P. 1
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PENGELOLAAN DATA PASIEN OPERASI KATARAK SEBAGAI BAHAN LAPORAN DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN GARUT

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PENGELOLAAN DATA PASIEN OPERASI KATARAK SEBAGAI BAHAN LAPORAN DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN GARUT

|Views: 259|Likes:
Dipublikasikan oleh digilibsttg

AGUNG SEPTIAN NIM. 0606003

AGUNG SEPTIAN NIM. 0606003

More info:

Categories:Types, Research
Published by: digilibsttg on Nov 25, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

10/14/2014

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PENGELOLAAN DATA PASIEN OPERASI KATARAK SEBAGAI BAHAN LAPORAN DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN GARUT

TUGAS AKHIR

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Kelulusan Pada Program Studi Strata 1 Teknik Informatika

Disusun Oleh: AGUNG SEPTIAN NIM. 0606003

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT 2010

10

11

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pengelolaan data pasien seperti rekam medis merupakan faktor penting bagi sebuah instansi kesehatan untuk memberikan pelayanan yang baik serta menjadi sebuah pendukung dalam pengambilan keputusan bagi pihak manajemen yang terkait. Rekam medis adalah berkas yang berisikan informasi tentang identitas pasien, anamnesa, penentuan fisik laboratorium, diagnosa segala pelayanan dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien dan pengobatan baik yang dirawat nginap, rawat jalan maupun yang mendapatkan pelayanan gawat darurat (UU Praktek Kedokteran Pasal 46 Ayat 1). Rekam medis digunakan sebagai acuan pasien selanjutnya, terutama pada saat pasien itu berobat kembali (Petunjuk Teknis Penyelenggaraan rekam medis, 1991). Rekam medis pasien harus siap apabila pasien berobat kembali. Tenaga kesehatan akan sulit dalam melakukan tindakan atau terapi sebelum mengetahui sejarah penyakit, tindakan atau terapi yang pernah diberikan kepada pasien yang terdapat di dalam berkas rekam medis. Hal penting dalam berkas rekam medis adalah ketersediaannya saat dibutuhkan dan kelengkapan pengisiannya. Kelengkapan pengisian berkas rekam medis oleh tenaga kesehatan akan memudahkan tenaga kesehatan lain dalam memberikan tindakan atau terapi kepada pasien. Selain itu juga sebagai sumber data pada bagian rekam medis dalam pengolahan data yang kemudian akan menjadi informasi yang berguna bagi pihak manajemen dalam menentukan langkah-langkah strategis untuk

pengembangan pelayanan kesehatan. Dinas Kesehatan Kabupaten Garut sebagai salah satu perangkat pemerintah Kabupaten Garut yang memiliki tugas pokok dalam melaksanakan urusan rumah tangga daerah dan tugas pembantuan yang diberikan pemerintah pusat atau pemerintah provinsi Jawa barat di bidang kesehatan. Dalam pelayanannya telah mencanangkan program operasi penyakit mata katarak sejak tahun 2002 dengan pelaksananya yaitu Puskesmas Kecamatan di Kabupaten Garut dengan dana

12

bantuan dari pemerintah daerah. Adapun jumlah pasien operasi katarak yang ditangani Puskesmas di tiap Kecamatan di Kabupaten Garut sebagai berikut: Tabel 1.1 Jumlah Pasien Operasi Katarak di Puskesmas Tahun 2004 - 2009 Tahun No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Puskesmas 2004 Tarogong Leles Limbangan Cibatu/Wanaraja Cilawu Bayongbong Cisurupan Cikajang Singajaya Pameunpeuk Bungbulang/Cisewu Jumlah 75 40 39 29 41 16 39 42 16 35 28 400 2005 36 29 48 38 61 24 50 28 23 35 34 406 2006 27 15 42 22 52 25 20 8 7 16 28 262 2007 37 14 44 18 22 0 16 16 0 34 0 201 2008 34 27 37 17 28 0 17 0 0 31 28 219 2009 39 27 31 14 22 0 25 0 28 40 24 250

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, 2009. Jika dilihat pada tabel 1.1 maka penanganan kondisi seperti ini memerlukan kecepatan dan keakuratan data agar solusi yang diberikan benar-benar tepat dan efektif. Solusi yang tepat dan efektif hanya dapat dihasilkan oleh sistem manajemen yang profesional dan kredibel, terutama manajemen yang berkaitan dengan data yang krusial. Berdasarkan fakta di lapangan, penanganan data pasien operasi katarak yang dikelola di Puskesmas di Tiap Kecamatan Kabupaten Garut masih dilakukan secara manual khususnya data rekam medis yang menjadi acuan dokter sebelum melakukan tindakan medis, Disisi lain banyaknya data pasien yang harus diolah dan tipe data yang berkelanjutan dari riwayat penyakit pasien, membuat pengarsipan data riwayat pasien dengan metode manual sangat tidak efektif.

13

Akibatnya, sebagian besar waktu untuk mencari data pasien dan pengarsipannya kembali menjadi lebih lama. Bentuk rekam medis yang lazim berupa berkas kertas beserta lampiran-lampiran dokumen yang tidak sederhana. Selain bentuknya yang kompleks, rekam medis tersebut tidak baku, dan kalau hilang seluruhnya atau sebagian akan menimbulkan masalah. Persoalan menjadi bertambah apabila tempat yang tersedia untuk pelayanan terbatas, mengakibatkan suasana kerja jadi berantakan karena ruangan dipenuhi rak-rak untuk menyimpan status medis pasien. Dengan kondisi yang kurang baik ini akan mengakibatkan kinerja menjadi tidak optimal dan kurang nyaman. Kondisi ini bila berkelanjutan akan menimbulkan tekanan mental dan pada akhirnya pelayanan menjadi tidak baik. Pengelolaan data secara manual mempunyai banyak kelemahan selain membutuhkan waktu yang lama, keakuratannya juga kurang dapat diterima, karena kemungkinan kesalahan sangat besar. Dengan dukungan teknologi informasi yang ada sekarang ini, pekerjaan pengelolaan data dengan cara manual dapat digantikan dengan suatu sistem informasi dengan menggunakan komputer. Penyimpanan berkas rekam medis yang terkomputerisasi, menjadikan rekam medis tersebut mudah dan cepat diolah untuk memudahkan bagian rekam medis dalam pengolahan data rekam medis menjadi informasi dalam bentuk laporanlaporan maupun statistik perkembangan pelayanan kesehatan maupun statistik penyakit. Selain lebih cepat dan mudah, pengelolaan data juga menjadi lebih akurat. Berdasarkan penjelasan diatas, maka dalam tugas akhir ini penyusun mengambil judul: “PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

PENGELOLAAN DATA PASIEN OPERASI KATARAK SEBAGAI BAHAN LAPORAN DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN GARUT”.

1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi diantaranya:

14

a.

Pencatatan dan pengarsipan data rekam medis pasien operasi katarak masih dilakukan secara manual dan belum menggunakan sistem informasi.

b.

Banyaknya data pasien yang harus diolah dan tipe data yang berkelanjutan dari riwayat penyakit pasien mengakibatkan proses pencarian data rekam medis pasien dan pengarsipan kembali lebih lama.

c.

Terjadinya penumpukan arsip karena bentuk rekam medis berupa berkas kertas beserta lampiran-lampiran dokumen yang tidak sederhana, dan apabila hilang seluruhnya atau sebagian akan menimbulkan masalah.

d.

Sistem pelaporan yang masih bersifat manual menyebabkan data yang disajikan tidak tepat waktu karena proses pencarian data rekam medis yang lama.

1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari sistem ini adalah untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan serta permasalahan-permasalahan yang timbul pada sistem yang sedang berjalan. Sistem yang akan dikembangkan merupakan sebuah sistem informasi

terkomputerisasi yang berfungsi untuk menangani proses pengelolaan data pasien operasi katarak. Adapun sasaran yang dibutuhkan adalah sebagai berikut: a. Memberikan kemudahan kepada petugas dalam mengelola data pasien operasi katarak seperti pengarsipan dan pencarian data serta memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien. b. Menyediakan laporan-laporan yang berkaitan dengan kegiatan yang terjadi khususnya tentang laporan operasi katarak dengan cepat dan akurat.

1.4 Batasan Masalah Agar pembahasan dalam penelitian dapat terarah dan tidak menyimpang dari permasalahan yang ada, maka penulis membatasi laporan ini sebagai berikut: a. Sistem Informasi yang dibuat adalah sistem yang didasarkan pada aktifitas bisnis pengelolaan data pasien operasi katarak di Puskesmas yang di tunjuk oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Garut.

15

b. Tempat penelitian di fokuskan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Garut sebagai instansi yang bertugas mengadakan operasi katarak. c. Sistem hanya mengolah data rekam medis pasien operasi katarak. d. Metode pengembangan perangkat lunak yang digunakan adalah metode Traditional (Waterfall) System Development Methodology yang

dikemukakan oleh Dewitz (1996) dengan dibatasi sampai tahap simulasi sistem saja, tidak sampai pada tahap implementasi dan perawatan sistem. e. Bahasa pemrograman yang digunakan yaitu bahasa basic dengan menggunakan interface Visual Basic 6.0 dan bersifat client server. f. Perangkat lunak yang digunakan untuk database-nya yaitu Microsoft Access 2003.

1.5 Metodologi Penelitian Untuk memperjelas pembahasan laporan tugas akhir ini, maka dilakukan penelitian dengan metode-metode yang diterapkan tahap demi tahap, meliputi : 1.5.1 Metode Pengumpulan Data

1. Untuk mengumpulkan data primer menggunakan teknik : a. Wawancara, yaitu suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung atau lisan dengan berpedoman pada instrumen penelitian dalam bentuk pedoman wawancara untuk mendapatkan jawaban langsung dari bagian-bagian yang terlibat dalam lingkup penelitian ini. b. Observasi, yaitu mengamati secara langsung bagaimana proses

komunikasi data yang selama ini berjalan, sehingga dari sisi itu dapat diketahui informasi apa saja yang akan dianalisis. c. Dokumen, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mempelajari berbagai dokumen yang ada pada sistem yang sedang berjalan. 2. Untuk mengumpulkan data sekunder menggunakan teknik studi kepustakaan, yaitu suatu teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data dengan cara membaca, mempelajari dan menganalisa beberapa buku yang berkaitan dengan masalah yang berhubungan dengan penelitian ini.

16

1.5.2

Metode Pengembangan Sistem Metodologi dan pengembangan sistem terdiri dari sederetan kegiatan yang

dikelompokan menjadi

beberapa

tahapan,

yang membantu kita

dalam

pengembangan sistem. Metodologi pengembangan perangkat lunak yang akan digunakan adalah Waterfall yang dikemukakan oleh Sandra Donalson Dewitz pada tahun 1996, yaitu Traditional (Waterfall) System Development Methodology. Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan yaitu : a. Preliminary Investigation, yaitu tahap persiapan dimana dilakukannya survei, observasi, identifikasi objek dan interview di Dinas Kesehatan Kab. Garut b. System Analysis, yaitu tahap setelah survei dilakukan, maka digabungkan atau diklasifikasikan data hasil survei tersebut dan di analisis dengan menggunakan beberapa pemodelan dan pemrosesan yang akan dirancang untuk sistem baru. c. System Design, yaitu tahap merancang sistem, dimana dilakukan dengan pemilihan data atau peralatan perangkat lunak (Software) dan perangkat keras (Hardware) yang digunakan sebagai pendukung perancangan sistem untuk merinci program, merinci basis data dan membuat rancangan sistem baru. d. System Implementation, yaitu tahap setelah merancang dilanjutkan dengan membuat program dengan pengimpelementasiannya menggunakan bahasa pemrograman yang telah ditentukan.
- General Problem Definition - Objectives Constraints - Feasibility

Preliminary Investigation,

System Analysis

- System Environment - IPOSC requirements - Chosen Solution

System Design
Feedback Loop

- Specifications Of PPDSH component

System Implementation,

Operational System

Gambar 1.1 : Traditional (Waterfall) System Development Methodology (Sandra Donalson Dewitz, 1996) 1.6 Kerangka Pemikiran

17

Kemajuan teknologi informasi, kebutuhan manusia pun ikut berkembang karena manusia dituntut untuk lebih cepat dalam mengerjakan segala sesuatu. Khususnya di suatu organisasi, pengolahan data organisasi harus dikemas dengan rapih dan dikerjakan sesingkat mungkin. Oleh karena itu kini banyak organisasi yang dalam kinerja sistemnya masih manual terutama sistem kerja yang kompleks diubah ke sistem yang terkomputerisasi. Dalam perancangan sistem informasi pengelolaan data pasien operasi katarak ini, maka terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap sistem yang sedang berjalan. Dimana dari hasil analisis ini nantinya akan menentukan perancangan sistem yang akan dibuat. Berikut ini adalah gambaran kerangka pemikiran Pengembangan Sistem Informasi Pengelolaan Data Pasien Operasi Katarak.

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PENGELOLAAN DATA PASIEN OPERASI KATARAK

· · · Visi, Misi dan Strategi

SISTEM YANG BERJALAN Sistem yang berjalan masih bersifat manual karena belum menggunakan sistem informasi Proses pencarian data pasien lambat Adanya penumpukan arsip PENGEMBANGAN SISTEM YANG BARU Sistem terkomputerisasi Proses pencarian data pasien cepat Pengarsipan tersusun rapi dan teratur Keamanan dan akurasi data yang lebih baik

· · · ·

Tantangan dan Peluang

Data, Fakta dan Studi Literatur

SISTEM YANG AKAN DATANG BERBASIS KOMPUTER

Gambar 1.2 Kerangka Pemikiran

1.7 Sistematika Penulisan

18

Untuk menghasilkan laporan tugas akhir yang sistematis dan mudah dipahami. Berikut dijelaskan mengenai sistematika yang dipakai dalam penyusunan tugas akhir ini :

BAB I

PENDAHULUAN Menjelaskan dan menguraikan mengenai fakta-fakta yang

diperoleh dari hasil penelitian, serta menentukan sasaran yang ingin dicapai dari hasil penelitian, yang disajikan dalam bentuk latar belakang, identifikasi masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, kerangka pikiran, metodologi penelitian yang digunakan, serta sistematika penulisan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA Bab ini menjelaskan teori-teori yang relevan dan digunakan sebagai dasar acuan pembahasan yang berhubungan dengan masalah penelitian.

BAB III

ANALISIS SISTEM Bab ini menjelaskan tentang kondisi objektif Dinas Kesehatan Kab. Garut, deskripsi sistem yang berjalan, permasalahan yang timbul dari sistem yang sedang berjalan dan pemodelan kebutuhan sistem, yang disajikan dengan Bagan Alir (Flow Map) dan DFD (Data Flow Diagram).

BAB IV

DESAIN SISTEM Bab ini akan menjelaskan tahap-tahap pengembangan Sistem Informasi Pengelolaan Data Pasien Operasi Katarak, meliputi penggambaran Kamus Data, Penggambaran Entity Relationship Diagram dan perancangan Basis Data.

BAB V

IMPLEMENTASI SISTEM

19

Implementasi sistem merupakan proses transformasi dari model yang ada pada analisis dan desain sistem yang telah dilakukan kedalam suatu program aplikasi dengan menggunakan bahasa pemrograman tertentu.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN Pada bagian ini menjelaskan hasil akhir dari pembahasan yang dijabarkan dalam laporan tugas akhir berikut saran yang diharapkan dapat membantu kearah konstruktif untuk kemajuan penelitian yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

20

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Sistem Informasi Pengembangan sistem dapat berarti menyusun suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada. Maka dari itu, Dalam proses pengembangan sistem informasi diperlukan pemahaman terhadap konsep-konsep dasar dari sistem informasi. Berikut merupakan penjelasan dari konsep-konsep dasar sistem informasi. 2.1.1 Pengertian Sistem Definisi sistem secara etimologi adalah sebagai berikut: “Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi” (www.wikipedia.org, 2008d). Definisi sistem menurut Dewitz : “A system is a set of related components that work together in a particular environment to perform whatever functions are required to achieve the system’s objective.” (Dewitz,1996) Definisi sistem menurut Dewitz adalah satu kumpulan dari relasi komponen-komponen yang bekerjasama dalam satu lingkungan tertentu untuk melakukan apapun yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan sistem. Definisi sistem menurut Kendall & Kendall : “Sistem adalah serangkaian subsistem yang saling terkait dan tergantung satu sama lain, bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan dan sasaran yang sudah ditetapkan sebelumnya“ (Kendall & Kendall, 2006). Menurut Amsyah (2005), suatu sistem dapat terdiri dari empat elemen subsistem, yang secara bersama-sama membentuk satu kesatuan yang disebut sistem. Elemen-elemen tersebut yaitu: 1. Masukan Kumpulan data transaksi ke sebuah pengolahan data medium, contohnya penyortiran data (surat keluar dan surat masuk). 2. Pengolahan untuk mengelola surat keluar dan surat masuk pengolahannya dilakukan dengan cara manual, seperti mengelompokkan data (surat keluar

21

dan surat masuk) ke dalam group berdasarkan ciri surat, no urut surat dan sebagainya. 3. Keluaran menampilkan hasil yang didapat dari kegiatan sebelumnya berupa informasi yang dibutuhkan seperti menampilkan laporan (surat keluar dan surat masuk). 4. Umpan Balik/Kontrol terdiri dari usul perbaikan yang diberikan oleh unit pengawasan mutu dari instansi yang bersangkutan.
Masukan Pengolahan Keluaran

Umpan Balik

Gambar 2.1 Elemen-elemen Sistem, (Amsyah, 2005).

2.1.2 Pengertian Informasi Informasi dalam sebuah organisasi sangat penting peranannya. Suatu sistem yang kurang mendapatkan informasi akan menjadi lemah dan akhirnya berakhir. Informasi itu sendiri dapat didefinisikan sebagai berikut: “Data yang sudah diolah, dibentuk, atau dimanipulasi sesuai dengan keperluan tertentu”, (Amsyah, 2005).

Sedangkan menurut Davis, definisi informasi adalah sebagai berikut : “Informasi merupakan data yang telah diproses kedalam suatu bentuk yang memberikan arti kepada yang menerimanya dan mengandung nilai yang benar-benar tampak bagi pengambilan keputusan pada masa kini maupun masa yang akan datang” (Davis, 1995). Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa informasi adalah data yang setelah diolah atau diproses, menghasilkan informasi yang memiliki nilai dan lebih bermanfaat bagi penggunanya.

22

1.

2.

3.

4.

Berdasarkan pada bentuknya, informasi dapat dibedakan menjadi (Amsyah, 2005): Informasi Uraian Informasi Uraian adalah informasi yang disajikan dalam bentuk uraian cerita yang panjang atau singkat yang berisikan kalimat-kalimat yang singkat dan jelas. Informasi ini bisa dalam bentuk laporan, notulen, surat atau memo. Informasi rekapitulasi Informasi rekapitulasi adalah informasi ringkas dengan hasil akhir dari suatu perhitungan (kalkulasi) atau gabungan perhitungan yang berisikan angka-angka yang disajikan dalam bentuk kolom-kolom. Contohnya neraca, kuitansi, rekening, daftar pembelian. Informasi Gambar (Bagan) Informasi Gambar (Bagan) adalah informasi yang di buat dalam bentuk gambar atau bagan, misalnya gambar konstruksi dan bagan organisasi. Informasi Model Informasi Model adalah informasi dalam bentuk formulir dengan model-model yang dapat memberikan nilai ramalan atau prediksi dan nilai-nilai lain seperti nilai hasil pemecahan persoalan yang optimal sebagai alternatif bagi pembuatan keputusan.

5. Informasi Statistik Informasi statistik adalah informasi yang disajikan dalam bentuk angka yang ditunjukkan dalam bentuk grafik atau tabel. 6. Informasi Formulir Informasi formulir adalah informasi yang di buat dalam bentuk formulir dengan format (kolom) isian yang sudah ditentukan dan yang disesuaikan dengan keperluan kegiatan masing-masing. 7. Informasi Animasi Informasi animasi adalah informasi dalam bentuk gambar animasi dengan suara dan video. Informasi ini dapat juga disebut informasi multimedia. 8. Informasi Simulasi Informasi simulasi adalah informasi mengenai suatu kegiatan nyata pada suatu situasi atau peralatan yang di buat dalam bentuk serupa tetapi dengan ukuran kecil atau dengan layar komputer menjadi mirip seperti ukuran sebenarnya. Misalnya simulasi untuk pendidikan pilot pesawat terbang dengan perangkat lunak khusus. 2.1.3 Pengertian Sistem Informasi Dari beberapa definisi mengenai sistem dan informasi yang telah dijelaskan di atas, maka Sistem Informasi dapat didefinisikan sebagai berikut : Definisi Sistem Informasi Menurut Dewitz:

23

Information system: a system that accepts data from its environment (Input) and manipulate the data (processing) to produce information (output). (Dewitz,1996). Definisi sistem informasi menurut Dewitz adalah Sistem yang menerima data dari lingkungannya (input) dan memanipulasi data tersebut (memproses) sehingga menghasilkan informasi (output)

Sedangkan menurut sumber yang lainnya adalah : “Sistem informasi adalah aplikasi komputer untuk mendukung operasi dari suatu organisasi: operasi, instalasi, dan perawatan komputer, perangkat lunak, dan data” (http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_informasi, 2010). Sistem informasi merupakan suatu sistem yang saling barkaitan dan berintegrasi satu sama lain dan bertujuan untuk menyediakan informasi untuk mendukung operasi, manajemen dan fungsi pengambilan keputusan dalam suatu organisasi. Komponen-komponen yang terdapat dalam sistem informasi diantaranya adalah : 1. Manusia, seperti operator, pemimpin sistem informasi dan sebagainya. 2. 3. Hardware (Perangkat Keras), terdiri dari komputer, periferal dan jaringan. Software (Perangkat Lunak), merupakan kumpulan perintah/fungsi yang ditulis dengan aturan tertentu untuk memerintahkan komputer melaksanakan tugas tertentu. 4. Data, merupakan komponen dasar dari informasi yang akan diproses lebih lanjut untuk menghasilkan informasi. 5. Prosedur, seperti dokumentasi prosedur/proses sistem, buku penuntun operasional (aplikasi) dan teknis. Kegiatan pada Sistem Informasi mencakup: 1. Input, menggambarkan suatu kegiatan untuk menyediakan data untuk diproses. 2. Proses, menggambarkan bagaimana suatu data di proses untuk menghasilkan suatu informasi yang bernilai tambah.

24

3.

Output, suatu kegiatan untuk menghasilkan laporan dari proses diatas tersebut.

4. 5.

Penyimpanan, suatu kegiatan untuk memelihara dan menyimpan data. Kontrol, ialah suatu aktivitas untuk menjamin bahwa sistem informasi tersebut berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

2.2 Konsep Dasar Manajemen Sistem Informasi Manajemen Sistem Informasi (MSI) berasal dari kata Management of Information System yang lazim disingkat MIS. MSI adalah mata kuliah yang mempelajari cara – cara mengelola pekerjaan informasi dengan menggunakan pendekatan sistem yang berdasarkan pada prinsip – prinsip manajemen. 2.2.1 Pengertian Manajemen Secara operasional manajemen dapat didefinisikan sebagai berikut: “Proses mengkoordinasikan, mengintegrasikan, menyederhanakan, dan mensinkronisasikan sumber daya manusia, material, dan metode dengan mengaplikasikan fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, penggiatan, pengawasan, dan lain-lain agar tujuan organisasi dapat tercapai secara efisien dan efektif”, (Amsyah, 2005). 2.2.2 Fungsi-fungsi Manajemen Untuk mencapai tujuannya, organisasi memerlukan dukungan manajemen dengan berbagai fungsinya yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi masing-masing. Kegiatan fungsi-fungsi tersebut memerlukan data dan informasi, dan akan menghasilkan data dan informasi pula. Beberapa fungsi manajemen pokok adalah (Amsyah, 2005): a. Perencanaan Berkaitan dengan penyusunan dan penjabaran tujuan serta menjabarkannya dalam bentuk perencanaan untuk mencapai tujuan. b. Pengorganisasian Berkaitan dengan pengelompokan personel serta tugasnya untuk menjalankan pekerjaan sesuai tugas dan misinya. c. Pengaturan personel Berkaitan dengan kegiatan bimbingan dan pengaturan kerja personel. d. Pengarahan Berkaitan dengan kegiatan melakukan intruksi tugas-tugas. e. Pengawasan Berkaitan dengan pemeriksaan untuk menentukan sampai sejauh mana kemajuan yang dicapai dan melakukan koreksi-koreksi.

25

16

2.2.3 Pengertian Manajemen Sistem Informasi Manajemen Sistem Informasi (MSI) merupakan penerapan sistem informasi di dalam organisasi untuk mendukung informasi yang dibutuhkan oleh semua tingkatan manajemen. Adapun definisi dari Manajemen Sistem Informasi menurut Amsyah adalah sebagai berikut: “Mata kuliah yang mempelajari cara-cara mengelola pekerjaan informasi dengan menggunakan pendekatan sistem yang berdasarkan pada prinsipprinsip manajemen”. (Amsyah, 2005). Semua sistem informasi dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada semua tingkatan manajemen, yaitu manajemen tingkat bawah (lower level management), managemen tingkat menengah (middle level management) dan manajemen tingkat atas (top level management). Top level management dengan executive management dapat terdiri dari direktur utama (president), direktur (vice-president) dan eksekutif lainnya di fungsi-fungsi pemasaran, pembelian, teknik, produksi, keuangan dan akuntansi. Sedang middle level management dapat terdiri dari manajer-manajer divisi dan manajer-manajer cabang. Lower level management disebut degan operating management dapat meliputi mandor dan pengawas. Top level management disebut juga dengan strategic level, middle level management dengan tactical level dan lower management dengan tehcnical level.

Gambar 2.2 Informasi dan MSI untuk Semua Tingkat Manajemen, (Amsyah, 2005).

17

2.2.4 Ruang Lingkup Pekerjaan Manajemen Sistem Informasi Pekerjaan MSI berkembang melalui empat proses sesuai dengan perkembangan alat pengolah data yaitu zaman MSI (Amsyah, 2005): 1. Dikerjakan secara manual 2. Dikerjakan dengan alat mesin manual 3. Dikerjakan dengan alat mesin elektrik 4. Dikerjakan dengan elektrik (komputer) Keseluruhan ruang lingkup pekerjaan MSI disederhanakan dalam bentuk diagram berikut ini:

FAKTA:
- Kejadian/Peristiwa - Kegiatan Organisasi - Transaksi - Dll

direkam DATA INTERNAL EKSTERNAL
Hasil Penelitian Data Lingkungan Bahan Peraturan Rekaman Kegiatan

18

PROSES/TRANSFORMASI/MANIPULASI
Bentuk Pengolahan: Klasifikasi Sortir Kalkulasi Penyimpulan Alat Pengolah: Manual Mesin Manual Mesin Elektronik Komputer

INFORMASI
Laporan Model Deskriptif Bentuk Statistik

dianalisis KEPUTUSAN
Teknis Statis Strategis

PROGRAM (KEGIATAN)
Perencanaan Pelaksanaan Evaluasi

TUJUAN ORGANISASI Gambar 2.3 Visi dan Misi Pekerjaan MSI, (Amsyah, 2005). Pekerjaan MSI dimulai dari pengumpulan data yang dibuat atau terjadi karena adanya fakta. Fakta tersebut dicatat atau direkam pada komputer sehingga menghasilkan fakta yang disebut data. Data atau fakta tertulis otentik (asli) harus disimpan sebagai arsip (otentik) untuk keperluan pembuktianpembuktian dan “back-up” baik sebagai bukti administratif ataupun sebagai bukti hukum tertulis bila terjadi kesalahan pada komputerisasi data bersangkutan untuk pengolahan menjadi informasi dalam pekerjaan sistem informasi. Pengolahan data menjadi informasi disebut juga sebagai proses transformasi, atau manipulasi data menjadi informasi. Bentuk pengolahannya dapat terdiri dari klasifikasi, sortir, kalkulasi, dan penyimpulan. Alat pengolahnya dapat dikelompokkan menjadi alat pengolah manual, mesin manual, mesin elektrik, dan komputer. Hasil pengolahan data adalah informasi yang berbentuk laporan, model deskriptif, dan bentuk statistik. Informasi kemudian dianalisis sebagai bahan pengambilan keputusan. Keputusan pada manajemen lini bawah umumya bersifat teknis, pada

19

manajemen lini tengah umumnya bersifat taktis, dan pada manajemen lini atas umumnya bersifat strategis. Keputusan kemudian dioperasionalkan ke dalam bentuk kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi atau penilaian. Pada setiap kegiatan tersebut dilakukan juga kegiatan pengawasan. Kegiatan tersebut secara keseluruhan untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien dan efektif, terutama dalam menghadapi era globalisasi yang penuh dengan persaingan, di mana setiap kegiatan memerlukan dukungan data dan informasi.

