Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Dalam masyarakat yang dinamis pendidikan memegang peranan yang sangat menentukan eksistensi dan perkembangan masyarakat. Oleh karena itu Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin merupakan konsekuensi logis bagi umatnya untuk menyiapkan generasi penerus yang berkualitas, baik moral maupun intelektual serta berketerampilan dan bertanggung jawab. Salah satu upaya untuk menyiapkan genearasi penerus tersebut adalah melalui lembaga pendidikan sekolah. Secara umum, pendidikan di sekolah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi . 1Seringkali pendidikan menjadi fokus perhatian dan sasaran ketidakpuasan. Hal ini terjadi karena pendidikan menyangkut hajat semua orang. Karena itu pendidikan perlu perbaikan dan peningkatan sehingga relevan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Berarti sekolah sebagai organisasi yang dirancang untuk berkontribusi terhadap peningkatan mutu perlu memberdayakan Komite Sekolah sebab pada dasarnya kekuatan akselerasi peningkatan mutu akan tercapai jika dibangun bersama masyarakat. Namun bentuk dan sifat peran serta masyarakat umumnya masih dalam pemberian sumbangan dana, misalnya pembayaran SPP dan iuran dana Sekolah. Hal ini tidak terlepas dari semakin terbatasnya berbagai sumber pendukung dari pemerintah. Undang-undang dasar 1945 yang secara historis disebut sebagai Indonesian Declaration Of Independence, dalam pembukaan secara jelas mengungkapkan alasan didirikannya negara untuk: (1) Mempertahankan bangsa

dan tanah air, (2) Mensejahterakan kesejahteraan rakyat, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (4) ikut serta dalam mewujudkan perdamaiaan dunia yang abadi dan berkeadilan. Konsep pencerdasan kehidupan bangsa berlaku untuk semua komponen bangsa. Oleh karena itu, Undang Undang Dasar 1945 pada pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia. Diatur juga dalam undang-undang nomer 20 tahun 2003 tentang sisitem pendidikan nasional, yakni memiliki visi terwujudnya system pendidikan sebagai pranata social yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Di Indonesia, penataan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan sebenarnya telah dilembagakan sejak 1992, yaitu dengan diterbitkannya PP Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat Dalam Pendidikan Nasional dan KepMenDikNas No. 044/U/2002 tentang Pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Hakikat kedua produk pemerintah itu, bahwa peranserta masyarakat berfungsi untuk ikut memelihara, menumbuhkan, kemampuan meningkatkan, yang ada pada dan mengembangkan pendidikan nasional dan bertujuan untuk mendayagunakan masyarakat seoptimal mungkin untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan mulai disadari oleh masyarakat dan ini mendorong berbagai perhatian terhadap pelayanan pendidikan. Karena itu pendidikan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas SDM sudah semestinya menjadi prioritas utama dalam pembangunan bangsa Indonesia.

Sebagai

bahan

bandingan,

Govinda

(2000)

dalam

laporan

penelitiannya School Autonomy and Efficiensy: Some Critical Issues and Lessons menjelaskan bahwa di Amerika dan Australia, peran serta orangtua dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan sangat tinggi. Hal itu paling tidak tercermin dalam pembayaran pajak masyarakat yang dialokasikan pemerintah negara bagian untuk pendidikan. Tidak heran jika orangtua dan masyarakat yang diwakili tingkat oleh lembaga-lembaga mempunyai seperti gugat Dewan yang Pendidikan sangat (board of education) di tingkat kabupaten/kota atau komite sekolah (school board) di sekolah hak tinggi dalam menentukan peningkatan kualitas pendidikan, bahkan mempunyai otoritas yang sangat tinggi pula untuk ikut memberhentikan guru dan kepala sekolah. Fenomena di Indonesia tentang beberapa kasus sekolah di Medan, Deli Serdang, Binjai, dan Langkat (Waspada, 2004 dan 2005), serta daerah lainnya yang luput dari pemberitaan menunjukkan bahwa pemberdayaan Komite Sekolah sebagai perwakilan masyarakat diduga kurang tepat sehingga menimbulkan ketidakpuasan (demontrasi) terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan. Jika ketidakpuasan itu tidak ditangani serius, dikhawatirkan bahwa, 1) partisipasi masyarakat membantu penyelenggaraan pendidikan menjadi semakin rendah, 2)implementasi MBS menjadi tidak optimal, 3) Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan tidak tercapai, dan 4) upaya peningkatan mutu pendidikan tidak mendapat dukungan dari masyarakat. Realisasi desentralisasi pendidikan di tingkat sekolah/sekolah berwujud diberikannya otonomi yang luas untuk mengelola sumber daya sekolah/sekolah secara optimal. Optimalisasi sumber-sumber daya berkenaan dengan pemberdayaan sekolah/sekolah tersebut merupakan alternatif yang paling tepat untuk mewujudkan suatu sekolah/sekolah yang mandiri dan memiliki keunggulan tinggi. Bentuk otonomi tersebut dalam istilah manajemen pendidikan disebut dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) atau

