Anda di halaman 1dari 41

BAB VIII

APLIKASI COOPERATIVE LEARNING DALAM IPS PADA MATERI

BUDAYA

8.1. Persiapan Sebelum Pembelajaran

A. Materi Budaya (Diberikan dalam bentuk Handout)

Unsur penopang demokrasi antara lain negara hukum, masyarakat madani,

infrastruktur, dan kebebasan pers (TIM ICCE UIN Jakarta, 2003: 117-119).

Negara hukum memiliki ciri-ciri sebagai berikut adanya: (1) perlindungan

terhadap HAM, (2) pemisahan dan pembagian kekuasaan pada lembaga negara

untuk menjamin perlindungan HAM; (3) Pemerintahan berdasarkan peraturan; (4)

peradilan administrasi. Adapun the rule of law dicirikan oleh adanya: (1)

supremasi aturan-aturan hukum; (2) kesamaan kedudukan di depan hukum

(equality before the law); (3) jaminan perlindungan HAM.

Masyarakat madani (civil society) dicirikan dengan masyarakat terbuka,

masyarakat yang bebas dari pengaruh kekuasaan dan tekanan dari negara,

masyarakat yang kritis dan berpartisipasi aktif serta masyarakat egaliter.

Masyarakat madani merupakan elemen yang sangat signifikan dalam membangun

demokrasi. Sebab salah satu syarat penting bagi demokrasi adalah terciptanya

partisipasi masyarakat dalam proses-proses pengambilan keputusan yang

dilakukan oleh negara atau pemerintahan.

Infrastruktur politik terdiri dari partai politik (political party), kelompok

gerakan (movement group) dan kelompok penekan atau kelompok kepentingan

(pressure/interest group). Partai politik merupakan struktur kelembagaan politik


yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama

yaitu memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik dalam

mewujudkan kebijakan-kebijakannya. Organisasi masyarakat merupakan

sekumpulan orang-orang yang berhimpun dalam satu wadah organisasi yang

berorientasi pada pemberdayaan warganya misalnya: Muhammadiyah, dan NU.

Sedangkan kelompok penekan atau kelompok kepentingan (pressure/intrest

group) merupakan sekelompok orang dalam sebuah wadah organisasi yang

didasarkan pada kriteria profesionalitas dan keilmuan tertentu seperti AIPI

(Asosiasi Ilmuwan Politik Indonesia), PGRI, LIPI, PWI, dan sebagainya.

Partai politik memiliki fungsi sebagai sarana: (1) komunikasi politik; (2)

sosialisasi politik; (3) rekruetmen kader dan anggota politik; (4) pengatur konflik.

Keempat fungsi partai politik tersebut merupakan perwujudan dari nilai-nilai

demokrasi yaitu adanya partisipasi, kontrol rakyat melalui partai terhadap

kehidupan kenegaraan dan pemerintahan serta adanya pelatihan penyelesaian

konflik secara damai (conflic resolution).

Berdasarkan fungsi partai politik seyogyanya melakukan pengkaderan

warganya agar mempunyai kesadaran politik demokrasi. Namun dapat disinyalir

mereka tidak melakukan hal itu, sehingga pendidikan politik gagal.

Disamping partai politik, pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban

yang sama untuk melakukan hal yang sama. Namun sekali lagi mereka juga gagal.

Permasalahan ini dapat dianalisis dari berbagai aspek. Aspek pendidikan politik di

luar lingkungan persekolahan adalah:

Pertama, dalam masyarakat kita, ada kecenderungan anak-anak kurang

dididik secara mandiri. Anak mengalami alinasi dalam politik. Sejumlah


keputusan penting dalam keluarga, termasuk keputusan tentang nasib si anak,

merupakan domain orang dewasa.

Kedua, politisasi masyarakat kita masih rendah. Banyak kalangan

masyarakat yang belum memiliki kesadaran politik, orientasi pola pikir mereka

lebih terpaku pada kehidupan ekonomi. Bagi mereka, ikut terlibat dalam wacana

publik tentang hak-hak dan kewajiban warga negara, hak-hak asasi manusia dan

sejenisnya, bukanlah skala prioritas. Oleh karena itu, tingkat sosialisasi politik

masih pada tahap yang bersifat kognitif, bukan menyangkut dimensi-dimensi yang

bersifat evaluatif.

Ketiga, setiap individu yang berhubungan secara langsung dengan negara

tidak mempunyai alternatif lain kecuali mengikuti kehendak negara, termasuk

dalam hal pendidikan politik.

Aspek ketimpangan pendidikan politik pada level keluarga dan masyarakat

akan berimplikasi pada level persekolahan. Di level persekolahan jika kita amati,

pendidikan politik yang pernah berjalan tidak lebih merupakan sebuah proses

penanaman nilai-nilai dan keyakinan yang diyakini oleh penguasa negara seperti

dahulu waktu ada P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila),

sekarang belum ada penggantinya terutama untuk jalur luar sekolah. Bukan

pekerjaan yang mudah memang untuk melakukan pendidikan politik bagi anak

bangsa, namun bukan berarti dibiarkan matang alamiah tanpa upaya serius,

sistematik dan sistemik.

Untuk itu ke depan bagaimana arah pendidikan politik di persekolahan

agar dapat menumbuhkan budaya politik demokrasi sebagai parameter dari

keberhasilannya.
Sebelum menganalisis masalah di atas terlebih dahulu kita memahami apa

itu konsep pendidikan politik dan apa itu budaya demokrasi. Pendidikan politik

adalah proses sosialisasi politik dalam sebuah masyarakat dengan out put budaya

politik. Dengan sosialisasi politik, individu dalam negara akan menerima norma,

sistem keyakinan, dan nilai-nilai dari generasi sebelumnya, yang dilakukan

melalui berbagai tahap, dan dilakukan oleh bermacam-macam agents, seperti

keluarga, teman bermain, sekolah, lingkungan pekerjaan dan tentu saja media

massa, seperti radio, TV, surat kabar, majalah, juga internet. Proses sosialisasi atau

pendidikan politik akan memberikan ruang yang cukup untuk memunculkan civil

society, yaitu masyarakat yang mandiri, yang mampu mengisi ruang publik

sehingga mampu membatasi kekuasaan negara yang berlebih-lebihan (Afan

Gaffar, 2002: 105).

a. Budaya Politik

Teori tentang budaya politik merupakan salah satu bentuk teori yang

dikembangkan dalam memahami sistem politik. Teori tentang sistem politik yang

diajukan oleh David Easton yang selanjutnya dikembangkan oleh Gabriel

Almond, ini mewarnai kajian ilmu politik tahun 1950-1970. Dari kalangan mereka

ada yang mengembangkan teori kebudayaan politik adalah Gabriel Almond dan

Sydney Verba, ketika keduanya melakukan kajian di lima negara yang kemudian

melahirkan buku The Civic Culture. Civic Culture inilah yang menurut Almond

dan Verba merupakan Basis Budaya Politik yang membentuk demokrasi (Afan

Gaffar, 2002: 99).


Budaya politik merupakan sikap individu terhadap sistem politik dan

komponen-komponennya, juga sikap individu terhadap peranan yang dapat

dimainkan dalam sebuah sistem politik. Juga dikatakan bahwa budaya politik

adalah orientasi psikologis terhadap objek sosial sistem politik yang mengalami

proses internalisasi kedalam bentuk orientasi yang bersifat cognitive, affective dan

evaluative (Afan Gaffar, 2002: 100-1001).

Orientasi yang bersifat kognitif mencakup pemahaman dan keyakinan

individu terhadap sistem politik dan atribut. Orientasi yang bersifat affektive

menyangkut ikatan emosional yang dimiliki individu terhadap sistem politik;

sedangkan orientasi yang bersifat evaluatif menyangkut kapasitas individu dalam

rangka memberikan penilaian terhadap sistem politik yang sedang berjalan dan

bagaimana peranan individu didalamnya.

