Anda di halaman 1dari 6

Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan

bakteri. Bakteri merupakan organisme mikroskopis yang mempunyai ciri-ciri : tubuh uniseluler, tidak berklorofil, bereproduksi dengan membelah diri, habitatnya dimana-mana (tanah, air, udara, dan makhluk hidup), dan aktif bergerak pada kondisi lembab. Beberapa bentuk bakteri yaitu basil, kokus, dan spirilum. Bentuk-bentuk tersebut dapat menunjukkan karakteristik spesies bakteri, tetapi bergantung pada kondisi pertumbuhannya. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium, dan bakteri. Bakteri bersifat transparan dan berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Salah satu cara untuk mengetahui struktur, morfologi, dan sifat kimia bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Zat warna yang biasa dijadikan untuk mengecat bakteri adalah methylene blue, basic fuchsin, dan crystal violet. Zat warna ini menghasilkan warna (chromophore) yang bermuatan positif sehingga bakteri yang bermuatan negatif menarik chromophore kationik. Prinsip dasar dari pewarnaan ini adalah adanya ikatan ion antara komponen selular dari bakteri dengan senyawa aktif dari pewarna yang disebut kromogen. Terjadi ikatan ion karena adanya muatan listrik baik pada komponen seluler maupun pada pewarna. Berdasarkan adanya muatan ini maka dapat dibedakan pewarna asam dan pewarna basa. Dalam kondisi pH mendekati netral dinding sel bakteri cenderung bermuatan negatif, sehingga pewarna asam yang bermuatan negatif akan ditolak oleh dinding sel, maka sel tidak berwarna. Pewarna asam ini disebut pewarna negatif. Contoh pewarna asam misalnya : tinta cina, larutan Nigrosin, asam pikrat, eosin dan lain-lain. Pewarnaan basa bisa terjadi pada senyawa pewarna bersifat positif, sehingga akan diikat oleh dinding sel bakteri dan sel bakteri jadi terwarna dan terlihat. Contoh dari pewarna basa misalnya methylene blue, kristal violet, safranin dan lain-lain. Beberapa pengecatan yang kita kenal ialah pengecatan tunggal atau sederhana dan pengecatan majemuk. Pengecatan tunggal ialah pengecatan yang hanya digunakan satu macam zat warna saja, misalnya fuchsin, crystal violet atau methylene blue. Sementara itu, pengecatan majemuk ialah pengecatan yang menggunakan lebih dari satu macam zat warna. Dalam pengecatan majemuk kita kenal pengecatan Gram, ZiehlNielsen, klein, Burn Gins, dll. Pengecatan tunggal hanya bertujuan untuk melihat bentuk sel, sedangkan pengecatan majemuk dapat membedakan karakteristik suatu morfologi tertentu. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif). Sebelum melakukan pengecatan bakteri, dibuat dahulu film di atas gelas objek dari suspensi bakteri. Tujuan pembuatan film adalah mematikan sel bakteri dengan cepat tanpa merusak morfologinya dan melekatkan sel bakteri ke permukaan gelas objek. Perlunya mengetahui morfologi dan pewarnaannya adalah agar bakteri dapat digunakan sesuai sifat dan fungsinya dalam berbagai kebutuhan terlebih dalam pangan http://fadlx.blogspot.com/2012/03/morfologi-dan-pewarnaan-bakteri.html ml.scribd.com/doc/92082693/Bab-IV-Pembahasan-Morfologi-Bakteri

