P. 1
LP HIV AIDS

LP HIV AIDS

|Views: 1,279|Likes:
Dipublikasikan oleh Ari Kusuma

More info:

Published by: Ari Kusuma on Nov 26, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/06/2015

pdf

text

original

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN HIV/AIDS KONSEP TEORI PENGERTIAN AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome

merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV, dalam bahasa Indonesia dapat dialih katakana sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan (Zuya Urahman, 2009). AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). ( Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare, 200 ) AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi ( Center for Disease Control and Prevention, 2005). A. ETIOLOGI AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II, LAV, RAV. Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) yang berupa agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T. B. KLASIFIKASI Sejak 1 januari 1993, orang-orang dengan keadaan yang merupakan indicator AIDS (kategori C) dan orang yang termasuk didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita AIDS (Zuya Urahman, 2009). 1. Kategori Klinis A Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam kategori klinis B dan C. a. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik. b. Limpanodenopati generalisata yang persisten ( PGI : Persistent Generalized Limpanodenophaty ) c. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) primer akut dengan sakit yang menyertai atau riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.

2. Kategori Klinis B Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup : a. Angiomatosis Baksilaris b. Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen,frekuen / responnya jelek terhadap terapi c. Displasia Serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ ) d. Gejala konstitusional seperti panas ( 38,5° C ) atau diare lebih dari 1 bulan. e. Leukoplakial yang berambut f. Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda / terjadi pada lebih dari satu dermaton saraf. g. Idiopatik Trombositopenik Purpura h. Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii 3. Kategori Klinis C Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. n. o. p. q. r. s. t. Kandidiasis bronkus,trakea / paru-paru, esophagus Kanker serviks inpasif Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata Kriptokokosis ekstrapulmoner Kriptosporidosis internal kronis Cytomegalovirus ( bukan hati,lien, atau kelenjar limfe ) Refinitis Cytomegalovirus ( gangguan penglihatan ) Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) Herpes simpleks (ulkus kronis,bronchitis,pneumonitis / esofagitis ) Histoplamosis diseminata / ekstrapulmoner ) Isoproasis intestinal yang kronis Sarkoma Kaposi Kompleks mycobacterium avium ( M.kansasi yang diseminata / ekstrapulmoner M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner ) Mycobacterium, spesies lain,diseminata / ekstrapulmoner Pneumonia Pneumocystic Cranii Pneumonia Rekuren Leukoenselophaty multifokal progresiva Septikemia salmonella yang rekuren

m. Limpoma Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak

u. v.

Toksoplamosis otak Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus ( HIV)

PATOFISIOLOGI Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi. Virus HIV dengan suatu enzim, reverse transkriptase, yang akan melakukan pemograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA. DNA ini akan disatukan kedalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen. Enzim inilah yang membuat sel T4 helper tidak dapat mengenali virus HIV sebagai antigen. Sehingga keberadaan virus HIV didalam tubuh tidak dihancurkan oleh sel T4 helper. Kebalikannya, virus HIV yang menghancurkan sel T4 helper. Fungsi dari sel T4 helper adalah mengenali antigen yang asing, mengaktifkan limfosit B yang memproduksi antibodi, menstimulasi limfosit T sitotoksit, memproduksi limfokin, dan mempertahankan tubuh terhadap infeksi parasit. Kalau fungsi sel T4 helper terganggu, mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan penyakit akan memiliki kesempatan untuk menginvasi dan menyebabkan penyakit yang serius. Menurunya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi. Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur oportunistik ) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS.

MANIFESTASI KLINIS
Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1 – 2 minggu pasien akan merasakan

dan bercak merah ditubuh. sakit leher. cytomegalovirus.sakit seperti flu. Tes Laboratorium Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian. Serologis . Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam. infeksi lain termasuk menibgitis. 2. nyeri sendi. dan lesi oral. atipikal : 1. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. diare. 3. Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam berkeringat. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala Diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh hasil positif. keletihan ruam kulit. sakit kepala. kandidiasis. radang kelenjar getah bening. dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan. yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC). Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa. neuropati. 2. pertambahan kognitif. limpanodenopathy. keringat dimalam hari. mikrobakterial. penurunan berat badan. lesu mengantuk. Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap. diare. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Neurologis EEG. Tes PHS Pembungkus hepatitis B dan antibody. Ig G. CMV mungkin positif. dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru . MRI.Tes antibody serum Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif. tapi bukan merupakan diagnosa Tes blot western Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV) Sel T limfosit Penurunan jumlah total Sel T4 helper Indikator system imun (jumlah <200> T8 ( sel supresor sitopatik ) Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun. Ig M yang normal atau mendekati normal a. Reaksi rantai polymerase Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler. EMG (pemeriksaan saraf). terutama Ig A. sifilis. b. CT Scan otak. P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV ) ) Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi Kadar Ig Meningkat.

Antibody terbentuk dalam 3 – 12 minggu setelah infeksi. Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA ) Mendeteksi protein dari pada antibody.Tes Antibodi Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Western Blot Assay Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV) Indirect Immunoflouresence Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas. pemerikasaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV – 1. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. atau bisa sampai 6 – 12 bulan. Tapi antibody ternyata tidak efektif. maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). tapi kadar p24 pada penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sangat rendah. . Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji – kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau plasma. Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV) Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut protein virus p24. yaitu : Tes Enzym – Linked Immunosorbent Assay ( ELISA) Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic. pasien dengantiter p24 punya kemungkinan lebih lanjut lebih besar dari menjadi AIDS. Tes tersebut. Orang yang dalam darahnya terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.