2.3

Konsep Dasar Data Menurut Amsyah, Data didefinisikan sebagai berikut: “Fakta yang sudah ditulis dalam bentuk catatan atau direkam ke dalam berbagai bentuk media”, (Amsyah, 2005).

Dalam konteks sistem informasi data di pandang sebagai keterangan yang masih mentah. Agar dapat digunakan untuk keperluan manajemen maka data harus diolah dulu ke dalam bentuk informasi yang sesuai dengan keperluan manajemen yang bersangkutan. Karena itu, sering dikatakan bahwa data adalah bahan yang masih mentah. Sedang arti data menurut isinya adalah keterangan atau bukti mengenai kenyataan yang masih mentah, masih berdiri sendirisendiri, belum diorganisasikan, dan belum diolah. Data yang sudah diolah sesuai keperluan disebut informasi. Semua kegiatan memang memerlukan data, serta sebaliknya setiap pekerjaan juga akan menghasilkan data baik untuk keperluan unit kerjanya sendiri maupun untuk keperluan unit kerja lain, ataupun organisasi lain. 2.3.1 Jenis Data Dikatakan bahwa data adalah fakta-fakta kegiatan organisasi dengan unitunitnya. Untuk keperluan penulisan data di kertas atau kartu dan pemasukan data ke komputer, maka menurut Amsyah (2005) data dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1. Data statis Data statis adalah jenis data yang umumnya tidak berubah atau jarang berubah, misalnya identitas nama (orang, organisasi, atau tempat), kode-kode nomor ataupun alamat. 2. Data dinamis

20

Data dinamis adalah jenis data yang selalu berubah baik dalam frekuensi waktu yang singkat atau agak lama dan lain-lain. Data tersebut sering dikatakan sebagai peremajaan data. Data tersebut misalnya, data tabungan, data gaji, data nilai mahasiswa, dan sebagainya. Berdasarkan sifatnya, data menurut Amsyah (2005) dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu: 1. Data kuantitatif Data kuantitatif adalah data dengan hitungan bilangan. Misalnya 5 ekor, Rp.1000, satu juta, dan sebagainya. 2. Data kualitatif Data kualitatif adalah data yang tidak dihitung dengan hitungan bilangan, tetapi diukur dngan kata-kata bernilai. Misalnya banyak, sedikit, kecil, rendah, dan sebagainya. 2.3.2 Sumber Data Berdasarkan sumbernya, data menurut Amsyah (2005) dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1. Data internal Data internal adalah data yang berasal dari dalam organisasi itu sendiri, yaitu oraganisasi pusat dan cabang-cabangnya. 2. Data eksternal Data eksternal adalah data yang berasal dari sumber-sumber yang berada di luar organisasi itu sendiri. Berdasarkan isinya maka baik data internal maupun data eksternal dapat dibagi menjadi empat kelompok, (Amsyah, 2005) : DATA INTERNAL EKSTERNAL

Data Kegiatan

Data Penelitian

Data Lingkungan

Data Peraturan

Gambar 2.4 Pengelompokkan Data, (Amsyah, 2005).

1. Data kegiatan Setiap organisasi mempunyai kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan baik oleh perorangan maupun unit-unit kerja yang terdapat dalam organisasi

21

bersangkutan. Kegiatan-kegiatan itu perlu direkam, untuk dipergunakan sebagai bahan pengingat, bukti, pengambil keputusan, laporan, informasi, penelitian, perencanaan, penilaian, pengawasan, dan lain-lain. 2. Data Hasil penelitian Hasil penelitian merupakan data yang penting bagi organisasi. Hasil penelitian cenderung disebut data, karena untuk dapat digunakan lebih lanjut oleh unit-unit (fungsi) organisasi secara spesifik masih harus diubah terlebih dahulu bentuknya sesuai dengan keperluan. 3. Data lingkungan Data penting untuk keperluan pekerjaan manajer dalam membuat keputusan dan mengerjakan fungsi-fungsi manajemen lainnya seperti perencanaan, penganggaran, pengawasan, evaluasi atau lain-lainnya, adalah data lingkungan. Pengertian data lingkungan ini sangat luas, yaitu mengenai semua bidang yang berkaitan dengan kegiatan organisasi dan yang dapat mempengaruhi kegiatan organisasi. Data tersebut banyak terdapat pada media cetak seperti buku, buku referensi, majalah, koran, dan lain-lain. 4. Data peraturan Data penting lainnya yang sangat berguna sebagai alat bantu dalam pekerjaan manajemen dan pekerjaan operasional adalah bahan-bahan peraturan.

2.4

Analisis dan Desain Sistem Tahap analisis sistem dilakukan setelah tahap perencanaan sistem dan

sebelum tahap desain sistem. Tahap analisis merupakan tahap yang kritis dan sangat penting, karena kesalahan di dalam tahap ini akan menyebabkan juga kesalahan di tahap selanjutnya.

2.4.1 Analisis Sistem Analisis sistem dapat didefinisikan sebagai berikut : “Analisis Sistem adalah penguraian dari suatu sistem informasi yang utuh ke dalam bagian–bagian komponennya dengan maksud untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi permasalahan–permasalahan, kesemptan–kesempatan,

22

hambatan–hambatan yang terjadi dan kebutuhan–kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan – perbaikannya”, (Jogiyanto, 2005). Pada dasarnya, Analisis Sistem merupakan proses untuk memahami sistem yang ada, kemudian mengidentifikasi masalah dan mencari solusinya. Analisis sistem memiliki tujuan untuk mengetahui sistem secara detail sebagai pedoman untuk melanjutkan proses pengembangannya. Alasan yang melatar belakangi dilakukannya analisis sistem : 1. Dikarenakan sistem yang lama sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan, sehingga diperlukan pengembangan sistem yang baru. Hal ini

memerlukan analisis sistem agar sistem yang baru dapat berfungsi sesuai dengan kebutuhan. 2. Adanya kebutuhan baru dalam lingkungan atau organisasi di tempat sistem berjalan yang memerlukan modifikasi untuk mendukung organisasi. 3. Meningkatkan kemampuan atau performansi sistem.

Adapun kegiatan–kegiatan yang dilakukan dalam analisis sistem adalah sebagai berikut : 1. Manganalisis klasifikasi data, proses dan fungsi kebutuhan informasi seluruh bagian organisasi yang merupakan kebutuhan informasi untuk masa yang akan datang. 2. Menganalisis dokumen–dokumen yang bisa dijadikan pedoman bagi tahap pengembangan berikutnya. 3. melakukan evaluasi terhadap sistem yang sedang berjalan. 2.4.2 Desain Sistem Desain sistem memiliki beberapa definisi, diantaranya: Menurut Robert J. Verjello / John Reuter III pada Jogiyanto (2005) “Tahap setelah analisis dari siklus pengembangan sistem : pendefinisian dari kebutuhan–kebutuhan fungsional dan persiapan untuk rancang bangun implementasi, menggambarkan bagaimana suatu sistem dibentuk”, (Jogiyanto, 2005). Menurut John Burch & Grund Grundnitski pada Jogiyanto (2005)

23

“Desain sistem dapat didefinisikan sebagai penggambaran, perencanaan dan pembuatan sketsa atau pengaturan dari beberapa elemen yang terpisah ke dalam suatu kesatuan yang utuh dan berfungsi”, (Jogiyanto ,2005). Menurut M. Scott pada Jogiyanto (2005) “Desain sistem menentukan bagaimana suatu sistem akan menyelesaikan apa yang mesti diselesaikan; tahap ini menyangkut konfigurasi dari komponen– komponen perangkat lunak dan perangkat keras dari suatu sistem sehingga setelah instalasi dari sistem akan benar – benar memuaskan rancang bangun yang telah ditetapkan pada akhir tahap analisis sistem” (Jogiyanto, 2005). Desain sistem memiliki dua maksud dan tujuan utama, yaitu : 1. Untuk memenuhi kebutuhan kepada pemakai sistem 2. Untuk memberikan gambaran yang jelas dan rancangan yang lengkap kepada pemrogram komputer dan ahli–ahli teknik lainnya yang terlibat. Agar tujuan tersebut dapat dicapai, maka seorang analis sistem harus mencapai sasaran–sasaran sebagai berikut : 1. Desain sistem harus berguna, mudah dipahami dan nantinya mudah digunakan. 2. Desain sistem harus dapat mendukung tujuan utama perusahaan sesuai dengan yang telah didefinisikan pada tahap perencanaan sistem yang dilanjutkan pada tahap analisis sistem. 3. Desain sistem harus efisien dan efektif untuk dapat mendukung pengolahan transaksi. 4. Desain sistem harus dapat mempersiapkan rancang bangun yang terinci untuk masing – masing komponen dari sistem informasi. 2.4.2.1 Desain Input Input memulai arus data melalui sebuah sistem, seperti komponen perancangan sistem lainnya, rancangan input harus direncanakan dan dilaksanakan dengan hati–hati untuk mengkonversikan data mentah (input) ke dalam informasi yang dapat digunakan (output). Kegiatan yang dilakukan pada desain input:

24

· Menentukan

kebutuhan–kebutuhan

input

dari

sistem

informasi,

menentukan media pemasukan dan pengaturan format data ketika dimasukan dalam media tersebut · Mendefinisikan data yang akan dicatat, atau direkam. · Merancang antar muka dalam proses pemasukan data. 2.4.2.2 Desain Output Tujuan dari desain output adalah untuk mengubah tumpukan data menjadi informasi yang berkualitas dan dapat dipergunakan. Sasaran sesungguhnya bukan untuk menghasilkan data, bahkan juga bukan informasi. Sasaran akhirnya adalah pengambilan keputusan yang tepat. Kegiatan dari desain output : · Menentukan kebutuhan output dari sistem informasi. · Menentukan parameter dari output, yang meliputi :

26

  

Bentuk output Format output Media yang digunakan

2.5 Metodologi Pengembangan Sistem Metodologi dalam pengembangan sistem terdiri dari sederetan kegiatan yang dapat dikelompokan menjadi beberapa tahapan, yang membantu kita dalam pengembangan sistem. Metodologi pengembangan perangkat lunak yang akan digunakan adalah waterfall. Metodologi pengembangan sistem dengan metode waterfall dilakukan bertahap dari tahap awal ke tahap berikutnya. Untuk validasi dan verifikasi pola aliran dapat dibalik, dari suatu tahap ke tahap yang lebih awal. Pada penelitian kali ini penulis mengacu pada metodologi waterfall yang dikemukakan oleh Dewitz. pada tahun 1996 yaitu Traditional (Waterfall) System Development Methodology. Adapun tahap-tahap yang dilakukan ditunjukan pada gambar 2.5 Berikut ini :
Preliminary Investigation,
- General Problem Definition - Objectives Constraints - Feasibility

System Analysis

- System Environment - IPOSC requirements - Chosen Solution

System Design
Feedback Loop

- Specifications Of PPDSH component

System Implementation,

Operational System

Gambar 2.5 : Traditional (Waterfall) System Development Methodology (Dewitz, 1996) Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : a. Pemeriksaan Pendahuluan (Preliminary Investigation) 1. Mengidentifikasi hasil sasaran, batasan, dan ruang lingkup 2. Perkiraan anggaran dan manfaatnya 3. Dokumen hasil sasaran, batasan, dan lingkup 4. Mendapatkan persetujuan untuk mulai menganalisis sistem

27

b. Analisis Sistem (Systems Analysis) 1. Meneliti kebutuhan dan konteks organisatoris 2. Meneliti kebutuhan dan konteks area fungsional 3. Meneliti sistem yang ada yaitu: a. Analisa Fisik (PPDSH) b. Analisa Logis (IPOSC) 4. Menentukan Fungsional dari sistem baru a. Kebutuhan-kebutuhan IPOSC b. Karakteristik Pemakai c. Menghubungkan dengan Sistem lain 5. Kebutuhan-kebutuhan dokumen dan mendapatkan persetujuan pemakai untuk mulai desain system c. Perancangan Sistem (Design System) I. Desain Secara Umum : 1. Spesifikasi Rancangan Logis (IPOSC) 2. Pemilihan Solusi 3. Memilih solusi atau proyek (Merancang) II. Desain Secara Terperinci : 1. Mespesifikasikan perancangan fisik (PPDSH): a. Perancangan User Interface b. Perancangan basis data c. Perancangan atau memperoleh perangkat lunak d. Merundingkan kontrak perangkat keras e. Perancangan pelatihan 2. Spesifikasi dokumen dan persetujuan pemakai d. Implementasi Sistem (Systems Implementation) 1. Membangun komponen (PPDSH): a. Menulis Sistem manual b. Pelatihan User c. Membangun Basis Data d. Kode Perangkat Lunak 2. Menyiapkan fasiltitas untuk perangkat keras

28

3. Melakukan pengujian unit 4. Melakukan pengujian sistem 5. Menginstal komponen 6. 7. 2.6 Melakukan test tinjauan ulang / penerimaan pemakai Melakukan tinjauan ulang implementasi

Alat Bantu / Tools Analisis dan Desain Sistem

Pada bagian ini, akan membahas mengenai alat bantu yang digunakan untuk melakukan analisis dan desain. Adapun tools tersebut adalah sebagai berikut : 2.6.1 Diagram Arus Data (Data Flow Diagram) Diagram Aliran Data (DAD) dapat didefinisikan sebagai berikut : “Data Flow Diagram (DFD) atau diagram alir data adalah suatu model logika data atau proses yang dibuat untuk menggambarkan darimana asal data dan kemana tujuan data yang keluar daru sistem, dimana data disimpan, proses apa yang menghasilkan data tersebut dan interaksi antara data yang tersimpan dan proses yang dikenakan pada data tersebut.” (Kristanto, 2008). DFD adalah suatu model logika data atau proses yang dibuat untuk menggambarkan dari mana asal data dan kemana tujuan data yang keluar dari sistem, dimana data disimpan, proses apa yang menghasilkan data tersebut dan interaksi antara data yang tersimpan dan proses yang dikenakan pada data tersebut. DFD sering digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah ada atau sistem baru yang akan dikembangkan secara logika tanpa mempertimbangkan lingkungan fisik dimana data tersebut mengalir atau dimana data tersebut akan disimpan. DFD merupakan alat yang digunakan pada metodologi pengembangan sistem yang terstruktur. Kelebihan utama pendekatan aliran data adalah sebagai berikut (Kristanto, 2008) : 1. Kebebasan dari menjalankan implementasi teknis sistem. 2. Pemahaman lebih jauh mengenai keterkaitan satu sama lain dalam sistem dan subsistem. 3. Mengkomunikasikan pengetahuan sistem yang ada dengan pengguna melalui diagram aliran data.

29

4. Menganalisis sistem yang diajukan untuk menentukan apakah datadata dan proses yang diperlukan sudah ditetapkan. Selain beberapa kelebihan dari DFD di atas, juga terdapat kelemahannya (Kristanto, 2008), sebagai berikut : 1. DFD tidak menunjukkan proses pengulangan. 2. DFD tidak memperlihatkan aliran kontrol. Adapun simbol- simbol yang sering digunakan dalam Data Flow Diagram (DFD) dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 2.1 Simbol - Simbol Pada DFD (Data Flow Diagram)

Sumber: Kristanto, 2008. Untuk memulai suatu diagram aliran data, diperlukan suatu rangkuman narasi sistem organisasi yang telah dibuat dalam bentuk sebuah daftar dengan empat kategori yang terdiri dari entitas eksternal, aliran data, proses, dan penyimpanan data. Daftar ini digunakan untuk membantu menentukan batasbatas sistem yang akan digambarkan. Tingkatan – tingkatan yang terdapat pada DFD, (Kristanto, 2008): 1. Diagram Konteks Diagram konteks adalah tingkatan tertinggi dalam diagram aliran data dan hanya memuat satu proses, menunjukkan sistem secara keseluruhan. Proses tersebut diberi nomor nol. Semua entitas eksternal yang ditunjukkan pada diagram konteks berikut aliran data–aliran data utama menuju dan dari

30

sistem. Diagram tersebut tidak memuat penyimpanan data dan tampak sederhana untuk diciptakan, begitu entitas- entitas eksternal serta aliran data– aliran data menuju dan dari sistem diketahui penganalisis dari wawancara dengan pengguna dan sebagai hasil analisis dokumen. 2. Diagram Zero (Diagram 0) Diagram 0 adalah pengembangan diagram konteks dan bisa mencakup sampai sembilan proses. Memasukkan lebih banyak proses pada level ini akan terjadi suatu diagram yang sulit dipahami. Setiap proses diberi nomor bilangan bulat, umumnya dimulai dari sudut sebelah kiri atas diagram dan mengarah ke sudut sebelah kanan bawah. Penyimpanan data – penyimpanan data utama dari sistem dan semua entitas eksternal dimasukkan kedalam diagram 0. 3. Diagram Level n Diagram level n adalah hasil dekomposisi dari diagram zero. Diagram level n menjelaskan proses secara lebih terperinci. Diagram level 1 merupakan turunan langsung dari diagram zero, artinya diagram level 1 berada satu tingkat lebih rendah dari diagram zero. Apabila diagram level 1 ini diuraikan lagi, maka akan terbentuk diagram level 2, dan seterusnya. Dalam pembuatan DFD (Data Flow Diagram), beberapa hal penting lainnya adalah sebagai berikut, (Kristanto, 2008) : 1. Komponen Proses Komponen proses memperlihatkan atau menggambarkan transformasi input menjadi output. Ada 4 (empat) kemungkinan yang dapat terjadi dalam proses sehubungan dengan input dan output seperti terlihat pada gambar di bawah ini :

31

Gambar 2.6 Kemungkinan Pada Proses DFD, (Kristanto, 2008). Hal-hal yang perlu diperhatikan tentang proses : a. Proses harus memiliki input dan output. b. Proses dapat dihubungkan dengan komponen terminator, data store atau proses melalui alur data. Kesalahan-kesalahan proses pada DFD adalah : a. Proses mempunyai input tetapi tidak menghasilkan output. b. Proses menghasilkan output tetapi tidak pernah menerima input. 2. Komponen Penyimpanan Data (Data Store) Komponen ini digunakan untuk membuat model sekumpulan paket data dan diberi nama dengan kata benda bersifat jamak. Yang perlu diperhatikan tentang data store adalah : a. Alur data dari proses menuju data store, hal ini berarti data store berfungsi sebagai tujuan/ tempat penyimpanan dari suatu proses (proses write). b. Alur data dari data store ke proses, hal ini berarti data store berfungsi sebagai sumber atau proses yang memerlukan data (proses read). c. Alur data dari proses menuju data store dan sebaliknya berarti berfungsi sebagai sumber dan tujuan (proses update).

Gambar 2.7 Kemungkinan Penyimpanan Data, (Kristanto, 2008). 3. Komponen Alur Data (Data Flow) Alur data digunakan untuk menerangkan perpindahan data atau paket data dari satu bagian ke bagian lainnya. Alur data dapat berupa kata, pesan, formulir ataupun informasi. Ada 4 (empat) konsep tentang alur data yang diantaranya :

32

a. Packets of Data; apabila ada 2 data/ lebih yang mengalir dari 1 sumber yang sama menuju pada tujuan yang sama dan mempunyai hubungan digambarkan dgn 1 alur data. b. Diverging Data Flow; apabila ada sejumlah paket data yang berasal dari sumber yang sama menuju pada tujuan yang berbeda atau paket data yang kompleks dibagi menjadi beberapa elemen data yang dikirim ke tujuan yang berbeda. c. Converging Data Flow; apabila ada beberapa alur data yang berbeda sumber menuju ke tujuan yang sama. d. Sumber dan Tujuan; arus data harus dihubungkan pada proses, baik dari maupun yang menuju proses. 2.6.2 Bagan Alir Sistem Bagan alir sistem merupakan bagan yang menunjukan arus pekerjaan secara keseluruhan dari sistem. Bagan ini menjelaskan urutan-urutan dari prosedur-prosedur yang ada di dalam sistem. Bagan alir sistem menunjukan apa yang dikerjakan ndi sistem bagan alir sistem di gambar dengan menggunakan simbol yang tampak sebagai berikut : Tabel 2.2 Simbol Bagan Alir Sistem / Flowmap Simbol Keterangan Menunjukan dokumen input dan output baik untuk proses manual, mekanik atau komputer Menunjukan pekerjaan manual Menunjukan kegiatan proses dari operasi program komputer Menunjukan input / output menggunakan hard disk

Menunjukan input / output menggunakan pita kertas berlubang

33

Pengarsipan Data Sumber: Kristanto, 2008.

2.6.3 Kamus Data (Data Dictionary) Kamus data atau data dictionary adalah katalog data dan kebutuhankebutuhan informasi dari sistem informasi. Dengan menggunakan kamus data, system analyst dapat mendefinisikan data yang mengalir dalam sistem dengan lengkap. Kamus data dibuat pada tahap analisis sistem dan digunakan baik pada tahap analisis maupun pada tahap perancangan sistem. Pada tahap analisis, kamus data dapat digunakan sebagai alat komunikasi antara analisis sistem dengan pemakai sistem tentang data yang mengalir pada sistem, yaitu tentang data yang masuk ke sistem dan tentang informasi yang dibutuhkan oleh pemakai sistem. Pada tahap perancangan sistem, kamus data digunakan untuk merancang input, merancang laporan-laporan, dan basis data. Kamus data dibuat berdasarkan arus data yang ada di diagram arus data (DAD). Arus data di DAD sifatnya adalah global, hanya ditunjukkan nama arus datanya saja. Keterangan lebih lanjut tentang struktur dari suatu arus data di DAD secara lebih terinci dapat dilihat di kamus data. (Jogiyanto, 2005) Kamus data adalah suatu aplikasi khusus dari jenis kamus-kamus yang digunakan sebagai referensi kehidupan setiap hari. Kamus data merupakan hasil referensi data mengenai data (maksudnya, metadata), suatu data yang disusun oleh penganalisis sistem untuk membimbing mereka selama melakukan analisis dan desain. Sebagai suatu dokumen, kamus data mengumpulkan dan mengkoordinasi istilah-istilah data tertentu, dan menjelaskan apa arti setiap istilah yang ada. (Kendall & Kendall, 2006).

34

Sebagai tambahan untuk dokumentasi serta mengurangi redudansi, kamus data bisa digunakan untuk: 1. Menvalidasi diagram aliran data dalam hal kelengkapan dan keakuratan. 2. Menyediakan suatu titik awal untuk mengembangkan layar dan laporanlaporan. 3. Menentukan muatan data yang disimpan dalam file-file. 4. Mengembangkan logika untuk proses-proses diagram aliran data. Sekalipun kamus data juga memuat informasi mengenai data dan prosedur-prosedur, kumpulan informasi mengenai proyek dalam jumlah besar disebut gudang. Konsep gudang adalah salah satu dari berbagai pengaruh perangkat CASE dan bisa berisikan hal-hal sebagai berikut : 1. Informasi mengenai data-data yang dipertahankan oleh sistem mengenai aliran data, simpanan data, struktur record dan elemen data 2. 3. 4. Logika prosedural Desain layar dan laporan Keterkaitan data, misalnya bagaimana suatu struktur data dijalurkan ke struktur data lainnya. 5. 6. Penyampaian syarat-syarat prosyek dan sistem final. Informasi manajemen proyek, misalnya jadwal pengiriman, pencapaian keberhasilan, hal-hal yang membutuhkan penyelesaian, serta pengguna proyek.

Tabel 2.3 Hubungan kamus data dengan diagram aliran data Diagram Aliran Data
Aliran Data
Formulir Deskripsi Aliran Data XXX

Kamus Data
Struktur Data XXX

Elem Eleme n Elemen-en-e elem elemenen Data Data XXX XXX XXX

35

Simpanan Data

Formulir Deskripsi Simpanan Data XXX

Struktur Data XXX

Elem Eleme n Elemen-en-e elemen elemen Data Data XXX XXX XXX

Sumber: Kendall & Kendall, 2006.

Contoh Kamus Data
Deskripsi Aliran Data
Identitas : Nama : Pesanan Konsumen Deskripsi : berisikan informasi pesanan konsumen dan digunakan untuk memperbaharui master konsumen dan file-file item serta untuk membuat record pesanan. Sumber : Tujuan : Konsumen Proses 1 Jenis aliran data : File Layar Laporan Formulir Internal Perjalanan Struktur Data dengan Aliran : Volume Informasi Pesanan / Jam : 10/jam Komentar : Informasi record pesanan untuk satu pesanan konsumen. Pesanan bisa diterima lewat surat, faks atau melalui telepon.

Gambar 2.8 Contoh Deskripsi Aliran Data (Kendall & Kendall, 2006). 2.6.4 Struktur Data

36

Struktur dari data terdiri dari elemen-elemen data yang disebut dengan item data. Sehingga secara prinsip, struktur dari data ini dapat digambarkan dengan menyebutkan nama dari item-item datanya. Nama dari item data saja yang dicatat di kamus data tidaklah cukup, masih diperlukan informasi lain dari struktur data tersebut. Biasanya untuk menunjukkan informasi-informasi tambahan ini di kamus data

dipergunakan notasi-notasi aljabar sebagai berikut : 1. 2. 3. Tanda sama dengan ( = ), artinya ” terdiri dari ”. Tanda plus ( + ), artinya “dan”.

Tanda kurung { }, menunjukkan elemen-elemen repetitif, juga disebut kelompok berulang atau tabel-tabel. Kemungkinan bisa ada satu atau beberapa elemen berulang di dalam kelompok tersebut. 4. Tanda kurung [ ], menunjukkan salah satu dari dua situasi tertentu.

5.

Tanda kurung ( ), menunjukkan suatu elemen yang bersifat pilihan.

Adapun contoh kasus dari bentuk struktur data adalah pada gambar seperti terlihat di bawah ini :
Pesanan Konsumen = Nomor Konsumen + Nama Konsumen + Alamat + Telepon + Nomor Katalog + Tanggal Pesanan + {Item Pesanan Yang Tersedia} + Total Barang + (Pajak) + Pengiriman dan Penanganan + Total Pesanan + Metode Pembayaran + (Jenis Kartu Kredit) + (Nomor Kartu Kredit) + (Masa Berlaku) +

37

Nama Konsumen =

Nama Pertama + (Inisial Nama Tengah) + Nama Keluarga Jalan + (Apartemen) + Kota + Negara Bagian + Kode Pos + (Panjangan Kode Pos) + (Negara) Kode Area + Nomor Lokal Jumlah Yang Dipesan + Nomor Item + Deskripsi Item + Ukuran + Warna + Harga + Total Item + [Cek | Utang | Wesel] [World’s Trend | American Express | Master Card | Visa]

Alamat =

Telepon = Item Pesanan yang Tersedia =

Metode Pembayaran = Jenis Kartu Kredit =

Gambar 2.9 Contoh Struktur Data (Kendall & Kendall, 2006). Ketika struktur data pertama-tama ditetapkan, hanya elemenelemen data yang akan dilihat pengguna. Tahapan ini dinamakan perancangan logika, yang menunjukkan data-data apa yang diperlukan perusahaan untuk operasi dari hari ke harinya. Dengan menggunakan desain logika sebagai dasar, selanjutnya penganalisis merancang struktur-struktur data fisik yang mencakup elemen-elemen tambahan yang diperlukan untuk menetapkan sistem. Contoh elemen-elemen desain fisik adalah sebagai berikut : 1. Field kunci untuk menempatkan record-record dalam sebuah file, contohnya nomor item.