Struktur dan komposisi flagel bakteri berbeda dengan flagel eukaroita. Atansemen dan jumlah flagel bervariasi pada setiap jenis bakteri. Flagel dapat dijumpai di kutub sel atau disepanjang permukaan sel. Pada dasarnya struktur flagel pada bakteri adalah sama, kecuali pada spirochaeta. Jumlah dan letak flagel bervariasi. Bakteri pseudomonas Sp. mempunyai satu flagel yang terletak di ujung (kutub) sel yang disebut monotrikus. Bakteri spirilum Sp. mempunyai 2 flagel yang terletak dikedua ujung (kutub) yang disebut amfitrik. Bakteri spirilum Sp. juga dapat mempunyai banyak flagel yang terletak di ujung (kutub) sel yang disebut lofotrikus. Bakteri E.Coli dan proteus Sp. mempunyai flagel disekujur tubuh selnya yang disebut peritrikus (Albert, 1994). Bacillus subtilis merupakan bakteri Gram-positif yang berbentuk batang, dan secara alami sering ditemukan di tanah dan vegetasi. Bacillus subtilis tumbuh di berbagai mesophilic suhu berkisar 25-35 derajat Celsius. Bacillus subtilis juga telah berevolusi sehingga dapat hidup walaupun di bawah kondisi keras dan lebih cepat mendapatkan perlindungan terhadap stres situasi seperti kondisi pH rendah (asam), bersifat alkali, osmosa, atau kondisi oksidatif, dan panas atau etanol. Bakteri ini hanya memiliki satu molekul DNA yang berisi seperangkat set kromosom. Beberapa keunggulan dari bakteri ini adalah mampu mensekresikan antibiotik dalam jumlah besar ke luar dari sel. Sedangkan Escherichia coli termasuk dalam familiEnterobacteraceae yang termasuk Gram negatif dan berbentuk batang yang fermentatif. E. coli hidup dalam jumlah besar di dalam usus manusia, yaitu membantu sistem pencernaan manusia dan melindunginya dari bakteri patogen. Akan tetapi pada noda baru dari E. coli merupakan patogen berbahaya yang menyebabkan penyakit diare dan sindrom diare lanjutan serta hemolitik uremik. Peranan yang mengguntungkan adalah dapat dijadikan percobaan limbah di air, indikator pada level pencemaran air serta mendeteksi patogen pada feses manusia yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Endospore adalah organisme yang dibentuk dalam kondisi yang stres karena kurang nutrisi, yang memiliki kemungkinan untuk tetap berlanjut di lingkungan sampai kondisi menjadi baik (Fajriana, 2008). Bakteri bersifat transparan dan berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Salah satu cara untuk mengetahui struktur, morfologi, dan sifat kimia bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Zat warna yang biasa dijadikan untuk mengecat bakteri adalah methylene blue, basic fuchsin,dan crystal violet. Zat warna ini menghasilkan in warna (chromophore) yang bermuatan positif sehingga bakteri yang bermuatan negatif menarik chromophore kationik (Feitriani, 2008). Sel bakteri dapat teramati dengan jelas jika digunakan mikroskop dengan perbesaran 100x10 yang ditambah minyak imersi. Jika dibuat preparat ulas tanpa pewarnaan, sel bakteri sulit terlihat. Pewarnaan bertujuan untuk memperjelas sel bakteri dengan menempelkan zat warna ke permukaan sel bakteri. Zat warna dapat mengabsorbsi dan membiaskan cahaya, sehingga kontras sel bakteri dengan sekelilingnya ditingkatkan. Zat warna yang digunakan bersifat asam atau basa. Pada zat warna basa, bagian yang

berperan dalam memberikan warna disebut kromofor dan mempunyai muatan positif. Sebaliknya pada zat warna asam bagian yang berperan memberikan zat warna memiliki muatan negatif. Zat warna basa lebih banyak digunakan karena muatan negatif banyak banyak ditemukan pada permukaan sel. Contoh zat warna asam antara lain Crystal Violet, Methylene Blue, Safranin, Base Fuchsin, Malachite Green dll. Sedangkan zat warna basa antara lain Eosin, Congo Red dll (Anonim a, 2011). Pewarnaan sederhana menggunakan satu macam zat warna (biru metilen atau air fukhsin) tujuan hanya untuk melihat bentuk sel. Pewarnaan sederhana, merupakan pewarna yang paling umum digunakan. Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana, yaitu mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif) (Anonimb, 2011). Pada pewarnaan negatif merupakan suatu pewarnaan yang bukan untuk mewarnai bakteri, tetapi digunakan untuk mewarnai latar belakangnya menjadi hitam gelap. Metode ini meliputi pencampuran mikroorganisme di dalam setetes tinta India atau nigrosin lalu menyebarkannya di atas sebuah kaca obyek yang bersih. Teknik ini berguna untuk menentukan morfologi dan ukuran sel (Hadioetomo, 1993). Berdasarkan sifatnya, zat warna dibedakan atas zat warna asam yang merupakan garam-garam dari asam-asam pembawa warna dengan radikel basa yang tidak berwarna. Misalnya adalah acid fuchsin, eosin dan sebagainya. Yang kedua zat warna basa yang merupakan garam-garam dari basa-basa pembawa warna dengan radikel asam yang tidak berwarna. Misalnya adalah hematoxilyn, basic fuchin dan sebagainya (Suntoro, 1983). Pewarnaan gram merupakan salah satu prosedur yang amat penting dan paling banyak digunakan dalam klasifikasi bakteri. Dengan metode ini, bakteri dapat dipisahkan secara umum menjadi dua kelompok besar, yaitu organisme yang dapat menahan kompleks pewarna primer ungu Kristal iodium sampai pada akhir prosedur (gram positif) dan organisme yang kehilangan kompleks warna ungu kristal pada waktu pembilasan dengan alkohol namun kemudian terwarnai oleh pewarna tandingan (Gram negatif). Dengan demikian masing-masing mempunyai kegunaan yang berbeda (Hadioetomo, 1990). Jika teknik pewarnaan tepat, Gram positif bakteri akan tampak ungu dan Gram negatif bakteri akan merah muda. Jika spesies gram terlalu pucat untuk dilihat maka disesuaikan dengan diafragma, kemudian dapat melakukan pewarnaan kedua tetapi berhenti setelah dicuci dengan air iodine. Pada bakteri gram warna ungu lebih mudah untuk mengamati. Untuk motilitas pengamatan segar akan menghasilkan jumlah bakteri yang sama dalam setetes air bawah coverslip (tidak panas, tidak ada noda) (Koning, 1994). Langkah dekolorisasi merupakan salah satu proses penting yang sebagian besar sumber noda inkonsistensi gram. Hal ini dimungkinkan karena terlalu lama meninggalkan alkohol dan mendapatkan sel Gram-positif dengan warna merah. Hal ini juga dimungkinkan karena dekolorisasi yang menghasilkan sel Gram-negatif dengan warna ungu. Situasi ini

