POINT PERATURAN YANG PERLU ADA DALAM SKP

NO HAL HAL PERATURAN KETERANGAN
1 Farmasi SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Halaman 36, Paragraf 3 Pengadaan, distribusi dan penggunaan kefarmasian dapat dilakukan oleh pemerintah dan swasta dalam bentuk pelayanan kefarmasian. SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Halaman 36, Paragraf 4 Pengendalian dan pengawasan sediaan farmasi dilakukan oleh pemerintah Propinsi dan kabupaten/kota

2 Farmasi

3 Farmasi

SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Teknis Pemenuhan kelengkapan peralatan kesehatan untuk daerah terpencil yang kabupatennya tidak sanggup membeli alat kesehatan dan obat-obatan, serta vaksin , pengadaannya dibantu oleh Dinas Kesehatan Provinsi SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Pemerintah Propinsi bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota menjamin ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan dan pengelolan bufferstock obat pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, perbekalan kesehatan, alat kesehatan, reagensia dan vaksin, termasuk obat-obat pelayanan rutin, obat khusus dan obat untuk bencana

Halaman 36, Paragraf 5

4 Farmasi

Halaman 36, Paragraf 6

5 Farmasi

SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Halaman 36, Paragraf 7 Pengaturan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian terhadap perdagangan farmasi, alat kesehatan dan makanan skala provinsi serta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pengelolaan dan penyediaan obat, alat kesehatan, makanan, reagensia dan vaksin.

6 Lintas Sektor

SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Upaya kesehatan yang terkait dengan sektor lain (lintas sektoral)

Halaman 39, Lintas Sektoral, Paragraf 1

7 Lintas Sektor

8 Pembiayaan

SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Koordinasi dan sinkronisasi kegiatan pembangunan kesehatan di Propinsi Kepulauan Riau SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Jaminan kecukupan anggaran pembangunan kesehatan

Halaman 40, Paragraf 3

Halaman 28, Baris 3

9 Pembiayaan

SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Alokasi anggaran pembiayaan kesehatan penduduk miskin

Halaman 37, Pembiayaan Upaya Pengobatan, Paragraf 4

10 Pembiayaan

SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Biaya transportasi rujukan untuk pendekatan akses penduduk miskin ke pelayanan kesehatan

Halaman 38, Paragraf 5

11 SDM

SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Halaman 34, Subsistem Sumber Kebutuhan tenaga kesehatan jangka panjang Daya Manusia, Paragraf 3 dan jangka menengah yang menjadi pedoman

12 SDM

SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Halaman 35, Paragraf 2 Penempatan, pembinaan, pendistribusian dan pemindahan tenaga kesehatan antar Kab/Kota dalam skala Provinsi

13 SDM

SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Halaman 35, Paragraf 5 Pemenuhan kebutuhan SDM kesehatan untuk daerah terpencil

Informasi Kesehatan.14 SDM SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Perlindungan hukum tenaga kesehatan dan imbalan yang layak dan adil bagi tenaga kesehtan sesuai dengan profesi dan keahliannya dalam menjalankan tugasnya Halaman 35. Paragraf 4 . SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: analisis bank data Skala Provinsi Kepri Halaman 35. Paragraf 5 22 SIK 23 SIK Halaman 29. Pemerintah Kabupaten/Kota dan asosiasi profesi serta asosiasi fasilitas kesehatan SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai mekanisme wajib lapor indikator kesehatan baik dari PKM/RS/Klinik. maupun Dinkes Prov SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Diseminasi data SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai jenis data yang dikumpulkan dalam SIK agar adanya keseragaman pengumpulan data (Collecting data ). Informasi Kesehatan. Paragraf 2. paragraf terakhir yang berasal dari sektor kesehatan (pemerintah dan swasta) dan sektor lain diluar sektor kesehatan (Networking ) SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Diseminasi data SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: SIK Bank Data Halaman 29. Paragraf 9 Regulasi tentang investor kesehatan asing dan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) 16 SDM SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Pembinaan tenaga kesehatan dilaksanakan oleh Pemerintah. Paragraf 10 17 SIK Halaman 29. Baris 2 20 SIK 21 SIK SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Halaman 29. Informasi Jaringan data yang memerlukan data-data kesehatan. Informasi Kesehatan. Baris Pertama Halaman 29. Pemerintah Daerah. Paragraf 2. Baris 3 18 SIK 19 SIK Halaman 29. Informasi Kesehatan. Paragraf 6 15 SDM SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Halaman 35. Dinkes Kota/Kab.