Sikap dan orientasi seperti itu, akan membentuk budaya politik yang

berbeda. Dalam sebuah masyarakat yang sikap dan orientasi politiknya

didominasi oleh karakteristik yang bersifat kognitif akan terbentuk budaya politik

yang parokial. Sedangkan yang masyarakatnya orientasi politiknya diwarnai oleh

karakteristik yang bersifat afektif, akan membentuk budaya politik subjective.

Pada titik puncak yaitu masyarakat yang memiliki kompetensi politik yang tinggi,

dimana masyarakat mampu memberikan evaluasi terhadap proses politik yang

berjalan, akan terbentuk sebuah budaya politik yang bersifat partisipatif. Budaya

politik partisipatif mencerminkan budaya politik demokratik, yang pada akhirnya

akan membentuk sistem politik yang demokratik dan stabil.

Budaya politik demokratik adalah suatu kumpulan sistem keyakinan,

sikap, norma, persepsi, dan sejenisnya, yang menopang terwujudnya partisipasi.


Kata kuncinya adalah keyakinan akan kompetensi warga negara untuk terlibat

dalam proses politik yang berjalan. Konsekuensinya adalah kalangan pemerintah

harus mengambil langkah-langkah yang memperhatikan kepentingan warga

masyarakat. Untuk menanamkan budaya politik partisipatik atau demokratik

dilakukan melalui pendidikan.

Pendidikan ini mengacu pada UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional. Dalam pasal 1 ayat 2 dan pasal 3 dikatakan bahwa:

Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-

Undang Dasar RI Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan

nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Adapun

fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk

watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan

kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar

menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang

demokratis dan bertanggung jawab.

Warga negara yang demokratis acuannya adalah character and nation

building yang meliputi: aspek mental dan moral yang meliputi: budi pekerti,

disiplin, dan demokratis dan aspek intelektual yang meliputi: ketrampilan berpikir

logis, luwes, orisinil, elaborasi, dan memperluas wawasan, profesionalisme, serta

kreativitas.

Disamping itu pendidikan politik di sekolah yang dalam hal ini PKn

bertujuan mendidik warga negara yang baik, yakni: (1) peka terhadap informasi

baru yang dijadikan pengetahuan dalam kehidupannya; (2) warga negara yang
berketrampilan; (a) peka dalam menyerap informasi; (b) mengorganisasi dan

menggunakan informasi; (c) membina pola hubungan interpersonal dan partisipasi

sosial; (3) warga negara yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi

dan memiliki karakteristik warga negara yang demokrat yang diisyaratkan dalam

membangun suatu tatanan masyarakat yang dmeokratis dan beradab (Walter

Parker dan John Jarollimek dalam Nadiroh, 1998: 32) Adapun karakter atau jiwa

yang demokratis meliputi:

Rasa hormat dan tanggung jawab terhadap sesama warga negara terutama

dalam konteks adanya pluralitas masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai

etnis, suku, ras, keyakinan agama, dan idiologi politik. Selain itu, sebagai warga

negara yang demokrat, seorang warga negara juga dituntut untuk turut

bertanggung jawab menjaga keharmonisan hubungan antara etnis serta keteraturan

dan ketertiban negara yang berdiri di atas pluralitas tersebut. Bersikap kritis

terhadap kenyataan empiris (realitas sosial, budaya, dan politik) maupun terhadap

kenyataan supra-empiris (agama, mitologi, kepercayaan). Sikap kritis juga harus

ditunjukkan pada diri sendiri. Sikap kritis pada diri sendiri itu tentu disertai sikap

kritis terhadap pendapat yang berbeda. Tentu saja sikap kritis ini harus didukung

oleh sikap yang bertanggung jawab terhadap apa yang dikritik. Membuka diskusi

dan dialog yakni perbedaan dan pandangan serta perilaku merupakan realitas

empirik yang pasti terjadi di tengah komunitas warga negara, apalagi di tengah

komunitas masyarakat yang plural dan multi etnik. Untuk meminimalisasi konflik

yang ditimbulkan dari perbedaan tersebut, maka membuka ruang untuk berdiskusi

dan berdialog merupakan salah satu solusi yang bisa digunakan. Oleh karenanya,
sikap membuka diri untuk dialog dan diskusi merupakan salah satu ciri sikap

warga negara yang demokrat.

Bersikap terbuka yang merupakan bentuk penghargaan terhadap

kebebasan sesama manusia, termasuk rasa menghargai terhadap hal-hal yang

mungkin asing. Sikap terbuka yang didasarkan atas kesadaran akan pluralisme

dan keterbatasan diri akan melahirkan kemampuan untuk menahan diri dan tidak

secepatnya menjatuhkan penilaian dan pilihan.

Rasional yaitu memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara

bebas dan rasional adalah sesuatu hal yang harus dilakukan. Keputusan-keputusan

yang diambil secara rasional akan mengantarkan sikap yang logis yang

ditampilkan oleh warga negara, sementara sikap dan keputusan yang diambil

secara tidak rasional akan membawa implikasi emosional dan cenderung egois.

Masalah-masalah yang terjadi di lingkungan warga negara, baik persoalan politik,

sosial, budaya, dan sebagainya, sebaiknya dilakukan dengan keputusan-keputusan

yang rasional.

Adil adalah menempatkan sesuatu secara proporsional. Tidak ada tujuan

baik yang patut diwujudkan dengan cara-cara yang tidak adil. Penggunaan cara-

cara yang tidak adil adalah bentuk pelanggaran hak asasi dari orang yang

diperlakukan tidak adil. Dengan semangat keadilan, maka tujuan-tujuan bersama

bukanlah suatu yang didiktekan tetapi ditawarkan. Mayoritas suara bukanlah

diatur tetapi diperoleh.

Kejujuran merupakan kunci bagi terciptanya keselarasan diri

keharmonisan hubungan antar warga negara. Sikap jujur bisa diterapkan disegala

sektor, baik politik, sosial dan sebagainya. Kejujuran politik adalah bahwa
kesejahteraan warga negara merupakan tujuan yang ingin dicapai, yaitu

kesejahteraan dari masyarakat yang memilih para politisi.

Apabila pendidikan politik yang dilakukan melalui pembelajaran PKn di

sekolah dari TK sampai Perguruan Tinggi dapat direalisasikan sesuai dengan arah

baru yaitu terbentuknya budaya demokrasi, maka akhirnya persoalan-persoalan

yang terkait dengan masalah kebangsaan dan kenegaraan terutama disintegrasi

bangsa akan secara berangsur terselesaikan paling tidak bagi generasi ke depan

tidak mencontoh generasi yang salah.

Pendidikan politik melalui pembelajaran PKn mengacu pada sistem

pendidikan nasional. Dari isi undang-undang Sisdiknas jelas eksistensi PKn dalam

kurikulum persekolahan adalah berdiri sendiri sebagai mata pelajaran. Istilah yang

sering digunakan selain PKn adalah civics. Henry Randall Waite (1886)

merumuskan pengertian civics dengan the sciences of citizenship, the relation of

man, the individual, to man in organized collections, the individual in his relation

to the state. Dari defenisi tersebut, civics dirumuskan dengan ilmu

kewarganegaraan yang membicarakan hubungan manusia dengan (a) manusia

dalam perkumpulan yang terorganisir (organisasi sosial, organisasi ekonomi, dan

organisasi politik), (b) individu dengan negara. (Sumantri, 2001: 281 dalam Dede

Rosyada, 2003: 5).

