Anda di halaman 1dari 34

BAB I

INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR

A. Pengertian Interaksi Belajar Mengajar

Interaksi belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bersifat interaktif dari

berbagai komponen untuk mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran yang telah

ditetapkan dalam perencanaan pembelajaran. Untuk sampai ke arah itu terlebih

dahulu perlu dipahami tentang arti dari istilah belajar, istilah mengajar dan istilah

interaksi. Ketiga arti dari istilah ini akan mengarahkan kepada pengertian interaksi

belajar mengajar.

Belajar secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku akibat

interaksi individu dengan lingkungan. Proses perubahan perilaku ini tidak terjadi

dengan sendirinya, tetapi ada yang sengaja direncanakan dan ada yang dengan

sendirinya terjadi karena proses kematangan. Proses yang sengaja direncanakan agar

terjadi perubahan perilaku ini disebut dengan proses belajar. Proses ini merupakan

suatu aktivitas psikis/mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan

lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan yang relatif konstan dan

berbekas. Perubahan-perubahan perilaku ini merupakan hasil belajar yang mencakup

ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik (Bloom, dkk).

Hasil belajar ranah kognitif berorientasi kepada kemampuan “berpikir”,

mencakup kemampuan yang lebih sederhana sampai dengan kemampuan untuk

memecahkan suatu masalah. Hasil belajar ranah afektif berhubungan dengan

“perasaan”, “emosi”, “sistem nilai” dan “sikap hati” yang menunjukkan penerimaan
atau penolakan terhadap sesuatu. Sedangkan hasil belajar ranah psikomotorik

berorientasi kepada ketrampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh,

atau tindakan (action) yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otot. Ketiga

hasil belajar dalam perilaku siswa tidak berdiri sendiri atau lepas satu sama lain,

tetapi merupakan satu kesatuan. Pengelompokkan ke dalam tiga ranah bertujuan

membantu usaha untuk menguraikan secara jelas dan spesifik hasil belajar yang

diharapkan.

Sedangkan Gagne mengklasifikasikan hasil belajar menjadi lima kategori

yaitu informasi verbal, kemahiran intelektual, strategi kognitif yang termasuk ranah

kognitif, sikap dari ranah afektif dan ketrampilan motorik dari ranah psikomotor.

Hasil belajar ranah kognitif dari Gagne dipilah menjadi tiga yaitu:

1. Informasi verbal merupakan kemampuan menyimpan informasi dalam ingatan

2. Ketrampilan intelektual berupa kemampuan menggunakan simbol untuk

berinteraksi, mengorganisir dan membentuk arti

3. Strategi kognitif merupakan kemampuan untuk mengatur dan mengontrol proses

berpikir dalam dirinya sendiri.

Hasil belajar motorik berhubungan dengan melakukan gerakan tubuh dengan

lancar dan tepat. Sedangkan hasil belajar sikap merupakan suatu kondisi mental yang

mempengaruhi pemilihan perilakunya.

Hasil belajar itu diperoleh dari interaksi siswa dengan lingkungan yang

sengaja direncanakan guru dalam perbuatan mengajarnya. Mengajar tidak hanya

sekadar menyampaikan materi pelajaran dari guru kepada siswa. Mengajar

merupakan seluruh kegiatan dan tindakan yang diupayakan oleh guru untuk
terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Dalam hal ini

sasaran akhirnya adalah siswa belajar. Untuk itu guru dapat memfasilitasi terjadinya

proses belajar, melakukan kegiatan di dalam dan di luar kelas. Oleh karena itu

interaksi yang terjadi dalam kegiatan belajar mengajar bervariasi.

Interaksi yang diupayakan guru baik di dalam kelas maupun di luar kelas,

memposisikan hubungan antara guru dengan siswa atau sebaliknya, dan hubungan

siswa dengan siswa.

Berdasarkan paparan ini, interaksi diartikan sebagai hubungan timbal balik.

Hubungan itu tidak bersifat sepihak bahwa guru merupakan satu-satunya subyek.

Siswa dapat juga sebagai subyek belajar. Artinya, adakalanya guru mendominasi

proses interaksi, adakalanya siswa mendominasi proses interaksi, adakalanya baik

guru maupun siswa berinteraksi secara seimbang.

Proses interaksi ini merupakan proses interaksi belajar mengajar. Guru, siswa

dan materi pelajaran adalah tiga unsur utama yang terlibat langsung dalam proses ini

agar tujuan pembelajaran tercapai. Selain unsur utama, unsur lain yang terlibat adalah

media. Dengan demikian interaksi belajar mengajar dapat didefinisikan sebagai

pendekatan khusus untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Interaksi belajar mengajar ini pada hakikatnya bermaksud mengantarkan

siswa mencapai tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Dalam praktek

mengajar, interaksi belajar mengajar yang melibatkan berbagai unsur digambarkan

dalam pola pembelajaran sebagai berikut:


Kurikulum

a
Media

b d
c
Guru Kelas Guru Kelas Media Media

Siswa

Keterangan:

Di dalam interaksi belajar mengajar pola pembelajaran ini dipilih untuk


mengkomunikasikan isi pelajaran disesuaikan dengan:
a. Pola interaksi ini guru kelas memegang kendali penuh atas berlangsungnya
kegiatan belajar mengajar (sumber beberapa orang saja).
b. Dalam pola ini guru kelas masih memegang kontrol hanya saja tidak mutlak,
karena ia dibantu oleh sumber lain.
c. Pada pola ini terdapat kontrol bersama. Sumber lain mengontrol penyajian
informasi, sedang guru kelas mengontrol disiplin dan motivasi belajar siswa.
d. Pola terakhir, sumber lain (media) mengontrol penyajian informasi secara
lengkap. Guru kelas berperan dalam merancang, mengembangkan, dan menilai
media atau menyeleksi media yang terintegrasi dengan tujuan pembelajaran,
metode yang dipilih.

