Anda di halaman 1dari 7

NAMA NIM TUGAS

: ABDUL WAHAB AFANDI : 8111412217 : PENGANTAR HUKUM INDONESIA

A. ASAS HUKUM ACARA PIDANA Hukum Acara Pidana (Hukum Pidana Formil) adalah keseluruhan aturan hukum yang mengenai cara melaksanakan ketentuan Hukum Pidana jika ada pelanggaran terhadap norma-norma yang dimaksud oleh ketentuan ini. Pemeriksaan dalam hukum acara pidana adalah sebagai berikut : a. Pemeriksaan pendahuluan (vooronderzoek) Dalam pemeriksaan pendahuluan ini dikumpulkan bahan-bahan yang mungkin dapat menjadi bukti terjadinya pelanggaran atau kejahatan. Dalam pemeriksaan Pendahuluan, dipergunakan sebagai pedoman asas-asas sebagai berikut : 1. Asas kebenaran materiil (kebenaran dan kenyataan), yaitu usaha-usaha

untuk mengetahui apakah benar-benar terjadi pelanggaran atau kejahatan. 2. Asas Inquisitoir, yaitu bahan dalam pemeriksaan pendahuluan ini si

Tertuduh / si Tersangka hanyalah merupakan objek. Asas ini hanya berlaku ketika menggunakan sistem HIR. b. Pemeriksaan terakhir (eindonderzoek) di dalam sidang Pengadilan pada tingkat pertama. Pemeriksaan dalam sidang bertujuan untuk menguji apakah suatu tindak pidana betul-betul terjadi atau apakah bukti-bukti yang diajukan itu sah atau tidak. Pemeriksaan dalam sidang terdakwa / tertuduh telah dianggap sebagai Subjek yang berarti telah mempunyai kedudukan sebagai pihak yang sederajat dengan penuntut umum. Sifat pemeriksaan itu adalah accusatoir.

Pemeriksaan dalam sidang dilakukan secara terbuka (sesuai pasal 19 UU No. 14 Tahun 2004) untuk umum, kecuali ditentukan lain oleh Undang-Undang. Dalam UU No.14 tahun 1970 ada satu lagi asas yang penting, yaitu yang tercantum dalam pasal 8 yang berbunyi sebagai berikut : Setiap orang, yang Tersangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan / atau dihadapan muka pengadilan, wijib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang dinyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum yang tetap (asas presumption of innocent). Setiap orang yang tersangkut perkara berhak memperoleh bantuan hukum (Pasal 37 UU No.4 Tahun 2004) Pengaturan dalam UU Pokok Kekuasaan Kehakiman lebih maju mengenai kedudukan Tersangka, seperti dalam Pasal 38-nya yang berbunyi : Dalam perkara Pidana seorang Tersangka terutama sejak saat dilakukannya penangkapan dan/atau penahanan berhak menghubungi dan meminta bantuan Penasihat Hukum. Jaksa sebagai penuntut umum dalam melakukan penuntutan di Indonesia menganut prinsip oportunita disamping kita masih mengenal prinsip yang lain yaitu prinsip legalita. Prinsip Legalita, dalam prinsip ini penuntut umum tidak boleh tidak mesti menuntut seseorang di muka Hakim Pidana, apabila ada bukti cukup untuk mendakwa seseorang telah melanggar suatu peraturan Hukum Pidana. Prinsip Oportunita yang menggantungkan hal akan melakukan suatu tindakan kepada keadaan yang nyata dan yang ditinjau satu persatu. Alat bukti yang dikenal dalam Hukum Acara Pidana yang diatur dalam KUHP Pasal 184 adalah : 1. Keterangan Saksi. 2. Keterangan Ahli. 3. Surat Surat. 4. Petujuk. 5. Keterangan Terdakwa.

