Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih

)
i
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
i

SEKAPUR SIRIH



Berkat Rahmat-Mu ya Allah. Kami Pemerintahan Nagari Surantih merasakan
hidayah-Mu untuk mengembalikan rasa yang mulai hilang. Saat ini sistem
Pemerintahan telah kembali kepada sistem banagari yang berlandasan budaya.
Selawat beriring salam kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar
Muhammad SAW beserta umatnya dengan taat mengikuti sunah dan ajaran-ajaran
yang dibawanya.
Rancangan kegiatan pemerintahan nagari yang disatukan menjadi suatu
rangkuman sejarah asal usul berdirinya sebuah nagari, tercipta lantaran telah
kembalinya kita ke sistem pemerintahan nagari. Sistem dasar pemerintahan nagari
di Alam Minangkabau yang sarat dengan nilai-nilai historis dan budaya. Sistem
pemerintahan yang dibanggakan tali tigo sapilin, membangun secara bersama
dengan kosep dasar mufakat.
Didahulukan selangkah, ditinggikan serantiang, lahir secara mufakat. Dan
sehingga dipercayalah kita membawa nagari ini secara bergilir dalam menciptakan
terobosan-terobosan baru dalam konsep rancangan yang terarah dan secara
berjangka. Semua itu terlepas dari keinginan kita secara bersama-sama. Sistem
didahulukan selangkah inilah yang telah diwariskan semenjak dahulu di ranah
Minang dengan gelar-gelar tersendiri disebut dengan gelar sako adat.
Masa penantian panjang dibangun dari generasi ke generasi, dengan kata
lain perubahan ke depan dapat kita rencanakan nagari ini menjadi Ibu Kabupaten
Banda Sepuluh di Wilayah Pesisir Tengah ini. Saat ini marilah kita coba mulai
bergerak mewujudkan cita-cita dan impian. Kita beranikan diri untuk tampil, berbuat
dengan melakukan perencanaan dan pengorbanan yang dibutuhkan nagari. Tuhan
akan mendengar dan akan mengabulkan semua yang kita rencanakan. Dalam
mewujudkan cita-cita ini, kita berbuat dan bertindak tidak sampai di sini. Dengan
bermodalkan kerja keras dan kebulatan tekad kita bersama, kita hadapi segala
rintangan yang menghadang.
Nagari ini merupakan titipan yang telah diwariskan pada kita. Sudah
sepantasnyalah kita bertanggung jawab penuh, hal ini akan diwariskan terus
menerus dari generasi ke generasi. Kebetulan pada saat ini kita sebagai pewaris
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
ii
dituntut untuk berfikir. Lantaran nagari ini tak akan pernah siap, apalagi selesai.
Semua itu harus kita akui, dengan keterbatasan kita sebagai manusia, insan ciptaan
Tuhan Yang Maha Kuasa. Keterbatasan kita dalam mengetahui bagaimana
keadaan nagari ini pada masa yang akan datang. Kita sebagai manusia terhalang
dengan keadaan diri kita sendiri yang secara natural terbatas dalam tiga aspek

Terbatas dengan dimensi waktu
Terbatas dengan dimensi tempat
Terbatas dengan dimensi peristiwa

Itulah sebabnya kita dituntut untuk mau berbuat dan berfikir serta
mengorbankan apa yang mungkin dapat kita korbankan, untuk kehidupan
masyarakat secara menyeluruh dalam rancangan yang terarah.
Sejarah merupakan cerita masa lampau yang pernah terjadi dan dialami
oleh anak nagari dibuktikan dengan fakta dan realita, baik berupa fakta tertulis dan
realita alam yang menjadi bukti kebenarannya.
Marilah sama kita lihat keadaan nagari kita ini, baik dahulu dan sekarang.
Konsep rasa memiliki harus terus kita tanamkan. Sikap berani membuka diri dan
ikut serta melibatkan diri dan berpartisipasi dalam pelaksanaan pembangunan di
nagari ini, sehingga apa yang menjadi tujuan nagari ini akan terwujud dengan jelas
dan nyata.
Selama ini sering kali hal-hal kecil menjadi halangan bahkan menimbulkan
hal-hal yang tidak kita inginkan seperti kerusuhan. Hal ini jelas berdampak pada
pelaksanaan pembangunan, hanya karena disebabkan oleh perbedaan pendapat
atau ketidak setujuan dengan seseorang. Pada dasarnya pokok persoalan ada pada
kita yang tidak didasari pada alasan yang tepat, melainkan karena bijak berkata dan
keras buku lidahnya. Hal itu dianggap benar demi menjaga harga diri. Inikah yang
harus kita sepakati untuk mengagalkan pembangunan di nagari ini. Ibarat pepatah
adat

“Talang pacah dan membungkus yang tak berisi”

Marilah kita sepakat memberikan apa yang mungkin dapat kita berikan, kita
serahkan sebagai zakat kita atau zakat keluarga (kaum). Sebagai balas jasa bahwa
kita pernah lahir di Nagari Surantih. Apapun yang bisa kita laksanakan, kita berikan
meskipun berupa kesepakatan atau pikiran. Semua itu akan menjadi bukti bahwa
kita pernah ada dan hidup di nagari ini. Apalagi kita sudah meninggalkan bekas,
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
iii
sejarah atau pun cerita. Hal ini bisa menjadi media yang menghubungkan kita
dengan keturunan kita pada masa yang akan datang. Ibarat kata pepatah :

“Gajah mati meninggalkan gading
Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan nama”

Melalui buku ini, kita coba mengarahkan penghidupan untuk menuju suatu
perubahan. Berawal dari penelusuran sejarah nagari ini, kebenaran dan kekurangan
yang ada kita anggap sebagai dinamika dalam kehidupan di nagari ini. Untuk
mewujudkan suatu cita-cita dan tujuan bersama diperlukan waktu yang panjang
dan butuh pikiran, jiwa yang tulus dan ikhlas. Didasari niat tidak ingin menonjolkan
figur sosok seorang individu atau kaum tertentu atau niat untuk menguranggi
sehingga merugikan pihak atau golongan tertentu yang ada di nagari kita ini

Fastabiqul Khairat !!.................

Surantih, Februari 2007
Wali Nagari Surantih


Almasri Syamsi















Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
iv
DAFTAR ISI

Sekapur Sirih ..................................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................................ iv
Daftar Gambar...................................................................................................... vii
Daftar Peta ...................................................................................................... ix
Daftar Skema ..................................................................................................... ix
Daftar Tabel ...................................................................................................... ix
Daftar Pustaka ..................................................................................................... ix

Bab I Pendahuluan ........................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2. Permasalahan ............................................................................ 3
1.3. Tujuan Penulisan ............................................................................ 3
1.4. Metode Penulisan ........................................................................... 3

Bab II Keadaan Lingkungan Alam Nagari Surantih ..................................... 5
2.1. Keadaan Lingkungan Alam ............................................................. 5
2.1.1. Lokasi dan Keadaan Alam ........................................................ 5
2.1.2. Pola Penggunaan Lahan .......................................................... 10

Bab III Sejarah Asal-usul Penduduk Nagari Surantih .................................. 13
3.1. Sejarah Perkembangan .................................................................. 13
3.1.1. Penyebaran Orang Minangkabau ke Wilayah Rantau .............. 13
3.1.2. Perkembangan Alam Surambi Sungai Pagu ............................. 17
3.1.3. Perkembangan Daerah Hunian Koto Katenggian...................... 25
3.1.4. Perkembangan Daerah Hunian Ganting Mudik ........................ 32
3.1.5. Perkembangan Dari Surian ...................................................... 34
3.1.6. Perkembangan Masyarakat Ganting Mudik dan
Koto Katenggian......................................................................... 36
3.1.7. Perkembangan Wilayah Berhimpun ......................................... 40
3.1.8. Perkembangan Wilayah Akhir ................................................... 41
3.2. Sistem Pemerintahan ..................................................................... 44
3.2.1. Sistem Pemerintahan di Koto Ketinggian ................................. 44
3.2.2. Pemerintahan Raja di Batu Bala[h] ........................................... 47
3.2.3. Pemerintahan Raja di Timbulun ............................................... 49
A. Wilayah Ganting Mudik ............................................................ 50
B. Wilayah Ganting Hilir ................................................................. 52

Bab IV Sejarah Masyarakat Nagari Surantih (Versi Kedua) ......................... 55
4.1. Asal Masyarakat Surantih .............................................................. 55
4.2. Pembentukan Gelar Sako Kaum .................................................... 69
4.3. Pembentukan Pemerintahan ........................................................... 74

Bab V Surantih Dalam Sejarah Perjuangan ................................................. 79
5.1. Awal Abad 20 Masa Pesisir Selatan Kerinci (PSK) dan
Pendudukan Jepang ....................................................................... 87
5.1.1. Masa Pesisir Selatan Kerinci (PSK) ......................................... 87
5.1.2. Pendudukan Jepang ................................................................. 89
5.2. Indonesia Merdeka, Agresi Militer dan PDRI .................................. 92
5.2.1. Indonesia Merdeka ................................................................ 92
5.2.2. Agresi Militer dan PDRI ............................................................. 96
5.2.3. Pertempuran di Nagari Surantih ............................................... 99
5.4. Masa PRRI dan Nasakom ............................................................... 101
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
v
5.4.1. Sejarah PRRI di Nagari Surantih .............................................. 101
5.4.2. Semokel/Simokel ...................................................................... 111
5.4.3. Nasakom .................................................................................. 113

Bab VI Sejarah dan Sistem Pemerintahan di Nagari Surantih ..................... 117
6.1. Sejarah Asal Mula Nama Kampung dan Nagari Surantih ............... 117
6.1.1. Asal Mula Nama Nagari Surantih Menurut Beberapa Versi ...... 117
A. Versi Perilaku Raja ................................................................... 117
B. Versi Kayu Meranti Besar ....................................................... 117
C. Versi Peristiwa Adat .................................................................. 118
6.1.2. Sejarah Asal Mula Nama Kampung di Nagari Surantih............. 118
A. Kampung Langgai .................................................................... 119
B. Kampung Batu Bala[h] .............................................................. 119
C. Kampung Kayu Aro ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, 119
D. Kampung Ampalu ...................................................................... 119
E. Kampung Kayu Gadang ............................................................ 120
F. Kampung Gunung Malelo ......................................................... 120
G. Kampung Koto Merapak ............................................................ 120
H. Kampung Koto Panjang ............................................................ 121
I. Kampung Timbulun .................................................................. 121
J. Kampung Rawang .................................................................... 121
K. Kampung Sungai Sirah ............................................................. 121
L. Kampung Pasie Nan Panjang .................................................. 122
M. Kampung Pasar Surantih .......................................................... 122
N. Singkulan ................................................................................. 122
O. Lambuang Bukik ....................................................................... 123
6.2. Sejarah Pemerintahan di Nagari Surantih ...................................... 123
6.2.1. Pemerintah Nagari Masa Kolonial Belanda ............................... 123
6.2.2. Pemerintah Nagari Setelah Indonesia Merdeka ....................... 127
A. Wali Nagari Muchtar Hatta (1946 – 1947) ................................. 129
B. Wali Nagari Abbas Dt. Rajo Basa (1947 – 1952) ...................... 132
C. Wali Nagari Muhammad Basir (1952 – 1961)............................ 135
D. Wali Nagari Abdul Kadir (1959 – 1964) .................................... 138
E. Wali Nagari Munir Razak (1964 – 1968) ................................... 140
F. Wali Nagari Zainuddin Kesah (1968 – 1981) ............................ 141
6.2.3. Menuju Pemerintahan Desa ..................................................... 145
6.2.4. Menuju Kecamatan Sutera ....................................................... 153
6.3. Kembali Ke Pemerintahan Nagari ................................................... 156
6.3.1. Kebanggaan Pemerintahan Nagari ........................................... 156
6.3.2. Tiga Unsur dari Nagari .............................................................. 157
6.3.3. Langkah Kembali Banagari ...................................................... 159
6.3.4. Wali Nagari Almasri Syamsi .................................................... 170

Bab VII Keadaan Lingkungan Sosial Budaya ................................................ 183
7.1. Religi dan Sistem Kepercayaan ...................................................... 183
7.1.1. Animisme, Aceh dan Islam ....................................................... 183
7.1.2. Organisasi Tarikat .................................................................... 187
A. Tariqat Syatariyah .................................................................... 187
B. Tariqat Kestari .......................................................................... 189
C. Tariqat Naksyabandiyah ........................................................... 190
D. Tariqat Syaman ........................................................................ 191
E. Cerita (Kaba) Aliran Tariqat ....................................................... 192
7.1.3. Organisasi Muhammadiyah ....................................................... 193
7.1.4. Kepercayaan Dalam Masyarakat ............................................. 195
A. Tampat dan Orang Bunian ........................................................ 198
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
vi
B. Anak Naiak ................................................................................ 206
C. Manusia Harimau dan Cindaku ................................................. 208
D. Pemelihara Harimau ................................................................. 210
7.2. Budaya Nagari ............................................................................... 211
7.2.1. Sistem Adat Nagari Surantih ..................................................... 211
7.2.2. Budaya Nagari .......................................................................... 227
A. Batagak Gadang ....................................................................... 228
B. Perkawinan ............................................................................... 231
C. Turun Ka[r]aie (Turun Mandi) .................................................... 240
D. Parang Pisang ......................................................................... 240
E. Maubek Pase (Tolak Bala) ....................................................... 241
F. Kematian ................................................................................... 243
G. Guntiang Gombak...................................................................... 244
H. Sunat Rasul .............................................................................. 245
7.2.3. Kesenian Anak Nagari .............................................................. 246
A. Tari-tarian .................................................................................. 246
B. Rabab dan Kaba (Cerita Rakyat) ............................................. 248
C. Randai dan Randai Simarantang ............................................ 249
D. Adik Luka[h] ............................................................................. 249
E. Lela Ampalu ............................................................................. 250
7.2.4. Permainan Anak Nagari ............................................................ 250
A. Lakon Semba .......................................................................... 250
B. Main Gala[h] .............................................................................. 251

Bab VIII Cerita Rakyat Nagari Surantih ........................................................... 252
8.1. Kaba (Cerita) Bujang Jibun ............................................................ 252
8.2. Kaba (Cerita) Gadih Basanai ......................................................... 264

Bab IX Potensi dan Sumber Daya Nagari Surantih ...................................... 286
9.1. Pemerintahan Nagari ..................................................................... 286
9.1.1. Struktur Pemerintahan Nagari .................................................. 286
9.1.2. Sistem Pemerintahan Nagari .................................................... 287
A. Wali Nagari ............................................................................. 287
B. Sekretaris Nagari ...................................................................... 287
C. Kepala Urusan .......................................................................... 288
D. Kepala Kampung ..................................................................... 288
9.2. Lembaga Sosial Kemasyarakatan .................................................. 288
9.2.1. Kerapatan Adat Nagari (KAN) ................................................... 288
9.2.2. Majelis Taklim ........................................................................... 289
9.2.3. Koperasi ................................................................................... 290
9.2.4. Lembaga Gotong Royong ......................................................... 290
9.2.5. Organisasi Pemuda .................................................................. 294
9.3. Populasi dan Penyebaran Penduduk ............................................. 296
9.3.1. Populasi Penduduk .................................................................. 296
9.3.2. Penyebaran Penduduk ............................................................. 297
9.4. Pola Pemukiman ............................................................................ 298
9.5. Pendidikan ....................................................................................... 299
9.6. Sistem Perekonomian ..................................................................... 300
9.7. Sarana dan Prasarana .................................................................... 304
9.8. Sistem Sosial Politik ....................................................................... 305

Bab X Potensi, Sumber Daya dan Hasil Pembangunan
di Nagari Surantih ........................................................................... 314
10.1. Kepadatan Penduduk .................................................................. 314
10.2. Sumber Daya Alam .................................................................... 314
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
vii
10.2.1. Sektor Pertanian .................................................................... 315
A. Sawah dan Perkebunan ....................................................... 315
B. Perkebunan Rakyat ............................................................... 317
C. Buah-buahan ......................................................................... 319
10.2.2. Bidang Peternakan ................................................................ 320
10.2.3. Potensi Kelautan .................................................................. 320
10.2.4. Sektor Kerajinan Rumah Tangga .......................................... 323
10.2.5. Sektor Pariwisata ................................................................... 323
10.2.6. Sektor Ekonomi (Pasar Nagari) ............................................ 324


Daftar Gambar
Gambar 1 Wilayah Nagari Surantih Yang Luas Dilihat Dari Koto Ketinggian ............. 5
Gambar 2 Pulau Kiabak Ketek ................................................................................. 6
Gambar 3 Aliran Batang Air Surantih ........................................................................ 7
Gambar 4 Suasana Perkampungan Di Ganting Mudik (Kampung Langgai) .............. 9
Gambar 5 Lahan Persawahan Masyatakat Nagari Surantih ............................ ........... 11
Gambar 6 Pondok Peladang Gambir .......................................................................... 12
Gambar 7 Lahan Di Daerah Koto Tinggi Yang Baru Dibuka Masyarakat ................... 67
Gambar 8 Aliran Batang Surantih Dan sawah Terlihat Dari Daerah Koto Tinggi ........ 68
Gambar 9 Jembatan Bendungan Irigasi Batang Surantih ........................................... 83
Gambar 10 Tuanku Lahi Rajo Batuah (kiri) Dan Marah Bara’i Rajo Indo (kanan) ........ 87
Gambar 11 Aksi Demo Pemuda Surantih Di Pasar Surantih Dalam Mendukung
Propaganda Ganyang Malaysia Yang Didalangi Oleh Ormas PKI ............ 114
Gambar 12 Wali Nagari Surantih Masa Jabatan 1946 – 1947 ...................................... 129
Gambar 13 Wali Nagari Surantih Masa Jabatan 1947 – 1952 ...................................... 132
Gambar 14 Wali Nagari Surantih Masa Jabatan 1952 – 1961 ...................................... 135
Gambar 15 Wali Nagari Surantih Masa Jabatan 1959 – 1964 ...................................... 138
Gambar 16 Wali Nagari Surantih Masa Jabatan 1964 – 1968 ...................................... 140
Gambar 17 Wali Nagari Surantih Masa Jabatan 1968 – 1981 ...................................... 141
Gambar 18 Muhammad Nasir (Sekretaris Nagari Pemerintahan Zainuddin Kesah) ..... 142
Gambar 19 Bupati Darizal Basir ................................................................................... 151
Gambar 20 Jembatan Gantung Ampalu – Kayu Aro .................................................... 151
Gambar 21 Penandatangan Prasasti Peresmian Kecamatan Baru Propinsi
Sumatera Barat Oleh Gubernur Hasan Basri Durin ................................. 155
Gambar 22 Kantor Wali Nagari Surantih ...................................................................... 162
Gambar 23 Arfen Joni .................................................................................................. 163
Gambar 24 Dalisman .......................................................................................... .......... 163
Gambar 25 Rajabul Ikhsan ............................................................................................ 163
Gambar 26 Hendri, Amd. ............................................................................................. 164
Gambar 27 Japril Mais K. .............................................................................................. 164
Gambar 28 Masna SPd. ................................................................................................ 164
Gambar 29 Basril Hasan ............................................................................................... 165
Gambar 30 Abu Nawas ................................................................................................. 165
Gambar 31 Khatib Rafilis .............................................................................................. 165
Gambar 32 Arsil .................................................................................................... 166
Gambar 33 Zulbaidi .................................................................................................... 166
Gambar 34 Sopial .................................................................................................... 166
Gambar 35 Lidur .................................................................................................... 167
Gambar 36 Hj. Zainar .................................................................................................. 167
Gambar 37 Rusli Dt. Rajo Batuah ................................................................................ 167
Gambar 38 Erman L. Sag. ........................................................................................... 168
Gambar 39 Pelantikan Wali Nagari Surantih Oleh Wakil Bupati Pesisir Selatan .......... 169
Gambar 40 Wali Nagari Surantih Masa Jabatan 2002-2007 ........................................ 170
Gambar 41 Sekretaris Wali Nagari Surantih ................................................................. 170
Gambar 42 Kamil Rajo Johan ....................................................................................... 171
Gambar 43 Oknedi Bsc. ............................................................................................... 171
Gambar 44 Iwal, SPt. ........................................................................................ ............ 171
Gambar 45 Wetma Siswati ........................................................................................ 172
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
viii
Gambar 46 Sefni Indra Juita, SE ................................................................................ 172
Gambar 47 Rena Puspita Sari .................................................................................... 172
Gambar 48 Aimal Efendi ............................................................................................ 173
Gambar 49 Tasgir .................................................................................................... 173
Gambar 50 Sriwahuni ..................................................................................... ............... 173
Gambar 51 Lina Kartina ............................................................................................... 174
Gambar 52 Zulhaini SE ............................................................................................... 174
Gambar 53 Amarnis Ahmad ......................................................................................... 174
Gambar 54 Syahrul, SHi. .............................................................................................. 174
Gambar 55 Ujang Dt. Bandaro Hitam ........................................................................... 175
Gambar 56 Zulkifli .................................................................................................. 175
Gambar 57 Syahril M. ....................................................................................... ............. 176
Gambar 58 Asral ................................................................................................... 176
Gambar 59 Erfendi ................................................................................................... 176
Gambar 60 Rajunas ................................................................................................... 176
Gambar 61 Abu Dalis ...................................................................................... .............. 177
Gambar 62 Basril .................................................................................................. 177
Gambar 63 Arwil ................................................................................................... 177
Gambar 64 Darwis P. Dt. Rajo Batuah ........................................................................... 177
Gambar 65 Akmal Dt. Rajo Bagindo ............................................................................ 178
Gambar 66 Ramalis ................................................................................................. 178
Gambar 67 Jalar .................................................................................................. 178
Gambar 68 Zuhaldi ................................................................................................. 178
Gambar 69 Perternakan Sapi Di Pasir Nan Panjang .................................................... 179
Gambar 70 Lomba Nagari Berprestasi ......................................................................... 179
Gambar 71 Salah Satu Kegiatan Gotong-royong Yang Dilaksanakan
Masyarakat Nagari Surantih ...................................................................... 180
Gambar 72 Pembangunan Jalan Simpuding Gunung Malelo ............................ 180
Gambar 73 Jalan Koto Tinggi Yang Baru Dibuka .............................................. 181
Gambar 74 Pelepasan Penyu Hasil Penangkaran Di Pulau Kiabak Kecil .......... 181
Gambar 75 Rumah Penduduk yang Mendapat Program Perbaikan Rumah
Tidak Layak Huni Dinas Sosial Kab. Pesisir Selatan ................................. 182
Gambar 76 Seorang Pemuda Latihan Silat Dengan Gurunya ..................................... 193
Gambar 77 Gunung Rajo .......................................................................................... 199
Gambar 78 Gunung Giriak .......................................................................................... 201
Gambar 79 Kasib Dt. Rajo Malenggang ....................................................................... 221
Gambar 80 Ros Dt Kando Marajo ............................................................................... 221
Gambar 81 Rusli Dt. Rajo Batuah ............................................................................... 222
Gambar 82 Dt. Rajo Basa ............................................................................................ 222
Gambar 83 Ujang Dt. Bandaro Hitam ........................................................................... 222
Gambar 84 Syafil Dt. Rajo Malenggang ....................................................................... 222
Gambar 85 Upacara Batagak Gadang Dt. Rajo Malenggang (2005) ............................ 230
Gambar 86 Upacara Turun Bako atau Muanta Anak Pisang ....................................... 235
Gambar 87 Upacara Manjalang Mintuwo ..................................................................... 238
Gambar 88 Adat Parang Pisang ............................................................................... 241
Gambar 89 Berjalan Di Pasie Salah Satu Proses Upacara Maubek Pase .................. 242
Gambar 90 Pembacaan Do’a Tolak Bala Dilanjutkan Makan Bajamba ........................ 243
Gambar 91 Adat Gunting Gombak .............................................................................. 245
Gambar 92 Anak Laki-laki Yang Akan Dikhitan, Dijemput dan Antar Induk Bakonya
Sebelum Dikhitan Dengan Mengenakan Pakaian Adat ............................. 245
Gambar 93 Suasana Khitanan Masal Yang Pernah Diselenggarakan di Surantih ...... 245
Gambar 94 Tari Gelombang Dua Belas Pada Acara Penyambutan ........................... 246
Gambar 95 Tari Siamang Tagabai ............................................................................... 247
Gambar 96 Tari Rantak Kudo dan Tari Selendang ..................................................... 247
Gambar 97 Rabab Pasisie .......................................................................................... 248
Gambar 98 Lokasi Gelanggang Sabung Ayam Bujang Jibun di Bukit Batu Balai ......... 256
Gambar 99 Salah Satu Peninggalan Bujang Jibun Berupa Sumur Kecil ...................... 258
Gambar 100 Lubuk Timbulun Tempat Bujang Jibun Terjun dan Jadi Batu .................... 263
Gambar 101 Lomba Kasidah Rebana Antar Majelis Taklim Kampung di Nagari Surantih 290
Gambar 102 Kegiatan Goro Yang Digerakan Secara Swadaya Oleh Masyarakat ......... 293
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
ix
Gambar 103 Hasil Kegiatan Goro yang Digerakan Secara Swadaya Oleh Masyarakat . 294
Gambar 104 Pertandingan Pesahabatan Salah Satu Klub Sepak Bola Nagari Surantih. 295
Gambar 105 Bangunan Kantor Pemuda Samudera Pasar Surantih .............................. 295
Gambar 106 Irigasi Sawah di Nagari Surantih ......................................................... 301
Gambar 107 Payang (kiri atas), Kapal (kanan atas) dan Bagan (bawah) ....................... 303
Gambar 108 Nelayan Sedang Menangkap Ikan Dengan Pukek Tapi ............................ 303
Gambar 109 Perternakan Sapi di Pasir Nan Panjang ................................................... 304
Gambar 110 Bupati Nasrul Abit ...................................................................................... 311
Gambar 111 Wakil Bupati Syafrizal ................................................................................ 312
Gambar 112 Lahan Pertanian di Rawang ..................................................................... 315
Gambar 113 Saluran Irigasi Sawah ............................................................................. 316
Gambar 114 Tambak Udang dan Panen Udang ........................................................... 322
Gambar 115 Foto Bersama Bapak Azwar Anas, Gubernur Gamawan Fauzi, Wali
Nagari Surantih Almasri Syamsi Dengan Pemilik Tambak Bapak Rustam . 322
Gambar 116 Objek Wisata Pulau Kiabak ....................................................................... 323


Daftar Peta
Peta 1 Peta Sumatera Barat (Wilayah Nagari Surantih
dalam Wilayah Kesatuan Banda Sepuluh ....................................................... 2
Peta 2 Peta Kabupaten Pesisir Selatan (insert : Wilayah Nagari Surantih) ................. 7
Peta 3 Peta Kecamatan Sutera ................................................................................... 8
Peta 4 Peta Pola Penyebaran Masyarakat Minangkabau ke Daerah Rantau .. 15
Peta 5 Peta Posisi Ajok Sepadan dan Tampat di Nagari Surantih ............................ 198

Daftar Skema
Skema 1 Struktur Pemerintahan di Koto Tinggi ........................................................... 53
Skema 2 Struktur Pemerintahan di Timbulun .............................................................. 54
Skema 3 Susunan Jurai Kaum di Nagari Surantih ....................................................... 69
Skema 4 Struktur Pemerintahan Nagari Masa 1947 – 1952 ........................................ 134
Skema 5 Sistem Pemerintahan Nagari Dengan Tali Tigo Sapilin, Tungku Tigo
Sajarangan .......................................................................................... .......... 158
Skema 6 Susunan Jurai Kaum Menurut Alam Surambi Sungai Pagu ......................... 217
Skema 7 Struktur Pemerintahan Nagari Surantih ........................................................ 286

Daftar Tabel
Tabel 1 Bentuk dan Gelar Kepala Pemerintahan Nagari Dalam Sejarah
Pemerinrahan di Nagari Surantih ................................................................. 78
Tabel 2 Nama – Nama Wali Nagari Surantih Setelah Indonesia Merdeka ................ 78
Tabel 3 Kepala Kampung Masa Pemerintahan Wali Nagari Zainuddin Kesah
Periode 1968 – 1974 dan 1974 – 1982 ......................................................... 143
Tabel 4 Pejabat Kepala Desa Di Nagari Surantih Periode 1983 – 1990 dan
1990 – 1994 ....................................................................................... 149
Tabel 5 Susunan Anggota BMAS Nagari Surantih .................................................... 168
Tabel 6 Jumlah Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin ................................... 296
Tabel 7 Penduduk Nagari Surantih Berdasarkan Kampung, Jenis Kelamin dan KK .. 297
Tabel 8 Ketersedian Prasarana Pendidikan di Nagari Surantih ................................. 299






Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
1


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.
Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah provinsi di Indonesia yang
berada di Pulau Sumatera. Provinsi ini juga dikenal sebagai Alam Minangkabau,
karena mayoritas penduduknya berasal dan etnis Minang yang dikenal sebagai
salah satu suku bangsa yang memiliki adat istiadat yang khas. Kekhasan kehidupan
orang Minangkabau dapat dilihat pada sistem kekerabatan yang diatur berdasarkan
garis keturunan ibu (matrilineal) yang juga berfungsi sebagai dasar pembagian harta
warisan dan masalah kekerabatan lainnya.
Dalam penyebaran masyarakat pendukung kebudayaan Minangkabau yang
ada saat ini kira-kira seluas daerah wilayah Propinsi Sumatera Barat sekarang
kecuali daerah Kepulauan Mentawai yang mempunyai budaya dan etnis berbeda.
Berdasarkan keadaan wilayah geografisnya, masyarakat Minangkabau dibagi dalam
dua bentuk kelompok masyarakat, yaitu orang Minangkabau yang berada di daerah
darek (darat)
1
dan daerah pasisie (pesisir) yang juga dikenal sebagai daerah rantau.
Kenangan akan indahnya kehidupan bernagari di masa lalu yang dihiasi
dengan adat istiadat pembentuk budaya dan menjadi ciri identitas masyarakat
Minangkabau, yang saat ini dirasakan telah mulai ditinggalkan oleh generasi
sekarang. Keadaan yang demikian mendorong tokoh-tokoh adat, agama dan para
intelektual, menyatukan dan menyamakan persepsi dalam menyonsong perubahan
ini. Sehingga masyarakat Minangkabau menjadikan kesempatan ini untuk
mengembalikan pusako adat yang hilang, mambangkik batang tarandam.
Unsur-unsur Tali Tigo Sapilin dan Tungku Tigo Sajarangan yang telah lama
hilang karena tidak berfungsi sebagaimana mestinya, kembali dihidupkan dalam
kehidupan nagari. Sehingga rengangnya kehidupan sosial masyarakat yang
ditandai oleh rasa kebersamaan yang terwujud dalam tindakan gotong-royong,
bermusyawarah untuk mencari kata mufakat dapat kembali terwujud meski beribu
aral dan rintangan menjadi tentangan dan menghalangi niat suci ini.
Dengan keluarnya Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat No: 9/2000
tentang Ketentuan Pokok Pemerintahan Nagari, maka sistem Pemerintahan Nagari

1
Darek juga dikenal sebagai juga daerah luhak atau daerah mudik.
“ALAM SATI NAGARI SURANTIH”
(Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
2
kembali diberlakukannya Peraturan Daerah ini lahir karena keinginan masyarakat
untuk membentuk dan mengatur tata pemerintahan yang berurat berakar dari
budaya masyarakat sendiri.
Nagari Surantih merupakan salah satu nagari-nagari yang berada di wilayah
rantau, yang dahulunya termasuk dalam wilayah Kerajaan Kesatuan Banda
Sepuluh. Pada masa sekarang Nagari Surantih secara administratif tergabung
dalam wilayah Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan. Gambaran dari letak
dan keberadaan wilayah Nagari Surantih dapat dilihat melalui peta Propinsi
Sumatera Barat secara keseluruhan berikut ini

Peta 1
Peta Propinsi Sumatera Barat
(Wilayah Nagari Surantih dalam Wilayah Kesatuan Banda Sepuluh)
Dengan berlakunya Sistem Pemerintahan Nagari, maka unsur-unsur Tali
Tigo Sapilin dan Tungku Tigo Sajarangan yang telah lama hilang karena tidak
berfungsi sebagaimana mestinya, kembali dihidupkan dalam kehidupan nagari.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
3
Renggangnya kehidupan sosial masyarakat selama ini kembali bisa dijalin sehingga
terwujud rasa kebersamaan yang ditandai oleh gotong-royong, bermusyawarah
untuk mencari kata mufakat, meski beribu aral dan rintangan menjadi tentangan dan
menghalangi niat suci ini.

1.2. Permasalahan.
Dengan kembali hidup bernagari yang ditandai dengan dikembalikannya
pemerintahan nagari dari pemerintahan desa merupakan titik awal bagi masyarakat
Minangkabau khususnya Nagari Surantih untuk kembali berpijak dan berpedoman
pada falasafah dan adat istiadat Minangkabau dalam menjalani kehidupan. Untuk
mewujudkan cita-cita tersebut, Pemerintahan Nagari Surantih secara sadar
merasakan perlunya usaha dan kerja keras untuk menata kembali struktur
kehidupan dan landasan yang akan menjadi dasar pencapaian kehidupan
bernagari. Oleh karena itu Pemerintah Nagari Surantih berusaha mencoba
merumuskan sebuah buku yang nantinya akan menjadi pedoman bagi anak nagari.
Berpijak dan dilandasi semangat kembali ke sistem Pemerintahan Nagari, dalam
buku ini akan memuat bagaimana sejarah nagari asal usul masyarakat Nagari
Surantih, perkembangan penduduk nagari, sistem pemerintahan, adat istiadat
dan monografi dari Nagari Surantih secara keseluruhan.

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan sejarah asal usul
masyarakat Nagari Surantih, adat istiadat dan monografi nagari. Sasaran yang ingin
dicapai dengan penulisan buku ini, agar buku ini menjadi sumber pengetahuan bagi
anak kemenakan yang merasa memiliki nagari dan juga mengetahui tujuan hidup
bernagari, baik tentang sejarah asal usul nagari, adat istiadat yang berlaku dan
mengenali lingkungan alamnya lebih dekat lagi serta tanggung jawab membangun
nagari.

1.4. Metode Penelitian
Dalam pengumpulan data-data yang dibutuhkan dalam penulisan buku ini
mengunakan metode penelitian kualitatif. Metode ini merupakan kegiatan
mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berintegrasi dengan mereka
berusaha mengunakan bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya
(Nasution, 1992: 5). Pendekatan Naturalistik (alamiah) juga digunakan, hal ini
didasarkan pada proses pencapaian tujuan akhir dari penulisan ini yakni
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
4
mengungkapkan proses kehidupan awal yang bermula dari orang pertama yang
datang dan aturan-aturan, adat istiadat yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan, digunakan teknik pangamatan
terlibat dan wawancara. Wawancara dilakukan bertujuan untuk mengumpulkan
keterangan tentang kehidupan masyarakat terutama sejarah asal usul nagari dan
adat istiadat. Wawancara ini dibagi dalam dua bentuk yaitu wawancara terbuka dan
wawancara mendalam. Wawancara terbuka dilakukan pada masyarakat Nagari
Surantih secara umum sedangkan wawancara mendalam dilakukan dengan
sejumlah informan yang memiliki pengetahuan mendalam tentang sejarah asal usul
dan adat istiadat yang ada, dilanjutkan dengan musyawarah dan seminar guna
mendapatkan variasi data demi tercapainya tujuan dari penulisan ini. Kegiatan
musyawarah dan seminar tersebut diikuti oleh Pemuka Masyarakat, Wali Nagari,
Ketua KAN, lembaga-lembaga yang ada di Nagari Surantih dan lain-lain.
Dalam penulisan buku ini tidak hanya mengumpulkan data primer yang
didapatkan dari hasil observasi dan wawancara dilapangan. Studi kepustakaan juga
diperlukan untuk menunjang data dan proses analisa data. Studi pustaka ini akan
sangat membantu dalam penulisan monografi nagari, karena akan mengunakan
data-data statistik tentang kependudukan, juga potensi dan sumber daya nagari .













Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
5
BAB II
KEADAAN LINGKUNGAN ALAM
NAGARI SURANTIH
2.1. Keadaan Lingkungan Alam
2.1. Lokasi dan Keadaan Alam
Surantih merupakan nagari yang memiliki wilayah dataran rendah yang
berbentuk bujur telur dikelilingi dataran tinggi/perbukitan mulai dari arah barat yang
berbatasan dengan laut, memanjang ke arah timur, di tengah-tengahnya mengalir
sebuah sungai yang dikenal masyarakat sebagai Batang Surantih. Batang Surantih
adalah sungai yang berhulu dari dua sungai yaitu Batang Surantih dan Batang
Langgai yang bertemu di Kampung Langgai. Dari kedua sungai inilah sumber mata
air Batang Surantih berasal dan mengalir memberikan pengaruh yang sangat besar
terhadap kehidupan penduduk. Selain Batang Surantih, juga terdapat sungai/batang
air kecil yang bersumber pada sumber mata air yang berada di daerah Gunung
Malelo dan Koto Tinggi, sangat membantu perekonomian masyarakat yang berada
di daerah tersebut. Dilihat dari kenampakan secara keseluruhan Nagari Surantih
dari arah barat makin ke timur datarannya makin menyempit.

Gambar 1
Wilayah Nagari Surantih Yang Luas Dilihat Dari Koto Tinggi

Secara keseluruhan wilayah Nagari Surantih jika dilihat dari ketinggian rata-
rata daerahnya berada pada ketinggian 2 — 15 M di atas permukaan laut.
Berdasarkan rata-rata ketinggian daerah ini, umumnya lingkungan alam Surantih
identik dengan kehidupan pantai (pesisir) yang berada pada dataran rendah yang
dikelilingi dataran tinggi/perbukitan. Meskipun Nagari Surantih hanya memiliki garis
pantai lebih kurang sepanjang 4 Km. Jika dilihat dari luas wilayah Nagari Surantih
yang mempunyai luas sebesar 296,70 Km
2
, tentunya panjang wilayah pantai
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
6
tersebut tidaklah sampai 1% dari luas wilayah Nagari Surantih. Namun pengaruh
sumber daya laut sangatlah besar mempengaruhi kehidupan masyarakat, apalagi
Surantih juga memiliki beberapa buah pulau, seperti ; Pulau Kiabak Kecil, Pulau
Kiabak Besar dan Pulau Kasiak. Sumber daya yang ada tersebut merupakan
potensi yang baik sebagai sumber mata pencaharian hidup maupun dalam
pemenuhan kebutuhan pangan.

Gambar 2
Pulau Kiabak Ketek

Wilayah Nagari Surantih dilihat secara keseluruhan lebih didominasi oleh
lahan pertanian gambut berawa dan lahan perladangan di perbukitan. Sebagai
daerah yang berada di pesisir pantai, Nagari Surantih memiliki suhu udara yang
relatif sama dengan daerah lain yang juga memiliki ekologi yang sama di Kabupaten
Pesisir Selatan. Pada siang harinya suhu udara relatif panas yang bisa mencapai
suhu 35
0
C. Sedangkan pada malam harinya suhu udara dirasakan relatif sejuk
yang berkisar antara 24 - 28
0
C.
Pembagian musim di daerah ini relatif sama dengan pembagian musim yang
berlangsung di wilayah Negara Indonesia lainnya, yaitu dipengaruhi oleh dua musim
yakni musim hujan dan musim panas. Pengaruh musim ini juga berpengaruh
terhadap kegiatan dan aktivitas masyarakat. Perbedaan kedua musim ini dapat
dilihat melalui debit air Batang Surantih. Pada saat musim panas biasanya debit air
kecil, sedangkan pada musim hujan biasanya debit air sungai akan bertambah,
bahkan pada saat musim hujan terjadi air Batang Surantih meluap dan sering
menimbulkan banjir seperti di Koto Baru dan daerah sekitarnya.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
7

Gambar 3
Aliran Air Batang Surantih

Nagari Surantih secara administratif merupakan salah satu dari tiga nagari
yang tergabung dalam Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan. Sebelumnya
Nagari Surantih, baik ketika masih berbentuk nagari sebelum dipecah menjadi desa
ataupun sudah berbentuk pemerintahan desa, tergabung dalam wilayah Kecamatan
Perwakilan Batang Kapas. Pada tahun 1996 baru berada dalam wilayah kecamatan
Sutera. Pasar Surantih dijadikan sebagai pusat pemerinthan dan Ibu kecamatan.

Peta 2
Peta Kabupaten Pesisir Selatan
(Insert : Wilayah Nagari Surantih)
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
8
Begitu luasnya wilayah Nagari surantih dapat dilihat dari beberapa hal;
dilihat dari luas wilayah mempunyai luas sebesar 296,70 Km
2
, jika dibandingkan
luas Kecamatan Sutera yang memiliki luas wilayah 445.54 Km
2
. Persentase luas
wilayahnya adalah 66,58 % dari luas wilayah Kecamatan Sutera secara
keseluruhan, hal ini memperlihatkan bahwa Nagari Surantih adalah nagari yang
memiliki wilayah terluas di Kecamatan Sutera.

Peta 3
Peta Kecamatan Sutera

Dengan luas wilayah itu, di dalam Kenagarian Surantih terdiri dari 13
kampung yang antara lain : 1). Langgai, 2). Batu Bala[h], 3). Kayu Aro, 4). Ampalu,
5). Kayu Gadang, 6). Koto Merapak, 7). Koto Panjang, 8). Timbulun, 9). Rawang.
10). Gunung Malelo, 11). Pasar Surantih, 12). Pasir Nan Panjang, 13). Sungai
Sirah. Pada masa sebelum kembali ke pemerintahan nagari dibagi ke dalam 7
(tujuh) Pemerintahan desa, yaitu : 1). Desa Gunung Rajo, 2). Desa Aur Duri, 3).
Desa Rawang Gunung Malelo, 4). Desa Koto Nan Tigo, 5). Desa Ampalu, 6). Desa
Kayu Aro Batu Bala[h], 7). Desa Langgai.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
9
Kampung-kampung yang tergabung dalam wilayah Nagari Surantih ini
secara ekologi dibagi dalam dua wilayah yaitu Ganting Mudik dan Ganting Hilir.
Ganting Mudik merupakan daerah yang memiliki lingkungan yang dekat dengan
kawasan hutan, karena umumnya kampung-kampung yang berada dekat daerah
deretan Bukit Barisan. Kampung yang tergabung dalam wilayah ini adalah Langgai,
Batu Bala[h], Kayu Aro dan Ampalu.

Gambar 4
Suasana Perkampungan Di Ganting Mudik (Kampung Langgai).
Pada Gambar kiri Adalah Mesjid Langgai Dengan Latar Lingkungan Alam,
Gambar Kanan Memperlihatkan Suasana Perumahan Di Langgai

Sementara daerah Ganting Hilir merupakan daerah yang lebih dipengaruhi
oleh ekologi pantai dan laut, berupa daerah dataran rendah yang terdiri dari lahan
gambut dan daerah rawa. Kampung yang tergabung dalam wilayah Ganting Hilir
antara lain adalah; Kayu Gadang, Koto Merapak, Koto Panjang, Timbulun, Rawang,
Gunung Malelo, Pasar Surantih, Pasie Nan Panjang dan Sungai Sirah. Munculnya
pembagian wilayah ini selain perbedaan ekologi juga disebabkan karena pengaruh
perkembangan kehidupan masyarakat pada masa dahulunya.
Nagari Surantih sebagai salah satu daerah yang termasuk dalam wilayah
Kerajaan Kesatuan Banda Sepuluh memiliki batas wilayah dengan daerah di daerah
Banda Sepuluh lainnya yang berada di sekitar Nagari Surantih. Umumnya batas
wilayah itu ditandai oleh batas alam, dalam adat diibaratkan dalam ajok sepadan
2

sebelah utara dengan bakau nan babejai
3
, sebelah selatan dengan pinang nan

2
Ajok sepadan artinya batas wilayah secara adat.
3
Bakau nan babejai maksudnya adalah batas wilayah yang ditandai hutan bakau
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
10
baririk
4
, sebelah timur dengan Bukik Bujang Juaro, dan sebelah barat dengan riak
nan badabua
5
.
Secara administartif batas wilayah Nagari Surantih sebelah barat
berbatasan dengan Laut/Samudera Indonesia, daerah yang berbatasan langsung
dengan laut ini disebut masyarakat daerah Pasie
6
. Di sebelah timur Nagari Surantih
berbatasan dengan daerah Muaro Labuah Kabupaten Solok Selatan. Batas wilayah
dengan daerah ini ditandai oleh bukit-bukit yang merupakan deretan Bukit Barisan.
Di sebelah utara Nagari Surantih berbatasan dengan Nagari Taratak dan IV Koto
Mudik, Sedangkan di sebelah selatan Nagari Surantih berbatasan dengan Nagari
Amping Parak dan Kambang, sedangkan batas Nagari Surantih dengan daerah
yang berada di sebelah utara dan selatan adalah bukit-bukit yang membentang dari
arah timur ke barat.
Untuk bisa sampai ke Nagari Surantih tidaklah sulit. Sebagai salah satu
nagari yang berada di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan yang dilintasi jalan
kabupaten yang juga merupakan jalan yang menghubungkan dengan Propinsi
Bengkulu. Jarak dari ibukota propinsi kota Padang dengan ibu nagari yang berada
di Pasar Surantih lebih kurang 116 Km, dapat ditempuh dengan menaiki bus jurusan
Kambang, Balai Selasa atau bus yang melewati Nagari Surantih dengan jarak
tempuh lebih kurang 3 jam perjalanan. Dari ibu Kota Kabupaten Painan memiliki
jarak lebih kurang 39 Km dengan waktu perjalanan lebih kurang 1 jam perjalanan.
Sedangkan dari ibu kecamatan berjarak Iebih kurang 2,4 Km.

2.1.2. Pola Penggunaan Lahan
Nagari Surantih memiliki luas daerah lebih kurang seluas 296,70 km
2
.
Dengan luas daerah yang demikian besar, tentunya memberikan potensi yang
sangat besar bagi masyarakat Nagari Surantih. Sebagian besar wilayah yang ada
dimanfaatkan penduduk Nagari Surantih untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka
dengan cara bercocok tanam. Dari aktivitas dan kegiatan penduduk dalam
pemanfaatan lahan yang tersedia dapat dibagi dalam beberapa jenis lahan. Dalam
Nagari surantih lahan yang paling luas adalah berupa hutan larangan. Lahan ini
umumnya berada di daerah Ganting Mudik terutama di Langgai. Luas lahan hutan
larangan ini kurang lebih seluas 197,41 km
2
. Jika dibandingkan dengan luas wilayah

4
Pinang nan baririk maksudnya adalah batas wilayah yang ditandai dengan pinang
5
Riak nan badabua maksudnya adalah batas wilayah yang ditandai dengan laut.
6
Pasie artinya daerah pantai yang menjadi batas antara darat dengan laut.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
11
Nagari Surantih secara keseluruhan merupakan lahan yang paling luas yang mana
hutan ini masih termasuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
Lahan yang paling luas dimanfaatkan penduduk untuk bercocok tanam
adalah persawahan seluas 43,2 km
2
umumnya area persawahan ini berada di
sebelah kiri dan kanan Batang Surantih yang membujur dari hulu Langgai hingga ke
Muara. Lahan persawahan ini jika dilihat dari arah timur Nagari Surantih yaitu
Langgai, makin ke barat atau ke arah pantai semakin luas karena lebih banyak
daerah berupa dataran rendah yang luas. Keberadaan Batang Surantih yang
membelah dua Nagari Surantih sangat mempengaruhi sistem pengairan sawah-
sawah penduduk dalam pelaksanaan bercocok tanam yang hanya bertanam padi
saja setiap tahunnya.


Gambar 5
Lahan Persawahan Masyarakat Nagari Surantih

Aktivitas lainnya yang memanfaatkan lahan adalah dalam bentuk kegiatan
ladang/tegalan. Luas area yang dimanfaatkan untuk jenis kegiatan ini adalah seluas
28,93 km
2
. Umumnya kegiatan bercocok tanam yang dilakukan di daerah ini adalah
menanam jenis tanaman musiman, tanaman tua dan buah-buahan. Dalam kurun
waktu lima tahun terakhir ini tanaman yang paling diminati penduduk untuk ditanam
adalah Gambir. Aktivitas menanam Gambir ini banyak dilakukan di wilayah antara
Ganting Mudik dan Ganting Hilir terutama di Kampung Kayu Gadang, Ampalu, Kayu
Aro, Rawang. Sedangkan di Kampung Langgai sebagian besar dimanfaatkan untuk
menanam tanaman Karet dan Nilam. Hampir seluruh penduduk kampung ini
menekuni mata pencaharian ini.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
12

Gambar 6
Pondok Peladang Gambir

Jenis kegiatan lainnya dalam pengunaan lahan ini adalah kebun
perseorangan, area perkebunan ini umumnya berada di sekitar pemukiman
penduduk, biasanya tanaman yang ditanam berupa sayur-sayuran, tanaman tua
seperti cengkeh dan kopi serta buah-buahan. Luas wilayah yang dimanfaatkan
penduduk untuk kebun perseorangan ini seluas 23,68 km
2
. Sementara itu lahan
yang dimanfaatkan untuk perkarangan rumah adalah seluas 2,17 km
2
.
Rata-rata setiap rumah penduduk memiliki perkarangan rumah yang cukup
luas. Lahan yang digunakan untuk sarana jalan di Nagari Surantih baik jalan
kabupaten/kecamatan maupun jalan Nagari sendiri dimanfaatkan sebanyak 0,47
km
2
. Karena begitu luas dan banyaknya kampung-kampung, fungsi jalan-jalan yang
ada sangat vital dalam menunjang aktivitas kegiatan masyarakat nagari.






Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
13
BAB III
SEJARAH ASAL USUL
PENDUDUK DAN NAGARI SURANTIH

3.1. Sejarah Perkembangan
3.1.1. Penyebaran Orang Minangkabau ke Wilayah Rantau.
Pada suatu ketika di Nagari Pariangan
7
, daerah yang menjadi awal mula
perkembangan masyarakat Minangkabau menyebar dan berkembang ke daerah-
daerah di sekitarnya yang belum ditaruko
8
dan ditempati, hingga menyebar ke
wilayah-wilayah yang ada seperti sekarang ini. Penyebaran ini bermula dari
dilakukannya ekspedisi ke arah dua mata angin, ke arah Timur munculah dua
wilayah baru, yaitu Dusun Tuo Limo Kaum dan daerah Bungo Setangkai yang
sekarang merupakan Nagari Sungai Tarab. Ke wilayah barat dikenal sebagai
ekspedisi Batipuh, daerah pertama yang dibuka adalah Nagari Sabu.
Setelah ekspedisi tersebut, semakin banyaklah masyarakat yang ada di
Pariangan Padang Panjang saat itu membentuk kelompok-kelompok ekspedisi
untuk mencari daerah baru yang mereka yakini nantinya dapat dijadikan sebagai
daerah pemukiman baru bagi anak kemenakannya nanti. Diantara kelompok-
kelompok ekspedisi yang berangkat dari Pariangan, ada satu kelompok ekspedisi
yang dipimpin oleh Sutan Nan Qawi Majoano. Dalam kelompok ekspedisi ini terdiri
dari delapan orang yaitu; Sutan Nan Qawi Majoano, Rapu Sarok, Ramang Putih,
Ramang Hitam, Candi Aluih (dikenal sebagai Niniak orang Melayu), Rabaani
(dikenal sebagai Niniak orang Durian), Kumbo (dikenal sebagai Niniak orang
Bariang) dan Indalan.
Mereka berangkat dari Pariangan dengan menyusuri daerah-daerah yang
berada dalam sailiran
9
Batang Bangkaweh, kemudian terus menuju ke Selatan Koto
Basa Damasraya. Dari daerah ini perjalanan diteruskan menuju arah selatannya lagi
yaitu dengan melewati beberapa daerah antara lain; melintasi Batang Kuantak dan
Batang Hari sampai ke Muaro Tebo dan Muaro Bungo. Dari daerah ini mereka naik

7
Menurut Tambo Alam Pariangan, Pariangan merupakan nagari pertama yang dibuka oleh Suri Maharajo Dirajo
bersama pengikutnya setelah terdampar di Puncak Gunung Merapi tepatnya di Labuhan Sitimbago. Setelah air
surut dan setapak demi setapak daratan bertambah luas, maka turunlah Sutan Maharajo Dirajo bersama
rombongannya menuruni Puncak Gunung Merapi.
8
Ditaruko/menaruko artinya dibuka/membuka lahan baru untuk dijadikan sebagai pemukiman baru dan bercocok
tanam.
9
Sailiran artinya sealiran sungai/batang air.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
14
Biduak Pongkong
10
, hingga sampai di daerah Durian Ditakuak Rajo. Perjalanan
mereka selanjutnya diteruskan memudiki Batang Hari sampai ke hulu Batang Suliti
dan akhirnya sampai ke sebuah lembah yang indah, airnya jernih udaranya sejuk.
Di daerah inilah diputuskan untuk mengembangkan penghidupan, awalnya daerah
ini mereka namai Rimbo Anok sekarang dikenal sebagai Alam Surambi Sungai
Pagu.
Sementara itu di Pariangan, karena telah begitu lama rombongan ekspedisi
yang dipimpin oleh Sutan Nan Qawi Majoano tidak ada kabar beritanya tentang
keberadaan mereka. Berita ini mejadi buah bibir dalam Nagari Pariangan hingga
akhirnya berita ini sampai didengar Raja Di Pagaruyung. Mendegar berita tersebut,
Raja memerintahkan Basa Ampek Balai membentuk kelompok untuk mencari dan
menelusuri jejak perjalanan kelompok ekspedisi yang dipimpin Sutan Nan Qawi
Majoano. Maka dibentuklah sebuah rombongan yang berjumah sebanyak 60 orang,
berangkat mencari ke arah hilangnya Sutan Nan Qawi Majoano yang dipimpin oleh
Inyiak Alang Palabah dan Inyiak Majolelo.
Dari Pariangan rombongan ini berangkat menuju Singkarak dan bertemu
dengan 13 orang Niniak yang melarikan diri dari Agam. Kedua rombongan ini
bergabung melakukan perjalanan hingga sampai daerah Sirukam dan Supayang. Di
tempat ini kedua rombongan ini berpisah, Niniak yang 60 orang itu melanjutkan
perjalanan ke arah selatan menuju Lembah Gumanti (Alahan Panjang). Perjalanan
diteruskan ke hulu Sungai Batang Hari. Hingga sampai di sebuah tempat yang
bernama Bukit Tanaman Batu.
Di daerah ini salah seorang Niniak (bernama Si Padeh) yang berjumlah 60
orang itu sakit (perut) dan akhirnya meninggal dunia. Setelah dikuburkan, maka
Niniak yang tinggal 59 orang, menamakan daerah tempat Niniak yang meninggal
dunia itu Bukit Sipadeh, sekarang berada di Kecamatan Lembah Gumanti dan
arahnya setentang ke arah timur dari Nagari Titian Paning. Akibat peristiwa itu,
setelah Sipadeh meninggal dunia, maka Niniak yang tinggal 59 orang dikenal
kemudian di Alam Surambi Sungai Pagu sebagai Niniak Kurang Aso 60, maksudnya
kurang satu dari 60. Dalam perjalanan berikutnya Niniak Kurang Aso 60 melewati
daerah Surian, di daerah ini terjadi peristiwa hilangnya pisau salah seorang Niniak
Kurang Aso. Setelah sekian lama melakukan perjalanan, akhirnya rombongan yang

10
Biduak Pongkong merupakan sebuah perahu yang terbuat dari bilah (dari bambu) berbentuk rakit.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
15
dipimpin oleh Inyiak Alang Palabah dan Majolelo sampai di Nagari Pasir Talang
sekarang bertemu dengan kelompok Sutan Nan Qawi Majoano.
Ajakan Niniak Kurang Aso kepada Sutan Nan Qawi Majoano untuk kembali
ke Pagaruyung ditolak. Sutan Nan Qawi Majoano beralasan, “Apalagi yang dicari,
disini buminya subur hawanya sejuk pula, airnya jernih ikannya jinak. Apalagi
pemandangan menyejukkan mata. Kembali ke Pagaruyung, kita pun akan berusaha
demi anak kemenakan”. Akhirnya Niniak Kurang Aso 60 bisa memahami alasan
Sutan Nan Qawi Majoano tetap betahan di Rimbo Anok. Niniak Kurang Aso 60 pun
tertarik untuk tinggal dan mengabungkan diri dengan kelompok Sutan Nan Qawi
Majoano.
Munculnya suku di Rimbo Anok/Alam Surambi Sungai Pagu, dibentuk
setelah kedatangan rombongan Niniak Kurang Aso 60. Berdasarkan kata mufakat,
dibentuklah sebuah susunan masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu menurut adat
Koto Piliang dan mereka susun tata cara pemerintahan menurut adat Pagaruyung.

Peta 4
Peta Pola Penyebaran Masyarakat Minangkabau Ke Daerah Rantau.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
16
Setelah disusun dan dibentuknya struktur kehidupan dan pemerintahan di
Surambi Sungai Pagu. Maka diutuslah utusan ke Pagaruyung untuk menghadap
Raja. Utusan ini bertugas menyampaikan pesan bahwa: “urang rantau lah batamu,
hati sanang padi manjadi. Penduduk berkembang biak rukun dan damai, dagang
tak tercinto nak pulang. Dari itu penduduk Alam Surambi Sungai Pagu meminta
pengesahan Raja Pagaruyung untuk dapat diangkat pula seorang raja di Sungai
Pagu. Permintaan itu dikabulkan Raja Pagaruyung tapi dengan syarat:
1. Boleh mengangkat Raja di Alam Surambi Sungai Pagu tetapi tidak
sama kedudukannya dengan Raja Pagaruyung. Raja Sungai Pagu
tetap menjadi dunsanak kandung dari Raja Pagaruyung.
2. Walaupun telah mempunyai ranah rantau nan damai, namun
Pagaruyung jangan sampai tidak dikunjungi (setidak-tidaknya sekali
semusim angin beralih).

Dengan persetujuan dan diiringi restu Raja Pagaruyung, maka atas mufakat
orang-orang di Sungai Pagu, orang yang dituakan sebagai Raja dalam Alam
Surambi Sungai Pagu adalah yang bergelar Tuanku Rajo Disambah Bagindo Sutan
Basa
11
yang tetap berkedudukan di Kampung Dalam Bandar Lakum. Dalam
menjalankan pemerintahannya raja mengangkat 4 orang Raja yang bertugas
sebagai pimpinan dalam 4 suku besar yang ada. Tujuannya adalah untuk lebih
memudahkan beliau untuk menjaga ketentraman hidup dalam masyarakat Sungai
Pagu.
Raja Pagaruyung mengakui keberadaan Kerajaaan Alam Surambi Sungai
Pagu berdasarkan telah berkembangnya penduduk di daerah tersebut. Begitu
jauhnya jarak dengan Kerajaan Pagaruyung, maka Raja memutuskan untuk
menjadikan daerah tersebut sebagai daerah rantau nan barajo. Seiring dengan
berjalannya waktu, sistem pemerintahan di Sungai Pagu terus dibenahi dan ditata
hingga diangkatlah seorang Raja. Dalam struktur pemerintahannya, Raja dibantu
oleh beberapa orang Andhiko (basa) untuk menjalankan pemerintahannya, yaitu :
1. Tuanku Bagindo Sari Pado (Melayu)
2. Tuanku Rajo Batua (Panai)
3. Tuanku Bagindo (Kampai Nan 24)

11
Nama kecil dari raja pertama yang memerintah kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu adalah Samsudin.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
17
4. Tuanku Rajo Malenggang (Lareh Nan Tigo (bakapanjangan).

Susunan ini terus menerus diwariskan di Alam Surambi Sungai Pagu.
tatanan penempatan ini merupakan keputusan Raja Alam Surambi Sungai Pagu,
sebagai pucuk kaum masing-masing.
Rombongan Niniak Kurang Aso di Bandar Lakum mendirikan sebuah dusun
yang bernama Koto Melayu. Dikarenakan semakin berkembang dan bertambahnya
penduduk Sungai Pagu. Maka atas perintah Raja Tuanku Rajo Disambah Bagindo
Sutan Basa, Inyiak Alang Palabah yang merupakan salah seorang pimpinan
rombongan Niniak Nan Kurang Aso 60. Beliau Diperintahkan untuk mencari daerah-
daerah baru yang nantinya kelak akan dijadikan sebagai tempat pemukiman baru
untuk masyarakat Sungai Pagu yang dari waktu ke waktu terus bertambah. Seperti
di Surian, Raja Surambi Sungai Pagu mengangkat dua orang Penghulu paruik
gadang karena telah berkembang pula baparuik gadang, dengan gelar adat :
 Datuk Rajo Johan (Kaum Caniago)
 Datuk Sati (Melayu)

Dalam tata perkembangan nagari dua kaum ini juga ikut dalam
perkembangan masyarakat Nagari Surantih melalui Surian. Sementara dari
ekspedisi yang dipimpin Inyiak Alang Palabah diperkirakan muncul daerah
pemukiman baru yang kemudian dikenal saat ini sebagai wilayah Kerajaan Banda
Sepuluh yang terdiri dari beberapa Nagari yang antara lain adalah Batang Kapeh,
Taluk, Surantih, Amping Parak, Kambang, Lakitan, Pelanggai, Punggasan, Sungai
Tunu dan Air Haji.

3.1.2. Perkembangan Alam Surambi Sungai Pagu
Sejarah asal usul masyarakat Nagari Surantih, dari sejarah yang dibuat
pemerintahan nagari yang terdahulu. Dapat diuraikan tata perkembangannya
meskipun masih ada silang pendapat, hal ini tidak terlepas dari kondisi kehidupan
masyarakat sekarang. Kedatangan awal Niniak masyarakat Nagari Surantih, dapat
diperkirakan setelah berkembangnya Kerajaan Pagaruyung. Kemudian barulah
dibuka wilayah-wilayah baru, salah satunya di daerah Rimbo Anok yang kemudian
berkembang menjadi sebuah kerajaan yang dikenal sebagai Alam Surambi Sungai
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
18
Pagu. Dari daerah inilah dibuka lembaran sejarah yang dapat ditelesuri bahwa
masyarakat nagari ini adalah keturunan dari perkembangan masyarakat Sungai
Pagu Muaro Labuah. Memang sedikit yang dapat diketahui kapan rombongan
tersebut itu mulai manaruko sehingga sampai di Koto Katenggian Nagari Surantih.
Di Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu, Raja bersama dengan para
Penghulu adat melaksanakan musyawarah mufakat untuk memperluas wilayah
pemukiman masyarakat Kerajaan Sungai Pagu. Dari hasil musyawarah dan mufakat
Raja Alam Surambi Sungai Pagu dan para Penghulu adat, memerintahkan
masyarakatnya dibawah pimpinan Niniak Mamak yang bergelar Nan Kurang Aso
yang bernama Inyiak Alang Palabah, merupakan orang kepercayaan Raja yang
memiliki kesaktian dan punya ilmu yang tinggi memimpin rombongan untuk mencari
wilayah baru. Perjalanan merambah hutan belantara ini diperkirakan berlangsung
jauh sebelum abad 5 M
12
.
Inyiak Alang Palabah yang menjadi ketua rombongan, bersama dengan
rombongannya yang sebagian besar terdiri dari Penghulu Suku, Manti dan
Dubalang beserta kelompok-kelompok kecil yang terbagi dalam keluarga-keluarga
yang berasal dari berbagai kaum, masing-masing dipimpin oleh Penghulunya.
Inyiak Alang Palabah tersebut merupakan salah seorang ketua rombongan
Niniak Kurang Aso 60 yang datang dari Pariangan Padang Panjang untuk mencari
rombongan Sutan Nan Qawi Majoano yang telah lama tidak kembali ke Pariangan
Padang Panjang. Sutan Nan Qawi Majoano diyakini sebagai orang kepercayaan
Raja Pagaruyung yang diutus untuk mencari lahan baru dalam memperluas wilayah
Kerajaan Pagaruyung.
Keberangkatan Inyiak Alang Palabah bersama dengan rombongan yang
dipimpinnya, dilepas oleh Raja bersama dengan masyarakat Sungai Pagu dalam
bentuk upacara adat Kerajaan Sungai Pagu. Dalam melintasi rimba belantara,
meniti melewati pematang panjang Bukit Barisan. Setelah lama berjalan rombongan

12
Berdasarkan “Sejarah Pemerintahan Koying Dan Segindo Di Alam Kerinci”, dijelaskan bahwa pada
abad ke 7 M masyarakat Negeri Segindo di Kerinci telah melakukan hubungan dagang dengan
masyarakat pantai Barat Sumatera akibat Kerajaan Sriwijaya menguasai pelabuhan-pelabuhan
dagang di pantai Timur Sumatera. Disebutkan salah satu wilayah yang mereka datangi adalah Wilayah
Kesatuan Banda Sepuluh dan Indera Pura. Data ini menunjukan bahwa jauh sebelum abad 5 M di
wilayah Banda Sepuluh telah berkembang kehidupan masyarakat yang merupakan perkembangan
dari masyarakat Sungai Pagu. Perperangan antara Negeri Segindo di Kerinci dengan Kerajaan
Sriwijaya menyebabkan terjadinya migrasi masyarakat Negeri Segindo di Kerinci ke wilayah pantai
Barat Sumatera. Berdasarkan keterangan ini diperkirakan masyarakat Kerinci pada saat itu yang
melakukan migrasi ke pantai barat juga menjadi salah satu kelompok pendatang yang mengisi
daerah-daerah di jajaran Banda Sepuluh. Lihat dan Baca Idris Djakfar dan Indra Idris (2003 : 122 –
135).
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
19
sampai di pematang sebuah gunung di hulu Sungai Lengayang, antara lain daerah
Pasie Tabantang kemudian melewati Biduak Parahu Pacah hingga akhirnya
berhenti di Ngalau Enok. Di daerah ini Niniak Nan Kurang Aso, Inyiak Alang
Palabah berserta rombongan beristirahat, menetap dan bermalam untuk
melepaskan lelah. Diperkirakan di tempat ini juga Inyiak Alang Palabah berfikir
untuk memecah rombongan dan memusyawarahkannya dengan rombongan.
Sehingga diambil suatu kesepakatan untuk memecah rombongan menjadi tiga
kelompok.
Rombongan yang pertama bergerak menuju arah selatan sedangkan
rombongan yang kedua melanjutkan perjalanan ke arah utara. Sementara
rombongan yang ketiga melanjutkan perjalanan menyelusuri, mendaki menuruni
bukit di jajaran Bukit Barisan menuju arah pantai barat
13
, sebelum menempuh
Damar Nan Dua Puluh, terus menyelusuri sampai ke penurunan lahan yang luas
dan datar, sangat indah subur. Melihat kondisi dan situasi yang ada waktu itu,
bahwa di lokasi tersebut kurang cocok. Maka rombongan kembali meneruskan
perjalanan dengan mendaki/naik kembali menuju arah utara dan kembali
menyelusuri arah timur dengan memperdomani aliran Batang Air Koto Katenggian,
akhirnya mereka sampai di wilayah Koto Katenggian.
Sedangkan rombongan yang kedua, setelah menuju arah utara akhirnya
sampai di suatu daerah yang kemudian dikenal dengan nama Koto Salapan.
Dikabarkan sebagian dari anggota rombongan ini melanjutkan perjalanan ke utara
sehingga sampai ke daerah mudik Bayang. Sementara rombongan yang ketiga
terus bergerak menuju ke arah selatan sehingga sampai di wilayah yang datar dan
subur. Wilayah tersebut kemudian dikenal dengan nama Pelanggai, Sungai Tunu
dan Punggasan. Sebagian dari rombongan ini dikabarkan melanjutkan perjalanan
ke arah selatan menelusuri rimba-rimba belantara hingga menetap dan berkembang
di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Linggo Sari Baganti (Air Haji).
Semenjak itu daerah-daerah baru bagi masyarakat Sungai Pagu tersebut
berkembang menjadi daerah pemukiman baru. Khususnya bagi daerah Koto
Katenggian, Koto Salapan dan Pasir Laweh merupakan daerah bertetangga yang
tergabung dalam wilayah Kesatuan Banda Sepuluh. Hubungan persaudaraan dalam
tatanan hukum adat tetap berlanjut di bawah pemerintahan Raja Alam Surambi

13
Diyakini rombongan ini merupakan cikal bakal dari masyarakat Kambang yang bermula di daerah Pasir Laweh
Kambang.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
20
Sungai Pagu. Begitu eratnya hubungan dengan daerah – daerah yang telah
berkembang dengan wilayah asal, sehingga informasi tentang daerah-daerah
pemukiman baru menarik perhatian masyarakat untuk datang melihat, bahkan ingin
hidup bersama. Melihat keadaan alam yang indah sedangkan laut yang
membentang luas merupakan cerita asing masyarakat asal. Apalagi kedatangan
kelompok yang terdahulu telah mendapatkan daerah pemukiman baru yang luas
dan subur. Tanpa disadari kondisi di wilayah hunian baru sangat jauh bebeda dari
daerah asal, Yaitu Sungai Pagu. Di Koto Katenggian mulai tersusun kehidupan
baru, terlintas impian dan harapan yang menjanjikan tentang suatu kepastian
perubahan bahwa di wilayah Koto Katenggian akan berkembang menjadi wilayah
utama dan wilayah tumpuan bagi kelompok yang baru datang.
Setelah tata cara penghidupan di daerah pemukiman baru mulai
berlangsung normal, masyarakat yang ada di tiga daerah ini menjadi daerah-daerah
yang saling bertetangga. Hubungan timbal balik antara wilayah hunian baru dengan
daerah asal yang berada di Sungai Pagu. Begitu juga daerah pemukiman baru yang
seiring perkembangannya dengan Koto Katenggian. Masih terus menjalin hubungan
baik, dengan cara saling kunjung mengunjungi antara masyarakat Koto Katenggian
dengan Koto Salapan dan Pasir Laweh Kambang.
Hubungan ini terjalin biasanya dalam menghadiri upacara adat dan tradisi
yang telah menjadi budaya masyarakat seperti : acara selamatan, upacara
perkawinan atau sunatan dan juga upacara lainnya. Cara kunjung mengunjungi
memang merupakan budaya yang telah menjadi tradisi dalam kehidupan anak
nagari. Dalam melepaskan letih atau lelah dalam berkerja, waktu-waktu seperti
inilah dimanfaatkan untuk berkunjung mendatangi kerabat sanak saudara atau
kaum guna mempererat tali silahturahmi sambil bersenda gurau (ma ota),
membicarakan persoalan-persoalan hidup pada masing-masing lingkungan tempat
tinggal mereka. Kegiatan ini menjadi suatu hiburan dan saling mengisi membantu
kekurangan hidup.
Dari kebiasaan ini timbul minat atau perubahan pikiran untuk mengajak atau
berupa pesan, untuk membawa kaumnya pada suatu perubahan hidup. Faktor ini
sangat mempengaruhi dan berperan mendorong perkembangan yang terjadi di
wilayah daerah pemukiman baru dengan terus bertambahnya penduduk yang
datang. Berita dan ragam informasi yang terus berkembang mengenai wilayah
pemukiman baru ini di sepanjang wilayah Kesatuan Banda Sepuluh. Baik dari
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
21
pendatang – pendatang yang terdahulu, maupun yang kemudian datang ke wilayah
pemukiman baru tersebut. Maka terbentuklah suatu wilayah kehidupan yang
perkembangannya mempunyai status yang jelas.
Dalam perkembangan selanjutnya, Koto Ketenggian mempunyai wilayah
yang terdiri dari tiga daerah pemukiman yang sekarang disebut dengan Koto tinggi,
Koto Rana[h] dan Sungai Kumayang. Ketiga wilayah ini dikenal kemudian sebagai
Kampung Tiga Koto yang kemudian berubah menjadi Koto Nan Tigo. Sedangkan
Koto Ketenggian merupakan wilayah awal sebelum berkembang.
Kehidupan di pemukiman baru, setiap penduduk memiliki lahan yang luas.
Pengaturan dan penentuan hak kepemilikan untuk mengarap dijadikan sebagai hak
ulayat kaum. Sekarang ulayat tanah garapan yang telah diwariskan secara hukum
adat dikuasai oleh Penghulu, sekarang disebut Kerapatan Adat. Apalagi sekarang
telah kembali kepada pemerintahan nagari. Daerah-daerah yang ada di sekeliling
daerah pemukiman baru tersebut, umumnya daerah tersebut masih berupa hutan
yang ditumbuhi oleh pohon-pohon besar yang harus ditebang dan diberi tanda-
tanda tanaman tua yang produktif sebagai bukti bahwa kawasan itu sudah ada yang
memiliki. Tanaman-tanaman tersebut dapat berupa Durian, Pohon Jengkol, Kapas,
Pohon Pinang yang juga digunakan sebagai batas-batas lahan garapan, sehingga
menjadi pedoman bagi kaum-kaum seketurunan.
Bak kata Adat :
Satitiak tak akan hilang, sabarih tak akan lupo
Kata dahulu kata batuah, kata kudian manirukan
Pusako ulayat nenek moyang, punyo bate[h] jo sapadan.

Bila dilihat perkembangan penduduk di daerah pemukiman baru. Bukan saja
berasal dari perkembangan penduduk setempat, tetapi masih banyak yang datang
dari luar wilayah bahkan dari daerah asal Alam Surambi Sungai Pagu
14
.
Kedatangan secara bergelombang dan berkelompok tak pernah berhenti begitu
saja, tetapi terus menerus sampai terbentuknya daerah Ganting Mudik dan Ganting
Hilir atau yang disebut juga dengan daerah berhimpun.
Biasanya kedatangan anggota baru dari daerah lain selalu disambut baik
oleh masyarakat setempat karena masyarakat selalu mematuhi budaya dan tradisi

14
Diperkiran juga berasal dari daerah Surian.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
22
masyarakat walaupun adat samo langgam batuka. Falsafah di mano bumi dipijak di
sinan langgik dijunjuang, merupakan syarat utama bagi masyarakat pendatang
baru, harus mematuhi dan menuruti adat dan budaya yang berlaku. Sesudah itu
biasanya ia mencari kenalan atau saudaranya sekaum walaupun tidak se-Datuk.
Dengan bantuan orang inilah mereka beradaptasi dan memohon pertolongan untuk
mencarikan lokasi wilayah hunian baru untuk ditempati. Awalnya hanya membentuk
kelompok-kelompok kecil, lama kelamaan berkembang dan memiliki wilayah sendiri.
Orang-orang inilah yang akan membentuk pula kaum tersendiri, juga punya gelar
sako adat yang sesuai dengan milik kaum di daerah asalnya. Sehingga tanpa
disadari sako adat di nagari ini semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Daerah
Koto Katenggian memiliki daya tarik pada kondisi alamnya yang subur dan indah.
Apalagi dibelah oleh batang air kecil yang jernih, ikan nan jinak, yaitu : Batang Air
Koto Tinggi yang bermuara ke nagari Amping Parak.
Berdasarkan gambaran tersebut, daerah Koto Katenggian (Koto Nan Tigo)
merupakan daerah awal, mula lahirnya sejarah nagari bahwa anak nagari keturunan
dari masyarakat yang menghuni tiga wilayah tersebut hidup dan berkembang
hingga akhirnya menyebar ke tiga nagari yaitu : Surantih, Teratak dan Amping
Parak. Itulah sebabnya ketiga nagari ini tidak akan terpisah dalam sejarah. Ketiga
wilayah hunian dapat dibagi menurut struktur kejadian dan asal usul dari namanya
hingga sampai pada masa setelah penghidupan terus berkembang sedangkan adat
dan budaya telah terbawa olehnya.
Kehidupan di Koto Katenggian dipimpin oleh seorang Muncak dibantu oleh
Petua wilayah, yaitu Datuk. Penataan kehidupan awal masyarakat hingga terbentuk
suatu daerah hunian yang bernama Koto Katenggian (Koto Nan Tigo). Sebelum
pemerintahan ini ada dan belum terbentuk. Pada saat itu tanah belum bertuan sama
sekali, kemudian berubah menjadi koto hingga menjadi nagari. Pada awalnya
rumah didirikan berpencar-pencar, membuka lahan dengan cara berpindah-pindah
dari satu lahan ke lahan lainnya, proses awal terbentuknya bermula dari tahapan
berikut ini :
1. Mula Teratak
Teratak mulai diisi dengan kelompok seketurunan, hanya berjumlah 1
sampai 10 buah rumah. Model rumah yang ditempati bertiang empat
dengan hanya satu kamar.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
23
2. Kemudian Dusun
Dusun merupakan lahan yang luas sedangkan orang di sana masih
sedikit tanah-tanah belum bertuan rumah terpencar di mana-mana.
Sudah punya surau rumah beranjung dua melebihi dari 10 buah
rumah. Kaum yang menghuni dusun ini sudah merupakan kaum
baparuik gadang yang berkuasa kepala adat (Penghulu) dipimpin oleh
Kepala Dusun.
3. Menjadi Koto
Koto merupakan lahan luas terdiri dari beberapa dusun. Sanak
kemenakan telah berkembang menjadi berbagai kaum, tanah-tanah
telah bertuan, sudah punya gelanggang adat, punya Mesjid, dipimpin
oleh kepala adat (Penghulu) dan dipimpin oleh Kepala Kampung.

Dari perserikatan wilayah-wilayah ini, membentuk beberapa Koto. Biasanya
paling sedikit empat buah koto baru bisa menjadi satu buah nagari. Sebelum jelas
“balabuah batapian babalai jo musajik” juga harus jelas : Nagari Jo lataknyo ;
baingo babate[h] baajok basapadan.
Dengan sangat telitinya memilih lahan hunian oleh masyarakat terdahulu.
hingga didapatkan lahan yang subur dan kaya sumber daya alamnya, apalagi dari
kabar orang ke orang bahwa di Koto Katenggian memiliki Batu Bara dan barang
tambang lainnya. Sumber daya tersebut nantinya tentu dapat menjadi aset dan
kebanggaan nagari. Dilihat dari sejarah lokasi Koto Katenggian memiliki nilai historis
dari tiga wilayah ini. Apalagi dilihat dari sejarah asal usul walau hanya dapat diurai
dengan kata-kata gambaran sejarah wilayah Koto Katenggian dari rombongan
pertama dengan melihat alam sekitarnya. Maka diambil suatu kiasan bahwa wilayah
yang ditempati jelas dengan ungkapan :
Marana pandangan ka lautan
Marana Pandangan ka Muaro Labuah.
Di sinan lataknyo Koto Katenggian
15




15
Hal ini diambil sebagai pertanda alam.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
24
Demikian juga dengan tiga wilayah perkembangan Koto Katenggian
digambarkan sesuai dengan fungsi dan makna dari namanya, seperti :
1. Wilayah Koto Tinggi.
Disebut juga dengan anjuang peranginan. Sebutan ini diberikan lantaran
wilayah ini dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat dan tempat orang
berkumpul. Baik pertemuan adat dan budaya, tempat ini dijadikan sebagai balai
adat dan tempat tinggal pimpinan wilayah yang bergelar Pamuncak (Orang Tua).
Daerah ini juga dijadikan sebagai tempat orang menunaikan kewajiban beribadah,
lantaran Mesjid tertua di Nagari Surantih terletak di Koto Tinggi. Asal nama wilayah
Koto Tinggi, Koto berarti lahan datar yang luas terletak di tempat yang tinggi. Itu
sebabnya diberi nama Koto Tinggi. Kaum hunian di Koto Tinggi adalah :
 Kaum Sikumbang
 Kaum Kampai
 Kaum Panai

2. Wilayah Koto Rana[h]
Koto Rana[h] disebut juga janjang tampek ka naik, konon menurut cerita
Koto Rana[h] merupakan wilayah dataran rendah yang baik dan subur yang disukai
oleh kelompok pendatang. Setelah melintasi pematang panjang dan sampai ke Koto
Rana[h]. Setelah itu baru mendaki naik menuju Koto tinggi dan menetap di sana.
Setelah mulai berkembang baru orang-orang mulai menetap di Koto Rana[h]. Asal
kata wilayah ini, Koto berarti tempat lokasi yang luas, Ranah berarti jarak pandang
(sayuik-sayuik sampai), itu sebabnya wilayah ini diberi nama Koto Rana[h]. Kaum
hunian di Koto Rana[h] :
 Kaum Kampai
 Kaum Sikumbang

3. Wilayah Sungai Kumayang
Sungai Kumayang disebut dengan nama biliak jorong kampung dalam.
Sungai Kumayang dijadikan masyarakat sebagai tempat simpanan disebut Balubu.
Wilayah rahasia yang tidak disebutkan keberadaanya kepada daerah lain guna
untuk menyimpan perbekalan makanan. Asal kata Sungai Kumayang, diambil
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
25
berdasarkan di lokasi ini banyak ditumbuhi tanaman berbentuk keladi (kumayang).
Kaum yang menjadi penghuni Sungai Kumayang ini :
 Kaum Melayu
 Kaum Sikumbang.

Pembagian tiga wilayah tersebut, dapat diterima bahwa di lokasi tersebut
merupakan hasil rombongan salah satu pimpinan Inyiak kurang Aso 60 dari Alam
Surambi Sungai Pagu meskipun masuk dan keberadaanya tak serentak. Mereka
datang secara bergelombang, dari tiga gelombang rombongan tersebut.
Rombongan ketiga merupakan pelacoh dalam membuka wilayah di nagari ini.

3.1.3. Perkembangan Daerah Hunian Koto Katenggian
Bila dilihat tata kehidupan di alam ini, seiring berjalannya waktu dengan
bertambah banyak jumlah penduduk. Bagi kaum yang datang memang tidak pernah
jelas kapan waktu pasti dan berapa lama proses kehidupan dari daerah awal.
Beragam persoalan, cara mempertahankan hidup dalam masa yang serba ketidak
tahuan dan kekurangan, walaupun berbekal peralatan yang sangat minim dalam
hutan rimba Koto Katenggian. Belum lagi dari sikap dan perilaku manusia yang
masa itu belum tersentuh oleh pendidikan, hanya dengan berbekal keyakinan dari
pengetahuan-pengetahuan yang didapat dari pengalaman hidup yang diwarisi
secara turun temurun.
Kondisi dan keadaan yang demikian mendorong untuk munculnya aturan-
aturan dunia, agar manusia terikat dengan beberapa persoalan dunia yang baik.
Aturan-aturan dipadukan dan bersumber dari kepercayaan agama. Perpaduan -
perpaduan inilah yang disebut dengan adat, atau pun tradisi yang menjadi sumber
pedoman masyarakat yang dilahirkan dengan hati nurani, secara musyawarah dan
mufakat sesuai dengan fiil, Kondisi kultur budaya masyarakat saat itu menjadi
pusaka yang secara turun temurun diwariskan hingga generasi sekarang yang
disebut dengan falsafah adat Minangkabau.
“Adat basandi sara’, sara’ basandi Kitabullah”

Terjemahan itulah yang melekat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau
sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan dunia. Tata cara hidup dahulu
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
26
memang berbeda dengan tata cara hidup sekarang. Untuk mempelajari,
mengetahui seluk beluk budaya dan keyakinan beragama didapat dari pengalaman-
pengalaman hidup yang panjang yang didasari sikap jujur dan tabah. Ikhlas
menghadapi hidup merupakan suatu landasan untuk menghadapi kehidupan di
alam semesta, menjadikan manusia sempurna. Sehingga jadi panutan dan
penuntun bagi masyarakat, yang memiliki kekuatan dan kesaktian pada dirinya.
Orang-orang inilah yang menjadi kebanggaan kaum masing-masing yang
disebut dengan Datuk (Penghulu) di nagari. Peserikatan Datuk-Datuk kemudian
muncul dan menjadi suatu lembaga yang dibentuk berdasarkan struktur dan tugas-
tugas menurut kemampuan masing-masing. Diketuai oleh seorang pimpinan yang
dipilih secara bersama. Waktu itu disebut juga dengan Muncak (orang tua). Dengan
adanya hal tersebut di atas, maka wilayah-wilayah hunian telah memiliki seorang
pimpinan untuk berhak membuat kebijakan dan keputusan di daerahnya sendiri,
sehingga anggotanya terlindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi dalam
penentuan hak ulayat hunian dalam pembukaan lahan-lahan baru tidak terjadi
perebutan lahan. Itulah sebabnya perkembangan daerah Koto Katenggian bisa
tersusun dan tertata dengan baik, menurut kelompok yang telah disepakati
Lantaran masyarakat terus bertambah yang datang dari daerah asal,
sedangkan lahan yang ada semakin berkurang. Patokan ulayat kaum yang dahulu
datang sudah jelas sehingga lahan baru bagi pendatang tak ada lagi. Lantaran
kondisi dan situasi di masyarakat sangat memerlukan lahan-lahan garapan baru,
maka berpikirlah Muncak (orang tua) Koto Katenggian yang dibantu oleh Petua
wilayah kepala kaum masing-masing (Datuk), untuk bermusyawarah di Alun-alun
dipimpin oleh Muncak (orang Tua) di Koto Tinggi. untuk melanjutkan
pengembangan daerah Koto Katenggian. Dari hasil musyawarah tersebut dihasilkan
kesepakatan tentang teknis dan lokasi lahan yang menjadi tanggung jawab kepala
kaum yang terutus berserta rombongannya, tentang keselamatan anggota
rombongannya dari mara bahaya. Kesepakatan itu disambut gembira oleh semua
kaum yang ada. Lantaran waktu itu masyarakat masih meyakini petuah-petuah alam
yaitu: “lawik sati [r]antau batuah”.
Dari uraian di atas, bahwa telah berkembangnya masyarakat di Koto
Katenggian. Berarti telah terhimpun beberapa kelompok kaum, sehingga satu
kelompok telah mempunyai satu orang Datuk (ayam gadang) atau Mamak yang
berhak mengatur dan memikirkan kaum seketurunannya. Berdasarkan catatan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
27
monografi tahun 1979 yang dibuat oleh Bapak Wali Nagari Surantih Zainuddin
Kesah beserta dengan lembaga adat. Bahwa di daerah Koto Katenggian waktu itu
yang memangku dan mempunyai keturunan kaum dan ulayat yang bergelar Datuk
adalah sebanyak 19 (sembilan belas) Datuk. Ke sembilan belas Datuk tersebut
merupakan pecahan dari Ikek Nan Ampek (Suku Nan Ampek ) yaitu, Kaum Panai,
Kaum Kampai, Kaum Melayu, beserta Kaum Lareh Nan Tigo (Caniago, Jambak,
Sikumbang) yang dipimpin oleh seorang penguasa daerah Koto Katenggian yang
bergelar Muncak atau orang tua yang juga merupakan Wakil Raja Adat dari Raja
Alam Surambi Sungai Pagu. Dalam memerintah Muncak dibantu oleh Petua wilayah
Koto Tinggi, Koto Rana[h] dan Sungai Kumayang yang terdiri dari orang pintar yang
disebut juga dengan raja ibadat.
Dengan mempertimbangkan kondisi alam dan luas lahan yang akan
dikerjakan, maka diputuskanlah lahan-lahan tersebut segera digarap dilaco[h] dan
ditaruko dengan cara bergotong-royong dibawah pimpinan Datuk masing-masing
kaum. Galaga Putiah atau yang sekarang ini disebut masyarakat dengan Batang
Surantih dijadikan sebagai patokan utama untuk dijadikan pedoman perluasan
wilayah hunian yang akan dibuat. Di sepanjang Galaga Putih munculah
penghidupan baru masyarakat yang diawali dengan mulai berkembangnya Ganting
Mudik. Sebagian masyarakat/kaum, masih ada yang menetap dan bertahan di Koto
Katenggian. Sementara itu Muncak masih mengatur daerah hunian tersebut dari
Koto Katenggian.
Perjalanan perkembangan nagari terus berlangsung mulai dari sembilan
belas orang yang bergelar Datuk di Koto Tinggi akhirnya menjadi Penghulu kaum
masing-masing. Setelah kedatangan wakil raja dari Sungai Pagu guna melengkapi
dan menyempurnakan pemakaian adat di nagari. Kemudian munculah istilah Led
Sambilan Bale[h] (Led 19) sampai sekarang. Sehingga di Nagari Surantih
mempunyai delapan belas Penghulu. Tidak dapat dimungkiri, seiring dengan
berjalannya waktu dan perkembangan kehidupan masyarakat, kaum-kaum terus
bertambah, kelompok kaum semakin banyak berpindah dan menyebar ke mana-
mana. Maka timbullah kaum-kaum baru dengan istilah adat yang beragam, seperti :
Inggok mancakam, tabang manumpu
Jaweh nan bakaum, dakek nan mancari suku
Dagang darek nan batapatan, dagang lawik batambangkan
Siba[k] langan baju
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
28
Banyak istilah adat yang dapat melambangakan timbulnya gelar pusako
adat. Walaupun harus diperkuat dengan hukum adat dan budaya yang berlaku. Di
tengah Nagari Surantih ini bak pepatah adat :
Di mano bumi dipijak di sinan langik dijunjung
Adat di isi limbago dituang.

Demikianlah proses kehidupan ini berubah dan terus berubah seiring
dengan berjalannya waktu tanpa pernah disadari. Dari hasil keputusan Muncak
(orang tua) di Koto Katenggian, maka ditetapkanlah lokasi pelacohan dengan tugas
dan tanggung jawab kepada Datuk kaum yang berjumlah sembilan belas orang
tersebut dengan gelar yang disepakati oleh anggota kaumnya masing-masing.
Mereka ini merupakan pembantu Muncak (orang tua) dari Koto Katenggian di
wilayah pelacohan masing-masing, antara lain :
A. Batu Bala[h], ditunjuk empat orang Tukang (Datuk) beserta satu orang
tua adat
B. Kayu Aro, ditunjuk tujuh orang Manti (Datuk) beserta satu orang tua adat
C. Ampalu, ditunjuk empat orang Penghulu beserta satu orang tua adat
D. Langgai, ditunjuk empat orang Labai (Datuk) beserta satu orang tua adat

A. Untuk Wilayah Batu Bala[h]
Wilayah pelacohan yang dilaco[h] berada di lereng Bukit Koto Katenggian
sebelah utara, tepatnya di Lubuk Batang dan Kampung Dalam dipimpin oleh Kaum:
 Kaum Kampai
Disebut juga Kampai Sawah Laweh, Penghulu sukunya adalah Dt. Rajo
Bandaro Hitam.
 Kaum Kampai
Disebut juga Kampai Kampung Dalam, Penghulu sukunya adalah Dt.
Rajo Endah
 Kaum Caniago
Disebut juga Caniago Parik Malintang, Penghulu sukunya adalah
Malintang Bumi
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
29
 Kaum Jambak
Disebut juga Jambak Kampung Ateh, Penghulu sukunya adalah
Maharajo Panjang.

B. Untuk wilayah Kayu Aro
Wilayah pelacohan Kayu Aro dilaco[h] oleh beberapa kaum yang dipimpin
antara lain oleh :
 Kaum Sikumbang
Disebut juga Sikumbang Kayu Aro, Penghulu sukunya adalah Dt. Rajo
Yaman
 Kaum Sikumbang
Disebut juga Sikumbang Kayu Aro, Penghulu sukunya Jo Intan (Samat
Dirajo)
 Kaum Sikumbang
Disebut juga Sikumbang Kayu Aro, Penghulu sukunya adalah Rajo
Lenggang
 Kaum Jambak
Disebut kaum Jambak Kayu Aro, Penghulu sukunya adalah Dt. Rajo Kayo.
 Kaum Caniago
Disebut kaum Caniago Kayu Aro, Penghulu sukunya adalah Malin Sutan
 Kaum Kampai
Disebut kaum Kampai Kayu Aro, gelar Penghulu sukunya adalah Rajo Di
Aceh
 Kaum Kampai
Disebut juga Kampai Kayu Aro, gelar Penghulu sukunya adalah Mangkuto

C. Untuk Wilayah Ampalu.
Ampalu yang mempunyai wilayah yang memanjang, berbatasan antara
Ganting dan Singkulan, merupakan wilayah aliran Batang Surantih dipimpin oleh :
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
30
 Kaum Sikumbang
Disebut juga Sikumbang Ampalu, Penghulu sukunya adalah Dt. Rajo
Basa
 Kaum Jambak
Disebut juga Jambak Ampalu, Penghulu sukunya adalah Dt. Rajo
Gampo
 Kaum Kampai
Disebut juga Kampai Ampalu, Penghulu sukunya adalah Dt. Rajo
Bagindo
 Kaum Panai
Disebut juga Panai Lundang, Penghulu sukunya adalah Dt. Rajo
Batuah.

D. Untuk Wilayah Langgai.
Kaum lain yang terus menyelusuri Galaga Putiah ke arah timur nagari,
sehingga mereka mendapatkan lahan datar yang memanjang, udara yang sejuk,
ikannya pun jinak, tanah subur dilingkar oleh perbukitan. Rombongan ini dipimpin
oleh kaum :
 Kaum Sikumbang
Disebut juga Sikumbang Dusun Langgang, Penghulu sukunya adalah
Dt. Rajo Malenggang
 Kaum Jambak
Disebut juga Jambak Dusun Gantiang, Penghulu sukunya adalah Dt.
Rajo Bagampo
 Kaum Caniago
Disebut juga Caniago Dusun Janang, Penghulu sukunya adalah Jo
Johan
 Kaum Kampai
Disebut juga Kampai Dusun Janang, Penghulu suku adalah Rajo
Bintang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
31
Berdasarkan kesepakatan pembagian lokasi yang dibagi oleh pemuka Koto
Katenggian
16
. Pembagian-pembagian lahan untuk lokasi pemukiman bagi kaum-
kaum yang ada di daerah ini sudah jelas.
Dengan tersiarnya lokasi baru yang didapat oleh kepala kaum dibawah
kepemimpinan orang tua (Muncak). Berarti juga telah mulai berkembang juga
wilayah hunian yang kemudian disebut juga dengan Ganting Mudik yang
merupakan tonggak sejarah masyarakat Nagari Surantih dalam mencari sejarah
asal usul anak nagari. Hal ini telah disepakati dan diatur menurut asal usul dari Koto
Katenggian. Dari fakta dan kenyataan dalam memeperkuat hal gelar sako menurut
garis waris kaum dapat dibuktikan dari fakta alam, di mana suatu kaum memiliki
ulayat yang luas, punya sanak kamanakan, punya tanda-tanda adat, “Basasok
bajarami, bapandam bapakuburan”
Dari pengembangan lokasi baru yang dahulu, tata cara masyarakat daerah
Koto Katenggian membuka lahan hunian baru. Pola berpindah dari suatu wilayah ke
wilayah lainnya, biasanya dimanfaatkan untuk sekali panen, kemudian diserahkan
kepada anak kamanakan dan generasi berikutnya. Generasi berikutnyalah yang
melanjutkan pembukaan lahan hunian baru di luar lokasi yang pertama sehingga
satu kaum bisa membentuk dua sampai tiga kelompok kaum seketurunan.
Dampaknya adalah gelar sako adat ikut terbawa, berpindah lokasi ke daerah lain.
Datang, menetap, bergabung dengan kaum yang menanti merupakan suatu
pendorong dalam sistem pengembangan wilayah hunian masyarakat. Terlepas dari
membuka dan manaruko, karena memang wilayah ini belum ada yang memiliki.
Hutan belantara di bawah pengawasan Muncak (orang tua) guna untuk pengaturan
wilayah agar masyarakat aman dan sentosa. Itu pula sebabnya orang dari daerah
lain seperti masyarakat Kambang, Koto Salapan membentuk kaum baru yang lama-
lama kaum ini juga maju dan berkembang menjadi kaum baparuik gadang.
Dari kesimpulan perkembangan penduduk daerah Koto Katinggian dan
Ganting Mudik berkembang secara berbudaya dan alami. Budaya basa basi, tolong
menolong membuat orang ingin berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya,

16
Menurut cerita yang tua-tua dan realita alam dari sejarah tersebut terdapat kekurangannya. Misalnya penetapan
Labai di Langgai, kaum tersebut di atas tidak satupun yang berasal dari Koto Tinggi. begitu juga kaum Caniago
Nagari Surantih tak ada juga memiliki tempat di Koto Tinggi. demikian juga dengan kaum Melayu tidak satu pun
yang dapat bagian untuk menghuni wilayah Ganting Mudik dari penempatan di atas.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
32
menetap bergabung pada kelompok lainnya. Adapun cara pemindahan kaum
ditempat baru :
1. Panggilan kawan, melihat keberhasilan hidup di wilayah baru yang
luas subur dan sumber daya alamnya.
2. Ajakan kaum sendiri yang basumando ke daerah lain
3. Mengikuti suami yang tinggal di lokasi kaum suami
4. Terbuang bersalah menurut hukum adat.

3.1.4. Perkembangan Daerah Hunian Ganting Mudik
Sebenarnya tata cara pengembangan masyarakat Nagari Surantih dari
daerah asal Alam Surambi Sungai Pagu dalam menempati daerah-daerah Banda
Sepuluh. Mereka sampai di daerah Koto Katenggian secara berkelompok dan
bergelombang, bertambah dan terus bertambah baik itu dari daerah asal maupun
dari daerah Banda Sepuluh lainnya.
Setelah daerah Ganting Mudik didiami orang, hanya terdapat beberapa
kaum kecil. Maka mulailah berdatangan kaum lainnya dari beberapa daerah yang
telah berkembang membentuk pula wilayah kecil, lama-lama menjadi satu kaum
besar. Kebiasaan mereka selalu mencari dataran yang luas dan subur. Pola
berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, persis sama dengan cara
pengembangan wilayah sebelumnya. Sebagian dari anggota kaum masih ada yang
bertahan, yang lain pergi mencari lahan baru, sehingga membentuk pula kelompok
seketurunan.
Sesuai dengan perkembangan zaman, pengembangan masyarakat semakin
banyak. Orang terus merambah dan melaco menelusuri wilayah aliran menuju arah
pantai, baik yang masih berdomisili di Koto Katenggian maupun yang mendiami
Ganting Mudik. Begitu juga orang - orang yang datang dari luar daerah ini, seperti
Mudik Kambang bahkan dari Surian Muaro Labuah ikut serta membuka, melaco,
hingga menetap di tempat yang diingini. Walaupun secara adat masih tetap berlaku
peraturan - peraturan dari kesepakatan Penghulu dibawah kepemimpinan Petua-
petua nagari. Untuk mengatur dan memutuskan hak, seperti memiliki lahan dari
pelacohan kaum, ibarat kata adat “ adat diisi limbago dituang”. Guna mengatur hak
ulayat dan kepemilikan lahan, lantaran lahan di nagari ini telah diatur pemakaiannya
oleh kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
33
Namun begitu orang – orang lebih memilih untuk hidup membaur dengan
kaum sesuku, walaupun asal daerahnya lain. Mandakok diri, itu lebih dekat rasa
persaudaraanya. Hidup berpandai-pandai itu merupakan bekal hidup untuk sukses.
Pengembangan awal dari kutipan dan penyampaian orang tua-tua terdahulu.
Untuk membuka lahan baru di jajaran pantai barat daerah ini, masih tetap
mempedomani Batang Surantih. Daerah awal yang dibuka setelah Ganting Mudik
adalah Kayu Gadang, Singkulan, Lambung Bukik telah dimiliki orang, sementara
rombongan lain terus melaco[h] dan menaruko ke arah pesisir pantai barat nagari ini
sehingga mendapatkan juga lahan baru yang subur.
Kondisi alam yang kurang menguntungkan berada di Koto Katenggian,
apalagi orang semakin banyak yang datang ke nagari ini. Melihat hal tersebut orang
tua yang berada di Koto Katenggian mulai menuruni Koto Katenggian melaco[h] dan
mencari wilayah hunian baru. Beliau adalah Urang tuo dan Petua wilayah
1. Muncak atau Urang Tuo Koto Katenggian, merupakan pimpinan adat
wilayah Koto Katenggian. Turun mematok daerah Kayu Aro, Muncak ini
berasal dari kaum Sikumbang, dengan gelar Samad Dirajo
17

2. Petua wilayah Koto Tinggi, turun dan mematok Kampung Kayu Gadang,
dari kaum Panai dengan gelar sako Datuk Rajo Batuah
3. Petua wilayah Koto Rana[h], turun dan mematok wilayah Kampung Kayu
Gadang, dari kaum Kampai dengan gelar sako Datuk Rajo Bandaro
4. Petua wilayah Sungai Kumayang, turun dan mematok wilayah Koto
Merapak dari Kaum Melayu dengan gelar sako Datuk Sati

Dengan turunnya kepala wilayah tersebut, tetapi mereka masih tetap
berulang ke Koto Katenggian untuk menjalankan tugasnya sebagai Muncak/Petua
wilayah. Langkah para Muncak/Petua ini mulai diikuti oleh yang lainnya untuk
mencari lahan kosong yang subur dan dapat diisi. Maka dimulailah kaum-kaum lain
manaruko dan malaco, mengisi daerah yang kosong.
Setelah ajok sepadan kekuasaan batas wilayah hunian telah jelas. Kaum-
kaum terus datang dari beberapa penjuru, dengan kedatangan ini menimbulkan
pendapat dan alur sejarah kedatangan penduduk ke nagari memiliki beberapa versi

17
Berdasarkan keterangan masyarakat, sebagian kaum Sikumbang yang memangku gelar sako adat Samad Dirajo
Koto Katenggian saat ini berkembang dan menetap di Lengayang. Sebagian lagi masih berada di Nagari Surantih.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
34
yang berbeda. Berdasarkan cerita yang didapat dari informan dalam versi tulisan ini,
pengembangan masyarakat Ganting Hilir setelah kampung baru berisi oleh Petua
wilayah. Nagari ini masih berupa hutan belantara, hanya daerah Ganting Mudik
yang baru sudah dihuni sebagai pemukiman baru seiring dengan masuknya
pendatang baru perkembangan daerah Ganting Hilir terus dijalankan oleh tiga
kelompok pengembang, antara lain adalah
1. Kelompok yang datang dari daerah Surian, kelompok ini datang secara
bergelombang setelah kelompok yang dipimpin salah seorang pimpinan
Niniak Kurang Aso 60 dari Sungai Pagu berhasil menemukan dan
mengembangkan wilayah pemukiman awal di beberapa daerah Banda
Sepuluh.
2. Kelompok yang datang dari masyarakat Ganting Mudik dan daerah Koto
Katenggian.
3. Kelompok masyarakat pantai wilayah Banda Sepuluh bahkan dari luar
daerah luar Banda Sepuluh, seperti : Muko-muko, Tapan, Indra Pura,
Tarusan dan lain-lain. Kedatangan mereka ke nagari ini pada umumnya
datang dengan mengunakan perahu, ada juga yang datang dengan cara
berjalan kaki. Daerah yang menjadi pemukiman pertama masyarakat
kelompok ini disebut dengan kampung berhimpun.

