Anda di halaman 1dari 4

OPEN ENDED OSN-PERTAMINA 2012 MATEMATIKA

Pilihlah satu dari tiga topik berikut ini:

1. Pejabat Kementrian ESDM: Indonesia Negara Boros Energi

Kementerian ESDM akui Indonesia merupakan negera boros energi. Pasalnya, dilihat dari jumlah rata-rata pemakaian energi, Indonesia memiliki jumlah yang lebih besar dibandingkan negara lain. Demikian disampaikan Sesditjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Djajang Sukarna di Auditorium Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (27/ 6/ 2012). "Kita termasuk negara yang boros, elastisitas pemakaian energi kita jauh lebih besar dari negara lain," ungkapnya. Djajang menyebutkan dari rata-rata pemakaian energi fosil yang digunakan, konsumsi Indonesia mencapai 1,6 bpd, sementara Malaysia sebesar 1,2 bpd, dan Jepang hanya 1,0 bpd. "Jika begini terusmaka dalam11 tahun energi kita akan habis. Apalagi pemakaian energi kita 95 % dari energi fosil padahal batubara kita banyak," jelasnya. Selain energi fosil, lanjut Djajang, pemakaian listrik menjadi paradoks karena menurut data sebanyak 73% penduduk Indonesia sudah menikmati listrik, sedangkan 27% lagi belum bisa menikmati listrik. "Kita termasuk negara yang tingkat ketahanan energinya lemah dan kita akan membuat satgas monitoring penghematan energi," lanjutnya. Oleh karena itu, Djajang menyatakan pemerintah melalui kementerian ESDM mengeluarkan peraturan penghematan energi. Dari penghematan itu diperkirakan 20% untuk energi fosil dan listrik dapat dihemat, sementara terjadi penghematan air sekitar 10%. "Listrik akan kita tekan pada minimal efisien," tandasnya.

(Sumber:

kemen-esdm-indonesia-negara-boros-energi)

Pertanyaan:

Dari artikel diatas,

a. Model matematika apa yang dapat digunakan uuntuk penyelesaian diatas.

b. Solusi apa yang bisa anda tawarkan

2. Operasikan FSO Pertamina Abherka, Lifting PHE WMO Diharapkan Meningkat

SURABAYA – Floating Storage and Offloading (FSO) Pertamina Abherka menjadi fasilitas penampungan minyak terapung pertama milik Pertamina Perkapalan yang dioperasikan untuk menjamin kelancaran operasi dalam produksi minyak dan gas Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO). Peresmian penggunaan FSO Pertamina Abherka dilakukan oleh Kepala BPMIGAS R. Priyono dan Direktur Utama PT Pertamina Persero Karen Agustiawan dan jajaran direksi Pertamina langsung di atas FSO Pertamina Abherka. Penggunaan FSO yang proyek pembangunannya ditangani oleh Pertamina Perkapalan ini merupakan wujud sinergi antara Pertamina dan anak perusahaan dalam upaya optimalisasi sumber daya di antara keduanya. FSO Pertamina Abherka akan menggantikan peran FSO Madura Jaya yang sebelumnya beroperasi di Lapangan Poleng, Blok West Madura Offshore. “Ini merupakan salah satu bentuk sinergi positif antara Pertamina dan anak-anak perusahaan yang diharapkan bisa terwujud pada proyek-proyek lainnya dalam rangka optimalisasi sumber daya yang diharapkan dapat menciptakan efisiensi sekaligus meningkatkan kontribusi bagi penerimaan Negara melalui Pertamina,” tutur Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan. FSO Pertamina Abherka adalah hasil konversi kapal tanker MT. Geudongdong dan merupakan proyek konversi pertama yang dilaksanakan oleh Pertamina Perkapalan. Pertamina Perkapalan juga akan mengoperasikan FSO tersebut selama 10 tahun di daerah operasi PHEWMO tanpa docking, dengan nilai kontrak US$71 juta. FSO Pertamina Abherka memiliki kapasitas 600.000 barel dan dapat melayani akomodasi untuk 150 pekerja. Dengan FSO Pertamina Abherka, PHE WMO dapat menampung minyak hasil produksi sampai 30.000 barel per hari sehingga akan memberikan kontribusi positif bagi pencapaian target lifting minyak nasional. Dengan pergantian FSO diharapkan PHEWMO dapat meminimalisasi downtime pada saat melaksanakan lifting minyak. “Adanya FSO Pertamina Abherka juga sangat menunjang kelancaran operasi yang akan berdampak positif bagi penyediaan energi di wilayah Jawa Timur sehingga pertumbuhan ekonomi di wilayah setempat dapat dipacu.” Tahun ini PHE WMO mempunyai target produksi minyak sebesar 20.000 barel per hari dan gas sebesar 166.4 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Produksi gasdari WMO dialirkan kepada PLN, PGN, BUMD Gresik, dan Media Karya Sentosa sehingga secara tidak langsung beroperasinya FSO ini akan memberikan jaminan kelangsungan pengaliran gas bagi listrik dan industri di sekitar Jawa Timur.