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan bidang kajian ang bersifat

multifaset dengan konteks epistemologis lintas bidang keilmuan. Secara filsafat

keilmuan PKn memiliki ontology pokok ilmu politik khususnya konsep political

democracy untuk aspek duties and rights of citizen (Chreshore dalam

Winataputra, 2004: 16), selanjutnya berkembang civic education yang


berkembang di Indonesia menjadi Pendidikan Kewarganegaraan. Secara

epistemologis, PKn sebagai suatu bidang keilmuan merupakan salah satu dari

lima tradisi social studies yakni citizenship transmission, saat ini sudah

berkembang menjadi suatu body of knowledge yang memiliki paradigma sistemik,

yang didalamnya terdapat tiga domain citizen education, yakni domain akademis,

domain kurikuler, dan domain sosi kultural. Secara akademis pendidikan

kewarganegaraan dapat didefinisikan sebagai suatu bidang kajian yang

memusatkan telaah pada seluruh dimensi psikologis dan sosio kultural

kewarganegaraan individu, dengan menggunakan ilmu politik, ilmu pendidikan

sebagai landasan epistemology intinya yang dipercaya dengan disiplin ilmu lain

yang relavan, dan mempunyai implikasi aksiologis terhadap instrumentasi dan

praksis pendidikan setiap warga negara dalam konteks sistem pendidikan

nasional. Tiga dimensi yakni kajian ilmiah kewarganegaraan; program kurikuler

kewarganegaraan untuk berbagai jalur, jenjang, dan jenis pendidikan; dan

aktivitas sosial-kultural kewarganegaraan (Wiranata Putra, 2004).

Menurut Malik Fajar (2004: 6-8) bahwa PKn sebagai wahana untuk

mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warga negara yang demokratis

dan bertanggung jawab, PKn memiliki peranan yang amat penting. Mengingat

banyak permasalahan mengenai pelaksanaan PKn sampai saat ini, maka arah baru

PKn perlu segera dikembangkan dan dituangkan dalam bentuk standar nasional,

standar materi serta model-model pembelajaran yang efektif dalam mencapai

tujuannya. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai arah baru yaitu:

Pertama, PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai

disiplin ilmu yang relevan, yaitu: ilmu politik, hukum, sosiologi, antropologi,
psikologi, dan disiplin ilmu lainnya, yang digunakan sebagai landasan untuk

melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep, nilai, dan

perilaku demokrasi warga negara.

Kemampuan dasar terkait dengan kemampuan intelektual, sosial (berpikir,

bersikap, bertindak, serta berpartisipasi dalam hidup bermasyarakat). Substansi

pendidikan (cita-cita, nilai, dan konsep demokrasi) dijadikan materi kurikulum

PKn yang bersumber pada pilar-pilar demokrasi konstitusional Indonesia. Kedua,

PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik.

Pembangunan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warga negara

yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan perhatinnya pada

pengembangan kecerdasan (civic intelligence), tanggung jawab (civic

responsibility), dan partisipasi (civic participation) warga negara sebagai landasan

pengembangan nilai dan perilaku demokrasi. Ketiga, PKn sebagai suatu proses

pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih

inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pada pelatihan penggunaan logika

dan penalaran.

Untuk memfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan

belajar interaktif yang dikemas dalam berbagai bentuk paket seperti bahan belajar

tercetak, terekam, tersiar, elektronik, dan bahan belajar yang digali dari

lingkungan masyarakat sebagai pengalaman langsung (hand of experiences)

disamping itu upaya peningkatan kualifikasi dan mutu guru PKn perlu dilakukan

secara sistematis agar terjadinya kesinambungan antara pendidikan guru melalui

LPTK, pelatihan dalam jabatan, serta pembinaan kemampuan profesional guru


secara berkelanjutan dalam mengelola proses pembelajaran untuk mencapai hasil

belajar seperti yang diharapkan.

Keempat, kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. Melalui PKn,

pemahaman, sikap, dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata

melalui modus pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup

berdemokrasi (doing democracy).

Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kendali mutu

tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi siswa sehingga

dapat lebih berhasil di masa depan. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh

termasuk portofolio siswa dan evaluasi diri yang lebih berbasis kelas.

Dari arah baru PKn yang diharapkan terealisasikan dalam kehidupan nyata

yaitu di kelas yang terbentang ke seluruh pelosok tanah air diperlukan

pemahaman bersama untuk disosialisasikan dalam bentuk kerja nyata dalam

pembentukan kepribadian siswa menjadi pribadi yang utuh, dan insan kamil yang

menjadi tumpuan harapan kita bersama. Tidak mudah memang, namun bukan

berarti tidak bisa dilakukan, semua sangat bergantung pada niat, dan dorongan

kita bersama untuk memberikan dukungan, sehingga apa yang terjadi yang

bersemangat berubah bukan pelaku langsung di lapangan, namun penggagas,

perenung, serta yang memiliki kebijakan saja, akhirnya perubahan arah baru PKn

masih menjadi tumpuan harapan kita bersama.

Untuk mensosialisasikan arah baru PKn, perlu dibarengi dengan

pengembangan program pembelajaran dengan memperhatikan dan menerapkan

pilar belajar. Berdasarkan empat pilar belajar yang diperkenalkan oleh UNESCO

dalam Soedijarto, 2004: 10-18 yaitu Learning to Know, seperti telah dikemukakan
oleh Philip Phoenix, yaitu proses pembelajaran yang mengutamakan penguasaan

ways of knowing atau Mode of Inquire telah memungkinkan peserta didik untuk

terus belajar dan mampu memperoleh pengetahuan baru dan tidak hanya

memperoleh pengetahuan hasil penelitian orang lain. Karena itu, hakekat dari

learning to know adalah proses pembelajaran yang memungkinkan peserta

menguasai teknik memperoleh pengetahuan dan bukan semata-mata hanya

memperoleh pengetahuan. Dalam bahasan Israel Scheffler pilar ini pada

hakikatnya terkait dengan relevansi epistemology yang mengutamakan proses

pembelajaran yang memungkinkan peserta terlibat dalam proses meneliti dan

mengkaji.

Learning to do, adalah belajar melakukan sesuatu dalam situasi yang

kongkrit yang tidak hanya terbatas kepada penguasaan keterampilan yang

mekanistis melainkan meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dengan

orang lain, mengelola dan mengatasi konflik.

Learning to live Together, yaitu membekali kemampuan untuk hidup

bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling

pengertian dan tanpa prasangka. Dalam hubungan ini, prinsip relevansi sosial dan

moral yang disarankan Israel Scheffler sangat memadai. Suatu prinsip yang

memerlukan suasana belajar yang secara inherently mengandung nilai-nilai

toleransi saling ketergantungan, bekerjasama, dan tenggang rasa.

Learning to be, yaitu: tiga pilar yaitu learning to know, learning to do, dan

learning to live together ditujukan bagi lahirnya peserta didik yang mampu

mencari informasi dan menemukan ilmu pengetahuan, yang mampu memecahkan

masalah, dan mampu bekerja sama, bertenggang rasa, dan toleran terhadap
perbedaan. Bila ketiganya berhasil dengan memuaskan akan menumbuhkan rasa

percaya diri pada peserta didik, sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal

dirinya, yakni manusia yang berkepribadian yang mantap dan mandiri. Manusia

yang utuh yang memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang mengenal

dirinya, yang dapat mengendalikan dirinya dengan konsisten dan yang memiliki

rasa empati (tepo seliro), atau disebut memiliki emotional intelligence.

Manusia hasil pendidikan politik adalah manusia yang berbudaya

demokrasi, yang akan membangun sistem demokrasi dengan mengacu pada

prinsip-prinsip demokrasi.

