Anda di halaman 1dari 16

Islam adalah agama yang Allah Subhanahu wa Ta'ala ridhai.

Diantara bentuk keridhaan-Nya adalah menjaga agama Islam ini dari kepunahan dan kerusakan. Satu diantara bentuk penjagaan itu ialah dengan memunculkan para ulama sebagai penerus dan pewaris Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam rangka menyampaikan risalah suci kepada manusia, membela dan mempertahankannya dari gangguan 'tangan-tangan' musuh Islam dan muslimin, yang tidak senang dengan langgengnya kemurnian Islam. Baik dari orang-orang kafir, kaum munafik, ahli bid'ah atau siapa saja yang serupa dan mengikuti jejak mereka. Banyak sekali ulama Islam yang muncul setelah masa kenabian, dan salah satunya adalah yang ingin kami hadirkan ke hadapan para pembaca guna mengambil pelajaran dan ibrah dari perjalanan hidupnya. Dia adalah salah satu dari empat imam dari generasi ketiga yang tentu tidak asing lagi di telinga kita. Nasab dan Pertumbuhan

Ia adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir al-Ashbahi1 al-Himyari2 al-Madani3. Ibunya bernama 'Aliyah binti Syuraik al-Azdiyah.

Imam Darul-Hijrah adalah gelar yang disandangnya, dengan kun-yah Abu 'Abdillah.

Ia terlahir di kota Madinah pada tahun 93H4. Tahun itu kaum muslimin berkabung karena wafatnya Anas bin Malik an-Najjari al-Anshari radhiyallahu 'anhu.

Tanda-tanda keluarbiasaannya telah tampak sejak ia berada dalam kandungan, karena tak seperti bayi yang lain, ia berada dalam kandungan ibunya selama tiga tahun.5

Pada masa pertumbuhannya, Malik bin Anas hidup dalam lingkungan yang terjaga, penuh suasana bahagia dan keindahan. Ia mulai menuntut ilmu pada usianya yang belia. Ketika masih berusia belasan tahun, beliau sudah menimba ilmu dari ulama generasi tabi'in yang masih ada saat itu6 seperti Nafi' maula Ibnu Umar, Sa'id al-Maqburi, 'Amir bin 'Abdullah bin az-Zubair bin al-'Awwam, Muhammad bin alMunkadir, az-Zuhri, Abdullah bin Dinar, Ayub as-Sikhtiyani, Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq, Humaid ath-Thawil, Rabi'ah ar-Ra'y, Zaid bin Aslam, Salamah bin Dinar, Shalih bin Kaisan, Abu Zinad 'Abdullah bin Dzakwan, 'Atha' al-Khurasani, Hisyam bin Urwah, Yahya bin Sa'id al-Anshari dan masih banyak lagi yang lainnya dari generasi tabi'in. Begitu pula ia mengambil ilmu dari teman-teman seangkatannya dari para atba' tabi'in yang sama-sama menuntut ilmu. Sehingga bila dihitung jumlah semua orang yang pernah ia ambil ilmunya adalah sekitar 1.400 orang.

Begitu banyak guru yang mengajarnya, sehingga tidaklah mengherankan bila kemudian ia menjadi sosok seorang alim sejati yang pada usia dua puluh satu tahun sudah bisa berfatwa. Usia yang masih relatif muda untuk ukuran seorang alim pada zamannya. Bahkan ia menjadi seorang imam dalam bidang hadits di kota kelahirannya, Madinah, kota Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam; kota tempat kaum muslimin berhijrah pada awal perjuangan Islam. Karena itulah ia digelari dengan Imam Darul-Hijrah. Selain sebagai seorang ahli dalam bidang hadits, ia juga adalah seorang yang faqih di masanya. Ijtihad dan pendapatpendapatnya kemudian dijadikan pegangan oleh banyak kaum muslimin dan dijadikan sebagai suatu mazhab yang dianut sampai saat ini. Ilmu Imam Malik

Karena keluasan ilmu hadits dan fikih yang dimilikinya, banyak orang yang duduk mengambil faedah dan berguru kepadanya. Bahkan diantara mereka yang turut menimba ilmu darinya adalah guru-gurunya sendiri seperti pamannya sendiri Abu Suhail, Yahya bin Abi Katsir, az-Zuhri, Yahya bin Sa'id al-Anshari, Yazid bin al-Had, Zaid bin Abi Unaisah, Umar bin Muhammad bin Zaid, dan lainnya.