Paragraf 4. Paragraf 4 Peran Serta Masyarakat SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Halaman 39. Supervisi dan Pengendalian. Paragraf 1 28 Stewardship SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Halaman 39. dan Pemerintah. Paragraf 1 kesehatan di Dinkes Prov dan Dineks Kab/Kota 29 Upaya KesehatanSKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Penyediaan Puskesmas Perawatan Halaman 17. Masyarakat Serta Masyarakat dan Swasta. Paragraf 1 27 Stewardship Halaman 28. Baris koordinasi peran swasta dalam pembangunan ke-4 kesehatan 26 Stewardship SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Perumusan kebijakan ditingkat Kota/Kabupaten dan lintas wilayah melalui Provinsi SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Monev SKP Halaman 28. Pembiayaan Tata Tata kelola administrasi dan manajemen kelola. Kebijakan Kesehatan. paragraf 1 30 Upaya KesehatanSKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Supervisi/Pembinaan UKM dan UKP . Monitoring dan Evaluasi. Paragraf 4 Halaman 29.24 Stewardship SKP Kerpi memerlukan peraturan mengenai: SKP itu sendiri yang mengikat Provinsi dan Kabupaten/Kota BAB 5. Halaman 25 Paragraf 2 25 Peran Serta Masyarakat SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Halaman 24. Sub-Sistem Peran Kemitraan antara Asosiasi Profesi.

pengawasan dan pengendalian terhadap perizinan pendirian klinik kesehatan dan Rumah Sakit swasta. Sub-Sistem Peran Serta Masyarakat dan Swasta. pembinaan. Paragraf 5 32 Upaya KesehatanSKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Mekanisme rujukan antar kota/Kabupaten didalam Provinsi melalui pendekatan kewilayahan Halaman 31. Paragraf 6 . 35 Upaya KesehatanSKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Penyediaan fasilitas umum yang menunjang kesehatan Halaman 34. Paragraf 7 Pengembangan pelayanan kesehatan di daerah terpencil. efektif dan bermutu Halaman 31.31 Upaya KesehatanSKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Pemerataan akses upaya kesehatan secara berkeadilan. Paragraf 4 Halaman 39. daerah tertinggal dan daerah perbatasan oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota/Kab 34 Upaya KesehatanSKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Pengaturan . Paragraf 4 33 Upaya KesehatanSKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Halaman 31.

Pengendalian dan pengawasan ini bertujuan menjamin halhal sebagai berikut: a. Pemerintah Propinsi bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota menjamin ketersediaan. reagensia dan vaksin. perbekalan kesehatan. pengawasan dan pengendalian terhadap perdagangan farmasi. b. pembinaan. . alat kesehatan. reagensia dan vaksin yang dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota. serta vaksin . berkhasiat dan bermutu. keterjangkauan. dan c. Pelayanan kefarmasian dapat berupa apotik. distribusi dan penggunaan dapat dilakukan oleh pemerintah dan swasta dalam bentuk pelayanan kefarmasian. Tersedia dan distribusinya merata dan terjangkau. termasuk obat-obat pelayanan rutin. alat kesehatan dan makanan skala provinsi serta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pengelolaan dan penyediaan obat. sesuai dengan standar baku dan resmi penggunaan obat Pemenuhan kelengkapan peralatan kesehatan untuk daerah terpencil yang kabupatennya tidak sanggup membeli alat kesehatan dan obat-obatan. obat khusus dan obat untuk bencana Pemerintah Daerah berkewajiban melaksanakan pengaturan. makanan. Sediaan farmasi tersebut aman.DALAM SKP KALIMAT Untuk pengadaan. Penggunaan sediaan tersebut rasional. alat kesehatan. toko obat dan dapat pula terintegrasi dalam fasilitas pelayanan kesehatan (unit farmasi di RS dan pelayanan farmasi di Puskesmas atau klinik swasta) Pengendalian dan pengawasan dilakukan oleh pemerintah Propinsi dan kabupaten/kota. pemerataan dan pengelolan bufferstock obat pelayanan kesehatan dasar dan rujukan. pengadaannya dibantu oleh Dinas Kesehatan Provinsi secara bertahap setiap tahunnya.

termasuk prospek perubahan pola penyakit. . pemerintah daerah mendistribusikan tenaga kesehatan sehingga tidak ada Puskesmas yang kekurangan tenaga kesehatan. (b) rekruitmen dan penempatan. Pembiayaan kesehatan penduduk miskin ini bisa dialokasikan langsung ke Penyedia Pelayanan Kesehatan (PPK) dalam bentuk anggaran (budget) yang disebut “supply side approach”. Pemenuhan kebutuhan SDM kesehatan untuk daerah terpencil. Rencana anggaran program pembangunan kesehatan menjamin kecukupan anggaran yang dibutuhkan oleh berbagai macam program termasuk program pelayanan individu ( UKP) maupun program upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan anggaran kegiatan administrasi dan manajemen kesehatan. dan sebaliknya banyak juga masalah kesehatan yang memerlukan bantuan sektor lain untuk mengatasinya. pemerintah propinsi dan kabupaten/Kota berkewajiban mengalokasikan anggarannya yang dikhususkan untuk masyarakat yang kurang mampu.Pembangunan kesehatan tidak bisa hanya dibebankan menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. Rencana kebutuhan (manpower planning) disusun bersama-sama oleh tingkat propinsi (Dinas Kesehatan) dengan tingkat Kab/Kota (Dinas Kesehatan Kab/Kota). Pemerintah daerah provinsi dapat menempatkan tenaga kesehatan dan pemindahan tenaga kesehatan tertentu antar kabupaten/kota dalam skala provinsi Kepualauan Riau. Dalam SKP disusun rencana kebutuhan tenaga kesehatan jangka panjang dan jangka menengah yang menjadi pedoman dalam: (a) pengadaan tenaga. Dalam hal ini pemerintah mengalokasikan anggaran kepada PPK (Puskesmas/Dinas. Penyusunan rencana ketenagaan tersebut didasarkan pada prospek pengembangan sistem pelayanan/upaya kesehatan dimasa depan (5 tahun sampai 20 tahun). sementara untuk yang mampu sepenuhnya menjadi tanggung jawab perorangan. Anggaran tersebut disusun berdasarkan prinsip-prinsip anggaran berbasis kinerja. prospek pengembangan/penambahan sarana kesehatan dan prospek perkembangan teknologi kesehatan. (c) peningkatan profesionalisme. Dalam hal pelaksanaan rujukan dari PPK I ke PPK 2 dan PPK 3 yang mengakibatkan adanya biaya transpotasi rujukan. RS) dan fasilitas PPK tersebut melayani penduduk miskin yang datang berobat. Banyak masalah kesehatan yang disebabkan oleh kegiatan sektor lain. Peranan lintas sektor ini merupakan bagian integral dari Sistem Kesehatan Propinsi Kepri dan pelaksanananya disusun dalam rencana masing-masing sektor terkait sesuai kebutuhan.

