Anda di halaman 1dari 32

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Kita ketahui bersama bahwa pertambahan penduduk di negara kita sangat pesat. Antara tahun 1930 1980 pertambahannya mencapai 103,16 juta jiwa. Dan diperkirakan pada tahun 2001 di negara kita akan mencapai 210 juta jiwa. Pertambahan penduduk yang demikian pesat tidak dapat diimbangi oleh luas daratan Indonesia (1.919.473 Km2) yang tidak mungkin bertambah lagi. Berdasarkan faktor-faktor inilah diupayakan agar pembangunan sarana penunjang kehidupan seperti ; pemukiman, perkantoran, pertokoan, dan lain-lain dibuat menunjang keatas (bertinkat). Untuk menunjang kelancaran aktivitas didalam bangunan bertingkat tersebut, dibuat sarana transfortasi yang dapat memindahkan orang atau barang dari lantai satu kelantau yang lainnya dengan cepat, aman dan nyaman yang dikenal dengan lift (elevator). Di samping itu untuk menghadapi era tinggal landas dibidang IPTEK perlu diupayakan agar pembuatan elevator dapat dilaksanakan serperlunya di Indonesia, oleh bangsa Indonesia yang selama ini kita hanya menangani masalah perakitannya. Dan pada akhirnya nanti ditahun-tahun yang akan datang produk elevator dapat kita produksi sendiri dan tidak perlu mengimpornya dari luar. I.2. Sekilas Tentang Elevator Secara garis besar, elevator dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : 1. Elevator penumpang.

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

2. Elevator barang. Kedua elevator ini dapat dioperasikan denga menggunakan tali ataupun hidrolik sesuai dengan kebutuhannya. Pada umumnya elevator hidrolik digunakan untuk transfortasi barangbarang berat atau penumpang dengan jarak yang pendek. I.3. Tujuan Adapun tujuan dari perencanaan ini adalah: 1. Mahasiswa dapat mempelajari teknik perencanaan dalam mendesain elevator yang meliputi perencanaan kabin, bobot imbang, tali baja, motor penggerak, alat pengaman dan elemen lainnya. 2. Mempelajari rancang bangun kontruksi desain, khususnya kontruksi mesin pengangkat.

I.4.

Pembatasan Masalah. Karena dalam perancangan elevator begitu banyak yang

harus dibahas, maka penulis mengambil batasan yaitu lebih menitik beratkan keperluan gedung perkantoran berlantai 10 tingkat dengan kapasitas kabin 15 orang serta bobot imbang 1 ton.

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

BAB II TEORI II.1. Instalasi Elevator Electric, Peralatan dan bagian-bagian utama dalam sebuah instalasi elevator terdiri dari kabin, tali, mesin elevator, bobot imbang, peralatan kontrol, lorongan, rel penuntun, kamar untuk mesin (motor), dan ruang bawah untuk buffer (penyangga). Susunan dari komponen-komponen ini ditunjukan oleh gambar 2.1. Untuk instalasi khusus akan ada sedikit perubahn sesuai dengan kegunaannya. Perlengkapan keselamatan dan kenyamanan pada kabin adalah hal yang paling penting terutama untuk elevator penumpang,

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

Gambar 2.1. Instalasi Elevator II.1.1. Kabin Pada dasarnya kabin adalah sebuah sangkar yang terbuat dari logam ringan yang diperkuat oleh susunan tingkat atau kerangka, yang pada puncaknya terdapat beam-beam untuk pengikatan tali baja. Pada sisi kanan dan kiri kabin terdapat sepatu-sepatu rel (rail shoes) salah satunya yang dapat menjamin kestabilan dan kelurusan jalannya kabin. Adapun kabin untuk elevator peumpang dapat mempunyai bobot kirakira sebagai berikut : Kapasitas penumpang : Bobot kabin (Kg) sebagai berikut: G = 300 + 100 . F untuk Q = 500 Kg G = 300 + 125 . F untuk Q = 1000 Kg G = 300 + 150 . F untuk Q = 1000 Kg Dengan F = luas lantai kabin (m2) Q = kapasitas penumpang (kg) Kabin untuk elevator penumpang didesain dengan interior yang menyenangkan, dengan langit-langit, lantai tempat berpijak, penerngan, ventilasi, tempat pegangan tangan dan pintu. Biasanya ruangan seluas 0,3 - 0,5 m2 tiap personal dipakai sebagai dasar untuk merencanakan kapasitas mesin dan tinggi kabin, tidak boleh kurang dari 2,2 m ini dirancang untuk jangka panjang, kecepatan operasi dan perawatan yang mudah. Perencanaan ruang kabinuntuk penumpang harur cukup memadai karena untuk mengangkut seorang penumpang beserta barang bawaannya sehingga tidak berdesakan dan agar : 2 250 3 275 4 300 5 350 6 400

