Anda di halaman 1dari 6

EXECUTIVE RESUME

TAMBANG MARMER LIDAK-ATAMBUA KABUPATEN BELU-TIMOR BARAT-NTT


A. Status Perijinan
1. Ijin Kuasa Pertambangan Eksplorasi Marmer No.Distamben.540/BP.PP/06/V/2006 Oleh Bupati Belu pada tanggal 10 Mei 2006 kepada PT. Sipon Multi Aktif seluas 9.000 ha yang terletak di 3 Kecamatan yaitu kec. Kota Atambua, Kec. Tasifeto Barat dan kec. Kakuluk Mesak. Meskipun secara formal ijin tersebut telah habis masa berlakunya, namun masih ada peluang untuk di hidupkan kembali dan disesuaikan dengan format IUP sesuai dengan UU.No.4 Tahun 2009. (copy ijin terlampir) 2. Peluang untuk menghidupkan kembali ijin KP tersebut didasarkan atas beberapa pertimbangan : a. Kedekatan kami secara personal dengan pemberi ijin pemda dan Bupati Belu Bapak Joachim Lopez yang sampai sekarang masih menjabat sebagai Bupati. b. Didalam UU.No.4/Th.2009 jo PP No.23/Thn.2010 masih diberi ruang bagi ijin ijin KP untuk disesuaikan dengan format IUP. c. Oleh UU baru juga ditegaskan bahwa bagi perusahaan baru yang hendak mengajukan IUP baru pada suatu lokasi yang sudah ada KP-nya, maka prioritas untuk member ijin baru adalah kepada siapa yang pertama kali mengajukan ijin KP. Artinya siapapun yang hendak mengajukan ijin baru di lokasi tersebut harus mendapatr persetujuan dari kami sebagai pihak pertama yang telah mendapatkan ijin KP di atas lahan tersebut. d. Dari sisi efektivitas proses peningkatan ijin KP Eksplorasi menjadi IUP Operasi produksi akan lebih mudah, karena sudah ada dasar hukumnya dan tidak memakan waktu yang lama. Artinya, setelah proses penyesuaian KP menjadi IUP eksplorasi maka peningkatannya menjadi IUP operasi Produksi tidak membutuhkan waktu lama yakni hanya sekitar 3 bulan sesuai dengan UU baru.

e. Dengan adanya ijin KP yang sudah disesuaikan dengan format IUP maka tidak diperlukan lagi proses awal permohonan pencadangan wilayah sesuai dengan UU baru tetapi langsung dimulai dengan aktivitas ekplorasi. Meskipun tidak menggunakan system lelang sebagaimana jenis mineral dan logam, tetapi sesuai dengan UU baru tersebut, sedikit rumit proses pengajuan ijin baru, dengan syarat syarat yang sangat ketat. 3. Secara formil, Pemda dan Bupati Belu yang telah menerbitkan ijin KP tersebut belum pernah mengeluarkan surat pemberitahuan pencabutan ijin tersebut, karenanya kami optimis bahwa ijin KP tersebut dapat dihidupkan kembali dengan pendekatan pendekatan persuasive, karena kami merupakan perusahaan pertambangan pioneer yang pertama kali beraktivitas di wilayah tersebut, dan mengalami kerugian yang cukup besar karena sudah menurunkan berbagai peralatan di wilayah tersebut dan akhirnya di jual untuk mengcover biaya biaya operasional. 4. Disamping itu juga kami masih tetap memelihara hubungan baik dengan Bupati yang sama yang menerbitkan ijin KP tersebut serta dinas terkait, yang akan memudahkan proses penyesuaian atau peningkatan ijin KP tersebut karena secara cultural kami berasal dari wilayah ini, dan memahami secara baik kultur masyarakat setempat. B. Status Lahan Konsesi :

1. Lahan konsesi ijin KP ini seluas 9000 ha terdiri dari pegunungan/gunung batu marmer yang dikenal dengan nama umum : Pegunungan Lidak, dan merupakan tanah hak ulayat beberapa suku masyarakat local yang berdiam disana. Secara umum tanahnya tidak produktif karena berbatu batuan, meskipun secara berpindah pindah masyarakat local sering mengusahakannya menjadi lading yang ditanami jagung. Jarang ditemukan tanaman produktif lain seperti kelapa, mangga, nangka dll kecuali beberapa areal terdapat tanaman pohon jati baik yang masih kecil maupun yang sudah siap panen.

2. Ada tiga suku besar pemilik hak ulayat di areal konsesi ijin KP tersebut diantaranya suku Lowalu dan Matabesi di tiga kecamatan tersebut yang pada saat tahapan tahapan sosialisasi secara informal telah memberikan dukungan atas kegiatan tambang marmer tersebut. Dan tahap selanjutnya hanya akan diformalkan didalam sebuah MoU serta kesepakatan tentang bentuk ganti rugi lahan hak adat yang biasanya dalam bentuk fasilitas umum dan fasilitas social serta ritual ritual adat. Sedangkan untuk tanah hak milik akan dinegosiasikan secara kekeluargaan. 3. Sebagai gambaran umum, hamper seluruh status tanah di Timor adalah hak ulayat suku/marga/clan yang diperoleh secara turun temurun sedangkan penggarapannya oleh anggota suku dan biasanya dijadikan ladang yang berpindah pindah kecuali tanah pekarangan atau tempat tinggal. Karenanya jarang yang memiliki sertifikat hak milik dan biasanya untuk soal aquisisi lahan dilakukan dengan tokoh adat dan anggota suku secara kekeluargaan. 4. Areal lahan konsesi dalam beberapa titik di lewati oleh jalan Negara yang beraspal menuju ke pelabuhan Atapupu yang jaraknya hanya sekitar 10 Km dan pada beberapa titik tertentu juga terdapat akses akses jalan kabupoaten baik yang sudah beraspal maupun yang berkerikil atau masih jalan tanah. 5. Didalam areal KP berdasarkan survey geologis awal pesebaran potensi marmer terdapat pada 24 titik gunung batu marmer yang dapat dikebangkan lebih lanjut.Secara kasap mata marmer yang ada di lokasi konsesi berwarna putih, cream, merah, hijau dengan tingkat kepadatan dan daya tekan yang berbeda beda juga deposit yang berbeda beda. Dan karenanya kedepan diperlukan survey geologis detail untuk mengetahui secara pasti kualitas dan deposito marmes di areal tersebut. Karena seluruh hasil survey awal dibawah oleh geologis China ke RRC.