RSUD. Hasil analisis data disebarluaskan kepada unit-unit yang membutuhkan. pengelolaan Bank Data dan analisis data dilakukan oleh Puskesmas. Dinas Kesehatan Kab/Kota. termasuk data penyakit yang termasuk dalam IHR (International Health Regulation/WHO). Pengumpulan data. RSU Propinsi dan Dinas Kesehatan Propinsi). Pemerintah Daerah. Provinsi Kepulauan Riau yang merupakan wilayah perbatasan antara NKRI dan negara lain menjadikan wilayahnya sebagai kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone ) yang memungkinkan sekali adanya sumber daya kesehatan asing yang masuk ke Provinsi Kepulauan Riau sehingga perlu regulasi bagi tenaga asing yang akan bekerja di daerah wilayah Propinsi Kepulauan Riau dan bekerja sama dengan asosiasi profesi. Disamping itu ada data kesehatan yang wajib disampaikan/dilaporkan kepada Dinas Kesehatan sesuai dengan peraturan/perundangan yang berlaku. Pembinaan tenaga kesehatan dilaksanakan oleh Pemerintah. Dinkes Kab/Kota. Analisis data dilakukan oleh masing-masing unit tersebut sesuai dengan kebutuhan perencanaan dan pelaksanaan program yang menjadi tanggung jawab masing-masing unit tersebut. Dinas Kesehatan Kabupaten. Dinkes Propinsi dan RSU Propinsi.SDM kesehatan berhak mendapatkan perlindungan hukum dan imbalan yang layak dan adil sesuai dengan profesi dan keahliannya dalam menjalankan tugasnya sehingga diharapkan dapat meningkatnya profesionalisme sumber daya manusia didalam Sistem Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau ini. monitoring dan evaluasi kesehatan di berbagai unit dan jenjang kesehatan (Puskesmas. Pemerintah Kabupaten/Kota dan asosiasi profesi serta asosiasi fasilitas kesehatan berdasarkan pada ketentuan peraturan yang berlaku. Jenis data yang dikumpulkan dalam SIK ditentukan sesuai dengan kebutuhan perencanaan. Pelaku-pelaku utama dalam SIK adalah Puskesmas. termasuk unit lain diluar sektor kesehatan apabila diperlukan. RSUD. . RSUD. Hubungan kerja antara unit-unit tersebut adalah hubungan kerja formal dalam jejaring (network) Sistem Informasi Kesehatan. Dinas Kesehatan Propinsi dan RSU Propinsi.

Kegiatan ini dilakukan oleh dinas kesehatan propinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota. (2) pengadaan SDM. Yang termasuk dalam biaya pengelolaan tersebut adalah biaya investasi. dll) dan biaya pemeliharaan yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi-fungsi Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/kota. Lebih dari itu. (3) Pengadaan sediaan farmasi dan alat kesehatan. Tata kelola sistem kesehatan dilakukan oleh pemerintah. Kebijakan kesehatan adalah pedoman dan arahan umum tentang pelaksanaan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah. bentuk dan cara penyelenggaraan kesehatan yang dilakukan di tingkat provinsi maupun ditingkat pemerintah Kabupaten/Kota yang sifatnya mengikat dengan mengikutsertakan peran aktif pemerintah. Supervisi adalah kegiatan pembinaan yang dilakukan terhadap pelaksana upaya kesehatan prorangan dan pelaksana upaya kesehatan masyarakat. berbasis masyarakat (dari. (5) manajemen dan informasi kesehatan. oleh dan untuk masyarakat) serta kemitraan. Fasilitas kesehatan yang ada di Kepri seperti erlihat pada tabel dia tas masih harus dimaksimalkan unntuk meningkatkan pelayanan dan pencapaian target pembangunan kesehatan. (6) pembiayaan kesehatan. . Monitoring SKP dilakukan secara rutin menggunakan indikator-indikator sesuai dengan funsi-fungsi SKP yang meliputi: (1) stewardship dan regulasi. biaya operasional (gaji. Ini termasuk administrasi dan manajemen kesehatan di tingkat propinsi (Dinas Kesehatan Propinsi) dan manajemen kesehatan di tingkat kabupaten/kota (Dinas Kesehatan Kabupaten/kota).Penyelenggaraan SKP Propinsi Kepulauan Riau ini dimaksudkan sebagai dasar kebijakan pembangunan kesehatan daerah untuk dijadikan pedoman. swasta maupun masyarakat yang sinergis. (4) pengadaan sumberdaya kesehatan lainnya. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam dinamika pembangunan kepulauan Riau termasuk sistem kemasyarakatan yang merupakan bagian integral dari SKP juga akan mempengaruhi upaya-upaya yang dituangkan dalam SKP ini. swasta dan masyarakat. Perumusan kebijakan dilakukan pada tingkat kab/kota yang bersifat spesifik lokal dan oleh propinsi yang bersifat lintas wilayah. penignkatan akses untuk rujukan upaya kesehatan perlu menjadi prioritas sehingga perlu ada Puskesmas perawatan yang memiliki kapasitas seperti Rumah Sakit Umum namun tetap menjalankan fungsi promotif dan preventif dari puskesmas itu sendiri. karena keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun dalam berbagai sistem kemasyarakatan termasuk peran swasta. Prinsip dari peran serta masyarakat adalah kemandirian dan kegotong royongan/solildaritas sosial.