gingivitis. Enselophaty akut.hipotensi sistemik. alkoholik. demam. Neurologik a. d. hipoksia. demam. b. pertumbuhan cepat flora normal. kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf. nyeri. berefek perubahan kepribadian. Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV) Gastrointestinal a. hipoksia. c.dehidrasi. HPV oral. dan dekobitus dengan efek nyeri. limpoma. c. meningitis / ensefalitis. ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi. Respirasi Infeksi karena Pneumocystic Carinii. disfasia. virus influenza. dan dehidrasi.H. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler. anoreksia. Sensorik a. dengan efek inflamasi sulit dan sakit. KOMPLIKASI Oral Lesi Karena kandidia. nyeri abdomen. 3. penurunan berat badan. Hepatitis karena bakteri dan virus. obat illegal. sarcoma Kaposi. dan isolasi social. dan maranik endokarditis. pneumococcus. kelemahan. hipoglikemia. leukoplakia oral. b. total / parsial. dan strongyloides dengan efek nafas pendek. kerusakan kemampuan motorik. nyeri rectal. batuk. peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV). ketidakseimbangan elektrolit. paralise. lesi scabies/tuma. Dengan anoreksia. karena reaksi terapeutik.sarcoma Kaposi. dan sarcoma kaposi. keletihan. limpoma. gatal-gatal dan siare. ikterik. Dengan efek.rasa terbakar. herpes simplek. 1. malaise.gagal nafas. dermatitis karena xerosis. mual muntah. Diare karena bakteri dan virus.penurunan berat badan. malabsorbsi. reaksi otot. keletihan dan cacat. Dengan efek : sakit kepala. cytomegalovirus. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula. Dermatologik Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster.infeksi skunder dan sepsis.nutrisi. 2. Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan .demam atritis.gatal.

kehilangan pendengaran dengan efek nyeri PENATALAKSANAAN Belum ada penyembuhan untuk AIDS. Tidak bertukar jarum suntik. 4.b. Diedoxycytidine d. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi. Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media.jarum tato. Ribavirin c. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis. Recombinant CD 4 dapat larut . 2. Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir. obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. 3. bisa dilakukan dengan : 1. Terapi AZT (Azidotimidin) Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS. Terapi Antiviral Baru Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Didanosine b. maka pengendaliannya yaitu: 1. Pengendalian Infeksi Opurtunistik Bertujuan menghilangkan. atau sepsis. Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak terinfeksi. Sekarang. 2. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya. jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV).nasokomial. AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3 3. dan pemulihan infeksi opurtunistik. Obat-obat ini adalah : a. 5. mengendalikan. dan sebagainya.

aplasia timik. globulin anti limfosit. makan-makanan sehat. disfungsi timik congenital. defisiens inutrisi. limpoma. Menghindari infeksi lain. hipogamaglobulemia congenital. b. Kerusakan imunitas humoral (Antibodi) Limfositik leukemia kronis. protein – liosing enteropati (peradangan usus) . penuaan. Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T ) Terapiradiasi. PENGKAJIAN 1. maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.4. b. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. kanker adalah beberapa penyakit yang kronis. Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV). keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien.gizi yang kurang. Riwayat Penyakit Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang. kortikosteroid.mieloma. a. Vaksin dan Rekonstruksi Virus Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon. Pada lansia. alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun. anemia aplastik. atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes : a. Respon imun sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. KONSEP DASAR ASKEP A. Diabetes meilitus. hindari stress.

kurang perawatan diri. c. menurunnya massa otot. diare pekat dan sering. Integritas dan Ego Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan mengkuatirkan penampilan.takut. f. Sirkulasi Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia).menarik diri. kejang. perubahan penglihatan. . menurunnya volume nadi perifer. sering dengan atau tanpa kram abdominal. marah. Tanda : Perubahan TD postural. Tanda : Perubahan status mental. rasa terbakar saat miksi Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah. warna. refleks tidak normal. e. nyeri kelenjar.cemas.2. lesi atau abses rectal.depresi. lesi rongga mulut. perpanjangan pengisian kapiler. kelemahan otot. Tanda : Kelemahan otot. tremor.progresi malaise. ansietas. nyeri panggul. Hygiene Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS Tanda : Penampilan tidak rapi. g.perubahan jumlah.perianal.intoleran activity. tremor. Nyeri / Kenyamanan Gejala : Nyeri umum / local. kejang. dan sebagainya. hemiparesis. edema. Neurosensori Gejala : Pusing. frekuensi Jantun dan pernafasan ). h.nyeri dada pleuritis. d. mual muntah. putus asa. Makanan / Cairan Gejala : Anoreksia. pucat / sianosis. respon fisiologi aktifitas ( Perubahan TD. ide paranoid.nyeri tekan. perdarahan lama pada cedera. sakit kepala. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif) a. Tanda : Bengkak sendi. Eliminasi Gejala : Diare intermitten. b. kerusakan status indera. Tanda : Mengingkari. nyeri tekan abdominal. Aktivitas / Istirahat Gejala : Mudah lelah. mengingkari doagnosa.penurunan rentan gerak. perubahan status mental. terus – menerus. disfagia Tanda : Turgor kulit buruk. pincang.dan karakteristik urine. kesehatan gigi dan gusi yang buruk. sakit kepala. rasa terbakar.perubahan pola tidur.