38

2.

Kode-kode untuk mengidentifikasi status record master. Seperti misalnya, apakah seorang pegawai masih aktif (pegawai saat ini) atau tidak aktif.

3.

Kode-kode transaksi digunakan untuk mengidentifikasi jenis-jenis record ketika suatu file memuat jenis-jenis record yang berbeda.

4.

Masukan-masukan kelompok berulang yang memuat beberapa jumlah item yang berada di dalam kelompok tersebut. 5. Batas-batas jumlah item di dalam suatu kelompok berulang.

6.

Kata sandi yang digunakan oleh konsumen untuk mengakses suatu Website yang terpelindung.

Pernyataan Pembayaran Konsumen =

Tanggal Terbaru + Nomor Konsumen + Nama Konsumen + Alamat +
5 1

{Jalur Pesanan} +

(Jumlah Pembayaran Sebelumnya) + Jumlah Total yang Utang + (Komentar) + Jalur Pesanan = Nomor Pesanan + Tanggal Pesanan + Total Pesanan +

Gambar 2.10 Contoh Elemen Fisik Yang Ditambahkan Ke Struktur Data (Kendall & Kendall, 2006)

39

Elemen-elemen data bisa ditetapkan sekali dalam kamus data dan juga bisa dimasukkan sebelumnya pada formulir deskripsi elemen. Adapun karakteristik yang umumnya dimasukkan kedalam formulir deskripsi elemen adalah sebagai berikut : 1. Identitas elemen, yang bersifat pilihan untuk memungkinkan

penganalisis membangun suatu masukkan kamus data otomatis . 2. Nama elemen, yang bersifat deskriptif, unik dan berdasarkan atas elemen apa yang biasa disebut dalam sebagian program atau oleh pengguna mayoritas elemen tersebut. 3. Alias, sama dengan sinonim atau nama-nama lain untuk elemen. 4. Deskripsi singkat mengenai elemen tersebut. 5. Apakah elemen tersebut berupa basis atau bagian-dari. Elemen basis merupakan elemen yang awalnya dijadikan kunci ke dalam sistem. Sedangkan elemen bagian-dari diciptakan oleh prosesproses sebagai perhitungan atau logika. 6. Panjang suatu elemen. 7. Jenis data yang berupa numerik, tanggal, alfabet atau karakter yang kadang-kadang disebut alfanumerik atau data teks. 8. Format masukan dan keluaran juga bisa dimasukkan, menggunakan simbol-simbol pengkodean khusus untuk menunjukkan bagaimana data-data tersebut seharusnya ditampilkan. 9. Kriteria validasi untuk memastikan bahwa data-data akurat telah dimengerti oleh sistem.

40

10. Nilai-nilai default yang boleh dimiliki elemen. 11. Komentar tambahan area kata-kata.

Formulir Deskripsi Elemen Identitas : Nama : Nomor Konsumen Alias : Nomor Klien Alias : Nomor Piutang Deskripsi : Secara unik menandai konsumen yang melakukan transaksi bisnis dalam lima tahun terakhir Karakteristis Elemen Panjang Format Masukan Format Keluaran Nilai Default Berkelanjutan Bagian-dari Berkelanjutan 6 9 (6) 9 (6) Terpisah Kriteria Valid Arti Batas Tertinggi < 99999 Batas Terendah < 0 Komentar : Nomor Konsumen harus melewati tes digit pengecekan modulus-11. Berupa bagian-dari karena dihasilkan lewat komputer dan sebuah pengecekan ditambahkan. Terpisah Nilai Alfabet Alfanumerik Tanggal Numerik Basis

Gambar 2.11 Contoh Formulir Deskripsi Elemen (Kendall & Kendall, 2006) Semua elemen basis harus disimpan di dalam sistem. Elemenelemen bagian-dari seperti misalnya gaji kotor tahunan sampai hari ini pegawai, juga bisa disimpan di dalam sistem. Simpanan data ini diciptakan untuk setiap entitas data berbeda yang sedang disimpan. Gambar di bawah ini adalah formulir khusus yang digunakan untuk menggambarkan suatu simpanan data :
Formulir Deskripsi Simpanan Data

41

Identitas Nama Alias Deskripsi

: D1 : File Master Konsumen : File Master Klien : Memuat sebuah record untuk setiap konsumen Karakteristik-Karakteristik Simpanan Data

Jenis File Komputer Manual Format File Basisdata Indeks Langsung Ukuran Record (Karakter) : 200 4000 Jumlah Record : Maksimum 45.000 rata : 42.000 Persentase Pertumbuhan Per Tahun :6% Nama Rangkaian Data Anggota Salinan Struktur Data Kunci Utama Kunci Sekunder

Sekuensial Ukuran Blok : Rata-

: Konsumen MST : Custmast : Record Konsumen : Nomor Konsumen : Nama Konsumen Kode Pos Jumlah Pembelian Tahunan Sampai Hari Ini

Komentar : Record File Master Konsumen disalin untuk file sejarah dan dihapus bila konsumen tidak membeli item dalam lima tahun terakhir. Konsumen bisa dipertahankan bahkan bila ia tidak melakukan pembelian dengan meminta katalog.

Gambar 2.12 Contoh Formulir Simpanan Data (Kendall & Kendall, 2006) Berdasarkan gambar 2.12 di atas, dapat diketahui beberapa hal yang dimasukkan ke dalam formulir simpanan data adalah sebagai berikut : 1. Identitas SIMPANAN DATA. 2. Nama SIMPANAN DATA, yang bersifat deskriptif dan unik. 3. Alias untuk file, misalnya FILE MASTER KLIEN untuk FILE MASTER KONSUMEN. 4. 5. Deskripsi simpanan data. Jenis file, baik manual atau terkomputerisasi.

42

6.

Bila file tersebut terkomputerisasi, format file menandai apakah file tersebut berupa file basisdata yang disebut tabel ataukah memiliki format file data tradisional.

7.

Jumlah record maksimum dan rata-rata pada file serta pertumbuhannya pertahun.

8. 9.

Nama rangkaian data menentukan nama file, jika diketahui. Struktur data bisa menggunakan sebuah nama yang ditemukan di dalam kamus data, menampilkan suatu jalur menuju elemen-elemen untuk simpanan data.

Satu langkah penting lainnya dalam menciptakan kamus data adalah mengidentifikasi dan mengkategorikan aliran data keluaran dan aliran data masukan. Seperti contoh pada gambar 2.13, formulir analisis masukan dan keluaran bisa digunakan untuk mengatur informasi yang diperoleh dari wawancara atau analisis dokumen. Dalam formulir ini, memuat fieldfield yang umum seperti : 1. 2. Nama deskriptif untuk masukan dan keluaran. Penghubung pengguna bertanggung jawab untuk klarifikasi-klarifikasi detail selanjutnya, umpan balik dalam hal perancangan dan persetujuan final. 3. 4. Apakah data-data tersebut berupa masukan atau keluaran. Format aliran data. Dalam tahap perancangan logika, formatnya bisa tidak ditentukan.

43

5. 6.

Elemen-elemen yang menunjukkan urutan data pada laporan atau pada layar. Daftar elemen-elemen yang mencakup nama-nama mereka, panjang dan apakah mereka merupakan basis atau bagian-dari, serta kriteria editing-nya. Begitu formulir tersebut dilengkapi, masing-masing elemen dianalisis untuk

menentukan apakah elemen tersebut mengulang, apakah berupa pilihan atau apakah sama-sama saling terpisah dengan elemen-elemen lainnya. Gambar di halaman berikutnya menunjukkan contoh dari formulir analisis masukan dan keluaran :
Formulir Analisa Masukan dan Keluaran
Nama Masukan/Keluaran : Pernyataan pembayaran Konsumen Penghubung Pengguna : Susan Han Jenis File : Keluaran Masukan Format File : Laporan Layar Tidak Ditetapkan Elemen-elemen yang berurutan : Kode Pos (Urutan Halaman) Nomor Pesanan Nama Elemen anjang Tanggal Saat Ini Nomor Konsumen Nama Pertama Konsumen 0 Nama Konsumen Inisial Konsumen Jalan Keluarga 5 Nama Tengah 1 2 0 Apartemen 0 Kota 0 Negara Bagian 2 B Valid Singkatan Status 2 B Tidak boleh kosong 2 B Tidak boleh kosong B B Tidak boleh kosong 1 B Tidak boleh kosong 6 6 2 P /D B (Sistem yang tersedia) D (Termasuk Digit Penekanan ) B Tidak boleh kosong B Kriteria Edit

44

Kode Pos Nomor Pesanan Tanggal Pesanan Total Pesanan Jumlah Pembayaran Sebelumnya Jumlah Total Piutang Komentar

9 6 8 9 5 9 6

B Numerik, 4 pilihan terakhir D >0 B MM/DD/YYY D Format : 9 (7) v99 D Format : 9 (7) v99 D B Format : 9 (7) v99

0 Komentar : Cetak satu halaman untuk setiap konsumen. Jika ada lebih dari satu item sehingga melebihi halaman tersebut, lanjutkan pada halaman berikutnya.

Gambar 2.13 Contoh Formulir Analisis Masukan/Keluaran, (Kendall & Kendall, 2006). 2.7 Basis Data Menurut Fatansyah Basis data dapat didefinisikan sebagai berikut : 1. “Basis Data adalah himpunan kelompok data (arsip) yang saling berhubungan yang diorganisasikan sedemikian rupa agar kelak dapat dimanfaatkan kembali dengan cepat dan mudah“, (Fatansyah, 2004). 2. “Basis Data adalah kumpulan data yang saling berhubungan yang disimpan secara bersama sedemikian rupa dan tanpa pengulangan ( redudansi) yang tidak perlu untuk memenuhi berbagai kebutuhan“, (Fatansyah, 2004). 3. “Basis Data adalah kumpulan file/tabel/arsip yang saling berhubungan yang disimpan dalam media penyimpanan elektronik”, (Fatansyah, 2004). 2.7.1 Kegunaan Basis Data Penyusunan basis data digunakan untuk mengatasi masalah-masalah pada penyusunan data yaitu (Fatansyah, 2004): a. Redudansi dan inkonsistensi data 1. Redudansi adalah penyimpanan dibeberapa tempat untuk data yang sama, dan ini akan mengakibatkan pemborosan ruang penyimpanan. 2. Inkosistensi (tidak konsisten) adalah penyimpanan data yang sama berulang-ulang di beberapa file.

45

b. Kesulitan pengaksesan data c. Isolasi data untuk standarisasi. d. Multi User (banyak pemakai) e. Masalah Keamanan (security) f. Masalah Integritas g. Masalah data independence (kebebasan data) 2.7.2 Keuntungan Penggunaan Basis Data Penggunaan DBMS untuk mengelola data mempunyai beberapa keuntungan yaitu (Kristanto, 2008): 1. Kebebasan data dan akses yang efisien 2. Mereduksi waktu pengembangan aplikasi 3. Integritas dan keamanan data 4. Administrasi keseragaman data 5. Akses bersamaan dan perbaikan dari terjadinya crashes (tabrakan dari proses serentak).

2.7.3

Perancangan Basis Data Tujuan perancangan adalah untuk mendefinisikan informasi apa yang

dibutuhkan oleh sistem yang akan dibangun sehingga mudah untuk dilakukan transformasi ke dalam kode aktual dan kita bisa memiliki basis data yang kompak dan efisien dalam penggunaan ruang penyimpanan, cepat dalam pengaksesan dan mudah dalam pemanipulasian (tambah, ubah, hapus) data.

2.7.3.1 Entity Relationship Diagram Model Entity-Relationship yang berisi komponen-komponen himpunan entitas dan relasi yang masing-masing dilengkapi dengan atribut-atribut yang mempresentasikan seluruh fakta dari ‘dunia nyata’ yang kita tinjau, dapat digambarkan dengan lebih sistematis dengan menggunakan Diagram EntityRelationship (Diagram E-R ). Notasi simbolik di dalam Diagram E-R yang dapat kita gunakan adalah sebagai berikut :

46

Tabel 2.4 Simbol Entity Relationship Diagram

Sumber: Fatansyah, 2004. Berikut adalah penggambaran relasi antar himpunan entitas lengkap dengan kardinalitas relasi dan atributnya a. Contoh Relasi satu ke satu (one to one )
nama_dos alamat_dos nama_dos kode_jur kode_jur nama_jur

Dosen

1

Mengepalai

1

Jurusan

Gambar 2.14 Contoh relasi satu ke satu (Fatansyah, 2004) b. Contoh Relasi satu ke banyak ( one to many)

47

nama_dos

nama_dos

kode_kul

kode_kul

nama_kul

Dosen

1

Mengajar

N

Kuliah

alamat_dos

Waktu

Tempat

sks

semester

Gambar 2.15 Contoh relasi satu ke banyak (Fatansyah, 2004) c.
nim

Contoh relasi banyak ke banyak
nama_mhs nim kode_kul kode_kul nama_kul nim kode_kul nama_dos

Mahasiswa

mempelajari

Kuliah

mempelajari

Dosen

alamat_mhs

tgl_lahir indeks_nilai

sks

semester indeks_nilai

alamat_dos

Gambar 2.16 Contoh relasi banyak ke banyak (Fatansyah, 2004)

2.7.3.2 Kardinalitas / Derajat Relasi Kardinalitas Relasi menunjukkan jumlah maksimum entitas yang dapat berelasi dengan entitas pada himpunan entitas yang lain. Dari sejumlah kemungkinan banyaknya hubungan antar entitas tersebut, kardinalitas relasi merujuk kepada hubungan maksimum yang terjadi dari himpunan entitas yang satu ke himpunan entitas yang lain dan begitu juga sebaliknya (Fatansyah, 2004). Kardinalitas relasi yang terjadi diantara dua himpunan entitas (misalnya A dan B) dapat berupa: · Satu ke Satu (One to One) Berarti setiap entitas pada himpunan entitas A berhubungan dengan paling banyak dengan satu entitas pada himpunan entitas B, dan begitu juga sebalikanya setiap entitas pada himpunan entitas B berhubungan dengan paling banyak dengan satu entitas pada himpunan entitas A (Gambar 2.17). · Satu ke Banyak (One to Many)

48

Berarti setiap entitas pada himpunan entitas A dapat berhubungan dengan banyak entitas pada himpunan entitas B, tetapi tidak sebaliknya, dimana setiap entitas pada himpunan entitas B berhubungan dengan paling banyak dengan satu entitas pada himpunan A (Gambar 2.18).
A B

Entitas 1 Entitas 2 Entitas 3 Entitas 4

Entitas 1 Entitas 2 Entitas 3 Entitas 4

Gambar 2.17 Kardinalitas Relasi Satu ke Satu (Fatansyah, 2004)
A B
Entitas 1 Entitas 1 Entitas 2 Entitas 3 Entitas 2 Entitas 3 Entitas 4 Entitas 5

Gambar 2.18 Kardinalitas Relasi Satu ke Banyak (Fatansyah, 2004) ·

Banyak ke Satu (Many to One) Berarti setiap entitas pada himpunan entitas A berhubungan dengan paling banyak dengan satu entitas pada himpunan entitas B, tetapi tidak sebaliknya, dimana setiap entitas pada himpunan entitas B dapat berhubungan dengan banyak entitas pada himpunan entitas A (Gambar 2.19).

·

Banyak ke Banyak (Many to Many)

49

Berarti setiap entitas pada himpunan entitas A dapat berhubungan dengan banyak entitas pada himpunan entitas B, dan demikian juga sebaliknya, dimana setiap entitas pada himpunan entitas B dapat berhubungan dengan banyak entitas pada himpunan entitas A, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.20

94

A
Entitas 1 Entitas 2 Entitas 3 Entitas 4 Entitas 5

B

Entitas 1 Entitas 2 Entitas 3

Gambar 2.19 Kardinalitas Relasi Banyak ke Satu (Fatansyah, 2004)
A B

Entitas 1 Entitas 2 Entitas 3 Entitas 4

Entitas 1 Entitas 2 Entitas 3 Entitas 4

Gambar 2.20 Kardinalitas Relasi Banyak ke Banyak (Fatansyah, 2004) Kardinalitas relasi satu ke banyak dan banyak ke satu dapat dianggap sama, karena tinjauan kardinalitas relasi selalu dilihat dari dua sisi (dari himpunan entitas A ke himpunan entitas B dan dari himpunan entitas B ke himpunan entitas A).

2.7.3.3 Normalisasi Istilah normalisasi berasal dari E. F. Codd, salah seorang perintis teknologi basis data. Selain dipakai sebagai metodologi tersendiri untuk menciptakan struktur tabel (relasi) dalam basis data (dengan tujuan mengurangi redudansi/ kemubaziran data), normalisasi terkadang hanya dipakai sebagai perangkat verifikasi terhadap tabel- tabel yang dihasilkan oleh metodologi lain. Normalisasi memberikan panduan yang sangat membantu bagi pengembang untuk mencegah penciptaan struktur tabel yang kurang fleksibel atau mengurangi ketidakefisienan. Normalisasi dapat didefinisikan sebagai :

10

95

“Proses untuk mengorganisasi file untuk menghilangkan grup elemen yang berulang-ulang”. (Kendall & Kendall, 2006). Dalam normalisasi, sebuah basis data dikatakan baik apabila setiap tabel yang menjadi unsur pembentuk basis data juga telah berada dalam keadan baik atau normal. Tabel dapat dikategorikan baik ataupun normal, jika telah memenuhi kriteria sebagai berikut, (Kendall & Kendall, 2006) : 1. Jika ada penguraian (dekomposisi) tabel, maka dekomposisinya harus dijamin aman. 2. 3. Terpelihanya ketergantungan fungsional pada saat perubahan data. Tidak melanggar Boyce–Code Normal Form (BCNF).

Kriteria – kriteria di atas merupakan kriteria minimal untuk mendapatkan prediksi efisien/ normal bagi sebuah tabel. Aturan- aturan normalisasi dinyatakan dalam istilah bentuk normal. Bentuk normal adalah suatu aturan yang dikenakan pada tabel dalam basis data dan harus dipenuhi oleh tabel tersebut pada level- level normalisasi. Suatu tabel dikatakan berada dalam bentuk normal tertentu jika memenuhi kondisi- kondisi tertentu. Adapun bentuk– bentuk normal pada database adalah sebagai berikut, (Fatansyah, 2004) : 1. Bentuk Normal Tahap Pertama (1NF) Bentuk 1NF terpenuhi jika, sebuah tabel tidak memiliki atribut bernilai banyak atau lebih dari satu atribut dengan domain nilai yang sama. 2. Bentuk Normal Tahap Kedua (2NF) Bentuk 2NF terpenuhi jika pada sebuah tabel, semua atribut yang tidak termasuk key primer memiliki ketergantungan fungsional (KF) pada key primer secara utuh. 3. Bentuk Normal Tahap Ketiga (3NF) Bentuk 3NF terpenuhi jika, untuk setiap KF dengan notasi X A, dimana A mewakili semua atribut tunggal didalam tabel yang tidak ada dalam dalam X. Maka X haruslah superkey pada tabel tersebut atau A merupakan bagian dari key primer dari tabel tersebut. 4. Boyce-Code Normal Form (BCNF) Sebuah tabel dikatakan berada dalam BCNF jika untuk semua KF dengan notasi X →Y, maka X harus merupakan superkey pada tabel tersebut. Jika tidak demikian, maka tabel tersebut harus didekomposisi berdasarkan KF yang ada, hingga X menjadi superkey dari tabel-tabel hasil dekomposisi. 2.7.3.4 SQL (Structured Query Language)

96

Sistem basis data komersial menghendaki adanya sebuah bahasa query yang lebih user-friendly. Oleh karena itu dikenal SQL sebagai bahasa query yang marketable. SQL menggunakan kombinasi aljabar relasional & kalkulus relasional. Meskipun SQL adalah bahasa query, namun SQL mempunyai banyak kemampuan lain disamping melakukan query terhadap basis data. SQL mempunyai kemampuan untuk mendefinisikan struktur data, modifikasi data dalam basis data dan menentukan konstrain sekuriti. SQL merupakan bahasa basis data relasional standard. Terdapat macam-macam versi SQL. Versi aslinya pertama kali dikembangkan oleh IBM San Jose Research Laboratory. Bahasa SQL mempunyai beberapa bagian yaitu, (Hariyanto, 2004):  Data Definition Language (DDL)

DDL memberikan perintah untuk mendefinisikan skema relasi, penghapusan relasi, membuat indeks dan modifikasi skema relasi.  Interactive Data-Manipulation Language (DML)

DML merupakan bahasa query yang berdasarkan pada aljabar relasi dan kalkulus relasi tuple. Termasuk didalamnya adalah perintah untuk penyisipan, penghapusan dan modifikasi.  Embedded DML

Bentuk embedded SQL biasanya terdapat dalam bahasa pemrograman multi guna seperti PL/I, Cobol , Pascal dan Fortran.  View Definition DDL SQL memasukkan perintah untuk mendefinisikan view.  Authorization

DDL SQL memasukkan perintah untuk menentukan hak-hak akses ke relasi dan view.  Integrity

DDL SQL memasukkan perintah untuk menentukan konstrain integritas yang harus dipenuhi oleh data yang tersimpan dalam basis data.  Transaction control

SQL memasukkan perintah-perintah untuk menentukan awal dan akhir transaksi. Beberapa implementasi juga memungkinkan locking data untuk concurrency control. Struktur dasar dari ekspresi SQL terdiri dari tiga klausa yaitu: select, from dan where.

97

·

Klausa Select

Berhubungan dengan operasi proyeksi dari aljabar relasional. Operasi ini digunakan untuk mendaftar semua atribut yang diinginkan sebagai hasil suatu query. Contoh : jika kita ingin menampilkan NIM dan nama mahasiswa yang ada di tabel Mahasiswa, maka dapat menggunakan perintah SQL berikut ini : Select Nim, Nama_Mhs From Mahasiswa · Klausa From

Klausa ini digunakan untuk menetapkan tabel yang kita dijadikan sebagai sumber (lokasi) pencarian data. Sebagaimana kita ketahui, basis data terdiri atas sejumlah tabel yang saling berhubungan. Karena itu, akan sering kali ada kebutuhan untuk melakukan query tidak hanya dari satu tabel, tetapi dengan merelasikan beberapa tabel sekaligus. Contoh : jika kita ingin menampilkan data kuliah beserta beserta dosen-dosen yang mengajarkannya, maka kita tidak hanya dapat melakukan query dari tabel Kuliah saja, tetapi juga dari tabel Dosen karena seperti data nama dosen tidak tersimpan di tabel Kuliah. Untuk memenuhi kebutuhan itu, kita dapat menggunakan ekspresi SQL sebagai berikut : Select * From Kuliah, Dosen Where Kuliah.Kode_Dosen = Dosen.Kode_Dosen · Klausa Where

Klausa ini berguna untuk menetapkan predikat atau kriteria yang harus dipenuhi dalam memperoleh hasil query, yang berasosiasi dengan operasi Seleksi dalam Bahasa Query Formal. Contoh : Jika kita akan menampilkan semua atribut untuk mahasiswa dengan NIM = ’0606003’. Maka untuk memenuhi kebutuhan itu, ekspresi SQL yang digunakan adalah sebagai berikut : Select * From Mahasiswa Where Nim = ’0606003’ 2.8 Interaksi Manusia dengan Komputer Menurut Santosa definisi Interaksi Manusia Komputer adalah: “Satu disiplin ilmu yang mengkaji tentang mendesain, mengevaluasi dan menerapkan (implementasi) interaksi antara manusia dan komputer, serta

98

mengkaji tentang komunikasi atau interaksi di antara pengguna dengan sistem,” (Santosa, 2004). Prinsip kerja dalam sebuah sistem komputer adalah input, process, output. Data masukan komputer dapat berupa angka atau karakter yang kemudian diproses menjadi keluaran sesuai yang diharapkan oleh pengguna. Ketika seseorang bekerja dengan sebuah komputer, maka ia akan melakukan interaksi dengan komputer menggunakan cara-cara tertentu. Cara yang umum digunakan adalah bahwa pengguna memberikan suatu perintah pada komputer, dan komputer menanggapinya dengan mencetak atau menuliskan tanggapan pada layar tampilan. Dengan melalui masukan serta keluaran tersebut pengguna dan komputer saling berinteraksi. Dengan dikembangkannya antarmuka berbasis grafis yang dikenal dengan istilah GUI (Graphical User Interface ) dapat memudahkan manusia dalam mengoperasikan komputer dan mendapatkan berbagai umpan balik sesuai yang diperlukan. Para perancang antarmuka manusia-komputer harus mampu membuat sistem komputer yang mempunyai sifat ramah dengan pengguna sehingga perancang harus mampu memahami aspek psikologi yang yang dimiliki oleh pengguna, hal ini berhungan dengan faktor manusia. Perancang sistem pun harus mampu memilih teknik dialog interaktif agar komunikasi antara manusia dengan komputer lebih mudah, (Santosa, 2004). 2.8.1 Strategi Pengembangan Antarmuka Secara garis besar, menurut Santosa (2004) pengembangan bagian antarmuka perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:   Pengetahuan tentang mekanisme fungsi manusia sebagai pengguna komputer. Berbagai informasi yang berhubungan dengan karakteristik dialog yang cukup lebar, sepeti ragam dialog, struktur, isi tekstual dan grafis, tanggapan waktu, dan kecepatan tampilan.  Penggunaan prototype yang didasarkan pada spesifikasi dialog formal yang di susun secara bersama-sama antara (calon) pengguna dan

99

perancang sistem, serta peranti bantu yang mungkin dapat digunakan untuk mempercepat proses pembuatan prototype.  Teknik evaluasi yang digunakan untuk mengevaluasi hasil proses prototipe yang telah dilakukan, yaitu secara analitis berdasarkan pada analisis atas transaksi dialog, secara empirik menggunakan uji coba pada sejumlah kasus, umpan balik pengguna yang dapat dikerjakan dengan Tanya jawab maupun kuesioner, dan beberapa analisis yang dikerjakan oleh ahli antarmuka. 2.8.2 Ragam Dialog Berbagai teknik dialog interaktif yang memungkinkan terjadinya komuikasi antara manusia dengan komputer pada saat sekarang ini bervariasi, dimulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang cukup canggih. Secara umum, ragam dialog dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, diantaranya (Santosa, 2004):  Dialog berbasis bahasa pemrograman

Dialog ini merupakan ragam dialog yang memungkinkan pengguna untuk mengemas sejumlah perintah ke dalam suatu bentuk berkas yang disebut dengan batch file.  Sistem menu Sistem menu merupakan pilihan yang tepat untuk menunjukkan kemampuan dan fasilitas yang dimiliki oleh sebuah program aplikasi kepada pengguna. Menu adalah “daftar sejumlah pilihan dalam jumlah terbatas, yang biasanya berupa kalimat atau kumpulan kata”, (Santosa, 2004). Menurut Santosa (2004) Terdapat dua sistem menu, yaitu: - Sistem menu datar Sistem ini adalah sistem menu yang menampilkan semua pilihan secara lengkap.
PENGOLAHAN DATA AKADEMIS MAHASISWA “STIMIK PERTIWI”

<A> Inisialisasi Berkas Mahasiswa <B> Inisialisasi Berkas Mata Kuliah <C> Inisialisasi Berkas Nilai Ujian <D> Membuka Semua Berkas

<E> Mencetak Presensi Kuliah <F> Mencetak Presensi Ujian <G> Mencetak KRS <H> Mencetak Nilai Ujian

Pilih salah satu: _

100

Gambar 2.21 Contoh Sistem Menu Datar, (Santosa, 2004). Sistem menu tarik Sistem ini adalah sistem menu yang menampilkan pilihan ke dalam kelompok-kelompok tertentu yang berbasis pada hirarki pilihan (struktur pohon pilihan).

