Anda di halaman 1dari 4

Nama NIM

: Eka Putri Dharmayanti : 12006

Jurusan/Prodi : SOSEK/PKP AGROFORESTRY Dalam Bahasa Indonesia, istilah agroforestry dikenal pula dengan istilah wanatani, dalam arti sederhananya adalah metode bertani dengan menanam pepohonan hutan di lahan pertanian. Sistem ini sebenarnya telah dipraktekkan oleh para petani di berbagai tempat di Indonesia selama berabad-abad, misalnya yang dikenal dengan ladang berpindah, kebun campuran di lahan sekitar rumah (pekarangan) dan padang penggembalaan. Menurut De Foresta et al.(1997), agroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem agroforestri sederhana dan sistem agroforestri kompleks. Sistem agroforestri sederhana adalah menanam pepohonan secara tumpang-sari dengan satu atau beberapa jenis tanaman semusim. Jenis-jenis pohon yang ditanam bisa bernilai ekonomi tinggi misalnya kelapa, karet, cengkeh dan jati atau bernilai ekonomi rendah seperti dadap, lamtoro dan kaliandra. Sedang jenis tanaman semusim misalnya padi, jagung, palawija, sayur-mayur dan rerumputan atau jenis tanaman lain seperti pisang, kopi dan kakao. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan atau ditanam berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar. Sistem agroforestri kompleks, merupakan suatu sistem pertanian menetap yang berisi banyak jenis tanaman (berbasis pohon) yang ditanam dan dirawat dengan pola tanam dan ekosistem menyerupai hutan Wanatani atau agroforest adalah suatu bentuk pengelolaan sumberdaya yang memadukan kegiatan pengelolaan hutan atau pohon kayu-kayuan dengan penanaman

komoditas atau tanaman jangka pendek, seperti tanaman pertanian. Model-model wanatani bervariasi mulai dari wanatani sederhana berupa kombinasi penanaman sejenis pohon dengan satu-dua jenis komoditas pertanian, hingga ke wanatani kompleks yang memadukan pengelolaan banyak spesies pohon dengan aneka jenis tanaman pertanian, dan bahkan juga dengan ternak atau perikanan.

IMPLIKASI SOSIOLOGI DAN PERTANIAN (SOSIOLOGI PERTANIAN) Ruang Lingkup Sosiologi Pertanian Obyek dari sosiologi pedesaan adalah seluruh penduduk di pedesaan yang terus-menerus atau sementara tinggal di sana, sedangkan obyek sosiologi pertanian adalah keseluruhan penduduk yang bertani tanpa memperhatikan jenis tempat tinggalnya. Sosiologi pedesaan lebih menggunakan pendekatan lokasi dalam hal ini pemukiman. Sosiologi pertanian menurut Planck adalah sosiologi ekonomi seperti

halnya sosiologi industri, yang membahas fenomena sosial dalam bidang ekonomi pertanian. Sosiologi memusatkan hampir semua perhatiannya pada petani dan

permasalahan hidup petani. Tema utama sosiologi pertanian adalah undang-undang pertanian, organisasi sosial pertanian (struktur pertanian), usaha pertanian, bentuk organisasi pertanian, dan masalah sosial pertanian. Sebuah aspek yang sangat penting adalah posisi sosial petani dalam masyarakat. Situasi kehidupan manusia yang tergantung pada pertanian ditentukan oleh hubungan mereka dengan tanah (tata tanah), oleh hubungan pekerjaan mereka satu dengan yang lainnya (tata kerja), dan oleh sistem ekonomi dan masyarakat yang ada di atas mereka (tata kekuasaan).

Keseluruhan tata sosial ini disebut sebagai hukum agraria yang dalam arti sempit dimaknai sebagai hukum pertanahan (land tenure). Kegunaan Mempelajari Sosiologi Pertanian Dengan mempelajari sosiologi pertanian kita bisa mengumpulkan secara sistematis atau secara bermakna tentang keterangan-keterangan mengenai masyarakat pedesaan dan masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan menelaah hubungannya. Sosiologi pertanian membantu dalam mengambil lukisan seteliti-telitinya tentang tingkah laku, sikap, perasaan, motif dan kegiatan-kegiatan petani yang umumnya hidup dalam lingkungan pedesaan. Hasil telaah tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat pedesaan dan pertanian pada khususnya. Planck(1993;9) menyatakan bahwa penduduk desa mencari penjelasan mengenai proses sosial di pedesaan dan menuntut pembaharuan untuk masa depan. Petani mengharapkan sosiologi pertanian dalam usahanya menemukan suatu kesadaran baru. Praktek dalam politik pertanian menuntut dari sosiologi pertanian antara lain tempat kegiatan terbaik untuk langkah-langkah yang telah direncanakan dan menunjukan dampak sosial yang akan timbul dari yang direncanakan. Sosiologi pertanian harus memberikan data mengenai struktur pedesaan , mengenai kecenderungan perkembangan sosial, mengenai penyakit dalam masyarakat dan keadaan darurat, mengenai harapan dan tuntutan sosial mereka dalam perencanaan tata ruang. Sumbangan sosiologi pertanian dalam politik kemasyarakatan memang masih terbatas. Namun mereka dapat membantu pengambilan keputusan-keputusan yang dibuat dengan cara: Menjelaskan definisi, obyek dan indikator sosial

Menjelaskan hubungan sesama manusia dan perilakunya Meneliti aturan, fungsi kelompok/organisasi sosial Menemukan tenaga pendorong, mekanisme dan proses perubahan sosial dan lain sebagainya. Situasi kehidupan manusia yang tergantung pada pertanian ditentukan terutama oleh: 1. hubungan mereka dengan tanah (tata tanah), 2. hubungan pekerjaan mereka satu dengan lainnya (tata kerja), 3. sistim ekonomi dan masyarakat yang ada diatas mereka (tata kekuasaan). Kegunaan Mempelajari Sosiologi Pertanian Mengumpulkan secara sistimatis atau secara bermakna tentang keterangan-keterangan mengenai masyarakat pedesaan dan masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan menelaah hubungan-hubungannya. Mengambil lukisan seteliti-telitinya tentang tingkah laku,sikap, perasaan, motif dan kegiatan-kegiatan petani yang umumnya hidup dalam lingkungan pedesaan memperbaiki kehidupan masyarakat pedesaan dan pertanian pada khususnya.

SUMBER : http://myjourneys-tommo.blogspot.com/2008/09/agro-forestry-application-ofecological.html http://id.wikipedia.org/wiki/Wanatani