terjadi karena adanya perubahan reaksi gram untuk organisme yang bernoda. Sebaliknya, mereka adalah salah satu hasil karena teknik yang buruk pada bagian pewarnaan Gram (Bayona, 2008). Secara garis besar berdasar pengecatan gram, bakteri dikelompokkan menjadi 2, yaitu Gram positif dan Gram negatif. Bakteri Gram positif adalah bakteri yang mempertahankan zat warna gram A yang mengandung kistal violet, sewaktu proses pewarnaan gram. Bakteri jenis ini akan berwarna ungu di bawah mikroskop, sedangkan bakteri Gram negatif akan berwarna merah atau merah muda, karena warna ungu dapat dilunturkan kemudian mengikat cat gram D sebagai warna kontras. Perbedaan klasifikasi antara kedua jenis bakteri ini terutama didasarkan pada perbedaan struktur dinding sel bakteri. Pada bakteri Gram positif susunan lebih sederhana terdiri atas 2 lapis namun memiliki lapisan peptidoglikan yang tebal sementara pada dinding sel bakteri lebih kompleks terdiri atas 3 lapis namun lapisan peptidoglikan tipis (Juliantina, 2007). Pada pewarnaan tahan asam yang umum digunakan pada masa kini merupakan hasil perbaikan teknik Ehrlich yang asli, yaitu pewarnaan Ziehl-Neelsen. Prosedur ini menggunakan pewarna utama dengan pemanasan dan biru metilena Loeffler sebagai pewarna tandingan. Pada modifikasi teknik ini yang berkembang kemudian, perlakuan panas diganti dengan penggunaan pembasah untuk menjamin penetrasi, pewarna yang mengandung bahan pembasah ini disebut pewarna kinyoun (Hadioetomo, 1993). Dinding sel bakteri Gram positif berbeda dari bakteri Gram negatif. Pada bakteri Gram positif menyusut oleh perlakuan alkohol karena terjadinya dehidrasi, menyebabkan pori-pori dinidng sel menutup sehingga mencegah larutnya kompleks ungu kristal iodium pada langkah pemucatan. Gram negatif mempunyai kandungan lipid yang lebih tinggi pada dinding selnya dan lipid pada umunya larut dalam alkohol dan aseton. Larutnya lipid oleh pemucatan yang digunakan dalam pewarnaan gram diduga memperbesar pori-pori dinding sel dan inilah yang menyebabkan proses pemucatan pada sel-sel gram negatif berlangsung lebih cepat (Purwoko, 2007).