SUBMENU

MENU UTAMA (PILIHAN DENGAN HIERARKI TERTINGGI)

SUB-SUBMENU

Gambar 2.22 Contoh Sistem Menu Tarik, (Santosa, 2004).  Dialog berbasis pengisian borang Teknik dialog ini merupakan suatu penerapan langsung dari aktifitas pengisian borang dalam kehidupan sehari-hari dimana pengguna akan dihadapkan pada suatu bentuk borang yang ada pada layar komputer yang digunakan.

Gambar 2.23 Contoh Dialog Berbasis Pengisian Barang, (Santosa, 2004).  Antarmuka berbasis icon

101

Gambar 2.24 Antarmuka Berbasis Icon, (Santosa, 2004). 2.9 Arsitektur Sistem Arsitektur sistem merujuk pada konfigurasi sistem secara keseluruhan yang akan menjadi tempat hidup dari DBMS, basis data dan aplikasi yang memanfaatkannya, (Fatansyah, 2004). Dari waktu ke waktu, sejalan dengan kemajuan teknologi, arsitektur sistem yang akan kita pilih semakin banyak variannya. Yang juga berubah adalah keunggulannya. Arsitektur sistem yang pada saat ini boleh dikatakan paling baik dan banyak dierapkan di berbagai tempat, di masa yang akan datang dapat beralih ke arsitektur lain yang memang sama sekali baru atau merupakan pengembangan dari arsitektur sistem yang lama. Beberapa jenis arsitektur sistem yang dapat digunakan adalah, (Fatansyah, 2004):  Sistem Tunggal/Mandiri (Stand-Alone).   Sistem Tersentralisasi (Centralized System). Sistem Client-Server.

2.9.1 Sistem Tunggal/Mandiri (Stand-Alone) Pada arsitektur ini, DBMS, basis data dan aplikasi basis data ditempatkan pada mesin (komputer) yang sama. Dengan demikian, pemakai yang dapat menggunakannya di setiap saat juga hanya satu orang (single user). Arsitektur ini merupakan arsitektur system yang paling sederhana dan paling murah. Arsitektur semacam ini dapat kita gunakan, jika basis data yang di kelola memang tidak terlalu besar dan lebih bersifat membantu mempercepat pekerjaanpekerjaan klerikal (administratif).

Gambar 2.25 Contoh Sistem Stand-Alone, (Fatansyah, 2004). 2.9.2 Sistem Tersentralisasi (Centralized System)

102

Arsitektur sistem ini terdiri atas sebuah mesin server dan sejumlah terminal (yang menjadi tempat user berinteraksi dengan sistem). Yang tersentralisasi dalam arsitektur ini mencakup basis data, DBMS dan aplikasi basis data atau basis data saja. Untuk lingkup sentralisasi yang pertama, maka jenis server-nya sering disebut sebagai DBMS-server atau Aplication-server dan terminalnya lebih tepat disebut dumb-terminal (terminal pasif). Sedang jika yang disentralisasi hanya basis data, server yang kita gunakan biasa disebut file-server dan terminalnya disebut workstation (stasiun kerja).

Gambar 2.26 Contoh Sistem Tersentralisasi, (Fatansyah, 2004). 2.9.3 Sistem Client-Server Sistem ini terdiri atas dua komponen (mesin) utama, yaitu client dan server. Client berisi aplikasi basis data dan server berisi DBMS dan basis data. Setiap aktifitas yang dikehendaki para pemakai akan lebih dulu di tangani oleh client. Client selanjutnya mengupayakan agar semua proses bias mungkin ditangani sendiri. Jika ada proses yang harus melibatkan data yang tersimpan pada basis data, barulah client melakukan kontak dengan server.

Gambar 2.27 Contoh Sistem Client-Server Sederhana, (Fatansyah, 2004). 2.10 Software Pendukung 2.10.1 Microsoft Visual Basic Versi 6.0 Microsoft Visual Basic 6.0 adalah versi BASIC visual yang dikembangkan oleh Microsoft. Bahasa ini berawal dari Quick BASIC yang bersifat procedural namun kemudian diperluas dengan fitur-fitur yang bersifat visual. Microsoft Visual Basic 6.0 merupakan salah satu bahasa pemrograman atau pengembangan aplikasi yang sangat dikenal di dunia. Baik itu karena kemudahannya dalam pengembangan aplikasi maupun kemampuannya yang beragam. Selain itu, Microsoft Visual Basic 6.0 didukung oleh berbagai fasilitas

103

dalam pengembangan aplikasi. Salah satunya adalah pengembangan aplikasi database.

Gambar 2.28 Tampilan Awal Visual Basic 6.0

Pada layar awal akan muncul tampilan seperti di atas, setelah itu akan muncul tampilan seperti berikut ini (tampilan IDE/ Integrated Development Environment):

Gambar 2.29 IDE Visual Basic Beberapa keterangan yang terdapat pada gambar di atas memiliki fungsinya masing-masing. Berikut di bawah ini penjelasannya : 1. Form Designer : Pada form design ini adalah tempat kita merancang user interface ( antar muka pemakai ). 2. Menu Toolbar : Menu standar pada Windows, dapat digunakan untuk membuka project, menyimpan project, menjalankan sebagainya. project, dan

104

3. Toolbox : Disinilah tempat komponen-komponen yang disediakan untuk merancang user interface. Masing-masing komponen memiliki ciri dan kegunaan masing-masing. 4. Project Explorer : Di sini adalah struktur project yang sedang kita kerjakan. Suatu project dapat terdiri dari beberapa form. 5. Properties : Pada kolom ini menampilkan properties dari komponen yang sedang aktif. Property adalah data-data atau karakteristik yang dimiliki oleh suatu objek komponen. Beberapa keunggulan dari Visual Basic 6.0 adalah sebagai berikut : 1. Menggunakan platform pembuatan program yang diberi nama developer studio. 2. Memiliki compiler handal yang dapat menghasilkan file executable yang lebih cepat dan lebih efisien dari sebelumnya. 3. Memikili tambahan sarana wizard yang baru. Wizard adalah sarana yang mempermudah didalam pembuatan aplikasi. 4. Tambahan kontrol-kontrol baru yang lebih canggih serta peningkatan kaidah struktur bahasa Visual Basic. 5. Kemampuan membuat ActiveX dan fasilitas yang lebih banyak. 6. Sarana akses data lebih cepat dan handal untuk membuat aplikasi basis data yang berkemampuan tinggi. 7. Memiliki beberapa versi yang disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya. Sumber : http://www.snapdrive.net/files/568979/Visual%20Basic.pdf 2.10.2 Microsoft Office Access Versi 2003 Microsoft Access 2003 adalah aplikasi manajemen database yang bisa dikatakan relatif paling baru dibandingkan dengan aplikasi yang sudah terlebih dahulu ada seperti dBase, Foxbase, Clipper dan sebagainya. Walau demikian, komitmen dari Microsoft Corporation telah menjadikan Access sebagai aplikasi paling popular saat ini dalam bidangnya. Apalagi setelah Microsoft memasukkan Access sebagian dari Office Suite-nya bersama (Word, Excel, Powerpoint dan Outlook) yang merupakan standar utama aplikasi komputer didunia kerja saat ini.

105

Beberapa kemudahan dalam pembuatan aplikasi database dengan Access adalah sebagai berikut : 1. Text; dapat menerima huruf, angka, spasi dan tanda baca. Sebuah field berisi jenis data teks yang dapat menampung maksimal 255 karakter. 2. Memo; dapat menerima teks apa saja sebagai catatan atau keterangan dengan panjang maksimak 65535 karakter. 3. Number; berisis data bilangan yang digunakan untuk perhitungan matematis. 4. Date/Time; hanya dapat menerima tanggal dan waktu. Berisi nilai data dan waktu untuk tahun 100 sampai dengan 9999. 5. Currency; berisi nilai data uang dan data bilangan yang digunakan dalam perhitungan matematis termasuk data dengan 1 sampai 4 angka dibelakang tanda desimal dan 4 digit di sebelah kanan tanda desimal. 6. Auto number; berisi bilangan yang berurutan atau acak yang unik yang secara otomatis diberikan oleh access. 7. Yes/No; berisi nilai Yes dan No atau field yang hanya memiliki 2 kemungkinan nilai. 8. OLE Object; berisi objek yang dikaitkan (linked) ke atau disisipkan (embedded) ke dalam tabel access. Contohnya lembar kerja Excel, dokumen Word, grafik, foto, suara dan data biner lainnya. Hyperlink; dapat diisi dengan alamat hyperlink agar dapat terkait dengan objek atau data yang tersimpan di lokasi tertentu. 10. Lookup Wizard; kemungkinan untuk memilih nilai dari tabel lain atau dari daftar yang didefinisikan sendiri dengan menggunakan list box atau combo box.

9.

Beberapa keunggulan dari program aplikasi Ms. Access yaitu :

106

1. Bisa membuat database yang terstruktur. 2. Bisa membuat suatu database relational dengan menggunakan aplikasi pemrograman visual tertentu. 3. Bisa untuk menjalankan query sesuai tabel-tabel yang telah ditentukan. 4. Bisa untuk membuat report (laporan) sesuai informasi yang diinginkan. 5. Bisa untuk memacu dalam merancang sebuah form sesuai dengan bahasa pemrograman tertentu. Berikut di bawah ini tampilan awal dari program aplikasi Microcoft. Access 2003 :

Gambar 2.30 Tampilan Awal Microsoft Access 2003 Sumber : http://buku2gratis.blogspot.com dan Erhans, 2005.

107

BAB III ANALISIS SISTEM

Pada bab ini akan dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan tahap Preliminary Investigation dan analisis sistem (Systems analysis) menurut metode Traditional (Waterfall) Systems Development Methodologi yang dikemukakan oleh Dewitz (1996).

3.1 Preliminary investigation Preliminary investigation merupakan tahap persiapan, dimana pada tahapan ini dilakukan survey / investigasi ke lapangan atau objek penelitian dengan tujuan untuk mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan dengan sistem yang akan dikembangkan. Pada tahapan ini terdapat beberapa tahapan yaitu sasaran sistem, batasan sistem, ruang lingkup sistem dan ruang lingkup dokumen.

3.1.1

Identifikasi Sasaran, Batasan dan Ruang Lingkup Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai sasaran, batasan dan ruang

lingkup yang berhubungan dengan sistem. 3.1.1.1 Identifikasi Sasaran Sistem (Identify Objectives) Sasaran dari sistem ini adalah untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan serta permasalahan-permasalahan yang timbul pada sistem yang sedang berjalan. Sistem yang akan dikembangkan merupakan sebuah sistem informasi

terkomputerisasi yang berfungsi untuk menangani proses pengelolaan data pasien operasi katarak. Adapun sasaran yang dibutuhkan adalah sebagai berikut: c. Dapat memberikan kemudahan kepada petugas dalam mengelola data pasien operasi katarak serta memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien. d. Menyediakan laporan-laporan yang berkaitan dengan kegiatan yang terjadi di Puskesmas khususnya tentang laporan operasi katarak dengan cepat dan akurat.

108

3.1.1.2 Batasan Sistem (Constarints) Batasan sistem yang dianalisis mencakup proses pendaftaran, pemeriksaan tajam penglihatan dan operasi pasien pada sistem yang sedang berjalan. Adapun permasalahan yang timbul pada sistem yang sedang berjalan adalah sebagai berikut: 1 Belum adanya sistem yang mampu mengolah data pasien katarak dengan baik. 2 Pada proses pendaftaran, seringkali nama pasien di tulis ulang pada buku besar. 3 Pencarian data pasien yang lama menyebabkan terhambatnya pekerjaan.

3.1.1.3 Ruang Lingkup Sistem (Scope) Ruang lingkup dari Sistem Pengelolaan Data Pasien Operasi Katarak ini meliputi :  Petugas di bagian pendaftaran umum merupakan petugas yang menangani pendaftaran pasien / registrasi pasien, dan pembuatan laporan Rekam medik pasien.   Dokter merupakan orang yang melakukan diagnosa serta operasi kepada pasien. Bagian Pendaftaran Umum merupakan entitas yang ada diluar sistem tapi terlibat dalam sistem karena bagian pendaftaran memberikan input kepada sistem yang berupa data pasien.  Bagian Pemeriksaan merupakan bagian yang menangani pemeriksaan pasien seperti pemeriksaan tajam penglihatan / Visus pasien kemudian hasil tes di catat pada rekam medik, setelah dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan / Visus di lanjut ke dokter untuk dilakukan diagnosa dan operasi. Untuk pasien lama yang sudah menjalani operasi hanya di lakukan pemeriksaan tajam penglihatan saja selama 3x berturut – turut. Bagian pemeriksaan dilakukan oleh perawat.  Dinas Kesehatan merupakan bagian yang menerima output dari sistem berupa laporan operasi atau christffel blindenmission daftar pasien.

109

3.1.2

Evaluasi Kelayakan Proses ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari sistem yang akan

dianalisis dan dikembangkan sistemnya dari segi teknik dan operational. a. Evaluasi Teknik Sistem yang sedang berjalan memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam menjalankan sistem yang ada. Hal ini dilihat karena sistem yang ada cukup mudah digunakan dan SDM yang ada sudah mengikuti pelatihan sebelumnya. b. Evaluasi Operational Sistem yang sedang berjalan belum dapat memenuhi kebutuhan operational, dikarenakan masih menggunakan buku besar sehingga masih terdapat kekurangan. 3.1.3 Dokumen Sasaran, Batasan dan Ruang Lingkup Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai dokumen sasaran, dokumen batasan dan dokumen ruang lingkup yang berhubungan dengan sistem.

3.1.3.1 Dokumen Sasaran Yang Berhubungan Dengan Sistem Adapun dokumen yang menjadi sasaran dalam sistem adalah sebagai berikut: 1. Adanya data rekam medik pasien 2. Adanya laporan data pasien secara keseluruhan dari mulai pemeriksaan sampai dengan operasi. 3.1.3.2 Dokumen Batasan Yang Berhubungan Dengan Sistem Adapun dokumen yang menjadi batasan dalam sistem adalah adanya laporan yang berhubungan dengan data pasien katarak seperti data pasien baru maupun data pasien lama serta rekam medik pasien. 3.1.3.3 Dokumen Ruang Lingkup Yang Berhubungan Dengan Sistem

Adapun dokumen ruang lingkup dalam sistem adalah sebagai berikut: 1. Data Pasien, menjelaskan pasien yang telah terdaftar dan berobat. 2. Data Perawat, menjelaskan perawat yang bertugas memeriksa tajam penglihatan pasien sebelum dan setelah operasi.

110

3. Data Dokter, menjelaskan dokter yang bertugas mendiagnosa serta operasi pasien. 4. Data Operasi, menjelaskan diagnosa serta operasi yang dilakukan pada pasien. 5. Data Periksa, menjelaskan tajam penglihatan mata pasien sebelum dan sesudah operasi. 6. Christffel Blindenmission, menjelaskan laporan diagnosa pasien secara keseluruhan dari mulai pemeriksaan tajam penglihatan dan operasi

3.2

Analisis Sistem ( Systems Analysis ) Pada tahap ini dilakukan analisis sistem (systems analysis) dengan

menggunakan beberapa pemodelan dan pemrosesan yang akan dirancang untuk sistem baru.

3.2.1

Konteks Organisasi ( Organizational Context ) Dalam organisasi, pengelompokan orang-orang sesuai dengan pekerjaan

yang dilakukan dan dengan tujuan yang sama dinamakan departemen atau divisi. Bagan organisasi menunjukan bagaimana departemen-departemen yang ada akan dikoordinasi sesuai jalur wewenang yang dimiliki. Bagan organisasi adalah penggambaran struktur kerja dari sebuah organisasi, dimana didalamnya menunjukan hubungan wewenang dan tanggung jawab serta deskripsi pekerjaan yang harus dilakukan. (Kristanto, 2008). Adapun struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Garut di gambarkan pada gambar 3.1 sebagai berikut:

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI DINAS KESEHATAN KABUPATEN GARUT PERDA. 23/2008

111

KEPALA DINAS

UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

BIDANG PENGENDALIAN PENYAKIT

BIDANG PENYEHATAN LINGKUNGAN

BIDANG PEMBINAAN KESEHATAN KELUARGA

BIDANG PELAYANAN KESEHATAN

SEKRETARIS

SEKSI PEMBERANTASAN PENYAKIT

SEKSI PENGAWASAN KUALITAS AIR DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN

SEKSI PEMBINAAN KESEHATAN IBU DAN BAYI

SEKSI PELAYANAN KESEHATAN DASAR DAN RUJUKAN

SUB BAG. UMUM

SEKSI PENCEGAHAN PENYAKIT

SEKSI PENYEHATAN TEMPAT UMUM, INDUSTRI DAN TEMPAT PENGOLAHAN MAKANAN

SEKSI PEMBINAAN KESEHATAN ANAK DAN USIA LANJUT

SEKSI PROMOSI DAN PERIJINAN SARANA KESEHATAN

SUB BAG. KEUANGAN

SEKSI PENGAMATAN PENYAKIT

SEKSI PENINGKATAN DAN PENGENDALIAN KUALITAS LINGKUNGAN

SEKSI PERBAIKAN GIZI

SEKSI JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT

SUB BAG. PERENCANAAN, EVALUASI & PELAPORAN

Keterangan = Garis komando/ Pembinaan = Garis Koordinasi

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kab. Garut

3.2.2

Konteks Area Fungsional ( Functional Area Context ) Pada sistem pengelolaan data pasien operasi katarak, fungsional sistem /

bagian yang terlibat dalam sistem meliputi Sub bagian perencaanaan, evaluasi dan pelaporan.

3.2.2.1 Tugas Pokok dan Tanggung Jawab Berdasarkan Peraturan Daerah Kab. Garut Nomor 22 s/d 27 Tahun 2008 Tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Perangkat Daerah Kab. Garut Bab III Bagian Dua tentang Tugas dan Fungsi Pasal 4, Dinas mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut: 1. Dinas Daerah mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. 2. Dinas Daerah dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (satu) menyelenggarakan fungsi: a. Perumusun kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya. b. Menyelenggarakan urusan pemerintahan dan pelayanan umum sesuai dengan lingkup tugasnya. c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya.

112

d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya. 3. Penjabaran tugas pokok dan fungsi Dinas Daerah akan diatur oleh lebih lanjut dengan Peraturan Bupati. Susunan organisasi Dinas Pendidikan terdiri dari 1 (satu) Kepala Dinas, 1 (satu) Sekretariat dengan 3 (tiga) Sub bagian, dan 6 (enam) Bidang, 18 (delapan belas) Seksi, UPTD dan Kelompok Jabatan Fungsional. Struktur Organisasi Dinas Pendidikan terdiri dari: 1. Kepala Dinas Kepala Dinas mempunyai tugas pokok sebagai berikut: · Perumusan, pengaturan dan pelaksanaan kebijakan teknis

operasional di bidang kesehatan sesuai dengan kebijakan nasional dan provinsi. · · Perumusan kebijakan penyelenggaraan, bimbingan dan

pengendalian operasionalisasi bidang kesehatan. Pengkoordinasian, pengendalian dan fasilitasi pelaksanaan tugas – tugas yang meliputi kesekretariatan, pembiayaan kesehatan, sarana dan prasarana kesehatan, pengendalian pelayanan kesehatan, pembinaan · · kesehatan lingkungan masyarakat, pengendalian

penyakit serta UPTD. Pengelolaan sumber daya aparatur, keuangan, sarana dan prasarana dinas. Penyelenggaraan koordinasi dan kerjasama dalam rangka

penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi dinas. Kepala Dinas, Membawahkan: 1. Sekretariat 2. Bidang Pelayanan Kesehatan 3. Bidang Pembinaan Kesehatan Keluarga 4. Bidang Penyehatan Lingkungan 5. Bidang Pengendalian Penyakit

113

6. Kelompok Jabatan Fungsional, dan 7. Unit Pelaksana Teknis Dinas. 2. Sekretariat Sekretariat dipimpin oleh seorang sekretaris yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok sebagai berikut: · · · · · Pengkoordinasian dalam penyusunan perencanaan program bidang - bidang Pengkoordinasian dalam penyusunan perencanaan program/ rencana kerja dinas Pengkoordinasian penyelenggaraan tugas – tugas bidang Pengkoordinasian penyelenggaraan tugas – tugas dinas Penyelenggaraan dan pengendalian pelaksanaan kegiatan bidang umum meliputi pengelolaan urusan surat menyurat, kearsipan, kepustakaan, humas, protocol, perlengkapan, rumah tangga dinas dan administrasi kepegawaian, melakasanakan

penatausahaan keuangan serta urusan perencanaan, evaluasi dan pelaporan · · Pengkoordinasian pelayanan administasi kesekretariatan dinas Pelaksanaan koordinasi dan kerjasama dengan unit kerja terkait.

Sekretaris, membawahkan: 1) Subbagian Umum 2) Subbagian Keuangan 3) Subbagian Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan.

2.1 Sub Bagian Umum

114

Sub Bagian Umum dipimpin oleh seorang Kepala Subbagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan urusan surat menyurat, kearsipan, kepustakaan, humas dan protocol, perlengkapan dan rumah tangga dinas, penyiapan bahan kebutuhan pegawai, pembinaan kepegawaian. 2.2 Sub Bagian Keuangan Sub Bagian Keuangan dipimpin oleh seorang Kepala Subbagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan administrasi keuangan. 2.3 Sub Bagian Perencanaan Sub Bagian Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan dipimpin oleh seorang Kepala Subbagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris yang mempunyai tugas pokok dan pengembangan pegawai serta administrasi

menyelenggarakan koordinasi dalam pengumpulan dan pengolahan data perencanaan dinas serta pelaksanaan evaluasi dan pelaporan dinas. 3. Bidang Pelayanan Kesehatan Bidang Pelayanan Kesehatan dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok merumuskan program kerja dan menyelenggarakan kebijakan kesehatan meliputi pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, promosi dan perijinan sarana kesehatan serta jaminan kesehatan masyarakat. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, membawahkan: 1) Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan 2) Seksi Promosi dan Perijinan Sarana Kesehatan, dan 3) Seksi Jaminan Kesehatan Masyarakat

115

3.1 Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan pembinaan kegiatan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.

3.2 Seksi Promosi dan Perijinan Sarana Kesehatan Seksi Perijinan Sarana Kesehatan dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan promosi dan pembinaan terhadap perijinan sarana kesehatan.

3.3 Seksi Jaminan Kesehatan Masyarakat Seksi Jaminan Kesehatan Masyarakat dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan pengelolaan dan pembinaan jaminan kesehatan masyarakat. 4. Bidang Pembinaan Kesehatan Keluarga Bidang Pembinaan Kesehatan Keluarga dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok merumuskan program kerja dan menyelenggarakan kebijakan pembinaan kesehatan masyarakat

meliputi urusan pembinaan kesehatan ibu dan bayi, pembinaan kesehatan anak dan usia lanjut dan perbaikan gizi. Kepala Bidang Pendidikan Menengah, membawahkan: 1) Seksi Pembinaan Kesehatan Ibu dan Bayi 2) Seksi Pembinaan Kesehatan Anak dan Usia Lanjut, dan 3) Seksi Perbaikan Gizi.

4.1 Seksi Pembinaan Kesehatan Ibu dan Bayi

116

Seksi Pembinaan Kesehatan Ibu dan Bayi dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kegiatan pembinaan kesehatan ibu dan bayi

4.2 Seksi Pembinaan Kesehatan Anak dan Usia Lanjut Seksi Pembinaan Kesehatan Anak dan Usia Lanjut dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kegiatan pembinaan kesehatan anak dan usia lanjut.

4.3 Seksi Perbaikan Gizi Seksi Perbaikan Gizi dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan perencanaan teknis, pengelolaan dan pembinaan perbaikan gizi. 5. Bidang Penyehatan Lingkungan Bidang Penyehatan Lingkungan dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok merumuskan program kerja dan menyelenggarakan kebijakan penyehatan lingkungan meliputi urusan pengawasan kualitas air dan penyehatan lingkungan pemukiman, penyehatan tempat – tempat umum, industri dan tempat pengolahan makanan serta peningkatan dan pengendalian kualitas lingkungan. Kepala Penyehatan Lingkungan, membawahkan: 1) Seksi Pengawasan Kualitas Air dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman 2) Seksi Penyehatan Tempat – tempat Umum, Industri dan Tempat Pengolahan Makanan, dan

117

3) Seksi Peningkatan dan Pengendalian Kualitas Lingkungan. 5.1 Seksi Pengawasan Kualitas Air dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Seksi Pengawasan Kualitas Air dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pengawasan kualitas air dan penyehatan lingkungan pemukiman. 5.2 Seksi Penyehatan Tempat – tempat Umum, Industri dan Tempat Pengolahan Makanan Seksi Penyehatan Tempat – tempat Umum, Industri dan Tempat Pengolahan Makanan dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan penyehatan tempat – tempat umum, industri dan tempat pengolahan makanan.

5.3 Seksi Peningkatan dan Pengendalian Kualitas Lingkungan Seksi Peningkatan dan Pengendalian Kualitas Lingkungan dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan peningkatan dan pengendalian kualitas lingkungan. 6. Bidang Bidang Pengendalian Penyakit. Bidang Pengendalian Penyakit dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan

pengendalian penyakit meliputi urusan pemberantasan penyakit, pencegahan penyakit dan pengamatan penyakit. Kepala Bidang Pengendalian Penyakit, membawahkan:

118

1) Seksi Pemberantasan Penyakit 2) Seksi Pencegahan Penyakit, dan 3) Seksi Pengamatan Penyakit.

6.1. Seksi Pemberantasan Penyakit Seksi Pemberantasan Penyakit dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan di bidang pemberantasan penyakit.

6.2.Seksi Pencegahan Penyakit Seksi Pengamatan Penyakit dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan di bidang pencegahan penyakit.

6.3.Seksi Pengamatan Penyakit Seksi Pengamatan Penyakit dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan di bidang pengamatan penyakit. 7. Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian kegiatan Dinas secara professional berdasarkan disiplin ilmu dan keahliannya serta disesuaikan dengan kebutuhan.

8. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)

119

Pada Dinas dapat dibentuk UPTD untuk melaksanakan sebagian kegiatan teknis professional dan/atau kegiatan penunjang yang mempunyai 1 (satu) atau beberapa kecamatan.

3.3

Analisis Sistem Berjalan (Analyze Existing System) Analisis sistem berjalan dilakukan untuk mengetahui siapa dan hal apa

saja yang berkaitan dengan sistem kemudian menggambarkannya dalam bagan alir sistem / flowmap dan data flow diagram (DFD).

3.3.1 Deskripsi Pengelolaan Data Pasien Operasi Katarak Operasi katarak dilakukan di salah satu Puskesmas sebagai unit pelaksana teknis dinas (UPTD) yang di tunjuk oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Garut. Adapun deskripsi pelayanan pasien operasi katarak adalah sebagai berikut: 1. Pasien datang ke bagian pendaftaran umum untuk melakukan proses registrasi. 2. Petugas bagian pendaftaran umum melakukan pencatatan/pengecekan ke dalam buku induk dan membuat kartu rekam medik untuk pasien baru dan mencari laporan medis lama untuk pasien lama yang di lakukan secara manual. setelah proses pendaftaran pasien akan mendapatkan kartu rekam medik (dibawa pasien). 3. Pasien menuju ke bagian pemeriksaan sesuai dengan nomor urut dengan membawa kartu rekam medik yang di dapat dari pendaftaran umum dan menyerahkannya ke petugas bagian pemeriksaan. Petugas bagian

pemeriksaan melakukan pemeriksaan tajam penglihatan (Visus) dan mencatatnya pada kartu rekam medik, kemudian kartu rekam medik ini akan diserahkan ke dokter sebelum melakukan operasi. Untuk pasien yang sudah melakukan operasi maka proses hanya sampai pada tahap pemeriksaan tajam penglihatan saja dan hasil dari pemeriksaan tersebut diserahkan ke bagian pendaftaran untuk di jadikan arsip. 4. Dokter melakukan operasi, Operasi dilakukan selama 10 – 15 menit tergantung kondisi mata pasien. Setelah operasi selesai pasien dapat

120

diijinkan pulang, namun keesokan harinya pasien tersebut harus datang kembali ke puskesmas tempat di laksanakannya operasi untuk pemeriksaan mata dengan melakukan tes tajam penglihatan (Visus) kembali pada mata yang di operasi di bagian pemeriksaan. Tes tajam penglihatan (Visus) dilakukan 1 hari dan 1 minggu setelah operasi kemudian hasil dari pemeriksaan tes tajam penglihatan (Visus) tersebut di serahkan ke bagian pendaftaran untuk di jadikan arsip dan selanjutnya di laporkan ke Dinas Kesehatan sebagai laporan dan dokumentasi.

