Anda di halaman 1dari 18

SARANA ILMU PENGETAHUAN

Makalah Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu

Oleh; Astiwin F1.4.2.12.208

Dosen Pengampu Dr. Hj. Muzayyanah Mutashim Hasan, MA

KONSENTRASI EKONOMI ISLAM PROGRAM PASCA SARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2012
1

PENDAHULUAN

Berpikir merupakan ciri utama bagi manusia, untuk membedakan antara manusia dengan makhluk lain. Dengan dasar berpikir ini, manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal dapat memikirkannya. Berpikir disebut juga sebagai proses bekerjanya akal, manusia dapat berpikir karena manusia berakal. Dengan demikian akal merupakan intinya, sebagai sifat hakikat, sedang makhluk sebagai genus yang merupakan hakikat dhat, sehingga manusia dapat dijelaskan sebagai makhluk yang berakal. Akal merupakan salah satu unsur kejiwaan manusia untuk mencapai kebenaran di samping rasa untuk mencapai keindahan dan kehendak untuk mencapai kebaikan. Dengan akal inilah manusia dapat berpikir untuk mencari kebenaran hakiki. Berpikir banyak sekali macamnya, namun secara garis besar dapat dibedakan antara berpikir alamiah dan berpikir ilmiah. Berpikir alamiah yang dimaksudkan di sini ialah pola penalaran yang berdasarkan kebiasaan sehari-hari dan pengaruh alam sekelilingnya, misal: penalaran tentang panasnya api yang dapat membakar, jika dikenakan kayu pasti akan terbakar. Berpikir ilmiah yang dimaksudkan adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat, misal: dua hal yang bertentangan penuh tidak dapat sebagai sifat hal tertentu pada saat yang sama dalam satu kesatuan. Dua macam berpikir ini yang akan dibahas di sini ialah berpikir ilmiah dan khusus tentang sarananya, yaitu sarana ilmiah. Bagi seorang ilmuwan penguasaan sarana berpikir ilmiah merupakan suatu keharusan, dan bahkan mutlak perlu, karena tanpa penguasaan sarana ilmiah tidak akan dapat melaksanakan kegiatan ilmiah yang baik. Sarana berpikir ilmiah mutlak perlu dipelajari dan dikuasai bagi seorang ilmuwan, karena sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode-metode ilmiah. Sarana
2

berpikir ilmiah pada dasarnya ada tiga, yakni: (1) bahasa, (2) matematika, (3) logika dan, (4) statistika. Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran seluruh proses berpikir ilmiah. Logika dan matematika mempunyai peranan penting dalam berpikir deduktif sehingga mudah diikuti dan dilacak kembali kebenarannya. Sedang logika dan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif untuk mencari konsep-konsep yang berlaku umum.

PEMBAHASAN

A. BAHASA 1. Fungsi Bahasa Para pakar telah berselisih pendapat dalam hal fungsi bahasa. Aliran filsaf at bahasa dan psikolinguistik melihat fungsi bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan emosi, sedangkan aliran sosiolinguistik berpendapat bahwa fungsi bahasa adalah sarana untuk perubahan masyarakat. Menurut Halliday sebagaimana yang dikutip oleh Thaimah bahwa fungsi bahasa adalah sebagal berikut: a. Fungsi Instrumental: penggunaan bahasa untuk mencapai suatu hal yang bersifat materi seperti; makan, minum, dan sebagainya. b. Fungsi Regulatoris: penggunaan bahasa untuk memerintah dan perbaikan tingkah laku. c. Fungsi Interaksional: penggunaan bahasa untuk saling mencurahkan perasaan pemikiran antara seseorang dan orang lain. d. Fungsi Personal: seseorang menggunakan bahasa untuk mencurahkan perasaan dan pikiran. e. Fungsi Heuristik: penggunaan bahasa untuk mencapai mengungkap tabir fenomena dan keiginan untuk mempelajarinya. f. Fungsi Imajinatif: penggunaan bahasa untuk mengungkapkan imajinasi seseorang dan gambaran-gambaran tentang discovery seseorang dan dan tidak sesuai dengan realita (dunia nyata).