Bobot sangkar elevator dapat ditentukan dengan persamaan

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

setiap penumpang dapat keluar dari pintu dengan mudah dan leluasa. Rata-rata seorang penumpang membutuhkan kira-kira 0,4 m2 dari luas lantai lift agar merasa nyaman dan leluasa. Direncanakan kedudukan penumpang adalah seperti gambar 2.2.

Gambar 2.2. Kabin A. Panggilan dari dalam kabin. Adalah perintah panggilan yang terdapat didalam kabin yang pada umumnya berupa tombol-tombol tekan yang menunjukan jumlah lantai gedung, dan petunjuk naik-turunnya berupa anak panah. B. Panggilan dari luar kabin. Adalah perintah yang penempatannya diluar kabin, biasanya terletak pada sebelah samping pintu lift disetiap lantai gedung. panggilan dari luar kabin untuk calon penumpang yang berada diluar kabin, biasanya berupa tombol-tombol tekan dengan anak panah yang mengarah keatas dan kebawah.

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

II.1.2. Perencanaan Pintu Elevator. Pemilihan pintu pada kabin dan lorongan mempunyai pengaruh pada kecepatan kualitas pada pelayannan elevator. Perencanaan pintu yang efisien adalah dapat membuka dan menutup pada waktu yang singkat. Pintu-pintu untuk elevator penumpang yang modern dioperasikan diselaraskan dengan dereling kontrol. Jadi pintu akan terbuka sepenuhnya saat kabin benar- benar berhenti pada lantai tertentu. Waktu untuk membuka-menutup bervariasi dengan bentuk pintu dan ukuran pintu saat terbuka penuh. Untuk alasan keselamatan, energi kinetik dari suatu pintu otomatis dibatasi dengan kode keselamatan, standart AS untuk elevator sampai 7ft.lb. Untuk mendapatkan waktu membuka dan menutup yang singkat dan memungkinkan untuk 2 orang masuk/keluar pada waktu yang bersamaan, dalam hal ini digunakan pintu yang membuka dari tengah dengan kebebasan buka 1,2 m (lihat gambar 2.3).

Gambar 2.3. Pintu lift

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

Pendeteksian

penumpang

pada

ambang

pintu

dapat

dilakukan secara elektrik lewat beam-beam yang melintangi lorong pintu pada tiap lantai. Jadi dengan adanya gangguan pada beam-beam ini akan menyebabkan pintu terbuka. II.1.3. Bobot Imbang Bobot imbang terdiri dari suatu kerangka dimana pembuat diletakan untuk mengimbangi bobot mati kabin ditambah 40% dari bobot hidupnya. Penggunaan bobot imbang ini dimaksudkan untuk mengimbangi beban yang terjadi pada kabin sehingga daya

yang diperlukan untuk menggerakan elevator lebih rendah baik pada waktu kosong maupun pada waktu dibebani (gambar 2.4)

Gambar 2.4. Bobot imbang Bobot imbang terdiri dari balok- balok besi tuang yang disusun secar teratur dalam bingkainya pada bagiam atas bingkai pada diikatkan saat mulai tali yang dihubungkan elevator, kekabin. percepatan Pada dan kenyataannya kebutuhan energi/daya yang besar hanya terjadi bergeraknya