Berdasarkan pola di atas interaksi belajar mengajar dapat terjadi searah, dua

arah ataupun multi arah.

Bila guru ingin menyampaikan materi pelajaran tanpa menggunakan media

maka interaksi belajar mengajar berlangsung searah atau dua arah. Perhatikan gambar

berikut:
GURU

Siswa Siswa Siswa

Jika guru ingin menyajikan materi melalui media program pembelajaran

komputer dan metode yang digunakan kerja kelompok, maka interaksi belajar

mengajar dapat berlangsung multi arah. Perhatikan gambar di bawah ini:

Guru dengan Media

Kelompok Kerja Siswa

Bila guru akan memanfaatkan kegiatan belajar individual melalui pola

pembelajaran bermedia maka interaksi yang ada seperti visual berikut.

Bahan
belajar Siswa
individua

Guru Bermedia

Berdasarkan paparan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pola

pembelajaran yang direncanakan guru relevan dengan tujuan, materi dan metode yang

dipilih.
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Interaksi Belajar Mengajar

Pelaksanaan interaksi belajar mengajar selayaknya berpegang pada apa yang

tertuang dalam perencanaan pembelajaran. Namun kenyataan yang dihadapi tidaklah

seratus persen berhasil. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor-

faktor itu adalah:

1. Faktor Guru

Guru adalah pengelola pembelajaran atau disebut pembelajar. Pada faktor

ini yang perlu diperhatikan adalah keterampilan mengajar, mengelola

tahapan pembelajaran, dan memanfaatkan metode.

2. Faktor Siswa

Siswa adalah subyek yang belajar atau disebut pebelajar. Pada faktor siswa

yang harus anda perhatikan adalah karakteristik siswa baik karakteristik

umum maupun karakteristik khusus.

3. Faktor Kurikulum

Kurikulum merupakan pedoman bagi guru dan siswa dalam

mengorganisasikan tujuan dan isi pelajaran. Pada faktor ini perlu

diperhatikan bagaimana merumuskan tujuan pembelajaran dan

mengorganisasikan isi pelajaran.

4. Faktor Lingkungan

Lingkungan atau latar adalah konteks terjadinya pengalaman belajar. Pada

faktor ini perlu diperhatikan lingkungan fisik dan lingkungan non fisisk

yang menunjang situasi interaksi belajar mengajar optimal.


Keempat faktor di atas akan diuraikan satu persatu sehingga peran masing-

masing aspek tampak nyata.

1. Faktor Guru

Di dalam interaksi belajar mengajar, guru memegang kendali utama untuk

keberhasilan tercapainya tujuan. Oleh sebab itu guru harus memiliki ketrampilan

mengajar, mengelola tahapan pembelajaran, memanfaatkan metode menggunakan

media dan mengalokasikan waktu. Kelima hal ini merupakan pendekatan guru untuk

mengkomunikasikan tindakan mengajarnya, demi tercapainya tujuan pembelajaran.

Ketrampilan Mengajar adalah sejumlah kompetensi guru yang menampilkan

kinerjanya secara profesional. Ketrampilan ini menunjukkan bagaimana guru

memperlihatkan perilakunya selama interaksi belajar mengajar berlangsung, terdiri

dari:

a. Ketrampilan membuka pelajaran, adalah kegiatan guru untuk menciptakan

suasana yang menjadikan siswa siap mental dan sekaligus menimbulkan

perhatian siswa terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari.

b. Ketrampilan menutup pelajaran, adlah kegiatan guru untuk mengakhiri proses

belajar mengajar

c. Ketrampilan menjelaskan, adalah usaha penyajian materi pembelajaran yang

diorganisasikan secara sistematis.

d. Ketrampilan mengelola kelas, yaitu kegiatan guru untuk menciptakan siklus

belajar yang kondusif.

e. Ketrampilan bertanya, adalah usaha guru untuk mengoptimalkan kemampuan

menjelaskan melalui pemberian pertanyaan kepada siswa


f. Ketrampilan memberi penguatan adalah suatu respons positif yang diberikan

guru kepada siswa yang melakukan perbuatan baik (benar) atau kurang baik

(salah).

g. Ketrampilan memberi variasi, adalah usaha guru untuk menghilangkan

kebosanan siswa dalam menerima pelajaran melalui variasi gaya mengajar,

penggunaan media, pola interaksi kegiatan siswa, dan komunikasi non verbal

(suara, mimik, gerak, kontak mata, semangat).

Tahapan Pembelajaran adalah urutan prosedur pembelajaran yang diupayakan

guru dalam menyampaikan materi pelajaran atau mengorganisasikan kegiatan belajar

mengajar. Prosedur ini lazimnya terdiri dari tiga tahap yaitu tahap pendahuluan, tahap

penyajian (inti), dan tahap penutup. De Porter mengajukan lima tahap (TANDUR)

yaitu tahap tumbuhkan, tahap alami, tahap namai, tahap demonstrasikan, tahap

ulangi, dan tahap rayakan. Pendapat lain Dick Carey mengemukakan lima tahapan

pembelajaran, yaitu tahap pra pembelajaran, tahap penyampaian informasi, tahap

partisipasi siswa, tahap tes dan tahap tindak lanjut. Ketiga pandangan ini walaupun

berbeda tetapi mempunyai makna yang sama. Perhatikan bagan di bawah ini dan

contoh implementasinya.