Seksualitas Gejala : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi. batuk. alkoholik. penyakit defisiensi imun. pelebaran kelenjar limfe. timbulnya nodul. napas pendek progresif. penggunaan pil pencegah kehamilan. berkeringat malam. perubahan bunyi napas. distress pernapasan. menurunnya libido. j. adanya trauma AIDS Tanda : Perubahan interaksi m. Tanda : Kehamilan.luka.luka perianal / abses.i. terbakar. penyalahgunaan obat-obatan IV. Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : Kegagalan dalam perawatan. demam berulang. merokok. kesepian. isolasi. Keamanan Gejala : Riwayat jatuh. transfuse darah. pingsan. k. Pernafasan Gejala : ISK sering atau menetap. Tanda : Perubahan integritas kulit. sesak pada dada. . herpes genetalia l. menurunya kekuatan umum. Interaksi Sosial Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis. prilaku seks beresiko tinggi. adanya sputum. tekanan umum. Tanda : Takipnea.

kegagalan ginjal. perubahan status mental.) Perubahan membran mukosa oral b. ketidakseimbangan elektrolit.d inflamasi/kerusakan jaringan infeksi. malignansi otak. depresi system imun. kulit rusak. perubahan pada kesehatan/status sosioekonomi. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan. Penurunan tingkat aktivitas. ancaman kematian.d ketidakmampuan/ perubahan pada kemampuan untuk mencerna. proses infeksi/inflamasi. Herpes.d penurunan produksi energy metabolism. mengunyah dan atau nutrisi metabolisme . pertukaran oksigen. Kelelahan b. lesi kutaneus internal/eksternal. perubahan status metabolism.d defisit imunologis dan timbulnya lesi penyebab pathogen. Ansietas b. dan jamur (misalnya herpes. statis cairan tubuh. transmisi dan penularan interpersonal. Kerusakan Integritas kulit (aktual/risiko) b.malnutrisi. letargi.d defisit imunologis. teknik invasive. mual. formasi ulkus dekubitus (aktual. menahan sekresi (obstruksi trakeobronkial). anoreksia. demam. berkeringat. peningkatan kebutuhan energy (status hipermetabolik). perubahan sensasi. 1. fungsi peran. pembatasan pemasukan. Nyeri b. ketidakseimbangan perfusi ventilasi (PCP/pneumonia interstisial. Isolasi sosial b. Pola nafas tak efektif/ kerusakan pertukaran gas b/d ketiidakseimbangan muskuler (melemahnya otot-otot pernafasan. penularan. penurunan ekspansi paru).d hipoksemia. misalnya Candida.d perubahan status kesehatan . persepsi tentang tidak dapat diterimadalam masyarakat. infeksi virus. jaringan traumatic. ulserasi. . lesi kulit. nekrosis.DIAGNOSA KEPERAWATAN Risiko tinggi terhadap infeksi (progresi menjadi sepsis/awitan infeksi opurtunistik) b/d pertahanan primer takefektif. eksoriasi rectal. kelelahan. AIDS-dihubungkan dengan radang. Perubahan proses pikir b. gangguan intestinal. rasa sakit. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b/d kehilangan yang berlebih : diare berat. malnutrisi . penyakit kronis. mialgia dan atralgia. candida) proses penyakit (misalnya KS). Kejang abdomen. Nutrisi kurang dari kebutuhan b. penggunaan agen antimikroba. penurunan energy/keppenatan. malnutrisi. KS. status hipermetabolik. mual/muntah. anemia). pemisahan dan sistim pendukung. bakteri. perubahan metabolism. muntah. pseudomonas. perubahan pada penampilan fisik. Neuropati perifer. dan atau infeksi oportunistik sistemik diseminata. ketakutan akan penularan penyakit pada keluarga yang dicintai.d ancaman pada konsep pribadi. infeksi SSP oleh HIV.

Ketidakberdayaan b. Rasional : memberikan data dasar. Rasional :Penurunan daya tahan tubuh memudahkan berkembangbiaknya kuman pathogen. prognosis dan kebutuhan pengobatan b. Diskusikan tingkat dan rasional isolasi pencegahan dan mempertahankan kesehatan pribadi.d kurang pemajanan/mengingat. dan adanya mengi/ronchi. proses berduka yang belum selesai. peningkatan suhu badan menunjukkan adanya infeksi sekunder. perubahan karakteristik sputum. Ciptakan lingkungan yang bersih dan ventilasi yang baik. jaringan traumatic. depresi system imun. Diskusi dilakukan untuk meningkatkan kerjasama dengan cara hidup dan berusaha mengurangi rasa terisolasi. perubahan pada bentuk tubuh/gaya hidup yang diinginkan. penyakit kronis. pernik-pernik sosial dari AIDS. Kurang pengetahuan mengenai penyakit.d konfirmasi diagnosa sakit terminal. tidak mengenal sumber informasi. kesalahan interpretasi informasi. Pantau tanda-tanda vital. Rasional : mengurangi risiko kontaminasi silang. perhatikan batuk spasmodik kering pada inspirasi dalam. 2. penggunaan agen antimikroba. 3. Tindakan : 1. Instruksikan pasien/orang terdekat untuk mencuci tangan sesuai indikasi. kulit rusak. Cuci tangan sebelum dan sesudah seluruh kontak perawatan dilakukan. 5. teknik invasive. . keterbatsan kognitif. 4. statis cairan tubuh. termasuk suhu klien.malnutrisi Tujuan : Pasien tidak mengalami infeksi. -Rasional : mengurangi petogen pada sistim imun dan mengurangi kemungkinan pasien mengalami infeksi nasokomial. Tindakan isolasi sebagai upaya menjauhkan dari kontak langsung dgn kuman pathogen. PERENCANAAN Dx 1: Resiko tinggi terhadap infeksi (progresi menjadi sepsis/awitan infeksi opurtunistik) b/d pertahanan primer takefektif. Periksa pengunjunga tau staf terhadao tanda infeksi dan pertahankan kewaspadaan sesuai indikasi. Kaji frekuensi /kedalaman pernafsan .