g. Fungsi Representasional: penggunaan bahasa untuk menggambarkan pemikiran dan wawasan serta menyampaikannya pada orang lain.1 Kneller mengemukakan 3 fungsi bahasa sebagaimana yang dikutip oleh Jujun dalam Filsafat ilmu, yaitu simbolik, emotif, dan afektif. Fungsi simbolik dan fungsi emotif menonjol dalam komunikasi ilmiah, sedangkan fungsi afektif komunikasi estetik.2 Sedangkan Buhler membedakan fungsi bahasa kedalam bahasa ekspresif, bahasa konatif, dan bahasa representasional. Bahasa ekspresif, yaitu bahasa yang terarah pada diri sendiri yakni si pembicara; bahasa konatif, yaitu bahasa yang terarah pada lawan bicara; dan bahasa representasional, yaitu bahasa yang terarah pada kenyataan lainnya, yaitu apa saja selain si pembicara atau lawan bicara.3 2. Bahasa Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah Untuk dapat berpikir ilmiah, seseorang selayaknya menguasai kriteria maupun langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah. Dengan menguasai hal tersebut tujuan yang akan digapai akan terwujud. Di samping menguasai langkah-langkah tentunya kegiatan ini dibantu oleh sarana berupa bahasa, logika matematika, dan statistika. Berbicara masalah sarana ilmiah, ada hal yang harus diperhatikan, yaitu pertama, sarana ilmiah merupakan ilmu dalam pengertian bahwa ia merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah, seperti menggunakan pola berpikir induktif dan deduktif dalam mendapatkan pengetahuan. Kedua, tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah agar dapat melakukan penelaahan ilmiah secara baik.4

1 Rushdi Ahmad Thaimah, Ta lim aI-Arabiyyah II Ghairi al-Nathiqina Biha Manahijuhuwa asalibuhu (Rabath: Isesco, 1989), hlm 119 2 Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu ...... hlm 175

menonjol dalam

3M.A.K. Halliday dan Ruqaya Hasan, Bahasa Konteks dan Teks, Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Asruddin Barori Tou, (Yogyakarta: Gajah Mada Press, 1994), hlm.21.

4 Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu ...... hlm. 167

Dengan demikian, jika hal tersebut dikaitkan dengan berpikir ilmiah, sarana ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuan berdasarkan metode ilmiah. Sarana berpikir ini juga mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuan. Ini disebabkan sarana ini adalah alat bantu proses metode ilmiah dan bukan merupakan ilmu itu sendiri. 5 Bahasa sebagai alat komunikasi verbal dalam proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif. Dengan kata lain, kegiatan berpikir ilmiah ini sangat berkaitan erat dengan bahasa. Menggunakan bahasa yang baik dalam berpikir belum tentu mendapatkan kesimpulan yang benar apalagi dengan bahasa yang tidak baik dan benar. 3. Bahasa Ilmiah dan Bahasa Agama Telah diutarakan sebelumnya bahwa bahasa ilmiah adalah bahasa yang digunakan dalam kegiatan ilmiah, berbeda dengan bahasa agama. Ada dua pengertian mendasar tentang bahasa agama, pertama, bahasa agama adalah kalam Ilahi yang terabadikan ke dalam kitab suci. Kedua, bahasa agama merupakan ungkapan serta perilaku keagamaan dari seseorang atau sebuah kelompok sosial. Dengan kata lain, bahasa agama dalam konteks kedua ini merupakan wacana keagamaan yang dilakukan oleh umat beragama maupun sarjana ahli agama, meskipun tidak selalu menunjuk serta menggunakan ungkapan-ungkapan kitab suci.6 Walaupun ada perbedaan antara kedua bahasa ini namun keduanya merupakan sarana untuk menyampaikan sesuatu dengan gaya bahasa yang khas.

5 Ibid

6 Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama, (Jakarta: Paramadina, 1996), hlm.75