Pendahuluan Inti Penutup


Tumbuhkan Alami, Namai, Ulangi dan rayakan
Demonstrasikan
Pra Pembelajaran Penyampaian informasi, Tes dan tindak lanjut
partisipasi siswa

1) Pendahuluan
a. memberitahukan tujuan pembelajaran

b. memberikan gambaran relevansi

c. memberikan gambaran pokok masalah yang akan dibahas

d. memberikan gambaran kegiatan yang akan dilakukan

e. memberikan penilaian pendahuluan melalui apersepsi

2) Penyajian (Inti)

a. menjelaskan materi disertai contoh

b. memberi kesempatan kepada murid terlibat secara aktif

c. memberi penguatan

d. mengorganisir waktu, siswa, dan fasilitas belajar

3) Penutup

a. menyimpulkan materi pembelajaran

b. melaksanakan penilaian

c. tindak lanjut

Metode adalah cara guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa untuk

mencapai tujuan tertentu. Beberapa metode dapat dimanfaatkan guru mulai dari yang

sederhana sampai dengan yang kompleks. Namun terdapat metode-metode khusus

untuk tujuan-tujuan tertentu seperti metode bercerita, metode membaca, metode

menulis dan lain-lain. Di bawah ini dikemukakan metode yang lazim dimanfaatkan

guru.

a. Metode ceramah
b. Metode demonstrasi

c. Metode diskusi

d. Metode latihan

e. Metode simulasi

f. Metode eksperimen

g. Metode bermain peran

h. Metode sumbang saran

i. Metode studi kasus, dan lain-lain

Media adalah segala sesuatu yang mengantarkan pesan dari sumber kepada

penerima. Dalam konteks interaksi belajar mengajar guru harus terampil untuk

menggunakannya atau memanfaatkannya baik itu sebagai alat bantu mengajar atau

sebagai media pembelajaran. Metode yang dipergunakan/dimanfaatkan, dari mulai

yang sederhana sampai dengan yang rumit harus disesuaikan dengan tujuan

pembelajaran yang akan dicapainya dan situasi kondisi lingkungannya. Guru dapat

memanfaatkan media grafis, media audio, media visual, media audio visual secara

sendiri-sendiri atau mengkombinasikannya.

Waktu menunjukkan kapan dan berapa lama suatu pembelajaran

dilaksanakan atau diselesaikan. Guru harus terampil mengalokasikan waktu untuk

mata-mata pelajaran tertentu. Misalnya untuk mata pelajaran Matematika

ditempatkan pada pagi hari karena proses berpikir siswa lebih mudah dan lebih jernih.

Begitu juga halnya dengan kegiatan olahraga. Selain itu, guru perlu mengalokasikan

waktu dalam bentuk perbandingan antara kegiatan guru dengan kegiatan siswa.

Seperti perbandingan kegiatan laboratorium, alokasi waktu untuk siswa


melaksanakan praktikum lebih besar daripada guru yaitu 80%:20%. Alokasi waktu

lainnya yang harus diperhatikan guru adalah waktu yang disediakan untuk siswa yang

cepat dan yang lamban. Siswa yang cepat belajar diberi pengayaan dan siswa yang

lamban ataupun belum mencapai tingkat penguasaan diberikan perbaikan/remedial.

Kegiatan ini akan lebih efektif bila guru mengalokasikan waktu di luar jam belajar.

Misalnya waktu selepas sekolah, atau hari lain sebelum materi pelajaran baru

dilanjutkan.

2. Faktor Siswa

Siswa di dalam interaksi belajar mengajar adalah subyek yang akan mencapai

tujuan pembelajaran dalam bentuk hasil belajar. Setiap siswa memiliki karakteristik

umum dan karakteristik khusus.

Salah satu karakteristik umum dari siswa adalah usia, dan dapat

dikategorikan ke dalam:

a. Usia kanak-kanak yaitu usia pra sekolah sampai dengan usia sekolah dasar

(4-11 tahun) ditandai dengan munculnya masa peka dan ketrampilan

bersosialisasi.

b. Usia sekolah lanjutan pertama (12-14 tahun) dimana pada usia ini ditandai

dengan munculnya puberpas dari setiap siswa

c. Usia sekolah lanjutan atas (15-17 tahun) dimana pada usia ini siswa mulai

mencari identitas diri.

Kelompok usia siswa ini perlu sebagai dasar pertimbangan guru agar dapat

melaksanakan interaksi belajar mengajar. Dengan kata lain, guru perlu melakukan
analisis ciri-ciri siswa. Sebab dengan mengetahui lebih jauh analisis ciri-ciri siswa,

maka dapat diketahui pula tingkat kemampuan awal, pengalaman, tingkat kemahiran

bahasa, latar belakang sosial ekonomis dan budaya. Jadi guru dapat memperoleh

karakteristik siswanya secara memadai.

Karakteristik siswa secara khusus dapat dilihat dari berbagai sudut. Antara

lain dari sudut gaya belajar. Gaya belajar adalah modalitas belajar yang dimiliki

siswa, siswa dapat belajar dengan cara melihat (visual), dengan cara mendengar

(auditorial), dan dengan cara bergerak: bekerja dan menyentuh (kinestetik). Selain

gaya belajar, siswa dapat dianalisis melalui kecerdasan majemuk. Kecerdasan

majemuk ini mulai dikenal tahun 1990, terdiri dari SLIM-N-BIL:

1. Spasial-visual: berpikir dalam citra dan gambar

2. Linguistik-verbal: berpikir dalam kata-kata

3. Interpersonal: berpikir melalui komunikasi dengan orang lain

4. Musikal-Ritmik: berpikir dalam irama dan melodi

5. Naturalis: berpikir dalam acuan alam

6. Badan-Kinestetik: berpikir melalui sensasi dan gerakan fisik

7. Intrapersonal: berpikir secara reflektif

8. Logis-Matematis: berpikir dengan penalaran

Melalui karakteristik siswa tersebut akan memberikan dampak pada disiplin

yang akan diterapkan dan pendekatan yang dilakukan guru dalam mengatasi masalah

siswa secara individual/kelompok.

3. Faktor Kurikulum
Kurikulum yang digunakan saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi. Di

dalam kurikulum setiap mata pelajaran dituangkan kompetensi, indikator pencapaian

hasil belajar dan materi pelajaran.

