Anda di halaman 1dari 5

Etiologi Diastema Diastema adalah suatu ruang yang terdapat diantara dua buah gigi yang berdekatan.

Diastema ini merupakan suatu ketidaksesuaian antara lengkung gigi dengan lengkung rahang. Bisa terletak di anterior ataupun di posterior, bahkan bisa mengenai seluruh rahang. Diastema sentral rahang atas adalah ruang yang terdapat diantara gigi insisif sentral rahang atas (Proffit dan Fields, 2000) Diastema sentral rahang atas, merupakan suatu maloklusi yang sering muncul dengan ciri khas yaitu berupa celah yang terdapat diantara insisif sentral rahang atas. Seringkali diastema ini menyebabkan gangguan estetik bagi sebagian orang, terutama diastema yang terdapat di anterior, sementera bagi sebagian orang, diastema ini dianggap sebagai suatu ciri khas dari orang tersebut dan bukan merupakan gangguan bagi penampilan estetiknya. Oleh karena bagi sebagian orang diastema sentral ini merupakan suatu gangguan estetik terhadap penampilannya, maka banyak orang yang mencari dan meminta pertolongan dari dokter gigi untuk mengkoreksi kelainan tersebut. Dengan telah dikoreksinya kelainan tersebut, mereka berharap akan lebih menambah baik penampilannya dan akan meningkatkan rasa percaya dirinya (Bishara, 2001; Moyers, 1988) Diastema sentral yang terjadi pada rahang atas bisa disebabkan oleh: 1. Gigi desidui 2. Perlekatan abnormal dari frenulum 3. Mikrodonsia (insicivus lateral) 4. Adanya mesiodens 5. Hilangnya gigi karena trauma atau kongenital 6. Kebiasaan buruk (mendorong lidah, menghisap jari, dll) 7. Herediter 8. Predisposisi ras, negro

Diastema midline hadir saat pertumbuhan gigi desidui. Ini merupakan tanda sehat dan mengindikasian adanya ruang untuk erupsi gigi permanen. Diastema dapat mucul saat umur 9-11 tahun atau saat mixed dentition. Erupsi caninus rahang atas menyebabkan penutupan otomatis. Diastema juga memiliki predisposisi ras. Populasi negro menunjukkan insidensi tertinggi dari diastema. Diastema juga dapat hadir karena keturunan. Satu atau kedua orang tua diastema maka akan terlihat diastema pada anak mereka.

Diastema midline juga dapat disebabkan karena lengkung rahang diskrepansi. Hal ini dapat terjadi sebagai manifestasi dari mikrodonsia sejati (sangat jarang), mikrodonsia relative, dan mirkorodonsia terlokalisasi. Tebalnya frenulum juga dapat menyebabkan

diastema. Frenulum labialis yang tebal tertananam pada papia insisivus sehingga menyebabkan jarak pada midline.

Kebiasaan buruk juga dapat menyebabkan diastema. Menghisap ibu jari/jari dan seringnya mendorong-dorong lidah ke depan berperan dalam terjadinya diastema. Bernafas lewat mulut kemungkinan dapat menyebabkan jarak pada insisivus sentralis. Kombinasi dari penyebab yang telah disebutkan diatas juga dapat terjadi. Yang paling sering adalah akibat tidak adanya benih gigi insicivus lateral dan adanya gigi mesiodens. Conical supernumeraries (mesiodens) biasanya dekat dengan midline diantara insicivus sentral. Mesiodens terkadang terbalik dan posisinya bisa erupsi sempurna atau berada di atas apeks insicivus. Mayoritas tidak mengganggu erupsi gigi insicivus namun dapat menyebabkan perpindahan atau diastema (Welbury dkk, 2005). Mesiodens prevalensinya 0,15%-1,19% dapat tunggal atau multiple dan berupa unilateral atau blateral, prevalensi pada anak lelaki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Sekitar seperlima dari yang mengalami mempunyai dua atau tiga mesiodens, 25% mesiodens dapat erupsi spontan dan mempunyai arah erupsi yang normal, akan tetapi sebagian mempunyai arah erupsi terbalik menuju ke rongga hidung (Koch dkk., 1991; Russel dan Folwarczna, 2003).