13. skort dan sarung tangan dilakukan oleh OSHA untuk kontak langsung dengan cairan tubuh . Observasi kulit/membrane mukosa oral terhadap kemungkinan adanya bercak putih atau lesi. 10. serum. sputum. 8. 6. Rasional : dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab demam. Dx 2 : Kolaborasi : pantau hasil laboratorium seperti periksa kultur. Rasional : identifikasi perawatan awal dari infeksi sekunder dapat mencegah terjadinya sepsis. 14. penyakit yang paling umu terjadi. perubahan penglihatan. 12. darah.Rasional : kongesti/distress pernafsan dapat mengindikasikan perkembangan PCP. darah. perhatikan tanda-tanda inflamasi/infeksi . atau untuk menentukan metode perawatan yang sesuai. herpes. Awasi pembuangan jarum suntik dan mata pisau secara ketat dengan menggunakan wadah tersendiri. 11. urine dan Periksa adanya luka /lokasi alat invasive. Selidiki adanya keluhan sakit kepala. peningkatan kejang abdominal. Rasional : esofagitis mungkin terjadi akibat candidiasis oral ataupun herpes. adalah penyakit yang umum terjadi dan member efek pada membaran kulit. disfagia. misalnya sputum. Rasional : Candidiasis oral. Rasional : mencegah inokulasi tak disengaja dari pemberi perawatan. mata dari sekresi selama prosedur. sekresi vaginal. Bersihkan kuku setiap hari. Dikikir lebih baik dari pada dipotong. Rasional : menghambat proses infeksi. 7. 9. diare hebat. local. Rasional : ketidaknormalan neurologis umum dan mungkin dapat dihubungkan dengan HIV atau infeksi sekunder. Rasional : mengurangi risiko tramsmisi bakteri pathogen malalui kulit. kaku leher. sakit retrosternal pada waktu menelan. dan hindari memotong kutikula. Catat perubahan mental dan tingkah laku. pantau kekakuan nukal/aktivitas kejang. mulut. diagnose infeksi organisme. Gunakan masker ataupun kaca mata pelindung untuk melindungi hidung. Pantau keluhan nyeri ulu hati. Rasional : penggunaan masker . Gunakan sarung tangan dan skort selama kontak langsung dengan sekresi/ekskresi atau kapanpun terdapat kerusakan pada kulit tangan perawat. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik antijamur/antimikroba.

Rasional : Indikator tidak langsung dari status cairan. Pantau tanda-tanda vital termasuk CVP bila terpasang. 2. terutama jika pemasukan oral tidak adekuat. Rasional : memperkirakan kebutuhan cairan pasien. Rasional : Mempertahankan keseimbangan. Catat hipertensi . Tujuan : Klien tidak mengalami kekurangan volume cairan dan klien mampu mempertahankan tingkat hidrasi yang adekuat Tindakan : 1. TD menurun menunjukkan adanya dehidrasi. susu. 8. mengurangi rasa haus membrane mukosa. 4. Kolaborasi dalam pemberian cairan elektrolit malalui selang pemberian makanan/IV Rasional : mendukung dan memperbesar volume sirkulasi . Ukur haluaran urine dan berat jenis urine. Ukur /kaji jumlah kehilangan diarea. serta untuk mengetahui fungsi ginjal. 7. Rasional : Indikator dari volume cairan sirkulasi.Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b/d kehilangan yang berlebih : diare berat. Rasional : Suhu badan meningkat menunjukkan adanya hipermetabolisme yang dihubungkan dengan demam dalam meningkatkan kehilangan cairan tak kasat mata. berikan kompres hangat sesuai indikasi. Hilangkan makanan yang potensial menyebabkan diare . letargi. termasuk perubahan postural. 5. Denyut nadi/HR meningkat. Rasional : memungkinkan dalam mengurangi diare. pembatasan pemasukan. suhu tubuh menurun. makanan berkadar lemak tinggi. muntah. demam.pertahankan kenyamanan suhu lingkungan. Pantau pemasukan oral dan memasukkan cairan sedikitnya 2500 ml/hr. membrane mukosa dan rasa haus. kacang. Elektrolit serum. anoreksia. Catat peningkatan suhu dan durasi demam. pertahankan pakaian tetap kering. Kaji turgor kulit. Kolaborasi dalam pemantauan hasil pemeriksaan lab seperti Hb/Ht. mewaspadai kemungkinan adanya gangguan elektrolit dan menentukan kebutuhan elektrolit pasien. 3. 6. Rasional : peningkatan berat jenis urine atau penurunan haluaran urine menunjukan perubahan perfusi ginjal/volume sirkulasi. . yakni makanan yang pedas. berkeringat. urine. kubis. Catat kehilangan tak kasat mata. mual/muntah terus menerus. mual. BUN dan kreatinin. dan melembabkan status hipermetabolik.

dan peningkatan nafas menunjukan kesulitan pernafasan dan adanya kebutuhan untuk meningkatkan pengawasan/intervensi medis. menarik nafas sesuai kebutuhan. misalnya ateletaksis/pneumonia. . dan munculnya bunyi adventisius seperti krekels. penurunan ekspansi paru). Tinggikan kepala tempat tidur.9. Kolaborasi dalam hasil pemeriksaan GDA/nadi oksimetri Rasional : menunjukan status pernafasan. Rasional : mengurangi insiden muntah dalam mengurangi kehilangan cairan. ronchi. ketidakseimbangan perfusi ventilasi (PCP/pneumonia interstisial. Berikan periode istirahat diantara waktu aktivitas perawatan. penurunan energy/keppenatan. membantu mengurangi demam. antidiare. Rasional : meningkatkan fungsi pernafasan yang optimal dan mengurangi aspirasi atau infeksi yang ditimbulkan karena ateletaksis. Rasional : menurunkan konsumsi O2 7. Catat kecepatan atau kedalaman pernafasan. ansietas. anemia). Kaji perubahan tingkat kesadaran. Rasional : memperkirakan adanya perkembangan komplikasi /infeksi pernafasan. 3. 2. Rasional : takipneu. menurunkan jumlah dan keeneran feses. mengurangi kejang usus dan peristaltic usus. mengi. Kolaborasi pemberian obat : antiemetik. 5. batuk. Rasional : Hipoksemia dapat terjadi akibat adanya perubahan tingkat kesadaran mulai dari ansietas dan kekacuan mentalsampai kondisi tidak responsif. sianosis. menahan sekresi (obstruksi trakeobronkial). dan antipiretik. kebutuhan perawatan dan kefektifan pengobatan. Perthankan lingkungan yang tenang. rasa sakit. Usahakan pasien untuk berbalik. penggunaan otot aksesori. tandai daerah paru yang mengalami penurunan /kehilangan ventilasi. 6. Tujuan : Pola nafas efektif Tindakan : 1. Pola nafas tak efektif/ kerusakan pertukaran gas b/d ketiidakseimbangan muskuler (melemahnya otot-otot pernafasan. 4. peningkatan kerja pernafasan dan munculnya dispneu. tak dapat beristirahat. Selidiki keluhan tentang nyeri dada. Rasional : nyeri pada pleuritis dapat menggambarkan adanya pneumonia nonspesifik atau efusi pleura berkenaan dengan keganasan. proses infeksi/inflamasi. Dx 3. sianosis. Aukultasi bunyi nafas .