3.1.5. Perkembangan Dari Surian
Kedatangan kelompok masyarakat yang datang dari daerah Surian ini
memang tidak dapat dipastikan kapan datangnya ke nagari ini. Dalam tata
perkembangan masyarakat pada masa dahulu datang secara bergelombang, baik
yang datang lebih dahulu atau pun kemudian. Pendatang pertama atau yang
menyusul kemudian, seperti kelompok pendatang baru dari daerah Surian berasal
dari kaum Lareh Nan Tigo dan Kampai. Proses kedatangan mereka adalah sebagai
berikut :
1. Kaum Kampai
Kelompok ini dipimpin oleh Bandaro Hitam yang datang melewati pematang
panjang terus menuju Gunung Malelo, manaruko dan melaco dan menetap
di daerah ini,

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
35
2. Lareh Nan Tigo
 Kaum Sikumbang
Dipimpin oleh Dt. Rajo Malenggang. Awalnya kelompok ini menetap di
Langgai dan berkembang terus membentuk Andiko Ketek yang begelar
Penghulu Kumbang di Nagari Teratak. Sementara kaum Sikumbang
yang menetap di Langgai, sebagian menyebar ke Ampalu, Kayu Gadang
dan Koto Merapak. Perkembangan dari kaum ini menyebar ke Teratak
dengan gelar berbeda, seperti di Ampalu Sikumbang Ganting gelar
Penghulunya Dt. Rajo Pulun. Di Kayu Gadang Sikumbang Paga Basi
gelar Penghulunya Rajo Lenggang. Kaum yang berkembang ke Teratak
memiliki gelas sako Tan Piaman dan Penghulu Kumbang.
 Kaum Caniago
Dipimpin oleh Maharajo Lelo menuju Timbulun Lubuk Batu membentuk
pemukiman kaum, sebagian dari kelompok ini tinggal dan menetap di
Langgai.
 Kaum Jambak
Dipimpin oleh Datuk Tan Majolelo menuju daerah Teratak sedangkan
yang menetap di Langgai masih memakai gelar sako Datuk Rajo
Bagampo. Perkembangan dari kaum ini menyebar ke Rawang/Lubuk
Batu, Koto Panjang dan Kayu Gadang.

Kelompok berikutnya menyebar ke wilayah - wilayah baru di sepanjang
Nagari Surantih, seperti :
 Kaum Panai
Disebut juga Panai Balai Satu Kayu Gadang. Gelar sako yang disandang
Datuk Rajo Batuah, daerah asal Koto Tinggi
 Kaum Sikumbang
Disebut juga Sikumbang Kelok Kayu Gadang. Gelar sako yang
digunakan adalah Datuk Rajo Malenggang, daerah asal Sungai Pagu.
 Kaum Caniago
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
36
Disebut juga Caniago Kapalo Koto Kayu Gadang dengan gelar
Penghulunya Jo Mudo, daerah asal Sungai Pagu
 Kaum Kampai
Disebut juga Kampai Koto Merapak/Sawah Laweh. Gelar sako yang
dimiliki adalah Bagindo, daerah asal Sungai Pagu
 Kaum Sikumbang
Disebut juga Sikumbang Palak Pisang. Gelar sako yang digunakan
Datuk Rajo Bandaro Basa, daerah asal Sungai Pagu

3.1.6. Perkembangan Masyarakat Ganting Mudik dan Koto Katenggian
Seiring dengan terus berjalannya waktu, perkembangan penduduk nagari ini
terus berjalan dalam masa waktu yang cukup panjang. Setelah terbentuknya
perkampungan di Ganting Hilir, orang-orang terus menyelusuri Galaga Putiah
sebagai pedoman dalam mencari dan membuka pemukiman baru. Daerah-daerah
baru yang dibuka pertama adalah Kayu Gadang, Singkulan, Lambung Bukik dan
Simpudiang. Pembukaan daerah tersebut dilakukan oleh beberapa kaum, antara
lain :
 Kaum Sikumbang
Disebut juga Sikumbang Singkulan/Lambung Bukik. Gelar sako yang dimiliki
adalah Jo Lenggang daerah asal Koto Katenggian
 Kaum Caniago
Disebut juga Caniago Lambung Bukik, gelar sako Penghulunya Malin Marajo
daerah asal Sungai Pagu
 Kaum Kampai
Disebut juga Kampai Lambung Bukik/Singkulan, gelar sako Penghulunya
adalah Rajo Bujang daerah asal Sungai Pagu.
 Kaum Melayu
Disebut juga Melayu Simpudiang Datuk Sati, gelar sako Penghulunya adalah
Datuk Rajo Nan Sati daerah asal Koto Katenggian, Sungai Kumayang

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
37
Daerah Timbulun dilaco[h] dan didiami oleh Kaum Kampai yang disebut juga
Kampai Sultan, Penghulu sukunya adalah Datuk Rajo Endah daerah asal
sebelumnya adalah Ganting Mudik Kampung Batu Bala[h]. Kampung Koto Panjang
dihuni oleh Kaum Caniago Balai Selasa, Penghulu sukunya Datuk Kando Marajo
daerah asal Sungai Pagu.
Perpindahan yang terjadi dari Ganting Mudik ke Ganting Hilir atau dari hilir
ke mudik. Bahkan ada juga dari mudik yang keluar daerah ini. Ada juga yang
berasal dari luar daerah yang datang. Terjadinya siklus perpindahan yang demikian
dianggap biasa bagi sebagian anak nagari, hal ini disebabkan oleh kondisi nagari
pada masa tersebut. Umumnya perpindahan yang terjadi dilakukan dalam bentuk
kelompok-kelompok kecil dengan gelar sako yang sama dengan daerah asal.
Bahkan setelah berkembang di daerah baru, gelar sako yang digunakan berubah
karena perkembangan dari kaum tersebut mengharuskan mereka membentuk gelar
sako baru.
Biasanya gelar sako baru tersebut merupakan Andiko dari kaum lama,
belahan dari kaum yang sebelumnya. Hal ini menimbulkan keraguan dalam
menelusuri sejarah asal usul nagari ini. Meskipun keberadaan gelar sako tersebut
sah menurut adat tetapi menimbulkan keraguan dalam melihat mana Andiko kaum
kecil dan Andiko kaum yang besar.
Dalam perkembangan masyarakat Koto Katenggian yang terus berlangsung
diikuti dengan perkembangan daerah Ganting Mudik dan terus melaco ke arah
wilayah hilir, seperti :
 Kaum Jambak
Disebut juga Jambak Penurunan, Penghulu sukunya bergelar Dt. Rajo
Bagampo, daerah asal Ganting Mudik Langgai
 Kaum Kampai
Disebut juga Kampai Balai Satu Lamo Kayu Gadang, gelar sako
Penghulunya Bandaro Hitam, daerah asal Lambung Bukik
 Kaum Caniago
Disebut juga Caniago Bawa[h] Buluh Koto Merapak, gelar Sako
Penghulunya Malin Marajo, daerah asal Lambung Bukik

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
38
 Kaum Sikumbang
Disebut juga Sikumbang Banda Dalam Koto Panjang, gelar sako
Penghulunya adalah Datuk Rajo Indo, daerah asal Sungai Pagu.

Setelah itu menyusul kaum lainnya dan berkembang di Koto Nan Tigo dari
kaum, seperti :
 Kaum Kampai
Disebut juga Kampai Kayu Gadang, gelar sako Penghulu sukunya adalah
Jo Bandaro, daerah asal Sungai Pagu
 Kaum Sikumbang
Disebut juga Sikumbang Kayu Gadang, gelar sako Penghulunya Rajo
Malenggang, daerah asal Ganting Mudik
 Kaum Caniago
Disebut juga Caniago Kampung Berok Koto Panjang, dengan gelar sako
kaumnya Rajo Johan, daerah asal Sungai Pagu
 Kaum Jambak
Disebut juga Jambak Koto Panjang Tangah, gelar sako Penghulunya Jo
Bagampo, daerah asal Ganting Mudik
 Kaum Kampai
Disebut juga Kampai Dusun Mansiang Koto Panjang, gelar sako
Penghulunya Bandaro Hitam, daerah asalnya Sungai Pagu
 Kaum Jambak
Disebut juga Jambak Rimbo Kaluang/Dusun Mansiang, gelar sako
Penghulunya Jo Gampo, daerah asal Mudik Ampalu

Untuk pengembangan daerah Gunung Malelo dan Timbulun, pola
perkembangannya tidak jauh berbeda dengan tata cara perkembangan masyarakat
Ganting Mudik sebelumnya, seperti :


Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
39
 Kaum Caniago
Disebut juga Caniago Sialang Gunung Malelo, gelar sako Penghulunya
Malintang Bumi, daerah asal Ganting Mudik
 Kaum Kampai
Disebut juga Kampai Salo Gunung Gunung Malelo, gelar sako Penghulunya
Datuk Rajo Bandaro Hitam, daerah asal Batu Bala[h]
 Kaum Caniago
Disebut juga kaum Caniago Rumah Gadang Timbulun, gelar sako yang
disandang Malin Marajo, daerah asal Kayu Gadang / Simpudiang
 Kaum Kampai
Disebut juga Kampai Padang Limau Manih Timbulun, gelar sako yang
dimiliki Rajo Bintang, daerah asal Langgai
 Kaum Jambak
Disebut juga kaum Jambak Lubuk Batu, gelar sako yang dimiliki Rajo
Bagampo, daerah asal Langgai
 Kaum Melayu
Disebut juga Kaum Melayu Timbulun Koto Baru, Penghulu sukunya Rajo
Alam (Datuk Sati), daerah asal Ganting Mudik Langgai
 Kaum Kampai
Disebut juga Kampai Koto Baru Timbulun, gelar sako Penghulunya Jo
Endah, daerah asal Sungai Pagu
 Kaum Jambak
Disebut juga Jambak Koto Baru Timbulun, gelar sako kaumnya Jo Gampo,
daerah asal Ampalu

Setelah kedatangan dan perkembangan dari kaum-kaum tersebut, menyusul
juga kaum lainnya di Timbulun seperti :
 Kaum Caniago
Penghulu sukunya Jo Lelo daerah asal Sungai Pagu
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
40
 Kaum Sikumbang
Penghulu sukunya Jo Lenggang daerah asal Koto Katenggian
 Kaum Kampai
Penghulu Sukunya Tan Ameh daerah asal Sungai Pagu

3.1.7. Pengembangan Wilayah Berhimpun
Sebelum daerah Rawang, Pasir Nan Panjang dan Sungai Sirah didiami
masyarakat, daerah jajaran pantai barat sudah mulai pula didiami. Perkiraan ini
didasarkan perkembangan wilayah Ganting Mudik dan masyarakat yang datang dari
Sungai Pagu. Kedua kelompok masyarakat tersebut menyebut daerah pantai barat
yang baru berkembang dengan nama Kampung Berhimpun. Munculnya nama ini
dikarenakan daerah tersebut menjadi tempat terhimpunnya masyarakat dari
berbagai daerah di jajaran pantai barat Banda Sepuluh dan daerah pantai lainnya.
Masyarakat pendatang tersebut datang dari daerah, mulai dari sebelah utara seperti
Tarusan, Pasar Baru, Koto Salapan. Sedangkan dari selatan datang dari daerah
Muko-muko, Tapan, Indra Pura dan Kambang.
Daerah Kampung Berhimpun dimaksud adalah Pasar Surantih sekarang.
Nagari ini sama dengan nagari lainnya di Banda Sepuluh yang umumnya
merupakan wilayah Kekuasaan Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu. Dalam tata
perkembangan wilayah Berhimpun dapat dilihat berdasarkan analisa dari berbagai
pendapat. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kejelasan dan arah perkembangan
dari kampung tersebut. Perlu diketahui, masyarakat yang berkembang di kampung
ini juga menyebar ke wilayah hunian arah mudik nagari ini, mulai dari Timbulun,
Koto Panjang, Koto Merapak, Kayu Gadang dan Ampalu. Sebaliknya masyarakat
dari daerah Ganting Mudik juga menyebar ke daerah Rawang, Pasie Nan Panjang
dan Sungai Sirah.
Masyarakat pendatang dari luar umumnya masuk dari wilayah pingiran
pantai barat. Pada awalnya datang hanya untuk melihat dan mencari perkerjaan
secara musiman, akhirnya datang berkelompok dan mulai menetap. Orang-orang
tersebut mempunyai kelebihan disamping berdagang dan punya modal. Mereka
juga punya keahlian seperti membuat perahu, membuat pukat, jaring dan sampai
dalam penangkapan ikan di laut secara tradisional.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
41
Dengan datangnya kelompok kaum-kaum ini, ekonomi masyarakat nagari
semakin meningkat. Perubahan terjadi secara perlahan dari kehidupan yang selama
ini hidup dengan menghandalkan hasil pertanian dan perkebunan, sekarang sudah
mengenal bahwa laut juga bisa dijadikan sebagai sumber mata pencaharian.
Bersamaan dengan keadaan yang demikian, nagari ini semakin diingini oleh
banyak orang, baik dari daerah Ganting Mudik maupun dari daerah Ganting Hilir
dan juga dari daerah lainnya, sehingga daerah hunian baru terbuka kembali.
Lahan-lahan yang masih kosong mulai dilaco[h] oleh masyarakat nagari.
Apalagi waktu itu dari Kayu Gadang sampai ke Timbulun, kampung yang ada belum
seberapa. Masyarakat yang menghuni pemukiman pun belum seberapa. Faktor ini
menjadi penyebab kenapa masyarakat di Kampung Berhimpun banyak melaco dan
memiliki sawah ulayat pertanian di Kampung Timbulun dan Koto Nan Tigo atau
daerah sekitarnya. Ada juga yang tinggal dan menetap dengan membentuk
kelompok-kelompok kecil pada awalnya. Pada akhirnya kelompok tersebut
berkembang membentuk jurai besar sehingga mendirikan gelar sako menurut adat,
Andiko yang diinginkan.

3.1.8. Perkembangan Wilayah Akhir
Tata cara perkembangan awal wilayah hilir setelah Gunung Malelo, Kayu
Gadang, Koto Merapak, Koto Panjang dan Timbulun. Mulai terisi dan terus
berkembang hingga akhirnya menyebar ke daerah pingiran pantai. Sesuai dengan
kondisi dan sejarah yang ada, maka wilayah akhir yang berkembang di nagari ini
terdiri atas tiga wilayah, yaitu : Rawang, Pasir Nan Panjang dan Sungai Sirah.
Sementara wilayah Kampung Berhimpun (Pasar Surantih) telah dihuni oleh orang-
orang yang datang dari daerah lain menghuni dan manaruko hidup berdampingan
dengan baik.
1. Rawang
 Kaum Sikumbang
Disebut juga Sikumbang Rawang, Penghulu sukunya bergelar Dt. Rajo
Malenggang, daerah asal Ganting Mudik Kampung Langgai
 Kaum Jambak
Disebut juga Jambak Sarik Alahan Panjang, Penghulunya sukunya
bergelar Jo Bagampo, daerah asal Ganting Mudik
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
42
Setelah itu menyusul kaum lainnya seperti :
 Kaum Jambak
Disebut juga kaum Jambak Sarik Dalam, Penghulu suku Maharajo
Panjang, daerah asal dari Batu Bala[h]
 Kaum Kampai
Penghulu suku Dt. Rajo Bandaro Hitam dari Gunung Malelo
 Kaum Caniago
Disebut juga kaum Caniago Labuah, Penghulu sukunya Maharajo Lelo,
daerah asal Ganting Mudik

Kemudian menyusul perkembangan di Kampung Pasir Nan Panjang telah
mulai diisi oleh kaum-kaum dari daerah asal dan daerah lainnya. Daerah baru ini
didiami oleh kaum :
 Kaum Kampai
Penghulu suku Tan Ameh, daerah asal Sungai Pagu
 Kaum Panai
Penghulu suku Dt. Rajo Batuah dari Ampalu
 Kaum Caniago
Penghulu suku Malin Sutan dari Kayu Gadang
 Kaum Sikumbang
Disebut juga kaum Sikumbang Labuah, Penghulu suku Jo Lenggang dan Jo
Intan

2. Sungai Sira[h]
Daerah ini diisi oleh kaum perkembangan Ganting Hilir yang didiami oleh
beberapa kaum :
 Kaum Sikumbang
Penghulu suku Samad Dirajo (Rajo Intan) dari Kayu Aro
 Kaum Jambak
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
43
Penghulu Suku Dt. Rajo Bagampo dari Lubuk Batu /Langgai
 Kaum Caniago
Penghulu Jo Mudo dari Palo Koto Kayu Gadang

Perjalanan panjang nagari ini telah sampai pada titik-titik wilayah akhir dalam
perkembangan penduduk nagari yang terbentuk secara alami. Untuk
mendeskripsikan perkembangan tersebut, digambarkan dari data dan beberapa
informasi yang bisa dipercaya, sehingga dapat disusun sebaik mungkin. Sebagai
contoh pada berapa tahun terakhir ini, dalam tata perkembangan penduduk. Dalam
pembukaan lahan hunian baru memiliki jarak waktu yang tidak begitu lama. Persis
seperti masyarakat Nagari Surantih dan Teratak secara berkelompok berusaha
membuka dan melaco, bahkan ada yang membeli lahan-lahan tidur di daerah asal
Koto Katenggian yaitu Koto Tinggi, Koto Rana[h] dan Sungai Kumayang. Orang
memburu lokasi-lokasi yang dianggap baik untuk berladang. Saat ini telah ada yang
menetap sementara, bahkan ada yang pulang pergi, ada juga menetap dan
berladang bersama keluarga.
Dalam beberapa dekade tahun yang lalu, daerah asal tersebut telah
ditinggal habis oleh masyarakat nagari, yang tinggal hanya tanah ulayat kaum adat.
Mereka pindah ke wilayah yang baru untuk mencari penghidupan yang baru seperti
ke Teratak, Amping Parak, Ujung Air dan lainnya. Sehingga masyarakat Surantih
sudah mengisi Kecamatan Sutera ini pada umumnya. Dengan kepergian mereka
dari wilayah tersebut mengakibatkan daerah tersebut menjadi hutan belantara dan
tak terurus.
Semenjak awal tahun 2001, seorang putera daerah yang pulang dari
perantauan, yaitu : Ujang Te Ong, merasa prihatin melihat daerah tersebut yang
tertinggal. Sedangkan potensinya sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai
lahan perkebunan. Beliau memberanikan diri untuk memulai membangun kembali
daerah tersebut bersama pemuka masyarakat. Bersama Khairul Beo, mereka
mencoba mengajak masyarakat dengan menyumbangkan pikiran ke daerah
tersebut agar dibuka kembali dengan cara bergotong royong. Sehingga telah dibuka
jalan yang bisa dilalui oleh kendaraan roda empat.
Dengan niat baik dan berpikiran positif jauh ke depan, Ujang Te Ong dengan
kesepakatan pemuka masyarakat nagari ini, mencoba mendatangkan 10 (sepuluh)
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
44
kepala keluarga, putra putri transmigrasi dari Pulau Jawa yang dibawa dari Propinsi
Jambi. Kedatangan keluarga pekerja tersebut, ditandai dengan pemberian lahan
yang dilakukan secara adat oleh pemuka masyarakat. Kedatangan mereka menjadi
daya tarik untuk masyarakat agar secara perlahan-lahan datang berbaur berkerja
bersama membangun jalan sampai pendirian Mesjid Tigo Koto di Lubuk Tonjong.
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pemerintahan Nagari bersama Khairul Beo
dan masyarakat lainnya.
Semenjak itu daerah Koto Katenggian telah menjadi wilayah rebutan, disaat
tanaman Gambir mulai jadi budi daya yang jadi primadona oleh masyarakat nagari.
Pertama kali tanaman Gambir dikembangkan oleh Cetak Bandaro Hitam. Semenjak
tahun 2001 sampai sekarang hampair 400 hektar telah ditanami oleh masyarakat.
Tahun 2006 jalan baru dibuka dengan lebar sembilan meter sepanjang 1200 M ini
juga berkat bantuan dua orang tokoh masyarakat Nagari Surantih yang menjadi
anggota DPRD Tingkat I Sumatera Barat, yaitu : Zaidal Masfiudin SH dan Dra
Salmiati. Begitulah tata cara pembagian wilayah-wilayah hunian di nagari ini, dapat
disimpulkan bahwa nagari ini tak mungkin tumbuh dan berkembang sendirinya.

3.2. Sistem Pemerintahan.
3.2.1. Sitem Pemerintahan di Koto Katenggian.
Bila disimak dari uraian sejarah Nagari Surantih dan gambaran cerita
wilayah di sepanjang jajaran pantai barat Banda Sepuluh. Sebelum Koto
Katenggian terbentuk, pada saat tanah di wilayah ini belum bertuan dan masih
berbentuk hutan belantara. Hingga menjadi suatu wilayah hunian orang-orang yang
datang dan ditunjuk oleh Raja Alam Surambi Sungai Pagu untuk mencari lokasi
baru, melaco dan menaruko. Dibawah kepemimpinan orang yang berilmu tinggi
yang dikenal sebagai salah seorang pimpinan rombongan Niniak Kurang Aso 60,
bergelar Inyiak Alang Palabah. Beliau ditugaskan mencari daerah baru untuk
dijadikan sebagai pemukiman baru. Dalam perjalanan bersama rombongannya,
Inyiak Alang Palabah membagi dua rombongan menjadi dua kelompok hingga
akhirnya menyebar ke daerah hunian Banda Sepuluh sekarang ini.
Inyiak Alang Palabah membagi laki-laki dan perempuan ke dalam dua
kelompok dan menunjuk ketua kelompok untuk mengatur dan memimpin
meneruskan perjalanan dalam mencari dan mengembangkan daerah hunian baru.
Setelah mendapatkan wilayah yang cocok, maka menetap dan berkembanglah
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
45
kelompok-kelompok tersebut. Dalam perkembangan kelompok tersebut di daerah
hunian yang baru, ketua rombongan mereka diangkat menjadi pimpinan wilayah
yang bergelar Petua wilayah, setelah itu Muncak atau Urang tuo.
Petua wilayah menjalankan pemerintahan di wilayah hunian baru dibantu
oleh kepala kaum masing-masing kaum yang ada. Mereka didahulukan salangkah
ditinggikan sarantiang oleh kaumnya, untuk menjadi penghubung antara
masyarakat wilayah dengan Petua wilayah hunian. Belum disahkannya kepala
kaum tersebut oleh Raja untuk menjadi Penghulu, adat diisi limbago dituang, maka
orang-orang ini masih bergelar Datuk kaum.
Pada dasarnya Petua wilayah memimpin wilayah hunian yang baru
berbentuk taratak dan kemudian akhirnya berubah menjadi koto. Setelah daerah
hunian mulai semakin berkembang, daerah Koto Katenggian lama-lama
berkembang menjadi tiga daerah wilayah hunian, yaitu : Koto Tinggi, Koto Rana[h]
dan Sungai Kumayang. Ketiga wilayah ini lama-kelamaan dikenal sebagai daerah
Tiga Koto. Dari perkembangan penduduk terciptalah beberapa kelompok
masyarakat sehingga membentuk kaum yang besar dan kaum yang kecil yang
berjumlah sebanyak 19 (sembilan belas) kelompok kaum. Dari pemecahan ikek
nan ampek payung sakaki membentuk Andiko-andiko kaum seperti Kaum Panai,
Kaum Kampai, Kaum Melayu dan Lareh Nan Tigo (Sikumbang, Jambak, Caniago).
Hubungan timbal balik antara wilayah hunian baru dengan daerah asal Alam
Surambi Sungai Pagu tetap terjalin dan berjalan dengan baik. Berdasarkan
petunjuk-petunjuk Raja dan aturan-aturan yang dilaksanakan, Petua-petua di
wilayah Koto Katenggian merasa wilayah tersebut sudah berkembang dan memiliki
penduduk yang membutuhkan sebuah pemerintahan yang menaungi kehidupan
mereka. Maka Petua wilayah untuk membentuk Petua wilayah pada setiap wilayah
hunian baru seperti wilayah hunian Koto Tinggi, Koto Rana[h] dan Sungai
Kumayang. Petua wilayah Koto Katenggian yang dipercaya dan diangkat sebagai
pimpinan daerah hunian Koto Katenggian dianggap sebagai orang tua dengan gelar
Muncak, dalam memerintah dan mengembangkan kehidupan awal di nagari ini.
Berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat pemuka masyarakat di Koto
Katenggian. Maka dibentuklah pemuka wilayah sebagai penguasa wilayah baru di
tiga wilayah hunian guna untuk membantu Muncak dalam bertugas, seperti :
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
46
 Di wilayah Koto Tinggi, ditunjuk seorang pemuka wilayah sebagai pemimpin
di wilayah ini. Tugas ini dipercayakan pada pemimpin kaum Panai sebagai
Petua wilayah, yaitu Rajo Batuah
 Di wilayah Koto Rana[h], ditunjuk seorang pemuka wilayah sebagai Petua
wilayah di daerah ini dipercayakan pada pemimpin kaum Kampai, yaitu Rajo
Bandaro.
 Di wilayah Sungai Kumayang, diangkat seoarang pemuka wilayah sebagai
Petua wilayah yang diembankan pada pemimpin kaum Melayu yang
bergelar Dt. Sati.

Petua wilayah ini dibantu oleh kepala kaum masing-masing dalam
menjalankan pemerintahan di wilayah kekuasaannya. Berdasarkan penuturan
cerita yang disampaikan oleh orang tua yang memahami sejarah nagari ini. Bahwa
yang dipercaya dari awal untuk memimpin nagari ini pertama kalinya, pemimpinnya
disebut dengan Petua wilayah. Seiring dengan berjalannya waktu dan
perkembangan masyarakat, gelar ini berubah menjadi Muncak (orang tua).
Kedudukan sebagai Muncak dipercayakan pada pemimpin kaum Sikumbang
Samad Dirajo. Beliau lebih dikenal dengan gelar Urang Tuo berkedudukan di
daerah Koto Tinggi di wilayah Koto Katenggian, sebagai pemegang pucuk adat.
Dalam menjalankan tugasnya beliau dibantu oleh seorang pelaksana tugas yang
disebut dengan Angku Ibadat, seorang ahli agama dan kemasyarakatan yang
bernama Angku adat.
Meskipun proses pemerintahan pada saat itu belum berbentuk permanen
dan lebih cenderung berdasarkan aturan-aturan yang diambil dari budaya yang
telah dibawa berupa konsep penunjukan kepada orang yang dipercaya oleh Raja.
Mereka yang dipercaya diberi wewenang untuk mengatur dan menyusun aturan-
aturan yang menyangkut tentang wilayah kekuasaannya. Biasanya orang yang
diberi kepercayaan ini mempunyai kelebihan dan nilai-nilai tertentu seperti, ahli adat
dan ahli agama serta juga memiliki kekuatan seperti ilmu kesaktian yang tinggi dan
ahli dalam pengobatan.
Mereka sangat berperan dalam membantu masyarakat dalam kesulitan
hidup dan mara bahaya yang ada, seperti pengusiran binatang dan penunjukan
jalan di hutan belantara. Tugas berat dalam pola kehidupan yang masih sederhana
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
47
di alam hunian baru merupakan suatu tantangan dalam mewujudkan konsep
kebersamaan hidup. Sementara adat dan budaya harus tetap dilaksanakan dan
dikembangkan oleh masyarakat guna terus diwariskan pada generasi yang
berikutnya di Nagari Surantih.

3.2.2. Pemerintahan Raja Di Batu Bala[h]
Sejarah awal mula munculnya suatu pemerintahan di Nagari Surantih sudah
berlangsung semenjak awal perkembangan penduduk di nagari ini. Ketika
penduduk semakin berkembang juga seiring dengan bertambahnya perjalanan
waktu. Koto Ketenggian sebagai daerah pelacohan bagi kampung-kampung yang
muncul setelahnya seperti Batu Bala[h], Langgai, Kayu Aro, Ampalu. Diikuti dengan
kampung-kampung lainnya seperti Lambung Bukik, Gunung Malelo dan Sialang.
Berkembangnya masyarakat di kampung-kampung tersebut ditandai dengan
adanya beberapa kaum/suku, menciptakan kerukunan dan ketertiban antar warga
masyarakat.
Maka bermufakatlah para pemimpin nagari ini Muncak (orang tua) bersama
pembantu-pembantunya dalam pemerintahan. Mufakat yang disepakati adalah
meminta pada Raja Alam Surambi Sungai Pagu mengirimkan wakilnya untuk dapat
memerintah dan mengatur kehidupan masyarakat. Untuk mewujudkan niat tersebut,
diadakanlah pertemuan yang dipimpin langsung oleh Muncak. Pertemuan itu
dihadiri oleh 19 orang Datuk yang ada pada saat itu mewakili kaum dan kampung
yang ada.
Pertemuan ini dilaksanakan di daerah Singkulan, pokok permasalahan yang
menjadi pembicaraan saat itu adalah :
1. Bahwa 19 orang Datuk yang telah memangku gelar Datuk yang ada, merasa
mereka tidak mempunyai tempat untuk mengisi adat,
“Kok kaditaguaan ka bumi, dibendangkan ka langik rajo alun ado”.
2. Belum adanya pimpinan resmi dari Raja Sungai Pagu yang dapat menjadi
pedoman dan mengatur kehidupan kaum-kaum/suku yang ada dalam
wilayah ini. Maka dimohonlah pada Raja untuk mengutus dan mengangkat
seorang Wakil Raja untuk memerintah di daerah ini.
3. Maka bermufakatlah ke 19 orang Datuk tersebut menunjuk Bandaro Hitam
berserta beberapa anggota rombongan yang akan menghadap Raja dan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
48
menyampaikan kesepakatan tersebut pada Raja Alam Surambi Sungai
Pagu.

Setelah dibuat perencanaan dan menentukan hari keberangkatan rombongan
untuk menuju Sungai Pagu. Setelah menghadap dan menyampaikan maksud dan
tujuan rombongan tersebut pada Raja di Sungai Pagu. Akhirnya raja Sungai Pagu
mengangkat seorang wakilnya sebagai Raja untuk memerintah di daerah yang akan
menjadi cikal bakal Nagari Surantih.
Setelah permohonan rombongan yang dipimpin Bandaro Hitam dikabulkan
Raja. Maka Raja Sungai Pagu mengeluarkan mandat dan titahnya dengan
mengangkat seorang wakilnya sebagai Raja di daerah baru. Dengan mendaki dan
menuruni pematang panjang yang bernama Bukit Laban di Muaro Labuah, meniti
jalan pematang panjang dekat Lubuk Batang kemudian melalui Lubuk Sajarolatang.
Bandaro Hitam yang dipercaya sebagai utusan yang menghadap Raja ke Sungai
Pagu, mengawal dan mendampingi Raja dalam perjalanan tersebut dan akhirnya
sampai di daerah Kampung Dalam. Mendengar kabar kedatangan Raja bersama
Bandaro Hitam, senanglah hati Datuk-Datuk yang ada karena kedatangan Raja
merupakan simbol bahwa adat telah diisi.
Dalam upacara alek nagari yang dipimpin oleh Wakil Raja Sungai Pagu.
Mengangkat 19 gelar Datuk dengan melaksanakan upacara adat “Batagak Gadang”
ibarat kata adat “hiduik bakarilahan mati basalin baju”. Upacara ini menandakan di
nagari ini resmi memiliki Penghulu yang memiliki gelar sako kaum yang akan di
wariskan secara turun temurun dalam pecahan Ikek Nan Ampek.
Raja yang mula berdiri berkedudukan di Batu Bala[h], wilayah kekuasaannya
meliputi wilayah Nagari Surantih saat ini yang pada saat itu baru meliputi tiga
daerah Koto Katenggian, yang terdiri dari Koto Tinggi, Koto Rana[h] dan Sungai
Kumayang. Wilayah Ganting Mudik meliputi empat kampung yang telah
berpenghuni, yaitu Langgai, Batu Bala[h], Kayu Aro dan Ampalu. Ditambah dengan
daerah hilir yang baru dibuka seperti Kampung Kayu Gadang (Lambung Bukik).
Koto Merapak, Koto Panjang dan Gunung Malelo, sebagian besar wilayahnya saat
itu masih merupakan dataran rendah berawa yang mengarah ke pesisir/pantai.
Untuk menjalankan pemerintahannya guna mengatur kehidupan masyarakat
yang harmonis dan menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan agama. Raja dibantu oleh
para Penghulu yang disebut dengan Ikek Nan Ampek (Penghulu Nan Barampek)
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
49
dan Manti. Penghulu yang tegabung dalam Ikek Nan Ampek berasal dan empat
suku yang ada yaitu; Melayu, Kampai, Sikumbang dan Panai, sebagai pembantu
Raja, Ikek Nan Ampek mempunyai tugas untuk mengatur dan mengontrol
kehidupan anggota masing-masing sukunya. Dalam menjalankan tugas mereka
tersebut, Ikek Nan Ampek dibantu oleh Manti, Dubalang, Malin.
Sementara Muncak atau orang tua masih tetap menetap di Koto Katenggian
bersama Petua wilayah terdahulu. Mereka masih bertahan dan belum mau
membuka wilayah baru karena kehidupan di daerah yang sudah mapan. Maka
tugas wilayah pelacohan ditugaskan pada Andhikonya. Beliau tetap memberi
nasehat pada Raja dan membantu tugas Raja di Koto Katenggian.
Raja yang memerintah dan berkedudukan di Ganting Mudik berasal dari
Kaum Melayu, bernama Sutan Bujang Panalam dan mempunyai gelar Raja Salam.
Raja merupakan anak Sulung dari tiga orang bersaudara, adiknya perempuan
bernama Puti Panjang Sanggu bergelar Puti Mayang Taurai dan yang paling
bungsu bernama Sari Alam dengan gelar Sutan Sari Alam. Berdasarkan penuturan
dan cerita orang tua terdahulu, Raja di Batu Bala[h] malakok pada kaum Kampai
Kampung Dalam dalam sako Dt. Rajo Endah. Setelah berkembang, Raja berdiri
sendiri membentuk kaum sendiri dari perkembangan keluarganya. Adik
perempuannya yang paling kecil yang bernama Sari Alam mendirikan gelar kaum
Melayu yaitu Rajo Alam.

3.2.3. Pemerintahan Raja Di Timbulun
Seiring dengan berjalannya pemerintahan raja yang berada di Batu Bala[h],
kehidupan masyarakat semakin berkembang juga di Ganting Mudik dan semakin
banyaknya rombongan masyarakat yang datang dari Sungai Pagu ke daerah ini.
Akhirnya di daerah Ganting Hilir semakin banyak dibuka lahan pemukiman baru
oleh masyarakat pendatang dari penjuru ranah pesisir pantai. Sehingga
terhimpunlah kelompok masyarakat di daerah baru pinggiran pantai barat nagari ini.
Hal ini menjadi salah satu faktor pendorong semakin banyaknya dibuka pemukiman
baru oleh masyarakat pendatang. Bahkan mereka ikut melaco dan menaruko dalam
membuat lahan pertanian baru seperti kepemilikan penguasaan tanah adat.
Kampung Timbulun pada masa itu menjadi wilayah kepemilikan Raja yang
bernama Sutan Bujang Panalam bersuku Melayu. Kepindahan Raja dari Batu
Bala[h] ke Timbulun merupakan titik awal perubahan baru yang berlangsung dalam
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
50
perkembangan kehidupan di nagari ini. Berdasarkan cerita, dikabakan bahwa Raja
menikah dengan kaum Kampai Dt. Rajo Endah. Sedangkan adiknya yang bungsu
bernama Sari Alam hidup dan berkeluarga di Timbulun. Raja membentuk daerah
hunian dan kaum dengan gelar Andiko kaum Rajo Alam.
Setelah jelas bagi masyarakat nagari bahwa Raja akan memindahkan pusat
pemerintahan ke Timbulun. Masyarakat semakin ramai mencari lahan baru yang
kosong hingga perkembangan penduduk di daerah hilir semakin berkembang.
Perkembangan ini mendorong munculnya kampung baru seperti Koto Baru, Koto
Panjang, Timbulun, Lubuk Batu dan lainnya.
Dengan dipindahkannya pusat pemerintahan ke Timbulun secara tidak
langsung juga mendorong terjadinya perubahan struktur pemerintahan yang ada
sebelumnya. Tujuan dilakukannya perubahan ini didasarkan pertimbangan agar
terciptanya keseimbangan dalam mengatur kehidupan masyarakat yang semakin
berkembang dan bertambah banyak. Semua itu dilakukan demi menciptakan
keseimbangan dalam mengatur kehidupan masyarakat adat nan baganting ilia dan
adat nan baganting mudiak. Dalam pemerintahan yang berpusat di Timbulun raja
membentuk struktur pemerintahan berdasarkan dua wilayah yang ada. Maka pada
waktu itulah Ganting Hilir dikumandangkan, sebelumnya daerah ini lebih dikenal
masyarakat sebagai Kampung Berhimpun. Pembagian wilayah ini secara tidak
langsung mempertegas batas daerah dan wewenang dalam menjalankan
pemerintahan di kedua wilayah.

A. Wilayah Ganting Mudik
Wilayah Ganting Mudik Raja mengangkat seorang wakilnya yang
berkedudukan sebagai Muncak (orang tua) bergelar Samad Dirajo, kaum
Sikumbang sebagai salah seorang penasehat Raja beliau diberi wewenang untuk
melahirkan kebijakan dan juga memungut hasil kekayaan alam di daerah Ganting
Mudik, adat mengatakan “ Ka darek, ka rimbo babungo kayu”. Muncak ini dalam
melaksanakan tugasnya dibantu oleh :
1). Di Wilayah Batu Bala[h]
Pada masa dahulunya disebut dengan Tukang Nan Barampek, sekarang
dikenal dengan Penghulu Nan Barampek. Mereka antara lain adalah
 Penghulu Kaum Kampai : Dt. Rajo Endah
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
51
 Penghulu Kaum Kampai : Dt. Rajo Bandaro Hitam
 Penghulu Kaum Jambak : Maharajo Panjang
 Penghulu Kaum Caniago : Malintang Bumi

2). Di Wilayah Kayu Aro
Pada masa dahulu dikenal dengan Manti Nan Batujuah, sekarang
dikenal dengan Penghulu Nan Batujuah. Meraka antara lain adalah :
 Penghulu Kaum Sikumbang : Dt. Rajo Yaman
 Penghulu Kaum Sikumbang : Samad Dirajo
 Penghulu Kaum Sikumbang : Jo Lenggang
 Penghulu Kaum Jambak : Dt. Rajo Kayo
 Penghulu Kaum Caniago : Malin Sutan
 Penghulu Kaum Kampai : Rajo Di aceh
 Penghulu Kaum Kampai : Rajo Mangkuto.
3). Di Wilayah Ampalu
Pada masa dahulu disebut dengan Penghulu Nan Barampek hingga saat
sekarang. Mereka antara lain adalah :
 Penghulu Kaum Panai : Dt. Rajo Batuah
 Penghulu Kaum Kampai : Dt. Rajo Bagindo
 Penghulu Kaum Sikumbang : Dt. Rajo Indo
 Penghulu Kaum Jambak : Dt. Rajo Gampo
4). Di Wilayah Langgai
Pada masa yang lalu disebut dengan Labai Nan Barampek, sekarang
menjadi Penghulu Nan Barampek. Mereka antara lain adalah
 Penghulu Kaum Sikumbang : Dt. Rajo Malenggang
 Penghulu Kaum Caniago : Jo Johan
 Penghulu Kaum Jambak : Dt. Rajo Bagampo
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
52
 Penghulu Kaum Kampai : Rajo Bintang.

B. Wilayah Ganting Hilir
Dalam daerah Ganting Hilir (wilayah berhimpun), Raja mengangkat seorang
wakilnya sebagai pelaksana tugas. Maka ditunjuklah orang kepercayaan Raja yang
diberi gelar Sultan dari Kaum Kampai yang berkedudukan di wilayah Timbulun.
Sultan dalam menjalankan tugasnya di daerah hunian Ganting Hilir memiliki
wewenang yang hampir sama dengan Muncak. Yaitu mengatur kehidupan
masyarakat dan juga memungut kekayaan alam di daerah Ganting Hilir, terutama
“nan ka lawik babungo karang”. Demi lancarnya pelaksanaan tugasnya, Sultan
menunjuk beberapa pembantu yang diberi kepercayaan membantunya menjalankan
pemerintahan. Wilayah Ganting Hilir dibagi menjadi dua wilayah, yaitu :
1). Daerah iliran pantai, dipimpin oleh seorang yang bergelar Bagindo. Wilayah
kekuasaannya meliputi Pasir Nan Panjang, wilayah Berhimpun (Pasar
Surantih), Rawang dan Timbulun.
2). Daerah iliran Batang Galaga Putih (Batang Surantih), dipimpin oleh
seorang yang bergelar Bandaro. Berkedudukan di wilayah Gunung Malelo
memiliki wilayah kekuasaan antara lain Gunung Malelo, Koto Panjang,
Koto Merapak, Kayu Gadang dan Lambung Bukik.

Dalam pelaksanaan pemerintahannya dibantu oleh Andiko adat seperti
Manti dan Dubalang. Proses perjalanan pemerintahan di nagari yang dipimpin oleh
dua perwakilan pemerintahan menjadi sorotan dan tanda tanya oleh masyarakat
nagari. Bermacam pendapat dan pertanyaan berkembang dalam kehidupan
masyarakat. Permasalahan ini terdengar oleh pemuka adat yang segera
menanggapi permasalahan tersebut. Munculnya kekhawatiran kalau Raja wafat,
Wakil Raja yang ditunjuk oleh Raja untuk memimpin wilayah Ganting Hilir dan
Ganting Mudik bertahan. Oleh sebab kepemimpinan yang dipegang oleh dua orang
Wakil Raja tersebut tidak bertahan lama. Pada dasarnya Nagari Surantih tidak
pernah disebut sebagai dua wilayah baganting hilie dan baganting mudik. Karena
umur Raja semakin tua, maka muncul kekhawatiran bagi-bagi Penghulu yang ada di
nagari ini akan terpisahnya nagari ini menjadi dua wilayah ibarat kata pepatah,
“takuik pusako ka tagadai, cameh adat nan ka hilang”.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
53
Bermufakatlah para pemuka-pemuka adat dibawah bimbingan Ikek Nan
Ampek untuk menyatukan pendapat dan memohon pada Raja untuk kembali
menyatukan nagari ini menjadi satu wilayah. Yaitu satu nagari yang bernama
Surantih. Permohonan tersebut dikabulkan Raja dengan syarat Ikek Nan Ampek
harus membantu Raja sebagai Wakil Raja Sungai Pagu di nagari ini. Ikek Nan
Ampek memfungsikan Andiko adat berserta Manti jo Dubalang. Pusat pemerintahan
masih ditetapkan di Timbulun yang dijalankan oleh Raja. Kepemimpinan Raja di
nagari ini tidak berlanjut lagi, lantaran adanya peraturan dari pemerintah kolonial
yang menghapus kekuasaan raja di nagari ini pada tahun 1802. setelah itu
pemerintahan nagari di Surantih di perintah oleh Pemuncak Laras Sati yang ditunjuk
oleh Belanda.

Skema 1
STRUKTUR PEMERINTAHAN DI KOTO TINGGI
18














18
Sistem pemerintahannya dijalankan berdasarkan sistem kelarasan Bodi Caniago.
Muncak

Rajo Adat
Samad Dirajo
Dt Rajo Bagampo
Kaum
Lareh Nan Tigo
Dt. Rajo Bandaro
Kaum
Kampai
Dt. Sati
Kaum
Melayu
Dt. Rajo Batuah
Kaum
Panai
L Orang Tua Adat
A Rajo Alam
N
G
G
A Labai
I Nan Barampek




B Orang Tua Adat
A Rajo Endah
T
U
B
A Tukang
L Nan Barampek
A

K Orang Tua Adat
A Jo Lenggang
Y
U

A Manti
R Nan Batujuah
O

Orang Tua Adat
A Rajo Batuah
M
P
A
L Penghulu Andiko
U Nan Barampek


Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
54
Skema 2
STRUKTUR PEMERINTAHAN DI TIMBULUN
19



















19
Sistem pemerintahan yang dijalankan berdasarkan sistem kelarasan Koto Piliang.
Sultan

Rajo Adat Rajo
Endah
Dt Rajo Malenggang
kaum
Lareh Nan Tigo
Dt. Rajo Bandaro
Kaum
Kampai
Dt. Sati
Kaum
Melayu
Dt. Rajo Batuah
Kaum
Panai
Bagindo
Kaum
Kampai
Bandaro
Kaum
Kampai
Andiko
Penghulu Nan
Barampek
Pasar Surantih
Dt. Rajo Sati
Gunung Malelo
Bandaro Hitam
Ampalu
Rajo Indo
Sungai Sirah
Jo Lenggang
Timbulun
Rajo Bintang

Kayu Aro
Rajo Yaman
Rawang
Jo Bagampo
Koto Nan Tigo
Kando Marajo
Batu Bala[h]
Rajo Bandaro Hitam
Langgai
Jo Johan
Raja Ibadat
Angku Sadat
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
55
BAB IV
SEJARAH MASYARAKAT NAGARI SURANTIH
(Versi Kedua)

4.1. Asal Masyarakat Surantih.
Masyarakat nagari tidak akan berhenti bertanya untuk mengungkapkan apa
yang belum dipahami dan dimengertinya. Terutama dalam menjelaskan asal usul
masyarakat leluhurnya. Sejarah nagari sangat penting untuk diketahui oleh anak
nagari, meski sulit untuk menyelusuri kebenaran dan keasliannya lantaran adanya
kaba yang simpang siur. Sehingga memberi kesan sulit mencari kebenaran dari
informasi yang dikumpulkan.
Dalam memperkuat informasi dan keaslian sejarah nagari dalam hal ini
dapat dipedomani hukum adat dan realita yang ada. Berdasarkan hal tersebut di
atas dicoba dirangkum bermacam informasi dan pendapat serta pengaruh dari
realita alam. Demikian juga dengan sejarah yang berkembang di daerah lainnya di
Kabupaten Pesisir Selatan maupun dari daerah lain. Oleh karena itu tidak ada
salahnya ditulis dialektika pendapat tentang sejarah asal usul guna memperluas
pengetahuan dalam mengali sejarah nagari yang sebenarnya. Agar nantinya
kekurangan dan kelengkapan dari informasi yang ditemukan dapat dijadikan
sebagai bahan referensi dan perbandingan.
Masyarakat Nagari Surantih sudah tahu bahwa leluhurnya berasal dari
perkembangan daerah Kerajaan Alam Sungai Pagu. berdasarkan perkembangan
tersebut, maka daerah Nagari Surantih dianggap sebagai daerah rantau (daerah
bagian) yang dipimpin dengan cara beraja-raja. Kepemimpinan di daerah ini
dipangku oleh seorang yang ditunjuk oleh Raja sebagai wakilnya yang diberi gelar
sebagai Raja, Penghulu, Sultan atau Pemuncak. Itulah istilah/gelar yang digunakan
dalam sistem kepemimpinan di daerah Banda Sepuluh yang merupakan sebuah
daerah rantau yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Alam Surambi Sungai
Pagu. Pembentukan nagari oleh Raja di setiap daerah rantau bertujuan untuk
membantu Raja dalam pengaturan kehidupan masyarakat dan pemungutan pajak.
Semakin berkembangnya masyarakat di Kerajaan Alam Surambi Sungai
Pagu mendorong terjadinya perluasan wilayah kekuasaannya. Keadaan kehidupan
masyarakat yang yang telah hidup berkaum-kaum dan berjurai-jurai dibawah
kepemimpinan Penghulu kaum dalam lingkungan rumah gadang. Keberhasilan
kaum untuk mengembangkan daerah hunian di daerah asal Sungai Pagu telah
dapat dilihat dari terbentuknya daerah hunian seperti :
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
56
1. Daerah Surian telah dihuni oleh kaum Melayu dan Caniago. Penghulu
Kaum Melayu adalah Dt. Sati dan Penghulu Kaum Caniago bergelar Dt.
Rajo Johan.
2. Daerah Pasir Talang telah dihuni oleh Kaum Sikumbang dan Jambak.
Gelar Penghulu Suku Sikumbang adalah Rajo Malenggang sedangkan
gelar Penghulu Kaum Jambak adalah Dt. Rajo Bagampo
3. Daerah Lubuk Gadang telah dihuni oleh Kaum Kampai dan Panai.
Penghulu Kaum Kampai bergelar Tuanku Bagindo dan Penghulu Kaum
Panai bergelar Dt. Rajo Batuah

Seluruh kaum tesebut telah menetapkan ajok sepadan daerah
perkembangan kaumnya yang telah ditentukan oleh Raja Alam Surambi Sungai
Pagu yang disebut dengan “kiajo bauntuak pagang bamasiang”. Pembagian wilayah
hunian kaum oleh Raja Alam Surambi Sungai Pagu kepada Penghulu kaum untuk
wilayah hunian baru bagi perkembangan penduduk dari kaum-kaum yang ada.
Dilihat dari sejarah perkembangan daerah-daerah di Banda Sepuluh yang
diberikan kuasa dan wewenang kepada kaum tertentu dalam membentuk
perserikatan kaum atau jurai-jurai bersama kaum lainnya. Berdasarkan keputusan
Raja bersama pemuka kaum dalam sebuah musyawarah dalam Kerajaan Sungai
Pagu. Penentuan wilayah ditentukan berdasarkan hulu-hulu sungai sebagai titik
awal perencanaan pelacohan dalam mencari dan mengembangkan daerah hunian
baru. Aliran sungai tersebut menjadi pedoman dalam perkembangan wilayah hunian
bagi perkembangan kaum selanjutnya hingga membentuk nagari-nagari yang
tergabung dalam kesatuan Banda Sepuluh.
Penamaan dari daerah rantau perkembangan dari masyarakat Sungai Pagu
dengan sebutan Banda Sepuluh mempunyai makna dan arti. Daerah Kesatuan
Banda Sepuluh merupakan sepuluh sungai yang dikendalikan oleh Raja Sungai
Pagu. Semenjak zaman dahulu dalam mengendalikan daerah sepuluh sungai
tersebut Raja mempercayakan kepada kaum-kaum yang ada dalam masyarakat
Sungai Pagu, antara lain :
1. Banda Air Haji
Terdapat Nagari Air Haji dipercayakan pada Kaum Panai dibawah
kepemimpinan Penghulu Tuanku Aji Sutan Lelo
2. Banda Sungai Tunu
Terdapat Nagari Sungai Tunu dipercayakan pada Kaum Melayu
Bariang

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
57
3. Banda Pungasan
Terdapat Nagari Pungasan
4. Banda Pelanggai
Terdapat Nagari Pelanggai dipercayakan pada Kaum Sikumbang IV
ibu
5. Banda Lakitan
Terdapat Nagari Lakitan dipercayakan pada Kaum Melayu Koto Kaciak
dibawah kepemimpinan Penghulu Sutan Kalifa
6. Banda Lengayang
Terdapat Nagari Kambang dipercayakan pada Kaum Kampai dibawah
kepemimpinan Penghulu Bandaro Kambang
7. Banda Amping Parak
Terdapat Nagari Amping Parak dipercayakan pada Kaum Melayu
8. Banda Surantih
Terdapat Nagari Surantih dipercayakan pada Kaum Sikumbang di
bawah kepemimpinan Penghulu Dt. Rajo Malenggang
9. Banda Taluak
Terdapat Nagari Taluak dipercayakan pada Kaum Sikumbang
10. Banda Batang Kapeh
Terdapat Nagari Batang Kapas dipercayakan pada Kaum Caniago

Berdasarkan pembagian tersebut dapat digambarkan pembagian wilayah
yang ditandai dengan keadaan alam. Perkembangan kaum di daerah tersebut
memiliki beberapa jurai, memberi bukti bahwa kaum tersebut adalah kaum pertama
yang melaco di daerah yang telah ditetapkan oleh Raja Alam Surambi Sungai Pagu.
Raja membentuk sebuah rombongan yang dipercayakan pada salah satu pimpinan
Inyiak Kurang Aso 60 (Alang Palabah) untuk menjadi kepala rombongan.
Rombongan tersebut diberi tugas untuk mencari lahan hunian baru. Rombongan
inilah yang diyakini memiliki ikatan sejarah yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah
terbentuknya Banda Sepuluh. Dibawah kepemimpinan Inyiak Alang Palabah
rombongan ini merintis rute perjalanannya melalui hulu air Sungai Lengayang.
Di Nagari Surantih berdasarkan kesepakatan ”kiajo bauntuak pagang
bamasiang”. Pencarian, pelacohan daerah baru selalu mempedomani hulu air untuk
ditelusuri secara berkelompok. Pada saat ini tidak satu pun yang mengetahui bahwa
hulu batang air Nagari Surantih ini dari Muaro Labuah Sungai Pagu. Penelusuran
batang air ini hanya dapat dilakukan dalam sejarah kedatangan masyarakat ke
nagari ini.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
58
Di nagari ini terdapat Falsafah, “Kalau takicok aie Surantih, harapan ka
baliek lai” lantaran sitawa sidingin dan baringin sonsang tumbuah di ateh batang di
tangah batang aie di hulu sungai. Makna dari falsafah ini tidak ada satupun yang
dapat menguraikan lebih lanjut. Tetapi pada masa sekarang ini masih ada didengar
kata-kata tersebut meskipun tempatnya tidak pernah diketahui dengan jelas.
Dahulu Batang Air Surantih mengalir dari arah timur hingga bermuara ke
barat. Termasuk sebagai salah satu batang air besar yang memiliki air yang jernih
dan deras hingga pada saat dahulu batang air ini dikenal sebagai Batang Air Galaga
Putiah.
Tata cara kehidupan masyarakat pada saat itu masih berada dalam taraf
kehidupan yang masih sederhana karena masih dalam taraf perkembangan awal
kehidupan di daerah hunian baru. Tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan hidup
sehari-hari masih dengan mengandalkan sumber daya alam baik dengan cara
meramu daun-daun atau buah-buahan untuk dimakan dan berburu binatang hutan
serta menangkap ikan. Dengan pola hidup yang demikian mereka mencoba
bertahan hidup sambil melakukan kegiatan bercocok tanam di ladang. Dengan cara
mendirikan dangau kecil berbentuk panggung berkaki empat beratapkan daun-
daunan kayu sebagai tempat berteduh. Pola dan cara bertahan hidup yang
demikian dilalukan selama 1 – 2 tahun atau semusim sampai dua musim panen.
Selanjutnya mereka menyelesuri sungai kembali mencari lokasi dataran baru yang
cocok dijadikan sebagai daerah bermukim.
Perjalanan dan pertualangan dalam menelusuri hutan rimba belantara yang
sudah dipersiapkan jauh sebelumnya. Berkat keyakinan kepada Tuhan dan
mengunakan pengalaman-pengalaman hidup dalam berinteraksi dengan alam
melahirkan ilmu-ilmu kesaktian yang berguna dalam mengatasi kesulitan dan
permasalahan yang didapatkan dalam kehidupan, seperti teknik pengobatan.
Awal keberangkatan dari daerah asal dan sulit untuk kembali lagi. Pola
budaya dan tata kehidupan yang dibawa masih tetap dipertahankan karena
dilandasi budaya yang kuat dan pengaruh budaya malu menjadi filter dari nilai
budaya yang dimiliki. Barang bawaan yang dibawa dalam perjalanan adalah benda-
benda yang penting saja, barang atau benda yang sulit didapatkan di daerah baru.
Seperti bahan-bahan obat : Pohon Sitawa, Pohon Sidingin, Pohon Cikaro, Pohon
Cikumpai dan Pohon Sirih. Pohon-pohon tersebut dibawa langsung dari daerah asal
Alam Surambi Sungai Pagu.
Niniak moyang masyarakat Surantih pertama kali datang menghuni daerah
ini berawal dari proses tersebut di atas. Mereka datang dengan menyelusuri Batang
Air Surantih dan menetap di daerah yang dianggap cocok sebagai daerah hunian
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
59
dengan membangun dangau sebagai tempat tinggal. Keberangkatan Niniak kita
berawal dari daerah Pasir Talang dan Surian. Mereka berangkat dengan satu
keluarga menetap mencari lahan baru dengan menyelusuri Batang Air Surantih dari
Surian.
Perjalanan mereka adakalanya mempergunakan rakit dan kadang kala
berjalan kaki sesuai dengan kondisi alam yang mereka lalui. Kelompok pendatang
pertama ini, pertama kali menetap tidaklah menempati daerah Langgai. Lokasi
pertama yang mereka jadikan lokasi menetap adalah daerah sebelah barat Gunung
Kelambu. Tepatnya di bawah kaki Bukit Kelambu di aliran hulu air Galaga Putiah di
tepian air Malintang Suai.
Di tempat inillah mereka melaco dan menetap hingga berkembang
melahirkan keturunan sebagai generasi penerus. Menurut cerita, di tempat ini
dilahirkan anak enam orang perempuan dan satu orang laki-laki. Diperkirakan
kelompok ini menetap di daerah ini selama lebih kurang 30 musim. Selama
kelompok ini berada di daerah tersebut, hubungan dengan daerah asal tetap terjaga
dengan baik. Meskipun 2 sampai 4 kali musim untuk bisa datang ke daerah asal.
Pertemuan dengan keluarga dan kerabat dapat mengobati kerinduan. Informasi dan
cerita tentang daerah hunian baru menjadi bahan perbincangan sehingga menjadi
pendorong kaum lainnya untuk mengikuti langkah masyarakat pendahulu. Tradisi
kunjung mengunjungi ini menyebabkan terjalinnya perjodohan dengan kaum
sekampung sehingga di tepian air Malintang Suai telah berdiri tiga keluarga
peranakan.
Waktu terus bergulir seiring dengan berjalannya waktu, menyusul pula satu
keluarga yang menyelusuri air Galaga Putiah. Kedatangan keluarga ini mendorong
untuk mencarikan lokasi baru yang layak dan dekat ke arah muara. Hal ini
didasarkan adanya berita bahwa kaum – kaum lain telah memasuki dan berada di
hulu sungai lainnya untuk menuju muara sungai karena daerahnya diperkirakan
sangat bagus.
Hal ini juga yang mendorong dua kaum ini untuk meneruskan perjalanan
menyusuri hutan belantara yang masih lebat hingga akhirnya sampai di Kampung
Langgai sekarang. Dahulunya daerah ini disebut dengan nama Langgan Siko.
Daerah Langgan Siko ini diperkirakan sebagai daerah Dusun Janang sekarang.
Nama ini kemudian lama-kelamaan berubah menjadi Langgai. Setelah menetap dan
membangun mendirikan dangau sebagai tempat menetap dan keperluan hidup
lainnya.
Kaum pertama yang memasuki Langgai sebelumnya menetap di kaki bukit
Kelambu di tepian air Malintang Suai. Dari keluraga tersebut telah memiliki tujuh
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
60
orang anak dan membentuk tiga keluarga menuju Langgai. Keluarga tersebut
Kaum Sikumbang dengan Penghulu Dt. Rajo Malenggang dari kaum ibu yang
bernama Si Jiam. Beliau memiliki suami yang berasal dari kaum Caniago bernama
Si Tuga. Mereka dikarunia anak laki-laki yang bernama Jo Ruhum. Mereka juga
mempunyai dua orang anak perempuan bernama Suji Ame dan Si Main Ame.
Dalam penetapan lokasi hunian Kaum Sikumbang mengambil lokasi Tanjung
Uluh Aie Taantak di Langgai. Sementara keluarga kedua dari rombongan tersebut
Kaum Caniago dari gelar adat yang dibawa dari daerah asal adalah Dt. Rajo Johan
dari kaum ibu yang bernama Lihan. Beliau bersuamikan dari Kaum Melayu bergelar
Sutan Muncak. Dalam penempatan lokasi hunian baru Kaum Caniago berada di
tepian air Lubuk Gadang.
Penghidupan awal masyarakat di Langgai dimulai dari dua kaum pertama
yang melaco[h] dan menaruko. Mereka berusaha membangun kehidupan baru di
wilayah hunian baru berdasarkan perkembangan seiring dengan berjalannya waktu.
Kelompok tersebut terus berkembang melahirkan keturunan baru sebagai
penyambung generasi berikutnya.
Dalam perkembangannya kaum caniago telah memiliki tiga orang anak yang
pertama satu orang anak laki-laki bernama Sutan Lumpur dan dua orang anak
perempuan sebagai penerus Kaum Caniago di Langgai. Sehingga di Langgai telah
ada generasi baru dari jurai kaum kemudian membentuk pula gelar sako kaum dari
Andiko daerah asal Alam Surambi Sungai Pagu, seperti :
 Kaum Sikumbang ditandai dengan Jo Malenggang
 Kaum Caniago ditandai dengan Jo Johan

Gelar yang ada saat itu bukanlah gelar Penghulu Pucuak dari pusako adat,
karena Penghulu Pucuak masih berada di daerah asal Sungai Pagu. masih
beradanya Penghulu Pucuak di Sungai Pagu dikarenakan tugas dalam membantu
Raja dalam pemerintahan, seperti dalam menetapkan gelar sako haruslah melalui
izin para Penghulu-penghulu kepala dalam jurai-jurai kaum.
Setelah berjalannya roda kehidupan di Langgai oleh pendatang pertama,
barulah masuk rombongan kedua. Rombongan kedua ini berjumlah empat keluarga.
Keluarga pertama dari kaum ibu yang bernama Sari Raba’a
20
yang bersuamikan
pada kaum kampai yang bernama/bergelar Jo Leak. Keluarga ini kemudian
menempati lokasi hunian di tepian air Baseong di Bawah Tarok Gadang. Keluarga
yang kedua berasal dari kaum Kampai dari ibu yang bernama Bulan. Suaminya

20
Keluarga tertua dari tiga Kaum Jambak yang menuju Langgai
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
61
berasal dari kaum Jambak yang bergelar Sutan Maleno. Lokasi yang ditempati oleh
kaum ini menghuni tepian air Bahulak di dekat lokasi kaum pertama yang datang.
Dalam perkembangan kehidupan Kaum Kampai di Langgai memiliki lima
orang anak yaitu dua orang anak laki-laki dan tiga orang perempuan. Anak pertama
bernama Kunang, kedua bernama Uniang, anak ketiga bernama Bintang. Kaum ini
terus berkembang dan terus mengisi daerah-daerah yang kosong.
Sutan Maleno dari Kaum Jambak dan Jo Elak dari Kaum Kampai menjadi
pimpinan rombongan, mereka dituakan selangkah di dalam kaumnya masing-
masing. Mereka sama-sama memiliki ilmu dan kepandaian yang sangat tinggi
Proses kehidupan baru di Langgai masih memakai pusaka asli masyarakat
Minang. Baik adat, budaya dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Unsur tersebut menjadi pedoman dan landasan dalam berpijak, menjalani hidup ini
dengan seadanya, jujur dan iklas. Sumber daya alam yang ada dimanfaatkan
sebaik mungkin sebagai bahan untuk belajar, sehingga dalam hidup mereka tidak
ada waktu yang terbuang percuma.
Setiap orang patuh dan taat pada aturan yang telah ada sehingga dalam
hidupnya ia telah memiliki bekal ilmu. Bahkan tidak jarang mereka memiliki ilmu
kesaktian yang luar biasa. Hal ini menjadi lambang dan kebanggan bagi kaum, bila
pimpinannya ditakuti dan disegani, sehingga kaum tersebut merasa terjaga dan
dilindungi oleh kepala kaumnya.
Setelah beberapa kaum telah mulai berkembang, kepala kaumnya mulai
merencanakan mendirikan rumah gadang sebagai lambang keberadaan kaumnya
sebagai kaum yang telah memiliki jurai-jurai. Hal ini menjadi lambang dan tanda
bahwa kaum tersebut berasal dari jurai yang jelas asalnya. Oleh karena itu pada
saat sekarang masih ada cerita yang didapat tentang keberadaan rumah gadang
dari kaum-kaum tersebut di Langgai, antara lain :
1. Kaum Sikumbang
Rumah gadang yang dibangun memiliki lantai yang terbuat dari nibung,
rumah ini dibangun di Tanjung Ulu Aie Taantak. Rumah gadang ini
merupakan milik kaum Penghulu Jo Ruhum yang dikenal memiliki
kelebihan “muluik nyariang kato badanga”
2. Kaum Caniago
Membangun rumah gadang tageh baririk yang dibangun di tepian air
Lubuk Gadang. Rumah ini merupakan milik kaum dari Penghulu Sutan
Lumpur yang dikenal mewarisi kesaktian berupa orang dan binatang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
62
tunduk padanya. Kesaktian ini diwarisi dari bapaknya yang berasal dari
Kaum Melayu yang bergelar Sultan Muncak
21
.
3. Kaum Kampai
Membangun rumah gadang “Anjuang Suha” yang dibangun di tepian air
Bahulak. Rumah gadang ini merupakan milik kaum dari Penghulu Jo
Leak yang dikenal memiliki kelebihan “Aie babalik mudiak”
4. Kaum Jambak
Membangun rumah gadang “Basagi Tigo” yang dibangun di tepian air
Baserong. Rumah gadang ini merupakan milik kaum dari Penghulu
Sutan Maleno yang dikenal memiliki tingkat kesaktian yang sempurna
tercipta dari hentakan kaki bagaikan gempa sabetan tangan bagaikan
badai.

Cerita ini pada saat ini masih dipercayai dan dibenarkan oleh sebagian
masyarakat.
Setelah berdirinya rumah gadang kaum, kaum yang ada terus berkembang
menghuni lahan-lahan baru. Perkembangan mulai dari paruik kecil sehingga
menjadi paruik gadang. Ada yang telah menyebut gelar sako yang dibawa walaupun
dia belum menjadi Penghulu tapi gelar sakonya sudah jelas menurut kaum asli yang
turun dari daerah asal.
Setelah kaum memiliki paruik gadang dan telah memiliki beberapa jurai
kaum di daerah lain hingga dua sampai lima kelompok kaum. Pimpinan kaum yang
ada di rumah gadang sudah dapat mengambil tindakan membentuk gelar sako
kaum sebagai pimpinan kaum. Sementara jurai-jurai yang ada di daerah lain
dibolehkan pula membentuk Andiko kaum dengan gelar yang berbeda. Pecahan
dari kaum paruik gadang sebagai lambang /panji kaum tetap dari nama kaum dan
Penghulu yang ada.
Gelar sako yang akan ditetapkan pada Penghulu haruslah mematuhi aturan-
aturan adat. Mulai dari mendapatkan izin hingga pada proses adat diisi limbago
dituang. Tidak memikul begitu saja, semua ditetapkan dari musyawarah dan
mufakat kaum dan para Penghulu yang ada.

21
Dalam cerita anak nagari, dikabarkan mayatnya tidak dikafani, tidak disembayangkan dan
dikuburkan. Mayatnya hilang di Talang Babungo menjadi Ulia. Meski beliau meninggal di Langgai
tetapi mayat beliau bersemayam di Gunung Rajo, sekarang disebut orang dengan penghuni tampat
Gunung Rajo. Sutan Lumpur mewriskan ilmunya pada kaumnya Angku Negara saudara seibu dari
Angku Kali Adat, kemudian diwariskan pada H. Ketek. Kedua orang tersebut diyakini menghuni
Tampat Langgai sedangkan Angku Kali Adat menghuni Tampat di Batu Bala[h], Gunung Malelo yang
kemudian dikenal dengan Maharajo Lelo.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
63
Dalam pendirian rumah gadang kaum, dikerjakan secara bersama-sama.
Mulai dari pengaturan, penataan unik (tertentu) dengan bahan pilihan hingga
memiliki ciri istimewa dan menjadi ciri dan identitas kaum tersebut. Sehingga kaum
rumah gadang tersebut telah memiliki asal yang jelas dari kaum awal sebagai
landasan berpijak bahwa kaum tesebut telah punya Tungganai. Maka orang akan
menyebut selamanya, seperti :
1. Kaum Jambak Langgai Rumah Gadang Basagi Tigo
2. Kaum Sikumbang Langgai Rumah Gadang Lantai Nibuang
3. Kaum Caniago Langgai Rumah Gadang Tageh Baririk
4. Kaum Kampai Langgai Rumah Gadang Anjuang Suah

Sampai saat ini ciri khas rumah gadang kaum di Langgai masih ada disebut
orang. Sebagian masyarakat ada yang telah melupakan keberadaanya walaupun
peninggalan dari sejarah rumah gadang tersebut tidak berbekas. Demikian juga
dengan ciri nama rumah gadang tersebut ada yang tidak dapat memahami arti dan
tujuannya. Bahkan keistimewaan dari masing-masing rumah gadang tersebut tidak
ada yang mengetahuinya.
Setelah keberadaan kaum dan rumah gadang tertata dengan baik. Maka
daerah hunian pertama tersebut berubah menjadi dusun tertua di nagari ini.
Sekarang dusun tersebut Dusun Janang dusun terujung di Nagari Surantih. Nama
Dusun Janang berawal dari lokasi dusun tersebut sebagai tempat pimpinan kaum
dalam mengendalikan, menjaga dan tempat berkumpul bagi kaumnya. Di tempat ini
juga biasanya informasi disebarluaskan bagi masyarakat dusun. Di dusun ini berdiri
mesjid pertama dan jumat pertama. Janang berarti pengasuh atau pelayan.
Secara umum Dusun Janang dapat diartikan sebagai tempat melayani
masyarakat banyak dari segala penjuru. Tempat ini dijadikan sebagai tempat
berkumpul dan mengadakan keramaian budaya dan penukaran barang (pasar).
Perkembangan penduduk Dusun Janang terus berlanjut dari dusun asli di
Langgai. Karena lokasi Dusun Janang telah dimiliki oleh kaum asli yang memiliki
ajok sepadan yang jelas. Maka seiring dengan berjalannya waktu dalam penataan
lokasi hunian baru di lakukan disepanjang aliran air Galaga Putiah. Dalam
pembentukan daerah hunian baru ini, kegiatan melaco dan menaruko daerah yang
kemudian menjadi teratak adalah kaum :
1. Kaum Sikumbang
Melaco daerah hunian baru di daerah Batu Gadang, Ganting. Dihuni oleh
anak perempuan pertama bernama Sujiame yang lahir di tepian air
Malintang Suai di kaki Bukit kelambu
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
64
2. Kaum Jambak
Bersamaan dengan kaum tersebut di Batu Gadang Ganting, membagi
daerah hunian baru dengan cara malaco. Dilakukan oleh Kaum Jambak,
rombongan pertama dan kaum yang datang dari Muaro Labuah sebanyak
tiga keluarga peranakan.
3. Kaum Sikumbang
Melaco pula daerah hunian baru di lokasi yang lebih jauh dari kelompok
awal di Dusun Janang. Yaitu ke hilir lagi dari Batu Gadang. Daerah ini
datar dan lenggang, sekarang dikenal sebagai Dusun Langgang. Dihuni
oleh keluarga kedua dari kelahiran tepian air Malintang Suai yang bernama
Siamin Ame
4. Sedangkan kaum lain seperti Caniago, Melayu masih tetap bertahan di
Dusun Janang menunggu perkembangan berikutnya.

Setelah musim dan tahun berlalu, kelompok kaum masih berpikir untuk
mencari daerah hunian yang masih kosong. Berdasarkan pengamatan dan
pertimbangan kepala kaum masing-masing, melihat keadaan alam di Koto
Katenggian layak pula untuk dijadikan sebagai daerah hunian baru. Daerah tersebut
memiliki daratan yang luas dan ditengahnya mengalir Batang Air Koto Tinggi. selain
itu daerah itu memiliki keindahan alam dan udara yang nyaman. Dari tempat ini
dapat pula melihat alam sekitar.
Marana pandagan ka lautan
Marana pula pandangan ka Muaro Labuh daerah asal
Itu pula yang dinamakan Koto Tinggi.

Maka diambillah kata mufakat untuk menempatkan Kaum Sikumbang,
Jambak dan Kampai di Koto Tinggi. Berangkatlah empat keluarga tersebut dipimpin
oleh kepala kaum dan kaum lainnya untuk membantu bergotong-royong, melaco
dan menaruko. Membangun dangau sebagai tempat berteduh bagi keluarga
sehingga bisa untuk dihuni dan dikembangkan. Kaum pelacohan tersebut adalah :
 Kaum Sikumbang
Di daerah ini menetap dua keluarga dari kaum berenam yang dilahirkan di
tepian ai Malintang Suai kaki Bukit Kelambu. Perkembangan ini menjadikan
Kaum Sikumbang telah memiliki beberapa jurai keturunan kaum. Seperti
a). Di Dusun Janang masih hidup dua keluarga peranakan.
b). Di Ganting terdapat satu keluraga peranakan

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
65
c). Di Dusun Langgang hidup satu keluarga peranakan
d). Di Koto Tinggi berkembang dua keluarga peranakan.
 Kaum Jambak
Di daerah ini menetap satu keluarga peranakan dari kaum yang bertiga dari
keturunan daerah asal Muaro Labuah. Di daerah ini Kaum Jambak telah
memiliki beberapa jurai keturunan, seperti :
a). Di Dusun Janang berkembang satu keluarga peranakan
b). Di Dusun Ganting berkembang pula satu keluarga peranakan
c). Di Koto Tinggi berkembang satu keluarga peranakan.
Perkembangan kaum ini masih berasal dari pecahan tiga kaum pertama dari
daerah asal Sungai Pagu.

Setelah dua daerah perkembangan tersebut berjalan dengan normal
sebagaimana mestinya. Musim terus berganti kehidupan semakin tenang di
lingkungannya masing-masing, keturunan pun terus juga bertambah. Berangkat dari
perkembangan dua daerah hunian Langgai dan Koto Tinggi, masyarakat nagari
semakin mudah mendapatkan lahan-lahan yang luas dan subur. Populasi
perkembangan masyarakat terus bertambah yang mendorong terus dilakukannya
kegiatan melaco lahan baru untuk didiami.
Perkembangan ini mendorong kaum yang ada di Langgai dahulu mulai
membuka diri. Kaum Kampai memulai langkah awal perkembangan ke arah hilir
batang air Galaga Putiah. Kaum ini di Dusun Janang memiliki lima keturunan, tiga
orang keluarga peranakan perempuan dan dua orang laki-laki sebagai pewaris sako
kaum. Kaum Kampai tesebut berangkat satu keluarga peranakan dari kaum beribu
Bulan menyusuri Batu Bala[h] menghuni lokasi Lubuk Batang daerah perbatasan
Langgai. Di sinilah Uniang anak kedua dari Kaum Kampai hidup dan berkembang.
Awalnya hanya baparuik kecil kemudian berubah jadi paruik besar dan membuat
jurai baru. Perkembangan dari kelompok kaum ini menyebar ke lokasi kampung
dalam. Sehingga Kampung Batu Bala[h] menjadi pelacohan Kaum Kampai pertama
yang dipimpin oleh kepala kaum bernama Jo Elak.
Keluarga peranakan Kaum Kampai Langgai, yaitu anak pertama yang
bernama Kunang. Menyebar ke Koto Tinggi melaco dan membuka lahan baru
sehingga mulai berkembang pula. Sementara satu keluarga masih tetap bertahan
di Langgai bersama orang tuanya yang bernama Bintang. Dikabarkan beliau kawin
dengan kaum Caniago hidup berkeluarga di sini. Dalam perkembangannya kaum
Kampai Langgai telah membentuk beberapa jurai keturunan, antara lain :
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
66
a). Di Batu Bala[h] berkembang satu keluarga dari peranakan yang bernama
Uniang
b). Di Koto Tinggi berkembang satu keluarga dari peranakan yang bernama
Kunang
c). Di Langgai berkembang juga satu keluarga peranakan yang bernama
Bintang.

Kaum yang hidup dan berkembang di Koto Tinggi terdapat sebanyak empat
peranakan. Kelompok ini kemudian berkembang pula dan telah memiliki beberapa
keturunan. Sehingga di Koto Tinggi berkembang delapan keluarga peranakan yang
kemudian dikenal sebagai “lapan bedeng Koto Tinggi”. kelompok tersebut
mendirikan mesjid dan balai pertemuan sebagai tempat melakukan pertemuan dan
musyawarah. Kaum-kaum tersebut memiliki keturunan, antara lain :
a). Kaum Sikumbang, memiliki lima orang anak perempuan dari dua
keluarga dan dua orang anak laki-laki
b). Kaum Jambak, memiliki empat orang anak laki-laki dan dua orang anak
perempuan.
c). Kaum Kampai, memiliki empat anak, dua orang anak perempuan dan dua
orang anak laki-laki. Satu keluarga dari perkembangan kelompok ini
menuju Gunung Malelo.

Pola perkembangan kaum yang terus bertambah terus menerus
berlangsung dengan cara hidup berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Demikian juga dengan kaum pendatang membuka lahan-lahan baru, kemudian
pergi untuk membuka lahan yang lain. Selanjutnya kembali lagi sesuai dengan
pergantian musim tanam yang dilakukan. Kelompok yang terdapat Koto Tinggi mulai
turun ke dataran yang lebih rendah dan luas di pinggiran Batang air Galaga Putiah.
Daerah yang dibuka tersebut dikenal dengan nama Kayu Aro. Kelompok yang
membuka lahan di daerah ini berjumlah empat keluarga peranakan. Sementara
sebagian lagi masih menetap di Koto Tinggi dan membuka lahan di daerah lain
seperti Ampalu.
Kaum Jambak satu peranakan yang berada di Koto Tinggi juga
melaksanakan turun gunung ke Batu Bala[h] membuka lahan baru hidup dan
berkembang di daerah ini menghuni daerah Koto Ateh. Dari perkembangan yang
berlangsung, daerah Kayu Aro telah dibuka oleh kaum yang berada di Koto Tinggi
sebanyak empat keluarga peranakan. Kelompok tersebut merupakan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
67
perkembangan dari kaum yang antara lain kaum Jambak satu keluarga peranakan
dan Kaum Sikumbang tiga keluarga peranakan.
Dua orang anak laki-laki dari Kaum Sikumbang dan dua orang anak laki-laki
dari Kaum Jambak masih tetap bertahan menghuni Koto Tinggi dengan
keluarganya. Hal ini juga yang mendorong Kaum Kampai dan Melayu mulai
memasuki daerah Koto Tinggi dan berkembang membuka lahan baru seperti di
Sungai Kumayang dan Koto Rana[h] dengan membentuk teratak baru sehingga
menjadi Koto.



Gambar 7
Lahan Di Daerah Koto Tinggi Yang Baru Dibuka Masyarakat

Dalam sejarah Nagari Surantih keberadaan masyarakat Koto Tinggi terus
berjalan dan berkembang dan kemudian turun mencari lahan baru. Pimpinan dari
tiga koto tersebut bergelar Samad Dirajo dari Kaum Sikumbang yang hidup pertama
kali di sana bersama adik-adiknya. Di daerah ini beliau diangkat sebagai Muncak
22
.
Daerah Sungai Kumayang dibuka dan dikembangkan oleh Kaum Sikumbang dan
Melayu. Sementara Koto Rana[h] dibuka dan dikembangkan oleh Kaum Kampai
dan Sikumbang.
Koto Katenggian yang terdiri dari tiga koto tersebut diisi oleh empat kaum
pelacohan, setelah itu baru menyusul kaum Panai. Kaum-kaum yang menghuni
daerah Tiga Koto antara lain :



22
Beliau diangkat sebagai Muncak oleh Raja Sungai Pagu untuk membantu raja dalam menjalankan
aturan-aturan kerajaan. Beliau juga disebut sebagai orang tuo Koto Tinggi sehingga beliau menetap
lama di sana dan meninggal dii sana.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
68
1. Koto Tinggi dihuni oleh Kaum Melayu, Jambak dan Sikumbang
2. Koto Rana[h] dihuni oleh Kaum Melayu dan Sikumbang
3. Sungai Kumayang dihuni oleh Kaum Sikumbang dan Kampai.

Kaum-kaum inilah yang awalnya membuka kehidupan di Tiga Koto Tinggi di
Nagari Surantih. Wilayah ini berkembang dan tidak pernah ramai seperti kampung,
dan selamanya berbentuk teratak. karena rumah masyarakat tidak pernah menjadi
kelompok yang besar, hanya ada satu sampai sepuluh buah pondok dan dangau di
sana. Mereka berkembang mengisi lahan di sepanjang aliran Galaga Putiah.



Gambar 8
Aliran Batang Surantih Dan Sawah Terlihat Dari Daerah Koto Tinggi

Masyarakat yang hidup di sana dengan cara berladang dan tidak memiliki
rumah gadang kaum yang jelas. Meskipun orang-orang telah memiliki tanah ulayat
dari beragam suku. Lantaran lokasi tersebut memang lokasi perladangan, seperti
saat ini yang juga diberi ketua kelompok tuo kaum untuk menerapkan aturan-aturan
kesepakatan untuk kepentingan bersama.









Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
69
Skema 3
SUSUNAN JURAI KAUM DI NAGARI SURANTIH


















4.2. Pembentukan Gelar Sako Kaum
Setelah terbukanya empat daerah hunian baru dari hasil pelacohan kaum
yang datang melalui Surian. Setelah membentuk jurai-jurai kaum di daerah baru.
Pengembangan jurai tersebut merupakan langkah awal untuk menentukan status
kaum yang jelas, ditandai dengan rumah gadang asal kaum tersebut sehingga baru
mengangkat gelar sako turun rumah.
Dengan adanya perkembangan jurai kaum, mendorong pemuka kaum
menata kembali susunan jurai masing-masing. Diambillah kata mufakat untuk
melaporkan ke Penghulu masing-masing di daerah asal Alam Surambi Sungai
Pagu. Dimohonlah untuk membawa gelar sako adat ke daerah baru yang telah
berkembang dan membentuk Andiko kaum di daerah masing-masing. Berdasarkan
izin Penghulu pucuk di Sungai Pagu, gembiralah hati pemuka kaum yang ada. Gelar
sako yang telah diwariskan oleh Penghulu pucuk antara lain :
KAN
IKEK NAN AMPEK
Lareh Nan Tigo
Gadang Balega
Kampai
Dt. Rajo Bandaro

Melayu
Dt. Sati
Panai
Dt. Rajo Batuah
Sikumbang
VI Ibu
Jambak
III Ibu
Caniago
III Jurai
Kampai
III Paruik
Melayu
Duo Ninik
Panai
Nan Baduo
Tanjuang Tarok Janang Barulak Janang Gantiang
Ulu Aie Gantiang Koto Lbk. Batang S. Kumayang Koto Rana
Batu Gadang Koto Tinggi Hilir S. Kumayang
Km. Langang
Koto Tinggi
S. kumayang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
70
1. Kaum Sikumbang
Daerah asal Sungai Talang dibawah kekuasaan Penghulu suku Dt. Rajo
Malenggang
2. Kaum Caniago
Daerah asal Surian dibawah kekuasaan Penghulu suku Dt. Rajo Johan
3. Kaum Jambak
Daerah asal Sungai Talang dibawah kekuasaan Penghulu suku Dt. Rajo
Bagampo
4. Kaum Kampai
Daerah asal Lubuk Gadang dibawah kekuasaan Penghulu suku Tuanku
Bagindo
5. Kaum Melayu
Daerah asal Surian dibawah kekuasaan Penghulu suku Dt. Sati

Berdasakan keputusan tersebut, ditetapkan sebuah kesepakatan
membentuk gelar sako masing-masing menurut kesepakatan bersama. Kemudian
dibolehkan juga dalam membentuk Andiko kaum di tempat pengembangan baru.
Semenjak saat itu dibentuklah gelar sako adat di Nagari Surantih, seperti :
a). Langgai
1) Kaum Sikumbang
Gelar sako yang dilewakan Rajo Malenggang. Kaum Sikumbang Langgai
terdiri dari tiga keluarga peranakan dari enam bersaudara yang mengisi
Langgai
2). Kaum Caniago
Gelar sako adat yang dilewakan Jo Johan. Perkembangan dari Kaum
Caniago ini menghuni Dusun Janang
3). Kaum Jambak
Gelar sako adat yang dilewakan Rajo Bagampo. Kaum Jambak ini terdiri
dari tiga keluarga peranakan dan satu keluarga lagi mengangkat gelar
sako Rajo Gampo
4). Kaum Melayu
Gelar sako adat yang dilewakan Rajo Alam. Merupakan keluarga kaum
pertama memasuki Langgai
5). Kaum Kampai
Gelar sako adat yang dilewakan Rajo Bintang.


Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
71
b). Kayu Aro
1) Kaum Sikumbang
Kaum Sikumbang menghuni Koto Katenggian sebanyak dua keluarga
peranakan dan berkembang ke Kayu Aro. Kaum yang menetap di Koto
Tinggi mengangkat gelar sako adat Samad Dirajo. Kaum yang turun ke
Kayu Aro mengangkat gelar sako adat Rajo Yaman dan Jo Lenggang.
2) Kaum Jambak
Kaum Jambak keturunan Koto Katenggian yang turun ke Kayu Aro
mengangkat gelar sako adat Rajo Kayo

c). Batu Bala[h]
1) Kaum Kampai
Kaum Kampai dari keturunan Langgai yang merupakan anak pertama
bernama Kunang menghuni Lubuk Batang. Mengangkat gelar sako adat
Rajo Bandaro Hitam. Dari perkembangan kaum berikutnya, Kaum
Kampai Batu Bala[h] menghuni Kampung Dalam dan mengangkat gelar
sako adat Rajo Endah.
2) Kaum Jambak
Kaum Jambak keturunan Koto Tinggi menghuni Batu Bala[h] di Dusun
Ateh mengangkat gelar sako adat Maharajo Panjang

d). Ampalu
1) Kaum Sikumbang
Merupakan keturunan kedua dari Langgai yang menghuni Ampalu
mengangkat gelar sako adat Rajo Indo
2) Kaum Jambak
Merupakan keturunan dari Langgai, menghuni Ampalu dengan
mengangkat gelar sako adat Rajo Gampo
3) Kaum Kampai
Merupakan keturunan dari Koto Tinggi, menghuni Ampalu dengan
mengangkat gelar sako adat Rajo Bagindo.

Dari hasil musyawarah dan mufakat kaum dan juga keputusan dari Penghulu
pucuk kaum di Sungai Pagu. Kaum yang ada di rantau, dalam perkembangan
berkaum saat itu belum ada yang disebut sebagai Penghulu pucuk. Hal ini
dikarenakan pada saat itu daerah ini belum berbentuk nagari. Keadaan saat itu baru
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
72
berbentuk jurai perkembangan kaum. Apalagi adat diisi limbago dituang belum
begitu terlaksana, baru berbentuk Andiko.
Meski demikian kaum yang ada di nagari sudah ada yang memiliki
Tungganai sebagai pimpinan kaum. Merekalah yang bertanggung jawab menjaga
kaumnya. Begitulah awal perkembangan masyarakat nagari, selanjutnya mengisi
daerah lain. Dalam tata cara berdirinya gelar sako adat di nagari Surantih terus
berkembang membentuk jurai-jurai kaum baru di tempat baru. Berawal dari paruik
kecil, berubah menjadi paruik gadang hingga akhirnya terbentuklah Penghulu pucuk
yang pertama
Perkembangan berikutnya masih mengisi tempat-tempat yang kosong yang
ada di daerah Ganting Mudik, Koto Tinggi. dilanjutkan ke Teratak dan Amping Parak
dari kaum yang ada di Langgai dan Koto Ketinggian. Perkembangan selanjutnya
masyarakat Langgai terus menyusuri batang air Galaga Putiah hingga ke arah tepi
pantai. Dengan menerobos hutan belantara mereka mencari lokasi yang baik untuk
didiami. Dalam perjalanan melintas menyusuri bukit. Setelah melalui Tanah Nyaring
di Kayu Aro hingga menuju Bukit Aur, menuruni sampai ke Bukit Kanca di Teratak,
sebagian lagi sampai di Taluak
Pola yang digunakan dalam perkembangan kehidupan baru ini di mulai
dengan melaco secara bersama-sama dari kelompok kaum yang akan menghuni
lokasi tersebut. Cara ini disebut dengan malambai ari dengan waktu yang
disesuaikan dengan bekal yang dibawa. Setelah baka habis, mereka kembali lagi
ke Langgai sampai lokasi tersebut sudah dapat dimanfaatkan untuk diladangi.
Kemudian dibangunlah pondok bertiang empat sebagai tempat tinggal keluarga.
Pada awal hanya berulang, lama-kelamaan menetap dan membentuk jurai baru.
Berdasarkan beberapa sumber dan data yang didapatkan dari tua-tua di
Langgai. Kemudian dibandingkan dengan sejarah Nagari Teratak perkembangan
tersebut diperkirakan berlangsung tahun 1715. Perkembangan awal masyarakat
Teratak diperkirakan berlangsung bersamaan dengan masyarakat berketurunan dari
Uba Taluak. Pada awalnya masyarakat Teratak dan sekitarnya berkembang dari
Kaum Sikumbang yang berkembang di Lereng Barat Bukit Kelambu di Tepian air
Malintang Suai. Kemudian menghuni Langgai, dengan membawa enam orang
keluarga peranakan berkembang di Koto Tinggi dan Ganting Mudik. Dari sinilah
dikabarkan menuju ke Uba Taluk.
Kaum dari rumah gadang nibuang di hulu air Tarantak Langgai di bawah
pimpinan kaum yang bernama Jo Ruhun. Merupakan keturunan dari Sunyi Ame dari
empat orang perempuan dua orang laki-laki, berkembang menuju pembentukan
kaum yang menghuni :
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
73
1. Kayu Aro satu keluarga peranakan
2. Ampalu satu keluarga peranakan
3. Bukik Kanca satu keluarga peranakan

Berdasarkan pelacohan awal masyarakat teratak hidup dan berkembang di
Bukik Kanca yang terdiri dari dua keluarga peranakan yang masuk bersama dengan
hubungan sumando menyumandoi, yaitu :
1. Kaum Sikumbang basumando ke kaum Jambak
2. Kaum Jambak yang basumandokan ke kaum Sikumbang.

Kaum inilah yang memulai hidup berkeluarga, bertetangga dengan baik.
Hidup saling tolong menolong dilalui dengan suka ria hingga akhirnya membentuk
jurai baru. Gelar sako yang dibawa dari daerah asal Langgai merupakan Andiko
kaum yang ada seperti
1. Sikumbang membawa gelar sako andiko Dt. Mangkuto Rajo
2. Jambak membawa gelar sako Andiko Tan Majolelo.

Setelah kehidupan baru dijalankan di daerah tersebut, menyusul pula kaum
lainnya seperti Kampai, Caniago. Sementara Kaum Panai Teratak menyusul pada
tahun 1846 dari rantau Simalenang Air Haji dengan gelar sako Dt. Rajo Batuah dan
Dt. Rajo Mangkudum. Semenjak itu Teratak menjadi sebuah nagari yang diiringgi
perubahan gelar Dt. Mangkuto Rajo menjadi Penghulu pucuk dengan gelar Dt. Rajo
Malenggang. Demikian halnya dengan kaum lain juga terus berkembang dan
menyebar memasuki daerah pinggiran pantai melalui laut dan daerah lain di
Kesatuan Banda Sepuluh.
Kaum yang berkembang di Ganting Mudik dan yang menghuni Ganting Hilir,
mulai dari Koto Nan Tigo sampai Timbulun dan Rawang, Sungai Sirah, Pasie Nan
Panjang bahkan sampai Amping Parak. Akhirnya terbentuklah menjadi sebuah
nagari yang lama kelamaan membentuk sebuah kecamatan Sutera pada masa
sekarang.

4.3. Pembentukan Pemerintahan
Setelah daerah Ganting Mudik dan Koto Katenggian telah terisi oleh
beberapa kelompok kaum. Rumah-rumah telah bertetangga walaupun masih
berupa pondok-pondok berkaki empat. Tanda-tanda kehidupan telah tertata karena
telah terdapat persawahan dan ladang. Dalam keseharian hidup masyarakat
mengisi aktivitasnya dengan bertani dan berladang. Apalagi kaum-kaum dari daerah
lain terus berdatangan dan hidup berdampingan dengan kaum awal.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
74
Diperkirakan awal abad ke 17, tata perkembangan daerah Ganting Mudik di
mulai hingga munculnya generasi-generasi baru dari Niniak yang menjadi kepala
kaum. Telah mewariskan kepada generasi berikutnya dasar kehidupan baik pusako
adat dan budaya. Berdasarkan perkembangan kehidupan yang terus berlangsung,
Penghulu Nan Barampek meminta persetujuan pada Raja Alam Surambi Sungai
Pagu. bahwa kehidupan masyarakat di daerah hunian baru membutuhkan seorang
pimpinan dalam bentuk pemerintahan nagari.
Dikirimlah utusan untuk menghadap Raja di Sungai Pagu dan memohon
agar dibolehkan membentuk pemerintahan sendiri. Raja Disambah sebagai
pemegang Tampuk Tangkai Alam Surambi Sungai Pagu menyetujui dan
menyepakati permohonan dari hasil kesepakatan Penghulu Nan Barampek. Raja
kemudian memberi petunjuk teknis pemerintahan yang akan dikepalai oleh seorang
Muncak untuk menjadi pemimpin di Nagari Surantih.
Muyawarah dan mufakat yang dilakukan oleh Ikek Nan Ampek. Membuat
kesepakatan untuk menunjuk kaum Lareh Nan Tigo, Yaitu penghulu kaum
Sikumbang yang bergelar Dt. Rajo Malenggang untuk menjadi Muncak nagari.
Samad Dirajo sebagai Raja adat yang berkedudukan di Koto Tinggi. Muncak dalam
menjalankan pemerintahan dibantu oleh Penghulu Nan Barampek dalam
menjalankan aturan-aturan kerajaan. Penghulu Nan Barampek tersebut antara lain.
1. Dt Rajo Bandaro dari Kaum Kampai
2. Dt. Rajo bagampo dari Kaum Lareh Nan Tigo
3. Dt. Sati dari Kaum Melayu
4. Dt. Rajo Batuah dari Kaum Panai.

Setelah struktur pemerintahan nagari terbentuk, maka Ikek Nan Ampek
melaporkan hasil kesepakatan tersebut kepada Raja Alam Surambi Sungai Pagu.
hal ini dilakukan adalah untuk memperkokoh keberadaan nagari yang ada di daerah
rantau. Demi pelaksanaan roda pemerintahan di nagari. Muncak bersama Penghulu
Nan Barampek membentuk fungsionaris pemerintahan untuk mempermudah
jalanya roda pemerintahan nagari. Penghulu Nan Barampek menunjuk pula Basa
kaum untuk menjadi orang tua adat di daerah yang berkembang
1). Rajo Alam sebagai orang tua adat di Langgai dan menunjuk Labai Nan
Barampek
2). Rajo Endah sebagai orang tua adat di Batu Bala[h] dan mengangkat
Tukang Nan Barampek
3). Jo Lenggang sebagai orang tua adat di Kayu Aro dan mengangkat Manti
Nan Batujuh
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
75
4). Rajo Batuah sebagai orang tua adat di Ampalu dan menunjuk Penghulu
Andiko Nan Barampek

Orang tua adat memiliki peran sebagai koordinator daerah yang merupakan
fungsionaris Ikek Nan Ampek dari daerah yang telah disepakti. Pemerintahan
Muncak di Koto Tinggi terus berlangsung seiring dengan perkembangan
masyarakat dalam kaumnya yang terus bertambah. Berdasarkan petunjuk Muncak
dan Penghulu Nan Barampek, daerah – daerah yang ada dipatok oleh kaum-kaum
tertentu dengan menunjuk kepala kaumnya dalam mengatur tata perkembangan
daerah tersebut.
1). Kaum Kampai
Melaco daerah Timbulun dari Batu Bala[h] andiko Rajo Endah. Di daerah
Gunung Malelo berasal dari Batu Bala[h] Andiko Bandaro Hitam. Di
daerah Kayu Gadang berasal dari Koto Tinggi Andiko Rajo Bandaro.
Daerah Dusun Mansiang Koto Panjang berasal dari Kayu Aro Andiko
Rajo Bandaro.
2). Kaum Melayu
Melaco daerah Kayu Gadang berasal dari Koto Tinggi Andiko Dt, Sati.
Daerah Koto Marapak berasal dari Koto Tinggi Andiko Dt. Sati. Daerah
Timbulun berasal dari Langgai Andiko Rajo Alam.
3). Kaum Sikumbang
Melaco daerah Kayu Gadang berasal dari Koto Tinggi Andiko Rajo
Malenggang. Daerah Koto Marapak berasal dari Kayu Aro Andiko Rajo
Basa. Daerah Koto Panjang berasal dari Ampalu Andiko Rajo Indo.
4). Kaum Jambak
Melaco daerah Lubuk Batu berasal dari Langgai Andiko Rajo Bagampo.
Daerah Kayu Gadang berasal dari Langgai Andiko Rajo Bagampo.
Daerah Koto Panjang berasal dari Ampalu Andiko Rajo Gampo.
5). Kaum Caniago
Melaco daerah Lambung Bukik berasal dari daerah Sungai Pagu Andiko
M. Sutan. Daerah Timbulun Lubuk Batu berasal dari Langgai Andiko
Maharajo Lelo. Daerah Koto Marapak berasal dari daerah Sungai Pagu
Andiko Jo Mudo. Daerah Koto Panjang dari Sungai Pagu Andiko Jo
Johan
6). Kaum Panai
Melaco daerah Kayu Gadang berasal dari Sungai Pagu Andiko Rajo
Batuah.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
76

Pola perkembangan masyarakat Nagari Surantih dari daerah Ganting Mudik
memiliki keseragaman dengan pola perkembangan masyarakat di daerah
Berhimpun (Pasar Surantih). Itu pula sebabnya perkembangan wilayah baru yang
seragam dalam mengisi lahan kosong di sepanjang Koto Panjang hingga Timbulun.
Daerah-daerah tersebut cepat terisi, sedangkan Rawang, Pasir Nan Panjang dan
Sungai Sirah masih belum terisi, meski hanya satu sampai tiga pondok.
Pemerintahan Muncak di Koto Tinggi yang disebut juga Orang Tuo terus
berjalan. Pergantian pemerintahan pun berlangsung sesuai dengan perjalan waktu
“lapuak-lapuak dikajangi” yang tua diganti dengan yang muda. Niniak Mamak nagari
melalui Penghulu Nan Barampek melaksanakan rapat nagari. Rapat ini dilakukan
untuk mendapatkan mufakat dalam merubah sistem pemerintahan nagari sekaligus
memilih pimpinan nagari. Pertemuan ini dilaksanakan di Singkulan dibawah sebuah
kayu Merantih Besar. Dari kesepakatan tersebut lahirlah keputusan :
a). Pimpinan nagari yang bergelar Muncak diganti dengan gelar Sultan
b). Pemindahan pemerintahan dari Koto Tinggi ke Timbulun. Hal ini
bertujuan untuk mengimbangi hubungan pemerintahan nagari dengan
pemerintahan Belanda dalam menjalankan tata hukum bernagari.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, maka terpilihlah pimpinan nagari yang
baru di Nagari Surantih yang kedua kalinya. Andiko kaum Kampai dari Dt Rajo
Bandaro dipercaya menyandang gelar Sultan sebagai pimpinan nagari. Sedangkan
Rajo Endah diangkat menjadi Rajo adat yang berkedudukan di Timbulun. Dalam
pelaksanaan tugas pemerintahan sultan dibantu oleh Penghulu Nan Barampek,
guna untuk memudahkan Sultan dalam menjalankan roda pemerintahan dan aturan
kerajaan Sungai Pagu. Penghulu Nan Barampek tersebut adalah;
1). Dt Rajo Bandaro dari Kaum Kampai
2). Dt. Rajo Malenggang dari Kaum Lareh Nan Tigo
3) Dt. Sati dari Kaum Melayu
4). Dt. Rajo Batuah dari Kaum Panai.

Setelah struktur pemerintahan terbentuk, maka Sultan dan Penghulu Nan
Barampek atau Ikek Nan Ampek mengangkat pula Andiko kaum untuk membantu
Ikek Nan Ampek dalam menjalankan tugas di daerah yang disepakati seperti :
1). Bagindo sebagai Raja adat. Daerah kekuasaanya adalah Pasar
Surantih (kampung Berhimpun), Sungai Sirah dan Rawang
2). Bandaro sebagai Raja ibadat. Daerah kekuasaanya Gunung Malelo,
Timbulun, Koto Nan Tigo
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
77
3). Andiko Penghulu Nan Barampek sebagai Raja adat . daerah
kekuasaannya Langgai, Batu Bala[h], Kayu Aro dan Ampalu.

Proses pemerintahan Sultan terus berlangsung di bawah pengaruh
kekuasaan pemerintah kolonial melalui organisasi dagangnya VOC. VOC selalu
berusaha memecah belah pemerintahan nagari di sepanjang pantai barat pasisie.
Beberapa keputusan dan kebijakan dikeluarkan oleh pemerintah kolonial untuk
dijalankan oleh pemerintah nagari.
Sebelum VOC dibubarkan oleh pemerintahan Belanda tahun 1799. struktur
organisasi pemerintahan nagari mulai berangsur dan berpindah. Dahulu pemerintah
Nagari bagian pantai barat di Banda Sepuluh dibawah kekuasaan raja Alam
Surambi Sungai Pagu. Satu demi satu pemerintahan tersebut dikuasai oleh
Belanda. Dibawah pengaruh VOC pemerintahan Nagari diharuskan tunduk atas
keputusan dan ketentuan yang diberlakukan dari pusat pemerintahan Belanda yang
ada di Pulau Cingkuk.
Tahun 1790 sistem pemerintahan Nagari Surantih telah berada dibawah
pengaruh dan kekuasaan belanda, baik dalam hal administrasi dan dan tata
pemerintahan nagari. Jabatan pemerintahan nagari yang dipegang oleh Sultan telah
diganti dengan gelar Muncak. Pada tahun 1802 pemerintahan Sultan berakhir di
Nagari Surantih. Demikian juga dengan nagari-nagari lain di jajaran daerah
kesatuan Banda Sepuluh. Sistem pemerintahan yang berbentuk beraja-raja diganti
dengan sistem pemerintahan yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Balanda.
Semenjak saat itu di Nagari Surantih kepala pemerintahan diganti namanya dengan
Tuanku.
Semenjak berakhirnya pemerintahan Sultan, dalam pemerintahan nagari
Surantih banyak dipimpin oleh orang yang dikehendaki oleh pemerintahan kolonial.
Ada pun pimpinan yang lahir dari usulan para Penghulu sering diabaikan oleh
pemerintah kolonial. Pada masa ini pimpinan nagari di Surantih sering didatangkan
dari daerah lain luar Nagari Surantih.








Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
78
Tabel 1
BENTUK DAN GELAR KEPALA PEMERINTAHAN NAGARI
DALAM SEJARAH PEMERINTAHAN DI NAGARI SURANTIH
No Gelar / Nama Kaum Periode Dijabat oleh Ket
1 Muncak / Si Tugah Sikumbang
- 1760
Samad Dirajo
K. Tinggi
2 Sultan / Bujang Panalam Melayu
1760 - 1802
Dt. Sati
B. Bala
3 Tuanku / Laras Sati Sikumbang
1802 - 1826
-
Timbulun
4 Tuanku / Marah Jati Kampai
1826 - 1842
-
Timbulun
5 Tuanku / H. Kampung Dalam Kampai
1842 - 1857
Rajo Endah
Timbulun
6 Tuanku / Imam Puyau Caniago
1857 - 1877
Maharajo Lelo
Timbulun
7 Tuanku / Di Balak Kampai
1877 - 1892
-
Timbulun
8 Tuanku / Maksayo Kampai
1892 - 1905
-
Timbulun
9 Tuanku / M La’hi Panai
1905 - 1921
Dt. Rajo Batuah
Timbulun
10 Tuanku / Mara Bara’i Sikumbang
1921 - 1946
Dt. Rajo Indo
Timbulun


Tabel 2
NAMA-NAMA WALI NAGARI SURANTIH
SETELAH INDONESIA MERDEKA
No Nama Suku Pendidikan
Masa
Jabatan
Alamat Ket
1 Mukhtar Hatta Kampai KW Islamiyah 1946-1947
Koto Merapak Wali Nagari
2 Abbas Dt. Rj. Basa Sikumbang BYZ Normal
Ilergeng, HIS
1947-1952
Koto Panjang Wali Nagari
3 Muhammad Basir Kampai HIS 9152-1961
Pasar
Surantih
Wali Nagari
4 Abdul Kadir Caniago Gubermen 1961-1964
Pasar
Surantih
Pengangkatan Wali
Nagari di Painan
5 Munir Dt. Rajo Indo Sikumbang Gubermen 1964-1968
Pasar
Surantih
Pjs. Wali Nagari
6 Zainuddin Kesah Melayu Thawalib 1968-1983
Koto Panjang Wali Nagari
7
Pemerintahan Desa
- - 1983-2001
- 1. 13. Pemdes
2. 7 Pemdes
8 Almasri Syamsi Sikumbang SMA 2001-2007
Koto Panjang Pjs dan Wali Nagari












Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
79
BAB V
SURANTIH DALAM SEJARAH PERJUANGAN

Sekilas akan dilihat sejarah penjajahan Belanda di wilayah Banda Sepuluh,
khususnya di Nagari Surantih. Pada awalnya kolonial Belanda datang dengan
tujuan untuk membantu masyarakat nagari disamping berdagang membeli hasil
bumi di wilayah jajaran pantai Banda Sepuluh. Pada masa itu wilayah kesatuan
Banda Sepuluh meliputi dari wilayah Batang Kapas hingga selatan Air Haji. Kondisi
ekonomi dan politik yang ada pada saat itu sangat didominasi dan dikuasai oleh
Aceh. Perlakuan yang tidak wajar dan sewenang-wenang terhadap masyarakat,
dengan menerbitkan bermacam jenis pajak. Apalagi mereka tidak mau lagi
mematuhi perjanjian yang telah disepakati seperti membayar upeti untuk penguasa
daerah dan wilayah.
Sehingga Raja, Tuanku dan Penghulu mulai berfikir bagaimana cara
membebaskan diri dari gengaman politik dan ekonomi Aceh. Kedatangan Belanda
ke wilayah Banda Sepuluh dimanfaatkan untuk mengalang kerjasama guna
mengusir Aceh dari wilayah Banda Sepuluh. Bentuk kerjasama ini dikenal sebagai
perjanjian Painan tahun 1663, isi perjanjian tersebut antara lain :

1. Memberikan fasilitas untuk menguasai perdagangan di wilayah ini
sedangkan orang dari daerah lain tidak dibenarkan berdagang.
2. Barang yang dikeluarkan tidak dikenakan bea cukai (pajak), kecuali
uang persembahan (upeti) kepada penguasa yang jumlahnya tidak
ditetapkan.

Hasil dari perjanjian tersebut, secara perlahan - lahan dominasi Aceh mulai
disaingi oleh Belanda. Seiring berjalannya waktu kolonial Belanda mulai
mendapatkan tempat dan berkuasa. Berbekal dengan politik adu domba yang
berusaha memecah belah. Belanda berhasil menguasai wilayah - wilayah dalam
kesatuan Banda Sapuluh, Belanda mulai mendirikan loji dan benteng pertahanan.
Penderitaan masyarakat tak dapat dielakan lagi, akibat politik kolonialisme yang
diterapkan Belanda. Di mana - mana masyarakat mengalami tekanan kehidupan
yang serba kekurangan.
Berbagai macam cara ditempuh masyarakat untuk keluar dari masalah yang
menghimpit kehidupan mereka dibawah kekuasaan kolonial Belanda. Karena begitu
kuatnya Belanda dengan politik adu dombanya, banyak dari perjuangan untuk
keluar dari tekanan dan siksaan yang diciptakan oleh hukum kolonial menjadi sia -
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
80
sia belaka. Pada saat itu kehidupan adalah milik penguasa dan orang Cina kaya,
serta pribumi yang punya kelebihan dan terpandang dalam kehidupan masyarakat
seperti Penghulu, bertugas sebagai penghubung dengan masyarakat untuk
memungut panen dan hasil bumi yang ada pada masing-masing daerah, selain itu
juga untuk menerapkan aturan-aturan yang ditetapkan Belanda kepada masyarakat.
Peluang Bangsa Cina untuk bisa masuk ke nagari-nagari sangat besar
dalam perlindungan pemerintahan penjajah sehingga berkembang terus menerus
semakin banyak. Cina-cina di sepanjang Pesisir ini ikut membantu penjajah,
sehingga Bangsa Cina menjadi anak emas dan bisa mengumpulkan kekayaan di
nagari dan hidup dengan serba kecukupan. Bermacam cara dagang digunakan
penjajah untuk mencari keuntungan besar dan membawa semua kekayaan nagari.
Cara yang dipakai antara lain, seperti menerapkan sitem barter, barang
ditukar dengan barang di mana harganya tidak sebanding dan ditetapkan sesuka
hati. Akibatnya penghasilan masyarakat sangat kecil, sehingga banyak masyarakat
yang memiliki hutang kepada Cina. Bila panen datang, barulah dilunasi, itu dengan
memakai bunga yang sangat tinggi. Banyak hutang dari masyarakat semakin hari
semakin banyak dan tak terbayarkan lagi. Dengan mengunakan jasa tukang
pukul/algojo yang juga pribumi dikenal bagak dan sangat disegani masyarakat.
Mereka disewa untuk memunggut hutang secara paksa. Banyak masyarakat yang
kehilangan harta dan kekayaan jatuh ke tangan Cina yang merupakan tuan tanah di
nagari ini.
Pribumi yang dianggap mempunyai kelebihan dibujuk dan digaji jadi pekerja
(kurir). Tidak jarang mereka diberi fasilitas dan modal yang cukup oleh Cina dan
Belanda guna mengumpulkan hasil bumi dan kekayaan alam yang ada di nagari ini.
Tanpa disadari bahwa sesungguhnya masyarakat telah dijajah oleh Belanda dan
Cina.
Di Surantih begitu banyak peninggalan harta milik Cina yang masih dapat
dilihat pada saat sekarang. Bukti ini menjadi tanda bahwa Cina pernah ada di nagari
Surantih yang menjadi saksi bisu penderitaan anak nagari pada saat itu. Perlakuan
semena-mena yang dilakukan orang Cina terhadap masyarakat pribumi menyimpan
dendam yang tak terbalaskan. Perlawanan anak nagari terhadap kesewenangan
tuan tanah Cina mencapai puncaknya ketika terjadi sebuah pergolakan di mana
orang-orang Cina yang ada di Nagari Surantih diusir keluar nagari dan terjadilah
perampasan dan pembakaran harta yang ditinggalkan oleh Cina. Akibat dari
peristiwa ini, Cina-cina yang ada di pesisiran pantai di kabupaten ini tidak ada lagi.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
81
Salah satu bukti sejarah keberadaan Cina di nagari Surantih adalah kuburan Cina di
Alai perbatasan antara Surantih dan Amping Parak. Tanah-tanah yang luas di lokasi
Pasar Surantih, seperti : lapangan bola hingga Padang Api-api merupakan milik
Cina.
Kemelaratan dan kesusuhan hidup terus dirasakan oleh anak nagari akibat
penerapan peraturan yang diterapkan oleh penjajah yang semakin kokoh dan
mantap dalam menjalankan kekuasaannya. Berbagai macam peraturan yang
diciptakan oleh pemerintahan kolonial pada saat itu antara lain :
1. Pajak penghasilan, harus dibayar setelah panen, dipungut saat menjual
hasil panen. Bagi yang tidak mematuhi, barang yang dimiliki akan disita.
2. Pajak diri sendiri, pajak ini diberlakukan pada laki-laki dewasa. Bagi yang
tidak membayar akan dikenakan sanksi dalam bentuk kerja rodi (paksa),
dikirim ke daerah-daerah tertentu dijadikan alat produksi oleh kolonial
demi kelancaran ekonominya, jarang mereka bisa kembali pulang.
3. Bagi kaum wanita diambil dan dipaksa melalui aturan-aturan buatannya,
resikonya wanita-wanita muda dibawa untuk dijadikan budak, dikirim dan
dipakai sepanjang daerah jajahan.

Di tengah kehidupan yang serba kekurangan dan siksaan akibat dari
peraturan yang ada. Masyarakat nagari yang hidup dalam kemiskinan, dalam
berinteraksi dengan bangsa penjajah membatasi diri dengan cara tidak mau
berbaur. Dalam sejarah perkembangan penduduk nagari, terutama perkembangan
di wilayah hilir yaitu : Kampung Rawang, Sungai Sira[h] dan Pasir Nan Panjang,
tidak ditempati oleh masyarakat. Itu pula sebabnya di Pasar Surantih disebut
dengan nama Kampung Berhimpun. Hal ini disebabkan wilayah tersebut merupakan
kumpulan orang-orang pendatang yang masuk lewat jalan laut. Daerah ini dijadikan
sebagai pusat kegiatan ekonomi tempat dilaksanakannya aktivitas masyarakat
dalam menjual hasil buminya dan pembelian barang-barang kebutuhan hidup.
Dibawah kepemimpinan pemerintahan Nagari Surantih yang beragam gelar
sedang pusat pemerintahan terletak di Timbulun dan Pasar Surantih telah tersusun
menurut sejarahnya. Penataan nagari berlangsung lambat. Kegiatan masyarakat
dilaksanakan setiap hari minggu sebagai pertemuan berbentuk pasar telah berjalan
lama. Pasar ini terletak di Padang Api-api yang merupakan lahan datar luas bagian
ke muara Batang Surantih. Tepatnya dibibir pantai barat Nagari Surantih yang
disebut masyarakat sekarang Pasar Lamo. Pasar tersebut merupakan pasar
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
82
pertama yang ada di Nagari Surantih. Diperkirakan pasar ini berkembang pada awal
abad ke 18.
Selain pasar tersebut, terdapat pula pasar pendamping yang berada di
sepanjang aliran Batang Surantih seperti : Pasar Lubuk Angik di Gunung Malelo,
Pasar Balai Selasa di Koto Panjang dan Pasar Balai Satu di Kayu Gadang. Menurut
cerita, pasar lama bermula dari tata perkembangan secara alami. Semenjak
hubungan dagang penjajah dengan nagari ini mulai tampak tempat-tempat memuat
barang hasil bumi masyarakat untuk dibawa ke Painan atau ke Padang. Aktivitas ini
telah terjadwal dengan sendirinya yaitu berlangsung pada hari sabtu yang ditandai
dengan kedatangan kapal-kapal yang langsung membongkar barang-barang
bawaanya. Pada hari minggu barulah terjadi aktivitas perdagangan antar para
pedagang.
Proses alam terus berkembang sehingga pemerintahan Belanda
membangun beberapa fasilitas seperti Los. Sehingga masyarakat mulai berkumpul
dan berdagang. Di tempat itulah terjadi transaksi dan jual beli yang didatangi oleh
pedagang babelok yang datang luar daerah. Demikian juga masyarakat yang
berada di Ganting Mudik, mereka membawa hasil buminya ke pasar tersebut
dengan mengunakan rakit bambu. Sementara itu pedagang babelok membawa
barang-barang dagangan mereka dengan mengunakan angkutan Padati atau
Padati Lega
23
. Ada juga yang mengunakan Ogak
24
. Kebiasaan aktivitas
perdagangan pada hari minggu hingga sekarang masih dipertahankan oleh
masyarakat Nagari Surantih.
Kegiatan di Pasar lama berlangsung hingga tahun 1903, kemudian aktivitas
perdagangan di pasar ini dipindahkan ke Pasar Surantih sekarang. Pemindahan
pasar dilakukan setelah jalan Padang menuju ke Sungai Penuh selesai dibangun
oleh VOC. Selain Pasar Surantih terdapat juga pasar pendamping yang merupakan
pasar rakyat. Pasar ini berfungsi sebagai lokasi kegiatan ekonomi bagi masyarakat
di pedalaman dalam memenuhi kebutuhan hidup yang dijual dengan cara eceran.
Pasar pendamping pertama di Nagari Surantih di Lubuk Angik berada dipinggiran
Batang Surantih, persisnya dibalik Bukit Simpudiang Kampung Gunung Malelo.
Pasar rakyat kedua di nagari ini adalah Pasar Balai Selasa, hari pakan pasar ini
dilaksanakan pada setiap hari selasa. Pasar Balai Selasa berada di Kampung Koto

23
Padati Lega merupakan sebuah alat transportasi tradisional yang berupa gerobak kayu berbentuk
rumah-rumah yang ditarik dengan mengunakan tenaga kerbau besar.
24
Ogak merupakan alat pembawa barang yang berbentuk bakul pajang yang diletakan dipunggung
dengan kepala sebagai penyangga tali beban barang yang dibawa oleh seorang tukang ogak.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
83
Panjang di pinggiran Batang Surantih. Pada tahun 1949 kegiatan pasar Di Balai
Selasa dihentikan karena terjadinya Agresi Militer II Belanda yang menyerang
Nagari Surantih. Setelah kegiatan pasar di Balai Selasa berhenti, aktivitas pasar ini
kemudian dipindahkan ke Pasar Balai Satu di Kampung Kayu Gadang yang juga
terletak dipingiran Batang Surantih. Aktivitas pasar di Pasar Balai Satu ini berakhir
pada tahun 1969 setelah jalan Pasar Surantih ke Kayu Gadang Lancar.
Perjalanan Nagari Surantih dibawah pemerintahan kolonial Belanda berjalan
lamban. Pembangunan sarana irigasi Batang Surantih dan perhubungan dikerjakan
oleh masyarakat dalam penjagaan dan tekanan dari pemerintahan Belanda (1930).
Pada tahun 1933 jalan Kayu Gadang ke Pasar Surantih dibangun bersamaan
dengan pembangunan jembatan besi.


Gambar 9
Jembatan Bendungan Irigasi Batang Surantih
(Sarana Irigasi Ini Pada Tahun 1979 Diperbaiki Dan Diresmikan Pengunaannya
oleh Ir. Soetami Menteri PUTL)


Ketika pasar di Padang Api-api dipindah ke Pasar Surantih. Pada awalnya
masyarakat menjalankan aktivitas pasar di Pasar Surantih masih berjualan di bawah
pohon-pohon kayu besar. Pada saat Pasar Surantih baru dibuka menjadi pasar
pada tahun 1933, kondisi lokasinya masih berupa hutan rimba. Setelah los besi
Pasar Padang Api-api dipindahkan, barulah kayu-kayu besar tersebut ditebangi.
Barulah semenjak itu Pasar Surantih mempunyai sarana pasar yang layak meski
disekitarnya masih berupa hutan belantara.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
84
Diperkirakan pada masa ini masyarakat Nagari Surantih telah memiliki
keyakinan agama yang kuat. Hal ini ditandai dengan telah berdirinya Mesjid-
mesjid
25
diantaranya, di Kampung Berhimpun/Pasar Surantih (1817) yang sekarang
dikenal sebagai Mesjid Unciang (Nurul Iman). Pada tahun 1901 diperkirakan mesjid
Kampung Timbulun didirikan, kemudian diikuti dengan pendirian Mesjid di Langgai
(1903) dan Koto Panjang (1912).
Sarana pendidikan dibangun oleh Pemerintahan Belanda di Nagari Surantih
pada tahun 1900. Pembangunan ini ditandai dengan didirikannya Sekolah Rakyat
pertama dengan lama pendidikan selama tiga tahun, sekolah ini berada di Pasar
Surantih. Pada tahun 1912 dibangun sekolah rakyat di Kampung Koto Panjang
(Koto Merapak) dan Kampung Ampalu (1939). Pada tahun 1935 dibangun Sekolah
Gadang kelanjutan dari Sekolah Rakyat yang didirikan di Kampung Pasar Surantih
(SD No. 04 Jalan Baru), lama pendidikan di sekolah ini adalah selama dua tahun.
Memasuki awal abad 19 masyarakat mulai menyadari dan banyak belajar
akan pentingnya arti sebuah kebebasan yang disebut-sebut merdeka. Dorongan
rasa ingin berubah dan lepas dari kekejaman Belanda telah menjadi sebuah tekad
yang bulat bagi generasi muda Nagari Surantih. Untuk bisa berbuat dan bertindak,
maka digalanglah kebersamaan dan kesatuan. Muncullah tokoh-tokoh nagari
pencetus pergerakkan di Nagari Surantih. Dengan berbagari latar belakang keahlian
yang dimiliki mulai dari tenaga pengajar hingga pemimpin nagari.
Pada masa itu Nagari Surantih telah banyak memiliki generasi muda
terpelajar yang menamatkan pendidikan diberbagai lembaga pendidikan yang ada
pada masa itu, antara lain ; mereka menamatkan pendidikan di Candung, Parabek
Padang Panjang, sekolah Tarbiyah Islamiyah, Thawalib School, Kulliyatul
Muballigin, Normal Islam di Padang, Kuekschool Islamiyah di Bukittinggi dan ada
pula yang menuntut ilmu agama ke Batu Sangkar dan Kambang.
Pemuda-pemuda terdidik inilah yang membangkitkan kesadaran masyarakat
tentang arti dan maksud kemerdekaan serta keburukan-keburukan dan kekejaman
penjajahan Belanda serta sifat adu dombanya. Mereka tidak mau berkerja sama lagi
dengan Belanda. Pemuda yang telah menamatkan pendidikannya, bersama
masyarakat mendirikan sekolah-sekolah agama di Nagari Surantih, seperti :
1. Tarbiyah Islamiyah Pasar Surantih
2. Muhammadiyah di Kayu Gadang.

25
Mesjid pertama berdiri di Nagari Surantih didirikan di Koto Tinggi dan Kayu Aro pada abad ke 17.
bangunan mesjid tersebut dibangun dengan mengunakan bahan dari kayu dan beratapkan daun kayu
(atap puo).
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
85
Tokoh-tokoh pemuda tersebut antara lain :
5. Said Idris
Merupakan pendiri sekolah Muhammadiyah di Kayu Gadang. Ketua Partai
Permi (Partai Muslilin Indonesia).
6. Zainuddin Yahya
Kaum Melayu Pasar Surantih ini adalah seorang tasauf yang merupakan
pendiri Tarbiyah Islamiyah Pasar Surantih.
7. Mukhtar Hatta
Kaum Kampai Koto Panjang ini adalah seorang guru sekolah Tarbiyah dan
pernah dipercaya sebagai Wali Nagari pertama setelah dipilih oleh
masyarakat nagari.
8. Abbas Dt. Rajo Basa
Kaum Sikumbang Koto Merapak ini adalah seorang pegawai kantor
pendidikan masyarakat Sungai Penuh. Menjabat sebagai Wali Nagari
setelah Muchtar Hatta dan kemudian aktif dalam lembaga KAN hingga
pemerintahan Wali Nagari Zainudin Kesah.
9. Salim Dt. Rajo Indo
Kaum Sikumbang Koto Panjang ini merupakan seorang guru sekolah
Muhammadiyah dan aktif dalam lembaga KAN
10. Wahab Bilal
Kaum Kampai Kayu Gadang ini merupakan pendiri sekolah Muhammadiyah
di Kayu Gadang yang juga sebagai guru dan Sekretaris Nagari masa
pemerintahan Wali Nagari Abbas Dt. Rajo Basa.
11. Rasilin Idris
Kaum Caniago Koto Merapak ini pernah menjabat sebagai anggota DPRD
masa pemerintahan Pesisir Selatan dan Kerinci di Sungai Penuh. Camat
Sutera pada masa PRRI yang mencetuskan ide nama Sutera bersama tokoh
lainnya.
12. Khatib Saidi
Kaum Kampai Gunung Malelo ini merupakan seorang pendakwah yang
merupakan Penghulu kaumnya yang bergelar Dt. Rajo Bandaro Hitam
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
86
13. Zakaria Yahya
Kaum Melayu Pasar Surantih merupakan seorang guru
14. Nurani Yahya
Kaum Melayu Pasar Surantih merupakan seorang guru
15. Ahmad Srt.
Kaum Panai Kampung Ampalu merupakan pendiri dan guru Muhammadiyah
16. Pakie Ilyas
Kaum Sikumbang Koto Panjang merupakan tokoh Muhammadiyah
17. Ilyas Tahir
Kaum Melayu Koto Merapak merupakan seorang pendakwah
18. Khatib Rusli
Kaum Sikumbang yang merupakan seorang tokoh agama
19. Rustam Yaus
Kaum Sikumbang Pasar Surantih merupakan seorang tokoh pelopor
20. Acik Kalam
Kaum Caniago merupakan seorang guru
21. H. Mayuddin Lillah
Kaum Caniago Koto Merapak, pernah menjabat sebagai Pjs. Wali Nagari
mengantarkan dan menjabat sebagai Ketua DPRN Nagari Surantih Periode I
22. Zainudin Kesah.

Putra-putra terbaik nagari tersebut bukan saja berjuang dalam bidang
pendidikan tetapi juga ikut serta dalam memperjuangkan dan mempertahankan
kemerdekaan. Bermacam tantangan dan bahaya mereka hadapi demi untuk
berbuat bagi kepentingan nagari dan masyarakat Surantih hingga bisa menikmati
hasil pengorbanan dan perjuangannya. Semua itu bisa digambarkan mulai dari
masa pendudukan Jepang di Nagari Surantih. Masa agresi Militer Belanda yang
pertama dan kedua. Dilanjutkan dengan pergolakan yang dikenal dengan
pemberontakan PRRI. Tidak hanya itu munculnya pemberontakan PKI
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
87
menimbulkan duka yang dalam bagi anak nagari karena munculnya perang saudara
di Nagari Surantih.

5.1. Awal Abad 20 Masa Pesisir Selatan Kerinci (PSK) dan Pendudukan
Jepang
5.1.1. Pesisir Selatan Kerinci (PSK)
Pada tahun 1922 Pemerintahan Kolonial Belanda secara administrasi
mengabungkan wilayah Kerinci
26
ke dalam Keresidenan Sumatera Barat (Residensi
Sumatera Weskust) dan disatukan dalam wilayah Kewedanaan Pesisir Selatan dan
Kerinci. Pemindahan ini dilakukan berdasarkan pertimbangan kelancaran
administrasi pemerintahan. Dilihat dari letak geografis Kerinci sangat dekat dengan
Padang (Residensi Sumatera Weskust) dibandingkan dengan Jambi. Apalagi jalan
yang menghubungkan Sungai Penuh Kerinci dengan Padang selesai dibangun
(1922).
Nagari Surantih merupakan salah satu daerah yang dijadikan daerah politik
dan kekuasaan penjajah. Pada masa penjajahan Kolonial Belanda, Nagari Surantih
tergabung dalam Afdeling (kabupaten) Pesisir Selatan dan Kerinci (PSK). PSK
terbagi dalam tiga wilayah kewedanaan, antara lain :
1. Kewedanaan Painan, wilayahnya meliputi Siguntur hingga Amping Parak
2. Kewedanaan Balai Selasa, wilayahnya meliputi Kambang hingga Air Haji
3. Kewedanaan Kerinci, wilayahnya meliputi Indra Pura hingga Sungai
Penuh

Pada mulanya Ibu Kabupaten Pesisir Selatan dan Kerinci berkedudukan di
Balai Selasa yang saat itu dijabat oleh Bapak Bupati Amirudin ST. Syarif, dua tahun
kemudian ibu kabupaten dipindahkan ke Sungai Penuh Kerinci. Nagari Surantih
saat itu termasuk dalam wilayah kekuasaan Asisten Wedana Batang Kapas. Di

26
Pemindahan wilayah Kerinci secara administrasi ke dalam Residensi Sumatera Weskust (Sumatera
Barat) dengan Residensi Jambi telah terjadi beberapa kali pemindahan. Pada tahun 1903 wilayah
Kerinci dimasukan dalam pengawasan Residensi Jambi. Setahun kemudian wilayah Kerinci
dimasukan ke dalam wilayah Residensi Sumatera Weskust. Pada tahun 1908 selesainya
pembangunan jalan setapak atau jalan kuda Kerinci – Jambi, Kerinci kembali digabungkan ke dalam
Residensi Jambi. Pada tahun 1922 pemindahan ini kembali terjadi lagi, Kerinci digabung ke Residensi
Sumatera Weskust
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
88
Kewedanaan Painan Belanda mengangkat seorang seorang Kepala Nagari yang
disebut dengan Angku Palo yang bertugas sebagai tangan kanan Belanda di nagari.
Pada tahun 1921, dalam struktur pemerintahan nagari di Surantih terjadi
serah terima jabatan dari Tuanku Lahi (Kaum Panai Dt. Rajo Batu) kepada anak
beliau Marah Bara’i (Kaum Sikumbang Dt. Rajo Indo)
27
. Jalan roda pemerintahan
berjalan biasa di tengah kondisi yang serba terbatas. Meskipun demikian,
pembangunan tetap dapat dilaksanakan, seperti perluasan dan pengembangan
pasar nagari dengan pendirian los besi dan kayu.

Gambar 10
Tuanku Lahi Rajo Batuah (Kiri) dengan Marah Bara’i Rajo Indo (Kanan)

Pada masa itu PSK dipimpin oleh Bapak Bactiar Dt. Paduko. Pada masa
pemerintahannya, kondisi perpolitikan dan struktur pemerintahan sering mengalami
perubahan baik di Ibu kabupaten maupun tuntutan dari masyarakat Kerinci yang
menginginkankan membentuk pemerintahan sendiri. Isu ini menjadi permasalahan
tersendiri dalam pelaksanaan roda pemerintahan PSK. Setelah kemerdekaan
permasalahan ini tetap menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan PSK. Apalagi
pada tahun 1955 ketika dilaksanakan pemilu yang pertama, masyarakat Kerinci
membentuk Dewan Perwakilan sendiri. Aspirasi masyarakat Kerinci untuk
memisahkan diri dari wilayah PSK dan membentuk pemerintahan sendiri diajukan
pada pemerintahan pusat. Pada tahun 1957 dikeluarkanlah Undang-undang No. 19
dan No. 21 tahun 1957. Pada tanggal 10 November 1958 masyarakat Kerinci
secara resmi keluar dari PSK dan mendirikan pemerintahan kabupaten sendiri
masuk dalam wilayah Propinsi Jambi. Pemisahan ini ditandai dengan keluarnya
Undang-undang No. 19 tahun 1958.

27
Dikabarkan beliau menetap di Timbulun memiliki istri yang berasal dari keturunan Aceh bernama
Nyak Gadung. Konon beliau memiliki ilmu yang sangat tinggi yang diwarisi dari orang tuanya. Beliau
sangat disegani oleh Belanda dan masyarakat sangat santun kepada beliau.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
89
5.1.2. Pendudukan Jepang
Pada tanggal 8 Desember 1941, Jepang melancarkan serangan ke daerah-
daerah di Indonesia. Pertempuran terjadi di mana-mana, Belanda tidak berdaya
terhadap gempuran tentara Jepang. Dalam kurun waktu empat bulan, tentara
Jepang telah berhasil menduduki wilayah Indonesia yang dikuasai Belanda.
Kekalahan Belanda ini ditandai dengan penanda tanganan penyerahan kekuasaan
pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van
Starkenborgh Stachower dan Letnan Jenderal Heinter Poorten menyerah kalah
kepada Jenderal Imamura. Meski seluruh wilayah Indonesia telah diserahkan oleh
Belanda pada pendudukan Jepang, namun masih terjadi perperangan antara
pasukan Belanda dengan tentara Jepang di Sumatera Tengah – Utara. Pada
tanggal 13 Maret 1942 Kota Medan jatuh ke tangan jepang, disusul pula dengan
jatuhnya Padang dan Bukitinggi pada tanggal 17 Maret 1942.
Perjalanan duka sejarah masyarakat nagari dibawah kekuasaan dan
penindasan kaum penjajah seakan tidak hentinya ketika Jepang memasuki PSK
pada tanggal 17 Maret 1942. Pada awalnya masyarakat menyambut dengan suka
cita kedatangan “saudara dari timur” ini. Masyarakat mengangap Jepang dewa
penolong yang telah membebaskan masyarakat dari kekuasaan dan penindasan
pemerintahan kolonial Belanda. Hal ini disebabkan oleh propaganda yang disebut 3
A, yaitu Jepang cahaya Asia, Pelindung Asia dan Pemimpin Asia. Jepang berjanji
kepada Bangsa Indonesia, bahwa kedatangannya adalah untuk membentuk
kemakmuran bersama di Asia Timur Raya. Propaganda Jepang tersebut
mengakibatkan masyarakat dengan suka rela berkerja sama dengan Jepang,
seperti membantu mendirikan benteng dan barak pertahanan Jepang.
Romantime kebebasan dan rasa kerjasama yang awalnya terjalin hanya
berlangsung selama 4 bulan. Setelah 4 bulan akhirnya berubah menjadi
penderitaan yang lebih menyakitkan dari penindasan yang dilakukan kolonial
Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, pemerintahan nagari disebut dengan
Danco. Pejabat yang menduduki jabatan ini diambil dari pribumi juga termasuk
dengan Demang dan Asisten Wedana. Pada pendudukan Jepang banyak pribumi
yang berkerja dalam pemerintahan di Painan.
Tidak sampai setahun Jepang datang, penderitaan masyarakat terasa lebih
menyakitkan akibat keganasan dan tindakan yang tidak berprikemanusian yang
dilakukan tentara Jepang kepada masyarakat. Pada tahun 1943 Jepang memberi
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
90
izin bagi masyarakat dalam kegiatan politik. Masyarakat dianjurkan untuk ikut serta
dalam latihan militer yang tergabung dalam pasukan suka rela untuk dijadikan
sebagai prajurit perang. Pasukan bentukan Jepang tersebut, antara lain :
1. Hei – Ho
Merupakan tenaga suka rela yang akan dijadikan prajurit perang.
Pasukan ini banyak yang dikirim keluar negeri dilibatkan Jepang dalam
Perang Asia Pasific. Umumnya mereka yang dikirim kebanyakan jarang
yang kembali pulang.
2. Gyu Gun
28

Merupakan tenaga suka rela dijadikan sebagai prajurit untuk
menghadapi sekutu di dalam negeri.
3. Fujinaki
Merupakan pasukan perang wanita yang diberi tugas sebagai mata-mata
tentara Jepang
4. Bogodan
Pemuda-pemuda yang dilatih, ditugasi dalam mengatur perlindungan
dan menjaga keamanan dalam keadaan bahaya serangan udara.

Masa pendudukan Jepang, pemuda-pemudi nagari banyak yang masuk jadi
tentara jepang seperti Heiho, Gyu - Gun dan Seinendan. Pada masa persiapan
peralihan pemerintahan nagari dari Kepala Nagari ke Wali Nagari. Pemuda-pemuda
dari Heiho dan Seinendan latihan jepang membentuk Tantara Keamanan Rakyat
(TKR) yang kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Indonesia (TRI). Di
Nagari Surantih dibentuk satu kompi TKR yang dikomandani oleh Letnan
Syamsudin BG asal Pasar Surantih dan Batalyon II di Painan yang dikomandani
Maklum Toke. Selain TKR juga dibentuk pula BPNK sebagai barisan pemuda yang
dibentuk serta diketuai oleh Abdul Kadir, Zainudin Kesah dan Nasir Kompani.
Tenaga-tenaga suka rela diperoleh berdasarkan bantuan dari kepala
pemerintahan nagari dan Niniak Mamak. Kebanyakan mereka yang diambil untuk

28
Ide pembentukan Gyu Gun lahir dari gagasan Khatib Sulaiman setelah beliau dibebaskan Jepang.
Khatib Sulaiman langsung mengetuai organisasi bentukan Jepang yang dinamakan Gyu Gun Ko En
Kai. Calon perwira Gyu Gun diambil dari pemuda yang memiliki pendidikan menengah. Pada tahap
pertama calon Perwira dan Bintara ini dididik di Padang dengan lama latihan militer selama empat
bulan dibawah pengawasan Mayor Akiyama.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
91
menjadi tenaga suka rela ini dipaksa. Bahkan kebanyakan dari tenaga suka rela ini
dikirim sebagai tenaga Romusha yang dikenal sebagai sistem kerja paksa. Mereka
yang terlibat dalam sistem ini banyak mengalami penyiksaan dari tentara Jepang,
mereka juga tidak mendapatkan makanan. Banyak dari pemuda dan masyarakat
yang mati dalam sistem kerja paksa Jepang.
Pada tanggal 3 Oktober 1943 dibentuklah PETA (Pembela Tanah Air). Pada
awalnya organisasi ini dibentuk untuk membantu kepentingan Jepang. Namun
seiring dengan perjalanan waktu di tengah penderitaan dan penindasan Jepang.
Organisasi ini melakukan pembelotan dengan melakukan perlawanan terhadap
pasukan Jepang. Dalam kehidupan masyarakat di Nagari Surantih, banyak
menderita kelaparan karena hasil pertanian diambil secara paksa oleh Jepang
sebagai bahan kebutuhan Tentara Jepang dalam perang. Hasil pertanian tersebut
dipungut melalui Kepala Nagari dan disimpan di gudang-gudang logistik Jepang.
Adakalanya jika barang-barang tersebut telah menumpuk, kelebihan tersebut akan
dibuang ke laut. Masyarakat memenuhi kebutuhan pokoknya dengan memakan
sagu, ubi kayu, ubi jalar, jagung dan pisang.
Pada masa pendudukan Jepang ini, aktivitas perdagangan di pasar lumpuh
total. Barang-barang kebutuhan pokok masyarakat tidak ada yang dijual di pasar.
Kalau pun ada yang di jual, harga barang tersebut sangat mahal dan tidak dapat
dibeli masyarakat, seperti gula, obat-obatan dan lain-lain. Pakaian masyarakat pada
saat itu hanya terbuat dari bahan terapal kapal kain kasar, ada juga yang terbuat
dari goni bahkan ada yang memakai kain dari kulit kayu tarok.
Umumnya bahan kain kayu tarok didatangkan dari Ganting Mudik. Dari
proses pembuatan kain ini menghasilkan kualitas kain yang berbeda. Kain dengan
warna merah memiliki kualitas kasar. Harga beli kain ini per satu lucuk tagak
sepanjang 180 cm, berharga satu Cupiah. Sedangkan kain dengan kualitas yang
bagus dan halus berwarna putih (disebut Naleh) mempunyai harga per satu lucuk
tagak 1,5 Cupiah
29
. Barang- barang ini diperjual belikan oleh pedagang keliling
yang berasal dari Langgai
30
yang membawa setiap minggunya hasil hutan dan kain
tarok ke Pasar Surantih.
Kekejaman tentara pendudukan Jepang tergambar dari Pasukan Jepang
yang disebut dengan Kempetai. Pasukan ini biasanya ditugaskan untuk

29
1,5 Cupiah ini diperkirakan pada uang sekarang ini setara dengan uang Rp. 10.000.
30
Pada masa itu masyarakat mengenal pedagang kain ini bernama M Jalir.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
92
menegakkan aturan-aturan yang dikeluarkan pemerintah jajahan Jepang. Di nagari
pernah diberlakukan aturan bagi masyarakat dilarang menanam karet, bagi yang
ketahuan menanam karet pohonnya akan ditebang dan dikenakan denda
(perbatang sebanyak 2,5 cupiah). Masyarakat diharuskan untuk menanam pohon
kopi. Hal yang sama juga dilakukan pada nelayan, mereka diharuskan menangkap
ikan di tempat yang telah ditentukan. Selain itu dalam menangkapkan dilarang
mengunakan lampu yang terang. Pada malam hari masyarakat diharuskan
melakukan ronda. Setiap malam pasukan kempetai melakukan razia, akibatnya
masyarakat menjadi takut untuk ke luar rumah. Apalagi mereka memiliki anak gadis,
rasa khawatir dan cemas selalu membayangi.
Kekalahan tentara Jepang dari sekutu ditandai dengan dijatuhkannya bom
atom di Kota Hiroshima oleh pesawat Super-Fotress Amerika Serikat pada tanggal
6 Agustus 1945 dan tiga hari kemudian disusul dengan sebuah bom di Kota
Nagasaki. Bersamaan dengan itu pasukan Rusia menyerang Mancuria setelah
menyatakan perang dengan Jepang. Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang
menyatakan kalah kepada Sekutu dan Rusia dan menyerah tanpa syarat. Bangsa
Indonesia menjadikan kesempatan ini untuk memproklamirkan kemedekaan bangsa
indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia menyatakan
kemerdekaan bangsa Indonesia yang diproklamasikan oleh Bung Karno dan Hatta.












·
·. .
·· . . ·· ·.
. · . ..

··
·.





Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
93
5.2. Indonesia Merdeka, Agresi Militer dan PDRI
5.2.1. Indonesia Merdeka
Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan perjuangan rakyat Indonesia,
cita-cita untuk lepas dari belenggu pejajahan telah tercapai. Nasib negara yang
tidak menentu dibawah belenggu penjajahan, sekarang dapat ditentukan ditangan
Bangsa Indonesia sendiri. Di Nagari Surantih Berita Proklamasi diketahui setelah
beberapa hari diumumkan melalui perantaraan Pemerintah Sumatera Tengah yang
pada saat itu dipimpin oleh Residen berupa selebaran-selebaran, radio dan lain-lain.
Selebaran teks
31
proklamasi yang disebar ke masyarakat ditandatangani oleh Mohd.
Syafe’i atas nama rakyat daerah Kepulauan Sumatera tanggal 19 Agustus 1945,
bunyi teks sebagai berikut :

















31
Selebaran ini dicetak dengan tinta merah di atas kertas putih dan disebarkan kepada umum serta
ditempelkan di mana-mana.
Permakloeman kemerdekaan Indonesia
Mengikoeti dan mengoeatkan pernjataan kemerdekaan Indonesia oleh bangsa
Indonesia seperti proklamasi pemimpin besar kita Soekarno-Hatta atas nama
bangsa Indonesia seperti berikut :

Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal
yang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselengarakan dengan tjara
seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnya.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia
ttd
Soekarno - Hatta

Maka kami bangsa Indonesia di Soematera dengan ini mengakoei kemerdekaan
Indonesia seperti jang dimaksoed dalam Proklamasi di atas dan mendjoendjoeng
keagoengan kedoea pemimpin Indonesia itoe.
Boekittinggi, hari 19 boelan 8 tahoen 1945
Atas nama bangsa Indonesia di Soematera
ttd
Moehammad Syafe’i
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
94
Masyarakat nagari menyambut gembira berita ini dengan teriakan, pekikan kata
“merdeka” terdengar di setiap sudut nagari dan daerah lainnya yang berada dalam
Kabupaten Pesisir Selatan dan Kerinci (PSK).
Dalam euforia kemerdekaan di setiap pelosok negeri, kondisi pemerintahan
diberbagai daerah masih ada yang mengalami kekosongan kekuasaan. Pada masa
itu Nagari Surantih dipimpin oleh seorang Angku Palo yang saat itu dijabat oleh
Bara’i. Dalam peralihan dan transisi kekuasaan di Negara Indonesia saat itu
sebagai negara yang baru merdeka. Setelah terbentuknya Komite Nasional
Sumatera Barat dan Komite Nasional cabang kabupaten, maka di nagari dibentuk
Komite Nasional Ranting. Komite Nasional Ranting adalah sebagai badan Legislatif,
mengantikan Kerapatan Adat Nagari yang ada. Komite Nasional Ranting Nagari
yang pertama diketuai oleh Wahab Bilal dan wakilnya adalah Abbas Dt. Rajo Basa
dan terdiri dari beberapa orang anggota.
Berdasarkan Peraturan Pokok-Pokok Pemerintahan Nagari yang dikeluarkan
Komite Nasional Sumatera Barat, menetapkan:
Bahwa Kepala Nagari di tukar sebutannya dengan Wali Nagari (Eksekutif) Komite
Nasional ditukar dengan Dewan Perwakilan Rakyat Nagari (DPRN) sebagai badan
Legislatif terdiri dari beberapa anggota. Perangkat Nagari adalah Dewan Harian
Nagari (DHN), di kampung-kampung/jorong adalah Wali Kampung, Wali Nagari
Dipilih langsung oleh rakyat.

Berdasarkan keputusan pemerintah daerah maka ditunjuklah pejabat
sementara sebagai pimpinan nagari. Mahyudin Lilah dipercaya sebagai ketua
DPRN. Maka dilangsungkanlah pemilihan Wali Nagari yang diikuti oleh tiga orang
calon. Wali Nagari yang terpilih saat itu adalah Mukhtar Hatta
32
dan sebagai wakil
Wali Nagari adalah Abbas Dt. Rajo Basa
33
. Pemilihan ini dilaksanakan setelah
setahun Marah Berai Dt. Rajo Indo melaksanakan pemerintahan nagari setelah
kemerdekaan, tepatnya pada bulan Februari 1946 dilakukanlah serah terima
dengan Pjs Wali Nagari.

32
Setahun kemudian Wali Nagari Mukhtar Hatta mengundurkan diri dan jabatannya digantikan oleh
Abbas Dt. Rajo Basa dengan wakil Wali Nagari Buya Wahab Bilal
33
Lima bulan kemudian Wakil Wali Nagari mengundurkan diri dan digantikan oleh Buya Zainuddin
Yahya. Tiga bulan kemudian pergantian wakil wali nagari terjadi lagi, jabatan ini kembali dipegang oleh
Buya Wahab Bilal hingga penyerahan kedaulatan oleh Belanda.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
95
Pemerintahan pada awal kemerdekaan berlangsung dalam kondisi
keprihatinan. Sikap hati-hati dijalankan pemerintah nagari karena kondisi
perpolitikan sebagai negara yang baru berdiri belum memiliki arah dan tujuan yang
jelas. Apalagi kondisi psikologis masyarakat saat itu masih dihimpit oleh kenangan
masa lalu, hidup dibawah penindasan pemerintahan Kolonial Belanda. Kemudian
dilanjutkan dengan penyiksaan dari pendudukan Jepang, meski hanya berlangsung
tiga setengah tahun tapi sangat membuat rakyat menderita lahir dan bathin.
Munculnya krisis sosial akibat penderitaan masa lalu pun tidak dapat dihindari.
Masih tersisanya rasa dendam dan penderitaan yang ditinggalkan penjajah. Juga
meninggalkan rasa dendam dan sakit hati pada pribumi yang menjadi kaki tangan
dan pembantu penjajah yang ikut memaksa anak nagari.
Berdasarkan catatan sejarah yang dikisahkan oleh orang tua yang menjadi
saksi hidup perlakuan penjajah terhadap anak nagari. Pergantian kekuasaan yang
terjadi antara Kolonial Belanda kepada pendudukan Jepang menimbulkan dampak
tersendiri terhadap kehidupan masyarakat nagari. Di bidang ekonomi terjadi
perubahan dalam sistem perdagangan di Nagari Surantih. Aktivitas perdagangan di
Nagari Surantih menurun secara drastis lantaran banyak tuan tanah dan pedagang
Cina yang pindah dari Nagari Surantih.
Pada pemerintahan kolonial, pedagang Cina sangat berperan dalam
perdagangan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat. Semenjak kedatangan
Jepang di Nagari Surantih yang awalnya memihak pribumi. Banyak masyarakat
yang menyerbu dan menjarah gudang-gudang penyimpanan barang-barang
kebutuhan pokok milik pedagang Cina. Bagi pedagang Cina yang tidak memiliki
bekingan atau perlindungan yang kuat dari pribumi, melarikan diri keluar dari Nagari
Surantih. Umumnya orang Cina pergi dari Surantih dengan meninggalkan harta-
hartanya menuju daerah Kerinci, Jambi dan Padang. Meskipun demikian masih ada
yang bertahan di Nagari Surantih
Pada saat kemerdekaan Indonesia, disaat Jepang akan terusir dari Nagari
Surantih. Terjadi peristiwa penjarahan terhadap gudang-gudang penyimpanan
kebutuhan pasukan Jepang. Anak-anak nagari menyerbu gudang-gudang Jepang
dan merampas isinya, demikian juga terhadap gudang-gudang milik Bangsa Cina
juga ikut dijarah dan rampas. Rumah-rumah Cina dibongkar dan dibakar sedangkan
isi dan perabotannya diambil, tanah-tanahnya dikuasai. Setelah peristiwa tersebut
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
96
masih ada Cina yang mencoba untuk bertahan berkat kebaikan dan perlindungan
pihak nagari.
Pada masa itu tugas sebagai seorang Wali Nagari menuntut tanggung jawab
yang sangat tinggi. Di tengah-tengah kondisi kehidupan masyarakat yang serba
kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Sementara sarana dan prasarana
jalan tidak memadai sebagai sarana penghubung dengan Ibu propinsi untuk
memasok bahan dan barang kebutuhan hidup. Masyarakat sangat berharap banyak
pada wali untuk bisa mengatasi masalah tersebut. Bersama pemuka masyarakat
dan tokoh adat Wali Nagari mencoba merintis jalan baru dari Langgai menuju
Surian, Muaro Labuah dengan melewati Bukit Kelambu dan pematang panjang.
Masyarakat diajarkan berdagang ke daerah tersebut dengan membawa dagangan
berupa cangkuk
34
garam dan lain-lain. Pulang berdagang membeli barang-barang
yang dijual di daerah tersebut seperti kain, obat-obatan, tembakau, korek api dan
lain-lain. Keberangkatan masyarakat ke daerah tersebut berangkat secara
berkelompok membawa barang dagangannya dengan mengunakan ogak.

5.2.2. Agresi Militer Dan PDRI
Saat tentara sekutu mendarat dan diboncengi oleh Tentara Nica Belanda,
kemudian Padang diduduki Tentara Belanda. Hubungan pemerintahan nagari
dengan Pemerintah Daerah tetap berjalan baik, bahkan semangat juang
masyarakat, mulai dari anak-anak, pemuda-pemuda sampai orang tua baik laki-laki
maupun perempuan makin bertambah. Hal ini disebabkan seringnya para Mubaligh
dan pemimpin masyarakat serta pemerintah dari kecamatan dan kabupaten
memberikan penerangan sampai ke pelosok-pelosok nagari yang jauh ke
pedalaman. Bahkan Gubernur Militer Sumatera Tengah Mr. St. Muhammad Rasyid
ikut serta. Selama Agresi Militer I Belanda, dapat dikatakan pemerintahan
Kabupaten Pesisir Selatan dan Kerinci berjalan seperti biasa karena belum
dimasuki Belanda.
Belum sampainya pasukan Belanda pada Agresi Militer I disebabkan di
daerah Siguntur terdapat Tentara Republik Indonesia pimpinan Maklum Toke
menghadang pergerakan pasukan Belanda untuk memasuki wilayah Painan. Pada
saat terjadinya Agresi Militer I ini, masyarakat Surantih hanya mengingat “kapa

34
Cangkuk artinya ikan kering seperti Ikan Tri, bada dan lain-lain yang telah dikeringkan.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
97
tabang sajo nan malayok-layok di ateh langgik”. Sementara itu masyarakat yang
tinggal di daerah perkotaan mulai mengungsi mencari daerah hunian yang aman.
Sebelum terjadinya Agresi Milter Belanda II, Residen Sumatera Barat Mr. S.
M. Rasyid melaksanakan musyawarah dengan seluruh pejabat dan wedana
(Bupati). Pertemuan ini membicarakan tentang serangan Militer Belanda. Dalam
pertemuan tersebut diputuskan :
1. Menjadikan pemerintahan di Sumatera Barat menjadi pemerintahan
militerisasi termasuk Camat dan Wali Nagari
35

2. Untuk mengelabui pasukan Belanda, Ibu kota Kabupaten PSK
dipindahkan dari Painan ke Sungai Penuh Kerinci.

Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda kembali melancarkan Agresi
Militer II yang ditandai dengan didudukinya Ibu Kota Negara Republik Indonesia
yang saat itu adalah Yogyakarta. Presiden bersama pejabat tinggi negara ditangkap
dan diasingkan ke Pulau Bangka. Sebelum Presiden ditangkap, beliau sempat
mengirimkan perintah kepada Mr. Syafrudin Prawira Negara untuk medirikan
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang saat itu berada di
Bukittinggi. Pada sore harinya PDRI resmi didirikan oleh Mr. Syafrudin Prawira
Negara di Bukittinggi. Tujuan didirikannya PDRI adalah untuk menjalankan
pemerintahan Negara Republik Indonesia agar tetap berfungsi meskipun dijalankan
dengan cara berpindah-pindah tempat. Pemerintahan ini berakhir pada tanggal 13
Juli 1949.
Pada tanggal yang sama 19 Desember 1948, ibu kota PSK resmi pindah
dari Painan ke Sungai Penuh Kerinci. Arsip-arsip dan keperluan pemerintahan
dibawa melalui jalan darat meskipun pegawai dan pejabat pemerintahan masih
banyak yang bertahan di Painan.
Pada Agresi Militer Belanda II, pada tanggal 6 Januari 1949. Painan
diduduki Belanda melalui Pulau Cingkuk/Cerocok Painan. Pertempuran tidak
terelakan terjadi antara pasukan Belanda dengan Tentara rakyat Indonesia (TRI).
Meski mendapatkan bantuan dari pasukan TRI yang didatangkan dari Kerinci,
termasuk Brigade Banteng Sub Komando C yang dipimpin oleh Mayor Alwi Sutan
Marajo. Tidak berimbangnya kekuatan senjata yang dimiliki kedua belah pihak

35
Wali Nagari disebut sebagai Wali Perang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
98
menyebabkan pasukan Belanda berhasil memukul mundur TRI dan menduduki
Painan
Setelah Painan diduduki Belanda, Wedana Aminudin St. Syarif bersama
Kepala Polisi Painan Mawin dan Ajudan Komandan Batalyon Letnan A. Rahman
Karim berserta CPM Darmo. Diikuti anggota dan instansi lainnya mengungsi ke
Surantih. Dalam pengungsian ke Surantih, Wedana Aminudin St. Syarif dan
beberapa pejabat/Staf wedana menginap di rumah Wali Nagari Abbas Dt. Rajo
Basa di Dusun Mansiang Koto Panjang. Ajudan komandan Batalyon Letnan A.
Rahman Karim menginap di rumah Samad Dirajo di Pasir Nan Panjang. Sementara
Kepala Polisi Painan bersama anggotanya menginap di daerah Singkulan Kayu
Gadang, dua hari kemudian mereka pindah ke Lenggayang tepatnya di Koto Pulai
Kambang. Komandan Batalyon Letnan Satu Muchni Zen mengungsi ke daerah
Bayang. Pengungsian para pejabat ini tidak berlangsung lama. Mereka selalu
berpindah dari satu tempat ke tempat lain sebagai strategi perang dan menjalankan
tugas pemerintahan.
Meski Belanda berhasil menguasai Padang dan Painan, tetapi Belanda tidak
mampu memasuki dan menguasai daerah-daerah bagian selatan mulai dari Batang
Kapas sampai Sungai Penuh Kerinci. Dalam kondisi darurat perang, peran kurir
sangat penting dalam menyebarkan perintah dan berita. Pemerintah memerintahkan
kepada semua Wali Nagari yang disebut Wali Perang beserta Wali Kampung dan
lembaga yang ada di nagari. Untuk membuat dapur-dapur umum dalam memenuhi
kebutuhan bagi TRI berupa makanan dalam posko nagari yang dilalui pada lokasi-
lokasi tertentu. Tanggung jawab Wali Perang dalam menyediakan dapur-dapur
umum digerakan bersama perangkat nagari dan masyarakat.
Biaya perjuangan untuk memenuhi kebutuhan TRI setelah kota Padang
diduduki Belanda ditanggung oleh masing-masing Pemerintah Nagari yang
diselengarakan Wali Nagari bersama-sama Wali Kampung dengan cara memungut
padi/beras dari penduduk dan saudagar yang berdagang ternak dan lain-lain.
Sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan pemerintah, walaupun diminta berkali-
kali namun masyarakat dengan rasa gembira dan ikhlas memberikan bantuan.
Semangat muncul berkat kebersamaan yang dilandasi semangat dan tekad untuk
memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan.
Pemerintahan nagari membentuk persatuan pemuda yang bernama BPNK
yang bertugas sebagai pengawal nagari dengan cara melakukan ronda baik siang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
99
dan malam hari. Mereka juga bertugas dalam membantu TRI menunjukan jalan dan
memberikan informasi. Persatuan kendaraan Bendi yang baru terbentuk dengan
ketua Mukhtar Idris, dengan penuh kesadaran membantu TRI ke Front dan dan
membawa perbekalan maupun yang pulang dari Front.

5.2.3. Pertempuran di Nagari Surantih
Bulan Mei 1949, di udara Pasar Surantih kira-kira jam 4:00 sore hari rabu,
melayang rendah kapal udara (capung) Belanda mengelilinggi Bukit Lubuk Batu dan
Bukit Gunung Malelo dari arah selatan ke utara. Kemudian diterima berita bahwa
kapal terbang tersebut mengiringi/mengawal tentara Belanda yang dinaikan di
pelabuhan Muara Sakai Indera Pura, untuk menghubungkan tentara Belanda yang
berada di Painan dan Sungai Penuh Kerinci.
Pada jam 18:00 Wib, tentara Belanda di Surantih bermalam semalam karena
jembatan penyeberangan telah diputus sebelum tentara Belanda datang dari arah
selatan. Pada hari kamisnya tentara Belanda membakar rumah Ibu Dahniar yang
berada di Pasar Surantih dan di Kampung Timbulun membakar rumah Khatib Idris.
Pada hari itu juga Belanda berangkat ke Painan, tidak ada satupun tentara Belanda
yang ditinggal untuk menduduki Surantih. Padahal saat itu satu kompi Tentara RI
yang dikomandani Letnan Alamsyah ditambah dengan anggota-anggota dari Ajudan
Komando Batalyon yang menyingkir dari Painan dan CPM.
Berita kedatangan Belanda dengan cepat menyebar keseluruh penduduk.
Penduduk Pasar Surantih dan Sungai Sira[h] pada malam itu juga mengungsi ke
arah mudik seperti Kampung Gunung Malelo, Kayu Gadang, Koto Merapak,
Rawang dan Ampalu. Pengungsian juga dilakukan oleh penduduk di Kampung
Timbulun, Pasir Nan Panjang, Koto Panjang, Koto Merapak dan Kayu Gadang ke
tengah sawah di tepi bukit-bukit di sekitar nagari. Sementara seluruh rumah yang
berada di pinggir jalan raya ditinggal tidak berpenghuni
Keesokan harinya diterima kabar bahwa tentara Belanda yang menuju
painan itu singgah di Nagari Taluk. Di Kecamatan Batang Kapas juga tinggal satu
peleton, sisanya meneruskan perjalanan ke Painan. Surantih kembali dimasuki oleh
TRI, kemudian setiap harinya kaum laki-laki mendatangi rumah masing-masing
untuk mencari kebutuhan hidup dan sore harinya kembali ke pondok pengungsian.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
100
Sebulan kemudian tentara Belanda yang berada di Nagari Taluk
mengadakan patroli ke Ampalu. Kekejaman Belanda ketika masuk Ampalu ditandai
dengan ditembak matinya seorang penduduk yang berkerja di tengah sawah.
Setelah Belanda pergi, penduduk beramai-ramai mendatangi korban yang dikenali
bernama Tarapung (40).
Berita tentang perjanjian Roem Royen yang berisikan persetujuan gencatan
senjata dan akan diselengarakannya Konferensi Meja Bundar (KMB) di negeri
Belanda tersebar luas di mana-mana. Keinginan Belanda untuk kembali menjajah
kita terlihat ketika satu peleton Tentara Belanda ditempatkan di Pasar Surantih, saat
itu ditunjuk seorang kepala nagari yang dijabat oleh Nazaruddin. Meski telah
menunjuk seorang kepala nagari dan menguasai Pasar Surantih dan sekitarnya.
Sampai penyerahan kedaulatan oleh Belanda dilaksanakan penduduk enggan untuk
tinggal di Pasar Surantih dan lebih memilih tinggal di tempat pengungsian.
Sementara itu TRI tetap mengadakan gerilya baik siang maupun pada malam
harinya di sekitar daerah Pasar Surantih.
Pada bulan september 1949 terjadilah suatu peristiwa di Lubuk Rangik di
seberang Koto Merapak yang merupakan tempat pengungsian dan Pasar Darurat.
Beberapa Tentara Belanda Pasar Surantih yang sedang mengadakan patroli
dengan kendaraan mereka ke Kayu Gadang. TRI yang berada di Lubuk Rangik
menghadang patroli tersebut ketika akan kembali ke Pasar Surantih di jalan
tikungan dekat Surau Loteng sehingga terjadilah baku tembak antara dua belah
pihak menimbulkan tertembaknya Tentara Belanda.
Keesokan harinya, di saat hari masih shubuh. Tanpa pernah diduga
sebelumnya tentara Belanda melakukan serangan ke Koto Merapak. Dari Mesjid
Nurul Huda tentara Belanda berjalan menuju Surau Loteng. Pada jam 5:00 pagi di
tebing tepi air sungai Koto Merapak tentara Belanda menembaki tempat
pengungsian yang berada di Lubuk Rangik. Setelah serangan itu berakhir
korbanpun berjatuhan dipihak rakyat dan TRI (3 orang meninggal, 2 luka parah)
36
.
Pertempuran lainnya terjadi di Kampung Gunung Malelo sewaktu tentara
Belanda mengadakan patroli dihadang TRI pasukan Letnan Alamsyah di Bukit
Rubiyah. Setelah pertempuran berakhir diketahui 2 orang tentara Belanda terluka

36
Dua orang yang meninggal yaitu Surun (40), Imar (18) dan satu orang TRI bernama Julius anggota
Kompi Letnan Alamsyah. Dua masyarakat yang menderita luka parah adalah Umar (70) dan Yung
Daling (20)

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
101
parah. Selain itu, ketika tentara Belanda melakukan patroli ke Sialang Gunung
Malelo, mereka menembak mati seorang TRI yang mereka temui. Setelah
kedaulatan RI diserahkan Belanda pada tanggal 29 desember 1949. Komandan
bataliyon Letnan Mugni Zen bersama 2 orang Komandan Nica menjemput anggota
batalyon yang berada di Kayu Gadang untuk di tarik lagi ke Painan.

5.4. Masa PRRI dan Nasakom
Setelah berakhirnya Agresi Militer Belanda, pemerintahan nagari dipimpin
oleh Wali Nagari Abbas Dt. Rajo Basa yang berhenti di tahun 1952. Pemilihan Wali
Nagari yang baru dilaksanakan oleh lembaga DPRN dan Kerapatan Adat Nagari.
Berdasarkan mufakat bersama dipilihlah M. Basir sebagai Wali Nagari yang baru,
serah terima jabatan dilakukan pada bulan Agustus 1952. Perjalanan pemerintahan
nagari sebelum dilangsungkannya pemilu yang pertama di Indonesia berlangsung
dengan baik dan sukses. Pembangunan di nagari berhasil dilaksanakan meskipun
masih berasal dari dana swadaya masyarakat.
Pasca berlangsungnya pemilihan umum, lembaran sejarah kelam terjadi di
negara ini. Peristiwa pahit yang tidak akan terlupakan oleh anak nagari mengisi
catatan sejarah bangsa Indonesia. Dalam sejarah perjuangan bangsa begitu banyak
jasa para pahlawan yang tidak bisa dilupakan. Demikian juga dalam perjalanan
sejarah nagari ini memiliki tokoh yang sangat berjasa dan layak disebut sebagai
Pahlawan bagi nagari ini. Hal ini patut diinggat oleh generasi muda nagari bahwa
nagari ini tidak akan sebaik keadaan sekarang. Berkat jerih payah dan pengorbanan
mereka menghadapi berbagai perjuangan sebelum dan sesudah kemerdekaan
terlalui.

5.4.1. Sejarah PRRI Di Nagari Surantih
Hasil pemilihan umum pertama di Negara Indonesia menghasilkan Partai
Komunis Indonesia (PKI) mendapatkan peluang untuk menguasai politik negara.
Pemerintahan negara yang dipimpin oleh Presiden Soekarno dengan wakilnya
Muhammad Hatta dan Ir Juanda menjabat sebagai Perdana Menteri. Membentuk
Kabinet Gotong Royong yang didalamnya terdapat beberapa anggota PKI diangkat
sebagai Menteri.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
102
Perjalanan pemerintahan saat itu berada dalam percaturan politik yang tidak
kondusif. Perkembangan politik semakin tidak menentu memuncak dengan mundur
Wakil Presiden Muhammad Hatta dari jabatannya pada tanggal 30 Desember 1956.
Mundurnya Muhammad Hatta menyebabkan situasi perpolitikan di daerah
menimbulkan reaksi yang tidak menyenangkan bagi tokoh-tokoh politik yang ada.
Pada tanggal 31 Desember 1956, hal ini disikapi oleh tokoh politik di daerah dengan
mengadakan musyawarah luar biasa tentang mundurnya wakil presiden.
Berdasarkan musyawarah tersebut diambillah sikap untuk mengantisipasi situasi
politik yang terjadi tentang kebijakan negara dan Partai Komunis. Musyawarah ini
dilangsungkan di Sungai Dareh dipimpin oleh A. Hosen. Dari pertemuan tersebut
dibentuklah beberapa Dewan Daerah antara lain :
1. Dewan Banteng di Sumatera Tengah dipimpin Letkol A. Hosen
2. Dewan Garuda di Sumatera Selatan dipimpin Letkol Berlian
3. Dewan Gajah di Sumatera Utara dipimpin Kolonel Simbolon
4. Dewan Permesta di Sulawesi dipimpin Letkol Pance Samoel

Kesimpulan yang diambil dalam menyikapi persoalan negara dan
pengendalian PKI, maka lahirlah kesepakatan dalam bentuk Ultimatum :
1. Dalam waktu 5 x 24 jam, pemerintah membubarkan Kabinet Juanda
dalam Kabinet Gotong-royong
2. Jika pemerintah pusat tidak memenuhinya, maka daerah akan
mengambil langkah kebijakan sendiri
3. Mengembalikan mandat ke Presiden

Ultimatum tersebut tidak ditanggapi oleh pemerintah pusat. Dewan yang
terbentuk mengambil sikap atas respon penolakan tersebut. Pada tanggal 15
Februari 1958 Pimpinan Tertinggi Sumatera Tengah A Hosen memproklamsikan
berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Terbentuknya
PRRI di Sumatera Tengah dibawah komando Presiden Tertinggi Syafrudin Prawira
Negara. A. Hosen mengomandoi daerah ini dengan menyusun strategi dan
mengalang kekuatan untuk menentang pemerintahan pusat dengan menempatkan
pasukan di tempat-tempat strategis.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
103
A Hosen mencoba merangkul pasukan APRI daerah untuk dijadikan
pasukan tempur PRRI dan kembali mengaktifkan pasukan lama dengan cara :
1. Mengaktifkan prajurit yang telah non aktif
2. Membentuk Tentara Pelajar dari murid SLTP dan SLTA
3. Membentuk Calon Perwira (CAPA) dari mahasiswa
4. Membentuk sukarelawan dari pemuda ormas.

Di Kabupaten Pesisir Selatan terbentuk juga Dewan Daerah. Pada masa ini
pemerintahan Kabupaten Pesisir Selatan berdiri sendiri karena telah berpisah dari
Kabupaten PSK yang disahkan dalam Undang-undang No 61 tahun 1957. Pada
masa ini Nagari Surantih, Teratak dan Amping Parak masih tergabung dalam
kecamatan Batang Kapas dengan pusat pemerintahan Pasar Kuok. Dalam
menyikapi penolakan pemerintahan pusat, pemerintahan daerah termasuk juga di
nagari ini disikapi dengan mengabungkan tiga nagari menjadi satu kecamatan yang
disebut Sutera (Surantih – Teratak – Amping Parak). Pembentukan kecamatan ini
diresmikan oleh Bupati Pesisir Selatan Bapak Abu Nawas dengan Camat Batang
Kapas Munir Idrus. Saat itu diangkatlah Rasilin Idris sebagai Camat Sutera.
Sebelum Kecamatan Sutera terbentuk, pemuka tiga nagari melaksanakan
musyawarah antar nagari yang menetapkan :
1. Nama Kecamatan ditetapkan dengan nama Sutera (Surantih – Teratak –
Amping Parak)
2. Membentuk struktur pemerintahan Kecamatan Sutera untuk diajukan
kepada pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan
3. Mengusulkan Rasilin Idris sebagai Camat Sutera.
Musyawarah ketiga nagari tersebut dikenal sebagai musyawarah Sutera I.

Dalam menyikapi kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dan
mengantisipasi masuknya paham komunis dan kemungkinan terjadinya kefakuman
pemerintahan. Akibat terjadinya pemutusan hubungan dengan pemerintah pusat,
maka ditetapkan :
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
104
1. Wali Nagari di tiga nagari tetap memegang jabatan sebagai Wali Nagari,
antara lain :
 M. Basir sebagai Wali Nagari Surantih
 Rusli Dt. Rajo Lenggang Wali Nagari Teratak
 Jarum Dt. Rajo Bagampo sebagai Wali Nagari Amping Parak
2. Camat Sutera Rasilin Idris
3. Komandan Militer Letnan Bahar dari Yonif 142 Gumarang Sumatera
Tengah

Lembaga Nagari dan Kerapatan Adat Nagari bersama tokoh masyarakat ikut
berpartisipasi mencari anak nagari yang akan dilatih menjadi pasukan tempur
seperti calon prajurit (Caper). Pemuda yang terpilih
37
menjalankan latihan di kota
Padang dan setelah itu bergabung dengan pasukan Letnan Bahar. Pada tanggal 21
Februari 1958 di Sutera dibentuk pula pasukan sukarelawan oleh Komandan Militer
Letnan Bahar sebagai cadangan prajurit perang dalam membantu pasukan PRRI
bergerilya dan mengangkut perbekalan. Pasukan bentukan ini dikenal dengan
Kompi 21 Ferbruari
38
.
Pada bulan ini juga dibentuk lagi pasukan baru dari pemuda Sutera yang
dipilih oleh Wali Nagari masing-masing nagari untuk dijadikan pasukan tempur lapis
tiga yang ditugaskan untuk membantu prajurit untuk berjuang dan menunjukan
jalan. Pasukan diberi nama Pasukan Nan Bagombang yang memiliki kekuatan
sebanyak tiga peleton. Pasukan ini dilatih oleh anggota pasukan Letnan Bahar,
yaitu Lettu M. Nur. Pelaksanaan latihan pasukan ini dilakukan di SD Kampung
Timbulun selama tiga bulan dengan memakai ruang kelas sebagai tempat belajar
dan istirahat. Kompi ini terdiri dari :
 Peleton I dikomandoi oleh Idrus Kaum Melayu Amping Parak
 Peleton II dikomandoi oleh Julius SS Kaum Caniago Koto Merapak
 Peleton III dikomadoi oleh Rusli Bara’i anak Angku Palo Mara Bara’i


37
Pemuda nagari ini yang terpilih antara lain adalah : Lukman Kaum Kampai Pasar Surantih, Cilin
Kaum Jambak dan Husin kaum Caniago.
38
Anggota kompi ini terdiri dari Dahlan Kaum Kampai Amping Parak/Pasir nan Panjang, Raspan Kaum
Kampai Koto Merapak, Firdaus Kaum Kampai Koto Merapak dan lain-lain.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
105
Dalam pelatihan ini ditanamkan rasa mengalang kebersamaan yang tinggi.
Rasa ingin cepat berbuat apa yang mungkin diperbuat semampu kekuatan yang
dimiliki untuk satu kata “pengabdian pada nagari”. Semangat juang pasukan ini
dalam latihan tergambar dari lantunan nyanyian semangat perjuangan yang mereka
teriakan setiap pagi, siang, sore dan malam hari dalam parade barisan. Nyanyian
tersebut seperti berikut :
Tiada gunung terlalu tinggi kami daki di tengah panas
Tiada luarah terlalu dalam kami turun di malam gelap
Hari petang hati kami..... hati kami.....
Karena terlatihnya barisan jalan kaki
Kesepulauan Indonesia

Itu sepenggal lagu yang selalu menghiasi latihan pasukan Nan Gombang.
Kampung Timbulun menjadi saksi bisu keberanian, hati yang tulus dari pemuda
tersebut untuk menjadi prajurit nagari yang dilatih Yonif 142 Gumarang.
Persiapan menghadapi tentara pusat dihadapi dengan segala keterbatasan.
Berbagai macam persiapan telah terlaksana dengan baik. Pemerintah pusat
menganggap perjuangan PRRI sebagai gerakan pemberontakan. Namun PRRI
menganggap perjuangannya murni sebagai bentuk penolakan terhadap sistem yang
akan menjerumuskan Bangsa Indonesia ke dalam paham sesat yang sangat
bertentang dengan Dasar Negara Pancasila. Perjuangan PRRI bukanlah untuk
mendirikan sebuah negara, melainkan keinginan untuk merubah sistem yang
bertentangan dengan budaya bangsa.
Pertempuran pun tidak dapat dihindari yang ditandai dengan serangan dua
pesawat tempur APRI yang menjatuhkan bom dijembatan Salido. Pada tanggal 17
April Kota Padang telah dapat diduduki oleh APRI. Akibatnya terjadi kekosongan
kekuasaan, untuk mengendalikan pemerintahan APRI membentuk pemerintahan
dengan mengangkat kepala daerah baru Sumatera Tengah yang dijabat Kaharudin
Dt. Rangkayo Basa.
APRI melaksanakan patroli dengan brigadir lengkap dilengkapi dengan alat
tempur Tank Lapis Baja menyusuri jalanan dari Kota Padang ke Pesisir Selatan
hingga ke Kerinci. Dalam operasi tersebut terjadi pertempuran dan kontak senjata
antara ARPI dengan Pasukan PRRI di beberapa tempat antara lain di Pendakian
Bukit Taluk. Sekembali dari Kerinci tidak satupun tentara APRI menduduki daerah di
nagari-nagari di wilayah Pesisir Selatan. PRRI melakukan perang gerilya yang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
106
berpindah tempat ke tempat yang lain di Sumatera Tengah. Dengan strategi
perlawanan saling membantu kekurangan pasukan, membuat pertempuran yang
terjadi tidak serentak antara satu daerah dengan daerah yang lain. Kondisi di
Kabupaten Pesisir Selatan masih aman dari pertempuran. Pemerintahan masih
berjalan hingga APRI memasuki Painan.
Ketika APRI telah menduduki Painan, aparat pemerintahan mengungsi ke
hutan bersama PRRI sehingga terjadi kekosongan kekuasaan di Painan. APRI
melaksanakan patroli dengan mengunakan Brigade mobil lengkap di Painan dan
Salido. Kemudian dilanjutkan ke nagari lain. Akibatnya kecamatan dan nagari juga
mengalami kekosongan kekuasaan. Masyarakat ada juga yang lari ke Painan minta
perlindungan pada APRI karena takut dicap sebagai pemberontak. Suasana dan
kondisi terus mencekam dan menakutkan karena APRI terus menerus mengadakan
patroli masuk kampung keluar kampung dengan persenjataan lengkap.
PRRI di Nagari Surantih membuat markas Di Koto Tinggi dan melakukan
gerilya ke Lubuk Angik dan terus ke Kayu Aro, Langgai. Sementara pasukan dari
daerah lain ada yang bergabung dengan pasukan PRRI di nagari ini. Salah satunya
pasukan yang bergabung ke Nagari Surantih adalah pasukan PRRI pimpinan
Naingolan dari Sumatera Utara. Akibat pasukannya telah terdesak dan kalah dan
akhirnya melarikan diri ke daerah ini. Pasukan ini membuat maskas di Kampung
Kayu Aro.
Dalam menyikapi terjadinya kekosongan kekuasaan dalam pemerintahan
Kabupaten dan nagari. Pasukan pemerintah mengangkat Abu Nawas sebagai
Bupati, mengangkat Abdul Kadir sebagai Wali Nagari Surantih, demikian juga
dengan camat dan Wali Nagari di daerah Kabupaten Pesisir Selatan. Semua
pejabat yang diangkat semuanya berkedudukan di Painan. Hal ini terjadi akibat
nagari-nagari dikuasai oleh PRRI yang anti dengan pemerintah. Kondisi yang
demikian disikapi oleh pemimpin PRRI dengan mengatur strategi. Pemerintahan
yang telah ada dipanggil dari pelariannya untuk memperkuat posisi pemerintahan di
bawah pimpinan :
 Rasilin Idris sebagai Camat Sutera
 Lettu Bahktiar sebagai Komandan Batalyon Sutera
 Letnan Khaidir sebagai Komandan Kompi I Beruang berkedudukan di
Surantih
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
107
 Abu Zakar sebagai Komandan Kompi II Beruang Hitam
berkedudukan di Sungai Sira[h]
 Zainal sebagai Komandan Kompi III Seri Pioner berkedudukan di
Amping Parak
 Wali Nagari sebagai pimpinan nagari membantu pengadaan logistik
pasukan dan kebutuhan lainnya
 Letnan Bahar merupakan Komandan Militer tertinggi di Surantih.

Semenjak APRI menduduki Painan, barang-barang kebutuhan hidup sangat
sulit didapatkan, terutama di nagari-nagari. Akibatnya masyarakat sangat menderita
apalagi pasukan PRRI sangat membutuhkan obat-obatan seperti penisilin.
Kelangkaan barang-barang tersebut membuat harga-harga barang sangat mahal.
Banyak masyarakat yang tidak mampu membeli barang yang mereka butuhkan.
Umumnya barang-barang didatangkan dari Muaro Labuah dan dari para pedagang
barang simokel yang dibawa dari Padang melalui laut.
Tingginya biaya perjuangan dalam menjalankan setiap operasi yang
dijalankan pasukan PRRI merupakan kendala tersendiri dalam perjuangan. Kendala
ini diatasi dengan adanya bantuan dari masyarakat melalui sumbangan dan iuran
nagari, juga dari para pedagang. Pemerintah Darurat Revolusioner menyikapi hal ini
dengan membuat dan mengedarkan uang sendiri. Uang PRRI ini memiliki tanda
khusus yang diberi cap berlambang Bangau. Pemakaian uang ini digunakan oleh
masyarakat yang berada diwilayah Batang Kapas hingga daerah Tapan. Dalam
pemakaian uang ini, pemerintah PRRI memotong 20 % sebagai biaya administrasi
dan sisanya sebagai biaya perang.
Meningkatnya kebutuhan pasukan PRRI menuntut pemerintah PRRI
memberlakukan nota dengan tulisan tangan dari kertas putih. Nota ini berlaku
sebagai uang untuk dibelanjakan, nota tersebut diberi stempel dan kode tertentu
(nota kontan) yang juga diberi cap bangau. Uang kertas tersebut dibuat oleh Letnan
Bara’i di Nagari Kambang dan ditandatangani oleh camat setempat, di Sutera uang
ini ditandatangani oleh Rasilin Idris.
Pada awal tahun 1960 PRRI belum juga mau diajak kembali mematuhi
perintah APRI. Meminta pejuang PRRI yang masih dalam status aktif dalam dinas
dan pegawai negeri sipil. Untuk kembali berdinas seperti bagaimana mestinya,
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
108
termasuk masyarakat dan sukarelawan yang ada waktu itu. Seruan ini ditanggapi
beragam, ada yang mau ada yang tidak. Tentara APRI semakin meningkatkan
operasi dan patrolinya ke kampung-kampung sementara PRRI tetap melakukan
gerilya.
Ketegangan semakin memuncak antara kedua belah pihak sehingga
pertempuran tidak dapat dihindari. Di daerah Sutera APRI melancarkan serangan
dari arah laut dengan mengunakan kapal Rorpet dengan Kornet. APRI menjadikan
Pasar Surantih sebagai target sasarannya pada waktu yang dilakukan pada jam 9
malam. Seminggu kemudian APRI melakukan serangan dari udara dengan
mengunakan dua pesawat tempur. Sasaran yang menjadi target serangannya
adalah simpang tiga Pasar Surantih. Akibat serangan itu rumah Bapak Rajo Kayo
(disebelah Mushola sekarang) menjadi sasaran bom. Setelah itu ditebarkanlah
selebaran untuk mengajak kembali bersatu demi menghindari kontak senjata antar
bangsa sendiri.
Pada akhir tahun 1960 PRRI masih tetap belum mau menyerah dan tetap
melakukan gerilya. Apalagi dengan datangnya bergabung pasukan Kapten
Naingolan dari wilayah Sumatera Utara yang berkekuatan sebanyak 300 orang
parajurit semakin membangkitkan semangat juang pasukan PRRI. Demi memenuhi
dana perang, dilakukan pencarian secara terang-terangan dengan cara memungut
uang distribusi dijalan pada setiap kendaran yang lewat. Pos yang menjadi daerah
pemungutan tersebut berada di dua tempat yaitu Surantih dan Teratak. Biasanya
tugas ini dilakukan oleh dua orang parjurit dari pasukan yang ada di kecamatan
Sutera, seperti Militer Caper Nan Gombang dan pasukan Naingolan.
Pada awal tahun 1961 pasukan APRI terus melaksakan patroli konvoi antar
nagari hingga ke pelosok nagari ini. Operasi tersebut bertujuan untuk mengontrol
dan mencari pasukan PRRI yang sedang mengungsi di hutan. Berakhirnya
perlawanan PRRI di daerah Sumatera Tengah lainnya, maka sampailah operasi
akhir di Kabupaten Pesisir Selatan yang masih terdapat perlawanan.
Dengan melakukan operasi bersar-besaran pasukan APRI di Kabupaten
Pesisir Selatan hingga Kerinci dengan menempatkan pasukan untuk turun ke
pelosok nagari. Operasi ini dilengkapi dengan brigade mobil yang dilengkapi senjata
lengkap dan panser. Pasukan lapis pertama ditugaskan untuk menuju ke Kerinci
sementara lapis kedua ditugaskan untuk masuk ke pelosok nagari ini.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
109
Mendengar berita APRI akam melaksanakan operasi bersar-besaran di
Kabupaten ini. Pasukan PRRI yang berada di Nagari Surantih mulai merancang
strategi untuk menghadapi pasukan APRI. Dibawah komando beberapa komandan
yang antara lain : Lettu Bahktiar
39
, Lettu Bahar
40
, Lettu M. Nur
41
ditambah pasukan
Lettu Naingolan
42
siap menghadapi serangan APRI.
Tanpa sepengetahuan pasukan lainnya ada beberapa dari pasukan PRRI
yang berangkat untuk menyosong kadatangan Pasukan APRI dengan cara
menghadangnya di Bukit Pulai. Mereka yang mencoba melakukan hal itu adalah
Letnan Bahar
43
, Salim
44
, Nasir Kampai
45
dan Racilin (cilin)
46
. Dengan mengendarai
jep yang dikemudikan oleh Salim, mereka berangkat pada pagi hari menuju Bukit
Pulai.
Namun baru menempuh tikungan sungai Pampan Nagari Taluk. Secara
tidak terduga mereka berpapasan langsung dengan pasukan APRI lengkap. Tanpa
perlawanan yang berarti terjadilah pertempuran kecil. Pada pertempuran ini Nasir
tertembak ketika hendak melemparkan granat tangan dari atas mobil. Nasir tewas
karena tidak sempat melompat dari atas jep akibat ledakan granat yang gagal ia
lemparkan. Sementara Salim dapat melompat dan lari ke arah pantai dan dapat
menyelamatkan diri bersama Racilin yang saat itu tertembak pada lengannya.
Letnan Bahar yang terkepung diperintahkan untuk menyerah, berbekal dengan
sebuah pistol ditangannya tetap mengadakan perlawanan hingga tewas tertembak.
Setelah peristiwa di Sungai Pampan pasukan APRI terus bergerak
melanjutkan operasinya. Pasukan yang ditugaskan ke Nagari Surantih bergerak
menuju Langgai. Dengan persiapan strategi yang telah dipersiapkan dengan
matang. Pasukan PRRI menghadang APRI di Kayu Aro Bala yang hendak menuju
Langgai. Pada hari kamis jam 3 sore, saat pasukan sedang menyeberang batang
air. Di mana pasukan APRI sebagian telah berada di dalam batang air, pertempuran
pun tidak dapat dihindari. Pasukan APRI dihujani oleh tembakan peluru dari
pasukan pimpinan Lettu Bahtiar dan Nainggolan.

39
Merupakan komandan batalyon IV yang berkedudukan DI Sutera memiliki tiga kompi pasukan dari
Yonif 142 Gumarang Sumatera Tengah.
40
Komandan kompi 21 Februari dari pemuda terlatih Caper ditambah dengan utusan ormas dan tokoh
masyarakat dan beberapa anggota Yonif 142 Gumarang
41
Komandan pasukan Nan Gombang berjumlah sebanyak tiga peleton dari Yonif 142 Gumarang
42
Komandan pasukan dari Sumatera Utara dengan prajurit sebanyak 1 batalyon.
43
Komandan pasukan hadang.
44
Anggota pasukan Yonif 142 Gumarang
45
Anggota pasukan Nan Gombang peleton III
46
Anggota pasukan Caper kompi 21 Februari.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
110
Korban pun berjatuhan di antara kedua belah pihak yang terlibat
pertempuran. Dalam pertempuran tersebut banyak tentara APRI yang tewas.
Setelah pertempuran ini, APRI mendatangkan pasukan tambahan yang ada di
Batang Kapas dan Taluk. Setelah redanya pertempuran tersebut, pasukan PRRI
mulai terdesak dan mulai mundur ke Langgai seiring dengan datangnya pasukan
tambahan APRI.
Pertempuran di Batu Bala[h] sebelumnya telah dipersiapkan oleh PRRI.
Masyarakat baik di Batu Bala[h] dan Langgai diperintahkan pasukan PRRI untuk
mengungsi daerah hilir seperti Koto Tinggi, Rawang, Gunung Malelo, Pasie Nan
Panjang. Sehingga pasukan APRI tidak menemukan masyarakat dan pasukan
PRRI di kedua kampung tersebut. Pada malam harinya ketika sampai di Langgai
dan bermalam di sana. Pada malam itu pasukan APRI melampiaskan kekesalannya
dengan membakar beberapa rumah penduduk di Langgai. Pada keesokan paginya,
pasukan APRI kembali ke hilir menuju kampung Batu Bala[h] kemudian ke Kayu
Aro. Ketika berada di kedua kampung tersebut, suasana sunyi juga ditemukan
karena penduduk telah mengungsi. Kekesalan pasukan APRI dilampiaskan dengan
membakar balai pertemuan pasukan PRRI. Setelah itu mereka membakar rumah
masyarakat di Kayu Aro, yang tersisa hanyalah Mesjid. Setelah itu APRI menuju
Ampalu dan bermalam di Pasar Surantih.
Pasukan APRI membuat pos penjagaan di Ampalu yang berfungsi sebagai
tempat pemeriksaan bagi masyarakat yang lewat baik dari Pasar Surantih maupun
dari daerah Mudik. Masyarakat yang membawa makanan yang berlebih diambil,
masyarakat hanya boleh membawa dalam batas jumlah tertentu. Hal ini
menghindari masyarakat membantu pasukan PRRI.
Setelah peristiwa pertempuran di Batu Bala[h], pasukan PRRI banyak yang
meninggalkan Sutera pergi ke Jambi dan kabupaten lain. Juga mereka pergi ke
nagari-nagari tetangga. Pasukan Nainggolan kembali menuju Sumatera Utara yang
diikuti oleh bebrapa anak nagari seperti Rospan dan Dahlan dari kompi 21 Februari.
Demikian halnya dengan Yonif 142 Gumarang juga meninggalkan Sutera menuju
daerah Pariaman dan kampung halamannya.
Setelah Nagari Surantih diduduki oleh pasukan APRI, Wali Nagari Abdul
Kadir yang diangkat APRI sebagai Wali Nagari yang sebelumnya menetap di
Painan melaksanakan roda pemerintahan di Surantih. Tugas pemerintahan nagari
bersama APRI di nagari adalah berupaya memulihkan keadaan dan menyampaikan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
111
pada masyarakat bahwa kondisi nagari telah aman dan keselamatan dijamin. Bagi
sisa pasukan PRRI yang ada diperintahkan untuk menyerahkan diri. Namun masih
ada pasukan dan anggota PRRI mencoba untuk bertahan dan melaksankan operasi
kecil. Pasukan tersebut mencari dana untuk kebutuhan pasukan yang mengungsi.
Kegiatan ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Peristiwa Kalimunting terjadi di Lansano Nagari Teratak, tepatnya di
lapangan sepakbola (SMP 4) sekarang. Pada jam 3 sore terjadilah pengepungan
terhadap pasukan PRRI. Pasukan PRRI yang sedang melakukan pemungutan pada
kendaraan yang lewat diketahui oleh pasukan APRI. Pasukan APRI yang telah
mengintai kegiatan tersebut meminta bantuan ke Painan. Setelah pasukan APRI
dari Painan datang, pasukan dipecah menjadi tiga kelompok. Kelompok yang
pertama tetap menyusuri jalan raya dengan berjalan kaki. Kelompok yang kedua
menyusuri jalan pantai menuju Lansano sedangkan kelompok yang ketiga
menyusuri jalan pingiran sawah terus ke Lansano.
Dari tiga arah penjuru tersebut pasukan APRI mengepung pasukan PRRI
yang sedang melakukan pemugutan di Lansano. Pasukan yang telah mengetahui
mereka sedang dikepung mencoba melarikan diri, sehingga ada yang melarikan diri
dengan cara bersembunyi di dalam sumur. Dari pertempuran yang terjadi
mengakibatkan empat orang meninggal terkena tembakan dan empat orang
selamat. Mereka yang selamat antara lain Lukman, Olong, Rusli Bara’i dan Salim.
Keempat orang ini bisa melarikan diri dari kepungan pasukan APRI. Mereka yang
meninggal antara lain Samik, Mandur, Suar dan baini.
Pada pertengahan tahun 1961 keadaan kembali dapat dipulihkan. Pasukan
PRRI bersama tokoh masyarakat kembali memasuki nagari. Wali Nagari M. Basir
sekembali dari pengungsian mengundurkan diri dari jabatan Wali Nagari Surantih.
Kemudian wilayah kecamatan Sutera dikembalikan pada kecamatan induk
bergabung dengan Kecamatan Batang Kapas.

5.4.2. Semokel/simokel
Semokel merupakan barang larangan yang dilarang oleh pemerintah pusat
saat terjadinya pemberontakan yang dilakukan PRRI, barang ini antara lain adalah
roko, korek api, sabun dan obat-obatan. Berbekal dengan transportasi laut yang
mengunakan perahu colok dengan ukuran bobot pengangkutan 1000 Kg, memakai
4m x 1m, pakai lancadiak yang mengunakan dayung dibantu dengan layar,
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
112
beranggotakan sebanyak satu orang tunganai (juru mudi) dua orang tukang kayuah
(pendayung).
Berkat ini masyarakat nagari dapat menjual hasil bumi melalui laut dengan
cara yang penuh resiko dengan memakan waktu perjalanan selama 14 jam hingga
bisa berlabuh di Gaung, Padang. Pulang berdagang dari Padang, para pedagang
tersebut berbelanja membeli barang-barang yang dikategorikan dilarang diperjual
belikan oleh pemerintah. Setelah cukup satu muatan, maka perahu colok tersebut
kembali berlayar menuju Surantih. Keberangkatan dari Gaung dilaksanakan
berdasarkan kondisi keamanan dari pasukan APRI yang sering melakukan
pemeriksaan yang ketat, termasuk di pos jaga Pulau Cingkuk.
Pada masa itu perdagangan dengan perahu colok yang dilakukan
masyarakat Surantih memiliki resiko yang sangat tinggi. Belum lagi ancaman dari
faktor alam di mana hujan dan badai pun jadi halangan dan tantangan. Tetapi
tantangan yang sangat dihindari adalah pukulan dengan ujung senjata dan penjara.
Berbekal tekad yang bulat dan keberanian di tengah tuntutan ekonomi dan
memenuhi kebutuhan hidup. Beberapa anak nagari memberanikan diri membawa
barang-barang tersebut hingga sampai ke Nagari Surantih. Barang-barang tersebut
sangat bermanfaat dan dibutuhkan masyarakat dan pasukan PRRI yang sedang
bergerilya. Para pedagang tersebut antara lain
1. H. Nuralis Hamad, Kaum Sikumbang Pasar Surantih dengan juru mudi
Khaidir
2. Syamsi Pato, Kaum Kampai dusun Mansiang Koto Panjang dengan juru
mudi Mendek dan Laweh
3. Ajis, Kaum Caniago Timbulun dengan juru mudi Khasim dengan juru
mudi Buasar

Terjadinya kesalapahaman antara elit politik yang ada di pusat dengan daerah
membawa dampak bagi kehidupan masyarakat. Akibatnya masyarakat mengalami
kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Pada masa PRRI ini semua jalan dan
lokasi-lokasi yang strategis diduduki oleh tentara pusat APRI. Kondisi jalan Surantih
Padang yang saat itu masih buruk dan berlobang menyebabkan waktu tempuh yang
sangat lama. Pada saat itu bisa memakan waktu berminggu-minggu. Sementara
bahan kebutuhan pokok yang dibawa ke Pesisir Selatan dilarang. Pemeriksaan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
113
yang ketat sering dilakukan APRI untuk mem-back up bahan kebutuhan masyarakat
agar tidak diberikan pada pasukan PRRI. Tujuannya adalah agar PRRI melemah
dan menyerahkan diri karena basis pasukan PRRI dalam bergerilya banyak
terdapat di nagari-nagari Kabupaten Pesisir Selatan.
Dalam keadaan serba salah masyarakat menjadi “kamari bedo” akibat segala
tindakan kedua belah pihak. Masyarakat memiliki beban hidup yang berat dengan
keadaan ekonomi yang masih lemah diharuskan menyumbang demi membantu
saudara-saudaranya yang bergabung dengan PRRI. Pada waktu itu banyak
pasukan PRRI yang menderita akibat kekurangan makanan. Jatah makanan yang
didapatkan sangat sedikit dan apa adanya. obat-obatan pun sangat sulit didapatkan,
apalagi pada masa ini masyarakat sedang dilanda wabah penyakit kulit, sehingga
banyak juga pasukan PRRI meninggalkan pasukannya dan lari ke wilayah lain.
Untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat dan pasukan
PRRI yang mengungsi dalam hutan. Maka beberapa putra daerah mencoba
mencari jalan keluarnya. Sebelum terjadinya pertikaian antara PRRI dengan
pemerintah pusat, beberapa masyarakat telah sering berdagang dengan
memanfaatkan transportasi laut. Semenjak tahun 1957 mereka sering berdagang
dengan membawa hasil bumi masyarakat seperti cengkeh.

5.4.3. Nasakom.
Pidato Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1949 mendeklarasikan
Nasional, Agama dan Komunis (NASAKOM) yang akan diterapkan ditengah
kehidupan masyarakat. Partai Komunis Indonesia sangat memanfaatkan peluang
yang terbuka lebar dalam mencoba langkah politik baru yang mereka cita-citakan.
Perkembangan situasi politik nasional ini tentunya sangat bertentangan dengan
budaya yang ada di nagari-nagari Minangkabau.
Terbentuknya PRRI oleh dewan-dewan di daerah adalah salah bentuk
antisipasi sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah pusat yang tidak
sesuai dengan jiwa dan budaya yang ada di daerah. Buntut dari perbedaan paham
dan ideologi ini adalah terjadinya kemelut pemerintah pusat dengan PRRI.
Kedudukan dan keberadaan PKI dalam catur perpolitikan dalam negeri pada awal
tahun enam puluhan sangat kuat. Massa pendukung partai ini semakin hari semakin
banyak. Apalagi banjir bantuan dari pihak luar seperti dari pemerintah Rusia dan
Cina, semakin menambah tajam taring partai ini dalam kancah politik dalam negeri.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
114
Pemerintahan Soekarno yang berkuasa telah berada dalam lingkaran politik
PKI. Campur tangan dan tekanan politik PKI terhadap pemerintahan sangat
tergambar dari susunan kabinet yang dibentuk. Rasa tidak puas dan protes disertai
demo terjadi di mana-mana. Namun sepak terjang PKI semakin membuat partai
politik dan organisasi masyarakat yang dirasakan sebagai saingan dan batu
sandungan. Satu demi satu disingkirkan PKI dari kancah politik Nasional. Masyumi,
PSI dan Murba merupakan korban konspirasi perpolitikan PKI dengan mengunakan
tangan pemerintah.
Tidak hanya partai politik, tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh yang kuat
dan memiliki ideologi yang berseberangan pun disingkirkan. Buya Hamka seorang
Ulama yang merupakan Da’i dengan pengikut dan jema’ah yang banyak di pelosok
Indonesia dituduh melakukan makar dan jebloskan ke dalam penjara. Beberapa
peristiwa lainnya semakin menorehkan tinta hitam dalam perjalanan sejarah
bangsa. Dalam lingkungan nasional terkenal dengan Gestapu dan Nasakom.
Kemudian Ganyang Malaysia, G 30 S/PKI dan bermacam peristiwa pembantaian
dan penculikan.

Gambar 17
Aksi Demo Pemuda Surantih di Pasar Surantih
Dalam Mendukung Propaganda Ganyang Malaysia Yang Didalangi oleh Ormas PKI

Pada masa ini Painan sebagai Ibukota Kabupaten Pesisir Selatan yang baru
berdiri sendiri karena baru memisahkan diri dari PSK. Sebagai Kabupaten yang
baru berdiri, kehidupan masyarakatnya masih terbelakang. Pembangunan belum
dapat menyentuh kehidupan masyarakat bawah yang berada di bawah garis
kemiskinan. Dengan keadaan miskin dan keterbelakangan ini, PKI dengan mudah
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
115
masuk dan mengambil hati masyarakat. Melalui pemerintahan Kabupaten dan
nagari, PKI dengan mudah menyebar luaskan paham komunis dalam kehidupan
masyarakat di Pesisir Selatan.
Pada masa itu Bupati Pesisir Selatan dijabat oleh Boer Yusuf yang
merupakan kader PKI. Kedudukan dan pengaruhnya sebagai Bupati dimanfaatkan
dalam mengalang, menyusun strategi untuk merangkul orang – orang memiliki
pemikiran yang sepaham. Kader-kader baru PKI pun dibentuk di tingkat kecamatan
dan nagari. Dengan bantuan kaki tangannya yang ditugaskan menjelajahi nagari-
nagari di Pesisir Selatan mulai dari Siguntur hingga Tapan. Masyarakat dirayu dan
diajak bergabung ke dalam partai PKI. Mereka yang ditugaskan adalah Idris Ilias
dan Kirin. Pada saat itu PKI sangat dominan dan terkenal dalam pemerintahan.
Sehingga dalam pikiran setiap orang tertanam opini bahwa orang-orang yang
berada dalam struktur pemerintahan merupakan anggota PKI. Pada hal anggapan
ini belum tentu benar karena ada unsur-unsur yang bukan masuk dalam struktur
yang ada.
Di kabupaten Pesisir Selatan pergerakan anggota PKI sudah dapat
diketahui. Semenjak 1962 mereka telah memulai mengajak dan mencari pendukung
baru. Dengan kekuatan dana yang banyak melalui oraganisasi masyarakat di setiap
nagari. Melalui pimpinan dan koordinator dalam membina masyarakat untuk
berkumpul dan memberi bantuan yang diperlukan dalam meningkatkan ekonomi
masyarakat yang miskin.
Di Nagari Surantih, di bawah pimpinan dan koordinator anak nagari ini, terus
mengajak dan memberi bantuan melalui kelompok tani. Organisasi kesenian randai
bujang simarantang dan orkes dan beragam kegiatan anak nagari lainnya diberikan
bantuan. Melalui lambung nagari saluran bantuan diserahkan kepada masyarakat
petani, berupa cangkul, benih padi dan pupuk secara gratis. Gudangnya berada di
daerah Timbulun dan Koto Baru. Masyarakat yang mendapat bantuan tersebut
harus tercatat dan membubuhkan tanda tangan, sebagai tanda terima barang. Hal
ini menandakan bahwa mereka yang menerima bantuan secara tidak langsung
telah menjadi anggota partai PKI. Walaupun mereka tidak pernah memahami apa
arti partai dan politik dilarang atau tidak.
Penghidupan dan penderitaan masyarakat yang berada di bawah
kemiskinan butuh bantuan dan pemberian sebagai penunjang usaha dalam bertani.
Oleh karena itu masyarakat secara cepat dapat menerima bantuan demi kehidupan.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
116
Itu pula sebabnya nagari ini tidak mempersoalkan hal-hal yang menyangkut tentang
masa lampau masyarakat nagari ini.
Perjalanan pemerintahan Nagari Surantih tahun 1964 mengalami
perubahan. Hal ini disebabkannya terjadi kefakuman dalam sistem pemerintahan.
Hal ini juga terjadi di pemerintahan Kabupaten. Pemerintahan Boer Yusuf dan
pemerintahan nagari-nagari di Pesisir Selatan dipanggil ke Propinsi untuk
menyelesaikan persoalan kesalah pahaman.
Pemerintahan pusat melalui APRI mengambil alih tugas pemerintahan
daerah dan kemudian menunjuk pejabat sementara sebagai pimpinan di daerah
Pesisir Selatan. Di Nagari Surantih diangkat Munir Dt. Rajo Indo sebagai pimpinan
nagari. Tugas berat sebagai pejabat sementara pemerintahan nagari beliau
jalankan. Kebijakan-kebijakan demi menyelamatkan masyarakat nagari dikeluarkan.
Kehidupan masyarkat kembali ditata dalam perencanaan, di mana diharuskan wajib
lapor dan dikumpulkan di Pasar Surantih guna didata dan difoto terutama bagi yang
terlibat. Saat itu masyarakat hidup dalam tekanan dan ketakutan akan
pemerikasaan dan kegiatan “japuik malam” sering kali terjadi. Akibatnya masyarakat
gamang dengan keadaan yang terjadi sehingga menjadi patuh.
















Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
117
BAB VI
SEJARAH DAN SISTEM
PEMERINTAHAN DI NAGARI SURANTIH

6.1. Sejarah Asal Mula Nama Kampung Dan Nagari Surantih
Dalam pengetahuan masyarakat Surantih saat ini terdapat beberapa versi
cerita asal mula nama Nagari Surantih. Munculnya pengetahuan yang berbeda ini
bukanlah masalah yang harus diperdebatkan untuk mencari kebenaran dari hal
yang diyakini benar. Pengetahuan dan pemahaman yang berbeda merupakan
gambaran dari masyarakat Nagari Surantih dalam mengenal dan memahami
lingkungannya sendiri. Apalagi logat dan dialek bahasa setiap saat berubah-rubah
seiring dengan bergantinya zaman. Ada beberapa penyebab, salah satunya adalah
pengaruh sistem dari konsep nagari yang menerapkan adat salingka nagari, apalagi
pengaruh dari bahasa-bahasa penjajah. Itu sebabnya timbulnya beberapa versi dari
kalimat awal kata Surantih seperti : Serantih, Surantie, ada juga Surantia.
Semuanya tentunya punya alasan tertentu dari penjabaran tertentu pula. Begitu
juga asal nama nagari dan nama kampung-kampung di Nagari Surantih. Biasanya
diambil dari kejadian dan peristiwa alam yang terjadi pada masa dahulu.

6.1.1. Asal Mula Nama Nagari Surantih Menurut Beberapa Versi
A. Versi Perilaku Raja
Mengenai asal nama Nagari Surantih sendiri ada beberapa versi. Pertama,
asal nama Nagari Surantih ini berawal dari peristiwa yang berlangsung di daerah
Kampung Pasie Nan Panjang sekarang, disaat air laut mulai surut dan bumi
(daratan) bertambah luas (Lawik Basentak Turun, Bumi Basentak Naiek). Daratan
yang baru muncul dan belum bertuan tersebut oleh Raja dibagi-bagikan (Diagiah-
agiahkan) pada rakyatnya. Peristiwa ini diibaratkan Raja sedang ma[r]antiah
makanan yang kemudian diagiah-agiah (Diberikan) pada anak kamanakan yang
ada. Kemudian dari kata-kata ma[r]antiah dan diagiah-agiah ini dijadikan nama
nagari ini yang lama kelamaan dialih menjadi Surantih agar baik bunyinya.

B. Versi Kayu Meranti Besar
Secara umum masyarakat menyakini bahwa nama Surantih diambil dari
pohon kayu Meranti besar yang dulu pernah tumbuh di Pasar Lama Padang Api-api.
Pada saat itu daerah Pasar Lama berbentuk delta yang berada di tengah aliran
muara sungai Batang Surantih dan anak sungai yang disebut Batang Miri. Karena
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
118
seiring berjalannya waktu nama ini dialih bunyikan pengucapannya menjadi
Surantih agar lebih enak diucap dan didengar, nama Surantih ini juga diberikan
pada batang air tersebut sehingga dalam keseharian masyarakat menyebutnya
Batang Surantih sedangkan pada masa dahulunya disaat Raja masih berkedudukan
di Batu Bala[h] nama batang air ini adalah Galaga Putiah.