Banyak pula teman-teman sebayanya yang menimba ilmu darinya seperti Ma'mar, Ibnu Juraij, Abu Hanifah, al-Auza'i, Syu'bah, Sufyan ats-Tsauri, al-Laits bin Sa'ad, Hammad bin Zaid, dan yang lainnya.

Belum lagi murid-murid yang tingkatannya dibawah beliau seperti Sufyan bin Uyainah, 'Abdullah bin alMubarak, ad-Darawardi, Ibnu Ulayyah, Muhammad bin al-Hasan al-Faqih7, 'Abdurrahman bin Mahdi, 'Abdullah bin Wahb, Waqi', Yahya al-Qaththan, Abu Hudzafah8, dan salah satunya adalah imam yang masyhur diantara imam yang empat, yaitu Imam as-Syafi'i rahimahullah-, serta masih banyak lagi yang lain yang datang dari berbagai penjuru negeri di masa khalifah Abu Ja'far al-Manshur, terlebih lagi pada masa khalifah Harun ar-Rasyid. Pujian Para Ulama Terhadapnya

Pujian demi pujian terlayangkan kepadanya, baik dari para ulama sezamannya maupun yang datang setelahnya. Diantara pujian tersebut adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu 'Uyainah tatkala menafsirkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang berbunyi; Nanti, akan keluar orang-orang dari arah timur dan barat demi menuntut ilmu, lalu mereka tidak menjumpai seorang pun yang lebih alim daripada alimnya kota Madinah.

Ibnu Uyainah berkata; Dahulu aku katakan yang dimaksud (dengan 'alimnya kota Madinah') dalam hadits tersebut adalah Sa'id bin al-Musayyib, tetapi bukankah di zamannya masih ada Sulaiman bin

Yassar, Salim bin 'Abdullah, dan yang lainnya? Maka sekarang saya katakan bahwa yang dimaksud hadits tersebut adalah Malik bin Anas, karena tidak ada alim lain yang menandinginya (saat itu).

Di lain waktu Ibnu Uyainah juga berkata; Malik adalah alimnya penduduk Hijaz, dan ia adalah hujjah di zamannya. Imam asy-Syafi'i menyambungnya seraya berkata; Hal itu benar, dan bila ulama disebutsebut, maka Malik-lah bintangnya. Dalam riwayat yang lain beliau mengatakan; Bila hadits disebutsebut maka Malik-lah bintangnya.

Imam an-Nasa'i berkata; Aku tidak punya orang setelah generasi tabi'in yang lebih pandai, mulia, tsiqah, dan terpercaya dalam hadits, selain Malik. Ibnu Hibban berkata; Malik adalah orang pertama yang memilah-milah para perawi dari kalangan fuqaha di Madinah.

Yahya bin Sa'id al-Anshari, ketika ditunjuk oleh Amirul-Mukminin Abu Ja'far al-Manshur untuk menjadi qadhi, pernah meminta kepada Malik agar menuliskan untuknya seratus hadits ketika ia hendak pergi ke Irak.

Dan Abu Ja'far sendiri sering bertanya kepadanya tentang halal dan haram, sampai suatu saat ia berkata kepada Malik; Demi Allah, engkau adalah orang yang paling pandai dan alim. Malik menjawab; Demi Allah, tidak demikian, wahai Amirul-Mukminin. Abu Ja'far berkata; Betul! Hanya saja engkau menyembunyikannya. Lalu kata Abu Ja'far lagi; Demi Allah, sungguh saya akan menulis perkataanmu sebagaimana ditulisnya mushaf-mushaf (al-Qur'an) demi kebaikan kita dan disebar ke berbagai pelosok negeri.