Komponen pertama dan kedua yaitu kompetensi dan indikator merupakan

tujuan pembelajaran dalam bentuk perilaku (hasil belajar) yang harus diukur dengan

menggunakan berbagai teknik dan alat penilaian. Hasil belajar dalam ranah kognitif,

ranah afektif ataukah ranah psikomotor menentukan pelaksanaan interaksi belajar

mengajar yang diupayakan guru.

Perhatikan contoh di bawah ini:

a. Kompetensi dasar

Melakukan operasi hitung bilangan cacah

b. Indikator

- Siswa dapat mengurutkan bilangan cacah dari terkecil sampai dengan

terbesar

- Siswa dapat melakukan operasi perkalian bilangan ratusan secara

tersusun

c. Interaksi belajar mengajar yang direncanakan

- Kegiatan untuk mencapai hasil belajar dapat menggunakan metode

induktif dan metode pemberian tugas

- Pola pembelajaran yang dipilih adalah guru dibantu dengan media

- Dan seterusnya
Sedangkan materi pelajaran dalam kurikulum harus diorganisasikan untuk

memudahkan siswa memahaminya. Materi pelajaran adalah isi pelajaran yang

berfungsi sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran bersamaan dengan

prosedur didaktis yang digunakan guru.

Dilihat dari isi pelajaran, materi pelajaran dapat dibedakan menjadi empat tipe

yaitu fakta, konsep, prosedur dan prinsip. Untuk mengetahui bahwa suatu materi

dikategorikan ke dalam tipe tersebut dapat dikaitkan dengan sejumlah pertanyaan

berikut:

1. Apakah siswa diminta untuk mengingat atau menyebutkan nama, simbol,

waktu, dan tempat peristiwa terjadi?

Jika jawabannya “ya”, materi pelajaran tergolong ke dalam fakta.

2. Apakah siswa diminta untuk mengemukakan suatu definisi, menuliskan

ciri khas sesuatu, mengklarifikasikan beberapa contoh sesuai dengan suatu

definisi?

Jika jawabannya “ya”, maka materi pelajaran yang diajarkan adalah

konsep.

3. Apakah siswa diminta untuk menjelaskan langkah-langkah, prosedur

secara urut, memecahkan suatu soal, atau membuat sesuatu?

Bila “ya”, maka materi pelajaran termasuk prosedur.

4. Apakah siswa diminta untuk mengemukakan hubungan antara beberapa

konsep atau menjelaskan sebab-sebab dan akibat?

Bila “ya”, maka materi pelajaran termasuk prinsip.


Keempat tipe materi ini perlu diorganisasikan untuk memudahkan siswa

dalam mempelajarinya.

Pengorganisasian materi pelajaran dari sisi guru akan membantunya dalam

penyajian isi pelajaran. Sedangkan dari sisi siswa, suatu materi pelajaran yang telah

diorganisasikan sedemikian rupa akan membangkitkan motivasi belajarnya,

memudahkan untuk menerima dan mengolahnya, dan dapat melibatkan diri secara

aktif. Oleh karena itu, materi pelajaran diorganisasikan dengan menerapkan prinsip-

prinsip komunikasi -desain pesan). Prinsip-prinsip itu adalah:

1. Menempatkan diri pada siswa, artinya materi pelajaran disusun sesuai

dengan tingkat perkembangan siswa.

2. Menentukan alat komunikasi untuk menyajikannya dalam bahasa tulisan

dan atau bahasa lisan, ataupun melalui media komunikasi visual-audio-

audio visual.

3. Menuangkannya ke dalam lambang-lambang verbal dan non verbal

(encording), agar pesan yang diterima ditafsirkan oleh siswa sama persis

(decoding).

Beberapa pertanyaan dapat diajukan untuk mengolah isi pesannya, antara lain:

a. Jenis pesan manakah yang sebaiknya disampaikan secara lisan dalam

kelas?

b. Jenis pesan manakah yang sebaiknya disampaikan secara visual (tulisan)?

c. Jenis pesan manakah yang sebaiknya disampaikan melalui gambar-

gambar?
d. Jenis pesan manakah yang sebaiknya disampaikan secara non verbal

(rabaan)?.

Pengorrganisasian materi pelajaran ini selanjutnya akan dikomunikasikan.

Bentuk komunikasi yang digunakan adalah komunikasi antar pribadi. Komunikasi

antar pribadi menunjuk kepada komunikasi dimana orang-orang terlibat secara

langsung satu sama lain dalam penyampaian dan penerimaan pesan secara nyata.

Komunikasi ini dapat direalisasikan ke dalam interaksi belajar mengajar dengan

memanfaatkan tubuh dan suara yang dimiliki. Tubuh dan suara adalah kurir yang

membawakan pesan, ditandai dengan kontak mata, ekspresi wajah, gerak tubuh, nada

suara/intonasi dan postur tubuh.

5. Faktor Lingkungan

Lingkungan di dalam interaksi belajar mengajar merupakan konteks

terjadinya pengalaman belajar, dapat berupa lingkungan fisik (kelas, laboratorium,

tata ruang, situasi fisik yang ada di sekitar kelas-laboratorium-sekolah) dan

lingkungan non fisik (cahaya, ventilasi, suasana belajar, musik latar).

Lingkungan yang ada di sekitar siswa baik itu di kelas, sekolah, atau di luar

sekolah perlu dioptimalkan pengelolaannya agar interaksi belajar mengajar lebih

efektif dan efesien. Artinya lingkungan fisik dapat difungsikan sebagai sumber belajar

yang direncanakan atau dimanfaatkan. Sedangkan lingkungan non fisik difungsikan

untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif. Seperti musik yang

digunakan sebagai latar pada saat interaksi belajar mengajar berlangsung


dimaksudkan agar suasana belajar terasa santai, siswa dapat belajar dan siap untuk

berkonsentrasi.