C. Kegiatan Yang Sudah Terlaksana : 1. Setelah memperoleh ijin KP pada 10 Mei 2006 beberapa tahapan kegiatan sudah dilaksanakan pada kurun waktu 2006- 2007 yaitu pemenuhan syarat syarat perijinan dan pajak, survey geologis awal, tahap sosialisasi dan ritual adat, pengadaan kontor cabang serta mobilisasi alat dan lain lain. 2. Untuk memperoleh ijin KP tersebut, perusahaan harus memenuhi syarat syarat administrasi diantaranya status perusahaan dengan segala perijinannya, serta melunasi pajak pajak, retribusi dan iuran iuran sesuai dengan undang udang yang berlaku pada saat itu. 3. Setelah keluar ijin KP maka tahapan pertama adalah melakukan survey awal geologis dengan mendatangakan dua orang geologis dari RRC dan melakukan survey selama 3 bulan di lokasi. 4. Setelah melakukan survey awal mulai dilakukan tahapan pertama pra proyek yaitu sosialisasi beberapa kali yakni di tingkat Desa desa yang masuk dalam areal, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi tingkat kecamatan dan terakhir di tingkat kabupaten yang melibatkan banyak pihak unsure stake holder seperti : masyarakat umum, tokoh masyarakat adat, tokoh agama, LSM,Pemuda, wanita, perguruan tinggi, instansi instansi terkait, DPRD dsb serta beberapa tahap ritual adat sebagai syarat pra proyek. 5. Setelah selesai dengan tahap sosialisasi maka mulai dengan mobilisasi peralatan dari Jawa ke Timor/Atambua seperti : Ecxavator, Compressor, genset, Mesin las listrik, Mesin wire, pompa air grand foz,selling, mata bor, container,dump truck, serta tenaga kerja ahli seperti : geologis lokal, master quary, ahli wire, operator dari centra centra marmer di Jawa seperti : Tulung Agung, Citatah Bandung serta, Tasikmalaya, dan mulai merekrut tenaga tenaga kerja local. 6. Berbarengan dengan mobilisasi peralatan, juga mulai dilakukan identifikasi dan pendataan status tanah dan kepemilikan lahan untuk proses ganti rugi lahan pada rencana rencana lokasi yang akan dimulai pertama melakukan tahap eksplorasi khususnya pada beberapa titik dari 24 titik potensial marmer.

7.

Dari seluruh rangkaian kegiatan ini juga pihak perusahaan telah beberapa kali melakukan kunjungan perbandingan di province Goungshow RRC, serta sentra sentra marmer seperti di Sulawesi selatan, Tulung Agung, Citatah Bandung, dan Lampung.

D. Profil Perusahaan Pemegang Ijin KP. 1. Nama Perusahaan : PT.Sipon Multi Aktif. Didirikan pada tanggal 16 Agustus 1999 oleh Notaris Fifi Wangsadiputra dan telah mendapatkan pengesahan dari Dep Hukum dan Ham No.C-1771 HT.01.01.Th.2000 dan telah beberapa kali mengalami perubahan baik susunan Komisaris maupun direksi yang terbaru adalah : Direktur Utama : Hironimus Abi dan Komisaris adalah : Supandi, dengan pemegang saham terbesar adalah Hironimus Abi ( 51 %). 2. Sejak tidak berjalannya proyek tambang marmer Lidak, perusahaan tidak melakukan aktivitas, tetapi juga tidak dibubarkan. Artinya secara formal belum pernah ada rapat pemegang saham untuk membubarkan perusahaan, dan secara hukum ia masih ada. 3. Didalam perusahaan, posisi kami menjadi kuat, karena di samping menjabat sebagai Direktur Utama, juga merupakan pemegang saham mayoritas didalam perusahaan yaitu 51 %, yang akan memudahkan proses take over dari dua pemilik saham lainnya. 4. Ada beberapa ijin operasional dari perusahaan yang telah habis masa berlakunya dan harus diperpanjang seperti : keterangan domisili, SITU,TDP,SIUP dll. 5. Proses take over atau pengalihan saham akan berjalan lancar, karena seluruh pemilik saham berada di Jakarta, dan bersedia untuk menghadiri rapat para pemegang saham, bila diadakan oleh Direktur Utama. Posisi komisaris tidak menentukan karena dia bukan salah satu pemegang saham. Demikian gambaran umum ini disampaikan, dan bila berminat, maka dapat ditindak lanjuti dengan pembicaraan yang lebih teknis.

HIRONIMUS ABI Direktur Utama