3.3.2 Bagan Alir Dokumen Sistem Berjalan

121

Flow Map Sistem yang Berjalan Pasien Pasien Pendaftaran Umum Pendaftaran Umum
Informasi Data Pasien

Bagian Pemeriksaan Bagian Pemeriksaan
Kartu Rekam Medik

Bagian Operasi Dinas Kesehatan Bagian Operasi Dinas Kesehatan
Kartu Rekam Medik

Start

Laporan CB

Ya

Pasien Baru?

Tidak

Tes Tajam Penglihatan / Visus

Operasi Mata End

Arsip

Catat Data

Cari Data

Catat Medis Hasil Visus

Catat Medis Hasil Operasi

Kartu Rekam Medik

Kartu Rekam Medik

Buku Induk Kartu Rekam Medik Sesudah Arsip

Sebelum atau sesudah operasi Sebelum

Tidak Kartu Rekam Medik Kartu Rekam Medik

Memungkinkan operasi?

Ya

Arsip

Catat Laporan CB

Laporan CB

Gambar 3.2 Flowmap Sistem Berjalan Adapun deskripsi proses pada sistem yang sedang berjalan adalah sebagai berikut: 1. Proses registrasi pasien · · Pasien memberikan identitas kepada petugas di bagian pendaftaran. Petugas membuat data pasien dan menuliskannya pada buku induk dan kartu rekam medik.

122

2. Proses pemeriksaan pasien · · · Pasien mendapat kartu rekam medik dan diserahkan kepada perawat di bagian pemeriksaan untuk diperiksa tajam penglihatan pasien. Perawat menuliskan hasil dari pemeriksaan tajam penglihatan pasien.

3. Proses operasi pasien Pasien menuju ke bagian operasi setelah dari pemeriksaan, untuk pasien lama tidak dilakukan operasi, cukup sampai pada tahap pemeriksaan tajam penglihatan saja. · Dokter mediagnosa penyakit pasien serta melakukan operasi dan hasilnya di tulis dalam rekam medik pasien.

3.3.3

Analisis Fisik (People, Procedure, Data, Software, Hardware/ PPDSH) Adapun pada tahap analisis fisik (PPDSH) terbagi dalam 3 analisis fisik

yaitu analisis fisik proses registrasi pasien, analisis fisik proses pemeriksaan pasien dan analisis fisik proses operasi pasien.

3.3.3.1

Analisis Fisik Proses Registrasi Pasien Penggambaran analisis fisik (physical analysis) dari proses registrasi

pasien yang sedang berjalan dapat dilihat pada tabel 3.1 yaitu sebagai berikut: Tabel 3.1 Analisis Fisik PPDSH Proses Registrasi Pasien No. 1 People Petugas Procedure · Petugas menerima data identitas pasien. · Membuat kartu rekam medik pasien Memberikan identitas pasien Data Kartu rekam medik Software Hardware

2

Pasien

Kartu identitas pasien

3.3.3.2

Analisis Fisik Proses Pemeriksaan Pasien

123

Penggambaran analisis fisik (physical analysis) dari proses pemeriksaan pasien yang sedang berjalan dapat dilihat pada tabel 3.2 yaitu sebagai berikut: Tabel 3.2 Analisis Fisik PPDSH Proses Pemeriksaan Pasien No. 1 People Pasien Procedure Data Software Hardware

2

Perawat

Membawa kartu Kartu rekam rekam medik ke medik bagian pemeriksaan · Memeriksa tajam Tajam Penglihatan penglihatan pasien (Visus) pasien · Menuliskan hasil dari pemeriksaan

3.3.3.3

Analisis Fisik Proses Operasi Pasien Penggambaran analisis fisik (physical analysis) dari proses operasi pasien

yang sedang berjalan dapat dilihat pada tabel 3.3 yaitu sebagai berikut: Tabel 3.3 Analisis Fisik PPDSH Proses Operasi Pasien No. 1 People Pasien Procedure Membawa kartu rekam medik ke bagian operasi · Mendianosa serta operasi pada pasien · Menuliskan diagnosis dan hasil operasi Data Kartu medik rekam Software Hardware

2

Dokter

Diagnosis dan anamnesa

3.3.4 Analisis Logis (Input, Processing, Output, Storage, Control/ IPOSC) Analisis logis merupakan gambaran sistem yang menunjukan proses apa pada sistem yang sedang berjalan. Adapun proses analisis logis sistem pada pengelolaan data pasien operasi katarak adalah sebagai berikut:

3.3.4.1 Analisis Logis Proses Registrasi Pasien

124

Data Calon Pasien

Registrasi Pasien

Kartu Rekam Medik

Gambar 3.3 Blok Diagram Proses Registrasi Pasien Berdasarkan block diagram diatas proses registrasi pasien dimulai dari calon pasien menyerahkan identitas seperti KTP atau SIM kepada petugas yang berada di bagian pendaftaran. Kemudian petugas mencatat data pasien pada buku induk dan memberikan kartu rekam medik. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari proses registrasi pasien adalah sebagai berikut: Tabel 3.4 IPOSC Proses Registrasi Pasien Input Data pasien Proses Output Storage Control

calon Mencatat data calon Kartu rekam Data Rekam pasien pada buku medik Medik besar / Registrasi pasien

3.3.4.2 Analisis Logis Proses Pemeriksaan Pasien

Kartu Rekam Medik

Pemeriksaan tajam penglihatan / visus

Rekam Medis Data Visus pasca operasi (pasien lama)

Gambar 3.4 Blok Diagram Proses Pemeriksaan Tajam Penglihatan/ Visus Berdasarkan block diagram diatas proses pemeriksaan pasien dimulai dari pasien menyerahkan kartu rekam medik kepada perawat yang berada di bagian pemeriksaan. Kemudian perawat memeriksa visus pasien dan mencatatnya ke dalam kartu rekam medik. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari proses pemeriksaan pasien adalah sebagai berikut: Tabel 3.5 IPOSC Proses Pemeriksaan Pasien

125

Input Kartu Rekam Medik

Proses Memeriksa tajam penglihatan pasien

Output

Storage

Control

Data Rekam · rekam medik · Visus pasien baru Medik dan lama

3.3.4.3 Analisis Logis Proses Operasi Pasien

Rekam Medis

Operasi

Data Diagnosa Dokter & Anamnesa

Gambar 3.5 Blok Diagram Proses Operasi Berdasarkan block diagram diatas proses operasi pasien dimulai dari pasien menyerahkan kartu identitas berobat yang sebelumnya dari bagian pemeriksaan kepada dokter di bagian operasi. Kemudian dokter melakukan diagnosis serta anamnesa dan mencatatnya ke dalam kartu identitas berobat. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari proses pemeriksaan pasien adalah sebagai berikut: Tabel 3.6 IPOSC Proses Operasi Pasien Input Rekam Medis Proses Diagnosa serta anamnesa pasien. Output Storage Control Data Rekam · rekam medik · Diagnosa dokter Medik dan anamnesa

3.3.5 Diagram Konteks Diagram konteks merupakan bagian dari data flow diagram, yang terdiri dari satu proses, dimana proses ini mewakili dari seluruh sistem. Diagram konteks ini menggambarkan hubungan input / output antara sistem dengan lingkungan luarnya (Kristanto, 2008). Pada Sistem Pengelolaan Data Pasien Operasi Katarak, terdapat lima entitas: 1. Pasien

126

2. Bagian Pendaftaran umum 3. Bagian Pemeriksaan 4. Bagian Operasi 5. Dinas Kesehatan Adapun diagram konteks Sistem Pengelolaan Data Pasien Operasi Katarak adalah sebagai berikut:

Bag. Pendaftaran Umum Data Calon Pasien

Laporan Medis

Bag. Pemeriksaan

Data Pasien Kartu RM Kartu RM Rekam Medis Data Rekam Medis Data Medis Bag. Operasi

Pasien

Data Calon Pasien

Sistem Pengelolaan Data Pasien Katarak

Laporan CB

Dinas Kesehatan

Gambar 3.6 Diagram Konteks Sistem Yang Sedang Berjalan

3.3.5.1 Data Flow Diagram (DFD) level 0 Adapun DFD Level 0 Sistem Pengelolaan Data Pasien Baru Operasi Katarak adalah sebagai berikut:

127

Bag. Pendaftaran Umum Kartu RM

Data Calon Pasien Data Rekam Medis Data Calon Pasien 1.1 Registrasi

Pasien

Kartu RM

Bag. Pemeriksaan Data Diagnosa Awal

Data Pasien Buku Induk

1.2 Cek tajam penglihatan

Data Medis Visus Rekam Medis Rekam Medis Pasca Operasi 1.3 Operasi Data Medis Visus Rekam Medis

Data Medis Bag. Operasi

Data Rekam Medis

1.4 Pelaporan Rekam Medis

Laporan CB

Dinas Kesehatan

Gambar 3.7 DFD level 0 Sistem Yang Sedang Berjalan Untuk Pasien Baru

Berdasarkan gambar DFD Level 0 untuk pasien baru seperti di atas, maka deskripsi proses DFD Level 0 untuk pasien baru adalah sebagai berikut:  Proses 1.1 Registrasi Proses ini dilakukan oleh petugas pendaftaran, pada proses ini petugas mencatat data pasien ke dalam buku induk dan memberikan kartu rekam medik sebagai tanda bukti registrasi pasien. 

Proses 1.2 Cek Tajam Penglihatan Proses ini dilakukan oleh perawat, dimana perawat melakukan pengecekan mata sebagai diagnosa awal tajam penglihatan pasien sebelum operasi, kemudian perawat mencatat hasil diagnosa ke dalam Rekam medik.

128

Proses 1.3 Operasi Proses ini merupakan kegiatan operasi pasien, pada proses ini pasien di operasi berdasarkan hasil diagnosa dokter yang menangani operasi. Hasil rekam medik dari operasi ini di serahkan ke bagian pendaftaran untuk di jadikan arsip.

Proses 1.4 Pelaporan Rekam medik Proses ini menuliskan data rekam medik pasien operasi katarak yang kemudian diberikan ke Dinas Kesehatan dalam bentuk laporan christffel blindenmission.

Adapun DFD Level 0 Sistem Pengelolaan Data Pasien Lama Operasi Katarak adalah sebagai berikut:
Bag. Pendaftaran Umum Data Pasien

Data Calon Pasien Data Calon Pasien

Pasien

2.1 Registrasi

Kartu RM

Bag. Pemeriksaan Data Diagnosa Awal

Data Pasien Buku Induk

2.2 Cek tajam penglihatan

Laporan Medis Visus

Rekam Medis

Data Medis Visus

Data Rekam Medis

2.3 Pelaporan Rekam Medis

Laporan CB

Dinas Kesehatan

Gambar 3.8 DFD level 0 Sistem Yang Sedang Berjalan Untuk Pasien Lama.

Berdasarkan gambar DFD Level 0 untuk pasien lama seperti di atas, maka deskripsi proses DFD Level 0 untuk pasien lama adalah sebagai berikut:

129

Proses 2.1 Registrasi Proses ini dilakukan oleh petugas pendaftaran, pada proses ini petugas mencatat data pasien ke dalam buku induk dan memberikan kartu rekam medik sebagai tanda bukti registrasi pasien.

Proses 2.2 Cek Tajam Penglihatan Proses ini dilakukan oleh perawat, dimana perawat melakukan pengecekan tajam penglihatan pasien setelah operasi, kemudian perawat mencatat hasil diagnosa ke dalam Rekam medik dan di serahkan ke bagian pendaftaran untuk dijadikan arsip.

Proses 2.3 Pelaporan Rekam medik Proses ini menuliskan data rekam medik pasien operasi katarak yang kemudian diberikan ke Dinas Kesehatan dalam bentuk laporan christffel blindenmission.

3.4

Menentukan Fungsional Dari Sistem Baru ( Determine Functionality Of New System ) Pada bagian ini, penulis akan menentukan fungsional dari sistem baru /

usulan sistem pada sistem pengelolaan data pasien operasi katarak.

3.4.1 Analisis Permasalahan Dari sistem pengelolaan data pasien yang sedang berjalan masih terdapat beberapa permasalahan. Adapun permasalahan tersebut. a. Media yang digunakan untuk pengarsipan data masih berupa kertas (Buku Induk), sehingga proses pencarian data pasien ketika berkunjung memerlukan waktu yang cukup lama. b. Belum adanya fasilitas update data yang baik, sehingga setiap kali pasien datang, data kunjungannya selalu ditulis ulang. c. Data pasien ditulis berulang-ulang setiap kali membuat laporan

3.4.2

Kebutuhan – Kebutuhan Sistem

130

Pengembangan sistem informasi ini diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan sistem seperti yang diuraikan berikut: 1. Aplikasi yang dibuat diharapkan dapat membantu proses pengelolaan data pasien katarak khususnya informasi yang berkaitan dengan rekam medik. 2. Tersedianya informasi tentang data rekam medik pasien. 3. Dapat memberikan informasi secara cepat kepada user yang memakai sistem. 4. Adanya pengarsipan digital.

3.4.3 Sistem Yang Diusulkan Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang terdapat pada current system, maka akan dikembangkan sebuah sistem baru yang diharapkan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan dari sistem yang ada. Adapun pemodelan sistem baru tersebut disajikan dalam flowmap sebagai berikut:

131

Flow Map Sistem yang Diusulkan Pasien Pasien Pendaftaran Umum Pendaftaran Umum
Informasi Data Pasien

Bagian Pemeriksaan Bagian Pemeriksaan
Kartu Rekam Medik

Bagian Operasi Dinas Kesehatan Bagian Operasi Dinas Kesehatan
Kartu Rekam Medik

Start

Laporan CB

Ya

Baru atau Lama

Tidak

Tes Tajam Penglihatan / Visus

Arsip Operasi Mata End

Entry Data Pasien

Cari Data

Entry Data Visus Entry Data Operasi

Data Base

Cetak Rekam Medis

Kartu Rekam Medik Sesudah

Sebelum atau sesudah operasi Sebelum

Tidak End Cetak Laporan CB

Memungkinkan Ya operasi?

Laporan CB

Gambar 3.9 Flowmap yang diusulkan Adapun deskripsi proses pengolahan administrasi pasien yang diusulkan adalah sebagai berikut : 1. Pasien datang ke bagian pendaftaran umum untuk melakukan proses registrasi.

132

2. Petugas bagian pendaftaran umum melakukan penginputan dan pengecekan data pasien baru dan lama secara terkomputerisasi dan membuat kartu rekam medik untuk pasien baru dan mencari kartu rekam medik lama untuk pasien lama untuk di berikan pada bagian pemeriksaan. 3. setelah proses pendaftaran selesai maka pasien akan mendapatkan kartu rekam medik yang selanjutnya dibawa oleh pasien menuju bag pemeriksaan. 4. Pasien menuju ke bagian pemeriksaan sesuai dengan nomor urut dengan membawa kartu rekam medik yang di dapat dari pendaftaran umum dan menyerahkannya ke petugas bagian pemeriksaan. Petugas melakukan pemeriksaan tajam penglihatan (Visus) dan mencatatnya pada kartu rekam medik, kemudian kartu rekam medik ini akan diserahkan ke dokter sebelum dilakukan operasi. Untuk pasien yang sudah menjalani operasi maka proses hanya sampai pada tahap pemeriksaan tajam penglihatan saja. Data rekam medik hasil visus pasien yang sudah menjalani operasi kemudian di serahkan ke bagian pendaftaran umum untuk pengarsipan yang dilakukan secara terkomputerisasi. 5. Dokter melakukan operasi. Setelah operasi selesai pasien dapat diijinkan pulang, namun besoknya pasien tersebut harus datang kembali ke puskesmas tempat di laksanakannya operasi untuk pemeriksaan mata dengan melakukan tes tajam penglihatan (Visus) kembali pada mata yang di operasi di bagian pemeriksaan. Tes tajam penglihatan (Visus) dilakukan 1 hari dan 1 minggu setelah operasi kemudian hasil dari pemeriksaan tes tajam penglihatan (Visus) tersebut di serahkan ke bagian pendaftaran untuk pengarsipan yang dilakukan secara terkomputerisasi dan selanjutnya di laporkan ke Dinas Kesehatan sebagai laporan dan dokumentasi.

3.4.4 Kebutuhan IPOSC ( IPOSC Requirement ) Pada bagian ini penulis akan menggambarkan Input, Proses, Output, Storage dan Control untuk sistem yang baru, Adapun penggambaran Input,

Proses, Output, Storage dan Control tersebut akan disajikan dengan pemodelan Data Flow Diagram (DFD)

133

3.4.4.1 Diagram Konteks Pada diagram konteks ini akan menggambarkan hubungan antara sistem dengan lingkungan luarnya (Eksternal Entity). Adapun diagram konteks yang diusulkan untuk sistem informasi pengelolaan data pasien operasi katarak adalah sebagai berikut:
Bag. Pendaftaran Umum Data Calon Pasien Laporan Medis Bag. Pemeriksaan

Data Pasien Kartu RM Kartu RM Rekam Medis Data Rekam Medis Data Medis Bag. Operasi

Pasien

Data Calon Pasien

Sistem Pengelolaan Data Pasien Katarak

Laporan CB

Dinas Kesehatan

Gambar 3.10 Diagram Konteks Sistem Yang Diusulkan

3.4.4.2 Data Flow Diagram (DFD) level 0 Adapun DFD Level 0 Usulan Sistem Pengelolaan Data Pasien Baru Operasi Katarak adalah sebagai berikut:

134

Pasien

Bag. Pendaftaran Umum Data Pasien Data Calon Pasien Input Data Medis Pasien

Data Calon Pasien 1.1 Input Data Pasien

Kartu RM

Bag. Pemeriksaan Diagnosa Awal

Data Pasien

1.4 Input Data Database Medis Data Pasien Medis Pasien Data Medis Visus

1.2 Cek tajam penglihatan

Data Medis Visus 1.3 Operasi Rekam Medis

Laporan Data Medis Pasien

Data Medis Bag. Operasi

Laporan Data Medis Pasien

1.5 Pelaporan Rekam Medis

Laporan CB

Dinas Kesehatan

Gambar 3.11 DFD level 0 Sistem Yang Diusulkan Untuk Pasien Baru

Berdasarkan gambar DFD Level 0 untuk pasien baru seperti di atas, maka deskripsi proses DFD Level 0 untuk pasien baru adalah sebagai berikut:  Proses 1.1 Input Data Pasien Proses ini dilakukan oleh petugas pendaftaran, pada proses ini petugas mencatat data pasien ke dalam database dan memberikan kartu rekam medik sebagai tanda bukti pendaftaran pasien.  Proses 1.2 Cek Tajam Penglihatan Proses ini dilakukan oleh perawat, dimana perawat melakukan pengecekan mata sebagai diagnosa awal tajam penglihatan pasien sebelum operasi, kemudian perawat mencatat hasil diagnosa ke dalam kartu rekam medik.

135

Proses 1.3 Operasi Proses ini merupakan kegiatan operasi pasien, pada proses ini pasien di operasi berdasarkan hasil diagnosa dokter yang ada pada rekam medik, yang menangani operasi adalah dokter spesialis mata. Hasil rekam medik dari operasi ini di serahkan ke bagian pendaftaran untuk di jadikan arsip.

Proses 1.4 Input Data Medis Pasien Proses ini dilakukan oleh petugas pendaftaran umum, pada proses ini petugas mencatat data medis pasien ke dalam database setelah pasien selesai di operasi.

Proses 1.5 Pelaporan Rekam medik Proses ini menuliskan data rekam medik pasien operasi katarak yang kemudian diberikan ke Dinas Kesehatan dalam bentuk laporan christffel blindenmission.

Adapun DFD Level 0 usulan sistem pengelolaan data pasien lama operasi katarak adalah sebagai berikut:
Pasien

Bag. Pendaftaran Umum Data Pasien Data Calon Pasien Input Data Medis Pasien

Data Calon Pasien

2.1 Pengecekan Data Pasien

Kartu RM

Bag. Pemeriksaan Data Diagnosa Awal

Data Pasien

2.3 Input Data Database Medis Data Pasien Medis Pasien

2.2 Cek tajam penglihatan

Data Medis Visus Rekam Medis

Data Medis Visus Laporan Data Medis Pasien 2.4 Pelaporan Rekam Medis

Laporan CB

Dinas Kesehatan

Gambar 3.12 DFD level 0 Sistem Yang Diusulkan Untuk Pasien Lama.

136

Berdasarkan gambar DFD Level 0 untuk pasien lama seperti di atas, maka deskripsi proses DFD Level 0 untuk pasien lama adalah sebagai berikut:  Proses 2.1 Pengecekan Data Pasien Proses ini dilakukan oleh petugas pendaftaran, pada proses ini petugas mengecek data pasien lama ke dalam database dan memberikan kartu rekam medik sebagai tanda bukti pendaftaran pasien.  Proses 2.2 Cek Tajam Penglihatan Proses ini dilakukan oleh perawat, dimana perawat melakukan pengecekan tajam penglihatan pasien setelah operasi, kemudian perawat mencatat hasil diagnosa ke dalam kartu rekam medik dan di serahkan ke bagian pendaftaran untuk dijadikan arsip.  Proses 2.3 Input Data Medis Pasien Proses ini mencatat data medis pasien operasi katarak yang telah menjalani tes tajam penglihatan / visus ke dalam database.  Proses 2.4 Pelaporan Rekam medik Proses ini mencatat data rekam medik pasien operasi katarak yang kemudian diberikan ke Dinas Kesehatan dalam bentuk laporan christffel blindenmission.

137

BAB III ANALISIS SISTEM

Pada bab ini akan dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan tahap Preliminary Investigation dan analisis sistem (Systems analysis) menurut metode Traditional (Waterfall) Systems Development Methodologi yang dikemukakan oleh Dewitz (1996).

3.2 Preliminary investigation Preliminary investigation merupakan tahap persiapan, dimana pada tahapan ini dilakukan survey / investigasi ke lapangan atau objek penelitian dengan tujuan untuk mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan dengan sistem yang akan dikembangkan. Pada tahapan ini terdapat beberapa tahapan yaitu sasaran sistem, batasan sistem, ruang lingkup sistem dan ruang lingkup dokumen.

3.2.1

Identifikasi Sasaran, Batasan dan Ruang Lingkup Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai sasaran, batasan dan ruang

lingkup yang berhubungan dengan sistem. 3.2.1.1 Identifikasi Sasaran Sistem (Identify Objectives) Sasaran dari sistem ini adalah untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan serta permasalahan-permasalahan yang timbul pada sistem yang sedang berjalan. Sistem yang akan dikembangkan merupakan sebuah sistem informasi

terkomputerisasi yang berfungsi untuk menangani proses pengelolaan data pasien operasi katarak. Adapun sasaran yang dibutuhkan adalah sebagai berikut: e. Dapat memberikan kemudahan kepada petugas dalam mengelola data pasien operasi katarak serta memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien. f. Menyediakan laporan-laporan yang berkaitan dengan kegiatan yang terjadi di Puskesmas khususnya tentang laporan operasi katarak dengan cepat dan akurat.

138

3.2.1.2 Batasan Sistem (Constarints) Batasan sistem yang dianalisis mencakup proses pendaftaran, pemeriksaan tajam penglihatan dan operasi pasien pada sistem yang sedang berjalan. Adapun permasalahan yang timbul pada sistem yang sedang berjalan adalah sebagai berikut: 4 Belum adanya sistem yang mampu mengolah data pasien katarak dengan baik. 5 Pada proses pendaftaran, seringkali nama pasien di tulis ulang pada buku besar. 6 Pencarian data pasien yang lama menyebabkan terhambatnya pekerjaan.

3.2.1.3 Ruang Lingkup Sistem (Scope) Ruang lingkup dari Sistem Pengelolaan Data Pasien Operasi Katarak ini meliputi :  Petugas di bagian pendaftaran umum merupakan petugas yang menangani pendaftaran pasien / registrasi pasien, dan pembuatan laporan Rekam medik pasien.   Dokter merupakan orang yang melakukan diagnosa serta operasi kepada pasien. Bagian Pendaftaran Umum merupakan entitas yang ada diluar sistem tapi terlibat dalam sistem karena bagian pendaftaran memberikan input kepada sistem yang berupa data pasien.  Bagian Pemeriksaan merupakan bagian yang menangani pemeriksaan pasien seperti pemeriksaan tajam penglihatan / Visus pasien kemudian hasil tes di catat pada rekam medik, setelah dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan / Visus di lanjut ke dokter untuk dilakukan diagnosa dan operasi. Untuk pasien lama yang sudah menjalani operasi hanya di lakukan pemeriksaan tajam penglihatan saja selama 3x berturut – turut. Bagian pemeriksaan dilakukan oleh perawat.  Dinas Kesehatan merupakan bagian yang menerima output dari sistem berupa laporan operasi atau christffel blindenmission daftar pasien.

139

3.1.2

Evaluasi Kelayakan Proses ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari sistem yang akan

dianalisis dan dikembangkan sistemnya dari segi teknik dan operational. c. Evaluasi Teknik Sistem yang sedang berjalan memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam menjalankan sistem yang ada. Hal ini dilihat karena sistem yang ada cukup mudah digunakan dan SDM yang ada sudah mengikuti pelatihan sebelumnya. d. Evaluasi Operational Sistem yang sedang berjalan belum dapat memenuhi kebutuhan operational, dikarenakan masih menggunakan buku besar sehingga masih terdapat kekurangan. 3.1.3 Dokumen Sasaran, Batasan dan Ruang Lingkup Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai dokumen sasaran, dokumen batasan dan dokumen ruang lingkup yang berhubungan dengan sistem.

3.1.3.1 Dokumen Sasaran Yang Berhubungan Dengan Sistem Adapun dokumen yang menjadi sasaran dalam sistem adalah sebagai berikut: 1. Adanya data rekam medik pasien 2. Adanya laporan data pasien secara keseluruhan dari mulai

pemeriksaan sampai dengan operasi. 3.2.3.2 Dokumen Batasan Yang Berhubungan Dengan Sistem Adapun dokumen yang menjadi batasan dalam sistem adalah adanya laporan yang berhubungan dengan data pasien katarak seperti data pasien baru maupun data pasien lama serta rekam medik pasien. 3.2.3.3 Dokumen Ruang Lingkup Yang Berhubungan Dengan Sistem

Adapun dokumen ruang lingkup dalam sistem adalah sebagai berikut: 7. Data Pasien, menjelaskan pasien yang telah terdaftar dan berobat. 8. Data Perawat, menjelaskan perawat yang bertugas memeriksa tajam penglihatan pasien sebelum dan setelah operasi.

140

9. Data Dokter, menjelaskan dokter yang bertugas mendiagnosa serta operasi pasien. 10. Data Operasi, menjelaskan diagnosa serta operasi yang dilakukan

pada pasien. 11. Data Periksa, menjelaskan tajam penglihatan mata pasien sebelum

dan sesudah operasi. 12. Christffel Blindenmission, menjelaskan laporan diagnosa pasien

secara keseluruhan dari mulai pemeriksaan tajam penglihatan dan operasi

3.3

Analisis Sistem ( Systems Analysis ) Pada tahap ini dilakukan analisis sistem (systems analysis) dengan

menggunakan beberapa pemodelan dan pemrosesan yang akan dirancang untuk sistem baru.

