Anda di halaman 1dari 26

Apakah itu al-Quran. "Quran" menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr.

. Subhi Al Salih bererti "bacaan", asal kata qaraa. Kata Al Quran itu berbentuk masdar dengan arti isim maful yaitu maqru (dibaca). Di dalam Al Quran sendiri ada pemakaian kata "Quran" dalam arti demikian sebagal tersebut dalam ayat 17, 18 surah (75) Al Qiyaamah: Artinya: Sesungguhnya mengumpulkan Al Quran (didalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggunggan kami. kerana itu jika kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikut bacaannya". Kemudian dipakai kata "Quran" itu untuk Al Quran yang dikenal sekarang ini. Adapun definisi Al Quran ialah: "Kalam Allah s.w.t. yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah" Dengan definisi ini, kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad s.a.w. tidak dinamakan Al Quran seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. atau Injil yang diturun kepada Nabi Isa a.s. Dengan demikian pula Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadis Qudsi, tidak pula dinamakan Al Quran. Bagaimanakah al-Quran itu diwahyukan. Nabi Muhammad s.a.w. dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan. di antaranya: 1, Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi s.a.w. tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: "Ruhul qudus mewahyukan ke dalam kalbuku", (lihat surah (42) Asy Syuura ayat (51). 2. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu. 3. Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya loceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: "Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa". 4. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan no. 2, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al Quran surah (53) An Najm ayat 13 dan 14. Artinya: Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). Ketika ia berada di Sidratulmuntaha. Hikmah diturunkan al-Quran secara beransur-ansur Al Quran diturunkan secara beransur-ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun, 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Hikmah Al Quran diturunkan secara beransur-ansur itu ialah: 1. Agar lebih mudah difahami dan dilaksanakan. Orang tidak akan melaksanakan suruhan, dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dan riwayat Aisyah r.a. 2. Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan permasalahan pada waktu itu. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Quran diturunkan

sekaligus. (ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh). 3. Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati. 4. Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menayakan mengapa Al Quran tidak diturunkan sekaligus. sebagaimana tersebut dalam Al Quran ayat (25) Al Furqaan ayat 32, yaitu: mengapakah Al Quran tidak diturunkan kepadanya sekaligus Kemudian dijawab di dalam ayat itu sendiri: demikianlah, dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu 5. Di antara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagai dikatakan oleh lbnu Abbas r.a. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al Quran diturunkan sekaligus. Ayat Makkiyah dan ayat Madaniyah Ditinjau dari segi masa turunnya, maka Al Quran itu dibahagi atas dua golongan: 1. Ayat-ayat yang diturunkan di Mekah atau sebelum Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Makkiyyah. 2. Ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Madaniyyah. Ayat-ayat Makkiyyah meliputi 19/30 dari isi Al Quran terdiri atas 86 surah, sedang ayat-ayat Madaniyyah meliputi 11/30 dari isi Al Quran terdiri atas 28 surah. Perbezaan ayat-ayat Makiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah ialah: 1. Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya pendek-pendek sedang ayat-ayat Madaniyyah panjangpanjang; surat Madaniyyah yang merupakan 11/30 dari isi Al Quran ayat-ayatnya berjumlah 1,456, sedang ayat Makkiyyah yang merupakan 19/30 dari isi Al Quran jumlah ayat-ayatnya 4,780 ayat. Juz 28 seluruhnya Madaniyyah kecuali ayat (60) Mumtahinah, ayat-ayatnya berjumlah 137; sedang juz 29 ialah Makkiyyah kecuali ayat (76) Addahr, ayat-ayatnya berjumlah 431. Surat Al Anfaal dan surat Asy Syuaraa masing-masing merupakan setengah juz tetapi yang pertama Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedang yang kedua Makiyyah dengan ayatnya yang berjumlah 227. 2. Dalam ayat-ayat Madaniyyah terdapat perkataan "Ya ayyuhalladzi na aamanu" dan sedikit sekali terdapat perkataan Yaa ayyuhannaas, sedang dalam ayat ayat Makiyyah adalah sebaliknya. 3. Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat yang terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti; sedang Madaniyyah mengandung hukum-hukum, baik yang berhubungan dengan hukum adat atau hukum-hukum duniawi, seperti hukum kemasyarakatan, hukum ketata negaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antara agama dan lainlain. Nama-nama al-Quran Allah memberi nama Kitab-Nya dengan Al Quran yang berarti "bacaan". Arti ini dapat kita lihat dalam surat (75) Al Qiyaamah; ayat 17 dan 18 sebagaimana tersebut di atas. Nama ini dikuatkan oleh ayat-ayat yang terdapat dalam surat (17) Al lsraa ayat 88; surat (2) Al Baqarah ayat 85; surat (15) Al Hijr ayat 87; surat (20) Thaaha ayat 2; surat (27) An Naml ayat 6; surat (46) Ahqaaf ayat 29; surat (56) Al Waaqiah ayat 77; surat (59) Al Hasyr ayat 21 dan surat (76) Addahr ayat 23. Menurut pengertian ayat-ayat di atas Al Quran itu dipakai sebagai nama bagi Kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Selain Al Quran, Allah juga memberi beberapa nama lain bagi Kitab-Nya, sepcrti: 1. Al Kitab atau Kitaabullah: merupakan synonim dari perkataan Al Quran, sebagaimana tersebut dalam surat (2) Al Baqarah ayat 2 yang artinya; "Kitab (Al Quran) ini tidak ada

keraguan padanya." Lihat pula surat (6) Al Anaam ayat 114. 2. Al Furqaan: "Al Furqaan" artinya: "Pembeda", ialah "yang membedakan yang benar dan yang batil", sebagai tersebut dalam surat (25) Al Furqaan ayat 1 yang artinya: "Maha Agung (Allah) yang telah menurunkan Al Furqaan, kepada hamba-Nya, agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam" 3. Adz-Dzikir. Artinya: "Peringatan". sebagaimana yang tersebut dalam surat (15) Al Hijr ayat 9 yang artinya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan "Adz-Dzikir dan sesungguhnya Kamilah penjaga-nya" (Lihat pula surat (16) An Nahl ayat 44. Dari nama yang tiga tersebut di atas, yang paling masyhur dan merupakan nama khas ialah "Al Quran". Selain dari nama-nama yang tiga itu dan lagi beberapa nama bagi Al Quran. lmam As Suyuthy dalam kitabnya Al Itqan, menyebutkan nama-nama Al Quran, diantaranya: Al Mubiin, Al Kariim, Al Kalam, An Nuur. Surah-surah dalam al-Quran Jumlah surat yang terdapat dalam Al Quran ada 114; nama-namanya dan batas-batas tiaptiap surat, susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah sendiri (tauqifi). Sebagian dari surat-surat Al Quran mempunyai satu nama dan sebagian yang lain mempunyai lebih dari satu nama, sebagaimana yang akan diterangkan dalam muqaddimah tiap-tiap surat. Surat-surat yang ada dalam Al Quran ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 bagian, yaitu: 1. ASSABUTHTHIWAAL, dimaksudkan, tujuh surat yang panjang Yaitu: Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa, Al Araaf, Al Anaam, Al Maa-idah dan Yunus. 2. Al MIUUN, dimaksudkan surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih seperti: Hud, Yusuf, Mumin dsb. 3. Al MATSAANI, dimaksudkan surat-surat yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat seperti: Al Anfaal. Al Hijr dsb. 4. AL MUFASHSHAL, dimaksudkan surat-surat pendek. seperti: Adhdhuha, Al Ikhlas, AL Falaq, An Nas. dsb. g. Huruf-huruf Hijaaiyyah yang ada pada permulaan surat. Di dalam Al Quran terdapat 29 surat yang dimulai dengan huruf-huruf hijaaiyyah yaitu pada surat-surat: (1) Al Baqarah, (2) Ali Imran, (3) Al Araaf. (4) Yunus, (5) Yusuf, (7) Ar Raad, (8) lbrahim, (9) Al Hijr, (10) Maryam. (11) Thaaha. (12) Asy Syuaraa, (13) An Naml, (14) Al Qashash, (15) A1Ankabuut, (16) Ar Ruum. (17) Lukman, (18) As Sajdah (19) Yasin, (20) Shaad, (21) Al Mumin, (22) Fushshilat, (23) Asy Syuuraa. (24) Az Zukhruf (25) Ad Dukhaan, (26) Al Jaatsiyah, (27) Al Ahqaaf. (28) Qaaf dan (29) Al Qalam (Nuun). Huruf-huruf hijaaiyyah yang terdapat pada permulaan tiap-tiap surat tersebut di atas, dinamakan Fawaatihushshuwar artinya pembukaan surat-surat. Banyak pendapat dikemukakan oleh para Ulama Tafsir tentang arti dan maksud huruf-huruf hijaaiyyah itu, selanjutnya lihat not 10, halaman 8 (Terjemah)

Hukum Pernikahan dalam Islam


Sunday, 20. April 2008, 18:24

Hukum Pernikahan dalam Islam Dalam pembahasan ini kita akan berbicara tentang hukum menikah dalam pandangan syariah. Para ulama ketika membahas hukum pernikahan, menemukan bahwa ternyata menikah itu terkadang bisa mejadi sunnah, terkadang bisa menjadi wajib atau terkadang juga bisa menjadi sekedar mubah saja. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa menjadi makruh. Dan ada juga hukum pernikahan yang haram untuk dilakukan.