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

perlambatan. Bobot imbang bergerak naik-turun sepanjang lorong dengan dituntun oleh kedua rel penuntun yang terdapt pada dinding lorongan (hoist way). II.1.4. Tali Pengangkat Tali pengangkat digunakan untuk mengangkat dan menurunkan kabin, pada umunnya jumlah tali yang digunakan untuk elevator antara 4-8 tali yang dipasang secara paralel, sehingga beban kabin dapat didistribusi secara merata pada tali. Tali- tali yang digunakan unutk elevator adalah jenis tali berlawanan karena sifatnya mudah digulung dan netral. Adapun tali-tali ini terbuat dari kumpulan kawat-kawat yang dirancang khusus untuk kegunaan ini dan biasanya tredapat inti ditengah-tengahnya yang terbuat dari rami yang mendukung untaian-untaian kawat (gambar 2.5)

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

Gambar 2.5. Kontruksi kawat baja. Faktor keamanan minimum berkisar antara 7,6 - 15 untuk elevator penumpang dan 6,6 - 11 untuk barang. Pemeriksaan pada tali harus sering dilakukan, tali baja harus sering dilumasi untuk mengurangi gesekan yang terjadi dan menjamin kehandalan operasi. II.1.5. Drum Penggerak dan Drum Pendukung. Drum penggerak dan pendukung biasanya dibuat dari besi cor kelabu. Drum ini berbentuk silindris dan terdapat alur-alur berbentuk V untuk memudahkan peletakan tali. Drum utama (penggerak) berfungsi untuk menarik tali yang menghubungkan kabin dengan bobot imbang pada ssat naik maupun turun. Sedangkan drum pendukung berfungsi sebagai penggerak tali untuk kabin dan bobot imbang sehingga didapatkan posisi yang baik. II.1.6. Mesin Pengangkat Elevator. Mesin-mesin penarik yang digunak dalam instalasi elevator dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu: 1. Mesin penarik tanpa roda gigi. Mesin penarik ini terdiri dari sebuah motor listrik DC yang poros keluarannya dihubungkan langsung pada drum penggerak karena tidak menggunakan transmisi roda gigi, maka putaran poros dan keluaran adalah sama dengan putaran drum penggerak. Tipe mesin ini kurang praktis digunakan untuk beroperasi pada putaran yang rendah. Tipe mesin ini banyak

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

digunakan

untuk

elevator

penumpang

untuk

kecepatan

menengah dan tinggi, yaitu sekitar 1,78 - m/s, dengan tenaga sekitar 20 - 375 Hp. Untuk kecepatan dibawah ini digunakan mesin penarik dengan roda gigi. Mesin penarik tanpa roda gigi, karena bagian-bagian bergeraknya yang lebih sedikit, efesien, tenaga dan kebutuhannya lebih kecil, serta umurnya lebih panjang. Sehingga cocok sekali untuk gedung perkantoran dan rumah-rumah apartment. Untuk mendapatkan kecepatan yang tinggi dan aman, kualitas kehalusan operasi yang tinggi, maka penulis memilih mesin penarik tanpa roda gigi (lihat gambar 2.6)

Gambar 2.6. Mesin penarik tanpa roda gigi.

2.

Mesin penarik dengan roda gigi. Tipe mesin ini menggunakan transmisi dengan sepasang

transmisi roda gigi cacing yang terletak diantara motor penarik dan pully (drum) penarik. Fungsi transmisi roda gigi cacing ini adalah memperendah putan motor. Kecepatan putarannya antara 600 - 800 rpm tergantung pada kecepatan elevator dan

10

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

perbandingan roda giginya (gambar 2.7). Mesin penggeraknya sendiri bisa berupa motor AC/DC, lain halnya dengan mesin penarik tanpa roda gigi yang selalu menggunakan motor DC.

Gambar 2.7. Mesin penarik dengan roda gigi. II.1.7. Penerangan, Sinyal, Ventilasi dan Intercom. Bagian interior pada lift biasanya diberikan penerangan yang baik, dan lampu tersebut dipasang sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipadamkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sinyal digunakan untuk memberikan petinjuk pada penumpang yang berada didalam kabin tentang keadaan lift apakah sedang naik atau turun, untuk sirkulasi udara didalam kabin dipasang ventilasi yang dilengkapi dengan kipas angin dan juga peralatan intercom. II.1.8. Rel Penuntun Rel penuntun merupakan jalur vertikal yang berfungsi untuk menuntun gerakan kabin dan bobot imbang sepanjang

11

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

lorong luncur. Rel-rel ini biasanya trebuat dari baja konstruksi berat (gambar 2.8).