daerah tertinggal dan daerah perbatasan. terintegrasi dan berkesinambungan melalui pendekatan kewilayahan mengingat kondisi geografis Propinsi Kepulauan Riau sehingga hal ini sangat vital dan diutamakan untuk kemudahan akses terhadap pelayanan medik dasar. pembinaan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan dengan meningkatkan potensi sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat sehingga masyarakat mudah mengakses informasi kesehatan. wastafel cuci tangan. Pemerintah . efisien. Mekanisme rujukan kesehatan diselenggarakan menggunakan prinsip efektif. sarana olahraga dll). khususnya di pulau-pulau terpencil dengan jumlah penduduk terbatas.Mekanisme rujukan dilakukan untuk mengatasi ketidakmampuan unit pelayanan kesehatan pada jenjang tertentu yang memerlukan bantuan unit pelayanan pada jenjang yang lebih tinggi. ilmu pengetahuan dan teknologi serta operasional yang memadai pada tingkat pelayanan pengobatan primer maupun sekunder. tenaga. spesialistik dan subspesialistik bermutu. . Pemerintah daerah dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya melaksanakan pengaturan . Pemerintah Provinsi bersama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota wajib mengutamakan pengembangan pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Situasi seperti ini khas ditemukan di wilayah Kepri. Ketidakmampuan tersebut bisa karena ketidak cukupan sarana. fasilitas umum yang menunjang kesehatan (toilet bersih. pengadaan lingkungan sekitar yang sehat dll. pojok ASI. prasarana. pengawasan dan penegendalian terhadap perizinan pendirian klinik kesehatan dan Rumah Sakit swasta.

Diskusi Kelompok 1 No Sub-Sistem 1 Bentuk Hukum SKP Regulasi Keterangan SKP Kerpi memerlukan BAB 5. Paragraf 1 . Halaman 25 peraturan mengenai: SKP itu Paragraf 2 sendiri yang mengikat Provinsi dan Kabupaten/Kota 2 Stewardship SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Perumusan kebijakan ditingkat Kota/Kabupaten dan lintas wilayah melalui Provinsi Halaman 28. Paragraf 1 3 Stewardship SKP Kepri memerlukan Halaman 28. Paragraf 1 4 Manajemen Kesehatan SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Tata kelola administrasi dan manajemen kesehatan di Dinkes Prov dan Dineks Kab/Kota Halaman 39. Kebijakan Kesehatan. Pembiayaan Tata kelola. peraturan mengenai: Monev Monitoring dan SKP Evaluasi.

Paragraf 4 . Paragraf 2. Dinkes Kota/Kab. Informasi Kesehatan. Informasi kesehatan. Baris 2 Kepri SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Jaringan data yang memerlukan data-data yang berasal dari sektor kesehatan (pemerintah dan swasta) dan sektor lain diluar sektor kesehatan (Networking ) SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Diseminasi data SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: SIK Bank Data Halaman 29. maupun Dinkes Prov SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai jenis data yang dikumpulkan dalam SIK agar adanya keseragaman pengumpulan data (Collecting data ). Informasi Kesehatan. peraturan mengenai: analisis Informasi bank data Skala Provinsi Kesehatan. paragraf terakhir 8 SIK 9 SIK Halaman 29. Baris Pertama 7 SIK SKP Kepri memerlukan Halaman 29. Paragraf 2. Baris 3 6 SIK Halaman 29. Informasi Kesehatan. Halaman 29. Paragraf 5 10 SIK Halaman 29.5 SIK SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai mekanisme wajib lapor indikator kesehatan baik dari PKM/RS/Klinik.