Semua akan sangat tergantung dari kondisi dan situasi seseorang dan permasalahannya. Apa dan bagaimana hal itu bisa terjadi, mari kita bedah satu persatu. 1. Pernikahan Yang Wajib Hukumnya Menikah itu wajib hukumnya bagi seorang yang sudah mampu secara finansial dan juga sangat beresiko jatuh ke dalam perzinaan. Hal itu disebabkan bahwa menjaga diri dari zina adalah wajib. Maka bila jalan keluarnya hanyalah dengan cara menikah, tentu saja menikah bagi seseorang yang hampir jatuh ke dalam jurang zina wajib hukumnya. Imam Al-Qurtubi berkata bahwa para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya seorang untuk menikah bila dia adalah orang yang mampu dan takut tertimpa resiko zina pada dirinya. Dan bila dia tidak mampu, maka Allah SWT pasti akan membuatnya cukup dalam masalah rezekinya, sebagaimana firman-Nya : Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. (QS.An-Nur : 33) 2. Pernikahan Yang Sunnah Hukumnya Sedangkan yang tidak sampai diwajibkan untuk menikah adalah mereka yang sudah mampu namun masih tidak merasa takut jatuh kepada zina. Barangkali karena memang usianya yang masih muda atau pun lingkungannya yang cukup baik dan kondusif. Orang yang punya kondisi seperti ini hanyalah disunnahkan untuk menikah, namun tidak sampai wajib. Sebab masih ada jarak tertentu yang menghalanginya untuk bisa jatuh ke dalam zina yang diharamkan Allah SWT. Bila dia menikah, tentu dia akan mendapatkan keutamaan yang lebih dibandingkan dengan dia diam tidak menikahi wanita. Paling tidak, dia telah melaksanakan anjuran Rasulullah SAW untuk memperbanyak jumlah kuantitas umat Islam. Dari Abi Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Menikahlah, karena aku berlomba dengan umat lain dalam jumlah umat. Dan janganlah kalian menjadi seperti para rahib nasrani. (HR. Al-Baihaqi 7/78) Bahkan Ibnu Abbas ra pernah berkomentar tentang orang yang tidak mau menikah sebab orang yang tidak sempurna ibadahnya. 3. Pernikahan Yang Haram Hukumnya Secara normal, ada dua hal utama yang membuat seseorang menjadi haram untuk menikah. Pertama, tidak mampu memberi nafkah. Kedua, tidak mampu melakukan hubungan seksual. Kecuali bila dia

telah berterus terang sebelumnya dan calon istrinya itu mengetahui dan menerima keadaannya. Selain itu juga bila dalam dirinya ada cacat pisik lainnya yang secara umum tidak akan diterima oleh pasangannya. Maka untuk bisa menjadi halal dan dibolehkan menikah, haruslah sejak awal dia berterus terang atas kondisinya itu dan harus ada persetujuan dari calon pasangannya. Seperti orang yang terkena penyakit menular yang bila dia menikah dengan seseorng akan beresiko menulari pasangannya itu dengan penyakit. Maka hukumnya haram baginya untuk menikah kecuali pasangannya itu tahu kondisinya dan siap menerima resikonya. Selain dua hal di atas, masih ada lagi sebab-sebab tertentu yang mengharamkan untuk menikah. Misalnya wanita muslimah yang menikah dengan laki-laki yang berlainan agama atau atheis. Juga menikahi wanita pezina dan pelacur. Termasuk menikahi wanita yang haram dinikahi (mahram), wanita yang punya suami, wanita yang berada dalam masa iddah. Ada juga pernikahan yang haram dari sisi lain lagi seperti pernikahan yang tidak memenuhi syarat dan rukun. Seperti menikah tanpa wali atau tanpa saksi. Atau menikah dengan niat untuk mentalak, sehingga menjadi nikah untuk sementara waktu yang kita kenal dengan nikah kontrak. 4. Pernikahan Yang Makruh Hukumnya Orang yang tidak punya penghasilan sama sekali dan tidak sempurna kemampuan untuk berhubungan seksual, hukumnya makruh bila menikah. Namun bila calon istrinya rela dan punya harta yang bisa mencukupi hidup mereka, maka masih dibolehkan bagi mereka untuk menikah meski dengan karahiyah. Sebab idealnya bukan wanita yang menanggung beban dan nafkah suami, melainkan menjadi tanggung jawab pihak suami. Maka pernikahan itu makruh hukumnya sebab berdampak dharar bagi pihak wanita. Apalagi bila kondisi demikian berpengaruh kepada ketaatan dan ketundukan istri kepada suami, maka tingkat kemakruhannya menjadi jauh lebih besar. 5. Pernikahan Yang Mubah Hukumnya Orang yang berada pada posisi tengah-tengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk menikah, maka bagi hukum menikah itu menjadi mubah atau boleh. Tidak dianjurkan untuk segera menikah namun juga tidak ada larangan atau anjuran untuk mengakhirkannya. Pada kondisi tengah-tengah seperti ini, maka hukum nikah baginya adalah mubah

MATERI AGAMA : MANUSIA DAN AGAMA BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Agama memberikan penjelasan bahwa manusia adalah mahluk yang memilki potensi untuk berahlak baik (takwa) atau buruk (fujur) potensi fujur akan senantiasa eksis dalam diri manusia karena terkait dengan aspek instink, naluriah, atau hawa nafsu, seperti naluri makan/minum, seks, berkuasa dan rasa aman. Apabila potentsi takwa seseorang lemah, karena tidak terkembangkan yaitu dengan melalui pendidikan, maka prilaku manusia dalam hidupnya tidak akan berbeda dengan hewan karena didominasi oleh potensi buruknya yang bersifat instinktif atau implusif (seperti berjinah, membunuh, mencuri, minum-minuman keras,atau menggunakan narkoba dan main judi). Agar hawa nafsu itu terkendalikan, dalam arti pemenuhannya sesuai dengan ajaran agama, maka potensi takwa itu harus dikembangkan, yaitu melalui pendidikan agama dari sejak usia dini. Apabila nilai-nilai agama telah terinternalisasi dalam diri seseorang maka dia akan mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia yang bertakwa, yang salah satu karakteristiknya adalah mampu mengendalikan diri (self control) dari pemuasan hawa nafsu yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

I.2 RUMUSAN MASALAH Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyusunan makalah ini adalah Hubungan Manusia Dengan Agama. Untuk memberikan kejelasan makna serta menghindari meluasnya pembahasan, maka dalam makalah ini masalahnya dibatasi pada : 1. Pengertian Agama 2. Konsepsi Agama 3. Hubungan Manusia dan Agama 4. Agama Sebagai Petunjuk Tata Sosial

BAB II PEMBAHASAN 1. PENGERTIAN AGAMA Agama menurut bahasa sansekerta, agama berarti tidak kacau (a = tidak, gama = kacau) dengan kata lain, agama merupakan tuntunan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan. Didunia barat terdapat suatu istilah umum untuk pengertian agama ini, yaitu : religi, religie, religion, yang berarti melakukan suatu perbuatan dengan penuh penderitaan atau mati-matian, perbuatan ini berupa usaha atau sejenis peribadatan yang dilakukan berulang-ulang. Istilah lain bagi agama ini yang berasal dari bahasa arab, yaitu addiin yang berarti : hukum, perhitungan, kerajaan, kekuasaan, tuntutan, keputusan, dan pembalasan. Kesemuanya itu memberikan gambaran bahwa addiin merupakan pengabdian dan penyerahan, mutlak dari seorang hamba kepada Tuhan penciptanya dengan upacara dan tingkah laku tertentu, sebagai manifestasi ketaatan tersebut . Dari sudut sosiologi, Emile Durkheim mengartikan agama sebagai suatu kumpulan keayakinan warisan nenek moyang dan perasaan-perasaan pribadi, suatu peniruan terhadap modus-modus, ritual-ritual, aturan-aturan, konvensi-konvensi dan praktek-praktek secara sosial telah mantap selama genarasi demi generasi. Sedangkan menurut M. Natsir dari tokoh agama menyatakan bahwa agama merupakan suatu kepercayaan dan cara hidup yang mengandung faktor-faktor antara lain :

a. Percaya kepada Tuhan sebagai sumber dari segala hukum dan nilai-nilai hidup. b. Percaya kepada wahyu Tuhan yang disampaikan kepada rosulnya. c. Percaya dengan adanya hubungan antara Tuhan dengan manusia. d. Percaya dengan hubungan ini dapat mempengaruhi hidupnya sehari-hari. e. Percaya bahwa dengan matinya seseorang, hidup rohnya tidak berakhir. f. Percaya dengan ibadat sebagai cara mengadakan hubungan dengan Tuhan. g. Percaya kepada keridhoan Tuhan sebagai tujuan hidup di dunia ini. Sementara agama islam dapat diartikan sebagai wahyu Allah yang diturunkan melalui para Rosul-Nya sebagai pedoman hidup manusia di dunia yang berisi Peraturan perintah dan larangan agar manusia memperoleh kebahagaian di dunia ini dan di akhirat kelak. 2. KONSEPSI AGAMA Dalam Al-Quran Surat Al-Bakoroh 208, Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam islam secara utuh, keseluruhan (jangan sebagian-sebagaian) dan jangan kamu mengikuti langkah setan, sesunggungnya setan itu musuh yang nyata bagimu. Kekaffahan beragama itu telah di contohkan oleh Rosulullah sebagai uswah hasanah bagi umat islam dalam berbagai aktifitas kehidupannya, dari mulai masalah-masalah sederhana (seperti adab masuk WC) sampai kepada masalah-masalah komplek (mengurus Negara). Beliau telah menampilkan wujud islam itu dalam sikap dan perilakunya dimanapun dan kapanpun beliau adalah orang yang paling utama dan sempurna dalam mengamalkan ibadah mahdlah (habluminallah) dan ghair mahdlah (hablumminanas). Meskipun beliau sudah mendapat jaminan maghfiroh (ampunan dari dosa-dosa) dan masuk surga, tetapi justru beliau semakin meningkatkan amal ibadahnya yang wajib dan sunah seperti shalat tahajud, zdikir, dan beristigfar. Begitupun dalam berinteraksi sosial dengan sesama manusia beliau menampilkan sosok pribadi yang sangat agung dan mulia. Kita sebagai umat islam belum semuanya beruswah kepada Rasulullah secara sungguh-sungguh, karena mungkin kekurang pahaman kita akan nilai-nilai islam atau karena sudah terkontaminasi oleh nilai, pendapat, atau idiologi lain yang bersebrangan dengan nilai-nilai islam itu sendiri yang di contohkan oleh Rasulullah SAW. Diantara umat islam masih banyak yang menampilkan sikap dan prilakunya yang tidak selaras, sesuai dengan nila-nilai islam sebagai agama yang dianutnya. Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan kejadian atau peristiwa baik yang kita lihat sendiri atau melalui media masa mengenai contoh-contoh ketidak konsistenan (tidak istikomah) orang islam dalam mempedomani islam sebagai agamanya. 3. HUBUNGAN MANUSIA DAN AGAMA Kondisi umat islam dewasa ini semakin diperparah dengan merebaknya fenomena kehidupan yang dapat menumbuhkembangkan sikap dan prilaku yang a moral atau degradasi nilai-nilai keimanannya. Fenomena yang cukup berpengaruh itu adalah : 1. Tayangan media televisi tentang cerita yang bersifat tahayul atau kemusrikan, dan film-film yang berbau porno. 2. Majalah atau tabloid yang covernya menampilkan para model yang mengubar aurat. 3. Krisis ketauladanan dari para pemimpin, karena tidak sedikit dari mereka itu justru berprilaku yang menyimpang dari nilai-nilai agama. 4. Krisis silaturahmi antara umat islam, mereka masih cenderung mengedepankan kepentingan kelompoknya (partai atau organisasi) masing-masing. Sosok pribadi orang islam seperti di atas sudah barang tentu tidak menguntungkan bagi umat itu sendiri, terutama bagi kemulaian agama islam sebagai agama yang mulia dan tidak ada yang lebih mulia di atasnya. Kondisi umat islam seperti inilah yang akan menghambat kenajuan umat islam dan bahkan dapat memporakporandakan ikatan ukuwah umat islam itu sendiri. Agar umat islam bisa bangkit menjadi umat yang mampu menwujudkan misi Rahmatan lilalamin maka seyogyanya mereka memiliki pemahaman secara utuh tentang islam itu sendiri umat islam tidak hanya memiliki kekuatan dalam bidang imtaq (iman dan takwa) tetapi juga dalam bidang iptek (ilmu dan teknologi). Mereka diharapkan mampu mengintegrasikan antara pengamalan ibadah ritual dengan makna esensial ibadah itu sendiri yang dimanifestasikan dalam kehidupan seharihari, seperti : pengendalian diri, sabar, amanah, jujur, sikap altruis, sikap toleran dan saling menghormati tidak suka menyakiti atau menghujat orang lain. Dapat juga dikatakan bahwa umat islam harus mampu menyatu padukan antara mila-