C. Versi Peristiwa Adat
Asal nama Nagari Surantih yang lain berasal dari cerita pada saat
pemerintahan Raja telah berkedudukan di Ganting Hilir, yaitu di Timbulun. Dikala
Raja berserta para pembesarnya (Ikek Nan Ampek, Manti, Dubalang) bermufakat
menyusun aturan-aturan adat yang telah dibawa dan diwarisi dari nenek moyang
dari Sungai Pagu. Musyawarah tersebut melahirkan kata mufakat tentang susunan
adat, yaitu Susunan Rangkaian Adat Nagari Tentang Ikek Nan Ampek. Kemudian
Susunan Adat Nagari Tentang Ikek Nan Ampek ini disingkat menjadi nama
Surantih. Penjabarannya adalah sebagai berikut:

 Susunan
 Rangkaian
 Adat
 Nagari
 Tentang
 Ikek
 nan Ampek.

Disepakatinya aturan ini maka nagari ini sejak saat itu disebut Surantia atau
sekarang lebih dikenal dengan nama Surantih. Itulah gambaran mengenai asal mula
nama Nagari Surantih yang berkembang dalam pengetahuan masyarakat Surantih
sendiri. Terlepas dari mana yang benar dari cerita-cerita tersebut, bagi masyarakat
yang menyakini salah satunya, cerita tersebut bagi mereka mempunyai makna
tersendiri.

6.1.2. Sejarah Asal Mula Nama Kampung Di Nagari Surantih
Asal mula nama kampung/tempat yang ada dalam Nagari Surantih
mengalami proses yang sama. Asal nama yang diberikan pada kampung yang ada
dalam Nagari Surantih adalah pemberian dari peristiwa-peristiwa ketika Raja
melewati kampung-kampung itu pertama kalinya.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
119
A. Kampung Langgai
1). Nama Kampung Langgai diambil dari peristiwa ketika dalam perjalanan,
Raja memerintahkan pada bawahannya untuk berhenti, ucapan Raja “langgan iko
kito dolu, lah ganok kito bajalan”. Kata Langgan adalah asal kata nama Kampung
Langgai, seiring perjalanan waktu dialih bunyikan menjadi Langgai.
2). Langgai berasal dari kata “inggam” (bahasa asli penduduk dahulu), yang
pada masa sekarang berarti “inggo iko awak lai”. Lama-lama kata “inggam” tersebut
berubah menjadi Langgai seperti yang kita sebut sekarang ini.

B. Kampung Batu Bala[h]
1). Asal nama Kampung Batu Bala[h] diambil dari peristiwa dalam sebuah
perjalanan, Raja merasa lelah dan memerintahkan untuk berhenti. “baranti dakok
iko kito dolu malapeh lalah”, kata malapeh lalah dijadikan sebagai asal nama Batu
Bala[h].
2). Versi lain yang menceritakan asal nama Batu Bala[h] diambil dari
peristiwa terjadinya pertengkaran antara dua bersaudara. Perpecahan mereka ini
ditandai dengan terbelahnya batu menjadi dua. Batu Belah ini kemudian dijadikan
sebagai asal nama Batu Bala[h]. Hingga sekarang cerita ini masih dipercayai
masyarakat, termasuk batu belah tersebut masih bisa ditemukan di Kampung Batu
Bala[h].

C. Kampung Kayu Aro
1). Asal nama Kampung Kayu Aro bermula dari peristiwa Raja meminta untuk
berhenti, salah seorang pembantu berkata pada Raja “saro”. Kata ini kemudian
dialih namakan menjadi nama Kayu Aro.
2). Versi lain dari nama Kayu Aro berasal dari keadaan daerah ini yang banyak
terdapat Pohon Kayu Aro. Dari nama pohon inilah nama Kayu Aro dinamakan
masyarakat.

D. Kampung Ampalu
1). Lantaran daerah ini baru berpenghuni di Ganting Mudik, sedangkan orang
terus menerus berpindah mencari lahan-lahan baru yang subur. Sementara daerah
ini merupakan pintu gerbang ke daerah Ganting Mudik. Pada masa itu oleh Petua-
petua Koto Katenggian, ditempatkanlah orang-orang untuk menjaga dan menanyai
pendatang apa maksud dan tujuannya. Setelah diketahui maksud dan tujuannya,
barulah mereka diberi izin masuk. Karena adanya perlakuan yang demikian kepada
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
120
setiap orang yang datang, dengan cara mangampal untuk ditanyai sebelum
melewati daerah para penjaga tersebut. Lamanya proses itu diberlakukan, maka
orang-orang menyebut daerah tersebut dengan nama ampal-u
2). Untuk asal nama Ampalu berawal dari peristiwa Raja memerintahkan untuk
berhenti ketika melewati daerah ini. “Baranti kito siko dolu”, dari kata tersebutlah
dijadikan nama Kampung Ampalu.
3). Selain itu munculnya nama Ampalu diyakini masyarakat juga berawal dari
keadaan daerah ini pada masa dahulunya banyak terdapat buah ampal yang jatuh
ke sungai banyak terdapat dipinggiran batang air.

E. Kampung Kayu Gadang
1). Asal nama Kayu Gadang berawal pada saat Raja melewati daerah ini, ketika
akan melalui batang air yang saat itu airnya lumayan deras, setelah sampai di
seberang beliau berkata “ baranti dakok kayu ko dolu, litak kito manyubarang aie
gadang”, dari peristiwa inilah diberikan nama Kayu Gadang pada daerah tersebut.
2). Cerita lain yang menyebutkan asal nama Kayu Gadang karena pada daerah
ini pada zaman dahulu terdapat pohon besar. Begitu besarnya pohon tersebut tidak
bisa dipeluk oleh lima orang yang berdiri melingkari pohon kayu tersebut. Dari
pohon kayu besar inilah nama Kampung Kayu Gadang diambil.

F. Kampung Gunung Malelo.
Asal nama Kampung Gunung Malelo bermula diambil dari keadaan lokasi
alam. Hal ini dikarenakan kampung ini berada di pinggiran gunung. Zaman dahulu,
di daerah ini tinggal hidup basumando ke Kaum Kampai seorang pemuka agama
Islam murid dari Syeh Burhanudin yang bergelar Maharajo Lelo (angku adat).
Karena begitu segannya masyarakat dalam memanggil nama beliau dalam
pergaulan hidup sehari-hari, sehingga beliau dipanggil dengan sebutan Lelo.
Karena beliau tinggal di daerah pinggiran gunung akhirnya daerah tersebut disebut
masyarakat dengan nama Gunung Malelo.

G. Kampung Koto Marapak
Nama Kampung Koto Marapak berasal dari peristiwa ketika wakil Raja
melakukan perjalanan bersama rombongannya untuk memulai manapaki
(menjejaki) lokasi-lokasi koto di nagari ini dan menentukan ajok sepadan Kampung
Kayu Gadang. Pada saat berangkat Raja berkata, “Iko panapak’an patamo kito”.
Oleh pengiring beliau menjadikan tempat tersebut Koto Marapak.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
121
H. Kampung Koto Panjang
Asal nama Kampung Koto Panjang muncul berawal dari peristiwa Raja
melanjutkan perjalanannya dari Koto Marapak. Ketika memasuki daerah Koto
Panjang sekarang ini, melihat daerah yang luas dan panjang Raja berkata, “iko yo
panjang dapek dibuek kampung” kata Raja pada pengikutnya. Dari ucapan
tersebutlah asal nama Kampung Koto Panjang diambil.

I. Kampung Timbulun
1). Nama Timbulun berasal dari kebiasaan masyarakat pada masa dahulu
dalam melihat air pasang, karena di daerah ini terdapat sebuah Lubuk yang dalam
dibatasi oleh sebuah jeram yang dibatasi oleh gugusan batu yang besar. Sehingga
ketika air laut pasang batu-batu tersebut akan hilang ditelan air pasang, sebaliknya
pada air surut batu tersebut akan kelihatan. Sehingga pada saat seseorang
bertanya apa air laut pasang/surut akan berkata, “alah timbua, alun” dikenallah
daerah tersebut dengan nama Timbulun.
2). Versi lain menyebutkan bahwa asal nama Timbulun berasal dari peristiwa
ketika Raja pindah dari Batu Bala yang melewati Sialang. Setelah beberapa lama
mencari lahan baru di seberang air yang memiliki dataran yang luas. Orang dari
seberang mengatakan bahwa daerah itu adalah timbalan dari Sialang. Atau
memindahkan ke lokasi baru. Dalam dialek bahasa sehari-hari diucapkan timalan,
lama-lama berubah bunyi pengucapannya menjadi Timbulun.

J. Kampung Rawang
Nama kampung ini diambil dari kondisi ekologinya. Setelah masyarakat
mulai berkembang, karena daerah ini sebelum berkembang menjadi pemukiman
baru merupakan daerah berawa. Akhirnya seiring dengan berjalan waktu orang-
orang menyebutnya dengan sebutan Rawang. Maka timbullah nama Kampung
Rawang tanpa dikondisikan dengan jelas.

K. Kampung Sungai Sira[h]
Nama Kampung Sungai Sira[h] juga muncul berkaitan dengan kondisi
lingkungan ekologi daerah ini. Karena di daerah ini memiliki sebuah sungai kecil
yang memiliki air yang tidak pernah jernih. Tidak jernihnya air sungai dan terus
menerus keruh, menimbulkan warna kemerah-merahan pada airnya. Kata merah
dalam dialek keseharian masyarakat diucapkan sira[h]. Sehingga sungai tersebut
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
122
disebut masyarakat Sungai Sira[h] dan lama kelamaan dijadikan sebagai nama
daerah tersebut.

L. Kampung Pasir Nan Panjang
Nama Kampung Pasir Nan Panjang muncul juga dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan/ekologis. Menurut sejarah dahulu bahwa di kampung ini merupakan
daerah pinggiran pasir pantai yang memanjang. Dilihat dari kondisi tanah di
kampung yang berpasir menjadi tanda bahwa kampung ini dahulunya merupakan
daerah pantai. Setelah berdirinya perkampungan penduduk di daerah ini, orang-
orang menyebut nama daerah ini dengan sebutan Kampung Pasir Nan Panjang.

M. Kampung Pasar Surantih
1). Kampung ini merupakan persekutuan kampung-kampung nagari yang
jadi pusat keramaian dan pemerintahan. Pada masa dahulunya kampung ini disebut
dengan nama Kampung Berhimpun
47
. Orang yang berasal dari luar mengenalnya
dengan sebutan Surantih, itu pula sebabnya kampung tersebut akhirnya bernama
Pasar Surantih.
2). Pada masa dahulunya Nagari Surantih memiliki Pasar Nagari di Padang
Api-api. Di sana tumbuh sebatang pohon meranti besar, tempat orang berjual beli,
sehingga orang luar Surantih hanya mengenal batang pohon tersebut dengan nama
Meranti. Lama-lama kata meranti itu berubah menjadi Surantih.
Selain nama kampung-kampung di atas, ada nama-nama tempat yang
muncul karena erat kaitannya dengan sejarah perkembangan nagari, yaitu :

N. Singkulan.
Nama Singkulan berasal dari peristiwa yang terjadi pada masa dahulu
diadakannya suatu pertemuan oleh 19 orang yang memangku gelar Datuk guna
memusyawarahkan pencarian daerah baru yang akan dijadikan pemukiman baru
karena pada saat Koto Katenggian sebagai daerah pelacohan pertama tidak bisa
lagi menampung penduduk yang seiring berjalannya waktu terus bertambah.
Tempat para Datuk tersebut mengadakan musyawarah dinamakan perkumpulan.
Nama perkumpulan ini lama kelamaan dirubah bunyinya menjadi Singkulan.



47
Kampung Berhimpun merupakan tempat perkumpulan/perhimpunan yang masyarakatnya berasal
dari berbagai penjuru daerah dan kaum yang beragam.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
123
O. Lambung Bukik
Nama daerah ini berasal dari peristiwa alam robohnya sebuah Kayu Gadang
ke sungai. Begitu besarnya hingga hempasannya sampai ke seberang sungai.
Akibatnya percikan atau lambuang air sampai ke puncak bukit kecil dusun tersebut.
Maka dari peristiwa itulah muncul nama daerah yang disebut Lambung Bukit.

6.2. Sejarah Pemerintahan di Nagari Surantih.
6.2.1. Pemerintahan Nagari Masa Kolonial Belanda.
Pemerintahan nagari pada masa ini ditandai dengan perjanjian kerjasama
antara penguasa Banda Sepuluh Surinaro, mewakili para Penghulu yang ada
dengan penguasa pemerintahan Belanda. Perjanjian ini dikenal dengan nama
perjanjian Painan (1663). Semenjak itu sistem pemerintahan nagari, sering
mengalami perubahan. Bermacam cara dan sistem yang diterapkan oleh Kolonial
dengan tujuan untuk melunturkan keterikatan masyarakat dengan adat dan budaya
yang dimilikinya.
Strategi politik ini merupakan suatu upaya untuk lebih menguasai dapat
dilihat semenjak tahun 1667. kesepakatan yang telah disetujui pada perjanjian awal,
oleh Belanda dicoba memohon pada Raja Pagaruyung untuk meminta agar
mengangkat Belanda sebagai Wakil Raja di pesisir pantai barat Banda sepuluh.
Belanda memberi jaminan pada Raja, dengan kekuasaan dibawah mereka upeti
dan pajak dari perdagangan hasil bumi akan lebih banyak dan lancar diterima oleh
Raja. Raja kemudian mengabulkan keingginan Kolonial Belanda tersebut dengan
memberi gelar Mentri Raja atau Wakil Raja bagian wilayah pesisir barat.
Dampak dari peralihan penguasa ini dirasakan pada tata hukum adat yang
dilaksanakan para Penghulu wilayah secara berangsur-angsur mulai ditinggalkan
karena adanya perubahan sistem yang diterapkan kolonial Belanda. Dilihat dari
cerita yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Surantih pada masa itu,
bahwa semenjak itu pusat kumpulan masyarakat pendatang baru yang terpusat dan
berkembang di wilayah pantai Pasar Surantih dahulunya disebut Kampung
Berhimpun.
Pada masa ini tata hukum pemerintahan nagari masih dipegang oleh orang
yang didatangkan dari daerah asal Sungai Pagu. Setelah dihapusnya sistem
pemerintahan Raja oleh kolonial Belanda (1802). Nagari ini dikuasai oleh kelompok
individu yang punya kelebihan tertentu, punya kemampuan lebih dan dapat
bekerjasama dengan Pemerintahan Belanda. Bentuk pemerintahan ini berjalan
sampai tahun 1841 sehingga tata hukum adat nagari tak dapat berbuat banyak dan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
124
tak pernah tersentuh, adat dan budaya tidak dihiraukan lagi, yang berlaku hanya
tata hukum Belanda .
Pada 1800 perubahan corak pemerintahan nagari oleh Pemerintahan
Belanda menimbulkan rasa ketidakpuasaan Penghulu-penghulu. Belanda
membujuk kepala-kepala adat beserta Penghulu yang ada. Sehingga wewenang
dan kekuasaan Penghulu dihidupkan kembali sebagai penguasa wilayah. Kepala
adat dan Penghulu dijamin oleh pemerintah kolonial sehingga mereka dikeluarkan
pisulutnya (SK) dan diberikan gaji. Salah seorang dari Penghulu Nan Barampek
ditunjuk menjadi pimpinan nagari. Sedangkan anggota lainnya ditunjuk sebagai
Badan Kerapatan Nagari (legislatif) yang bertugas membuat aturan-aturan nagari
sedangkan Manti dan Dubalang kepala suku diberi jabatan tertentu dalam
pemerintahan nagari.
Dengan lahirnya keputusan ini, jabatan pemerintahan mulai terarah dengan
baik. Peraturan dan budaya daerah berbaur dengan peraturan Bangsa Belanda
masih tetap berjalan tidak seimbang, lantaran kekuasaan negara dipegang oleh
Belanda, walaupun begitu masyarakat nagari sudah dapat melihatkan jati dirinya
sebagai masyarakat berbudaya. Apalagi pimpinan nagari telah berubah nama
menjadi :
a. Pimpinan Nagari : atau kepala rakyat yang tertinggi dinamakan
Penghulu Laras
b. Pimpinan Kampung : atau kepala kampung berada dibawah
Penghulu laras yang dinamakan Penghulu
Kepala
c. Pimpinan Dusun : atau kepala dusun dibawah Penghulu kepala
dinamakan juga kepala suku

Dengan lahirnya struktur pemerintahan yang melibatkan semua organisasi
Ninik Mamak. Berdampak pada nilai kedudukan seorang Penghulu laras sangat
tinggi dan mempunyai kekuasaan yang luas. Bahkan sering juga disebutkan
sebagai Raja ataupun Tuanku. Dua nama ini merupakan lambang kebesaran
sebagai pimpinan nagari yang ditakuti sedangkan di Nagari Surantih ini bergelar
dengan Tuanku. Hampir terlupakan keberadaan Penghulu, sekarang mulai
dibanggakan pusako-pusako kaum hidup dan bersinar semarak ditengah
masyarakat. Sedangkan orang-orang yang terlanjur berkuasa pintar dan cerdik
berusaha juga untuk mendapatkan gelar sako baru ataupun milik orang lain agar
terdaftar dan diperhitungkan oleh pemerintahan Belanda.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
125
Dengan lahirnya aturan-aturan tersebut, Penghulu bersama kaum dan anak
nagari merasa telah mendapatkan tempat di nagari sendiri. Hak wewenang
berkaum telah terjalin dengan budaya kebersamaan. Sehingga apa yang menjadi
tujuan dari pemerintahan Belanda tak kunjung terwujud. Untuk dapat
mengendalikan budaya-budaya nagari, apalagi seorang Penghulu laras
mengkomandoi dua jabatan sekaligus sebagai badan eksekutif dan legislatif di
nagari. Dengan melahirkan kebulatan dari peraturan buatan dalam persekutuan
hidup para kerapatan adat yang dipimpin langsung oleh Penghulu laras.
Dengan menerapkan tata cara pemerintahan tersebut, Penghulu dinina
bobokan dengan pengaruh perilaku menyimpang seperti judi, minuman keras, pasar
malam, candu dan wanita, menjadi hobi. Sehingga fungsi hukum adat dilupakan,
mereka cenderung meniru gaya hidup Bangsa Belanda. Tak tik adu domba dan
memecah belah terlaksana pada tahun 1821. hal ini ditandai dengan terjadinya
peperangan antara kaum adat (Penghulu) dengan kaum agama yang terkenal
dengan nama Perang Paderi, perang ini berakhir pada 16 Agustus 1837.
Pada tanggal 6 juli 1826, pemerintahan nagari diganti namanya menjadi
distrik oleh Pemerintahan Belanda sedangkan pimpinannya bergelar Pamuncak.
Ada juga yang bergelar Raja atau Tuanku, sedangkan tugas Penghulu dirubah
sebagai pemangku jabatan badan Legislatif:
1. Anggota Dewan Kerapatan Penghulu Mewakili Kaum.
2. Membantu Pemerintahan Nagari membuat aturan
3. Penghulu sebagai pelaksana nagari bukan pimpinan Dewan Kerapatan Peghulu.

Tahun 1838, Belanda mulai memperketat aturan pemerintahan nagari.
Mereka mulai mencampuri pemerintahan adat lebih jauh lagi. Mengatur
pemerintahan nagari secara langsung dalam tata peraturan bernagari yang disebut
Controler, artinya Badan Pengawas Raja atau Pemuncak. Sehingga seorang
Kepala nagari tak dapat lagi sewenang-wenang menerapkan hukum adat walaupun
harus menerapakan hukun bernagari dan mengurus kemenakan masih tetap
dihargai oleh pemerintah.
Pada tahun 1846, pemerintahan nagari diperbaiki. Hal ini disebabkan ada
nagari yang diperintah dengan sebutan Raja, Tuanku dan Pamuncak. Controler
Pulau Cingkuak yang dijabat oleh FC. Boga Ardi mengendalikan dan menertibkan
nagari-nagari yang memiliki kepala pemerintahan yang mengunakan gelar Raja dan
Tuanku. Umumnya nagari-nagari yang masuk dalam kategori ini berada antara
daerah Bayang hingga Kambang. Sementara Controler Rogers yang berkedudukan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
126
di Air Haji juga melakukan penertiban terhadap nagari-nagari yang memakai gelar
Pamuncak terhadap kepala pemerintahan nagari. Wilayah yang ditertibkan mulai
dari Lakitan, Pelanggai hingga Indra Pura. Seiring dengan berjalannya waktu,
aturan yang ada semakin diperketat pelaksanaannya. Kekuasaan pemerintahan
adat semakin dipengaruhi oleh sistem yang diterapkan Pemerintahan Belanda.
Tahun 1874, kekuasaan Kerapatan Adat terhadap pemerintah nagari sangat
dibatasi. Wewenangnya diserahkan langsung pada pemerintahan nagari yang diatur
oleh pemerintah kolonial Belanda. Sedangkan Kerapatan Nagari tidak diberi pisulut
lagi. Hal ini menandakan Kerapatan adat menjadi suatu lembaga adat setempat
yang berfungsi untuk mengatur tentang tanah ulayat. Meskipun demikian lembaga
ini tetap berjalan dengan baik. Selama ini tujuan penjajah ingin merubah budaya
yang ada menjadi budaya yang lebih dipengaruhi oleh budaya eropa.
Tahun 1914, keluarlah peraturan pemerintah kolonial Belanda No 774
tentang peralihan kekuasaan, bahwa pemerintahan kolonial merupakan
pemerintahan yang sah. Penghulu masih ditetapkan sebagai Kerapatan Adat yang
diberi sulut oleh Residen Sumatera Barat. Politik ini dikenal sebagai politik pintu
terbuka
48
. Setelah itu, ditahun 1918 dibentuklah suatu dewan pemerintahan dengan
struktur yang baru dengan mengatur rumah tangga sendiri menurut pikiran sendiri,
haknya dan keputusan masih tetap pada atasan Belanda. Dalam hal ini Belanda
mempergunakan hak untuk pelaksanaan penjajahannya dengan membentuk
Undang-undang Ordonansi 1918 Staatblad No. 677 yang membenarkan ketentuan
tentang peraturan kepentingan nagari di Sumatera Barat. Peraturan ini kemudian
dilengkapi dengan Inlanche Gememte Ordonansi Buitengewesten (IGOB) pada
tanggal 3 September 1938, Staatblad No 490 diberi nama Peraturan Nagari di luar
Jawa. Isi IGOB tersebut mengatur tentang ketentuan-ketentuan tentang cara
mengatur dan mengurus rumah tangga nagari yang dinyatakan sebagai satu hukum
bumi putera yang diwakili oleh kepala nagari. Baik mengenai perangkat nagari dan
alat lainnya, diberlakukanlah hukum adat sehingga dijadikan sebagai aparatur
pemerintahan yang sah.
Sedikit dijelaskan bahwa konsep pemerintahan nagari berjalan seiring
dengan kerapatan adat yang merupakan suatu sistem yang khas semenjak dahulu
walaupun bersifat dualisme. Tapi inilah wujud nyata kebersamaan yang disebut
dengan budaya nagari.

48
Pada saat nagari boleh mendirikan Datuk Baru, asal memenuhi syarat. Sehingga terjadilah gadang
manyimpang, padi sarumpun dibagi duo. Hal ini juga memberi peluang untuk mendirikan nagari baru.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
127
Budaya dan adat yang telah mendasar, berurat berakar menancap ke bumi.
Indak lapuak dek hujan indak lakang dek paneh. Tersusun menerapkan azas
musyawarah mufakat, mendahulukan selangkah meninggikan serantiang bagi
Penghulu Nan Ampek Jinih.
Itu sebabnya dapat dilihat selama perjalanan pemerintahan penjajah
kolonial Belanda di bumi Minang untuk menghancurkan nilai adat. Namun Allah
Yang Maha Berkuasa tak pernah mengabulkan. Sehingga terlihat konsep-konsep
politik penjajah sirna dari masa ke masa, telah dapat dibagi menurut zamannya
dalam tata pemerintahan di Minangkabau.
23. Pertama adalah zaman di mana sistem pemerintahan nagari langsung
ditunjuk oleh pemerintah Belanda terhadap orang-orang yang memiliki
kemampuan istimewa dipilih sebagai penghubung ke masyarakat dengan
tujuan untuk bisa mengumpulkan hasil bumi. Hukum adat tidak
diberlakukan karena lebih menerapkan hukum dari Belanda.
24. Kedua merupakan zaman di mana sistem pemerintahan nagari,
kekuasaan diserahkan pada Penghulu yang sekaligus juga menjadi ketua
Kerapatan Nagari dan diberi pisulut. Musyawarah mufakat diterapkan
dengan melibatkan Ninik Mamak sehingga hukum adat dan budaya dalam
nagari sendiri dapat diterapkan
25. zaman yang ketiga sistem pemerintahan yang diterapkan merupakan
gabungan dari sistem tradisional dengan modern. Sehingga menimbulkan
dualisme pemerintahan. Pimpinan nagari diambil dari unsur individu
sedangkan Kerapatan Nagari dijadikan sebagai lembaga adat tertinggi
yang mengurus sako dan pusako guna memlihkan kembali pemerintahan
nagari yang beradat.

6.2.2. Pemerintaan Nagari Setelah Indonesia Merdeka.
Dibacakannya teks Proklamasi oleh Sukarno - Hatta sebagai pernyataan
kemerdekaan Bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan. Dampak dari peristiwa
ini mendorong terjadinya perubahan dalam kehidupan rakyat Indonesia. Diawal
kemerdekaan, kondisi pemerintahan nagari-nagari di Minangkabau , khususnya di
Nagari Surantih. Terjadi perubahan struktur pemerintahan nagari sebagai langkah
perubahan. Selama ini sistem pemerintahan nagari yang berlaku di nagari berupa
sistem kekuatan dan cenderung diktator. yang justru dijalankan oleh orang-orang
pribumi pilihan bangsa penjajah. Tujuan adalah untuk memudah dan memperlancar
kepentingan dari pemerintahan Kolonial Belanda yang sama sekali tidak berpihak
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
128
pada rakyat banyak. Hukum adat dan budaya asli berusaha disingkirkan atau
dicampuri dengan budaya penjajah sehingga hukum Kolonial lebih menonjol.
Walaupun dipilih dalam musyawarah lembaga nagari dan Kerapatan Nagari, namun
yang lebih menentukan dan menetapkan adalah pemerintah Belanda. Masyarakat
harus patuh dan taat menjalankan aturan-aturan yang dibuat Belanda.
Diawal kemerdekaan Pemerintahan Nagari Surantih mencoba untuk
membentuk suasana pemerintahan baru dengan sistem pemerintahan baru.
Langkah positif dari jabatan yang dipangku oleh seorang pimpinan nagari yang
bergelar Angku Palo diganti dengan sebutan Kepala Nagari. Badan Legislatif Nagari
disebut dengan KNRN (Komite Nasional Ranting Nagari) yang diketuai Wahab Bilal
Kaum Kampai Kayu Gadang, bersama Kerapatan Nagari melakukan musyawarah
bersama dengan pemuka masyarakat. Pertemuan tersebut dilaksanakan pada
bulan Februari 1946 dengan menghasilkan sebuah kesepakatan untuk mengangkat
seorang Kepala Nagari yang disebut Pejabat Sementara Kepala Nagari Surantih.
Tugas Pjs. Kepala Nagari bersama Lembaga KNRN adalah menjaring dan
memilih Kepala Nagari Defenitif dengan melibatkan masyarakat secara langsung
memilih Kepala Nagari dan Ketua KNRN Nagari Surantih. Berdasarkan
kesepakatan yang dihasilkan, maka terpilihlah Pjs. Kepala Nagari Surantih
dipercayakan kepada Haji Mahyuddin Lilah yang lebih dikenal dengan sebutan Haji
Padang Kaum Caniago Koto Marapak.
Pada tanggal 21 Mei 1946, keluarlah Maklumat Presiden No. 20, tentang
pemeriintahan nagari. Bahwa pemerintahan nagari yang digunakan pada masa
penjajahan Kolonial Belanda dihapus dan tidak berlaku lagi sistem pemerintahan
nagari masa lampau yang memakai sistem tunggal dari Kerapatan Adat. Keluarnya
maklumat Presiden menandakan Wali Nagari dipilih oleh masyarakat secara
langsung melalui seleksi Badan Legislatif Nagari yang disebut dengan Lembaga
DPRN (Dewan Perwakilan Ranting Nagari). Badan Lembaga Nagari yang dibentuk
setelah Indonesia merdeka bernama KNRN tidak berlaku lagi sebagai Badan
Legislatif Nagari.
Pada bulan Juli 1946, Nagari Surantih melaksanakan musyawarah Lembaga
Nagari untuk menjaring calon Wali Nagari yang akan dipilih berdasarkan unsur-
unsur yang ada dalam masyarakat, seperti Ninik Mamak, Cadiak Pandai, Alim
Ulama dan unsur masyarakat lainnya. Berdasarkan hasil keputusan Lembaga
DPRN yang diketuai oleh Wahab Bilal menetapkan empat orang calon Wali Nagari
Surantih, yaitu :
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
129
1. Zainuddin Yahya Kaum Melayu Pasar Surantih
2. Wahab Bilal Kaum Kampai Kayu Gadang
3. Muchtar Hatta Kaum Kampai Koto Panjang
4. Syair Kaum Sikumbang Ampalu

Dalam pemilihan Wali Nagari Surantih yang pertama dilaksanakan pada
akhir bulan Agustus 1946 dengan cara dipilih secara langsung oleh masyarakat.
Pemilihan ini terlaksana dengan sukses dan aman dengan menghasilkan dipilihnya
Muchtar Hatta sebagai Wali Nagari yang mendapatkan suara terbanyak dibandikan
calon lainnya. Pelaksanaan penyerahan tugas Pjs. Kepala Nagari dilaksanakan di
bulan yang sama dari Mahyuddin Lilah kepada Wali Nagari terpilih Muchtar Hatta.
Penyerahan jabatan ini ditandai dengan Surat Keputusan Pemerintah Daerah
Kabupaten Pesisir Selatan dan Kerinci.

A. Wali Nagari Muchtar Hatta (1946 – 1947)

Gambar 12
Wali Nagari Surantih
Masa jabatan 1946 - 1947

Wali Nagari Muchtar Hatta dilahirkan
di Dusun Mansiang Kampung Koto
Panjang pada tahun 1913.
menamatkan pendidikan di Kw.
Islamiah. Beliau juga merupakan
kepala kaum Kampai dengan gelar
Datuk Rajo Bandaro. Hidup
basumando ke kaum Sikumbang
Palak Pisang Kampung Koto Merapak
dan dikarunia dengan 5 anak, yaitu :



 Tiga orang perempuan bernama Nurlaini, Nurlaili dan Nurasli
 Satu orang laki-laki bernama Zulkifli Muchtar dengan gelar sako kaum Dt.
Rajo Bandaro Basa, merupakan anak nagari pertama yang bersekolah di
AKABRI AU, pensiun dengan pangkat Kolonel dan menetap di Jakarta.
 Satu orang lagi laki-laki adalah DR. Zulamri, spesialis kandungan yang
berdomisili di Aceh.

Setelah istri pertama beliau meninggal dunia, beliau basumando lagi ke
kaum Kampai Kampung Pasar Surantih dan dikarunia 7 orang anak.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
130
Dalam menjalankan pemerintahan nagari beliau mengangkat seorang wakil
yang ditugasi untuk membantu dalam pelaksana tugas harian beliau yaitu, Abas Dt.
Rajo Basa. Sementara Ketua DPRN sebagai badan Legislatif Nagari dijabat oleh
Wahab Bilal. Dalam tugas beliau sebagai Wali Nagari, sistem pemerintahan nagari
yang telah diatur dalam Undang-undang Negara Republik Indonesia Tahun 1946,
dalam pembahasan pemerintahan daerah tahun 1947. Maka keluarlah tentang
Peraturan Pokok Pedoman Pemerintahan Nagari yang dikeluarkanlah oleh
Lembaga Komite Nasional Sumatera Barat (KNSB). Menetapkan pokok dasar
pemerintahan nagari seperti :
a. Kepala Nagari diganti sebutannya dengan Wali Nagari yang ditunjuk
sebagai Badan Eksekutif
b. KNRN (Komite Nasional Ranting Nagari) diganti menjadi DPRN (Dewan
Perwakilan Rakyat Nagari) ditunjuk sebagai Badan Legislatif
c. Perangkat nagari merupakan suatu badan bagian dari pemerintahan
nagari disebut dengan DHN (Dewan Harian Nagari) yang bertugas
membantu Wali Nagari dan juga Kepala Kampung.
d. Wali Nagari dipilih langsung oleh rakyat melalui badan DPRN di nagari
yang telah ditetapkan oleh masyarakat nagari.

Dalam pemerintahan Wali Nagari Muchtar Hatta, bertugas untuk
memperbaiki Badan Legislatif Nagari yang disebut dengan DPRN yang telah
terbentuk pula di bulan Mei 1947. Anggota yang ditetapkan masih berasal dari
anggota KNRN yang lama sebanyak lima belas orang, termasuk utusan kampung di
Nagari Surantih. Pimpinan DPRN diganti berdasarkan hasil musyawarah Lembaga
DPRN Nagari Surantih. Maka diangkatlah Ketua DPRN Nagari Surantih yang
pertama, yaitu H. Mahyuddin Lilah.
Perjalanan pemerintahan nagari serba sulit, masyarakat hidup dalam
kemiskinan sehingga sering terjadi tindak kejahatan, seperti pencurian dan
perkelahian. Rasa tidak aman muncul dalam kehidupan masyarakat. Begitu juga
dari hasil pemilihan Wali Nagari, ada pihak yang tidak menerima hasil keputusan
tersebut. Munculnya pemboikotan wilayah di daerah Ganting Mudik, mulai dari
Ampalu sampai ke Langgai tidak menghormati dan mematuhi pemerintahan terpilih.
Hal ini dibiarkanlah oleh Wali Nagari Muchtar Hatta, upaya untuk menyatukan
kembali dilakukan oleh pemuka masyarakat nagari dengan cara menutup
pendistribusian dan penjualan barang kebutuhan pokok, seperti garam, obat-
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
131
obatan, kain dan lain-lain. Cara tersebut sangat efektif dalam menyatukan kembali
nagari Surantih ke dalam satu pemerintahan.
Kondisi jalan penghubung nagari dengan proponsi sangat sulit ditempuh
yang memakan waktu berminggu-minggu. Jalur melalui laut pada saat itu masih
sangat membahayakan sehingga kebutuhan pokok masyarakat sangatlah langka
didapatkan. Dengan terpilihnya Wali Nagari Masyarakat sangat berharap untuk
dapat mencarikan jalan keluar dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat
nagari. Setelah terwujudnya persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bernagari,
maka Wali Nagari Muchtar Hatta mencoba mencari jalan keluar untuk mendapatkan
kebutuhan pokok masyarakat.
Berdasarkan hasil musyawarah Lembaga Nagari dengan pemuka
masyarakat. Pemerintahan nagari membentuk rombongan besar dibawah komando
Wali Nagari untuk mengajak masyarakat berdagang membawa hasil nagari, seperti
Lawek Cangkuk dan garam sambil merintis jalan baru menuju Surian Muaro Labuah
daerah asal masyarakat surantih.
Perjalanan panjang pimpinan Nagari Surantih di masa itu menempuh hutan
belantara. Sebelum meniti pematang panjang di kaki Bukik Kelambu di tepian anak
air yang mengalir ke Koto VIII Batang Kapas. Di sana didirikan pondok
persinggahan yang disebut dengan pondok wali sebagai tempat istirahat, memasak
dan mandi. Di tempat inilah dilakukan persiapan untuk menempuh perjalanan
selanjutnya menempuh Bukik kelambu yang sangat dingin, sehingga tempat
tersebut telah menjadi cikal batas Nagari Surantih dengan Solok.
Tanggung jawab yang berat dalam menjalankan tugas sebagai seorang Wali
Nagari, dalam memecahkan permasalahan pemenuhan kebutuhan pokok
masyarakat membuat beliau kewalahan. Dari beberapa kali keberagkatan,
sekembali dari Surian beliau mengalami sakit kaki gembung akibat tertusuk duri dan
luka. Hal ini menyebabkan beliau mengundurkan diri dari jabatan sebagai Wali
Nagari Surantih. Jabatan Wali Nagari kemudian diserahkan dan dilanjutkan oleh
wakil beliau Abbas Dt. Rajo Basa






Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
132
B. Wali Nagari Abbas Datuk Rajo Basa (1947 – 1952)

Gambar 13
Wali Nagari Surantih
Masa Jabatan 1947 - 1952



Wali Nagari Abbas Dt. Rajo Basa
lahir pada tahun 1917 di Kampung
Koto Merapak dalam kaum
Sikumbang Ateh Balai dengan
bergelar Dt. Rajo Basa, beliau
menamatkan pendidikan BYZ.
Normal Ilergeng. Beliau basumando
ke Kaum Kampai Dusun Mansiang
Kampung Koto Panjang. Beliau
dikarunia dua orang anak
perempuan.

Dalam menjalankan roda pemerintahannya, beliau mengangkat seorang
Sekretaris Nagari untuk membantu beliau dalam tugas harian. Jabatan ini beliau
embankan pada Wahab Bilal, lahir di Kampung Kayu Gadang dalam Kaum Kampai
dalam sako Rajo Bandaro dan menamatkan pendidikan Thawalib.
Tata pemerintahan Nagari Surantih yang tergabung dalam Kabupaten yang
masih dikenal sebagai Pesisir Selatan dan Kerinci (PSK) semenjak 1912, terus
berbenah diri dalam peraturan perundang-undangan Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang baru merdeka. Sementara negara ini masih menyusun konsep tata
pemerintahan sebagai negara yang baru merdeka. Jabatan Wali Nagari yang baru
diserah terimakan dari Muchtar Hatta. Datang instruksi dari propinsi bahwa Belanda
ingin menjajah kembali. Pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda telah melancarkan
Agresi Militer Belanda pertama. Sementara tugas Wali Nagari hanya baru
memberikan sosialisasi tentang arti kemerdekaan disamping menggerakkan
pembangunan. Hal ini sangat didukung masyarakat dengan bergotong-royong.
Masyarakat tidak keberatan membayar pajak/iyuran nagari dan sumbangan lannya.
Masyarakat sangat patuh kepada pemerintahan nagari karena mereka sudah
merasa memiliki nagari dengan bukti jalan-jalan terbangun seperti :
 Pelebaran jalan setapak menjadi jalan kabupaten dari Kampung Pasir Nan
Panjang menuju Sungai Sirah
 Pelebaran jalan Rawang
 Pembangunan Kantor Wali Nagari di lapangan bola kaki sekarang
 Pembangunan fasilitas umum, sekolah dan Mesjid juga memperbaiki pasar
nagari dengan membangun los pasar
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
133
Perjalanan pemerintahan beliau dilalui dengan sangat pahit, hidup mati tidak
jadi persoalan dimasa itu. Terjadinya kembali Agresi Milter Belanda II pada tahun
1949 membuat pemerintahan nagari di ganti dengan nama menjadi Wali Perang
untuk menghadapi penjajah. Pada masa itu tugas sebagai Wali Nagari sangat berat
dan melelahkan karena terus berpacu dengan kondisi perang terus tidak menentu.
Terjadinya pengungsian masyarakat demi keamanan mereka dan penyedian
makanan untuk tentara merupakan tanggung jawab yang beliau hadapi. Demi
mengusir penjajah dari tanah air bentrokan kecil sering kali terjadi, sehingga rasa
tidak aman menyelimuti setiap harinya.
Setelah kondisi negara mulai kondusif lagi dan aman. Tata pemerintahan
nagari kembali diusik dengan adanya keinginan untuk menghapus sistem
pemerintahan nagari yang kuno untuk dijadikan ke dalam sistem pemerintahan yang
lebih modern. Tata cara pemilihan pemerintahan nagari ditukar dengan sistem yang
modern sehingga menghilangkan budaya yang ada dan berkembang dalam tata
adat nagari. Keluarnya maklumat Presiden No. 20 tahun 1946 yang bertujuan untuk
mengembalikan wibawa Niniak Mamak dalam Kerapatan Adat Nagari yang telah
jauh tertinggal oleh pemerintah jajahan.
Dalam mencocokan sistem yang pas sesuai dengan kondisi dimasa itu maka
muncul Keputusan Presiden No. 50 / 6 P – 1950 tentang pengembangan beberapa
nagari atau disebut dengan pemekaran. Tujuan pemerintah adalah untuk
keseimbangan agar terkendali sehingga di ranah Minang ini tanpa disadari hukum
bernagari semakin tersisihkan dari sistemnya yang asli.
17 Agustus 1950, sebelum lahirnya negara Kesatuan Republik Indonesia
negara kita adalah berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS). Dengan terus
berkembangnya tata pemerintahan, semakin jelas keinginan masyarakat guna
meningkatkan sumber daya manusia. Pada tahun 1951 didirikanlah sekolah baru
guna untuk melahirkan guru-guru. Sekolah tersebut didirikan di Salido yang
bernama KPKPKB. Setelah itu di Painan dan Sungai Penuh dibangun sekolah guru
yang terkenal dengan SGB (Sekolah Guru B). Guna untuk menjadi guru di Sekolah
Rakyat (SR), murid-murid dari sekolah tersebut sudah menjadi guru di Nagari
Surantih. Seperti :
 Abdul Azim Kaum Caniago Pasar Surantih
 M. Jotos Kaum Kampai Pasar Surantih
 Ali Amat Kaum Sikumbang Cimpu
 Rafi’ah Kaum Kampai Pasar Surantih tamatan SGB
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
134
 Ratna Wilis, Kaum Kampai Pasar Surantih tamatan SGB
 Zakaria, Kaum Melayu Pasar Surantih
 Sair, Kaum Sikumbang Koto Panjang
 Marianis, Kaum Melayu Pasar Surantih
 Usman Yakub, Kaum Sikumbang Pasar Surantih tamatan SGB.

Banyak dari murid-murid dari sekolah tersebut, untuk menjadi guru, mendidik,
berjuang untuk meningkatkan ilmu-ilmu anak nagari.
Di Nagari Surantih sistem pemerintahan terus bergulir dalam langkah
perubahan sebelum pemerintahan nagari yang baru dipilih melalui DPRS yang
melakukan sidang istimewa pada bulan Agustus 1952 untuk memilih Wali Nagari
yang baru. Dari sidang tersebut dihasilkan sebuah kesepakatan oleh DPRS Nagari
Surantih dengan mengangkat Mohammad Basir sebagai Wali Nagari yang baru.


Skema 4
Strukur Pemerintahan Nagari
Masa 1947 – 1952


.












KN Wali Nagari Ketua DPRN
Juru Tulis Nagari
(sekretaris)
Anggota DPRN
Dewan
Harian
Administrasi
Dewan Harian
Hubungan
Masyarakat
Dewan
Harian
Pembanguna
n
Kepala
Kampun
g
Kepala
Dusun
Kepala
Suku
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
135
C. Wali Nagari Muhammad Basir (1952 – 1961)

Gambar 14
Wali Nagari Surantih
Masa jabatan 1952 – 1961


Beliau dilahirkan di Kampung Koto
Merapak (Koto Nan Tigo) dalam
Kaum Kampai Sawah laweh. Wali
Nagari Muhmmad Basir
menamatkan pendidikan di HIS.
Wali Nagari Surantih yang ketiga ini
hidup basumando ke Kaum Melayu
Kampung Pasar Surantih dan
dikarunia dua orang anak, yaitu :



Anak yang pertama Ir. Ardinal, PNS berdomisili di Padang, kedua Hj. Irlaini,
suami dari H. Japri Sair seorang putra daerah kaum Kampai Pasar Surantih yang
sukses berkarir sebagai TNI AD dan pengusaha yang berdomisili di Bandung.
Beliau banyak membantu pembangunan Nagari Surantih, dan pada saat ini telah
membuat Rumah Gadang Kaum Kampai di Pasar Surantih. Setelah istri beliau
meninggal, beliau basumando ke Kampung Timbulun anak dari Angku Palo Mahra
Bara’i putri keturunan Aceh, hidup dan menetap di Padang.
Dalam menjalankan roda pemerintahannya beliau mengangkat seorang
Sekretaris Nagari sebagai pelaksana tugas harian. Tugas ini dipercayakan kepada
Muhammad Nasir, lahir di Kampung Timbulun pada tahun 1921 dalam kekuasaan
Penghulu kaum Melayu Rajo Alam (Datuk Sati). Menamatkan pendidikan di HIS,
beliau hidup dan basumando ke Kaum Kampai Dusun Mansiang Kampung Koto
Panjang dalam kekuasaan Penghulu Rajo Bandaro
Pada saat itu ketua DPRN Nagari Surantih di jabat oleh Zainudin Yahya,
lahir di Pasar Surantih kaum Melayu. Beliau basumando ke Kaum Caniago Pasar
Surantih. Setelah Wali Nagari terpilih membentuk badan adat untuk membantu dan
menerapkan hukum adat di nagari. Lembaga ini disebut Kerapatan Nagari, pada
saat itu diangkatlah Abbas Dt. Rajo Basa.
Perjalanan pemerintahan yang beliau lalui sangat sulit, tanggung jawab yang
beliau jalani dengan ikhlas, lantaran beliau memahami kondisi nagari yang
sebenarnya. Apalagi kondisi perekonomian masyarakat banyak di bawah garis
kemiskinan, sementara pembangunan dari dana negara tidak dapat diharapkan.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
136
Hanya bermodalkan rasa dan semangat kebersamaan, masyarakat diajak untuk
sama-sama berbuat dan terlibat dalam pembangunan nagari.
Dalam menjalankan roda pemerintahan, beliau ikut juga merasakan
persoalan negara yang dilanda krisis yang menjurus kepada perang saudara.
Sehingga pemerintahan, mulai dari tingkat I, II dan yang terendah seperti di Nagari
Surantih terjadi kekosongan kekuasaan, kondisi kekuasaan saat itu dikendalikan
oleh tentara pusat atau tentara kota yang terkenal dengan peristiwa PRRI.
Kondisi Nagari Surantih pada masa pemerintahan beliau sudah mulai stabil
dan tenang. Masyarakat sudah mulai tenang dalam melaksanakan aktivitas sehari-
hari. Pelaksanaan pembangunan tidak diharapkan dari pemerintah pusat karena
masih melakukan penataan kembali sistem pemerintahan agar lebih terarah dengan
baik dan jelas sebagai sebuah negara yang berdaulat.
Dengan adanya peristiwa PRRI di masa pemerintahan beliau, situasi
pemerintahan nagari yang berubah patut kita tandai sebagai catatan sejarah nagari.
Pada masa pemerintahan beliau, para tokoh masyarakat nagari membentuk
kecamatan pertama sekaligus memberi nama Sutera (Surantih, Teratak dan Amping
Parak). Sutera sebagai kecamatan baru saat itu dijabat oleh Camat Rasilin Idris,
mulai dari tahun 1957 hingga berakhirnya perjuangan PRRI di Surantih dan kembali
bergabung dengan Kecamatan Batang Kapas.
Dalam masa pemerintahan beliau ini berlangsung untuk pertama kalinya
pemilu di Indonesia dalam Kabinet Burhanudin Harahap tanggal 29 September
1955. pesta demokrasi rakyat yang pertama ini berlangsung sukses dan aman.
Berdasarkan hasil pemilihan tersebut, terpilihlah Ir Soekarno sebagai Presiden
Republik Indonesia. Ditangan beliau perjalanan Kabupaten ini kembali mencatat
sejarah baru. Diketahui semenjak tahun 1912 Sungai Penuh berada dalam wilayah
Kabupaten Pesisir Selatan dan Kerinci (PSK). Berdasarkan UU tahun 1957 yang
berisikan tentang pembentukan Kabupaten Kerinci dengan pusat pemerintahan
Sungai Penuh. Undang-undang tersebut diperkuat lagi dengan Undang-undang
daerah No 19 / 1957 Sumatera Tengah dibagi dalam tiga wilayah Propinsi yaitu :
Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Setelah itu menyusul lagi UU No 21 / 1957 yang
tercatat dalam lembaran Negara Republik Indonesia No 108 tahun 1958 yang
membagi PSK menjadi dua wilayah Kabupaten :
a. Kabupaten Pesisir Selatan dengan pusat pemerintahan Painan.
b. Kabupaten Kerinci dengan pusat pemerintahan Sungai Penuh.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
137
Disamping kondisi yang tidak mengizinkan, namun pembangunan masih tetap
berjalan dengan baik. Hasil dari karya beliau itu dapat dilihat dengan pembukaan
jalan baru yang sampai sekarang dapat dirasakan manfaatnya bersama, seperti :
 Jalan tani Koto Baru, panjang 800 M menuju Gunung Giriak
 Jalan Padang Limau Mani, panjang 1000 M menuju Bukit Panjang
 Jalan Timbulun ke Gunung Malelo, sebelum PRRI meletus jembatan
gantung tersebut sudah dapat dilalui.
 Jalan Sianok ke Amping Parak, dibangun ketika Camat Sutera telah
terbentuk yaitu, Rasilin Idris, Kerapatan Adat Abbas Dt. Rajo Basa dan
Kepala Kampung Koto Nan Tigo Zainudin Kesah di tahun 1957.
Selain itu banyak karya beliau yang manfaatnya masih bisa dirasakan hingga
sekarang, seperti sarana pendidikan, Mesjid dan Surau, juga jalan-jalan setapak,
sarana dan prasarana lainnya.
Ketika situasi politik negara kembali memanas, pemerintahan mengungsi ke
hutan. Hal ini disebabkan APRI mengambil alih jalannya pemerintahan termasuk di
Nagari Surantih. Pembentukan pemerintahan baru terjadi sehingga di Nagari
Surantih terdapat dua Wali Nagari. :
a. Wali Nagari yang terpilih tahun 1952, Muhammad Basir. Beliau
mengendalikan pemerintahan dibawah pemerintahan PRRI. Camat Sutera
secara bergerilya semenjak tahun 1959 karena APRI telah menduduki
Painan. Guna untuk mengendalikan masyarakat bawah, meskipun secara
administrasi beliau tidak menjabat lagi, tapi masyarakat masih
menganggap sebagai Wali Nagari.
b. Wali Nagari yang ditunjuk oleh Pemerintahan Pusat (APRI), ditunjuk di
Painan tahun 1959 atas nama Abdul Kadir. Beliau mengendalikan
pemerintahan bersama APRI yang berkedudukan di Painan dalam
menjalankan roda pemerintahan dan kepentingan administrasi bagi
masyarakat yang mengungsi di Painan. Setelah tahun 1961 situasi
kembali aman, tapi beliau baru kembali ke Surantih bersama APRI dan
bertugas di Surantih. Wali Nagari Muhammad Basir menyerahkan jabatan
Wali Nagari kepada Abdul Kadir setelah konflik PRRI dan APRI selesai.




Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
138
Dalam perjalanan pemerintahan nagari ditandai lahirnya peraturan MPRS No
1 tahun 1960 dan No. II tahun 1960 yang berisikan :
 No I tahun 1960. menyesuaikan haluan negara dalam konteks Undang-
undang nasional yang disesuaikan dengan roh dan jiwa masyarakat lokal
secara umum di Indonesia.
 No II tahun 1960, penetapan dalam suatu pemerintahan negara yang
sangat berlainan dengan sistem dahulunya.

Isi dari TAP MPRS tersebut :
 Semua warga negara berhak memilih dan dipilih
 Semua penduduk berhak mengantikan fungsi warga negara
 Pemerintahan nagari diatur dengan Undang-undang

Keluarnya TAP MPRS tersebut belum dapat dijalankan dengan baik lantaran
situasi tidak mengizinkan, akibat terjadinya kemelut politik nasional semakin
memanas dan terus berlanjut dengan peristiwa PKI.

D. Wali Nagari Abdul Kadir (1959 – 1964)

Gambar 15
Wali Nagari Surantih
Masa Jabatan 1959 - 1964


Nagari Surantih dibawah
kepemimpinan bapak Abdul Kadir
yang lahir di Kampung Timbulun
dalam Kaum Caniago dengan
Penghulu kaum Dt Jo Lelo. Beliau
menamatkan pendidikan di
Gubernemen di Painan. Beliau
hidup basumando ke Kaum Caniago
Kampung Pasar Surantih.

Dalam pemerintahannya, untuk menjalankan tugas harian. Beliau
mengangkat seorang Sekretaris Nagari yang dijabat oleh A. Rasid. A. Rasid lahir di
Timbulun dalam Kaum Caniago hidup basumando ke Kaum Sikumbang Dusun
Mansiang Kampung Koto Panjang. Jabatan Ketua DPRN waktu itu dijabat oleh
Abas Dt. Rajo Basa sedangkan kedudukan sebagai ketua Kerapatan Nagari
dipangku oleh Salim Dt. Rajo Indo Kampung Koto Panjang Banda dalam.
Perjalanan pemerintahan nagari dibawah kepemimpinan Abdul Kadir dilalui
sangat getir dengan situasi tidak menguntungkan. Gerakan politik yang beraneka
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
139
ragam dengan peristiwa yang terjadi dalam sejarah kehidupan Republik ini dalam
menuju satu tujuan dan haluan negara dengan konteks negara kesatuan.
Terkendalinya pemerintahan oleh elit politik sehingga berjalan sukses dan
lancar. Sistem yang diterapkan mengarah pada tindakan pemaksaan, untuk
mengendalikan jajaran pemerintahan dari atas ke bawah. Begitu juga tentara-
tentara yang berada di Painan seakan-akan mendukung kekejian tersebut.
Kondisi nagari setelah berakhirnya perang saudara PRRI mulai membaik.
Kegiatan pembangunan nagari berjalan lancar, dengan keterbatasan dana
pemerintah pusat dan swadaya masyarakat untuk bergotong royong. Beliau berhasil
melaksanakan pembangunan yang hingga sekarang masih bisa dinikmati.
 Pembuatan lapangan bola kaki tahun 1962, lahannya berasal dari
pembebasan tanah milik Cina menjadi tanah milik nagari. Lapangan ini diberi
nama Gadih Basanai.
 Memperluas jalan setapak menjadi jalan kampung, yaitu jalan baru pasar
Surantih ke Cimpu
 Memperluas jalan setapak menjadi jalan kampung yaitu jalan Samudera
Pasar Surantih, begitu juga jalan Samudera Sungai Sirah
 Memperluas jalan setapak Rawang Lan Panjang
 Pembangunan irigasi fasilitas umum mesjid dan sekolah.

Banyak yang telah beliau laksanakan dengan maksud untuk kesejahteraan
masyarakat nagari, agar dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan lepas dari
belenggu kemiskinan.
Ditahun 1964, puncak kemelut politik negara makin memanas dengan
peristiwa Nasakom. Pemerintahan Kabupaten Pesisir Selatan mengalami
kevakuman. Hal ini ditandai dengan ditarik dan digantinya Bupati Pesisir Selatan
Boer Yusuf diganti dengan Hasrul Dt. Rangkayo Basa ditunjuk sebagai pejabat
baru. Sedangkan di Nagari Surantih ditunjuk Munir Razak Dt. Rajo Indo guna
mengisi kekosongan pemerintahan nagari dan menyusul nagari-nagari lain di
Kabupaten Pesisir Selatan.
Sehingga pada tahun 1965 resmilah pemerintahan nagari dijabat oleh pejabat
sementara Munir Razak Dt Rajo Indo dan disepakati oleh unsur Lembaga Nagari
Surantih.


Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
140
E. Wali Nagari Munir Razak (1964 – 1968)

Gambar 16
Wali Nagari Surantih
Masa Jabatan 1964 - 1968

Wali Nagari Munir Razak Dt. Rajo
Indo mengantikan Wali Nagari Abdul
Kadir. Beliau dilahirkan di Dusun Banda
Dalam Kampung Koto Panjang dalam
Kaum Sikumbang Penghulu Dt. Rajo
Indo. Sumando Kaum Caniago ini
menjalani jenjang pendidikannya hingga
menamatkan pendidikan Gubernamen.


Dalam memimpin roda pemerintahan nagari, beliau mengangkat seorang
Sekrestaris Nagari yang membatu tugas harian dalam pemerintahan yang
dipercayakan pada Bicam dilahirkan di Kampung Pasar Surantih dari Kaum
Sikumbang. Beliau hidup basumando ke Kaum Kampai Banda Dalam, Kampung
Koto Panjang dan menamatkan pendidikan di sekolah rakyat.
Masa pemerintahan Munir Razak dan Bicam yang dijabat bersifat
sementara dalam menjalankan tugas nagari. Hal ini terjadi karena wali nagari yang
terdahulu mengundurkan diri dari jabatan dan beliau diangkat oleh pemerintah pusat
melalui pasukan APRI yang ada di kabupaten Pesisir Selatan.
Dalam kondisi negara yang masih mencekam dengan kondisi politik yang
tidak menentu membuat Wali Nagari serba salah dalam mengambil tindakan.
Apalagi ditangan beliau dilaksanakan pendataan orang-orang yang terlibat dalam
peritiwa G 30 S. PKI. Pada masa ini diberlakukan wajib lapor dan pemberantasan
anggota gerombolan tersebut. Kondisi pembangunan nagari pada saat itu sangat
tergantung pada masyarakat, yaitu dari sumbangan yang harus diberikan
masyarakat setiap minggunya dan harus melaksanakan gotong-royong masal.
Pembangunan dari pemerintah pusat tidak dapat diharapkan. Beberapa orang tokoh
masyarakat berpikir bagaimana menciptakan ketenangan bagi masyarakat agar
tidak terpanggil karena situasi waktu itu sangat kritis dan tidak menentu bagi
masyarakat, karena khawatir dan takut mereka dilaporkan terlibat dan dibunuh, Wali
Nagari merupakan tulang punggung masyarakat untuk berlindung, sedangkan
pembangunan nagari masih tetap beliau pikirkan, termasuk pendirian beberapa
sekolah dan perbaikan saluran irigasi sebagai sarana perekonomian masyarakat.
Sebagai pejabat sementara Wali Nagari Surantih bertugas untuk
melaksanakan penerapan konsep peraturan MPRS No. 1 dan No. 2 tahun 1960
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
141
telah mulai berangsur dijalankan dengan baik mengingat kondisi dan situasi maka di
tahun 1968 peraturan tersebut dapat diterapkan sehingga pemilihan Wali Nagari
Surantih yang pertama telah terwujud dengan baik dibawah tugas DPRN dan dipilih
langsung oleh masyarakat. Dari masukan aspirasi masyarakat melalui unsur-unsur
yang ada, maka DPRN menetapkan dua orang calon Wali Nagari Surantih periode
tahun 1968 sampai 1974 masa jabatan selama 6 tahun. Para calon yang maju
dalam pemilihan tersebut adalah :
a. Munir Razak Dt. Rajo Indo (utusan Niniak Mamak)
b. Zainuddin Kesah (utusan Cadiak Pandai)

Proses pemilihan diatur berdasarkan keputusan pemerintah daerah
Kabupaten Pesisir Selatan yang didasarkan pada Tap MPRS tahun 1960 tentang
pemilihan langsung oleh masyarakat sehingga ditahun 1968 ini untuk pertama kali
pemerintahan terendah dipilih oleh masyarakat secara langsung. Dari hasil
pemilihan tersebut dimenangkan oleh Zainuddin Kesah. Maka pada tahun itu juga
pemerintahan Nagari Surantih diserah terimakan dari pejabat lama Munir Razak
kepada Zainuddin Kesah.

F. Wali Nagari Zainuddin Kesah (1968 – 1981)

Gambar 17
Wali Nagari Surantih
Masa Jabatan 1968 - 1981
Wali Nagari Zainuddin Kesah
dilahirkan di Kampung Koto Merapak
tahun 1928, dalam Kaum Melayu
Penghulu Dt. Sati. Beliau menamatkan
pendidikan Tsanawiyah Muhammadiyah
di Kambang (1946), hidup basumando ke
Kaum Caniago Berok dalam gelar sako
Rajo Johan di Kampung Koto Panjang.

Pada pemerintahan beliau, kehidupan masyarakat Nagari Surantih rata-rata
masih hidup dibawah garis kemiskinan, masyarakat masih juga tetap hidup dalam
ketakutan, karena peristiwa PKI belum reda. Oleh karena itu beliau melahirkan
suatu ketegasan bahwa masyarakat Surantih tidak ada lagi terlibat, sehingga
berangsur kondisi nagari mulai tenang. Sedangkan kegiatan pembangunan belum
ada yang terlaksana, jalan-jalan belum ada yang beraspal, pendidikan belum begitu
maju hanya terdiri dari beberapa sekolah dasar.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
142
Pemerintahan Nagari Surantih dibawah
kepemimpinan Wali Nagari Zainuddin Kesah dibantu
seorang Sekretaris Nagari untuk membantu
menjalankan roda pemerintahan Nagari Surantih
yaitu, Muhammad Nazir. Muhammad Nazir dilahirkan
di Kampung Timbulun dalam Kaum Melayu yang
dipenghului oleh Datuk Sati. Beliau manamatkan
pendidikan Islamiah, dan hidup basumando ke kaum
Kampai Dusun Mansiang dengan Penghulu kepala
Datuk Rajo Bandaro di Kampung Koto Panjang.
Muhammad Nazir
49
mengabdikan hidupnya kepada
Nagari Surantih semenjak menamatkan pendidikan

Gambar 18
Muhammad Nazir
(Sekretaris Nagari Pemerintahan
Zainuddin Kesah)

di sekolah Islamiah Kambang. Setelah kemerdekaan beliau telah ikut membantu
kegiatan pemerintahan nagari di masa pemerintahan Wali Nagari Muhammad
Basir (1952 – 1961) dipercaya untuk menjadi Sekretaris Nagari hingga pada masa
pemerintahan Zainudin Kesah masih dipercaya sebagai Sekretaris Nagari.







Jabatan ketua DPRN dijabat oleh Abbas Datuk Rajo Basa sedangkan
jabatan wakil ketua DPRN dipercayakan pada tiga orang, yaitu :
1. Kht. Hasan Basri (utusan Alim Ulama)
2. Ahmad Kosasih (utusan Cadiak Pandai)
3. Salim Dt Rajo Indo (Niniak Mamak).

Ketua Kerapatan Nagari (KN) Nagari Surantih dijabat oleh Salim Dt. Rajo
Indo dari Kaum Sikumbang Banda Dalam, hidup basumando ke Kaum Melayu
Pasar Surantih. Setelah terbentuknya LKAAM tahun 1970di Kabupaten Pesisir
Selatan. Dilakukan perbaikan struktur organisasi Niniak Mamak dengan mendirikan
Kerapatan Adat Nagari (KAN). Dalam pembentukan kepengurusan KAN terpilihlah
Abbas Dt. Rajo Basa sebagai ketua KAN yang pertama di Nagari Surantih.
Perjalanan pemerintahan nagari dibawah kepemimpinan Zainuddin Kesah
dan Muhammad Nazir, dibantu oleh lembaga nagari seperti DPRN dan KAN. Beliau
juga menyusun perangkat nagari dan Kepala Kampung sebagai perpanjangan
tangan pemerintahan nagari. Selama pemerintahan beliau banyak terjadi perubahan
dan prestasi yang diraih. Perjalanan panjang pemerintahan nagari telah berlalu,
bermacam persoalan dan perubahan. Pembangunan maju dengan pesat, jalan-jalan

49
Muhammad Nazir adalah dari Kali Dusu yang merupakan juru tulis Angku Palo Marah Bara’i.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
143
mulai diperbaiki dengan kerja sama dan kebersamaan yang tercipta bersama
masyarakat. Kehidupan masyarakat yang aman dan damai sangat membantu
terlaksananya program pembangunan. Masyarakat dengan semangat yang tinggi
membantu pembangunan dengan ikut serta bergotong royong. Kegiatan gotong-
royong rutin menjadi agenda rutin dalam pelaksanaan program pembangunan
pemerintahan nagari. Dampaknya pembangunan berjalan dengan pesat,
perekonomian masyarakat mulai membaik. Kemajuan ini juga ditandai dengan
perobahan alat tangkap ikan masyarakat dari colok ke bagan mesin, sejak tahun
1970. Keadaan ini tetap dipertahankan sampai masa jabatan beliau berakhir. Di
tahun 1974, kembali dilaksanakan pemilihan, mulai dari pencalonan dilakukan
masyarakat sampai tahapan seleksi oleh DPRN Nagari Surantih. Dilangsungkannya
pemilihan langsung oleh masyarakat nagari, hasilnya ditetapkan dua orang calon
Wali Nagari, yaitu :
1. Zainuddin Kesah, dicalonkan oleh unsur masyarakat dan Niniak Mamak
2. Ahmad Kosasih, dicalonkan atas aspirasi unsur cadik pandai. Beliau dari
Kaum melayu Pasar Surantih dan hidup basumando ke Kaum Melayu
Dusun Samudera Kampung Pasar Surantih

Berdasarkan hasil pemilhan yang dilakukan, masyarakat Nagari Surantih
kembali memilih Zainuddin Kesah sebagai Wali Nagari Surantih masa jabatan tahun
1974 hingga 1982. Berkat konsep pembangunan yang jelas dan masyarakat
merasa terlindungi dalam masa pemerintahan beliau sebelumnya, merupakan dasar
yang kuat bagi masyarakat untuk memilih beliau dan dipercaya memimpin Nagari
Surantih untuk kedua kalinya, Kondisi pemerintahan dalam masa pemerintahan
Zainuddin Kesah yang kedua tidak jauh berbeda dengan pemerintahannya yang
terdahulu. Perobahan hanya terjadi pada pergantian kepala kampung.

Tabel 3
Kepala Kampung Masa Pemerintahan Wali Nagari Zainuddin Kesah
Periode 1968 – 1974 dan 1974 - 1982
No Nama
Kampung
Tahun
1968 - 1974

Kaum Tahun
1974 - 1982
Kaum
1 Sungai Sirah M. Arus Kampai M. Arus Kampai
2 Pasar Surantih Bustami Sikumbang Nuralis Ahmad Sikumbang
3
Pasir N. Panjang Abdul Malik Caniago Minsir Melayu
4 Timbulun Buanar Kampai Abu Nawas Kampai
5 Rawang Kali Usu Jambak B. Dt. R. Malenggang Sikumbang
6 Gunung Malelo Bilal Nawar Kampai Bilal Nawal Kampai
7 Koto Panjang Kht. Jinir Sikumbang Kht. Jinir Sikumbang
8 Koto Merapak Surah Sikumbang Surah Sikumbang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
144
9 Kayu Gadang Labung Caniago Karanis Melayu
10 Ampalu Janir Sikumbang Kht. Kamaris Caniago
11 Kayu Aro Abdul Muis Kampai Abdul Muis Kampai
12 Batu Bala Bandaro Enek Kampai Kht. Rasid Kampai
13 Langgai Pengulu Jambek Jambak Jamil Caniago

Sebelum menjabat Wali Nagari Surantih, diusia yang sudah menginjak 40
tahun. Pengalaman kepemimpinan beliau sudah terasah semenjak Indonesia
merdeka, setelah menamatkan pendidikan Tsanawiyah Muhammadiyah di
Kambang (1946). Hal ini terbentuk seiring perjalanan panjang nagari yang
mengalami aneka ragam peristiwa, sesuai dengan perkembangan situasi politik
negara yang berkembang saat itu. Apalagi kondisi kehidupan masyarakat yang
masih jauh tertinggal. Umumnya generasi muda nagari berbaur dengan tokoh
masyarakat nagari untuk menambah pengalaman yang bisa dijadikan bekal
menghadapi tantangan kehidupan. Menginggat situasi nagari yang sedang
menghadapi perang saudara masa pergolakan PRRI. Semuanya ikut aktif
membantu kegiatan-kegiatan tersebut.
Sebelum menjabat Wali Nagari, beliau dipercaya untuk memimpin Kampung
Koto Nan Tigo (Koto Panjang, Koto Merapak, Kayu Gadang) yang saat itu
tergabung dalam satu kampung masa pemerintahan Wali Nagari Muhammad Basir.
Pengalaman pemerintahan beliau terus bertambah bersama Wali Nagari. Hubungan
antar masyarakat terus dijalin dengan baik, itu terbukti dengan suksesnya hubungan
antara masyarakat dengan pemerintah nagari yang ditandai terbangunnya jalan
baru Sianok tembus hingga ke Nagari Amping Parak. Saat itu Wali Nagari adalah
Muhammad Basir dan Camat adalah Rasilin Idris sebagai perwakilan kecamatan
berbentuk Sutera. Berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut di atas beliau
dipercaya masyarakat untuk memimpin nagari untuk jadi Wali Nagari Surantih
melalui pemilihan oleh masyarakat secara langsung.
Kepemimpinan Wali Nagari Zainuddin Kesah dengan masa jabatan selama
dua periode (13 tahun). Dalam waktu yang cukup lama memimpin nagari, dilalui
beliau dengan sangat baik. Nagari Surantih berhasil dibawa sebagai nagari
pertanian penghasil beras terbesar di Kabupaten Pesisir Selatan ini. Berbagai
pengalaman telah dapat, baik dalam teknis pemerintahan dan kemasyarakatan,
sehingga dalam kepemimpinan beliau terukir prestasi yang sangat menonjol dan
tercatat sebagai Wali Nagari berprestasi.
Persoalan politik nagari beliau ikuti dalam naungan Partai Golongan Karya.
Setelah berhenti menjadi Wali Nagari beliau terpilih menjadi anggota DPRD
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
145
Kabupaten Pesisir Selatan sebagai utusan masyarakat Nagari Surantih.
Pengabdian beliau terhadap nagari dilanjutkan dengan ikut berperan serta dalam
membangun Kabupaten Pesisir Selatan melalui Lembaga Legislatif tersebut.
Dengan keberanian yang beliau miliki dan kharisma sebagai seorang
pemimpin. Maka dapat dilihat karya-karya beliau yang sangat bermanfaat bagi
masyarakat sampai sekarang ini, seperti :
1. Juara I Nagari Berprestasi Tingkat Kabupaten Pesisir Selatan dan Juara
II Nagari Berperstasi Tingkat Propinsi Sumatera Barat tahun 1974.
2. Pembangunan Irigasi Batang Surantih dan jalan bendungan untuk
menghubungkan Kayu Gadang - Ampalu sepanjang 2000 M.
a. Pembangunan jaringan PLN tenaga diesel sebanyak 2 unit,
pembangunan PLTD ini merupakan yang pertama di Kabupaten
Pesisir Selatan sebagai hadiah Nagari berprestasi tingkat Propinsi
pada tahun 1974.
b. Pembangunan Kantor Wali Nagari Surantih dengan bentuk bangunan
bagonjong pada tahun 1976-1977
c. Pembangunan Puskesmas Surantih
d. Pembangunan SMP Standar Nagari Surantih (SLTP I) Sutera tahun
1983
e. Pembangunan SD Inpres Cimpu, Koto Baru, Timbulun, Rawang dan
Koto Merapak
f. Pembangunan jalan desa dan pengerasan juga pengaspalan
pertama di Nagari Surantih.
3. Pembangunan Los Pasar Nagari Surantih untuk tukang cukur, los ikan
dan kelontong (sudah dipugar). Toko pasar nagari sebanyak 17 petak
tahun 1972/74.

6.2.3. Menuju Pemerintahan Desa.
Pada tahun 1982 pemerintahan pusat mencoba mewujudkan suatu
pembaharuan sistem administrasi pemerintahan. Beragam pendapat dan pikiran
lahir dari para negarawan, sehingga timbul suatu tekanan dari pemerintah pusat
pada daerah Minangkabau dan lainnya.
Keberadaan nagari sebenarnya sudah ada jauh sebelum Republik ini
memproklamasikan kemerdekaanya, bahkan di masa yang lalu Ranah Minang telah
berbentuk daerah yang memiliki sistem pemerintahan yang terorganisasi dibawah
kepemimpinan Penghulu. Dalam perkembangannya semasa pemerintahan Kolonial
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
146
Belanda, sistem yang diterapkan tidak merubah nagari-nagari yang telah memiliki
budaya dan adat yang telah diperkuat dengan hukum-hukum agama Islam.
Sehingga budaya tersebut menjadi landasan pedoman hidup masyarakat
Minangkabau.
Bila disimak perjalanan sistem banagari memang sering terusik
keberadaanya. Dari sistem yang ada berubah menjadi sistem yang baru dalam
tatanan pemerintahan yang dikembangkan oleh pemerintah kolonial. Tanpa disadari
perubahan demi perubahan yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda
membawa dampak yang sangat buruk. Masyarakat nagari tidak dapat lagi
merasakan perlindungan dari pimpinan nagari.
Setelah Indonesia merdeka, Soekarno dan Muhammad Hatta sebagai
Presiden dan Wakil Presiden pertama mencoba menerapkan sistem pemerintahan
nagari meskipun teknis pelaksanaannya beberapa kali mengalami perubahan
namun nama pemerintahan tetap bernama nagari dengan sistem penerapan
budaya lokal.
Setelah orde baru berkuasa melalui pemerintahan Presiden Soeharto,
kembali sistem pemerintahan nagari diutak atik melalui kebijakan pemerintah pusat
pada akhir perode tahun 1970an. Yaitu keluarnya peraturan pemerintah tentang
struktur pemerintahan terendah. Dampaknya pemerintah daerah tingkat I Propinsi
Sumatera Barat harus menerima dan menjalankan peraturan tersebut. Pemerintah
daerah mencari cara agar masyarakat, tokoh masyarakat dan para Penghulu-
penghulu, agar dapat mewujudkan sistem pemerintahan terendah nagari diganti
dengan sistem Pemerintahan Desa.
Dengan lahirnya Undang-undang No 5 tahun 1979 tentang susunan
pemerintahan terendah, di mana jorong/kampung dijadikan desa dalam wilayah
Negara Republik Indonesia yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa. Undang-
undang tersebut diperkuat oleh keputusan Gubernur Sumatera Barat yang saat itu
dijabat Ir. Harun Zein. Pemerintah daerah tingkat I Sumatera Barat melaksanakan
musyawarah besar dengan mengundang para Penghulu-penghulu. Berdasarkan
musyawarah tersebut, dengan mengingat dan menimbang perjalanan ke depan,
dalam diskusi tersebut akhirnya menerima sistem pemerintahan desa.
Berdasarkan hasil musyawarah tersebut, sistem pemerintahan di wilayah
Propinsi Sumatera Barat berubah menjadi pemerintahan desa. Hal ini ditandai
dengan terjadinya pemekaran nagari, kampung-kampung dijadikan satu desa yang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
147
dipimpin oleh seorang kepala desa. Sehingga Nagari Surantih yang dahulunya
diperintah oleh seorang Wali Nagari diganti 13 orang Kepala Desa.
Tahun 1982, dijadikan sebagai tahun pencanangan pemerintah daerah
untuk membentuk pemerintah desa. Wilayah Nagari Surantih dipecah menjadi 13
desa yang diusulkan lengkap dengan nama-nama desanya berdasarkan nama
kampung yang ada. Nagari Surantih yang masih dipimpin oleh Zainuddin Kesah
membentuk pejabat sementara kepala desa. Maka melalui surat keputusan Wali
Nagari, ditetapkan kepala kampung menjadi pejabat sementara kepala desa. Untuk
membentuk kepanitian dan calon kepala desa bersama Wali Nagari, calon tersebut
dipilih masyarakat desa melalui kotak suara didesa masing-masing.
Tanggal 1 Agustus 1983 di Nagari Surantih dilakukan pemilihan kepala desa
defenitif. Langkah awal dilaksanakan oleh Kampung Pasar Surantih setelah itu
disusul oleh kampung lainnya di Nagari Surantih. Hingga akhir tahun 1983,
pelaksanaan pemilihan kepala desa telah selesai. Sehingga kampung-kampung di
Nagari Surantih telah berubah menjadi desa. Hal ini sekaligus sebagai tanda
berakhirnya pemerintahan Nagari Surantih yang dipimpin Zainuddin Kesah.
Perjalanan pemerintahan desa semenjak tahun 1984 hingga tahun 1990
berjalan dengan baik, sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah
daerah dengan memberi wewenang Niniak Mamak dalam pengelolaan Pasar
Nagari dan ulayat nagari.
Sementara pemerintah desa menjalankan pemerintahan desa bersama
lembaga desa yang berbentuk Lembaga Masyarkat Desa (LMD) sebagai Lembaga
Legislatif yang diketuai oleh kepala desa. Begitu juga dengan lembaga yang disebut
dengan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), membantu kepala desa
dalam membangun desa, membuat perencanaan kemasyarakatan. Lembaga ini
masih dikendalikan oleh kepala desa sebagai ketua umum.
Dari analisa sistem tersebut memiliki kekuatan tersendiri bagi kepala desa
untuk berbuat, membangun dan merencanakan sistem yang diinginkan. Pemerintah
desa sebagai pemerintahan terendah sangat bertalian erat dengan pemerintahan
kecamatan yang dikendalikan oleh camat, sehingga nilai-nilai dan konsep bernagari
tidak berwujud lagi. Hal ini disebabkan oleh munculnya lembaga-lembaga seperti
LKMD dan LMD yang dikendalikan oleh kepala desa. Apalagi lembaga desa
tersebut tidak memiliki neraca anggaran sendiri, hanya menunggu kebijakan kepala
desa. Dengan berjalannya sistem tersebut, pengabdian seorang kepala desa
terhadap nagarinya sangat sulit untuk mewujudkan konsep kehidupan bernagari.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
148
Budaya bergotong-royong berangsur-angsur menghilang di tengah kehidupan
masyarakat. Dampaknya bisa dirasakan terhadap program pembangunan yang
berjalan sangat lamban karena sangat bergantung pada pemerintah daerah dan
pusat.
Ketokohan seorang kepala desa merupakan kebanggaan masyarakat desa
yang dapat diandalkan sebagai putra desa yang punya kelebihan yang luar biasa
sehingga ia dipilih dan dipercaya untuk memimpin desanya. Namun gerak langkah
yang tertahan dengan sistem yang ada sehingga tidak dapat berbuat banyak dalam
pengabdian sebagai anak desa
Dalam pemerintahan desa, masyarakat nagari mulai kehilangan jati diri
sebagai anak nagari yang berbudaya. Dahulu mereka bangga dipanggil sebagai
anak Nagari Surantih, sekarang orang memanggilnya sebagai anak desa. Rasa
terkotak-kotak mulai muncul dalam perilaku dan tindakan dari masyarakat dalam
kehidupan mereka sehari-hari. Generasi muda mulai bangga dengan masing-
masing desanya, dia tidak ingat lagi bahwa desa-desa mereka dahulunya satu
nagari, yaitu Surantih.
Dalam sistem pemerintahan desa masyarakat dimanjakan oleh pemerintah,
budaya gotong-royong tidak diutamakan lagi. Dampaknya pemerintah desa berjalan
sendiri tanpa banyak mendapatkan bantuan dari masyarakat. Tidak terasa sistem
yang diterapkan oleh Pemerintah Orde Baru yang pada dasarnya ingin mewujudkan
sistem pemerintahan dengan satu komando (terpusat). Sehingga diharapkan
munculnya satu pemerintahan yang seragam dalam budaya nasional. Secara tidak
langsung sistem ini ingin mewujudkan budaya nasional yang dapat mendikte dan
mengurangi budaya lokal.
Itu pula sebabnya secara perlahan-lahan terjadi perubahan struktur sosial
budaya masyarakat di Minangkabau yang diambil oleh Pemerintah Pusat, seperti :
1. Hilangnya budaya tanah ulayat
2. Timbulnya program sertifikasi, dahulunya tanah ulyat nagari sekarang
dipecah menjadi tanah perseorangan
3. Sehingga dari hal di atas nilai suatu kaum (pegangan Penghulu) semakin
berkurang dimata pemilik hak.

Untuk mewujudkan hal tersebut pengelolaan kekayaan nagari sebagian
diserahkan kepada Niniak Mamak yang disebut di nagari dengan KAN (Kerapatan
Adat Nagari), seperti : Pasar Nagari dan tanah ulayat nagari. Sehingga Niniak
Mamak dikala itu puas dan merasa dihargai sebagai pemilik nagari. Tak tik politik
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
149
dari Pemerintah Orde Baru sebagai upaya mensukseskan sistem sertifikasi dalam
Undang-undang Agraria. Secara perlahan-lahan program Pemerintah Orde Baru
dapat terwujud dengan tujuan menciptakan budaya nasional dalam kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berikut ini merupakan pejabat kepala desa di Nagari Surantih periode 1983
– 1990 dan periode 1990 – 1994 yang dipilih langsung oleh masyarakat

Tabel 4
PEJABAT KEPALA DESA DI NAGARI SURANTIH
PERIODE 1983 – 1990 DAN 1990 - 1994
No Desa Periode 1983 - 1990 Periode 1990 - 1994

Nama Kepala Desa
Periode 1990-1994
Nama Kades Kaum Desa

Nama Kades Kaum Desa
1 Pasar Surantih Marjati Razak Kampai Marjati Razak Kampai
2 Sungai Sirah Bustanudin Sikumbang Bahsri Hasan Caniago
3
Pasir Nan Panjang Marlis Rajo
Intan
Sikumbang Marlis Rj.
Intan
Sikumbang
4 Timbulun Busril Sikumbang Busril Sikumbang
5 Rawang Abu Syair/Kht.
Syamsi
Caniago
/Jambak
Rustam Caniago
6 Gunung Malelo Sharial Kampai Jamalus Kampai
7 Koto Panjang Zulbaidi Sikumbang Zulbaidi Sikumbang
8 Koto Merapak Azwil Caniago Azwil Caniago
9 Kayu Gadang Abu Samar Melayu Kharanis Melayu
10 Ampalu Kht. Kamaris Kampai Yusdi Sikumbang
11 Kayu Aro Rusli Sikumbang

Rusli

Sikumbang


12 Batu Bala Kht. Rasid Kampai Kht. Rasid Kampai
13 Langgai Mak Durus Sikumbang Mak Durus Sikumbang

Pemerintahan desa tahun 1990 kembali melaksanakan pemilihan kepala desa
yang baru. Masa jabatan kepala desa selama 7 tahun telah berakhir, maka
masyarakat kembali mencalonkan orang-orang desa yang terbaik dan punya
kemampuan. Wajah-wajah baru bermunculan pada pemilihan pimpinan desa-desa
di Nagari Surantih. Walaupun masih banyak wajah-wajah lama yang masih
dipercaya oleh masyarakat desa.
Pemerintahan desa yang telah berjalan selama dua periode, dalam kurun
waktu tersebut kembali terjadi perubahan sistem administrasi desa berdasarkan
peraturan daerah Kabupaten Pesisir Selatan yang dilandasi pada Keputusan
Gubernur Daerah Tingkat I Sumatera Barat untuk mengurangi jumlah desa di
Sumatera Barat. Tujuan dari keputusan ini adalah untuk meratakan pembangunan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
150
di desa agar lebih terarah dan punya daya guna tinggi untuk kepentingan
masyarakat desa.
Desa-desa di Sumatera Barat dan di Nagari Surantih khususnya digabung
berdasarkan jumlah penduduk dan status kultur desa masing-masing, sehingga di
Nagari Surantih di jadikan 7 desa. Tahun 1994 pengurangan beberapa desa
dilaksanakan di Nagari Surantih. Dalam pemilihan kepala desa di desa masing-
masing, pada pemilihan tersebut juga dilaksanakan pemilihan nama desa yang
digabung berdasarkan kesepakatan masyarakat. Nama-nama desa di Nagari
Surantih setelah dilakukannya pengabungan desa antara lain adalah :
1. Desa Gunung Rajo, desa ini merupakan gabungan dari Desa Pasar
Surantih dengan Desa Sungai Sirah. Kepala desa yang terpilih adalah
Marjati Razak.
2. Desa Aur Duri, desa ini merupakan gabungan dari Desa Pasir Nan
Panjang dengan Desa Timbulun. Kepala desa yang terpilih adalah Marlis
Rajo Intan
3. Desa Koto Nan Tigo, desa ini merupakan gabungan dari tiga desa, yaitu :
Desa Koto Panjang, Koto Merapak dan Kayu Gadang. Kepala desa yang
dipilih oleh masyarakat adalah Azwil Sura.
4. Desa Rawang Gunung Malelo, desa ini adalah gabungan dari dua desa
yaitu : Desa Rawang dengan Desa Gunung Malelo. Kepala desa yang
dipercayai masyarakat sebagai kepala desa adalah Rustam.
5. Desa Ampalu merupakan salah satu desa yang tidak mengalami
pengabungan desa-desa di Nagari Surantih. Hal ini disebabkan faktor
alam yang tidak memungkinkan desa ini dilebur dengan desa lain yang
berdekatan. Kepala desa yang dipilih masyarakat adalah Kht. Kamaris.
6. Desa Kayu Aro Batu Bala, merupakan desa gabungan dari desa Kayu Aro
dan Batu Bala. Kepala desa yang dipilih adalah Kht. Rasid
7. Desa Langgai merupakan desa kedua yang tidak mengalami
pengabungan, sama halnya dengan Ampalu, faktor kondisi geografis
menjadikan desa ini berdiri sendiri. Kepala desa yang dipilih adalah Ali
Umar

Setelah proses pemilihan selesai, pemerintah daerah menetapkan kepala
desa yang dipilih langsung oleh masyarakat untuk memimpin desa-desanya. Secara
tidak langsung di Nagari Surantih telah resmi menjadi 7 desa. Meskipun demikian,
sistem pemerintahan yang diterapkan masih mengunakan sistem pemerintahan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
151
desa sebelumnya. Selama sejarah perjalanan pemerintahan desa di Nagari
Surantih, pembangunan dan perubahan yang dilaksanakan oleh pemerintah desa
yang ada dapat dilihat dari hasil kegiatan pembangunan yang dilakukan, antara lain:

1. Daerah Ganting Mudik, Desa Ampalu, Kayu aro, Batu Bala dan Langgai.
Sebelum dibangunnya dua buah jembatan gantung yang selesai pada
tahun 1993, daerah tersebut masih dikategorikan sebagai daerah terisolir.
Hal ini dikarenakan belum dapatnya sarana jalan yang dapat dilalui oleh
kendaraan. Masyarakat pada saat itu masih memanfaatkan sungai
sebagai sarana transportasi dengan mengunakan sampan dan rakit. Ada
juga yang berjalan kaki untuk mendatangi Pasar Nagari. Pada tahun 1996,

Gambar 19
Bupati Darizal Basir




masa pemerintahan Bupati Darizal Basir,
dilakukanlah pelebaran dan pengerasan jalan
ke daerah-daerah tersebut, kemudian
dilanjutkan dengan perbaikan-perbaikan
hingga bisa dilalui oleh kendaraan roda empat.
Pada tahun 1993, masyarakat Gantiang
Mudiak melakukan gotong royong bersama
untuk membuat jalan baru mulai dari Kampung
Ampalu menuju pangkal jembatan gantung,
sepanjang 800 meter, dengan swadaya
masyarakat beserta Muspika Sutera.






Gambar 20
Jembatan Gantung Ampalu – Kayu Aro
(Jembatan Penghubung Kampung Ampalu dengan Kayu Aro. Pada Tahun 2000
Jembatan Ini Putus Akibat Diterjang Banjir Bandang Batang Surantih, Kemudian Dibangun Lagi)
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
152
2. Pembangunan jalan dilakukan di Desa Koto Nan Tigo, pembangunan
jalan baru di Lambung Bukik menuju Singkulan dan Ampalu (sepanjang
2500 M). Jalan ini bisa dimanfaatkan masyarakat hingga akhirnya
dihantam oleh banjir luapan dari air Batang Surantih. Pada kepemimpinan
Kepala Desa Azwir Sura, masyarakat juga telah dapat memanfaatkan jalan
pematang banda menuju Nagari Amping Parak (1999).
3. Desa Koto Panjang pada masa kepemimpinan Kepala Desa Zulbaidi,
dilaksanakan pembangunan jalan baru Gunung Giriak Sianok (sepanjang
2000 M) menuju jalan pematang Banda. Kegiatan terlaksana didukung
dengan memanfaatkan Dana P3DT
4. Di Desa Aur Duri dilakukan pembangunan jalan baru pada masa
kepemimpinan Kepala Desa Marlis Rajo Intan, yaitu pembangunan jalan
lingkar Koto Baru menuju Padang Limau Manih dan membangun jalan
baru Rawang Pasir Nan Panjang sehingga menjadi daerah pusat
peternakan Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 1999/2000 (sepanjang 2500
M) yang menghubungkan jalan pematang Banda dan Amping Parak.
5. Desa Gunung Rajo pada masa kepemimpinan Kepala Desa Marjati Razak
dilakukan pembangunan jalan pantai Padang Api-api dan jalan Pantai
Pasir Jambak menuju Sungai Sirah (sepanjang 4000 M).
6. Desa Rawang Gunung Malelo masa pemerintahan Kepala Desa Rustam
dilakukan pembangunan jalan baru Tabek ke Sialang dan Gunung Malelo
(sepanjang 3000 M). Perbaikan jalan menuju Simpuding dengan
jembatannya ditambah lagi membuat jalan lingkar menuju Teratak berkerja
sama dengan Kepala Desa Teratak.
7. Kepala Desa Basri Hasan di Sungai Sira[h] melakukan pembangunan jalan
lingkar sepanjang 1200 M dan jalan lingkar menuju jalan pantai Sungai
Sirah sepanjang 800 M.

Selama pemerintahan desa berjalan di Nagari Surantih yang berakhir tahun
2001, banyak karya dari kepala desa yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
hingga saat ini. Tentunya tidak semua dapat digambarkan dalam kesempatan ini,
seperti Tanah desa di tiap-tiap desa, pembangunan sekolah dan sarana kesehatan.
Walaupun Nagari Surantih telah terpisah secara pemerintahan, namun adat
dan budaya tetap mengalir secara bersamaan dalam satu Nagari Surantih. Adat dan
budaya tetap dipertahankan dan dimiliki dalam dekap perlindungan Lembaga Adat.
Para Niniak Mamak yang ada dalam Lembaga Kerapatan Adat Nagari (KAN),
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
153
merupakan elemen yang kuat memperjuangkan hal ini. Lembaga ini terus berjalan
di sela-sela pemerintahan desa yang tetap mempertahankan nama Nagari Surantih.
Usaha untuk merangkul dan mengikat ke tujuh desa, walaupun hanya memiliki
kekuatan tentang tanah nagari dan tanah ulayat nagari. Wewenang yang terbatas
dalam sistem pemerintahan desa, namun hak untuk melihatkan fungsi
kepenghuluan tetap saja berjalan baik.
Proses panjang perjalanan pemerintahan desa di Ranah Minang berjalan
mencemaskan dan mengkhawatir akan warisan budaya dan adat yang telah
berlangsung akan menghilang secara berangsur-angsur dari pengetahuan para
generasi yang akan datang.

6.2.4. Menuju Kecamatan Sutera
Nagari Surantih semenjak zaman dahulunya merupakan bagian dari
Kecamatan Batang Kapas yang ibu kecatamannya berada di Pasar Kuok. Pada
masa daerah ini menjadi daerah darurat militer, saat pemerintahan Sumatera Barat
dan Pesisir Selatan mengalami pergolakan atau kesalahpahaman politik hingga
pemerintahan di propinsi mengalami kekosongan kekuasaan. Hal ini disebabkan
oleh munculnya gerakan PRRI. Dalam pemulihan keadaan saat itu, Nagari Surantih,
Amping Parak dan Teratak membentuk satu kecamatan yang diberi nama Sutera.
Nama ini diambil dari singkatan nama-nama ketiga daerah tersebut yaitu : Surantih,
Teratak dan Amping Parak. Pada saat itu diangkatlah Rasilin Idris sebagai camat
dari Kecamatan Sutera yang juga merupakan tokoh pencetus bersama tiga Wali
Nagari yang ada saat itu. Wali Nagari Surantih Muhammad Basir, Wali Nagari
Teratak Rusli Dt. Rajo Malenggang dan Wali Nagari Amping Parak Djarum Dt. Rajo
Bagampo. Unsur lain adalah Komandan Militer Letnan Bahar dari Yonif 142
Gumarang. Musyawarah yang dilaksanakan pada saat itu dikenal dengan
musyawarah Sutera I. Peristiwa inilah yang dijadikan dasar cikal bakal nama
kecamatan di nagari ini.
Berangkat dari hal di atas, didorong dengan mulai bertambahnya jumlah
penduduk ditiap-tiap nagari. Sedangkan jarak nagari dengan ibu kecamatan sangat
jauh, lebih kurang 17 KM. Urusan masyarakat semakin tinggi intensitasnya ke ibu
kecamatan Batang Kapas di Pasar Kuok yang dijadikan pusat perkantoran Muspika
seperti Kantor Urusan Agama, POLSEK, DANRAMIL, Pos dan Giro, dan Dinas
Pendidikan. Sementara itu persoalan anak nagari semakin banyak dan beragam,
semua harus diselesaikan ke Pasar Kuok. Dalam urusan ini masyarakat harus
mengeluarkan biaya yang banyak.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
154
Didasari oleh persoalan yang di atas serta keinginan dari masyarakat dan
tokoh masyarakat yang ada untuk diusulkan pada Pemerintah Daerah. Pemerintah
daerah bersama DPRD Pesisir Selatan membahas masalah ini dan menetapkan
kebijakan untuk membentuk dua perwakilan kecamatan baru di Kabupaten Pesisir
Selatan. Berdasarkan surat keputusan Presiden Republik Indonesia tentang
pemerintahan kecamatan yang diusulkan di Sumatera Barat dan daerah lainnya
dilakukanlah pemekaran kecamatan tersebut. Dua perwakilan kecamatan hasil
pemekaran yang dilakukan di Kabupaten Pesisir Selatan adalah :
1. Kecamatan Batang Kapas membentuk perwakilan Kecamatan Sutera,
wilayahnya terdiri atas tiga nagari yaitu Surantih, Teratak dan Amping
Parak yang didalamnya terdapat 14 desa.
2. Kecamatan Linggo Sari Baganti ibu kecamatannya adalah Air Haji,
awalnya adalah wilayah dari kecamatan perwakilan Ranah Pesisir.

Tanggal 13 Januari 1986 Bupati Pesisir Selatan Ismael Lengah. SH. Melantik
camat perwakilan Batang Kapas yang baru (kec. Sutera) atas nama Arlis Sahur.
Maka semenjak itu kecamatan perwakilan di Sutera mulai melaksanakan aktivitas
pemerintahan untuk memberikan pelayanan pada masyarakat di nagari ini.
Dalam sejarah perjalanan pemerintahan Kecamatan Perwakilan Sutera yang
pernah menjabat sebagai Camat Perwakilan Sutera adalah sebagai berikut.
1. Arlis Sahur, masa tugas tahun 1986 – 1991
2. Miswar BA, masa tugas tahun 1991 – 1993
3. Zaitul Mahruf. Bsc, masa tugas tahun 1993 – 1994
4. Drs. Muslim Tan, masa tugas tahun 1994 – 1996

Terselengaranya tata pemerintahan kecamatan yang berkedudukan di
Surantih, berarti semakin lancar hubungan masyarakat dengan pemerintah
kecamatan sedangkan konsep pembangunan di Kecamatan Sutera semakin jelas
dan lebih terarah dengan baik. Camat dapat berkoodinasi secara langsung dengan
masyarakat. Dilihat kondisi nagari sebelumnya masih kurang, dengan kehidupan
masyarakat yang miskin dan kehidupan yang terbelakang. Sekarang sudah mulai
berangsur mengalami perbaikan dan dapat melihatkan jati diri nagari yang
sebenarnya. Dengan sumber daya nagari yang memiliki tanah yang subur dan kaya
akan sumber daya alamnya mulai mencuat dan siap bersaing dengan kecamatan
lainnya di Kabupaten Pesisir Selatan.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
155
Melalui beberapa Repelita di masa pemerintahan Orde Baru yang dimulai
dengan digantinya pemerintahan terendah nagari dengan pemerintahan desa.
Mendorong arah pembangunan yang membawa dampak positif dalam kehidupan
masyarakat, meskipun teknis pemerintahan tidak cocok dengan budaya yang ada.
Setelah 10 tahun kecamatan perwakilan berjalan, pemerintah Propinsi
Sumatera Barat mengeluarkan surat keputusan untuk menindak lanjuti surat
Keputusan Presiden terdahulu tentang pembentukan Kecamatan Perwakilan. Status
kecamatan perwakilan kemudian diubah menjadi kecamatan defenitif. Pada tanggal
30 Januari 1996, diresmikanlah Kecamatan Perwakilan menjadi kecamatan defenitif
di Sumatera Barat oleh Gubernur Hasan Basri Durin. Sebanyak 11 kecamatan
diresmikan menjadi kecamatan yang defenitif, di mana upacara peresmian dan
penanda tanganan prasastinya di pusatkan di Nagari Surantih yang dilaksanakan di
Lapangan Bola Gadih Basanai desa Gunung Rajo Surantih, oleh Gubernur
Sumatera Barat, Bapak Hasan Basri Durin. Acara ini dihadiri oleh Camat-camat
yang akan dilantik beserta dengan para Bupati.


Gambar 21
Penandatanganan Prasasti Peresmian Kecamatan Baru Propinsi Sumatera Barat
Oleh Gubernur Sumatera Barat Hasan Basri Durin
(Pada Gambar Terlihat Gubernur Didampingi Oleh Bupati Darizal Basir (Kab. Pesisir Selatan),
Gamawan Fauzi (Kab. Solok) dan Masdar Saisa (Kab. Tanah Datar)

Terhitung semenjak tanggal 30 Januari 1996 resmilah Sutera menjadi satu
kecamatan yang defenitif. Camat Kecamatan Sutera yang pertama dijabat oleh Drs.
Rubais yang dilantik oleh Bupati Pesisir Selatan Darizal Basir. Dalam sejarah
perjalanan pemerintahan Kecamatan Sutera yang pernah menjadi Camat
Kecamatan Sutera antara lain :
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
156
1. Drs. Rubais, masa jabatan 30 Januari 1996 – 13 Maret 1999
2. Drs. Muslim Tan, masa jabatan 13 Maret 1999 – 21 Maret 2001
3. Drs. Suardi S, masa jabatan 21 Maret 2001 – 20 Maret 2006
4. Drs, Feri, masa jabatan 20 Maret 2006 –

6.3. Kembali Ke Pemerintahan Nagari
6.3.1. Kebanggaan Pemerintahan Nagari
Adat dan budaya merupakan landasan kuat dalam sistem pemerintahan
nagari di Minangkabau. Musyawarah dan mufakat merupakan landasan yang kokoh
dalam memperkuat azas kebersamaan yang menjadi rasa pemersatu bahwa nagari
ini adalah milik bersama akan tercermin. Dalam setiap tindakan untuk berbuat,
membangun dan menjaga secara bersama. Maka timbullah tradisi membangun
dengan landasan gotong-royong melekat dan menjadi tradisi dan budaya dalam
nagari.
Sistem pemerintahan nagari sangat didambakan di Ranah Minang ini
kembali dapat berjalan dalam memimpin sanak (kaum) dan kamanakan di nagari.
Fenomena dan dialektika dalam sistem hukum adat melahirkan suatu kiat yang unik
dalam menjalankan roda pemerintahan terendah di Alam Minangkabau. Dengan
memanfaatkan sumber daya manusia yang ada dalam nagari tersebut, merupakan
salah satu faktor penunjang dalam memecahkan bermacam persoalan dan
pembangunan yang dibutuhkan nagari.
“Kamanakan barajo ka Mamak, Mamak barajo ka Panghulu, Panghulu
barajo ka mufakat (bana), nan ketek dimuliakan nan gadang dilawan baiyo nan tuo
dihormati” konsep inilah yang menjadi dasar pijakan atau mengajak dan
menumbuhkan rasa hidup banagari. Untuk mau sama-sama membangun demi
kepentingan nagari, adat dan tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun
sejak dahulu. Teknis pemerintahan yang dasar tidak tertulis, untuk pelaksanaannya
diperoleh dengan membaur di tengah-tengah budaya nagari.
Tali Tigo Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan”. Unsur-unsur tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut :
 Unsur Cadiak pandai disebut juga unsur pemerintah
 Unsur Alim Ulama disebut juga raja ibadat
 Unsur Niniak Mamak disebut juga unsur raja adat.


Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
157
Unsur-unsur tersebut memiliki tugas masing-masing dan memiliki keahlian
sebagai motor pengerak pemerintahan nagari, berperan serta dalam pembangunan
dan memelihara kerukunan hidup berbudaya dalam menjunjung tinggi nilai-nilai
agama. Tiga unsur ini harus berjalan seiring secara harmonis karena sama-sama
punya tanggung jawab yang berbeda dengan satu tujuan mempertahankan budaya
dan adat.

6.3.2. Tiga Unsur Nagari
Dalam menyemarakkan sistem pemerintahan nagari berarti kembali pula
membentuk sistem kerja sama antara lembaga masyarakat dengan pemerintah
yang disebut “tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan. Adat nan Kawi, Sarak nan
lazim undang nan baukie”. Keterlibatan unsur-unsur yang ada dalam masyarakat,
tertuang dalam peraturan daerah sehingga konsep pembangunan nagari dalam
menerapkan adat dan budaya lebih jelas dan terarah sebagai nagari berbudaya
tinggi.
Untuk mewujudkan masyarakat Minang yang madani, berakhlak dan
bermoral, terbuka, ramah, dinamis dan sejahtera. Antara agama dan adat haruslah
dipelajari secara dalam dengan sistem kata adat “kiajo bauntuak pagang
bamasiang. Adat basandi Sarak, Sarak basandi Kitabullah. Adat mangato, adat
mamakai, sanda manyanda kaduonyo”.
1. Kepemimpinan Niniak Mamak, dikenal sebagai Urang Nan Bajiniah.
Mereka itu merupakan fungsional adat yang harus diberdayakan dengan
baik menurut kerja yang ditetapkan sebagai Raja Adat pemegang adat jo
limbago
2. Sedangkan dalam tugas Alim Ulama sebagai Raja Ibadah di
Minangkabau menegakan hukum titah Allah, agar masyarakat nagari
menjadi orang taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
3. Unsur ketiga merupakan unsur pemerintahan atau disebut dengan Raja
Alam. Sebagai koordinator adat dan ibadat sering orang menyebut
sebagai golongan cadik pandai.