Gambar 2.8. Rel penuntun. II.1.9. Perlengkapan Keselamatan dan Peralatan Kontrol. Perlengkapan keselamatan dirancang untuk menjamin kehandalan dalam pengoperasian elevator. Adapun unit-unit dari perlengkapan keselamatan ini adalah berupa; rem, buffer (penyangga), governor, dan saklar pembatas (electrical final). Dan alat-alat kontrol merupakan kombinasi dari tomboltombol tekan. Kontak-kontak dan peralqatan lainnya yang mana dapat dioperasikan secara manual maupun otomatis untuk untuk mengaktifkan pintu, penoperasian, percepatan/perlambatan, dan penghentian otomatis kabin. saklar-saklar kabin, pembantu dapat secara menghentikan sehingga dapat mencegah

benturan kabin pada puncak atau dasar lorong luncur. Petunjuk lantai, panel-panel kabin, tombol pemanggil untuk setiap lantai,

12

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

lampu indikator naik-turun adalah bagian-bagian dari peralatan kontrol elevator.

BAB III PERHITUNGAN Direncanakan sebuah elevator penumpang untuk gedung perkantoran dengan data-data sebagai berikut :

Kapasitas angkut Berat penumpang N/org Luas area per orang Kecepatan angkat Jumlah lantai

: 15 orang : 75 Kg/org=750 : 0,23 m2 : 3 m/det : 10 tingkat

Percepatan atau perlambatan max : 2,54 m/det Diameter pulley dari mesin tarik : 900 mm

III.1. Perhitungan Kapasitas dan Dimensi Kabin. 1. Luas lantai kabin. F = 15 x 0,23 m2 = 3,45 m2 = 3,5 m2 2. Bobot penumpang dalam kabin.

13

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

Q = 15 x 75 Kg = 1125 Kg = 11250 N 3. Bobot mati kabin. Gk = 300 + 150 x F = 300 + 150 x 3,5 = 825 Kg 4. Tinggi kabin. tk = 2200 mm 5. Panjang kabin. pk = 2000 mm 6. Lebar kabin. lk = 1750 mm 7. Lebar pintu. lp = 1200 mm III.2. Perencanaan Tinggi Pemakaian Lift. Direncanakan : Jumlah lantai gedung Tinggi tiap lantai Tebal lantai Jarak puncak Jarak pondasi Tempat mesin Tinggi pemakaian lift : 10 lantai : 3500 mm : 500 mm : 2500 mm : 500 mm : 2000 mm :

h = (3,5 m x 10) + (0,5 m x 10) = 40 m Tinggi sebuah gedung : H = (3500 mm x 10) + (500 mm x 10) +

(500+2500+2000)

14

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

= 45.000 mm = 45 m. III.3. Perhitungan Bobot Imbang (Counter Weight) Beban pengimbang direncanakan terbuat dari FC 35 JIS 5501 dengan berat jenis 7000 Kg/m2.(fer.6). Berat bobot imbang dimisalkan dengan berat kabin ditambah 0,4 - 0,5 dari bobot hidup maksimum kabin. 1. Berat bobot imbang. Gcw = Gk + 0,4 x Qmaks = 825 + 0,4 x 1125 = 1275 Kg 2. Volume bobot imbang. Vcw = Gcw/berat jenis = 1275 Kg / 7000 Kg/m2 = 1,82 x 108 mm3 Direncanakan :

Panjang bobot imbang Lebar bobot imbang Tinggi bobot imbang

lcw = 800 mm bcw = 250 mm tcw = Vcw /(lcw x bcw) = 1,82x108 mm3 (800x250)m m

Pada perencanaan ini dibuat lempengan bobot imbang sebanyak 10 keping, maka tinggi dan berat masing-masing lempengan adalah 91 mm dan 127,5 Kg. Untuk mempermudah pemasangan pada bingkainya, kedua ujung dari lempengan dibuat alur (lihat gambar 3.1).

15

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

Gambar 3.1. Dimensi susunan lempengan bobot imbang.

