Anda di halaman 1dari 30

BAB IX

APLIKASI COOPERATIVE LEARNING DALAM IPS PADA MATERI

GOOD GOVERNANCE

9.1. Persiapan Sebelum Pembelajaran

A. Materi Good Governance (Diberikan dalam bentuk hand out)

Citra pemerintahan buruk yang ditandai dengan tindakan korupsi, kolusi

dan nepotisme (KKN) telah melahirkan sebuah fase sejarah politik bangsa

Indonesia dengan semangat good governance. Istilah good governance secara

berangsur menjadi popular baik dikalangan pemerintahan, swasta mupun

masyarakat secara umum. Di Indonesia, istilah ini secara umum diterjemahkan

dengan pemerintahan yang baik. Meskipun ada beberapa kalangan yang

konsisten menggunakan istilah aslinya karena memandang luasnya dimensi good

governance yang tidak bisa direduksi hanya menjadi pemerointah semata.

Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh lembaga dana internasional

seperti World Bank, UNDP dan IMF dalam rangka menjaga dan menjamin

kelangsungan dana bantuan yang diberikan kepada negara-negara sasaran

bantuan. Pada dasarnya, badan-badan Internasional ini berpandangan bahwa

setiap bantuan internasional untuk pembangunan di negara-negara dunia, terutama

negara berkembang, sulit berhasil tanpa adanya good governance di negara-negara

tersebut. Karena itu, good goovernance kemudian menjadi isu sentral dalam

hubungan lembaga-lembaga multilateral tersebut dengan negara sasaran. (Wood

dalam Saiful Munjani,2001).


Wacana good governance mendapatkan relevansinya di Indonesia dalam

pandangan mesyarakat transparasi Indonesia ( MTI), 2002: vii) paling tidak

dengan tiga sebab utama :

Pertama, krisis ekonomi dan politik yang masih terus menerus dan belkum ada

tanda-tanda akan segera berakhir;

Kedua, masih banyaknya korupsi dan berbagai bentuk penyimpangan dalam

penyelenggaraan negara;

Ketiga, kebijakan Otonomi Daerah yang merupakan harapan besar bagi proses

demokratisasi dan sekaligus kekhawatiran akan kegagalan program tersebut.

Alasan lain adalah masih belum optimalnya pelayanan birokrasi pemerintahan dan

juga sektor swasta dalam memenuhi kebutuhan dan kepentingan publik.

Meskipun istilah good governance sering disebut dalam berbagai

kesempatan, istilah tersebut dimaknai secara berlainan. Satu sisi ada yang

memaknai good governance sebagai kinerja suatu lembaga, misalnya kinerja suatu

pemerintahan, perusahaan atau organisasi masyarakat. Menurut MM. Billah,

istilah ini merujuk atau mengendalikan atau mempengaruhi masalah publik untuk

mewujudkan nilai-nilai itu dalam tindakan dan kehidupan keseharian. Dengan

demikian ranah good governance tidak terbatas pada negara atau birokrasi

pemerintahab, tetapi juga pada ranah masyarakat sipil yang direpresentasikan oleh

organisadsi non-pemerintah (ORNOP) seperti Lembaga Swadaya Mesyarakat

(LSM) dan juga sektor swasta. Singkatnya, tuntutan terhadap good governanece

tidak selayaknya hanya ditujukan kepada penyelenggara negara atau

pemerintahan, melainkan juga pada masyarakat di luar struktur birokrasi


pemerintahan yang secara bersemangat menuntut penyelenggaraan good

governance pada negara (MM. Billah, 1996: 40).

Sisi lain memaknai good governance sebagai penerjemahan kongkrit dari

demokrasi. Tegasnya menurut Taylor, good governance adalah pemerintahan

demokratis seperti yang dipraktekan dalam negara negara demokrasi maju di

Eropa barat dan amerika misalnya (saiful Munjani, 2001). Demokrasi sebagai

suatu sistem pemerinbtahan dianggap sifat-sifat good governance yang secara

normative dituntut kehadirannya sebagai suksesnya suatu bantuan Badan-Badan

Dunia. Ia merupakan alternatif dari system pemerintahan lain seperti Totalitarisme

Komunis Atau Otoritarisme Militer yang sempat populer di negara-negara dunia

ketika di masa Perang Dingin.

Pada dasarnya konsep good governance memberikan rekomendasi pada

sistem pemerintahan yang menekankan kesetaraaan antara lembaga-lembaga

negara baik di Tingkat Pusat maupun Daerah, sektor swasta, dan masryarakat

madani (civil society). Good governance diartikan sebagai suatu kesepakatan

menyangkut pengaturan negara yang diciptakan bersama oleh pemerintah,

masyarakat madani (civil msociety) dan sektor swasta. Kesepakatan tersebut

mencakup keseluruhan bentuk mekanisme, proses dan lembaga-lembaga dimana

warga dan kelompok masyarakat mengutarakan kepentingannya menggunakan

hak hukum, memenuhi kewajiban dan menjembatani perbedaan di antara mereka.

Sementara UNDP menyebutnya sebagai pelaksanaan politik, ekonomi, dan

administrasi dalam mengelola masalah-masalah bangsa. Pelakasanaan

kewenangan tersebut bisa dikatakan baik (good atau sound) jika dilakukan dengan
efektif dan efisien, responsive terhadap kebutuhan rakyat, dalam suasana

demokratis, akuntabel serta transparan ( Mas Ahmad Santosa, 2001: 86).

Sesuai dengan pengertian di atas, maka pemerintahan yang baik itu adalah

pemerintahan yang baik dalam ukuran proses maupun hasil-hasilnya. Semua

unsur dalam pemerintahan bisa bergerak secara sinergis, tidak saling berbentruran,

memperoleh dukungan dari rakyat dan lepas dari gerakan-gerakan anarkis yang

bisa menghambat proses dan lajunya pembangunan. Pemerintahan juga bisa

dikatakan baik jika pembangunan itu dapat dilakukan dengan biaya yang sangat

minimal menuju cita kesejahteraan dan kemamkmuran sebagai basis model

Pemerintahan yang baik. Pemerintahan dikatakan baik, jika produktif dan

memperlihatkan hasil dengan indikator kemampuan ekonomi rakyat meningkat

baik dalam aspek produktivitas maupun dalam daya belinya, kesejahteraan

spritualitasnya terus meningkat dengan indikator rasa aman, tenang dan bahagia

serta Sense of Nationality yang baik. Semua indoikator itu diukur dengan

paradigma pemerataan, sehingga kesenjangan itu secara dini terus diperkecil.