nilai ibadah mahdlah (hablumminalaah) dengan ibadah ghair mahdlah (hamlumminanas) dalam rangka membangun Baldatun thaibatun warabun ghafur Negara yang subur makmur dan penuh pengampunan Allah SWT. 4. AGAMA SEBAGAI PETUNJUK SOSIAL Rosulullah SAW bersabda : Innamaa buitstu liutammima akhlaaq Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. Yang bertanggung jawab terhadap pendidikan akhlak adalah orang tua, guru, ustad, kiai, dan para pemimpin masyarakat. Pendidikan akhlak ini sangat penting karena menyangkut sikap dan prilaku yang harus di tampilkan oleh seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari baik personal maupun sosial (keluarga, sekolah, kantor, dan masyarakat yang lebih luas). Akhlak yang terpuji sangat penting dimiliki oleh setiap muslim , sebab maju mundurnya suatu bangsa atau Negara amat tergantung kepada akhlak tersebut. Untuk mencapai maksud tersebut maka perlu adanya kerja sama yang sinergi dari berbagai pihak dalam menumbuhkembangkan akhlak mulia dan menghancur leburkan faktor-faktor penyebab maraknya akhlak yang buruk.

BAB III KESIMPULAN

Agama menurut bahasa sangsekerta, agama berarti tidak kacau (a = tidak, gama = kacau) dengan kata lain, agama merupakan tuntunan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan. Kita sebagai umat islam belum semuanya beruswah kepada Rasulullah secara sungguh-sungguh, karena mungkin kekurang pahaman kita akan nilai-nilai islam atau karena sudah terkontaminasi oleh nilai, pendapat, atau idiologi lain yang bersebrangan dengan nilai-nilai islam itu sendiri yang di contohkan oleh Rasulullah SAW. Agar umat islam bisa bangkit menjadi umat yang mampu menwujudkan misi Rahmatan lilalamin maka seyogyanya mereka memiliki pemahaman secara utuh (Khafah) tentang islam itu sendiri umat islam tidak hanya memiliki kekuatan dalam bidang imtaq (iman dan takwa) tetapi juga dalam bidang iptek (ilmu dan teknologi). Pendidikan akhlak ini sangat penting karena menyangkut sikap dan prilaku yang musti di tampilkan oleh seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari baik personal maupun sosial (keluarga, sekolah, kantor, dan masyarakat yang lebih luas). Akhlak yang terpuji sangat penting dimiliki oleh setiap muslim, sebab maju mundurnya suatu bangsa atau Negara amat tergantung kepada akhlak tersebut.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat [49]:13) Pergaulan adalah satu cara seseorang untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Bergaul dengan orang lain menjadi satu kebutuhan yang sangat mendasar, bahkan bisa dikatakan wajib bagi setiap manusia yang masih hidup di dunia ini. Sungguh menjadi sesuatu yang aneh atau bahkan sangat langka, jika ada orang yang mampu hidup sendiri. Karena memang begitulah fitrah manusia. Manusia membutuhkan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Tidak ada mahluk yang sama seratus persen di dunia ini. Semuanya diciptakan Allah berbeda-beda. Meski ada persamaan, tapi tetap semuanya berbeda. Begitu halnya dengan manusia. Lima milyar lebih manusia di dunia ini memiliki ciri, sifat, karakter, dan bentuk khas. Karena perbedaan itulah, maka sangat wajar ketika nantinya dalam bergaul sesama manusia akan terjadi banyak perbedaan sifat, karakter, maupun tingkah laku. Allah mencipatakan kita dengan segala perbedaannya sebagai wujud keagungan dan kekuasaan-Nya. Maka dari itu, janganlah perbedaan menjadi penghalang kita untuk bergaul atau bersosialisasi dengan lingkungan sekitar kita. Anggaplah itu merupakan hal yang wajar, sehingga kita dapat menyikapi perbedaan tersebut dengan sikap yang wajar dan adil. Karena bisa jadi sesuatu yang tadinya kecil, tetapi karena salah menyikapi, akan menjadi hal yang besar. Itulah perbedaan. Tak ada yang dapat membedakan kita dengan orang lain, kecuali karena ketakwaannya kepada Allah SWT (QS. Al_Hujurat [49]:13)

Perbedaan bangsa, suku, bahasa, adat, dan kebiasaan menjadi satu paket ketika Allah menciptakan manusia, sehingga manusia dapat saling mengenal satu sama lainnya. Sekali lagi . tak ada yang dapat membedakan kecuali ketakwaannya. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu kita tumbuh kembangkan agar pergaulan kita dengan sesama muslim menjadi sesuatu yang indah sehingga mewujudkan ukhuwah islamiyah. Tiga kunci utama untuk mewujudkannya yaitu taaruf, tafahum, dan taawun. Inilah tiga kunci utama yang harus kita lakukan dalam pergaulan. Taaruf. Apa jadinya ketika seseorang tidak mengenal orang lain? Mungkinkah mereka akan saling menyapa? Mungkinkah mereka akan saling menolong, membantu, atau memperhatikan? Atau mungkinkah ukhuwah islamiyah akan dapat terwujud? Begitulah, ternyata taaruf atau saling mengenal menjadi suatu yang wajib ketika kita akan melangkah keluar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Dengan taaruf kita dapat membedakan sifat, kesukuan, agama, kegemaran, karakter, dan semua ciri khas pada diri seseorang. Tafahum. Memahami, merupakan langkah kedua yang harus kita lakukan ketika kita bergaul dengan orang lain. Setelah kita mengenal seseorang pastikan kita tahu juga semua yang ia sukai dan yang ia benci. Inilah bagian terpenting dalam pergaulan. Dengan memahami kita dapat memilah dan memilih siapa yang harus menjadi teman bergaul kita dan siapa yang harus kita jauhi, karena mungkin sifatnya jahat. Sebab, agama kita akan sangat ditentukan oleh agama teman dekat kita. Masih ingat ,Bergaul dengan orang shalih ibarat bergaul dengan penjual minyak wangi, yang selalu memberi aroma yang harum setiap kita bersama dengannya. Sedang bergaul dengan yang jahat ibarat bergaul dengan tukang pandai besi yang akan memberikan bau asap besi ketika kita bersamanya. Tak dapat dipungkiri, ketika kita bergaul bersama dengan orang-orang shalih akan banyak sedikit membawa kita menuju kepada kesalihan. Dan begitu juga sebaliknya, ketika kita bergaul dengan orang yang akhlaknya buruk, pasti akan membawa kepada keburukan perilaku ( akhlakul majmumah ). Taawun. Setelah mengenal dan memahami, rasanya ada yang kurang jika belum tumbuh sikap taawun (saling menolong). Karena inilah sesungguhnya yang akan menumbuhkan rasa cinta pada diri seseorang kepada kita. Bahkan Islam sangat menganjurkan kepada ummatnya untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Rasullulloh SAW telah mengatakan bahwa bukan termasuk umatnya orang yang tidak peduli dengan urusan umat Islam yang lain. Taaruf, tafahum , dan taawun telah menjadi bagian penting yang harus kita lakukan. Tapi, semua itu tidak akan ada artinya jika dasarnya bukan ikhlas karena Allah. Ikhlas harus menjadi sesuatu yang utama, termasuk ketika kita mengenal, memahami, dan saling menolong. Selain itu, tumbuhkan rasa cinta dan benci karena Allah. Karena cinta dan benci karena Allah akan mendatangkan keridhaan Allah dan seluruh makhluknya. Wallahu alam bishshawab.

Prinsip-Prinsip Pergaulan Lintas Agama


17-January-2007

Islam adalah agama dunia, berlaku universal, dan untuk kebaikan semua manusia dan alam. Karena itu, setiap Muslim memandang hubungan antar sesama manusia adalah atas dasar cinta, persahabatan, kerjasama untuk kebaikan dan perdamaian. Hanya mereka yang dangkal imannya, sempit ilmunya, perasaan benci dan dendam, serta mereka yang tidak sabarlah yang cenderung membuat permusuhan dan perperangan sesama manusia. Islam yang suci, sering dinodai oleh segelintir kelompok yang memaksakan keyakinannya kepada pihak lain dengan menebar teror dan kekerasan dengan dalih agama. Mereka harus kembali pada prinsip Islam dalam menata hubungan dengan sesama manusia yang berbeda keyakinan dan agama. Ada beberapa prinsip Islam dalam membangun hubungan Muslim dengan non-Muslim. Pertama, Islam adalah agama yang mencintai kedamaian. Firman Allah, Tetapi jika mereka condong kepada kedamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Anfal [8]: 61). Kedua, Islam adalah agama rahmat bagi semua umat manusia. Firman Allah, Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (QS Al-Anbia[21]: 107). Dan Rasulullah Saw juga bersabda, Mereka yang tidak mengasihi sesama manusia, maka Allah tidak mengasihinya, (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Maka dari itu, sangat tidak logis kalau Islam, yang memerintahkan para pengikutnya untuk saling mengasihi sesama manusia dan semua makhluk hidup, akan memerintahkan perang terus menerus terhadap non muslim hanya karena perbedaan akidah.