Keputusan Hakim dapat berupa : 1. Putusan yang mengandung pembebasan Terdakwa (vrijspraak), dalam hal ini perbuatan yang dituduhkan Jaksa tidak terbukti. 2. Putusan yang mengandung pelepasan Terdakwa dari segala tuntutan (ontslag van rechtsvervolging), dalam hal ini perbuatan yang dituduhkan Jaksa terbukti tetapi bukan merupakan kejahatan ataupun pelanggaran. 3. Putusan yang mengandung penghukuman.

c. Memajukan upaya hukum (rechtsmiddelen) yang dapat dijalankan terhadap putusan Hakim, baik ditingkat pertama maupun pada tingkat banding. Sesudah perkara diputuskan oleh hakim, maka apabila Jaksa atau Terdakwa tidak puas terhadap putusan Hakim, mereka dapat mengajukan upaya hukum, dalam hal ini dapat banding ke Pengadilan Tinggi. Jika keputusan Pengadila Tinggi belum memuaskan dapat minta kasasi kepada Mahkamah Agung.

d. Pelaksanaan putusan Hakim. Jika keputusan Pengadilan telah mempunyai kekuatan hukum tetap, artinya sudah tidak dapat diajukan perlawanan lagi, maka keptusan itu dapat dilaksanakan dan ini merupakan tugas Jaksa untuk mengeksekusi atau melaksanakan putusan Hakim.

B. ASAS HUKUM ACARA PERADILAN TATA USAHA NEGARA Pasal 10 Ayat (1) Undang Undang Nomor 14 Tahun 1970 menyebutkan bahwa, Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh Pengadilan dalam lingkungan : 1. Peradilan Umum 2. Peradilan Agama 3. Peradilan Militer 4. Peradilan Tata Usaha Negara Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang susunan, kekuasaan, hukum acara dan kedudukan hakim, serta tata kerja administrasi pada Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara

Hukum acara yang digunakan pada PTUN mempunyai persamaan dengan acara yang digunakan pada Peradilan Umum untuk perkara Perdata dengan beberapa perbedaan antara lain : 1. Pada PTUN Hakim berperan lebih aktif dalam proses persidangan, guna memperoleh kebenaran material dan untuk itu Undang-Undang ini mengarah pada ajaran pembuktian bebas 2. Suatu gugatan Tata Usaha Negara padadasarnya tidak bersifat menunda pelaksanaan keputusan TUN yang disengketakan. 3. Kedudukan Penggugat dan Tergugat pada PTUN akan tetap sama sampai tingkat Kasasi tidak dimungkinkan adanya gugat balik, sehingga tidak ada Penggugat atau Tergugat rekonvensi 4. Pada PTUN pengajuan gugatan diberi batas waktu yaitu 90 hari.

Wewenang Peradilan Tata Usaha Negara Wewenang PTUN adalah mengadili sengketaTata Usaha Negara antara Orang atau Badan Hukum Privat (sebagai Penggugat dengan Badan atau Pejabat TUN)

Objek Sengketa Tata Usaha Negara Menurut Pasal 1 butir ke-3 UU No.5 Tahun 1986, dikatakan bahwa Objek atau pangkal sengketa Tata Usaha Negaera adalah : Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata UsahaNegara yang berisikan tindakan hukum tata usaha yang berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku bersifat konkrit, individual, dan final yang menimbulka akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata. Dari rumusan diatas dapat diuraikan sebagai unsur-unsur sebagai berikut : 1. Penetapan Tertulis Menunjuk kepada isi dan bukan kepada bentuk keputusan yang dikeluarkan. Pernyataan tertulis itu diharuskan untuk kemudahan segi pembuktian. 2. Konkrit Artinya objek yang diputuskan dalam Tata Usaha Negara itu tidak abstrak, tetapi berwujud tertentu atau dapat ditentukan. 3. Individual Artinya keputusan TUN itu tidak ditujukan untuk umum tapi tertentu alamat atau hal yang dituju.

4. Final Artinya sudah definitif dan dapat menimbulkan akibat hukum. Keputusan yang masih memerlukan persetujuan dari instasi lainbelum bersifat final.

