Anda di halaman 1dari 4

A. Tinjauan Umum 1. Realisme Hukum Aliran ini tidak mempercayai definisi dan sangat skeptis terhadap penggunaan bahasa.

Tidak membutuhkan kata-kata, melainkan fakta. Bukan pengertian dan konsep-konsep teoritis yang diperlukan melainkan fakta empiris. Bukan pernyataan normative, prinsip atau aturan yang diperlukan, melainkan sikap tindak. Dalam pandangan aliran ini, hukum tidak statis dan selalu bergerak secara terus menerus sesuai dengan perkembangan zamannya dan dinamika masyarakat. Tujuan dari hukum selalu dikaitkan dengan tujuan masyarakat tempat hukum itu diberlakukan1. Karl .N. Llewellyn mengemukakan ciri-ciri aliran ini yaitu2: 1. Tidak ada mazhab realis; realisme adalah gerakan dalam pemikiran dan kerja tentang hukum. 2. Realisme adalah konsepsi hukum yang terus berubah dan alat untuk mencapai tujuan-tujuan sosial, sehingga tiap bagian harus diuji tujuan dan akibatnya. Realisme mengandung konsepsi tentang masyarakat yang beruubah lebih cepat daripada hukum. 3. Realisme menganggap adanya pemisahan sementara antara hukum yang ada dan yang seharusnya ada, untuk tujuan-tujuan studi. 4. Realisme tidak percaya pada ketetuan-ketentuan dan konsepsi-konsepsi hukum, sepanjang ketentuan-ketentuan dan konsepsi hukum menggambarkan apa yang sebenarnya dilakukan oleh pengadilan dan fungsionarisnya. 5. Realisme menekankan pada evolusi tiap bagian dari hukum dengan mengingat akibatnya. Huijbers3 menulis, Pragmatisme ini memang merupakan suatu sistem filsafat akan tetapi lebihlebih kepada suatu sikap. Sikap pragmatis ini cukup umum di Amerika dan dianggap sebagai realistis. Oleh karena itu, mazhab hukum yang muncul di Amerika berdasarkan prinsip-prinsip yang disebut tadi diberi nama Mazhab
1

Muhammad Erwin, Filsafat Hukum Refleksi Kritis Terhadap Hukum, (Jakarta: PT. Rajawali Press, 2011), hlm. 200-201 2 Friedmann, Teori dan Filsafat Hukum, Telaah Kritis Atas Teori-Teori Hukum (Susunan I), (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 191. 3 Huijbers, Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah, Cetakan ke-5. (Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm. 175

Realisme Hukum. Juga di Skandinavia munculah suatu mazhab realisme hukum, tetapi mazhab ini mencari kebenaran suatu pengertian dalam situasi tertentu dengan menggunakan ilmu psikologi. Realisme berpendapat bahwa tidak ada hukum yang mengatur suatu perkara sampai ada putusan hakim terhadap perkara itu. Apa yang dianggap sebagai hukum dalam buku-buku (law in the books), hanya sekedar taksiran tentang bagaimana hakim akan memutuskan4. Realisme sebagai suatu gerakan dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu Realisme Amerika dan Realisme Skandinavia. J.W. Haris5 menerangkan perbedaan antara Realisme Amerika dan Realisme Skandinavia dengan kalimat sederhana: If we are unhappy with the idea that rules are abstract entities, alleged to exist as part of some legal system, one way of anchoring the law in reality is to equate it with the behaviour of officials. that is the approach of extreme American Realism. Another way is to identify the law with psychological occurences the sensations produced in peoples minds as the result of legal words. The latter is the course taken by a school commonly called Scandinavian realists.

Friedmann6 menyatakan, para Ahli Hukum mengembangkan Realisme Amerika dengan ciri khas Anglo Amerika, yakni tekanan pada pekerjaan pengadilan-pengadilan dan tingkah lakunya. Menekankan bekerjanya hukum, baik sebagai pengalaman maupun sebagai konsepsi. Realisme Skandinavia dalah sematamata kritik falsafiah atas dasar-dasar metafisis dari hukum. Bercorak Kontinental dalam pembahasan yang kritis, cenderung abstrak. Dalam makalah singkat ini, penulis hanya akan membahas Realisme Skandinavia.

5 6

Darji Darmodihardjo, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995), hlm. 116. J.W. Haris, Legal Philosophies, (London: Butterworth & Co, 1980) Friedmann, Op.Cit

2. Realisme Skandinavia Ciri-ciri gerakan Realisme Skandinavia7: 1. Merupakan cara berpikir para ahli hukum modern Skandinavia yang tidak ada persamaannya dengan negara lain. 2. Persamaan dengan Realisme Amerika, hanya terletak pada kesamaan nama, tidak ada hubungan dengan yang lain. 3. Filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap metafisika hukum. Gerakan ini mirip dengan filsafat hukum Eropa Kontinental. 4. Pengikutnya menolak berlakunya Hukum Alam. Tokoh-tokoh dari kelompok ini antara lain Axel Hagerstrom, Olivecrona, Alf Ross, H.L.A Hart, Julius Stone, dan John Rawls. B. Tinjauan Pribadi Realisme Skandinavia berpendapat bahwa hukum adalah apa yang hadir dalam pikiran manusia ketika hukum disebut. Bahwa hukum itu adalah perasaan takut dikucilkan masyarakat ketika suatu pelanggaran dilakukan, perasaan bersalah, dsb. Saya setuju dengan aspek ini, bahwa hukum harus terlebih dahulu menempati ruang dalam jiwa dan pikiran manusia. Namun hukum tentunya tidak melulu tentang ketakutan, nestapa, paksaan dan perasaan negative sejenisnya. Dalam bacaan saya yang terbatas mengenai Realisme Skandinavia, saya dapati sebuah keraguan tentang konsep hukum dalam pikiran dan reaksi jiwa manusia yang diterima sebagai hukum dalam pengertian gerakan Realisme Skandinavia. Apakah hukum itu hanya tentang perasaan takut yang membuat manusia menaatinya? Ataukah hukum itu adalah semua hal yang dirasa dan dipikirkan manusia ketika mendengarnya, baik perasaan negative misalnya ketakutan, maupun perasaan positif misalnya ketertiban? Menurut saya, data empiris tentang hukum yang sebenarnya itu justru hanya bisa dilihat dari dampak yang timbul dalam masyarakat. Itu adalah sebenarnya bukti konkrit bahwa hukum itu tidaklah seabstrak yang digambarkan oleh eksponen gerakan Realisme Skandinavia, melainkan juga memiliki sisi nyata, konkrit yaitu pengakuan akan keberlakuan suatu peraturan dan kesadaran diri untuk menaatinya dalam
7

Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum, Cetakan ke-8, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2001), hlm. 72-73

kehidupan sehari-hari. Hukum bukanlah hukum, jika ia hanya berada dalam kotak pikiran ketakutan manusia. Bagaimana menilai suatu reaksi jiwa manusia itu adalah benar atau salah, ketika alam jiwa seseorang melakukan suatu pelanggaran yang justru menurutnya adalah suatu kebenaran? Dimana letak dan bagaimana konsep hukum menurut Realist Skandinavia jika hal ini terjadi? Lebih dari ketidaksepakatan saya di satu sisi jika hukum hanya dinilai secara abstrak, saya berkeyakinan bahwa hukum itu suatu hal yang juga konkrit, dan bisa dilihat dampak dan wujudnya.