Mesiodens dapat diklasifikasikan berdasarkan terbentuknya yaitu pada gigi permanen (mesiodens rudimenter) atau pada gigi sulung (mesiodens suplementer) dan menurut morfologinya yaitu konus, tuberkel, molariform dan odontoma (Russel dan Folwarczna, 2003; Millet dan Welburry, 2005)

Analisis Mesiodens merupakan kelainan jumlah gigi yang terletak di regio gigi insisivus sentral atas yang sering ditemui oleh dokter gigi pada geligi bercampur. Kelainan ini sering ditemukan karena keluhan orang tua bahwa gigi anaknya belum erupsi sedangkan gigi di sisi sebelahnya sudah erupsi dengan baik atau gigi yang telah erupsi mempunyai bentuk yang tidak sesuai dengan bentuk gigi alamiah, dan dapat pula karena gigi yang disebelahnya tumbuh dengan posisi yang salah (Koch dkk., 1991; Dean dkk., 2000; Millet dan Welbury, 2005). Pada kasus ini mesiodens menyebabkan erupsi gigi 11 terhambat dan diastema. Tidak diketemukan gigi lebih pada kedua orangtua dan saudara kandungnya dan tidak ada riwayat gigi lebih pada anggota keluarga yang lain. Hal ini menunjukkan penyebab gigi berlebih ( supernumerary) mesiodens bukan dikarenakan keturunan. Terhambatnya erupsi gigi 11 karena mesiodens tidak hanya menyebabkan diastema pada anak melainkan dapat menyebabkan penurunan estetis dan penurunan fungsi fisiologis seperti fungsi berbicara (fonetik), fungsi mengunyah (mastikasi), dan fungsi menelan. Dari segi estetika, adanya mesiodens menyebabkan adanya ruang yang tak bergigi akibat terhambatnya erupsi gigi insisivus sentralis rahang atas dan berakibat estetika kurang baik. Estetika yang kurang ini dapat berakibat pada psikologis anak, anak menjadi minder atau malu sehingga dapat menghambat penyesuaian sosial di lingkungan dalam maupun luar. Padahal saat ini anak berusia tujuh tahun, pada usia ini anak lebih banyak berhubungan dengan lingkungan luar seperti sekolah dan bermain. Fungsi berbicara anak juga akan terganggu, seperti yang telah kita ketahui gigi merupakan salah satu alat bantu bicara. Pengucapan beberapa huruf yang melibatkan

gigi dalam pengucapannya akan terganggu seperti pengucapan huruf-huruf dentolabial atau linguodental. Dari fungsi mengunyah juga akan terganggu karena gigi insisivus yang belum erupsi sehingga fungsi gigi insisivus sebagai pemotong makanan yang akan dikunyah tidak berfungsi. Hal ini dapat menyebabkan pemotongan makanan dengan gigi sebelahnya atau dengan gigi mesiodens yang belum erupsi sempurna. Pada kasus lain, jika gigi insisivus sentralis telah erupsi sempurna dan terjadi diastema dapat menyebabkan mudahnya impaksi makanan dan merupakan predisposisi terjadinya karies.

Bishara, S. E. 2001. Textbook of Orthodontics. W. B. Saunders Company. Philadelphia Koch, G. dkk. 1991. Pedodontic. Munksgaard. Copenhagen. Moyers, R. E. 1988. Handbook of Orthodontics 4th ed. Year Book Medical Publisher. Chicago Proffit, W. R., Fields, H. W. 2000. Contemporary Orthodontics 3rd ed. Mosby. Missouri. Russel, K. A., Folwarezna, M. A. 2003. Mesiodens Diagnosis and Management of a Common Supernumerary Tooth. J Can Dent Assoc. 69(6):362-366 Singh, Gurkeerat. 2007. Textbook of Orthodontic. Jaypee. New Delhi. Welbury, R. R. dkk, 2005. Paediatric Dentistry. Oxford. New York.