Manajemen Berbasis Sekolah (MBM). Sementara istilah manajemen berbasis sekolah itu sendiri diterjemahkan dari istilah School Based Manajement. Merupakan paradigma baru pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (pelibatan masyarakat) dalam rangka kebijakan nasional. Sebagai salah satu wujud dari reformasi pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi para peserta didik. Otonomi dalam manajemen merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja para staf, menawarkan MBS partisipasi langsung kelompok-kelompok yang terkait, serta meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan. Sutisna (1987 : 145) mengemukakan maksud hubungan sekolah dengan masyarakat: 1) Untuk mengembangkan pemahaman tentang maksudmaksud dan saransaran dari sekolah, 2) Untuk menilai program sekolah, 3) Untuk mempersatukan orang tua murid dan guru dalam memenuhi kebutuhankebutuhan anak didik, 4) Untuk mengembangkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan sekolah dalam era pembangunan, 5) Untuk membangun dan memelihara kepercayaan masyarakat terhadap sekolah, 6) Untuk memberitahu masyarakat tentang pekerjaan sekolah, 7) Untuk mengerahkan dukungan dan bantuan bagi pemeliharaan dan peningkatan program sekolah. Mengikut sertakan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan diharapkan akan menumbuhkan rasa kepemilikan dalam diri setiap anggota masyarakat, sehingga mereka akan merasa tanggung jawab terhadap mutu dan kelangsungan lagi hidup dari sekolah/sekolah tersebut, akan yang selalu bersangkutan, tambahan sekolah/sekolah

mendapatkan kontrol dari mereka serta monitoring dari pemerintah pusat, dengan demikian akuntabilitas akan lebih terjaga. Selama ini masyarakat sudah berpuluh-puluh tahun tidak begitu mempedulikan dunia pendidikan. Dalam bidang pemberdayaan sekolah peran serta masyarakat sangat rendah. Bahkan sebaliknya, masyarakat maunya menyerahkan segala-galanya yang berkaitan dengan pendidikan

anak-anak kepada sekolah secara total. Selain itu masyarakat khususnya wali murid, sulit untuk diajak membangun sekolah ke arah yang lebih maju baik yang menyangkut perangkat kerasnya seperti gedung, bangku, papan tulis, maupun perangkat lunaknya seperti honorarium guru, dan pantas atau tidaknya sumbangan yang diberikan kepada sekolah. Keterlibatan masyarakat dalam pendidikan selama ini di wadahi dalam lembaga yang bernama badan pembantu penyelenggara pendidikan (BP3). Yang terlibat dalam wadah ini hanyalah orang tua siswa. Diadakannya BP3 sebenarnya diniatkan untuk melibatkan masyarakat dalam pendidikan. Namun sayang, dalam prakteknya ini merupakan cerminan dari sebuah kebijakan BP3 tidak diberi alokasi peran yang signifikan. BP3 lebih bersifat finansial dan fisik. Sementara untuk penentuan kebijakan-kebijakan strategis bagi pengembangan sekolah anggota BP3 tidak berhak ikut serta. Minimnya keterlibatan masyarakat lewat wadah BP3 ini menimbulkan berkembangnya anggapan di masyarakat bahwa tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan berada di pengelola sekolah dan pemerintah. Tanggung jawab masyarakat sebatas memasukkan anak ke sekolah, membayar iuran SPP, membayar iuran bangunan, dan seterusnya. Melalui MBS sekolah memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan yang terkait langsung dengan kebutuhan-kebutuhan sekolah. Dengan MBS unsur pokok sekolah, memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga non struktural yang disebut Dewan Sekolah yang anggotanya terdiri dari: guru, kepala sekolah, administrator, orang tua, anggota masyarakat dan murid. Oleh karena itu, MBS memerlukan upaya-upaya penyatupaduan/penyelarasan sehingga pelaksanaan pengaturan berbagai komponen sekolah tidak tumpang tindih, berbenturan, saling lempar tugas dan tanggung jawab. Tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien. Terdapat tujuh komponen yang harus dikelola oleh MBS. Dalam rangka