Ketiga, Islam menghormati dan menghargai semua manusia. Allah berfirman, Sesungguhnya, telah kami muliakan anak-anak adam . (QS Al Isra [17]: 70). Memuliakan anak-anak Adam termasuk melarang penyiksaan terhadap mereka. Allah Swt telah melarang pembunuhan umat manusia secara umum. Allah berfirma, barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya .. (QS Al- Maidah [5]: 32). Keempat, tidak ada paksaan dalam beragama. Firman Allah, Tidak ada paksaan untuk memasuki agama . (QS Al-Baqarah [2]: 256). Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya, maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang beriman semuanya? (QS Yunus [10]: 99). Dua ayat dalam Alquran ini dengan jelas melarang memaksa manusia untuk menerima Islam. Oleh karena itu, dasar hubungan non-Islam adalah perang supaya mereka memeluk Islam atau tunduk di bawahnya tidak dapat dipertahankan. Kelima, Islam memperbolehkan perkawinan dengan perempuan Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen). Allah berfirman: Dan dihalalkan mengawini wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelumnya (QS. Al-Maidah [5]: 5). Walaupun ada beberapa perbedaan pendapat mengenai apakah ketentuan ini masih berlaku untuk masa sekarang tetapi yang pasti hal ini telah menjadi salah satu dari hukum Islam pada masa Nabi Muhammad Saw dan generasi awal Muslim. Bagaimana mungkin Islam memperbolehkan Muslim untuk mengawini Ahli Kitab sedangkan pada saat yang sama menganjurkan prinsip hubungan Islam Non-Muslim atas dasar benci dan perang. Firman Allah, Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benarbenar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS Ar-Rum [30]: 21). Keenam, Islam mewajibkan kepada Muslim untuk mendakwahkan ajaran Islam dengan cara hikmah dan baik. Firman Allah: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk, (QS An-Nahl [16]:125). Bagaimana mungkin bagi seseorang dapat berdakwah dan mengajarkan tentang Islam kepada non-Muslim, dengan cara yang paling sopan, bila dia menyimpan rasa benci dan permusuhan satu sama lain apalagi sampai ingin berperang melawan mereka? Dalam berdakwah dengan sesama manusia, Muslim hanya diminta menyampaikan pesan , bukan memaksa untuk menerima Islam. Firman Allah :Tetapi kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan pesan (yang dipercayaka kepada kita) dengan jelas. (QS. Yasin [36]: 17). Ini menjelaskan kepada Nabi Muhammad Saw tidak pernah lupa mengingatkan pasukannya untuk mengundang non-Muslim ke Islam. Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadisnya berkata kepada Ali bin Abi Thalib, Undanglah mereka kepada Islam dan beri tahu tugas-tugas mereka. Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk melalui kamu, maka lebih baik bagi kamu daripada unta merah.(HR. Al-Bukhari). Ini menunjukkan bahwa mengundang orang untuk masuk Islam melalui cara damai lebih disukai daripada melalui perang. Ketujuh, Allah dengan sengaja menciptakan manusia berbeda-beda, termasuk juga keragaman akidah dan agama. Maka dari itu, hal ini seharusnya tidak menjadikan sumber konflik, tetapi seharusnya menjadi kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain. Allah berfirman: Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu berbangsabangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat {49}: 13). Bagaimana mungkin Muslim dapat memenuhi perintah Allah untuk mengenal satu sama lain apabila hati mereka dipenuhi dengan kebencian dan kebulatan tekad untuk berperang melawan nonMuslim. Jadi dasar hubungan antara Muslim dan non-Muslim adalah perdamaian. Karena umat Islam harus membangun hubungan yang harmoni, damai dan konstruktif dengan sesama manusia.

AGAMA ISLAM ADALAH AGAMA YANG HAQ (BENAR) YANG DIBAWA OLEH MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
oleh Al-Qur'an & Hadist Today pada 14 Desember 2009 jam 18:41 Dengan Islam, Allah Subhanahu wa Taala mengakhiri serta menyempurnakan agama-agama lain untuk para hambaNya. Dengan Islam pula, Allah Subhanahu wa Taala menyempurnakan kenikmatanNya dan meridhai Islam sebagai agama. Agama Islam adalah agama yang benar dan satu-satunya agama yang diterima Allah, kepercayaan selain Islam tidak akan

diterima Allah.

Allah Subhanahu wa Taala berfirman.

Artinya : Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Ali Imran: 85]

Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan kepada seluruh manusia untuk memeluk agama Islam karena Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

Artinya : Katakanlah: Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada yang berhak disembah selain Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada Kalimat-KalimatNya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk [Al-Araaf: 158]

Hal ini juga sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Artinya : Demi yang diri Muhammad ada di tangan Allah, tidaklah mendengar seorang dari ummat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya Muhammad, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang diutus dengannya (Islam), niscaya dia termasuk penghuni Neraka.[1]

Mengimani Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, artinya membenarkan dengan penuh penerimaan dan kepatuhan pada seluruh apa yang dibawanya bukan hanya membenarkan semata. Oleh karena itulah Abu Thalib (paman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam) termasuk kafir, yaitu orang yang tidak beriman kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam meskipun dia membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan dia membenarkan pula bahwa Islam adalah agama yang terbaik.

Agama Islam mencakup seluruh kemaslahatan yang terkandung di dalam agama-agama terdahulu. Islam memiliki keistimewaan, yaitu cocok dan sesuai untuk setiap masa, tempat dan kondisi ummat.

Artinya : Dan Kami turunkan kepadamu al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain...[Al-Maa-idah: 48]

Islam dikatakan cocok dan sesuai di setiap masa, tempat dan kondisi ummat maksudnya adalah berpegang teguh kepada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan ummat bahkan, dengan Islam ini ummat akan menjadi baik, sejahtera, aman dan sentausa. Tetapi harus diingat bahwa Islam tidak tunduk terhadap masa, tempat dan kondisi ummat

sebagaimana yang dikehendaki oleh sebagian orang. Apabila ummat manusia menginginkan keselamatan di dunia dan di akhirat, maka mereka harus masuk Islam dan tunduk dalam melaksanakan syariat Islam.

Agama Islam adalah agama yang benar, Allah menjanjikan kemenangan kepada orang yang berpegang teguh kepada agama ini dengan baik, namun dengan syarat mereka harus mentauhidkan Allah, menjauhkan segala perbuatan syirik, menuntut ilmu syari dan mengamalkan amal yang shalih.

Allah Subhanahu wa Taala berfirman.

Artinya : Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyu-kainya. [At-Taubah: 33]

Artinya : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik. [An-Nuur: 55]

Islam adalah agama yang sempurna dalam aqidah dan syariat. Bentuk kesempurnaannya di antaranya adalah

[1]. Memerintahkan bertauhid dan melarang syirik. [2]. Memerintahkan untuk berbuat jujur dan melarang bersikap bohong. [3]. Memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang bersikap zhalim. [4]. Memerintahkan untuk bersikap amanah dan melarang ingkar janji. [5]. Memerintahkan untuk menepati janji dan melarang bersikap khianat. [6]. Memerintahkan untuk berbakti kepada ibu-bapak serta me-larang mendurhakainya.

Dan yang lainnya.

Secara umum Islam memerintahkan agar berakhlak yang mulia, bermoral baik dan melarang bermoral buruk. Islam juga memerintahkan setiap perbuatan baik, dan melarang perbuatan yang buruk

Allah Subahanahu wa Taala berfirman.

Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan

Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. [ An-Nahl: 90]

Islam didirikan atas lima dasar, sebagaimana yang tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda

Artinya : Islam dibangun atas lima hal, (yaitu); (1) bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar melainkan hanya Allah, (2) dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, (3) menegakkan shalat, (4) membayar zakat, (5) berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah."[2]

Rukun Islam ini wajib diimani, diyakini dan wajib diamalkan oleh setiap muslim dan muslimah.

Pertama: Kesaksian tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Azza wa Jalla dan Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam adalah hamba serta RasulNya merupakan keyakinan yang mantap, yang diekspresikan dengan lisan. Dengan kemantapannya itu, seakan-akan ia dapat menyaksikanNya.

Syahadah (kesaksian) merupakan satu rukun padahal yang disaksikan itu ada dua hal, ini dikarenakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah penyampai risalah dari Allah Azza wa Jalla. Jadi, kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan Allah Azza wa Jalla merupakan kesempurnaan kesaksian Laa ilaha illa Allah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah.

Syahadatain (dua kesaksian) tersebut merupakan dasar sah dan diterimanya semua amal. Amal akan sah dan diterima bila dilakukan dengan keikhlasan hanya karena Allah Azza wa Jalla dan mutabaah (mengikuti) Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ikhlas karena Allah Azza wa Jalla terealisasi pada Syahadat (kesaksian) laa ilaha illallah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Sedangkan mutabaah atau mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terealisasi pada kesaksian bahwa Muhammad adalah hamba serta Rasul-Nya.

Faedah terbesar dari dua kalimat syahadat tersebut adalah membebaskan hati dan jiwa dari penghambaan terhadap makhluk dengan beribadah hanya kepada Allah saja serta tidak mengikuti melainkan hanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Kedua: Mendirikan shalat artinya beribadah kepada Allah dengan mengerjakan shalat wajib lima waktu secara istiqamah serta sempurna, baik waktu maupun caranya. Shalat harus sesuai dengan contoh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam

Artinya : Shalatlah kalian sebagaimana engkau melihatku shalat. [3]

Salah satu hikmah shalat adalah mendapat kelapangan dada, ketenangan hati, dan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar.[4]

Ketiga: Mengeluarkan zakat artinya, beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla dengan menyerahkan kadar yang wajib dari harta-harta yang harus dikeluarkan zakatnya.[5]

Salah satu hikmah mengeluarkan zakat adalah membersihkan harta, jiwa dan moral yang buruk, yaitu kekikiran serta dapat menutupi kebutuhan Islam dan ummat Islam, menolong orang fakir dan miskin.

Keempat: Puasa Ramadhan artinya, beribadah hanya kepada Allah dengan cara meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkan di siang hari di bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh).

Salah satu hikmahnya ialah melatih jiwa untuk meninggalkan hal-hal yang disukai karena mencari ridha Allah Azza wa Jalla.

Kelima: Naik Haji ke Baitullah (rumah Allah), artinya beribadah hanya kepada Allah dengan menuju ke al-Baitul Haram (Kabah di Makkah al-Mukarramah) untuk mengerjakan syiar atau manasik Haji.[6]

Salah satu hikmahnya adalah melatih jiwa untuk mengerahkan segala kemampuan harta dan jiwa agar tetap taat kepada Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu Haji merupakan salah satu macam jihad fi sabilillah.[7] islam dan ilmu pengetahuan I. PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam abad ke 20 ini, di satu pihak orang mengamati kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat pesat dan mendalam, namun bersamaan dengan itu dipihak lain orang mengamati dekadensi kehidupan beragama dikalangan umat manusia. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tampak jelas memberikan buah yang sangat menyenangkan bagi kehidupan lahiriyah umat manusia secara luas. Dan manusia merasa telah mampu mengeksploitasi kekayaan-kekayaan dunia secara besar-besaran. Kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi kurun ini, secara bertahap tapi pasti membuktikan bahwa ayat-ayat al-Qur'an itu benar dan mengagumkan. Sejak bentuk tulisan yang paling primitif dengan bahan kertas yang amat sederhana manusia memulai abad-abad yang gemerlapan oleh sinar ilmu pengetahuan itu, manusia telah menulis berjuta-juta buku, dan dapat menyelesaikan penulisan beribu-ribu kata dalam waktu yang amat singkat. Dna yang paling aktual serta masih mengagumkan di kalangan manusia adalah penemuan alat komputer yang begitu besar manfaatnya. II. 1. 2. 3. RUMUSAN MASALAH Apa pandangan Islam terhadap ilmu pengetahuan? Jelaskan hubungan antara pengetahuan dan Islam! Jelaskan hokum kloning pada Islam!