Proses pelkasanaan pembangunan sebagai wujud pelaksanaan amanah

pemerintahannya juga harus dengan penuh transparasi serta didukungnya dengan

manajemen yang akuntable.

Good governance sebagai sebuah paradigma dapat terwujud bila ketiga

pilar pendukungnya dapt berfungsi secara baik, yaitu negara, sektor swasta, dan

masyarakat madani (Civil Society). Negara dengan birokrasi pemerintahannya

dituntut untuk merubah pola pelayanan dari Birokrasi Elitis menjadi Birokrasi

Populis. Sektor swasta sebagai poengelola sumber daya di luar negara dan

birokrasi pemerintahan pun harus memberikan kontribusi dalam usaha


pengelolaan sumber daya tersebut. Penerapan cita-cita good governance pada

akhirnya mensyaratkan keterlibatan Organisasi Kemasyarakatan Sebagai

Kekuatan Penyeimbang Negara.

Prinsip-prinsip good governance

Visi good governance kini sudah menjadi bagian diskursus dalam wacana

pengembangn paradigmna birokrasi dan pembangunan ke depan. Dari berbagai

hasil kajiannya, Lembaga Administrasi Negara (LAN) telah menyimpulkan

sembilan aspek fundamental dalam perwujudan good governance, yaitu ;

• partisipasi

• penegakan hukum

• transparasi

• responsi

• orientasi kesepakatan

• keadilan

• efektifitas dan efisiensi

• akuntabilitas

• visi strategis

Partisipasi

Semua warga masyarakat berhak terlibat dalam pengembilan keputusan,

baik langsung maupun melalui lembaga perwakilan yang sah untuk mewakili

kepentingan mereka. Partisipasi menyeluruh tersebut dibangun berdasarkan


kebebasan berkumpul dan mengungkapakan pendapat serta kapasitan untuk

berpartisipasi secara konstruktif. Untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam

seluruh aspek pembangunan, termasuk dalam sektor sektor kehidupan sosial

lainnya selain kegiatan politik, maka regularsi birokrasi harus diminimalisitr.

Paradigma birokrasi sebagai center for public servise haru diikuti dengan

deregulasi berbagai aturan, sehingga proses sebuah usaha dapat dilakukan dengan

efektiv dan efisien. Tidak ciukup hanya dengan itu, aparatur pemerintah juga

harus mengubah paradigma dari penguasa birokrat menjadi pelayan masyarakat

( public server), dengan memberikan pelayanan yang baik, memiliki perhatioan

yang humanis terhadap clientnya, memberika pelayanan yang efisien, etpat waktu

serta dengan biayta murah, sehingga mereka memiliki legitimasi dari masyarakat.

Inila berbagai persyaratan utama untuk mewujudkan cita good governance dalam

konteks memperbesar partisipasi masyarakat. Karena tidak mungkin sebuah

bangsa akan maju dengan cepat, tanpa partisipasi penuh dari warganya.

Penegakan hukum

Partisipasi masyarakat dalam proses politik dan perumusan kenbijakan

publik memerlukan distem dan aturan aturan hukum. Tanpa diimbangi oleh

sebuah hukum dan penegakannya yang kuat, partsisipasi akan berubah menjadi

proses politik yang anarkis. Ditambahkan pula bahwa pelaksna kenegaraan dan

pemerintahan juga harus ditata oleh sebuah system dan aturan hukum yang kuat

serta memiliki kepastian


Sehubungan dengan itu, santisa (2001,h. 87) menegaskan, bahwa proses

mewjudkan cita good governance, harus diimbangi dengan komitmen untuk

menegakkan rule of law, dengan karakter-karakjter antara lain sebagai berikut :

• supremasi hukum

• kepastian hukum

• hukum yang responsive

• penegakan hukum yang konsisten dan non diskriminatif

• independensi peradilan

Transparansi

Salah satu yang menjadi persoalan bangsa di akhir masa orde baru adalah

merebaknya kasu-kasus korupsi yang berkembang sejak awal masa rejim

kekuasaannya. Korupsi sebagai tindakan, baik dilakukan individu maupun

lembaga yang secara langsung merugikan negara, merupakan salah stau yang

harus dihindari dalam upaya menuju cita good governance, karena selain

merugikan negara korupsi bisa menghambat efektivotas dan efisiensi proses

birokrasi dalam pembangunan sebagai ciri utama good governance.

Salah satu yang dapat menimbulkan dan memberi ruang gerak kegiatan

korupsi adalkah manajemen pemerintahan yang tidak transparan. Oleh karena itu

Michael cande3ssus (1997), dalam salah satu rekomendasinya pada PBB untuk

membantu pemulihan perekonomian Indonesia mnenyarankan perlunya tindakan

pemberantasana korupsi dan penyelenggaraan pe,merintahan yang transparan,

khususnya transparan dalam transaksi keuangan negara pengelolaan uang negara

di bank sentral (BI), serta transparansi sektor-sektotr publik.


Pihak IMF memang sangat serius dalam mempertahankan kebijakan

pemberantasan korupsi untuk membantu proses recovery ekonomi, karena

walaupun sudah menjadi fenomena universal, tapi di Indonesia, korupsi sudah

menimbulkan efek metastarik, yaitu penyebaran ke seluruh elemen birokrasi

pemerintahan, dari puncak pimpinan sampai pada pegawai yang paling rendah

sekalipun.

Gaffar menyimpulkan setidaknya ada 8 aspek mekanisme pengelolaan

negara yang harus dilakukan secara transparan, yaitu :

• penetapan posisi, jabatan atau kedudukan

• kekayaan pejabat publik

• pemberian penghargaan

• penetapan kebijakan yang terkait dalam pencerahan kehidupan

• kesehatan

• moralitas para pejabat dan aparatur pelayanan publik

• keamanan dan ketertiban

• kebijakan strategis untuk pncerahan kehidupan masyarakat

Responsif

Salah satu asas fundamental menuju cita good governance adalah

responsive, yakni pemerintah harus peka dan sangat tanggap terhadap persoalan

masyarakat. Gaffar menegaskan bahwa pemerinth harus memahamai kebutuhgan

masyarakatnya, jangan menunggu mereka menyampaikan keinginan-keinginan

itu, tapi mereka secara prodaktif mempelajari dan menganalisis kebutuhan –


kebutuhan mereka, untuk kemudian melahirkan berbagai kebijakan strategis guna

memeni=uhi kepentingan umum tersebut. Sesuai dengan asa responsive, maka

setiap unsure pemerintah haruds memiliki 2 etik, yakni etik individual dan etik

sosial. Kualifikasi etik individual menuntut merelka agar memiliki criteria

kapabilitas dan loyalitas professional. Sedangkan etik sosial menuntut mereka

agar memilikji ensitifitas terhadap berbagai kebutuhan politik.