Menurut Masykuri Abdullah (Dede Rosyada, 2003: 117-119) bahwa

prinsip-prinsip demokrasi adalah persamaan, kebebasan dan pluralisme. Robert

Dahl dalam tulisan yang sama, bahwa prinsip yang harus ada dalam sistem

demokrasi yaitu: (1) kontrol atas keputusan pemerintah, (2) pemilihan yang teliti

dan jujur, (3) hak memilih dan dipilih, (4) kebebasan menyatakan pendapat tanpa

ancaman, (5) kebebasan mengakses informasi, dan (6) kebebasan berserikat.

Sedangkan Amin Rais dalam Dede Rosyada (2003, 117-119) merumuskan

kriteria lain dari parameter demokrasi adalah: (1) adanya partisipasi dalam

pembuatan keputusan; (2) distribusi pendapatan secara riil; (30 pendidikan masa

depan di tangan kita semua, karena kita secara bersama-sama sebagai penentu

masa depan.

b. Budaya Demokrasi

Sifat Kajian : Terintegrasi dalam mata kuliah social studies/ IPS

pada materi budaya


Standar Kompetensi : Mahasiswa memiliki kepahaman, kesadaran

tentang budaya, serta mampu berpartisipasi aktif

dalam penghormatan dan pemajuan budaya

Kompetensi Dasar Indikator Materi Pokok


- Memahami pengertian - Menjelaskan - Pengertian budaya

budaya demokrasi pengertian budaya demokratis

- Kemampuan demokrasi - Faktor pendukung

menganalisis faktor - Menganalisis budaya demokratis

pendukung budaya faktor pendukung

demokratis budaya demokratis

GEOGRAFI
Pembagian budaya berdasar
wilayah
Dll.

SOSIOLOGI/ANTROPOLOGI POLITIK
Interaksi antar budaya Budaya Politik
Dll. Dll.

BUDAYA
(Core)

IPS
AGAMA SEJARAH
Budaya dalam konsep Islam Asal mula budaya
Dll. Dll.

PKN
Budaya demokrasi
Konflik dan konsensus
Dll.
Budaya Warga Negara

Demokrasi lebih dari sekadar banyaknya institusi. Suatu demokrasi

yang sehat bergantung terutama pada pembangunan suatu budaya warga

negara yang demokratis. Budaya dalam pengertian ini, menurut Diane Ravitch

(1991: 18), tidak merujuk pada seni, sastra atau musik, tapi pada “perilaku,

praktek dan norma-norma yang menjelaskan kemampuan rakyat untuk

memerintah diri sendiri.” Suatu sistem politik totaliter”, “mendorong budaya

pasif dan apatis. Rezim berusaha membentuk suatu warga negara yang patuh

dan jinak. Sebaliknya, budaya warga negara suatu masyarakat demokratis

dibentuk oleh aktivitas yang dipilih secara bebas oleh individu atau kelompok.

Warga negara suatu masyarakat bebas mengejar kepentingan mereka,

menjalankan hak-hak mereka dan bertanggung jawab atas hidup mereka

sendiri. Mereka membuat keputusan mereka sendiri tentang dimana mereka

akan bekerja, apa jenis pekerjaan yang akan mereka lakukan, di mana mereka

akan tinggal, apakah akan ikut partai politik, apa yang akan dibaca, dan

sebagainya. Ini semua adalah keputusan pribadi, bukan keputusan politik.

Masyarakat Demokratis
Demokrasi lebih dari sekadar seperangkat aturan dan prosedur

konstitusional yang menentukan bagaimana suatu pemerintah berfungsi.

Dalam demokrasi, pemerintah hanyalah salah satu unsur yang hidup

berdampingan dalam suatu struktur sosial dari lembaga-lembaga yang banyak

dan bervariasi, partai politik, organisasi dan asosiasi. Keanekaragaman ini

disebut pluralisme, dan ini berasumsi bahwa banyaknya kelompok


terorganisasi dan lembaga dalam suatu masyarakat demokratis tidak

bergantung pada pemerintah bagi kehidupan, legitimasi, atau kekuasaan

mereka.

Ribuan organisasi swasta bekerja dalam masyarakat demokratis, ada

yang lokal, ada yang nasional. Banyak diantaranya berperan sebagai

penghubung antara individu dan lembaga-lembaga sosial dan pemerintah yang

rumit dimana merekamerupakan bagiannya, mengisi peran yang tidak

diberikan kepada pemerintah dan menawarkan kesempatan kepada individu

untuk menjalankan hak dan tanggung jawab mereka sebagai warga negara

demokrasi.

Kelompok-kelompok ini mewakili kepentingan anggota mereka dalam

berbagai cara- dengan mendukung calon bagi jabatan pemerintah,

memperdebatkan isu-isu dan berusaha mempengaruhi keputusan politik.

Melalui kelompok demikian orang mempunyai saluran untuk berpartisipasi

secara bermakna baik di pemerintahan maupun di masyarakat mereka sendiri.

Contohnya banyak dan bervariasi: organisasi amal dan gereja, kelompok

lingkungan dan pemukiman, ikatan bisnis dan serikat sekerja.

Dalam masyarakat otoriter, boleh dikata semua organisasi demikian

dikendalikan, didaftar, diawasi, atau sebaliknya bertanggung jawab kepada

pemerintah. Dalam demokrasi, kekuasaan pemerintah secara hukum diuraikan

dengan jelas dan dibatasi secara tajam. Akibatnya, organisasi swasta bebas

dari kontrol pemerintah; sebaliknya, banyak diantara organisasi itu melobi

pemerintah dan mengupayakan agar pemerintah bertanggung jawab atas

tindakan-tindakannya. Kelompok lain, yang mengurusi seni, pelaksanaan


ibadah agama, penelitian ilmiah dan kepentingan lain, bisa memilih sedikit

atau tidak berhubungan sama sekali dengan pemerintah.

Dalam dunia masyarakat swasta demokratis yang sibuk ini, warga

dapat menjajagi kemungkinan kebebasan dan tanggung jawab pemerintahan

sendiri- tidak ditekan oleh tangan negara yang berpotensi kuat.

Demokrasi dan Pendidikan

Pendidikan adalah unsur vital dalam setiap masyarakat, tapi terutama

masyarakat demokratis. Sebagaimana ditulis Thomas Jefferson: “Jika suatu

bangsa ingin bodoh dan bebas, dalam suatu negara beradab, bangsa itu

mengharapkan apa yang tidak pernah ada dan yang tidak akan pernah ada.”

Berlawanan dengan masyarakat otoriter yang berusaha menanamkan sikap

menerima secara pasif, sasaran pendidikan demokratis adalah menghasilkan

warga negara yang bebas, mau bertanya dan analitis dalam pandangan mereka,

tapi memahami ajaran dan praktek demokrasi. Guru besar dari Universitas

Vanderbilt, Chester E. Finn Jr., mengatakan dalam pidatonya di depan para

pendidik di Nikaragua: “orang mungkin lahir disertai selera kebebasan

pribadi, tapi mereka tidak lahir disertai pengetahuan tentang tata sosial dan

politik yang membuat kebebasan itu mungkin pada saatnya bagi mereka

sendiri dan anak-anak mereka. Hal itu harus diperoleh. Harus dipelajari.

Siswa dapat belajar tentang prinsip-prinsip demokrasi dalam semangat

bertanya. Semangat ini sendiri merupakan nilai demokratis. Pada waktu yang

sama, siswa didorong untuk menantang pemikiran konvensional dengan

argumentasi yang beralasan dan penelitian yang cermat. Suatu demokrasi


rezim adalah abdi rakyat. Kesanggupan rakyat untuk menciptakan, menunjang

dan meningkatkan rezim itu sebagian besar bergantung pada keefektifan

sistem pendidikan yang mereka lalui. Dalam demokrasi, dapat pula dikatakan

bahwa pendidikan memungkinkan kebebasan itu sendiri untuk tumbuh pada

waktunya.