III.4. Perencanaan Tali Pengangkat. Dalam merencanakan tali pengangkat, kita harus merencanakan kekuatan tarikan maksimum dan minimum yang bekerja pada tali. Ada 4 kasus yang dapat dipertimbangkan dalam perencanaan tali baja untuk elevator. 1. Saat kabin kosong naik dan bobot imbang turun kebawah, kekuatan tadi pada bobot imbang. Scw = (Gk + 0,5Q)(g a) g

pada sisi kabin : sk = Gk (g + a) g

2. Saat kabin kosong turun dan bobot imbang naik, kekuatan tarik pada sisi bobot imbang : Scw = (Gk + 0,5Q)(g+ a) g

pada sisi kabin :

16

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

sk =

Gk (g a) g

3. Saat kabin berbeban turun dan bobot imbang naik keatas, pada sisi bobot imbang ; Scw = (Gk + 0,5Q)(g+ a) g

pada sisi lain: sk = (Gk + a)(g a) g

4. Saat kabin berbeban naik, bobot imbang turun, kekuatan tarik pada sisi bobot imbang : Scw = (Gk + 0,5Q)(g a) g

pada sisi lain : sk = (Gk + Q)(g+ a) g

Dari ke-4 kasus diatas, maka dapat diambil kasus ke-4 untuk menentukan kekeuatan tarik maksimum (S1) dan kekuatan tarik minimum (S2) secara berturut-turut : S1 = 1 (Gk + Q)(g+ a) (825+ 1125).(9,8 + 2,54) = 9,81 g

S1 = 2460 Kg = 24.600 N (Gk + 0,5Q)(g a) (825+ 0,5.1125).(9,81 2,54) = 9,81 g

S2 =

S2 = 1032 Kg = 10.320 N Beban total pada pulley: Gaya resultante pada pulley:

17

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

R = (S12 + S22 -2 x S1 x S2 cos a)0,5 Dimana : a = sudut kontak antara tali dan pulley yang direncanakan sebesar 1400 . Maka : R = (24602 + 10322 -2 x 2460 x 1032 cos 1400)0,5 R = (7116624 + 3999544,697)0,5 R = 3317,55 Kg R = 3318 Kg = 33.180 N Berat tali beserta alat-alat pengangkatnya diperkirakan secara kasar, Gtali = 500 Kg Stot = R + Gtali = 3318 Kg + 500 Kg = 3818 Kg = 38.180 N beban yang dipikul setiap tali : S = Stot nxh1xh

dimana; n = jumlah tali yang digunakan n=4 h1 = koefesien tali saat melewati pulley = 0,98.. (ref.2 hal.35) h = effisiensi pulley = 0,971.(ref.2 tabel.8) maka; S= 3818 = 1003Kg = 10.030N 4x0,98x0,971

18

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

Gambar 3.2. Gaya tali pengangkat. Beban patah (break) maksimum yang diizinkan: Smaxs = S x k Dimana : k = 15 (faktor keamanan tali untuk lift) Sehingga ; Smaxs = 1003 Kg x 15 = 15.045 Kg = 150.450 N

Diameter tali: Dengan menggunakan tabel 29.4 dipilih tali baja tipe 6 x 19 = 114 +1 core (inti), dengan tegangan tarik maks. Kawat = 75 sampai 190 Kg/mm2, maka: 5900.d = 15045 Kg d = 1,59 cm dipilih diameter tali = f 18mm yang ada pada tabel 29.4. Penampang efektif tali: A = 0,38 x d2 = 0,38 x (1,8)2 = 1,23 cm2 Diameter kawat : dw = 0,063 x d = 0,063 x 1,3

19

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

= 0,1134 cm = 1,2 mm Berat tali per meter: Gtali = 0,36 x d2 = 0.36 x (1,8)2 = 1,23 Kg Untuk perencanaan tali ini dipilih baja tipe 6 x 19 = 114 + 1 core (inti) yang terbuat dari bahan kelas ST-180 dengan tegangan tarik kawat 1800-2100 N/mm2.(ref.3 tabel 29.1). Pemerksaan kekuatan tali: Dari tabel 29.4 untuk tali tipe 6 x 19, diameter tali 18 mm dengan tegangan tarik maksimum kawat 1800-2100 N/mm2 diperoleh kekuatan tarik rata-rata (Srata-rata) = 5900 x d = 19.116 N/mm2 kekuatan tarik izin (Sizin) = = Srata- rata k 19116 15