BAB IV PEMBAHASAN Pertumbuhan mikroba pada umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroba. Hal ini dikarenakan, mikroba selain menyediakan nutrient yang sesuai untuk kultivasinya, juga diperlukan faktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan optimumnya Beberapa golongan sangat tahan terhadap perubahan lingkungan, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Adapula golongan mikroba yang sama sekali peka terhadap perubahan lingkungan sehingga tidak dapat menyesuaikan diri. Faktor lingkungan sangat penting artinya di dalam usaha mengendalikan kegiatan mikroba baik untuk kepentingan proses

ataupun pengendalian. Mikroba memerlukan kondisi lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhannya. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba dapat berupa faktor abiotik (fisikawi maupun kimiawi) dan faktor biotik (meliputi kehidupan aksenik dan adanya asosiasi kehidupan). Faktor abiotik diantaranya temperatur, pH, kebutuhan air, tekanan osmosis dan oksigen molekuler. Bakteri, berasal dari kata Latin, bacterium (jamak, bacteria); adalah kelompok raksasa dari organisme hidup. Mereka sangatlah kecil (mikroskopik) dan kebanyakan uniselular (bersel tunggal). Bakteri adalah yang paling berkelimpahan dari semua organisme. Mereka tersebar (berada di mana-mana) di tanah, air, dan sebagai simbiosis dari organisme lain. Adapun sruktur bakteri yaitu: struktur dasar ( dimiliki oleh hampir semua jenis bakteri ) Meliputi: dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan granula penyimpanan. Struktur tambahan (dimiliki oleh jenis bakteri tertentu) Meliputi: kapsul, flagelum, pilus(pili), klorosom, Vakuola gas dan endospora

Sedangkan Morfologi dari bakteri itu sendiri dapat dibagi menjadi : Morfologi Makroskopik Populasi bakteri tumbuh sangat cepat ketika mereka disertakan dengan gizi dan kondisi lingkungan yang memungkinkan mereka untuk berkembang. Beberapa koloni mungkin akan berwarna, ada yang berbentuk lingkaran, sementara yang lain tidak teratur. Karakteristik koloni (bentuk, ukuran, warna, dll) yang diistilahkan sebagai "koloni morfologi". Morfologi Mikroskopik Morfologi mikroskopik adalah karakteristik bakteri yang dilihat melalui pengamatan dibawah mikroskop. Bentuk bakteri sangat bervariasi, tetapi secara umum ada 3 tipe, yaitu: Bentuk batang/basil,bentuk bulat/kokus,bentuk spiral/koloni.

Struktur dasar dari bakteri yaitu dinding sel,sitoplasma,dan membran plasma.Sedangkan struktur tambahan dari bakteri yaitu kapsul atau lapisan lendir dan flageum. Pada pertumbuhan bakteri terjadi sintesis yang khas dan berimbang dari komponenkomponen protoplasma dari bahanbahan gizi (nutrient) yang terdapat dalam lingkungannya.ini merupakan proses yang terus berubah menurut waktu dan

merupakan sifar utama makhluk hidup.Bakteri-bakteri merupakan kelompok organism yang sangat omnivor .tidak ada satu pun persenyawaan organik yang tak dapat di manfaatkan bakteri meskipun dianatara bermacam-macam spesies bakteri terdapat perbedaan dalam keperluannya akan gizi,tetapi ada bahan gizi yang diperlukan oleh setiap jenis bakteri. Substansi umum yang diperlukan oleh bakteri yaitu air,garamgaram mineral,mineral,sumber nitrogen dan Co2. Potensial oksidasi-reduksi (Eh) merupakan faktor yang menentukan apakah suatu bakteri yang dibiakkan dapat tumbuh atau tidak .pembentukan suasana anaerob didalam perbenihan dapat diperoleh dengan jalan mengisap O2 atau dengan jalan memasukkan persenyawaan mengandung sulfihidril seperti Natioglikolat kedalam perbenihan tersebut . Ph perbenihan juga mempengaruhi pertumbuhan bakteri .hal itu terutama dijumpai pada bakteri-bakteri yang bersifat fermentative yang menghasilakn sejumlah besar asam-asam organik yang bersifat menghambat . Bakteri berkembangbiak secara ametosis dengan pembelahan menjadi 2 bagian .diantara 2 pembelahan disebut generation time ,dan inu berlainan untuk tiap jenis bakteri ,bervariasi antara 20 menit sampai 15 jam Pembelahan bakteri disini didahului oleh peleburan bahan kronosom dari dua bakteri.reproduksi semacam ini hanya terjadi antara bakteri-bakteri sejenis dari suatu famili,misalnya enterbacteriaceae ,antara escherichia coli dengan salmonella typhosa.