guru, karyawan, pegawai atau bahkan PNS. Namun, sebagian besar masyarakat di desa ini masih memiliki tingkat kesejahteraan yang kurang akibat krisis ekonomi di negara Indonesia yang masih bergejolak. Sehingga masyarakat desa ini dipandang layak oleh pemerintah untuk mendapatkan bantuan beras miskin bulanan. Masyarakat Desa Kalibening adalah responden sebagai sumber data utama untuk menentukan nilai intensitas prioritas keluarga yang berhak menerima bantuan. Sedangkan pejabat setempat seperti Lurah, Ketua RT atau Ketua RW merupakan sumber data sekunder untuk pengambilan keputusan. 1. 2. 3. 4. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam perancangan dan pembuatan sistem ini sebagai berikut: Studi pustaka Tahap ini dilakukan dengan cara pengumpulan data dari literatur, paket modul dan panduan, buku-buku pedoman, buku-buku perpustakaan dan segala kepustakaan lainnya yang dianggap perlu dan mendukung. Observasi Observasi adalah metode untuk mendapatkan data dengan melakukan pengamatan langsung dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala atau fenomena yang terkait tanpa mengajukan pertanyaan. Interview Metode ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan terhadap responden yang terlibat dan mendukung permasalahan. Analisis sistem

5.

6.

Data yang terkumpul melalui instrumen akan dianalisis dengan fokus pada fungsi sistem informasi dan manajemen. Perancangan dan pembuatan sistem. Perancangan dilakukan sebelum masuk ke tahap pembuatan sistem. Tahap ini meliputi perancangan diagram struktur AHP (Analytic Hierarchy Process), pemodelan halaman aplikasi, penentuan hubungan antar halaman aplikasi dan perancangan database yang digunakan sebagai query. Tahap akhir adalah pembuatan sistem yang meliputi penginstalan dan konfigurasi perangkat lunak yang digunakan. Pengujian sistem Pengujian dilakukan secara detail terhadap aplikasi sistem pendukung pengambilan keputusan penerima beras untuk keluarga miskin. Pengumpulan Data Kesimpulan Analisa Data Pengujian Aplikasi Perancangan Diagram EntityRelationship (E-R Diagram) Pembuatan Aplikasi Perancangan Aplikasi Menyusun Struktur AHP

Analisis Kebutuhan Sistem

Perancangan Basis Data Hubungan Antar Tabel Data

Gambar 1. Diagram alir perancangan dan pembuatan aplikasi Dalam penelitian ini, teknik identifikasi masalah yang dihadapi menggunakan teknik pendekatan AHP (Analytic Hierarchy Process) yaitu salah satu teknik pengambilan keputusan atau optimasi multivariate yang digunakan dalam analisis kebijaksanaan. Pada hakekatnya AHP merupakan suatu model pengambil keputusan yang komprehensif dengan memperhitungkan hal-hal yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Model pengambilan keputusan dengan AHP pada dasarnya berusaha menutupi semua kekurangan dari model-model sebelumnya. AHP juga memungkinkan struktur suatu sistem dan lingkungan di dalam komponen saling berinteraksi dan kemudian menyatukan mereka dengan mengukur dan mengatur dampak dari komponen kesalahan sistem (Saaty, 2001). Peralatan utama dari model ini adalah sebuah hirarki masalah dengan input utamanya adalah persepsi manusia. Dengan adanya hierarki masalah yang kompleks atau tidak terstruktur dipecah dalam sub-sub masalah kemudian disusun menjadi suatu bentuk hirarki. AHP mempunyai kemampuan untuk memecah masalah multi kriteria yang berdasar pada perbandingan preferensi dari setiap elemen dalam hierarki (Kadri, 2006). Prinsip kerja AHP adalah penyederhanaan suatu persoalan kompleks yang tidak terstruktur, stratejik, dan dinamik menjadi bagian-bagiannya, serta menata dalam suatu hierarki, kemudian tingkat kepentingan setiap variabel diberi nilai numerik secara subjektif tentang arti penting variabel tersebut secara relatif dibandingkan dengan variabel lain. Berbagai pertimbangan tersebut kemudian dilakukan sintesa untuk menetapkan variabel yang memiliki prioritas tinggi dan berperan untuk mempengaruhi hasil pada sistem tersebut (Marimin, 2004). Langkah-langkah dari teknik AHP yang diterapkan pada penelitian ini sebagai berikut: 1. Penyusunan hirarki permasalahan yang dihadapi Masalah yang akan diselesaikan, diuraikan menjadi unsur-unsur kriteria dan alternatif seperti pada gambar 2. 2. Penilaian kriteria dan alternatif Kriteria dan alternatif dinilai melalui perbandingan berpasangan. Kriteria keluarga miskin yang ditentukan antara lain : (1) tidak adanya orang tua yang menanggung keluarga, (2) penghasilan keluarga maksimal Rp 15.000 perhari, (3) tidak memiliki pekerjaan tetap, dan (4) jumlah keluarga minimal 3 orang. Tiap kriteria diberi bobot penilaian. Interval bobot yang dipakai dalam penilaian keluarga ini adalah 0-4. 3. Penentuan prioritas

4.