Terkait dengan asas responsive ini, pemerintah harus terus merumuskan

kebijakan-kebijakan pembangunan sosial terhadap semua kelompok sosial dalam

karakteristik kulturalnya. Dalam upaya mewujudkan asas responsive pemerintah

harus melakukan upaya-upoaya strategis dalam memberikan perlakuan yang

humanis pada kelompok-kelompok masyarakat tanpa pandang bulu.

Consensus

Asas fundamnental lain yang juga harus menjadi perhatian pemerintah

dalam melkasanakan tugas-tugas pemerintajannya menuju cita good governance

adalah pengambilan keputusan secara consensus, yakni pengambilan putusan

mealui proses musyaewarah dan semaksimal mungkin berdasar kesepakatan

bersama. Cara pengambilan keputusan tersebut selain dapat memuaskan semua

pihak atau sebagian besar pihak juga dapat menarik komitmen komponen

masyarakat sehingga memiliki legitimasi untuk melahirkn corcive power

(kekuatan memaksa) dalam upaya mewujudkan efektifitas pelaksanaan keputusan.

Pelaksanaaan prinsip pada praktiknya sangat terkait dengan tingkat partisipasi

masyarakat dalam kegiatan pemetrintahan, kultur demokrasi serta tata aturan

dalam pengambilan kebijakan yang berlaku dalam sebuah system


Kesetaraan dan keadilan

Terkait dengan asa konsesnsus, transparansi dan responsive, good

governance juga harus didukung dengan asas equity, yakni kesamaan dalam

perlakuan dan pelayanan. Asas ini dikemnbangkan berdasarkan pada sebuah

kenyataan bahwa bangsa indonbesia tergolong bangsa yang plural, baik dilihat

dari segi etnik, agama dan budaya. Pluralisme ini tentu saja pda satu sii dapat

memicu masalah apabila dapat dimnafaatkan alam konteks kepentingan sempit

seperti primordialisme, egoisme dan sebagainya. Karenany6a prinsip equity harus

diperhatian agar tidak memunculkan ekses yang tidak diinginkan dalam

penyelenggaraan pemerintahan.

Sebagai sebuah bangsa beradab, dan terus berupaya menuju cita good

governance, proses pengelolaan pemerintahan itu harus memberikan peluang,

kesempatan dan pelayanan dan treatment yang sama dalam koridor kejujuran dan

keadilan. Tidak ada seorang atau sekelompok orangpun yang teraniaya dan tidak

memperoleh apa yang menjadi haknya. Pola pengelolaan pemerintahan seperti ini

akan memperoleh legitimasi yang kuat daroi publik dan akan memperoleh

dukungan setyta partisipasi yang baik dari rakyat.

Efektivitas dan Efisiensi

Disamping harus memperhatikan beragam kepentingan dari berbagai

lapisan dan kelompok sosial sebagaimana doitekankan pada asas equality,

pemerintahan yang baik juga harus memenuhi criteria efektivitas dan efisien,

yakni berdayaguna dan berhasilguna. Criteria efektivitas biasanya diukur dengan


parameter produk yang dapat menjangkau sebesar-besarnya kepentoingan

masyarakat dari berbagai kelompok dan lapisan sosial. Sedangkan efisiensi

biasanya diukur dengan rasionaliutas biaya pembangunan untuk memenuhi

kebutuhan semua masyarakat. Semakin kecil biaya yang terpakai untuk

kepentingan yang terbesar, maka pemerintahan itu termasuk dalam kategori

pemerintahan yang efisien. Citra itulah yang menjadi tuntutan dlam upaya

mewujudkan cita good governance.

Konsep efektifitas dalam sektor kegiatan-kegiatan publik memiliki makna

ganda, baik oleh pejabat publik mau[pun partisipasi masyarakat, dan kedua

efektivitas dalam konteks hasil, yaitu mampu memberikan ksejahteraan pda

sebesar-besar kelompok dan lapisan sosial. Demikian pula makna efisiensi yang

mencakup antara lain efisiensi teknis, efisiensi ongkos, dan efisiensi

kesejahteraan, yakni hasil guna dari sebuah proses pekerjaan yang terserap penuh

oleh masyarakat, dan tidak ada hasil pembangunan yang useless yang tidak

terpakai.

Agar pemerintahan itu efektif dan efisie, maka para prejabat perancang

dan pelaksana tugas-tugas pemeritahan harus mampu menyusun perencanaan-

perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan nyata dari masyarakat, secara rasional

dan terukur. Dengan perencanaan yang rasional tersebut, maka harapan partisipasi

masyarakat akan dapat digerakkan dengan mudah, karena program-program itu

menjadi bagian dari kebutuhan mereka. Kemudian untuk memperoleh partisipasi

yang besar, para aparatur serta pejabat pemerintahan juga harus bersikap terbuka,

dan memberikan kesempatan dan pelayanan kepada mereka dengan baik dan

mudah. Selain itu, pemerintahan juga harus mampu menekan ancaman-ancaman


eksternal yang dapat mengganggu stabilitas politik dan keamanan, karena tanpa

rasa aman yang tinggi, partisipasi masyrakatdalam proses pembangunan sangat

sulit diharapkan secara optimal. Gerakan –gerakan politik untuk menekan para

pengambil kebijakan dengan mengerahkan massa yang sangat rentan dengan

perilaku kekerasan, selain akan memperlambat proses pembangunan, juga akan

menyerap dana dan biaya yang tidak perlu, setidaknya untuk biaya pengaman

aset-aset negara dan penumbuhan rasa aman pada masyarakat.

Dengan demikian, peningkatan efektivitas pemerintahan harus dilakukan

secara komperehensif, tidak sekedar rekayasa internal untuk meningkatkan kinerja

pmerintahannnya sendiri, tapi juga harus diimbangi dengan pembinaan dan

pertumbuhan sikap-sikap demokratis masyarakat yang beradab dan anti

kekerasan, karena gerakan-gerakan massa itu, jika disertai dengan tindakan-

tindakan anarkis dan kekerasan, justru akan melemahkan partisipasi masyarakat

dalam pembangunan. Fenomena itu justru akan mengakibatkan pemerintahan itu

tidak efektif dan tidak efisien. Oleh sebab itu, pemahaman demokrasi yang salah

satu wujudkan adalah melakukan pelibatan masyarakat dalam pengambilan

kebijakan publik, harus ditata sedemikian rupa, agar proses tersebut tidak

melanggar etika demokrasi yang beradab, dan tidak menimbulkan keresahan dalm

masyarakat sehingga legitimasi pemerintaha yang dibangun dengan system

demkrasi tidak menoimbulkan dampak-dampak yang mengurangi efektifitas

pemerintahannya sendiri.