Meskipun banyak pujian yang terarah kepada beliau dari para ulama di zamannya, beliau tetap menunjukkan sikap tawadhu' (rendah hati) dan tidak ingin dilebih-lebihkan sebagaimana ungkapan beliau; Tidaklah aku ini melainkan seorang manusia yang bisa salah dan bisa benar. Karena itu, lihatlah pendapatku, apa saja yang sesuai dengan Sunnah, maka ambillah.

Pada suatu saat datanglah masa ujian dan cobaan bagi Imam Malik. Begini ceritanya. Abu Ja'far alManshur pernah melarang Malik menyampaikan hadits; Seorang yang dipaksa (mentalak isterinya), tidak jatuh talaknya dan berfatwa tentangnya. Kemudian ada seseorang yang ingin 'memancing di air keruh' bertanya kepada Imam Malik perihal hadits tersebut. Sang Imam pun akhirnya menyampaikannya di hadapan khalayak, yang menunjukkan beliau tidak membenarkan talak dari orang yang dipaksa. Mendengar hal itu Abu Ja'far marah, lalu ia pun memerintahkan Ja'far bin Sulaiman, Gubernur Madinah

saat itu, untuk mencambuk Malik. Maka, dicambuklah beliau sebanyak 70 kali hingga lumpuh separuh kedua tangannya. Namun begitu Imam Malik tetap teguh dan bersabar. Beliau mengusap darah di punggungnya lalu masuk ke dalam masjid dan shalat. Setelah itu dia berkata; Seperti inilah yang dilakukan oleh Sa'id bin al-Musayyib ketika dahulu dicambuk. Demikianlah, ujian dan cobaan tidak dapat terlepas dari kehidupan setiap mukmin, apalagi seorang alim yang berjalan mengikuti jejak para Nabi dan Rasul. Keteguhannya di atas Sunnah dan Aqidah

Banyak kalimat dan atsar dari beliau yang menunjukkan beliau adalah seorang Imam pembela aqidah dan Sunnah, serta memerangi bid'ah dan para pelakunya. Diantaranya, beliau pernah berkata; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para pemimpin setelahnya (Khulafa' Rasyidun) telah menetapkan sunnah-sunnah. Menjalankannya berarti mengikuti Kitabullah yang merupakan bentuk ketaatan sempurna kepada Allah dan keteguhan di atas agama-Nya. Siapa saja yang mengambilnya sebagai petunjuk, maka akan diberi petunjuk, dan siapa pun yang mencari pertolongan dengannya, niscaya dia akan ditolong. Sebaliknya, barangsiapa yang meninggalkan jalan kaum mukminin (yakni para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam), maka Allah akan memalingkannya ke arah mana dia berpaling, lalu memasukkannya ke dalam neraka Jahannam, dan Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali wal 'iyadzu billah-.

Asy-Syafi'i menceritakan bahwa Imam Malik pernah didatangi oleh sebagian ahli bid'ah lalu beliau berkata; Adapun aku, maka sungguh aku berada diatas petunjuk agamaku, adapun kamu pergilah kepada orang yang ragu sepertimu, lalu beliau pun membantah mereka.

Imam Malik pernah ditanya; Apa pendapatmu tentang orang yang mengatakan al-Qur'an itu makhluk? Beliau menjawab; Dia itu seorang zindiq (kafir), maka bunuhlah.

Di lain waktu beliau mengatakan; al-Qur'an itu kalamullah. Kalamullah adalah bagian dari (dzat dan sifat) Allah, dan tidak ada satu pun dari (sifat dan dzat) Allah yang dikatakan makhluk.

Beliau juga pernah ditanya tentang kelompok Qadariyah, jawab beliau; Saya berpendapat bahwa mereka harus diminta bertaubat. Jika mereka bertaubat, (maka diterima taubatnya), sedang jika tidak, maka dibunuh.

Pernah ada seseorang datang kepada Imam Malik membaca firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

Artinya; Allah beristiwa'9 di atas 'Arsy. (QS. Thaha *20+ : 5)

Kemudian orang itu bertanya; Bagaimana istiwa' Allah itu? Imam Malik marah sampai berkeringat dan mengetuk-ngetuk tongkatnya ke tanah seraya berkata; Istiwa' itu sama diketahui maknanya (dalam bahasa Arab). Adapun hakikatnya, tidaklah diketahui. Mengimaninya wajib, dan bertanya 'bagaimananya' adalah bid'ah. Dan saya kira kamu ini seorang ahli bid'ah. Beliau lalu meminta agar orang itu dikeluarkan dari majelisnya.