Setiap kriteria dan alternatif, perlu dilakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Nilai-nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukan peringkat dari seluruh alternatif, baik yang bersifat kualitatif, maupun kuantitatif. Kriteria ini dibandingkan sesuai dengan penilaian yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan prioritas. Semakin tinggi nilai bobot penilaian, maka semakin tinggi nilai intensitas prioritas keluarga. Keluarga yang berhak menerima beras adalah keluarga yang memiliki nilai intensitas prioritas lebih dari atau sama dengan 12. Konsistensi logis Semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingatkan secara konsisten sesuai dengan kriteria yang logis.

Goal

Objectives

Sub Objectives

Alternatives

Gambar 2. Struktur Hirarki AHP Keterangan gambar 2 : a) Hierarki terbawah adalah berisi alternatif-alternatif (pilihan-pilihan) dalam analisis. b) Hierarki kedua adalah sub kriteria objektif yang dipakai untuk menganalisis lebih spesifik. c) Hierarki ketiga adalah kriteria-kriteria objektif yang dipakai untuk menganalisis. d) Hierarki keempat adalah hirarki yang berisi tujuan analisis (goal). Menyusun struktur AHP akan memudahkan dalam proses pengambilan keputusan. Persoalan yang akan diselesaikan, diuraikan menjadi unsur-unsur, yaitu: kriteria dan alternatif. Penilaian alternatif pada sistem pendukung keputusan ini dilakukan dengan metode langsung (direct), yaitu metode yang digunakan untuk memasukkan data kuantitatif. Seleksi Penerima Beras Untuk Keluarga Miskin .....

Kriteria ke-1

Kriteria ke-2

Kriteria ke-n

Keluarga ke-1

Keluarga ke-2

Keluarga ke-3

.....

Keluarga ke-n

Gambar 3. Struktur AHP Sistem Pendukung Keputusan Penerima Raskin Perancangan model entity relationship pada sistem ini dapat dapat digambarkan lebih sistematis dengan menggunakan Diagram E-R. Diagram entity relationship ini dirancang dengan melalui beberapa tahap, yaitu: 1. Penentuan Entitas (Entity) Entitas pada sistem aplikasi ini meliputi:

a)

2.

3.

Operator Digunakan untuk menyimpan informasi dari pengguna aplikasi (user). b) Bobot Digunakan untuk menyimpan informasi dari pembobotan setiap kriteria yang dilakukan dalam pendukung pengambilan keputusan. c) Keluarga Digunakan untuk menyimpan informasi dari seluruh keluarga di desa tempat penelitian dilakukan. d) Proses_Terima Digunakan untuk menyimpan informasi dari proses penerima dalam pengambilan keputusan. Penentuan Atribut (Attributes) Atribut yang diperlukan adalah: a) Atribut pada entitas operator Atribut yang digunakan antara lain kd_operator, nm_operator, kelamin, alamat, user_id, pass_id. b) Atribut pada entitas bobot Atribut yang digunakan yaitu kd_bobot, id_keluarga, nm_kk, pekerjaan, penghasilan, keluarga, orangtua, nilai_pekerjaan, nilai_penghasilan, nilai_keluarga, nilai_orangtua, keterangan. c) Atribut pada entitas keluarga Atribut yang dipakai adalah id_keluarga, nama_kk, RTRW, dukuh, desa, kecamatan, keterangan. d) Atribut pada entitas proses_terima Atribut yang digunakan antara lain no_penerima, id_keluarga, tgl. Penentuan Relationship Tabel 1. Matriks relasi antar entitas Entitas operator keluarga bobot proses_terima
Keluarga PK id_keluarga nama_kk RTRW dukuh desa kecamatan keterangan has PK

operator -

keluarga -

bobot 1:n -

proses_terima 1:n m:n Bobot kd_bobot id_keluarga nm_kk pekerjaan penghasilan keluarga orangtua nilai_pekerjaan nilai_penghasilan nilai_keluarga nilai_orangtua keterangan decide