Akuntabilitas
Asas akuntrabilitas menjadi perhatian dan sorotan pada era reformasi ini,

karena kelemahan pemerintahan Indonesia justrudalam kualitas akuntabilitasnya

itu. Asas akuntabilitas berarti pertanggungjawaban pejabat publik terhadap

masyarakat yang memberinya delegasi dan keweenangan untuk mengurusi

berbagai urusan dan kepentingan mereka. Setiap pejabat publik dituntut untuk

mem[pertanggungjawabkan semua kebijakan, pernbuatan, moral, maupun

netralitas sikapnya terhadap masyarakat. Inilah yang dituntut dalam asas

akuntabilitas dalam upaya menuju good governance.

Secara teoritik, akuntabilitas dalam kerangka good governance tiada lain

agar para pejabat atau unsure-unsur yang iberi kewenangan mengelola urusan

publik itu senantiasa terkontrol dan tidak memiliki peluang melakukan

penyimpangan untuk melakukan KKN. Dengan asas ini mereka terus memacu

produktivitas profesionalnya sehingga berperan besar dalam memenuhi berbagai

aspek kepentingn publiknya.

Secara teoritik, akyuntabilitas menyangkut 2 dimensi, yakni akuntbilitas

vertical dan akuntabilitas horizontal. Akuntabilitas vertical menyangkut hubungan

anatar pemegang kekuasaan dengan rakyatnya. Antara pemerintah dengan

warganya. Rakyat mnelalui partai politik, LSM dan institusi-institusi lainnya

berhak meminta pertanggungjawaban kepada pemegang kekuasaan negara.

Pemegang kekuasaan atau jabatan publik dalam struktur kenegaraan harus

menjelaskan kepada rakyat apa yang telah, sedang dan akan dilakukannya di masa

yang akan datang, sebagai wujud akuntabilitasnya terhadap publik yang memebri

kewenangn. Kemudian akuntabilitas vertical juga bermakna bahwa setiap pejabat


harus mempertanggungjawbkan berbagai kebijaka dan pelaksanan tugas-tugasnya

terhasdap atasan yang lebih tinggi.

Sementara akuntrabilitas horizontal adalah pertanggungjawaban pemegang

jabatan publik pada lembaga yang setara, seperti gubernur dengan DPRD tingkat

I, bupati dengan DPRD tingkat II, dan presiden dengan DPR pusat, yang

pelaksanaannya bisa dilakukan oleh para menteri sebagai pembantu presiden.

Selkain akuntabilitas professional, para pejabat publik atau unsure-unsur

pengelola urusan umum dan kenegaraan juga harus memiliki akuntabilitas

professional, baik dalam aspek profesi dan kewenangan delegatifnya, maupun

dalam aspek moralitasnya. Oleh sebabitu setiap anggota DPR harus mampu

mem[pertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya terhadap konstituennya.

Demikian pula dengan pejabat publik dalam striuktur pemerintahan, terus mampu

mempertanggungjawabkan kapabilitas dan loyalitas individualnya, baik dalam

lingkungan profesi setaranya mupun terhadap atasannya. Jika mereka melakukan

pelanggaran etika dan morealitas, mereka harus dengan berani

mempertanggungjawabkan pelanggaranny itu.

Visi strategis

Visi strategis adalah pandngan-pandangan strategis untuk menghadapi

masa yang akan datang. Kualifikasi ini menjadi penting dalam kerangka

perwujudan good governanve, karena perubahan dunia dengan kemajuan

teknologinya yang begitu cepat. Bangsa-bangsa yang tidak memiliki sensitifitas

terhada[p perubahan serta prediksi perubahan ke depan, tidak saja akan tertinggal

oleh bangsa lain di dunia, tapi juga akan terperosok pada akumulasi ksulitan,
sehingga proses recoverinya tidak mudah. Salah satu contoh, kecerobohan bangsa

Indonesia dalam menerapkan kebijakan devisa bebas di era 1980-an, dan memberi

peluang pada sektor swasta untuk melakukan direct loan 9pinjaman langsung)

terhadap berbagai lembaga keungan di luar negeri, dengan tanpa

memperehitungkan jadwal pembayaran yang rasional, telah mengakibatkaan krisis

keuangn di akhir 1990-an, yang mengakibatkan nilai tukar dolar meningkat san

kurs rupiah anjlok. Dengan demikian kebijakan apapun yang akan diambil saat

ini, harus diperhitungkan akibtanya pada sepuluh atau dua puluh tahun kedepan.

Tidak hanya itu, berbagai gejala dan perkembanganb yang terjadi di dunia

luar harus dianalisis dampak-dampaknya bagi bangsa ini, baik langsung saat ini,

maupun di masa yang akan datang, sehingga dapat dirumuskan berbagai

kebijakan untuk mengatasi dan mengantisipasinya. Jika tidak, maka bangsa kita

akan dikagetkan lagi dengan dampak-dampak yang tidak diprediksikan itu,

sehingga banyak timbul berbagai kesulitan, baik dalam ekonomi maupun aspek-

aspek kehidupan sosial lainnya. Aspek lain yang lebih penting dalam konteks

pandangan strategi untuk masa yang akan datang, adalah perumusan perumusan

blueprint design, kehidupan ekonomi sosial dan budaya untuk sekian tahun ke

depan, yang harus dirancang dan dikerjakan sejak sekarang.

Oleh sebab itu, sudah saatnya semua komponen bangsa bersatu pada

memikirkan tentang bangsanya ke depn, dan menunda bahkan mengeliminir

sekat-sekat etnik, ras, budaya, agama, bahkan friksi-friksi keagamaan yang

mengiring ke arah friksi aliran dan kepentingan politik. Selama bangsa ini belum

mampu menggalang persatuan dan kesatuan, dan terus menerus dalam konflik,
maka energi bangsa akan habis dengan konflik itu, tanp sempat memikirkan dn

merumuskan blueprint bangsa ke depan.