Dalam riwayat lain beliau menjawab; Allah ber-istiwa' sebagaimana yang Ia sifati sendiri untuk diri-Nya, tidak boleh ditanya bagaimananya.

Beliau juga mengatakan; Allah itu di atas langit, dan ilmunya ada di segala tempat. Tiada satu pun yang terluput dari pengetahuan-Nya.

Demikianlah kalimat-kalimatnya yang tegas dalam memegang Sunnah dan aqidah yang lurus, serta memerangi bid'ah dan para pelakunya. Wafatnya

Beliau wafat pada bulan Rabi'ul Awwal tahun 179 H di Madinah dalam usia 86 tahun. Jenazahnya dishalati oleh Gubernur Madinah saat itu, Abdullah bin Muhammad al-Abbasi al-Hasyimi, lalu dimakamkan di pemakaman Baqi'. Karya-Karyanya

Imam Malik meninggalkan karya-karya yang sangat berharga dan tinggi nilainya bagi kaum muslimin, diantaranya yang paling terkenal dan menjadi salah satu kitab induk dalam merujuk hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu kitab al-Muwaththa'. Disamping itu, karya-karya beliau yang lain seperti Risalah fil-Qadar, Risalah fil-Aqdhiyah, Juz' fit-Tafsir, Kitab as-Sir, dan lainnya. Belum lagi fatwafatwa dan jawaban-jawaban beliau terhadap berbagai permasalahan agama yang termuat dalam kitab

al-Mudawwanah al-Kubra yang beliau susun sendiri, dan fatwa-fatwa beliau dalam kitab at-Tamhid yang disusun oleh Ibnu Abdil Bar.

Sebelum wafat, beliau sempat membaca potongan ayat ke-4 dalam surat Ar-Rum [30]:

Bagi Allah-lah segala urusan sebelum dan sesudah (terjadinya).

Itu menunjukkan keridhaan beliau dengan takdir Allah, karena ajal adalah bagian dari takdir-Nya.

Rahimahullahu rahmatan wasi'ah wa jazahu 'anil Islam wal muslimin khairal jaza'.

-Wallahu a'lam-

Referensi:

Siyar A'lam an-Nubala' karya adz-Dzahabi.

Tahdzib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar.

Ats-Tsiqat karya Ibnu Hibban.

Kitab-kitab lain tentang rijal dan biografi para ulama.

Catatan Kaki: ^ Anak keturunan Dzu Ashbah yang bernama asli al-Harits bin 'Auf. ^ Nisbat kepada Himyar al-Ashghar yang nama aslinya adalah Zur'ah.

^ Nisbat kepada kota Madinah, tempat lahir dan tinggalnya. ^ Ada pula yang mengatakan tahun 94 H. ^ Seperti diberitakan oleh Yan'aqid, al-Waqidi, dan Muhammad bin adh-Dhahhak. ^ Tepatnya setelah wafatnya dua anak 'Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, yaitu al-Qasim dan Salim. ^ Juga menjadi murid Imam Abu Hanifah. ^ Perawi al-Muwaththa yang merupakan muridnya yang terakhir wafat. ^ Istiwa' artinya tinggi diatas, sebagaimana dinukil oleh Bukhari dalam Shahih-nya dari sebagian tabi'in diantaranya Abu al-'Aliyah.

Meneladani Ibunda Anas bin Malik Siapakah di antara kita yang mengenal Anas bin Malik radhiallahu anhu, pembantu setia Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan salah seorang sahabat dekat beliau?

Anas adalah satu dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dialah sahabat terakhir yang wafat di Bashrah setelah berumur lebih dari seratus tahun.

Ibarat perguruan tinggi, Anas bin Malik telah banyak meluluskan ulama-ulama hebat dalam sejarah. Sebut saja misalnya Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Asy-Syabi, Abu Qilabah, Makhul, Umar bin Abdul Aziz, Tsabit Al-Bunani, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Qatadah As-Sadusi, dan lain-lain.