Ketiga unsur tersebut merupakan pedoman dan penuntun bagi masyarakat
dalam bertindak dan mematuhi titah yang ada sebagai pedoman dan landasan
hidup masyarakat nagari. Sebagai pusako yang diwarisi dalam menjalankan
pemerintahan yang terendah lebih terarah dengan baik, idealnya Sarak mangato di
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
158





NAGARI
Ulama, Penghulu hutang nan mamakaikan, undang dipegang dan dijalankan
pemerintah, bak kata adat :

Ka mudiak sarantak galah, ka ilia sarantak dayung
Sakato lahia jo batin, sasuai muluik jo hati
Saukeh mako manjadi, sasuai mako takana
Kato surang dibulati, kato basamo paiyokan

Kata adat sudah menampakan suatu kebersamaan dalam cara hidup dalam
pemerintahan nagari untuk dikembangkan di tengah masyarakat. Di bawah ini dapat
dilihat sistem pemerintahan nagari dengan tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan

Skema 5
SISTEM PEMERINTAHAN NAGARI
DENGAN TALI TIGO SAPILIN TIGO TUNGKU SAJARANGAN








Tiga unsur yang telah diwariskan sebelum Indonesia merdeka terus berjalan
sesuai dengan situasi dan kondisi serta bermacam peristiwa yang telah dilalui
hingga kembali lagi pada wujudnya sebagai anak nagari.
Dari perjalanan waktu yang panjang, bahwa unsur-unsur tersebut lahir
sendiri-sendiri dan terus berevolusi. Sekarang masih dirasakan nilai-nilai budaya
yang tinggi dengan penuh keunikan dan nilai historis. Fakta dan kekuatan yang
tidak dapat disangsikan dalam proses penyesuaian sehingga tiga unsur tersebut
Unsur
ninik mamak
pemegang adat jo
limbago
(raja adat)
Unsur Alim Ulama
Menegakan hukum
titah. Allah
(raja Ibadat)
Unsur cadik pandai
Pemegang UU
Negara Koordinator
adat dan sarak
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
159
menyatu dengan tugas berbeda sehingga sangat cocok dan serasi untuk disatukan
dan sejalan membentuk budaya banagari di alam Minangkabau.
Sekarang telah diwariskan karya besar berupa adat dan tradisi, sebagai
anak nagari berkewajiban untuk melestarikan, menjaga dari pengaruh budaya lain
secara bersama-sama mengembalikan pada wujud semula. Maka haruslah terlebih
dahulu memahami arti adat dan budaya itu sendiri.

6.3.3. Langkah Kembali Banagari

“Cameh adat nan ka abih
Rusuah limbago nan ka lungga
Ikeknyo nan lungga”

A.A. Navis seorang budayawan, risau tentang masyarakat Minangkabau.
Beliau sengaja menulis sebuah buku sebagai pelimpahan rasa cemas perasaannya.
Buku tersebut beliau beri judul “Robohnya Surau Kami”. Dalam buku ini
digambarkan bahwa masyarakat Minang mulai kehilangan identitas yang amat
dibanggakan selama ini. Lantaran sistem pemerintahan nagari diganti dengan
sistem pemerintahan desa. Sehingga kebutuhan masyarakat adat di nagari mulai
pecah dan terkoyak-koyak.
Rasa tidak senang dan tidak puas muncul dari kalangan tokoh-tokoh dan
pakar adat. Namun hal ini tidak menjadi halangan bagi pemerintah untuk menuju
perubahan pemerintahan desa tersebut. Perjalanan panjang pemerintahan desa,
berjalan menurut peraturan yang ada dengan menciptakan sistem pemerintahan
yang seragam secara nasional sehingga sistem tersebut menjadi lambang
kesuksesan Pemerintahan Orde Baru.
Dalam kurun waktu hampir 20 tahun, tanpa disadari telah berbagai macam
hikmah dan makna yang dilihat berlangsungnya perubahan. Berkembang pesatnya
teknologi informasi memberikan dampak yang sangat kuat terhadap budaya
Minang. Apalagi dampak negatif dari pengaruh tersebut semakin memperparah
kondisi dan keadaan, seperti di Ranah Minang ini. Realita sudah terlihat, tanpa
disadari generasi muda semakin menjauh dari budaya asli. Akibatnya, adat yang
selama ini dibanggakan dianggap kuno oleh anak kamanakan sendiri. Mereka lebih
cenderung menjadikan budaya barat sebagai pedoman dan gaya hidup mereka,
sehingga timbul beberapa kebiasaan baru, seperti makan prasmanan. Kebiasaan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
160
lama ada yang hilang, seperti memakai pakaian kebaya, yang dilihat lebih indah dan
keibuan.
Penerapan sistem nagari yang dulu pernah ada memang sulit untuk
diterapkan cepat secara bersama dengan sikap regenerasi berani untuk merenovasi
total terhadap sikap perilaku sosial masyarakat. Begitu juga pemerintah daerah
harus serius dan bekerja keras. Sama-sama punya niat untuk mengembalikan nilai
adat dan agama dalam kehidupan masyarakat nagari. Dengan menghidupkan
struktur tali tigo sapilin, dengan memberi kewenangan. Seperti kata pepatah “Kiajo
bauntuk pagang bamasiang” tidak mengintervensi apa yang telah ditetapkan. Sebab
dalam budaya Minang terkandung nilai musyawarah dan beda pendapat itu
dicerminkan dalam ungkapan gurindam yang berbunyi “ Pincalang anak rang Tiku,
sadang balaia lah di tangah lauik. Basilang kayu di dalam tungku, disinan api
makonyo kok iduik”.
Ungkapan ini merupakan keputusan mendasar untuk mengajak musyawarah
dan mufakat dalam tata cara pemecahan persoalan. Namun sekarang banyak
dilihat perilaku yang tak sesuai dengan apa yang diharapkan, hal ini disebabkan :
 Penghulu tidak lagi seandiko
 Sarak tidak lagi sakitab
 Undang jalan sendirian

Selama masyarakat hidup dalam pengaruh penjajah dan disambung dengan
sistem pemerintahan desa. Masyarakat Minang sudah banyak dipengaruhi oleh pola
pikiran materialisme dan sikap individualis yang ada dalam jiwa. Masyarakat Minang
merasa tidak peduli lagi akan arti budaya, inillah yang harus diperbaiki.
Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, dari keinginan dan harapan
masyarakat untuk kembali bernagari. Didorong oleh kebutuhan masyarakat
Minangkabau perubahan sistem pemerintahan dan rasa bangga menjadi anak
nagari dari pada menjadi anak desa.
Melalui kebijakan pemerintah pusat pada masa kepemimpinan presiden
Abdul Rahman Wahid (Gus Dur) dikeluarkan Peraturan Negara dalam Undang –
undang No 22 tahun 1999 tentang pemberian hak pada pemerintah untuk menganut
azas otonomi daerah. Dibawah kepemimpinan Gubernur Zainal Bakar, bersama
dengan tokoh masyarakat, adat dan agama, menyambut gembira peluang ini untuk
kembali ke sistem pemerintahan nagari. Ingin meraih kembali pusako yang hilang.
Diawali oleh musyawarah besar tanggal 3 – 5 desember 1999 di Padang, dengan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
161
menghadirkan 543 orang ketua KAN dan Ketua LKAAM Sesumatera Barat. Dalam
rangka menyambut kembali sistem pemerintahan nagari dan pembuatan serta
pembahasan peraturan nagari yang akan dikeluarkan oleh pemerintah.
Berdasarkan hasil musyawarah tersebut, pemerintah Propinsi Sumatera
Barat mengeluarkan Peraturan Daerah No 9 tahun 2000 tentang pokok-pokok
perubahan pemerintahan desa di Sumatera Barat untuk diganti kembali ke
pemerintahan nagari. Peraturan tersebut menjadi landasan bagi kabupaten di
Sumatera Barat termasuk Pesisir Selatan, dengan menetapkan pula delapan buah
peraturan daerah Tingkat II Pesisir Selatan. Mulai dari PERDA No 17 tahun 2001
hingga No 24 tahun 2001. Keluarnya aturan tersebut secara hukum nagari
merupakan kesatuan masyarakat adat yang mempunyai wilayah tertentu, batas-
batasnya mempunyai harta benda dan kekayaan sendiri, berhak pula mengatur dan
mengurus rumah tangganya sendiri. Begitu juga dalam memilih pemerintahan
secara demokrasi. Nagari terbentuk berdasarkan kesepakatan masyarakat untuk
pengaturan dan mengelola hidup bernagari, tentunya sesuai denga nilai-nilai
budaya yang ada.
Dengan keluarnya peraturan daerah tersebut mendorong kembalinya
peraturan sistem pemerintahan desa menjadi pemerintahan nagari langkah awal
dimulainya sosialisasi dan rapat-rapat di nagari yang disponsori oleh Lembaga
Kerapatan Adat Nagari dan tim kembali banagari. Inilah yang berkerja keras dan
membentuk panitia persiapan pemilihan pejabat sementara Wali Nagari Surantih
guna untuk menjalankan roda pemerintahan yang berbasis nagari dan sekaligus
pelaksanaan pembentukan Lembaga Nagari seperti DPN (Dewan Perwakilan
Nagari) dan BMAS (Badan Musyawarah Adat Sarak). DPN melaksanakan
penjaringan calon Wali Nagari yang diikut sertakan dalam pemilihan Wali Nagari
yang defenitif.
Susunan panitia pemilihan pejabat sementara Wali Nagari Surantih yang
diketuai oleh lembaga Kerapatan Adat Nagari, susunan pengurus tersebut antara
lain sebagai berikut.
 Ketua : Kasib Datuk Rajo Malenggang
 Wakil ketua : Rusli Datuk Rajo Batua
 Skeretaris : Syaripudin Datuk Rajo Bintang

Susunan struktur ini ditambah beberapa orang anggota dan bendahara.
Tugas panitia berjalan dengan baik. Hal ini ditandai dengan hadirnya 148 orang di
aula kantor Camat Sutera pada bulan Oktober tahun 2001 untuk memilih pejabat
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
162
sementara Wali Nagari Surantih. Utusan yang hadir datang dari unsur-unsur yang
ada mewakili tiap-tiap desa yang ada di Nagari Surantih. Teknis pemilihan dilakukan
secara voting, dari proses pemilihan yang dilakukan terpilihlah dari utusan generasi
muda yaitu : Almasri Syamsi dari Kaum Sikumbang Kampung Pasar Surantih dan
saat itu resmi menjabat sebagai pejabat sementara Wali Nagari Surantih yang
ditetapkan melalui surat keputusan Bupati Pesisir Selatan Drs. Darizal Basir MBA
No 141/149/BPT – PS/2001 – 13 November 2001 hingga terpilih kembali sebagai
Wali Nagari defenitif yang baru.


Gambar 22
Kantor Wali Nagari Surantih (1978/1979)
(Saksi Sejarah Perjalanan Nagari Surantih dan Kembalinya Pemerintahan Nagari Di Surantih,
Sebelumnya adalah Kantor Camat Sutera
Pada Tahun 2003 Kembali Digunakan Sebagai Kantor Wali Nagari Surantih)

Dalam menjalankan roda pemerintahan Nagari Surantih oleh pejabat
sementara Wali Nagari Surantih mengangkat seorang sekretaris yaitu Syarifudin Dt,
Rajo Bintang dari Kaum Kampai Padang Limau Manih Kampung Timbulun
basumando ke Kaum Sikumbang Dt. Rajo Indo Kampung Pasar Surantih. Setelah
struktur pemerintahan tersusun dengan baik, pemerintahan nagari yang dipimpin
oleh Almasri Syamsi bersama Syarifudin Dt. Rajo Bintang. Pada bulan Februari
2002 melaksanakan pemilihan anggota DPN ke kampung-kampung bersama tim
nagari untuk memilih anggota utusan kampung, masing-masing 1 orang menurut
jumlah penduduk kampung ditambah utusan Bundo Kandung dan PKK Nagari.
Jumlah anggota DPN di Nagari Surantih sebanyak 15 orang. Dari jumlah anggota
tersebut tersebut terpilih sebagai ketua DPN Nagari Surantih adalah Hendri Amd.
Masa jabatan 2002 – 2007, pada tahun 2004 diganti oleh Arfen Joni karena ketua
yang lama mengundurkan diri.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
163
SUSUNAN ANGGOTA DPN SURANTIH MASA JABATAN 2002 – 2007
1

Ketua DPN

Gambar 23
Arfen Joni.









Jabatan Ketua DPN dijabat oleh Arfen Joni
yang sebelumnya dijabat oleh Hendri Amd.
yang mengundurkan diri. Menamatkan
pendidikan pada jenjang pendidikan SLTA,
pemuda Kaum Kampai ini menjadi utusan
Kampung Ampalu yang berasal generasi
muda. Pengalaman sebelum menjadi Ketua
DPN adalah sebagai Sekretaris Desa dan organisasi pemuda, serta pembina
Remaja Mesjid Desa Ampalu.
2 Wakil Ketua DPN

Gambar 24
Dalisman


















Jabatan Wakil Ketua DPN dijabat oleh
Dalisman, dilahirkan dalam Kaum
Sikumbang. Jenjang pendidikan yang dijalani
adalah Thawalib Candung di Bukittinggi.
Dalam kepengurasan DPN 2002 – 2007
merupakan utusan masyarakat dari Kampung
Langgai yang mewakili unsur Alim Ulama.
Pengalaman lainnya adalah sebagai Wakil Ke tua Partai Golkar Kecamatan
Sutera dan pendiri Pesantren Sabilul Jannah. Dan saat ini menjadi Ketua
Partai PKS Kecamatan Sutera. Disamping itu beliau juga dikenal sebagai
mubaligh kondang Nagari Surantih.,
3 Wakil Ketua DPN

Gambar 25
Rajabul Ikhsan







Jabatan Wakil Ketua DPN berikutnya adalah
Rajabul Ikhsan yang berasal dari Kaum
Kampai. Pendidikan terakhir yang dijalani
adalah setingkat SLTA. Dalam kepengurusan
DPN 2002 – 2007 merupakan utusan pilihan
masyarakat Pasie Nan Panjang yang berasal
dari generasi muda. Pengalamannya adalah









sebagai Ketua Partai PPP zaman Orde Baru, sekarang berkiprah sebagai
Ketua Partai Bulan Bintang Kecamatan Sutera. Beliau juga aktif dalam Karang
Taruna di Pasir Nan Panjang,

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
164
4

4
Anggota DPN

Gambar 26
Hendri Amd.

Hendri Amd. Berasal dari Kaum Jambak.
Jenjang pendidikan terakhir yang pernah
diikuti adalah Diploma 1 AMIK Padang.
Anggota DPN kepengurusan 2002 – 2007 ini
merupakan utusan dari masyarakat Pasar
Surantih yang mewakili generasi muda.
Pengalaman terakhir pernah menjabat Wakil


Ketua Partai PAN Kecamatan Sutera dan Kaur Keuangan masa Pjs. Wali
Nagari. Aktif dalam organisasi pemuda Samudera Pasar Surantih dan pernah
menjabat sebagai Ketua PSPS Pasar Surantih.

5 Anggota DPN

Gambar 27
Japril Mais. K


Jafril Mais Kasari. Spd. Berasal dari Kaum
Sikumbang Pasar Surantih. Jenjang
pendidikan terakhir yang diikuti adalah S1
Pendidikan IKIP Padang. Dalam
kepengurusan DPN Surantih tahun 2002 –
2007 menjadi perwakilan dari masyarakat
Kampung Pasar Surantih wilayah Cimpu yang
merupakan perwakilan dari generasi muda. Tugas sehari-hari adalah sebagai
guru di SMAN 1 Sutera dan aktif dalam organisasi pemuda serta pembina
Remaja Islam Mesjid Surau Mangga




6 Anggota DPN

Gambar 28
Masnah Spd.









Masnah Spd. Merupakan guru SMP 1 Sutera
ini berasal dari Kaum Sikumbang Kampung
Pasar Surantih. Jenjang pendidikan terakhir
yang diikuti adalah S1 IKIP Padang. Pada
kepengurusan DPN Surantih masa kerja 2002
–2007 ini menjadi perwakilan dari masyarakat
Kampung Pasar Surantih dari unsur Bundo
Kanduang. Sehari-hari bertugas sebagai guru SMPN 1 Sutera, dan aktif
dalam organisasi ibu-ibu Nagari Surantih.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
165
7 Anggota DPN

Gambar 29
Basri Hasan











Basri Hasan, berasal dari kaum Caniago
Sungai Sirah. Pendidikan terakhir yang
pernah diikuti adalah Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama. Dalam kepengurusan DPN
Surantih masa kerja 2002 – 2007 ini menjadi
perwakilan masyarakat Kampung Sungai
Sirah yang mewakili unsur Cadiak Pandai.
Pengalaman terakhir sebagai Kepala Desa Sungai Sirah, dan sebagai Ketua
Koperasi Batu Mandamai di Nagari Surantih.
8

Anggota DPN

Gambar 30
Abu Nawas









Abu Nawas, berasal dari Kaum Sikumbang
Kampung Rawang. Jenjang pendidikan
terakhir yang pernah diikuti adalah Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama. Pada
kepengurusan DPN Surantih masa kerja 2002
– 2007 ini menjadi perwakilan masyarakat
Kampung Rawang mewakili unsur Cadiak
Pandai. Pengalamannya adalah sebagai penguruis mesjid dan tokoh
masyarakat Rawang.
9

Anggota DPN

Gambar 31
Kht Rafilis








Kht. Rafilis, berasal dari Kaum Melayu
Gunung Malelo. Pendidikan terakhir yang
pernah diikuti adalah Sekolah Pandidikan
Guru. Dalam kepengurusan DPN Surantih
masa kerja 2002 – 2007 ini menjadi
perwakilan masyarakat Kampung Gunung
Malelo yang mewakili unsur Alim Ulama.
Sehari-hari bertugas sebagai mubaligh dan aktif dalam organisasi
Muhammadiyah.
10

Anggota DPN

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
166








Arsil, berasal dari Kaum Caniago Timbulun.
Pendidikan terakhir yang pernah diikuti
adalah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.
Dalam kepengurusan DPN Surantih masa
kerja 2002 – 2007 ini menjadi perwakilan
masyarakat Kampung Timbulun mewakili
unsur Cadiak Pandai.
Gambar 32
Arsil


11

Anggota DPN

Gambar 33
Zulbaidi









Zulbaidi, berasal dari Kaum Sikumbang Koto
Panjang. Pendidikan terakhir yang pernah
diikuti adalah Islamiah. Dalam kepengurusan
DPN Surantih masa kerja 2002 – 2007 ini
menjadi perwakilan masyarakat Kampung
Koto Panjang yang mewakili unsur Cadiak
Pandai. Pengalaman terakhir adalah sebagai
kepala Desa Koto Panjang.
12

Anggota DPN

Gambar 34
Sopial












Sopial, berasal dari Kaum Caniago Koto
Merapak. Pendidikan terakhir yang pernah
diikuti adalah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.
Dalam kepengurusan DPN Surantih masa
kerja 2002 – 2007 ini menjadi perwakilan
masyarakat Kampung Koto Merapak yang
mewakili unsur generasi muda. Pengalaman
terakhir adalah sebagai Kaur Pembangunan Desa Koto Nan Tigo.













13

Anggota DPN

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
167








Lidur, berasal dari Kaum Kampai Kayu Aro.
Pendidikan terakhir yang pernah diikuti
adalah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.
Dalam kepengurusan DPN Surantih masa
kerja 2002 – 2007 ini menjadi perwakilan
masyarakat Kampung Kayu Aro yang
mewakili unsur generasi muda. Aktif dalam
Gambar 35
Lidur

organisasi pemuda dan pernah menjadi Ketua Pemuda Batu Bala-Kayu Aro.
14

Anggota DPN

Gambar 36
Hj. Zainar


















Hj. Zainar, berasal dari Kaum Panai
Timbulun. Pendidikan terakhir adalah
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Dalam
kepengurusan DPN Surantih masa kerja
2002 – 2007 ini menjadi perwakilan kaum
perempuan / Bundo Kanduang. Disamping
anggota DPN, beliau juga menjabat Ketua
Badan Koordinasi Organisasi perempuan (BKOP) Nagari Surantih yang selalu
aktif mengelola kegiatan ibu-ibu Nagari Surantih, dan ikut mempelopori
berdirinya Pesantren Sabilul Jannah di Timbulun, Surantih
15 Anggota DPN

Gambar 37
Rusli Dt. Rajo Batuah

Rusli Dt. Rajo Batuah, berasal dari Kaum
Panai Kayu Gadang. Pendidikan terakhir
yang pernah diikuti adalah Sekolah Tehnik.
Dalam kepengurusan DPN Surantih masa
kerja 2002 – 2007 ini menjadi perwakilan
masyarakat Kampung Kayu Gadang yang
mewakili unsur Niniak Mamak. Pengalaman
terakhir adalah aktif dalam organisasi pemuda dan masyarakat Koto Nan
Tigo, juga sebagai pendiri Pesantren Sabilul Jannah. Sehari-hari berprofesi
sebagai pengusaha kontraktor yang sukses.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
168
Susunan tersebut disahkan dalam surat
pengesahan Bupati No. 138/107/BPT-PS/2002 tanggal 18
April 2002. setelah terbentuknya DPN sebagai Badan
Legislatif Nagari, maka pejabat pemerintahan nagari juga
membentuk Badan Musyawarah Adat Sarak atau disebut
juga dengan nama BMAS. Lembaga ini dipergunakan untuk
badan pertimbangan dalam pemerintahan nagari.

Gambar 38
Erman L. Sag.


Melalui pengesahan Bupati No 138/299/BPT-PS/2002 – 17 Desember 2002.
Tahun itu juga BMAS telah terpilih dan ketuanya adalah Erman L. Sag, Kaum
Kampai Kampung Kayu Gadang hidup basumando ke Kaum Caniago Kampung
Pasir Nan Panjang. Jumlah anggota BMAS sebanyaj 9 orang diambil dari unsur-
unsur adat dan sarak juga Bundo Kanduang



Tabel 5
SUSUNAN ANGGOTA BMAS
NAGARI SURANTIH
No Nama Anggota Jabatan Pendidikan Suku Utusan
1 Erman L. Sag Ketua S1 Kampai Badan Sarak
2 Rustam M. Bumi
Wakil Ketua
SLTP Caniago Badan Adat
3 Ujang Dt. R. B. Hitam Anggota SLTP Kampai Badan Adat
4 Kasib Dt. R. Malenggang Anggota SR Sikumbang Badan Adat
5 Dalinas Rusli Anggota SLTP Sikumbang Bundo Kandung
6 Syafrizal Anggota SLTA Kampai Generasi Muda
7 Alamsah P. Dt. R. Basa Anggota SR Sikumbang Badan Adat
8 Syamsuar Anggota SR Jambak Badan Sarak
9 Hasan Basri Anggota SLTA Kampai Cadiak Pandai

Dengan terbentuknya lembaga Nagari Surantih, maka lembaga DPN
memulai tugas untuk pemilihan Wali Nagari Surantih. Langkah awal yang
dilaksanakan adalah dengan membuka kotak aspirasi dari masyarakat dan
menyeleksi calon yang akan diikut sertakan dalam pemilihan Wali Nagari defenitif
oleh masyarakat. Berdasarkan hasil seleksi tersebut, maka DPN menetapkan 4
orang calon Wali Nagari Surantih untuk periode 2002 – 2007, calon tersebut :
1. Almasri Syamsi, Kaum Sikumbang Kampung Pasar Surantih
2. Gusmal Can BA, Kaum Melayu Kampung Koto Merapak
3. Marjati Razak, Kaum Kampai Kampung Pasar Surantih
4. Hj. Zainar Samsir, Kaum Panai Kampung Timbulun.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
169
Pada tanggal 16 Desember 2002 dilaksanakan pemeilihan Wali Nagari
Surantih yang terlaksana dengan baik dan aman. Pada hari tersebut dapat diketahui
siapa yang menang dalam pemilihan yang dilakukan masyarakat secara langsung.
Almasri Syamsi dari Kaum Sikumbang Kampung Pasar Surantih yang hidup
basumando ke Kaum Kampai Dusun Mansiang Kampung Koto Panjang dari
penghulu suku Dt. Rajo Bandaro terpilih sebagai Wali Nagari Surantih.
Dengan terpilihnya Wali Nagari Surantih defenitif, pada keesokan harinya
tanggal 17 Desember 2002 dilakukan pelantikan yang berlokasi di Los Pasar
Surantih oleh Bapak Wakil Bupati Pesisir Selatan Drs. Nasrul Abid MBA. Sejak saat
itu resmilah Nagari Surantih memiliki Wali Nagari defenitif untuk masa jabatan 2002
– 2007.


Gambar 39
Pelantikan Wali Nagari Surantih
Oleh Wakil Bupati Pesisir Selatan Bapak Nasrul Abit


Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
170
6.3.4. Wali Nagari Almasri Syamsi.
Setelah pelatikan Wali Nagari Surantih defenitif berdasarkan surat
keputusan Bupati No. 141/314/BPT- PS/2002 yang dilaksanakan pada tanggal 17
Desemer 2002. Maka Nagari Surantih resmi dijabat oleh Wali Nagari pertama
setelah pejabat sementara Wali Nagari dan pemerintahan desa berakhir masa
jabatannya di Propinsi Sumatera Barat.


Gambar 40
Wali Nagari Surantih
Masa jabatan 2002-2007
Wali Nagari Surantih, Almasri Syamsi.
Dilahirkan di Pasar Surantih, 10 Mei 1965.
Pendidikan terakhir di SMA Adabiyah
Padang. Mencoba merancang suatu
pemerintahan yang partisipatif dengan
moto “ Nagari Milik Bersama, Kita Bangun
dan Jaga Bersama”. Berupaya untuk
mengaktifkan generasi muda dalam
pemerintahan dengan dukungan para
“Tungku Tigo Sajarangan / Orang Tua
Nagari”, serta memanfaatkan semua
potensi dan sumber daya demi kemajuan
nagari. Sebagai Wali Nagari telah berhasil
membawa Surantih menjadi Nagari
berprestasi Tingkat Kabupaten dan
Propinsi.

Dalam menjalan roda pemerintahan Wali Nagari mengangkat seorang
Sekretaris Nagari yang akan membatu tugas harian wali nagari. Secara bersamaan
struktur pemerintahan tersusun setelah mengangkat Sekretaris Nagari.


Gambar 41
Sekretaris Wali Nagari Surantih
Periode 2002-2007
Jabatan Sekretaris dipercayakan
pada Bisnal dari Kaum Melayu Dt. Sati.
Lahir di Koto Merapak, tanggal 2 Mei
1964. Pendidikan terakhir di AKOP
Padang. Disamping sebagai Sekretaris,
aktif sebagai pengurus mesjid dan Ketua
Tim pembangunan jalan BBM Gunung
Malelo-Kayu Gadang.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
171
Selain itu Wali Nagari juga menunjuk tiga orang kepala urusan, yaitu :
1. Kepala Urusan Pemerintahan Kemasyarakatan
Dijabat oleh Kamil Rajo Johan, Kaum Caniago
Berok Koto Panjang. Dilahirkn di Koto Panjang
pada tanggal 25 Agustus 1948. Beliau telah
mengabdi kepada Nagari Tempo Doeloe,
Pemeraintahan Desa dan Pemerintahan Nagari
saat ini. Beliau juga ditunjuk sebagai penasehat
pemerintahan nagari



Gambar 42
Kamil Rajo Johan
2. Kepala Urusan Perencanaan Administrasi dan Keuangan
Dijabat oleh Oknedi Suhatman Bsc. Kaum Kampai
Pasar Surantih dilahirkan pada tanggal 5 Oktober
1964, pendidikan terakhir di AKBP Padang.
Pernah bekerja di BCA Banda Aceh.


Gambar 43
Oknedi Suhatman Bsc.
3. Kepala Urusan Perencanaan Pembangunan

Dijabat oleh Iwal Spt, Kaum Jambak Lubuk Batu,
Timbulun. Lahir pada tanggal 2 Februari 1977, dan
menamatkan pendidikan sarjana S-1 pada Unand
Padang. Berprestasi sebagai SPMN Teladan
Sumbar tahun 2005. Aktif sebagai Tenaga
Pendamping PPK Sutera dan juga sebagai Pendiri
Koperasi Harapan Baru Nagari Surantih. Berhasil


Gambar 44
Iwal Spt.
mengantarkan Kelompok Ternak Sakato juara Nasional dan Karang taruna
Pospa Juara 2 Propinsi Sumatera Barat. Aktif sebagai ketua Kelompok Tani
Hamparan Saiyo.





Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
172
Tiga kepala urusan tersebut dibantu oleh staf-staf administrasi, antara lain :

1. Staf Sekretaris Nagari
Dijabat oleh Wetma Siswati, panggilan Wet,
Kaum Caniago Koto Panjang. Dilahirkan pada
tanggal 18 Januari 1984, pendidikan terakhir di
SMA Negeri 1 Sutera. Disamping sebagai staf
Nagari Surantih, Wet juga aktif menghidupkan
dan menggerakkan Koperasi Harapan Baru
Nagari Surantih.



Gambar 45
Wetma Siswati
2. Staf Pemerintahan dan Kemasyarakatan


Dijabat oleh Sefni Indra Juita, SE. Kaum Kampai
Timbulun. Sepni dilahirkan pada tanggal 1
September 1976. Pendidikan terakhir S - 1
UNES Padang. Pengalaman kerjanya adalah
sebagai SP-3 di Nagari Surantih dan salah
seorang pelopor pendiri Koperasi Harapan Baru
Nagari Surantih.


Gambar 46
Sefni Indra Juita, SE.
3. Staf Administrasi dan Keuangan (bendaharawan nagari)
Dijabat oleh Rena Despita Sari Kaum Caniago
Kampung Timbulun. Lahir tanggal 31 Desember
1982. Pendidikan terakhir di Madrasah Aliyah
Negeri Sago, dan aktif sebagai pengurus
Koperasi Hrapan Baru Nagari Surantih dan PKK
Nagari Surantih.


Gambar 47
Rena Puspita Sari
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
173
4. Staf Perencanaan Pembangunan
Dijabat oleh Aimal Efendi Kaum Sikumbang
Pasar Surantih. Dilahirkan pada tanggal 7
Februari 1961, dan menamatkan pendidikan di
SMA Negeri Salido. Aktif dalam pengelolaan
kelompok nelayan Air Mata Ibu dan sebagai
penghubung pemerintah nagari dengan
masyarakat.



Gambar 48
Aimal Efendi
5. Sekretaris Dewan Perwakilan Nagari
Dijabat oleh Tasgir, Kaum Kampai Pasir Nan
Panjang. Dilahirkan pada tanggal 31 Desember
1946. Beliau telah mengabdi semenjak
Pemerintahan Desa Gunung Rajo (Sekretaris
Desa) dan sampai pada pemerintahan nagari
saat ini. Beliau juga ditunjuk sebagai penasehat
pemerintahan nagari.



Gambar 49
Tasgir
4. Sekretaris Badan Musyawarah Adat dan Syarak Nagari
Dijabat oleh Sriwahyuni, Kaum Melayu Pasar
Surantih. Dilahirkan di Cimpu, tanggal 10 Juni
1987, dan pendidikan terakhir pada SMA Negeri
1 Sutera.




Gambar 50
Sriwahyuni

Untuk pelaksanaan tugas lapangan dipercayakan kepada Kepala Kampung
masing-masing yang berjumlah 13 kampung. Kepala kampung inilah yang
mengerakkan roda pembangunan dan menciptakan kedamaian, ketenangan.
Menghidupkan nilai-nilai banagari walaupun masih ada juga beberapa lembaga
sosial masyarakat yang dibentuk oleh pemerintahan nagari seperti:
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
174
1 Lembaga PKK Nagari dan PKK Kampung
Diketuai oleh Ibu Wali Nagari Surantih Lina Kartina,
Kaum Kampai Koto Panjang, dilahirkan di Koto
Panjang, pada tanggal 4 Desember 1968, dan
menamatkan pendidikan di SMA Negeri 7 Padang.
Selain mengurus PKK Nagari Surantih, Ibu Wali
Nagari juga mengkoordinir kegiatan PKK Kampung
yang berjumlah sebanyak 13 Kampung.



Gambar 51
Lina Kartina
2 Lembaga Bundo Kandung
Diketuai oleh Zulhaini, SE, Kaum Kampai Pasar
Surantih. Dilahirkan di Pasar Surantih pada tahun
1971, dan menamatkan pendidikan pada Fakultas
Ekonomi di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta.
Aktif menggerakkan organisasi wanita di Nagari
Surantih, seperti PKK dan Ketua Majlis Taklim
Kecamatan Sutera

Gambar 52
Zulhaini. SE
3 Lembaga Majelis Taklim Nagari
Diketuai oleh Amarnis Ahmad, BA. Kaum
Sikumbang Koto Panjang. Dilahirkan di Ampalu
pada tahun 1958, dan menamatkan pendidikan
IAIN Imam Bonjol Padang. Aktif sebagai pembina
kegiatan ibu-ibu di Nagari Surantih.

Gambar 53
Amarnis Ahmad, BA.
4. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Nagari (LPMN)
Diketuai oleh Syahrul, SHi, kaum Melayu
Simpuding Gunung Malelo. Dilahirkan pada tanggal
1 Januari 1974. menamatkan pendidikan Sarjana
S-1 pada IAIN Imam Bonjol Padang. Berprestasi
sebagai SP-3 Teladan Sumbar tahun 2005. Aktif
dalam pendirian Panti Asuhan Air Mata Ibu, dan
pembangunan lainnya di nagari.

Gambar 54
Syahrul, SHi
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
175
Ketiga lembaga wanita dan LPMN Nagari Surantih, ikut menunjang tugas
pemerintahan nagari yang secara bersama-bersama membuat program masing-
masing lembaga guna meningkatkan taraf hidup kaum wanita nagari, dan
pemmbangunan nagari pada umumnya.
Sementara Kerapatan Adat Nagari, membantu dan menyelesaikan
persoalan sako dan pusako Nagari Surantih.

5 Kerapatan Adat Nagari (KAN Surantih)
Diketuai oleh Ujang Dt. Bandaro Hitam Kaum
Kampai Batu Bala dan basumando ke Kaum
Caniago kampung Pasar Surantih.
Sedangkan dua Lembaga Nagari terus
mengontrol dan mengendalikan pemerintahan
seperti lembaga DPN dan BMAS Nagari
Surantih.

Gambar 55
Ujang Dt. Bandaro Hitam
Kerjasama Lembaga Nagari dengan lembaga-lembaga yang ada telah dapat
menghasilkan suatu keberhasilan kerja dalam menerapkan tujuan banagari. Kerja
keras bersama dalam melaksanakan konsep dasar, sehingga secara perlahan dan
pasti telah dapat merasakan perubahan awal. Untuk membuktikan kesepakatan
sehingga kinerja aparat pemerintahan nagari berjalan lancar bersama kepala
Kampung Nagari Surantih :

KEPALA KAMPUNG NAGARI SURANTIH PERIODE 2002 – 2007
1. Kepala Kampung Sungai Sirah

Gambar 56
Zulkifli
Zulkifli, kaum Sikumbang. Dilahirkan di Sungai
Sirah, pada tanggal 18 Mei 1951. Semasa menjadi
Wali Kampung, beliau telah berhasil membuat jalan
tembus Padang Kabau – Pasir Nan Panjang dan
meningkatkan Jalan Rawang – Sungai Sirah ke
Nagari Amping Parak
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
176
2. Kepala Kampung Pasar Surantih

Gambar 57
Syahril M.


Syahril M. Kaum Melayu. Dilahirkan pada tanggal 3
Maret 1952 di Pasar Surantih. Semasa menjadi
Wali Kampung, beliau telah berhasil membangun
gedung pemuda Samudera dan memperlebar jalan
propinsi, serta membebaskan tanah untuk PPI
Nagari Surantih.

3 Kepala Kampung Rawang

Gambar 58
Asral
Asral, Kaum Jambak. Dilahirkan di Rawang pada
tanggal 6 Juni 1967. Karyanya semasa Wali
Kampung adalah pembangunan jalan baru PJS
Wali Nagari Surantih dan jalan tembus Tabek –
Lansano, serta pembuatan jalan perkebunan Bukit
Tampat.

4 Kepala Kampung Gunung Malelo

Gambar 59
Erfendi
Erfendi, kaum Kampai. Dilahirkan di Gunung
Malelo, tanggal 19 Januari 1972. Karya semasa
Wali Kampung adalah membuat jalan lingkar Salo
Gunung dan pembangunan jalan BBM ke Lambung
Bukit dan pembangunan jalan lingkar Simpudiang
serta pembangunan Embung (sebagai kelanjutan
dari tugas Kepala Kampung sebelumnya, yaitu
Imam Ardinal, Kaum Melayu).

5 Kepala Kampung Pasir N. Panjang

Gambar 60
Rajunas

Rajunas, kaum Jambak. Dilahirkan pada tanggal
15 Juli 1972 di Pasir Nan Panjang. Semasa
menjabat sebagai Wali Kampung telah berhasil
menata lokasi sentra peternakan Pasir Nan
Panjang, irigasi, jalan Rawang, dan mengantarkan
Karang taruna Pospa menjadi juara II tingkat
Sumbar. Prestasi tertinggi adalah menjadi Wali
Kampung Teladan Kec. Sutera.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
177
6 Kepala Kampung Timbulun

Gambar 61
Abu Dalis

Abu Dalis, kaum Caniago. Lahir di Timbulun,
tanggal 10 Oktober 1963. Semasa menjabat
sebagai Wali Kampung, telah berhasil membangun
jalan baru Padang Limau Manih-Pasir Nan
Panjang, dan mendukung pendirian Pesantren
Sabilul Jannah.
7 Kepala Kampung Koto Panjang

Gambar 62
Basril
Basril, Kaum Caniago. Lahir pada tanggal 20
Nopember 1961 di Koto Panjang. Semasa
menjabat sebagai Wali Kampung, telah berhasil
mensukseskan program pertanian di Sawah
Rawang Koto Panjang dengan menggerakkan
masyarakat bergotong royong saluran irigasi
Batang Surantih. Juga berhasil membimbing klub
bola kaki Porsib.
8 Kepala Kampung Koto Merapak

Gambar 63
Arwil

Arwil, kaum kampai. Dilahirkan di Koto Merapak,
tanggal 15 Juli 1959. Sebagai Wali Kampung, telah
berhasil mengajak pemuda membangun jalan
lingkar Palak Pisang dan irigasi.
9 Kepala Kampung Kayu Gadang

Gambar 64
Darwis P. Dt. R. Batuah


Darwis P. Dt. R. Batuah, kaum Panai. Dilahirkan di
Kayu Gadang tanggal 25 Nopember 1959. Sebagai
Wali Kampung, telah berhasil membangun jalan
Koto Tinggi bersama tokoh masyarakat dan
pembangunan jalan perkebunan.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
178
10 Kepala Kampung Ampalu

Gambar 65
Akmal Dt. Rajo Bagindo
Akmal Dt. R. Bagindo, Kaum Kampai. Dilahirkan di
Ampalu, tanggal 7 September 1966. Sebagai Wali
Kampung telah berhasil mendukung program PPK
dalam membangun Jembatan Gantung.
11 Kepala Kampung Kayu Aro

Gambar 66
Ramalis
Ramalis, kaum Jambak. Dilahirkan di Kayu Aro,
pada tanggal 11 Nopember 1968. Sebagai Wali
Kampung telah berhasil mendukung program PPK
membangun Jembatan Gantung, dan pembukaan
jalan baru perkebunan ke Ampalu, serta
memperbaiki saluran Irigasi Kayu Aro.
12 Kepala Kampung Batu Bala

Gambar 67
Jalar
Jalar, kaum Jambak. Dilahirkan di Batu Bala, pada
tanggal 9 Desember 1949. Sebagai Wali Kampung
telah berhasil membawa masyarakat memperbaiki
jalan dan pelurusan Batang Air serta saluran
irigasi.
13 Kepala Kampung Langgai

Gambar 68
Zuhaldi
Zuhaldi, kaum Sikumbang. Lahir di Langgai, pada
tanggal 17 Juni 1968. Sebagai Wali Kampung telah
berhasil mensukseskan program TNI Masuk
Kampung dengan memperbaiki Jalan Langgai dan
pembangunan PLTA Mini di Langgai.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
179
Perjalanan pemerintahan nagari melahirkan beberapa prestasi dan juga
pembangunan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Nagari Surantih. Berkat
dukungan dan kehendak bersama anak nagari, maka pemerintahan melalui instansi
terkait membangun nagari ini dengan melakukan bermacam kegiatan untuk
kepentingan masyarakat nagari. Membentuk beberapa basis sumber daya bertaraf
nasional untuk dibina sebagai nagari berprestasi tingkat kabupaten maka lahir
beberapa prestasi yang menonjol seperti :
1. Pusat Peternakan
Kabupaten Pesisir
Selatan di Kampung
Pasir Nan Panjang.
Kelompok Peternakan
Sakato Pasir Nan
Panjang meraih Juara
Nasional dan diundang
ke Istana Negara pada
tahun 2004.




Gambar 69
Peternakan Sapi Di Pasir Nan Panjang


2. Kelompok Karang Taruna Puspa Kampung Pasir Nan Panjang Juara II
tingkat Propinsi Sumatera Barat tahun 2005
3. Nagari Surantih meraih Juara I Lomba Nagari Berprestasi Tingkat
Kabupaten Pesisir Selatan dan Juara Ke IV tingkat Propinsi Sumatera
Barat tahun 2005.


Gambar 70
Lomba Nagari Berprestasi
(Upacara Penyambutan Tim Penilai Lomba Nagari Berprestasi (gambar kiri) dan
Pembacaan Ekspose Nagari Surantih Oleh Wali Nagari Surantih Dalam Lomba Nagari Berprestasi
Tingkat Propinsi Sumatera Barat Tahun 2006 (Gambar kanan))

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
180
4. Nagari Surantih meraih juara II lomba Gotong-royong tingkat Kabupaten
Pesisir Selatan tahun 2005

Gambar 71
Salah Satu Kegiatan Gotong Royong Yang Dilaksanakan Masyarakat Nagari Surantih

5. Mengantarkan SP3 (Sarjana Pengerak Pembangunan Pedesaan)
sebagai juara I Propinsi Sumatera Barat oleh Syahrul Shi.
6. Mengantarkan SPMN (Sarjana Pemberdayaan Masyarakat Nagari)
sebagai juara I Propinsi Sumatera Barat oleh Iwal Spt.

Keberhasilan pelaksanaan pembangunan yang diraih Nagari Surantih
periode 2002 – 2007 bersama masyarakat nagari dengan mengunakan dana besar,
mulai :
1. Tahun 2004, pembangunan muara Surantih dan pembangunan TPI
(tempat pelelangan ikan) dengan anggaran dana 2,4 Miliar.
2. Tahun 2005, pembangunan tiga buah jembatan babuai dan 1,4 KM jalan
baru. Kegiatan ini dilaksanakan dengan anggaran dana Pembangunan
Pengembangan Kecamatan (PPK) sebesar 780 juta. Kemudian
pembangunan jalan baru Simpuding Gunung Malelo menuju Ganting
Ampalu sepanjang 200 M dengan anggaran dana IKPS-BBM sebesar
250 juta

Gambar 72
Pembangunan Jalan Simpuding Gunung Malelo

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
181
3. Tahun 2004, pembangunan jaringan telefon dengan dana anggaran 2,5
Miliar dilanjutkan dengan menara pemancar seluler (telfon gengam)
sebanyak tiga menara dan kantor Telkom.
4. Tahun 2006,
o pengaspalan Hotmix jalan Pasar Surantih – Kayu Gadang dengan
besar anggaran 1,3 Miliar.
o Pembangunan embung di Kampung Malelo dengan dana 2, 4 Miliar
o Pembangunan PLTA di Langgai anggaran dana 900 juta
o Pembangunan jalan Koto Tinggi 1,2 KM dengan dana 450 Juta


Gambar 73
Jalan Koto Tinggi Yang Baru Dibuka

o Pembangunan penangkaran Penyu dan objek wisata di Pulau Kiabak
dengan dana tahap pertama 1,3 Miliar


Gambar 74
Pelepasan Penyu Hasil Penangkaran Di Pulau Kiabak Kecil

o Pembangunan Pos Kesehatan Hewan di Pasir Nan Panjang dengan
dana 340 juta.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
182
5. Sampai tahun 2006 bantuan dari Dinas Sosial Propinsi Sumatera Barat
 Perbaikan rumah tidak layak huni sebanyak 30 rumah


Gambar 75
Rumah Penduduk Yang Mendapat Program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni
Dinas Sosial Kab. Pesisir Selatan.

 Bantuan Kelompok ternak sebanyak 20 kelompok dengan jumlah
sapi 120 ekor
 Bantuan terhadap kelompok ibu-ibu di nagari yaitu BMT, UKM, KUBE

6. Sampai 2006 ini, pengaspalan jalan lingkar kampung sepanjang 11 KM,
memperbaiki saluran irigasi Batang Surantih. Pembangunan irigasi
pertanian dilaksanakan dengan baik dan pelurusan Batang air Surantih
telah dikerjakan beberapa titik oleh instansi terkait.

Sehinga pembangunan di Nagari Surantih telah banyak membuahkan hasil
dengan baik. Begitu juga dengan sekolah-sekolah telah tumbuh dan terus
bertambah dengan murid begitu banyak. Apalagi TP dan TPSA di tiap Mesjid terus
melaksanakan kegiatan keagamaan.









Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
183
BAB VII
KEADAAN LINGKUNGAN SOSIAL BUDAYA

7.1. Religi dan Sistem Kepercayaan.
7.1.1. Animisme, Aceh dan Islam.
Leluhur masyarakat Nagari Surantih yang berasal dari Alam Surambi Sungai
Pagu telah menganut Agama Islam yang disebarkan dari Aceh yang telah lama
menjalin hubungan baik antara masyarakat dan Kerajaan Aceh. Masyarakat Aceh
dengan masyarakat Minangkabau memiliki hubungan yang tidak pernah terpisah
hingga sekarang. Hubungan kekeluargaan dan memiliki keyakinan yang sama-
sama satu aliran agama. Masyarakat Minangkabau banyak menuntut ilmu tentang
keagamaan ke Aceh dan kemudian dikembangkan di Ranah Minang.
Ajaran dan siar Agama Islam yang dikembangkan dapat dengan mudah
diterima oleh masyarakat bawah hingga kalangan pejabat kerajaan. Salah satu
ajaran yang berkembang adalah ajaran tariqat, yaitu jalan cepat mendekatkan diri
pada Tuhan. Golongan tariqat ini dibagi lagi atas empat golongan, setiap golongan
diambil dari nama orang yang menyusun amalan-amalan sesuai dari petunjuk
Agama Islam, seperti :
1. Tariqat Syatariah
2. Tariqat Kestari
3. Tariqat Naksyawandiyah
4. Tariqat Syaman

Setelah perjalanan panjang para ulama golongan tariqat dari ilmu agamalah
yang menetap dan menyakinkan masyarakat Minang. Golongan ini telah menyatu
dikalangan masyarakat Minang sampai ke pelosok dusun di nagari. Lantaran ilmu
agama itu sangat meresap di sanubari masyarakat, walaupun proses pelaksanaan
golongan tariqat sangat sulit untuk menerapkan ajaran yang sesungguhnya dalam
mencari kesucian.
Sebelum Agama Islam masuk di daerah asal masyarakat Minangkabau,
yaitu daerah dipedalaman yang merupakan tempat awal masyarakat membentuk
suatu perkumpulan kaum berkembang menjadi suatu wilayah hunian Minangkabau.
Daerah pedalaman tersebut disebut dengan daerah darek.
Sebelum menganut Agama Islam masyarakat masih menganut Agama
Animisme mengangap benda-benda ataupun binatang, pohon. sebagai penyebab.
Kedua Agama Hindu, disebarkan pemilik keyakinan ini dibawa oleh masyarakat dari
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
184
pulau Jawa. Dua aliran kepercayaan ini dapat diterima dan berkembang serta
berasimilasi dengan sifat atau kebiasaan masyarakat Minang.
Hubungan baik antara Kerajaan Aceh dengan Minangkabau terjalin erat
melalui pedagang-pedagang. Hubungan tersebut dilandasi rasa saling
membutuhkan dan saling menguntungkan hingga mendorong terjadinya hubungan
pernikahan sumando manyumandoi antara masyarakat Minang dan Aceh.
Wilayah Kesatuan Banda Sepuluh memiliki banyak bandar untuk berlabuh
bagi pencalang Aceh sehingga arus pelayaran ke Aceh sangat lancar. Itu pula
sebabnya pemuda Nagari Surantih bisa mempersunting wanita Aceh, seperti
Tuanku Marah Bara’i, sekarang menetap dan berkembang di Kampung Timbulun.
Begitu juga masyarakat lainnya di Banda Sepuluh ada yang menetap di Aceh
sampai sekarang
Setelah Agama Islam berkembang di Ranah Minang, terjadi asimilasi Agama
Islam dengan budaya-budaya yang ada. Hal ini dapat dilihat dari sikap dan tindakan
masyarakat yang masih tetap mempertahankan prinsip-prinsip keyakinan yang
berbau budaya Animisme dan Hindu. Dari tradisi tersebut di atas dapat disimpulkan
bahwa adanya upaya untuk mempertahankan budaya lama dengan perilaku
tersebut. Kenyataan itu terlihat dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh
masyarakat Surantih yang sekilas dilihat memang aneh, seperti :
a). seseorang mengalami sakit, untuk mengetahui penyebab sakitnya.
Dukun dapat membantu melihat penyakitnya dengan manyarayo limau kapeh
(asam). Mencari kebenaran apa orang tersebut tasapo atau tidak. Asam tersebut
akan memberi tanda dan lokasi kejadian dalam irisan mantra sebagai berikut

“ Limau aku si limau kapeh - engkau aku suruh sarayo
Tumbonyo di tanah barase – untuk maliek
Ureknyo tare tarujam – jangan engkau baduto-duto pado aku
Batangnyo rajo berdiri – kala engkau baduto-duto pado aku
Pucuaknyo rajo maninjau – engkau dimakan Alqur’an 30 jus

Itulah sebagian bait mantra dalam proses penglihatan Dukun dapat
memerintahkan asam dalam penjelasan keadaan. Walaupun hakekat dari proses
tersebut sulit diketahui.
Setelah jelas Si Anu tasapo di pohon atau di air, maka Angku Dukun
memulai langkah berikutnya untuk maulak (menolak bala) pada tempat yang
dianggap sebagai penyebab Si anu sakit. Dengan mencari syarat-syarat seperti :
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
185
Daun Cikarau, Cikumpai, Sitawa, Sidingin, Paladang Batin, Junjung Balik dan
Beras Bate. Daun diiris dituang kedalam air wadahnya.
Si dukun membaca mantera pa ureh :

Kum satikum kalu bela
Tadu la urang dangki kasakitan
Biso tawa tajam tumpu

Meminta kepada penghuni pohon agar Si Anu di maafkan.

b). Contoh kedua, pada suatu ketika, kepala Kampung Timbulun Abu Dalis
berburu rusa ke hutan agar buruannya tepat sasaran dan berhasil. Maka dia
mencoba dan bermohon kepada pemelihara Rusa agar mau melepas rusa tersebut
dalam bidikan senjata. Ia membaca mantra :

 Oh nyik pitalo guu
Oh nyik ajo sulaiman
Jalan aku pintak, jalan aku balaku
Pintak aku beri, kandak aku balaku
Kalau tidak diberi pintak aku, dimakan sumpah satie
 sak sadu hawa nakawa
sabap sanjato, aja di Allah....

c). Sedangkan untuk penghormatan (puja) terhadap binatang masih juga
terdengar dari ucapan-ucapan sebagian masyarakat kita seperti :

1. Pimpinan Tikus atau Tikus (Mancik) disebut dengan Puti
2. Pimpinan Babi (Ciliang) disebut dengan Bigau. Bigau sebangsa
orang pendek dibawah 1M, konon cerit kakinya terbalik (jari
kebelakang).
3. Untuk seekor Harimau dipanggil dengan sebutan Inyiek

d). Begitu pula dalam pembacaan doa, biasanya dalam pembacaan doa
baik doa selamatan di rumah mau pun di tempat-tempat yang dianggap keramat,
seperti : Tampat (kuburan orang keramat). Sebelum pelaksanaannya terlebih
dahulu dilaksanakan pembakaran kemenyan atau juga memakai sesaji. Setelah doa
selesai dibacakan ada yang dilanjutkan dengan pemotongan hewan seperti, Ayam,
Kambing dan lain-lain.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
186
e). Selain itu, keyakinan masyarakat Nagari Surantih yang menganggap
memiliki kajian mendalam tentang keberadaan alam Supra Natural yang terus
menerus diwriskan dari generasi ke generasi. Di Nagari Surantih masih memiliki
banyak cara pengobatan secara turun temurun yang terkenal, seperti ; kemampuan
seseorang untuk penyambungan patah tulang yang disebut dengan dukun urut yang
terkenal di kabupaten Pesisir Selatan hingga ke luar propinsi. Pengobatan
tradisional ini tidak memelukan biaya pengobatan yang mahal. Keahlian tersebut
diwarisi secara turun temurun dimiliki oleh beberapa kaum yang ada di Nagari
Surantih, seperti Melayu, Sikumbang dan Jambak. Proses pengobatan untuk
menyembuhkan diyakini melalui proses alam gaib yang disebut juga dengan
bantuan Ankuan. Begitu juga kemampuan lainnya, seperti pengobatan khusus
anak-anak dan juga kemampuan sunatan dan lain sebagainya. Semua proses
pengobatan tersebut dilaksanakan dengan pembacaan mantera tertentu,
berdasarkan keahlian yang diwarisi.
Pembakaran kemenyan diperuntukkan, pemberi tahu, pemanggilan bagi
arwah sebagai penghormatan, selanjutnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari
contoh yang disajikan di atas dapat dilihat bahwa isi alam ciptaan Tuhan dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat nagari. Secara garis besar bisa dianggap lain, dalam
arti penterjemahan keadaan yang sebenarnya. masih bersifat abstrak dan berbau
Animisme
Di Nagari Surantih, tidak dapat dipungkiri, memang masih ada yang
menyakini hal tersebut. Adanya pikiran dan anggapan bahwa kebenaran dalam
suatu keyakinan yang masih diwarisi. Sementara kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa tidak diragukan lagi dalam tata penghidupan sehari-hari.
Sekarang tinggalkan penilaian terhadap keadaan dan situasi lantaran
keyakinan tersebut, tidak tergantung pada keadaan orangnya maju atau masih
terbelakang. Dari fakta yang dilihat, pelaksanaan hal tersebut bagi mereka
mempunyai alasan-alasan tertentu bahkan mereka merasakan keuntungannya.
Pikiran dan angapan yang digambarkan telah menyalahi aturan yang dipahami.
Sementara hakekat dan tujuan tak pernah diketahui dengan jelas. Hal ini
disebabkan karena manusia terkekang pada alam Supra Natural. Saat ini manusia
masih tetap menunggu perubahan keadaan yang sebenarnya. Walaupun
kepercayaan seperti ini merupakan warisan yang dibawa dari daerah asal nenek
moyang, Alam Surambi Sungai Pagu.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
187
Umumnya masyarakat Nagari Surantih menganut Agama Islam. Keyakinan
ini dianut, diterima dan diwarisi dari Niniak/orang tua yang memeluknya di nagari ini.
Keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan landasan hidup masyarakat
nagari. Meskipun dalam kehidupan masyarakat Nagari Surantih masih terdapat
golongan masyarakat yang menyakini cara yang berbeda, namun itu sesuai dengan
masa dan situasi pemahamannya.
Meskipun demikian tidak satu pun terjadi penyalahgunaan. Perdamaian
sesama umat beragama sangat bagus dan lancar sama-sama diterima oleh
masyarakat nagari. Berikut ini diuraikan organisasi agama yang dijalankan oleh
masyarakat Nagari Surantih dari masa ke masa :

7.1.2. Organisasi Tariqat
A. Tariqat Syatariyah.
Syekh Burhanuddin menerapkan Tariqat Syatariyah di bumi Minangkabau.
Sebelumnya beliau belajar ke Aceh, nama kecil beliau adalah Pono dari kaum /suku
Guci. Dilahirkan di Nagari Pariangan Padang Panjang tahun 1646. guru beliau di
tanah Aceh bernama Abdul Rauf.
Sepuluh tahun lamanya beliau menuntut ilmu di Aceh, sehingga beliau
sudah mampu menguasai bermacam ilmu Agama Islam dan bahasa Arab. Berbekal
ilmu agama yang beliau kuasai, akhirnya beliau kembali ke Ranah Minang dengan
membawa beberapa orang putra Aceh satu perguruan. Dalam menyiarkan ajaran
Agama Islam dan meningkatkan ilmu agama bagi masyarakat Minangkabau. Pada
saat melakukan siar Agama Islam di Minangkabau, masyarakat masih banyak
menganut kepercayaan Hinduisme dan Animisme.
Daerah Ulakan Pariaman, dipilih sebagai tempat menetap bersama pengikut
beliau dalam menyebarkan ajaran dan dakwah-dakwah agama pada masyarakat.
Perjalanan dakwah beliau jalani dengan niat suci ikhlas penuh kesabaran demi
mengajak masyarakat dalam menuju sauatu keyakinan beragama melalui
pembinaan beliau yang mengembangkan aliran Tariqat Syattariyah. Perkembangan
siar Agama Islam yang dilakukan telah memasuki wilayah luhak-luhak dan sampai
ke daerah rantau sehingga orang-orang banyak tahu dan ingin langsung berguru
padanya.
Di Nagari Surantih juga berkembang dan disambut baik oleh masyarakat,
sehingga golongan Syattariyah sudah ada semenjak dahulunya yang dibawa oleh
anak nagari. Berdasarkan cerita orang tua-tua banyak anak Nagari Surantih yang
langsung berguru pada beliau antara lain :
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
188
1. Angku Kali Adad Kaum Caniago
2. Angku St. Pamuncak Kaum Melayu.
Orang tua-tua nagari inilah yang berusaha menjalankan dakwah,
memperluas siar ajaran Agama Islam disamping ajaran ini telah dibawa dari daerah
asal Muaro Labuah. Hampir tiga tahun beliau-beliau belajar dengan syekh
Burhanuddin di Ulakan. Berbekal ilmu agama yang beliau dapat, hingga menjadi
terkenal di Nagari Surantih. Selain itu beliau ke Mekah untuk menambah ilmu dan
menunaikan ibadah haji.
Perjalanan dakwah di Nagari Surantih dilakukan dengan cara membagi
wilayah tugas guna menyempurnakan Ajaran Islam untuk lebih mendekatkan diri
pada Allah SWT. Bermacam cara dakwah dilaksanakan dengan ditambah bekal
ilmu kesaktian yang dimiliki digunakan untuk menarik minat masyarakat agar ikut
dalam kegiatan siar yang dilakukannya.

 Angku Kali Adad.
Angku Kali Adad menjadikan daerah Ganting Hilir bagian pantai barat Nagari
Surantih sebagai daerah siarnya dan tinggal di Gunung Malelo. Di daerah inilah
beliau menyebarkan Agama Islam Tariqat Syattariyah. Masyarakat Nagari Surantih
dengan cepat menerima ajaran tersebut. Pada saat itu hampir seluruh masyarakat
menerima ajaran tersebut. Jika dilihat pada saat sekarang masih banyak Mesjid-
mesjid dan surau di Surantih mengamalkan ajaran beliau. Pelaksanaan dua puluh
rakaat di tambah witir di Bulan Ramadhan menjadi ciri dan kekhasan golongan
tersebut. Dalam hal-hal lain untuk meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.
Tariqat lainnya adalah Kestari, Naksabandi dan Kasaman.
Waktu itu kegiatan beliau dilaksanakan di surau-surau, setelah berkembang
di Nagari Surantih berdirilah Mesjid permanen pertama di Ganting Hilir (Timbulun).
Mesjid tersebut sekarang dikenal dengan Mesjid Nurul Huda atau disebut juga
Mesjid Uncing. Di Dusun Samudera Pasar Surantih, imfak lokasi dari Kaum
Sikumbang, didirikan sebuah Mesjid yang sekarang dikenal dengan Mesjid Nurul
Iman. Mesjid-mesjid inilah yang masih mempertahankan aliran Tariqat Syattariyah
kuno. Aliran tariqat berikutnya lebih dikenal dengan Tariqat Kestari yang diwarisi
dari generasi ke generasi, dikembangkan oleh Imam Kharabi dan Imam Kahruan.
Pada masa sekarang diteruskan oleh Kht. Kilar Kaum Melayu.
Perkembangannya setelah terjadinya reformasi, oleh kaum atau golongan
yang berpikiran maju dalam Agama Islam di Nagari Surantih. Secara perlahan tetap
dijalankan walaupun sebagian telah mengikut ajaran baru tersebut. Mulai beralihnya
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
189
para pengikut untuk mengikuti ajaran tariqat yang baru berkembang mengakibatkan
sulitnya untuk membedakann golongan tariqat kuno atau pun yang baru.
Perkembangan tariqat yang baru mulai meluas ke Dusun Cimpu, awal
kegiatan dilaksanakan dari rumah ke rumah. Setelah itu didirikan sebuah Surau
yang bernama Surau Taqwa yang dipimpin oleh guru Kht. Saridin dari kaum
Caniago yang dilanjutkan oleh Imam Ali Kaum Caniago
Perkembangan jemaah tersebut meluas ke Kampung Pasir Nan Panjang.
Pendirian sebuah surau menjadi tanda perkembangan ajaran ini, Surau Mangga
yang sekarang menjadi Mesjid Zahara menjadi pusat kegiatan dakwah di daerah ini.
Kemudian pindah ke Dusun Tuo mendirikan Surau Kemuning dan berkembang
menjadi Mesjid Hurul Hidayah yang dipimpin oleh Kht. Aggur Kaum Caniago dan
diteruskan oleh Buya Siap Kaum Kampai dan Buya Rasulis Kaum Sikumbang. Di
Kampung Rawang juga berdiri Surau Al ikhlas tahun 2004 yang dibawakan oleh
Bilal Niruh.

B. Tariqat Kestari.
Di Nagari Surantih golongan Tariqat Syattariyah dan Kestari sangat sulit
untuk membedakan lantaran kedua Tariqat ini hampir sama, namun tentunya ada
perbedaan dalam pengamalan ajaran yang melekat pada kedua aliran tariqat
tersebut. Dalam konteks ini perbedaan yang bisa digambarkan adalah dalam aspek
perjalanan dan perkembangan pengamalan ajaran masing-masing tariqat.
Berdasarkan asumsi ini bisa digolongkan sebagai aliran tariqat kuno dan tariqat
modern.
Pengamalan-pengamalan mulai berkembang dengan cara yang berbeda di
Nagari Surantih. Tariqat modern terus berkembang pesat dengan menerapkan
sistem berpuasa sama-sama dan membaca khotbah dalam bahasa latin. Begitu
juga dalam mengujungi makam guru di Ulakan Pariaman secara langsung.
Sistem dakwah yang diterapkan dengan sistem wirid-wirid di Mesjid dan
surau yang ada di Nagari Surantih yang menjadi basis ajaran yang sealiran. Di
Nagari Surantih dibawakan oleh putra daerah yaitu, Labai Musa K, sekarang
dilanjutkan oleh Imam Amirudin yang lebih dikenal dengan nama Imam Paoh Kaum
Sikumbang. Mesjid dan surau yang beliau masuki Surau Lurah di Koto Baru, Surau
Nurul Iman Dusun Tangah Kampung Rawang, Mesjid An-Nur tepi Banda Kayu
Gadang, Ampalu dan lain-lainnya.


Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
190
 Angku St. Pamuncak
Angku St. Pamuncak yang menetap di Langgai berasal dari Kaum Melayu,
menyebarkan ajaran Agama Islam dari gurunya daerah asal. Aliran Tariqat beliau
siarkan di Wilayah Ganting Mudik. Tata cara perkembangan Agama Islam di daerah
ini beliau lalui dengan memberi masyarakat dakwah-dakwah. Dengan penuh
kesabaran beliau mengumpulkan masyarakat untuk sholat bersama dan wirid
secara berkelompok. Untuk menambah ilmu beliau berguru kepada Syekh
Burhanuddin di Ulakan.
Masyarakat dengan mudah dan cepat memahami, menerima cara
penyampaian ajaran tersebut lantaran lebih jelas dan lebih terarah. Hakikat
beragama untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, penguasa
alam semesta. Walaupun dalam proses yang panjang, pengamalan golongan ini
dengan menempuh tingkat kesulitan jiwa dan raga menjadi sempurna untuk
mendapatkan kesucian diri yang sebenarnya lantaran tidak mudah untuk
mendapatkan kerendahannya.
Kepatuhan dan ketaatan kepada guru meruapakan kunci keberhasilan tata
cara penghidupan masyarakat beragama di Daerah Mudik Surantih sangat tinggi
dapat dibuktikan waktu itu. Awal abad 18 sudah ada berdiri surau-surau (Mesjid)
dari kayu. Ditempat inilah proses belajar dan dakwah dengan baik dilaksanakan
sembari melaksanakan amalan-amalan. Sehingga di daerah Mudik lahirlah pemuka
Agama Islam nagari hasil didikan beliau yang memiliki kharismatik dan tingkat ilmu
yang sangat tinggi, sehingga Nagari Surantih disegani oleh nagari-nagari lain
dengan pusatnya Langgai.

C. Tariqat Naksyabandiyah
Tariqat ini berasal dari nama penyebar pertama ajaran ini yaitu, Al - Din
Naqsyabandi yang meninggal pada tahun 1989 M. Siar ajaran ini kemudian
dilanjutkan oleh Syekh Abdur Rauf di Aceh. Ajaran ini disebarkan oleh Syekh Abu
Rahman dari Batu Hampar (1830). Dari hasil belajar beliau di Tapak Tuan Aceh dan
berlanjut ke Mekah selama 7 tahun menuntut ilmu agama. Pada saat beliau pulang
kembali ke kampung membangun sebuah Mesjid untuk melaksanakan siar tariqat
ini.





Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
191
D. Tariqat Syaman
Tariqat ini merupakan gabungan tariqat Khalwatiyah dengan Qadariyah,
Naksyabandiyah dan Syadziliyah yang disusun secara baik oleh Muhammad Ibn
Abu Al- Karim Al-Samman. Kata syaman diambil dari nama pendiri ajaran ini. Dalam
ajaran ini mengajarkan tentang pencarian kehakikian hidup di dunia dan
mempersingkat pengajian dalam pengamalan praktis dan terarah. Ajaran ini
memiliki pengikut yang banyak dalam Nagari Surantih sehingga tariqat ini
berkembang luas. Banyaknya Mesjid dan Surau mengamalkan ajaran ini, tanpa
terasa tariqat lain jadi terabaikan dan kurang diminati seperti di wilayah hilir (ganting
Mudik). Kebanyakan pengikut ajaran ini ada disetiap kampung di Nagari Surantih,
hal ini ditandai dengan mesjid dan surau yang berasal dari golongan tariqat ini.
Berdasarkan pengamatan secara umum terhadap ketiga aliran Agama
Islam yang ada di Nagari Surantih merupakan suatu perserikatan yang sama pada
awalnya, namun demikian terjadi suatu perubahan kecil dalam pengamalan.
Adanya rasa takut masyarakat, tidak mampu mengamalkan amalan-amalannya.
Oleh karena itu pada saat ini terjadi perubahan dalam pelaksanaan. Sehingga
intensitas pengamalan nilai-nilai ajaran ini menurun dalam mencapai tujuan tingkat
kesucian dan pendekatan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Perubahan tersebut dapat kita gambarkan dalam teknis pelaksanaan antara
ajaran taiqat kuno dan yang modern (baru), seperti :

D.1. Tariqat kuno
Dalam menjalankan amalan dalam kelompok ini memiliki tingkatan dalam
memperdalam ilmu suluk. Murid-murid sebelum melanjutkan amalan pada tingkat
yang lebih tinggi harus di Bi’ad. Ilmu agama dalam golongan tersebut bagaikan
mutiara yang terpendam, harus ditelaah dengan memperdalam amalan-amalannya.
Itu sebabnya ilmu-ilmu yang dipelajari terkukung dalam lingkaran golongan-
golongan tersebut saja. Kelebihan yang diberikan Tuhan kepadanya dianggap di
luar logika dan tidak rasional bagi orang luar golongan ini. Pelaksanaan secara
umum dapat dilihat, dimulai dari pelaksanaan puasa yang memakai hitungan rukiah,
melihat bulan yang dikenal dengan istilah tampak bulan. Dalam melaksanakan
ibadah Sholat Tarawih berjumlah 20 rakaat, ceramah tidak dilakukan tapi diganti
dengan melaksanakan shalawat nabi. Begitu juga dengan pelaksanaan khotbah
juma’at memakai bahasa arab dan melakukan zairah kubur ke makam guru.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
192
D. 2. Tariqat Modern.
Dalam menjalankan amalan-amalan ilmu suluk sama dengan biasanya.
Dalam menuju kesucian jiwa, perbedaanya terletak pada keterbukaannya. Tidak
terkukung pada golongan tertentu, sedangkan teknis pelaksanaan mulai dari puasa
dengan hitungan Istimal (mencukupkan sampai 30 hari). Sholat tarwih dilaksanakan
20 rakaat, diiiringi dengan ceramah agama (khotbah).

D.3. Tariqat Syaman
Dalam ajaran ini mengajarkan tentang mempersingkat cara mempelajari
ilmu-ilmu suluk. Pelaksanaan sholat tarawih juga dua puluh rakaat sama dengan
tariqat lainnya. Teknis pelaksanaaan mendasar secara umum paham ini tergolong
lebih modern lagi
Bila dilihat perjalanan tariqat kuno di Nagari Surantih memang terus berjalan
secara alami. Seakan meninggalkan kepentigan yang berbau duniawi. Sedangkan
tariqat modern mencoba menrobos perkembangan zaman. Terlibat secara langsung
dalam perkembangan dunia sehingga mereka terlibat dalam perpolitikan di nagari,
itu pula sebabnya mereka disukai masyarakat.

E. Cerita (Kaba) Aliran Tariqat
Berdasarkan cerita orang yang menguasai ilmu tariqat tingkat tinggi dengan
menguasai amalan-amalan yang sangat mendasar. Orang tersebut memiliki tingkat
kesucian yang tinggi. kedekatannya pada Tuhan Yang Maha Esa dapat beliau
buktikan di dunia dengan menguasai ilmu-ilmu dunia yang beragam dan memiliki
kekuatan yang sangat tinggi
Amalan-amalan tariqat lainnya dapat dilihat juga pada ilmu ketahanan tubuh
seperti : debus. Di Surantih ilmu ini dikenal dengan ketahanan tubuh, besi runcing
yang ditusukan ke perut dan tangan diringi dengan musik berupa gendang tapi tidak
bisa menusuk tubuh atau melukai tubuh sama sekali.
Nagari Surantih semenjak dahulu punya kharisma yang menonjol, yaitu
kekuatan yang seharusnya terwarisi secara turun temurun yang dikenal dengan
sebutan Tinju Langgai. Tinju Langgai bukan saja dikenal di Nagari Surantih tetapi
juga disebut di nagari lain di Kabupaten Pesisir Selatan dan bahkan di daerah luar.
Tinju Langgai merupakan kesempurnaan ilmu bela diri yang dipadukan dengan
keputusan silek langkah tigo. Proses panjang untuk menguasai ilmu ini menjadi
kendala untuk bisa bertahan dan disukai oleh masyarakat terutama para generasi
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
193
muda. Walaupun manteranya pendek dapat dikuasai, namun belum tentu dapat
dimanfaatkan, seperti :
Hak biso tumpuan biso
Bak biso tumpuan tawa
Bisukan jari aku nan ampek
...............
Mantera pendek dan gampang untuk dihafal, tetapi tidak begitu saja
mendapatkan hasil yang maksimal. Tanpa ada keputusan yang jelas dengan
mewujudkan suatu hakekat bathin. “habih langkah indak malangkah”, sehingga ilmu
ini jarang terwariskan lagi pada generasi berikutnya. Diambang hilangnya ilmu
tersebut, sudah dapat dilihat jarang adanya sasaran latihan silat di tiap kampung.
Ilmu tersebut terus terkungkung dalam ruang lingkup aliran tertentu. Hakekat dari
ilmu silat pada dasarnya bukanlah untuk dipertontonkan, apalagi untuk
dibanggakan.


Gambar 76
Seorang Pemuda Sedang Latihan Silat Dengan Gurunya

7.1.3. Organisasi Muhammadiyah.
Didorong oleh kondisi negara saat itu dikuasai oleh bangsa penjajah. Seiring
dengan perkembangan zaman dan umat manusia, Timbul bermacam pembaharuan
guna untuk memperbaiki kondisi negara dan masyarakat agar lebih terarah.
Pembaharuan dalam tingkat keimanan dari berbagai golongan / aliran dalam satu
keyakinan yang sama yakni Agama Islam, terjadi di Indonesia dengan alasan
penyempurnaan. Tujuannya adalah untuk menambah keyakinan kepada Tuhan
Yang maha Esa, selagi tidak menyimpang dari ajaran-ajaran Islam dan diterima
masyarakat.
Dalam menerapkan Alquran dan Hadis, sebagai suatu landasan dan
pedoman hidup untuk menuju jalan keredha’an-Nya. Agar masyarakat mau
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
194
mengikuti dan tidak keberatan dalam memenuhi tuntutan ajaran agama dalam
menjalan sholat lima waktu. Kaum modernis yang belajar ke Mekah, mencoba
menerapkan hukum Alqur’an dan Hadist Nabi untuk suatu landasan dan pedoman
hidup umat manusia. Mereka mencoba menyusun keyakinan baru umat Islam agar
suci dari pengaruh Animisme, Dinamisme dan pengaruh aliran lain. Bahkan adat
tidak lagi punya landasan yang jelas, sudah goyah dalam suatu perserikatan
kerapatan. Adat tidak lagi basandi sarak, sarak basandi adat yang dijalankan oleh
para Ninik Mamak. Nagari yang tercoreng akibat tindakan melanggar aturan Agama
Islam.
Ahmad Khatib orang Koto Tuo IV Angkek Candung Bukittinggi, lahir pada
tahun 1849 M. Berangkat ke Mekah bersama bapaknya di usia 11 tahun. Beliau
berguru di sana sehingga akhirnya menjadi warga arab dan menjadi guru di Mesjid
Harram. Keberadaan beliau di Mekah, menjadikan suatu tumpuan bagi masyarakat
di tanah air, untuk menyampaikan perkembangan agama. Mendengar hal tersebut
beliau merencanakan dan mengumpulkan orang Indonesia yang sedang berhaji
untuk dididik dalam pengamalan ilmu agama yang banyak berlandasan kepada
hadis dan sunah rasul. Sehingga banyak yang berguru menuntut ilmu kepada beliau
salah satunya dari Jawa, yaitu : K. H. Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta.
Beliau adalah orang yang merintis langkah pembaharuan dalam menuju suatu
perubahan sistem umat Islam dalam pengamalan ajaran dan nilai-nilainya. Beliau
memberanikan diri untuk mengumpulkan kaum modernis yang bermodal untuk
bersatu dan membentuk suatu Organisasi Islam yang disebut dengan
Muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta.
Perjuangan Organisasi Muhammadiyah mulai merambah seluruh pelosok
Nusantara. Adanya pikiran Agam Islam tidak murni lagi dan terpangaruh oleh kaum
adat yang bertindak tidak sesuai dengan aturan Islam yang menguasai golongan
tariqat. Organisasi Muhammadiyah menolak aliran yang sedang ada selama ini.
Aliran yang dianggap ortodok yang memakai metode filsafat, yang dianggap mistis
bahkan diragukan ke murniannya.
Perjuangan organisasi Muhammadiyah menjalar hingga ke pelosok negeri
dengan penyampaian dakwah-dakwah yang keras dan mendirikan sekolah-sekolah
umum bernafaskan Islam dengan pengamalan secara praktis dan singkat.
Pengamalan yang praktis dan pendek tersebut disukai oleh kaum muda. Itu pula
sebabnya organisasi Muhammadiyah maju dengan pesat sehingga aliran tariqat
sudah tergeser di tengah masyarakat. Dengan berkembangnya organisasi
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
195
Muhammadiyah perseteruan antar golongan mulai memanas dan saling
menyalahkan. Sehingga masyarakat mengenal dua golongan dalam Agama Islam :
1. Golongan Muhammadiyah yang disebut dengan kubu muda
2. Golongan tariqat yang disebut kubu tua.

Di Minangkabau saling bantah dan adu argumentasi mulai membara dari
pengikut bawah sampai tingkat atas. Golongan tariqat mendirikan organisasi yang
diberi nama Serikat Islam. Kaum tua dibela oleh kaum adat, hal seperti ini memang
tidak terjadi perang fisik namun hanya dengan argumentasi. Tanggal 15 juli 1919
hampir 6 tahun sudah perbedaan antar organisasi Muhammadiyah dengan
organisasi tariqat berseberangan dalam hal pemahaman Aqidah yang sama yaitu
Islam. Pemerintah Hindia Belanda yang berada di Minangkabau, mengadakan
pertemuan dengan kedua belah pihak untuk membahas persoalan agama yang
terjadi. Argumentasi dan pembelaan terjadi sehingga diambil kesepakatan untuk
berdamai. Masing-masing menjalankan amalanya menurut keyakinan yang dimiliki.
Masyarakat semakin bertambah banyak, zaman semakin maju menuju era
modernisasi, sampai pada masa reformasi. Itu pula sebabnya masyarakat secara
bersama harus merasa bertanggung jawab, mewaspadai keadaan dan dalam hal
regenerasi, lantaran manusia semakin banyak berselimut pada kepentingan
masing-masing.
Keterbatasan manusia dalam mencari dan berfikir, menjadikan manusia
untuk bersikap hati-hati kepada orang sekelilingnya. Bermacam ilmu dan pendapat
akan tumbuh mendatangi, guna merubah apa yang telah dimiliki selama ini. Orang
akan menumpang dari kekurangan, untuk mengajak menjerumuskan pada arah
yang tidak dipahami.
Kesalahpahaman masa lampau jangan dijadikan suatu perdebatan dan
pembahasan. Itu baru merupakan perbedaan teknis dalam suatu niat yang sama.
Kita lebih takut apabila Aqidah yang melenceng jauh dari yang sebenarnya. Orang-
orang tidak mau lagi melaksankan rukun Islam, sholat lima waktu. Sedangkan kita
berjuang untuk tetap bertahan sebagai pemeluk Agama Islam. Aliran tidaklah
dipersoalkan, asal masih menyakini Tuhan Yang Maha Esa, pencipta alam semesta
tempat memohon ampun dan pertolongan




Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
196
7.1.4. Kepercayaan Dalam Masyarakat.
Pada umumnya masyarakat Minangkabau memeluk Agama Islam, demikian
juga halnya dengan masyarakat Nagari Surantih. Sekilas hal ini dapat dilihat dari
banyak Mesjid dan Surau-surau yang digunakan sebagai sarana ibadah dan
aktivitas keagamaan lainnya. Kegiatan pemuda dan pemudi yang bernafaskan Islam
seperti Simarantang, orkes melayu dan perkumpulan pengajian dapat ditemui di
setiap kampung.
Di Nagari Surantih semenjak zaman perjuangan kemerdekaan, pemuda-
pemudi nagari banyak yang pergi merantau ke luar nagari untuk menutut ilmu adat
dan pendidikan tentang Agama Islam ke Canduang Parabek Padang Panjang,
Tarbiyah Islamiyah, Thawalib School, Kulliyatul Muballigin, Normal Islam di Padang,
Kuekschool Islamiyah Bukittinggi.
Pemuda-pemuda inilah yang akhirnya menjadi pimpinan nagari, tokoh
agama dan adat, sehingga dapat mendirikan sekolah agama sekaligus menjadi
guru. Dampaknya anak nagari menjadi generasi yang terampil, Islami. Karya dan
usaha mereka telah dapat diwarisi sebuah sekolah Muhammadiyah MTSN Nagari
Surantih. MTSN ini didirikan pada tahun 24 Jumadil Akhir 1398 H atau 1Juni 1978
M.
Pada masa sekarang dalam pemerintahan nagari berusaha meningkatkan
nilai-nilai ajaran Agama Islam pada anak-anak semenjak usia 4-8 tahun. Mereka
diwajibkan mempelajari bacaan ayat suci Alquran atau yang biasa disebut
masyarakat dengan mangaji pada guru-guru agama baik di Mesjid TPA- TPSA,
maupun di surau, kemudian dilanjutkan belajar pada pondok Alqur’an yang didirikan
pada tahun 2004. Kegiatan lain yang dilaksanakan adalah menghafal bacaan
Alqur’an untuk sholat dan belajar pelaksanaan sholat berserta hafalan doa-doa yang
berkaitan dengan akitivitas dalam kehidupan sehari-hari.
Pada sekarang ini pendidikan Agama Islam tidak hanya diajarkan secara
informal saja. Bagi anak nagari yang ingin mendalami Ajaran Islam, pada tahun
2003 telah didirikan pula sebuah pesantren Bahlilul Janah di Kampung Timbulun.
Pendirian pesantren ini diprakarsai oleh sebuah yayasan dan H. Rajalis Kaum
Kampai Timbulun, berkat kerja keras dan usaha yang teguh pesantren tersebut
dapat berdiri dengan baik. Hal ini tentunya juga berkat bantuan dan partisipasi
anggota lainnya.
Bila dilihat kehidupan religi masyarakat Minangkabau pada umumnya,
terutama di Nagari Surantih. Meski telah menganut dan menyakini ajaran Agama
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
197
Islam. Namun sebelum masuknya Agama Islam, telah diketahui bahwa masyarakat
Minangkabau menganut kepercayaan Animisme dan Hindu. Pengaruh dari nilai-nilai
dari ajaran tersebut masih dapat terlihat (berasimilasi) dalam kehidupan masyarakat
Minangkabau umumnya, Nagari Surantih khususnya. Sekarang masih banyak yang
menyakini, keganjilan, keanehan yang tertanam di bumi Surantih walaupun
masyarakatnya sekarang umumnya beragalam Islam.
Di Nagari Surantih bila dilihat dari sebagian keyakinan masyarakat dalam
menarik garis ajok sepadan Nagari Surantih. Tanap disadari masyarakat Nagari
Surantih secara alami pengambaran berdasarkan alam takambang, menjadi latar
belakang sejarah “Alam Sati Nagari Surantih”. Fenomena yang ada di Nagari
Surantih menyimpan unsur kekuatan magis yang banyak menyimpan misteri yang
belum dapat diketahui dalam menguak Alam Sati Nagari Surantih. Masyarakat
nagari masih banyak menyakini dan menerima pengaruh dari kekuatan dan
kesaktian pada alam dan Tampat-tampat tertentu.
Tampat-tampat tersebut merupakan suatu misteri yang tidak pernah
terjawab, karena apa yang ada di Nagari Surantih merupakan harta nagari yang
harus diketahui dan dikembangkan sebagai aset yang tidak ternilai yang terkenal
selama ini seperti :
1. Silek Lintau di Batusangkar
2. Acuang Piaman di Padang Pariaman
3. Tinju Langgai di Surantih Painan.

Begitu juga dalam syair-syair sebuah lagu daerah pasisie yang berbunyi :
Surantih taluaknyo dalam
Batang Kapeh lubuk timpurung

Dari uraian di atas tidak satu pun yang bisa memahami dan diwarisi generasi
sekarang dan generasi berikutnya. Apalagi dalamnya isi Nagari Surantih selama ini.
Bila dilihat budaya dan perilaku masyarakat nagari dahulunya memiliki kharisma
tinggi yang tidak sama dengan nagari-nagari lain di kabupaten Pesisir Selatan.
Sikap pemberani yang terus terwaris tak pernah luntur dari generasi ke generasi. Itu
sebabnya dituangkan apa yang ada dan diyakini oleh setiap masyarakat nagari
guna untuk di pedomani bersama, seperti dalam peta berikut ini.



Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
198

Peta 5
Peta Posisi Ajok Sepadan dan Tampat Di Nagari Surantih

A. Tampat dan Urang Bunian.
Untuk memperjelas keberadaan nagari ini tentu ditandai dan diperjelas oleh
ajok sepadan nagari yang ditentukan secara adat. Tanda batas tersebut
digambarkan dengan kata ibarat yang merupakan fakta alam, seperti bakau nan
babejai, pinang nan baririk. Sedangkan daerah tampat yang memiliki kekuatan
magis terdapat pada lokasi-lokasi seperti Bukit, Gunung dan hutan. Ajok sepadan
tersebut jika dihubungkan dengan garis dari satu titik ajok sepadan ke titik lainnya.
Secara garis horizontal akan membentuk garis imajiner berupa lingkaran yang
mengelilingi Nagari Surantih. Nagari Surantih secara tidak langsung berada dalam
lingkaran tampat-tampat yang berada di keempat arah titik ajok sepadan yang
menyimpan kekuatan Supra Natural sehingga memberikan tuah kepada Alam
Nagari Surantih.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
199
A.1. Ajok Sebelah Barat
Batas tanda yang menjadi batas nagari di arah barat secara adat dibaratkan
dengan kata riak nan badabua. Daerah yang diyakini memiliki kekuatan magis
terdapat dan tersimpan di Gunung Rajo. Masyarakat mempercayai di daerah ini
tedapat kuburan keramat yang disebut dengan tampat. Menurut cerita yang
berkembang dalam kehidupan masyarakat, tampat tersebut merupakan milik Kaum
Melayu Langgai yang bernama Sutan Muncak. Lokasi tampat tersebut berada di
sebelah selatan Gunung Rajo yang memiliki kekuatan gaib yang tidak diketahui.
Namun banyak dikunjugi oleh masyarakat dalam melepaskan kaul dan berniat.
Selain tampat tersebut Gunung Rajo juga memiliki kekayaan alam berbentuk batu
permata yang bernama Kali Maya.


Gambar 77
Gunung Rajo

Kekuatan magis gunung ini dirasakan para nelayan ketika mereka
mengalami hujan badai di lautan. Dari arah Gunung Rajo pada saat badai tersebut
menimbulkan cahaya di tengah badai yang hitam pekat tersebut. Cahaya
tersebutlah yang menuntun arah mereka menuju daratan dan keluar dari badai.
Sedangkan di dalam riak nan badabua memiliki tiga buah pulau, di sana terletaknya
lautan sati Nagari Suratih yang harus dipecahkan maknanya.
A.2. Ajok Sebelah Utara.
Batas nagari pada arah ini dalam kata adat diibaratkan dengan bakau nan
babejai. Di arah daerah ini masyarakat memiliki keyakinan bahwa terdapat
kekuatan gaib dan magis yang terletak pada daerah seperti Gunung dan bukit. Bukit
dan gunung yang memiliki kekuatan magis antara lain Bukit Tabek Rawang disebut
dengan Tampat Singguliang. Sementara di daerah Gunung Malelo memiliki dua
buah tampat yang dijadikan masyarakat dalam melepaskan kaul yaitu di Bukit Batu
Balai, merupakan daerah yang diwarisi oleh Kaum Caniago Lubuk Batu. Di tampat
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
200
ini merupakan lokasi kuburan Tuanku Kali Adat yang bergelar Maha Rajo Lelo.
Tampat yang kedua terletak di Bukit Gadang Gunung Malelo, merupakan daerah
yang diwarisi oleh Kaum Kampai. Di daerah tampat ini disemayamkan Ayek Uniang
dari keturunan Kampai Langgai.
Pengaruh dari keberadaan tampat ini pernah dirasakan oleh kaumnya,
media yang menjadi pertemuan dari hubungan tersebut adalah melalui peristiwa
mimpi. Dalam mimpi yang dialami, diberikan sebuah petunjuk yang memerintahkan
untuk melaksanakan sesuatu dan harus melaksanakannya dengan baik dan
menyakininya. Biasanya petunjuk-petunjuk yang diperoleh dari peristiwa mimpi
tersebut adalah tentang pengobatan, seperti mengobati orang yang sedang sakit
bahkan orang kemasukan roh halus (didatangi penghuni tampat).
Fenomena alam gaib nagari ini terlihat juga di Bukit Batu Balai dengan
lahirnya cerita rakyat yang dikenal masyarakat sebagai kaba Bujang Jibun.
Sementara di Gunung Mansek Kampung Koto Marapak diyakini masyarakat
sebagai Gunung yang banyak dihuni sekelompok masyarakat gaib yang sering
disebut juga oleh masyarakat sebagai Urang Bunian. Bahkan beberapa masyarakat
pada hari tertentu pernah merasakan melalui panca inderanya saat berada di
daerah tersebut adanya bau-bauan, pendengaran dan penglihatan yang sulit
diterima akal sehat. Pengalaman yang pernah dirasakan masyarakat yang
mengalami kejadian tersebut seperti melihat perkebunan yang belum pernah dilihat
sebelumnya bahkan mendengar pembicaraan orang, bunyi ganto, ada juga yang
membauni masakan. Bagi mereka yang mengalami peristiwa tersebut merasakan
kejadian tersebut persis seperti dengan kehidupan sesungguhnya.
A.3. Ajok Sebelah Selatan
Diibaratkan dengan parik nan tarantang dahulunyo pinang baririk, keduanya
daerah yang diyakini memiliki kekuatan magis adalah Gunung Giriak. Bagi
masyarakat gunung ini menyimpan misteri tertentu ada kepercayaan dalam
kehidupan masarakat bahwa ada kehidupan alam gaib merupakan sekelompok
mahluk Tuhan yang disebut Urang Bunian. Di Gunung Girik sering orang
menemukan keganjilan apabila tersasar orang melihat adanya kebun nenas, limau
manis, jangkar kapal, piring dan lobang berupa terowongan. Ada juga orang di
bawah ke perkampungan Si Bunian melalui giriaknya yang berada sebelah selatan
gunung tersebut. Penghidupan masarakat Si Bunian persis seperti penghidupan
masyarakat masa lampau rumah-rumah berbentuk bundar bulat berperkarangan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
201
tanah yang bersih. Beratapkan daun kayu dan memiliki pimpinan di Gunung Girik
yang bergelar Penghulu.
Bagi masyarakat sampai saat ini giriak yang ada di gunung tersebut masih
berupah misteri yang belum perna terjawab kebenarannya, walaupun sebagian kecil
masarakat di Gunung Giriak menyimpan harta karun atau yang lainnya seperti Goa
Burung Layang-layang, namun semua itu hanya baru merupakan suatu cerita di
Nagari Surantih ini.


Gambar 78
Gunung Giriak
Diyakini Masyarakat Sebagai Salah Satu Tampat Yang Manjadi Daerah Perkampungan Urang Bunian.