Bahasa ilmiah dalam tulisan-tulisan ilmiah terutama sejarah, selalu dituntut secara deskriptif sehingga memungkinkan pembaca (orang lain) untuk ikut menafsirkan dan mengembangkan lebih jauh. Sedangkan bahasa agama selain menggunakan gaya deskriptif juga menggunakan gaya preskriptif, yakni struktur makna yang dikandung selalu bersifat imperatif dan persuasif dimana pengarang menghendaki si pembaca mengikuti pesan pengarang sebagaimana terformulasikan dalam teks. Dengan kata lain gaya bahasa ini cenderung memerintah.7 Gaya bahasa yang demikian kurang diperkenankan dalam bahasa ilmiah yang tentu tidak mengembangkan pemikiran dan pengertian para pembaca. B. MATEMATIKA Dalam abad ini seluruh kehidupan manusia sudah mempergunakan matematika, baik matematika sangat sederhana hanya untuk menghitung satu, dua, tiga, maupun yang sampai sangat rumit, misalnya perhitungan antariksa. Demikian pula ilmu-ilmu pengetahuan, semuanya sudah mempergunakan matematika, baik matematika sebagai pengembangan aljabar maupun statistik. Filosofi modern juga tidak akan tepat bila pengetahuan tentang matematika tidak mencukupi. Banyak sekali ilmu-ilmu sosial sudah mempergunakan matematika sebagai sosioetri, psychometri, econometri, dan seterusnya. Hampir dapat dikatakan bahwa fungsi matematika sama luasnya dengan fungsi bahasa yang berhubungan dengan pengetahuan dan ilmu pengetahuan.8 Berhubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan tentu saja tidak lepas dan usaha para ilmuan dalam mengembangkannya, maka dalam hal ini akan dibahas tentang matematika sebagai salah satu sarana kegian ilmiah. Pembahasannya meliputi sarana

7 Ibid, hlm 77

8 Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, (Jakarta: Yayasan Obor, 2001), hlm 229

berpikir ilmiah, matematika sebagai bahasa, matematika sebagai sarana berpikir deduktif, dan matematika untuk ilmu alam dan ilmu sosial. 1. Matematika Sebagai Bahasa Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dan serangkaian pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati.9

Bahasa verbal mempunyai beberapa kurangan. Untuk mengatasi kekurangan yang terdapat pada bahasa verbal, kita berpaling kepada matematika. Matematika mempunyai kelebihan lain dibandingkan dengan bahasa verbal. Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Dalam bahasa verbal, bila kita membandingkan dua objek yang berlainan, umpamanya gajah dan semut maka kita hanya bisa mengatakan gajah lebih besar dan semut. Kalau kita ingin menelusuri lebih lanjut seberapa besar gajah dibandingkan dengan semut maka kita mengalami kesukaran dalam mengemukakan hubungan itu. Kemudian jika sekiranya kita ingin mengetahui secara eksak berapa besar gajah bila dibandingkan dengan semut, dengan bahasa verbal kita tidak dapat mengatakan apa-apa. Sifat kuantitatif dari matematika ini meningkatkan daya prediktif dan kontrol dari ilmu. Ilmu memberikan jawaban yang lebih bersifat eksak yang memungkinkan secara lebih tepat dan cermat. Matematika memungkinkan ilmu mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ke kuatitatif. Perkembangan ini merupakan suatu hal yang imperatif bila kita menghendaki daya prediksi yang lebih tepat dan cermat dan ilmu.10

9Ibid, hlm. 190

10 Ibid, hlm. 193

2. Matematika Sebagai Sarana Berpikir Matematika merupakan ilmu deduktif. Nama ilmu deduktif diperoleh karena penyelesaian tidak didasari atas pengalaman seperti dalam ilmu-ilmu empirik, melainkan deduksideduksi (penjabaran-penjabaran). Bagaimana orang dapat secara tepat mengetahui ciriciri deduksi merupakan satu masalah pokok yang dihadapi oleh filsafat ilmu. Dewasa ini pendirian yang paling banyak dianut orang penalaran yang sesuai dengan hukumhukum serta aturan-aturan logika formal, dalam hal ini orang menganggap tidaklah mungkin titik tolak yang benar menghasilkan kesimpulan yang tidak benar.11 3. Matematika untuk Ilmu Alam dan Ilmu Sosial Matematika merupakan salah satu puncak kegemilangan intelektual, Di samping pengetahuan mengenai matematika itu sendiri, matematika juga memberikan bahasa, proses, dan teori yang memberikan ilmu suatu bentuk dan kekuasaan. Fungsi matematika menjadi sangat penting dalam perkembangan berbagai macam ilmu pengetahuan. Penghitungan matematis misalnya menjadi dasar desain ilmu teknik, metode matematis memberikan inspirasi kepada pemikiran bidang sosial dan ekonomi bahkan pemikiran matematis dapat memberikan warna kepada kegiatan arsitektur dan seni lukis.12 Dalam perkembangan ilmu pengetahuan alam matematika memberikan kontribusi yang cukup besar. Kontribusi matematika dalam perkembangan ilmu alam, lebih ditandai dengan penggunaan lambang-lambang bilangan untuk penghitungan dan pengukuran, di samping hal lain seperti bahasa, metode, dan lainnya. Hal ini sesuai dengan objek ilmu alam yaitu gejala-gejala alam yang dapat diamati dan dilakukan penelaahan yang berulang-ulang. Berbeda dengan ilmu sosial yang memiliki objek