Pengelolaan lingkungan ini perlu memperhitungkan kegiatan belajar yang

akan dialami siswa dan jumlah siswa yang belajar. Dalam praktek, untuk

mengorganisasikan siswa per kelas akan mempengaruhi tingkat kerjasama siswa.

Jumlah siswa yang ideal adalah 15 sampai 20 orang. Kondisi ini akan memudahkan

guru merealisasikan kegiatan belajar siswa. Selain itu lingkungan fisik kelas dapat

dioptimalkan serta suasana belajar menjadi kondusif.

Sebaliknya jumlah siswa besar dan ukuran kelas tidak memadai,

mengakibatkan tingkat partisipasi siswa tidak dimanfaatkan: produktifitas kelompok

kurang; kepuasan kelompok menurun; konsentrasi kecil; interaksi kelompok minim;

dan kelompok didominasi beberapa orang saja. Oleh karena itu besarnya kelas atau

kelompok belajar ratio perbandingannya adalah dengan kelas yang menggunakan

metode siswa aktif daripada dengan kelas yang menggunakan metode formal

(ceramah). Namun demikian, masing-masing ukuran kelas memiliki kelebihan dan

kekurangannya sendiri.

Penataan kelas juga akan lebih mudah dengan jumlah siswa terbatas. Guru

akan dapat mengubah/membuat variasi lingkungan ruang kelas dengan lay out huruf

U, lingkaran, corak tim, konferensi, works station, breakout grouping, susunan

chevron, kelas tradisional atau auditorium.

Penempatan alat penting juga untuk diperhatikan. Misalnya untuk belajar

melalui e-learning juga harus diperhitungkan agar interaksi belajar mengajar efektif.

Komputers ebagai perangkat keras yang digunakan dalam e-learning harus


ditempatkan pada tempat-tempat tertentu, mudah diakses agar siswa bisa mencari

informasi sendiri tidak tergantung pada petugas atau terikat waktu disaat ia

mempelajarai sesuatu.

Bila komputer ditempatkan di dalam ruangan tertututp seperti kelas, perlu

ditunjang pula dengan penyejuk ruangan (AC) dan musik latar agar semangat belajar

siswa untuk mencari informasi tetap terjaga.

C. Penerapan Interaksi Belajar Mengajar

Penerapan interaksi belajar mengajar sebagai suatu proses mencakup

komponen yang luas. Masing-masing komponen berbeda penerapannya. Beberapa

contoh di bawah ini membantu anda mengembangkan komponen lainnya yang sesuai

dengan situasi dan kondisi belajar mengajar yang dihadapi.

1. Pengorganisasian Materi

Pengorganisasian materi berikut untuk pelajaran bahasa Inggris dengan topik

materi numbers (1-10), untuk siswa pemula. Menggunakan kartu-kartu petunjuk

yang berisikan angka yang dimaksud beserta kata dalam bahasa Inggrisnya.

1 2 3
one two three

4 5 6
four five six

Dan seterusnya hingga kartu kesepuluh


2. Penataan Kelas

Di bawah ini adalah tata ruang dimana guru akan menjelaskan materi

pelajaran secara klasikal.

2 2

Keterangan:
1. Guru
2. Siswa

3. Tahapan Pembelajaran

Guru akan menyampaikan materi pelajaran melalui metode studi kasus dan

siswa aktif dalam belajar. Disini interaksi konkrit digambarkan dengan aktivitas guru

dan siswa.

a. Pendahuluan

- Guru menjelaskan tujuan pembelajaran

- Guru menjelaskan skenario studi kasus

- Guru membagikan kasus yang telah disiapkan secara tertulis


b. Kegiatan Inti

- Setiap kelompok mendiskusikan kasus dan melakukan analisis dengan

melihat berbagai faktor penyebab

- Setiap kelompok menyimpulkan masalah, mencari alternatif

pemecahan dan menetapkan pilihan pemecahan masalah yang terbaik

c. Penutup

- Setiap kelompok mempresentasikan pemecahan masalah yang dipilih

dan alasannya

- Guru menyimpulkan hasil studi kasus

Guru akan menjelaskan materi pecahan senilai, metode deduktif, pola

pembelajaran: kurikulum-guru-media-siswa, maka langkah pembelajaran yang

dilakukan adalah:

a. Menggunakan gambar untuk menunjukkan pecahan senilai

b. Menentukan berbagai pecahan senilai dengan menggunakan garis bilangan

c. Meminta siswa menempatkan beberapa pecahan senilai pada garis

bilangan

d. Dan seterusnya

4. Ketrampilan Mengajar

Untuk menerapkan metode simulasi dan agar interaksi belajar mengajar

optimal, ketrampilan dasar yang harus dikuasai adalah sebagai berikut:


a. Ketrampilan bertanya

Guru mengemukakan beberapa pertanyaan untuk mengungkapkan

pemahaman siswa terhadap hal-hal yang disimulasikan

b. Ketrampilan menjelaskan

Guru memberi contoh/ilustrasi tentang ketrampilan yang ingin

disimulasikan

c. Ketrampilan memberi penguatan

Guru harus mendorong dan memotivasi siswa untuk melakukan simulasi

dengan baik

d. Ketrampilan mengajar kelompok kecil

Simulasi dapat dilakukan dalam kelompok kecil. Oleh karena itu, guru

harus membentuk kelompok yang tepat, mengkoordinasikan kegiatan

kelompok, memberi bantuan dan mengadakan pendekatan secara pribadi

jika diperlukan.