III. PEMBAHASAN III.1. Pandangan Islam pada ilmu pengetahuan

Sepanjang yang kita ketahui, rasanya belum ada sesuatu agamapun yang melampaui dalamnya pandangan terhadap ilmu pengetahuan sebagaimana pandangan yang diberikan Islam. Islam sangat gigih dalam mendorong umat manusia untuk mencari ilmu dan mendudukkannya, sebagai sesuatu yang utama dan mulia. Contoh dari Islam sangat gigih dalam mendorong umat manusia untuk mencari ilmu dan mendudukannya, sebagai sesuatu yang utama dan mulia adalah:

"Carilah ilmu sekalipun di negeri Cina" (H.R. Ibnu 'Adi dan Baihalqi) "Tuntutkah ilmu dari buaian sampai ke liang jahat" "Belajarlah kamu semua dan mengajarlah kamu semua dan hormatilah gurumu dan berbuat baiklah kepada orang yang telah mengajarimu semua" (H.R. Thabrani) "Jadilah kamu orang yang mengajar atau belajar atau pendengar(mendengarkan orang mengaji) atau pecinta(mencintai ilmu) dan engkau jadi orang yang kelima(tidak mengajar, tidak belajar, tidak mendengarkan pengajian, dan tidak mencintai ilmu), maka engkau akan hancur" (H.R. Baihaqi) "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim" (H.R. Ibnu Majah) "Orang yang keluar untuk menuntut ilmu, ha termasuk orang yang berjuang di jalan Allah hingga ia kembali" (H.R. AtTirmizi) "Orang yang memudahkan jalan untuk menuntut ilmu. Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya(kepada orang yang menuntut ilmu) karena senang kepada orang yang mencari ilmu" (H.R. At-Tirmizi) "Wahai Abu Zar, keluarmu pada pagi hari untuk mempelajari satu ayat dari kitab Allah itu lebih baik daripada kamu mengerjakan shalat 100 rakaat. Keluarmu pada pagi hari untuk belajar satu bab dari ilmu, baik diamalkan maupun tidak adalah lebah baik bagimu daripada kamu mengerjakan shalat seribu rakaat" (H.R. Ibnu Majah) "Barangsiapa yang menghendaki(kebahagiaan) dunia maka hendaklah ia berilmu dan barangsiapa yang menghendaki(kebahagiaan) akhirat maka hendaklah ha berilmu dan barangsiapa menghendaki kedua-duanya maka ia pun harus berilmu" "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Quran dan mengajarkannya" (H.R. Bukhari) "Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakan terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orangorang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis(pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka...neraka..." (H.R. Tirmizi dan Ibnu Majah) "Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiakan. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumnya daripada berkhianat dalam harta" (H.R. Abu Na'im).
Dari sini kita dapat mengambil pengertian bahwa Allah benar-benar menyatakan betapa tingginya nilai ilmu itu. Karena itu Allah meninggikan kedudukan orang-orang yang berilmu, baik disisi Allah maupun disisi manusia. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. (QS. 58 : 11)

III.2. Hubungan antara ilmu pengetahuan dan Islam Islam dan ilmu pengetahuan memiliki hubungan yang sangat erat. Sebab, selain sebagai agama yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, Islam juga hadir sebagai ilmu yang memberikan petunjuk rahasia alam kepada manusia.

Dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, sudah banyak bukti yang menunjukkan hubungan Islam dan ilmu pengetahuan. Selain itu, banyak ilmuwan Islam yang hasil pemikirannya sudah diakui oleh dunia. Seperti Ibn Sina yang oleh dunia barat dikenal dengan nama Avecina. Ibn Sina adalah salah satu tokoh yang banyak berperan di bidang ilmu kedokteran dunia. Pengakuan adanya hubungan Islam dan ilmu pengetahuan bukan hanya berasal dari kalangan Islam saja. Banyak ilmuwan non Islam yang sudah mengakui, bahwa Islam merupakan agama yang penuh petunjuk akan pengetahuan. Salah satu sumber petunjuk yang banyak diakui kebenarannya adalah Al Quran. Bukti Hubungan Islam dan Ilmu Pengetahuan : 1. Adanya pembuktian dari astronot terkenal, Neil Amstrong yang menyatakan bahwa pada dasarnya pusat dunia adalah Kabah. Hal ini diketahui dari diketemukannya bukti bahwa planet bumi mengeluarkan semacam radiasi yang berasal dari Kabah. 2. Adanya rahasia pada berbagai gerakan sholat yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Salah satunya, dengan melakukan sujud maka aliran darah akan masuk hingga bagian tersempit di bagian otak manusia. Hal ini akan mengurangi resiko stroke pada seseorang. Selain itu, posisi sujud bagi ibu hamil akan membantu penentuan posisi janin sehingga memudahkan saat melahirkan. 3. Adanya larangan umat Islam untuk makan babi. Karena dalam daging babi mengandung bakteri dan cacing yang berbahaya bagi kesehatan manusia. 4. Adanya penemuan tentang teori rotasi bumi. Dimana dalam Islam sudah disebutkan bahwa setiap planet dalam tata surya bergerak sesuai orbitnya sehingga tidak mungkin saling bertabrakan dan tidak ada planet yang menjadi pusat tata surya. Hal ini merupakan bantahan berbagai teori rotasi bumi, baik heliosentris, geosentris maupun teori galileo galilei yang sempat bertahan hingga beberapa abad. Namun semua teori tersebut sudah terbantahkan oleh Al Quran yang sudah ada sejak 15 abad silam. III.3. Hukum kloning dalam Islam Kloning dalam biologi adalah proses menghasilkan individu-individu dari jenis yang sama (populasi) yang identik secara genetik. Kloning merupakan proses reproduksi aseksual yang biasa terjadi di alam dan dialami oleh banyak bakteria, serangga, atau tumbuhan. Dalam bioteknologi, kloning merujuk pada berbagai usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk menghasilkan salinan berkas DNA atau gen, sel, atau organisme. Arti lain kloning digunakan pula di luar ilmu-ilmu hayati. Kloning manusia dapat berlangsung dengan adanya laki-laki dan perempuan dalam prosesnya. Proses ini dilaksanakan dengan mengambil sel dari tubuh laki-laki, lalu inti selnya diambil dan kemudian digabungkan dengan sel telur perempuan yang telah dibuang inti selnya. Sel telur ini setelah bergabung dengan inti sel tubuh laki-laki lalu ditransfer ke dalam rahim seorang perempuan agar dapat memeperbanyak diri, berkembang, berubah menjadi janin, dan akhirnya dila hirkan sebagai bayi. Bayi ini merupakan keturunan dengan kode genetik yang sama dengan laki-laki yang menjadi sumber pengambilan sel tubuh. Kloning manusia dapat pula berlangsung di antara perem puan saja, tanpa memerlukan kehadiran laki-laki. Proses ini dilaksanakan dengan mengambil sel dari tubuh seorang perem puan, kemudian inti selnya diambil dan digabungkan dengan sel telur perempuan yang telah dibuang inti selnya. Sel telur ini setelah bergabung dengan inti sel tubuh perem puan lalu ditransfer ke dalam rahim perempuan agar memper banyak diri, berkembang, berubah menjadi janin, dan akhirnya dilahirkan sebagai bayi. Bayi yang dilahirkan merupakan keturunan dengan kode genetik yang sama dengan perempuan yang menjadi sumber pengambilan sel tubuh. Kloning yang dilakukan pada laki-laki atau perempuan baik yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas keturunan dengan menghasilkan keturunan yang lebih cerdas, lebih kuat, lebih sehat, dan lebih rupawan, maupun yang bertujuan untuk memperbanyak keturunan guna meningkatkan jumlah penduduk suatu bangsa agar bangsa atau negara itu lebih kuat sean dainya benar-benar terwujud, maka sungguh akan menjadi bencana dan biang kerusakan bagi dunia. Kloning ini haram menurut hukum Islam dan tidak boleh dilakukan. Dalil-dalil keharamannya adalah sebagai berikut : 1. Anak-anak produk proses kloning tersebut dihasilkan melalui cara yang tidak alami. Padahal justru cara alami itulah yang telah ditetapkan oleh Allah untuk manusia dan dijadikan-Nya sebagai sunnatullah untuk menghasilkan anak-anak dan keturunan. Allah SWT berfirman : dan Bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila dipancarkan. (QS. An Najm : 45-46) 2. Anak-anak produk kloning dari perempuan saja (tanpa adanya laki-laki), tidak akan mempunyai ayah. Dan anak produk kloning tersebut jika dihasilkan dari proses peminda han sel telur yang telah digabungkan dengan inti sel tubuh ke dalam rahim perempuan yang bukan pemilik sel telur, tidak pula akan mempunyai ibu. Sebab rahim perempuan yang menjadi tempat pemindahan sel telur tersebut hanya menjadi penampung, tidak lebih. Ini merupakan tindakan menyia-nyiakan manusia, sebab dalam kondisi ini tidak terda pat ibu dan ayah. Hal ini bertentangan dengan firman Allah SWT : Hai manusia, sesunguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. (QS. Al Hujuraat : 13)

3. Kloning manusia akan menghilang nasab (garis keturunan). Padahal Islam telah mewajibkan pemeliharaan nasab. Diriway atkan dari Ibnu Abbas RA, yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : Siapa saja yang menghubungkan nasab kepada orang yang bukan ayahnya, atau (seorang budak) bertuan (loyal/taat) kepada selain tuannya, maka dia akan mendapat laknat dari Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. (HR. Ibnu Majah) 5. Memproduksi anak melalui proses kloning akan mencegah pelaksanaan banyak hukum-hukum syara, seperti hukum tentang perkawinan, nasab, nafkah, hak dan kewajiban antara bapak dan anak, waris, perawatan anak, hubungan kemahraman, hubun gan ashabah, dan lain-lain. Di samping itu kloning akan mencampur adukkan dan menghilangkan nasab serta menyalahi fitrah yang telah diciptakan Allah untuk manusia dalam masalah kelahiran anak. Kloning manusia sungguh merupakan perbuatan keji yang akan dapat menjungkir balikkan struktur kehidupan masyarakat. Berdasarkan dalil-dalil itulah proses kloning manusia diharamkan menurut hukum Islam dan tidak boleh dilaksanakan. Allah SWT berfirman mengenai perkataan Iblis terkutuk, yang mengatakan : dan akan aku (Iblis) suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya. (QS. An Nisaa : 119)

IV.