Untuk mewujudkan cita good governance dengan asas-asas fundamental

sebagaimana telah dipaparkan di atas, setidaknya harus melakukan 5 aspek

prioritas yaitu:

penguatan fungsin dn peran lembaga perwakilan

lembaga perwakilan rakyat, yakni DPR, DPD, DPRD harus mampu menyerap dan

mengartikulasikan berbagai aspirasi masyarakat dalam berbagai bentuk program

pembangunan yang berorienbtasi pada kepentingan masyarakat, serta

mendelegasikannya pada eksekutif untuk merancang program-program

operasionalnya sesuai rumusan rumusan yang ditetapkan dalam lembaga

perwakilan tersebut. Kmudian, lembaga perwakilan (DPR dan DPRD) terus

melakukan fungsi kontrolnya terhadap lembaga eksekutif, sehingga seluruh

gagasan dan aspirasi yang dikehendaki rakyat melalui para wakilnya itu dapat

dilaksanakan dengan baik oleh perangkat lembaga eksekutif.

Selain itu, fungsi kontrol DPR dan DPRD juga harus dilakukan untuk

mengawasi akuntabilitas proses pelaksanaannya, sehingga terhindar dari berbagai

abhaya internal yakni peklayanan yang tidak obyektif, penggunaan wewenang dan

kekuasaan untuk kepentingan pribadi, kelompok, golongan atau partai politiknya

sehingga terwujud pemerintahan yang bersih, legitimnat, dan dapat menggerakkan

partisipasi rakyat dalam pembangunan.

Fungsi-fungsi ini, pada masa orde baru tidak sepenuhnya berjalan, Karena

pemberian kewenangan pada presiden yang terlalu besar, baik untuk recall angora

DPR, penelitian khusus calon anggota dewan, bahkan ada kewenangan presiden
untuk mengawasi sewrtan membubarkan partai politik, membuat daya tawar para

anggota dewan di hadapan presiden menjadi sangat lemah, padhal justru lembaga

kepresidenan itu merupakan lembaga yang harus diawasi dan dikontrolnya.

Berbagai pembaharuan sejak era reformasi menjadikan proses revitilisasi

lembaga-lembaga perwakilan memiliki peluan yang sangat besar. Bahkan

sekarang telah terjadi perubahan pendulum kekuasaan dan executive heavy

menjadi legislative heavy yang sebenarnya juga tidka baik dalam pendewasaan

demokrasi di Indonesia.

Kemandirian lembaga peradilan

Kesan yang paling buruk dari pemerintahan orde baru adalah ketidak

mandirian lembaga peradilan. Inetrvensi eksekutif terhadap yudikatif masih kuat,

sehingga peradilan tidak mampu menjadi pilar terdepan dalam menegakkan asas

rule of law. Hakim, jaksa dan polisi tidak bisa dengan leluasa menetapkan perkara,

sehingga mereka tidak mampu menampilkan dirinya sebagai the prophet of law.

Era reformasi sebagai era pembaharuan nampaknya masih belum memberikan

angin segar bagi independensi lembaga peradilan, karena mainstream pembahruan

independensi lembaga peradilansampai saat ini masih belum jelas. Produk

monumental dari pemerintahan pasca orde baru balum menyentuh pemisahan

antara departeman kehakiman dengan mahkamah agung secara maksimal hingga

posisi hakim masih terkesan ambigu dalam kedudukannya sebagai badan

yudikatif dan kepanjangan tangan eksekutif. Lahirnya UU no, 28 tahun 1999

tentang penyelenggaraan negara yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme

pun belum mengubah citra pemerintah menjadi levbih baik karena belum diikuti
oleh political action yang serius dalam pemberantasan KKN. Sementara konsep

peradilan yang bersih dan professional belum jelas, dan baru menjadi wacana atau

diskursus di srekitar kalangan akademisi serta praktisi hukum yang peduli

terhadap judicial independence. Untuk mewujudkan good governance lembaga

peradilan dan aparat penegak hukum yang mandiri, professional dan bersih

menjadi persyaratan mutlak.

Aparatur pemerintah yang professional dan penuh integritas

Birokrasi di inodnesia tidak hanya dikenal buruk dalam memberikan

pelayanan publik, atpi juga telah memri peluang berkemvbangnya praktik-praktik

korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Dengan demikian pembaharuan konsep

dan mekanisme kerja birokrasi merupkan sebuah keharusan dalam proses ,menuju

good governance. Jajaran birokrasi harus diisi oleh mereka yang memiliki

demokratis, dan memiliki akuntabilitas yang tinggi sehingga memperoleh

legitimasi dari rakyat yang dilayaninya. Karena itu paradigma pengembangan

birokrasi ke depan harus diubah menjadi birokrasi populis, yakni jajaran birokrasi

yang peka terhadap berbagai aspirasi dan kepentingan rakyt, serta memiliki

integritas untuk meemberikan pelayanan kepada rakyatnya dengan peloayanan

yang prima.

Masyarakat madani yang kuat dan partisipatof

Perwujudan cita good governance juga mensyaratkan pertisipasi

masyarakat sipil yang kuat. Proses pembangunan dan pengelolaan negara tanpa

melibatkan masyarakat madani (civil society) akan sangat lamban, kareena

potensi terbesar dari sumber daya manusia justru ada di kalangan masyarkat ini.
Olehg sebab itu, berbagai kebijakan hukum harus memberi peluang pada

masyarakat untuk berpartisipasi, tidak saja dalam sektor-sektor kegiatan ekonomi

dan politik, tapi juga dalam proses perumusan kebijakan-kebijakan publik.

Masyarakat mempunyai hak atas informasi, hak untuk meyampaikan usulan dan

juga mempunyai hak untuk mengkritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah

yang tidak menguntungkan, baik melalui lembaga perwakilan, pers maupun

penyampaian secara llangsung dalam bentuk dialog-dialog terbuka dengan LSM,

partai politik, organisasi massa, atau institusi lainnya.

Penguatan upaya otonomi daerah

Salah satu kelemahan dari pemerintahan masa lalu dalah kuatnya

sntralisasi kekuasaaan pada pemerintahan pusat, sehingga potensi-potensi daerah

dikelola oleh pemerontah pusat. Kebijhakan ini telah menimbulkan ekses yang

amat parah, karena banyak dsaerah yang amat kaya dengan sumber daya alamnya,

justru menjadi kantong-kantong kamiskinan nasional. Oleh sebabitu, pada era

reformasi inilah para pengelola negara telah melahirkan UU no. 22 tahun 1999,

tentang otonomi daerah dan telah memberikan kewenangan pada daerah untuk

melakukan pengelolaan sektor-sektor tertentu. Dengan kewenangan itu daerah

akan menjadi kuat dan dinamis, terutama daerah-daerah yang miskin dengan

sumber daya alamnya, karena harus memacu pendapatan asli daerah untuk

membiayaib kehidupan daerahnya. Salah satu yang harius diperkuat untuk

mewujudkann otonpomi daerah yang efektif, selain penguatab SDm, adalah

komposisi anggota DPRD yang harus kuat, karena check and balance terhadap
jalannya pemerintahan sangat tergantung pada kekuatan lembaga perwakilan

daerah tersebut dalam menjalankan fungsinya.