70% Kandungan Lokal

Priyono mengatakan proyek konversi FSO Pertamina Abherka telah mendorong mewujudkan Indonesia Incorporated, dimana industri hulu migas telah memberdayakan industri-industri lainnya seperti industri perkapalan, perbankan, dan lain-lain. Dia juga mengatakan pengerjaan FSO Pertamina Abherka memperlihatkan hasil yang membanggakan baik dari segi tingkat kandungan local content maupun dari sisi waktu pengerjaan." Pengerjaan konversi ini mempunyai pencapaian kandungan lokal sebesar 70%, dan dari sisi waktu, pengerjaan konversi ini dilakukan dengan waktu yang sesuai dengan rencana yaitu 10 bulan. Proyek ini sejalan dengan salah satu paradigma baru industri hulu migas yaitu tidak hanya menjadi penghasil penerimaan negara, tetapi meningkatkan kapasitas nasional.," ujar Priyono.

Nilai tingkat kandungan lokal terus menunjukkan peningkatan dari tahun 2007. Di tahun 2011 total nilai komitmen pengadaan barang/ jasa di seluruh Kontraktor KKS mencapai lebih dari US$11,81 miliar dengan komitmen TKDN agregat 60,63 persen. "Saya berharap TKDN akan terus meningkat di masa yang akan datang," ujar Priyono. (SF)

(Sumber:

pertamina-abherka-lifting-phe-wmo-diharapkan-meningkat.html)

Pertanyaan:

a. Berikan analisis saudara atas pernyataan bahwa pembangunkan FSO di Pertamina Abherka dapat menjaminan kelancaran operasi dalam produksi minyak dan gas Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO).

b. Berikan tanggapan saudara apabila dilakukan pembangunkan FSO di beberapa wilayah lain di Indonesia

3. Penggunaan Energi Baru dan Terbarukan Masih Sangat Kecil

BANDUNG,(PRLM).-Meski sumber energi baru dan terbarukan sudah sejak lama dikembangkan, namun sampai saat ini ketergantungan terhadap minyak, gas, dan batubara yang merupakan energi fosil masih sangat tinggi. Angkanya masih sekitar 95 persen sementara penggunaan energi baru dan terbarukan baru 4,8 persen.

"Meskipun kita punya rencana pada 2025 nanti harus meningkat jadi 17 persen, bahkan tahun lalu dicanangkan kembali menjadi 25 persen. Mengubah kondisi ini merupakan tantangan yang cukup besar," kata Syahrul Aiman, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI dalam Workshop Energi Terbarukan "Memperkuat Kemandirian Energi Nasional" yang digelar dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Gedung Sasana Budaya Ganesa Jln. Tamansari Bandung, Kamis

(9/8).

Syahrul menuturkan, banyak hal yang harus dilakukan untuk mengubah kondisi agar ketergantungan terhadap energi fosil semakin menurun. Terlebih subsidi yang dialokasikan pemerintah terhadap bahan bakar fosil ini angkanya semakin meningkat dimana angkanya sudah mencapai ratusan triliun rupiah.

"Sejak 2006, 2007, 2008 sudah mencapai Rp 120-an triliun. Pada 2009 turun tapi di 2010 sampai 2012 naik lagi. Tidak terbayang berapa banyak uangnya. Ini adalah tantangan supaya uang ini bisa kita gunakan untuk yang lain. Sekian puluh tahun kita tergantung pada subsidi. Ketika dilepas semua orang teriak, bahkan orang yang mampu pun ikut teriak. Tantangan inilah yang sebetulnya paling berat dibanding tantangan teknologi," tuturnya.

Syahrul menambahkan, dilihat dari produksi gas dan minyak bumi pun, setiap tahun terus mengalami penurunan termasuk di Indonesia. Meski beberapa diskusi mengatakan, Indonesia punya teknologi baru untuk bisa mengambil sisa gas dan minyak yang belum terambil.

"Tapi banyak pihak yang tidak yakin kalau produksi ini bisa kita tingkatkan. Sementara di sisi lain konsumsi minyak bumi terus meningkat. Bahkan tahun ini antara produksi dan konsumsi sangat pas-pasan," katanya.

Kondisi ini, kata Syahrul, harus menjadi perhatian bersama. Bagaimana agar penggunaan energi baru dan terbarukan ini bisa terus meningkat didukung oleh kebijakan termasuk juga kebijakan harga yang harus kompetitif.

"Potensi energi terbarukan kita cukup banyak tapi pemanfaatannya masih sangat kecil. Air misalnya masih kurang dari 10 persen, geothermal kurang dari 5 persen, biomasa baru 3 persen, energi matahari baru nol koma sekian persen, angin juga. Apalagi angin di kita yang berkecepatan rendah sehingga menjadi tantangan tersendiri," tuturnya.(A-157)***

Pertanyaan:

Berikan analisis saudara agar penggunaan energi baru dan terbarukan ini bisa terus meningkat didukung oleh kebijakan termasuk juga kebijakan harga yang harus kompetitif.