Gugatan Dalam pasal 53 Ayat (1) ditegaskan bahwa : Seorang atau Badan Hukum Perdata yang merasa dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara yang berisi tuntutan agar keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu dinyatakan batal atau tidak sah, dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan/atau rehabilitasi. Gugatan harus memuat : 1. Nama, Kewarganegaraan, tempat tinggal, dan pekerjaan Penggugat atau Kuasanya 2. Nama Jabatan, tempat kedudukan tergugat 3. Dasar gugatan dan hal yang diminta untuk diputuskan pengadilan

Pemeriksaan Persiapan (Pasal 63) Sebelum pemeriksaan pokok dimulai, hakim wajib mengadakan pemeriksaan persiapan untuk melengkapi gugatan yang kurang jelas, dalam hal ini hakim bertindak : 1. Memberi nasihat kepada Penggugat untuk memperbaiki gugatannya dan melengkapinya dengan data yang diperlukan dalam jangka 30 hari. 2. Dapat meminta penjelasan kepada Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang bersangkutan.

Penetapan Hari Sidang (Pasal 59 Ayat 3, Pasal 64) Selambat-lambatnya dalam jangka waktu 30 hari sesudah gugatan dicatat, Hakim menentukan hari, jam dan tempat persidangan, serta menyuruh memenggil kedua belah pihak untuk hadir.

Pemeriksaan dalam Sidang Pemeriksaan dimulai dengan membacakan isi gugatan dan surat jawabannya oleh hakim, dan jika tidak ada surat jawaban, pihak tergugat diberi kesempatan untuk mengajukan jawaban.

Pembuktian Alat bukti yang dikenal dalam Hukum Acara PTUN adalah : 1. Surat atau Tulisan 2. Keterangan Ahli 3. Keterangan Saksi 4. Pengakuan Para Pihak 5. Pengetahuan Hakim

Putusan Hakim Putusan Hakim itu (Pasal 97 Ayat 7) dapat berupa : 1. Gugatan ditolak Menolak gugatan, berarti memperkuat putusan Badan / Pejabat Tata Usaha Negara 2. Gugatan dikabulkan Mengabulkan gugatan, berarti tidak membenarkan Keputusan Badan / Pejabat Tata Usaha Negara, baik seluruhnya atau sebagian. 3. Gugatan tidak diterima Berartyi gugatan itu tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan. 4. Gugatan gugur Berarti apabila pihak atau (para) kuasanya, kesemuanya tidak hadir pada persidangan yang telah ditentukan dan telah dipanggil secara patut.

Pelaksanaan Putusan Pengadilan Hanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap yang dapat dilaksanakan . Salinan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, dikirimkan kepada para pihak dengan surat tercatat oleh panitera atas perintah Ketua Pengadilan yang mengadilinya selambat-lambatnya dalam waktu 14 hari.

Pemeriksaan di Tingkat Banding (Pasal 122 s/d 130) Pemeriksaan banding dengan hakim majelis, dan dalam pemeriksaan itu dapat terjadi hal-hal sebagai berikut : 1. Apabila terdapat putusan PTUN (tingkat I) yang menyatakan tidak berwenang (absolut dan relatif) memeriksa perkara yang diajukan, sedangkan Majelis Tinggi Tata Usaha Negaraberpendapat lain, maka ia dapat bertindak : a. Memeriksa dan memutus perkara itu b. Memerintahkan PTUN (tingkat I) yang bersangkutan memeriksa dan memutus perkara itu. 2. Bilaman pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara berpendapat, bahwa PTUN tingkat pertama kurang lengkap, maka ia dapat bertindak : a. Sidang untuk mengadakan pemeriksaan tambahan b. Memerintahkan PTUN (Tingkat I) yang bersangkutan melakukan pemeriksaan tambahan

Kasasi (Pasal 131) Untuk acara pemeriksaan kasasi dilakukan menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985vtentang Mahkamah Agung yang diamandemen dengan UU No.5 Tahun 2004.

Peninjauan Kembali (Pasal 132) Terhadap putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat diajukan permohonan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung yang acaranya diatur dalam Pasal 77 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (diamandemen dengan UU No.5 Tahun 2004)