meningkatkan mutu pendidikan salah satunya pengelolaan kurikulum dan program pengajaran. Keberhasilan pembaharuan kurikulum muatan lokal ditentukan oleh banyak faktor salah satunya faktor luar sekolah yaitu masyarakat melalui komite sekolah.Orang tua dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam pembaharuan berbagai keputusan.Masyarakat dapat lebih memahami,serta mengawasi dan membantu sekolah dalam pengelolaan termasuk kegiataan pembelajaran melalui peran yang dimilikinya. Dewan Sekolah (school council) dapat juga disebut Komite Sekolah (school committee). Dewan Sekolah merupakan suatu lembaga yang perlu dibentuk dalam rangka pelaksanaan MBS. Pada hakikatnya Dewan Sekolah ini dibentuk penilaian. SMP Islam Ngebruk merupakan lembaga sekolah umum yang berada di kecematan sumburpucung dalam naungan ma'arif dan satu-satunya,dan sudah berdiri sejak tahun 1963.yang dalam pelaksanaannya pendidikan mengoptimalkan peran komite sekolah. Memperhatikan pernyataan di atas, sebagai lembaga pendidikan sekolah yang pengoptimalannya pada komite sekolah apa sudah berhasil mencapai tujuan yang telah direncanakan yakni menjadi kepribadian secara utuh baik dari segi jasmani maupun rohani.Dengan keadaan seperti itu, mendorong peneliti ingin mengetahui kenyataan dengan mengamati secara teliti dan sistematis melalui penelitian pendidikan. Kegiatan ini akan penulis terapkan pada SMP Islam Ngebruk. Dengan mengambil judul skripsi : Peranan Komite Sekolah Dalam pembelajaran PAI di SMP Islam Ngebruk, Sumberpucung, Malang Pada Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) untuk membantu menyukseskan kelancaran proses belajar mengajar di sekolah, baik menyangkut perencanaan, pelaksanaan maupun

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang penulis ungkapkan meliputi: 1. Bagaimana peranan komite sekolah dalam pembelajaran PAI di SMP Islam Ngebruk, Sumberpucung, Malang pada Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). 2. Faktor apa saja yang menjadi kendala dan penunjang komite sekolah peranan komite sekolah dalam pembelajaran PAI di SMP Islam Ngebruk, Sumberpucung, Malang pada Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Tujuan dan Manfaat penelitian Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelititan ini adalah 1. Untuk mengetahui peranan peranan komite sekolah dalam pembelajaran PAI di SMP Islam Ngebruk, Sumberpucung, Malang pada Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). 2. Untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadi kendala dan penunjang peranan komite sekolah dalam pembelajaran PAI di SMP Islam Ngebruk, Sumberpucung, Malang pada Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) D. Manfaat Penelitian 1. Dari hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan atau masukan sekaligus sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga pendidikan umum maupun pendidikan Islam dalam kinerja Komite Sekolah. 2. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai pijakan elemen pendidikan dalam pengembangan sekolah. 3. Untuk menambah wawasan praktis sebagai pengalaman bagi penulis sesuai dengan disipilin il

Sistematika Pembahasan Pada penulisan skripsi, penulis membagi beberapa bab untuk mempermudah dalam memahami isi dari skripsi, untuk itu perlu adanya sistematika yang global dalam memenuhi target yang diinginkan oleh penulis, adapun sistematika pembahasan meliputi enam bab dan untuk setiap bab terdiri dari beberapa sub bahasan sebagai berikut: BAB I Pendahuluan, yang berisi secara global keseluruhan pemasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini, yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah, metode penelitina dan sistematika pembahasan. BAB II Pemaparan tentang kajian teori, merupakan kajian teoritis tentang pembahasan peranan komite sekolah dalam manajemen berbasis

sekolah pada pembelajaran PAI di SMP Islam Ngebruk, Sumberpucung, Malang. BAB III Metode atau cara penelitian yang dipakai oleh peneliti untuk mendapatkan data berdasarkan dari obyek yang diteliti dengan menggunakan bebarapa metode sesuai dengan obyek yang akan diteliti BAB IV Proses pengambilan atau penulisan data yang diambil dari realitarealita objek yang berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dan merupakan ulasan kajian teori dan analisa data yang diambil dari realita objek berdasarkan pada hasil penelitian yang yang telah dilakukan. BAB V Analisis hasil penelitian dan data yang diambil dari realitarealita objek yang berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dan merupakan ulasan kajian teori dan analisa data yang diambil dari realita objek berdasarkan pada hasil penelitian yang yang telah dilakukan. BAB VI Kesimpulan dan saran-saran, yang merupakan bab terakhir dari penyusunan skripsi ini, maka bahasan didalamnya menyimpulkan secara keseluruhan dan dilanjutkan dengan saran-saran yang berkaitan dengan Komite Sekolah.