5. Metode Sumbang Saran

Apabila guru akan menggunakan metode ini dalam suatu kelas, maka

prosedur yang dilakukan guru adalah sebagai berikut:

a. Persiapan

- Guru menentukan topik/masalah yang akan didiskusikan, dan

mengalokasikan waktu untuk pengumpulan gagasan dan evaluasi

program
- Guru menyiapkan kertas kecil untuk dibagikan kepada siswa guna

menuliskan gagasannya. Siapkan juga papan tulis.

b. Pelaksanaan

- Guru mengatur tempat duduk siswa dengan format setengah

lingkungan

- Guru menjelaskan topik/masalah yang akan dibicarakan, prosedur dan

aturan mainnya.

- Guru memulai proses dengan mengundang gagasan dari semua siswa

dan menuliskannya di papan tulis

- Guru bersama siswa menilai gagasan dari sudut kemungkinannya

diterapkan, sudut implikasinya

- Guru meminta siswa menentukan alternatif gagasan yang paling baik

c. Umpan Balik

- Guru memberi masukan terhadap proses sumbang saran

- Guru meminta siswa memberi komentar terhadap pengalaman belajar

yang telah mereka jalani, menggunakan metode sumbang saran

6. Pola Pembelajaran e-learning

Guru Siswa

Informasi
Guru menugaskan siswa melakukan pencarian informasi tentang kawaan

Afrika dengan situs portal Yahoo! (http://www.yahoo.com). langkah-langkahnya

sebagaimana tampak melalui tabel berikut:

Query Pencarian dalam Hasil Pencarian


Yahoo!
Ilmu Sosial? Klik kategori Sosial 44 kategori dalam bentuk urutan
Science berdasarkan alfabet termasuk di
dalamnya kategori history
Sejarah Klik kategori History Kategori terbagi atas dua bagian besar
yakni:
- Bagian pertama terdiri atas tiga sub-
kategori (region, subject, time
period)
- Bagian kedua terdiri dari 29 sub-
kategori yang memperlihatkan
aspek-aspek yang dapat ditinjau
melalui kajian sejarah

Afrika Klik kategori by region Kategori terbagi atas tiga subregion


kategori countries, regions, US Stages
Klik kategori regions Kategori terbagi atas 14 sub kategori
yang memperlihatkan pembagian atas
wilayah dan termasuk di dalamnya sub-
kategori Afrika
Klik kategori Africa Kategori terbagi atas tiga sub-kategori
yakni:
a. complete list
b. kelompok
- by subject
- by time speed
- countries and regions
c. kelompok
- archaeology
- archives
- maps
- people
- web directories
7. Kegiatan Belajar Mengajar

Guru akan menggunakan pendekatan cara belajar siswa aktif dengan topik

sabar dan akhlak terpuji, kegiatan belajar mengajarnya sebagai berikut:

a. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok

b. Pemberian lembar kerja siswa (LKS)

c. Penjelasan guru secara singkat tentang topik ajar

d. Siswa mempelajari LKS

e. Siswa berdiskusi

f. Siswa menuliskan laporan diskusi

g. Siswa melaporkan hasil diskusi

Acuan lain yang dapat digunakan guru adalah menu interaksi belajar mengajar

yang dapat digunakan dalam membantu kualitas interaksi yang dikemukakan oleh

Silberman. Menu tersebut adalah sebagai berikut:

a. 10 tugas untuk memberi kawan belajar

b. 10 pertanyaan untuk memperoleh harapan-harapan siswa

c. 10 saran untuk memperbaiki ceramah

d. 10 alternatif dalam memilih ketua kelompok dan mengisi tugas lain

e. 10 petunjuk ketika memfasilitasi aktifitas pengalaman

f. 10 pilihan untuk bermain peran, dan

g. 10 kali lebih hemat ketika belajar aktif menggunakan waktu


Berikut uraian menu tersebut secara rinci:

a. 10 tugas untuk memberi kawan belajar

Agar siswa berpartisipasi dengan baik dalam pembelajaran guru perlu membuat

strategi, salah satunya dengan menetapkan kawan (partner) belajar. Bagilah siswa

berpasang-pasangan. Belajar dengan cara ini bisa digunakan untuk tugas yang

memakan waktu pendek maupun panjang. Tugas-tugas yang dapat dikerjakan

bersama:

1. Mendiskusikan sebuah dokumen pendek bersama-sama

2. Saling memwawancarai satu dengan yang lain mengenai reaksi kawan

terhadap bacaan kuliah, video yang ditugaskan atau aktifitas pendidikan

yang lain

3. Mengkritik atau mengedit pekerjaan tertulis antara teman satu dengan yang

lain

4. Menanyakan kawan anda tentang tugas membaca

5. Merangkum pelajaran atau sesi pelajaran bersama-sama

6. Mengembangkan pertanyaan-pertanyaan bersama-sama pada pengajar

7. Menganalisis masalah kasus, latihan atau percobaan bersama-sama

8. Saling menguji satu dengan yang lain

9. Merespon pertanyaan yang diberikan oleh pengajar

10. Membandingkan catatan-catatan yang dilakukan di kelas


b. 10 pertanyaan untuk memperoleh harapan-harapan siswa

Lingkungan belajar aktif adalah tempat dimana kebutuhan, harapan dan

perhatian siswa mempengaruhi rencana pembelajaran guru. Anda dapat mengajukan

berbagai pertanyaan untuk memperoleh dan mengetahui tujuan-tujuan siswa.

Beberapa diantaranya barangkali cocok untuk situasi anda. Anda dapat memperoleh

jawaban-jawaban melalui sepuluh metode untuk memperoleh partisipasi yang telah

dideskripsikan terlebih dahulu.

1. Pertanyaan-pertanyaan mengenai pelajaran apa yang anda bawa ke kelas?

2. Informasi atau ketrampilan apa yang anda inginkan dari pelajaran ini?

3. Informasi atau ketrampilan apa yang tidak anda butuhkan atau tidak anda

perlukan?