has

Proses_Terima PK no_penerima id_keluarga tgl decide

Penerima PK id_penerima no_penerima kd_bobot nilai_bobot

Gambar 4. Relasi antar tabel Metode penilaian kelayakan penerima beras yang dilakukan sebagai berikut. 1) Pekerjaan Kriteria pekerjaan disini dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: tetap dan tidak tetap. Point maksimum dari pekerjaan sebagai berikut: a. Pekerjaan = tetap : 0 b. Pekerjaan tetap : 4 2) Penghasilan Kriteria penghasilan disini ditetapkan nilai dari penghasilan masing-masing keluarga, sebagai berikut: a. Penghasilan < 15000/hari : 4 b. Penghasilan = 15000/hari : 3 c. 15000/hari < penghasilan <= 30000/hari : 2

d. 30000/hari < penghasilan <= 50000/hari : 1 e. Penghasilan > 50000/hari : 0 3) Keluarga Jumlah anggota keluarga menentukan point yang diperoleh. a. Keluarga > 5 : 4 b. 3 < keluarga <= 5 : 3 c. Keluarga = 3 : 2 d. Keluarga <= 2 : 1 4) Orang tua Kriteria ini digunakan untuk orang tua, penilaian dari kriteria ini sebagai berikut. a. Orang tua tidak ada menanggung : 4 b. Orang tua ada menanggung : 0 Jika semua kriteria penilaian di atas terpenuhi maka total bobot penilaian adalah 16 yang digunakan untuk menentukan penerima beras. Penentuan penerima dilakukan berdasarkan hasil jumlah total bobot nilai kriteria dari setiap keluarga. Keluarga yang berhak menerima beras adalah keluarga yang memiliki total bobot nilai kriteria lebih dari atau sama dengan 12 (dua belas). Hasil dan Pembahasan Tahap pengujian adalah tahap yang sangat penting untuk dilakukan. Hal ini digunakan untuk memeriksa dan memastikan bahwa sistem yang dibangun sudah terkonfigurasi dengan baik dan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan pada perancangan sistem. Pengujian sistem aplikasi ini diuji di bawah sistem operasi Windows XP. Form login akan muncul pada saat aplikasi dijalankan pertama kali. Jika login berhasil maka tampil form menu utama, form ini dirancang memuat semua informasi tentang aplikasi sistem pendukung keputusan penerima raskin.

Gambar 5. Tampilan menu utama Beberapa form yang diujikan dari program aplikasi ini antara lain proses input data keluarga, input bobot nilai tiap keluarga, form proses penerima, dan laporan.

Gambar 6. Tampilan form input data keluarga

Gambar 7. Tampilan form input bobot nilai keluarga

Gambar 8. Tampilan form proses penerima

Gambar 9. Tampilan form laporan hasil penilaian Untuk menampilkan laporan daftar keluarga yang hanya berhak menerima bantuan beras miskin maka harus disaring berdasarkan keluarga yang memiliki total bobot nilai lebih dari atau sama dengan 12, seperti terlihat pada gambar 10.

Gambar 10. Tampilan form laporan penerima bantuan raskin Dengan melihat hasil laporan daftar penerima, maka pengambil keputusan dalam hal ini adalah Ketua RT/RW atau Lurah bisa lebih obyektif. Karena penentuan keluarga yang berhak menerima bantuan raskin murni berdasarkan total nilai hasil penjumlahan bobot masing-masing kriteria penerima bantuan beras. Kesimpulan Dari penelitian ini dapat diambil suatu kesimpulan: 1. AHP mampu memberikan solusi yang tepat dalam pengambilan keputusan hirarki penerima bantuan beras di Desa Kalibening seperti yang dihadapi oleh Ketua RT/RW atau Lurah. 2. Keputusan yang diambil oleh Ketua RT/RW atau Lurah dapat dipertanggungjawabkan dengan dukungan dari perhitungan yang dilakukan dengan AHP sebagai model dalam sistem pendukung keputusan. 3. Aplikasi sistem pendukung keputusan penerima bantuan beras miskin di Desa Kalibening ini dapat digunakan oleh Ketua RT/RW atau Lurah dalam menentukan keluarga yang berhak menerima bantuan beras miskin. 4. Aplikasi sistem pendukung keputusan ini dapat diterapkan di daerah-daerah lain dengan mengubah sedikit form-form aplikasi. Daftar Pustaka BPS Kota Salatiga, 2009, Data Kependudukan Kota Salatiga Tahun 2009, Salatiga. Kadri, Trihono dan Imamuddin, Mohammad, 2006, Penerapan Algoritma AHP untuk Prioritas Penanganan Bencana Banjir, Prosiding SNATI 2006, Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Marimin, 2004, Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk, Jakarta: Grasindo. Saaty, Thomas L., 2001, Decision Making with Dependence and Feedback: The Analytic Network Process, RWS Publications, Pittsburgh, PA