Konflik, Mufakat, Konsesus

Manusia mempunyai berbagai keinginan yang kadang-kadang

bertentangan. Orang menginginkan keamanan tapi menikmati petualangan;

mereka menyuarakan kebebasan individu tapi menuntut persamaan sosial.

Demokrasi dalam banyak hal tidak lebih dari sekadar perangkat peraturan

untuk mengelola konflik. Pada waktu yang sama, konflik ini harus dikelola

dalam batas-batas tertentu dan menghasilkan mufakat, konsesus atau

pengaturan lain yang diterima semua pihak sebagai sah.

Suatu tekanan berlebihan pada salah satu sisi keseimbangan itu akan

mengancam upaya keseluruhan. Jika kelompok-kelompok memandang

demokrasi sebagai tidak lebih dari suatu forum di mana mereka dapat

mendesakkan tuntutan mereka, masyarakat dapat hancur dari dalam. Jika

pemerintah menjalankan tekanan berlebihan untuk mencapai konsensus,

dengan membungkam suara rakyat, masyarakat dapat dihancurkan dari atas.

Jawabannya ialah tidak ada jawaban tunggal atau mudah. Demokrasi bukanlah

mesin yang berjalan sendiri begitu prinsip-prinsip dan prosedurnya yang tepat

disisipkan. Suatu masyarakat demokratis membutuhkan komitmen warga

negaranya yang menerima bahwa konflik tidak dapat dihindarkan dan


toleransi diperlukan. Penting diakui bahwa banyak konflik dalam suatu

masyarakat demokratis bukanlah antara pihak-pihak yang jelas-jelas “benar”

atau “salah”, tapi antara berbagai penafsiran yang berbeda atas hak-hak

demokratis dan prioritas sosial.

Individu dan kelompok harus bersedia, minimalnya, menerima

perbedaan satu sama lain, mengakui bahwa pihak lain mempunyai hak yang

sah dan sudut pandang yang sah pula. Berbagai pihak dalam suatu perdebatan,

entah dalam lingkungan lokal atau parlemen nasional, dengan demikian dapat

bertemu dalam suatu semangat mufakat dan mencari penyelesaian khusus

yang membangun di atas prinsip umum pemerintahan mayoritas dan hak

minoritas.Dalam beberapa hal, suatu suara resmi mungkin diperlukan, tetapi

kelompok-kelompok sering dapat mencapai suatu konsensus tidak resmi atau

penyesuaian melalui debat dan mufakat. Proses demikian mempunyai

tambahan manfaat pembangunan kepercayaan yang diperlukan untuk

menanggulangi masalah di masa depan.

Demokrasi bukanlah seperangkat kebenaran yang diungkapkan dan

tidak berubah, melainkan suatu mekanisme bagi rakyat untuk mencapai

kebenaran, betapapun tidak sempurnanya, melalui pertentangan dan mufakat

antara gagasan, individu dan institusi. Demokrasi itu pragmatis. Gagasan dan

penyelesaiannya tidak diujikan terhadap suatu ideologi yang kaku tetapi

dicobakan dalam dunia nyata di mana hal-hal itu dapat diperdebatkan dan

diubah, diterima atau dibuang.

Pemerintahan sendiri tidak dapat melindungi terhadap kesalahan,

mengakhiri pertentangan etnis atau menjamin kesejahteraan ekonomi. Namun


demokrasi memperbolehkan perdebatan dan pengujian yang dapat

menemukan kesalahan, membiarkan kelompok-kelompok bertemu dan

mengatasi perbedaan, dan menawarkan kesempatan inovasi dan investasi yang

merupakan mesin pertumbuhan ekonomi.

SOKO GURU DEMOKRASI

• Kedaulatan Rakyat
• Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang
diperintah
• Kekuasaan mayoritas
• Hak-hak minoritas
• Jaminan hak-hak asasi manusia
• Pemilihan yang bebas dan jujur
• Persamaan di depan hukum
• Proses hukum yang wajar
• Pembatasan pemerintah secara konstitusional
• Pluralisme sosial, ekonomi dan politik
• Nilai-nilai toleransi, pragmatisme, kerja sama dan
mufakat

B. Tugas Kelompok

a. Lembar observasi dosen dalam kegiatan belajar mahasiswa dalam

kelompok1

1
Diadaptasi dari Stahl; 1994
KEGIATAN BELAJAR MAHASISWA DALAM KELOMPOK

Pokok Bahasan : …………………………………………………..


Hari/Tanggal : …………………………………………………..

NO. NAMA KELOMPOK NAMA ANGGOTA KELOMPOK


…………………………
I. KETRAMPILAN BEKERJA ……. ……. ……. ……. …….
SAMA
1. Penampilan
2. Peran dalam kelompok
3. Kemampuan
merumuskan/menyimpulkan

4. Kemampuan menyampaikan
ide/saran

II. FUNGSI DALAM KERJA


KELOMPOK
1. Sumbangan pemikiran
2. Penyimpulan ide/saran
3. Memotivasi anggota/siswa lain
4. Inisiatif kerja dalam kelompok
5. Pengkoordinasian kerja
kelompok
b. Pedoman Observasi Interaksi Belajar Mahasiswa Dengan Model
Cooperative Learning

Hari/Tgl. : ………………………………
Pokok Bahasan : ………………………………
Kelas : ………………………………

NO. ASPEK YANG HASIL PENGAMATAN


DIAMATI
01. Interaksi antara mahasiswa a. Banyak mahasiswa berinteraksi dengan
dengan mahasiswa lainnya yang lainnya
……………………………………………….
b. Hampir tidak ada mahasiswa berinteraksi
dengan cara berpindah tempat ke
kelompok lainnya
……………………………………………….
c. Hanya mengecek kemajuan pekerjaannya
mahasiswa berpindah tempat duduk
……………………………………………….

02. Jenis Interaksi yang a. Mahasiswa membagi ide dan


berkembang pengetahuannya untuk membantu setiap
anggota kelompoknya
……………………………………………….
b. Mahasiswa mengerjakan tugasnya sendiri,
mencoba melupakan mahasiswa lainnya
untuk melengkapinya.
……………………………………………….
c. Mahasiswa bekerja sendiri, tetapi
mencoba melihat pekerjaan temannya
untuk mengecek jawabannya namun
bukan meniru, membagi, atau membantu
saling melengkapi.
……………………………………………….
d. Hampir semua mahasiswa berinteraksi
dengan yang lainnya seperti sebuah
masyarakat, dan melupakan tugas yang
harus dikerjakannya
……………………………………………….
NO. ASPEK YANG HASIL PENGAMATAN
DIAMATI
03. Metode yang digunakan a. Mahasiswa bekerja dalam kelompok dan
oleh mahasiswa untuk saling melengkapi, kemudian merumuskan
menyelesaikan tugas atau hasil kerjanya atas nama kelompoknya.
pekerjaannya ……………………………………………….

b. Mahasiswa bekerja secara sendiri-sendiri


dan melupakan anggota lainnya dalam
mengerjakan tugas
……………………………………………….
c. Mahasiswa bekerja sendiri-sendiri, masing-
masing berusaha mengerjakan tugasnya
secepatnya dan selengkap mungkin.
……………………………………………….