Sejak pertemuan pertamanya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Anas langsung jadi orang terdekatnya. Ia tak sekadar jadi pembantu setia Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Lebih dari itu, ia seakan menjadi asisten pribadi beliau. Sebagai asisten pribadi, pasti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengkhususkan Anas dalam masalah-masalah tertentu yang tak diketahui sahabat lainnya.

Anas adalah sahabat yang beruntung berkat doa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau berdoa, Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta panjangkanlah usianya. Berbekal doa nabawi tadi, terkumpullah padanya beberapa keistimewaan: usia yang panjang, anak yang banyak, harta yang melimpah, dan ilmu yang luas.

Konon, usianya mencapai 103 tahun. Anak keturunannya mencapai ratusan orang. Bahkan, menurut penuturan salah seorang putrinya yang bernama Umainah, sejak ayahnya berketurunan sampai setibanya Hajjaj bin Yusuf di Bashrah, sudah 129 orang dari anak cucunya yang dimakamkan.

Tentang kekayaannya, diriwayatkan bahwa Anas memiliki sebuah kebun yang menghasilkan buahbuahan dua kali dalam setahun, padahal kebun lain hanya sekali. Di samping itu, kebunnya juga menebarkan aroma kesturi yang semerbak.

Salah satu murid terdekatnya, Tsabit Al-Bunani, menuturkan, Ada seseorang yang hendak menaksir tanah milik Anas. Maka orang itu bertanya, Apakah tanah Tuan mengalami kekeringan? Namun tanpa banyak bicara, Anas segera melangkahkan kakinya menuju sebuah tanah lapang. Ia kemudian shalat lalu

mengangkat kedua tangannya sembari berdoa kepada Allah. Maka seketika itu muncullah sebongkah awan raksasa yang menyelimuti tanahnya. Sesaat kemudian hujan pun turun dengan derasnya hingga oase Anas penuh dengan air, padahal saat itu adalah musim kemarau. Anas kemudian mengutus sebagian keluarganya untuk mengecek sampai di manakah daerah yang terkena hujan tadi. Ternyata hujan tadi hampir tak melebihi tanah miliknya saja.

Jelas, ini merupakan karamah Allah bagi Anas, dan kisah ini benar adanya karena diriwayatkan dari dua jalur yang berbeda dan keduanya shahih. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Adz-Dzahabi dalam Siyarnya.

Di belakangnya ada Ummu Sulaim, Ibunya

Anak tidak lahir dari belahan batu. Kecerdasannya tidak muncul begitu saja. Ada peran besar dari Ummu Sulaim, ibunda Anas bin Malik, yang mewarnai kehidupan sang tokoh. Dalam Siyar-nya, Adz-Dzahabi meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas.

Katanya, Suatu ketika Nabi berkunjung ke rumah Ummu Sulaim. Begitu ibuku tahu akan kunjungan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, ia segera menyuguhkan kepadanya kurma dan minyak samin. Kembalikan saja kurma dan minyak saminmu ke tempatnya semula, karena aku sedang berpuasa, kata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada ibuku. Setelah itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bangkit menuju salah satu sisi rumahku, kemudian shalat sunnah dua rakaat dan mendoakan kebaikan bagi Ummu Sulaim dan keluarganya.

Maka, ibu berkata kepada beliau, Wahai Rasulullah, aku memiliki hadiah khusus bagimu. Apa itu? tanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Orang yang siap membantumu, Anas, jawab ibu.

Seketika itulah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memanjatkan doa-doa untukku, hingga tak tersisa satu pun dari kebikan dunia dan akhirat melainkan beliau doakan bagiku. Ya Allah, karuniailah ia harta dan anak keturunan, serta berkahilah keduanya baginya, kata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam doanya. Berkat doa inilah, aku menjadi orang Anshar yang paling banyak hartanya, kata Anas mengakhiri kisahnya.

Dalam riwayat lainnya, Anas bin Malik menceritakan, Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tiba di Madinah aku baru berumur delapan tahun. Waktu itu, ibu menuntunku menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seraya berkata, Wahai Rasulullah, tak tersisa seorang Anshar pun kecuali datang kepadamu dengan hadiah istimewa. Namun, aku tak mampu memberimu hadiah kecuali putraku ini, maka ambillah dia dan suruhlah dia membantumu kapan saja Anda inginkan.