4. Apa yang akan anda dapatkan dari pelajaran ini? Sebutkan?

5. Apa harapan-harapan anda dari kelas ini? Apa minat anda?

6. Apakah tujuan pelajaran memenuhi kebutuhan anda?

7. Pengetahuan atau ketrampilan apa yang anda rasa anda butuhkan? Yang

mana yang baik yang anda inginkan/

8. Apa harapan-harapan anda mengenai pelajaran ini?

9. Kenapa anda memilih pelajaran ini (jika pelajaran pilihan)? Kenapa anda

datang?

10. Apa yang telah anda dapatkan dari pelajaran yang ada mengenai topik ini?
c. 10 saran untuk memperbaiki ceramah

Ceramah adalah sebuah metode mengajar yang paling disukai, tetapi apakah ini

memiliki tempat pada lingkungan belajar aktif? Ceramah yang terlalu sering tidak

akan efektif. Karenanya bangunlah daya tarik terlebih dahulu, maksimalkan

pengertian dan ingatan, libatkan siswa selama ceramah, dan beri penguatan pada apa

yang telah disajikan.

Membangun Minat

1. Kemukakan cerita atau visual yang menarik: sajikan anekdot, cerita fiksi, kartun

atau grafik yang dapat memenuhi perhatian peserta didik terhadap apa yang anda

kerjakan

2. Buatlah kasus problem: kemukakan suatu problem di sekitar cermah yang anda

susun

3. Test pertanyaan: berilah peserta didik sebuah pertanyaan, untuk mencari tahu

apakah mereka sebelumnya telah memiliki sedikit pengetahuan tentangnya

sehingga mereka akan termotivasi untuk mendengarkan ceramah anda.

Memaksimalkan Pemahaman dan Ingatan

4. Headlines: beri poin-poin utama pada kata-kata kunci yang berfungsi sebagai

sub-hiding verbal atau alat bantu ingatan.

5. Contoh dan analogi: kemukakan ilustrasi kehidupan nyata mengenai gagasan

dalam ceramah dan, jika mungkin, buatlah perbandingan antara materi anda dan

pengetahuan dengan pengalaman yang telah peserta didik alami


6. Alat bantu visual: gunakan flip-chart, transparansi, hand-out singkat dan

demonstrasi yang membantu siswa melihat dan mendengarkan apa yang anda

katakan.

Melibatkan Peserta Didik Selama Ceramah

7. Tantangan Spot: hentikan ceramah secara periodik dan tantanglah peserta didik

untuk memberi contoh dari konsep yang disajikan untuk menjawab pertanyaan

kuis spot

8. Latihan-latihan yang memperjelas: seluruh penyajian, selingi aktifitas-aktifitas

singkat yang memperjelas poin-poin yang anda buat.

Memberi Daya Penguat Ceramah

9. Aplikasi Masalah: ajukan masalah atau pertanyaan pada peserta didik untuk

diselesaikan dengan didasarkan pada informasi yang diberikan waktu ceramah

10. Review/Mengulas Siswa: suruhlah siswa saling mengulas ceramah satu dengan

yang lain, atau berilah mereka tes ulasan dengan menskor sendiri.

d. 10 alternatif dalam memilih ketua kelompok dan mengisi tugas lain

Satu cara untuk memfasilitasi belajar aktif dalam kelompok kecil adalah dengan

memberi tugas pada anggota-anggota kelompok seperti pemimpin, fasilitator,

mengatur waktu, perekam, pembicara, pengamat proses atau manajer materi.

Seringkali, anda dapat secara mudah mendapatkan sukarelawan menempati beberapa

tanggung jawab ini.

1. Penugasan berdasarkan alfabet: identifikasikan tugas-tugas yang diperlukan dan

tugaskan mereka dalam urutan alfabet dengan nama pertama.


2. Penugasan menurut kelahiran; kali ini urutkan sesuai tanggal kelahiran siswa

3. Nomor lotre: gunakan seperti mengundi, untuk tugas yang ingin dikerjakan

4. Warna lotre: undian ini menggunakan unsur warna

5. Perlengkapan pakaian: pemberian tanggung jawab berdasarkan atribut pakaian,

seperti kacamata, sepatu coklat, sweater, atau perhiasan perak.

6. Voting: orang dengan jari paling banyak yang menunjuk padanya yang akan

menerima tugas tertentu

7. Penugasan random: cara acak, misalnya dengan menggunakan nomor telepon.

Kalkulasi empat angka terakhir (9999=36), lalu umumkan sebuah angka. Anggota

dengan nomor yang paling mendekati angka yang diberi tugas tersebut.

8. Pecinta binatang piaraan: berikan tugas sesuai jumlah terbanyak binatang

piaraan yang mereka punyai

9. Ukuran keluarga: berikan tugas sesuai jumlah terbanyak anggota keluarga yang

mereka punyai

10. Door prize: paling awal ke kelas, ketakkan stiker sedemikian rupa sehingga

mengidentifikasikan satu anggota kelompok. Metode-metode mencakup sebuah

stiker pada kartu nama, atau pada sebuah tempat duduk atau meja, pada sebuah

materi pelajaran dan sejenisnya. Anggota kelompok yang menerima stiker

memperoleh hadiah dari suatu tugas kelompok tertentu. Untuk menghadiahkan

lebih dari satu tugas, gunakan stiker dengan warna yang berbeda-beda.
e. 10 petunjuk ketika memfasilitasi aktifitas pengalaman

Aktifitas pengalaman betul-betul membantu membuat belajar aktif. Aktifitas

semacam itu secara khusus melibatkan bermain peran, games, simulasi, visualisasi,

dan tugas problem solving. Seringkali jauh lebih baik bagi siswa untuk mengalami

sesuatu daripada sekadar membicarakan atau mendengarkannya. Inilah sepuluh

langkah untuk dipertimbangkan.

1. Terangkan tujuan anda. Peserta ingin mengetahui apa yang akan terjadi dan

mengapa

2. Kemukakan keuntungan. Jelaskan mengapa anda melakukan aktifitas dan

beritahukan bagaimana aktifitas itu berkaitan dengan aktifas-aktifitas lain

sebelumnya.