04. Reaksi mahasiswa pada a. Mahasiswa secara verbal atau non verbal,
saat salah seorang atau menganggap hal itu adalah bagi semua
kelompok lainnya kelompok yang ada
mendapat pujian atau ……………………………………………….
teguran dari dosen b. Mahasiswa secara verbal dan non verbal
menganggap pujian atau kritikan dosen
berlaku terhadap semua aktivitas/hasil kerja
kelompok yang ada
……………………………………………….
c. Perilaku mahasiswa baik verbal maupun non
verbal, menganggap pujian dosen terhadap
kelompok lainnya berarti apa yang
dikerjakannya masih jelek, dan kritikan
dosen terhadap kelompok lainnya berarti apa
yang dikerjakannya lebih baik dari
kelompok lain.
……………………………………………….

05. Perhatian mahasiswa a. Mahasiswa menanggapi dengan penuh


terhadap ide, pendapat, persahabatan, dan menggunakan hal itu
dan kritik siswa lainnya. sebagai bahan untuk melengkapi tugasnya.
………………………………………………

b.Mahasiswa mengabaikan pendapat atau ide


dari siswa lainnya.
………………………………………………
NO. ASPEK YANG HASIL PENGAMATAN
DIAMATI
06. Orientasi dan partisipasi a. Mahasiswa memperlihatkan semangat
mahasiswa dalam kebersamaan dalam mengerjakan tugas
mengerjakan tugas dengan saling membantu satu sama
lainnya dengan menggunakan istilah-
istilah , “kita” atau bahasa lainnya dalam
menyelesaikan tugas.
………………………………………………

b. Mahasiswa tekun mengerjakan tugasnya


sendiri, tetapi mengabaikan mahasiswa
lainnya.
………………………………………………
c. Mahasiswa tekun mengerjakan tugasnya
sendiri dan mengecek pekerjaan siswa
lainnya untuk menjadikan tugasnya lebih
baik atau terbaik dari mahasiswa lainnya.
………………………………………………

07. Kepada siapa mahasiswa a. Mahasiswa bertanya atau minta bantuan


bertanya dalam mahasiswa lain
menyelesaikan tugas ………………………………………………
b. Mahasiswa bertanya atau minta bantuan
kepada dosen
………………………………………………
NO. ASPEK YANG HASIL PENGAMATAN
DIAMATI
01. Komunikasi dosen dengan a. Dosen mendorong mahasiswa untuk
mahasiswa bekerja dengan mahasiswa lainnya dalam
suasana persahabatan untuk meningkatkan
hasil kerja salah satu kelompok dan akan
mengevaluasinya berdasarkan standar
yang telah ditetapkan sebelumnya.
………………………………………………
b. Mereka mendorong untuk bekerja dengan
sesama anggota kelompok dengan
mengabaikan mahasiswa atau kelompok
lainnya kemudian melakukan evaluasi
berdasarkan standar yang telah ditetapkan.
………………………………………………
c. Dosen mendorong mahasiswa untuk
bekerja sama diantara mereka agar lebih
baik dengan kelompok lainnya, kemudian
mereka akan dievaluasi berdasarkan hasil
kerja dan penampilannya dalam kelompok
………………………………………………
02. Bentuk Interaksi dosen a. Dosen mengobservasi kegiatan kelompok,
-mahasiswa memberikan motivasi untuk merangsang
pemikiran kelompok tetapi tidak
memberikan jawaban terhadap tugas yang
dikerjakan mahasiswa, dan mendorong
semua kelompok untuk bekerja dengan
baik.
………………………………………………
b. Dosen berinteraksi dengan setiap
mahasiswa, menumbuhkan semangat
kerja, keterlibatan dalam kelompok untuk
mencapai tujuan, dan menjawab
pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa
secara perorangan.
………………………………………………
c. Dosen berinteraksi dengan sebagian
mahasiswa saja untuk memperjelas cara
kerja kelompok, tugas yang harus
dikerjakan, kebersamaan, dan tujuan dari
pembelajaran kelas yang sedang dilakukan
………………………………………………

d. Dosen tidak berinteraksi dengan satu


mahasiswapun, dosen hanya bekerja di
belakang mejanya, keluar dari ruangan
kelas dan mengawasi mahasiswanya dari
luar kelas
………………………………………………
e. Dosen berinteraksi dengan mahasiswa
dengan cara berdiri di muka kelas untuk
memberikan penjelasan atau jawaban
kepada mahasiswa secara perorangan.
………………………………………………
03. Reaksi mahasiswa ketika a. Dosen mendorong mahasiswa untuk
dosen memotivasi, meningkatkan rasa kebersamaan dalam
mengkritik, dan kelompok untuk mengerjakan tugas
memberikan contoh tentang dengan cara saling memberi dan
cara bekerja dalam menerima satu dengan yang lainnya,
kelompok dimana mahasiswa tampak
memperhatikan penjelasan dosen sambil
terus mengerjakan tugasnya.
………………………………………………
b. Dosen mengarahkan dan memotivasi
mahasiswa secara perseorangan dan
mengabaikan siswa lainnya.
………………………………………………
c. Dosen dan mahasiswa terlibat
percakapan serius sehingga kelas
menjadi gaduh dan menganggu
mahasiswa lain
………………………………………………
d. Dosen membiarkan mahasiswa untuk
berkeliling dari satu kelompok ke
kelompok lainnya sehingga kerjsama
kelompok menjadi kacau
………………………………………………
e. Mahasiswa dan dosen sama-sama asik
dengan pekerjaannya masing-masing,
sehingga suasana kelas kaku
………………………………………………

05. Perolehan belajar a. Mahasiswa lebih banyak bermain


mahasiswa terhadap materi sehingga mengabaikan materi yang
yang dibahas semestinya dipelajari
………………………………………………

b. Mahasiswa secara aktif mempelajari


materi untuk menemukan jawaban tugas
yang diberikan dosen
………………………………………………
06. Perilaku mahasiswa pada a. Mahasiswa secara mandiri berusaha
saat mengerjakan melengkapi tugas atau tes yang diberikan
tugas/evaluasi dosen
………………………………………………
b. Mahasiswa mengerjakan tugas atau soal
yang diberikan dosen secara mandiri tetapi
untuk mengecek jawaban yang benar
mereka langsung bertanya kepada dosen
………………………………………………
c. Mahasiswa berdiskusi secara aktif dengan
mahasiswa lainnya dalam suasana
persahabatan dalam mengerjakan atau
melengkapi soal-soal yang diberikan
dosen
………………………………………………
07. Suasana dan interaksi a. Mahasiswa hanya diam dan acuh terhadap
mahasiswa pada waktu pernyataan dosen sambil menganggu
dosen melakukan refleksi temannya/bermain
terhadap proses belajar ………………………………………………
mengajar b. Mahasiswa memperhatikan penjelasan
dosen dan ikut serta mengajukan ide atau
pendapat selama proses refleksi yang
dilakukan oleh dosen
………………………………………………

Kelompok Kecil 2- 5 Orang

Diskusikan dalam kelompok kecil, kemudian presentasikan hasil kerja

kelompok saudara di depan kelas, tanggapi, kemudian buat laporan hasil kerja

kelompok (kesimpulan kelas terhadap permasalahan tersebut).

1. Bagaimana menumbuhkan budaya demokratis di lingkungan kampus ?

2. Faktor-faktor apa yang menjadi penghambat budaya demokratis ?

3. Apa faktor pendukung tumbuhnya budaya demokratis ?

C. Tugas Individual

a. Tes (Meliputi Evaluasi Proses dan Hasil, dilakukan secara continue,

utuh, menyeluruh, melalui alat tes dan non-tes)

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar, singkat dan jelas !


1. Jelaskan pengertian dasar HAM ?

2. Jelaskan hakikat HAM

3. Bagaimana pelaksanaan HAM di Indonesia pada masa pemerintahan

Soeharto?