Dikisahkan pula bahwa ketika itu, Ummu Sulaim menyarungi Anas dengan setengah jilbabnya, dan menyelendanginya dengan sebagian gaunnya, kemudian menghadiahkannya kepada Rasulullah.

Allahu Akbar!! Alangkah besar kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hingga rela menghadiahkan buah hatinya yang baru berumur delapan tahun. Sungguh, sikapnya merupakan pelajaran berharga bagi setiap orang yang mendakwahkan cinta Rasul, namun enggan berkorban untuknya. Semoga Allah meridhaimu, wahai Ummu Sulaim.

Mengenal Ummu Sulaim

Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa para sejarawan berbeda pendapat mengenai nama Ummu Sulaim yang sebenarnya, apakah namanya Sahlah, Rumailah, Rumaitsah, Unaifah, ataukah Mulaikah? Akan tetapi, yang jelas julukannya ialah Rumaisha atau Ghumaisha.

Ia termasuk salah satu wanita penghuni jannah, sebagaimana yang tersirat dalam hadits berikut,

Dari Jabir, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Ketika aku masuk jannah, tiba-tiba aku melihat di sana ada Rumaisha, istri Abu Thalhah. (HR. Al-Bukhari).

Dalam hadits Anas dikatakan, bahwa ketika masuk jannah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendengar suara terompah seseorang. Suara siapa ini? tanya beliau. Kata para malaikat, Itu suara Ghumaisha binti Milhan, ibunda Anas bin Malik. (HR. Muslim).

Ummu Sulaim termasuk wanita yang cemerlang akalnya. Selain cerdas, ia juga penyabar dan pemberani. Ketiga sifat mulia inilah yang menurun kepada Anas dan mewarnai perangainya di kemudian hari. Ya, kecerdasan biasanya melahirkan kecerdasan, kesabaran melahirkan kesabaran, dan keberanian melahirkan keberanian.

Sebelum menikah dengan Abu Thalhah, suaminya ialah Malik bin Nadhar, ayah Anas. Ketika dakwah Islam terdengar oleh Ummu Sulaim, segeralah ia dan kaumnya menyatakan keislamannya. Ummu Sulaim kemudian menawarkan Islam kepada suaminya yang ketika itu masih musyrik. Namun di luar dugaan, Malik justru marah kepadanya dan meninggalkannya. Malik akhirnya pergi ke negeri Syam dan meninggal di sana.

Kecerdasan Ummu Sulaim

Setelah suami pertamanya mangkat, Ummu Sulaim menikah dengan Abu Thalhah. Ketika meminangnya, Abu Thalhah masih dalam keadaan musyrik. Sehingga Ummu Sulaim menolak pinangannya tersebut sampai Abu Thalhah mau masuk Islam. Anas mengisahkan cerita ini dari ibunya.

Sungguh tidak pantas seorang musyrik menikahiku. Tidakkah engkau tahu, wahai Abu Thalhah, bahwa berhala-berhala sesembahanmu itu dipahat oleh budak dari suku anu, sindir Ummu Sulaim. Jika kau sulut dengan api pun, ia akan terbakar, lanjutnya lagi.

Maka Abu Thalhah berpaling ke rumahnya. Akan tetapi, kata-kata Ummu Sulaim tadi amat membekas di hatinya. Benar juga, gumamnya. Tak lama kemudian, Abu Thalhah menyatakan keislamannya. Aku telah menerima agama yang kau tawarkan, kata Abu Thalhah kepada Ummu Sulaim. Maka berlangsunglah pernikahan mereka berdua. Dan Ummu Sulaim tak meminta mahar apa pun selain keislaman Abu Thalhah, kata Anas.

Ketabahan Ummu Sulaim

Dari pernikahannya dengan Ummu Sulaim, Abu Thalhah dikaruniai dua orang anak. Satu di antaranya amat ia kagumi, namanya Abu Umair. Namun sayang, Abu Umair tak berumur panjang. Ia dipanggil oleh Allah ketika masih kanak-kanak.