11 Beerling, Pengantar Filsafat Ilmu, (Jakarta: Tiara Wacana, 1998) cet. Ke-2, hlm. 23 12 Tim Dosen Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, (Jogjakarta: Liberty Jogjakarta), hlm 78

penelaahan yang kompleks dan sulit dalam melakukan pengamatan, di samping objekpPenelaahan yang tak berulang maka kontribusi matematika tidak mengutamakan pada lambang-lambang bilangan. Adapun ilmu-ilmu sosial dapat ditandai oleh kenyataan bahwa kebanyakan dan masalah yang dihadapinya tidak mempunyai pengukuran yang mempergunakan bilangan dan pengertian tentang ruang adalah sama sekali tidak relevan. C. LOGIKA Logika adalah sarana untuk berpikir sistematis, valid dan dapat

dipertanggungjawabkan. Karena itu, berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar daripada satu. Berpikir tidak dapat dijalankan semau-maunya. Berpikir membutuhkan jenis-jenis pemikiran yang sesuai. Pikiran tunduk kepada hokum-hukum tertentu. Memang sebagai perlengkapan ontologisme, pikiran kita dapat bekerja secara spontan, alami, dan menyelesaikan fungsinya dengan baik, lebih-lebih dalam hal yang biasa, sederhana, dan jelas. Namun, tidak demikianlah halnya apabila menghadapi bahan yang sulit, berliku-liku dan apabila harus mengadakan pemikiran yang panjang dan sulit sebelum mencapai kesimpulan. Dalam situasi seperti ini dibutuhkan adanya yang formal, pengertian yang sadar akan hukum-hukum pikiran beserta mekanismenya. 1. Aturan dan cara berpikir yang benar Kondisi adalah hal-hal yang harus ada supaya sesuatu dapat terwujud, dapat terlaksana. Untuk berpikir baik, dibutuhkan kondisi-kondisi tertentu:13 yakni berpikir benar, logis-dialektis, juga

13 W. Poespropojo, Logika Scientifika; Pengantar Dialektika dan Ilmu, (Bandung: Pustaka Grafika, 1999), hlm.61

10

a. Mencintai kebenaran Sikap ini sangat fundamental untuk berpikir yang baik, sebab sikap ini senantiasa menggerakkan si pemikir untuk mencari, mengusut, meningkatkan mutu penalarannya; menggerakkan si pemikir untuk senantiasa mewaspadai ruh-ruh yang menyelewengkannya dari yang benar. Misalnya,

menyederhanakan kenyataan, menyempitkan cakrawala/perspektif, berpikir terkotak-kotak. Cinta terhadap kebenaran diwujudkan dalam kerajinan (jauh dari kemalasan, jauh dari takut sulit, dan jauh dari kecerobohan) serta diwujudkan dengan kejujuran, yakni disposisi atau sikap kejiwaan (dan pikiran) yang selalu siap sedia menerima kebenaran meskipun berlawanan dengan prasangka dan keinginan pribadi atau golongannya. b. Ketahuilah (denga sadar) apa yang sedang anda kerjakan Kegiatan yang sedang anda kerjakan adalah kegiatan berpikir. Seluruh aktifitas intelek kita dalah suatu usaha terus menerus mengejar kebenaran yang diselingi dengan diperolehnya pengetahuan tentang kebenaran tetapi bersifat parsial. Untuk mencapai kebenaran, kita harus bergerak melalui berbagai macam langkah dan kegiatan. c. Ketahuilah (dengan sadar) apa yang anda katakana Pikiran diungkapkan ke dalam kecermatan kata-kata. Kecermatan pikiran diungkapkan ke dalam kecermatan kata-kata, karenanya kecermatan ungkapan pikiran ke dalam kata-kata merupakan sesuatu yang tidak boleh ditawar lagi. Anda senantiasa perlu menguasai ungkapan pikiran ke dalam kata tersebut. Waspadalah terhadap term-term ekuivokal (bentuk sama, tetapi arti berbeda), analogis (bentuk sama, arti sebagian sama sebagian berbeda). Ketahuilah pula perbedaan kecil arti (nuansa) dari hal-hal yang anda katakan.
11