Good governance dalam kerangka otonomi daerah

Desdentralisasi bagi penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good

governance) dan pembangunan regional menjadi topik utama di united nations

center for regional development (UNCRD) sejak pertemuan Nagoya tahun 1981.

hal tersebut diikuti denhgan perhatian yang lebih mendalam terhadap berbagai

pandangan dan pengalaman negara-negara dalam mendesain dan

mengiplementasikan program-program pembangunan. Berbagai literature tentang

desentralisasi sebagaimana dikemukakan oleh walter o oyugi memberikan

penekanan bahwa desentralisasi merupakan prasyarat bagi terciptanya good

governance. Dasar asumsinya adalah bahwa good governance menyangkut situasi

di mana terdapat pembagian kekuasaan (power sharing) antara pusat dan daerah

dalam proses pengambilan keputusan. Pemerintah lokal sebagai salah satu bentuk

desentralisasi memberikan kontribusi bagi local self- government, dengan asumsi

bahwa pemerintahan lokal akan memelihara brbagai penerimaan masyarakat

(grassrot) terhadap demokrasi.

Perubahan paradigma penyelenggaraan pemerintah daerah, sentralisasi ke

desentralisasi, dari terpusatnya kekuasaan pada pemerintah dan pemerintah daerah

(eksekutif) ke power sharing antara eksekutif dan legislative daerah, harus

ditindaklanjuti dengan perubahan manajemen pemerintah daerah. Dari sisi

manajemen pemerintahan daerah harus terjadi perubahan nilai yang semula

menganut proses manajemen yang berorientasi kepada kepentingan internal


organisasi pemerintah ke kepentingan eksternal disertai dengan peningkatan

pelayanan dan pendelegasian sebagian tugas pelayanan pemerintah ke masyarakat.

Dalam rangka membangun good governance di daerah prinsip prinsip

fundamental yang menopang tegaknya good governance harus diperhatikan dan

diwujudkan tanpa terkecuali. Penyelenggaraan otonomi daerah pada dasarnya

akan betul-betul akan terealisasi dengan baik apabila dilaksanakan dengan

memakai prinsip-prinsip good governance. Bahkan sebenanrnya otonomi daerah

dengan berbagai seluk-beluknya seperti yang telah dijelaskan dalam bab sebelum

ini telahmemberikan ruang yang lebih kondusif bagi terciptanya good governance.

PEREMPUAN DAN POLITIK

MB. Wijaksana

Perempuan di seluruh dunia berkeinginan untuk mempengaruhi

keputusan-keputusan yang menyangkutkeluarga, perekonomian, masyarakat,

negara serta strukturhubungan internasional. Urusdan-urusan besar yang pada

gilirannya turut mengintervensi wilayah mereka yang paling privat, personal.

Mereka berangkat dari sebuah kesadaran bahwa apa yang terjadi dalam dirinya

pikirny, tubuhnya, tak pernah lwepas dari urusan politik. Jelas perjuangan ini

adalah usaha kemanusiaan agar semua masyarakat, lakilaki dan perempuan, dari

segala ras, etnis, bangsa, dan agama dpat menikmati hak-hak asasinya.

Gerakan perempuan dan komitmen terhadap demokratisasi

Banyak yang sepakat bahwa gerakan perempuan untuk memulihkan hak

hak politiknya ini erat kaitannya dengan proses transformasi sosial yang identik
dengan transformasi demokrasi. Alasannya, tujuan gerakan perempuan adalah

menciptakan hubungan antar sesnama manusia yang secara fundamental baru,

lebih adil, dan saling menghargao. Polutik, terle[as dari segala kontraversi di

dalamnya, sdlah alat sosial yang paling memungkinkan bagi terciptanya ruang

kesempatan dan wewenang, serta memungkinakan rakytat mengelola dirinya

sendiri melalui berbagai aksi bersama, diskusi, shring, dalam prinsip kesetaraan

dan keadilan. Politik adalah salah satu sarana yang dapat mendorong perempuan

untuk mencurahkan semua kecemasannya.

Budaya, system sosial, system politik, hingga masalah kemiskinan, masih

menjadi tembok penghalang yang kokoh dalam partisipasi poliutik perempuan.

Makanya, dihbutuhkan sebuah usaha yang lebih strategis agar dapat mengubah

kondisi-kondisi tersebut. Memasuki woilayah yang bersahabat dengan

perem[puan. Salah satu cara yang dapat dipilih adalh perempuab masuk dalam

tataran kekuasan dan lagilkasi atau dengan memperkuat kontrol dan akses

perempuan di wilayah tersebut. Mengapa demikian ? karena kekuasaan dan

legilasi adalah aspek yang sangat menonjol dalam menentukan corak ideology

masyarakat dan pengaturan sumber daya pembangunan. Jika kita menginginkan

kewadilan pengaturan sumber daya bagi laki laki dan perempuan secara adil, satu

satunya jalan asalh terlibat secara langsung dalan setiap tahapan pengaturan

tersebut.

Menghadapi pemilu 2004 ini, kenyataannya banyak perempuan yang harus

terjegal dalam perjalanan mereka menjadi ewakil rakyat. CETRO ( centro of

electoral reform) dalam siaran pers tanggal 6 januari 2004 lalu, menyatakan

kekecewaannya pada partai politiki dan komisi pemilihan umum soal komitmen
mereka dalam memajukan keterwakilan perempuan. Hasil analisis centro terhadap

4 partai besar peserta pemilu menunjukkan temuan sebagai berikut :

Belum ada kesungguhan dari pihak partaiu politik, untuk meningkatkan

keterwakilan perempuan dalan parlkemen, khususnya DPR RI dapat dipastikan

bahqwa kecil kemungkinan akan terjadi peningkatan keterwakilan perempuan

pada pemilu 2004 di DPR RI< DPRD provinsi dan DPRD kabupaten / kota.

Sistem pemilu yang ada saat ini belumn akomodatif terhadap kepentingan

peningkatan keterwakilan perempuan akibatnya, agenda perempuan berupa

pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan anti kekerasan terhadap

perempuan, termasuk perdagangan perempuan dan anak tidak akan dapat

diperjuangkan sebelum pemilu 2009.

