Anda di halaman 1dari 4

DESTILASI BIASA

I.

Maksud Dan Tujuan

Sesuai dengan percobaan kali ini menetukan hasil destilasi crude oil yang berdasarkan dengan perubahan titik didihnya, yang dimana bertujuan juga untuk melihat hasil destilasi crude oil.

II.

Teori Dasar Destilasi biasa adalah alat yang digunakan untuk melakukan suatu pemisahan berdasarkan titik didhnya yang dimana alat tersebut masih terbentuk sederhana tanpa adanya alat stirer atau pengaduknya. Destilasi biasa terdiri dari labu didih, heating mantel, termometer, corong pemisah, dan kondensator. Berikut ini penjelasan perbagian dari alat destilasi biasa : Heating mantel Alat ini berbentuk silindris yang dimana di dalamnya terdapat kain mantel untuk dudukan dari berdirinya labu didih, yang dimana heating mantel disambung dengan sumber listrik, sehingga energi panas yang dihasilkan heating mantel berasal dari listrik, dan heating mantel ini memiliki indikator ketingkatan panas berdasarkan levelnya, dari level 1sampai level 3. Labu didih Alat ini terbentuk dari bahan kaca yang tipis berbentuk bulat, dan memiliki fungsi sebagai wadah fluida untuk dipanaskan. Dan labu didih ini memiliki tingkatan panas yang tertentu, sehingga apabila panas terlalu tinggi maka membuat labu ini pecah. Termometer Aalt yang digunakan untuk mengukur temperatur fluida yang akan didestilasi, biasanya dalam derajat celcius ataupun fahrenheit, disesuaikan dengan hasil data yang diinginkan.

Corong pemisah Alat yang berbentuk mengerucut dipasang pada bibir labu didih yang dipasang pada penutup labu didih, biasanya termometer juga dipasang pada penutup labu didih. Alat ini memiliki fungsi untuk memudahkan memasukkan fluida tambahan ke dalam labu didih pada saat proses pemanasan, agar dalam labu didih fluida tidak mengalami pengeringan. Kondensator Alat yang berbentuk tabung dimana di dalamnya terdapat kaca berbentuk spiral berfungsi untuk mendinginkan uap yang panas hasil pendidihan dari labu didih, sehingga menghasilkan hasil ekstrak dari pemurnian fluida tesebut. Alat ini merupakan elemen penting dalam proses destilasi.

III.

Cara Kerja Proses pendestilasian crude oil dengan menggunakan alat destilasi biasa, terdiri dari beberapa cara kerja, sebagai berikut : 1. Buka alat destilasi perbagian yang akan digunakan, bersihkan dengan air dan bilas dengan alkohol bertujuan untuk mengurangi adanya kandungan air di dalam alat pada proses pembersihan 2. Setelah alat bersih pasang labu didih pada heating mantel yang dimana sebelumnya fluida dimasukkan ke dalam labu didih dan diukur dengan gelas ukur, sehingga menghasilkan volume yang spesifik pada sampel tersebut, maksimum volume yang dapat dimasukkan ke dalam labu didih sebesar 1000ml. 3. Setelah itu tutup bibir labu didih dan pasang corong pemisah serta termometer, kemudian sambungkan labu didih ke dalam kondensator. 4. Injeksikan selang air ke dalam kondensator yang airnya berasal dari kran. Setelah semua terpasang secara baik, siapkan wadah untuk tempat hasil dari ekstrak larutan tersebut. 5. Sambungkan heating mantel ke dalam saklar listrik, dan didihkan labu didh tersebut, setelah itu amati percobaan tersebut.

IV.

Hasil Pengamatan Sesuai dengan percobaan yang dilakukan pada tanggal 20/03/2012 dan 21/03/ 2012 didapatkan hasil sebagai berikut : Crude Oil dengan SG 0,86

VOLUME EKSTRAK (ml) 5 10 0 0 0 0 0 Crude Oil dengan SG 0,92 VOLUME EKSTRAK (ml) 0 0 0 0 0 0 0

TEMPERATURE (Celcius) 65 80 60 50 40 35 30

TEMPERATURE (Celcius) 30 35 35 30 30 30 30

V.

Pembahasan Dari percobaan destilasi kali ini dapat dilihat dari hasil pengamatan bahwa crude oil dengan sg 0,86 menghasilkan hasil ekstrak dengan volume mencapai 5 ml dan 10 ml, yang dimana pada temperature 65 derajat celcius, dan 80 derajat celcius, akan tetapi setelah suhu tesebut penutup pada labu didih mengalami kompress dan tekanan sehingga menyebabkan penutup lepas dan crude oil mengalami blow out dari labu didih, dan begitu juga pada minyak dengan sg 0,92 walaupun dengan suhu yang diturunkan sampai 30 derajat celcius tetap mengalami blow out pada temperature 35 derajat celcius. Ini mungkin disebabkan karena panas pada labu didih tidak mengalami konveksi atau perputaran, dan pada labu didih mengandung gas yang tinggi sehingga tekanan pada labu didih besar, dan menyebabkan penutup pada labu didih terlepas.

VI.

Kesimpulan Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa : 1. Proses produksi crude oil menjadi bahan bakar minyak menggunakan proses destilasi baik destilasi biasa atau bertingkat 2. Temperatur, dan densitas mempengaruhi dari porses penghasilan ekstrak 3. Perputaran panas pada labu didih penting diperhatikan agar panas yang dihasilkan tidak terlalu besar, dan menyebabkan lepasnya penahan pada labu didih

VII.

Saran Proses destilasi biasa harus dibarengi dengan proses pengadukan dengan menggunakan alat stirrer sehingga proses pemanasan di dalam labu didih tidak terlalu besar dan memiliki arus memutar, sehingga tekanan tidak memaksa dan menekan untuk keluar dari labu didih.