KESIMPULAN

1. Islam sangat gigih dalam mendorong umat manusia untuk mencari ilmu dan mendudukkannya, sebagai sesuatu yang utama dan mulia. 2. Semua ilmu pengetahuan yang ada di bumi ini bersumber pada Al-Quran. 3. Dalam Islam kloning diharamkan karena sama saja mengubah ciptaan Allah.

demokrasi pandangan islam BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Umat Islam seringkali kebingungan dengan istilah demokrasi. Di saat yang sama, demokrasi bagi sebagian umat Islam sampai dengan hari ini masih belum diterima secara bulat. Sebagian kalangan memang bisa menerima tanpa reserve, sementara yang lain, justru bersikap ekstrem. Menolak bahkan mengharamkannya sama sekali. Tak sedikit sebenarnya yang tidak bersikap sebagaimana keduanya.Artinya, banyak yang tidak mau bersikap apapun.Kondisi ini dipicu dengan banyak dari kalangan umat Islam sendiri yang kurang memahami bagaimana Islam memandang demokrasi. Demokrasi adalah sebuah tema yang banyak dibahas oleh para ulama dan intelektual Islam.Untuk menjawab dan memosisikan demokrasi secara tepat kita harus terlebih dahulu mengetahui prinsip demokrasi. Menurut Sadek J.Sulayman dalam demokrasi terdapat sejumlah prinsip yang menjadi standar baku, diantaranya :

Kebebasan berbicara setiap warga Negara Pelaksanaan pemilu untuk menilai apakah yang berkuasa layak didukung kembali atau harus diganti Kekuasaan dipegang oleh suara mayoritas tanpa mengabaikan control minioritas Peranan partai politik yang sangat penting sebagai wadah aspirasi aspirasi politik rakyat Pemisahan kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif Supremasi hukum (semua harus tunduk pada hukum) Semua individu bebas melakukan apa saja tanpa boleh dibelenggu.

I.2 Rumusan Masalah 1. Mengapa demokrasi dikatakan bertentangan dengan Islam? 2. Mengapa demokrasi dikatakan tidak bertentangan dengan Islam? 3. Beberapa konsep demokrasi yang sesuai dengan ajaran Islam

BAB II PEMBAHASAN

Beberapa pandangan ulama yang menentang demokrasi, diantaranya : 1. Al-Maududi Dalam hal ini al-Maududi secara tegas menolak demokrasi. Menurutnya, Islam tidak mengenal paham demokrasi yang memberikan kekuasaan besar kepada rakyat untuk menetapkan segala hal.Demokrasi adalah buatan manusia sekaligus produk dari pertentangan barat terhadap agama sehingga cenderung sekuler. Karenanya, Al-Maududi menganggap demokrasi modern (barat) merupakan sesuatu yang bersifat syirik.Menurutnya, Islam menganut paham teokrasi (berdasarkan hukum Tuhan).Tentu saja bukan teokrasi yang diterapkan di barat pada abad pertengahan yang telah memberikan kekuasaan tak terbatas pada para pendeta. 1. Mohammad Iqbal Kritikan terhadap demokrasi yang berkembang juga dikatakan oleh intelektual Pakistan ternama M. Iqbal. Menurut Iqbal, sejalan dengan kemenangan sekularisme atas agama, demokrasi modern menjadi kehilangan sisi spiritualnya sehingga jauh dari etika. Demokrasi yang merupakan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat telah mengabaikan keberadaan agama.Parlemen sebagai salah satu pilar demokrasi dapat saja menetapkan hukum yang bertentangan dengan nilai agama kalau anggotanya menghendaki.Karenanya, menurut Iqbal Islam tidak dapat menerima model demokrasi Barat yang telah kehilangan basis moral dan spiritual.Atas dasar itu, Iqbal menawarkan sebuah konsep demokrasi spiritual yang dilandasi oleh etik dan moral ketuhanan. Jadi yang ditolak oleh Iqbal bukan demokrasi an sich. Melainkan, prakteknya yang berkembang di Barat. Lalu, Iqbal menawarkan sebuah model demokrasi sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Tauhid sebagai landasan asasi Kepatuhan pada hukum Tidak dibatasi wilayah, ras dan warna kulit Penafsiran hukum Tuhan melalui itjihad Adapun pandangan ulama yang mendukung demokrasi, diantaranya : 1. Yusuf al-Qardhawi Menurut beliau, substansi demokrasi sejalan dengan Islam.Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal. Misalnya:

Dalam demokrasi, proses pemilihan melibatkan banyak orang untuk melibatkan banyak orang untuk mengangkat seorang kandidat yang berhak memimpin dan mengurus keadaan mereka. Tentu saja, mereka tidak boleh akan memilih sesuatu yang tidak mereka sukai. Demikian juga dengan Islam. Islam menolak seseorang menjadi imam salat yang tidak disukai oleh makmum belakangnya. Usaha setiap rakyat untuk meluruskan penguasa yang tiran juga sejalan dengan Islam. Bahkan amar makruf dan nahi mungkar serta memberikan nasehat kepada pemimpin adalah bagian dari ajaran Islam. Pemilihan umum termasuk jenis pemberian saksi. Karena itu, barangsiapa yang tidak menggunakan hak pilihnya sehingga kandidat yang mestinya layak dipilih menjadi kalah dan suara mayoritas jatuh kepada kandidat yang sebenarnya tidak layak, berarti ia telah menyalahi perintah Allah untuk memberikan kesaksian pada saat dibutuhkan. Penetapan hukum yang berdasarkan suara mayoritas juga tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Contohnya dalam sikap Umar yang tergabung dalam syura. Mereka ditunjuk Umar sebagai kandidat khalifah dan sekaligus memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah berdasarkan suara terbanyak. Sementara, lainnya yang tidak terpilih harus tunduk dan patuh. Jika suara yang keluar tiga lawan tiga, mereka harus memilih seseorang yang diunggulkan dari luar mereka. Yaitu Abdullah ibn Umar. Contoh lain adalah penggunaan pendapat jumhur ulama dalam masalah khilafiyah. Tentu saja, suara mayoritas yang diambil ini adalah selama tidak bertentangan dengan nash syariat secara tegas.

Juga kebebasan pers dan kebebasan mengeluarkan pendapat, serta otoritas pengadilan merupakan sejumlah hal dalam demokrasi yang sejalan dengan Islam. Adapun pandangan ulama yang berpendapat bahwa demokrasi mempunyai sisi positif dan sisi negatif, diantaranya :

1.

Salim Ali al-Bahnasawi

Menurutnya, demokrasi mengandung sisi yang baik yang tidak bertentangan dengan islam dan memuat sisi negatif yang bertentangan dengan Islam. Sisi baik demokrasi adalah adanya kedaulatan rakyat selama tidak bertentangan dengan Islam.Sementara, sisi buruknya adalah penggunaan hak legislatif secara bebas yang bisa mengarah pada sikap menghalalkan yang haram dan menghalalkan yang haram. Karena itu,ia menawarkan adanya islamisasi demokrasi sebagai berikut: ia menawarkan adanya islamisasi demokrasi sebagai berikut:


1.

Menetapkan tanggung jawab setiap individu di hadapan Allah SWT. Wakil rakyat harus berakhlak Islam dalam musyawarah dan tugas-tugas lainnya. Mayoritas bukan ukuran mutlak dalam kasus yang hukumnya tidak ditemukan dalam Al-Quran dan sunnah (Al-Nisa 59) dan (Al Ahzab 36) Komitmen terhadap Islam terkait dengan persyaratan jabatan sehingga hanya yang bermoral yang duduk di parlemen. Muhammad Imarah

Menurut beliau Islam tidak menerima demokrasi secara mutlak dan juga tidak menolaknya secara mutlak.Dalam demokrasi, kekuasaan legislatif (membuat dan menetapkan hukum) secara mutlak berada di tangan rakyat.Sementara, dalam sistem syura (Islam) kekuasaan tersebut merupakan wewenang Allah.Dialah pemegang kekuasaan hukum tertinggi.Wewenang manusia hanyalah menjabarkan dan merumuskan hukum sesuai dengan prinsip yang digariskan Tuhan serta berijtihad untuk sesuatu yang tidak diatur oleh ketentuan Allah.Jadi, Allah berposisi sebagai al-Syari (legislator) sementara manusia berposisi sebagai faqih (yang memahami dan menjabarkan) hukum-Nya.Demokrasi Barat berpulang pada pandangan mereka tentang batas kewenangan Tuhan.Menurut Aristoteles, setelah Tuhan menciptakan alam, Dia membiarkannya. Dalam filsafat Barat, manusia memiliki kewenangan legislatif dan eksekutif.Sementara, dalam pandangan Islam, Allah-lah pemegang otoritas tersebut.Allah befirman Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.(Al-Araf 54). Inilah batas yang membedakan antara sistem syariah Islam dan demokrasi barat.Adapun hal lainnya seperti membangun hukum atas persetujuan umat, pandangan mayoritas, serta orientasi pandangan umum, dan sebagainya adalah sejalan dengan Islam.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep demokrasi tidak sepenuhnya bertentangan dan tidak sepenuhnya sejalan dengan Islam.Prinsip dan konsep demokrasi yang sejalan dengan Islam adalah keikutsertaan rakyat dalam mengontrol, mengangkat, dan menurunkan pemerintah, serta dalam menentukan sejumlah kebijakan lewat wakilnya.Adapun yang tidak sejalan adalah ketika suara rakyat diberikan kebebasan secara mutlak sehingga bisa mengarah kepada sikap, tindakan, dan kebijakan yang keluar dari rambu-rambu Illahi. Karena itu, maka perlu dirumuskan sebuah sistem demokrasi yang sesuai dengan ajaran Islam, yaitu : 1. Demokrasi tersebut harus berada di bawah payung agama.

2. 3. 4. 5. 6. 7.

Rakyat diberi kebebasan untuk menyuarakan aspirasinya Pengambilan keputusan senantiasa dilakukan dengan musyawarah. Suara mayoritas tidaklah bersifat mutlak meskipun tetap menjadi pertimbangan utama dalam musyawarah. Musyawarah atau voting hanya berlaku pada persoalan ijtihadi; bukan pada persoalan yang sudah ditetapkan secara jelas oleh Alquran dan Sunah. Produk hukum dan kebijakan yang diambil tidak boleh keluar dari nilai-nilai agama. Hukum dan kebijakan tersebut harus dipatuhi oleh semua warga Saran Akhirnya, agar sistem atau konsep demokrasi yang islami di atas terwujud, langkah yang harus dilakukan:

1. 2.

Seluruh warga atau sebagian besarnya harus diberi pemahaman yang benar tentang Islam sehingga aspirasi yang mereka sampaikan tidak keluar dari ajarannya. Parlemen atau lembaga perwakilan rakyat harus diisi dan didominasi oleh orang-orang Islam yang memahami dan mengamalkan Islam secara baik.

BAB I PENDAHULUAN
Emansipasi wanita di Indonesia sudah diperjuangkan sebelum Indonesia merdeka. R.A. Kartini, seorang wanita yang telah mengubah pandangan wanita di kehidupan kita yang akhirnya munculah apa yang kita kenal dengan emansipasi wanita. Sering kita dengar pemahaman emansipasi wanita yang selalu digembar-gemborkan orang-orang barat yang mengatasnamakan hak asasi manusia, bahwa emansipasi wanita adalah menyamakan hak dengan kaum pria, padahal tidak semua hak wanita harus disamakan dengan pria, karena Allah SWT telah menciptakan masing-masing jenis kelamin dengan latar belakang biologis kodrati yang tidak sama. Seperti yang kita tahu, di Indonesia sendiri sering kita temui kondisi dimana wanita memiliki kedudukan yang bisa dikategorikan tinggi di mata masyarakat. Contoh yang paling sering kita lihat di media cetak, wanita yang menjabat di Anggota DPR, memimpin partai, bahkan mencalonkan dirinya sebagai Presiden negara Indonesia. Lantas benarkah emansipasi seperti itu yang dimaksud dalam ajaran agama Islam?