Anas bercerita, Suatu ketika, Abu Umair sakit parah. Tatkala azan isya berkumandang, seperti biasanya Abu Thalhah berangkat ke mesjid. Dalam perjalanan ke mesjid, anaknya (Abu Umair) dipanggil oleh Allah.

Dengan cepat Ummu Sulaim mendandani jenazah anaknya, kemudian membaringkannya di tempat tidur. Ia berpesan kepada Anas agar tidak memberi tahu Abu Thalhah tentang kematian anak kesayangannya itu. Kemudian, ia pun menyiapkan hidangan makan malam untuk suaminya.

Sepulangnya dari mesjid, seperti biasa Abu Thalhah menyantap makan malamnya kemudian menggauli istrinya. Di akhir malam, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya, Bagaimana menurutmu tentang keluarga si fulan, mereka meminjam sesuatu dari orang lain, tetapi ketika diminta, mereka tidak mau mengembalikannya, merasa keberatan atas penarikan pinjaman itu.

Mereka telah berlaku tidak adil, kata Abu Thalhah.

Ketahuilah, sesungguhnya putramu adalah pinjaman dari Allah, dan kini Allah telah mengambilnya kembali, kata Ummu Sulaim lirih.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Segala puji bagi-Mu, ya Allah, ucap Abu Thalhah dengan pasrah.

Keturunan yang diberkati

Selepas mengantarkan kepergian buah hatinya, keesokan harinya Abu Thalhah menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Tatkala bertatap muka dengannya, beliau mengatakan, Semoga Allah

memberkati kalian berdua nanti malam. Maka, malam itu juga Ummu Sulaim hamil lagi, mengandung Abdullah bin Abu Thalhah.

Setelah melahirkan bayinya, Ummu Sulaim menyuruh Anas menghadap Rasulullah dengan menggendong bayi mungil itu sambil membawa beberapa butir kurma ajwah. Kata Anas, Sesampaiku di rumah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kudapati beliau sedang memberi cap pada untanya.

Wahai Rasulullah, semalam Ummu Sulaim melahirkan anaknya, kataku. Maka beliau memungut kurma yang kubawa lalu mengunyahnya dengan air liur beliau, kemudian menyuapkan kepada si bayi. Bayi mungil itu mengulum kurma tadi dengan ujung lidahnya. Maka Rasulullah tersenyum sembari berkata, Memang, makanan kesukaan orang Anshar adalah kurma.

Namailah dia, wahai Rasulullah, pintaku kepadanya.

Namanya Abdullah, jawab Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Doa Rasulullah kepada Abu Thalhah ternyata tak sekadar menjadikannya punya anak. Akan tetapi, anak itu (Abdullah) kemudian tumbuh menjadi anak shalih yang dikaruniai tujuh orang keturunan yang shalihshalih pula. Menurut penuturan salah seorang perawi yang bernama Abayah, ketujuh anak Abdullah bin Abi Thalhah tadi telah khatam Al-Quran sewaktu masih kecil.

Keberanian Ummu Sulaim

Sosok wanita seperti Ummu Sulaim sulit dicari tandingannya. Selain cerdas dan penyabar, ia juga seorang pemberani. Anas menceritakan, bahwa suatu ketika Abu Thalhah berpapasan dengan Ummu Sulaim ketika perang Hunain. Ia melihat bahwa di tangannya ada sebilah pisau, maka Abu Thalhah segera melaporkan kepada Rasulullah perihal Ummu Sulaim, Wahai Rasulullah, lihatlah Ummu Sulaim keluar rumah sambil membawa pisau, kata Abu Thalhah.

Wahai Rasulullah, pisau ini sengaja kusiapkan untuk merobek perut orang musyrik yang berani mendekatiku, jawab Ummu Sulaim.

Menurut Adz-Dzahabi, Ummu Sulaim juga ikut terjun dalam perang Uhud bersama Rasulullah. Ketika itu ia juga kedapatan membawa sebilah pisau.