3.2.1

Konteks Organisasi ( Organizational Context ) Dalam organisasi, pengelompokan orang-orang sesuai dengan pekerjaan

yang dilakukan dan dengan tujuan yang sama dinamakan departemen atau divisi. Bagan organisasi menunjukan bagaimana departemen-departemen yang ada akan dikoordinasi sesuai jalur wewenang yang dimiliki. Bagan organisasi adalah penggambaran struktur kerja dari sebuah organisasi, dimana didalamnya menunjukan hubungan wewenang dan tanggung jawab serta deskripsi pekerjaan yang harus dilakukan. (Kristanto, 2008). Adapun struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Garut di gambarkan pada gambar 3.1 sebagai berikut:

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI DINAS KESEHATAN KABUPATEN GARUT PERDA. 23/2008

141

KEPALA DINAS

UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

BIDANG PENGENDALIAN PENYAKIT

BIDANG PENYEHATAN LINGKUNGAN

BIDANG PEMBINAAN KESEHATAN KELUARGA

BIDANG PELAYANAN KESEHATAN

SEKRETARIS

SEKSI PEMBERANTASAN PENYAKIT

SEKSI PENGAWASAN KUALITAS AIR DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN

SEKSI PEMBINAAN KESEHATAN IBU DAN BAYI

SEKSI PELAYANAN KESEHATAN DASAR DAN RUJUKAN

SUB BAG. UMUM

SEKSI PENCEGAHAN PENYAKIT

SEKSI PENYEHATAN TEMPAT UMUM, INDUSTRI DAN TEMPAT PENGOLAHAN MAKANAN

SEKSI PEMBINAAN KESEHATAN ANAK DAN USIA LANJUT

SEKSI PROMOSI DAN PERIJINAN SARANA KESEHATAN

SUB BAG. KEUANGAN

SEKSI PENGAMATAN PENYAKIT

SEKSI PENINGKATAN DAN PENGENDALIAN KUALITAS LINGKUNGAN

SEKSI PERBAIKAN GIZI

SEKSI JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT

SUB BAG. PERENCANAAN, EVALUASI & PELAPORAN

Keterangan = Garis komando/ Pembinaan = Garis Koordinasi

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kab. Garut

3.2.2

Konteks Area Fungsional ( Functional Area Context ) Pada sistem pengelolaan data pasien operasi katarak, fungsional sistem /

bagian yang terlibat dalam sistem meliputi Sub bagian perencaanaan, evaluasi dan pelaporan.

3.2.2.1 Tugas Pokok dan Tanggung Jawab Berdasarkan Peraturan Daerah Kab. Garut Nomor 22 s/d 27 Tahun 2008 Tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Perangkat Daerah Kab. Garut Bab III Bagian Dua tentang Tugas dan Fungsi Pasal 4, Dinas mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut: 4. Dinas Daerah mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. 5. Dinas Daerah dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (satu) menyelenggarakan fungsi: e. Perumusun kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya. f. Menyelenggarakan urusan pemerintahan dan pelayanan umum sesuai dengan lingkup tugasnya. g. Pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya.

142

h. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya. 6. Penjabaran tugas pokok dan fungsi Dinas Daerah akan diatur oleh lebih lanjut dengan Peraturan Bupati. Susunan organisasi Dinas Pendidikan terdiri dari 1 (satu) Kepala Dinas, 1 (satu) Sekretariat dengan 3 (tiga) Sub bagian, dan 6 (enam) Bidang, 18 (delapan belas) Seksi, UPTD dan Kelompok Jabatan Fungsional. Struktur Organisasi Dinas Pendidikan terdiri dari: 9. Kepala Dinas Kepala Dinas mempunyai tugas pokok sebagai berikut: · Perumusan, pengaturan dan pelaksanaan kebijakan teknis

operasional di bidang kesehatan sesuai dengan kebijakan nasional dan provinsi. · · Perumusan kebijakan penyelenggaraan, bimbingan dan

pengendalian operasionalisasi bidang kesehatan. Pengkoordinasian, pengendalian dan fasilitasi pelaksanaan tugas – tugas yang meliputi kesekretariatan, pembiayaan kesehatan, sarana dan prasarana kesehatan, pengendalian pelayanan kesehatan, pembinaan · · kesehatan lingkungan masyarakat, pengendalian

penyakit serta UPTD. Pengelolaan sumber daya aparatur, keuangan, sarana dan prasarana dinas. Penyelenggaraan koordinasi dan kerjasama dalam rangka

penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi dinas. Kepala Dinas, Membawahkan: 8. Sekretariat 9. Bidang Pelayanan Kesehatan 10. Bidang Pembinaan Kesehatan Keluarga 11. Bidang Penyehatan Lingkungan 12. Bidang Pengendalian Penyakit

143

13. Kelompok Jabatan Fungsional, dan 14. Unit Pelaksana Teknis Dinas. 10. Sekretariat Sekretariat dipimpin oleh seorang sekretaris yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok sebagai berikut: · · · · · Pengkoordinasian dalam penyusunan perencanaan program bidang - bidang Pengkoordinasian dalam penyusunan perencanaan program/ rencana kerja dinas Pengkoordinasian penyelenggaraan tugas – tugas bidang Pengkoordinasian penyelenggaraan tugas – tugas dinas Penyelenggaraan dan pengendalian pelaksanaan kegiatan bidang umum meliputi pengelolaan urusan surat menyurat, kearsipan, kepustakaan, humas, protocol, perlengkapan, rumah tangga dinas dan administrasi kepegawaian, melakasanakan

penatausahaan keuangan serta urusan perencanaan, evaluasi dan pelaporan · · Pengkoordinasian pelayanan administasi kesekretariatan dinas Pelaksanaan koordinasi dan kerjasama dengan unit kerja terkait.

Sekretaris, membawahkan: 4) Subbagian Umum 5) Subbagian Keuangan 6) Subbagian Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan.

10.1

Sub Bagian Umum

144

Sub Bagian Umum dipimpin oleh seorang Kepala Subbagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan urusan surat menyurat, kearsipan, kepustakaan, humas dan protocol, perlengkapan dan rumah tangga dinas, penyiapan bahan kebutuhan pegawai, pembinaan kepegawaian. 10.2Sub Bagian Keuangan Sub Bagian Keuangan dipimpin oleh seorang Kepala Subbagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan administrasi keuangan. 10.3Sub Bagian Perencanaan Sub Bagian Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan dipimpin oleh seorang Kepala Subbagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris yang mempunyai tugas pokok dan pengembangan pegawai serta administrasi

menyelenggarakan koordinasi dalam pengumpulan dan pengolahan data perencanaan dinas serta pelaksanaan evaluasi dan pelaporan dinas. 11. Bidang Pelayanan Kesehatan Bidang Pelayanan Kesehatan dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok merumuskan program kerja dan menyelenggarakan kebijakan kesehatan meliputi pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, promosi dan perijinan sarana kesehatan serta jaminan kesehatan masyarakat. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, membawahkan: 4) Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan 5) Seksi Promosi dan Perijinan Sarana Kesehatan, dan 6) Seksi Jaminan Kesehatan Masyarakat

145

11.1Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan pembinaan kegiatan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.

11.2Seksi Promosi dan Perijinan Sarana Kesehatan Seksi Perijinan Sarana Kesehatan dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan promosi dan pembinaan terhadap perijinan sarana kesehatan.

11.3Seksi Jaminan Kesehatan Masyarakat Seksi Jaminan Kesehatan Masyarakat dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan pengelolaan dan pembinaan jaminan kesehatan masyarakat. 12. Bidang Pembinaan Kesehatan Keluarga Bidang Pembinaan Kesehatan Keluarga dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok merumuskan program kerja dan menyelenggarakan kebijakan pembinaan kesehatan masyarakat

meliputi urusan pembinaan kesehatan ibu dan bayi, pembinaan kesehatan anak dan usia lanjut dan perbaikan gizi. Kepala Bidang Pendidikan Menengah, membawahkan: 4) Seksi Pembinaan Kesehatan Ibu dan Bayi 5) Seksi Pembinaan Kesehatan Anak dan Usia Lanjut, dan 6) Seksi Perbaikan Gizi.

12.1

Seksi Pembinaan Kesehatan Ibu dan Bayi

146

Seksi Pembinaan Kesehatan Ibu dan Bayi dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kegiatan pembinaan kesehatan ibu dan bayi

12.2

Seksi Pembinaan Kesehatan Anak dan Usia Lanjut

Seksi Pembinaan Kesehatan Anak dan Usia Lanjut dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kegiatan pembinaan kesehatan anak dan usia lanjut.

12.3

Seksi Perbaikan Gizi

Seksi Perbaikan Gizi dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan perencanaan teknis, pengelolaan dan pembinaan perbaikan gizi. 13. Bidang Penyehatan Lingkungan Bidang Penyehatan Lingkungan dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok merumuskan program kerja dan menyelenggarakan kebijakan penyehatan lingkungan meliputi urusan pengawasan kualitas air dan penyehatan lingkungan pemukiman, penyehatan tempat – tempat umum, industri dan tempat pengolahan makanan serta peningkatan dan pengendalian kualitas lingkungan. Kepala Penyehatan Lingkungan, membawahkan: 4) Seksi Pengawasan Kualitas Air dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman 5) Seksi Penyehatan Tempat – tempat Umum, Industri dan Tempat Pengolahan Makanan, dan

147

6) Seksi Peningkatan dan Pengendalian Kualitas Lingkungan. 13.1 Seksi Pengawasan Kualitas Air dan Penyehatan

Lingkungan Pemukiman Seksi Pengawasan Kualitas Air dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pengawasan kualitas air dan penyehatan lingkungan pemukiman. Seksi Penyehatan Tempat – tempat Umum, Industri dan

13.2

Tempat Pengolahan Makanan Seksi Penyehatan Tempat – tempat Umum, Industri dan Tempat Pengolahan Makanan dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan penyehatan tempat – tempat umum, industri dan tempat pengolahan makanan.

13.3

Seksi Peningkatan dan Pengendalian Kualitas Lingkungan

Seksi Peningkatan dan Pengendalian Kualitas Lingkungan dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan peningkatan dan pengendalian kualitas lingkungan. 14. Bidang Bidang Pengendalian Penyakit. Bidang Pengendalian Penyakit dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan

pengendalian penyakit meliputi urusan pemberantasan penyakit, pencegahan penyakit dan pengamatan penyakit. Kepala Bidang Pengendalian Penyakit, membawahkan:

148

4) Seksi Pemberantasan Penyakit 5) Seksi Pencegahan Penyakit, dan 6) Seksi Pengamatan Penyakit.

6.4. Seksi Pemberantasan Penyakit Seksi Pemberantasan Penyakit dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan di bidang pemberantasan penyakit.

6.5.Seksi Pencegahan Penyakit Seksi Pengamatan Penyakit dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan di bidang pencegahan penyakit.

6.6.Seksi Pengamatan Penyakit Seksi Pengamatan Penyakit dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kebijakan di bidang pengamatan penyakit. 15. Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian kegiatan Dinas secara professional berdasarkan disiplin ilmu dan keahliannya serta disesuaikan dengan kebutuhan.

16. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)

149

Pada Dinas dapat dibentuk UPTD untuk melaksanakan sebagian kegiatan teknis professional dan/atau kegiatan penunjang yang mempunyai 1 (satu) atau beberapa kecamatan.

3.3

Analisis Sistem Berjalan (Analyze Existing System) Analisis sistem berjalan dilakukan untuk mengetahui siapa dan hal apa

saja yang berkaitan dengan sistem kemudian menggambarkannya dalam bagan alir sistem / flowmap dan data flow diagram (DFD).

3.3.1 Deskripsi Pengelolaan Data Pasien Operasi Katarak Operasi katarak dilakukan di salah satu Puskesmas sebagai unit pelaksana teknis dinas (UPTD) yang di tunjuk oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Garut. Adapun deskripsi pelayanan pasien operasi katarak adalah sebagai berikut: 5. Pasien datang ke bagian pendaftaran umum untuk melakukan proses registrasi. 6. Petugas bagian pendaftaran umum melakukan pencatatan/pengecekan ke dalam buku induk dan membuat kartu rekam medik untuk pasien baru dan mencari laporan medis lama untuk pasien lama yang di lakukan secara manual. setelah proses pendaftaran pasien akan mendapatkan kartu rekam medik (dibawa pasien). 7. Pasien menuju ke bagian pemeriksaan sesuai dengan nomor urut dengan membawa kartu rekam medik yang di dapat dari pendaftaran umum dan menyerahkannya ke petugas bagian pemeriksaan. Petugas bagian

pemeriksaan melakukan pemeriksaan tajam penglihatan (Visus) dan mencatatnya pada kartu rekam medik, kemudian kartu rekam medik ini akan diserahkan ke dokter sebelum melakukan operasi. Untuk pasien yang sudah melakukan operasi maka proses hanya sampai pada tahap pemeriksaan tajam penglihatan saja dan hasil dari pemeriksaan tersebut diserahkan ke bagian pendaftaran untuk di jadikan arsip. 8. Dokter melakukan operasi, Operasi dilakukan selama 10 – 15 menit tergantung kondisi mata pasien. Setelah operasi selesai pasien dapat

150

diijinkan pulang, namun keesokan harinya pasien tersebut harus datang kembali ke puskesmas tempat di laksanakannya operasi untuk pemeriksaan mata dengan melakukan tes tajam penglihatan (Visus) kembali pada mata yang di operasi di bagian pemeriksaan. Tes tajam penglihatan (Visus) dilakukan 1 hari dan 1 minggu setelah operasi kemudian hasil dari pemeriksaan tes tajam penglihatan (Visus) tersebut di serahkan ke bagian pendaftaran untuk di jadikan arsip dan selanjutnya di laporkan ke Dinas Kesehatan sebagai laporan dan dokumentasi.

3.3.2 Bagan Alir Dokumen Sistem Berjalan

151

Flow Map Sistem yang Berjalan Pasien Pasien Pendaftaran Umum Pendaftaran Umum
Informasi Data Pasien

Bagian Pemeriksaan Bagian Pemeriksaan
Kartu Rekam Medik

Bagian Operasi Dinas Kesehatan Bagian Operasi Dinas Kesehatan
Kartu Rekam Medik

Start

Laporan CB

Ya

Pasien Baru?

Tidak

Tes Tajam Penglihatan / Visus

Operasi Mata End

Arsip

Catat Data

Cari Data

Catat Medis Hasil Visus

Catat Medis Hasil Operasi

Kartu Rekam Medik

Kartu Rekam Medik

Buku Induk Kartu Rekam Medik Sesudah Arsip

Sebelum atau sesudah operasi Sebelum

Tidak Kartu Rekam Medik Kartu Rekam Medik

Memungkinkan operasi?

Ya

Arsip

Catat Laporan CB

Laporan CB

Gambar 3.2 Flowmap Sistem Berjalan Adapun deskripsi proses pada sistem yang sedang berjalan adalah sebagai berikut: 4. Proses registrasi pasien · · Pasien memberikan identitas kepada petugas di bagian pendaftaran. Petugas membuat data pasien dan menuliskannya pada buku induk dan kartu rekam medik.

152

5. Proses pemeriksaan pasien · · · Pasien mendapat kartu rekam medik dan diserahkan kepada perawat di bagian pemeriksaan untuk diperiksa tajam penglihatan pasien. Perawat menuliskan hasil dari pemeriksaan tajam penglihatan pasien.

6. Proses operasi pasien Pasien menuju ke bagian operasi setelah dari pemeriksaan, untuk pasien lama tidak dilakukan operasi, cukup sampai pada tahap pemeriksaan tajam penglihatan saja. · Dokter mediagnosa penyakit pasien serta melakukan operasi dan hasilnya di tulis dalam rekam medik pasien.

3.3.3

Analisis Fisik (People, Procedure, Data, Software, Hardware/ PPDSH) Adapun pada tahap analisis fisik (PPDSH) terbagi dalam 3 analisis fisik

yaitu analisis fisik proses registrasi pasien, analisis fisik proses pemeriksaan pasien dan analisis fisik proses operasi pasien.

3.3.3.4

Analisis Fisik Proses Registrasi Pasien Penggambaran analisis fisik (physical analysis) dari proses registrasi

pasien yang sedang berjalan dapat dilihat pada tabel 3.1 yaitu sebagai berikut: Tabel 3.1 Analisis Fisik PPDSH Proses Registrasi Pasien No. 1 People Petugas Procedure · Petugas menerima data identitas pasien. · Membuat kartu rekam medik pasien Memberikan identitas pasien Data Kartu rekam medik Software Hardware

2

Pasien

Kartu identitas pasien

3.3.3.5

Analisis Fisik Proses Pemeriksaan Pasien

153

Penggambaran analisis fisik (physical analysis) dari proses pemeriksaan pasien yang sedang berjalan dapat dilihat pada tabel 3.2 yaitu sebagai berikut: Tabel 3.2 Analisis Fisik PPDSH Proses Pemeriksaan Pasien No. 1 People Pasien Procedure Data Software Hardware

2

Perawat

Membawa kartu Kartu rekam rekam medik ke medik bagian pemeriksaan · Memeriksa tajam Tajam Penglihatan penglihatan pasien (Visus) pasien · Menuliskan hasil dari pemeriksaan

3.3.3.6

Analisis Fisik Proses Operasi Pasien Penggambaran analisis fisik (physical analysis) dari proses operasi pasien

yang sedang berjalan dapat dilihat pada tabel 3.3 yaitu sebagai berikut: Tabel 3.3 Analisis Fisik PPDSH Proses Operasi Pasien No. 1 People Pasien Procedure Membawa kartu rekam medik ke bagian operasi · Mendianosa serta operasi pada pasien · Menuliskan diagnosis dan hasil operasi Data Kartu medik rekam Software Hardware

2

Dokter

Diagnosis dan anamnesa

3.3.4 Analisis Logis (Input, Processing, Output, Storage, Control/ IPOSC) Analisis logis merupakan gambaran sistem yang menunjukan proses apa pada sistem yang sedang berjalan. Adapun proses analisis logis sistem pada pengelolaan data pasien operasi katarak adalah sebagai berikut:

3.3.4.1 Analisis Logis Proses Registrasi Pasien

154

Data Calon Pasien

Registrasi Pasien

Kartu Rekam Medik

Gambar 3.3 Blok Diagram Proses Registrasi Pasien Berdasarkan block diagram diatas proses registrasi pasien dimulai dari calon pasien menyerahkan identitas seperti KTP atau SIM kepada petugas yang berada di bagian pendaftaran. Kemudian petugas mencatat data pasien pada buku induk dan memberikan kartu rekam medik. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari proses registrasi pasien adalah sebagai berikut: Tabel 3.4 IPOSC Proses Registrasi Pasien Input Data pasien Proses Output Storage Control

calon Mencatat data calon Kartu rekam Data Rekam pasien pada buku medik Medik besar / Registrasi pasien

3.3.4.2 Analisis Logis Proses Pemeriksaan Pasien

Kartu Rekam Medik

Pemeriksaan tajam penglihatan / visus

Rekam Medis Data Visus pasca operasi (pasien lama)

Gambar 3.4 Blok Diagram Proses Pemeriksaan Tajam Penglihatan/ Visus Berdasarkan block diagram diatas proses pemeriksaan pasien dimulai dari pasien menyerahkan kartu rekam medik kepada perawat yang berada di bagian pemeriksaan. Kemudian perawat memeriksa visus pasien dan mencatatnya ke dalam kartu rekam medik. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari proses pemeriksaan pasien adalah sebagai berikut: Tabel 3.5 IPOSC Proses Pemeriksaan Pasien

155

Input Kartu Rekam Medik

Proses Memeriksa tajam penglihatan pasien

Output

Storage

Control

Data Rekam · rekam medik · Visus pasien baru Medik dan lama

3.3.4.3 Analisis Logis Proses Operasi Pasien

Rekam Medis

Operasi

Data Diagnosa Dokter & Anamnesa

Gambar 3.5 Blok Diagram Proses Operasi Berdasarkan block diagram diatas proses operasi pasien dimulai dari pasien menyerahkan kartu identitas berobat yang sebelumnya dari bagian pemeriksaan kepada dokter di bagian operasi. Kemudian dokter melakukan diagnosis serta anamnesa dan mencatatnya ke dalam kartu identitas berobat. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari proses pemeriksaan pasien adalah sebagai berikut: Tabel 3.6 IPOSC Proses Operasi Pasien Input Rekam Medis Proses Diagnosa serta anamnesa pasien. Output Storage Control Data Rekam · rekam medik · Diagnosa dokter Medik dan anamnesa

3.3.5 Diagram Konteks Diagram konteks merupakan bagian dari data flow diagram, yang terdiri dari satu proses, dimana proses ini mewakili dari seluruh sistem. Diagram konteks ini menggambarkan hubungan input / output antara sistem dengan lingkungan luarnya (Kristanto, 2008). Pada Sistem Pengelolaan Data Pasien Operasi Katarak, terdapat lima entitas: 6. Pasien

156

7. Bagian Pendaftaran umum 8. Bagian Pemeriksaan 9. Bagian Operasi 10. Dinas Kesehatan Adapun diagram konteks Sistem Pengelolaan Data Pasien Operasi Katarak adalah sebagai berikut:

Bag. Pendaftaran Umum Data Calon Pasien

Laporan Medis

Bag. Pemeriksaan

Data Pasien Kartu RM Kartu RM Rekam Medis Data Rekam Medis Data Medis Bag. Operasi

Pasien

Data Calon Pasien

Sistem Pengelolaan Data Pasien Katarak

Laporan CB

Dinas Kesehatan

Gambar 3.6 Diagram Konteks Sistem Yang Sedang Berjalan

3.3.5.1 Data Flow Diagram (DFD) level 0 Adapun DFD Level 0 Sistem Pengelolaan Data Pasien Baru Operasi Katarak adalah sebagai berikut:

157

Bag. Pendaftaran Umum Kartu RM

Data Calon Pasien Data Rekam Medis Data Calon Pasien 1.1 Registrasi

Pasien

Kartu RM

Bag. Pemeriksaan Data Diagnosa Awal

Data Pasien Buku Induk

1.2 Cek tajam penglihatan

Data Medis Visus Rekam Medis Rekam Medis Pasca Operasi 1.3 Operasi Data Medis Visus Rekam Medis

Data Medis Bag. Operasi

Data Rekam Medis

1.4 Pelaporan Rekam Medis

Laporan CB

Dinas Kesehatan

Gambar 3.7 DFD level 0 Sistem Yang Sedang Berjalan Untuk Pasien Baru

Berdasarkan gambar DFD Level 0 untuk pasien baru seperti di atas, maka deskripsi proses DFD Level 0 untuk pasien baru adalah sebagai berikut:  Proses 1.1 Registrasi Proses ini dilakukan oleh petugas pendaftaran, pada proses ini petugas mencatat data pasien ke dalam buku induk dan memberikan kartu rekam medik sebagai tanda bukti registrasi pasien. 

Proses 1.2 Cek Tajam Penglihatan Proses ini dilakukan oleh perawat, dimana perawat melakukan pengecekan mata sebagai diagnosa awal tajam penglihatan pasien sebelum operasi, kemudian perawat mencatat hasil diagnosa ke dalam Rekam medik.

158

Proses 1.3 Operasi Proses ini merupakan kegiatan operasi pasien, pada proses ini pasien di operasi berdasarkan hasil diagnosa dokter yang menangani operasi. Hasil rekam medik dari operasi ini di serahkan ke bagian pendaftaran untuk di jadikan arsip.

Proses 1.4 Pelaporan Rekam medik Proses ini menuliskan data rekam medik pasien operasi katarak yang kemudian diberikan ke Dinas Kesehatan dalam bentuk laporan christffel blindenmission.

Adapun DFD Level 0 Sistem Pengelolaan Data Pasien Lama Operasi Katarak adalah sebagai berikut:
Bag. Pendaftaran Umum Data Pasien

Data Calon Pasien Data Calon Pasien

Pasien

2.1 Registrasi

Kartu RM

Bag. Pemeriksaan Data Diagnosa Awal

Data Pasien Buku Induk

2.2 Cek tajam penglihatan

Laporan Medis Visus

Rekam Medis

Data Medis Visus

Data Rekam Medis

2.3 Pelaporan Rekam Medis

Laporan CB

Dinas Kesehatan

Gambar 3.8 DFD level 0 Sistem Yang Sedang Berjalan Untuk Pasien Lama.

Berdasarkan gambar DFD Level 0 untuk pasien lama seperti di atas, maka deskripsi proses DFD Level 0 untuk pasien lama adalah sebagai berikut:

159

Proses 2.1 Registrasi Proses ini dilakukan oleh petugas pendaftaran, pada proses ini petugas mencatat data pasien ke dalam buku induk dan memberikan kartu rekam medik sebagai tanda bukti registrasi pasien.

Proses 2.2 Cek Tajam Penglihatan Proses ini dilakukan oleh perawat, dimana perawat melakukan pengecekan tajam penglihatan pasien setelah operasi, kemudian perawat mencatat hasil diagnosa ke dalam Rekam medik dan di serahkan ke bagian pendaftaran untuk dijadikan arsip.

Proses 2.3 Pelaporan Rekam medik Proses ini menuliskan data rekam medik pasien operasi katarak yang kemudian diberikan ke Dinas Kesehatan dalam bentuk laporan christffel blindenmission.

3.4

Menentukan Fungsional Dari Sistem Baru ( Determine Functionality Of New System ) Pada bagian ini, penulis akan menentukan fungsional dari sistem baru /

usulan sistem pada sistem pengelolaan data pasien operasi katarak.

3.4.1 Analisis Permasalahan Dari sistem pengelolaan data pasien yang sedang berjalan masih terdapat beberapa permasalahan. Adapun permasalahan tersebut. d. Media yang digunakan untuk pengarsipan data masih berupa kertas (Buku Induk), sehingga proses pencarian data pasien ketika berkunjung memerlukan waktu yang cukup lama. e. Belum adanya fasilitas update data yang baik, sehingga setiap kali pasien datang, data kunjungannya selalu ditulis ulang. f. Data pasien ditulis berulang-ulang setiap kali membuat laporan

3.4.2

Kebutuhan – Kebutuhan Sistem

160

Pengembangan sistem informasi ini diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan sistem seperti yang diuraikan berikut: 5. Aplikasi yang dibuat diharapkan dapat membantu proses pengelolaan data pasien katarak khususnya informasi yang berkaitan dengan rekam medik. 6. Tersedianya informasi tentang data rekam medik pasien. 7. Dapat memberikan informasi secara cepat kepada user yang memakai sistem. 8. Adanya pengarsipan digital.

3.4.3 Sistem Yang Diusulkan Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang terdapat pada current system, maka akan dikembangkan sebuah sistem baru yang diharapkan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan dari sistem yang ada. Adapun pemodelan sistem baru tersebut disajikan dalam flowmap sebagai berikut:

161

Flow Map Sistem yang Diusulkan Pasien Pasien Pendaftaran Umum Pendaftaran Umum
Informasi Data Pasien

Bagian Pemeriksaan Bagian Pemeriksaan
Kartu Rekam Medik

Bagian Operasi Dinas Kesehatan Bagian Operasi Dinas Kesehatan
Kartu Rekam Medik

Start

Laporan CB

Ya

Baru atau Lama

Tidak

Tes Tajam Penglihatan / Visus

Arsip Operasi Mata End

Entry Data Pasien

Cari Data

Entry Data Visus Entry Data Operasi

Data Base

Cetak Rekam Medis

Kartu Rekam Medik Sesudah

Sebelum atau sesudah operasi Sebelum

Tidak End Cetak Laporan CB

Memungkinkan Ya operasi?

Laporan CB

Gambar 3.9 Flowmap yang diusulkan Adapun deskripsi proses pengolahan administrasi pasien yang diusulkan adalah sebagai berikut : 6. Pasien datang ke bagian pendaftaran umum untuk melakukan proses registrasi.