Di negara yang dikatakan sebgai negara demokrasi terbesar itu, jaminan

keadilan perempuan dalam konstitusi secra nyata. Hak perempuan terbebas dari

segala bentuk diskriminasi atau pelarangan yang berdasarkn perbedaan

gender,kasta, agama, ras atau daerah kelahiran dijamin dalam pasal 15. pasal ini

berisi negara tidak boleh melakukan diskriminasi terhadap setiap warganya

berdasarkan perbedaan perbedanaab agama, ras, kasta, seks, dan tem[at kelahiran

mereka tidak ada seorang pun dari warga negara, dapat berdasarkan perbedaan

agama, ras, kasta, seks, dan tempat kelahiran dikenakan larangan, pembatasan,

atau dibatasi persyaratan persaratan khusus untuk :

Mendapatkan akses ke took, dan tempat hibgiuran atau pelaynan umum

lainnya. Pemanfaatan sumber air, tangki, tempat mandi, jalan dan tempat tempat

rekreasi yang disediakan untuk umu baik yang seluruh ya atau sebagian dipelihara

negara, atau tempat lainnya yang diperuntukkan bagi kepentingan umum.


Tidak ada satu peraturan pun dari pasal ini yang memperbolehkan negara

memberlakukan persyaratan-persyaratan khusus bagi permpuan dan anak-anak.

Bahkan untuk ketrerwakilan perempuan dalam politik, konstitusi India

jauh lebih preogresif dibandingkan dengan negara-negara lain di asia. Jika di

Indonesia keterwakilan ini diatur oleh peraturan setingkat undang undang itu pun

dengan sebuah pasal karet, maka konstitusi India sedah dengan tegas menjamin

perempuan akan menempati perwakilan tingkat desa / lokal yang disebut

panchayat sepertiga dari seluruh anghgota parlemen. Ketentuan itu diatur dalam

bab IX tentang panchayat bagian 243 D, yang membahas khusus masalah

reservation of sheats. Bunyi pasalnya adalh : tiudak kurang sepertiga dari

keseluruhan kursi secara khusus diperuntukkan bagi mereka dengan aturan 1.

harus diberikan bagi perempuan yang berasal dari kasta kasta khusus yang diatur,

bagi perempuan yang berasal dari suku suku tertentu yang diatur oleh ketentuan

khusus. Tidak kurang dari sepertiga dari jumlah kursi keseluruhan hasil pemilihan

umum di setip tingkat panchayat khusus diperuntukkan bagi perempuan dan

beberapa kursi lainnya di alokasikan secara bergantian untuk berbagai konstituen

dalam panchayat.

Para pejabt termasuk di dalamnya ketua panchayat dari tingkay desa

hingga tingkt yang lebih tinghi harus disediakan keterwakilan khusus berdasarkan

kasta, suku, dan perempuan… jumlajh ketua panchayat di seluruh tingkatan,

sekurang kurangnya seperetiga harus disediakan bagi perempuan.

Politics (politik)

Kate millet menbgartikan politik sebagai swetiap hbubungan yang ditata

dalam kekuasaan dimana satu kelompok orang dikontrol oleh kelompok orang
yang lain. Kalangan feminis kontemporer menolak mekai konsep-konsep poliutiki

tradisional dan lebih memilih konsep politik personal (mies, 1983).

Feminisme liberal didasarkan pada politik anti diskriminasi dan

penentangan terhadap hukum hukum yang menciptakan hak hak bagi perempuan

dan laki laki yang berbeda. Mereka menerima bahwa berbagai prosedur politik

yang diciptakan seperti hak pilih universal pemilihan yang bebas adalah memadai

untuk menghapuskan diskriminasi. Sebaliknya tujuan politik dari feminisme

sosialis adalah untuk menghilangkan kategori kategori yang diciptakansecara

sosial ini., dan mengembangkan sebuah bbentuk praktek politik yang dapat

mengkaitkan antara masalah yang politik dengan yang personal. Sementara itu

kalangan feminis radikal mengkritik analisis structural fungsionbal yang

menganggap bahwa sosialisasi politik terhadap seseorang dilakukan melalui peran

dari jenis kelamin dan pengalaman anak anak dalam melihat sosok ayah dan pola

pola kekuasaan. Menurut mereka diperlukan upaya mendekonstruksi masa lalu

dan menda[patkan kembali kendali atas tubuh mereka sendiri serta membangun

budaya feminis dalam masyarakat baru yang berpusat pada perempuan.

Quota system (system kuota)

System kuota pada dasarnya meletakkan poersentase minimum bagi kedua

jenis kelamin yakini laki laki dan perempuan, untuk memastikan adanya

keseimbangan posisi dan peran gender dari keduanya dalam dunia poliutik, atau

khususnya dalam [pembuatan dan pengambilan keputusan. Argumen yang

digunakan dalkam penggunaan system kuota ini adalah untuk mengatasi masalah

ketidaksertaan atau ketidak adilan gender akibat dari hukum dan budaya yang bias
gender. Sebaliknya pada saat bersamaan, bagi [pihak yang menentangnya,

argumennya adalah system kuota pada dasarnya tidak memiliki basis hukum yang

kuat alias tidak konstitusional. Belum lagi pernyatan yang mengatakan bahwa

system kuota bertentangan dengan hak asasi manusia, dan bahkan merendahkan

kemampuan kalangan perempuan itu sendiri. Menurut mereka ini hanya akan

melahirkan stigma negatif bahwa kedudukan perempuan dalam lembaga parlemen

atau partaim politik bukan karena kemampuannya sendiri tapi akibat

dibetrlakukannya system kuota.

System kuota anugreah atau kutukan ?

Pembicaraan aytau pelaksanaan mengenai system atau undang undang

kuota dalam politik formal di amerika latin memang menimbulkan pro dan

kontranya sendiri. Melanie reyes misalnya, salah satu peneliti di center for

legislative development, menyebutnya sebagai pilihan anatara mendapatkan

kutukan atau anugrah. Di satu sisi system kuota pada dasarnya meletakkan

persentase minimum bagi kedua jenis kelamin yakni laki laki dan perempuan,

untuk memastikan adanya keseimbangan posisi dan peran gender dari keduanya

dalam dunia politik, atrau khususnya dalam pembuatan dan pengambilan

keputusan. Argumen yang digunakan dalam penggunaan system kuota ini adalah

untuk mengatasi masalah ketidaksertaanb atau ketidakadilan gender akibat dari

undang undang atau hukum dan budaya yang bias gender. Sebaliknya di sisi lain,

system kuota pada dasarnya todak memiliki basis hukum yang kuat alias tidak

konstitusionbal. Belum lagi pernyataan yang mengatakan bahwa system kuota

bertentangan dengan hak asasi manusia, dan bahkan merendahkan lkemampuan


kalangan perempuan itu sendiri. Menurut mereka ini hanya melahgirkan stigma

negatif bahwa kedudukan perempuan dalam ;lembaga parlemen atau partai

politik bukan krena kdemampuannya sendiri, melainkan akibat diberlakukannya

system kuota.