d. Buatlah distingsi (pembedaan) dan pembagian (klasifikasi) yang semestinya. Jika ada dua hal yang tidak mempunyai bentuk yang sama, hal itu jelas berbeda. Tetapi banyak kejadian dimana dua hal atau lebih mempunyai bentuk sama, namun tidak identik. Disinilah perlu dibuat suatu distingsi, suatu pembedaan. Karena realitas begitu luas, perlu diadakan pembagian (klasifikasi). e. Cintailah definisi yang tepat Penggunaan bahasa sebagai ungkapan sesuatu kemungkinan tidak ditangkap sebagaimana yang akan diungkapkan atau yang dimaksudkan. Karenanya jangan segan membuat definisi. Definisi artinya pembatasan, yakni membuat jelas batas-batas sesuatu. Hindari uraian-uraian yang tidak jelas artiya. f. Ketahuilah (dengan sadar) mengapa anda menyimpulkan begini atau begitu Anda harus bisa dan biasa melihat asumsi-asumsi, implikasi-implikasi, dan konsekuensi-konsekuensi dari suatu penuturan (assertion), pernyataan atau kesimpulan yang anda buat. Jika bahan yang ada tidak cukup atau kurang cukup untuk menarik kesimpulan, hendaknya orang menahan diri untuk tidak membuat kesimpulan atau membuat pembatasan-pembatasan (membuat reserve) dalam kesimpulan. g. Hindarilah kesalahan-kesalahan dengan segala usaha dan tenaga, sesta sangguplah mengenali jenis, macam, dan nama kesalahan, demikian juga mengenali sebab-sebab kesalahan pemikiran (penalaran) Dalam belajar logika Ilmiah (scientific) anda tidak hanya mau tahu hukumhukum, prinsip-prinsip, bentuk-bentuk pikiran sekadar untuk tahu saja. Anda perlu juga; 1) Dalam praktik, menjadi cakap dan cekatan berpikir sesuai dengan hukum, prinsip, bentuk berpikir yang betul, tanpa mengabaikan dialektika, yakni
12

proses perubahan keadaan. Logika ilmiah melengkapi dan mengantar kita untuk menjadi cakap dan sanggup berpikir kritis, yakni berpikir secara menentukan karena menguasai ketentuan-ketentuan berpikir yang baik 2) Selanjutnya sanggup mengenali jenis-jenis macam-macam, nama-nama, sebab-sebab kesalahan pemikiran, dan sanggup menghindari, juga menjelaskan segala bentuk dan sebab kesalahan dengan semestinya. 2. Klasifikasi Sebuab konsep klasifikasi, seperti panas atau dingin, hanyalah menempatkan objek tertentu dalam sebuah kelas. Pertimbangan yang berdasarkan klasifikasi tentu saja lebih baik daripada tak ada pertimbangan sama sekali. Misal; terdapat tiga puluh lima orang yang melamar pekerjaan yang membutuhkan kemampuan tertentu, dan perusahaan yang akan menerima mempunyai psikolog harus menetapkan cara-cara pelamar dalam memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Ahli psikologi tersebut membuat klasifikasi kasar berdasarkan keterampilan, kemampuan dibidang matematika, stabilitas emotional, dan sebagainya. Ketiga puluh lima orang tersebut dibandingkan dengan pengetahuan yang berdasarkan klasifikasi kuat, lemah dan sedang, kemudian ditempatkan dalam urutan berdasarkan kemampuannya masing-masing. 3. Aturan Definisi Definisi secara etimologi adalah suatu usaha untuk memberi batasan terhadap sesuatu yang dikehendaki seseorang untuk memindahkannya kepada orang lain. Sedangkan pengertian definisi secara terminologi adalah sesuatu yang menguraikan makna lafadz yang menjelaskan karakteristik khusus pada diri individu. Definisi yang baik adalah menyeluruh dan membatasi. Hal ini sejalan dengan kata definisi itu sendiri, yaitu definite (membatasi).
13