4. Bagaimana pelaksanaan HAM di Indonesia pada masa pemerintahan

Megawati Soekarno Putri ?

b. Tugas individual (bedah buku)

1. Pilih buku sumber tentang HAM dan buat laporan tentang isi buku tersebut!

8.2. Proses Pembelajaran

Langkah-langkah dalam penggunaan model cooperative learning secara


umum (Stahl; 1994, Slavin; 1983) dapat dijelaskan secara operasional sebagai
berikut:
a) Langkah pertama yang dilakukan oleh dosen adalah merancang

rencana program pembelajaran. Pada langkah ini dosen

mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin

dicapai dalam pembelajaran. Disamping itu, dosen juga menetapkan

sikap dan ketrampilan-ketrampilan sosial yang diharapkan

dikembangkan dan diperlihatkan oleh mahasiswa selama

berlangsungnya pembelajaran. Dosen dalam merancang program

pembelajarannya juga harus mengorganisasikan materi dan tugas-tugas

mahasiswa harus mencerminkan sistem kerja dalam kelompok kecil.

Artinya bahwa materi dan tugas-tugas itu adalah untuk dibelajarkan

dan dikerjakan secara bersama dalam dimensi kerja kelompok. Untuk

memulai pembelajarannya, dosen harus menjelaskan tujuan dan sikap


serta ketrampilan sosial yang ingin dicapai dan diperlihatkan oleh

mahasiswa selama pembelajaran. Hal ini mutlak harus dilakukan oleh

dosen, karena dengan demikian mahasiswa tahu dan memahami apa

yang harus dilakukannya selama proses belajar mengajar berlangsung.

b) Dalam aplikasi pembelajarannya di kelas, dosen merancang lembar

observasi yang akan digunakan untuk mengobservasi kegiatan

mahasiswa dalam belajar secara bersama dalam kelompok-kelompok

kecil. Dalam menyampaikan materi, dosen tidak lagi menyampaikan

materi secara panjang lebar, karena pemahaman dan pendalaman

materi itu nantinya akan dilakukan mahasiswa ketika belajar secara

bersama dalam kelompok. Dosen hanya menjelaskan pokok-pokok

materi dengan tujuan mahasiswa mempunyai wawasan dan orientasi

yang memadai tentang materi yang diajarkan. Pada saat dosen selesai

menyajikan materi, maka langkah berikutnya harus dilakukan adalah

menggali pengetahuan dan pemahaman siswa tentang materi pelajaran,

berdasarkan apa yang telah dibelajarkan. Hal ini dimaksudkan untuk

mengkondisikan kesiapan belajar mahasiswa. Berikutnya, dosen

membimbing mahasiswa untuk membuat kelompok. Pemahaman dan

konsepsi dosen terhadap siswa secara individual sangat menentukan

kebersamaan dari kelompok yang terbentuk. Kegiatan ini dilakukan

sambil menjelaskan tugas yang harus dilakukan oleh mahasiswa dalam

kelompoknya masing-masing. Pada saat mahasiswa belajar secara

berkelompok, maka dosen mulai melakukan monitoring dan


mengobservasi kegiatan belajar mahasiswa berdasarkan lembar

observasi yang telah dirancang sebelumnya.

c) Langkah ketiga, dalam melakukan observasi terhadap kegiatan

mahasiswa, dosen mengarahkan dan membimbing mahasiswa baik

secara individual maupun kelompok baik dalam memahami materi

maupun mengenai sikap dan perilaku mahasiswa selama kegiatan

belajarnya. Pemberian pujian dan kritik membangun dosen kepada

mahasiswa merupakan aspek penting yang harus diperhatikan oleh

dosen pada saat mahasiswa bekerja dalam kelompoknya. Disamping

itu, pada saat kegiatan kelompok berlangsung. Ketika mahasiswa

terlibat dalam diskusi dalam masing-masing kelompok, dosen secara

periodik memberikan layanan kepada mahasiswa baik secara

individual maupun secara klasikal.

d) Langkah keempat, dosen memberikan kesempatan kepada mahasiswa

dari masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya.

Pada saat diskusi kelas ini, dosen bertindak sebagai moderator. Hal ini

dimaksudkan untuk mengarahkan dan mengoreksi pengertian dan

pemahaman mahasiswa terhadap materi atau hasil kerja yang telah

ditampilkannya. Pada saat presentasi mahasiswa berakhir, maka dosen

mengajak mahasiswa untuk melakukan refleksi diri, terhadap proses

jalannya pembelajaran, dengan tujuan untuk memperbaiki kelemahan-

kelemahan yang ada atau sikap serta perilaku menimpang yang

dilakukan selama pembelajaran. Di samping itu, pada saat tersebut,

dosen juga memberikan beberapa penekanan terhadap nilai, sikap, dan


perilaku sosial yang harus dikembangkan dan dilatih oleh mahasiswa.

Dalam melakukan refleksi diri ini, dosen tetap berperan sebagai

mediator dan moderator aktif. Artinya, pengembangan ide, saran dan

kritik terhadap proses pembelajaran harus diupayakan berasal dari

mahasiswa, kemudian barulah dosen melakukan beberapa perbaikan

dan pengarahan terhadap ide, saran, dan kritik yang berkembang.

Untuk lebih jelasnya, mekanisme pembelajaran dengan cooperative

learning secara umum dapat digambarkan dalam bagan berikut:


MEKANISME PEMBELAJARAN DENGAN MODEL
COOPERATIVE LEARNING

PROGRAM PENGAJARAN/ Perencanaan


TARGET PEMBELAJARAN
PROGRAM PEMBELAJARAN Pembelajaran
Penguasaan materi/konsep
Sikap dan ketrampilan sosial

PEMBENTUKAN KELOMPOK DAN


PENGARAHAN/PENGKONDISIAN SISWA UNTUK
BEKERJA SAMA

Peer Tutor KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR DALAM Belajar


(Tutor Teman Sebaya) KELOMPOK BELAJAR Kolaboratif

Pengembangan pengetahuan dan ketrampilan siswa dalam


suasana belajar berkelompok

HASIL KERJA
PROSES KERJA KELOMPOK
KELOMPOK

PENYAJIAN/UNJUK KERJA CATATAN OBSERVASI GURU


SISWA/KELOMPOK SISWA Pemberian Hadiah
MENGENAI KERJA SISWA dan Kritik Siswa

DEBRIEFING
Refleksi dan Internalisasi

David Hornsby; 1981)


SKENARIO PEMBELAJARAN MODEL COOPERATIVE LEARNING

LANGKAH PERTAMA

1. Sampaikan tujuan pembelajaran (TPK) secara jelas pada mahasiswa, sampai

mahasiswa mengerti dan memahami dengan baik. Berikan kesempatan kepada

mahasiswa untuk bertanya sebelum melanjutkan ke langkah berikutnya.

2. Berikan penekanan pada beberapa hal atau aspek yang akan diukur maupun

yang ingin dikembangkan atau harus dipelajari oleh mahasiswa, baik

mengenai materi pelajaran, sikap, maupun ketrampilan-ketrampilan sosial

selama pembelajaran berlangsung (PBM).

3. Jelaskan secara perlahan dan jelas tentang pentingnya materi, sikap maupun

ketrampilan yang akan dikembangkan maupun yang harus dipelajari dalam

kehidupan bermasyarakat.

LANGKAH KEDUA

1. Menjelaskan prosedur pembelajaran yang akan dilakukan secara jelas

2. Menjelaskan metoda dan prosedur penilaian yang akan digunakan selama

proses belajar mengajar.

3. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertanya mengenai metoda

maupun prosedur pembelajaran dan penilaian, sampai mahasiswa mengerti

dan memahaminya.
LANGKAH KETIGA

1. Mengkondisikan mahasiswa untuk mau dan mampu mengembangkan

kerjasama selama pembelajaran berlangsung.

2. Membentuk kelompok mahasiswa berdasarkan rancangan yang telah

disiapkan oleh dosen.