(5) manajemen dan informasi kesehatan. dll) dan biaya pemeliharaan yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi-fungsi Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/kota. Perumusan kebijakan dilakukan pada tingkat kab/kota yang bersifat spesifik lokal dan oleh propinsi yang bersifat lintas wilayah.ompok 1 Kalimat dalam SKP Penyelenggaraan SKP Propinsi Kepulauan Riau ini dimaksudkan sebagai dasar kebijakan pembangunan kesehatan daerah untuk dijadikan pedoman. Jenis Peraturan Perda Provinsi Pergub/Perbup/Perwako Monitoring SKP dilakukan secara rutin menggunakan indikator-indikator sesuai dengan funsi-fungsi SKP yang meliputi: (1) stewardship dan regulasi. Yang termasuk dalam biaya pengelolaan tersebut adalah biaya investasi. (4) pengadaan sumberdaya kesehatan lainnya. (6) pembiayaan kesehatan. (3) Pengadaan sediaan farmasi dan alat kesehatan. (2) pengadaan SDM. Tata kelola sistem kesehatan dilakukan oleh pemerintah. biaya operasional (gaji. swasta dan masyarakat. bentuk dan cara penyelenggaraan kesehatan yang dilakukan di tingkat provinsi maupun ditingkat pemerintah Kabupaten/Kota yang sifatnya mengikat dengan mengikutsertakan peran aktif pemerintah. Ini termasuk administrasi dan manajemen kesehatan di tingkat propinsi (Dinas Kesehatan Propinsi) dan manajemen kesehatan di tingkat kabupaten/kota (Dinas Kesehatan Kabupaten/kota). swasta maupun masyarakat yang sinergis. Kebijakan kesehatan adalah pedoman dan arahan umum tentang pelaksanaan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah. SK Kadinkes Prov/Kab/Kota Pergub/Perbup/Perwako .

Dinkes Kab/Kota. SK Kadinkes SK Kadinkes . termasuk data penyakit yang termasuk dalam IHR (International Health Regulation/WHO). Dinas Kesehatan Propinsi dan RSU Propinsi. monitoring dan evaluasi kesehatan di berbagai unit dan jenjang kesehatan (Puskesmas. termasuk unit lain diluar sektor kesehatan apabila diperlukan. Dinkes Propinsi dan RSU Propinsi. Dinas Kesehatan Kab/Kota. Pengumpulan data. pengelolaan Bank Data dan analisis data dilakukan oleh Puskesmas. RSUD. Dinas Kesehatan Kabupaten. Hubungan kerja antara unit-unit tersebut adalah hubungan kerja formal dalam jejaring (network) Sistem Informasi Kesehatan. Pelaku-pelaku utama dalam SIK adalah Puskesmas. RSU Propinsi dan Dinas Kesehatan Propinsi). SK Kadinkes Jenis data yang dikumpulkan dalam SIK ditentukan sesuai dengan kebutuhan perencanaan. `SK Kadinkes SK Kadinkes Hasil analisis data disebarluaskan kepada unit-unit yang membutuhkan. Surat Edaran Analisis data dilakukan oleh masing-masing unit tersebut sesuai dengan kebutuhan perencanaan dan pelaksanaan program yang menjadi tanggung jawab masing-masing unit tersebut. RSUD.Disamping itu ada data kesehatan yang wajib disampaikan/dilaporkan kepada Dinas Kesehatan sesuai dengan peraturan/perundangan yang berlaku. RSUD.

Paragraf 9 . pembinaan. mengenai: Perlindungan hukum Paragraf 6 tenaga kesehatan dan imbalan yang layak dan adil bagi tenaga kesehtan sesuai dengan profesi dan keahliannya dalam menjalankan tugasnya 5 SDM SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Regulasi tentang investor kesehatan asing dan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) Halaman 35. Subsistem Sumber Daya Manusia. Paragraf 3 2 SDM SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Penempatan. Paragraf 2 3 SDM SKP Kepri memerlukan peraturan Halaman 35. pendistribusian dan pemindahan tenaga kesehatan antar Kab/Kota dalam skala Provinsi Halaman 35.Bahan Diskusi Kelompok 2 No Sub-Sistem 1 SDM Regulasi SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Kebutuhan tenaga kesehatan jangka panjang dan jangka menengah yang menjadi pedoman Keterangan Halaman 34. mengenai: Pemenuhan kebutuhan Paragraf 5 SDM kesehatan untuk daerah terpencil 4 SDM SKP Kepri memerlukan peraturan Halaman 35.

mengenai: Pengadaan. Pemerintah Daerah. mengenai: Pengendalian dan Paragraf 4 pengawasan sediaan farmasi dilakukan oleh pemerintah Propinsi dan kabupaten/kota 9 Farmasi SKP Kepri memerlukan peraturan Halaman 36. mengenai: Teknis Pemenuhan Paragraf 5 kelengkapan peralatan kesehatan untuk daerah terpencil yang kabupatennya tidak sanggup membeli alat kesehatan dan obat-obatan. serta vaksin . Paragraf 10 7 Farmasi SKP Kepri memerlukan peraturan Halaman 36. distribusi dan Paragraf 3 penggunaan kefarmasian dapat dilakukan oleh pemerintah dan swasta dalam bentuk pelayanan kefarmasian. Pemerintah Kabupaten/Kota dan asosiasi profesi serta asosiasi fasilitas kesehatan Halaman 35. 8 Farmasi SKP Kepri memerlukan peraturan Halaman 36.6 SDM SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Pembinaan tenaga kesehatan dilaksanakan oleh Pemerintah. pengadaannya dibantu oleh Dinas Kesehatan Provinsi .

pembinaan. mengenai: Pengaturan. reagensia dan vaksin. mengenai: Pemerintah Propinsi Paragraf 6 bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota menjamin ketersediaan. makanan. obat khusus dan obat untuk bencana 11 Farmasi SKP Kepri memerlukan peraturan Halaman 36. reagensia dan vaksin. alat kesehatan. Paragraf 7 pengawasan dan pengendalian terhadap perdagangan farmasi.10 Farmasi SKP Kepri memerlukan peraturan Halaman 36. termasuk obat-obat pelayanan rutin. alat kesehatan dan makanan skala provinsi serta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pengelolaan dan penyediaan obat. keterjangkauan. pemerataan dan pengelolan bufferstock obat pelayanan kesehatan dasar dan rujukan. alat kesehatan. . perbekalan kesehatan.