= 12744 N/mm2 Sehingga : Srata-rata > Smaks Sizin > S tersebut aman. III.5. Perencanaan Pullley Penggerak. Direncanakan pulley terbuat dari besi cor kelabu dengan alur berbentuk V- 42. Konstruksi pulley terdapat 6 buah lengan (jarijari) yang berfungsi sebagai pendukung. 1. Diameter pulley. Pada umumnya diameter pulley ditentukan berdasarkan diameter tali : D = 50 x f tali dapat dinyatakan bahwa keadaan

20

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

D = 50 x 18 mm D = 900 mm 2. Torsi yang ditransmisikan oleh pulley. T = (S1 - S2) x R, dimana R = jari-jari pulley. T = (2460 - 1032) x 45 T = 64260 kg.cm = 646200 kg.mm T = 6.426.000 Nmm. 3. Gaya tekan pada lengan pendukung. Tekanan yang terjadi pada masing-masing lengan pendukung saat posisi lengan vertikal. P = 3818 kg. Dengan mengasumsikan bahwa tiap-tiap lengan mendapatkan bagian torsi yang sama besar, maka moment bending maksimum pada lengan : 6.426.000 6

Mb rata-rata

= 10710 kg.cm = 10710 Ncm. 4. Penampang lintang lengan pulley Direncankan penampang lintan lengan pada pusat pulley seperti yang terlihat pada gambar 3.3.

21

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

Gambar 3.3. Lengan pulley Keterangan : D = 7.5 cm b = 1,2 cm d = 1,2 cm B + d = 8,8 cm B = 7,6 cm 5. Luas penampang lintang lengan : A = (7,5 x 1,2) + (7,6 x 1,2) = 18,12 cm 5. Modulus penampang : Z= Z= B.d + b.D 6.D (7,6 x 1,2) + (1,2 x 7,5) 6 x 7,5 = 11,542 cm2

6.

Tegangan bending : Sb =

Mbmax (ref .7)


Z

8828 Sb = = 756Kg/cm2 = 7650 N/cm2 11,542 7. Tegangan tetap pada tiap lengan: Sp = P 3818 = = 318 Kg/cm2 18,12 A

Sp = 2180 N/cm2 8. Tegangantotal pada lengan pulley: Stot = Sb + Sp = (765 + 218)Kg/cm2 = 983 Kg/cm2 = 9830 N/cm2 9. Diameter bosh (selongsong):

22

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

Diameter

bosh

dimana

lengan-lengan

pulley

bertumpu

diasumsikan sebesar DBi =220 mm, sedikit meruncing keluar (tirus) sampai DBo = 210 mm. Agar lebih mudah saat mengeluarkannya dari cetakan. 10. 11. Panjang bosh (selongsong): Kedalaman alur pulley: alur pulley berdasarkan h = 45 mm. diameter pulley. Direncanakan panjang bosh sebesar, Lbosh = 300 mm Kedalaman

Direncanakan kedalaman alur: h = 2,5 x d = 2,5 x 1,8 mm

III.6. Perencanaan Poros Penggerak. Pada umumnya poros bisa menerima beban puntir dan beben lengkung. Dalam perencanaan ini dipilih dari poros baja paduan SCNM 25 dengan kekuatan tarik: Sb = 120 Kg/mm2 = 1200 N/mm2 1. Torsi pada poros: T = (S1 - S2)x RR = 45 cm (jari-jari pulley) T = (2313 - 1136)x 45 cm = 52.965 Kgcm = 529.650 Ncm. 2. Momen bending pada poros: Dengan mengasumsikan bahwa poros merupakan sebuah beam bebas yang pada kedua ujungnya didukung dengan bantalan dengan jarak l, dan ditengah-tengahnya diberikan beban sebesar q yang merupakan berat pulleynya sendiri, maka: M= qxl ..(ref.7) 4 l = 50 cm = 500 mm