162

7. Petugas bagian pendaftaran umum melakukan penginputan dan pengecekan data pasien baru dan lama secara terkomputerisasi dan membuat kartu rekam medik untuk pasien baru dan mencari kartu rekam medik lama untuk pasien lama untuk di berikan pada bagian pemeriksaan. 8. setelah proses pendaftaran selesai maka pasien akan mendapatkan kartu rekam medik yang selanjutnya dibawa oleh pasien menuju bag pemeriksaan. 9. Pasien menuju ke bagian pemeriksaan sesuai dengan nomor urut dengan membawa kartu rekam medik yang di dapat dari pendaftaran umum dan menyerahkannya ke petugas bagian pemeriksaan. Petugas melakukan pemeriksaan tajam penglihatan (Visus) dan mencatatnya pada kartu rekam medik, kemudian kartu rekam medik ini akan diserahkan ke dokter sebelum dilakukan operasi. Untuk pasien yang sudah menjalani operasi maka proses hanya sampai pada tahap pemeriksaan tajam penglihatan saja. Data rekam medik hasil visus pasien yang sudah menjalani operasi kemudian di serahkan ke bagian pendaftaran umum untuk pengarsipan yang dilakukan secara terkomputerisasi. 10. Dokter melakukan operasi. Setelah operasi selesai pasien dapat diijinkan pulang, namun besoknya pasien tersebut harus datang kembali ke puskesmas tempat di laksanakannya operasi untuk pemeriksaan mata dengan melakukan tes tajam penglihatan (Visus) kembali pada mata yang di operasi di bagian pemeriksaan. Tes tajam penglihatan (Visus) dilakukan 1 hari dan 1 minggu setelah operasi kemudian hasil dari pemeriksaan tes tajam penglihatan (Visus) tersebut di serahkan ke bagian pendaftaran untuk pengarsipan yang dilakukan secara terkomputerisasi dan selanjutnya di laporkan ke Dinas Kesehatan sebagai laporan dan dokumentasi.

3.4.4 Kebutuhan IPOSC ( IPOSC Requirement ) Pada bagian ini penulis akan menggambarkan Input, Proses, Output, Storage dan Control untuk sistem yang baru, Adapun penggambaran Input,

Proses, Output, Storage dan Control tersebut akan disajikan dengan pemodelan Data Flow Diagram (DFD)

163

3.4.4.1 Diagram Konteks Pada diagram konteks ini akan menggambarkan hubungan antara sistem dengan lingkungan luarnya (Eksternal Entity). Adapun diagram konteks yang diusulkan untuk sistem informasi pengelolaan data pasien operasi katarak adalah sebagai berikut:
Bag. Pendaftaran Umum Data Calon Pasien Laporan Medis Bag. Pemeriksaan

Data Pasien Kartu RM Kartu RM Rekam Medis Data Rekam Medis Data Medis Bag. Operasi

Pasien

Data Calon Pasien

Sistem Pengelolaan Data Pasien Katarak

Laporan CB

Dinas Kesehatan

Gambar 3.10 Diagram Konteks Sistem Yang Diusulkan

3.4.4.2 Data Flow Diagram (DFD) level 0 Adapun DFD Level 0 Usulan Sistem Pengelolaan Data Pasien Baru Operasi Katarak adalah sebagai berikut:

164

Pasien

Bag. Pendaftaran Umum Data Pasien Data Calon Pasien Input Data Medis Pasien

Data Calon Pasien 1.1 Input Data Pasien

Kartu RM

Bag. Pemeriksaan Diagnosa Awal

Data Pasien

1.4 Input Data Database Medis Data Pasien Medis Pasien Data Medis Visus

1.2 Cek tajam penglihatan

Data Medis Visus 1.3 Operasi Rekam Medis

Laporan Data Medis Pasien

Data Medis Bag. Operasi

Laporan Data Medis Pasien

1.5 Pelaporan Rekam Medis

Laporan CB

Dinas Kesehatan

Gambar 3.11 DFD level 0 Sistem Yang Diusulkan Untuk Pasien Baru

Berdasarkan gambar DFD Level 0 untuk pasien baru seperti di atas, maka deskripsi proses DFD Level 0 untuk pasien baru adalah sebagai berikut:  Proses 1.1 Input Data Pasien Proses ini dilakukan oleh petugas pendaftaran, pada proses ini petugas mencatat data pasien ke dalam database dan memberikan kartu rekam medik sebagai tanda bukti pendaftaran pasien.  Proses 1.2 Cek Tajam Penglihatan Proses ini dilakukan oleh perawat, dimana perawat melakukan pengecekan mata sebagai diagnosa awal tajam penglihatan pasien sebelum operasi, kemudian perawat mencatat hasil diagnosa ke dalam kartu rekam medik.

165

Proses 1.3 Operasi Proses ini merupakan kegiatan operasi pasien, pada proses ini pasien di operasi berdasarkan hasil diagnosa dokter yang ada pada rekam medik, yang menangani operasi adalah dokter spesialis mata. Hasil rekam medik dari operasi ini di serahkan ke bagian pendaftaran untuk di jadikan arsip.

Proses 1.4 Input Data Medis Pasien Proses ini dilakukan oleh petugas pendaftaran umum, pada proses ini petugas mencatat data medis pasien ke dalam database setelah pasien selesai di operasi.

Proses 1.5 Pelaporan Rekam medik Proses ini menuliskan data rekam medik pasien operasi katarak yang kemudian diberikan ke Dinas Kesehatan dalam bentuk laporan christffel blindenmission.

Adapun DFD Level 0 usulan sistem pengelolaan data pasien lama operasi katarak adalah sebagai berikut:
Pasien

Bag. Pendaftaran Umum Data Pasien Data Calon Pasien Input Data Medis Pasien

Data Calon Pasien

2.1 Pengecekan Data Pasien

Kartu RM

Bag. Pemeriksaan Data Diagnosa Awal

Data Pasien

2.3 Input Data Database Medis Data Pasien Medis Pasien

2.2 Cek tajam penglihatan

Data Medis Visus Rekam Medis

Data Medis Visus Laporan Data Medis Pasien 2.4 Pelaporan Rekam Medis

Laporan CB

Dinas Kesehatan

Gambar 3.12 DFD level 0 Sistem Yang Diusulkan Untuk Pasien Lama.

166

Berdasarkan gambar DFD Level 0 untuk pasien lama seperti di atas, maka deskripsi proses DFD Level 0 untuk pasien lama adalah sebagai berikut:  Proses 2.1 Pengecekan Data Pasien Proses ini dilakukan oleh petugas pendaftaran, pada proses ini petugas mengecek data pasien lama ke dalam database dan memberikan kartu rekam medik sebagai tanda bukti pendaftaran pasien.  Proses 2.2 Cek Tajam Penglihatan Proses ini dilakukan oleh perawat, dimana perawat melakukan pengecekan tajam penglihatan pasien setelah operasi, kemudian perawat mencatat hasil diagnosa ke dalam kartu rekam medik dan di serahkan ke bagian pendaftaran untuk dijadikan arsip.  Proses 2.3 Input Data Medis Pasien Proses ini mencatat data medis pasien operasi katarak yang telah menjalani tes tajam penglihatan / visus ke dalam database.  Proses 2.4 Pelaporan Rekam medik Proses ini mencatat data rekam medik pasien operasi katarak yang kemudian diberikan ke Dinas Kesehatan dalam bentuk laporan christffel blindenmission.

167

BAB IV DESAIN SISTEM
Pada bab ini akan menjelaskan mengenai perancangan sistem (Systems Design) yang dikemukakan oleh Sandra Donaldson Dewitz (1996) tahapan-tahapan sebagai berikut: dengan

4.1 Rancangan Umum Tujuan dari desain sistem secara umum adalah untuk memberikan gambaran secara umum kepada user tentang sistem yang baru.

4.1.1 Spesifikasi Rancangan Logis (IPOSC) New System Rancangan IPOSC (Input, Proses, Output, Storage, Control) new system merupakan suatu rancangan yang dikemukakan oleh Sandra Donaldson Dewitz (1996) untuk mendeskripsikan IPOSC sistem yang baru dengan menggunakan pemodelan block diagram. 1. Proses Registrasi Pasien
Data Calon Pasien Entry Data Pasien Kartu Rekam Medik

Gambar 4.1 Block Diagram Proses Registrasi Pasien

Gambar 4.1 diatas menjelaskan proses registrasi pasien.Data pasien diolah dengan melakukan entry data calon pasien dan menghasilkan data pasien yang kemudian di simpan dalam database. Adapun IPOSC untuk proses registrasi adalah sebagai berikut:

168

Tabel 4.1 IPOSC Proses Registrasi Input Data pasien Proses Output Storage Control Otorisasi keamanan.

calon Entry data calon Kartu rekam Database pasien medik

94 2. Proses Validasi Login
Username & Password Menu Utama

Validasi Login

Gambar 4.2 Block Diagram Proses Login

Gambar 4.2 diatas menjelaskan proses login yang dimulai dari input username dan password kemudian dilakukan proses login oleh sistem dalam database. Adapun IPOSC untuk proses login adalah sebagai berikut: Tabel 4.2 IPOSC Proses Login Input Username dan password Proses Validasi login Output Menu utama Storage Database Control Otorisasi keamanan.

3.

Proses Update Pasien
Data Pasien Entry Data Pasien Data Pasien Update Data Pasien Informasi Data Pasien

Gambar 4.3 Block Diagram Proses Update Pasien

169

Gambar 4.3 diatas menjelaskan proses update yang dimulai dari data pasien kemudian dilakukan proses entry data pasien dan update oleh petugas dan disimpan dalam database. Adapun IPOSC untuk proses update pasien adalah sebagai berikut: Tabel 4.3 IPOSC Proses Update Pasien Input Data pasien Proses Entry data pasien Output Informasi data pasien Storage Database Control Otorisasi keamanan.

4.

Proses Pemeriksaan Visus
Data Pemeriksan Visus Entry Data Pemeriksaan Visus Informasi Data Visus Pasien

Gambar 4.4 Block Diagram Proses Pemeriksaa Visus

Gambar 4.4 diatas menjelaskan proses pemeriksaan visus yang dimulai dari input data pemeriksaan visus kemudian dilakukan proses entry data oleh petugas dan di simpan dalam database. Adapun IPOSC untuk proses pemeriksaan visus adalah sebagai berikut:

170

Tabel 4.4 IPOSC Proses Pemeriksaan Visus Input Data pemeriksaan visus Proses Output Storage Control Otorisasi keamanan.

Entry data Informasi Database pemeriksaan visus Data visus pasien

5.

Proses Operasi
Data Operasi Entry Data Operasi Informasi Data Operasi Pasien

Gambar 4.5 Block Diagram Proses Operasi

Gambar 4.5 diatas menjelaskan proses operasi yang dimulai dari data operasi kemudian dilakukan proses entry data operasi oleh petugas dan disimpan dalam database. Adapun IPOSC untuk proses operasi adalah sebagai berikut: Tabel 4.5 IPOSC Proses Operasi Input Data operasi Proses Entry data operasi Output Storage Control Otorisasi keamanan.

Informasi Database data operasi pasien

4.2

Rancangan Secara Terperinci Rancangan terperinci merupakan rancangan yang dilakukan secara

bertahap dan terperinci, juga sebagai gambaran secara detail dari rancangan

171

umum. Rancangan secara terperinci ini meliputi rancangan antarmuka pengguna, rancangan basis data.

4.2.1 Rancangan Spesifikasi PPDSH New System Perancangan fisik dalam pengembangan sistem informasi pengelolaan data pasien katarak ini digambarkn melalui tabel berikut: Tabel 4.6 Rancangan Spesifikasi PPDSH New System People Admin / Petugas Procedure · Mengelola data pasien · Mengelola data dokter · Mengelola data perawat · Mengelola data rekam medik · Mengelola laporan Data · Data pasien · Data dokter · Data perawat · Data rekam medik Software · OS Xp Profesional · Microsoft Office Access 2003 · Visual Basic 6.0 Hardware · CPU Processor Intel Pentium 4 · Memori 512 MByte · Harddisk 80 GByte · Monitor Video Grafik Adapter (VGA) · Keyboard dan Mouse standar atau PS 2. · Printer · Stabilizer Lanjutan Tabel 4.6 Rancangan Spesifikasi PPDSH New System

172

People Pasien

Procedure Menyerahkan kartu identitas

Data Data Identitas kartu RM pasien

Software

Hardware

Lanjutan Tabel 4.6 Rancangan Spesifikasi PPDSH New System People Dokter Procedure Membuat diagnosa serta ananesa pasien Data Data operasi pasien Software Hardware

Lanjutan Tabel 4.6 Rancangan Spesifikasi PPDSH New System People Procedure Data Data pemeriksaan visus pasien Software Hardware

Perawat Membuat laporan pemeriksaan visus pasien

4.2.2 Rancangan Antarmuka / Design User Interface Rancangan Antarmuka merupakan gambaran mengenai tampilantampilan program yang nanti akan digunakan didalam program aplikasi, adapun tampilan program yang akan digunakan adalah sebagai berikut: a. Form Log-in
Login User : Password : x

Login

Keluar

Gambar 4.6 Desain Tampilan Form Login

173

Tabel 4.7 Langkah-langkah Penggunaan Form Login No 1. 2. Kolom / Field Name User Password Keterangan Harus di entry Harus di entry, sistem akan memvalidasi karakter pada kolom password

b. Form Utama / Tampilan Utama
File Log In Keluar Data Master Transaksi Laporan Laporan Data Pasien Laporan Data Per Pasien Laporan Data Perawat Laporan Data Dokter Laporan Data Periksa Laporan Data Operasi Laporan CB About

Data Master Pasien Periksa Data Master Perawat Operasi Data Master Dokter

Gambar 4.7 Desain Tampilan Form Utama

c. Form Pasien
Form Pasien _ x

Kode Pasien Nama Tanggal Berobat Jenis Kelamin Umur Alamat

Tambah

Cetak

Simpan

Edit

Hapus

Keluar

Gambar 4.8 Desain Tampilan Form Pasien

174

Tabel 4.8 Langkah-langkah Penggunaan Form Pasien No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kolom / Field Name Nomor Pasien Nama Tgl_Berobat Jenis Kelamin Usia Alamat Keterangan Harus di entry, jika data sudah ada, maka data yang sesuai dengan Nomor Pasien tertentu akan ditampilkan semua Harus di entry Di entry dengan cara memilih dari DTPicker Di isi dengan cara memlih dari combobox Harus di entry Harus di entry

d. Form Dokter
Form Dokter _ x

Kode Dokter Nama Jenis Kelamin Alamat

Tambah Simpan

Edit

Hapus

Keluar

Gambar 4.9 Desain Tampilan Form Dokter Tabel 4.9 Langkah-langkah Penggunaan Form Dokter No 1. 2. 3. 4. Kolom / Field Name Kode Dokter Nama Jenis Kelamin Alamat Keterangan Di entry secara otomatis Harus di entry Diisi dengan cara memilih dari data combo Harus di entry

175

e. Form Perawat
Form Perawat _ x

Kode Perawat Nama Jenis Kelamin Alamat

Tambah

Simpan

Edit

Hapus

Keluar

Gambar 4.10 Desain Tampilan Form Perawat Tabel 4.10 Langkah-langkah Penggunaan Form Dokter No 1. 2. 3. 4. Kolom / Field Name Kode Perawat Nama Jenis Kelamin Alamat Keterangan Di entry secara otomatis Harus di entry Diisi dengan cara memilih dari data combo Harus di entry

f. Form Periksa

176

Form Periksa

_

x

ID Periksa Kode Perawat Kode Pasien Tanggal Periksa Visus Mata Kanan Sblm Ops Visus Mata Kiri Sblm Ops Visus 1 Hari Setelah Ops Visus 1 Minggu Setelah Ops Hasil

Tambah

Simpan

Edit

Hapus

Keluar

Gambar 4.11 Desain Tampilan Form Periksa Tabel 4.11 Langkah-langkah Penggunaan Form Periksa No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kolom / Field Name ID Periksa Kode Perawat Nomor Pasien Tanggal Periksa Visus Mata Kanan Sebelum Operasi Visus Mata Kiri Sebelum Operasi Visus 1 Hari Setelah Operasi Visus 1 Minggu Operasi Hasil Keterangan Di Entry secara otomatis Di Entry dengan cara dipilih dari combo box Di Entry dengan cara dipilih dari combo box Di entry dengan cara memilih dari DTPicker Harus di entry Harus di entry Harus di entry Harus di entry Di entry, boleh kosong tergantung kondisi riwayat pasien

f. Form Operasi

177

Form Operasi

_

x

ID Operasi Kode Dokter Kode Pasien Tanggal Operasi Diagnosa Mata Kanan Diagnosa Mata Kiri Operasi Mata Kanan Operasi Mata Kiri Komplikasi Saat Operasi Komplikasi Setelah Operasi Keterangan Tambah Simpan Edit Hapus Keluar

Gambar 4.12 Desain Tampilan Form Operasi

Tabel 4.12 Langkah-langkah Penggunaan Form Operasi No Kolom / Field Name Keterangan 1. ID Operasi Di Entry secara otomatis Di Entry dengan cara dipilih dari 2. Kode Dokter combo box Di Entry dengan cara dipilih dari 3. Nomor Pasien combo box Di entry dengan cara memilih dari 4. Tanggal Operasi DTPicker Di Entry dengan cara dipilih dari 5. Diagnosa Mata Kanan combo box Di Entry dengan cara dipilih dari 6. Diagnosa Mata Kiri combo box Di Entry dengan cara dipilih dari 7. Operasi Mata Kanan combo box Di Entry dengan cara dipilih dari 8. Operasi Mata Kiri combo box Di entry, boleh kosong tergantung 9. Keterangan kondisi riwayat pasien

178

4.2.3 Struktur Menu Program

Form Login Menu Utama

File Form Login Keluar

Data Master Form Data Master Pasien Form Data Master Dokter Form Data Master Perawat

Transaksi

Laporan Laporan Data Pasien

About

Form Periksa

Form Operasi

Laporan Data Dokter Laporan Data Perawat Laporan Data Periksa

Laporan Data Operasi Laporan Chrisffeel Blindenmission

Gambar 4.13 Struktur Menu Program 4.2.4 Rancangan Kamus Data Perancangan kamus data diperoleh berdasarkan hasil perancangan diagram aliran data. Kamus data dibuat untuk menspesifikasikan diagram aliran data yang telah dibuat yaitu dengan memperhatikan dan menggambarkan muatan aliran data (attribute), simpanan data (database), dan proses-proses. Untuk lebih jelasnya, langkah-langkah perancangan kamus data pada sistem informasi pengelolaan data pasien operasi katarak di Puskesmas Wanaraja Kabupaten Garut adalah sebagai berikut :

A. Spesifikasi Aliran Data Deskripsi Aliran Data Identitas :

179

Nama Deskripsi Sumber :

: Data Kartu Rekam Medik : Berisikan data yang memuat identitas pasien Tujuan : Proses Registrasi Pasien

Bag. Pendaftaran Umum Jenis Aliran Data:  File  Layar  Laporan

 Formulir

Internal

Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Bukti Pendaftaran Dan Kartu Rekam Medik Pasien

Gambar 4.14 Deskripsi Aliran Data Bukti Pendaftaran

Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : Proses Registrasi Pasien Jenis Aliran Data:  File  Layar  Laporan  Formulir Internal : Data Pasien : Berisikan data yang memuat semua data pasien Tujuan : Pasien

Perjalanan Struktur Data dengan aliran :

180

Informasi Pasien

Gambar 4.15 Deskripsi Aliran Data Pasien

Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : Data Dokter Jenis Aliran Data:  File Layar  Laporan  Formulir  Internal : Data Dokter : Berisikan data yang memuat semua data Dokter Tujuan : Proses Diagnosa Dokter

Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Identitas Dokter

Gambar 4.16 Deskripsi Aliran Data Dokter

Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi : Data Perawat : Berisikan data yang memuat semua data Perawat Tujuan : Proses Pemeriksaan Tajam Penglihatan / visus

Sumber : Data Perawat

181

Jenis Aliran Data:  File Layar  Laporan  Formulir  Internal

Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Identitas Perawat

Gambar 4.17 Deskripsi Aliran Data Perawat Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi : Data Pemeriksaan : Berisikan data yang memuat pemeriksaan tajam penglihatan pasien sebelum dan setelah operasi Tujuan : Dokter dan Bag. pendaftaran umum

Sumber : Proses pemeriksaan tajam penglihatan Jenis Aliran Data:  File Layar  Laporan

 Formulir

Internal

Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai data Penglihatan Pemeriksaan Tajam

Gambar 4.18 Deskripsi Aliran Data Pemeriksaan Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : : Data Operasi : Berisikan data yang memuat operasi pasien Tujuan :

182

Proses operasi Jenis Aliran Data:  File Layar  Laporan

Bag. pendaftaran umum

 Formulir

Internal

Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Data Operasi Pasien

Gambar 4.19 Deskripsi Aliran Data Operasi

B. Spesifikasi Simpanan Data Formulir Deskripsi Simpanan Data Identitas Nama Alias Deskripsi : : Pasien :: Memuat sebuah record yang berisikan identitas pasien  Sekuensial  Langsung

Jenis File :  Komputer  Manual Format File :  Basis Data  Indeks Ukuran Record : Jumlah Record Maksimum : Persentase Pertumbuhan Pertahun : Nama Rangkaian Data : Anggota Salinan Struktur Data Kunci Utama Kunci Sekunder

: : Data Pasien : Nomor_Pasien : Nama_Pasien

Komentar

: Gambar 4.20 Simpanan Data Pasien Formulir Deskripsi Simpanan Data

Identitas Nama

: : Dokter

183

Alias Deskripsi

:: Memuat sebuah record yang berisikan identitas Dokter  Sekuensial  Langsung

Jenis File :  Komputer  Manual Format File :  Basis Data  Indeks Ukuran Record : Jumlah Record Maksimum : Persentase Pertumbuhan Pertahun : Nama Rangkaian Data : Anggota Salinan : Struktur Data : Data Dokter Kunci Utama : Kode_Dokter Kunci Sekunder : Nama Dokter

Komentar

: Gambar 4.21 Simpanan Data Dokter Formulir Deskripsi Simpanan Data

Identitas Nama Alias Deskripsi

: : Perawat :: Memuat sebuah record yang berisikan identitas Perawat  Sekuensial  Langsung

Jenis File :  Komputer  Manual Format File :  Basis Data  Indeks Ukuran Record : Jumlah Record Maksimum : Persentase Pertumbuhan Pertahun : Nama Rangkaian Data : Anggota Salinan : Struktur Data : Data Perawat Kunci Utama : Kode_Perawat Kunci Sekunder : Nama Perawat

Komentar

: Gambar 4.22 Simpanan Data Perawat Formulir Deskripsi Simpanan Data

184

Identitas Nama Alias Deskripsi

: : Pemeriksaan :: Memuat sebuah record yang berisikan data Pemeriksaan Tajam Penglihatan Pasien  Sekuensial  Langsung

Jenis File :  Komputer  Manual Format File :  Basis Data  Indeks Ukuran Record : Jumlah Record Maksimum : Persentase Pertumbuhan Pertahun : Nama Rangkaian Data : Anggota Salinan Struktur Data Kunci Utama Kunci Sekunder Komentar

: : Data Pemeriksaan : ID_Periksa : Kode_Pasien

: Gambar 4.23 Simpanan Data Pemeriksaan Formulir Deskripsi Simpanan Data

Identitas Nama Alias Deskripsi

: : Operasi :: Memuat sebuah record yang berisikan data Operasi Pasien Katarak  Sekuensial  Langsung

Jenis File :  Komputer  Manual Format File :  Basis Data  Indeks Ukuran Record : Jumlah Record Maksimum : Persentase Pertumbuhan Pertahun : Nama Rangkaian Data : Anggota Salinan Struktur Data Kunci Utama Kunci Sekunder Komentar :

: : Data Operasi : ID_Operasi : Kode_Pasien

185

Gambar 4.24 Simpanan Data Operasi 4.2.5 Rancangan Struktur Data

Struktur Data Data Kartu Rekam Medik = Nomor_Pasien+ Nama_Pasien + Usia + Jenis_Kelamin + Alamat + Tanggal_Berobat 1. Struktur Data Bukti Pendaftaran Gambar 4.25 Struktur Data Bukti Pendaftaran

2. Struktur Data Pasien Struktur Data Data Pasien = Nomor_Pasien+ Nama_Pasien + Usia + Jenis_Kelamin + Alamat + Tanggal_Berobat Gambar 4.26 Struktur Data Pasien

3. Struktur Data Dokter Struktur Data Data Dokter = Kode_Dokter + Nama_Dokter + Jenis_Kelamin + Alamat Gambar 4.27 Struktur Data Dokter

186

4. Struktur Data Perawat Struktur Data Data Perawat = Kode_Perawat + Nama_Perawat + Jenis_Kelamin + Alamat Gambar 4.28 Struktur Data Perawat 5. Struktur Data Pemeriksaan Struktur Data Data Pemeriksaan = ID_Periksa Kode_Perawat + Kode_Pasien + Tanggal_Periksa + Visus_Mata_Kanan_Sebelum_Operasi + Visus_Mata_Kiri_Sebelum_Operasi + Visus_1Hari_Setelah_Operasi + Visus_1Minggu_Setelah_Operasi + Hasil. Gambar 4.29 Struktur Data Pemeriksaan 6. Struktur Data Operasi Struktur Data Data Operasi = ID_Operasi + Kode_Dokter + Nomor_Pasien + Tanggal_Operasi + Diagnosa_mata_kanan + Diagnosa_mata_kiri + Operasi_mata_kanan + Operasi_mata_kiri + Komplikasi_saat_operasi + Komplikasi_setelah_operasi + keterangan.

187

Gambar 4.30 Struktur Data Operasi 7. Struktur Simpanan Data Pasien Struktur Data Data Pasien = Nomor_Pasien + Nama_Pasien + Usia + Jenis_Kelamin + Alamat + Tanggal_Berobat + Gambar 4.31 Struktur Simpanan Data Pasien

8. Struktur Simpanan Data Dokter Struktur Data Data Dokter = Kode_Dokter + Nama_Dokter + Jenis_Kelamin + Alamat Gambar 4.32 Struktur Simpanan Data Dokter 9. Struktur Simpanan Data Perawat Struktur Data Data Perawat = Kode_Perawat + Nama_Perawat + Kelamin + Alamat

Gambar 4.33 Struktur Simpanan Data Perawat

188

10. Struktur Simpanan Data Pemeriksaan Struktur Data Data Pemeriksaan = ID_Periksa Kode_Perawat + Nomor_Pasien + Tanggal_Periksa + Visus_Mata_Kanan_Sebelum_Operasi + Visus_Mata_Kiri_Sebelum_Operasi + Visus_1Hari_Setelah_Operasi + Visus_1Minggu_Setelah_Operasi + Hasil. Gambar 4.34 Struktur Simpanan Data Pemeriksaan 11. Struktur Simpanan Data Operasi Struktur Data
Data Operasi = ID_Operasi +

Kode_Dokter + Nomor_Pasien + Tanggal_Operasi + Diagnosa_mata_kanan + Diagnosa_mata_kiri + Operasi_mata_kanan + Operasi_mata_kiri + Komplikasi_saat_operasi + Komplikasi_setelah_operasi + keterangan.