Pemerintah daerah provinsi dapat menempatkan tenaga kesehatan dan pemindahan tenaga kesehatan tertentu antar kabupaten/kota dalam skala provinsi Kepualauan Riau. Perda SDM Pergub/Perbup/Perwako Provinsi Kepulauan Riau yang merupakan wilayah perbatasan antara NKRI dan negara lain menjadikan wilayahnya sebagai kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone ) yang memungkinkan sekali adanya sumber daya kesehatan asing yang masuk ke Provinsi Kepulauan Riau sehingga perlu regulasi bagi tenaga asing yang akan bekerja di daerah wilayah Propinsi Kepulauan Riau dan bekerja sama dengan asosiasi profesi. Penyusunan rencana ketenagaan tersebut didasarkan pada prospek pengembangan sistem pelayanan/upaya kesehatan dimasa depan (5 tahun sampai 20 tahun).Kelompok 2 Kalimat Dalam SKP Dalam SKP disusun rencana kebutuhan tenaga kesehatan jangka panjang dan jangka menengah yang menjadi pedoman dalam: (a) pengadaan tenaga. pemerintah daerah mendistribusikan tenaga kesehatan sehingga tidak ada Puskesmas yang kekurangan tenaga kesehatan. prospek pengembangan/penambahan sarana kesehatan dan prospek perkembangan teknologi kesehatan. (c) peningkatan profesionalisme. SDM kesehatan berhak mendapatkan perlindungan hukum dan imbalan yang layak dan adil sesuai dengan profesi dan keahliannya dalam menjalankan tugasnya sehingga diharapkan dapat meningkatnya profesionalisme sumber daya manusia didalam Sistem Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau ini. Rencana kebutuhan (manpower planning) disusun bersama-sama oleh tingkat propinsi (Dinas Kesehatan) dengan tingkat Kab/Kota (Dinas Kesehatan Kab/Kota). Jenis Peraturan Perda SDM Perda SDM Pemenuhan kebutuhan SDM kesehatan untuk daerah terpencil. (b) rekruitmen dan penempatan. Perda SDM . termasuk prospek perubahan pola penyakit.

toko obat dan dapat pula terintegrasi dalam fasilitas pelayanan kesehatan (unit farmasi di RS dan pelayanan farmasi di Puskesmas atau klinik swasta) Pengendalian dan pengawasan dilakukan oleh pemerintah Propinsi dan kabupaten/kota. distribusi dan penggunaan dapat dilakukan oleh pemerintah dan swasta dalam bentuk pelayanan kefarmasian. serta vaksin . Pemerintah Kabupaten/Kota dan asosiasi profesi serta asosiasi fasilitas kesehatan berdasarkan pada ketentuan peraturan yang berlaku.Pembinaan tenaga kesehatan dilaksanakan oleh Pemerintah. Tersedia dan distribusinya merata dan terjangkau. Pemerintah Daerah. Sediaan farmasi tersebut aman. Perda Provinsi . pengadaannya dibantu oleh Dinas Kesehatan Provinsi secara bertahap setiap tahunnya. Pengendalian dan pengawasan ini bertujuan menjamin hal-hal sebagai berikut: a. Penggunaan sediaan tersebut rasional. sesuai dengan standar baku dan resmi penggunaan obat Perbup/Perwako Perda Provinsi/Perbup/Perwako Pemenuhan kelengkapan peralatan kesehatan untuk daerah terpencil yang kabupatennya tidak sanggup membeli alat kesehatan dan obat-obatan. b. Pelayanan kefarmasian dapat berupa apotik. dan c. Perda SDM Untuk pengadaan. berkhasiat dan bermutu.

termasuk obat-obat pelayanan rutin. reagensia dan vaksin. pembinaan. keterjangkauan. alat kesehatan. alat kesehatan dan makanan skala provinsi serta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pengelolaan dan penyediaan obat. makanan. reagensia dan vaksin yang dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota. alat kesehatan.Pemerintah Propinsi bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota menjamin ketersediaan. perbekalan kesehatan. pengawasan dan pengendalian terhadap perdagangan farmasi. Perda Provinsi/Perbup/Perwako . pemerataan dan pengelolan bufferstock obat pelayanan kesehatan dasar dan rujukan. obat khusus dan obat untuk bencana Perda Provinsi/Perbup/Perwako Pemerintah Daerah berkewajiban melaksanakan pengaturan.