sajikan makanan yang hangat dan berikan dalam volume sedikit. 9. merasakan dan menelan. Rasional : meningkatkan nafsu makan dan perasaan sehat.d ketidakmampuan/ perubahan pada kemampuan untuk mencerna. Dorong aktivitas fisik sebanyak mungkin. masker. 6. Auskultasi bising usus Rasional :Hipermetabolisme saluran gastrointestinal akan menurunkan tingkat penyerapan usus. Rasional : mempertahankan ventilasi /oksigenasi efektif untuk mencegah /memperbaiki krisis pernafasan. Berikan perawatan mulut yang terus menerus. dorong klien untuk duduk saat makan. Kaji kemampuan mengunyah. Tujuan: Nutrisi klien adekuat. Hindari obat kumur yang mengandung alcohol. Barikan makan sesuai keinginannya (bila tdk ada kontraindidkasi). penurunan kemampuan pasien untuk mengolah makanan dan mengurangi keinginan untuk makan. Rasional : bactrim merupakan obat pencegah pneumonia PCP. Timbang BB sesuai kebutuhan. esophagus dapat menyebabkan disfagia. Mulut yang bersih akan meningkatkan nafsu makan. intubasi/ventilasi mekanis. Kolaborasi : berikan obat-obatan sesuai indikasi seperti antimikroba seperti bactrim. 3. Rasional : BB sebagai indikator kebutuhan nutrisi yang adekuat 4. Rasional : mengurangi ketidaknyamanan yang berhubungan dengan mual/muntah . Dx 4 Nutrisi kurang dari kebutuhan b. pengeringan mukosa. awasi tindakan pencegahan sekresi. Rasional :Lesi pada mulut. mengunyah dan atau nutrisi metabolisme . mual/muntah. Tindakan: 1. 5.8. Rasional : meningkatkan keinginan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat. gangguan intestinal. 2. . Kolaborasi : berikan tambahan O2 yang dilembabkan melalui cara yang sesuai misalnya kanula. lesi oral. Rencanakan makan bersama keluarga/orang terdekat.

Tindakan : 1. Rasional : meningkatkan relaksasi dan perasaan sehat. 8. Rasional : mengurangi rasa lelah. berkunjung. meningkatkan ketersediaan energy untuk makan. Kejang abdomen. Rasional : meningkatkan relaksasi /menurunkan ketegangan otot. 9. bimbingan imajinasi. Rasional : memfokuskan kembali perhatian. masase. Neuropati perifer. 2. mengidentifikasikan kebutuhan pengganti. 6. Kaji keluhan nyeri. Kolaborasi : catat pemeriksaan Lab seperti . Berikan kompres hangat pada daerah yang sakit. sehingga mengurangi persepsi akan intensitas rasa sakit. relaksasi progresif dan nafas diafragma. Dx. Rasional : menyediakan diet berdasarkan kebutuhan individu dengan rute yang tepat. Berikan fase istirahat sebelum makan. nekrosis. lesi kutaneus internal/eksternal. frekuensi dan waktu.7. Rasional : mengindikasikan status nutrisi dan fungsi organ. Dorong pasien untuk melakukan teknik visualisasi. Rasional : mengurangi insiden muntah. Rasional : mengurangi ras sakit yang dirasakan pasien. glukosa. BUN. elektrolit. mialgia dan atralgia. 10. protein dan albumin. Hindari prosedur yang melelahkan saat mendekati waktu makan. Tujuan : px mengatkan nyeri berkurang. mungkin dapat meningkatkan kemampuan untuk menanggulanginya. eksoriasi rectal. 11. Dorong pasien untuk duduk pada waktu makan. Rasional : dorong mengurangi ansietas dan rasa takut. rentang gerak pada sendi yang sakit. Lakukan tindakan paliatif seperti merubah posisi. Rasional : mempermudah proses menelan dan mengurangi risiko terjadinya aspirasi. 4. suplemen vitamin.d inflamasi/kerusakan jaringan infeksi. 7. Kolaborasi : berikan anlgesik/antipiretik. perhatikan lokasi. penularan. Konsultasikan dengan tim pendukung ahli diet/Gizi Berikan obat-obatan sesuai petunjuk misalnya antiemetik. Rasional : mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi selanjutnya. Dorong pengungkapkan perasaan. dan menonton televisi. intensitas. Berikan aktivitas hiburan seperti membaca. 5. 5 Nyeri b. 3. .