Daftar Pustaka
Abdul Majid dan Dian Andayani, 2004. PAI Berbasis Kompetensi, Bandung : Remaja Rosdakarya,. Ace Suryadi, dkk.. 1994. Analisis Kebijakan Pendidikan Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya. Ade Irawan, dkk. 2004.Mendagangkan Sekolah, Indonesia Corruption watch Jakarta. Agus Dharma, MBS Belajar dari Pengalaman Orang Lain, Pusdiklat Pegawai DepDikNas Anas Sudiono, 1997. Pengantar Statistik Pendidkan, Jakarta : Rajawali Press. Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam. 2005. Desain Pengembangan Sekolah, Jakarta. Djumhur, 1975.Bimbingan Dan Penyuluhan di Sekolah, Bandung : C.V Ilmu. Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum 2004,Rineka Cipta, Jakarta. E. Mulyasa, 2003Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung: Remaja Rosdakarya. E. Mulyasa, 2003 Manegemen berbasis sekolah Konsep, dan Implementasi, Bandung: Remaja Rosdakarya. E. Mulyasa, 2005. Implementasi Kurikulunm 2004, Bandung: Remaja Rosdakarya. G.R. Terry dan L.W. Rue, 2003. Dasar-dasar Manajemen cet. 8, Jakarta: Bumi Aksara. 105 Hazbullah, 2001. Dasar-Dasar ilmu pendidikan, Raja Grafindo Persada Jakarta.

Hasbullah, Otonomi Pendidikan : Kebijakan Otonomi Daerah Dan Implikasinya Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan , Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Ibtisan Abu Duhou, 2002. School-Based Management, terj. Noryamin Aini, dkk., Jakarta. Lexy J. Moleong, , 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja Rosdakarya. Oemar Hamalik, 2001. Kurikulum dan Pembelajaran, Bumi Aksara, Jakarta. Redja Mudyahardjo, 2001. Filsafat Ilmu Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya. Syaifudin Nurdin dan M. Basyiruddin Usman. 2002. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, Jakarta: Ciputat Press. Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta. Sufyarma, 2003. Kapita Selekta Manajemen Pendidikan, Bandung: Alfabeta. Tim pengembangan dewan pendidikan dan komite sekolan, "Indikator kinerja Dwan Pendidikan dan Komite sekolah", http//:www.DepDikNas.go.id Malayu S.P. Hasibuan, 2004. Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah cet. 3, Jakarta: Bumi Aksara. Mustafa al-Ghulayaini, 1953. Idzah al-Nasiin, Pekalongan: Raja Murah. Muslim Nurdin, dkk..1993. Moral dan Kognisi Islam, Bandung: Alfabeta. Mukhtar, 2003. Desain Pembelajaran PAI, Jakarta: Misaka Galiza,. 106 Nana Sudjana dkk, 1989. Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Sinar Baru, Bandung Ibrahim Ishmat Muthowi. Al-Ushul al-Idariyah Lingkungan al-Tarbiyah, Riad: Daral-Syuruq, 1996. Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001. Nurkolis, 2003. Manegemen berbasis sekolah: Teori, Mode dan Aplikasi, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia,. Winarno Surachmad, 1990 Pengantar Penelitian Ilmiah, Tarsilo, Bandung. Ibrahim Bafadal. 2003 Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar, Jakarta: Bumi Aksara. Sugiyono. 2002.Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Yogyakarta: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Nanang Fatah, 2000. Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sudarman Danim, 2003, Agenda Pembaharuan Sistem Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Subandijah. 1996. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, Jakarta: Raja Grafindo. Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian. Jakarta, PT Rineka Cipta, 2002. Sutrisno Hadi. 1991. Metodelogi Reseach II, Andi Ofset, Jakarta. Suyanto dan Djihad Hisyam, 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III. Yogyakarta: Adiata Karya Nusa. 107 UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bandung : Fokusmedia, 2003. Chabib Thoha. 1996. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Muntholiah. 2002. Konsep Diri Positif Penunjang Prestasi PAI. Semarang: Gunungjati Offset. Moh. Uzer Usman, Lilis Setiawati. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya. Winarno Surahmad. 1993. Dasar-Dasar Tehnik Pengantar Metodology Ilmiah, Bandung, Tarsito. Zakiah Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1996.