Terlepas dari masalah pro dan kontra tersebut, untuk kasus amerika latin,

ternyata sitem kuota yang diberlakukan mengalami proses hasil yang berbeda, dan

ini tergantung dari masing masing negaranya. Namun demikian, faktor utama di

balik diberlakukannya kuota adalah karena lobi lobi dan tekanan yang relatif

masih dari gerakan perempuan yang terorganisir di berbagai tempat dan berasal

dari berbagai kelas yang berkembang pada konferensi dunia IV perserikatan

bangsa bangsa mengenai perempuan (united nation’s fourth world conference on

women) di Beijing, RRC. Lain daripada itu, ada faktor lain yang berperan yakni

keterlibatan presiden. Di argentina dn peru misalnya, terlepas adanya lobi dan

desakan dari gerakan politik perempuan, bisa dibilang jika tidak ada keterlibatan

carlos menem (argentia) dan fujimori (peru) dalam menyatakan secara terbuka

dukungannya terhadap pemberlakuan kuota dan disambut oleh kongres, maka

hampir dipastikan undang undang tersebut tidak akan disahkan oleh parlemen.

Sementara itu di tingkat parati politik, masalah kuota ini juga menjadi

perdebatan yang seru. Kelihatannya sedikitnya ada 3 faktor yang bisa

memperlihatkan ada apa di balik pemakaian kuota dalam partai politik. Pertama

dalam banya kasus, partai politik yang memberlakukan kuota dala dirinya adalah

prtai politik yang memiliki orientasi politik ‘kiri tengah” (center left) atau kiri

(left). Kedua, system kuota diadopsi hanya oleh partai politik dimana yang

anggotanya perempuan telah mencapai consensus kesepakatan mengenai


pemakaian kuota, ketiga, kemampuan kalangan perempuan dalam mengajak

kolega laki lakinya untuk meyakinkan para pemimpin partai politik mengenai

pentingnya diberlakukan kuota dalam internal partai.

Beberapa partai politik yang memberlakukan system kuota secara internal

antara lain prd (30 %) dan partido revolucionario institucional pri (30%) di

meksiko, partido socialista ps (30 %), dan lain sebagainya. Pada kenyataanya,

dengan diberlakukannya system kuota, baik di internal partai politik maupun

dalam undang undang secara legal, ada dua keuntungan bagi perempuan. Pertama

kuota ternyata, dalam jangka pendek, memang terbukti sebagai alat yang efektif

dalam mencapai keseimbangan atau kesamaan gender dalam tingkat

kepemimpinan antara laki laki dan perempuan. Meskipun demikian, mengingat

diskriminasi terhadap perempuan sudah begitu mengakar dalam kegiatan

organisasi maupun kehidupan sehari hari, maka bentuk bentuk yang lebih

bertahap dari tindakan afirmasi (affirmative action), di luar kuota, dilakukan untuk

perubayhan jangka yang lebih banyk. Kedua, kehadiran perempuan dalam posisi

pembuatan dan pengambilan keputusan menyebabkan perubahan perubahan atas

kebijakan yang diputuskan. Pada kenyataannya, para pemimpin perempuan lebih

mempresentasikan kepentingan perempuan dan mendukung berbagai kebijakan

yang lebih memberi keuntungan kepada perempuan.

Jalan masih panjang

Berdasarkan data yang ada, partisipasi politik perempuan di amerika latin

tertinggi kedua di dunia, tetapi gambaran tersebut masih jauh dari yang

diharapkan. Masih ada undang undang atau peraturan yang berkaitan dengan
perempuan yang masih jauh dari sensitive gender, atau ini berhubungan dengan

implementasi dan aparat pelaksana di lapangan yang masih jauh dan memadai.

Sebut saja soal perkosaan. Di wilayah amerika latin pada umumnya, perkosaan

dilihat sebagai kejahatan melawan adat, dan bukan melawanb seseorang. Ini

artinya, tujuan dari hukum disini adalah untuk melindungi adat yang baik, bukan

demi orang yang mengalami perkosaan. Namun di negara seperti meksiko,

melalui desakan aliansi gerakan politik perempuan, kongres menyetujui undang

undang yang memasukkan soal marital rape, dan ini dilihat sebagai kejahatan

yang serius. Sementara itu, di peru dimana undang undangnya sudah lebih maju

dalam hal perkosaan, tetapi law enforcement nya masih sangat diskriminatif.

Berdasarkan pantauan defonsaria del pueblo (komisi hak asasi manusia), ternyata

banyak para hakim yang lebih sensitive terhadap soal perkosaan yang sebelumnya

perawan dibandingkan dengan perempuan lainnya. Dalam banyaki kasus, mereka

juga selalu menyalahkan perempuan yang dianggap sebagai korban yang telah

memprovokasi laki laki untuk melakukan perkosaan tersebut.

Dalam soal absorsi, kecuali kuba, semua negara amerika latin melihatnya

sebagai kejahatan. Tetapi beberapa negara pada akhirnya mengijinkan

“therapeutic abortion ( absorsi yang dilakukan untuk menyelamatkan kehidupan

ibu). Misalnya ini diberlakukan di argentina, brazil dan poeru. Bahkn dimeksiko

dan brazil, absorsi diijinkan jika proses kehamilannya akibat perkosaan, atau di

argentina untuk melindungi kehormatan perempuan. Meskipun demikian, absorsi

legal hampir tidak ada dalam fasilitas kesehatan publik. Hanya perempuan kelas

menengah atas yang mempunyai akses ke fasilitas tersebut, sedangkan mayoritas

perempuan miskin tidak memilikinya. Ini artinya berbagai absorsi illegal sangat
marak di sana, dan sudah dipastikan keselamatan dan resiko perempuan yang

melakukannya sangat tidak terjamin sama sekali. Mungkin kita masih

mem[erpanjang lagi daftr persoalan perempuan yang belum diagendakan dalam

berbagai undang undang yang ada, lembaga lembaga yang terkait, dan individu

individu yang punya posisi strategis dalam struktur kekuasaan. Sebut saja soal

kekerasan rumah tangga, hak hak dasar perempuan, hukum yang tidak berpihak

pada perempuan dan lain sebagainya. Sejauh ini kita hanya bisa mengatakan benar

bahwa memang jalan masih panjang bagi gerakan politik perempuan di amerika

latin, dan kit pun tidak mengetahuinya kapan jalan itu akan berakhir.