8. Rasional : menurunkan tekanan pada kulit dan istirahat lama di tempat tidur. turgor. Ubah posisi pasien secara teratur. AIDS-dihubungkan dengan radang. Tindakan : 1. perubahan status metabolism.d defisit imunologis. Rasional : mengurangi kontaminasi bakteri. 7. mengurangi demam. lesi kulit. Gunting kuku secara teratur Rasional : kuku yang panjang/kasar meningkatkan risiko kerusakan dermal. Rasional : digunakan dalam perawatan lesi kulit. Rasional : mengurangi stress pada titik tekan. meningkatkan aliran darah ke jaringan dan meningkatkan proses penyembuhan. Kolaborasi : berikan obat-obatan topikal /sistemik sesuai indikasi. Gambarkan lesi dan amati adanya perubahan. Rasional : mempertahankan kebersihan kulit untuk mencegah infeksi. Rasional : friksi kulit disebabkan oleh kain yang berkerut dan basah yang menyebabkan iritasi dan potensial terhadap infeksi. integritas kulit membaik. ganti seprai sesuai kebutuhan. Penurunan tingkat aktivitas. malnutrisi . bakteri. candida) proses penyakit (misalnya KS). Rasional : menentukan garis dasar dimana perubahan pada status dapat dibandingkan dan melakukan intervensi yang tepat. 4. 2. Pertahankan hygiene kulit. 3. Dx 6 Kerusakan Integritas kulit (aktual/risiko) b. meningkatkan proses penyembuhan. Lindungi penonjolan tulang dengan bantal. Catat warna. infeksi virus. formasi ulkus dekubitus (aktual. ulserasi. Pertahankan sprei bersih. perubahan sensasi. 6. pseudomonas. Dx 7 . Kaji kulit setiap hari. misalnya membasuh kemudian mengeringkannya dengan berhati-hati dan melakukan masase dengan menggubnakan lotion/krim. Dorong pemindahna berat badan secara periodik. Tutupi luka tekan yang terbuka dengan pembalut yang steril.) Tujuan : Kerusakan integritas kulit tidak terjadi. sirkulasi. Dorong untuk ambulasi/turun dari tempat tidur jika memungkinkan. 5.Rasional : memberikan penurunan nyeri/tidak nyaman . dan jamur (misalnya herpes. kering dan tidak berkerut. bantalan tumit/siku. dan sensai.

Rasional : mengurangi rasa tidak nyaman. mencegah pengeringan rongga mulut. KS. 7.d defisit imunologis dan timbulnya lesi penyebab pathogen. Rasional : edema. lesi membrane mukosa oral dan tenggorok kering menyebabkan rasa sakit dan sulit mengunyah/menelan. Lesi yang terbuka akan nyeri dan diperburuk dengan garam. Herpes. misalnya nistalin (mycotatin). 6. ketokonazol (nizoral). misalnya Candida. . Rasional : makanan yang pedas akan membuka lesi yang telah disembuhkan. Rasional : mempertahankan hidrasi. sulit mengunyah/menelan. Dorong pasien untuk tidak merokok. dan makanan/minuman asam. Rencanakan diet untuk menghindari garam. Kolaborasi pemeriksaan specimen kultur lesi. 4. 2. Anjurkan permen karet/permen tidak mengandung gula. Rasional : merangsang saliva untuk menetralkan asam dan melindungi membrane mukosa. Dorong pemasukan oral sedikitnya 2500ml/hari. misalnya Candida. gesekan. Rasional : menunjukkan agen penyebab dan mengidentifikasi terapi yang sesuai.Perubahan membran mukosa oral b. Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai petunjuk. 3. Rasional : rokok akan mengeringkan dan mengiritasi membrane mukosa. Kaji membran mukosa/catat seluruh lesi oral. 8. Berikan perawatan oral setiap hari dan setelah makan. Rasional : obat khusus pilihan tergantung pada organism infeksi. 5. pedas. bengkak. Tindakan : 1. makanan/minuman asam. Tujuan : Mempertahankan keutuhan mukosa oral. meningkatkan rasa sehat dan mencegah pembentukan asam yang dikaitkan dengan partikel makanan yang tertinggal. Perhatikan keluhan nyeri. pedas.

2. dan mengizinkan pasien untuk lebih aktif tanpa menyebabkan kepenatan dan rasa frustasi. 3. bantu dengan ambulasi. Rasional : mungkin membutuhkan terapi tambahan untuk mencegah kehilangan gigi. tekanan emosi dan efek samping obat-obatan/kemoterapi. frekuensi pernafasan atau jantung. . sehingga dapat memperbaiki perasaan sehat dan kontrol diri. Bantu pasien memenuhi perawatan pribadi. Dx 8 : Kelelahan b. Rasional : rasa lemas dapat membuat pasien tidak mampu menyelesaikan aktivitasnya dan melindungi pasien dari cedera selama melakukan aktivitas. berjalan. Pantau respons psikologis terhadap aktivitas. Tujuan : mampu melaksanakan aktivitas secara mandiri. penyakit SSP. Kaji pola tidur dan catat perubahan dalam proses berpikir/perilaku. Atur aktivitas pada waktu pasien sangat berenergi.d penurunan produksi energy metabolism. Rasional : berbagai factor dapat meningkatkan kelelahan. Tindakan : 1. Ikutsertakan pasien/orang terdekat pada penyusunan rencana. mislanya perubahan TD. Kolaborasi dengan ahli gigi jika diperlukan. Rasional : memungkinkan penghematan energy. Rencanakan perawatan untuk menyediakan fase istirahat. Perencanaan akan membuat pasien menjadi aktif pada waktu dimana tingkat energy lebih tinggi. duduk di kursi. peningkatan kebutuhan energy (status hipermetabolik). 5. Rasional : periode istirahat yang sering sangat dibutuhkan dalam memperbaiki/menghemat energi. termasuk kurang tidur. misalnya : perawatan diri. 4. peningkatan stamina. pertahankan tempat tidur dalam posisi rendah dan tempat lalu lalang bebas dari perabotan. Dorong pasien untuk melakukan apapun yang mungkin.9.