BAB II PERMASALAHAN
1. 2. 3. 4.

Adakah emansipasi wanita dalam islam? Bagaimana sebenarnya pandangan islam mengenai emansipasi wanita? Seperti apakah emansipasi wanita yang bertentangan dengan islam? Benarkah propaganda emansipasi wanita digunakan bangsa barat untuk menghancurkan islam?

BAB III PEMBAHASAN


"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, lakilaki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang

banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar". Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas ra bahwa ayat ini turun berkenaan dengan pertanyaan para wanita: Mengapa dalam Al-Quran disebutkan para laki-laki sementara para wanita tidak? Maka turunlah ayat ini. Jauh sebelum mempoklamirkan emansipasi wanita, Islam telah lebih dahulu mengangkat derajad wanita dari masa pencampakan wanita di era jahiliah ke masa kemulaian wanita. Dari ayat di atas kita bisa melihat betapa Islam tidak membedakan antara wanita dan laki-laki. Semua sama di hadapan Allah.swt, dan yang membedakan mereka di hadapan Allah adalah mereka yang paling bertaqwa, taqwa dalam artian menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala laranganNya. Mari kita meneropong kebelakang, pada awal-awal berdirinya Islam telah banyak wanita-wanita yang berjaya, mereka adalah Aisyah binti Abu Bakar(wafat 58 H), Hafsah binti Umar (wafat 45 H), Juwairiah binti Harits bin Abu Dhirar (wafat 56 H), Khadijah binti Khuwailid (wafat 3 SH), Maimunah binti Harits (wafat 50 H/670 M), Ummu Salamah (wafat 57 H/676 M), Zainab binti Jahsy (wafat 20 H), Fatimah binti Muhammad (wafat 11 H), Ummi Kultsum binti Muhammad (wafat 9 H/639 M), Zainab binti Muhammad (wafat 8 H.) dan lain sebagainya. Merekalah yang telah memberikan suri tauladan yang sangat mulia untuk keberlangsungan emansipasi wanita, bukan saja hak yang mereka minta akan tetapi kewajiban sebagai seorang wanita, istri,anak atau sahabat mereka ukir dengan begitu mulianya. Tidak diragukan lagi bahwa wanita di masa jahiliah tidak memiliki nilai sedikitpun dalam kehidupan manusia. Mereka tak ubahnya binatang ternak, yang tergantung kemauan penggembalanya. Mereka ibarat budak piaraan yang tergantung kemauan tuannya. Sesungguhnya, status sosial wanita menurut bangsa Arab sebelum Islam sangatlah rendah. Hingga sampai pada tingkat kemunduran dan keterpurukan, kelemahan dan kehinaan, yang terkadang keadaannya sangat jauh dari martabat kemanusiaan. Hak-hak mereka diberangus meskipun hanya menyampaikan sebuah ide dalam urusan hidupnya. Tidak ada hak waris baginya selama dia sebagai seorang perempuan. Sedangkan dalam islam kaum wanita memiliki kedudukan yang tinggi dan memiliki hak yang sama dalam mengamalkan agama. Di mana Allah Subhanahu wa Taala telah memperlakukan mereka dan membebankan hukum-hukum syariat sesuai dengan fitrah penciptaannya. Hal ini masuk dalam keumuman firman-Nya (yang artinya): Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (AlBaqarah: 286). Islam juga telah mengabadikan nama wanita yang dalam bahasa Arab An-nisa ( )ke dalam salah satu surat dalam Al-quran, dan islam juga tidak melarang wanita untuk berperang atau berjihad di jalan Allah.Swt melawan orang-orang kafir, dalam hadits yang diriwayatkan oleh seorang sahabat wanita terkemuka Ar-Rubayyi binti Muawwidz ra berkata : Kami pernah bersama nabi SAW dalam peperangan, kami bertugas memberi minum para prajurit, melayani mereka, mengobati yang terluka, dan mengantarkan yang terluka kembali ke Madinah. Ummu Haram ra, yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra , dimana ia berkata: Nabi SAW bersabda : Sejumlah orang dari ummatku menawarkan dirinya sebagai pasukan mujahid fi sabiliLLAH. Mereka mengarungi permukaan lautan bagaikan raja-raja di atas singgasananya. Lalu tiba-tiba Ummu Haram ra berkata: Ya RasuluLLAH, doakan saya termasuk diantara mereka itu. Lalu Nabi SAW mendoakannya Hal ini menunjukkan bahwa dalam islam memang ada yang disebut emansipasi wanita dari zaman jahiliah dimana wanita diperlakukan buruk hingga ditinggikan kedudukannya dalam islam.

Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan islam tentang emansipasi wanita itu sendiri? Persamaan hak untuk dilindungi oleh hukum, mendapatkan gaji yang setara dengan laki laki jika berada di kedudukan atau kemampuan yang sama, dan lain sebagainya adalah segelintir contoh dibolehkannya persamaan hak dengan kaum pria. Makna emansipasi wanita yang benar, adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasib sendiri. dalam pandangan Islam wanita yang baik adalah wanita yang seoptimal mungkin menurut konsep alquran dan assunnah. Ialah wanita yang mampu menyelaraskan fungsi, hak dan kewajibannya: - Seorang hamba Allah ( At-Taubah 71 ) - Seorang istri ( An-Nisa 34) - Seorang ibu ( Al-Baqoroh 233 ) - Warga masyarakat (Al-furqan 33) - Daiyah ( Ali Imran104 -110) Sesungguhnya islam memberikan hak-hak wanita dengan sempurna. Islam menempatkan wanita di tempat yg sesuai pada tiga bidang : 1. Bidang Kemanusiaan : Islam mengakui haknya sebagai manusia dgn sempurna sama dgn pria. Umat-umat yg lampau mengingkari permasalahan ini. 2. Bidang Sosial : Telah terbuka lebar bagi mereka di segala jenjang pendidikan di antara mereka menempati jabatan-jabatan penting dan terhormat dalam masyarakat sesuai dengan tingkatan usianya masa kanak-kanak sampai usia lanjut. Bahkan semakin bertambah usianya semakin bertambah pula hak-hak mereka usia kanak-kanak; kemudian sebagai seorang isteri sampai menjadi seorang ibu yang menginjak lansia yang lebih membutuhkan cinta kasih dan penghormatan. 3. Bidang HukumIslam memberikan pada wanita hak memiliki harta dengan sempurna dalam mempergunakannya tatkala sudah mencapai usia dewasa dan tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya baik ayah suami atau kepala keluarga. Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an :"Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik ia laki-laki maupun perempuan sedang ia yang beriman, maka mereka itu mask kedalam sorga dan merka tidak dianiaya sedikitpun". (Al-Qur'an S. An-Nisaa' ayat 124) "Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman) : "Sesungguhnya Aku tidk menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu,baik laki-laki atau perempuan,(karena) sebahagian kamu adlah turunan dari sebagian yang lain." (Al-Qur'an S. Ali Imran 195 ) Sebenarnya emansipasi dalam kehidupan manusia menurut pandangan islam adalah sesuatu yang wajar dan harus terjadi, agar berkembangnya budaya dan pola kehidupan manusia dialam semesta ini, karena manusia diciptakan oleh Allah SWT, dipermukaan bumi ini mempunyai hak dan kemerdekaan yang sama (bisa di lihat dalm surat An-Nisaa' :1, An-Nahl :97, At-Taubah :72. Apalagi mengingat kedudukan wanita, peran dan fungsinya dalam kehidupan keluarga maupun bangsa amat penting, sebab dari merekalah anak-anak tumbuh dan tergantung. Kepada merkalah baik dan buruk karakter anak-anak, oleh karena itu, tidak berlebihan seorang ahli hikmah menggambarkan kaum wanita sebagai Tiang atau soko guru suatu bangsa dalam sebuah ungkapan : "Wanita adalah Tiang bangsa, jika mereka baik maka baiklah bangsa itu dan jika mereka buruk (rusak moralnya) maka buruklah bangsa itu". Namun dalam kehidupan manusia dewasa ini banyak kita temui wanita-wanita karier yang berprestasi lengah terhadap urusan ( yang justru sebagai kewajibannya yang amat vital)

keluarganya, Kepribadiannya dan watak serta fitrah yang diberikan Allah SWT. Oleh karena kesalahan pengertian emansipasi sebagai sama hak dan kewajiban secara mutlak tanpa batas, yang justru merendahkan citra kaum wanita itu sendiri. Sebagai contoh terlihat dalam prakteknya perburuhan, pekerjaan wanita dikerjakan pada malam hari, bekerja di kantor tanpa mengenal waktu, menjadi kondektur bis atau menjadi sopir-sopir truk ataupun taxi, bahkan ada yang sangat lucu sekali, ada team sepak bola wanita, ini kan sangat tidak lazim sekali. Mempertontonkan bentuk tubuh di muka umum di depan para mata keranjang yang sering mengundang birahi para lelaki. Jika ini yang terjadi pada emansipasi wanita, ini akan menjadikan hal yang sangat tidak sehat. Dalam penerapan emansipasi pada dewasa ini, dapat terlihat dua segi : Pertama : Segi positif yaitu dalam penerapannya mempunyai sasaran yang tepat dan terarah sesuai dengan peraturan agama dan moral yang berlaku. Kedua : Segi negatif yaitu kesalahan penerapan dalam praktek atau pola kehidupan yang tidak sesuai dengan akal sehat yang tentunya tidak dibenarkan oleh agama, sebagaimana contoh-contoh di atas. Karena pengertian emansipasi itu bervariasi, masing-masing kelompok wanita atau individu mereka punya pandangan dari sudut kepentingan yang berbeda-beda. Sebenarnya, emansipasi itu tidak sekedar persamaan hak atau kewajiban dengan kaum pria dalam arti kata yang sempit, akan tetapi harus ada batas-batas yang justru di ikuti dan disetujui oleh fitrah wanita itu sendiri. Sedang banyak kaum wanita memaksakan pengertian emansipasi sebagai persamaan hak dan kewajiban tanpa batas, justru merugikan derajat dan harkat wanita itu sendiri. Jika seruan emansipasi bermotif:
1. Memperjuangkan hak-hak kaum wanita sehingga sama dalam kehidupan dengan hak-hak kaum lelaki, 2. Mengangkat kedudukan kaum wanita agar setara dengan kaum lelaki dalam semua aspek kehidupan, 3. Memerdekakan kaum wanita dari belenggu keterbelakangan sehingga sama dengan kaum lelaki dalam kemajuan,

Tentunya prinsip emansipasi yang demikian sangatlah bertentangan dengan keadilan Islam sebagai agama yang telah mengatur kehidupan setiap manusia, sekaligus juga menyelisihi kandungan keindahan wahyu. Di mana wahyu telah memisahkan serta menentukan bagi laki-laki dan wanita adanya hak serta kewajiban yang tidak sama. Begitu juga, wahyu telah menentukan perbedaan-perbedaan dalam banyak perkara, seperti adanya perbedaan dalam hal penciptaan, bersuci, shalat, pelaksanaan jenazah, zakat, puasa dan itikaf, haji, aqiqah, jihad, kepemimpinan dan perang, nikah, talak, khulu, lian dan iddah, hukum had dan qishash, serta perbedaan dalam masalah hak waris. (Kasyful Watsa` karya Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri). Berjalan di atas ketentuan wahyu, sesungguhnya adalah sebuah pengangkatan, perjuangan dan kemerdekaan bagi kaum wanita yang sesuai dengan fitrah penciptaan mereka. Pada hakikatnya kita harus menerima kalau Allah menjadikan Laki-laki itu pemimpin bagi wanita. Kita juga harus tahu bahwa Hawa diciptakan Allah untuk menemani Adam, bukan untuk menyaingi Adam. Hal inilah yang dijadikan propaganda oleh bangsa barat dengan mengatasnamakan emansipasi wanita. Propaganda emansipasi wanita adalah sebuah lagu lama yang diembuskan oleh musuh-musuh Islam yang bertujuan untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. .