A.4. Ajok Sepadan Timur
Tanda batas Nagari Surantih di arah timur ini berada pada daerah Lubuk
Badangkung arah Bukit Bujang Juaro hingga ke Pematang Bukit Kulambu di Batang
Air Tajungkang di tapian mandi Malintang Suai sehingga baganting mudik. Di
daerah ajok sepadan ini merupakan daerah yang paling banyak menyimpan
fenomena gaib. Mulai dari magis daerah Koto Tinggi hingga ke Langgai. Di setiap
kampung memiliki beberapa tampat yang diyakini masyarakat memiliki berbagai
macam kekuatan magis yang menyimpan misteri yang tak terpecahkan oleh akal
sehat, hingga masyarakat masih tetap menyakini dan merasakan hal tersebut.
Di Kampung Kayu Aro menyimpan keunikan lantaran banyak memiliki
fenomena magis yang hampir mirip dengan keadaan Nagari Surantih. Kayu Aro
memiliki tiga buah tampat berada di sekitar kampung ini, salah satu dari tampat
tersebut ada yang berpasangan dengan tampat yang di Koto Tinggi. sama halnya
dengan tampat yang ada di Nagari Surantih, tampat yang ada di daerah ini juga
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
202
dijadikan sebagai tampat untuk melepaskan kaul dan niat oleh masyarakat yang
percaya akan kekuatan yang dimiliki tampat tersebut
50
.
Di sebelah Utara, daerah Pematang Bukit Punjuang terdapat Batu
Batingkek, menurut cerita masyarakat meyakini bahwa itu merupakan rumah Bujang
Jibun. Tampat tersebut dimanfaatkan sebagai tempat bertapa menuntut ilmu-ilmu
dunia. Sebelum sampai di Bukit Punjuang tempat rumah Bujang Jibun akan
melewati terlebih dahulu Tanah Nyariang (Nya[g]iang). Di lokasi ini menyimpan
misteri alam yang aneh dan gaib, ketika seseorang melewati daerah tanah tersebut
akan mendengar suara nyaring/mendesing dari setiap langkah yang diinjakan di
tanah tersebut. Jika dilhat dari tanah tersebut persis sama dengan tanah-tanah
lainnya. Daerah ini memiliki panjang 100 M, di daerah ini di lakukan sebagai tempat
untuk menuntut ilmu keduniawian melalui penarakan.
Di Kampung Batu Bala[h] fenomena gaib yang ada di kampung ini cukup
banyak. Kampung Batu Bala[h] memiliki beberapa tampat yang harus diketahui
keberadaannya antara lain seperti : tampat dan lokasi Urang Bunian. Tampat yang
ada di Kampung Batu Bala[h] terletak didekat perkampungan masyarakat. Tampat
tersebut sering digunakan oleh masyarakat sebagai tempat bertapa dan melepas
niat. Di dalam perkampungan ini, tepat berada di halaman rumah penduduk,
terdapat sebuah batu berbentuk menyerupai kursi bersandar. Menurut Dt. Rajo
Endah batu tersebut merupakan batu kursi sandaran Raja. Batu tersebut dibawa
dari mudik kambang ke daerah ini.
Sebelah utara Kampung Batu Bala[h] di pematang Bukit Aweh Kuniang
terdapat beberapa tempat yang dianggap masyarakat merupakan lokasi hidupnya
masyarakat alam gaib yang disebut Urang Bunian. Diperkirakan lokasi hunian
tersebut berada berada di Bukit Tabuah (Beduk). Kegaiban alam yang pernah
dirasakan oleh Malis dan masyarakat Batu Bala[h] lainnya ketika mencari Damar
dan hasil hutan lainnya di daerah tersebut. Pada saat senja (magrib) hari kamis,
sering terdengar suara beduk beberapa kali dari arah tempat tersebut. Karena
fenomena itulah masyarakat menamai daerah tersebut Bukit Tabuah (Beduk)
Arah mudik dari pematang bukit tersebut, tepatnya di Gunung Talau. Di
Gunung Talau diyakini terdapat pemukiman masyarakat Bunian sedang di kaki
Gunung Talau terdapat Tampat Rajo Alam. Fenomena gaib dan bersifat magis

50
Ketiga tampat tersebut dipercaya sebagai tampat tigo tungku sajarangan milik Kaum Sikumbang
yang tidak sealiran. Tampat ini dipercaya masyarakat sebagai tempat penangkal kiriman orang.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
203
yang pernah dialami masyarakat adalah tentang kehidupan masyarakat gaib.
Menurut Lidis Kaum Caniago Kayu Aro, pada tahun 2003 ketika melewati daerah
tersebut, ia melihat lemang yang sedang dimasak (dibakar) dalam lahan
perkebunan sehinga ia memakan lemang tersebut dan kemudian pergi.
Menurut kaba yang berkembang dari cerita masyarakat. Penguasa Gunung
Talau bernama Puti Gadang Sanggu. Dia mewariskan kekuasaannya kepada Puti
Kalang Kabuik yang bersuami pada Sultan Alang Janjang Hulu dari Gunung Kunik.
Diyakini keturunan dari keluarga ini sampai sekarang masih berkembang.
Di Kampung Langgai yang merupakan kampung yang paling ujung dari
Nagari Surantih memiliki cerita-cerita tentang peristiwa magis dan gaib. Seorang
masyarakat yang bernama Sarbit, pernah merasakan dan mengalaminya di Bukit
Limau Puruik arah selatan Kampung Langgai. Pada saat ia bermalam di ladang, ia
mengalami peristiwa mimpi (dejavu) di mana dalam mimpi tersebut ia diberi dua
buah jagung oleh dua orang gadis. Pada siang harinya ketika sedang bekerja di
ladang, ia didatangi oleh dua orang gadis persis sama dengan yang ia alami dalam
mimpinya. Pada saat itu perasaan Sarbit merasakan peristiwa tersebut memang
nyata terjadi. Mereka berbicara seperti layaknya orang berbicara biasa, kemudian
sarbit diajak berjalan-jalan melihat perkampungan tempat kedua gadis tersebut. Di
kampung tersebut dilihat ada rumah tempat tinggal penduduk, mesjid yang tertata
rapi dan indah dipandang mata. Ia diperlakukan oleh masyarakat di sana dengan
santun dan sopan. Ia disuruh membaca doa dalam acara makan bersama sebagai
jamuan atas kunjungannya dan diajak untuk tinggal menetap bersama mereka,
namun tawaran itu ditolak. Kemudian ia dilepas oleh Datuk (pimpinan) kampung
tersebut untuk pulang kembali ke ladangnya.
Di Kampung Langgai juga terdapat lokasi tampat yang sangat terkenal di
Nagari Surantih yang berada di Dusun Janang dusun tertua di Langgai. Keberadaan
tampat Langgai bagi masyarakat Langgai sangat berarti dan jadi kebanggaan
sebagai penjaga Kampung Langgai. Tampat ini selalu memberikan tanda berupa
getaran hingga ke tonggak tuo mesijd. Peristiwa merupakan tanda bahwa akan
datang bala/musibah menimpa. Tampat ini dijadikan masyarakat sebagai tempat
ziarah yang sering dikunjungi masyarakat yang memiliki niat dan maksud tertentu.
Keberadaan mahluk gaib, tampat-tampat yang menyimpan kekuatan magis
dan Supra Natural serta fenomena gaib lainnya yang terjadi di alam ini merupakan
kehendak dan kekuasaan Tuhan. Kita sebagai manusia memang tidak bisa
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
204
memahami fenomena tersebut dan sulit diterima oleh akal sehat. Namun peristiwa
gaib dan keberadaan daerah-daerah yang menyimpan kekuatan gaib dan Supra
Natural pada daerah tertentu masih diyakini keberadaannya di Nagari Surantih. Hal
ini memberi pengaruh yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat baik dalam
berperilaku dan pola pikir.
Bila dilihat selama ini lebih dalam lagi cerita tentang Urang Bunian, baik
yang terjadi pada masyarakat dahulu hingga masyarakat sekarang. Bahwa mahluk
alam gaib pada hakikatnya berbaur kehidupannya dengan manusia pada umumnya.
Sebelum tahun delapan puluhan, di pasar Nagari Surantih sering terjadi Urang
bunian tersebut pergi berbelanja seperti manusia biasa. Tanda kehadiran mereka di
pasar, menjadikan suasana pasar menjadi ramai riuh rendah oleh suara manusia
(malanguh)
Ciri-ciri dari Urang Bunian tersebut diketahui oleh sebagian orang yang
memahaminya. Jika dilihat dari segi pakaian mereka, umumnya pakaian mereka
pada bagian baju di bawah ketiak disulam dengan kain perca kuning atau merah
(ditumbok). Kain perca kuning dan merah diyakini masyarakat berasal dari kain
yang dipersembahkan oleh manusia sebagai payung panji di tampat-tampat
keramat, seperti Mesjid atau pun tampat keramat yang dijadikan sebagai wujud
sumpah sati menuju alam kehidupan manusia.
Berdasarkan pengalaman orang yang telah mengetahui lebih dalam tentang
kehidupan mahluk gaib (Bunian). Kehidupan mereka di alamnya sama dengan
kehidupan manusia di alam nyata. Mereka juga memiliki fasilitas seperti lahan
pertanian, jalan, mesjid dan rumah. Perbedaannya terletak pada cara dan keadaan
pengaturan pola perkampungan yang diatur secara rapi dengan halaman yang
bersih. Rumah-rumah berbentuk bulat terbuat dari kayu atap rumah dari daun yang
merupakan milik dari golongan biasa (rendah). Sementara rumah yang memiliki
jenjang dua hingga lima seseuai dengan kedudukan atau kepenghuluannya dan
kekuasaanya. Umumnya kehidupan Urang Bunian adalah sebagai petani dengan
kepemilikan lahan yang sama luasnya.
Sikap dan perilaku Urang Bunian dalam kehidupannya sangat taat dalam
beragama. Umumya mereka selalu bersikap jujur, patuh dan ikhlas dalam
mengerjakan sesuatu sehingga tidak banyak tingkah laku. Dilihat secara
keseluruhan dalam kehidupannya mereka tidak memiliki beban dan sangat penurut.
Dalam dunia mereka terdapat pantangan (tabu) seperti dilarang berdusta sesama
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
205
mereka ataupun manusia yang sudah berbaur dengan kehidupannya. Bagi yang
telah melanggar pantangan tersebut, sanksinya adalah mereka dibuang dari
dunianya, diusir ke dunia fana dan dilarang kembali masuk dalam kehidupan Urang
Bunian. Bagi masyarakat yang menghianati perjanjiannya dengan Urang Bunian
biasanya mereka akan sakit. Umumnya sakit yang mereka derita seperti orang yang
telah lupa akan kesadarannya dan bahkan ada yang menjadi gila.
Pengaturan kaum bunian dipimpin oleh seorang Penghulu yang dibantu oleh
Datuk-datuk. Mereka diberi kekuasaan yang tinggi dalam menjalankan aturan yang
telah ditetapkan. Sehingga tercipta suasana damai dan tenteram. Itu pula sebabnya
orang yang telah terjerat dan memasuki kehidupan alam gaib, sangat betah dan
kerasan hingga tidak mau kembali.
Berdasarkan keterangan beberapa orang yang mengalami peristiwa yang
berhubungan dengan alam gaib (Supra Natural). Dalam menjalin hubungan baik
antara manusia dengan masyarakat alam gaib memiliki cara yang beragam. Dari
fenomena yang terjadi Nagari Surantih, ada yang tersesat di hutan lalu memasuki
daerah orang Bunian. Ada juga yang mengalami peristiwa mimpi didatangi langsung
oleh mahluk gaib tersebut. Hubungan terjalin baik dengan saling membantu dan
saling memberi. Ada pula orang yang memiliki hubungan atau sering didatangi
mahluk gaib memiliki kemampuan Supra Natural sehingga bisa melakukan
pengobatan terhadap orang yang sakit.
Keterangan-keterangan di atas didapat dari cerita masyarakat Nagari
Surantih yang pernah dibawa/dimasuki mahluk gaib seperti Urang Bunian, roh halus
atau yang sejenis. Dengan keyakinan bahwa alam gaib itu memang ada
mempengaruhi masyarakat Nagari Surantih hingga sangat memegang falsafah
dalam kehidupan ini berupa “lawik sati [r]antau batuah”.
Keadaan yang demikian memberi pengaruh yang sangat kuat dalam
kehidupan, hingga masyarakat pada masa lalu bisa hidup damai dan teratur,
menghormati nilai-nilai tradisi yang telah diwarisi dari masyarakat sebelumnya.
Walaupun dalam kenyataan hanya sebagian kecil yang melaksanakan aturan
tersebut. Misalnya dalam memasuki atau tinggal dalam hutan melaksanakan
beberapa larangan dan pantangan yang dianggap terlarang. Maksud dan tujuannya
adalah untuk saling menghormati sesama mahluk hutan yang ada di bumi.
Walaupun aturan tersebut berupa pesan lisan secara turun temurun yang sering kali
megalami perubahan bunyi (kata) tapi makna atau isinya tetap sama, seperti :
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
206
 Memasak (batanak) disebut manaka
 Makan disebut mancaku
 Minum disebut mancawan
 Aie (air) disebut api
 Batang api disebut Batang aye
 Rendam disebut unggak
 Kabuik disebut kondo
 Babalik pulang disebut kapasie
 Hujan disebut intik
 Ingo iko disebut inggam
 Lihat (caliak) disebut longok


Begitu juga dengan larang pantang dalam cara dan bertingkah laku dalam
melakukan pekerjaan dan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari di hutan. Dapat
dilihat seperti larangan :
 Dilarang berjalan di hutan menengok kiri kanan
 Dilarang menimba air dengan periuk atau kuali (pewuak)
 Dilarang membuang air bekas pencuci piring dari atas pondok ke
bawah
 Dilarang tidur menegakkan lutut
 Dilarang membuat pondok di atas tunggu bekas penebangan
 Dilarang duduk di tunggu penebangan kayu
 Dan lain-lain.
Semua itu dianggap ada balanya (resiko) terhadap orang yang melanggar. Itu
pula sebabnya orang dahulu sangat penurut lantaran mereka sangat menyakininya
B. Anak Naiak
Demikian juga dengan kehidupan masyarakat Nagari Surantih, pengaruh
dan warisan kepercayaan-kepercayaan berupa berbau Animisme dan Hindu masih
bisa terlihat bahkan di Nagari Surantih memiliki keunikan tersendiri. Dalam
kehidupan masyarakat Surantih semenjak zaman dahulu hingga saat ini terdapat
suatu kepercayaan dan keyakinan terhadap suatu kejadian yang disebut
masyarakat sebagai peristiwa Anak Naiak.
Anak Naiak merupakan peristiwa pengakuan seorang anak yang
menyatakan bahwa ia adalah anak dari orang tua yang anaknya telah meninggal
dunia dan menitis dalam diri anak yang mengakui orang tua itu sebagai orang tua
kandungnya sendiri selain orang tua kandungnya yang asli. Muncul dan
diketahuinya peristiwa Anak Naiak ini ketika seorang anak telah bisa bicara. Meski
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
207
Si Anak Naiak tersebut belum dewasa/baligh, ketika dia bertemu dengan orang
tua/rumah dari anak yang telah meninggal dunia itu, Si Anak Naiak akan bercerita
pada orang tuanya yang asli atau langsung mengatakan pada orang tua tersebut
bahwa ia adalah anak kandungnya yang telah meninggal dunia.
Biasanya pada saat Anak Naiak menceritakan pengakuannya sebagai anak
dari orang tua yang anaknya telah meninggal itu disertai dengan bukti-bukti berupa
ciri-ciri fisik, sifat, kebiasaan, alat permainan, kesukaan dan kenangan-kenangan
yang pernah dialami anak yang telah meninggal bersama keluarga orang tuanya
tersebut. Pembuktian akan semua perkataan Anak Naiak ini hanya dapat diketahui
kebenarannya oleh orang tua yang anaknya telah meninggal setelah menerima
pengakuan dari Si Anak Naiak.
Masyarakat Nagari Surantih sangat mempercayai akan peristiwa Anak Naiak
ini. Hal ini dikarenakan, memang peristiwa ini masih terjadi dalam kehidupan
masyarakat Surantih dan orang-orang yang mengalami peristiwa Anak Naiak dapat
ditemui. Selain itu dalam peristiwa ini adalah fakta yang memang merupakan
kenyataan dan dibuktikan oleh Si Anak Naiak.
Dari fenomena ini bagi masyarakat yang mengalami peristiwa ini langsung,
khususnya bagi orang tua yang anaknya menjadi Anak Naiak. Menimbulkan rasa
kekhawatiran pada orang tua kandung si Anak Naiak, karena akan meninggalkan
keluarganya. Biasanya untuk mengatasi masalah ini orang tua si Anak Naiak akan
berusaha menghilangkan ingatan si Anak Naiak pada orang tua yang ia naiki
rumahnya. Cara yang digunakan adalah dengan melimau si Anak Naiak agar ia bisa
melupakan orang tua barunya.
Berdasarkan cerita dan pengalaman yang diceritakan Anak Naiak, termasuk
pada saat ia meninggal dunia. Ketika sudah meninggal ia tidak tahan melihat orang
tuanya terus menangisi dirinya dan ia merasakan sakit dan perih yang sangat kuat
akibat ratapan dan tangisan orang tuanya. Meskipun ia telah berusaha
membujuknya untuk berhenti menangis. Si Anak Naiak juga tidak tahan melihat
orang tuanya sering kali mendatangi kuburannya. Ketika berada di alam kubur
mereka merasa tidak tahan akan azab yang diterima sehingga ingin kembali hidup
ke dunia fana.
Penitisan Anak Naiak kembali ke dunia fana ini melalui proses yang sangat
panjang. Proses ini diawali penitisan pada rahim seorang wanita yang sedang
hamil. Wanita hamil yang akan di jadikan sebagai tempat menitis adalah seorang
wanita pilihan yang memiliki kepribadian baik dan memiliki kehidupan beragama
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
208
yang kuat. Untuk bisa masuk kedalam rahim wanita yang sedang hamil tersebut
adalah melalui sayur-sayuran. Salah satunya pucuk batik dipilih sebagai sayur yang
akan mengantar roh tersebut masuk dalam rahim dan menyatu dengan janin yang
sedang dikandung wanita tersebut.
Melalui proses panjang tersebut, mulai dari lahir hingga ke dunia dan bisa
berbicara. Diwaktu ia menginjak masa remaja/dewasa Anak Naiak membuktikan
pada ke dua keluarganya bahwa ia lahir kembali ke dunia dengan menunjukan
bukti-bukti yang menunjukan fakta dan realita yang tidak bisa diterima oleh akal
sehat manusia. Cerita dan keterangan ini diperoleh dari beberapa orang Anak
Naiak yang berada di Nagari Surantih. Untuk lebih jauh mengetahui keberadaanya
marilah sama-sama dipelajari lebih lanjut tentang jawaban Anak Naiak tersebut.
C. Manusia Harimau dan Cindaku
Dahulunya pada era tahun 70-an di Nagari Surantih dalam kehidupan
masyarakat sangat menyakini bahwa ada orang yang mampu menjadi seekor
Harimau. Ada juga yang menyebutnya dengan Harimau jadi-jadian yang disebut
dengan Cindaku. Antara keduanya memiliki perbedaan tersendiri. Cindaku
merupakan bangsa manusia yang bisa langsung jadi Harimau. Pada masa lalu
Cindaku sering memasuki kampung-kampung dalam perjalanannya. Ciri-ciri yang
dimiliki Cindaku berparas tua, tidak memiliki bandar di atas bibir. Jika dilihat dalam
kehidupan masyarakat nagari sekarang, fenomena tersebut hanyalah berupa
kenangan yang telah menjadi legenda.
Sementara manusia yang bisa merubah diri jadi Harimau. Kemampuan ini
biasanya didapat dari hasil Batarak/pertapaan di tempat tertentu. Sehingga ketika
menginginkan merubah wujudnya menjadi Harimau haruslah dengan ilmu. Menurut
Tasqir kaum Kampai Pasir Nan Panjang, dalam pemerintahan nagari Wali Nagari
Almasri Syamsi masa kerja 2002-2007 menjabat sebagai Sekretaris DPN. Mawin
Kaum Melayu yang juga merupakan mertuanya. Memiliki ilmu dan kemampuan
untuk merubah diri menjadi seekor Harimau. Ilmu ini beliau dapatkan di
perkampungan Pasama, daerah Jambi. Sebelum mendapatkan ilmu tersebut beliau
dimandikan di pincuran tujuh untuk bisa mewarisi ilmu tersebut.
Cerita ini diketahui ketika beliau sekeluarga merantau ke daerah Bengkulu.
Di sanalah mulai terungkap rahasia diri Mawan mempunyai kelebihan itu. Sewaktu
istri beliau (Syamsidar) menyuci di sungai sedangkan Tasqir juga di sana bersama
mertuanya Mawin yang akan mandi. Tanpa disadari pada siang itu tiba-tiba turun
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
209
hujan yang disebut dengan hujan paneh (hujan panas). Bersamaan dengan
turunnya hujan tersebut Mawin langsung melompat (mangkacatiang) ke seberang
sungai. Sampai di seberang beliau sudah mulai merangkak, melangkah seperti
Harimau walaupun belum berubah wujud menjadi seekor Harimau. Tiba-tiba istri
beliau berteriak memanggil nama suaminya Mawin. Tak lama kemudian suaminya
kembali berdiri dan berenang ke seberang menuju tepian mandi. Lalu beliau
tersandar letih sambil mengucapkan terima kasih pada istrinya lantaran telah
memanggil namanya hingga tidak jadi berubah wujud jadi seekor Harimau.
Keyakinan tersebut diperkuat dengan loncatan beliau menyeberangi sungai
yang berjarak 12 M dengan bagus. Semenjak peristiwa tersebut beliau
menceritakan pada semua keluarga. Sehingga keluarganya yang telah mengetahui
hal tersebut menganggap biasa-biasa saja. Setelah kembali ke Sungai Sirah di
Nagari Surantih. Pada suatu malam, kejadian kedua yang sama terulang kembali.
Saat Mawin tidur di kamar, beliau mengucapkan jawaban salam “Mualikum salam”.
Lalu keluar kamar duduk dan langsung membuka jemdela. Tasqir menegur,
“apakah bapak bermimpi ?” beliau jawab, “tidak”. Beliau berkata, “ada yang datang
membawa kabar dari keluarga di kampung Pasama, ada anggota keluarga beliau
yang sakit”. Beliau mengajak saya pergi, tak lama kemudian melompat di jendela,
dengan cepat Tasqir memanggil nama beliau Mawin. Tak lama kemudian beliau
mengetuk pintu, masuk rumah dan tak jadi pergi.
Dari keterangan Tasqir ini bahwa ilmu tersebut didapat dari Kampung
Pasama yang terletak antara Kerinci dan Jambi yang diperoleh dari hasil bertapa
selama 7 hari. Ilmu tersebut bisa bangkit dan muncul tiba-tiba apabila hari hujan
panas dan dijemput oleh oleh masyarakat kampungnya. Selain dari ini untuk
merubah wujud menjadi Harimau haruslah dengan mengunakan ilmu. Oleh sebab
itu sering juga keluarga membantu memanggil nama Mawin bila hal tersebut datang
tiba-tiba.
Menurut beliau manfaat ilmu tersebut berguna sekali pada masa-masa
dahulunya karena kehidupan yang serba sulit. Dengan ekonomi yang penuh
tantangan, masyarakat sering berpegian meninggalkan kampung halaman untuk
mencari uang. Sedangkan Mawin di saat itu harus berulang ke Jambi bekerja
disebuah perkebunan karet. Transportasi yang belum selancar seperti sekarang ini,
makanya banyak pekerja kebun yang bertapa menuntut ilmu tersebut di Kampung
Pasama. Hakekat dari kesaktian yang dimiliki orang yang memiliki ilmu ini, baginya
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
210
dunia sangat kecil, sekejap sampai ditujuan, walau sejauh apapun hanya berjarak
salangkah sepijak tapak. Sebelum beliau meninggal (tahun 1991) ilmu tersebut
telah dihilangkan (manghanyuikan ilmu) dari diri beliau sehingga bebas dari ilmu-
ilmu dunia. Semenjak itu Tasqir percaya bahwa manusia hidup bisa berubah jadi
Harimau.
Di Nagari Surantih bukan saja Mawin yang punya kemampuan luar biasa,
tapi ada juga anak Kampung Kayu Aro bernama Lias Kaum Sikumbang memiliki
kemampuan yang sama, beliau meninggal pada tahun 1998 di Kayu Aro. Pada
masa beliau hidup masyarakat nagari banyak yang tahu bahwa beliau memiliki
kemampuan yang tinggi sebagai pawang Harimau. Peristiwa di luar pikiran manusia
yang terjadi tentang ilmu yang beliau miliki walaupun hanya dari cerita orang ke
orang maupun yang dilihat.
Ilmu yang beliau miliki diperoleh, hampir sama dari cerita yang didapat
dengan ilmu yang dimiliki Mawin. Masa hidup beliau dihabiskan dengan membantu
masyarakat, seperti mengambil pusa-pusa Harimau pada manusia di Nagari
Surantih dan sekitarnya. Peristiwa di atas pada saat sekarang ini masih diyakini
masyarakat Nagari Surantih, bahwa manusia bisa merubah diri jadi Harimau dari
ilmu-ilmu yang didapat.
D. Pemelihara Harimau
Di Nagari Surantih banyak berkembang cerita-cerita yang harus ditelusuri,
apalagi tentang Harimau. Sebagai manusia biasa, mendengar nama si raja hutan ini
sudah bisa membayangkan keganasannya. Di Nagari Surantih ini banyak diketahui
tentang orang yang memiliki Harimau secara keturunan. Seperti di Kampung Pasir
Nan Panjang, Sudin Kaum Sikumbang sampai sekarang masih mengembalakan 7
ekor Harimau yang dapat dipanggil kapan beliau butuhkan dan masih banyak lagi
yang lainnya.
Menurut cerita bapak Sudin tempat tinggal Harimau tersebut di Gunung
Giriak dan Gunung Rajo Surantih. Dahulunya beliau merawat 8 ekor Harimau dan
sekarang hanya tinggal 5 ekor, baru-baru ini bertambah 2 ekor lagi. Tiga ekor
Harimau mati disebabkan karena memakan lembu atau telah sampai ajalnya. Setiap
kali Harimau mengambil nyawa, maka dia tidak berapa lama setelah itu. Kira-kira
dalam waktu satu bulan Harimau tersebut akan mati juga. Umumnya kelompok
Harimau yang seketurunan, jantan dan betina tidak dapat kawin. Sehingga hal ini
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
211
menyebabkan perkembangan Harimau kelompok tidak memiliki perkembangan
keturunan yang banyak. Usia Harimau ini hanya berkisar 30 sampai 40 tahun.
Menurutnya apabila ada yang membutuhkan bantuan, seperti menjaga padi
di sawah dan kebun (ladang). Maka pengasuhnya akan memanggil dengan kayu
khusus. Kayu tersebut dipukulkan ke tanah. Maka tidak berapa lama kemudian
Harimau tersebut akan datang kepadanya. Dengan cara yang demikian, pemiliki
sawah atau ladang akan membayar ala kadarnya. Paling banyak hanya boleh Rp.
10.000. sebagai syarat pengobatan atau batuan. Kalau syaratnya berlebih akan
berakibat fatal terhadap pengasuh atau terhadap Harimau tersebut. Hal tabo lainnya
yan menjadi pantang bagi harimau, tidak boleh diperintahkan menjaga kebun di
lokasi yang dikuasai oleh Harimau Kumbang.
Hubungan Harimau dengan pengasuhnya sangat erat. Ketika pengasuhnya
sakit, tanpa dipanggil Harimau-harimau tersebut akan datang ke rumah. Hubungan
Harimau dengan pengasuhnya ibaratnya manusia dengan kucing. Seekor Harimau
makan hanya dengan sebutir telur ayam.

7.2. Adat Istiadat dan Budaya Nagari
7.2.1. Sistem Adat Nagari Surantih
Dalam perjalanan sejarah Nagari Surantih, diketahui bahwa Nagari Surantih
merupakan wilayah rantau yang tergabung dalam kesatuan daerah Banda Sepuluh
yang berada dibawah kekuasaan raja kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu. Tambo
yang dimiliki masyarakat Minangkabau, keberadaannya dari zaman ke zaman
bersifat tak lapuak dek hujan, tak lakang dek paneh. Pusaka yang diwarisi hingga
sekarang ini dari generasi-generasi terdahulu.
Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa memberi keramat pada Ninik Sri
Maha rajo Dirajo dan Cateri Bilang Pandai membentuk dasar dan awal
perkembangan dari keturunannya (orang Minang) yang telah mewarisi adat
Minangkabau yang diambil dari aturan Tauhid dan alam takambang jadi guru yang
merupakan falsafah hidup dan pedoman dalam penataan adat dan pemerintahan
nagari. Susunan tersebut sangat cocok dengan jiwa masyarakat, sehingga adat
tersebut jadi sempurna tak kala Agama Islam masuk memperkuatnya. Pegangan
dan pedoman dalam menjaga tata cara keselamatan hidup masyarakat Minang,
beliau menjadi payung panji dan suluh bendang di Ranah Minang. Beliau tersebut
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
212
bersaudara lain ayah satu ibu, bapaknya bernama Niniak Sri Maharajo bergelar
Sultan Paduka Besar dengan Gelar Dt. Katumangungan sedangkan dari keturunan
Ninik Cateri Bilang Pandai memiliki anak dua orang Sutan Balun dengan Gelar Dt.
Parpatih Nan Sebatang dan satu lagi bernama Si Kalab Dunie dengan gelar Dt. Suri
Dirajo.
Ketiga Datuk tersebut ditunjuk untuk memerintah dan membangun
perkembangan Luhak yang ditetapkan Cati Bilang Pandai :
1. Dt. Perpatih Nan Sabatang bertanggung jawab di Luhak Tanah Data
2. Dt. Katumangungan bertanggung jawab atas Luhak Agam
3. Dt. Suri Dirajo bertanggung jawab atas Luhak Lima Puluh Kota.

Seiring dengan perkembangan zaman, ketiga Datuk tersebut membuat
kesepakatan tentang ketiga Luhak yang ada tersebut dikembangkan dengan
mengunakan dua sistem kelarasan, yaitu :
1. Kelarasan Bodi Caniago
Kelarasan ini memiliki sistem adat yang digagaskan oleh Dt. Perpatih
Nan Sabatang yang bercorakan demokrasi
Putui rundiang dengan sakato, rancak rundiang dek sapakat
Latakan suatu di tampeknyo, dimakan alua dengan patuik
Di dalam cupak dengan gantang, dikampung adat jo limbago
Tuah tanyato dek sapakat, cilako dek iyo basilang

2. Kelarasan Koto Piliang
kelarasan ini memiliki sistem adat yang digagas oleh Dt.
Katumanggungan yang lebih bercorak Aristokrasi.
Nan babari nan bapaek, nan baukeh nan ba kalubung
Curing barih buliah diliek, cupak panuah gantang mambubung
Cupak tak buliah dilabihi, gantang tak dapek dikurangi
Barih tak buliah dilampaui

Dalam tata adat Minangkabau yang sebenarnya, pelaksanaan kedua sistem
kelarasan disebut “bajanjang naiak batanggo turun ibarat bacarai-carai tidak,
bapisah samo mamagang kato pusako”, sudah jelas menurut aturan yang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
213
disepakati. Dalam perjalanan sejarah perkembangan kedua kelarasan ini hingga
sampai ke Nagari Surantih adalah sebagai berikut :
1. Kelarasan Bodi Caniago yang dibawakan oleh Dt. Perpatih Nan
Sabatang, di nagari ini diwarisi secara turun temurun oleh kaum :
a. Tigo Lareh : Jambak, Sikumbang Caniago
b. Kampai : Nan IV Lambuang
2. Kelarasan Koto Piliang yang dibawakan oleh Dt Katumanggungan, di
nagari ini sistem tersebut diwarisi oleh kaum :
a. Melayu : Nan IV Ninik
b. Panai : Nan III Ibu
Meski paham kelarasan pada intinya sama satu wujud, berlain jalan tetapi
sama berlandaskan dengan hukum tauhid Agama Islam. Dalam perjalanan waktu
terjadi suatu perubahan sistem, semula hanya berbentuk teknis pelaksanaan.
Paham kelarasan dalam menuju daerah rantau megalami beberapa perubahan.
Kaum-kaum yang mewarisi kedua sistem tersebut jarang melaksanakan paham
kelarasan masing-masing. Munculnya adat salingka nagari merupakan perubahan
sistem yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat sebagai aturan dan tata cara
yang harus sama-sama dipatuhi dan ditaati.
Dalam penempatan daerah hunian di Banda Sepuluh, masyarakat terus
membentuk kelompok dengan mamatok daerah hunian dengan kaum masing-
masing. Pembentukan jurai paruik kecil hingga menjadi jurai paruik besar dengan
mengangkat seorang Penghulu kaum. Kemudian dilanjutkan dengan usaha
penunjukan seorang pimpinan berbentuk raja adat setelah terbentuknya nagari.
Kondisi yang berkembang di daerah rantau dipertegas dalam kata pepatah
adat “luhak bapanghulu, rantau barajo”. Perkembangan masyarakat Minang di
daerah Luhak dipimpin oleh seorang Penghulu sedangkan di daerah rantau
dipimpin oleh seorang Raja, Sultan atau Pamuncak. Dalam pemerintahan nagari-
nagari di Banda Sepuluh dahulunya pemegang kekuasaan pemerintahan nagari
memiliki beragam gelar. Di Nagari Surantih pada masa dahulunya, gelar pertama
yang dipakai adalah gelar Muncak setelah itu beralih ke Sultan. Tahun 1802 hingga
masa kemerdekaan pimpinan nagari bergelar dengan Tuanku
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
214
Dalam falsafah adat “luhak bapanghulu, rantau barajo”, daerah
perkembangan pertama yang disebut dengan darek (luhak), sedangkan daerah
perkembangannya disebut rantau (pasisie). Tata kehidupan dan pelaksanaan adat
dan budaya yang dijalankan oleh masyarakat kedua daerah memiliki perbedaan.
Seiring dengan perjalanan zaman, masyarakat terus bertambah hingga
Minangkabau membentuk suatu kerajaan besar di Pagaruyung. Dari perkembangan
kerajaan ini muncul beberapa kerajaan kecil yang dikuasai oleh Pagaruyung.
Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu merupakan salah satu anak kerajaan dari
Kerajaan Pagaruyung. Raja Alam Serambi Sungai Pagu diangkat atas persetujuan
yang Dipertuan Pagaruyung, Raja ini membawahi empat orang Raja yang ada
dalam wilayah Sungai Pagu
 Niniak Samsudin merupakan Raja Adat pemegang tampuk tangkai Alam
Surambi Sungai Pagu Tuanku Disambah Melayu Kampung Dalam dengan
gelar Niniak Nan Batuah Gunung Ameh Basurai Basumpahan Nan
Baragung Pamujaan Nan Manampo Makan Tulang Tak Babanak Nan
Bajanguik Merah Nan Bagombak Putiah.
 Tuanku Rajo Malenggang, Rajo Adat dalam Kampung Tiga Laras dalam
Suku Sikumbang
 Tuanku Rajo Bagindo Rajo Dalam Kaum Kampai
 Tuanku Rajo Batuah Rajo Dalam Kaum Panai.

Kekuatan budaya yang dimiliki nagari ini merupakan warisan dari raja-raja
adat kaum masing-masing. Perjalanan panjang budaya seiring dengan perubahan
waktu dengan aneka ragam peristiwa sehingga di nagari ini sangat sulit
menerapkan hukum adat asli dari daerah asal. Di Nagari Surantih sistem adat yang
terpakai adalah kelarasan Koto Piliang dan Bodi Caniago. Kedua kelarasan ini
berkembang dan bersatu membentuk sebuah Nagari. Sehingga timbul kata pusaka
berupa pesan tentang kedua kelarasan tersebut yaitu “Adat bagantiang hilie adat
nan bagantiang mudik”. Adat tersebut memiliki suatu pengertian yang sangat
mendasar dari hal yang sebenarnya.
Bila dipelajari timbulnya pesan dan falsafah adat tersebut maka dapat
diartikan bahwa adat Nagari Surantih timbul dari suatu dialektika. Bermula dari
masuknya budaya campuran dari tata cara perkembangan penduduk, mulai dari
menghuni daerah jajaran pantai barat Nagari Surantih sehingga masyarakat dua
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
215
bagian pantai telah membentuk sistem kehidupan berkaum dan membentuk jurai-
jurai baru dengan budaya berbeda.
Tokoh adat Nagari Surantih mencoba menyatukan dua perbedaan tersebut
sehingga Nagari Sirantih mengenal dua kelarasan Bodi Caniago dan Koto Piliang.
Terwujudnya tata cara yang harmonis dan serasi dalam kehidupan masyarakat
menciptakan adat salingka Nagari Surantih. Budaya inilah yang berkembang
sampai sekarang dalam mengatur kaum, suku-suku di Nagari Surantih. Ibarat
pepatah adat :
Pisang sikalek-kalek hutan
Pisang timbatu nan bagatah
Bodi caniagonyo bukan
Koto Piliang inyo antah
51


Bila dilihat dari sejarah yang diterima mengenai struktur suku yang ada di
Nagari Surantih, masih dalam pedoman tambo Alam Surambi Sungai Pagu, seperti :
1. Sikumbang, Caniago, Jambak, ketiga suku tersebut digabung ke dalam
Lareh Nan III
2. Kampai disebut juga dengan Kampai Nan IV Lambuang
3. Melayu disebut juga dengan Melayu Nan IV niniak
4. Panai disebut juga dengan Panai Nan III ibu.

Dari uraian ranji adat mengenai suku kaum yang diterima dari daerah asal
Sungai Pagu. Ranji tersebut menjadi pedoman dalam perkembangan kehidupan

51
Susunan adat dan pemerintahan ini dikenal sebagai sistim kelarasan (Lareh), secara umum pada sekarang ini
orang Minang mengetahui bahwa kelarasan yang ada dalam adat yang berlaku di nagari-nagari di Minangkabau
terdiri sistim kelarasan (adat) Bodi Chaniago yang dikembangkan Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Koto Piliang
yang dikembangkan oleh Datuk Ketumanggungan. Pandangan ini malah memberikan penafsiran dan pengesahan
bahwa pembagian dan pembentukkan suku/kaum di Minangkabau berawal dari kedua kelarasan ini. Namun ada
fakta yang seakan terlupakan atau “sengaja dilupakan” bahwa selain dua kelarasan tersebut sebelumnya telah
berdiri sebuah kelarasan yang yang disebut Lareh Nan Panjang. Kelarasan ini didirikan dan dipimpin oleh Datuk
Bandaro Kayo yang merupakan anak pertama dari Suri Maharajo Dirajo. Sistim kelarasan Lareh Nan Panjang
bersifat “tidak menitik dari atas dan tidak timbul dari bumi”, dalam artian sistim ini merupakan penggabungan dari
dua kelarasan yang muncul setelahnya yaitu Bodi Chaniago dan Koto Piliang. Keberadaan Lareh Nan Panjang ini
bisa menjadi titik terang dalam menelusuri tentang awal pembentukan suku di Minangkabau. Berkaitan dengan
sistim adat dan pemerintahan yang digunakan dalam susunan adat masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu, yaitu
adat menurut Koto Piliang dan susunan pemerintahan berdasarkan Bodi Chaniago. Penerapan sistim ini
merupakan penjelmaan dari Lareh Nan Panjang dan hal ini diperkuat bahwa sistim ini berasal dari Pariangan
karena sebelum dua rombongan tersebut datang ke daerah ini mereka berasal dari Pariangan. Jadi bisa
disimpulkan bahwa sistim adat dan pemerintahan yang ada di Sungai Pagu merupakan sistim yang dibawa dari
Pariangan dan diterapkan dalam kehidupan di Sungai Pagu. Menurut tokoh pemuka adat di Pariangan sistim ini
hanya ada dan dilaksanakan di Pariangan. Namun jiwa dari sistim kelarasan ini juga diterapkan di Sungai Pagu
meski mereka sebut dengan istilah, “susunan masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu menurut adat Koto Piliang
dan mereka susun tata cara pemerintahan menurut adat Pagaruyung”.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
216
masyarakat di daerah ini, sehingga membentuk dasar kehidupan beradat yang
dilambangkan dalam Ikek Ampek Payung Sakaki. Ikek Ampek Payung Sakaki inilah
yang membentuk jurai baru baparuik gadang yang berjumlah 14 kelompok kaum.
Dari 14 kelompok ini terus berkembang membentuk jurai-jurai baru, mulai dari
baparuik kecil hingga menjadi baparuik besar yang ditandai dengan mendirikan
Andiko kaumnya.
Dengan pengaruh tata perkembangan dari daerah asal Alam Surambi
Sungai Pagu. pengembangan kaum telah jelas terurai menurut garis keturunan
kaum yang juga diterima turun temurun, seperti :
1. Lareh Nan III
o Sikumbang berkembang menjadi Nan IV ibu
o Caniago berkembang menjadi Nan ba VI
o Jambak berkembang menjadi Nan ba VII
2. Kampai Nan IV Lambuang
o Kampai Bendang
o Kampai Sawah Laweh
o Kampai Tangah
o Kampai Nyiua Gading
3. Melayu Nan IV Ninik
o Melayu Koto Kaciak
o Melayu Durian
o Melayu Tangah
o Melayu Bariang
4. Panai Nan III Ibu
o Panai Lundang
o Panai Tangah
o Panai Tanjung


Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
217
Skema 6
SUSUNAN JURAI KAUM
MENURUT ALAM SUARAMBI SUNGAI PAGU

















Dari ranji adat mengenai pusako kaum yang terwaris dari daerah asal yang
diterima sudah jelas berkembang membentuk jurai-jurai baru. Sehingga dari Lareh
Nan Tigo telah berjumlah 17 jurai kaum, jadi apabila dipedomani dari awal sejarah
ranji kaum yang diterima dari daerah asal Alam Surambi Sungai Pagu telah
berkembang menjadi 14 ditambah 17 menjadi 31 jurai besar dan kecil sedangkan
jurai tersebut akan terus bertambah membentuk jurai kecil setelah membentuk jurai
besar yang akan mendirikan gelar pusako adat.
Berdasarkan dari perkembangan yang terjadi di Nagari Surantih sekarang.
Dapat dilihat dan diketahui bahwa kedatangan kaum-kaum dari daerah asal hingga
sampai di nagari ini. Tentu tidak sama dengan uraian ranji adat mengenai sako
IKEK NAN AMPEK
Lareh Nan Tigo
Gadang Balega
Kampai
Dt. Rajo Bandaro

Melayu
Dt. Sati
Panai
Dt. Rajo Batuah
Sikumbang
VI Ibu
Jambak
Nan Ba VI
Caniago
Nan Ba VII
Kampai
IV Lambung
Melayu
IV Ninik
Panai
III Ibu

Bendang Koto Kaciek Lundang

Tangah Tangah Tangah

Sawah Laweh


KAN
Tanjung Durian
Bariang Niu Gading





Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
218
kaum yang sampai menghuni daerah Surantih. Pada saat sekarang diketahui masih
ada kaum /suku yang belum memiliki jurai baru. Bila mempedomani ranji yang
turun dari daerah asal tentu harus jelas dan terarah siapa pemiliknya disetiap jurai
kaum.
Permasalahan yang terjadi di daerah rantau saat ini, banyak yang tidak
memahami latar belakang ranjinya bila dibandingkan dengan masyarakat di darek
yang jauh berbeda susunan budaya yang masuk dan yang berkembang dalam
proses hidup masyarakat sehari-hari. Apalagi di daerah rantau saat ini banyak
nagari yang tidak memiliki ranji yang jelas atau pun kaum-kaum yang ada di nagari.
Itu pula sebabnya sejarah nagari di daerah rantau kurang terarah dengan baik.
Ranji-ranji yang ada merupakan produk baru yang berusaha mempertahankan
posisi kaum masing-masing. Hanya satu dan dua yang dapat dipedomani.
Hal semacam ini memang tidak mungkin dipersoalkan lagi, semua
disepakati lantaran tidak satupun yang mau meluruskan kekeliruan yang telah ada.
Apalagi untuk merubah kenyataan yang telah ada. Saat ini yang bisa dilakukan
adalah menyusun dan mempertahankan budaya dan adat yang telah terpakai (adat
salingka nagari). Adat ini merupakan bagian dari adat Minangkabau yang telah
diwarisi secara turun temurun semenjak dahulunya dalam naungan Ikek Ampek
Payung Sakaki
Setiap suku yang berkembang membentuk paruik gadang dengan asal usul
yang jelas berserta penghulu kepalanya. Kemudian lahirlah jurai –jurai baru yang
berparuik kecil yang disebut dengan andiko kaum. Keberadaan Penghulu kepala
ditunjuk dari musyawarah kaum dan kesepakatan dari anggota suku yang ada untuk
didahulukan selangkah dalam memimpin kaum dan nagari.
Berikut merupakan nama gelar Penghulu dan sako kaum dan jurai Andiko
yang telah berkembang di Nagari Surantih. Banyak yang telah dikukuhkan secara
resmi dan diakui oleh Penghulu nan barampek yang ditandai dengan adat diisi
limbago dituang. Dalam sejarah Nagari Surantih, semenjak dahulunya Penghulu
yang mengisi adat sangat sedikit. Apalagi sebelum terbentuknya LKAM di
Kabupaten Pesisir Selatan. Setelah terbentuknya LKAM tahun 1970, Lembaga KAN
(Kerapatan Adat Nagari) mulai berangsur terbentuk di setiap nagari sehingga
lahirlah lembaga tunggal Niniak Mamak. Di Nagari Surantih yang pernah menjabat
sebagai Ketua KAN antara lain :

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
219
1. Abbas Dt. Rajo Basa. Kaum Sikumbang, masa jabatan 1970 - 1975
2. Abdul Halim Dt. Rajo Bandaro. Kaum Kampai, masa jabatan 1975 - 1979
3. Ros Kando Marajo. Kaum Caniago, masa jabatan 1979 - 1984
4. Hasan Basri Dt. Rajo Indo. Kaum Sikumbang, masa jabatan 1984 - 1998
5. Khasib Dt. Rajo Malenggang. Kaum Sikumbang, masa jabatan 1998 -
2005
6. Ujang Dt. Bandaro Hitam. Kaum Kampai, masa jabatan 2005 –

Lahirnya kebijakan LKAM bersama pemerintahan daerah Kabupaten Pesisir
Selatan. Bupati Darizal Basir melaksanakan pelewaan Penghulu di nagari-nagari
Pesisir Selatan secara global dalam satu upacara pelewaan. Penghulu yang
dilewakan saat itu antara lain :
1. Khasib Dt. Rajo Malenggang. Kaum Sikumbang
2. Ros Dt. Kando Marajo. Kaum Caniago
3. Jilis Dt. Rajo Bintang. Kaum Kampai
4. Atut Dt Rajo Bagindo. Kaum Kampai
5. Halim Dt Rajo Bandaro
6. Kasran Tan Ameh
7. Cetak Dt. Rajo Bandaro Hitam.
Acara pelewaan ini dilaksanakan di Los Pasar Surantih

Setelah adanya KAN di Nagari Surantih, namun masih banyak juga yang
belum mengisi adat, walaupun secara adat keberadaanya telah diakui dalam
kehidupan banagari. Di Nagari Surantih perkembangan kaum semakin banyak
membentuk Andiko-andiko kecil. Sementara keberadaannya belum diakui secara
resmi oleh Lembaga Kerapatan Adat Nagari
Dari hasil pendataan yang dilakukan pemerintahan nagari terhadap kaum-
kaum yang memiliki gelar sako adat sendiri dalam Nagari Surantih adalah sebagai
berikut:

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
220
a. Lareh Nan Tigo (Caniago, Jambak,Sikumbang )
Penghulu pucuknya adalah gadang balega
1. Caniago.
 Penghulu sukunya : Datuk Kando Marajo.
Rajo Johan
Malintang Bumi
 Andikho Gadang : Malin Sutan
Jo Mudo
Jo Johan
Maharajo Lelo
Jo Lelo
2. Jambak
 Penghulu : Datuk Rajo Bagampo
Datuk Rajo Gampo
Datuk Rajo Kayo
 Andiko Gadang : Maharajo Panjang
3. Sikumbang.
 Penghulu : Datuk Rajo Malenggang
Samad Dirajo
Datuk Rajo Basa
Datuk Rajo Indo
Andikho Gadang : Rajo Yaman,
Rajo Malenggang,
Jo Lenggang
Dt Bandaro Basa
Andiko Ketek : Jo Intan
Jo Pulun
Penghulu Kumbang
b. Melayu (Nan Ampek Niniek).
 Penghulu Pucuk : Datuk Sati.
 Andikho Gadang : Rajo Alam
Rajo Nan Sati.
c. Kampai (Nan Ampek lambuang).
 Penghulu Pucuk : Datuk Rajo Bandaro
 Andikho Gadang : Datuk Rajo Bandaro Hitam.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
221
Datuk Rajo Bagindo
Datuk Rajo Bintang
Datuk Rajo Endah (Dt. Rajo Putiah)
 Andikho Ketek : Rajo Bandaro,
Bagindo
Bandaro Hitam
Rajo Bujang
Rajo Di Aceh
Tan Ameh
d. Panai (Nan Ampek Ibu)
 Penghulu pucuk : Datuk Rajo Batuah
 Andikho Gadang : Rajo Batuah
Mangkudun



PENGHULU-PENHULU YANG TELAH DILEWAKAN
DI NAGARI SURANTIH
1. Datuk Rajo Malenggang

Gambar 79
Kasib Dt Rajo Malenggang
Penghulu Kaum Sikumbang, nama kecil
Khasib. Dilewakan pada tahun 1996 di
Rumah Gadang kaum Sikumbang Kayu
Gadang




2. Datuk Kando Marajo

Gambar 80
Ros Dt. Kando Marajo
Penghulu Suku Kaum Caniago, nama
kecil Ros. Dilewakan pada tahun 1996 di
Rumah Gadang Kaum Caniago, Koto
Panjang



Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
222
3 Datuk Rajo Batuah,

Gambar 81
Rusli Dt. Rajo Batuah









Penghulu kaum Panai, nama kecil Rusli.
Dilewakan pada tahun 2001 di Rumah
Gadang kaum Panai Kayu Gadang.







4 Datuk Rajo Basa

Gambar 82
Dt. Rajo Basa

Penghulu kaum Sikumbang, nama kecil
Nazarwin. Dilewakan pada tahun 2003 di
Rumah Gadang Kaum Sikumbang Ateh
Balai, Koto Merapak.




5 Datuk Rajo Bandaro Hitam

Gambar 83
Ujang Dt. Rajo Bandaro Hitam

Penghulu kaum Kampai, nama kecil
Ujang. Dilewakan pada tahun 2004 di
Rumah Gadang Kaum Kampai, Gunung
Malelo







6 Datuk Rajo Malenggang

Gambar 84
Syafril Dt Rajo Malenggang


Penghulu Kaum Sikumbang, nama kecil
Syafril. Dilewakan pada tahun 2005 di
Rumah Gadang Kaum Sikumbang,
Rawang




Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
223
7 Datuk Rajo Indo
Penghulu Kaum Sikumbang, nama kecil Zulkardianto. Dilewakan pada tahun
2004 di Rumah Gadang Kaum Sikumbang Banda Dalam, Koto Panjang




8 Datuk Rajo Kayo
Penghulu kaum Jambak, nama kecil Hasan Basri. Dilewakan pada tahun
2004 di Rumah Gadang Kaum Jambak, Gunung Malelo




9 Datuk Rajo Putiah
52



Penghulu kaum Kampai, nama kecil Zul Arzil. Dilewakan pada tahun 2004 di
Rumah Gadang Kaum Kampai, Pasar Surantih




10 Datuk Rajo Bandaro Basa





Penghulu Kaum Sikumbang, nama kecil Zulkifli Muchtar. Dilewakan pada
tahun 1994 di Rumah Gadang Kaum Sikumbang, Pasar Surantih


11 Datuk Rajo Bintang
Penghulu Kaum Kampai, nama kecil Jilis. Dilewakan pada tahun 1996 di
rumah gadang Kampung Kampai Padang Limau Manih Timbulun
12 Datuk Rajo Bagindo
Penghulu Kaum Kampai, nama kecil Atut. Dilewakan pada tahun 1996 di
rumah gadang kaum Kampai Ampalu
13 Datuk Rajo Bandaro
Penghulu Kaum Kampai, nama kecil Halim. Dilewakan pada tahun 1996 di
rumah gadang kaum Kampai Kayu Gadang
14 Tan Ameh
Penghulu Kaum Kampai, nama kecil Kasran. Dilewakan pada tahun 1996 di
rumah gadang Pasir Nan Panjang.

Terhimpunnya tiga suku Sikumbang, Caniago dan Jambak. Merupakan hasil
dari suatu kesepakatan dalam wadah Lareh Nan Tigo. Hampir sama artinya dengan
lariak atau badakok-an. Dari Pengertian tersebut Ninik kaum terdahulu tentunya
punya alasan yang kuat untuk menyatukan tiga suku ke dalam Lareh Nan Tigo

52
Basalin baju dari Datuk Rajo Endah
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
224
sudah tercermin hubungan kebersamaan kekompokan dan kekeluargaan yang kuat.
Ibarat pepatah adat
Sadantiang bak basi
Saciok bak ayam
Ka bukik sama mandaki
Ka lurah samo manurun
Sakik jo sanang samo si raso.

Pepatah tersebut merupakan kata kesepakatan sebelum kaum Lareh Nan
Tigo disatukan, meskipun kaum dari Lareh Nan Tigo masih ada yang tidak
mengetahui makna yang ada dibalik kesepakatan tersebut. Surantih sebagai daerah
rantau yang telah berkembang dengan munculnya jurai-jurai, baik dari kaum yang
terdahulu maupun yang kemudian datang. Dalam tata perkembangan adat dan
budaya kehidupan banagari telah diakui keberadaanya sebagai bagian dari anak
Nagari Surantih. Sehingga dalam membentuk Andiko kaum baru diibaratkan dengan
cara ingok mancakam tabang manumpu ke dalam suatu kaum yang telah diakui
keberadaanya oleh ikek nan ampek.
Dengan perkembangan anggota kaum yang akan terus menerus bertambah.
Untuk memperjelas silsilah /ranji keturunannya dikemudian hari. Hal ini akan
membantu perkembangan nagari di masa yang akan datang, karena dengan
jelasnya tali hubungan darah ini akan menanamkan rasa tanggung jawab banagari
sehingga ikut serta dalam membangun dan menjaga kekayaan nagari.
Ka imbo babungo kayu
Ka lawiek babungo karang
Ka sungai babungo pasie
Ka ateh ta tambun jantan
Ka bawah ta kasik bulan.

Semakin berkembangnya jurai-jurai kaum dan membentuk jurai besar,
berbanding terbalik dengan tingkat rasa kebersamaan dalam hidup bakaum. Seperti
rasa memiliki yang mulai berkurang, setiap kemenakan yang telah diberi gelar sako
dan diberi berdasarkan jalur-jalur yang ia miliki, bak kato adat
Ketek anak ayah gadang anak mamak
Ketek diberi namo gadang diberi gala pusako.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
225
Seorang kemenakan di Minangkabau sudah memiliki jati diri yang diperoleh
dari gelar pusako adat. Kebanggaan akan gelar yang disandang, apalagi diucapkan
sangat indah. Dari realita yang berkembang di nagari sekarang ini, banyak anak
kemenakan yang merasa enggan dan menyamarkan gelar sako yang disandangkan
padanya. Salah satu penyebab munculnya hal ini dikarenakan kedudukan dan
keberadaan suku/kaumnya yang belum kokoh atau diakui dalam kehidupan
banagari, apalagi belum diakui oleh Ikek Nan Ampek, Payung Sakaki. Tidak ada
kebanggaan lagi dengan gelar sako yang dimiliki mengambarkan bahwa
masyarakat Minang di Nagari Surantih tidak bangga sebagai orang Minang.
Budaya yang terpakai di Minangkabau berdasarkan pada kata nan ampek,
yaitu :
1. Adat Nan Sabana Adat
Landasan adat ini memiliki sifat tak lekang dek paneh tak lapuak dek hujan,
merupakan hukum alam atau fakta nyata berdasarkan firman Tuhan, alam
takambang jadi guru. Adat ini berkaitan dengan perilaku manusia yang sifatnya
alami.
Nan kuriak adalah kundi nan merah ialah sago
Nan baik adalah budi nan indah ialah baso.

2. Adat Nan Diadatkan
Landasan adat ini merupakan ajaran adat yang terwaris. Dalam hidup,
perkembangan kaum/suku diatur menurut garis keturunan ibu atau keturunan nenek
perempuan. Suku/kaum yang dimiliki tidak dapat dialih atau diganti.
Sarak mangato adat mamakai
Warih dijawek pusako ditolong
Cupak nan duo kato nan ampek
Undang-undang nan ampek nagari nan ampek

3. Adat Nan Teradat
Landasan adat ini berifat adat nan salingka nagari, merupakan hukum
cupak sepanjang batang, adat sepanjang jalan. Keputusan yang dilahirkan dari
keputusan bersama, mufakat adat (KAN) dan disesuaikan dengan kehidupan
masyarakat.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
226
Lain lubuk lain ikan, lain padang lain ilalang
Dimano bumi dipijak disinan langik dijunjung
Dimano nagari dihuni disinan adat dipakai

4. Adat Istiadat
Landasan adat dari kebiasaan hidup setiap nagari, merupakan cara dan
kebiasaan masyarakat nagari dalam melaksanakan adat istiadat seperti upacara
perkawinan yang telah berlaku secara turun temurun
Sakali aie gadang, Sakali tapian baranjak
Sakali musim batuka, Sekali cara baganti
Hukum bisa dibanding, undang bisa dikarasi
Limbago bisa dituanggi dan cupak berkeadaan.

Dari uraian di atas sudah dapat dipedomani bahwa adat yang dipakai
tersebut masih ada kelongaran bukan harus babuhua mati, guna untuk
menyesuaikan dengan kondisi nagari. Berlakunya adat salingka nagari merupakan
suatu pegangan yang erat bagi Ikek Nan Ampek dalam melahirkan aturan yang
berkaitan dengan nilai adat budaya yang ada di nagari. Keinginan bersama dalam
hidup banagari adalah menghidupkan fungsi dan wibawa Ninik Mamak dalam
menjalankan konsep kembali banagari.
Hubungan timbal balik dalam pemerintahan nagari yang disebut dengan tali
tigo sapilin tigo tungku sajarangan. Sudah memadukan ikatan “kiajo bauntuk
bapagang bamasiang. Sehingga apa yang dipegang untuk menjadikan nagari ini
seperti tempo dulu akan bisa terwujud di Surantih ini. Lantaran nagari dengan
adatnya tidak dapat dipisahkan dalam tantangan kehidupan masyarakat.
Nagari bapaga undang, kampung bapaga jo pusako
Nagari nan ampek suku tiok suku babuah paruik
Kampung batuonyo, rumah batungganai nagari bapaga adat.

Dalam tata hukum adat Minangkabau di Nagari Surantih kekuasaan atas
ulayat nagari, hak atas tanah sudah jelas berada pada Penghulu Ikek Nan Ampek
Payuang Sakaki yang menjadi Penghulu Pucuak di kaumnya. Begitu juga hak kuasa
atas kaum dan anak kemenakan dalam kehidupan banagari. Fungsi dan wibawa
inilah yang harus diperbaiki untuk mengisi kekurangan dan menutup ketidak tahuan
dengan keterbukaan diri, guna berjalannya hukum adat di nagari ini secara
maksimal dan bernilai.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
227
Tantangan kehidupan banagari dengan pelaksanaan adat yang semakin
berat seiring dengan perkembangan kehidupan masyarakat. Adat istiadat yang
berkembang di nagari semenjak zaman dahulu hingga sekarang tak pernah
terkukung kuat dengan aturan yang pasti. Terjadinya beberapa perubahan bahkan
hilang dan timbulnya budaya yang ada. Bahkan terjadinya asimilasi dengan budaya
populer dan modern yang masuk. Corak budaya berangsur berubah bahkan
sengaja menimbulkan budaya baru. Banyak persoalan budaya tidak susuai lagi
pada tujuan atau budaya yang sebenarnya masih tetap diabaikan.

7.2.2. Budaya Nagari
Budaya dan adat yang berkembang dalam kehidupan masyarakat suatu
nagari merupakan adat istiadat menjadi identitas masyarakatnya yang diwarisi
secara turun temurun. Meskipun dalam perkembangan zaman budaya dan adat
yang dimiliki nagari mulai kehilangan nilai-nilai keasliannya. Berbagai macam tradisi
yang ada pada masa dahulu, pada saat ini hanya beberapa diantara yang masih
bisa bertahan dan dipakai masyarakat. Di Nagari Surantih adat istiadat dan budaya
yang berlaku dalam kehidupan masyarakat antara lain :
A. Batagak Penghulu
B. Perkawinan
C. Turun Mandi
D. Anak Sumbang/Parang Pisang
E. Maubek Pase/tolak bala
F. Kematian
G. Gunting Gombak
H. Sunat Rasul

Pelaksanaan upacara-upacara adat dan budaya yang berlaku di Nagari
Surantih telah banyak mengalami perubahan dalam kehidupan masyarakat.
Perubahan mulai terjadi semenjak tahun 1950an. Adat istiadat yang ada di Nagari
Surantih tidak lagi bersifat mengikat dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat
melaksanakan budaya yang ada jika dianggap perlu dan penting. Munculnya hal ini
dilatarbelakangi oleh tingkat pemahaman akan budaya yang dimiliki masih kurang,
sehingga rasa memiliki dari budaya dan adat yang ada semakin berkurang.
Dampaknya tanggung jawab dalam melestarikan adat dan budaya yang ada jadi
terabaikan. Faktor lain yang jadi penyebab adalah pengaruh dari tingkat ekonomi
masyarakat yang masih rendah, sehingga dapat dimaklumi jika masyarakat jarang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
228
melakukan tradisi yang ada, karena dalam setiap melaksanakan upacara yang ada
membutuhkan biaya yang besar.
Meskipun demikian, pada saat ini adat yang masih dipakai saat ini di
nagari masih berjalan dan digunakan dengan baik. Perubahan memang terjadi
dalam pelaksanaan tradisi dan adat tersebut
A. Batagak Gadang/Batagak Penghulu
Batagak Gadang/Batagak Penghulu merupakan acara adat dalam
mengangkat Penghulu untuk mengidupkan kembali gelar pusako yang telah hilang,
basalin baju pada penggantinya. Sebagaimana adat Penghulu dalam nagari-nagari
di Minangkabau, jika meninggal atau berhenti seorang Penghulu dalam suatu kaum
/suku. Maka sako adat yang ditinggalkan diwariskan pada saudara kemenakan atau
cucu yang masih satu keturunan ibu dari Penghulu tersebut. Secara umum syarat
mengangkat penghulu memiliki beberapa kriteria antara lain :
1. Memiliki pengetahuan yang luas atau cerdik pandai
2. Orang yang arif bijaksana
3. Paham akan landasan pikir dan hukum adat Minang
4. Hanya kaum pria yang akil balig dan berakal sehat.
5. Hiduik bakarilahan
53

6. Mati basalin baju
54

7. Mambangkik batang tarandam
55


Dalam mengangkat Penghulu, disamping seketurunan haruslah mempunyai
jalur sako yang sama dan juga melalui proses yang panjang. Musyawarah kaum
merupakan tonggak dasar pelaksanaan upacara ini untuk mencari kesepakatan
anggota kaum yang dilaksanakan di rumah gadang kaum.


Maangkek penghulu sarato kaum
Maangkek rajo sarato alam
Kato rajo puutih bafungsi
Sebagai pemegang kekuasaan
Ditengah anak kemenakan.


53
Hidup bakarilahan maksudnya ikhlas/rela. Hal ini merupakan salah satu penyebab pengangkatan penghulu baru,
karena penghulu lama mundur atau telah meninggal dunia.
54
Mati basalin baju maksudnya jika seorang penghulu telah meninggal atau gelar tersebut tidak yang memangku.
Maka diangkatlah pengantinya yang akan memangku gelar pusaka tersebut.
55
Membangkit Batang tarandam maksudnya menghidupkan kembali gelar sako yang telah hilang.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
229
Setelah didapat kesepakatan kaum maka kaum tersebut mengajukan
kesepakatan yang telah diambil ke Kerapatan Adat Nagari guna untuk dibahas dan
dipelajari sehingga lahir keputusan berupa rekomendasi dari kesepakatan para
Penghulu di Kerapatan Adat Nagari. Dalam tata adat Penghulu yang akan
dilewakan dalam acara pengangkatan Penghulu. Haruslah memenuhi aturan adat
seperti “adat diisi limbago dituang”. Sehingga Penghulu menjadi :

Menurut bari nan bapaek, sarato pusako nan batolong
Kapai tampek batanyo, kapulang tampek barito
Kusuik ka manyalasaian, karuah nan ka manjaniahan
Kato adat kato bana, sayak landai aienyo janiah.
Elok nagari dek panghulu
Rancak kampung dek nan tuo
Elok musajik jo tuanku
Rancak tapian dek nan mudo
Elok rumah dek bundo kanduang
Sapakat lahia jo batin, sasuai muluk jo hati
Manyatukan raso jo pareso, sapakek iduik badakekkan
Dalam bakaturunan sebagai mamak/penghulu
Hak kuaso dikorong kampung, jadi pemimpin di nagari
Penentu ulayat nagari, satitik indak hilang
Sabarih nan tak namuah lupo
Jawek nan bulek ditunjukan, dakek nan buliah diliek
Makonyo kamanakan barajo ka mamak
Mamak barajo ka panghulu
Penghulu barajo ka mufakat
Mufakat barajo ka nan bana
Bana nan badiri sendiri
Manuruti alua di nan patuik.

Setelah kedudukan Penghulu resmi dan berkuasa dalam kaumnya. Maka
tatanan budaya masyarakat dilihatkan pula dalam kesepakatan para Penghulu di
dalam Kerapatan Adat Nagari. Tugas dan fungsi seorang Penghulu terlihat :
 Dalam tugas kebaktian terhadap masyarakat banyak di nagari. Lebih
memahami sako jo pusako
 Duduk jo cupak gantang tagak batungkek barih. Bakato sopan manjalin
kepemimpinan Penghulu mengenal urang nan bajinih merupakan orang
fungsional adat dalam menegakan kewibawaan para Penghulu. Itu pula
sebabnya Penghulu harus memberdayakan fungsionalnya, seperti :
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
230
1. Manti, merupakan mutiara kaum di nagari, bertugas dalam
membantu menyelesaikan persoalan kaum dan nagari
Kato mananti kato sapakaik
2. Malin, merupakan orang Alim dalam Agama Islam, bertugas dalam
memberi sanksi /hukuman kepada kamanakan /anak nagari dalam
pelanggaran sapanjang sarak.

Kato malin kato hakikat
Tau jo halal jo haram
Sah batal , suluh bendang dalam nagari


3. Bundo Kanduang, merupakan ibu sejati. Wanita yang mampu
menjalankan kehidupan beradat dan mampu pula sebagai pendidik,
pendamai silang sengketa, tidak pengunjingkan orang lain dan
menyalahkan orang lain. Menjadi suri tauladan dan keibuan dalam
kaum/nagari sehingga berfungsi :

Limpapeh rumah gadang umbun parak pegangan kunci
Pusek jalo kumpulan tali, sumarak dalam nagari
Hiasan dalam kampung, nan gadang baso batua
Kaunduang-unduang ka madina, ka payuang panji ka sarugo

4. Dubalang, merupakan pesuruah. Menjaga dan menghukum,
mengamankan keributan dan hura hara dalam korong kampung jo
nagari. “lontaran kato dubalang kato mandare”. Kare di takiek, lunak
disudu, berdiri dan bertindak atas kebenaran juga berani muanjak jo
muangsue batindak jo kebenaran.


Gambar 85
Upacara Batagak Gadang Dt. Rajo Malenggang (2005)
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
231
B. Perkawinan
Adat perkawinan yang ada di Nagari Surantih tidak jauh berbeda dengan
adat perkawinan yang berlaku pada umumnya di Minangkabau. Berlangsungnya
suatu perkawinan berawal dari perkenalan antara laki-laki dan perempuan. berbeda
pada masa dahulu, pada masa sekarang tidak ditemui lagi budaya perjodohan
ditentukan oleh orang tua (keluraga). Pada sekarang anak kamanakanlah yang
memilih dan menentukan jodoh yang dinginkan. Keluarga (orang tua) pada masa
sekarang hanya berperan dalam muapik (menyetujui) hubungan dan
meresmikannya.
Namun berlanjutnya hubungan tersebut ke jenjang perkawinan, tidak semua
yang dapat melaluinya dengan lancar, masih banyak peristiwa-peristiwa di nagari ini
yang melanggar aturan adat. Hal ini terjadi dikarenakan masih ada keluarga yang
mencoba budaya pemaksaan dan penolakan jodoh yang dipilh oleh anak
kemenakannya. Akibatnya, timbulnya aib yang dapat mencoreng keluarga. Karena
keinginan untuk hidup bersama begitu besar, hukum adat yang berlaku tidak lagi
dipandang sebagai halangan untuk memenuhi keinginan mereka dengan
melaksanakan kawin lari. Umumnya mereka yang melakukan hal ini melaksanakan
perkawinan di daerah lain. Cara perkawinan seperti ini diragukan keabsahannya
lantaran tidak jelas. Karena mereka kawin tanpa izin dari orang tua.
Pelanggaran lain yang terjadi adalah terjadinya perkawinan di luar nikah,
sehingga munculnya kasus kelahiran sebelum masanya tersebut jelas melanggar
aturan adat dan agama. Bila dilihat realita yang berkembang ditengah kehidupan
masyarakat. Dari perilaku dan perbuatan sebagian kecil masyarakat , tentunya
sangat mencemaskan terhadap budaya yang sedang berlangsung. Masih lemahnya
penerapan hukum nagari yang dibawakan oleh Niniak Mamak. Penerapan hukum
pada zaman dahulu sangat berbeda dengan kondisi dan keadaan masyarakat
sekarang yang semakin maju. Pada masa sekarang sudah menipisnya budaya malu
salah satu jadi penyebab munculnya aib pada keluarga /kaum. Hal ini diperparah
dengan banyak dilihat anggota keluarga yang tidak mau peduli dengan masalah
yang dihadapi. Lantaran ketidakmampuan seorang Penghulu menerapkan hukum
adat dilatarbelakangi dan dipengaruhi oleh keadaan nagari yang berada di wilayah
rantau. Ketentuan adat “mambuang sapanjang jalan, mahukum sapanjang adat”
tidak berlaku lagi di tengah kehidupan masyarakat nagari

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
232
Dalam proses perkawinan dan kesepakatan kedua belah pihak antara
keluarga laki-laki dan perempuan telah terjadi kata sepakat. Maka proses penyatuan
dua keluarga tersebut dalam perkawinan anak mereka melalui beberapa tahapan
adat yang telah menjadi warisan tradisi dan budaya yang berlangsung di nagari ini.
B.1. Maesek – manapiek bandu
Proses ini merupakan tahapan awal dalam melakukan pinangan yang
dilakukan pihak keluarga perempuan ke rumah laki-laki. Rombongan maesek ini
dipimpin oleh Mamak beserta Sumandan dan Pasumandan, maksud
kedatangannya adalah untuk menanyakan kelanjutan hubungan anak kamanakan
yang telah disetujui. Di rumah keluarga tersebut dicari kata mufakat untuk
selanjutnya menerima pembawaan dari pihak keluarga wanita berupa buah tangan
seperti : kue dan buah-buahan. Biasanya keluarga perempuan meminta agar
kedatangan mereka dapat ditimbali (kunjugan balasan) dengan hari yang telah
disepakati.
B.2. Manimbali (Batunangan).
Proses adat manimbali memiliki cara dan adat yang sama dengan proses
maesek. Keluarga laki-laki yang datang ke rumah perempuan datang dengan
membawa pembawaan. Kedatangan keluarga laki-laki juga dilengkapi dengan
pembawaan sebagai syarat adat yang disebut dengan batimbang tando. Biasanya
barang yang dijadikan sebagai syarat adalah berbentuk emas. Penerimaan tando
yang dibawa oleh keluarga laki-laki berarti kedua keluraga sudah sepakat dengan
pertunangan anak mereka yang akan berjanji sehidup semati membina rumah
tangga sebagai suami istri.
Dengan sudah tercapainya kata kesepakatan antara kedua keluarga
dalam langkah awal proses perkawinan ini. Selanjutnya kedua keluarga mencari
kesepakatan hari pelaksanaan, biasanya perjanjian dilaksanakan dalam hitungan
musim dalam jangka waktu yang tidak begitu lama. Sebelum dilangsungkan
upacara pernikahan di masing-masing keluarga. Masih terdapat musyawarah –
musyawarah yang dilaksanakan antara lain
B.3. Baiyo-iyo
Proses ini merupakan proses adat dalam bermusyawarah untuk mencari
kata mufakat sebelum acara perkawinan di Nagari Surantih untuk berkumpul, baik
mande bapak bersama dengan mamak korong , mamak dalam rumah. Tujuan dari
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
233
musyawarah ini adalah untuk memberi tahukan tentang permulaan acara dan besar
alek yang dilaksanakan.
Dalam musyawarah ini dtentukan orang-orang yang akan diucok
(dibertahukan). mamak memberitahu pada sumando siapa-siapa orang yang akan
diucok. Dalam acara ini biasanya urang rumah menyediakan makanan berupa kopi,
teh , kue-kue berupa masakan sendiri seperti onde-onde, lapek/limping dan lain-
lain.
B.4. Pakat.
Acara adat untuk melanjutkan musyawarah guna untuk memberi tahu dan
mohon izin pada kepada seluruh pihak yang terkait dalam melaksanakan alek yang
akan dilaksanakan. Meminta izin pada mamak berserta orang sarat dan adat
tentang pelaksanaan besar lecilnya alek yang akan dilaksanakan atau acara
keramaian. Setelah izin didapat dari yang hadir tentang pelaksanaan alek tersebut,
maka semua yang hadir memberi sumbangan sebagai ungkapan kesepakatan
dalam membantu cara tersebut. Di Nagari Surantih, acara pakat jauh berbeda
dengan nagari lainnya, “lain lubuk lain ikan, lain padang lain belalang”. Di nagari lain
acara pakat dilaksanakan untuk membantu sanak kamanakan dalam pelaksanan
pesta atas kekurangannya, sehingga tanggung jawab Mamak bisa terlihat.
Baiyo-iyo dan pakat merupakan langkah permulaan dalam perencanaan
acara perkawinan untuk menetapkan hari dan besar alek yang dilaksanakan. Di
Nagari Surantih memiliki 3 macam tingkatan pesta alek perkawinan berdasarkan
latar belakang ekonomi masyarakat. Seperti :
1. Alek gadang
Alek gadang biasanya dilaksanakan selama 7 hari 7 malam. Selama proses
ini dilaksanakan acara Bacecek agung, baambuang langik-langik dan Pakai
patungguan. Bacecek agung merupakan kesenian anak nagari, baambuang
langik-langik berarti memakai pelaminan dan payung panji. Patungguan,
berarti penjaga rumah/tungganai rumah.
2. Alek Manangah
Alek ini biasanya dilaksanakan selama 3 hari 3 malam. Pada acara ini akan
muncul istilah-istilah : cubadak nan ka badabua, paki nan kadi patah, kapare
nan ka dipiciak dan daging nan kadi lapah.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
234
3. Alek Ketek
Alek dilaksanakan biasanya 1 hari 1 malam. Cubadak nan kabadabua, paki
nan kadi patah. Semakin majunya kehidupan masyarakat mempengaruhi
pemakaian adat yang semakin lama semakin tersingkir oleh budaya luar,
seperti pengunaan pakaian di rumah, sehingga tidak jelas perbedaan
tingkatan acara perkawinan.
B.5. Pesta Perkawinan
Pelaksanaan pesta dimulai dengan pemotongan sapi sehari sebelum
pelaksanaan upacara. Pelaksanaan pemotongan ini dilksanakan oleh mamak
bersama mande bapak. Sedangkan kaum ibu-ibu memasang pakaian rumah dan
pelaminan selanjutnya dilaksanakan dengan memasak hingga malam hari.
Sebelum tahun 80an kita mendengar alek masak duduk, tapi sekarang tak
satupun generasi sekarang mengetahui dan melihat teknis pelaksanaannya.
Kegiatan ini dilaksanakan di rumah perempuan pada waktu malam awal
pelaksanaan kaum ibu memasak. Pada malam harinya dlaksanakan penjemputan
marapulai laki-laki yang dilaksanakan pada jam 8 malam.
Penjemputan marapulai laki-laki oleh mande bapak dengan membawa
syarat adat seperti siriah langguai lengkap dengan pakaian, sepatu, payung dan
nasi kuning. Marapulai dibawa berserta dengan inang pengasuhnya serta yang
mudo-mudo. Berdasarkan izin mande bapak pada mamak, dapat dibawa ke rumah
pengantin perempuan.
Di rumah penganten perempuan, mempelai laki-laki didudukkan di kasur
penantian duduk. Basa basi adat penginang memasang pakaian adat lengkap
mempelai setelah itu mempelai dipersilahkan duduk di kursi yang telah disediakan.
kursi ini berada di dekat pintu naik rumah. Tujuannya adalah untuk
memperkenalkan calon mempelai pada orang yang berada di luar rumah.
Kemudian mempelai dipersilahkan pindah ke kursi yang kedua didekat pintu
sarak (pengantin) untuk mengenalkan calon mempelai dengan keluarga dalam
rumah beserta mande bapak. Pembicaraan dilakukan hanya sekedarnya agar
mempelai laki-laki mengetahui seluk beluk dalam rumah dan tak gamang kemudian
hari. Selanjutnya marapulai dipindahkan lagi ke kursi ketiga di pintu ke belakang
menuju dapur. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan mempelai laki-laki dengan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
235
ibu-ibu keluarga perempuan. Dipintu terjadi perkenalan dalam suasana canda tawa.
Agar mempelai laki-laki mengetahui letak dapur dan sumur.
Setelah pelaksanaan acara adat bernama asak duduak telah selesai maka
mempelai laki-laki duduk kembali di kasur penantian dan painang kembali membuka
baju pengantin laki-laki diganti dengan pakaian biasa. Acara kemudian dilanjutkan
dengan pembacaan doa dan makan bersama dengan rombongan mempelai dan
kemudian pulang bersama painang dan anggota rombongan lainnya.
B.6. Turun Bako
Pelaksanaan acara babako merupakan suatu kewajiban dalam pelaksanaan
acara alek perkawinan karena memberi pertanda bahwa pengantin laki-laki dan
perempuan orang tuanya adalah orang Minang, punya kampung yang berkaum dan
berketurunan, hal ini sebagai tanda tanggung jawab kaum kepada mamak.
Acara ini dilaksanakan di hari pertama pesta perkawinan. Sang pengantin
dijemput oleh keluarga bapaknya (bako) dengan alat penjemput berupa pakaian
pengantin dan lain-lain. Bako menyebutnya sebagai muanta anak pisang. Dengan
dandanan pengantin lengkap dengan hiasan yang akan diarak dengan iringan
bunyian musik nagari berupa sunai dan gandang beserta urang banyak lengkap
dengan pembawaan adat seperti :
Limau, nasi kuniek (sampek), pakaian panjapuik marapulai lengkap,
sambal, bage (beras) kondai dan lain-lainnya. Bagi marapulai perempuan antaran
orang ramai berupa limau, handuk, alat penghias lengkap, baju, pecah belah sa
pasumandoan dan lain lain. Dengan iringan musik tradisional dan orang ramai
membawa pembawaan beragam dam hiasan asat seperti kain talipik, umbul-umbul
burung, udang dan lain-lain. Semua pembawaan tersebut dibawa hingga ke rumah
pengantin dengan penutup acara makan bersama.

Gambar 86
Upacara Turun Bako atau Muanta Anak Pisang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
236
B.7. Japuik Marapulai
Tata cara pelaksanaan acara japuik kawin merupakan bagian dan tata
pelaksanaan akad nikah akan ditandai perempuan terlebih dahulu harus
mempersiapkan acara penjemputan. Penjemputan dilaksanakan oleh mamak,
sumando, ipa bisan beserta nan mudo-mudo dengan pembawaan ; sirih panjapuik
marapulai dan sirieh mande bapak serta mamak (dalam carano); Langguai
mengunakan silimput di dalamnya terdapat cincin perak; Nasi lamak kuning/nasi
kuniek; jamba berisi makanan sambal dan kue gadang; sang soko atau baju
lengkap dengan kopiah dan sarung, dan lain-lainnya.
Sesampai dirumah marapulai meraka diterima oleh mamak, sumando, tuo
marapulai (painang/pengasuh). Dengan berbekal tanda Sirih penjemput marapulai
dan pembawaan lainnya yang dibawa dalam dulang tujuh tingkat ditutupi peci
penutup, Dengan bekal tanda penjemput tersebut, dimintalah izin pada keluarga
marapulai untuk membawa marapulai ke rumah anak daro untuk dinikahkan.
Adapun contoh baso basi yang disampaikan adalah sebagai berikut :
Lah bulek sagiling kami
Buleklah buliah digolongkan
Pipihlah buliah dilayangkan.
Disuruh kami dek mamak kami
Turun dari kampuang.....................
Rumah si ........................
Pai manjapuik marapulai
Lah kami lakukan pajalanan
Manuju kampuang......................
Rumah si .......................
Setelah tibo kami dihalaman
Dek urang si................ baik budi indah baso
Lahnyo imbau kami naik karumahnyo
Lah duduak kami
Dek santano kami lahnyo agiah aie nan saraguak
Rokok nan sabatang
Lah kami sabuik tujuan jokukasuik
Manjapuik marapulai sarati inang pangasuahnyo
Sarato jo nan mudo-mudo
Manjapuik mandeh bapaknyo
Sarato jo mamaknyo
Japuik kawin malam kini
Yang mangawinkan anak daro jo marapulai
Iko tandonyo kami manjapuik (menyerahkan barang/tanda penjemput yang dibawa)
Tarimolah pambaoan kami ko
Maletang mambuah tangan
Malangkah babuah batiah.

Lalu dijawab

Sapanjang kato-kato dunsanak
Nan datang dari.......................
Basaba hati dahulu malakiek kato kami paiyoan
(pihak rumah berunding apakah pembawaan dapat diterima)
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
237
Setelah seluruhnya sepakat untuk melepas dan menerima pembawaanya.
Setelah itu mamak memberi gelar sako adat kaumnya pada marapulai laki-laki.
Setelah acara selesai dilaksanakan ditutup dengan baca doa selamat dan makan
bersama.
B.8. Muanta Marapulai.
Pada saat marapulai turun rumah untuk dibawa menuju ke rumah anak daro,
kerabat dan karib yang mengantar mengiringinya dengan badampiang, dampiang
merupakan dendang yang dilatunkan beramai-ramai dengan cara sahut menyahut
berisikan pantun nasehat yang melambangkan kesedihan keluarga (orang tua) yang
melepas anak laki-lakinya untuk memasuki kehidupan berumah tangga.
Disepanjang perjalanan menuju rumah anak daro
56
“dampiang” terus dilantunkan
hingga sampai di halaman rumah anak daro. Syair dampiang yang dilantunkan
antara lain, seperti berikut :
Heeeeiii.................
Limau kape[h] di balakang rumah
Pabilo maso-maso ka diambiak (bersama-sama)
Heeeeiii................
Kok nyampang lapeh dari rumah
Pabilo maso ka babaliak
Yooooo ka babaliak (bersama-sama)
Heeeeiii.............
Rang darek tolong dampiang
Ayooo[h] dampiang (bersama-sama)
Heeeeiii............
Pulau Pandan Pulau Tarika
Katigo Pulau bantuk taji
Aduh dandam bantuk taji (bersama-sama)
Heeeeiii...............
Jawek salam mande ka tingga
Doakan salamaik pulang pai
Yoooo pulang pai (bersama-sama)
Rang darek tolong dampiang
Ayoooo dampiang
Heeeeiii................
Limau antu jatuah ka lubuak magalombang
Aduh dandam magalombang (bersama-sama)
Heeeeiii..............
Kok tantu sisiak kanan buwek
Sakarang kini kadi buang

Sebelum naik ke rumah
Heeeeiii.................
Enda-enda bungo macang
Dapek di juluk ampu kaki(bersama-sama)
Heeeeiii.................
Enda-enda minantu datang
Ambikan cibuak pambasuah kaki
Yoooooo pambasuah kaki (bersama-sama)

56
Anak daro adalah mempelai wanita/pengantin wanita.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
238
Di halaman rumah sebelum naik, orang sumando dan pasumandan dari
anak daro melakukan adat baso-basi dengan rombongan yang datang. Setelah
diperbolehkan naik marupulai bersama naik dan duduk ditampek tapak tigo tempat
duduk marapulai yang di alas kasur sebagai tempat dilangsungkannya akad nikah.
Selesai dilaksanakan akad nikah ditandai dengan doa selamat kemudian marapulai
kembali ke rumahnya bersama rombongan yang ikut serta menghadiri acara
tersebut.
Dalam proses pernikahan di Nagari Surantih, tata cara yang demikian telah
diwarisi semenjak dahulu. Tradisi perkawinan yang dilaksanakan menjelang shubuh
dan dampiang pengiring marapulai ke rumah Anak Daro. Bagi masyarakat Surantih,
tradisi tersebut dipandang sebagai keindahan adat salingka nagari yang tidak
dimiliki oleh nagari lain. Indahnya suaran dendang dampiang dilantunkan pada
malam hari menjelang shubuh. Adanya aturan dari Kantor Urusan Agama (KUA)
yang menerapkan jadwal akad pernikahan di siang hari. Secara tidak langsung
peraturan tersebut akan menghilangkan adat dan tradisi secara perlahan-lahan.
Tentunya tradisi badampiang akan sulit ditemui lagi dalam proses upacara
perkawinan, bahkan akan hilang dari kehidupan masyarakat Surantih.

B.9. Manjalang Mintuwo
Manjalang mintuwo adalah salah satu tahapan adat perkawinan Nagari
Surantih yang dilaksanakan dari rumah anak daro. Sebelum penjemputan marapulai
ke rumah orang tuanya oleh keluarga anak daro pada sore harinya. Kedua
pengantin disanding menuju ke rumah mintuwo diiringi oleh kerabat dan karib yang
telah diucok. Dalam tradisi ini anak daro yang datang ke rumah mintuwonya
membawa sirih yang dibungkus dengan sapu tangan, kue dan nasi pandoa.


Gambar 87
Acara Manjalang Mintuo
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
239
Di rumah mintuwonya anak daro disandingkan dengan marapulai
dipelaminan yang telah disediakan guna memperkenalkan anak daro pada keluarga
marapulai. setelah magrib anak daro bersama marapulai melaksanakan doa
selamatan atas pernikahan mereka. Setelah pembacaan doa selesai anak daro
bersama marapulai meninggalkan rumah kembali ke rumah anak daro. Sejak hari
itu marapulai menginap di rumah anak daro, pada malam pertama dan ke dua
biasanya marapulai membawa inang pengasuh dan teman sejawat untuk
menemaninya.
B.10. Ma-antaan Gulo (Mengantar Gula)
Pada hari ketiga setelah pernikahan, mintuwo
57
menjemput anak daro ke
rumahnya. Anak daro dibawa ke rumah mintuwonya dan menginap satu malam di
sana, sedangkan marapulai tinggal sendiri di rumah anak daro. Besok sorenya anak
daro diantar lagi oleh mintuwonya bersama kerabat dan karib yang telah diucok
pergi mengantar anak daro pulang ke rumahnya. Dengan berpakaian selayar putih
anak daro, keluarga mintuwonya mengantar bersama rombongan. Dalam tradisi ini,
mintuwo dan rombongan pengantar membawa gulo (manisan) sebagai tanda
pembawaan mengatar anak daro. adakalanya pembawaan yang dibawa dilengkapi
dengan pakaian/emas atau barang lainnya sebagai pemberian dari keluarga
mintuwo.

B.11. Manganta Lamang Golek
Tradisi manganta lamang golek merupakan bagian adat perkawinan Nagari
Surantih yang ditandai dengan anak daro mengantarkan lamang kepada kaum
kerabat baik pada pihak keluarganya sendiri dan keluarga suaminya serta karib
yang memiliki hubungan dekat dengan kedua pengantin. Tujuan dari manganta
lamang golek ini adalah untuk mengenal lebih dekat karib kerabat dari kedua
pengantin agar lebih saling mengenal.
Di Nagari Surantih, berkaitan dengan adat proses perkawinan di atas. Pada
pihak keluarga laki-laki masih ada proses adat yang harus dilakukan. Adat ini
dikenal dengan muanta gulo, adat ini dilaksanakan pada saat menjelang puasa.
Adat lainnya yang masih harus dipenuhi adalah adat mancaliak anak minantu. Adat
ini dikenal dengan istilah mancigok/mancaliak anak
Dari perkembangan yang terjadi seiring dengan perubahan zaman, maka
acara pesta perkawinan yang dilaksanakan di Nagari Surantih berjalan panjang dan

57
Mintuwo adalah panggilan terhadap ibu dari orang tua suami atau istri.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
240
beragam cara. Secara perlahan-lahan mengalami perubahan, bahkan banyak
budaya baru tumbuh. Meskipun belum sampai pada penghilangan budaya asli.
Tetapi etika budaya sudah mulai berkurang seperti dalam pesta menanti tamu.
Tamu yang diundang dijamu dengan mengunakan hidangan ala prasmanan. Cara
ini mengakibatkan mamak tidak terlayani dengan baik. Selain itu pada acara muanta
secara bersama sering dilakukan menjelang magrib dan magrib baru selesai.
Sehingga waktu sholat jadi tertinggal.

C. Turun Ka[r]aie (Turun Mandi)
Upacara turun mandi dilakukan bertujuan untuk memperkenalkan anak
pertama kalinya dibawa turun ke air. Biasanya tradisi ini dilakukan oleh sepasang
suami istri pada anak mereka pada hari ketiga setelah anak tersebut lahir. Pada
saat ini biasanya pusar bayi dipotong oleh balian
58
yang menolong kelahiran si bayi.
Pada saat sekarang tradisi ini sudah sangat jarang dilaksanakan oleh masyarakat.
Tradisi ini dilakukan oleh anggota masyarakat yang masih mengangap tradisi masih
penting dalam siklus kehidupan.

D. Parang Pisang
Tradisi ini merupakan khas masyarakat Surantih, Parang Pisang adalah
upacara melepaskan bathin anak sumbang
59
. Upacara ini dilaksanakan oleh
keluarga yang memiliki anak sumbang, maka keluarga dari Bapak (bako
60
) dan
Juga dari pihak keluarga ibu si anak sumbang. berperang dengan mengunakan
pisang sebagai senjata. Upacara ini dilaksanakan setelah kesepakatan antara pihak
bako dengan kaum dari ibu si anak sumbang. Pada hari yang telah ditentukan
kedua belah pihak menyediakan pisang yang telah direbus untuk dijadikan amunisi
perang.
Pihak bako bersama-sama karib kerabat yang telah diucok akan datang ke
rumah kaum dari ibu si anak dengan membawa antaran yang beragam. Demikian
juga dari kaum dari ibu si anak sumbang menunggu kedatangan bako si anak.
Kedatangan rombongan bako diiringi dengan kesenian sarunai
61
dan talempong
62

beserta tarian Simuntu. Ke dua belah pihak memiliki satu/dua Simuntu yang

58
Balian adalah dukun beranak.
59
Anak sumbang adalah anak kembar dua sejoli, satu laki, satu perempuan.
60
Bako adalah seluruh famili dari pihak keluarga ayah.
61
Sarunai merupakan alat musik tiup tradisional Minangkabau yang terbuat dari bambu/buluh
62
Talempong merupakan alat musik pukul yang terbuat dari tembaga/kuningan.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
241
merupakan orang bertopeng dengan pakaian daun pisang yang berfungsi sebagai
panglima perang.


Gambar 88
Adat Parang Pisang

Ketika rombongan sampai di halaman kediaman keluarga ibu si anak, maka
kedua belah pihak melantunkan kata bersambut dan adat basa-basi untuk
menentukan pilihan anak yang akan diambil oleh pihak bakonya. Dalam tawar
menawar itu terjadilah perselihan karena masing-masing pihak tetap dengan
pilihannya. Karena tidak terjadinya kata sepakat, maka di bawah komando simuntu
terjadilah parang pisang antara kedua kubu. Perang ini dilakukan oleh kaum
perempuan sedangkan kaum laki-laki hanya boleh menyaksikan saja.
Setelah dilakukan parang pisang beberapa saat, kemudian kedua belah
pihak berunding lagi untuk menentukan anak yang mana yang akan dibawa oleh
“induak bakonya”. Tujuan dari tradisi ini adalah untuk memisahkan bathin secara
lahir si kembar agar kemudian hari tidak menimbulkan hal-hal yang merugikan jiwa
kedua anak tersebut dalam hukum adat dan syarak. Hal ini didasarkan pada
pandangan masyarakat bahwa anak yang lahir kembar sepasang (Sumbang) satu
laki-laki dan satu perempuan dianggap telah kawin secara bathin meskipun berasal
dari satu darah keturunan. Untuk menghindari terjadinya pelanggaran adat dan
syarak di kemudian hari oleh anak sumbang tersebut maka diadakanlah parang
pisang untuk memeranginya supaya bathin keduanya lepas dan lupa akan
perkawinan bathin itu.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
242
E. Maubek Pasiek/Tolak Bala
Tolak bala (Maubek Pasiek), merupakan suatu tradisi dalam kehidupan
masyarakat Surantih berupa upacara yang menandakan niat pengharapan kepada
Tuhan agar diberikan perlindungan dari mana bahaya dan dilimpahkan rezki pada
anak nagari. Teknis pelaksanaannya biasanya dilaksanakan pada bulan maulud tak
kala musim akan datang dengan bersama-sama unsur masyarakat selama 3 hari
berturut-turut.
Hari pertama dan kedua, berjalan sepanjang pantai di sore hari
membacakan atik
63
. Upacara ini dilakukan dengan cara berjalan dari batas
kampung ke arah muara sungai secara bergiliran oleh penduduk kampung
setempat. Biasanya setiap penduduk membawa parasan
64
yang dibawa secara
berombongan ke muara yang dipimpin oleh pemuka agama.


Gambar 89
Berjalan Di Pasie Salah Satu Proses Upacara Maubek Pasie (Tolak Bala)

Hari ketiga, pada pagi hari dilaksanakan acara pemotongan, biasanya
memotong kerbau atau yang lainnya. Ini pertanda bahwa anak nagari memohon
pada Yang Maha Kuasa secara ikhlas. Dengan menuruti aturan-aturan /pantangan
yang telah ditentukan, seperti; dilarang melaut/ke sawah dan ke ladang selama 3

63
Atik adalah salawat dan doa selamatan secara bersama-sama.
64
Parasan adalah sesajian makanan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
243
hari, gotong royong membersihkan pantai. Biasanya daging kerbau yang telah
disembelih dibagi-bagikan pada masyarakat dan pemuka masyarakat.

Gambar 90
Pembacaan Do’a Tolak Bala dilanjutkan Makan Bajamba

Disore harinya barulah dilaksanakan hajatan besar dengan membaca doa-
doa bersama, seluruh masyarakat membawa makanan bajamba. Upacara ini
dihadiri oleh seluruh masyarakat, perantau dan undangan. Biasanya dalam upacara
ini terdapat perbedaan antara tolak bala dengan maubek pasiek. Tolak bala
biasanya dilakukan oleh masyarakat yang tinggal ke arah mudik yang umumnya
merupakan petani dan peladang. Sedangkan maubek pasiek dilaksanakan oleh
masyarakat yang berada di daerah pasie atau pesisiran pantai. Namun demikian,
pada dasarnya hakekat dan proses upacara ini adalah sama.

F. Kematian
Sebagaimana umumnya adat dan tradisi kematian masyarakat Minangkabau
umumnya. Di Nagari Surantih juga berlaku sama dengan nagari-nagari lainnya di
Minang. Adat kematian yang masih dilaksanakan masyarakat dalam menghadapi
peristiwa kematian adalah adat datang mendatangi, janguak manjaguak’i untuk
menghibur keluarga yang ditinggalkan. Selain adat ini, masyarakat masih
menyelengarakan upacara-upacara tertentu guna memperingati keluarganya yang
meninggal antara lain, seperti
 Manigo hari dan Batagak Batu
 Manujuah hari
 Empat belas hari
 Empat puluh hari
 Seratus hari untuk proses malapeh-lapeh

Malape-lape merupakan acara perpisahan terakhir bagi si mayat yang telah
meninggal dunia. Sebagian masyarakat nagari pada acara malape-lape ini ada yang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
244
memperhelatkan dengan ma ucok orang banyak guna menjenguk ke rumah
keluarga yang meninggal dunia. Biasanya orang yang menjengguk, datang dengan
membawa kain atau uang. Sedangkan bakonya membawa kue-kue untuk mengaji
malamnya.
Tuan rumah juga membuat lemang, onde-onde dan lapek untuk dibungkus
dibawa pulang oleh ibu-ibu. Pada malam harinya, persis seperti acara dahulunya
untuk memberikan pengajian dan atik (tahlilan- salawat nabi). Setelah atik, biasanya
tamu yang akan datang akan disuguhkan makanan kue-kue juga minuman.
Sedangkan dalam acara manigo hari ibu-ibu hanya membawa beras. Tamu
yang datang pada malamnya memberi pengajian dan disuguhkan minuman. Tradisi
ini dalam masyarakat Surantih terdapat perbedaan bagi masyarakat yang menganut
ajaran tariqat. Tamu yang datang pada acara pengajian malam harinya disuguhi
makanan ringan dan air minum. Sedangkan yang menganut ajaran Muhammadiyah
tidak dibenarkan sama sekali untuk minum dan makan.

G. Guntiang Gombak
Adat “guntiang gombak” merupakan upacara mengunting rambut balita yang
kelahirannya ditandai dengan memiliki rambut bagombak tiga/dua, apabila
rambutnya diasok
65
dan setelah itu anaknya demam (sakit), anak tersebut dianggap
memiliki rambut “asli”. Jika seorang anak/balita mengalami gejala demikian, maka
orang tuanya akan melakukan upacara untuk mencukur rambut anaknya agar tidak
mengalami demam (sakit) lagi.
Berdasarkan kesepakatan kedua orang tuanya maka dilakukanlah upacara
gunting gombak dengan memangil orang “pandai” untuk menawai pu[r]asan
66
.
Bahan-bahan tersebut nantinya digunakan pada saat pemotongan rambut sang
balita. Pada upacara guntiang gombak ini dihadiri oleh karib kerabat yang telah
diucok. Setelah gombak anak tersebut dipotong oleh orang “pandai” setelah itu akan
diikuti oleh tamu yang datang. Bagi tamu yang memotong gombak anak tersebut
haruslah memberikan syarat (berupa uang) sebagai tanda ia telah memotong
gombak anak itu.



65
Diasok maksudnya jika diingat-ingat (dipikirkan) dan disebut-sebut
66
Pu[r]asan adalah ramuan yang dibuat dari berbagai tumbuhan dicampur dalam air yang terdiri dari:
sitawa, sidingin, akaran, sikumpai, bareh randang, bareh putiah.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
245

Gambar 91
Acara Mamotong Gombak

H. Sunat Rasul
Dalam kehidupan masyarakat Nagari Surantih, bagi anak laki-laki yang
dianggap orang tuanya sudah waktunya untuk dikhitan atau sunat rasul dengan
melaksanakan tradisi yang ada, yaitu pada saat sebelum anak dikhitan dia akan
dijemput oleh induk bakonya. Kemudian dia akan diantar lagi oleh induk bakonya
dengan memakai pakaian pengantin ke rumah mandenya.


Gambar 92
Anak Laki-laki Yang Akan Dikhitan, Dijemput Dan Diantar Oleh Induk Bakonya
Sebelum Dikhitan Dengan Berpakaian Adat.



Gambar 93
Suasana Acara Khitanan Masal Yang Pernah Diselenggarakan
Di Nagari Surantih
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
246
7.2.3. Kesenian Anak Nagari
Kesenian anak Nagari Surantih sebagian dibawa dari daerah asal Alam
Surambi Sungai Pagu. ada juga yang lahir dari kebiasaan yang dilakukan anak
nagari di Nagari Surantih. Kesenian nagari merupakan budaya yang diwariskan dari
orang – orang terdahulu yang digunakan sebagai alat hiburan bagi diri sendiri
maupun orang banyak. Munculnya kesenian tersebut dapat dilihat hasilnya melalui
gerakan maupun suara baik dari suara manusia maupun alat musik yang
merupakan cerminan tingkah laku keseharian masyarakat.
Semenjak dahulu kesenian anak Nagari Surantih memiliki daya tarik dan
kelebihan tersendiri sehingga orang yang melihat benar-benar merasa terhibur.
Biasanya dalam pertunjukan yang dilaksanakan, seorang pemain akan dihiasi dan
diberi sesajian yang dilaksanakan oleh seorang pawang. Kesenian nagari yang
memiliki unsur magis antara lain dapat dilihat pada tari-tarian seperti :

A. Tari-tarian
1. Tari Gelombang Dua Belas
Tari ini dipakai untuk menyambut tamu-tamu sebagai ungkapan hormat
da terima kasih


Gambar 94
Tari Galombang Duo Baleh Pada Acara Penyambutan Tamu

2. Tari Si Kambang (anak-anak)
Tari ini mengambarkan perasaan orang tua yang memiliki anak yang
dimulai dengan perasaan gambira, perasaan sedih ketika anaknya sakit
dan duka yang sangat mendalam ketika anaknya telah meninggal.
3. Tari Siamang Tagabai.
Tari ini menggambarkan kepiluan seorang ibu atau ayah atas kehilangan
putranya.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
247

Gambar 95
Tari Siamang Tagabai


4. Tari Rantak Kudo
Keempat tarian tersebut saat ini masih lestari dalam kehidupan masyarakat.
Selain tari-tari tersebut masih terdapat tarian lain yang saat ini telah punah karena
tidak lagi dimainkan oleh masyarakat. Tari-tari tersebut antara lain tari padang, tari
sewa (keris), tari gendang, tari alang batan, tari adau-adau, tari salendang dan tari
kain.



Gambar 96
Tari Rantak Kudo dan Tari Selendang



Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
248
B. Rabab Dan Kaba (Cerita Rakyat)
Rabab merupakan suatu kesenian berbentuk dendang yang diiringi dengan
suara alat musik yang disebut dengan biola. Keunikan dari kesenian ini adalah
dalam dendang dilantukan tukang rabab/biola, biasanya menceritakan sebuah cerita
rakyat, masyarakat mengenalnya dengan bakaba. Di Nagari Surantih jenis kesenian
ini sangat terkenal karena banyak anak nagari yang mampu memainkan kesenian
ini. Salah seorang pemain rabab yang sangat terkenal di zamannya adalah Pirin
Asmara yang juga merupakan guru rabab.
Pemerintah Daerah Kabupaten Pesisir menjadikannya sebagai duta karena
permainannya tidaknya hanya di Sumatera Barat dan rantau tapi juga sudah sampai
ke luar negeri. Permainan rabab ini sering dimainkan dalam upacara perkawinan
dan acara-acara lainnya. Kesenian biola dapat dimainkan dengan beragam teknis
acara sesuai yang dikehendaki penonton. Biasanya pelaksanaan kesenian
dilaksanakan malam hari hingga menjelang shubuh. Acaranya antara lain berupa :
peruntungan, raun sabalik dan anak balam. Teknis pelaksanaan tersebut punya
perbedaan dalam penyajiannya, sedangkan anggota pelaksanaan beragam dengan
sebutan tiga sejinjiang dan empat sejinjiang.


Gambar 97
Rabab Pasisie


Dalam kehidupan masyarakat Nagari Surantih, memiliki cerita (tradisi lisan)
yang hingga saat ini masih diwarisi dan diceritakan oleh masyarakat dalam
kehidupan mereka. Cerita yang ada tersebut diceritakan pada kesempatan-
kesempatan tertentu, umumnya cerita-cerita tersebut dapat didengarkan ketika
adanya suatu pesta/upacara perkawinan atau selamatan yang diadakan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
249
masyarakat. Pada saat pesta ini kebiasaan yang ada dalam masyarakat Nagari
Surantih adalah mengundang seorang Tukang Rabab atau Pemain Biola
Tradisi lisan yang sering diceritakan pada kesempatan tersebut dikenal
masyarakat sebagai kaba. Di Nagari Surantih terdapat dua kaba yang hingga saat
ini masih diwarisi dan diceritakan masyarakat dalam kehidupan mereka. Kedua
kaba itu adalah cerita Bujang Jibun dan Gadih Basanai. Menurut masyarakat
Surantih kedua cerita tersebut merupakan cerita asli masyarakat Surantih yang
mengambarkan kehidupan masyarakat Nagari Surantih pada awal mula
berkembang pada masa dahulu. Cerita lengkap dari kaba Bujang Jibun
67
dan Gadih
Basanai
68
dapat dibaca pada bab berikutnya.

C. Randai dan Randai Simarantang
Randai merupakan permainan anak nagari yang sangat digemari oleh
masyarakat Minangkabau pada umumnya. Di Nagari Surantih kesenian ini masih
dilestarikan oleh masyarakat yang ditandai dengan masih adanya kelompok-
kelompok randai. Randai “Simarantang” adalah jenis kesenian asli Surantih, pada
dasarnya randai “Simarantang” hampir sama dengan randai pada umumnya.
Perbedaannya hanyalah, pada randai “simarantang” pada awal pembukaan
permainan didahului oleh tarian “Simarantang”. “Simarantang” merupakan gerakan
tari yang dilakukan oleh sepasang penari dengan gerakan dasar silat.

D. Asik Luka[h]
Asik luka[h] merupakan permainan yang syarat unsur magis yang diiringi
dendang yang dilantunkan oleh ‘tukang asik”. Dua orang yang memegang luka[h]
memakai pakaian perempuan. Dalam permainan ini semakin lama pemegang
luka[h] akan larut dengan dendang yang dilantunkan “tukang asik” sehingga mereka

67
Cerita kaba Bujang Jibun ini merupakan cerita yang disarikan dari beberapa nara sumber, antara lain pertama
diperoleh dari versi A. Kosasih. Cerita ini diperoleh dalam bentuk tulisan yang telah diterbitkan dalam buku yang
berjudul “Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumatera Barat” oleh Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Direktoral
Jenderal Kebudayaan – Departemen Pendidikan kebudayaan Jakarta 1976. Naskah cerita ini didapat di
perpustakaan wilayah provinsi Sumatera Barat bagian koleksi cadangan. Naskah teks ini berupa kopian sebanyak 1
eksemplar. Cerita Bujang Jibun kedua bersumber dari penuturan Bapak Alamsyah, Jalur dan Ipen
68
Cerita kaba Gadih Basanai ini merupakan cerita yang juga disarikan dari beberapa nara sumber, antara lain
Bapak Pirin Asmara, A. A. Navis dan Biscan. Cerita Gadih Basanai versi Pirin Asmara diperoleh dari wawancara
dan ditranslet dari kaset/VCD kaba Gadih Basanai yang telah dikomersilkan. cerita Gadih Basanai versi A.A. Navis
ditulis dalam buku “Cerita Rakyat Sumatera Barat” terbitan Grasindo. Terakhir cerita versi Biscan diperoleh
bersamaan dengan cerita Bujang Jibun versi A. Kosasih dalam bentuk buku yang berjudul “Bunga Rampai Cerita
Rakyat Sumatera Barat” oleh Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Direktoral Jenderal Kebudayaan –
Departemen Pendidikan kebudayaan Jakarta 1976, dan dalam bentuk saduran dari bahasa asli ke bahasa
Indonesia yang didapat dari perpustakaan wilayah provinsi Sumatera Barat bagian koleksi cadangan berupa kopian
sebanyak 1 eksemplar (dan juga disimpan di Perpustakaan UNP Padang).
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
250
hilang kesadaran dan tidak mengetahui gerakan yang mereka lakukan yang sangat
dipengaruhi oleh lantunan dendang tukang asik.

E. Lela Ampalu
Di Kampung Ampalu pada masa dahulu dalam kehidupan masyarakat
terdapat kebiasaan ketika membuaikan anak untuk tidur. Ibu-ibu di sana sering
melatunkan syair-syair yang indah. Sekarang syair tersebut telah dijadikan suatu
kesenian yang disebut dengan Lela Ampalu. Sampai sekarang syair tersebut
dijadikan sebagai salah satu seni budaya nagari yang dimainkan pada acara-acara
tertentu.

7.2.3. Permainan Anak Nagari
A. Lakon Semba.
Permainan ini semarak dan sangat digemari oleh anak nagari sebelum tahun
80-an. Setelah itu permainan ini sudah jarang dimainkan oleh masyarakat. Salah
satu penyebabnya adalah karena jenis permainan ini tergolong keras dan kasar.
Bila dilihat timbulnya permainan ini berkaitan erat dengan kondisi kehidupan
masyarakat. Permainan lakon semba merupakan permainan remaja yang baru
tumbuh (10 – 15 tahun). Permainan sangat sederhana karena tidak membutuhkan
peralatan yang mengeluarkan biaya, cukup dengan membuat garis di tanah. Dalam
permainan terdapat dua kelompok yang akan bermain. Masing-masing kelompok
punya seorang pemimpin atau ketua yang disebut juga algojo penjaga pintu/pos
utama. Dalam permainan ini jumlah anggota kelompok ditentukan, biasanya jumlah
berkisar 4 sampai 8 orang.
Sebelum permainan dimulai dilakukan suitan (balasit) guna menentukan
yang kalah dan menang. Bagi kelompok yang kalah, kelompok tersebut yang lari,
sedangkan kelompok yang menang yang akan mengejar atau menangkap yang
kalah. Teknis permainan ini, bagi kelompok yang mengejar atau menangkap,
berusaha untuk menangkap seluruh anggota lawannya. Ibaratnya polisi yang
sedang mengejar penjahat. Setiap anggota lawan yang ditangkap akan diserahkan
ke pos penjaga dari kelompok yang mengejar tersebut.
Anggota kelompok yang belum tertangkap disuruh untuk menyerah dalam
usahanya membebaskan teman-temannya yang telah tertangkap. Menjelang
terjadinya penyerahan tersebut terjadi adu kekuatan untuk lepas dan bertahan.
Terjadinya gulatan, kekangan, bantingan tak bisa dihindari. Jadi dibutuhkan tenaga
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
251
yang kuat dalam permainan ini. Banyaknya keluar keringat bahkan luka gores
bekas cengkraman sudah dianggap hal biasa. Namun kata menyerah yang harus
didapat dari lawan yang belum menyerah sangatlah sulit. Setelah menyerah baru
dikurung dan dijaga oleh algojo.
Sebagian masih tetap lari dan terus berusaha melepaskan temannya
dengan cara menerobos penjagaan. Cara atau tanda untuk melepaskan temannya
yang telah tertangkap adalah cukup dengan memegang tangannya dan temannya
sudah lepas untuk lari lagi dari kejaran kelompok penjaga. Beginilah teknis
permainan lakon semba hingga semua akhirnya kelompok yang lari dapat
ditangkap. Setelah semuanya tertangkap, biasanya dilakukan pertukaran posisi,
kelompok yang sudah tertangkap akan bertugas untuk mengejar kelompok pengejar
sebelumnya karena kelompoknya dianggap kalah.
B. Main Gala[h]
Permainan gala[h] memiliki teknis permainan tidak jauh berbeda dengan
lakon semba. Permainan ini dimainkan oleh anak-anak remaja yang tergabung
dalam dua kelompok yang masing-masing beranggotakan 4 sampai 5 orang.
Sebelum permainan dimulai dibuat garis persegi panjang yang dibagi dua dan garis
melintang hingga membentuk kotak-kotak. Permainan dimulai dengan balasik untuk
menentukan kelompok yang menang dan yang kalah.
Kelompok yang kalah akan bertugas muambek, menjaga satu per satu garis
yang ada. Penjaga garis utama dalam permainan ini disebut dengan tukang gala[h].
Dalam permainan ini dia bisa menjaga garis hingga sampai garis paling belakang.
Kelompok yang menang akan melewati satu persatu garis penghalang dengan
cerdik dan lincah hingga sampai garis belakang dan menuju kembali ke garis
depan. Jika mereka berhasil kembali ke garis depan mereka dianggap menang.
Dalam permainan ini untuk melewati penjagaan garis tersebut tidak mudah,
lantaran penjagaan garis siap dengan pukulan bulatan tinju di manapun sasarannya
pemukul tidak peduli. Dalam permainan ini, kuat atau pelan pukulan yang dilakukan
terserah pada penjaga garis. Bagi penjaga garis yang mampu mengenai salah
seorang kelompok lawan maka timnya dianggap menang dan kemudian dilakukan
pergantian posisi untuk menjaga garis dengan kelompok yang sudah kalah.
Begitulah seterusnya bentuk pelaksanaan permainan ini.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
252
Permainan anak Nagari Surantih memang beragam seperti halnya di nagari-
nagari lain di Pesisir Selatan, yaitu : bola kaki, bola kaki pantai, kasti, kelereng, dan
lainnya. Permainan ini didominasi oleh kaum laki-laki. Sedangkan permainan kaum
wanita nagari cukup beragam pula seperti : main tikuek, sikoci, kasti, congkak dan
dukuang anak. Pada saat menjelang tidur, anak nagari juga memiliki beberapa
permainan seperti : main sapu-sapu angik dan cok-cok imin. Itulah sebagian
permainan anak-anak Nagari Surantih dalam mengisi waktu-waktu senggang.
























Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
253
BAB VIII
CERITA RAKYAT NAGARI SURANTIH

8.1. Kaba (Cerita) Bujang Jibun.
Pada zaman dahulu, pada masa awal perkembangan terbentuknya
kehidupan bernagari di daerah Surantih. Hiduplah sebuah keluarga di tengah-
tengah perkembangan kehidupan masyarakat yang baru bermula. Keluarga itu
adalah keluarga Tuanku Garak Alam. Tuanku memiliki seorang istri yang bernama
Mayang Taurai. Dalam perjalanan kehidupan keluarga mereka dikarunia Tuhan tiga
orang anak. Anak mereka yang paling sulung bernama Bujang Juaro, Bujang Juaro
memiliki seorang adik laki-laki bernama Bujang Jibun dan adik perempuan yang
paling kecil bernama Puti Bungsu (1).
Bujang Juaro anak paling tua di keluarga Tuanku Garak Alam adalah
seorang anak muda yang dalam kehidupan sehari-harinya gemar minum tuak,
bermain dadu, dan menyabung Ayam. Bujang Juaro sendiri memiliki sebuah
gelanggang permainan sabung Ayam yang merupakan tempat dia mengadu
Ayamnya setiap hari. Gelanggang sabung Ayam milik Bujang Juaro ini berada di
daerah Bukik Laban yang terletak antara daerah Kayu Aro dengan Koto Tinggi, Koto
Katenggian (2).
Daerah Koto Tinggi terdiri dari tiga perkampungan, yaitu; Koto Katenggian,
Sungai Kumayang, dan Koto Rana[h]. Koto Tinggi tampek paninjauan, daerah ini
merupakan sebuah daerah yang berada di dataran tinggi yang landai sehingga dari
tempat ini dapat melihat Sungai Kumayang dan Koto Rana[h]. Sungai Kumayang
dianggap sebagai biliak dalam, anggapan ini muncul karena daerah Sungai
Kumayang berada di sebuah lembah yang tersembunyi dengan dikelilingi
perbukitan sehingga menyerupai sebuah biliak (ruangan) yang tersembunyi.
Sedangkan Koto Rana[h] dianggap sebagai janjang ka naiak, hal ini dikarenakan
Koto Rana[h] adalah daerah yang harus dilewati ketika harus mendaki menuju
daerah Koto Katenggian (3).
Beralih kepada adik Bujang Juaro, anak kedua dari Tuanku Garak Alam yang
bernama Bujang Jibun. Berbicara tentang diri Bujang Jibun, tak jauh berbeda
dengan kakak kandungnya Bujang Juaro. Dalam kehidupan keseharian Bujang
Jibun, perkerjaannya hanyalah minum tuak, suka main dadu dan menyabung Ayam.
Persis sama dengan kelakuan kakaknya, Bujang Jibun juga memiliki gelanggang
sendiri tempat dia bermain sabung Ayam. Setiap harinya Bujang Jibun berjalan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
254
menuju gelanggang sabung Ayamnya, dari rumahnya yang berada di Koto Tinggi,
berjalanlah ia turun menuju ke Kayu Aro, kemudian berjalan menyusuri jalan yang
berada disepanjang kaki bukit menuju daerah Sualang (sekarang Sialang). Didekat
daerah Sualang ini terdapat sebuah bukit yang bernama Bukit Batu Balai. Di bukit
inilah Bujang Jibun mendirikan gelanggang sabung Ayamnya (4).
Pada suatu ketika tersiarlah kabar berita di Kampung Kayu Aro bahwa ada
seorang pemuda yang bernama Sutan Pamenan datang dari daerah Pariaman.
Maksud dan tujuan kedatangannya adalah untuk pergi ke gelanggang sabung Ayam
milik Bujang Juaro guna bermain sabung Ayam, mengadu Ayam jagoannya yang
bernama Ayam Sago Nani. Setelah bertanya-tanya pada penduduk yang
ditemuinya, akhirnya Sutan Pamenan sampai di gelanggang sabung Ayam Bujang
Juaro. Saat dia sampai, ia melihat suasana gelanggang yang sedang disesaki oleh
orang-orang yang menyaksikan sabung Ayam. Sebagian dari orang-orang tersebut,
meski tidak memiliki Ayam aduan untuk diadu, ada yang ikut menumpin taruhannya
pada Ayam yang bertarung. Ditengah hiruk pikuk suara orang ramai yang berteriak
menyemangati Ayam jagoannya. Bujang Juaro melihat ke arah seorang pemuda
yang belum pernah ia lihat sebelumnya datang bermain di gelanggangnya (5).
Bujang Juaro kemudian menghampiri pemuda tersebut dan berkata, “siapa
tuan yang baru datang ini, angin mana dan hujan mana yang membawa tuan hingga
sampai di gelanggang ini. Dilihat dari tampang dan cara berpakaian tuan, tuan
bukanlah orang yang berasal dari daerah sini”. Lalu Sutan Pamenan menimpali
perkataan Bujang Juaro, “saya bernama Sutan Pamenan, datang dari Pariaman,
maksud kedatangan saya ke gelanggang ini tak lain adalah untuk mengadu Ayam
saya ini dengan Ayam jagoan tuan yang sering menang di gelanggang ini. Kalaulah
demikian, Sutan tidaklah salah alamat datang kemari”, kata Bujang juaro. “Sutan
datang ke tempat yang benar, jika Sutan berkenan, dari pada kita terus berbasa-
basi tak tentu arah. Karena hari semakin lama semakin beranjak petang, lebih baik
kita langsung turun ke gelanggang membulang taji Ayam kita masing-masing. Sutan
Pamenan dengan wajah gembira menerima ajakan Bujang Juaro untuk turun
bermain disasaran sabung Ayam. Setelah menetapkan dan menyepakati taruhan
yang akan ditumpin dalam pertandingan tersebut. Mereka menyuruh juaro
gelanggang yang menjadi pengadil dalam pertandingan sabung Ayam tersebut
untuk memulai permainan. Orang-orang yang berada di gelanggang sabung Ayam
Bujang Juaro larut bersorak riang menyemangati kibasan-kibasan taji Ayam aduan
yang sedang bertarung. Dalam pertandingan itu, akhirnya Ayam milik Bujang Juaro
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
255
kalah dari Ayam Sago Nani milik Sutan Pamenan, taruhan yang telah ditumpin
diambil dan dibawa oleh Sutan Pamenan (6).
Selesai menyabung Ayam dengan Bujang Juaro, Sutan Pamenan berjalan menuju
daerah Sungai Kumayang dan tinggal beberapa hari di kampung tersebut. Pada
saat Sutan Pamenan tinggal di daerah itu, dia bertemu dan berkenalan dengan Puti
Reno Kapeh. Puti Reno Kapeh merupakan anak dari Rajo Nan Sati, ibunya
bernama Mayang Sani. Pada masa mereka berkenalan tersebut Reno Kapeh sudah
menjadi tunangan dari Bujang Jibun. Pada suatu hari Sutan Pamenan datang
menemui Reno Kapeh ke rumahnya. Dalam pertemuan itu Puti Reno Kapeh
berpesan pada Sutan Pamenan, “kalau seandainya tuan sampai ke gelanggang
sabung Ayam Bujang Jibun yang berada di Bukit Batu Balai, janganlah tuan pergi
juga ke sana untuk menyabung Ayam”. Dicampuri rasa penasaran Sutan Pamenan
memotong perkataan Puti Reno Kapeh dan berkata, “kenapa Puti melarang saya
datang ke gelanggang Bujang Jibun untuk menyabung Ayam, apakah gerangan
yang membuat Puti khawatir dan melarang saya kesana untuk bermain” (7).
Lalu dengan perasaan cemas Puti Reno Kapeh mengutarakan alasan ke
khawatirannya dan melarang Sutan Pamenan ke gelanggang Bujang Jibun, “bagi
Bujang Jibun dalam menyabung Ayam, jika kalah dalam penyabungan dia tidak
akan membayar taruhan yang telah ditumpin tapi jika dia berada dipihak yang
menang, dia akan mengambil seluruh taruhan yang ada. Dari pada tuan pergi
menyabung Ayam dengan Bujang Jibun, alangkah baiknya tuan mengurungkan niat
tuan tersebut. Lebih baik tuan kembali pulang ke kampung asal tuan”. Mendengar
perkataan Reno Kapeh, “Dik kandung Puti Reno Kapeh, adapun niat dalam hati,
kalaulah tidak bertemu dengan yang dicari pantang untuk kembali pulang, jika
kembali pulang ibaratnya “dadak mananti ditampuruang” jawab Sutan Pamenan.
Dengan nada perkataan berat hati Puti Reno Kapeh berkata,

“Saya patah tak akan terpatah
Ibarat mematah batang Surantih
Dipatah sedang panas hari
Saya cegah tidak akan tercegah
Ibarat mencegah air dari hilir
Saya lepas tuan dengan iba hati”.



Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
256

Lalu Sutan Pamenan Menjawab,

“Pulau talam pulau terika,
ketiga bungkuak taji,
sambut salam puti ku tinggal,
saya berangkat sekarang ini”.

Dengan linangan air mata Puti Reno Kapeh berkata,

“Ke kanan jalan ke Sungai Pinang,
ke kiri jalan ke Malaka.
Dengan tangan kanan saya sambut kasih sayang
dengan tangan kiri menghapus air mata.

Setelah mereka berjabat tangan, turunlah Sutan Pamenan dari rumah
gadang Puti Reno Kapeh. Ketika sudah berada di halaman Sutan Pamenan melihat
ke arah Reno Kapeh yang berdiri di pintu rumah gadang melepas kepergian Sutan
Pamenan (8).
Beberapa saat kemudian Sutan Pamenan berpaling dan melangkahkan
kakinya dari halaman rumah berjalan menuju ke arah hilir. Sekian lama jauh
berjalan sampailah Sutan Pamenan di Koto Rana[h] dan singgah berhenti untuk
beristirahat. Di bawah pohon kayu yang rindang, di Puncak Bukit Aua, sembari
melapaskan litaknya, pikiran Sutan Pamenan menerawang jauh. Dilepaskannya
pandangan ke arah lautan, terlihatlah daerah Bukit Batu Balai tempat gelanggang
Bujang Jibun. Seketika teringatlah kembali olehnya perkataan Reno Kapeh. Tiba-
tiba dia terkejut, dadanya berdetak kencang, seluruh sendi tubuhnya dirasakan
bergemetar. Dalam kondisi yang demikian, hati kecilnya berkata, “niat dalam hati
terbayang-bayang dimata teringat-ingat dihati, biar ada aral melintang namun
maksud dan tujuan haruslah tetap disampaikan. Biarlah hilang yang akan berkata,
meski hilang nyawa dari badan namun kehendak hati harus dilaksanakan” (9).
Setelah litak yang mengerubuti tubuhnya dirasakan telah hilang, sutan
pamenan mengayunkan langkah kakinya menuruni Bukit Aua hingga sampailah dia
di Kayu Gadang. Lalu menyeberang sungai di lambung bukit, berjalan di pematang
panjang ke arah hilirnya, akhirnya sampailah Sutan Pamenan di Sualang. Dari
kejauhan telinganya mendengar sayub-sayub orang bersorak-sorai dari arah Bukit
Batu Balai. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar, diarahkanlah langkah
kakinya menuju ke gelanggang sabung Ayam Bujang Jibun yang sedang ramai
saat itu. Berjalanlah dia berlambat-lambat mendaki Bukit Batu Balai sambil
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
257
mengapit Ayamnya untuk memenuhi niat hatinya menyabung Ayam dengan Bujang
Jibun. Setelah menempuh jalan setapak Bukit Batu Balai, sampailah Sutan
Pamenan di tempat gelanggang sabung Ayam Bujang jibun. Di tengah ramainya
gelanggang terlihatlah dirinya oleh Bujang Jibun. Seketika dirinya merasa, darahnya
berdesir, detak jantungnya berdegub kencang dan gemetar segala sendi tubuhnya.
Teringat kembali olehnya perkataan Reno Kapeh, di dalam hati Sutan Pamenan
berkata, “benar adanya kata Reno Kapeh, tidak salah Puti berkata demikian, sesuai
perkataan dengan kenyataan”. Firasat hati Sutan Pamenan saat itu merasa akan
berpisah nyawa dengan badan. Setelah ini ia merasa tidak akan pernah bertemu
lagi dengan Puti Reno Kapeh, muncullah penyesalan di dalam dirinya karena
amanat Reno Kapeh telah ia mungkiri (10).


Gambar 98
Lokasi Gelanggang Sabung Ayam Bujang Jibun di Puncak Bukit Batu Balai

Dikala jiwanya sedang bergolak, berkatalah Bujang Jibun sambil memanggil
ke arah Sutan Pamenan. “siapa tuan yang baru datang, dipanggil gelar tidak tahu
dipanggil nama tidak jelas. Siapakah nama tuan sesungguhnya”, Tanya Bujang
jibun. “saya bernama Sutan Pamenan datang dari Pariaman, sudahkah senang hati
tuan” jawab Sutan Pamenan. Lalu Bujang Jibun berkata, “dikala makan rendang
lekat di daun dijilati, dikala tuan datang apa maksud dalam hati”. Sutan Pamenan
kemudian menjawab pertanyaan Bujang Jibun, “kalaulah itu yang tuan tanyakan,
karena tuan yang punya gelanggang, ada rasa niat dalam hati hendak menyabung
saya di gelanggang ini. Tanda saya akan menyabung dengan tuan, inilah taruhan
yang akan saya tumpin untuk menyabung Ayam dengan tuan”. Lalu Sutan
Pamenan meletakkan taruhannya berupa emas tiga batang dihadapan Bujang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
258
Jibun. Bujang Jibun melihat Sutan Pamenan meletakkan taruhan terkesima dengan
apa yang ingin dipertaruhkannya (11).
Saat itu termenunglah Bujang Jibun dan berfikir sambil melihat ke arah
taruhan orang yang datang, dengan apa taruhan itu akan ditumpin kata Bujang
Jibun dalam hati kecilnya. Tak lama kemudian berkatalah Bujang Jibun, “kalau
begitu bersabarlah tuan menunggu, saya permisi mengambil taruh yang akan
ditumpin”, lalu berjalanlah Bujang Jibun. Tidak berapa lama kemudian Bujang Jibun
datang kembali ke gelanggang dengan membawa taruhannya. Dihadapan Sutan
Pamenan, Bujang Jibun berkata, “kalaulah tak sampai taruh saya untuk menumpin
taruhan sutan, dengan janji kita buat kesepakatan. Kalau seandainya dalam
pertandingan nanti yang menang adalah Ayam saya, taruhan yang ada saya yang
akan mengambil. Kalau sebaliknya ternyata saya kalah, kalau tak cukup taruhan
saya ini, tambahannya ialah tunangan saya yang bernama Puti Reno Kapeh,
apakah senang hati sutan mendengarnya”. Mendengar perkataan Bujang Jibun lalu
Sutan Pamenan berucap, “kalau demikian kata tuan, sudah senang rasanya dalam
hati sejuk rasanya dalam pikiran. Apakah nanti tidak ada penyesalan dalam diri tuan
dikemudiannya ?”. Dengan melihatkan mimik wajah percaya diri Bujang Jibun
menyakinkan Sutan Pamenan dan mengajaknya untuk memulai pertandingan.
Dalam pertandingan itu, Sutan Pamenan telah mempersiapkan Ayamnya yang
bernama Sago Nani. Sementara itu Bujang Jibun juga bersiap-siap untuk mengadu
Ayamnya yang bernama Kinantan (12).
Setelah juaro lapangan mempersiapkan segala sesuatunya. Maka kedua
orang itu melepas Ayam aduannya masing-masing. Dalam pertarungan itu kedua
Ayam saling mengincar lawannya masing-masing, adakalanya kedua Ayam itu
sesekali melambung ke atas, dua kali melambung turun. Tapi malang bagi Ayam
Kinantan milik Bujang Jibun berpisah nyawa dari badannya, mengelapar-lepar di
gelanggang, matilah Ayam Kinantan suci. Seketika mengalirlah keringat dingin
sebesar biji jagung di kening Bujang Jibun. Sementara itu orang ramai hiruk pikuk,
bersorak sorai melihat kemenangan Ayam Sago Nani milik Sutan Pamenan, apalagi
mereka yang ikut menumpin taruhan pada Ayam Sago Nani yang menang dalam
pertandingan itu. Pada diri Bujang Jibun, malu tercoreng pada kening, karena kalah
oleh Ayam Sutan Pamenan dan taruhan diambil Sutan Pamenan sambil berkata
pada Bujang Jibun. “Hei…. tuan, si Bujang Jibun, manakah dia Puti Reno Kapeh?
Bawalah dia sekarang juga sebagai ganti taruhan badan tuan. Lalu termenunglah
Bujang Jibun, kemudian berkata, “tentang Puti Reno Kapeh, dia sekarang berada di
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
259
Sungai Kumayang Biliak Dalam. Jemputlah dia oleh sutan ke sana, ke kampung
halamannya. Sudahkah senang hati sutan”, Bujang Jibun berkata (13).


Gambar 99
Salah Satu Peninggalan Bujang Jibun Berupa Sumur Kecil
Masyarakat Menyakini Air Sumur Ini Digunakan Untuk Minum dan Memandikan Ayam

Setelah mendengar kata Bujang Jibun, Sutan Pamenan mohon diri pergi dari
gelanggang tersebut lalu berjalan menuruni Bukit Batu Balai melalui jalan setapak
yang sempit menuju Sualang. Dalam perjalanan menuju sualang tersebut, tanpa
diduga dan disangka-sangka sebelumnya oleh Sutan Pamenan perjalanannya
dicegat oleh Bujang Jibun. Melihat Bujang Jibun yang berdiri bercakap pinggang di
tengah jalan, hati kecil Sutan Pamenan berkata pada dirinya bahwa dirinya akan
binasa. Dalam hatinya terlintas kata-kata, “Kuda melompati batu balah di belakang
lurah berpandakian, tidak ku dua kehendak Allah kalaulah memang suratan dengan
janjian”. Ketika Sutan Pamenan sampai dihadapan Bujang Jibun, berkatalah Bujang
Jibun pada Sutan Pamenan. “kalau tadi Ayam kita yang menyabung, saya telah
kalah, sekarang kita pula yang menyabung nyawa”. Kemudian terjadilah perkelahian
antara Bujang Jibun dengan Sutan Pamenan. Pada diri Bujang Jibun, sebagai
seorang parewa memiliki berbagai kesaktian, tahan gurindam garagaji, tidak
termakan malelo, tidak termakan bisa kawi dia orang kuat kaba semenjak dari
niniaknya. Sementara itu pada diri Sutan Pamenan, melihat Ayamnya kuyua, saat
itu berdesirlah darah didadanya, lupalah Sutan Pamenan akan akal pikirannya,
hilang ilmu yang ada pada dirinya tidak sadar akan dirinya (14).
Maka bertarunglah Bujang Jibun dengan Sutan Pamenan, pada awalnya
perkelahian itu berjalan seimbang. Lama kelamaan terdesaklah Bujang Jibun oleh
Sutan Pamenan hingga pada suatu ketika Bujang Jibun terjatuh akbat pukulan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
260
Sutan Pamenan. Pada saat itu manyarulah Bujang Jibun, “berkat pada tampat-
tampat yang keramat, berkat Langgai, berkat Malelo dan berkat tempat keramat
lainnya. Meminta Bujang Jibun kali ini, kalau sempat kalah Bujang Jibun sekarang
bak balam rabah , bak orang datang Nagari Surantih”. Seketika itu, Bujang Jibun
seakan mendapat kekuatan baru dan berdiri kembali melanjutkan pertarungannya
dengan Sutan Pamenan. Dalam perkelahian itu, pedang Bujang Jibun telah berhasil
melukai tubuh Sutan Pamenan. Pada satu kesempatan Bujang Jibun berhasil
menyabetkan pedangnya ke arah leher Sutan Pamenan hingga bercerailah kepala
dengan badan Sutan Pamenan. Ajalullah sudah bilangan sampai, meninggallah
Sutan Pamenan di jalan yang menuju Sualang. Setelah melihat lawannya telah
binasa, Bujang Jibun mengambil kepala Sutan Pamenan meletakkannya di tepi
jalan, sementara badannya dilemparkan ke dalam lurah. Ayam dan harta yang
dimiliki Sutan Pamenan diambil dan dibawa Bujang Jibun semuanya. Bujang Jibun
kemudian berjalan menuju Bukit Batu Balai. Sampai di gelanggang Bukit Batu Balai
diperlihatkan pada orang ramai apa yang telah dibawanya sebagai bukti bahwa
Sutan Pamenan telah mati ditangannya. Kemudian Bujang Jibun melihatkan pada
orang ramai yang telah tahu perihal itu, dilihatnya orang tua beriba hati, orang muda
menangis berurai air mata terbayang akan tampan dan gagahnya Sutan Pamenan
yang telah jadi permainan mata orang kampung, orang memandang sangat sayang
padanya (15).
Lalu berangkatlah Bujang Jibun menuju kampung Kayu Aro, dituruni jalan
setapak yang sempit, teruslah dia menuju Sualang. Setelah itu ditempuhnya
pematang panjang menuju Kayu Aro. Sekian lama berjalan akhirnya sampailah
Bujang Jibun di kampung Koto Tinggi terus menuju rumah mande kandungnya.
Lalu Bujang Jibun dipanggil oleh ayah kandungnya, dihadapan ayahnya Bujang
Jibun berkata, “Ayah. Ini adalah bukti bahwa saya telah menang menyabung Ayam
dengan Sutan Pamenan anak orang Pariaman. Bukan karena menang emas
dengan perak, menang karena telah menyampaikan ajal Sutan Pamenan.
Badannya telah dibuang ke dalam lurah sedangkan kepalanya diletakkan di tepi
jalan, inilah taruhan dari Sutan Pamenan. Bujang Jibun melihatkan pada ayahnya
Ayam Sutan Pamenan berserta emas dan perak yang jadi taruhan. Mendengarkan
kata anaknya, terkejutlah ayah Bujang Jibun saat itu, ayahnya sangat geram dan
marah pada Bujang Jibun dengan apa yang telah dilakukannya (16).
Melihat ayah yang sedang marah pada Bujang Jibun, Puti Bungsu adik
kandung Bujang Jibun berkata, “kakanda Bujang Jibun, karena kakanda telah
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
261
menang menyabung. Alangkah baiknya dibayarkan pada utang yang ada pada
orang kampung. Agar kakanda selamat dunia dan akhirat”. Demikianlah kata Puti
Bungsu pada kakaknya Bujang Jibun. Mendengar perkataan Puti Bungsu, marahlah
Bujang Jibun dan saat itu berkata, “ kalaulah utang yang akan dibayar, percuma
saja aku jadi parewa”. Merentaklah Bujang Jibun melangkahkan kakinya saat itu
karena begitu marahnya pada puti Bungsu. Berangkatlah Bujang Jibun dari rumah
gadang menuju Gubalo Kabau. Dalam hatinya Bujang Jibun berniat akan
menguburkan emas tujuh urai serta uang yang ada. Sesampai di Padang Gubalo
Kabau Bujang Jibun melaksanakan niatnya tersebut, menguburkan barang-barang
yang dimilikinya. Selesai menguburkan barang-barang itu, Bujang Jibun kembali
menuju rumah gadang mandenya (17).
Setelah masuk ke kamar tempat penyimpanan pakaiannya, Bujang Jibun
menganti pakaian yang digunakannya dengan pakaian yang lusuh dan sangat jelek,
dengan berpakaian yang demikian Bujang Jibun pergi menuju Sungai Kumayang
rumah Reno Kapeh. Ketika sampai di halaman rumah Reno Kapeh, memangillah
Bujang Jibun saat itu. “O adik kandung si Reno Kapeh, apakah gerangan adik ada
dirumah? Kemudian terdengarlah suara jawaban dari atas rumah, suara itu adalah
suara dari Reno Kapeh yang menyahuti pangilan Bujang Jibun.
“Cimpedak tumbuh di halaman
Dijuluk dengan empu kaki
Usahlah tuan lama berdiri di halaman
Itu cibuak cucilah kaki
Naiklah tuan ke atas rumah”

Itulah kata Reno Kapeh yang mempersilahkan Bujang Jibun naik ke atas
rumah. Maka naiklah Bujang Jibun ke rumah menuju ruang tamu, sesaat setelah
Bujang Jibun duduk, air minum telah disuguhkan Reno Kapeh sambil berkata, “apa
maksud dalam hati, apa yang teringat dalam dada hingga tuan seperti ini datang
dengan berbaju lusuh segala buruk, tuan menguji Reno Kapeh? Belumlah ada yang
berubah di dalam hati, entah kalau malah tuan sendiri. Lalu Reno Kapeh berkata
lagi pada Bujang Jibun.
“Kiabak jauh ditengah
Dekatku pandang dari tepi
Jejak tampak tubuh teringat
Hilang tuan ke mana akan dicari”

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
262
Lalu menjawablah Bujang Jibun.

“Manalah dik kandung Reno kapeh
Saya telah menang menyabung
Menyabung dengan Sutan Pamenan
Ini sebagai tanda Ayamnya saya bawa
Sutan Pamenan sudah saya bunuh
Sudahkah senang hati adinda”(18).

Mendengar kata yang demikian, terkejutlah Reno Kapeh, berdesir darah di
dada. Amanat yang tidak dipegang oleh Sutan Pamenan, penyesalan muncul di
dalam diri Reno Kapeh. Termenunglah dia saat itu memikirkan nasib Sutan
Pamenan. Pada saat itu Bujang Jibun mohon diri kembali pulang ke rumahnya.
Ketika sampai di rumah mande kandungnya, Bujang Jibun minta izin pada
mandenya pergi kembali ke Bukit Batu Balai. Sementara itu sepeningggal Bujang
Jibun, Puti Reno Kapeh meratap sejadi-jadinya pada saat itu. “Oh tuan kandung
Sutan Pamenan tidak kusangka rigo-rigo pipit sinandung makan padi, tidak
kusangka seperti ini, amanatku tuan pungkiri.

Kiabak di Hulu Lumpo
Penudung orang ke seberang
Cerai hidup tidaklah mengapa
Celakanya mati salah seorang.

Si bubur tidak bertulang
Entahlah pandan yang meluruti
Tuan terbujur di rimba gadang
Dengan apa badan menuruti”
Begitulah bunyi ratapan Reno Kapeh (19).

Setelah pertemuan dengan Reno Kapeh, perkerjaan Bujang Jibun hanyalah
gila bermenung dan bermenung dikarenakan orang-orang yang menagih piutang
padanya, utang yang ada dengan apa akan dibayar. Setiap kali orang yang datang
menagih piutang, yang bisa dilakukan Bujang Jibun hanyalah memainkan saluang
Sago Geni, dihembus salung di depan orang yang menagih utang sebelum utang
akan dibayar Bujang Jibun. Mendengarkan bunyi saluang Bujang Jibun, orang yang
akan menagih piutang padanya merasa iba dan sedih hati yang tidak tertahankan.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
263
Hingga utang Bujang Jibun yang ada tidak akan tertagih lagi, karena mendengar
saluang Bujang Jibun serasa mau putus jantung dengan hati (20).
Seiring dengan berjalannya waktu, hari berganti hari, habis hari berganti
minggu, habis minggu berbilang bulan. Pada suatu hari datanglah seseorang yang
meminta piutang, bernama Gadih Raema datang dari Padang. Bujang Jibun ketika
melihat Raema datang dari kejauhan, telah siap dengan saluangnya. Seperti halnya
dengan peminta utang pada Bujang Jibun sebelumnya, mereka disuruh menungggu
oleh Bujang Jibun beberapa saat dengan alasan sebelum utang akan dibayar lebih
baik duduk minum terlebih dahulu dan mendengarkan bunyi saluangnya,
demikianlah cara Bujang Jibun menghadapi orang-orang yang menagih utang
padanya. Setelah salung selesai dimainkan, yang namanya utang tidak akan pernah
teringat lagi. Begitulah nasib para penagih utang pada Bujang Jibun sebelumnya.
Cara yang sama kembali digunakan Bujang Jibun pada Raema yang ingin menagih
utang pada Bujang Jibun. Pada saat itu Bujang Jibun telah memainkan saluangnya
dan melatunkan dendang bagi yang mendengarkan larut dibuatnya. Tapi telah
beragam bunyi salung namun Raema tidak dapat tunduk oleh alunan bunyi saluang
Bujang Jibun (21).
Setelah merasa litak bermain salung, berkatalah Bujang Jibun pada Raema,
wahai rang Kayo si Raema, namanya utang tetap akan saya bayar. Bersabarlah
Raema menungggu barang sebentar, agar saya dapat membayar utang.
Mendengarkan kata Bujang Jibun Raema sangat marah, marah yang tidak dapat
ditahan-tahan lagi dan lalu berkata, “Kalaulah tidak terbawa apa yang dijemput,
kalaulah tidak dapat apa yang diminta, saya pantang berbalik pulang, biarlah hanya
nama yang berbalik pulang. Mendengar kata Raema yang demikian, Bujang Jibun
menghentakkan kakinya, muncullah rasa geramnya, tersingunglah hati yang
“balado” talajang ka rantiang miang naiak ampadu ka talinggonyo. Kemudian
Bujang Jibun berteriak sekeras-kerasnya, setelah bunyi suara dari mulutnya
menghilang. Dihantamkanlah kakinya di lereng Bukit Batu Balai. Kiamat datang bagi
diri Bujang Jibun hingga miringlah Bukit Batu Balai kala itu (22).
Sementara Raema yang sedang menunggu tidak menyadari apa yang telah
terjadi pada diri Bujang Jibun. Ditempat yang lain Bujang Jibun semakin kehilangan
kendali dirinya, dia berlari menuruni jalan Bukit Batu Balai menuju daerah tepi air
yaitu lubuk Timbulun. Ketika sampai di tepi air lubuk, Bujang Jibun bersumpah pada
saat itu. “hei tempat-tempat keramat”, dengan suara yang lantang. “Berkat Allah dan
Nabi, berkat tempat yang keramat beserta Niniak dengan Aulia. Kalau ada harta
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
264
dari Bujang Jibun, kalau saya menerjuni lubuk ini, jadikanlah saya menjadi batu
berikut segala harta yang saya miliki”. Setelah selesai mengucapkan sumpahnya,
tanpa pikir panjang lagi Bujang Jibun menerjuni air lubuk tersebut hingga Bujang
Jibun tertancap berdiri dalam lubuk dan menjadi batu kala itu (23).



Gambar 101
Lubuk Timbulun Tempat Bujang Jibun Terjun dan Jadi Batu


Kembali pada Gadih Raema yang menunggu-menunggu kedatangan Bujang
Jibun untuk membayar utangnya. Setelah begitu lama dirasakannya, Bujang Jibun
yang ditunggu-tunggu belum juga datang menampakkan batang hidungnya. Karena
telah habis kesabarannya, orang yang dinanti belum juga datang. Akhirnya Gadih
Raema berjalan menuruni jalan setapak Bukit Batu Balai mengikuti jejak Bujang
Jibun. Ketika Raema sampai di daerah tepi air lubuk, diperhatikannya baik-baik
disekitar daerah itu. Kemudian dipalingkannya penglihatannya ke arah air lubuk
yang mengalir menuruti riamnya. Tanpa diduga sebelumnya, di dalam air lubuk
Raema melihat sosok badan Bujang Jibun yang pada saat itu telah berubah menjadi
batu. Melihat peristiwa yang terjadi itu, datanglah penyesalan dalam diri Raema
(24).







Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
265
8.2. Kaba (Cerita) Gadih Basanai.
Cerita ini mengisahkan tentang kehidupan Gadih Basanai anak orang
Kampung Koto Katenggian. Dalam kehidupan keluarga Gadih Basanai, bapaknya
telah lama meninggal dunia semenjak ia masih anak-anak. Gadih Basanai hidup
dan dibesarkan oleh Mande dan Ayeknya (Mak Gaek) hingga tumbuh menjadi dara
manis yang cantik jelita (1).
Diusia Gadihnya Gadih Basanai harus dihadapkan kepada kenyataan
pahitnya hidup. Dalam usia yang mulai menginjak dewasa, diusia yang sedang
membutuhkan perhatian Mande sebagai seorang Gadih. Gadih Basanai harus rela
hidup dengan Mak Gaeknya karena Mandenya telah dipanggil yang Maha Kuasa.
Belum lagi duka kehilangan Mande terobati, Gadih Basanai kembali menerima
kenyataan kehilangan orang yang dicintainya. Mak Gaek yang berperan
mengantikan Mandenya yang telah meninggal dunia juga harus pergi memenuhi
panggilan yang Maha Kuasa (2).
Tinggalah Gadih Basanai seorang diri di atas rumah gadang, dalam
kesebatangkaraan Gadih Basanai merasa tiada lagi tempat mengadu, tiada orang
yang dapat dijadikan teman untuk mencurahkan isi hatinya. Semua sekarang
tertumpu pada dirinya sendiri. Meski Gadih Basanai masih memiliki seorang Mamak
namun telah lama pergi marantau ke negeri orang tiada tahu kabar beritanya.
Sebelum Gadih Basanai lahir, Mamaknya telah pergi marantau ke daerah lain yang
baru berkembang sebagai perkampungan, yaitu Koto Katenggian. Ketika Gadih
Basanai menginjak dewasa ia tidak mengenal siapa Mamaknya (3).
Kehidupan Gadih Basanai sepeninggal Mande dan Mak Gaeknya, hanya
menangis adan meratapi nasibnya yang malang setiap siang dan malam yang
terdengar hanyalah tangis kepiluan. Adakalanya suara ratapan menjadi-jadi, kadang
kala ia makan, kadang tidak, karena terus meratapi hidupnya yang sebatang kara
(4).
Pada suatu hari, dikala siang hari disaat terik panas matahari. Gadih
Basanai duduk bermenung diri dalam rumah. Dalam hati kecilnya berkata
“Rama-rama terbang melayang
Hinggap di ranting patah tiga
Dimanakah letaknya suratan malang
Hingga nasibku seperti ini”
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
266
Lebih jauh lagi dalam pikirannya saat itu terbersit “Kalau dikuburkan biarlah
di atas rumah ini”. Dalam pikiran Gadih Basanai saat itu yang terlintas hanyalah
tentang kematian, terniat dihatinya untuk bunuh diri tapi takut melakukannya karena
dosa (5).
Hari demi hari terus berlalu, kehidupan Gadih Basanai selalu dihiasi oleh
ratapan dan tangis setiap harinya. Karena terus menerus menangis tanpa disadari
matanya telah bengkak akibat terus menerus menangis dan tidak ada pula orang
yang menolong. Suara tangisan Gadih Basanai yang menangis di atas rumah selalu
terdengar ke luar rumah. Sehingga setiap orang yang lewat di depan rumahnya
selalu mendengar suara tangisannya. Rumah Gadih Basanai berada di jalan utama
kampung, jalan ini selalu dilalui oleh pedagang babelok yang berdagang dari satu
kampung ke kampung lainnya (6).
Pada suatu hari lewatlah dua orang pedagang kain, mereka telah jauh
menempuh perjalanan berjalan melewati bukit masuk hutan keluar hutan dari satu
kampung ke kampung lain. Kedua pedagang itu telah tiga kali pulang pergi dari
Kampung Koto Katenggian ke Kampung Langgang Sunyi yang berada di daerah
ketinggian. Pada suatu hari, ketika mereka melewati jalan rumah Gadih Basanai,
nampaklah oleh kedua pedagang kain itu seorang perempuan yang sedang
menumbuk padi dengan lesung di halaman rumahnya. Hati mereka yang telah
berniat sejak lama, pada kali ini bisa terpenuhi dengan bertanya pada perempuan
itu yang rumahnya berdekatan dengan Gadih Basanai (7).
Berhentilah kedua pedagang itu sambil menyapa perempuan itu. “ O Etek
yang sedang menumbuk, kami hendak numpang tanya, adakah waktu Etek untuk
berbicara dengan kami”. Melihat perempuan itu keherenan dan mengangukan
kepalanya, si pedagang melanjutkan pembicaraannya. “kami ingin bertanya pada
Etek, sudah dua, tiga kali, setiap kami melalui jalan ini selalu mendengar suara
tangisan dan ratapan. Itulah yang ingin kami tanyakan pada Etek, anak siapakah
yang menangis itu. Oh anak kandung berdua, anak muda yang baik hati. Duduklah
dahulu di palanta lepaskan litak, nanti Etek akan bercerita”. Kedua pedagang itu
duduk di atas palanta, tak lama kemudian datanglah perempuan itu dengan
membawa air minum. Setelah mereka meminum air yang disuguhkan, barulah
perempuan itu menjawab pertanyaan kedua pedagang tersebut. “orang yang anak
muda dengar menangis itu adalah Gadih Basanai, dia menangis siang dan malam
karena hidup sebatang kara. Bapaknya meninggal dunia ketika Gadih Basanai
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
267
masih anak-anak, beberapa waktu yang lalu Mande yang telah membesarkannya
pun telah meninggal dunia. Belum lagi hilang duka kehilangan Mande, belumlah
kering tanah perkuburan Mandenya, Mak Gaeknya pun dipanggil menghadap yang
Maha Kuasa. Sekarang ia hidup seorang diri dalam rumah gadang. Sebenarnya ia
masih memiliki seorang Mamak tapi ada dirantau orang” (8).
Bertanyalah pedagang kain, “siapa nama Mande dan Mamaknya?” Lalu
dijawab oleh perempuan itu. “dengarlah oleh Buyuang yang sesungguhnya,
Mandenya dahulu dua bersaudara, yang tua bernama Sutan Sabirulah, itulah nama
Mamaknya. Adik Sutan Sabirulah bernama Puti Ambun Sani, itulah Mande Gadih
Basanai”. Mendengar kata yang demikian, teringatlah oleh pedagang itu perihal
Sutan Sabirulah (9).
Lalu berkatalah dia pada saat itu, “O Etek, kalau demikian kata Etek, seingat
kami orang yang bernama Sutan Sabirulah mempunyai gelar Sutan Rajo Angek jadi
Rajo di kampung kami”. Mendengar hal itu perempuan penumbuk padi berkata,
“kalau benar yang Buyuang sampaikan, minta tolong Etek kepada Buyuang.
Sebelumnya Etek berterima kasih pada Buyuang berdua. Etek minta tolong,
sampaikanlah pesan pada Mamak Gadih Basanai yang bernama Sutan Sabirulah
yang bergelar Sutan Rajo Angek. Kalau memang dia jadi Rajo di kampung
Buyuang, tolong kabarkan padanya kamanankannya sekarang hidup seorang diri di
kampung”. Mendengar ucapan tersebut, senanglah hati kedua pedagang kain.
“Etek, terima kasih air yang telah kami minum, akan kami sampaikan pesan Etek”
ucap pedagang itu. “Terima kasih banyak-banyak, tolong maafkan kalau ada kata
Etek yang jangal dihati Buyuang” sanggah perempuan tersebut (10).
Berangkatlah kedua pedagang kain itu meniggalkan halaman rumah
perempuan itu berjalan menuju kampung halamannya Kampung Koto Katenggian.
Karena begitu jauhnya jarak antara Kampung Koto Katenggian dengan Kampung
Langgang Sunyi, membuat kedua pedagang itu harus bermalam di tengah
perjalanan. Pada malam itu, sebelum kedua pedagang itu istirahat karena litak telah
melakukan perjalanan seharian. Malam itu, mereka sepakat jika telah sampai di
Kampung Koto Katenggian, terlebih dahulu pesan itu disampaikan pada Mamak
Gadih Basanai. Karena kasihan melihat nasib Gadih Basanai yang selalu dirundung
malang (11).
Disaat fajar telah menyinsing disela-sela lebatnya dedaunan pohon hutan.
Ditengah tetesan embun pagi menetes dari ujung daun dan dinginnya udara pagi
hari itu. Kedua pedagang itu bangun dari tidurnya dan kembali melanjutkan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
268
perjalanannya menuju Kampung Koto Katenggian. Setelah sekian lama jauh
berjalan, akhirnya sampailah mereka di Kampung Koto Katenggian. Diarahkanlah
langkah kaki mereka ke rumah Rajo, setelah sampai di depan gerbang rumah Rajo,
bertemulah mereka dengan Dubalang Rajo. Ketika berada didekat Dubalang
mereka berkata, “ampun di bawah telapak kaki, di atas selo kebesaran. Kedatangan
kami hendak menyampaikan pesan pada Rajo, itulah maksud yang sesungguhnya.
Apakah sekarang Rajo yang bernama Sutan Sabirulah yang bergelar Sutan Rajo
Angek ada di rumah sekarang”. Lalu berkatalah Dubalang Rajo saat itu, “kalau itu
yang orang muda tanyakan, Rajo sekarang ada di rumah. Kalau memang Rajo ada
di rumah, kami memohon pada Dubalang. Sebelumnya kami minta maaf pada
Dubalang, pertemukanlah kami dengan Rajo ada pesan yang kami sampaikan” (12).
Lalu berangkatlah Dubalang menemui Rajo yang saat itu berada di ruang
istana. Sebelum menyampaikan pesan pada Rajo, Dubalang menyampaikan salam
penghormatan pada Rajo lalu menyampaikan pesan bahwa di luar ada tamu yang
ingin menemui Rajo. Setelah menyampaikan salam hormat pada Rajo, Dubalang
kembali menemui kedua pedagang itu dan menyampaikan berita gembira bahwa
mereka bisa menemui Rajo sekarang juga (13).
Maka berjalanlah kedua pedagang itu naik menuju ke atas rumah Rajo.
Seperti halnya Dubalang, mereka juga memberikan salam hormat pada Rajo. Ketika
sampai dihadapan Rajo, Rajo mempersilahkan mereka duduk. Berkatalah salah
seorang pedagang itu, “ampunilah kami Rajo, kami hendak menyampaikan niat
kami. Sebenarnya kami adalah pedagang babelok berdagang hingga ke Kampung
Langgang Sunyi. Kami berdagang ke kampung itu paling tidak dua kali dalam
sebulan. Setiap kali melewati jalan di kampung itu, kami selalu mendengar suara
tangisan dari atas sebuah rumah. Suara tangisan itu berasal dari suara tangis
perempuan, dia menangis siang dan malam bahkan ratapannya menjadi-jadi.
Kemaren ketika kami akan pulang, karena tidak tahan hati kami mendengar suara
tangisan itu hingga akhirnya kami bertanya pada seorang perempuan yang kami
jumpai tak jauh dari rumah itu”. Ketika pedagang itu akan melanjutkan
perkataannya, Rajo langsung berkata, “Tunggu Sebentar” sanggah Rajo. “sebelum
Buyuang melanjutkan cerita Buyuang, saya sudah bisa menerka suara siapa yang
menangis itu” kata Rajo. “kalaulah itu bukan adik kandungku, pasti itu adalah
anaknya. Benar perkataan Rajo”, jawab pedagang. Setelah kami tanya pada
perempuan yang berdekatan dengan rumah itu mengatakan bahwa yang menangis
itu adalah kemenakan Rajo yang bernama Gadih Basanai anak dari Puti Ambun
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
269
Sani. Pada saat kami bercerita di halaman perempuan itu terdengar juga tangisan
anak Gadih yang dirundung malang itu. Dari suara ratapannya ia mengatakan
bapak tidak ada lagi Mande sudah mati, Mak Gaek sudah mati juga, Mamak ada
tapi di rantau orang”. Lalu berkatalah Rajo saat itu, “kapan Buyuang kembali lagi ke
sana?” mendengar perkataan Rajo, “ampun kami Rajo, kalaulah kami berangkat ke
sana satu kali dalam sebulan” begitu kata pedagang pada Rajo. Lalu dia
melanjutkan pembicaraanya, “mendengar cerita orang yang kami temui itu, sejak
Mak Gaeknya meninggal dunia kadang anak Gadih itu makan kadang tidak,
begitulah penderitaanya. Kalaulah Rajo terlambat menemuinya alamat badan tak
akan bertemu” (14).
Karena merasa amanat telah disampaikan, mereka mohon diri pada Rajo
untuk pamit. Sutan Sabirulah yang merasa telah berhutang budi baik pada kedua
pedagang itu bekata, “O anak kandung, makan dan minumlah sebelum pergi, saya
telah berhutang budi pada Buyuang”. Karena Rajo yang meminta, terpaksalah
kedua pedagang itu menerima tawaran Rajo. Setelah nasi dihidangkan, makanlah
mereka bersama saat itu. Selesai makan kedua pedagang itu berpamitan pada
Rajo. Namun sebelum berpisah, pedagang mengingatkan Rajo kembali agar
sesegera mungkin menemui Gadih Basanai kalau tidak ingin mendapati kuburannya
(15).
Setelah kedua pedagang itu meninggalkan rumah Rajo. Sekarang
tertegunlah Sutan Sabirulah berpikir mengingat kata-kata dari pesan yang telah
disampaikan kedua pedagang itu. Tanpa berpikir panjang lagi Sutan Sabirulah
masuk ke dalam kamarnya, menganti pakaiannya dengan pakaian kebesarannya.
Sutan Sabirulah lalu menghampiri istrinya, melihat suaminya berpakaian baju
gunting kaliang, celana panjang, saluak koto gadang lekat dikepala dan keris
terselip dipinggangnya. Sambil memegang tongkatnya timbul pertanyaan dalam
pikiranya. Saat istrinya keheranan itu berkatalah Sutan Sabirulah, “Adik kandung
Puti Ambun Suri, sekarang tinggalah adik di rumah, saya akan pergi ke kampung
menjemput keponakanku. Jika pulang Sutan Aliamat katakan saya ke Langgang
Sunyi. Katakan padanya, tunggu ayah dahulu pulang” begitu kata Sutan Sabirulah
pada istrinya (16).
Sultan Sabirulah mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sutan
Aliamat hasil perkawinannya dengan Puti Ambun Suri. Sutan Aliamat setelah
beranjak dewasa jarang sekali berada di rumah. Di mana gelanggang ramai Aliamat
akan terlihat di sana, setiap kali orang akan berjudi Ali pastilah datang untuk
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
270
bermain. Seperti itulah kehidupan anak laki-laki Mamak Gadih Basanai setiap
harinya (17).
Kepergian Sultan Sabirulah kali ini tidak dikuti oleh Dubalangnya
sebagaimana biasanya. Sultan Sabirulah sendiri menginginkan hal itu terjadi, hal ini
dikarenakan kepergiannya kali ini ke Kampung Langgang Sunyi diiringgi dengan
perasaan sedih. Berbagai macam hal berkecamuk dalam pikirannya. Mulai dari
bayangan kisah hidup yang telah lalu, kesalahan badan diri baru dirasakannya
sekarang. Saat itu Sutan Sabirulah menyadari, sebaik-baik hidup di rantau orang
rupanya lebih baik tinggal dan hidup di kampung sendiri. Dalam penyesalannya saat
itu, kalaulah dia masih tinggal di kampung tentunya tidak akan terjadi seperti
sekarang. Andaikan masih di kampung mungkin belum meninggal adiknya, entah
masih hidup juga Mandenya. Itulah yang terjadi pada diri Sutan Sabirulah selama
dalam perjalannanya menuju Kampung Langgang Sunyi. Dalam kesedihan hatinya
kaki tetap dilangkahkan berjalan melewati bukit dan lurah yang dia lalui. Karena
malam telah datang menjelang, tempat yang dituju belum juga tampak, terpaksalah
Sutan Sabirulah bermalam di jalan pada malam itu (18).
Setelah pagi datang dan hari telah terang benderang, Sultan Sabirulah
melanjutkan perjalanannya ke Kampung Langgang Sunyi. Bilamana langkah kaki
Sutan Sabirulah menginjak perbatasan kampung, perlahan-lahan, setapak demi
setapak Sutan Sabirulah melangkah memasuki Kampung Langgang Sunyi.
Kepiluan hati Sutan Sabirulah kembali muncul takkala melihat keadaan kampung
halamannya. Dahulu ketika berangkat pergi marantau, kampung yang ditinggalkan
tidaklah selenggang dan sesepi sekarang. Dalam diri Sutan Sabirulah, terasa jatuh
ke dalam air mata. Meski jadi Rajo di rantau orang tapi kampung halamannya tidak
terurus seperti yang dilihatnya.

Betung tidak bisa dipertali
Dipotong dibelah dua
Kemana akan menyesali
Yang salah jelas kita juga

Seperti itulah perkataan Sutan Sabirulah pada dirinya. Debar hati Sutan Sabirulah
semakin kencang ketika perjalanannya hampir mendekati rumah Mande
kandungnya (19).
Dengan rasa litak badan yang tidak tertahankan setelah berjalan jauh sampailah
Sutan Sabirulah di rumahnya. Tampaklah rumah Mande kandung, di sana hati
Sutan Sabirulah semakin sedih, takala dahulu pergi berangkat marantau rumah
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
271
ditinggal masih rancak, tidak ada rumah lain yang serancak rumahnya. Tapi
sekarang jika dipandangi halaman rumah dipenuhi rumput dan semak seperti rimba
jika dipandang-pandangi lagi. Dinding dan atap rumah malahan sudah dipanjati
tumbuhan akar dan bulu. Itulah gambaran kondisi rumahnya sekarang, setelah lama
dipandangi badarai jatuh air mata Sutan Sabirulah terbayang-bayng wajah
Mandenya. Sutan Sabirulah merasa sangat berdosa, hatinya berkata, rasa berdosa
saya pada Mande kandung, kalau melawan dahulu pada Mande durhakalah saya.
Seperti inilah sekarang yang terjadi, Mande ampuni saya. Karena sudah terjadi,
maka inilah yang harus saya terima. Untunglah ada orang yang menyampaikan,
kalau tidak sudah mati pula kemenakan satu-satunya. Jika tua nanti saya sakit-
sakitan, kemana badan akan maimbau (20).
Tidak seorang pun yang terlihat, Sutan Sabirulah langsung menuju jenjang rumah.
Dari jenjang sudah terdengar suara tangis. Didengarkan suara itu baik-baik, sayup-
sayup terdengar suara tangisnya terisak-isak. Memangilah Sutan Sabirulah, “O nak
kandung Gadih Basanai, ini Mamak yang pulang, bukakanlah pintu”. Rupanya
Gadih Basanai mendengar suara yang memangil-mangil dari luar rumah, semakin
menjadi-jadi ratapannya yang selalu memangil Mamaknya. “Ooo… di manakah
kampung yang Mamak huni. Apa tidak ingin Mamak pulang, sebaik-baik Mamak
dirantau namun kampung diingat juga, entah kalau tidak ingin Mamak Gadih hidup
lagi, tapi kalau masih bisa pulang kampunglah mak”.
Disana neon menjala ikan
Menyambar bangau di muara
Dimana saya akan berpesan
Badan seperti ini merana

Tiada awan tiada bulan
Betung tak tertebang lagi
Kalau tertawan Mamak di rantau orang
Tentu jelas tidaknya Mamak pulang

Rumah gadang dengan limpapeh
Diambil orang senja hari
Mamak pulanglah
Kemenakan Mamak seperti ini
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
272
Di kampung Mamak.

Mendengar tangisan kamanankannya yang demikian. Sutan Sabirulah tidak senang
hati, muncullah amarah dalam dirinya karena pintu belum juga dibukakan. Maka
didobraklah pintu rumah hingga terhempas pintu besar rumah tersebut. Terbukalah
pintu rumah, ditujulah asal suara tangis Gadih Basanai yang datang dari arah dalam
biliak. Melihat Gadih Basanai sedang menangis saat itu, “O anak kandung Gadih
Basanai, sangat bersalah Mamak, kalau sekarang maunya Gadih apa? Mamak
tidak akan marah. Yang salah bukanlah Gadih, tapi bukan sekarang saatnya
Mamak bercerita. Semuanya harus kita terima sekarang, inilah bagian untuk kita”.
Berkatalah saat itu Gadih Basanai, “kalau senang hati Mamak di kampung orang,
lihat-lihat kami di kampung, seperti ini perlakuan Mamak tidak peduli dengan nasib
kami. Semenjak Mak Gaek meninggal kadang makan kadang tidak. Kalau makan
tidak ada yang berselera, itulah bagian nasib badan Gadih jika diingat-ingat, ke
mana badan tempat berbagi. Dahulu berdua dengan Mak Gaek. Nyatanya mak
gaek sudah dipangil pula, tiada lagi tempat badan ini untuk mengadu (21).
Anak kandung Gadih Basanai, sekarang kita tinggalkan rumah gadang ini. Gadih
ikutlah dengan Mamak, hidup bersama Mamak di kampung orang, boleh sama-
sama kita hidup di rantau biarlah Gadih sekarang Gadih tinggal dengan Mintuwo
hidup di Kampung Koto Katenggian. Mendengar perkataan Mamaknya yang
demikian, semakin merataplah GB sekarang, terbayanglah olehnya saat itu wajah
Mande kandung dengan Mak Gaek sedang duduk.

Batang mengkudu di tengah ladang
Ditebas disiangi
Kalau semenjak dahulu Mamak pulang
Entah masih ada juga saat ini…………

Dipandang laut, laut juga
Dipandang gunung belalayan
Jangan diingatkan juga
Hati Mamak bertambah iba mendengarkan

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
273
Mamak, ke kampung orang Mamak bawa Gadih. Tentu alamat tinggallah rumah
gadang, akan habis rumah jika ditinggalkan, akan habis harta kata orang.
Sedangkan masih ada Gadih di rumah, masih tumbuh juga rumput dan semak di
halaman. Itu masih Gadih yang menghuni rumah, apalagi akan pergi jauh alamat
tandeh harta pusaka”, demikian kata Gadih Basanai. Berkatalah Sutan Sabirulah,
“dengarkan baik-baik oleh Gadih, perkara pusako jangalah disebut. Kalau dilihat
badan kita, biarlah tinggal pusaka itu. Biarkanlah tanah tersebut kembali kepada
yang memilikinya kembali pada asalnya. Karena kita tak akan ada lagi disini
janganlah kita perhitungkan lagi masalah itu, sekarang juga berangkat dari kampung
ini. Mendengarkan kata Mamaknya yang seperti itu terpaksalah Gadih Basanai
menuruti perintah Mamaknya. Karena tidak ada lagi alasan untuk menolaknya.
Apalagi jika Mamak telah memberi perintah, kemenakan haruslah seperintah
Mamaknya. Bagi Gadih Basanai saat ini Mamak satu-satunya harapan dalam
hidupnya, Mamak baginya sekarang adalah penganti ayah dan Mandenya.
Mendengar persetujuan dari Gadih Basanai senanglah hati Mamaknya, di saat itu
berkatalah Gadih Basanai, “kalau memang kita akan berangkat hari ini, Gadih
panggil dahulu segala permainan Gadih”, seraya Gadih pada Mamaknya. Pada
badan diri Gadih Basanai mempunyai permainan yang banyak berupa jawi dan
kerbau yang akan ditinggalkan. Janganlah disebut perihal masa lalu hati Mamak
tambah tidak menentu, sebaiknya sekarang juga kita berangkat karena hari
bertambah tinggi juga. Setelah perkataan Mamaknya itu, terpaksalah Gadih Basanai
berangkat saat itu juga dengan membawa bungkusan pakaiannya (22).
Berjalanlah Mamak dengan kamanankannya menuju Kampung Koto Katenggian.
Dalam perjalanan itu Gadih Basanai tetap menangis karena teringat kapan lagi
kampung akan dilihatnya lagi, apalagi nasibnya sekarang harus ikut dengan
Mamaknya ke Kampung Koto Katenggian yang berada di bawah kaki Gunung
Ledang. Perjalanan yang menempuh jarak yang cukup jauh tersebut harus dilalui
kedua orang itu dengan bermalam di tengah perjalanan. Pada malam itu Gadih
Basanai beristirahat dengan menyandarkan badannya ke pohon kayu, demikian
juga halnya dengan Mamaknya. Namun pada badan diri Gadih Basanai matanya
tidak bisa ditidurkan. Nampaknya berpisah dengan kampung halaman sangat
memberatkan hatinya. Jangankan berpisah dengan kampung halaman berpisah
dengan rumah gadang belum pernah dilakukannya. Kokok ayam hutan terdengar
memecah keheningan pagi tanda hari akan berganti dengan siang. Disaat hari telah
terang melangkahlah Mamak dengan kamanankannya melanjutkan kembali
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
274
perjalanan mereka. Setelah berjalan jauh melewati perbukitan, masuk hutan keluar
hutan akhirnya sampailah mereka di Kampung Koto Katenggian (23).
Maka ditujulah rumah Mamak, ketika hampir sampai dekat rumah Mamaknya
telihatlah Dubalang berdiri menjaga rumah Rajo. Karena yang datang adalah Rajo,
Dubalang pun memberi hormat. Melihat orang hormat pada Mamaknya barulah
percaya Gadih Basanai bahwa Mamaknya adalah seorang Rajo. Naiklah Mamak
dan kamanankannya ke atas rumah. Sementara itu istri Mamaknya yang bernama
Puti Ambun Suri, melihat kedatangan Gadih Basanai merasa sangat senang sekali
karena melihat kecantikan Gadih Basanai. Dalam hatinya ia berkata, “kalaulah
diperhatikan baik-baik, dipandangi anak Gadih ini tidaklah kalah cantiknya, hanya
puti-puti yang bisa menandinggi kecantikannya. Hanyalah Sutan yang cocok jadi
jodohnya entahlah kalau dengan anakku Sutan Aliamat (24).
Setelah Gadih Basanai duduk, berkatalah istri Mamaknya pada Gadih Basanai.
“upik Gadih Basanai dengarlah baik-baik, rumah ini adalah rumah Gadih juga.
Rumah ini jadi milik Gadih sekarang walaupun kami yang membuat tapi sekarang
Gadihlah yang punya. Air yang ada dan nasi yang terhidang tolong diminum dan
dimakan”. Mendengarkan baiknya basa-basi istri Mamaknya membuat Gadih
Basanai lupa ingatan, Gadih Basanai merasa tenang hatinya mendapat perlakuan
dari istri Mamaknya. Dalam hati Gadih Basanai berbisik, ” seperti inilah istri
Mamakku, pantaslah Mamak terlena, orangnya cantik budinya pun baik. Pantaslah
Mamak tidak ingat pulang sampai lupa dengan kampung halaman”, itulah isi bisikan
dalam hatinya (25).
Selesai makan Gadih Basanai diantarkan ke kamarnya untuk beristirahat,
sepeninggal Gadih Basanai Mamaknya berkata pada istrinya, “sekarang seperti
inilah adik kandung, apa akal kita saat ini. Kalau begitu tuan kandung, menurut ati
saya sebaiknya tuan menjemput anak kita Aliamat. Semenjak dia pergi ke
gelanggang hingga sekarang belum pulang. Tidak tahu hati kita resah, tidak tahu
badan kita tidak sehat. Dia tahunya hanya bersenang-senang hati. Pergilah tuan
menjemputnya ke gelanggang. Kalau tuan menjemputnya, katakan padanya saya
sedang sakit parah”, begitulah ucapan istrinya. Sejak Aliamat pergi, gila bermain
kerjaanya, kerjaannya hanyalah berjudi saja setiap singgah di gelanggang. Sutan
Sabirulah setuju dengan istrinya untuk menjemput anaknya Sutan Aliamat (26).
Berangkatlah Sutan Sabirulah menjemput anaknya Aliamat dikawal oleh para
Dubalangnya. Rajo melangkahkan kakinya dengan senang hati karena
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
275
kamanankannya telah di rumahnya dan anak kandungnya pun akan dijemput pula.
Telah jauh jalan yang ditempuh, sudah berapa kali persimpangan jalan yang telah ia
lewati dengan pengawalnya untuk menuju gelanggang tempat bermain anaknya
(27).
Untuk mencari Aliamat tidaklah sulit, di mana galanggang sedang ramainya ia pasti
di sana ikut bermain judi. Sifat Aliamat dalam bermain hanyalah sekedar untuk
meramaikan gelanggang. Dalam bermain Aliamat selalu memperlihatkan sifat
congkaknya menampakkan kehebatannya dihadapan orang ramai, di gelanggang
tanda dia hebat menumpang taruhan pada pihak yang lemah begitu gelagat Aliamat
memperlihatkan tuah kepada yang kalah (28).
Di tengah khalayak ramai terlihat bertanya-tanyalah orang-orang, yang menjadi
pertanyaan mereka kenapa ayah kandung Aliamat datang ke gelanggang. Karena
yang datang adalah Sutan Rajo Angek pada takut dan cemaslah orang ramai
tersebut. Mereka takut karena kebesaran Sutan Rajo Angek, matanya merah seperti
naga. Dia kelihatan seperti orang yang sedang marah, pada takutlah orang ramai
yang memandanginya. Kemudian datanglah Dubalang menemui Aliamat yang
sedang bermain di gelanggang. Saat Dubalang telah menghampiri Aliamat,
berkatalah dia pada si Dubalang. “dengarkan oleh Dubalang, karena Dubalang
adalah Dubalang ayah tentu diperintah oleh ayah tapi tunggulah dahulu saya main.
Nantikan dahulu sabung menang”, begitulah katanya pada Dubalang. Terpaksalah
Dubalang menunggu, apapun katanya tidak ungkin tidak dipatuhi. Akhirnya
ditunggulah Aliamat hingga selesai bermain oleh Dubalang. Di tengah
menunggunya berhenti bermain, sabung saat itu telah dapat diketahui siapa
pemenangnya. Bagi yang ikut bermain sudah tentu pula yang akan mamutuih dan
yang akan maelo. Barulah Sutan Aliamat dan Dubalang menemui Sutan Rajo Angek
(29).
Saat sampai di hadapan ayahnya Aliamat memberikan salam hormat pada
ayahnya. “kata riang kata terlompat, kata takut kata tak sampai kata yang benar
yang akan saya sebut apa sebabnya ayah menjemput Ali? Selama ini belumlah
pernah ayah menjemput Ali apalagi sedang dalam bermain. Baru kali ini Ali
mendapati. Berkatalah Sutan Rajo Angek, ”O anak kandung Sutan Aliamat,
memang Ali besar di yang ramai tapi cobalah pikirkan. Sesenang dalam gelanggang
yang akan menyabung, sabung judi kalah dan menang yang akan dihadang.
Kalaulah sekarang Ali kalah dalam permainan biarlah kalah, uang janganlah
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
276
dipikirkan. Saat ini yang penting Ali pulang dahulu. Mande kandung sedang sakit
parah di rumah, itulah yang harus ayah katakan pada Ali. Mendengar kata tersebut
Ali berkata pada ayahnya. “pantaslah tidak menentu hati Ali dalam seminggu ini.
Hati kecil berkata apa yang akan terjadi. Namun tidak disangka-sangka Mande
sekarang yang sakit dan tidak disangka pula ayah pula yang menjemput. Ali kira
lawan yang akan datang bermain itu saja yang ada dalam pikiran (30).
Karena cemas akan kondisi Mandenya akhirnya Aliamat pulang bersama ayahnya.
Ia tidak peduli lagi kalah dalam bermain yang penting dalam pikirannya saat ini
adalah melihat Mandenya di rumah. Begitu cemasnya Aliamat akan sakit
Mandenya, jalannya pun terlihat sangat tergesa-gesa berjalan. Sesampai di
halaman rumah, Aliamat langsung menuju naik ke atas rumah sementara ayahnya
saat itu tersenyum simpul sambil membuang muka melihat istrinya menyonsong
kedatangan anaknya yang kecemasan yang mengira Mandenya sakit parah (31).
Melihat anaknya pulang dengan suaminya tertawa juga Mandenya. Aliamat yang
diperlakukan seperti itu merasa sakit hati dan hampir tidak dipercayainya kenapa
bisa yakin pada ayahnya. “ayah tadi di gelanggang menyebut Mande sedang sakit
parah makanya tergesa-gesa pulang tidak peduli sedang kalah menang tidak
penting uang bagi Ali”. Berkatalah Mande Aliamat, “Oh Buyuang Sutan Aliamat,
jangalah ayah Buyuang salahkan nak. Yang terjadi sesungguhnya. Sebelum
Buyuang sampai Mande memang sakit, tapi ketika melihat Ali bersama ayah sudah
sehat Mande sekarang” (32).
Sebelum Aliamat datang rupanya Mande Aliamat baru saja berbicara dengan
Gadih Basanai. Dalam percakapan itu Mande Aliamat menyuruh Gadih Basanai
memasak. Gadih Basanai menolaknya dengan alasan dia telah lama tidak
memasak semenjak mak gaeknya meninggal kadang dia makan kadang tidak. Dia
makan hanya ketika diberi orang nasi atau ketika ingat makan. Namun apaun
alasan yang diungkapkan Gadih Basanai dia tetap dipaksa oleh Mande Aliamat.
Terpaksalah Gadih Basanai memasak juga, tapi setelah ia selesai memasak dan
dihidangkan. Masakan yang digoreng tidak bisa lagi dikatakan goreng, gulai tidak
bisa lagi dikatak gulai, kata Gadih Basanai pada mintuonya itu “samba badagang
sajo”. Setelah menghidangkan masakan Gadih Basanai langsung masuk kamar
(33).
Kembali pada percakapan Aliamat dengan Mandenya. “selama Buyuang di
gelanggang, tidakkah pernah ingat dengan Mande. Tidak Buyuang tenggang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
277
bagaimana hati kami. Kata orang kami hidup sudah tua, Buyuang hidup
sekehendak hati, tidak ada mendengarkan kata-kata kami”. Mendengar kata
demikian Aliamat berujar, “tanda patuh ali kepada Mande kalah menang ali pulang
kini. Sudah berapa bulan Buyuang tidak di rumah, makan tidak ada pula di rumah.
Lebih baik Buyuang makanlah dahulu, sesudah makan kita bicara lagi ada masalah
yang akan dirundingkan”. Tanpa menjawab lagi perkataan Mandenya Aliamat
langsung menuju ke tempat makan yang telah dihidangkan. Diambillah piring dan
dibukalah tudung. Ketika tudung dibuka terbelanggaklah mata Aliamat melihat apa
yang ada dihadapannya. Selama hayatnya belum pernah melihat makanan yang
ada dihadapannya. Bertanyalah Ali pada Mandenya, “siapakah yang memasak
makanan ini, kalaulah Mande tidak mau menyebutkan orangnya, biarlah Ali tidak
jadi makan”. Baru saja Ali selesai bicara terdengalah suara iak tangis dari arah
dalam kamar. Mande Aliamat pergi ke dalam kamar kemudian ke luar dengan Gadih
Basanai yang menangis. Berkatalah Mandenya, “Ali yang memasak sambal itu
adalah Mande sendiri. Mande tahu dipikiran Ali tidak percaya itu masakan Mande,
tapi memang itulah yang bisa Mande masak. Selama hidup belum pernah Ali
melihat masakan Mande seperti ini. Kalau dulu dihirup bau nasi Mande bau bunga
tapi sekarang sekarang bau hati hangus, Kalaulah diinapkan bisa-bisa gila”. Mande
Aliamat melirik pada Gadih Basanai yang berbicara padanya, “mintuo ampuni
Gadih, sudah Gadih katakan sebelumnya pada mintuwo, tapi mintuwo tidak
percaya. Mintuwo paksa juga Gadih yang memasak. Kini marah anak mintuwo
karena masakan Gadih, tidak jadi uda Ali makan (34).
Dengarlah baik-baik anak kandung, masalah itu janganlah Gadih risaukan. Searng
kita berempat hidup bersama, kalau makan sama makan, duduk sama duduk”,
itulah ucapan Mande Aliamat pada Gadih Basanai. Pada dan diri Aliamat melihat
Gadih Basanai hatinya tidaklah tenang lagi. Melihat kecantikan dan keelokan fisik
Gadih Basanai yang tidak kalah dengan seorang Puti meski ia sering dirundung
penderitaan. Namun apa yang terjadi sebaliknya, perasaan yang dirasakan Ali juga
dialami dan dirasakan Gadih Basanai.

Ditebang dedak dalam rimba
Kayunya jatuh keatas batu
Sama berdesir darah keduanya
Tandanya untung akan bertemu
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
278
Menjelang mereka makan berkatalah Mande Aliamat kepada Gadih Basanai, “anak
kandung Gadih Basanai, inilah kakak kandung Gadih anak Mamak Gadih yang
bernama Sutan Aliamat”. Kemudian kedua orang itu saling mengayunkan
tangannya dalam perkenalan itu. Barulah mereka makan bersama saat itu (35).
Setelah selesai makan Gadih Basanai langsung masuk kamar, namun dari dalam
kamar dia berusaha menguping pembicaraan Mamak dengan mintuwonya kepada
anak laki-laki mereka Aliamat. “kira-kira apa yang akan mereka bicarakan” dalam
pikirannya. Pada saat itu Mande Aliamat memulai pembicaraan antara tiga orang
anak beranak itu. “ali kini Mande bertanya pada Ali. Kalau dilihat usia Ali sudah
cukup dewasa dan berumur. Kiranya sudah sepantasnyalah ali pulang kerumah.
Menurut hemat Mande.

Ditilik tepi kain
Dijahit tentang kepalanya
Dari pada mencari pada yang lain
Rancaklah Ali pulang ka bakonya

Begitu ucapan Mandenya pada Aliamat yang kemudian menjawabnya. ”Mendengar
ucapan Mande, perkataan Mande dapat Ali maklumi. Meskipun begitu tidaklah
runding Ali perpanjang. Mande haraplah memakluminya. Meskipun Mande dengan
ayah sudah mengatakan kata yang sagolong, telah pipih selayang berdua. Kalaulah
kehendak Mande dan ayah sudah semacam itu apakah sudah setuju Gadih Basanai
(36).
Kalau diperkenankan beri waktu Ali terlebih dahulu dalam jangka dua atau tiga
minggu ini. Kalau memang permintaan dikabulkan tidak akan lama kita akan
berjanji. Beri waktu Ali dahulu akan batarak, manarakkan minyak cinduang
paramayan. Kalau selesai ali batarak di Gunung Ledang, Ali akan segera pulang.
Barulah disitu alek kita mulai”. Begitulah kata Ali pada kedua orang tuanya (37).
“Oh nak kandung Aliamat, sepanjang itukah jawaban Ali. Apakah marah Ali pada
kami. Mande, dengarkan dulu yang sebenarnya. Sebab Ali menjawab seperti itu,
mungkin ayah dengan Mande belum tahu. Kematian Mande Gadih Basanai dan
mak gaeknya disebabkan oleh tanda tujuh. Karena Mande dan Mak Gaeknya terlalu
memilih orang banyak, setiap yang datang membawa tanda mereka terima dan
setujui. Hingga sudah tujuh tunangan Gadih Basanai, tidak ada salah satunya yang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
279
menjadi, akibatnya membawa mati. Itulah sebabnya Ali manarakkan minyak
cindung paramayan untuk melawan sutan yang bertujuh. Kalaulah sutan yang
bertujuh orang yang ternama di kampungnya dikenal orang ramai di mana-mana.
Meskipun Ali anak Rajo, tapi kalau tidak ingat sebelum kena kalau tidak hati-hati
sebelum habis, akhirnya ayah juga yang akan menanggung malu”. Mendengarkan
perkataan anaknya yang demikian, Sutan Rajo Angek menuruti kehendak anaknya.
“kalau begitu biarlah kami menunggu dalam dua, tiga minggu ini bersabar
menunggu Ali (38).
Aliamat kemudian pamit pada orang tuanya untuk mempersiapkan peralatan yang
akan dibawanya. Esok harinya, petang kamis berangkatlah Sutan Aliamat mendaki
bukit yang tinggi hingga sampai ke Gunung Ledang tempat dia akan batarak. Dalam
perjalanan Aliamat ke Puncak Gunung Ledang banyaklah cobaan yang ditemuinya
di dalam perjalanan. Berbagai macam rintagan yang dihadapi, banyaklah orang
yang menghadang dan menghalangi niatnya. Entah itu adalah orang
sesungguhnya, banyaklah pendekar yang menguji kesaktiannya. Setiap kali tampak
lawan yang datang, entah itu manusia, entah binatang Ali telah siap-siap dengan
langkah tiga. Semakin dekat ke Puncak Gunung Ledang semakin berat rintangan
yang harus dihadapinya. Bukan anak Rajo Angek namanya harus surut karena ujian
dan rintangan, keramat Sutan Rajo Angek tentu ada, apalagi Aliamat orang yang
besar di gelanggang, orang yang pantang kalah di gelanggang dari lawan-
lawannya. Akhirnya sampailah Ali di Puncak Gunung Ledang (39).
Di Puncak Gunung Ledang Ali langsung melaksanakan niatnya, manarakkan
minyak cindung paramayan. Pertama-tama dibakarlah kemenyan, membubunglah
asap putih keudara. Kemudian Ali menghujamkan lututnya menegakkan kepalanya
meminta kepada tampat yang keramat. Permintaanya manarakkan minyak cindung
paramayan guna melawan sutan yang bertujuh. Itulah Aliamat agar kehendak dapat
berlaku permintaannya dapat terpenuhi berkaulah dia di atas batu sada yang
merupakan batu mejan. Pada hari ke tiga malam ke tiga, akhirnya terkabulah niat
dan permintaan Aliamat (40)
Selesai manarak Aliamat langsung kembali pulang ke rumahnya. Di rumah ayah
dan Mande kandungnya menyambut kepulangan anaknya dengan perasaan
senang hati karena kepulangan anaknya yang lebih cepat dari yang direncanakan
semula. Sesampai di atas rumah duduklah mereka bersama-sama. Aliamat
kemudian mengabari orang tuanya dan Gadih Basanai apa yang telah didapatnya
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
280
dari hasil batarak yang telah dilakukannya. “Oh adik kandung Gadih Basanai dan
serta ayah dan Mande. Kalau boleh Ali meminta, penuhilah keinginan Ali yang satu
ini. Kalau oleh Ali meminta, Ali tinggalkan aie cindung paramayan beserta
minyaknya di dalam botol. Ali gantungkan di bubuangan rumah bersama sisir,
cermin, lengkap dengan bedaknya. Ali berpesan pada mereka, “janganlah sekali-
kali pernah mengunakan benda-benda itu , minyak janganlah dipergunakan, sisir
janganlah disisirkan. Begitu juga dengan cermin dan bedak jangan pernah dipakai.
Sebelum Ali kembali pulang jangan dilanggar dengan cara mengunakan salah satu
benda-benda itu. Kalaulah dilanggar maka dalam waktu tujuh hari bisa tidak akan
bisa ditawari, Ajalullah datang menjemput. Sekarang Ali mohon pamit kepada
Mande dengan ayah serta Gadih. Ali tidak akan lama pergi berjalan, niat dihati
hendak berlayar dengan pelang yang telah menunggu di labuhan (41).
Setelah kepergian Ali berlayar, telah lama rasanya waktu berlalu sejak
kepergiannya. Dalam diri Gadih Basanai tidaklah tahan lagi hatinya menangungkan
rasa sedih hati. Kemana tempat berbagi cerita, menceritakan rasa rindu yang tak
tertahan lagi. Karena tidak tahan lagi dengan rasa rindu yang mendera diriya. Maka
oleh Gadih Basanai dipanjatlah bubuangan rumah mengambil aie cindung
paramayan yang telah ditarakkan oleh Aliamat. Gadih Basanai seakan tidak
percaya lagi dengan janji Aliamat, tidak yakin lagi dengan janjinya karena hingga
saat ini belum juga pulang-pulang, kabar berita pun tidak ada. Sementara dirinya
disuruh menunggu menanggung beban yang telah meracuni hatinya. Dalam
pikirannya biarlah mati sebagai obat, Gadih Basanai tidak peduli lagi dengan
amanat Aliamat. Maka dipakai Gadih Basanai segala benda-benda yang dilarang
dan diamanatkan Aliamat. Setelah memakai barang-barang itu, hati tidaklah senang
lagi, dalam pikirannya dengan memakai barang-barang itu rasa rindu akan terobati
rupanya menyakiti badannya sendiri. Memekik dan berteriak-teriaklah Gadih
Basanai di dalam kamar minta tolong pada mintuwonya karena tidak tertahan lagi
menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya. “Mintuwo serta Mamak kandung,
lihatlah badan Gadih baik-baik pandangilah dengan seksama. Inilah yang akan
membuat uda Ali senang hatinya, inilah yng sebenarnya yang diinginkannya. Dia
pergi berjalan jauh berlama-lama agar Gadih seperti ini, entah apa yang dicarinya di
Pagai. Kalaulah Gadih meninggal saat ini pastilah senang hati uda Ali tinggal,
mungkin dia sudah ada rencana lain (42).
Melihat Gadih Basanai demikian berkatalah mintuwonya, “Anak kandung Gadih
Basanai, tidak percaya mintuwo kalau Aliamat punya niat yang demikian. Sebelum
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
281
berangkat ke Pagai Ali bicara sungguh-sungguh pada mintuwo. Kini tidak tahan lagi
mintuwo, tidak ada lagi rasanya nyawa dibadan Gadih. Relakanlah nasi yang telah
dimakan relakan air yang telah terminum relakan jerih payah Mamak selama ini
pada Gadih. Gadih tidak akan lama lagi hidup. Kalau boleh Gadih berpesan pada
mintuwo, agar senang hati yang ditinggalkan. Kalau seandainya Gadih mati,
kuburkalah Gadih di Pucak Gunung Ledang. Kuburan tidak boleh ditimbuni, di atas
kuburan berilah payung panji-panji agar dikipas angin, untuk mengipas uda Ali di
Pagai. Itulah pesan Gadih Basanai pada mintuwo dan Mamaknya (43).
Pada hari ketujuh, Gadih Basanai memang berpulang pada penciptanya, melihat
nyawanya berpisah dari badan terpekiklah mintuwo serta dengan Mamak. “sampai
hati Gadih kini meninggalkan kami, tidak kasihan Gadih dengan mintuwo, kalau
memang tidak sayang dengan Ali. Begitu cepat Gadih meninggalkan mintuwo.
Sudah senangkah hati kau nak kandung he………… senang betul Buyuang di
Pagai, Ali he……………. Tidak ingat Ali dengan Mande, tidak ingat ali dengan ayah
tidak rindukah Ali dengan Gadih. Mintuwo sedang sayang-sayangnya dengan Gadih
tapi begitu cepat Gadih pergi. Tidak ada kasihan sedikitpun anak kandung, dunia
akhirat semangat bergantung pada Gadih” (44).
Pada hari tersebut, Mamak dan mintuwonya lebih banyak bermenung. Diperintahlah
empat orang Dubalangnya oleh Sutan Rajo Angek mendaki Gunung Ledang untuk
mengali kuburan Gadih Basanai. Sementara itu di rumah Mamak dan mintuwonya
mengurus persiapan upacara pemakaman Gadih Basanai. Ketika akan
melaksanakan penguburan Gadih Basanai terasa iba hati mintuwonya akan
berpisah, tapi apa hendak dikata, mintuwo terpaksa bersabar hati. Itulah yang
terjadi dengan Mamak dan mintuwonya sekarang. Maka dibawalah mayat Gadih
Basanai oleh Mamak dan mintuwonya berserta keempat orang Dubalangnya tanpa
diketahui oleh orang kampung. Sebagaimana amanat Gadih Basanai, kuburannya
tidaklah ditimbuni dan diberi payung panji-panji. Jika ditiup angin payung itu akan
terlihat dari laut, itulah maksud yang ditinggalkan Gadih Basanai. Selesai
penguburan Gadih Basanai, dengan berat hati terpaksa mereka meninggalkan
mayat Gadih Basanai di tempat itu (45).
Sementara itu Aliamat sedang duduk menyendiri duduk di tepi pantai Pagai.
Padangannya mengawasi biduk yang berada dihamparannya. Dipandanginya kiri
kanan tempat dia menyendiri kemudian melayangkan pandangan jauh ke tengah
lautan. Dalam belaian hembusan angin yang berhembus dari arah laut, tiba-tiba ia
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
282
merasa gelisah, firasatnya mengatakan akan terjadi suatu musibah yang akan
menimpa dirinya. Lama kelamaan perasan itu semakin menghantuinya. Teringatlah
ia pada ayah, Mande dan Gadih Basanai. Saat itu juga dia merasa ingin pulang
karena telah lama meninggalkan kampung halaman. Kemudian berangkatlah
Aliamat dari Pagai dengan pencalang menuju kampungnya. Dalam perjalanannya
mengarungi lautan, ketika hampir mendekati daratan. Dari kejauhan Ali
mengarahkan pandangannya ke Gunung Ledang. Dari kejauhan tampaklah olehnya
tanah kuning. Dalam pikirannya, sebelum berangkat Gunung Ledang tidaklah
seperti itu. Seketika Aliamat merasakan ada firasat buruk. Teringatlah dia pada
Gadih Basanai, dalam hati dia bertanya. “apakah Gadih Basanai sudah mati? Apa
Gadih telah melanggar amanat yang Ali tinggalkan? Karena tidak tahan begitu lama
ditinggalkan. Kalau tidak, siapa pula yang berkubur di Gunung Ledang” (46).
Setelah berlabuh, Aliamat langsung menuju rumah Mande kandungnya. Mandenya
yang melihat kepulangan Aliamat langsung meratap saat itu. “Ini yang dapat
membuat senang hati Ali, senang betul hati Ali berlalai-lalai di Pagai sekarang telah
mati Gadih Basanai”. Mendengar kata Mandenya seperti itu, “di mana Gadih
sekarang Mande, di mana? Di mana Ali bisa menemui Gadih. Kalau itu yang Ali
tanyakan, dia sekarang berkubur di Puncak Gunung Ledang. Kuburannya tidak
ditimbuni dan diberi payung panji-panji itulah amanatnya sebelumnya meninggal”.
Berkatalah Ali pada Mandenya, “kenapa Mande tinggalkan Gadih seorang diri di
rumah, kenapa dia tidak dijaga. Janganlah Buyuang berkata seperti itu pada Mande
dan ayah. Jika dikatakan kami tidak melihat, kalau dibilang tidak memperhatikan, Ali
Tanya jugalah ayah. Gadih Basanai setiap harinya gila menangis setiap siang dan
malam karena ingat dan rindu pada Ali. Karena tidak tahan menanggung rasa rindu
hatinya hingga terjadilah seperti sekarang. Kami ingat dahulu dimana Ali
menyimpan minyak cindung paramayan. Kepada kami Ali hanya berpesan, kenapa
tidak kepada kami anak kandung simpan. Sekarang inilah yang terjadi, apa lagi
hendak dikata kepada siapa lagi hendak mengadu. Aliamat dengan mata berkaca-
kaca berkata pada Mandenya, “kalau demikian sekarang Ali akan ke Puncak
Gunung Ledang menjemput Gadih Basanai, Ali tidak senang seperti ini (47).
Turunlah Ali dari rumah menuju Puncak Gunung Ledang. Sampai di kuburan Gadih
Basanai, ketika melihat kuburan itu. Dia melihat wajah Gadih Basanai tersenyum
padanya. Turunlah Ali ke dalam kuburan dan menangislah Aliamat dalam kuburan
menyesali apa yang telah terjadi pada Gadih Basanai. Dalam meratap dengan
memeluk tubuh Gadih Basanai, ketika air mata Aliamat hendak jatuh ke wajah
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
283
Gadih Basanai. Terdengarlah suara halus disaat hari sedang senja raya di Puncak
Gunung Ledang. Suara itu berkata pada Aliamat, “hei Buyuang Sutan Aliamat, dia
janganlah ditangisi lagi. Gadih Basanai adalah orang yang bersih dan tidak pantas
dicaci. Tidak boleh Buyuang kotori, janganlah menangis lagi disisinya tidak baik air
mata Sutan Aliamat mengenai tubuhnya. Kalau sayang dengan dia, berangkatlah
sekarang arah hilir. Tujulah mudik aie gilo nanti akan Sutan temui Lubuk Mata
Kucing. Carilah disekitar itu rumah Puti Taruih Mato. Temuilah dia dan mintalah
pada Puti Taruih Mato aie hubungan nyawa (48).
Mendengar kata-kata suara tersebut, karena ingin agar Gadih Basanai hidup lagi
begitu besar. Maka berjalanlah Sutan Aliamat ke arah yang telah ditunjukkan
dengan meninggalkan Gadih Basanai seorang diri di tempat itu. Tekadnya saat itu
apapun yang akan terjadi akan dihadapinya asalkan maksud dan tujuannya bisa
tercapai. Berkat kebulatan tekadnya sampailah Aliamat di Lubuk Mata Kucing.
Diperhatikannyalah daerah disekitar lubuk itu mencari di mana rumah Puti Taruih
Mato. Tampaklah olehnya sebuah rumah gadang olehnya di daerah yang sunyi itu.
Ketiak sampai di halaman rumah, memangil-mangilah Aliamat ke dalam rumah.
Kemudian keluarlah Puti Taruih mato dan menyuruh Aliamat naik. Bertanyalah Puti
Taruih Mato pada Aliamat,
Takala beras direndang
Lengket di dandang dijilati
Salah betul orang muda datang
Apa maksud datang kemari

Bukannya saya datang saja
Kinari anak orang padang
Saya datang tentu ada yang hendak dijelang

Dengarlah baik-baik anak muda, beri lurus saya bertanya, apa maksud sebenarnya
datang kemari”. Dijawablah oleh Aliamat, “dengarlah baik-baik, saya meminta pada
yang ada meminta pada yang punya di tempat yang keramat. Kalau boleh saya
bercerita, kami dua orang bersaudara satu laki-laki dan satu perempuan. Yang laki-
laki adalah saya sendiri Sutan Aliamat, sedangkan adik saya yang perempuan
bernama Gadih Basanai. Saat ini dia telah meninggal an dikuburkan di Gunung
Ledang. Saya baru saja pulang dari Pagai, ketika saya lihat ke Puncak Gunung
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
284
Ledang tubuhnya masih ada dan menangisinya dan datanglah suara. Suara itu
menyuruh saya mencari Puti Taruih Mato untuk meminta aie hubungan nyawa agar
bisa menghidupkan Gadih Basanai kembali. Sekarang saya memohon dan meminta
tolong pada Puti agar dapat membantu saya. Kalau dijual berapun harganya akan
saya bayar (49).
Kalau begiu kata Buyuang, sesungguhnya yang bernama aie hubungan nyawa
tidaklah dapat saya jual pada siapapun, meskipun dimina tidak akan diberikan. Aie
hubungan nyawa itu hanya saya yang memilikinya”. Termenunglah Aliamat
mendengar perkataan Puti Taruih Mato. Apa akal yang harus dicari, apa daya yang
harus dilakukan agar maksud tetap tercapai. Berkatalah Puti Taruih Mato pada
Aliamat, “kenapa saya berkata demikian, kalau saya beri aie hubungan nyawa
apakah sutan mau terlebih dahulu berjanji. Berjanjilah kalau hidup lagi adik kandung
sutan kita tidak akan memperkarakan untung ruginya dan lepas dari semua utang
piutang. Saya tidak minta dan menerima apapun dari sutan, itulah yang harus sutan
pegang. Kalau demikian kata Puti saya tidak akan melanggar janji dan mendua hati
asalkan permintaan dapat terpenuhi. Mendengar janji aliamat yang demikian, Puti
Taruih Mato mengambil aie hubungan nyawa berserta dengan lidi dan diberikan
pada Aliamat. Setelah mendapatkan apa yang telah dicarinya, Aliamat pamit pada
Puti Taruih Mato dan berangkat dari Lubuk Mata Kucing menuju Puncak Gunung
Ledang di tempat ia meninggalkan Gadih Basanai (50).
Setelah jauh lama berjalan sampailah Aliamat di Puncak Gunung Ledang. Saat
tiba dilihatnya Gadih Basanai masih terbaring di tampat di Puncak Gunung Ledang.
Tanpa membuang-buang waktu lagi diambilnya lidi tiga helai lalu melecutkannya
tiga kali pada tubuh Gadih Basanai lalu meminumkan aie hubungan nyawa pada
Gadih Basanai. Beberapa saat kemudian bergeraklah tubuh Gadih Basanai. Saat
terbangun tampaklah oleh Gadih Basanai dihadapannya Aliamat. Seketika itu juga
ia menangis dan dipegangnya tangan Aliamat sambil berkata, “sejak kapan uda
pulang, di manakah kita berada sekarang ini. Wahai adik kandung Gadih Basanai,
uda baru kembali dari Pagai kemudian terus ke Puncak Gunung Ledang dan
menuju mudik aie gilo mencari aie hubungan nyawa untuk menghidupkan Gadih
kembali (51).
Karena hari saat itu telah menjelang malam, jika langsung pulang ke rumah sudah
tidak mungkin lagi karena hari sudah gelap. Apalagi mereka sangat litak
menghadapi peristiwa yang telah mereka alami. Di dekat tampat Gunung Ledang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
285
mereka berlutut dan menekurkan kepala meminta pada tampat yang keramat. Saat
itu berserulah Aliamat, “kalau memang barasa Mande dengan bapak dahulu,
turunkanlah hujan malam ini”. Setelah mereka menyeru maka turunlah hujan lebat.
Karena begitu lebatnya hujan maka timbullah air bah yang mengakibatkan pohon-
pohon tumbang dan diseret air menuju muara. Pada saat terjadi air bah tersebut,
Aliamat dan Gadih Basanai diselamatkan oleh Kayu Binuang Sati. Mereka menaiki
kayu tersebut hingga terdampar di Pulau Kasiak. Setelah terombang-ambing di
lautan semalaman setelah dihanyutkan air bah. Setelah turun dari kayu tersebut
akhirnya Kayu Binuang Sati terbenam secara perlahan-lahan ditelan pasir laut (52).
Pada siang hari itu, Gadih Basanai asyik bermain beriang hati di pasir putih
berkejar-kejaran dengan ambai-ambai sementara Aliamat tertidur pulas di bawah
lindungan pohon kelapa. Setelah bangun dari tidurnya Aliamat menemui Gadih
Basanai yang sedang asyik bermain, mereka membicarakan apa akal dan usaha
yang dapat membawa mereka pulang kembali ke Kampung Koto Katenggian.
Dalam keputusaan dan kebingungan, di tengah laut lewatlah pelang yang akhirnya
tampak oleh Aliamat. Kemudian dengan mengunakan kain Aliamat memberi tanda
pada pelang tersebut atas keberadaan mereka di pulau tersebut. Kemudian
menumpanglah Aliamat dan Gadih Basanai naik pelang tersebut yang baru saja
pulang dari Pagai. Berangkatlah mereka dengan pelang tersebut menuju daratan.
Setelah sekian lama berlayar akhirnya samapailah mereka di Pantai Carocok dan
berlabuh di sana. Kemudian berjalanlah mereka menuju rumah Mande Aliamat yang
berada di Koto Katenggian. Sesampai di halaman rumah, Mande Aliamat
menyambut kedatangan mereka dengan perasaan sangat gembira (53).
Berkatalah Mande Aliamat, “tidak disangka ondeh Buyuang, tidak disangka
ondeh Gadih akan bertemu malah ke gunung kami antarkan.

Kain pulakat beragi tiga
Tasasak karaie sanjo-sanjo
Karena berkat doa Mamak dan mintuwo
sekarang Gadih masih hidup juga.

Mintuwo yang telah berlalu biarkan saja berlalu janganlah dingat-ingat juga
karena hati kita juga yang akan luka. Sekarang duduklah mereka di atas rumah
bersenda gurau. Berkatalah Mande Aliamat, “Ondeh tuan kandung dengarkanlah,
tuan berkerja untuk kampung bergelar Sutan Rajo Angek bernama Sutan Sabirulah.
Kini anak telah pulang, entah dari mana ia pulang. Sekarang mari kita adakan doa
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
286
selamat, sekali mendayung sampan dua tiga pulau terlampaui, doa selamat kita
baca kita nikahkan anak juga (54).
Maka disebarkanlah berita tersebut pada masyarakat ramai dan tersiarlah ke
mana-mana, apalagi Aliamat orang yang besar di gelanggang tentu banyak memiliki
teman yang akan datang. Pada hari pesta perkawinan mereka ramailah orang yang
datang. Berbagai acara keramaian dilaksanakan, acara kesenian, judi dan sabung
dilaksanakan untuk meramaikan pesta perkawinan tersebut. Dikala orang bersuka
ria, di atas pelaminan Gadih Basanai duduk termenung, teringat akan Mak Gaek
yang telah meninggal . dalam pikirannya tidak akan menyangka hidup dengan
Mamaknya sendiri. Gadih Basanai merasa sangat bahagia meski menderita setelah
ditinggal Mande dan Mak Gaeknya yang telah meninggal dunia. Sekarang dalam
hidupnya sangat disayangi dan diperhatikan oleh mintuwonya. Setelah upacara
pernikahan terlaksana kemudian doa selamat agar kehidupan rumah tangga
Aliamat dan Gadih Basanai bahagia dan rukun hingga maut memisahkan salah
satunya(55).
Ketika Gadih Basanai meninggal dunia lagi, sesuai dengan perjanjian
dengan Puti Taruih Mato bahwa Gadih Basanai tidak akan lama hidup di dunia.
Aliamat yang harus menerima kenyataan bahwa Gadih Basanai telah dipanggil
Yang Maha Kuasa, tidak bisa menerimanya. Setelah beberapa hari usai upacara
penguburan Gadih Basanai yang kembali di kuburkan di Gunung Ledang. Pikiran
Aliamat telah kosong, dalam pikirannya hanya ingin Gadih Basanai hidup kembali
mendampinginya. Akibat perilakunya tersebut, dalam pikirannya muncul kembali
keinginan menghidupkan Gadih Basanai seperti dahulu. Aliamat pergi ke kuburan
Gadih Basanai di Gunung Ledang. Ketika berada di kuburan Gadih Basanai, tanpa
berpikir panjang Aliamat menangis di atas kuburan istrinya. Tanpa disadarinya,
Aliamat yang menangis meratapi kuburan Gadih Basanai, berubah menjadi gila
hingga ia akhirnya meninggal di atas kuburan istrinya (56).








Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
287
BAB IX
POTENSI DAN SUMBER DAYA NAGARI
NAGARI SURANTIH

9.1. Pemerintahan Nagari
9.1.1. Struktur Pemerintahan Nagari
Berdasarkan peraturan daerah (PERDA) Kabupaten Pesisir Selatan No 21
tahun 2001 yang telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten
Pesisir Selatan. Menetapkan peraturan daerah tentang struktur organisasi dan tata
kerja pemerintahan nagari. Dalam Bab I mengatur tentang ketentuan umum, pasal 1
dijelaskan bahwa nagari adalah kesatuan masyarakat hukum adat dalam kabupaten
yang mempunyai harta benda kekayaan sendiri berhak mengatur dan mengurus
rumah tangganya dan memilih pimpinan pemerintahan.
Pemerintahan nagari adalah satuan pemerintahan otonom berdasarkan asal
usul di nagari dalam Kabupaten Pesisir Selatan yang berada dalam sistem
pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya dijelaskan
pemerintah nagari adalah wali nagari dan perangkat pemerintahan nagari, dan
kampung adalah daerah/bahagian dari pemerintahan nagari yang merupakan
wilayah administratif dari pemerintahan nagari.
Dengan berpedoman pada peraturan daerah Kabupaten Pesisir Selatan No
21 tahun 2001 tersebut. Nagari Surantih sebagai suatu nagari yang secara
administratif berada dalam wilayah Kabupaten Pesisir Selatan mempunyai struktur
pemerintahan sebagai berikut :
Skema 7
Struktur Pemerintahan Nagari








9.1.2. Sistem Pemerintahan Nagari
Dalam pelaksanaan dan penyelengaraan pemerintahan di Nagari Surantih,
perangkat yang ada dalam struktur pemerintahan mempunyai kedudukan, tugas
WALI
NAGARI
Sekretaris Nagari
D P N
Kaur Pem &
Kemasy

Kaur
Keuangan
Kaur
Pembangunan

Kepala Kampung
BMAS
LPMN
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
288
dan fungsi masing-masing dan saling terkait satu dengan yang lain (satu kesatuan).
Pengaturan, pembagian ini bertujuan untuk menciptakan sistem pemerintahan yang
efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan dalam menjalankan roda
pemerintahan.
Merujuk peraturan daerah Kabupaten Pesisir Selatan No 21 tahun 2001
tentang struktur organisasi dan tata kerja Pemerintahan Nagari, berikut ini adalah
penjelasan tentang kedudukan, tugas dan fungsi perangkat dalam sistem
pemerintahan Nagari Surantih.
A. Wali Nagari
1. Wali Nagari adalah pemimpin pemerintahan nagari yang merupakan alat
pemerintah dan pelayan masyarakat dalam nagarinya.

2. Wali Nagari sebagai pemimpin pemerintahan mempunyai tugas sebagai
berikut :
 Memimpin penyelengaraan Pemerintahan Nagari
 Membina kehidupan perekonomian masyarakat nagari
 Membina penyelengaraan kegiatan pembangunan dan menumbuh
kembangkan semangat kegotong royongan masyarakat
Pemerintahan Nagari
 Memelihara ketentraman dan ketertiban serta mendamaikan
perselisihan masyarakat nagari
 Mewakili masyarakat pemerintahan nagarinya di dalam dan di luar
pengadilan dan dapat menunjukkan kuasa hukumnya.
 Mendorong anak nagari untuk dapat melaksanakan Syarak, adat dan
undang-undang
3. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya Wali Nagari mempunyai fungsi
sebagai berikut :
 Bertanggung jawab pada rakyat melalui Dewan Perwakilan Nagari
 Menyampaikan laporan pelaksanaan tugasnya Bupati melalui Camat.
B. Sekretaris Pemerintahan Nagari
1. Sekrestaris Nagari adalah perangkat nagari yang berada di bawah Wali
Nagari dan bertanggung jawab pada Wali Nagari.
2. Sekretaris Nagari mempunyai tugas membantu Wali Nagari dalam
melaksanakan tugas-tugas pokoknya serta mengkoordinasikan tugas-tugas
kepala urusan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
289
3. Untuk melaksanakan tugas-tugasnya itu, Sekretaris Nagari mempunyai
fungsi sebagai berikut :
 Melaksanakan tugas surat menyurat, kearsipan dan laporan
 Melaksanakan administratif pemerintahan, pembangunan dan
kemasyarakatan
 Melaksanakan tugas dan fungsi Wali Nagari apabila Wali Nagari
berhalangan dalam melaksanakan tugasnya.
4. Dalam melaksanakan tugasnya, Sekretaris Nagari dibantu oleh kepala
urusan antara lain :
 Bidang pemerintahan dan kemasyarakatan.
 Bidang pembangunan.
 Bidang keuangan
C. Kepala Urusan
Kepala Urusan bertugas melaksanakan administratif dan memberikan
pelayanan pada masyarakat sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing dan
bertangung jawab pada Wali Nagari melalui Sekretaris Nagari.
D. Kepala Kampung
Kepala kampung membantu Wali Nagari di wilayahnya dalam melaksanakan
tugasnya, kepala kampung berkoordinasi dengan kepala-kepala urusan dan atau
Sekretaris Nagari dan bertanggung jawab langsung pada Wali Nagari.

9.2. Lembaga Sosial Kemasyarakatan.
9.2.1. Kerapatan Adat Nagari
Kerapatan Adat Nagari terdiri dari unsur – unsur Penghulu adat yang berlaku
sepanjang adat dalam nagari sesuai dengan penerapannya antara lain adalah
Pucuk Adat (Ketua), Datuk-datuk dari suku yang ada, Penghulu-penghulu andiko,
urang ampek jinih dan Manti nagari.
Kerapatan Adat Nagari Surantih adalah lembaga perwakilan
permusyawaratan dan permufakatan adat dalam Nagari Surantih, yang merupakan
wadah kesatuan masyarakat hukum adat nagari tempat berhimpun urang nan
ampek jinieh. Seiring dengan sejarah pemerintahan nagari, keberadaan KAN
(Kerapatan Adat Nagari) sebagai lembaga yang mengurus permasalahan adat yang
ada dalam nagari tidak bisa dipisahkan dari jalannya pemerintahan nagari. Meski
sakali aie gadang sakali tapian baralieh (sekali air besar sekali tepian berubah),
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
290
namun lembaga ini secara otonomi dalam suasana apapun tetap memberikan arah
dan pedoman serta tuntunan bagi anak kemenakan dalam nagari.
KAN sebagai lembaga sosial kemasyarakatan yang merupakan kesatuan
masyarakat hukum adat mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Mengurus dan mengolah hal-hal yang berkaitan dengan adat sehubungan
dengan sako dan pusako.
2. Menyelesaikan perkara-perkara adat dan istiadat.
3. Membantu pemerintah dalam mengusahakan kelancaran pelaksanaan
pembangunan dibidang kemasyarakatan dan budaya.
4. Mengurus urusan hukum adat istiadat dalam nagari.
5. Memberi kedudukan hukum menurut hukum adat terhadap hal-hal yang
menyangkut harta kekayaan masyarakat nagari, guna kepentingan
hubungan keperdataan adat, juga dalam hal adanya persengketaan atau
perkara adat.
6. Menyelengarakan pembinaan dan pengembangan nilai-nilai Minangkabau
dalam rangka memperkaya Kebudayaan Nasional pada umumnya dan
kebudayaan Minangkabau pada khususnya.
7. Menjaga, memelihara dan memanfaatkan kekayaan nagari untuk
kesejahteraan mayarakat nagari.

9.2.2. Majelis Taklim.
Majelis taklim merupakan lembaga sosial masyarakat yang digerakan oleh
kaum ibu-ibu di bidang keagamaan. Lembaga ini memiliki jadwal kegiatan rutin yang
telah terorganisasi secara baik, yaitu pada hari jumat pada setiap minggunya
dengan mengadakan acara pengajian dan ceramah agama.
Setiap kampung memiliki satu lembaga Majelis Taklim. Pemerintah nagari
melalui Lembaga PKK Nagari mewadahi kegiatan ini dengan mengadakan
kunjungan ke majelis-majelis taklim yang ada satu kali dalam sebulan, yaitu pada
hari jumat minggu ke dua. Selain itu, juga dilaksanakan lomba antar majelis taklim
yang dilaksanakan setiap tahunnya dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan
17 Agustus.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
291

Gambar 101
Lomba Kasidah Rabana Antar Majelis Taklim Kampung di Nagari Surantih

9.2.3. Koperasi
Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat nagari, pemerintah nagari
bersama Lembaga Pemberdayaan Nagari mendirikan Koperasi Nagari yang
bernama Koperasi Harapan Baru. Koperasi ini bertujuan untuk membantu usaha
para anggota yang merupakan pedagang kecil. Pada saat ini anggota koperasi
berjumlah 53 orang aktif. Koperasi ini didirikan berdasarkan izin Dinas Koperindag
Nomor 8 / BH – 3 / VIII – 2003. bertujuan untuk membantu usaha para anggota
yang merupakan pedagang kecil. koperasi ini bergerak di bidang simpan pinjam,
dengan meminjamkaan modal khusus kepada pedagang kecil seperti usaha
pembuatan kerupuk ubi, warung kopi, jualan lontong, jualan sayur, pembuatan tahu
isi dan rakik kacang.