dan atau infeksi oportunistik sistemik diseminata. Rasional : menetapkan tingkat fungsional pada waktu penerimaan dan mewaspadakan perawat pada perubahan status yang dapat dihubungkan dengan infeksi/kemungkinan penyakit SSP yang makin buruk. Rasional : aksi dan interaksi dari berbagai obat-obatan akan memperpanjang obat-obatan penyambung hidup/perubahan ekskresi. Tindakan : 1. Kolaborasi terapi fisik dengan fisioterapi. perubahan pola tidur. 8. Tujuan : Mempertahankan orientasi realita umum dan fungsi kognitif pasien. risiko potensial dari reaksi toksisitas. malignansi otak. Kolaborasi pemberian O2 sesuai indikasi. status nutrisi. Rasional : latihan setiap hari secara terprogram dan aktivitas yang membantu pasien mempertahankan/meningkatkan kekuatan dan tonus otot.Rasional : toleransi bervariasi tergantung pada status proses penyakit. Catat perubahan dalam orientasi. Rasional : adanya anemia/hipoksia mengurangi persediaan O2 untuk ambilan seluler dan menunjang kelelahan. Dx 9 : Perubahan proses pikir b. dan jumlah/tipe penyakit dimana pasien menjadi subjeknya. . 6. keseimbangan cairan. Pantau aturan penggunaan obat-obatan. Dorong masukan nutrisi. dan ide paranoid. ansietas. halusinasi. Kaji status mental dan neurologis. Rasional : pemasukan/penggunaan nutrisi adekuat sangat penting bagi kebutuhan energy untuk aktivitas. meningkatkan rasa sejahtera. ketidakseimbangan elektrolit. kegagalan ginjal. 7. respons terhadap rangsang. kemampuan untuk memecahkan masalah. 2. infeksi SSP oleh HIV.d hipoksemia. perubahan metabolism.

Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi : amfoterisin. Rasional : memberikan rangsang lingkungan normal akan membantu dalam mempertahankan orientasi realitas. Pertahankan lingkungan yang menyenangkan dengan rangsang auditorius. Dorong keluarga/orang terdekat untuk bersosialisasi dan berikan reorientasi dengan berita actual. 8. 6. antiansietas. muntah. pemeriksaan laboratorium. ancaman kematian. misalnya sakit kepala. Pantau adanya tanda-tanda infeksi SSP. dan kognitif yang tepat. misalnya : MRI. Tujuan : Mengurangi rasa takut/ansietas pasien. 5. perubahan pada kesehatan/status sosioekonomi. kejadian-kejadian di dalam keluarga. Rasional : hubungan yang baik seringkali berguna dalam membantu mempertahankan orientasi realitas. Dorong pasien melakukan kegiatan sebanyak mungkin. Dx 10 Ansietas b. Rasional : mengetahui kondisi pasien secara lebih spesifik.3. visual. 7. antipsikotik. pemisahan dan sistim pendukung. kekakuan nukal. . Rasional : meningkatkan status kesehatan pasien. transmisi dan penularan interpersonal. retrovir. fungsi peran. Kolaborasi pemeriksaan diagnostik.d ancaman pada konsep pribadi. Rasional : membantu memperthankan kemampuan mental untuk periode yang lebih panjang. demam. Rasional : gejala SSP dihubungkan dengan meningitis/ensefalitis diseminata mungkin memiliki jangkauan dari perubahan kepribadianyang tidak kelihatan sampai kekacauan mental. 4. CT scan. ketakutan akan penularan penyakit pada keluarga yang dicintai.

Rasional : mungkin diperlukan bantuan lebih lanjut dalam berhadapan dengan diagnose/prognosis. Berikan waktu untuk berbicara dengan pasien selama dan diantara aktivitas perawatan. persepsi tentang tidak dapat diterimadalam masyarakat. 5. Dx 11 Isolasi sosial b. Rasional : isolasi sebagian dapat mempengaruhi diri saat pasien takut penolakan/reaksi orang lain. Rasional : mengurangi perasaan terisolasi pasien. Kolaborasi dengan psikiatri dalam konseling. Rasional : menjamin bahwa pasien tidak akan sendiri atau diterlantarkan. 6. Libatkan keluarga atau orang terdekat sesuai petunjuk pada pengambilan keputusan. Pertahankan hubungan yang baik dengan pasien. Rasional : membuat klien merasa lebih aman dan nyaman.Tindakan : 1. Berikan informasi akurat dan konsisten mengenai prognosis. perubahan pada penampilan fisik. Rasional : menjamin adanya system pendukung bagi pasien dan memberikan kesempata orang terdekat untuk berpartisipasi dalam kehidupan pasien. a. 4. Tujuan : Pasien mampu berpartisipasi dalam aktivitas/program pada tingkat kemampuan/hasrat. .d perubahan status kesehatan . Identifikasi dan dorong interaksi pasien dengan sistem pendukung. 2. Berikan lingkungan yang nyaman bagi pasien. b. Tentukan persepsi pasien tentang situasi. Rasional : dapat mengurangi ansietas dan ketidakmampuan pasien untuk membuat keputusan/pilihan berdasarkan realita. Dorong pengungkapan/interaksi dengan keluarga atau orang terdekat. 3. perubahan status mental.