Selama kaum muslimin terutama kaum wanitanya konsekuen dengan agama dan Sunnah Nabinya, tentunya kehidupan mereka akan baik dan bersih. Dengannya mereka akan mengetahui seluk-beluk musuh. Ini semua membuat benci musuh-musuh Islam khususnya Yahudi dan Nasrani. Maka disebarkanlah paham baru ini, emansipasi wanita, untuk memecah belah umat Islam, memperluas kerusakan di antara mereka, mengeluarkan para wanita dari rumah-rumah pingitan, serta menghilangkan rasa malu dari mereka. Setelah semuanya itu terjadi, akan mudah bagi Yahudi dan Nasrani untuk menguasai dunia Islam serta menghinakan kaum muslimin. Propaganda emansipasi ini disambut hangat oleh orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyimpangan dan penyelewengan. Orang yang hidupnya tidak lain kecuali melampiaskan hawa nafsu birahi semata. Bahkan dukungan-dukungan materi mengucur deras untuk melariskan propaganda ini. Dukungan terhadap propaganda Yahudi untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin ini dipimpin oleh Persatuan Yahudi Internasional dan Salibisme seperti:
1. Markus Fahmi, seorang Nasrani, menerbitkan buku yang berjudul Wanita di Timur tahun 1894 M. Dia menyerukan wajibnya menanggalkan hijab atas kaum wanita, pergaulan bebas, talak dengan syarat-syarat tertentu dan larangan kawin lebih dari satu orang. 2. Huda Syarawi, seorang wanita didikan Eropa yang setuju dengan tuan-tuannya untuk mendirikan persatuan istri-istri Mesir. Yang menjadi sasarannya adalah persamaan hak talak seperti suami, larangan poligami, kebebasan wanita tanpa hijab, serta pergaulan bebas. 3. Ahli syair, Jamil Shidqi Az-Zuhawis. Dalam syairnya, dia menyuruh kaum wanita Irak membuang dan membakar hijab, bergaul bebas dengan kaum pria. Dia juga menyatakan bahwa hijab itu merusak dan merupakan penyakit dalam masyarakat. (Lihat secara ringkas risalah Al-Huquq Az-Zaujiyah fil Kitab was Sunnah wa Bayanu Dawati Hurriyyati Al-Mar`ah karya Hasyim bin Hamid bin Ajil Ar-Rifai)

Propaganda emansipasi wanita jelas-jelas menghancurkan prinsip ketundukan terhadap segala ketentuan Allah Subhanahu wa Taala dan pasrah menerima segala keputusan-Nya. Padahal semuanya dibangun di atas ilmu-Nya, keadilan, dan kebijaksanaan-Nya.

BAB IV KESIMPULAN
Makna emansipasi wanita menurut pandangan Islam ialah perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasib sendiri. Dalam pandangan Islam, wanita yang baik adalah wanita yang seoptimal mungkin menurut konsep al-quran dan assunnah ialah wanita yang mampu menyelaraskan fungsi, hak dan kewajibannya yaitu sebagai seorang hamba Allah, seorang istri, seorang ibu, warga masyarakat, serta daiyah. Emansipasi itu tidak sekedar persamaan hak atau kewajiban dengan kaum pria dalam arti kata yang sempit, tetapi juga harus ada batas-batas yang tetap harus di ikuti dan disetujui oleh fitrah wanita itu sendiri. Memang seorang wanita tetap memiliki hak untuk bisa berpendapat, bekerja, mendapat pendidikan yang tinggi, asalkan mereka tidak melupakan juga kewajibankewajibannya yang juga telah diatur oleh Allah SWT. Hawa diciptakan Allah untuk menemani Adam, bukan untuk menyaingi Adam. Pada hakikatnya kita harus menerima kalau Allah menjadikan Laki-laki itu pemimpin bagi wanita.
Sejarah Turunnya Al Quran

Sebenarnya, malaikat Jibril telah menyampaikan fi rman-fi rman Allah atau Al Quran kepada Nabi Muhammad dengan beberapa cara. Berikut ini adalah beberapa cara turunnya Al Quran kepada Nabi Muhammad saw. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad saw. tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Rasulullah tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya. Suatu ketika, malaikat Jibril juga pernah menampakkan dirinya sebagai seorang laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi saw. Itulah salah satu metode lain yang digunakan malaikat Jibril untuk menyampaikan Al Quran kepada Nabi Muhammad saw. Yang selanjutnya, wahyu juga turun kepada Nabi Muhammad saw. seperti bunyi gemerincing lonceng. Menurut Rasulullah, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai beliau mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim yang sangat dingin. Cara yang lain adalah malaikat Jibril turun membawa wahyu kepada Nabi Muhammad saw. dengan menampak kan wujudnya yang asli. Rasulullah saw. senantiasa menghafalkan setiap wahyu yang diterimanya. Beliau mampu mengulangi wahyu tersebut dengan tepat, sesuai dengan apa yang telah disampai kan oleh malaikat Jibril. Dalam hal ini, malaikat Jibril juga berperan untuk mengontrol hafalan Al Quran Rasulullah saw. Al Quran diturunkan dalam dua periode. Periode pertama dinamakan Periode Mekah. Turunnya Al Quran pada periode pertama ini terjadi ketika Nabi saw. bermukim di Mekah (610 622 M) sampai Nabi Muhammad saw. melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu, kemudian disebut dengan ayat-ayat Makiyah, yang berjumlah 4.726 ayat dan terdiri atas 89 surat. Periode yang kedua adalah Periode Madinah. Sebuah periode yang terjadi pada masa setelah Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah (622 632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini kemudian dinamakan ayat-ayat Madaniyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat. Ayat-ayat Makiyah maupun Madaniyah yang terdapat dalam Al Quran memiliki beberapa perbedaan yang menjadi ciri khas. Berikut ini adalah ciri-ciri yang terdapat pada kedua kategori ayat tersebut. Ciri-Ciri Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyyah Makkiyah Ayat-ayatnya pendek. Diawali dengan y ayyuhan-ns (wahai manusia). Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah Swt., masalah surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi). Madaniyah Ayat-ayatnya panjang. Diawali dengan y ayyuhalladzna man (wahai orang-orang yang beriman). Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (muhajirin) dan kaum penolong (anshar), kaum munafik, serta ahli kitab. Nabi Muhammad saw. menerima wahyunya yang pertama di sebuah gua benama Gua Hira. Gua tersebut terletak di pegunungan sekitar Kota Mekah. Wahyu yang pertama kali beliau terima adalah lima ayat pertama surat Al Quran. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610), yaitu ketika Nabi Muhammad saw. berusia 40 tahun. Rasulullah saw. menyampaikan Al Quran secara lang sung kepada para sahabatnya orang-orang Arab asli sehingga mereka dapat memahaminya berdasarkan naluri mereka. Jika mereka mengalami ketidakjelasan dalam memahami suatu ayat, mereka menanyakan langsung kepada Rasulullah saw. Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah riwayat dari Ibnu Masud. Ketika ayat ini turun (surat Al Anm, ayat 82) yang artinya, Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik .... Para sahabat gelisah dan khawatir kemudian bertanya kepada Rasulullah, Ya, Rasulullah siapakah di antara kita yang tidak berbuat zalim pada dirinya sendiri? Nabi menjawab, Kezaliman di sini tidak seperti yang kamu pahami. Tidakkah kamu pernah mendengar apa yang dikata kan oleh seorang hamba yang

saleh, ... Sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. (QS Luqman, 31:3.) Jadi, yang dimaksud kezaliman adalah kemusyrikan. Ini adalah salah satu cara menafsirkan ayat yang diajarkan oleh Rasulullah, yakni menafsirkan satu ayat dengan ayat yang lain. Rasulullah saw. juga pernah menafsirkan kepada para sahabat beberapa ayat, seperti disampaikan Muslim dari Uqbah bin Amir Al Juhani. Dia berkata sebagai berikut. Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda di atas mimbar, Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki ... Al Anfl, 8: 60). Lalu beliau bersabda, Ingatlah bahwa kekuatan yang dimaksud di sini adalah memanah. Inilah yang menjadi dasar salah satu ilmu tafsir ayat ditafsirkan dengan hadits. Para sahabat, pada masa itu, sangat antusias untuk menerima Al Quran, menghafal, dan memahaminya. Amalan tersebut merupakan kehormatan bagi mereka. Dikatakan oleh Annas r.a., Seseorang di antara kami telah membaca dan menghafal surat Al Baqarah dan li Imrn. Orang itu menjadi besar menurut pandangan kami. Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman As Sulami sebagai berikut. Mereka yang membacakan Al Quran kepada kami, seperti Utsman bin Aff an, Abdullah bin Masud, serta yang lain menceritakan bahwa mereka bila belajar dari Nabi saw. SEPULUH AYAT, tidak akan melanjutkannya lagi sebelum mengamalkan ilmu dan amal yang ada di dalamnya. Mereka berkata, Kami mempelajari Al Quran berikut ilmu dan amalnya sekaligus.Dari riwayat-riwayat ini, terlihat bahwa menghafal Al Quran dan mempelajarinya tidak akan efektif jika tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Al Quran tidak akan memberikan manfaat optimal dalam meraih ridha-Nya jika hanya dihafal di tenggorokan saja. Izzatul Jannnah - Irfan Hidayatullah - Bukunya 10 Bersaudara Bintang Al Qur'an.