Paragraf 4 2 Upaya Kesehatan SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Supervisi/Pembinaan UKM dan UKP SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Pemerataan akses upaya kesehatan secara berkeadilan.Diskusi Kelompok 3 No Sub-Sistem 1 Upaya Kesehatan Regulasi SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Penyediaan Puskesmas Perawatan Keterangan Halaman 17. Supervisi dan Pengendalian. paragraf 1 Halaman 31. daerah tertinggal dan daerah perbatasan oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota/Kab Halaman 31. efektif dan bermutu Halaman 29. Paragraf 7 . Paragraf 4 5 Upaya Kesehatan SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Pengembangan pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Paragraf 5 3 Upaya Kesehatan 4 Upaya Kesehatan SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Mekanisme rujukan antar kota/Kabupaten didalam Provinsi melalui pendekatan kewilayahan Halaman 31.

dengan sektor lain (lintas sektoral) Paragraf 1 11 Lintas Sektor SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Koordinasi dan sinkronisasi kegiatan pembangunan kesehatan di Propinsi Kepulauan Riau Halaman 40. Paragraf 3 . Paragraf 4 9 Pembiayaan SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Biaya transportasi rujukan untuk pendekatan akses penduduk miskin ke pelayanan kesehatan Halaman 38. mengenai: Alokasi anggaran Pembiayaan pembiayaan kesehatan penduduk miskin Upaya Pengobatan. pembinaan. Baris mengenai: Jaminan kecukupan anggaran 3 pembangunan kesehatan 7 Pembiayaan 8 Pembiayaan SKP Kepri memerlukan peraturan Halaman 37. mengenai: Upaya kesehatan yang terkait Lintas Sektoral.6 Sarana Prasarana SKP Kepri memerlukan peraturan Halaman 34. Paragraf 4 pengawasan dan pengendalian terhadap perizinan pendirian klinik kesehatan dan Rumah Sakit swasta. SKP Kepri memerlukan peraturan Halaman 28. mengenai: Pengaturan . Paragraf 5 10 Lintas Sektor SKP Kepri memerlukan peraturan Halaman 39.

Paragraf 6 14 Peran Serta Masyarakat . Paragraf 4 Halaman 39. Paragraf 4. Baris ke-4 13 Peran Serta Masyarakat SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Kemitraan Masyarakat (Asosiasi Profesi. SubSistem Peran Serta Masyarakat dan Swasta. SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Penyediaan fasilitas umum yang menunjang kesehatan Halaman 39. SubSistem Peran Serta Masyarakat dan Swasta. LSM.12 Peran Serta Masyarakat SKP Kepri memerlukan peraturan mengenai: Koordinasi peran swasta dalam pembangunan kesehatan Halaman 24. Swasta dll) dan Pemerintah.

efisien. daerah tertinggal dan daerah perbatasan. Jenis Peraturan Pergub Supervisi adalah kegiatan pembinaan yang dilakukan terhadap pelaksana upaya kesehatan prorangan dan pelaksana upaya kesehatan masyarakat. tenaga. Mekanisme rujukan dilakukan untuk mengatasi ketidakmampuan unit pelayanan kesehatan pada jenjang tertentu yang memerlukan bantuan unit pelayanan pada jenjang yang lebih tinggi. khususnya di pulau-pulau terpencil dengan jumlah penduduk terbatas. terintegrasi dan berkesinambungan melalui pendekatan kewilayahan mengingat kondisi geografis Propinsi Kepulauan Riau sehingga hal ini sangat vital dan diutamakan untuk kemudahan akses terhadap pelayanan medik dasar. Pemerintah Provinsi bersama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota wajib mengutamakan pengembangan pelayanan kesehatan di daerah terpencil. prasarana. spesialistik dan subspesialistik bermutu. Pergub/Perbup/Perwako Pergub/Perbup/Perwako . Lebih dari itu. Situasi seperti ini khas ditemukan di wilayah Kepri. Kegiatan ini dilakukan oleh dinas kesehatan propinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota. Tidak Perlu Peraturan karena melekat dengan Tupoksi Pergub Mekanisme rujukan kesehatan diselenggarakan menggunakan prinsip efektif. ilmu pengetahuan dan teknologi serta operasional yang memadai pada tingkat pelayanan pengobatan primer maupun sekunder.lompok 3 Kalimat dalam SKP Fasilitas kesehatan yang ada di Kepri seperti erlihat pada tabel dia tas masih harus dimaksimalkan unntuk meningkatkan pelayanan dan pencapaian target pembangunan kesehatan. Ketidakmampuan tersebut bisa karena ketidak cukupan sarana. penignkatan akses untuk rujukan upaya kesehatan perlu menjadi prioritas sehingga perlu ada Puskesmas perawatan yang memiliki kapasitas seperti Rumah Sakit Umum namun tetap menjalankan fungsi promotif dan preventif dari puskesmas itu sendiri.