189

Gambar 4.35 Struktur Simpanan Data Operasi

4.3 Perancangan Basis Data Bentuk basis data yang dipakai pada sistem ini yaitu dengan menggunakan pemodelan database relational. Perancangan basis data ini dimaksudkan untuk menjelaskan hubungan antar entitas yang terdapat di dalam sistem informasi pengelolaan data pasien operasi katarak. Entitas relasional berisi komponenkomponen himpunan entitas dan himpunan relasi yang masing-masing dilengkapi dengan atribut-atribut yang mempresentasikan seluruh fakta yang ditinjau. Perancangan basis data diperlukan agar kita bisa memiliki basis data yang kompak dan efisien dalam penggunaan ruang penyimpanan, cepat dalam pengaksesan dan mudah dalam manipulasi (tambah, ubah, hapus) data. Dalam merancang basis data kita dapat melakukannya dengan : 1. Menerapkan normalisasi terhadap struktur tabel yang telah diketahui 2. Membuat model entity relationship. Normalisasi merupakan cara pendekatan lain dalam membangun desain logic basis data relasional yang tidak secara langsung berkaitan dengan model data, tetapi dengan menerapkan sejumlah aturan dan kriteria standar untuk menghasilkan struktur tabel yang normal. Namun dalam pelaksanaannya desain logic basis data relasional yang didasari baik oleh prinsip normalisasi maupun

190

yang didasari transformasi secara hati-hati dari model E-R ke bentuk fisik akan menghasilkan hasil yang mirip. 4.3.1 Entity Relationship Diagram Untuk menjelaskan keterhubungan antar entitas yang ada pada sistem, maka perlu dilakukan desain Entity Relational Diagram sehingga nantinya diperoleh gambaran setiap fungsi yang ada pada sistem yang dikembangkan. Adapun penggambaran ER-D untuk sistem pengelolaan data pasien operasi katarak di puskesmas wanaraja adalah sebagai berikut:
Jenis Kelamin Alamat

Nama_Perawat Kode_Perawat

Perawat ID_Periksa 1 Kode_Perawat Nomor_Pasien Tgl Periksa Hasil Periksa

Visus Mata Kanan Sebelum Operasi Visus Mata Kiri Sebelum Operasi Visus 1 Hari Setelah Operasi Visus 1 Minggu Setelah Operasi Kode_Dokter

Nomor Pasien Nama Umur

N Pasien N Operasi 1 Dokter

Nama_Dokter

Jenis Kelamin ID_Operasi Jenis Kelamin Nomor_Pasien Alamat Kode_Dokter Tanggal Operasi Diagnosa Mata Kanan Diagnosa Mata Kiri Keterangan Komplikasi Saat Operasi Komplikasi Setelah Operasi Operasi Mata Kiri Operasi Mata Kanan

Alamat

Gambar 4.36 Entity Relationship Diagram Keterangan Entitas: 1. Pasien Pasien adalah sebagai pengguna jasa pelayanan kesehatan yang membutuhkan informasi mengenai pelayanan kesehatan.

191

2. Dokter Dokter adalah petugas kesehatan yang memeriksa pasien dan membuat laporan medis serta diagnose pasien. 3. Perawat Perawat adalah petugas kesehatan yang memeriksa pasien dan membuat laporan medis awal khususnya laporan yang berkaitan dengan tajam penglihatan pasien.

Keterangan Relasi: 1. Periksa Banyak pasien yang diperiksa oleh perawat dimana relasi tersebut menghubungkan antara entitas pasien dengan entitas perawat. 2. Operasi Banyak pasien yang dioperasi oleh dokter dimana relasi tersebut menghubungkan antara entitas pasien dengan entitas perawat.

4.3.1.1 Implementasi Relasi Antar Tabel

192

Gambar 4.37 Implementasi Relasi Antar Tabel Pada Gambar 4.37 Menjelaskan relasi antar tabel serta kardinaliatasnya dalam database.

4.3.2 Normalisasi Normalisasi memberikan panduan yang sangat membantu bagi pengembang untuk mencegah penciptaan struktur tabel yang kurang fleksibel atau mengurangi ketidakefisienan. Normalisasi dapat didefinisikan sebagai : “Proses untuk mengorganisasi file untuk menghilangkan grup elemen yang berulang-ulang”. (Kendall & Kendall, 2006). Dalam Normalisasi sebuah table dikatakan berasda pada posisi BCNF (Booyce Code Normal Form) jika untuk semua KF (Ketergantungan Fungsional) dengan notasi X (kiri) dan Y (kanan), maka table tersebut harus didekomposisi berdasarkan KF yang ada, sedemikian hingga X (kiri) menjadi superkey dari tabel– tabel hasil dekomposisi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam table-tabel di bawah ini: Tabel 4.13 Normalisasi Tabel Pasien dengan Ketergantungan Fungsional

193

Nomor Pasien

Nama Pasien

Alamat

Sex

Umur

Tgl Berobat

Tabel Pasien memiliki atribut Nomor Pasien, nama pasien, alamat, sex, umur, tanggal berobat. Nomor Pasien merupakan primary key. Maka secara fungsional Nomor Pasien menentukan atribut lainnya atau sebaliknya atribut yang lainnya secara fungsional tergantung pada Nomor Pasien. Tabel 4.14 Normalisasi Tabel Dokter dengan Ketergantungan Fungsional Kode Dokter Nama Dokter Jenis kelamin Alamat

Tabel Dokter memiliki atribut kode dokter, nama dokter,jenis kelamin, alamat. Kode Dokter merupakan primary key. Maka secara fungsional kode dokter menentukan atribut lainnya atau sebaliknya atribut yang lainnya secara fungsional tergantung pada kode dokter.

Tabel 4.15 Normalisasi Tabel Perawat dengan Ketergantungan Fungsional Kode Perawat Nama Perawat Jenis kelamin Alamat

Tabel Perawat memiliki atribut kode perawat, nama perawat, jenis kelamin, alamat. Kode Perawat merupakan primary key. Maka secara fungsional kode

194

perawat menentukan atribut lainnya atau sebaliknya atribut yang lainnya secara fungsional tergantung pada kode perawat.

119

Tabel 4.16 Normalisasi Tabel Periksa dengan Ketergantungan Fungsional ID Periksa Kode Perawat Nomor Pasien Tgl Periksa Visus Mata Kanan Sebelum Operasi Visus Mata Kanan Sebelum Operasi Visus 1 Hari Setelah Operasi Visus 1 - 3 Minggu Setelah Operasi

Hasil

Tabel Periksa memiliki atribut ID Periksa, kode perawat, Nomor Pasien, tanggal periksa, visus mata kanan sebelum operasi, visus mata kiri sebelum operasi, visus 1 hari setelah operasi, visus 1 – 3 minggu setelah operasi, dan hasil. Tabel periksa merupakan relasi antara tabel pasien dengan tabel perawat. ID Periksa merupakan primary key. Maka secara fungsional kode operasi menentukan atribut lainnya atau sebaliknya atribut yang lainnya secara fungsional tergantung pada ID Periksa.

10

120

Tabel 4.17 Normalisasi Tabel Operasi dengan Ketergantungan Fungsional
Kode Operasi Kode Dokter Nomor Pasien Tgl Operasi Diagnosa Mata Kanan Diagnosa Mata Kiri Operasi Mata Kanan Operasi Mata Kiri Komplikasi saat operasi Komplikasi Setelah operasi Keterangan

Tabel Operasi memiliki atribut ID operasi, kode dokter, Nomor Pasien, tanggal operasi, diagnosa mata kanan, diagnosa mata kiri, operasi mata kanan, operasi mata kiri, komplikasi saat operasi, komplikasi setelah operasi dan keterangan. Tabel operasi merupakan relasi antara tabel pasien dengan tabel dokter. ID operasi merupakan primary key. Maka secara fungsional ID operasi menentukan atribut lainnya atau sebaliknya atribut yang lainnya secara fungsional tergantung pada ID operasi.

121

1

4.3.3 Stucture Query Language (SQL) SQL mempunyai kemampuan untuk mendefinisikan struktur data, modifikasi data dalam basis data dan menentukan konstrain sekuriti. SQL merupakan bahasa basis data relasional standard (Hariyanto, 2004). Berikut ini adalah Syntax SQL yang digunakan untuk pembuatan tabel yang berkaitan dengan Pengembangan system informasi pengelolaan data pasien operasi katarak: a. Membuat Tabel Login CREATE TABLE TLogin (username varchar(10) primary key, password VARCHAR(10)); b. Membuat Tabel Pasien CREATE TABLE TPasien (Kode_Pasien varchar(4) NOT NULL PRIMARY KEY, tgl_Berobat date, Nama_Pasien varchar(15), JK varchar(10), Umur varchar(3), Alamat varchar(30));Membuat Tabel Dokter c. Membuat Tabel Perawat CREATE TABLE TPerawat (Kode_Perawat varchar(4) NOT NULL PRIMARY KEY, Nama VARCHAR(15), Jenis_Kelamin VARCHAR(15), Alamat

VARCHAR(30)); d. Membuat Tabel Periksa CREATE TABLE TPeriksa (ID_Periksa varchar(4) NOT NULL PRIMARY KEY, Kode_Perawat varchar(4) references TPerawat (Kode_Perawat), Kode_Pasien varchar(4) references TPasien (Kode_Pasien), Tgl_Periksa date, Visus_mata_kanan_sebelum_operasi varchar(10), Visus_mata_kiri_sebelum_operasi varchar(10), Visus_1hari_setelah_operasi varchar(10), Visus_minggu_1_3_setelah_operasi varchar(10), Hasil varchar(50));

1

2

e. Membuat Tabel Operasi CREATE TABLE TOperasi (ID_Operasi varchar(4) NOT NULL PRIMARY KEY, Kode_Dokter varchar(4) references TDokter (Kode_Dokter), Kode_Pasien varchar(4) references TPasien (Kode_Pasien), Tgl_Operasi date,

Diagnosa_mata_kanan VARCHAR(30), Diagnosa_mata_kiri VARCHAR(30), Operasi_mata_kanan VARCHAR(20), Operasi_mata_kiri VARCHAR(20), Komplikasi_saat_operasi VARCHAR(20), Komplikasi_setelah_operasi

VARCHAR(20), Keterangan VARCHAR(30)); f. Manipulasi Data SELECT TPasien.Kode_Pasien, TPasien.Nama_Pasien, TPasien.Umur, IIf([JK]="Laki-laki","1",IIf([JK]="Perempuan","2")) AS [Jenis Kelamin], IIf([Diagnosa_mata_kanan]="Senile Mature Cataract","1",IIf([Diagnosa_mata_kanan]="Immature cataract","2",IIf([Diagnosa_mata_kanan]="Complication cataract","3",IIf([Diagnosa_mata_kanan]="Juvenile cataract","4",IIf([Diagnosa_mata_kanan]="Traumatic cataract","5",IIf([Diagnosa_mata_kanan]="Normal Eye","6",IIf([Diagnosa_mata_kanan]="Lain-lain","7"))))))) AS [Diagnosa mata kanan], IIf([Diagnosa_mata_kiri]="Senile Mature Cataract","1",IIf([Diagnosa_mata_kiri]="Immature cataract","2",IIf([Diagnosa_mata_kiri]="Complication cataract","3",IIf([Diagnosa_mata_kiri]="Juvenile cataract","4",IIf([Diagnosa_mata_kiri]="Traumatic cataract","5",IIf([Diagnosa_mata_kiri]="Normal Eye","6",IIf([Diagnosa_mata_kiri]="Lain-lain","7"))))))) AS [Diagnosa mata kiri], IIf([Operasi_mata_kanan]="ECCE + IOL","1",IIf([Operasi_mata_kanan]="ECCE","2",IIf([Operasi_mata_kanan]= "SICS +

3

IOL","3",IIf([Operasi_mata_kanan]="SICS","4",IIf([Operasi_mata_kanan]=" ICCE","5",IIf([Operasi_mata_kanan]="PHACO","6")))))) AS [Operasi mata kanan], IIf([Operasi_mata_kiri]="ECCE + IOL","1",IIf([Operasi_mata_kiri]="ECCE","2",IIf([Operasi_mata_kiri]="SICS + IOL","3",IIf([Operasi_mata_kiri]="SICS","4",IIf([Operasi_mata_kiri]="ICCE" ,"5",IIf([Operasi_mata_kiri]="PHACO","6")))))) AS [Operasi mata kiri], TPeriksa.Visus_mata_kanan_sebelum_operasi, TPeriksa.Visus_mata_kiri_sebelum_operasi, TPeriksa.Visus_1hari_setelah_operasi, TPeriksa.Visus_minggu_1_3_setelah_operasi, TPeriksa.Hasil, TPerawat.Kode_Perawat, IIf([Komplikasi_saat_operasi]="No. complication","1",IIf([Komplikasi_saat_operasi]="Capsular rupture","2",IIf([Komplikasi_saat_operasi]="Vitreous loss","3",IIf([Komplikasi_saat_operasi]="Corneal oedema","4",IIf([Komplikasi_saat_operasi]="Iridodialisis","5",IIf([Komplik asi_saat_operasi]="Hypaema","6",IIf([Komplikasi_saat_operasi]="Iris prolaps","7",IIf([Komplikasi_saat_operasi]="Choroidal Bleeding","8",IIf([Komplikasi_saat_operasi]="Exlusive haemorhage","9",IIf([Komplikasi_saat_operasi]="Chemosis","10",IIf([Kom plikasi_saat_operasi]="Retinal detachment","11",IIf([Komplikasi_saat_operasi]="Glucoma","12",IIf([Kom plikasi_saat_operasi]="Endhoptalmitis","13",IIf([Komplikasi_saat_operasi] ="Lain-lain","14")))))))))))))) AS [Komplikasi saat operasi], IIf([Komplikasi_setelah_operasi]="No. complication","1",IIf([Komplikasi_setelah_operasi]="Capsular rupture","2",IIf([Komplikasi_setelah_operasi]="Vitreous loss","3",IIf([Komplikasi_setelah_operasi]="Corneal oedema","4",IIf([Komplikasi_setelah_operasi]="Iridodialisis","5",IIf([Komp

4

likasi_setelah_operasi]="Hypaema","6",IIf([Komplikasi_setelah_operasi]= "Iris prolaps","7",IIf([Komplikasi_setelah_operasi]="Choroidal Bleeding","8",IIf([Komplikasi_setelah_operasi]="Exlusive haemorhage","9",IIf([Komplikasi_setelah_operasi]="Chemosis","10",IIf([K omplikasi_setelah_operasi]="Retinal detachment","11",IIf([Komplikasi_setelah_operasi]="Glucoma","12",IIf([K omplikasi_setelah_operasi]="Endhoptalmitis","13",IIf([Komplikasi_setela h_operasi]="Lain-lain","14")))))))))))))) AS [Komplikasi setelah operasi], TDokter.Kode_Dokter, TOperasi.Keterangan FROM TPerawat INNER JOIN (TDokter INNER JOIN ((TPasien INNER JOIN TOperasi ON TPasien.Kode_Pasien = TOperasi.Kode_Pasien) INNER JOIN TPeriksa ON TPasien.Kode_Pasien = TPeriksa.Kode_Pasien) ON TDokter.Kode_Dokter = TOperasi.Kode_Dokter) ON TPerawat.Kode_Perawat = TPeriksa.Kode_Perawat;

4.3.4 Struktur File Dibawah ini merupakan struktur file yang berkaitan dengan tabel – table pada pengembangan sistem informasi pengelolaan data pasien operasi katarak. Tabel 4.18 Struktur File Tabel Pasien Primary key: Nomor Pasien Nama field Nomor Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Tanggal Berobat Tipe Number Text Text Text Text Date Lebar 4 20 3 10 30 8 Nomor yang berobat Nama Dari Pasien Umur pasien Jenis Kelamin Pasien Tempat tinggal Pasien Tanggal pasien berobat Arti Pasien

Tabel 4.19 Struktur File Tabel Perawat Primary key: Kode Perawat

5

Nama field Tipe Lebar Kode Perawat Text 4 Nama Text 15 Jenis Kelamin Text 10 Alamat Text 30 Tabel 4.20 Struktur File Tabel Dokter Primary key: Kode Dokter Nama field Kode Dokter Nama Jenis Kelamin Alamat Tipe Text Text Text Text Lebar 4 15 10 30

Arti Kode Perawat Nama dari perawat Jenis Kelamin Perawat Tempat Tinggal Perawat

Arti Kode Dokter Nama dari Dokter Jenis Kelamin Dokter Tempat Tinggal Dokter

Tabel 4.21 Struktur File Tabel Periksa Primary key: ID Periksa Nama field ID Periksa Kode Perawat Nomor Pasien Tanggal Periksa Visus Mata Kanan Sebelum Operasi Visus Mata Kiri Sebelum Operasi Visus 1 Hari Setelah Operasi Visus 1 Minggu Operasi Tipe Text Text Number Date Text Lebar 4 4 4 8 10 Arti Kode Pemeriksaan pasien Kode Perawat yang memeriksa pasien Nomor Pasien yang di periksa Tanggal dilaksanakan pemeriksaan Tajam penglihatan mata kanan pasien sebelum operasi Tajam penglihatan mata kiri pasien sebelum operasi Tajam penglihatan mata pasien setelah 1 Hari menjalani operasi Tajam penglihatan mata pasien setelah 1 Minggu menjalani operasi Hasil dari pemeriksaan tajam penglihatan pasien

Text

10

Text

10

Text

10

Hasil

Text

50

6

Tabel 4.22 Struktur File Tabel Operasi Primary key: ID Operasi Nama field ID Operasi Kode Dokter Nomor Pasien Tanggal Operasi Diagnosa Mata Kanan Diagnosa Mata Kiri Operasi Mata Kanan Operasi Mata Kiri Komplikasi Saat Operasi Komplikasi Setelah Operasi Keterangan Tipe Text Text Number Date Text Text Text Lebar 4 4 4 8 30 30 20 Arti Kode operasi pasien Kode Dokter yang memeriksa pasien Nomor Pasien yang di operasi Tanggal dilaksanakan operasi Diagnosa penyakit pada mata kanan pasien Diagnosa penyakit pada mata kiri pasien Jenis operasi yang dilakukan pada mata kanan Jenis operasi yang dilakukan pada mata kiri Komplikasi yang terjadi saat operasi Komplikasi yang terjadi setelah operasi Keterangan tambahan dari hasil operasi pasien

Text Text Text Text

20 20 20 30

BAB V

7

IMPLEMENTASI SISTEM
Tahap implementasi sistem ini merupakan tahap meletakan sistem supaya dapat siap untuk dioperasikan. Dalam implementasi pengembangan sistem informasi pengelolaan data pasien operasi katarak ini Ada beberapa tahapan implementasi sistem yang harus dijalankan diantaranya adalah : 1. Persiapan sistem 2. Konversi sistem 3. Pelatihan 4. Pengujian sistem 5. Pengoperasian

5.1 Persiapan sistem Langkah pertama yang harus dilakukan sebelum menuju ke konversi sistem adalah mempersiapkan sistem terlebih dahulu. Adapun hal-hal yang harus dipersiapkan adalah sebagai berikut:

5.1.1 Persiapan Perangkat Lunak ( Software ) Perangkat lunak yang digunakan untuk pembuatan aplikasi dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan bahasa pemograman Microsoft Visul Basic 6.0, serta untuk implementasi basis datanya menggunakan Microsoft Acces 2003. Aplikasi pengembangan sistem informasi pengelolaan data pasien operasi katarak ini berjalan pada sistem operasi windows.

5.1.2 Persiapan Perangkat Keras (Hardware) Kebutuhan perangkat keras yang diperlukan untuk implementasi sistem informasi pengelolaan data pasien operasi katarak adalah : 1. CPU dengan konfigurasi : Kompatible dengan Processor Intel Pentium 4 (disarankan lebih dari itu),

8

2. Memori (disarankan 512 MByte keatas), 3. Harddisk sesuai dengan yang ada dipasaran yaitu sekitar 80 GByte (disarankan lebih dari itu).127 4. Monitor Video Grafik Adapter (VGA) atau Super VGA. 5. Keyboard 103 key dan Mouse standar atau PS 2. 6. Printer 7. Stabilizer

5.1.3 Persiapan Tenaga Pelaksana Sumber daya manusia yang terlibat didalam sistem informasi pengelolaan data pasien operasi katarak ini dapat diuraikan seperti berikut ini: b. Bagian Pendaftaran yang bertugas melayani pendaftaran pasien (entry data), dan pembuatan laporan-laporan pada sistem secara

terkomputerisasi.

5.1.4

Persiapan Sarana Pendukung Sarana pendukung yang harus dipersiapkan untuk mengimplementasikan

sistem adalah lokasi atau ruangan yang strategis yang dapat digunakan untuk menempatkan perangkat keras sehingga dapat mendukung posisi kerja yang baik dan nyaman. Dan di dalam ruangan ini harus diperhatikan faktor-faktor yang meliputi keamanan harus terjaga, suhu ruangan harus stabil, penerangan yang baik, tata ruang yang tertib, serta dekat dengan saluran telepon.

5.2 Konversi Sistem Tahap konversi sistem dilakukan setelah kode program selesai dibuat, dan sarana pendukung telah dipersiapkan dengan baik, yaitu dengan merekam data-

9

data yang diperlukan pada file baru, sehingga sistem yang baru siap untuk dioperasikan.

5.3 Pelatihan Tahapan selanjutnya adalah memberikan pelatihan kepada pengguna yang akan terlibat dengan sistem yang bersangkutan dengan memberikan petunjukpetunjuk bagaimana sistem tersebut di operasikan, sehingga nantinya pengguna dapat mengoperasikan sistem yang baru sesuai dengan yang diharapkan.

5.4 Pengujian Sistem Tahap pengujian sistem merupakan tahap dilakukannya pengujian terhadap sistem yang baru, untuk meyakinkan bahwa sistem mampu bekerja secara optimal, tahap ini dilakukan setelah semua fasilitas tersedia yaitu Hardware, Software, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia yang telah diberikan pelatihan. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan bahwa komponen-komponen sistem telah berfungsi sesuai dengan yang diharapkan. Pengujian sistem ini untuk memeriksa kekompakan antar komponen sistem dan pengujian pada program secara keseluruhan. Pengetesan program yang telah disatukan sangat perlu, hal ini untuk mengetahui apakah program dapat menerima input, memproses dan memberikan keluaran sesuai yang diharapkan.

5.5 Pengoperasian

10

Pengoperasian sistem dapat dilakukan dengan cara pengoperasian secara paralel dimana sistem baru berjalan bersamaan dengan sistem yang lama untuk beberapa waktu tertentu. Setelah diyakini bahwa sistem baru berjalan seperti yang diharapkan, sistem lama diberhentikan dan digantikan secara keseluruhan dengan sistem yang baru.

5.6 Implementasi User Interface Implementasi dari perancangan antar muka menjelaskan hal apa saja yang berkaitan dengan sistem yang baru di rancang sebagai gambaran pada pengguna sistem.

5.6.1 Form Login Form Login merupakan form yang muncul pertama kali ketika program dijalankan, hal ini untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan hak akses oleh orang yang tidak berhak dan untuk menjaga keamanan data di dalamnya.

Gambar 5.1 Tampilan Form Login Gambar 5.1 merupakan form pengisian password atau login, dimana data password pada form diambil dari database password, jika password yang dimasukkan tidak sama maka akan tampil message yang menyatakan password tidak terdaftar. 5.6.2 Form Utama

11

Gambar 5.2 Tampilan Form Utama

Gambar 5.2 merupakan form menu utama, dimana user dapat memilih form yang ada dengan menekan tombol shortcut yang tersedia.Form menu utama dapat di akses jika user telah memasukkan username dan password dengan benar.

5.6.3 Form Pasien

Gambar 5.3 Tampilan Form Pasien

12

Gambar 5.3 merupakan form pasien untuk memasukan input data pasien seperti: kode pasien, tanggal berobat, nama, jenis kelamin, umur, alamat.

5.6.4 Form Dokter

Gambar 5.4 Tampilan Form Diagnosa Dokter Gambar 5.4 merupakan form dokter untuk memasukan input data dokter seperti: kode dokter, nama, jenis kelamin, alamat. 5.6.5 Form Perawat

13

Gambar 5.5 Tampilan Form Pelaksana Terapi

Gambar 5.5 merupakan form perawat untuk memasukan input data perawat seperti: kode perawat, nama, jenis kelamin, alamat. 5.6.6 Form Periksa

Gambar 5.6 Tampilan Form Pembuatan Bon

Gambar 5.6 merupakan form periksa untuk memasukan input data pemeriksaan tajam penglihatan pasien seperti: ID periksa, kode perawat, kode

14

pasien, tanggal periksa, visus mata kanan sebelum operasi, visus mata kiri sebelum operasi, visus 1 hari setelah operasi, visus 1 – 3 minggu operasi, hasil.

5.6.7 Form Operasi

Gambar 5.7 Tampilan Form Operasi

Gambar 5.7 merupakan form operasi untuk memasukan input data operasi pasien seperti: ID operasi, kode dokter, kode pasien, tanggal operasi, Diagnosa Mata Kanan, Diagnosa Mata Kiri, Operasi Mata Kanan, Operasi Mata Kiri, Komplikas saat operasi, Komplikasi setelah Operasi, hasil.

5.6.8 Print Preview Rekam Medik Pasien

15

Gambar 5.8 Print Preview Rekam Medik Pasien

Gambar 5.8 merupakan menu untuk mencetak laporan rekam medik pasien ketika registrasi di bagian pendaftaran. Laporan ini dibawa oleh pasien menuju ruang pemeriksaan serta ruang operasi.

5.6.9 Print Preview Laporan Daftar Pasien

Gambar 5.9 Tampilan Print Preview Laporan Data Pasien

16

Gambar 5.9 merupakan menu untuk mencetak laporan data pasien keseluruhan yang telah teregistrasi dalam sistem.

5.6.10 Print Preview Laporan Periksa

Gambar 5.10 Tampilan Form Pembuatan Laporan Rekam Medis

Gambar 5.10 merupakan menu untuk mencetak laporan data pemeriksaan tajam penglihatan pasien yang telah teregistrasi dalam sistem.

5.6.11 Print Preview Laporan Operasi

Gambar 5.11 Tampilan Print Preview Laporan Operasi Gambar 5.11 merupakan menu untuk mencetak laporan data operasi pasien yang telah teregistrasi dalam sistem.

17

5.6.12 Print Preview Laporan Chrissffeel Blindenmission

Gambar 5.12 Tampilan Print Preview Laporan Chrissffeel Blindenmission

Gambar 5.12 merupakan menu untuk mencetak laporan Chrisffeel Blindenmission yang telah teregistrasi dalam sistem. Dimana dalam laporan tersebut mencakup data pasien, data dokter, data perawat, data pemeriksaan dan data operasi pasien yang selanjutnya akan dilaporakan ke Dinas Kesehatan.

5.7 Analisis Kelayakan Analisis Kelayakan merupakan suatu bentuk langkah untuk menentukan layak atau tidaknya suatu proyek system Informasi. Adapun aspek-aspek yang meliputi dalam tahapan analisis kelayakan yaitu aspek finansial yang

berhubungan dengan perancangan sistem, aspek manfaat yang masuk ke dalam rencana anggaran biaya, kelayakan teknis, operasional, ekonomi dan hukum.

5.7.1 Aspek Kelayakan Teknik a. Ketersediaan teknologi (perangkat keras) b. Ketersediaan teknologi (perangkat lunak) : Mudah : Mudah

5.7.2 Kelayakan Jadwal a. Waktu pengembangan sistem : 4 bulan

18

b. Probabilitas selesai 5.7.3 Kelayakan Operasional a. Kemampuan Karyawan b. Fasilitas Antar muka

: 99 %

: Mampu : Baik

5.7.4 Kelayakan Hukum Dari segi hukum aplikasi yang dibuat tidak melanggar peraturan perundang-undangan, etika organisasi dan etika masyarakat yang berlaku di Indonesia.

19

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis terhadap sistem yang berjalan di lapangan serta Pengembangan Sistem Informasi Pengelolaan Data Pasien Operasi Katarak, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Sistem informasi pengelolaan data pasien katarak ini merupakan alat bantu yang dapat membantu meringankan pekerjaan dalam mengelola data pasien. 2. Dengan adanya fasilitas pencarian data pasien secara otomatis dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan. 3. Penyimpanan data pasien melalui media digital (database) tidak

memerlukan media ataupun ruangan yang besar karena sudah diganti dengan sistem berbasis komputer.

6.2 Saran Saran yang dihasilkan dari analisis dan pengembangan sistem informasi ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk pengembangan sistem yang akan datang diharapkan sistem komputer bersifat jaringan agar memudahkan bagian pendaftaran dalam menginput hasil diagnosa dan menyampaikan data pasien dengan cepat ke bagian pemeriksaan dan bagian operasi. 2. Bagian yang mengoperasikan sistem ini harus memiliki kamampuan dalam menggunakan komputer dan memahami sistem yang di rancang.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->