D. STATISTIK 1. Pengertian Statistik Pada mulanya, kata statistik diartikan sebagai keterangan-keterangan yang dibutuhkan oleh negara dan berguna bagi negara.14 Secara etimologi, kata statistik berasal dari kata status (bahasa Latin) yang mempunyai persamaan arti kata dengan kata state (bahasa Inggris), yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan negara. Pada mulanya, katastatistic diartikan sebagai kumpulan bahan keterangan (data), baik (data kuantitatif) maupun yang tidak berwujud angka (kualitatif) yang mempunyai arti penting dan keguanaan besar bagi suatu negara. Namun pada perkembangan selanjutnya, arti kata statistik hanya dibatasi pada kumpulan bahan keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif) saja.15 Ditinjau dan segi terminologi, dewasa ini istilah statistik terkandung berbagai macam pengertian.16 a. Istilah statistik kadang diberi pengertian sebagai data statistik, yaitu kumpulan bahan keterangan berupa angka atau bilangan. b. Sebagai kegiatan statistik atau kegiatan perstatistikan atau kegiatan penstatistikan. c. Kadang juga dimaksudkan sebagai metode statistik, yaitu cara-cara tertentu yang perlu ditempuh dalam rangka mengumpulkan, menyusun atau mengatur, menyajikan, menganalisis, dan memberikan interpretasi terhadap sekumpulan bahan keterangan yang berupa angka itu dapat berbicara atau dapat memberikan pengertian makna tertentu.

14 Anto Dajan, Pengantar Metode Statistik, Jilid I, (Pustaka LP3ES Indonesia, 2000), hlm. 2

15 Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996), hlm. 1 16 Ibid

14

d. Istilah statistik dewasa ini juga dapat diberi pengertian sebagai ilmu statistik. Ilmu statistik tidak lain adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari dan memperkembangkan secara ilmiah tahap-tahap yang ada dalam kegiatan statistik. Dengan ungkapan lain, ilmu statistik adalah ilmu pengetahuan yang membahas (mempelajari) dan memperkembangkan prinsip-prinsip, metode dan prosedur yang perlu ditempuh atau dipergunakan dalam rangka: (1) pengumpulan data angka, (2) penyusunan atau pengaturan data angka (3) penyajian atau penggambaran atau pelukisan data angka (4) penganalisisan terhadap data angka, (5) penarikan kesimpulan (conclusion), (6) pembuatan perkiraan (estimation), serta (penyusunan ramalan (prediction) secara ilmiah (dalam hal ini secara matematik) atas dasar pengumpulan data angka tersebut.17 2. Hubungan Antara Sarana Ilmiah Bahasa, Logika, Matematika, dan Statiska Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, agar dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik, diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komuikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain.18 Ditinjau dan pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan induktif. Untuk itu, penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peranan penting

17 Ibid, hlm, 2-4 18 Ibid, hlm. 167

15

dalam berpikir induktif.19 Jadi keempat sarana ilmiah ini saling berhubungan erat satu sama lain. Bahasa merupakan sarana komunikasi, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa, seperti berpikir sistematis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan. Dengan kata lain, tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, maka seseorang tidak dapat melakukan kegiatan ilmiah secara sistematis dan teratur. Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan dan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran, proses berpikir itu harus dilakukan dengan cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap valid kalau proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut, cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, di mana logika dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih. Terdapat bermacam-macam cara penarikan kesimpulan, di antaranya, penarikan kesimpulan dengan cara logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dan kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan umum. Sedangkan logika deduktif membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi khusus yang bersifat individual.20

19 Ibid

20 Ibid., hlm. 46-48

16

KESIMPULAN

A. Kesimpulan 1. Sarana ilmu pengetahuan ada empat yaitu; bahasa, matematika, logika, dan statistik 2. Bahasa mempunyai peranan panting dan suatu, hal yang lazim dalam hidup dan kehidupan manusia. kelaziman tersebut membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan mengangapnya sebagai sualu hal yang biasa. Padahal bahasa mempunyai pengaruh-pengaruh yang luar biasa dan termasuk yang membedakan manusia dari ciptaan lainnya. 3. Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari serangkaian pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. 4. Logika adalah sarana berpikir sistematis, valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir. 5. Statistik, yaitu kumpulan bahan keterangan berupa angka atau bilangan.

17

DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar. Amsal. 2010. Filsafat ilmu. Jakarta: Rajawali Pers Dajan. Anto. 2000. Pengantar Metode Statistika., Jilid I. Pustaka LP3ES Indonesia. Hidayat, Komaruddin. 1996. Memahami Bahasa Agama. Jakarta: Paramadina Pratanto, Pius A. dan Al-Barri, M. Dahlan. 1994. Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola. Poespoprojo. W. 1999. Logika Scientifika; Penganiar Dialektika dan Ilmu, Bandung: Pustaka Grafika Salam, Burhanuddin, 1997. Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT Rineka Cipta Sudijono. Anas. 1996. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada Suriasumantri, Jujun S,l995. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Suriasumantni, Jujun S. 2001. Ilmu Dalam Perspspektif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Suriasumantri, Jujun S. 2002, Filsafat Ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan .

18