diasumsikan q = 3878 N

23

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

M=

3878x0,5 = 484,75Nm 4 5,1 [(Km x M)2 + (Kt x T)2]0.5..(ref.6,hal:18) d3 s

3. Tegangan geser maksimum pada poros : tmaks =

dimana : Km = faktor kereksi lenturan ta = tegagan yang diijinkan Sf1 = faktor keamanan Sf2 = faktor keamanan tambahan Sb = kekuatan tarik bahan poros 4. Tegangan yang diizinkan..(ref.6, hal :16) ta = Sb 120Kg/mm 2 = Sf1xSf2 2x6 = 10 Kg/mm2 = 100 Kg/mm2 5. Diameter poros. 5,1 ds = { x [(Km x M)2 + (Kt x T)2]0.5}1/3.(ref.6,hal:18) ta 5,1 ds = { x [(1,5 x 48975)2 + (1,5 x 52965)2]0.5}1/3 100 ds = 8,2 cm ds = 82 mm. III.7. Pemeriksaan kekuatan pada poros. Diasumsikan konsentrasi tegangan pada alur pasak adalah lebih besar dari pada konsentrasi diporos dan dari tabel 1.8 didapatkan ukuran alur pasak sebagai berikut: 24 x 8 x jari-jari filet 0,6 ; ds = 110mm. r 0,6 = = 0.006 ds 110

24

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

dari tabel 1.1 didapatkan; a = 3,5 Tegangan geser yang terjadi pada poros: 5,1 t={ x (1,5 x 476125)2 + (1,5 x 642150)2]0.5 110 t = 4,595 Kg/mm2 = 45,95 N/mm2 t x a = 4,595 x 3,5 = 16 Kg/mm2 = 16x108 N/m2 maka : ta x Sf1 > t x a .cukup aman (ref.6, hal :22) Jadi dipilih poros baja Nikel Chrom Molibednum (SCNM 25), dengan perlakuan panas pengerasan kulit, dengan diameter d = 110mm = 0,11 m. III.8. Perencanaan Pasak. 1. Monen torsi pada poros: T = 642150 Kgmm = 6421.5 Nm 2. Gaya tangensial pada poros: F= T 2x6421,5 = = 116.754N ds 0,11

3. Dimensi pasak: -

Panjang pasak = 28 x 16 Kedalaman alur pada poros, t1=10 Kedalaman alur pada pasak, t2 = 6,4 kekuatan tarik, Sb = 72 Kg/mm2 =

Direncanakan pasak dibuat dari baja konstruksi mesin S 55 C-D dengan 720 N/mm2. 4. Tegangan geser yang diizinkan:

25

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

Ska =

Sb 72 = = 6Kg/mm 2 = 6.107 N/m 2 Sf1xSf2 2x6

dimana : Sf1 dan Sf2 adalah faktor keamanan. 5. Panjang pasak berdasarkan tegangan geser: Sk = F 11675,45 Ska = lxb lx28 11675,45 lx28

6 Kg/mm2 = l = 69 mm

6. Panjang pasak: P = F / l.(t1 atau t2) Tekanan pada permukaan yang diizinkan untuk poros berdiameter besar: Pa = 108 N/m2 P= 11675,45 < Pa lx(6,4) l =182,428 mm

Dipilih panjang pasak , lk = 160 mm. Perbandinga lebar pasak dan diameter poros: b 28 = = 0.2545 ds 110 0,25<0,2545<0,35..baik/aman. Perbandingan panjang pasak dan diameter poros; lk 160 = = 1,45 ds 110 0,75<1,45<1,5..baik/aman. Jadi pasak tersebut terbuat dari baja kuntruksi mesin S55CD dengan dimensi pasak sebagai berikut : b = 28mm, h =16mm, lk =160 mm III.9. Perencanaan Motor Listrik.