Rasional : membantu memantapkan partisipasi pada hubungan social. Dorong adanya hubungan yang aktif dengan orang terdekat. perasaan kesepian. Waspadai gejala-gejala verbal/nonverbal. Rasional : Ekstra istirahat perlu jika karena meningkatkan kebutuhan metabolik. b. dapat mengurangi kemungkinan upaya bunuh diri.Rasional : pasien mungkin akan mengalami isolasi fisik. c. Rasional : Respon bervariasi dari hari ke hari. Identifikasi sistem pendukung yang tersedia bagi pasien. Monitor respon fisiologis terhadap aktivitas. Tujuan : Pasien mampu berpartisipasi dalam kegiatan. Rasional : jika pasien mendapat bantuan dari orang terdekat. c. pertukaran oksigen. misalnya menarik diri. . Rasional : mengetahui KU pasien. dengan kriteria bebas dyspnea dan takikardi selama aktivitas. malnutrisi. Dx 12 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan. d. putus asa. perasaan kesepian dan ditolak akan berkurang. Berikan bantuan perawatan yang pasien sendiri tidak mampu. Observasi tanda-tanda vital. d. kelelahan. Rasional : indikasi bahwa putus asa dan ide untuk bunuh diri sering muncul. Rasional : Mengurangi kebutuhan energi. Jadwalkan perawatan pasien sehingga tidak mengganggu isitirahat. Tindakan : a. e.

4. pernik-pernik sosial dari AIDS. 2. Rasional : memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi. Identifikasi faktor yang berhubungan dengan perasaan tak berdaya. Dorong peran aktif dalam perencanaan aktivitas. Tinjau ulang proses penyakit dan apa yang menjadi harapan di masa depan. proses berduka yang belum selesai. Tinjau ulang cara penularan penyakit. Rasional :menentukan ststus individual pasien dan mengudsahakan intervensi yang sesuai pada waktu pasien imobilisasi karena perasaan depresi. menetapkan kleberhasilan yang realistis /dapat dicapai. Rasional : meningkatkan perasaan kontrol dan menghargai diri sendiri dan tanggung jawab sendiri. Rasional : pasien penderita AIDS umunya menyadari literatur dan prognosis terbaru. keterbatsan kognitif. Dorong harapan hidup dan kekuatan bertahan lama. Dx 14 Kurang pengetahuan mengenai penyakit. Dorong kontrol pasien dan tanggung jawab sebanyak mungkin. Tujuan : Pasien mengungkapkan control terhadap situasi sekarang.d konfirmasi diagnosa sakit terminal. . Rasional : mengoreksi mitos dan kesalahan persepsi . Tindakan : 1. kurang sistim pendukung. Tindakan : 1. misalnya diagnose sakit terminal. 3. 2. Kaji tingkat perasaan tidak berdaya misalnya ekspresi verbal/nonverbal yang mengindikasikan kurangnya kontrol. prognosis dan kebutuhan pengobatan b. kesalahan interpretasi informasi.d kurang pemajanan/mengingat. Rasa takut akan AIDS merupakan kasus paling umu ditemukan pada isolasi pasien. tidak mengenal sumber informasi.Dx 13 Ketidakberdayaan b. Rasional : meningkatkan semangat hidup pasien. Tujuan : pengetahuan pasien mengenai kondisi/proses keperawatan meningkat. perubahan pada bentuk tubuh/gaya hidup yang diinginkan. meningkatkan keamanan bagi pasien dan keluarga. kurang pengetahua mengenai kondisi saat ini.

EVALUASI Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Rasional : meningkatkan kerja sama dengan peningkatan kemampuan untuk seksus dengan aturan terapeutik. 8. meingkatkan kemampuan. Diskusikan aturan obat-obatan. Rasional : mencegah/mengurangi kepenatan. depresi yang mengganggu pemasukan. objektif. 6. Rasional : member kesempatan untuk mengubah aturan untuk memenuhi kebutuhan perubahan/individual. Rasional : memberikan pasien peningkatan kontrol. Evaluasi menggunakan system SOAP (Subjektif. 4. Rasional : meningkatkan nutrisi adekuat yang diperlukan untuk penyembuhan dan mendukung sistim imun. B.3. Tekankan perlunya perawatan kulit harian. Tekankan perlunya perawatan kesehatan dan evaluasi. diare. 10. lemas. Pastikan bahwa pasien atau orang terdekat dapat menunjukan perawatan oral atau gigi dengan baik. 9. Tekankan pentingnya istirahat adekuat. 7. Tinjau ulang kebutuhan akan diet dan cara untuk meningkatkan pemasukan pada waktu anoreksia. mengurangi risiko rasa malu. meningkatkan perasaan sehat. planning). dan meningkatkan kenyamanan. PELAKSANAAN Intervensi dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. C. evaluasi membandingkan keadaan yang ada pada pasien dengan kriteria hasil pada perencanaan. Rasional : kulit yang sehat memberikan barier terhadap infeksi. interaksi dan efek samping. Instruksikan pasien dan pemberian perawatan mengenai kontrol infeksi. . 5. Berikan informasi mengenai penatalaksanaan gejala yang melengkapi aturan medis misalnya diare intermiten. analisis. Rasional : mengurangi penularan penyakit. Rasional : mukosa oral dapat dengan cepat menunjukan komplikasi hebat dan progresif.

.

Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 3. 1 maret 2011. Asuhan Keperawatan HIV. Kapita selekta Kedokteran. 2009. Rencana Asuhan Keperawatan. . Suzanne C & Brenda G. 2000. http://www. Zuya Urahman. Jakarta : Media Aesculapius FKUI. dkk. Marylin E. Nanda. 2005. Jakarta : EGC Doengos. Philadephia : Nanda Internasional Smeltzer. Arif. 2002. Diagnosa Kperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Lynda Juall. Jakarta: EGC Masjoer. (online). Jakarta : EGC.indonesianurse. available.com/2009/12/14/asuhan-keperawatan-hivaids. Bare. Nursing Diagnosis Definition and Classification 2005-2006. 2004.DAFTAR PUSTAKA Carpenito. 2007.

________________________ NIP.Denpasar. Mahasiswa. November 2012 Mengetahui Pembimbing Praktek.P07120010005 Pembimbing Akademik. _____________________________ NIP. . Mengetahui Made Ari Kusumawati NIM.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->