Pembiayaan kesehatan penduduk miskin ini bisa dialokasikan langsung ke Penyedia Pelayanan Kesehatan (PPK) dalam bentuk anggaran (budget) yang disebut “supply side approach”. Banyak masalah kesehatan yang disebabkan oleh kegiatan sektor lain.Pemerintah . Pemerintah daerah dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya melaksanakan pengaturan . sementara untuk yang mampu sepenuhnya menjadi tanggung jawab perorangan. Anggaran tersebut disusun berdasarkan prinsip-prinsip anggaran berbasis kinerja. Dalam hal pelaksanaan rujukan dari PPK I ke PPK 2 dan PPK 3 yang mengakibatkan adanya biaya transpotasi rujukan. tidak perlu karena sudah ada Rencana anggaran program pembangunan kesehatan menjamin kecukupan anggaran yang dibutuhkan oleh berbagai macam program termasuk program pelayanan individu ( UKP) maupun program upaya Tidak perlu peraturan karena sudah kesehatan masyarakat (UKM) dan anggaran kegiatan administrasi dan diatur UU 36/2009 manajemen kesehatan. Peranan lintas sektor ini merupakan bagian integral dari Sistem Kesehatan Propinsi Kepri dan pelaksanananya disusun dalam rencana masing-masing sektor terkait sesuai kebutuhan. Perda Kabupaten/Kota Pergub/Perbup/Perwako Pembangunan kesehatan tidak bisa hanya dibebankan menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. pengawasan dan penegendalian terhadap perizinan pendirian klinik kesehatan dan Rumah Sakit swasta. pemerintah propinsi dan kabupaten/Kota berkewajiban mengalokasikan anggarannya yang dikhususkan untuk masyarakat yang kurang mampu. RS) dan fasilitas PPK tersebut melayani penduduk miskin yang datang berobat. dan sebaliknya banyak juga masalah kesehatan yang memerlukan bantuan sektor lain untuk mengatasinya. pembinaan. Pergub Masuk Dalam Perda SKP diperdalam dalam batang tubuh . Dalam hal ini pemerintah mengalokasikan anggaran kepada PPK (Puskesmas/Dinas.

pojok ASI. Masuk Dalam Perda SKP diperdalam dalam batang tubuh Pemberdayaan masyarakat dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan dengan meningkatkan potensi sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat sehingga masyarakat mudah mengakses informasi kesehatan. karena keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun dalam berbagai sistem kemasyarakatan termasuk peran swasta. fasilitas umum yang menunjang kesehatan (toilet bersih. berbasis masyarakat (dari. Pergub . wastafel cuci tangan.Perubahan-perubahan yang terjadi dalam dinamika pembangunan kepulauan Riau termasuk sistem kemasyarakatan yang merupakan bagian integral dari SKP juga akan mempengaruhi upaya-upaya yang dituangkan dalam SKP ini. Masuk Dalam Perda SKP diperdalam dalam batang tubuh Prinsip dari peran serta masyarakat adalah kemandirian dan kegotong royongan/solildaritas sosial. sarana olahraga dll). pengadaan lingkungan sekitar yang sehat dll. oleh dan untuk masyarakat) serta kemitraan.

puskesmas. dinkes Kab/kota dan dan sistem rujukan penatalaksanaan kasus-kasus harus mampu digambarkan dalam SKP .. jadi harus mampu digambarkan di SKP ini dan bagaimana penanganan penguatan-penguatan di level desa..Masukan dari hasil diskusi selain masukan Peraturan 1 Masiih ada unsur remang-remang yang belum dapat di simpulkan.. di pleno ketiga smoga dapat menjadi terang/jelas (Sub Stansi Secara umum) 2 Sistem Informasi kesehatan kelompok sepakat adalah perlu diatur kedalam PERDA Prov Kepri yang ada tambahan-tambahan dlm paragraf/isi drpd kalimat didalam SKP ada tambahannya yg sifatnya mengikat sesuai dgn PP 38 Thn 2007 . lebih di pertegas (dalam sub stansinya sesuai PP38/2007) 3 SKP harus mampu menggambarkan bedasarkan geografis kependudukan. Berdasarkan Riskesdas gambaran karakteristik penyakit tidak menular di Prov Kepri kedepan semakin tampak. khususnya makin tingginya hipertensi yg akan berakbat pada kasus penyertanya nanti spt jantung dan gagal ginjala. demografi dan situasi penyakit menular dan penyakit tidak menular.

nanti di khawatirkan SKP tidak mampu memprediksi masalah2 kedepan.) akan kompleks ttg maslah2 kerja . SKP diminta untuk lebih fokus ke masalah inti agar dapat memprediksi masalah-masalah kedepan. karimun. . harus dimuatkan misal keroyokan dalam pembiayhaan kesehatan. Karena apabila masalah inti tidak masuk kedalam SKP. Jangan sampai 5 tahun kedepan situasi masih seperti demikian.. Ada komitmen2 antara gubernur dan bupati walkot dalam pengentasan kemiskinan didalamnya ada jamkesda. kemudian masalah kesehatan matra dimana kawasan natuna.4 Prov dan kab haarus menjadi harmonis. Misal Sanitasi Total Berbasis Masyarakat sebetulnya sudah dilakukan komitmen antara gubernur dgn bupati walkot bahwa STBM ini harus menjadi atau jangan terlupakan karena di Prov Kepri 30% masyarakatnya BAB tidak sehat. Jadi Kab/Kota nantinya harus mampu mengatur lebih operasional nantinya. lingga adalah sebagai sentra berbasis lautan.. misal ttg Kesehatan kerja karena kawasan 3 kawasan Kepri (Batam. kemudian penyakit-penyakit menular spt HIV AIDS harus muncul. ketika masy kita BAB sembarangan maka masyarakat kita termasuk masy primif. anambas. Nah ini bagaimana SKP ini menjadi acuan bagi kab kota yg pada akhirnya SKD kab kota harus mampu lebih operasional STBM ini kira-kira seperti itu. 5 .