3. Menjelaskan cara kerja dan hal-hal yang harus dilakukan oleh mahasiswa

selama berlangsungnya proses belajar mengajar.

4. Menjelaskan sikap dan ketrampilan-ketrampilan yang harus dikembangkan

dan ditunjukkan oleh mahasiswa maupun kelompok selama proses belajar

mengajar.

5. Menjelaskan hal-hal atau aspek yang akan diamati dan dinilai selama kerja

kelompok.

LANGKAH KEEMPAT

1. Membagikan materi atau tugas yang harus dipelajari/dikerjakan oleh setiap

kelompok.

2. Mengamati kegiatan kerja/belajar mahasiswa dalam masing-maisng

kelompok.

3. Memberikan penjelasan dan membantu mahasiswa/kelompok yang mengalami

kesulitas dalam mempelajari atau mengerjakan tugas kelompoknya.

4. Memberikan pujian kepada mahasiswa/kelompok yang telah bekerja dengan

baik dan mengarahkan mahasiswa atau kelompok yang menganggu atau main-

main selama kegiatan kerja kelompok.


5. Mencatat hal-hal yang terjadi selama kegiatan belajar kelompok dalam lembar

observasi yang telah disiapkan.

LANGKAH KELIMA

1. Melakukan evaluasi terhadap hasil kerja/belajar masing-masing kelompok.

2. Melakukan evaluasi terhadap materi atau pokok bahasan yang telah dipelajari

mahasiswa/kelompok secara individual.

LANGKAH KEENAM

1. Mengajak mahasiswa untuk melakukan evaluasi terhadap kegiatan dan

penampilannya selama kerja kelompok.

2. Mengingatkan hal atau aspek yang belum dikembangkan oleh mahasiswa

selama kegiatan kelompok/belajar kelompok.

3. Memberikan pujian kepada mahasiswa/kelompok yang telah bekerja dengan

baik.

4. Mengingatkan mahasiswa atau kelompok yang belum bisa bekerja dengan

baik.

5. Mengarahkan mahasiswa untuk mempelajari dan mengembangkan hal atau

aspek yang belum tampak dan dikembangkan mahasiswa pada kerja

kelompok pada pertemuan selanjutnya.


8.3. Briefing dan Evaluasi

Dosen mengakhiri pembelajaran dengan mengajak mahasiswa untuk

mengevaluasi unjuk kerja mereka selama proses pembelajaran, dan menunjukkan

beberapa sikap dan perilaku mahasiswa yang perlu dikoreksi dan diperbaiki.

Di samping itu melakukan evaluasi terhadap materi atau pokok bahasan

yang telah dipelajari mahasiswa/kelompok secara individual. Mengajak

mahasiswa untuk melakukan evaluasi terhadap kegiatan dan penampilannya

selama kerja kelompok. Mengingatkan hal atau aspek yang belum dikembangkan

oleh mahasiswa selama kegiatan kelompok/belajar kelompok.

Berikanlah pujian kepada mahasiswa baik secara individual maupun

kelompok yang telah bekerja dengan baik. Berikanlah kritik yang konstruktif dan

mengingatkan mahasiswa atau kelompok yang belum bekerja dengan baik.

Mengarahkan mahasiswa untuk mempelajari dan mengembangkan hal

atau aspek yang belum tampak dan dikembangkan mahasiswa pada kerja

kelompok untuk pertemuan selanjutnya.


KUISIONER MAHASISWA

PENDAPAT MAHASISWA MENGENAI MODEL COOPERATIVE

LEARNING

Nama : (kode)

BERILAH TANDA SILANG (X) PADA SALAH SATU PERNYATAAN DI


BAWAH INI SESUAI DENGAN APA YANG SAUDARA RASAKAN,
DIALAMI, DAN DILAKUKAN. JAWABAN SAUDARA TIDAK
BERPENGARUH TERHADAP PENILAIAN HASIL BELAJAR.

NO. PERNYATAAN S TT TS
1. Materi pelajaran IPS dapat saudara pelajari dan dipahami
dengan lebih mudah melalui belajar dengan model
cooperative learning
2. Saya lebih senang belajar dengan menggunakan model
cooperative learning dibandingkan dengan cara belajar yang
lainnya
3. Dengan menggunakan model belajar cooperative learning,
saya lebih bersemangat dalam mempelajari IPS
4. Belajar dengan menggunakan model cooperative learning,
ternyata belajar IPS itu menyenangkan
5. Model cooperative learning yang diterapkan dosen selama ini
membuat saya lebih akrab dan dekat dengan teman-teman di
ruang kuliah (kelas)
6. Dengan model cooperative learning, saya dapat belajar dan
mengerjakan tugas secara berkelompok, dapat membantu
untuk mengerti pelajaran IPS dengan lebih baik
7. Model cooperative learning, memberikan kesempatan pada
mahasiswa untuk belajar mandiri.
NO. PERNYATAAN S TT TS
8. Kesempatan untuk berdiskusi dan saling tukar pendapat
dengan teman lebih banyak dengan menggunakan model
cooperative learning
9. Model cooperative learning yang digunakan dosen dalam
mengajar sangat membantu saya dalam meningkatkan prestasi
belajar
10. Belajar dengan menggunakan model cooperative learning,
memberikan kesempatan yang banyak pada saya untuk saling
membantu dalam mengerjakan tugas dengan teman
11. Dengan menggunakan model cooperative learning, saya dapat
belajar cara menyampaikan pendapat dan mendengarkan
pendapat orang lain
12. Model cooperative learning yang diterapkan dosen selama ini
membuat saya lebih giat belajar, agar dapat menyumbangkan
pikiran dalam kerja kelompok
13. Saya ingin dalam setiap mengajar dosen menggunakan model
cooperative learning
14. Dengan menggunakan model cooperative learning sangat
membantu dalam meningkatkan kegairahan saya dalam
belajar IPS
15. Model cooperative learning mengkondisikan tumbuhnya sikap
ketergantungan yang positif diantara mahasiswa
16. Saya lebih bergairah dan antusias dalam belajar dengan
menggunakan model cooperative learning
17. Dengan menggunakan model cooperative learning
memungkinkan saya untuk belajar bukan saja dari dosen,
tetapi juga dari mahasiswa yang lainnya.
NO. PERNYATAAN S TT TS
18. Saya merasa senang bila dalam setiap mengajar dosen
memberikan pekerjaan secara berkelompok dalam
mengerjakan tugas
19. Model cooperative learning memberikan kesempatan yang
lebih banyak kepada siswa untuk belajar

Keterangan:
S = Setuju
TT = Tidak Tahu
TS = Tidak Setuju
PEDOMAN WAWANCARA MAHASISWA
MENGENAI PENGEMBANGAN MODEL COOPERATIVE LEARNING
DALAM PEMBELAJARAN IPS

Nama Mahasiswa : (kode)

Hari/Tanggal :

NO. ASPEK YANG DITANYAKAN TANGGAPAN


1. Kegairahan dan motivasi dalam belajar IPS
2. Penguasaan materi pelajaran
3. Keakraban dengan mahasiswa lainnya
4. Suasana belajar mengajar
5. Iklim belajar dalam belajar kelompok
6. Tanggapan terhadap cara mengajar dosen
7. Tanggapan terhadap aktivitas belajar kelompok
8. Suasana kelas secara umum
9. Cara dosen melakukan pembelajaran
10. Penampilan dosen ketika belajar kelompok
11. Kegiatan briefing pada akhir pembelajaran
12. Pola evaluasi yang dilakukan guru
13. Hasil belajar yang dicapai
14. Kemungkinan penerapan model cooperative
learning bagi materi/pelajaran lain
15. Harapan terhadap pengembangan model
cooperative learning