26

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

Sesuai dengan tipe elevator yang dipilih yaitu, Gearless traction machine, maka putaran output motor adalah sama denganpulley penggerak (driver pulley).
-

Kecepatan angkat, Va = 3m/s Kecepatan tali pada pulley, Vf= 2 x Va = 6 m/s.

putaran motor listrik: n= 60x1000x6 = 127,323 px900

n =128 rpm. 1. Daya motor listrik


-

Beban total kabin S1 = 24550 N Beban total pada bobot imbang S2 = 10.280 N Beban yang harus dipikul oleh motor : P = (24550 - 10280) = 14270 N

Diasumsikan efesiensi total h = 0,85. pxv a 14.270x3 = hx75 0,85x75

Maka daya motor : Pm =

Pm = 67,152 hp = 50 Kw Dipilih motor listrik DC dengan daya Pm = 52 Kw dan putaran motor = 130 rpm. III.10. Perencanaan Bantalan. Dari SKF General Catalogue dipilih bantalan tipe 3221 dengan data-dat sebagai berikut : - Diameter luar bantalan, - Diameter dalam bantalan, - Tebal bantalan, D = 190 mm d = 105 mm t = 55 mm

27

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

- Beban dinamis, - Beban statis, - Faktor kalkulasi dinamis, - Beban radial pada poros, - Beban aksial pada poros, Fa/Ft >e atau Fa/Ft Maka: Fa 0 F = = 0; a e Ft Ft Ft

C = 314835 N Co = 296715 N e = 0,43 Fr = Stot = 3809 Kg =38090 N Fa = 0

perbandingan beban aksial dan radial:

dari SKF General Catalogue didapatkan : X=1 ; Y=0 Beban dinamis ekivalen P=(X.Ft) + (Y.Fa) = (1 x 3809) + 0 = 3809 Kg = 38090 N. Faktor kecepatan bantalan: 33,3 3/10 fn = ( ) ..(ref.6, hal:136) n 33,3 3/10 fn = ( ) = 0,668 128 Faktor umur bantalan: C f h = f n ( ) .(ref.6, hal: 136) P 31483,5 f h = 0,668x( ) = 5,521 3809

Umur nominal bantalan:

28

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

Lh = 500 x ( fh )10/3..(ref.6 hal:136) Lh = 500 x ( 5,521)10/3 Lh = 146717,64 jam Lh>15.000 jam kerja: perencanaan cukup baik/aman.

BAB IV KESIMPULAN Dari teori dan perhitungan yang telah dilakukan, diambil suatu kesimpulan bahwa pemilihan elevator gedung harus disesuaikan dengan kondisi dan tempat pemasangan, kapasitas,

29

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

daya angkut, ketinggian tempat dan begitu pula dengan pemilihan bentuk elevatornya. Adapun hasil yang diperoleh dari perhitungan adalah: 1. Dimensi kabin : Tinggi kabin = 2200 mm Panjang kabin = 2000 mm Lebar kabin = 1750 mm Lebar pintu = 1200 mm Jumlah lantai gedung = 10 lantai Tinggi tiap lantai = 3500 mm Tebal lantai = 500 mm Jarak puncak = 2500 mm Jarak pondasi = 500 mm Tempat mesin = 2000 mm Tinggi seluruh gedung = 45000 mm

2. Pemakaian lift:

3. Counter weight: Panjang bobot imbang = 800 mm Lebar bobot imbang = 250 mm Tinggi bobot imbang = 910 mm Bobot imbang terdiri dari 10 keping lempengan. Jumlah tali baja = 4 Diameter = 18 mm Diameter pulley = 900 mm Poros pulley penggerak = 82 mm Lebar lengan pulley = 120 mm Pasak untuk poros pulley penggerak :

4. Tali baja kawat:

5. Pulley penggerak:

30

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

b = 28 mm; h = 16 mm; t1 =10 mm; t2 =6 mm Bantalan untuk pulley penggerak: a. Diameter dalam D = 105 mm b. Diameter luar d = 190 mm c. Tebal t = 53 mm Akhirnya penulis dapat mengambil pelajaran dari, perencanaan kontruksi elevator ini,

DAFTAR PUSTAKA 1. Guinnes, Mechanical and E;ectrical Equipment for Buildings, John Wiley and Suns, Canada, 1981. 2. Khurmi R.S, Machine Design, EPH Ltd, New Delhi< 1982. 3. Nieman G, Elemen Mesin, Jakarta, 1985. 4. Pandjaitan M, Diktat Kuliah Kontruksi Mesin, ITI, 1989. 5. Rudenko N, Material Handling Equipment, Peace Publisher, Moscow, 1988. 6. Sularso, Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin, cetakan ke-4, PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1983. 7. Trikha, Machine Design Exercise 4.1.

31

Tugas Perencanaan Konstruksi Mesin 1

32