3. Berbicaralah pelan-pelan ketika memberi pengarahan. Anda juga mungkin

memberikan dukungan visual. Pastikan pengantar dapat dipahami.

4. Demonstrasikan aktifitas jika petunjuk itu sulit. Biarkan peserta menyaksikan

aktifitas sebelum mereka melakukannya.

5. Bagilah para siswa menjadi beberapa kelompok kecil sebelum memberikan

pengarahan lebih jauh. Jika tidak, siswa mungkin lupa pada pengarahan ketika

kelompok-kelompok baru dibentuk.

6. Informasikan kepada siswa berapa lama waktu yang mereka miliki. Kemukakan

waktu yang tersedia untuk semua aktifitas, dan kemudian beritahukan secara

periodik berapa lama waktu yang masih tersisa.


7. Jagalah aktifitas tetap berjalan. Janganlah memperlambat sesuatu dengan tanpa

kontribusi siswa pada flip-chart atau papan tulis, dan jangan biarkan diskusi

berjalan terlalu panjang.

8. Tantanglah siswa. Terdapat energi lebih, ketika aktifitas menciptakan satu tingkat

ketegangan sedang. Jika tugas terlalu mudah, peserta akan menjadi malas.

9. Selalu diskusikan aktifitas. Ketika sebuah aktifitas telah dismpulkan, ajaklah

siswa untuk melanjutkan merasakan bahwa aktifitas yang dihasilkan dan secara

bersama-sama melihat dan mempelajari isinya.

10. Susunlah dengan hati-hati proses pengalaman pertama. Bimbinglah diskusi dan

berikan hanya beberapa pertanyaan. Jika siswa berada pada kelompok-kelompok

kecil, suruhlah mereka mengambil giliran singkat untuk melibatkan respon

mereka.

f. 10 pilihan untuk bermain peran:

Bermain peran berguna dalam metode belajar pengalaman. Ini dapat digunakan

untuk membangkitkan diskusi, menghidupkan kembali peristiwa, mempraktekkan

ketrampilan atau untuk mengalami bagaimana fenomena rasa tertentu. Agar berhasil,

berikut cara-cara untuk membantu menyusun dan memformatnya.

Penaskahan

1. Bentuk bebas: para siswa/peserta dapat diberikan skenario umum dan diminta

untuk mengisi secara detail mereka sendiri.


2. Ditentukan: para peserta dapat diberikan instruksi yang telah disiapkan dengan

baik yang mengungkapkan fakta mengenai peran-peran yang mereka perankan

dan bagaimana mereka harus bertindak.

3. Semi ditentukan: para peserta dapat diberikan informasi latar belakang secara luas

mengenai situasi dan ciri utama digambarkan, namun tidak dikatakan bagaimana

cara mengatasi situasi.

4. Memainkan ulang kehidupan: para peserta dapat menggambarkan diri mereka

sendiri dalam situasi aktual yang mereka hadapi.

5. Bacaan dramatis: para peserta dapat diberikan tulisan yang telah disiapkan

sebelumnya untuk dilakukan.

Pemformatan

6. Simultan: seluruh peserta didik dapat dibentuk dalam berpasangan untuk sebuah

drama dua orang, bertiga untuk darama tiga orang, dan seterusnya.

7. Panggung di depan: seorang peserta didik atau lebih dapat memainkan peran di

depan kelompok dan peserta lain dari kelompok itu berperan sebagai pengamat

yang memberi feedback.

8. Bergiliran: aktor di depan kelompok dapat digilirkan biasanya dengan interupsi

permainan peran selanjutnya dan menggantikan satu aktor atau lebih.

9. Aktor-aktor yang berbeda: lebih dari satu aktor dapat direkrut untuk memerankan

situasi yang sama. Ini memungkinkan kelompok untuk mengamati lebih dari satu

gaya.

10. Diulangi: permainan peran dapat dipraktekkan untuk kedua kalinya.


g. 10 kali lebih hemat ketika belajar aktif menggunakan waktu

Metode apapun yang anda gunakan, belajar aktif memerlukan waktu. Oleh

karena itu, penting bila tidak ada waktu yang terbuang. Guru perlu mengendalikan hal

tersebut agar dapat diminimalisir. Inilah yang dapat dilakukan untuk menghemat

waktu.

1. Mulailah tepat waktu

2. Berilah instruksi yang jelas

3. Persiapkan informasi visual pada waktunya

4. Bagikan materi pelajaran dengan cepat

5. Perlancarlah laporan kelompok kecil

6. Jangan biarkan diskusi berjalan sangat lambat

7. Dapatkan sukarelawan dengan cepat

8. Bersiaga terhadap kelompok-kelompok yang capek dan lesu

9. Percepatlah langkah aktifitas dari waktu ke waktu

10. Dapatkan perhatian kelas yang cepat

Beberapa contoh tersebut dapat digunakan sebagai acuan guru dalam mengelola

interaksi belajar mengajar.

Penerapan interaksi belajar mengajar secara spesifik di atas dimaksudkan untuk

memberikan gambaran bahwa apa yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran

harus direncanakan secara sistematis. Dengan demikian terdapat hubungan antara

komponen perencanaan pembelajaran dengan proses pembelajaran seperti rangkaian

sistem di bawah ini.


Input Proses Output Outcome

Perencanaan Pembelajaran Interaksi Belajar Mengajar Mutu Aktifitas Belajar Siswa Hasil Belajar Siswa

Dengan demikian indikator keberhasilan dari proses pembelajaran adalah

pelaksanaan interaksi belajar mengajar yang dikelola guru secara tepat. Guru dapat

mengelola interaksi belajar mengajarnya dengan pendekatan siswa aktif atau

pendekatan guru aktif.