Kecintaan Ummu Sulaim terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

Sebagaimana telah disebutkan di awal, Ummu Sulaim menghadiahkan putranya yang bernama Anas kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, padahal ia baru berumur delapan atau sepuluh tahun. Ini jelas didorong kecintaannya yang besar kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Di lain kesempatan, suatu ketika, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidur siang di rumah Ummu Sulaim. Karena Ummu Sulaim adalah wanita yang bersahaja, maka ia hanya punya tikar kulit sebagai alas tidur Rasulullah. Karena hawa yang panas, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkeringat hingga membasahi tikar itu, lalu beliau bangun. Melihat tikar yang penuh keringat tadi, segera Ummu Sulaim mengambil sebuah botol lalu dengan susah payah ia memeras tikarnya dan menampung keringat nabawi itu dalam botolnya.

Melihat ulahnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya keheranan, Apa yang sedang kau lakukan?

Aku sedang mengambil berkah yang keluar dari tubuhmu, jawab Ummu Sulaim.

Diriwayatkan bahwa Ummu Sulaim kemudian mencampurkan keringat Nabi tersebut dalam wewangiannya.

Anas mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tak pernah masuk ke rumah wanita lain selain Ummu Sulaim. Ketika ditanya, beliau mengatakan bahwa dirinya kasihan kepada Ummu Sulaim, karena saudara kandungnya terbunuh dalam satu peperangan bersama beliau.

Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa saudara kandungnya itu bernama Haram bin Milhan yang mati syahid dalam tragedi Bir Maunah. Dialah yang mengatakan, Demi Allah, aku beruntung! Ketika ditikam tombak dari belakang hingga tembus ke dadanya.

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masuk ke rumah Ummu Sulaim. Di sana beliau melihat ada geriba air yang tergantung di dinding, lalu beliau meminumnya sambil berdiri. Maka segeralah Ummu Sulaim mengambil geriba itu dan memotong mulut geriba yang bersentuhan dengan mulut Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian menyimpannya.

Lihatlah bagaimana kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, hingga tak menyiakan apa pun yang berhubungan dengan tubuhnya yang mulia itu.

Demikian pula yang terjadi pada putranya, Anas. Pernah suatu ketika, Anas mengatakan, Tak pernah semalam pun kulewatkan, melainkan aku mimpi berjumpa dengan kekasihku (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam). Kemudian, berderailah air matanya.

Diriwayatkan pula bahwa Anas mengenakan cincin yang terukir padanya, Muhammadun Rasulullah. Maka setiap kali hendak buang hajat, dilepasnya cincin tersebut.

Warisan Ilmiah Ummu Sulaim

Menurut adz-Dzahabi, Ummu Sulaim meriwayatkan empat belas hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Satu di antaranya muttafaq alaih, satu hadits khusus diriwayatkan oleh al-Bukhari, dan dua hadits oleh Muslim.

Ummu Sulaim wafat pada masa kekhalifan Utsman bin Affan. Semoga Allah meridhainya dan menempatkannya dalam Firdaus yang tertinggi, beserta para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.

3. Anas bin Malik (2286 hadits)

Nama lengkapnya Anas bin Malik bin an-Nadhar bin Dhamdham al-Anshari al-Khazraji. Anas lahir di Madinah 8 tahun sebelum Nabi hijrah ke kota tersebut. Sejak umur 10 tahun, Anas bin Malik bekerja sebagai khadim (pelayan) di rumah Nabi.

Kedekatan Anas dengan Nabi sebagai sahabat sekaligus pembantu di rumah menjadikan ia sangat akrab dan tahu segala perilaku Nabi dalam keseharian. Terlebih suatu hari Rasulullah mendoakan khusus buat Anas agar diperbanyak umur dan keturunannya. Serta keberkahan sepanjang hayatnya. Nabi bersabda, Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah apa yang Engkau berikan padanya. Tak heran Anas menjadi perawi terbanyak ketiga dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi.

Berkat doa Nabi di atas, Anas menjadi seorang hartawan dari suku Anshar. Ia juga mempunyai keturunan yang sangat banyak hingga melebihi 100 orang dengan usia yang mencapai 1 abad lebih. Anas bin Malik meninggal dunia pada tahun 91 H.. Ia dimakamkan bersama sebuah tongkat kecil milik Rasulullah sebagaimana wasiatnya menjelang wafatnya.