9.2.4. Lembaga Kegotong-royongan
Di tengah moderenisasi dan pesatnya kemajuan zaman yang ditandai
dengan berubahnya pola prilaku masyarakat yang cenderung mengikuti pola hidup
konsumtif dan bersifat individual, mempunyai pengaruh yang sangat negatif
terhadap nilai-nilai gotong-royong yang telah mengakar dan mendarah daging
dalam kehidupan masyarakat. Pada masa sekarang tentunya kita bertanya-tanya
dan meragukan masih adakah tersisa semangat gotong-royong dalam diri
masyarakat, apalagi sekarang kita telah kembali dalam lingkungan kehidupan
bernagari yang sangat identik dengan rasa gotong-royong dan semangat tolong
menolong serta rasa kebersamaan yang sangat tinggi
Di Nagari Surantih, semenjak kembali ke bentuk pemerintahan nagari.
Semangat gotong-royong masyarakat nagari coba digali dan dilihat pemerintah
nagari guna melaksanakan program pembangunan yang nota bene untuk
kepentingan masyarakat itu sendiri. Pertanyaan dan keraguan akan masih adakah
nilai-nilai gotong-royong tertanam dalam kehidupan masyarakat yang hidup dalam
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
292
bernagari tidak seperti apa yang dibayangkan semula. Dari pelaksanaannya
dilapangan, masyarakat sangat antusias mengikuti ajakan pemerintah untuk
bergotong-royong, bahkan dari kondisi yang ada masyarakat meminta langsung
pada pemerintahan nagari untuk melakasanakan kegiatan gotong-royong di daerah
mereka. Fakta ini menjadi landasan dalam pembangunan di Nagari Surantih.
Pembangunan tidak hanya dimotori oleh pemerintahan nagari, tetapi juga
bersumber dari swadaya masyarakat dengan menjalin kerjasama bersama
pemerintahan nagari.
Dari besarnya semangat gotong-royong dan kebersamaan masyarakat
nagari, pemerintah nagari berani merancang dan merencanakan pembangunan
yang didasarkan dari swadaya masyarakat nagari. Hasil dari program yang telah
dilaksanakan pemerintah nagari dapat dilihat dari pembangunan yang telah
dilakukan dengan nilai yang sangat baik. Pembangunan yang dilaksanakan atas
swadaya masyarakat, telah menghasilkan nilai sebesar 2,5 Milyar. Perhitungan nilai
tersebut muncul berdasarkan perhitungan Tim Penilai Lomba Nagari tahun 2005.
Semua itu tidak lepas dari peran kepala kampung dan beberapa tokoh masyarakat
sehingga masyarakat bersatu teguh membangun nagari. seperti :
1. Kampung Sungai Sirah
 Pada tahun 2003 dilakukan pembuatan jalan baru dari Rawang tembus ke
Amping parak sepanjang 1600 M. Gotong-royong masyarakat ini digerakan
oleh anggota DPN Basri Hasan.
 Pada tahun 2004 dilakukan pembanguan jalan baru kubangan kabau ke
Kampung Pasir Nan Panjang sepanjang 1700 M. Gotong – royong ini
dilakukan oleh kaum ibu-ibu dan DAU Nagari yang digerakan oleh kelompok
tani.
2. Kampung Pasar Surantih
 Pada tahun 2006 dilaksanakan pembangunan rumah bagonjong pemuda
samudera
 Pada tahun 2007 dilaksanakan pelebaran jalan propinsi (2000 M) dan
pemasangan batu saluran buang air, digerakan oleh Julai dan Pemuda.
3. Kampng Rawang
 Pada tahun 2002 dilaksanakan pembangunan jalan baru tani ke Gunung
Malelo sepanjang 1200 M
 Pada tahun 2004 dilakukan pembangunan jalan perkebunan Tabek ke Bukit
Tampat sejauh 3000 M. Gotong-royong ini dilaksanakan masyarakat petani
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
293
 Pada tahun 2005 dilakukan pembangunan jalan alternatif Tabek ke Lansano
sejauh 1,2 Km. Kegiatan ini dilakukan atas kerjasama dua wali nagari
Surantih dan Teratak, berkerja sama dengan PT. Lima Kunci Ameh.
3. Kampung Pasir Nan Panjang
 Pada tahun 2003 sampai dengan 2006 dilakukan perencanaan jalan-jalan
peternakan dengan gotong-royong masyarakat, kelompok tani dan karang
taruna sepanjang 10.000 M. Kegiatan ini digerakan oleh Farial.
 Pembangunan Musholla Bukik Panjang oleh Karang Taruna Pospa dan
kegiatan gotong royong tahunan irigasi Batang Surantih.
4. Kampung Gunung Malelo
 Pada tahun 2004 dilakukan pembangunan jalan baru pertanian Salo Gunung
sepanjang 1400 M dan jalan kantor desa sepanjang 800 M, kegiatan ini
mendapat bantuan dari PT. Limo Kunci Ameh, goro masyarakat ini
digerakan oleh Imam Ardinal/Nuraman.
 Tahun 2007 dilakukan pembangunan jalan lingkar Simpudiang Kantor Desa
sepanjang 1600 M oleh pemuda yang berkerja sama dengan PT. Defindo
Karya Nusa
5. Kampung Timbulun
 Pada tahun 2003 pendirian sekolah pesantren di Timbulun secara bertahap
digerakan oleh Bapak Rajalis.
 Pada tahun 2005 dilakukan pembangunan jalan baru tembus Padang Limau
Mani, Rawang – Pasir Nan Panjang, sepanjang 1050 M yang digerakan oleh
Pirin dan Farial.
6. Kampaung Koto Merapak
 Pada tahun 2005 pembangunan jalan lingkar Parak Pisang oleh pemuda
sepanjang 750 M digerakan oleh Martius.
7. Kampung Kayu Gadang
 Pada 2003 dilaksanakan pembangunan jalan perkebunan Koto Tinggi
sepanjang 4500 M. Pembuatan jalan ini dilakukan dengan cara gotong
royong mingguan yang digerakan oleh Khairul Beo
 Pada tahun 2004 dilaksanakan pembangunan jalan baru perkebunan
menuju Bukit Batu Kandang, gotong royong ini dilaksanakan mingguan
yang digerakan oleh Ketua BMAS Erman.


Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
294
8. Kampung Kayu Aro
 Pada tahun 2005 dilaksanakan pembangunan jalan perkebunan Subarang
Air ke Ampalu sepanjang 2000 M. Kegiatan merupakan gotong-royong
masyarakat bersama dengan Muspika.
9. Kampung Langgai
 Gotong royong rutin masyarakat setiap minggu memperbaiki jalan
penghubung ke daerah yang masih belum bisa dilewati sepanjang 4000 M.
10. Kampung Batu Bala[h]
 Gotong royong rutin pembangunan jalan utama dan saluran irigasi oleh
masyarakat.



Gambar 102
Kegiatan Gotong Royong Yang Digerakan Secara Swadaya Oleh Masyarakat
di Kampung-kampung Nagari Surantih

Di kampung-kampung yang lain di Nagari Surantih juga dilaksanakan sesuai
dengan kebutuhan masyarakatnya. Tingginya semangat dan rasa antusias
masyarakat untuk dapat berbuat pada nagari dengan melakukan kegiatan gotong-
royong, seperti memperbaiki banda, jalan dan fasilitas umum lainnya. Perbaikan
saluran Irigasi pengairan sepanjang 5 Km merupakan kegiatan gotong-royong
dilaksanakan setiap tahunnya. Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat 6 kampung.
Bahkan di Kampung Koto Panjang, kelompok tani Subarang Banda mampu
membuat saluran tersier (banda caciang) sehingga lahan tidur yang ada dapat
dimanfaatkan yang memiliki luas 35 Ha, saat ini telah membuahkan hasil yang
sangat bagus.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
295

Gambar 103
Hasil Kegiatan Gotong Royong Yang Digerakan Secara Swadaya Oleh Masyarakat


Pada awal tahun 2005, dilandasi rasa semangat kebersamaan dan gotong
royong yang dimiliki masyarakat. Pemerintahan nagari memberanikan diri
membentuk Yayasan Panti Asuhan yang nantinya bisa menampung anak-anak
terlantar dan yatim piatu. Pembangunan panti asuhan yang bernama Air Mata Ibu
ini akan direalisasikan secepat mungkin pembangunannya. Hal ini didorong oleh
faktor di daerah Kecamatan Sutera belum memiliki panti asuhan jika dibandingkan
dengan kecamatan lain. Proses awal dari pendirian dilakukan dengan pembelian
tanah sebagai lokasi pembangunan gedung panti.

9.2.5. Organisasi Pemuda
Pemuda sebagai unsur tunggal yang memiliki peran dan fungsi yang
banyak dan sangat penting sekali keberadaannya dalam nagari. Peran mereka tidak
dapat diabaikan begitu saja. Pemuda suatu nagari tidak sama dengan nagari lain,
demikian dengan pemuda yang ada di kampung-kampung Nagari Surantih memiliki
kelebihan yang berbeda satu sama lain. Itulah gambaran kehidupan pemuda Nagari
Surantih, kekompakkan dan kebersamaan merupakan suatu barang langka dalam
mewujudkannya pada pelaksanaan pembangunan nagari.
Dilihat dari struktur organisasi cukup terorganisir, itu pula sebabnya
pemuda-pemuda nagari jadi unggul dan dapat memperlihatkan prestasi di tingkat
kabupaten atau pun propinsi, seperti :
1. Tim/klub sepak bola terdapat di empat kampung antara lain
 Klub PSPS Pasar Surantih di Kampung Pasar Surantih
 Klub PORSIK di Kampung Koto Panjang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
296
 Klub POSBA di Kampung Ampalu
 Klub POKKA di Kampung Kayu Aro.
Semua Klub ini sering melaksankan dan mengikuti turnamen sepak
bola tingkat kabupaten.


Gambar 104
Pertandingan Persahabatan Salah Satu Klub Sepak Bola Nagari Surantih

2. Tim/klub bola volly yang kuat dan tanguh terdapat di beberapa kampung
antara lain : Rawang, Langgai dan Sungai Sirah.
3. Ada juga kelompok pemuda unggul dalam pelestarian budaya randai dan
simarantang, seperti
 Klub Randai Cindai Aluih Kampung Koto Merapak, Juara Tingkat
Kabupaten Pesisir Slatan
 Klub Randai Alang Babega Kampung Timbulun
 Klub Randai Rambun Sari Kampung Kayu Gadang
 Klub Randai Bujang Juaro Kampung Pasar Surantih
4. Kelompok Karang Taruna terdapat di Kampung Pasir Nan Panjang
bergerak di bidang Pertanian, perkebunan, olah raga dan kegiatan
kemasyarakatan lainnya. Meraih Juara II Tingkat Propinsi Sumatera
Barat tahun 2005
5. Kelompok persatuan pemuda, sukses mendirikan Gedung Balai Pemuda
yang dilakukan oleh pemuda :
 Pemuda rumah gadang Kampung Timbulun
 Pemuda samudera Kampung Pasar Surantih

Gambar 105
Bangunan Kantor Pemuda Samudera Pasar Surantih
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
297
9.3. Populasi dan Penyebaran Penduduk
9.3.1 Populasi Penduduk
Penduduk Nagari Surantih digolongkan sangat banyak jika dibandingkan
dengan nagari-nagari lain. Dilihat dari luas wilayah yang didalamnya terdapat 13
kampung tempat bermukimnya para penduduk, wilayah Nagari Surantih pantasnya
dijadikan sebagai sebuah kecamatan atau dipecah menjadi 2 atau 3 nagari baru.
Dengan kondisi yang demikian tentunya akan memberikan gambaran jumlah
penduduk nagari secara keseluruhan. Selain dari faktor luas wilayah, ada beberapa
faktor lain yang mempengaruhi jumlah penduduk.
Pertama hal ini dipengaruhi oleh keberadaan pasar Nagari Surantih yang
merupakan pusat alokasi barang-barang kebutuhan penduduk nagari maupun
nagari lainnya dalam kecamatan Sutera dan yang lebih penting adalah ibu kota
kecamatan terletak di nagari ini yang merupakan pusat pemerintahan dari nagari
yang berada dalam kecamatan Sutera.
Jumlah penduduk Nagari Surantih yang tercatat dalam data kepedudukan
yang di data di kantor wali nagari periode semester pertama tahun 2005 secara
keseluruhan berjumlah 25.147 jiwa yang terdiri dari 12554 jiwa laki-laki dan 12.593
jiwa perempuan. Data lebih lanjut dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

Tabel 6
Jumlah Penduduk
Menurut Umur dan Jenis Kelamin
NO Golongan Umur Jenis Kelamin Jumlah
(Jiwa)
KET
LK PR
1 0 – 11 Bulan 167 174 341 Jumlah usia (0 –
15 tahun) : 10662 2 1 – 5 Tahun 1.266 1.273 2.539
3 5 – 6 Tahun 1.278 1.289 2.567
4 7 – 12 Tahun 1.309 1.325 2.634
5 13 – 15 Tahun 1.290 1.291 2.581
6 16 – 18 Tahun 1.231 1.247 2.478 Jumlah usia (15 –
49 tahun) : 10931 7 19 – 25 Tahun 1.138 1.143 2.281
8 26 – 34 Tahun 1.008 1011 2.019
9 35 – 49 Tahun 2.076 2.077 4.153
10 50 – 54 Tahun 570 577 1.147 Jumlah usia (50 –
lebih dari 70
tahun) : 3622
11 55 – 59 Tahun 409 414 823
12 60 – 64 Tahun 371 372 743
13 65 – 69 Tahun 260 269 529
14 Lebih dari 70 Tahun 197 183 380
JUMLAH 12588 1.2627 2.5215
Sumber : Monografi Nagari Surantih tahun 2005

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
298
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat pengolongan tingkat umur
69
yang
dibagi dalam tiga kelompok, yaitu : 1). Usia anak-anak 0 – 15 tahun, 2). Usia
produktif 16 – 50 tahun, 3). Lanjut usia 51 tahun ke atas. Dari data tersebut
menunjukkan bahwa kelompok usia anak-anak dan kelompok usia produktif
dengan kelompok lanjut usia sangat menyolok sekali perbandingannya. Hal ini
memberi dampak positif terhadap sumber daya manusia yang dapat membantu
pembangunan dan peningkatan ekonomi. Tetapi juga bisa memberikan dampak
negatif jika kurang tersedianya lapangan perkerjaan. Jika dilihat perbandingan
penduduk berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk perempuan lebih banyak
dari pada jumlah penduduk laki-laki, walaupun demikian perbedaannya tidaklah
begitu menyolok.

9.3.2 Penyebaran Penduduk.
Nagari Surantih dengan luas wilayah 29,6 Km
2
dihuni oleh penduduknya
yang berjumlah lebih kurang 25215 jiwa yang tersebar di 13 kampung yang ada.
Untuk dapat melihat bagaimana penyebaran penduduk di Nagari Surantih dapat kita
lihat pada tabel berikut ini.
Tabel 7
Penduduk Nagari Surantih
Berdasarkan Kampung, Jenis Kelamin dan KK
No Kampung Jumlah penduduk berdasarkan Jenis kelamin dan KK
Laki-laki Perempuan Jumlah K.K
1. Langgai 779

696

1475 348
2. Batu Balah 278 276 554 138
3. Kayu Aro 450 427 877 266
4. Ampalu 764 772 1536 300
5. Kayu Gadang 1068 1063 2131 504
6. Koto Merapak 662 701 1363 326
7. Koto Panjang 828 929 1757 330
8. Timbulun 1352 1294 2646 495
9. Pasie n Panjang 697 716 1413 321
10
.
Rawang 1643 1636 3279 679
11
.
Gunung Malelo 726 752 1478 394
12
.
Pasar surantih 2338 2314 4652 1086
13
.
Sei. Sirah 1010 1044 2054 370
Jumlah 12595 12620 25215 5557
Sumber : Monografi Nagari Surantih tahun 2005

69
Pengolongan usia di atas berdasarkan peraturan Menteri Tenaga Kerja No: 01/MEN/1987 tentang
perlindungan anak yang terpaksa berkerja.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
299
Berdasarkan dari data pada tabel di atas, dapat dilihat jumlah penduduk
yang ada pada setiap kampung-kampung dalam Nagari Surantih. Dari data
tersebut dapat diketahui bahwa kampung yang memiliki jumlah penduduk yang
paling banyak adalah Kampung Pasar Surantih dengan jumlah penduduk 4652 jiwa
atau 18,45% dari jumlah penduduk Nagari Surantih, dengan jumlah kepala keluarga
sebanyak 1086 KK. Sementara itu kampung yang mempunyai jumlah penduduk
yang paling sedikit adalah Kampung Batu Bala dengan jumlah penduduk sebanyak
554 jiwa, jumlah ini hanya 2,2% dari total penduduk Nagari Surantih yang berjumlah
25215 jiwa. Sedangkan jumlah kepala keluarga yang ada di Kampung Batu Bala
adalah sebanyak 138 KK.
Dilihat dari perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dengan
perempuan, memiliki jumlah yang hampir sebanding baik dilihat dari sisi jumlah
penduduk nagari secara keseluruhan maupun dilihat dari jumlah penduduk laki-laki
dan perempuan yang ada di setiap kampung. Penyebaran penduduk lebih padat
pemukimannya di daerah ganting hilir yang lebih dekat ke arah ibu nagari jika
dibandingkan dengan daerah Ganting Mudik. Hal ini disebabkan karena sarana
perhubungan jalan ke daerah ganting mudik belumlah memadai sehingga
pembangunan di daerah ini tidaklah secepat daerah Ganting Hilir.

9.4. Pola Pemukiman.
Pola pemukiman masyarakat Nagari Surantih lebih banyak berada disekitar
aliran Batang Surantih yang mengalir ditengah-tengah wilayah nagari. Umumnya
kampung-kampung yang dilalui Batang Surantih, pola pemukiman dari rumah-
rumah penduduk yang ada di kampung tersebut adalah linear, yaitu berjejer lurus di
sepanjang jalan yang berada disisi kiri dan kanan jalan dengan diselingi halaman
yang luas. Pada halaman tersebut banyak terdapat pohon-pohon keras yang
ditanam, seperti mangga, rambutan dan lain-lain. rumah-rumah penduduk yang ada
disetiap kampung Nagari Surantih, umumnya mengelompok berdasarkan
suku/kaum masing-masing. Sehingga rumah-rumah yang telah mengelompok
tersebut menjadi wilayah dari suku tertentu. Di ketiga belas kampung yang ada di
Nagari Surantih terdapat 4149 rumah penduduk. Rumah penduduk yang memiliki
WC sendiri sebanyak 1148 rumah. Sementara rumah yang memiliki sistem
pembuangan air limbah sebanyak 365.
Untuk mendapatkan sarana air bersih, penduduk memperolehnya melalui
PAM, sumur gali, dan Mata air. Dari 5293 KK, kepala keluarga yang memanfaatkan
PAM untuk memperoleh air bersih sebanyak 181 KK. Sementara kepala keluarga
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
300
yang memiliki sumur gali sebanyak 1703. dan kepala keluarga yang memperoleh
air bersih dengan cara menampung air hujan adalah sebanyak 203 kepala keluarga.

9.5. Pendidikan
Pendidikan merupakan masalah yang sangat penting diperhatikan. Karena
masalah pendidikan ini sangat erat kaitannya dengan tingkat kesejahteraan hidup
masyarakat. Tingkat kesejahteraan dan majunya suatu masyarakat dapat dinilai dari
tingkat pandidikan yang dimiliki masyarakat tersebut. Di Nagari Surantih masalah
pendidikan ini sangat mendapat perhatian masyarakatnya. Ini terlihat dari semakin
tingginya kesadaran para orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka yang
telah memasuki usia sekolah untuk memperoleh pendidikan formal.
Untuk menunjang terlaksananya proses pendidikan sarana dan prasarana
pendidikan yang terdapat di Nagari Surantih cukup lengkap. Mulai dari Taman
Kanak-kanak hingga SLTA. Ketersediaan prasarana pendidikan di Nagari Surantih
dapat dilihat dari tabel berikut

Tabel 8
Ketersedian Prasarana Pendidikan
Di Nagari Surantih
NO Prasarana Ada/Tidak Jumlah
(Buah)
Kondis
baik/buruk
1
2
3
4
5
Taman Kanak-kanak
Sekolah Dasar
SLTP
SMA
Univ./Akademi/Per.Tinggi
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak
6
21
4
1
-
Baik
Baik
Baik
Baik
-
Sumber : Monografi Nagari Surantih Tahun 2005

Taman Kanak-kanak yang ada di Nagari Surantih terdapat di lima kampung
yaitu Pasar Surantih, Koto Panjang, Koto Marapak, Sungai Sira[h] dan Timbulun.
Pada tingkat pendidikan ini tidak semua anak di sekolahkan orang tuanya. Hal ini
terjadi disebabkan adanya anggapan orang tua yang berpandangan bahwa pada
tingkat ini tidak begitu penting diperoleh anak-anak mereka. Alasan ekonomi juga
ikut mempengaruhi pertimbangan tersebut. Pada tingkat sekolah dasar, hampir
setiap kampung terdapat sekolah dasar. Tenaga Guru pengajar SD yang ada
sebanyak 203 orang Guru sedangkan jumlah siswa sekolah dasar yang 3990 orang.
Dilihat dari rasio ketersediaan Guru cukup dibandingkan dengan jumlah murid yang
ada yaitu 1:19 orang,
Prasarana SLTP yang ada di Nagari Surantih terdiri dari 2 SMP yang
terdapat di Kampung Sungai Sira[h] dan Ampalu. SMP yang berada di Ampalu
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
301
sangat membantu masyarakat yang berada di wilayah Ganting Mudik terutama dari
Kampung Batu Bala dan Langgai. Mereka tidak perlu jauh-jauh lagi berulang untuk
dapat sekolah, apalagi di sekitar SMP ini disediakan rumah pemondokan bagi siswa
yang berasal dari kedua kampung tersebut. 1 Tsanawiyah dan 1 Pondok Pesantren
terdapat di Timbulun. Tenaga guru SLTP yang ada sebanyak 123 orang sementara
jumlah siswa yang ada sebanyak 1262 orang. Prasarana SMA yang berada di
Pasar Surantih merupakan satu-satunya SMA yang terdapat di Kecamatan Sutera.
Jumlah tenaga pengajar SMA sebanyak 22 orang sementara jumlah siswa yang ada
sebanyak 928. dilihat perbandingan tenaga Guru SLTP dan SMA dengan jumlah
siswa yang ada belumlah cukup memadai. Hal ini dinilai berdasarkan Guru mata
pelajaran yang ada.
Faktor yang sangat mempengaruhi penduduk hanya menempuh pendidikan
setingkat SD adalah adanya tradisi merantau. Umumnya penduduk Surantih banyak
merantau ke Negara Malaysia, sedangkan dalam wilayah Negara Indonesia daerah
tujuan mereka adalah Medan, Batam, Pekanbaru dan Lampung. Tradisi merantau
ini tidak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki tapi juga kaum perempuan bahkan
penduduk yang telah lama berada di rantau memiliki keluarga disana dan enggan
kembali ke kampung halaman.
Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setelah tamat
SLTP. Umumnya penduduk lebih memilih melanjutkan pendidikannya ke luar
daerah seperti kota Painan, Padang dan kota-kota yang memiliki mutu pendidikan
yang lebih baik. Hal ini memperlihatkan tingginya motivasi penduduk Nagari
Surantih dalam meningkatkan kesejahteraan hidup dengan meningkatkan mutu
pendidikan.

9.6. Sistem Perekonomian
Bila dilihat dari kultur perilaku masyarakat Nagari Surantih pada umumnya.
Sistem perekonomian Nagari Surantih sangat dipengaruhi oleh lingkungan alamnya.
Rata-rata perekonomian masyarakat nagari masih tergolong miskin, banyaknya
waktu yang kosong dan terbuang menjadi salah satu faktor penyebab. Hal ini dapat
dilihat dari mata pencaharian penduduk yang memanfaatkan sumber daya yang ada
seperti sawah, ladang, laut, hutan, bahan tambang dan lain-lainnya. Secara umum
mata pencaharian penduduk dapat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu : 1). pertanian
dan perkebunan adalah mata pencaharian penduduk yang paling banyak dijalani
penduduk (63 % ) 2. Nelayan (12 %) 3. Wira sawasta, pemerintahan dan sektor
lainnya (25 %).
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
302
Umumnya para petani yang ada di Nagari Surantih hanya menanam padi di
lahan sawah mereka yang dilakukan satu / dua kali tanam dalam setahun. Hal ini
terjadi terutama di wilayah Ganting Hilir, umumnya tanah persawahan di daerah ini
berupa tanah rawa yang selalu di genangi air, sehingga untuk bercocok tanam
tanaman palawija, seperti; jagung, tomat, cabe tidak bisa dilakukan. Sementara
untuk wilayah Ganting Mudik lahan persawahan agak berbeda dengan yang di hilir.
Sehingga petani yang berada di daerah tersebut bisa bercocok tanam di sawah
mereka menanam tanaman selain padi. Itu pun hasil yang mereka dapatkan hanya
bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sempitnya lahan pertanian di Ganting
Mudik, mendorong masyarakat untuk mencari mata pencaharian yang lain dengan
berladang di hutan. Tingkat perekonomian masyarakat di daerah masih tertinggal
dengan masyarakat yang berada di Ganting Hilir.
Untuk pengairan sawah-sawah petani, Batang Surantih mempunyai peran
yang sangat penting. Batang Surantih yang mengalir ditengah-tengah nagari
merupakan berkah yang tak ada hentinya bagi para petani. Air Batang Surantih
yang mengalir tiada hentinya setiap tahun. Demi lancarnya sistem pengairan sawah
para petani, pada tahun 1979 pemerintah membangun bendungan irigasi yang
berada di Kampung Ampalu. Hingga saat ini bendungan masih berfungsi dengan
baik mengendalikan pengairan sawah-sawah yang ada.


Gambar 106
Irigasi Sawah di Nagari Surantih

Dalam bercocok tanam para petani masih memakai alat-alat tradisional
Bajak/garu, perontok padi meskipun demikian pemakaian teknologi pun telah
digunakan para petani seperti mesin bajak. Setelah panen padi, padi yang telah
siap untuk digiling akan di bawa ke pengilingan padi (Rice Miling). Di Nagari
Surantih pengilingan padi ini terdapat 9 unit yang tersebar di beberapa kampung.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
303
Persoalan yang sering dihadapi petani di Nagari Surantih adalah seringnya
mengalami gagal panen akibat hama tikus yang sering terjadi, hingga hasil panen
yang didapatkan tidak maksimal. Pemerintahan nagari telah berupaya untuk
menangulanggi masalah ini, namun mendapatkan hasil yang diinginkan. Bila dilihat
dari kehidupan masyarakat nagari. Berdasarkan tingkat kemajuan masyarakat,
tentunya dapat memecahkan masalah dari kegagalan tersebut, antara lain :
1. Tidak seragamnya musim tanam para petani
2. kurangnya kesadaran masyarakat untuk mensyukuri nikmat yang
diberikan sehingga Tuhan tidak memberkahi rezeki yang diberikan.

Sektor perkebunan/ladang adalah salah satu mata pencaharian utama
penduduk Surantih. Umumnya area perkebunan ini berada di wilayah Ganting
Mudik, penduduk mengolah lahan-lahan yang berada di dataran tinggi (perbukitan).
Jenis tanaman yang ditanam antara lain adalah berupa : Casia Vera (Kulit Manis),
Gambir, Kelapa, Kakau/Coklat, Nilam, Pala, Karet, Cengkeh, Kopi, Sawit. Tanaman
Gambir dan Nilam merupakan jenis tanaman yang sangat diminati penduduk
sehingga tercipta basis penanaman tersebut. Lahan perkebunan gambir sangat
banyak terdapat di Kampung Ampalu dan Koto Tinggi sedangkan nilam sangat
diminati penduduk Kampung Langgai.
Selain menanam jenis tanaman komoditi di atas, penduduk juga menanam
kebun dan ladang mereka dengan janis tanaman buah-buahan seperti : Pisang,
Durian, Rambutan, Semangka, Manggis, Jeruk, Mangga. Tanaman buah ini juga
banyak ditanam penduduk di perkarangan rumah mereka yang umumnya memiliki
perkarangan yang luas.
Meski wilayah pantai Nagari Surantih tidaklah begitu luas, namun mata
pencaharian penduduk Surantih sebagai nelayan cukup dominan. Umumnya para
nelayan kecil yang hanya memiliki perahu dayung untuk menangkap ikan pada jarak
yang tidak jauh dari pantai. Ada juga nelayan-nelayan yang memiliki perahu-perahu
penangkap ikan yang lebih besar seperti Bagan
70
dan Payang
71
yang mengunakan
mesin tempel, dapat menangkap ikan lebih banyak dan berlayar ke tengah lautan
hingga bisa sampai ke daerah Kepulauan Mentawai yang lebih sering disebut
masyarakat Pagai.

70
Bagan adalah kapal yang digunakan nelayan untuk melaut, biasanya dalam kapal ini terdiri 9 – 13 anak bagan
yang melaut menangkap ikan pada malam hari dengan mengunakan sorotan lampu neon yang dipasang di
sekeliling kapal.
71
Payang adalah kapal yang digunakan nelayan untuk melaut. Bedanya dengan bagan, kapal ini beroperasi pada
siang hari. Bentuk kapalnya lebih kecil dari bagan dan hampir menyerupai sampan tapi mempunyai ukuran yang
lebih besar.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
304

Gambar 107
Payang (kiri atas), Kapal (kanan atas) dan Bagan (bawah)

Hasil tangkapan ikan biasanya di tampung oleh juragan-juragan pemilik
kapal untuk dijual pada agen-agen yang telah menjadi langanan rutinnya, datang
langsung ke Muara Surantih yang terdapat Tempat Pelelangan Ikan. Selain
menangkap ikan langsung ke tegah laut, ada juga nelayan yang mengunakan pukek
tapi
72
yang menjala ikan di sepanjang pantai Surantih. Ikan-ikan hasil tangkapan
nelayan, selain dibawa ke luar daerah juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Ikan-ikan tersebut dijual di pasar Nagari Surantih setiap harinya, ada juga pedagang
yang menjualnya dengan cara berkeliling mengunakan sepeda menjajakan ikan
tersebut dan ada juga masyarakat yang langsung mendatangi nelayan di tepi muara
untuk membeli ikan dengan harga yang lebih murah dengan ikan yang lebih segar.


Gambar 108
Nelayan Sedang Menangkap Ikan Dengan Pukek Tapi

72
Pukek tapi adalah alat penangkap ikan berupa jala berukuran besar, jala ini diangkut dengan sampan ke tengah
laut untuk ditebar kemudian ditarik ke pantai oleh beberapa orang. Tenaga yang terlibat dalam kegiatan ini 7 – 13
orang nelayan.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
305
Di luar mata pencaharian penduduk yang tersebut di atas, ada juga
penduduk yang memiliki mata pencaharian di bidang peternakan. Umumnya ternak
yang dipelihara adalah Sapi, Kambing, Ayam, Itik dan Kerbau. Jika dilihat secara
keseluruhan hanya sedikit penduduk yang menekuni sektor ini sebagai sumber
mata pencaharian hidup. Kebanyakan penduduk memelihara ternak sebagai mata
pencaharian sampingan. Di Nagari Surantih terdapat pusat peternakan Sapi yang
berada di Kampung Pasie Nan Panjang yang dikelola oleh dua kelompok ternak
dengan jumlah ternak sebanyak 3000 ekor di atas lahan seluas 300 Ha.


Gambar 109
Pertenakan Sapi Di Pasir Nan Panjang

Penduduk yang memiliki ternak sapi dan kambing yang dipelihara secara
tradisional, umumnya ternak-ternak yang mereka miliki dilepas begitu saja sehingga
ternak tersebut bebas berkeliaran di mana saja. Selain sapi, ternak ayam adalah
ternak yang paling diminati penduduk untuk dipelihara. Hal ini di karenakan
kebiasaan penduduk yang lebih suka mengkonsumsi daging ayam buras selain ikan
sebagai kebutuhan hidup jika dibandingkan daging sapi, daging sapi dikonsumsi
penduduk hanya pada saat hari raya Id Adha (Kurban).

9.7. Sarana dan Prasarana
Untuk menunjang aktivitas-aktivitas kehidupan masyarakat setiap harinya di
Nagari Surantih terdapat berbagari sarana penunjang. Dalam kegiatan
perekonomian masyarakat Nagari Surantih terdapat satu pasar yaitu Pasar Nagari
Surantih yang berada di jalan lintas kabupaten yang juga merupakan pusat
pemerintahan nagari. Pasar Surantih yang ramai pada hari minggu didatangi selain
terdapat los-los tempat para pedagang berjualan juga terdapat kios-kios perorangan
yang berjumlah 260 kios.
Sebelum masa kemerdekaan sebenarnya di Nagari Surantih terdapat satu
pasar lagi yaitu Pakan Salasa yang terdapat di Kampung Koto Marapak. Namun
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
306
seiring perjalanan waktu pasar tersebut mulai sepi dan atas kebijakan pemerintahan
nagari pada saat itu pasar tersebut dipusatkan di Pasar Surantih sekarang.
Dengan begitu luasnya wilayah nagari, sarana transportasi mempunyai
peran yang sangat penting dalam menunjang aktivitas masyarakat setiap harinya.
Sejak dahulu untuk memudahkan beraktivitas setiap harinya masyarakat
mengunakan sepeda sebagai sarana transportasi. Pada saat sekarang dengan
kemajuan teknologi yang ada. Penduduk telah banyak memiliki sepeda motor
sebagai sarana transportasi untuk menunjang segala aktivitas mereka.

9.8. Sistem Sosial Politik
Dengan bergulirnya otonomi daerah yang berorientasi kepada
pemberdayaan masyarakat daerah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup
masyarakat di daerah. Otonomi daerah mendorong dan memberi peluang pada
pemerintah daerah untuk menentukan kebijakan pembangunan di daerahnya
sampai ke wilayah-wilayah terpencil dan tertinggal sehingga pembangunan menjadi
merata. Kebijakan politik dan peraturan yang dilahirkan pemerintah selama ini,
tentunya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa dalam situasi krisis
yang dihadapi. Meski pun dalan perjalanan selama ini belum memperllihatkan
tanda-tanda pemerataan yang dapat menyentuh kehidupan masyarakat paling
bawah. Perubahan demi perubahan terus dilakukan demi mewujudkan sebuah
sistem kehidupan yang baik bagi anak bangsa.
Hakekat dasar dalam hidup ini, perubahan akan terus bergulir dan berganti
dengan hal yang baru. Tidak ada yang abadi dalam hidup ini, kecuali mungkin
perubahan itu sendiri yang mengikuti sifat alamiahnya. Sebagai generasi bangsa,
kita hidup secara bergilir dan berganti dari satu orang ke orang lainnya, dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Dalam menjalani hidup, menerima dan mewarisi
dari orang banyak tentang kondisi alam yang terus menerus berubah dan
berkembang. Apa yang diinginkan, dibutuhkan dan didapatkan bekum tentu dapat
memuaskan, memenuhi keinginan orang banyak. Tetapi terus berbuat menuju suatu
perubahan diri dan orang banyak. Hasil karya para pendahulu yang telah sangat
berjasa dapat dinikmati dan dirasakan generasi sekarang. Meski ada celah-celah
kekurangan yang berbuah kepahitan dalam sejarah perjalanan bangsa. Namun
itulah cara dan keputusan terbaik yang ditempuh dalam menghadapi situasi yang
berlangsung saat itu. Itulah wujud dari percaturan politik bangsa yang ingin
menjalankan demokrasi yang baik.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
307
Perjalanan sejarah bangsa, mulai dari era Soekarno – Hatta
memproklamasikan kemerdekaan bangsa tahun 1945. banyak persoalan bangsa
yang dihadapi, terutama usaha bangsa penjajah yang ingin kembali menancapkan
kukunya di bumi pertiwi. Peran penting tokoh-tokoh politik bangsa dalam
mewujudkan negara yang merdeka dan berdaulat penuh, sangat bergantung pada
pemikiran-pemikiran mereka dalam berpolitik.
Pengantian Undang - Undang Dasar 1945 dengan Undang-undang Dasar
Sementara tahun 1950 oleh Soekarno, membawa bangsa ke dalam bentuk
Demokrasi Liberal. Badan Konstituante yang dipersiapkan dalam membuat Undang-
undang Dasar dan memilih anggota parlemen sebagai wakil rakyat di Badan
Legislatif hingga menyusun kabinet baru. Indonesia dalam kurun waktu 1950 – 1955
sering mengalami kebuntuan politik akibat perbedaan pandangan dan kepentingan
dari elite politik yang di Lembaga Eksekutif dan Legislatif. Pembentukan Kabinet
sebagai lembaga pemerintahan negara tidak pernah sempurna, sehingga terjadi
pergantian kabinet. Pada Kabinet Burhanudin Harahap, mampu merubah kondisi
perpolitikan dengan pelaksanaan Pemilu pertama di Indonesia pada tanggal 29
September 1955. Pesta demokrasi ini diikuti sebanyak 36 partai politik yang
mengantarkan Partai PNI memperoleh suara terbanyak.
Pasca pemilu pertama, suhu politik negara terus memanas. Perbedaan
pandangan antara Presiden Soekarno dengan Wakil Presiden Muhammad Hatta
dalam kebijakan politik negara. Imbas dari perkembangan politik yang berlangsung
mengakibatkan Wakil Presiden Muhammad Hatta memilih mundur dari jabatannya.
Suasana politik yang demikian mengakibatkan munculnya reaksi yang melahirkan
Dewan-dewan di daerah dan pembubaran beberapa partai politik. Di Jakarta ada
beberapa dari ketua partai yang ditangkap dan dipenjarakan hingga akhirnya
muncul pergolakan di daerah (1958-1960).
Pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden
atas desakan mahasiswa yang isinya antara lain : Pembubaran dewan Konstituante
dan kembali ke Undang-undang 1945. Dekrit tersebut mengakhiri Demokrasi Liberal
di Indonesia dan lahirnya Demokrasi Terpimpin. Lahirnya Penpres No. 7 tahun 1957
menetapkan syarat-syarat bagi partai politik dan diciutkan menjadi 10 partai politik.
Selama pemerintahan Soekarno, belum ada lagi pelaksanaan pemilu. Pada
tahun 1964 MPR mengangkat Soekarno sebagai Presiden Seumur Hidup.
Persoalan negara terus bertambah hingga akhirnya muncul peristiwa G 30 S/PKI.
Beberapa perwira tinggi angkatan darat menjadi tumbal dari peristiwa tersebut demi
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
308
mempertahankan Dasar Negara Pancasila. Pada tahun 1966 lahir Surat Perintah
Sebelas Maret (Supersemar) yang menandakan berakhirnya Rezim Soekarno
diganti rezim Soeharto sebagai pengemban tugas Supersemar. Pada tahun 1967,
Soeharto dipilih oleh MPRS sebagai Presiden RI, pada tahun 1968 diambil
sumpahnya sebagai Presiden RI kedua.
Perjalanan politik di Nagari Surantih yang merupakan bagian kecil dari
kancah perpolitikan negara. Masyarakat Nagari Surantih tidak pernah lepas dari
pengaruh perpolitikan negara semenjak Indonesia merdeka. Mulai dari tahun 1955,
ketika dilaksanakannya pemilu yang pertama, di Nagari Surantih melahirkan tokoh
politik yang memimpin beberapa partai politik yang memiliki basis di Nagari
Surantih, antara lain ;
1. Partai PERMI, diketuai Buya Zainuddin Yahya Kaum Melayu Pasar Surantih
2. Partai Masyumi, diketuai H. Mahyudin Lilah Kaum Caniago Pasar Surantih
3. Partai PNI, diketuai Halil Rajo Intan Kaum Sikumbang Koto Panjang
4. Partai PSI, diketuai M. Yunus Kaum Kampai Pasir Nan Panjang.
5. Partai PKI,

Dari sekian tokoh politik Nagari Surantih, tokoh yang paling menonjol hingga
sukses. Salah satu diantaranya adalah Rasilin Idris Kaum Caniago Koto Marapak.
Beliau menjadi anggota DPRD pada masa Kabupaten Pesisir Selatan dan Kerinci di
bawah panji partai Masyumi.
Pada masa Orde Baru, Presiden Soeharto dengan mengunakan mesin
politik Golongan Karya (GOLKAR) mencoba melakukan langkah perubahan demi
mencapai satu negara yang berdaulat. Perkembangan kehidupan telah jauh
membaik dengan terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa. Memakai konsep
Repelita, disusun teknis perencanaan pembangunan jangka panjang. Dengan
mengunakan paradigma tersebut, rezim Soeharto berhasil memperkuat peta
perpolitikan dengan membangun sistem rantai yang kokoh dari atas hingga bawah.
Masyarakat merasakan sistem tersebut dapat menciptakan rasa aman dan
perlindungan walaupun tingkat kesejahteraan tidak pernah terwujud.
Pemilu pertama yang dilaksanakan rezim orde baru dilaksanakan pada
tahun 1971 yang diikuti oleh 10 partai politik. Pemilu ini mengantarkan Golongan
Karya sebagai pemenang pemilu dengan meraih suara terbanyak. Di Nagari
Surantih partai yang menonjol tetap didominasi partai yang berbasis agama. Partai
Masyumi memenangi perolehan secara mayoritas dari anak nagari. Golongan Karya
meraih suara terbanyak kedua diikuti Perti di posisi ketiga. Perolehan suara yang
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
309
didapatkan mengantarkan beberapa orang putra Nagari Surantih menjadi anggota
Legislatif di DPRD Kabupaten Pesisir Selatan masa periode 1971 – 1977, mereka
antara lain :
1. Dahlan dari Partai Masyumi
2. Abbas Dt. Rajo Basa dari Golongan Karya.

Bila dilihat perjalanan politik di Nagari Surantih, semenjak masa orde baru
hingga tahun 1999. Persaingan politik antara Golongan Karya dengan Masyumi
yang kemudian dileburkan dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP), terus
berlangsung pada setiap pelaksanaan pemilu. Keberadaan partai berlambang
ka’bah di Nagari Surantih tidak pernah terlepas dari gerakan kaum Masyumi di
nagari yang telah lama memiliki tokoh-tokoh dengan pengaruh yang sangat kuat.
Sehingga memiliki basis pengikut dan simpatisan yang banyak. Begitu kuatnya
pengaruh tokoh-tokoh yang ada melahirkan kader-kader baru yang memiliki idealis
politik dan keberanian dalam menentang kebijakan politik penguasa.
Persaingan kedua kubu partai politik tersebut terus berlangsung, meski
pergerakan mereka mendapat sorotan dari pihak yang berwajib, namun persaingan
tersebut tetap dijalankan dengan koridor politik yang mereka anut. Proses
pembaharuan politik terus bergulir menuju perubahan. Tahun 1973, sistem
kepartaian mulai dirombak dengan memperbaharui sistem, yaitu membentuk 2
partai politik dan 1 Golongan Karya. Pemilu sehingga pada pemilu 1977, tiga
kontestan peserta pemilu tersebut adalah :
1. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
2. Golongan Karya (GOLKAR)
3. Partai Demokrasi Indonesia (PDI)

Pada masa pemerintahan orde baru berlangsung, pemilihan anggota
Legislatif melalui partai terus berjalan sehingga masyarakat Nagari Surantih yang
pernah duduk menjadi anggota Legislatif DPRD Kabupaten Pesisir Selatan adalah :
1. Zainuddin Kesah, masa jabatan 1982 – 1987, merupakan wakil dari
Golongan Karya
2. Ahmad Kosasih, masa jabatan 1987 – 1992, merupakan wakil dari
Golongan Karya
3. Zaidal Masfiudin, SH. Masa jabatan 1992 – 1997, merupakan wakil dari
Golongan Karya.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
310
4. Zulfikar Arsad, masa jabatan 1999 – 2004, mewakili Partai Golongan
Karya
5. Hasan Basri, masa jabatan 1999 – 2004, mewakili Partai Persatuan
Pembangunan
6. Azari Sura, SH. masa jabatan 2004 – 2009, mewakili Partai Golongan
Karya
7. Abdul Muis, Bsc. masa jabatan 2004 – 2009, mewakili Partai Demokrasi
Indonesia.

Sedangkan yang terpilih menjadi anggota DPRD Tingkat I Propinsi
Sumatera Barat adalah Zaidal Maspiudin. SH. masa jabatan 1999-2004 dan 2004 –
2009, merupakan wakil Partai Golongan Karya. Dra. Salmiati. masa jabatan 2004 –
2009 mewakili Partai Bulan Bintang.
Perjalanan pemerintahan orde baru dengan Undang-undang N0. 5 tahun
1974, melahirkan ketidak berdayaan anggota Legislatif masa itu. Sebagai alat
kontrol dan tidak memiliki fungsi sosial dari masyarakat yang diwakilinya.
Keberadaan Legislatif mudah didikte oleh Eksekutif. Kebijakan-kebijakan yang
diharapkan dapat mendorong pembangunan dan kemajuan tidak terwujud. Seiring
dengan berjalannya waktu kepercayaan masyarakat terhadap wakil-wakilnya di
Dewan Perwakilan Rakyat, masyarakat tidak butuh lagi retorika melainkan fakta dan
realita untuk segera merumuskan kebijakan yang dapat meningkatkan
kesejahteraan hidup. Semenjak berlakunya UU No. 5 tahun 1974 tidak terdengar
lagi pujaan atau canda yang menilai positif kinerja orang-orang parpol di DPR
maupun di pemerintahan. Mereka yang duduk pada jabatan tertentu maupun
sebagai anggota Legislatif sudah jelas. Pemilihan yang dilakukan masyarakat
merupakan jenjang sebagai pijakan bagi anggota partai untuk bisa melangkah
menuju kedudukan yang diinginkan.
Di Kabupaten Pesisir Selatan telah lama penantian masyarakat untuk
mendapatkan kesempatan dipimpin oleh oleh putera daerah sendiri. Pada tahun
1996, untuk pertama kalinya seorang putra Pasar Baru Bayang mendapatkan restu
dari pemerintah pusat untuk memimpin masyarakat di Kabupaten Pesisir Selatan
sebagai Bupati. Di pundak Drs. Darizal Basir diamanatkan harapan masyarakat
untuk dapat berbuat dan mengabdi di kampung halamannya Pesisir Selatan.
Lahirnya Undang – undang No. 22 tahun 1999, menelurkan paradigma
Disentralisasi dalam penyelengaraan pemerintahan menjadi tanda dimulainya era
reformasi yang diharapkan bisa mewujudkan harapan yang belum bisa diwujudkan
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
311
oleh rezim orde baru. Pemerintah daerah diberi wewenang penuh dalam mengatur
dan menjalankan rumah tangganya sendiri, yang lebih dikenal dengan otonomi
daerah. Lahirnya undang-undang tersebut mendorong Propinsi Sumatera Barat
melakukan sebuah perubahan sistem pemerintahan terendah yang selama ini
disebut desa dengan sistem pemerintahan nagari yang dipimpin oleh seorang Wali
Nagari.
Sebelumnya lahirnya Undang-undang No. 22 tahun 1999, pada tahun 1998
terjadi perubahan perpolitikan di Indonesia. Penguasa rezim orde baru yang telah
memimpin 7 periode bangsa Indonesia dilengserkan pemerintahannya oleh gerakan
mahasiswa yang menginginkan reformasi dalam pemerintahan negara Indonesia
yang dilanda krisis multidimensional. Munculnya berbagai aksi demo dari
mahasiswa yang menuntut Soeharto turun dari kekuasaannya menimbulkan
pertumpahan darah yang tidak bisa dihindari. Mahasiswa yang meninginkan
Soeharto turun menjadi tumbal dalam meruntuhkan kediktatoran pemerintahan
rezim orde baru. Bentrokan antara mahasiswa dengan pihak keamanan
mengakibatkan jatuh korban dipihak mahasiswa. Tragedi semanggi dan trisakti
merupakan bukti gigihnya perjuangan mahasiswa dalam mengulingkan sistem
pemerintahan yang selama 32 tahun mengerogoti kesejahteraan dan keadilan anak
bangsa.
Semakin tidak terkendalinya situasi politik dan keamanan di ibu kota dan di
kota-kota lainnya. Pada tanggal 21 mei 1998 Soeharto lengser dari Kursi
Kepresidenan digantikan oleh wakilnya Baharudin Yusuf Habibie sebagai Presiden
RI yang ke III. Dibawah kepemimpinan Baharudin Yusuf Habibie dilakukan
persiapan pesta demokrasi untuk memilih Legislatif. Pemilu tersebut dilaksanakan
pada tanggal 7 Juni 1999, merupakan pemilu yang sangat berbeda dibandingkan
masa rezim orde baru. Pesta demokrasi masa kepemimpinan Baharudin Yusuf
Habibie diikuti 48 Partai Politik.
Hasil pemilu yang dinilai cukup demokratis oleh negara-negara di dunia
mengantarkan Abdul Rahman Wahid sebagai Presiden RI ke IV. Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan yang dimotori Megawati Soekarno Putri sebagai partai peraih
suara terbanyak, hanya mampu mengantarkan Megawati sebagai Wakil Presiden
mendampingi Presiden Abdul Rahman Wahid. Kepemimpinan Abdul Rahman
Wahid tidak sampai pada masa akhir jabatannya. Hal ini dikarenakan banyaknya
muncul kelemahan dan kontroversi dalam pemerintahannya. Majelis
Permusyawaratan Rakyat mengelar sidang istimewa dan memberhentikan Presiden
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
312
Abdul Rahman Wahid dengan Wakilnya Megawati Soekarno Putri. Pada tanggal 23
Juli 2001 Megawati diangkat sebagai Presiden Ri ke V.
Setelah berjalan Undang-undang No. 22 tahun 1999. indonesia melakukan
perubahan dan perbaikan terhadap roda pemerintahan. Dalam pemilihan pemimpin
mulai dari pusat hingga daerah dilaksanakan melalui pemilu yang melibatkan rakyat
secara langsung. Pada tanggal 20 September 2004 dilaksanakan pemilihan umum
secara langsung oleh rakyat Indonesia untuk memilih Presiden RI. Dari
pelaksanaan pemilihan Presiden secara langsung, terpilihlah putra terbaik bangsa
sebagai Presiden RI ke VI, yaitu DR. H. Susilo Bambang Yudoyono yang
berpasangan dengan Yusuf Kala sebagai Wakil Presiden.
Propinsi Sumatera Barat melaksanakan pemilihan kepala daerah (Gubernur)
secara langsung oleh rakyat setahun kemudian. Pemilihan Gubernur secara
langsung masyarakat Sumatera Barat mengantarkan pasangan Gumawan Fauzi
dan Prof. DR. Marlis Rahman sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera
Barat masa jabatan 2005 – 2010. Pada Pemerintahan Tingkat II Kabupaten Pesisir
Selatan, pemilhan kepala daerah (Bupati) secara langsung oleh rakyat dilaksanakan
dua bulan setelah pemilihan langsung Gubernur Sumatera Barat. Dalam pesta
demokrasi rakyat Kabupaten Pesisir Selatan, mengantarkan pasangan Drs. Nasul
Abit dan Drs. Syafrizal sebagai Bupati dan Wakil Bupati masa jabatan 2005 -2010.
Pada tanggal 17 September 2005,
pasangan Bupati Drs. Nasrul Abit dan Wakil
Bupati Syafrizal dilantik dan diambil
sumpahnya di Painan oleh Gubernur Sumatera
Barat atas nama Menteri Dalam Negeri. Drs.
Nasrul Abit merupakan putera Nagari Air Haji
Kecamatan Linggo Sari Baganti, dari Kaum
Panai. Sebelum bertugas di Kabupaten Pesisir
Selatan, beliau berdinas di Propinsi Lampung.
Sebelum dipercaya rakyat Pesisir Menjadi
Bupati, beliau merupakan Wakil Bupati Drs.
Darizal Basir masa jabatan 2000 – 2005.



Gambar 110
Bupati Nasrul Abit




Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
313
Wakil Bupati Drs. Syafrizal merupakan
anak Nagari Painan dari Kaum Panai. Sebelum
diangkat sebagai Wakil Bupati, beliau berkerja
di Pemerintah Daerah Kabupaten Pesisir
Selatan sebagai Kepala Kantor Pendapatan
Daerah.




Gambar 111
Wakil Bupati Syafrizal



“Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya”. Perpolitikan yang
berlangsung di Nagari Surantih memang tidak akan persis sama dengan
perpolitikan di tingkat yang lebih tinggi, kabupaten atau pun negara. Masyarakat
Nagari Surantih yang masih religius dan masih homogen, hidup dalam tradisi dan
budaya. Kehidupan masyarakat masih terkotak-kotak akibat tingkat perekonomian
yang rata-rata masih tergolong rendah.
Dengan menanamkan rasa sama-sama memiliki yang dicanangkan dan
terus diterapkan pemerintahan nagari. Diharapkan dapat mewujudkan
pembangunan yang berbasis pengembangan wilayah demi meningkatkan
pendapatan masyarakat sehingga tercapailah kedamaian dan ketentraman dalam
hidup banagari. Dampaknya, pelaksanaan pembangunan di Nagari Surantih
berlangsung lancar dan maju pesat dengan dukungan swadaya masyarakat yang
tinggi
Politik bersama dalam melahirkan suatu kesepakatan dilakukan dalam
musyawarah bersama. Keterkaitan, kebersamaan yang tercipta antara pemuka
masyarakat dan lembaga-lembaga nagari mendorong lahirnya Peraturan Nagari
(PERNA) yang diwujudkan dalam :
 Larangan
 Kewajiban

Seperti ;
1. Peraturan Nagari Surantih No. 3 Tahun 2003, Tentang Pelestarian
hutan dan Sumber Air. PERNA ini disahkan dengan persetujuan DPN
No. 03 /KEP/DPN – SRT/2003
2. Peraturan Nagari Surantih No. 01 Tahun 2004. Tentang Kebersihan,
Keindahan, Keamanan dan Wajib Gotong royong. PERNA ini
disahkan dengan persetujuan DPN No. 01/KEP/DPN – SRT/2004
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
314
3. Peraturan Nagari Surantih No. 03 tahun 2004. tentang Kewajiban
Masyarakat dalam penanaman Pisang di Perkarangan Rumah.
PERNA ini disahkan dengan persetujuan DPN No. 03 /KEP/DPN –
SRT/2004. PERNA ini bertujuan untuk meningkatkan ekonomi rumah
tangga.

Politik kepartaian di Nagari Surantih masih berjalan secara alami. Persoalan
partai tidak terlalu mempengaruhi hubungan sosial yang ada dalam masyarakat. Hal
ini dilatar belakangi masyarakat tidak ingin mengetahui wacana-wacana yang
berusaha dikembangkan partai. Figur ketokohan yang memiliki rasa kekeluargaan,
seseorang yang bisa menanamkan kebersamaan bernagari, dalam hidup berbaur
dengan masyarakat. Figur tokoh yang memiliki ciri yang demikianlah yang cepat
memiliki pengaruh dan mendapat sanjugan dari masyarakat simpatisannya.
Budaya politik yang demikian di Nagari Surantih saat ini bisa melahirkan
mutiara-mutiara yang terbenam. Ketika mutiara tersebut muncul kepermukaan akan
lahirlah figur tokoh politik baru yang lahir secara alami. Pandangan dan
kepercayaan masyarakat akan kemampuan mengemban aspirasi yang ada bisa
mengantarkan figur tersebut ke kancah percaturan politik. Hal ini sering kali
mengabaikan kemampuan tokoh tersebut.
Mempertahankan figur sebagai seorang tokoh nagari sangat sulit. Tugas dan
kewajiban dari kepercayaan yang telah diamanatkan merupakan sisi lain dalam
mewadahi, mewujudkan permintaan masyarakat maupun dari cara beradaptasi
dengan setumpuk perkerjaan yang harus diselesaikan. Munculnya pandangan-
pandangan negatif yang tersebar dikalangan masyarakat akan menjadi bumerang
yang akan menengelam figur tokoh tersebut. Umumnya masyarakat menilai
seorang tokoh tidak melalui kinerja yang dihasilkan, tetapi melalui perhatian dan
kunjungan yang bersifat kekeluargaan.








Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
315
BAB X
POTENSI SUMBER DAYA DAN HASIL PEMBAGUNAN
DI NAGARI SURANTIH

Nagari Surantih yang memiliki luas wilayah 36000 Ha menyimpan potensi
sumber daya yang dapat diandalkan terutama untuk meningkatkan kesejahteraan
dan kemajuan masyarakat Nagari Surantih. Berdasarkan gambaran umum yang
telah diuraikan dalam kondisi lingkungan sosial budaya Nagari Surantih, dapat
digambarkan potensi Nagari Surantih melalui beberapa faktor yang dimiliki

10.1. Kepadatan Penduduk
Pada periode semester pertama tahun 2005, berdasarkan data
kependudukan, penduduk Nagari Surantih berjumlah 25147 jiwa terdiri dari
penduduk laki-laki 12554 jiwa dan perempuan sebanyak 12593 jiwa, jumlah Kepala
Keluarga yang ada sebanyak 5550 Kepala Keluarga. Dari jumlah tersebut,
tanah/lahan nagari yang telah dimanfaatkan guna menunjang kehidupan penduduk
mulai dari perumahan, perkebunan, persawahan, ladang/tegal, dan prasarana
lainnya seluas 10277 Ha.
Dari jumlah penduduk nagari yang berjumlah 25147 jiwa dan luas
lahan/tanah yang telah diolah seluas 10277 dari luas lahan nagari secara
keseluruhan seluas 36000 Ha. Dapat diketahui tingkat kepadatan penduduk Nagari
Surantih 244,69 Jiwa/Km
2
.

10.2. Sumber Daya Alam.
Nagari Surantih memiliki luas wilayah lebih kurang 36000 Ha, membentang
berupa bujur telur yang tediri dari dataran lebih kurang 20000 Ha.
Perbukitan/Pegunungan seluas 10000 Ha. dan lain-lainnya seluas 6000 Ha. curah
hujan rata-rata pertahun 1000 – 3000 mm/th dengan keadaan suhu rata-rata 25 –
37
o
C. Tingkat kesuburan tanah yang terdapat di Nagari Surantih dapat dibagi dari 4
kategori, yaitu :
1. Tanah sangat subur seluas 5000 Ha
2. Tanah subur seluas 15000 Ha
3. Tanah tingkat kesuburannya sedang 10000 Ha
4. Tanah tidak subur/kritis seluas 6000 Ha


Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
316

Gambar 112
Lahan Pertanian di Rawang


Tingkat-tingkat kesuburan tanah tersebut dimanfaatkan penduduk dalam
berbagai aktivitas kehidupan. Tanah kategori tidak subur/kritis tidak begitu
dimanfaatkan penduduk secara maksimal, tanah ini hanya digunakan sebagai lahan
pengembalaan ternak, sehingga lahan kritis dan terlantar yang belum digunakan
sekitar 190 Ha.
Keempat kategori tanah ini dimanfaatkan penduduk untuk kegiatan bercocok
tanam sebagai sumber mata pencaharian hidup seperti bertani, berladang, beternak
dan aktivitas lainnya. selanjutnya akan digambarkan beberapa potensi unggulan
yang dimiliki Nagari Surantih.

10.2.1. Sektor Pertanian
Pada dasarnya Nagari Surantih memiliki lahan pertanian yang sangat luas,
ditanami berupa tanaman pangan seperti ;
A. Padi sawah : Jagung, Ubi Kayu Kacang Tanah, Kacang Hijau, Kacang
Kedelai.
B. Sektor perkebunan; Casia Vera (Kulit Manis), Gambir, Kelapa, Kakau/Coklat,
Nilam, Pala, Karet, Cengkeh, Kopi, Sawit.
C. Buah-buahan ; Pisang, Durian, Rambutan, Semangka, Manggis, Jeruk,
Mangga.
D. Ada juga perternakan berupa ; Sapi, Kerbau, Ayam dan Kolam Ikan
E. Sayur-sayuran ; Cabe, Terung, Jengkol, Pakis.

A. Sawah dan Kebun.
A.1. Sawah
Padi sawah di Nagari Surantih, dapat dibanggakan berdasarkan produksi
pertanian menghasilkan 4000 Ton /Tahun. Hasil ini menjadikan Surantih sebagai
gudang Padi kabupaten Pesisir Selatan lantaran hampir 65 % lahan pertanian diairi
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
317
oleh pengairan Batang Surantih. Masyarakat Surantih dapat melakukan 2 kali /
tahun panen padi, itu dapat dibuktikan dengan tingginya semangat gotong royong
masyarakat petani Nagari Surantih. untuk pelaksanaan, perawatan, memperbaiki
saluran pengairan yang putus. Bahkan acara gotong-royong tersebut dijadikan
acara gotong royong tahunan.
Hampir 5 Km pengairan Batang Surantih yang melewati 6 Kampung di
Nagari Surantih bersih setiap tahunnya. Bahkan di Kampung Koto Panjang,
kelompok tani Subarang Banda mampu membuat saluran. Tersier (Banda Caciang)
sehingga lahan tidur dapat dimanfaatkan lebih kurang 35 ha telah membuahi hasil
yang sangat bagus.


Gambar 113
Saluran Irigasi Sawah


Dari hasil survei dan penelitian BPTP Provinsi Sumatera Barat tentang hal
pertanian padi sawah di Nagari Surantih, menjadikan kelompok tani di Pasir Nan
Panjang sebagai pusat lokasi program Prima Tani. Program ini merupakan program
nasional dengan tujuan untuk membina, meningkatkan hasil pertanian padi sawah
dengan jangka waktu lima tahun yang akan dibimbing oleh beberapa ahli sehingga
Nagari Surantih akan dijadikan nagari percontohan tingkat nasional di bidang
pertanian. Apalagi setiap kali turun ke sawah dibiasakan di setiap kampung untuk
berburu Tikus secara massal dibawah pengawasan instansi yang terkait.

A.2. Kebun
Budaya dan kebiasaan masyarakat setiap kampung di Nagari Surantih
memang berbeda-beda. Semua itu terjadi dikarenakan kebiasaan yang ada, tingkat
kesuburan tanah dan kondisi alam. Sehingga setiap kampung di Nagari Surantih
memiliki keungulan tersendiri, seperti kampung Timbulun Jorong Lubuk Batu. Di
kampung ini 65 Ha lahan perbukitan ditanami Ubi Kayu yang panennya bisa dua kali
pertahun sehingga hasil yang didapat lebih kurang 325 Ton/tahun.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
318
Merosotnya harga Ubi Kayu beberapa waktu yang lalu hingga saat ini,
mendorong masyarakat Kampung Timbulun jorong Lubuk Batu berupaya untuk
membenahi diri dengan membentuk kelompok dan melalui pembinaan ibu-ibu PKK,
pemerintahan nagari dan Dinas Sosial kabupaten. Kelompok tersebut maju pesat
dengan adanya bantuan mesin pengolahan Ubi Kayu dari Dinas Sosial. Sehingga
Ubi Kayu tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik dan cepat untuk pengolahan
menjadi makanan yang banyak diminati masyarakat seperti:
 Kerupuk Ubi, Kipik Ubi
 Tapai Ubi, limping ubi
 Kue Talam dan Onde-onde Ubi

Dalam pemasarannya, seperti Kerupuk Ubi, sudah sampai ke Malaysia,
selain untuk oleh-oleh anak nagari juga dijual ke ibu kota provinsi. Tapai Ubi untuk
pemasarannya, dijual sebagian di ibu kota kabupaten. Sehingga kegiatan produksi
rumah tangga dengan pengolahan bahan makanan dari Ubi Kayu telah dapat
menyelamatkan lebih kurang 121 Kepala Keluarga di Kampung Timbulun.

B. Perkebunan Rakyat.
B.1. Gambir
Tahun 2002, Gambir merupakan jenis tanaman perkebunan baru yang coba
diterapkan di Nagari Surantih. Langkah terobosan pemerintah nagari untuk
memberdayakan tanaman Gambir di Nagari Surantih memperlihatkan hasil yang
cukup baik dan mempunyai prospek yang cerah untuk meningkatkan perekonomian
rakyat karena didukung oleh kesuburan tanah yang sangat cocok dengan jenis
tanaman gambir. Dengan bimbingan Pemerintah Daerah dan usaha masyarakat
untuk ingin membenahi diri dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Begitu
bagus dan cerahnya hasil yang diperoleh masyarakat dari berkebun gambir,
semakin memacu motivasi masyarakat untuk meningkatkan intensitas penanaman
gambir di lahan-lahan yang ada. Sehingga pada tahun 2004, lahan yang telah
dimanfaatkan untuk perkebunan gambir ini seluas 1.797 Ha siap panen. Itu belum
termasuk lahan yang akan ditanam gambir lebih kurang seluas 315 Ha. Usaha yang
dilaksanakan untuk memberdayakan para petani Gambir :
1. Mengenalkan bahwa lahan / tanah Nagari Surantih lebih bagus untuk
ditanami Gambir dan Gambir memiliki harga jual yang bagus.
2. Mengenalkan lahan-lahan Gambir yang ada di Nagari Surantih melalui
media cetak dan elektronik ( di RCTI, TVRI tahun 2003)
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
319
3. Melakukan pembinaan dengan membentuk kelompok dan koperasi hidup
bersama di Kampung Ampalu.
4. Bantuan pembinaan dari Dinas yang terkait dalam bentuk KIMBUN
5. Hasil produksi gambir di Nagari Surantih mencapai 44 Ton /minggunya.

Untuk meningkatkan laju perkembangan ekonomi masyarakat petani gambir,
maka pemerintahan nagari bersama petani gambir berusaha untuk meningkatkan
penghasilan yang lebih baik dengan cara :
1. Pembuatan jalan tani/perkebunan sepanjang 4,5 Km dari Kampung Kayu
Gadang sampai Koto Tinggi, dikerjakan dengan kegiatan gotong royong
masyarakat.
2. Pembuatan jalan tani/perkebunan sepanjang 3 Km dari Kampung Kayu
Gadang ke Bukik Batu Kandang juga dilaksanakan dengan kegiatan gotong
royong masyarakat.
3. Pembuatan jalan perkebunan sepanjang 2 Km di Kampung Koto Merapak ke
Bukik sasaran Ayam.
4. Pembuatan jalan baru perkebunan sepanjang 1 Km di Kampung Rawang ke
Bukik tabek Tinggi.

B.2. Nilam
Sesuai dengan sikap hidup masyarakat, untuk memupuk kebersamaan dan
saling membagi pengalaman untuk menuju kesejahteraan hidup. Di Kampung
Langgai yang berpenduduk 1473 jiwa dari 348 Kepala Keluarga. Kampung ini
terletak jauh diujung Nagari Surantih yang berbatasan langsung dengan Kabupaten
Solok berjarak 28 Km dari Pasar Nagari. Masyarakat Kampung Langgai telah
mampu membuktikan diri, bahwa hasil utama masyarakat dengan membudidayakan
tanaman Nilam di samping tanaman Kulit Manis (Casia Vera), Kopi, dan Karet.
Secara berkelompok, masyarakat telah berhasil menanam Nilam seluas 115
Ha yang telah memberikan hasil yang sangat bagus setiap bulannya lantaran harga
Nilam berkisar antara Rp 80.000 sampai Rp. 150.000 /Kg. Hasil produksi Nilam
setiap bulan sudah sangat cukup untuk meningkatkan tingkat perekonomian
masyarakat Kampung Langgai.




Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
320
B.3. Karet
Berbagai upaya dilakukan pemerintahan nagari bersama lembaga LPMN
(Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Nagari) dan masyarakat mencoba
memanfaatkan potensi yang ada. Beberapa waktu yang lalu, Nagari Surantih
dipercaya oleh Dinas Pendidikan Provinsi berkerjasama dengan DIKNAS
Kabupaten menempatkan 3 orang sarjana untuk membantu pemerintahan Nagari
yang dikenal dengan Program SP 3 (Sarjana Pengerak Pembangunan Pedesaan).
Kesempatan ini dimanfaatkan untuk membuat terebosan baru menuju suatu
perubahan. Di Kampung Gunung Malelo yang berpenduduk 1477 jiwa dengan
jumlah Kepala Keluarga 394 KK. Digerakkan usaha pembibitan dan penanaman
karet untuk pertama kali kegiatan pembibitan dilaksanakan sebanyak 3000 batang.
Syukur Alhamdulillah, karet tersebut sudah banyak diminati oleh masyarakat
dan tertanam dengan subur masyarakat Kampung Gunung Malelo di Jorong
Simpuding, menyambut positif dari hasil program tersebut. Maka dari itu dicoba
menerapkan dan mensosialisasikan. Agar karet dijadikan sebagai komediti utama di
Kampung Gunung Malelo.

C. Buah-buahan.
C.1. Pisang,
Dengan upaya meningkatkan sumber daya ekonomi masyarakat Nagari
Surantih secara merata. Pemerintahan Nagari Surantih harus meningkatkan
penghasilan rumah tangga masyarakat guna menutup kebutuhan hidup sehari-hari.
Tanaman Pisang dijadikan sebagai tanaman rumah tangga, hampir setiap
rumah penduduk menanam Pisang di Nagari Surantih. Hal ini dapat dilihat dengan
hasil Pisang Nagari Surantih sudah mencapai 186 Ton / tahun. Dan dapat
memenuhi kebutuhan pasar Nagari Surantih dan ibu kota propinsi. Pemerintahan
nagari tetap mengupayakan kepada masyarakat agar tetap mempertahankan
budaya menanam Pisang di setiap rumah, termasuk tanaman lainnya seperti,
Mangga, Rambutan dan lain-lainnya.

C.2. Durian
Nagari Surantih merupakan bahagian dari nagari lain di Pesisir Selatan
penghasil Durian terbesar sepanjang musim. Durian merupakan tanaman tambahan
disamping tanaman lainnya, di setiap lahan masyarakat yang tersebar di pelosok
Nagari Surantih. Sehingga Nagari Surantih memiliki 671 batang Durian dengan hasil
mencapai 59 Ton / tahun.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
321
10.2.2. Bidang Perternakkan
Nagari Surantih menjadikan beberapa kampung sebagai basis ekonomi
masyarakat di Kampung Pasir Nan Panjang Nagari Surantih, rasanya tidak
berlebihan bila Kampung Pasir Nan Panjang disebut Australia mini Nagari Surantih.
Hal ini dimuat dalam berita daerah pada harian Singgalang edisi bulan November
2004 dengan judul berita “Sapi Bali Primadona Australia Mini”. Perihal ini dapat kita
lihat buktinya dengan keberadaan 2 kelompok Ternak di Kampung Pasie Nan
Panjang. Yaitu :
1. Kelompok Ternak Sakato
2. Kelompok Ternak Hamparan Saiyo.
Kedua kelompok ternak tersebut berada dalam hamparan 300 Ha lahan
pertenakkan dan hampir 3000 ekor sapi lokal dan Sapi Bali mengisi lokasi tersebut.
Binaan-binaan instansi terkait telah mendorong perkembangan yang sangat pesat
pada kedua kelompok. Kelompok Sakato telah membuktikan dengan baik dalam
lomba Agrobisnis sapi potong tingkat Nasional pada tahun 2004, mereka telah
mencapai prestasi dengan tampil sebagai Juara I Tingkat Nasional tahun 2004.
Sebagai penghargaan bagi kelompok tersebut diundang ke Istana Negara untuk
menerima penghargaan dari Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
tanggal 10 Desember 2004.
Masih di Kampung Pasir Nan Panjang tanggal 23 november 2003
Kabupaten Pesisir Selatan mempercayai Nagari Surantih sebagai tuan rumah
memperingati Hari Kesehatan Hewan Nasional yang dilanjutkan dengan bermacam
acara seperti:
 Lomba Kontes Ternak Tingkat Provinsi Sumatera Barat.
 Buru Babi Tingkat Provinsi Sumatera Barat dan yang lain-lainnya.

Sehingga dapat menghadirkan jajaran instansi terkait, tokoh perantau
masyarakat Pesisir selatan yang dibuka oleh Gubernur Sumatera Barat bersama
Dirjen Pertenakkan Pusat.

10.2.3. Potensi Kelautan.
Nagari Surantih memiliki potensi yang beragam, dengan jajaran pantai yang
dimiliki sepanjang 5 Km merupakan penunjang perekonomian masyarakat nelayan.
Untuk menunjang perekonomian dalam penangkapan ikan masyarakat Nagari
Surantih memiliki beberapa alat penangkap ikan berupa : Sampan Boleng, Kapal
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
322
Tunda, Pukat Tepi, Payang dan Bagan. Semua itu sudah dapat menunjang ekonomi
dua kampung di Nagari Surantih yaitu :
1. Kampung Sungai Sirah
2. Kampung Pasar Surantih
Dengan dibukanya Muara Surantih dan pembangunan PPI Surantih (Pusat
Pelelangan Ikan). Berarti Surantih merupakan penghasil ikan terbesar di Kabupaten
Pesisir Selatan. Untuk memenuhi kebutuhan pasar Sumatera Barat dan luar
Sumatera Barat.
Nagari Surantih juga memiliki beberapa pulau kecil seperti :
1. Pulau Kiabak Besar
2. Pulau Kiabak Kecil
3. Pulau Kasiak
Pulau-pulau tersebut merupakan kekayaan alam yang menjanjikan untuk
masa depan Nagari Surantih. Itu terbukti Pulau Kiabak Kecil dijadikan oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten Pesisir Selatan sebagai tempat budi daya
penyu/penangkar penyu yang diresmikan pelepasannya oleh Bapak Bupati Darizal
Basir tanggal 14 januari 2005 sedangkan pulau lainnya penghasil telur penyu
terbesar di Kecamatan Sutera, untuk dikirim ke Pulau Batam.
Sedangkan jarak tempuh yang diperlukan untuk sampai di pulau-pulau
tersebut adalah kurang lebih selama 30 menit, sehingga banyak turis lokal
bermalam di sana. Sambil menikmati lampu mercu suar. Berbagai upaya terus
diupayakan, bersama bapak Azwar Anas dan bapak Bupati Darizal Basir, berupaya
mengenalkan Nagari Surantih kepada beberapa investor. Untuk keberhasilan
pertama pada akhir tahun 2003 telah tertanam beberapa rumpon di laut lepas
Nagari Surantih untuk penangkapan ikan Tuna.
Keberhasilan kedua, Pemerintah Pesisir Selatan bersama tokoh masyarakat
dan Wali Nagari berhasil mengajak Bapak Rustam Narus pengusaha sukses dari
kota Yogyakarta untuk menanamkan modalnya di Nagari Surantih. Awal tahun
2004 dimulailah perencanaan pembukaan lahan lebih kurang 2,5 Ha untuk lokasi
tambak udang yang menelan biaya cukup tinggi. Sehingga dengan adanya investasi
yang telah beliau tanamkan di Nagari Surantih semakin memancing minat
masyarakat untuk pengelolaan budi daya udang
Saat ini sudah dapat dilihat dan merasakan hasil yang sangat bagus
sebentar lagi akan membuahkan hasil. Sehingga Nagari Surantih akan menjadi
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
323
nagari penghasil udang terbesar di Kabupten Pesisir Selatan dan bahkan di
Sumatera Barat.


Gambar 114
Tambak Udang dan Panen Udang


Panen perdana tambak udang windu menghasilkan udang sebanyak 3,5
ton. Panen perdana udang windu ini dilakukan pada bulan juni 2005 di Padang Api-
api Kampung Pasar Surantih. Panen perdana ini dihadiri oleh Gubernur Sumatera
Barat yang baru terpilih dalam pemilihan langsung kepala daerah Sumatera Barat
Bapak Gamawan Fauzi, dan juga dihadiri Bapak Azwar Anas.


Gambar 115
Foto Bersama Bapak Azwar Anas, Gubernur Gamawan Fauzi,
Wali Nagari Surantih Almasri Syamsi dengan Pemilik Tambak Bapak Rustam Narus.


 Perikanan Darat.
Walaupun Nagari Surantih lebih dikenal sebagai penghasil ikan laut terbesar
di kabupaten ini, namun perikanan darat juga cukup menjanjikan. Di Kampung
Rawang dan kampung lainnya telah lama berdiri beberapa kelompok perikanan
darat dengan jumlah 37 buah kolam. Dengan banyaknya kolam yang ada, tentunya
dapat dijadikan sebagai mata pencaharian masyarakat nagari seperti budi daya Ikan
gurami, ikan Patin dan Lele jumbo.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
324
10.2.4. Sektor Kerajinan dan Rumah Tangga
Di sektor kerajinan dan rumah tangga, Nagari Surantih memiliki beberapa
macam kegiatan yang dapat dibanggakan seperti: pembuatan Biola, Sapu, Tikar,
Pandai Mas, Kambuik dan Kue-kue. Yang teristimewa, kegiatan kerajinan seperti
pembuatan perabot dan konsen. Kegiatan ini berpusat di Koto Nan Tigo.
Pemasaran dari hasil kerajinan ini telah menguasai pangsa pasar ibu kabupaten
dan sampai ke propinsi.
Kegiatan kerajinan lain adalah pembuatan bunga pengantin yang mana
pemasarannya sudah sampai ke Malaysia di samping pengisi pasar Bukit Tinggi. Di
bidang makanan, makanan khas Nagari Surantih disamping sate ayam dan lokan
ada rujak kelapa merupakan ciri khas yang istimewa di Nagari Surantih.

10.2.5. Sektor Pariwisata
Nagari Surantih terkenal dengan laut dan pulau-pulaunya. Umumnya
pantainya memiliki pasir putih yang sejuk dipandang mata merupakan objek utama
potensial nagari di sektor pariwisata demikian juga dengan wisata baharinya.
Wilayah Nagari Surantih dibelah dua oleh batang air Surantih, memiliki air yang
jernih. Semakin ke hulu semakin sejuk dan menawan, sehingga Batang Surantih
dijadikan sebagai tempat pemandian terpanjang, sepanjang tahun dikunjungi oleh
masyarakat apalagi waktu berlimau. Pada tahun 2006 dikembang wisata bahari
dengan memberdayakan objek wisata di Pulau Kiabak. Sekarang telah terdapat
sebuah dermaga yang dapat digunakan bagi wisatawan untuk berlabuh di pulau
tersebut. Bagi wisatawan yang ingin menginap di pulau ini, disediakan 5 buah
bungalau sebagai sarana penginapan.


Gambar 116
Objek Wisata Pulau Kiabak



Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
325
10.2.6. Sektor Ekonomi (Pasar Nagari)
Dengan memanfaatkan tenaga sarjana pengerak pembangunan pedesaan
(SP 3) pemerintah nagari mencoba meningkatkan perekonomian masyarakat,
dengan mendirikan Koperasi Simpan Pinjam yang diberi nama Harapan Baru.
Koperasi ini melayani pedagang kecil, seperti penjual sayur pembuat kue dan
warung kopi, yang sampai saat ini mempunyai anggota aktif sebanyak 52 orang
dengan pinjaman rata-rata Rp 500.000/orang. Jumlah modal adalah Rp 16 Juta
yang kami dapat dari iuran anggota dan donatur lainnya.

A. Sarana dan Prasarana Perekonomian
Pengelolaan pasar nagari saat ini telah diserahkan oleh KAN Surantih
kepada pemerintahan nagari. Maka dari itu pembangunan pasar telah berangsur
membaik mulai dari hal :
1. Pengaspalan Pasar Nagari
2. Pembebasan bangunan yang tidak bermanfaat di Pasar Surantih
Dengan kerja sama yang baik dengan pihak kepolisian, maka pos polisi
diserahkan ke pemerintahan nagari pada tanggal 12 Maret 2005 dan juga kantor
KUD Batu Mandamai telah sepakat untuk diserahkan ke pemerintahan nagari pada
tanggal 11 Mei 2005.
Kedua bangunan tersebut akan direncanakan untuk dibongkar akan
dibangun satu buah terminal mini. Mengingat begitu ramainya pedagang dan
pengunjung di Pasar Surantih agar transportasi lalu lintas dapat berjalan lancar
pada saat hari minggu.











Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
326
KESIMPULAN

“Alam Sati Nagari Surantih” itulah judul buku ini. Bagi pembaca, khususnya
bagi masyarakat Nagari Surantih, tentunya bertanya-tanya kenapa judul buku ini
harus diberi dengan judul tersebut. Kenapa judulnya tidak “Sejarah Asal Usul dan
Adat Istiadat Masyarakat Nagari Surantih” saja. Bagi penulis, judul ini dipilih
berdasarkan alasan yang kuat. Judul ini muncul dari suatu proses penelitian dalam
melihat kepribadian masyarakat Nagari Surantih yang dikaji melalui analisis dari
cerita rakyat (kaba) yang dimiliki dan diceritakan dalam kehidupan masyarakat
Surantih, yaitu Kaba Bujang Jibun dan Gadih Basanai.
Berdasarkan hasil analisis cerita kedua kaba tersebut dengan mengunakan
analisis Strukturalisme Levi-Strauss dalam mengungkap makna yang tersembunyi di
balik cerita mitos. Lahirnya judul tersebut yang didasari dari makna keterkaitan
tokoh dalam kedua cerita dengan kekuatan gaib/magis dalam menghadapi persoalan
yang mereka hadapi. Makna ini kemudian ditafsirkan lagi dengan fenomena
kosmologi lingkungan yang ada di Nagari Surantih.
Dalam kehidupan masyarakat Surantih menyakini beberapa daerah yang
dipercaya memiliki kekuatan tersendiri. Tempat – tempat tersebut dikenal
masyarakat sebagai tampat. Di Nagari Surantih tampat yang sangat dikenal
masyarakat antara lain, Tampat Langgai, Tampat Gunung Rajo, Tampat Gunung
Giriak, Tampat Singguliang, Gunung Malelo dan masih banyak lagi. Jika dilihat
berdasarkan arah mata angin, maka tampat – tampat tersebut tanpa disadari
masyarakat berada di keempat arah mata angin.
Demikian juga dengan ajok sepadan (batas) nagari secara adat
mengibaratkan batas dan letaknya dengan pepatah adat. Di arah barat memiliki batas
dengan laut, di daerah ini berada Tampat Gunung Rajo, dalam adat batas di wilayah
ini dikenal dengan riak nan badabua. Di arah timur batas nagari yang berbatas
dengan wilayah Muaro Labuah, di arah ini berada Tampat Langgai, dalam adat batas
di wilayah ini disebut berbatas dengan Bukit Bujang Juaro. Di arah utara batas
nagari dalam adat dikenal dengan batas Bakau nan babejai, di wilayah ini terdapat
tampat Gunung Malelo dan Batu Singguliang. Sementara di arah selatan batas nagari
dalam adat disebut dengan Pinang nan baririk, di wilayah ini terdapat tampat
Gunung Giriak. Jika dipetakan daerah-daerah tersebut akan membentuk sebuah
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
327
struktur bangun yang akan membentengi dan mengelilingi wilayah Nagari Surantih,
seperti pada gambar berikut ini :

Gunung Malelo
(U)



Gunung Rajo Surantih Langgai
(B) (T)


(S)
Gunung Giriek

Gambar
Struktur Bangun Kosmologi Nagari Surantih

Jika dilihat berdasarkan ekologis Nagari Surantih, Langgai dan Gunung Rajo
yang berada di arah timur dan barat melambangkan unsur air. Hal ini dikarenakan
Langgai sebagai daerah yang paling timur merupakan Hulu dari Sungai Batang
Surantih yang mengalir membelah wilayah Surantih hingga ke muara dan menjadi
sumber mata air dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan Gunung Rajo menjadi
simbol batas wilayah Surantih dengan laut. Sementara itu Gunung Giriek dan Malelo
yang berada di arah selatan dan utara lebih melambangkan unsur batu dan tanah.
Gambaran yang kita lihat memberikan gambaran bahwa sesungguhnya kekuatan
gaib yang ada pada tampat-tampat yang mengelilingi wilayah ini memberi pengaruh
terhadap kehidupan yang ada dalam wilayah Surantih.
Berkaitan dengan pengaruh yang diberikan oleh tampat-tampat tersebut
dalam kehidupan masyarakat Surantih telah diuraikan dan dapat dibaca pada Bab VII
keadaan lingkungan sosial budaya Nagari Surantih. Berdasarkan alasan-alasan inilah
lahirlah judul bukul ini. Judul “Alam Sati Nagari Surantih” ini merupakan gambaran
dari lingkungan dan kehidupan yang ada di Nagari Surantih. Masih banyak
fenomena-fenomena dan realita yang mengambarkan satinya alam Surantih dapat
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
328
diangkat dalam tulisan ini. Untuk mengungkap dan dapat memberikan gambaran
tersebut, masih diperlukan penelitian dan penelusuran yang lebih mendalam lagi.
Dilihat dari kacamata ilmu yang penulis tekuni, masih banyak fenomena dan
realita, baik alam maupun sosial budaya yang dapat dikaji dijadikan sebagai bahan
penelitian. Namun sayang, sejauh ini penulis belum dapat melihat ketertarikan dan
keinginan ke arah sana, baik dari penduduk asli maupun dari luar.
Melalui tulisan ini penulis berharap dokumentasi realitas dan fenomena
kehidupan masyarakat Surantih yang terekam dalam tulisan ini, dapat bermanfaat
bagi generasi yang hidup di masa depan. Meskipun yang terangkum dalam tulisan ini
telah membahas beberapa aspek dari kehidupan masyarakat Surantih. Namun masih
terdapat kekurangan-kekurangan yang dapat diperbaiki dan disempurnakan. Tulisan
ini dapat dijadikan pemerintah sebagai data base dalam melahirkan kebijakan-
kebijakan pembangunan yang dapat membawa angin perubahan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat nagari.


















Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
329
Daftar Pustaka

Ahimsa Putra, Heddy Shri. 2001. Strukturalisme Levi-Strauss: Mitos dan
Karya Sastra. Yogyakarta. Galang Press

A.A. Nafis.2001. Cerita Rakyat Dari Sumatera Barat. Jakarta. Grasindo.

Anas Nafis. 2004. Animisme di Minangkabau. Padang. Pusat
Pengkajian dan Minangkabau (PPIM) Sumatera Barat.

Arifin, Zainal. 1999. Konsep Kebudayaan, Jurnal Antropologi Th II. No 3.
Padang. Laboratorium Antropologi “Mentawai” FISIP-UNAND.

Azra, Azyumardi. 2003. Surau- Pendidikan Islam Tradisional dan
Moderenisasi. Jakarta. Logos

Barthes, Roland. 2003. Mitologi. Jakarta. Dian Aksara Press.

Basri, Japri. 1988. Pola Perilaku Golongan Sub Etnik Gayo dan Mitos
Asal Mula Mereka. Dalam Mitos, Kewibawaan Dan Perilaku
Budaya. Jakarta. Pustaka Grafika.

Benedict, Ruth. 1966. Pola-Pola Kebudayaan. Jakarta. Dian Rakyat.

Bican., Kosasih, A. DKK. 1976. Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumatera
Barat. Jakarta. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan –
Direktoral Jenderal Kebudayaan. Dep. Pendidikan
Kebudayaan.

Bleicher, Josef. 2003. Hermeneutika Kontemporer – Hermeneutika
Sebagai Metode, Filsafat, dan Kritik. Diterjemahkan oleh
Ahmad Norma Permata. Pustaka Baru.

Bohannan, Paul and Glazer, Mark. 1998. High Point In Antropology. New
York. Alfred A. Knopf.

Damis, Mahyudin. 1999. Makna Mitos Toar-Lumimuut Pada Orang
Minahasa. Jurnal Antropologi Th I. No 2. Padang. Laboratorium
Antropologi “Mentawai” FISIP-UNAND.

_______________. 1984. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan
lain-lain. Jakarta. Pt. Grafiti Pers.

Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
330
Datoek Batoeah. Tambo Minangkabau. Payakumbuh. Pertjetakan Limbago.

Datoek Sanggoeno Dirajo. 1953. Curaian Adat Alam Minangkabau.
Bukittinggi. Pustaka Indonesia.

Djakfar, Idris Depati Agung dan Idris, Indra. 1993. “Hukum Waris Adat
Kerinci”. Sungai Penuh. Pustaka Anda

Fahlen, Riri. 2004. Lareh Nan Panjang. Dalam Buletin Antropologi
Antroactive edisi III/Tahun IV / April 2004. Padang. Ikatan
Kekerabatan Antropologi Universitas Andalas. (hlm 6-7)

Freud, Sigmund. 2001. Psikoanalisis. Diterjemahkan oleh Ira Puspitorini.
Yogyakarta. Ikon.

_____________. 2001. Totem dan Tabu. Yogyakarta. Grafika.

_____________. 2002. Musa dan Monoteisme. Diterjemahkan oleh Burhan
Ali. Yogyakarta. Jendela.

_____________. 2002. Peradaban dan Kekecewaan. Diterjemahkan oleh .
Yogyakarta. Jendela.

Efendi, Firdaus. 2003. “Spirit Golkar Baru”. Jakarta. Nuansa Madani.

Efendi, Firdaus dan Seefuddin. 2003. “Mendambakan Indonesia Bebas
Konflik”. Jakarta. CV Mus

Gie, The Liang. 1995. “Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara
Republik Indonesia”. Yogyakarta. Liberty.

Handayani. 1999. “Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Kota
Painan”. Padang. Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan
Sosial IKIP Padang

Hamka. 2002. Di Bawah Lindungan Ka’bah. Jakarta. Bulan Bintang.

______. 2004. Tengelamnya Kapal Van Der Wijck. Jakarta. Bulan Bintang

Hagul, Peter. 1992. “Pembangunan Desa dan Lembaga Swadaya
Masyarakat”. Jakarta. Rajawali Press.

Hasan Hasmurdi. 2004. Sungai Pagu Muaro Labuh. Dalam Majalah Forum
Lintas Rantau No: 12 Tahun IV/2004


Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
331

Howard, Roy J. 2000. Hermeneutika: Wacana Analitis, Psikososial dan
Ontologis. Editor Ninuk Kleden-Probonegoro. Jakarta. Nuansa.

Idrus Hakimy DT. Rajo Penghulu. 2004. Rangkaian Mustika Adat Basandi
Syarak Di Minangkabau. Bandung. Remaja Rosda Karya

___________________________. 1976. Peganggan Penghulu di
Minangkabau. Padang. LKAAM Sumatera Barat.
Ismail Gade, Muhammad. 1994. “Tantangan dan RongronganTerhadap
Keutuhan dan Kesatuan Bangsa” (Kasus Darul Islam di
Aceh). Jakarta. Dwi Jaya Karya

Ismail, Taufik. 1993. “Tirani dan Benteng”. Jakarta. Yayasan Ananda.

Junus, Umar. 1984. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau- Suatu
Problema Sosiologi Sastra. Jakarta. Balai Pustaka.

___________. 1999. “Kebudayaan Minangkabau”. Dalam Koentjaraningrat
(edisi) Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta.
Djambatan.

Kaplan, David dan Manners, Albert A. 2000. Teori Budaya. Yogyakarta.
Pustaka Pelajar.

Kemal, Iskandar 1971, “Beberapa Studi Tentang Minangkabau” Padang
Fakultas Hukum Universitas Andalas.

Rusydi, 1983. “Pribadi dan Martabat Buya Prof. DR. Hamka”. Jakarta.
Pustaka Panjang

Kiram, Abdul. 2003. Raja-Raja Minangkabau- Dalam Lintasan Sejarah.
Padang. Meseum Aditiyawarman Padang berkerja sama
dengan Masyarakat Sejarahwan Indonesia (MSI) Cabang
Sumatera Barat.

K. Raharjo, Iman Toto dan WK, Herianto. 2001. “Bung Karno dan Partai
Politik”. Jakarta. Wana Priting.

Koentjaraningrat. 1990. Sejarah Teori Antropologi, Jilid II. Jakarta. UI-
Press.

______________. 2002. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan.
Jakarta. Gramedia.

Lahajir. 2001. Etnoekologi Perladangan Orang Dayak-Tunjung Linggang
(Etnografi Lingkungan di Daratan Tinggi Tunjung) Yogyakarta.
Galang Press.
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
332
Leackey, Richard. 2003. Asal Usul Manusia. Jakarta. KPG.

Levi-Strauss, Claude. 1963. Struktural Antropology. New York. Basic
Book.

_________________. 1997. Mitos, Dukun dan Sihir. Pengantar Oleh Agus
Cremers dan John de Santo. Yogayakarta. Kanisius.

LKAAM Sumatera Barat. 2000. “Bungai Rampai Pengetahuan Adat
Minangkabau” Padang. Yayasan Sako Batuah.

Marsalis DT. ST. Mamat Puti Lenggogeni. 1980. Susunan Adatnya Alam
Surambi Sungai pagu Iku Lareh Kapak Radai Luhak Nan
Tigo. Pasir Talang. Tidak Dipublikasikan.

Minsarwati, Wisnu. 2002. Mitos Merapi dan Kearifan Ekologi-Menguak
Bahasa Mitos dalam Kehidupan Masyarakat Jawa
Pengunungan. Yogyakarta. AK Group.

Moleong, Lexy J. 1994. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. Remaja
Rosda Karya.
MS. Amir. 2001. Adat Minangkabau. Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang.
PT. Mutiara Sumber Widya.

Muhadjir, Noeng. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi IV.
Yogyakarta. Rake Sarasin.

Musnamar, Tohari. 2003. “Jalan Lurus Menuju Ma’rifatullah”. Yogyakarta.
Mitra Pustaka.

MZ. Labib. dan Maftuhahnan. “Kuliah Ma’rifat”. Jakarta. Bintang Pelajar.

Nasution, S. 1990. Metode Penelitian Naturalistik. Bandung Tarsito.
Osborn, Reuben. 2005. Marxisme dan Psikonalisis. Yogyakarta. Alenia.
Paz, Octavio. 1995. Levi – Strauss “Empu Antropologi Struktural”.
Yogyakarta. LKIS.
Pelly, Usman. 1994. Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi Budaya
Minangkabau. Jakarta. LP3ES.

Pemangku Adat. 1991. “Titian Hidup”. Sungai Penuh. (Tidak
Dipublikasikan)
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
333
Pemerintah Tk. II Kab. Pesisir Selatan. 2006. “Sistem Jaringan dokumentasi
dan Informasi Hukum” Painan. Bagian Hukum Sekretaris
daerah.

Pemerintah Nagari Surantih, 1979. “Monografi Nagari Surantih”. Diterbitkan
Pemerintah Nagari Surantih

Qadri Depati Intan. 1995. ”Hukum Adat Sakti Alam Kerinci”. Sungai
Penuh. (Tidak Dipublikasikan).

Rusli, Amran. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta. Sinar
Harapan

Sakai, Gus tf. 2000. Tambo (Sebuah Pertemuan). Jakarta. Grasindo.

Salim, A. 1962. “Tauhid Taqdir dan Tawakkal”. Djakarta. Gita Karya

Salim, Ampera dan Zulkifli. 2004. Minangkabau Dalam Catatan Sejarah
Yang Tercecer. Padang. Citra Budaya.

Suryadi. 2004. Syair Sunur-Teks dan Konteks ‘Otobiografi’ Seorang Ulama
Minangkabau Abad-19. Padang. Citra Budaya berkerja sama
dengan PDIKM Padang Panjang.

Spradley, James. P. Metode Etnografi. Yogyakarta. Tiara Wacana Yogya.

St. Rajo Endah. 1962. Kaba Klasik Minangkabau Hang Tuah.. Bukittnggi.
Pustaka Indonesia.

Sungeng. 1999. “Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap”.Semarang.
Aneka Ilmu.

Syahdan, Gouzali. 2005. Kamus Bahasa Minangkabau. Padang. PPIKM.

Van Baal, J. 1988. Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya
(Hingga Dekade 1970) Jilid 2. Jakarta. Gramedia.

Van Wouden, F.A.E. 1985. Klen, Mitos Dan Kekuasaan Struktur Sosial
Indonesia Bagian Timur. Jakarta. Grafiti.

Yakin, Rasyid Depati Kerinci. 1986. “Menggali Adat Lama Pusaka Usang
di Sakti Alam Kerinci”. Sungai penuh. (Tidak Publikasikan).

Yunus, Yulizal. 2004. “Pesisir Selatan dalam Dasawarsa” 1995 – 2005.
Padang – Painan. Pemkab. Pesisir Selatan – IAIN-IB Press.

Yusuf, Agus. 2002. “Sejarah Nagari Teratak” Taratak. Yayasan sakato (Tidak
Dipublikasikan)
Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat Dan Monografi Nagari Surantih)
334
Riwayat Hidup
Almasri Syamsi.

Lahir 10 MEI 1965 di Pasar Surantih, Kaum Sikumbang. Nagari Surantih Pesisir Selatan.
Meniti jenjang pendidikan pertama di SD No. 3 Pasar Surantih dan dilanjutkan ke SMP Nagari
Surantih. Setelah menamatkan pendidikan SD dan SMP di kampung halaman, merantau ke
Padang melanjutkan pendidikan di SMA Adabiah Padang. Anak pertama dari pasangan
Syamsi Poto dan Asma dari lima bersaudara
Selepas menamatkan pendidikan SMAnya mengambil keputusan untuk langsung terjun menghadapi kerasnya
biduk kehidupan, bermacam tantangan dan cobaan dilalui dengan iklas sehingga bermacam pengalaman hidup
dialami. Berbagai keahlian dan usaha ditekuni demi mencari pengalaman dan mengasah kemampuan yang
dimiliki. Menulis adalah kebiasaan yang tidak pernah hilang semenjak tamat SMA hingga sekarang. Di tengah
kesibukan yang dijalani kebiasaan ini tetap dijalankan. Berbekal kemampuan dan pengalaman yang dimiliki, usaha
wiraswasta yang ditekuni berhasil dijalankan dengan sukses. Di tengah kesibukan sebagai wiraswasta, kegiatan
sosial dan organisasi tidak luput dari aktivitas kehidupannya. Berbagai organisasi kepemudaan serius dijalani
hingga menjadi pengurus Partai Golongan karya (1999) dan dipercaya sebagai wakil ketua Golongan Karya
Kecamatan Sutera.
Pada masa terjadinya reformasi yang juga diikuti oleh perubahan sistem pemerintahan yang ditandai
dengan dimulainya masa otonomi daerah. Di Sumatera Barat disambut dengan merubah sistem pemerintahan
terkecil dari desa kembali ke sistem hidup banagari. Kecintaan pada nagari dan panggilan hati nuraninya ikut
mendorongnya untuk terlibat langsung membantu terlaksananya proses kembali hidup banagari di Nagari
Surantih. Bersama tokoh-tokoh masyarakat di Nagari Surantih dijalin kerja sama untuk mewujudkan cita-cita
tersebut. Pada Oktober 2001 dipercaya dan diberi tanggung jawab sebagai Pejabat Sementara Wali Nagari
Surantih. Tugas ini diemban dengan penuh rasa tanggung jawab yang tinggi dan tulus iklas. Dengan dedikasi
tinggi yang dijalankan dalam masa jabatan sebagai Pejabat Sementara Wali Nagari Surantih. Pada tanggal 16
Desember 2002, dalam pemilhan umum Wali Nagari Surantih yang defenitif secara langsung masyarakat Surantih.
Jabatan Wali Nagari Surantih masa jabatan 2002 – 2007 kembali dipercayakan pada suami Lina Kartina Nasir
(kaum Kampai Dusun Mansiang) yang telah dikarunia tiga orang putera-puteri : Fajar Adil Oka Masri, Wangsa
Guna Teguh Deiman dan Afrivo Melati Alina.


Riri Fahlen

Lahir 24 Mei 1980 di Salimpaung, Kecamatan Salimpaung Kabupaten Tanah Datar.
Meski putera pertama dari pasangan Darussalam (almarhum) dan Zulfah lahir dan
dibesarkan di Salimpaung, namun ia tidak lupa akan nagari asalnya Jaho Kecamatan X
Koto Kabupaten Tanah Datar. Jenjang pendidikan pertama yang ditempuh adalah
pendidikan dasar yang dijalani di SD No. 4 Nagari Salimpaung (1987-1993). Untuk
mencapai cita-cita yang diimpikannya, pada jenjang pendidikan menengah pertama
dilanjutkannya di ibu kabupaten kota Batusangkar, di SMP 1 Batusangkar (1993-1996).
Pendidikan Sekolah Menengah Atas dijalani di SMA I Batusangkar (1996-1999). Setelah
menamatkan pendidikan SMA, jenjang pendidikan S1 dilanjutkan dengan memilih
Jurusan Antropologi di Fakultas Sosial Ilmu Politik Universitas Andalas Padang (1999-2006). Pada tahun pertama
kuliah aktif dalam kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Andalas. Pada tahun kedua, karena alasan
tertentu menarik diri dari kegiatan tersebut dan memilih lebih memfokuskan diri pada bangku perkuliahan. Pada
tahun kedua ini juga mulai aktif terjun ke lapangan melakukan penelitian lapangan antropologi. Semasa aktif
dibangku perkuliahan, sering dilibatkan dalam kegiatan penelitian-penelitian ilmiah, antara lain : sebagai Asisten
peneliti dalam penelitian silat dan pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat Minangkabau (kajian Antropologi
Visual), sebagai peneliti dalam penelitian tentang “Persepsi Setempat dan Pihak Luar tentang perubahan
ekosistem danau” (kasus menurunnya populasi ikan dan dampak terhadap ekonomi masyarakat di sekitar Danau
Singkarak Sumatera Barat), peneliti lapangan dalam penelitian tentang “Ethnopreneuership” Kajian jaringan bisnis
etnis, karakteristik dan pemilikan usaha dari para migran di Perkotaan Indonesia, lokasi penelitian Kota Padang
dan Jambi. Pernah juga terlibat dalam kegiatan Lembaga Survei Indonesia sebagai surveyor lapangan di Pulau
Bintan Kepulauan Riau dan Sarolagun (Jambi). Sebagai peneliti dalam penelitian “Kaba Bujang Jibun dan Gadih
Basanai (dalam analisis Strukturalisme Levi-Strauss) di Nagari Surantih Kabupaten Pesisir Selatan. Semenjak
tahun 2003 melakukan penelitian tentang sejarah asal usul, adat istiadat dan kehidupan masyarakat Nagari
Surantih. Pada tahun 2005 kegiatan ini berhasil dikerjakan dengan melahirkan sebuah Laporan yang berjudul
“Alam Sati Nagari Surantih” (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat dan Monografi masyarakat Nagari Surantih). Pada
tahun 2006 berkerja sama dengan Wali Nagari Surantih, merevisi kembali laporan penelitian tersebut untuk
diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul yang sama. Dalam waktu luangnya sering melakukan kegiatan
traveling dan meneliti tentang sejarah Minangkabau dan rantaunya serta naskah-naskah kuno.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful