Anda di halaman 1dari 163

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH ACARA I KOLEKSI PUPUK

Disusun oleh: Ahmad Khoirudin Asrofi Lathifatul Lailia Nur Kusumastuti Eka Putri D. Siska Ernitawati Golongan Asisten : A3 (Siang) : Basyit Wulan I. (11913) (11938) (11975) (12006) (12066)

LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

ACARA 1 KOLEKSI PUPUK

Abstraksi Praktikum Acara 1 dengan judul Koleksi Pupuk ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesubuaran Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada hari Rabu, 03 Oktober 2012. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenal dan membuat koleksi pupuk. Pupuk merupakan salah satu sarana produksi pertanian yang sangat menentukan kualitas dan kuantitas hasil panen. Pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih unsur hara bagi tanaman. Bahan tersebut berupa mineral atau organik, dihasilkan oleh kegiatan alam atau diolah oleh manusia di pabrik. Fungsi pupuk adalah sebagai salah satu sumber zat hara buatan yang diperlukan untuk mengatasi kekurangan nutrisi terutama unsur-unsur nitrogenm, fosfor, dan kalium. Sedangkan unsur sulfur, kalium, magnesium, besi, tembaga, seng, dan boron merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit (mikronutrient). Koleksi pupuk dilakukan dengan membeli pupuk yang belum ada di laboratorium kimia dan kesuburan tanah.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pupuk adalah material tertentu yang ditambahkan ke media tanam atau tanaman dengan tujuan untuk melengkapi ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan tanaman sehingga dapat berproduksi dengan baik. Bahan pupuk yang paling awal adalah kotoran hewan, sisa pelapukan tanaman dan arang kayu. Pupuk yang berasal dari bahan-bahan alami tersebut termasuk dalam golongan pupuk organik. Masukkan organik dan bahan alam merupakan pendukung utama keberhasilan program pertanian organik dan pertanian berkelanjutan. Upaya tersebut harus ditempuh untuk menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar lahan di Indonesia memiliki kandungan bahan organik yang rendah (< 1%) dan adanya penurunan produktivitas tanah terutama di lahan pertanian intensif. Hal yang perlu diperhatikan dalam memanfaatkan suatu bahan untuk digunakan sebagai bahan pupuk, antara lain ketersediaan bahan dalam jangka panjang, kandungan hara, tingkat perombakan, bebas dari senyawa meracun atau mikrobia pathogen dan kemudahan pengolahan. B. Tujuan Untuk mengenal dan membuat koleksi pupuk

II. TINJAUAN PUSTAKA Pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih unsur hara bagi tanaman. Bahan tersebut berupa mineral atau organik, dihasilkan oleh kegiatan alam atau diolah oleh manusia di pabrik. Unsur hara yang diperlukan oleh tanaman adalah: C, H, O (ketersediaan di alam masih melimpah), N, P, K, Ca, Mg, S (hara makro, kadar dalam tanaman > 100 ppm), Fe, Mn, Cu, Zn, Cl, Mo, B (hara mikro, kadar dalam tanaman < 100 ppm). Pupuk diberikan agar tanaman (tumbuhan yang diusahakan manusia) dapat tumbuh, berkembang dan menghasilkan sesuai yang diharapkan. Manusia selalu menuntut lebih terhadap kemampuan tanaman. Rekayasa genetik dan lingkungan di lakukan agar tanaman memberikan kinerja yang lebih baik. Dengan bantuan hasil tanaman tersebut, unsur yang semula berada dalam tanah masuk ke dalam tubuh manusia. Tumbuhan tidak memerlukan pupuk. Karena tumbuhan mampu mengambil unsur hara yang tersedia di lingkungan hidupnya. Pada lahan yang tidak terusik manusia, kesuburan tanah selalu meningkat, karena terjadi pelonggokan materi dan energi di tempat tersebut. Mineral dari jeluk yang lebih dalam diangkut ke daun dan digugurkan ke permukaan tanah. Gas-gas di udara terutama CO2 dijerat dan digunakan sebagai penyusun tubuh tumbuhan. Tumbuhan selalu hidup bersama dengan lelembut (mikrobia). Serasah tumbuhan menjadi makanan dan sumber energi bagi lelembut tersebut untuk terus bekerja. Hasil perombakan digunakan kembali oleh tumbuhan. Interaksi mineral dan bahan organik yang terus menerus itu, akan diikuti ketersedian hara dan lengas yang makin besar, sehingga memberikan lingkungan yang terbaik bagi tumbuhan. (Anonim, 2011) Pemupukan bertujuan untuk memenuhi jumlah kebutuhan unsur hara yang tidak sesuai di dalam tanah, sehingga produksi meningkat. Hal ini berarti penggunaan pupuk dan input lainnya diusahakan agar mempunyai efisiensi tinggi. Efisiensi pemupukan haruslah dilakukan, karena kelebihan atau tidak tepatnya pemberian pupuk merupakan pemborosan yang berarti mempertinggi input (Lestari et al., 2007). Efisiensi dari pemakaian pupuk khususnya N, P, K juga penting untuk mencukupi sebagian besar kebutuhan akan N, P, K pada tanaman. Selain itu pemberian unsur ini dapat meningkatkan nilai ekonomis, energi, dan kemampuan beradaptasi pada lingkungan yang lebih baik (Elberi et al., 2003).

Kalau dibandingkan dengan pupuk alam, pupuk buatan mempunyai beberapa kelebihan dan keburukan. Kebaikannya antara lain: kita dapat memberikan makanan tanaman dalam jumlah yang kita anggap perlu, zat-zat makan tanaman dapat diberikan dalam perbandingan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing jenis tanaman, makanan tanaman dapat diberikan dalam bentuk yang mudah tersedia. Dapat diberikan pada saat yang tepat, dan pemakaian serta pengangkutan yang mudah dan lebih murah karena konsentrasinya tinggi. Sedangkan keburukannya antara lain: umumnya membahayakan kesehatan manusia dan umumnya tidak/sedikit sekali mengandung unsur-unsur mikro (Hardjowigeno, 1979). Pemakaian bahan cair untuk pemupukan dianggap sangat penting di daerah tertentu. Digunakan tiga metode pokok dalam memberikan pupuk cair yaitu langsung diberikan pada tanah, pemberian bersama air irigasi, dan penyemprotan tanaman dengan larutan pupuk yang sesuai (Maas, 1996). Kecuali pembagian tersebut masih ada cara lain mengelompokkan pupuk ini, yaitu dengan melihat unsur hara yang dikandungnya. Dengan cara pengelompokan ini maka dikenallah macam pupuk sebagai berikut Pupuk tunggal, yakni pupuk yang hanya mengandung satu (tunggal) unsur hara makro saja, misalnya urea : mengandung unsur hara Nitrogen (N), Pupuk majemuk, yakni pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara makra, misalnya DAP : mengandung unsur hara Nitrogen dan Fosfor, Pupuk lengkap, yaitu pupuk yang mengandung unsur hara lengkap secara keseluruhan (unsur makro dan unsur mikro) (Anonim, 2007)

III. METODOLOGI Praktikum acara 1 yang berjudul Koleksi Pupuk ini dilaksanakan pada hari Rabu, 3 Oktober 2012 di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah pensil, bolpoin, dan kertas serta kamera digital untuk mencatat sifat dari koleksi pupuk dan mendokumentasikan koleksi pupuk tersebut. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah pupuk ultradap. Cara kerja dalam praktikum ini adalah setiap kelompok membuat koleksi : 1 (satu) macam pupuk disertai data atau leaflet yang memuat sifat dan cara aplikasinya. Pupuk yang dikumpulkan apa adanya, diusahakan dari produk yang siap dipasarkan. Jumlah pupuk yang dikumpulkan 1000gram (padat) atau 1000 ml (cair). Usahakan mencari pupuk yang belum dikoleksi oleh laboratorium.

IV. HASIL PENGAMATAN Koleksi pupuk dilakukan dengan membeli pupuk yang belum dikoleksi oleh Laboratorium kesuburan. Pembelian pupuk dilakukan pada hari,tanggal : Sabtu, 29 September 2012 di Daerah Moyudan di Kios Pertanian dan Peternakan Agro HIT, Jalakan, TambakRejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta. Pupuk yang ingin dikoleksi tersebut bernama dagang Pupuk Ultradap dengan rincian data sebagai berikut : a. Nama Dagang b. Warna c. Senyawa kimia d. Kemasan e. Bentuk f. Produsen g. Aturan pakai
No. 1. Jenis Kentang Dosis 5 gram40gram/lt air

: Ultradap : Putih : N 12 % dan P2O5 60% : Plastik : Kristal : Saprotan Utama, Semarang :
Aplikasi 3 sdm ultradap+5sdm CPN dilarutkan dalam 10 lt air, air dituangkan untuk 50 tanaman Kegunaan Merangsang pertumbuhan akar, pembentukan batang dan bunga Aturan Pakai Pakai mulai umur 7 HST sampai menjelang pembungaan, 3 x aplikasi, interval 1 minggu.

2.

Cabai dan Tomat

5 gram20gram/liter air

3sdm ultradap+5 sdm CPN (KNO3 merah Pak Tani)dilarutkan dalam 10 lt air, dituangkan untuk 50 tanaman

Merangsang pertumbuhan akar, pembentukan batang dari bunga

Pakai saat mulai umur 7 HST sampai menjelang pembungaan 7-9 x aplikasi, interval 1 minggu

Semangka dan Melon

2gram4gram/lt air

Larutkan ultradap dengan takaran 2-4 sdm

Merangsang pertumbuhan akar,

Pakai mulai umur 7 HST sampai

pertangki semprot atau 0,5-1 kg dalam 200 lt air

pembentukan batang dan bunga.

menjelang pembungaan 3-5 x aplikasi, interval 1 minggu.

V, PEMBAHASAN Pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih unsur hara bagi tanaman. Bahan tersebut berupa mineral atau organik, dihasilkan oleh kegiatan alam atau diolah oleh manusia di pabrik. Unsur hara yang diperlukan oleh tanaman adalah: C, H, O (ketersediaan di alam masih melimpah), N, P, K, Ca, Mg, S (hara makro, kadar dalam tanaman > 100 ppm), Fe, Mn, Cu, Zn, Cl, Mo, B (hara mikro, kadar dalam tanaman < 100 ppm). Pupuk diberikan agar tanaman (tumbuhan yang diusahakan manusia) dapat tumbuh, berkembang dan menghasilkan sesuai yang diharapkan. Manusia selalu menuntut lebih terhadap kemampuan tanaman. Rekayasa genetik dan lingkungan di lakukan agar tanaman memberikan kinerja yang lebih baik. Dengan bantuan hasil tanaman tersebut, unsur yang semula berada dalam tanah masuk ke dalam tubuh manusia. Tumbuhan tidak memerlukan pupuk. Karena tumbuhan mampu mengambil unsur hara yang tersedia di lingkungan hidupnya. Fungsi pupuk adalah sebagai salah satu sumber zat hara buatan yang diperlukan untuk mengatasi kekurangan nutrisi terutama unsur-unsur nitrogenm, fosfor, dankalium. Sedangkan unsur sulfur, kalium, magnesium, besi, tembaga, seng, dan boron merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit (mikronutrient). Pupuk terdiri dari dua jenis yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuik organik merupakan pupuk yang terbuat dari sisa bahan tanaman, pupuk hijau, dan kotoran hewan yang mempunyai kandungan unsur hara rendah. Pupuk organik tersedia setelah zat tersebut mengalami proses pembusukkan oleh mikroorganisme. Selain pupuk anorganik juga harus diberikan pada tanaman. Macam-macam pupuk organik adalah pupuk kompos, pupuk hijau,dan pupuk kandang. Pupuk anorganik atau pupuk buatan (dari senyawa anorganik) adalah pupuk yang sengaja dibuat oleh manusia dalam pabrik dan mengandung unsur hara tertentu dalam jumlah kadar tinggi, pupuk anorganik digunakan untuk mengatasi kekurangan mineral murnidari alam yang diperlukan tumbuhan untuk hidup secara wajar. Pupuk anorganik dapat menghasilkan bulir hijau dan yang dibutuhkan dalam proses fotositesis. Berdasarkan kandungan unsur-unsurnya pupuk dapat dibagi menjadi pupuk tunggal, seperti pupuk nitrogen, pupuk fosforus, pupuk kalium dan pupuk majemuk yaitu pupuk NPK.

Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa pupuk ultradap merupakan salah satu pupuk majemuk yang berbahan dasar senyawa kimia dua jenis yaitu Nitrogen sebesar 12 % dan P2O5 sebesar 60% dengan ciri fisik pupuk berwarna putih dan granuler kristal (butiran kecil) dan pada kemasarn plastik. Pupuk tersebut diproduksi oleh Saprotan Utama Semarang dan dijual di berbagai cabang. Salah satu cabangnya adalah di daerah Jalakan, Tambakrejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta. Berbagai macam pupuk adalah ada pupuk Tunggal, pupuk majemuk, danm pupuk alternatif. Pupuk tunggal misalnya pupuk N (Urea, Za), Pupuk P (SP-36), Pupuk K (KCl). Sedangkan pupuk majemuk antara lain pupuk NP, NK, PK, NPK, NPK + Hara mikro. Sedangkan pupuk alternatif dan pembenah tanah antara lain batuan fosfat, kompos, pupuk kandang, pupuk hayati, zeolit. Pupuk ultradap termasuk kedalam pupuk majemuk yang terdiri dari P2O5 dengan kadar 60% dan senyawa N sebesar 12 %. Dapat diketahui bahwa pupuk ini didominasi olek senyawa P2O5. Pupuk dengan kadar pospat Oksida yang tinggi meiliki sifat dapat merangsang pertumbuhan akar, pembentukan batang dan bunga lebih cepat. Pada prinsipnya pupuk P adalah endapan-endapan alam dari batuan yang mengandung fosfor, senyawa besi dan tulang-tulang binatang. Pupuk fosfat yang dibuat dari bahan tersebut diatas dapat digolongkan menjadi fosfat alam yang meliputi bahan batuan fosfat yang masih asli. Senyawa fosfat sebagai hasil pelakuan secara sederhana, misalnya : abu, tulang, arang tulang, super fosfat Ca-Fosfat dsb, Fosfat hasil sampingan seperti basic slang, dan yang disebut senyawa fosfat, seperti fosfat-fosfat yang diikat dalam bentuk: ammonium, nitrat, misalnya : ammonium fosfat, fosfat nitrat, kalium fosfat, ammo-phos dan lain-lain ikatan fosfat.

VI. PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil data diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa 1. Pupuk merupakan masukkan organik dan bahan alam yang merupakan pendukung utama keberhasilan program pertanian berkelanjutan. 2. Pupuk Ultradap merupakan pupuk kimia dan pupujk majemuk yang terdiri dari senyawa P2O5 60% dan N 12 %. 3. Pupuk yang mengandung P2O5 60% dapat merangsang pertumbuhan akar, lebih cepat, pembentukan batang dan bunga lebih cepat. 4. Pupuk ultradap dapat digunakan untuk tanaman sayuran seperti kentang, cabai, tomat,dan tanaman buah-buahan seperti melon dan semangka dengan takaran dan dosis yang berbeda. B. Saran 1. Setiap perusahan pupuk seharusnya memberikan keterangan yang jelas terhadap pupuk yang diproduksi karena terdapat beberapa jenis pupuk yang memiliki ketidakjelasan keterangan mengenai pupuk yang diproduksi

10

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2007. Pengenalan Pupuk. <http://pusri.wordpress.com>. Diakses tanggal 11 November 2012. Anonim. 2011. Kesuburan tanah. <http://repository.usu.ac.id>. Diakses tanggal 11` November 2012. Elberi, A., D. H. Putnam and M. Schimitt. 2003. Nitrogen fertilizer and cultivar effect of yield and nitrogen use efisiensi of grain amaranth. Agronomy Journal. 83: 120-129. Hardjowigeno, S. 1979. Ilmu Tanah. PT. Melton Putra. Jakarta. Lestari, A, S. Murdiyati dan Djumali. 2007. Pengaruh dosis pupuk terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kapas. Agr-UMY 5:9-11 Maas, A. 1996. Ilmu Tanah dan Pupuk. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

11

LAMPIRAN

12

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH ACARA II SIFAT PUPUK

Disusun oleh: Ahmad Khoirudin Asrofi Lathifatul Lailia Nur Kusumastuti Eka Putri D. Siska Ernitawati Golongan Asisten : A3 (Siang) : Basyit Wulan I. (11913) (11938) (11975) (12006) (12066)

LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

13

ACARA II SIFAT PUPUK


Abstraksi Praktikum Acara 2 dengan judul Sifat Pupuk ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesubuaran Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada hari Rabu, 03 Oktober 2012. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenal berbagai jenis pupuk dan mencirikan sifat-sifat pupuk berdasarkan koleksi yang sudah ada guna mengetahui pengaplikasiannya secara tepat agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Berdasarkan sifatnya pupuk dibedakan menjadi pupuk organik dan anorganik, sedangkan berdasarkan macam haranya pupuk dibedakan menjadi tiga yaitu pupuk tunggal, pupuk majemuk, dan pupuk alternatif. Pupuk yang diamati antara lain : M.K.P (Mono Kalsium Phosphate), Pomi, SM Daun, CPN, Bio Nutrimax Plus, Saputra Nutrient, Grow Toop-D, Growmore, Super Tonik, dan Gandasil D.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pupuk merupakan suatu bahan yang esensial bagi tanaman karena pupuk berperanan dalam menambah unsur hara bagi tanaman. Pupuk dapat membantu dalam mempertahankan dan meningkatkan produksi pangan. Kebutuhan pada setiap tanaman berbeda-beda tergantung dari kebutuhan akan haranya, oleh sebab itu memahami sifat-sifat dari setiap pupuk sangat diperlukan. B. Tujuan Mengenal berbagai jenis pupuk dan mencirikan sifat-sifat pupuk berdasarkan koleksi yang sudah ada.

14

II. TINJAUAN PUSTAKA Dalam arti luas pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman dalam hal ini termasuk bahan pembenah tanah (soil conditioner). Berdasarkan jumlah hara yang dikandungnya, pupuk dibedakan menjadi dua, yaitu (Sarief, 1989) : a. Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu unsur hara. b. Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung dua atau lebih unsur hara. Disamping dua macam pupuk tersebut, tanah sering pula memerlukan pembenah tanah. Pembenah tanah ini berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik tanah. Petani umumnya lebih biasa menggunakan pupuk tunggal, yaitu pupuk yang hanya mengandung satu jenis hara saja. Misalnya, Urea hanya mengandung hara nitrogen (N). SP-36 hanya dipentingkan fosfat (P)-nya saja, tapi sebetulnya juga mengandung sulfur (S). Atau KCl yang diutamakan sebagai sumber kalium (K) (Peni et al., 2008). Penggunaan pupuk N, P, dan K secara tunggal memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan beberapa komponen hasil padi, namun terhadap bobot 1000 biji tidak menunjukkan perbedaan. Hara nitrogen merupakan salah satu faktor pembatas utama untuk tanaman padi sawah. Peranan penting dari P di dalam tanaman antara lain adalah dalam pembentukan buah dan biji serta pembelahan sel dan perkembangan akar, sehingga kekurangan P akan menyebabkan tanaman tumbuh lambat dan kerdil (Arafah dan Sirappa, 2003). Penambahan pupuk NPK dapat meningkatkan kandungan N total tanah dalam berbagai bentuk anorganik seperti NH4+ atau NH3 atau NO3-, sehingga dengan

meningkatnya kandungan N total tersebut akan menurunkan rasio C/N tanah. Berdasarkan rumus C/N, jika N meningkat maka rasio tersebut akan menurun (Syukur dan Harsono, 2008). Setiap material alami atau buatan yang mengandung setidaknya 5% dari satu atau lebih dari tiga nutrisi primer - nitrogen (N), fosfor (P), atau kalium (K) - dapat dianggap sebagai pupuk. Ada beberapa sumber nutrisi tanaman. Dua yang paling penting adalah pupuk organik dan pupuk mineral. Ketika pupuk kandang dan residu tanaman yang digunakan, pupuk mineral memasok keseimbangan gizi yang luar biasa yang dibutuhkan untuk hasil panen yang baik (Anonim, 2011).

15

N, P dan K dalam pupuk NPK dapat hilang oleh pencucian. Nutrisi dalam bahan organik kurang mudah tersedia karena bahan terdekomposisi dan nutrisi organik termineralisasi. Nutrisi dilepaskan dari NPK dan sumber bahan organik seperti N, P dan K yang membentuk blok untuk protein (N), nukleoprotein (P), abu (K) dan ekstrak eter (P dalam bentuk fosfolipid) (Makinde et al., 2010).

16

III. METODOLOGI Praktikum sifat pupuk dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada hari Rabu, 3 Oktober 2012. Bahan yang digunakan adalah: pupuk M.K.P (Mono Kalsium Phosphate), Pomi, SM Daun, CPN, Bio Nutrimax Plus, Saputra Nutrient, Grow Toop-D, Growmore, Super Tonik, dan Gandasil D. Cara kerja yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: pertama diamati pupuk dan brosur yang tersedia kemudian dicatat tentang data sifat fisik (bentuk, ukuran butir, warna, higroskopisitas, kadar lengas dan BV), sifat kimia (senyawa kimia, kadar hara, sifat fisiologis/ kemasaman), kemasan, produsen, tanggal pembuatan & tanggal kadaluwarsa, cara aplikasinya (cara dan takaran penggunaan), dan keteranganketerangan lain jika dianggap perlu.

17

IV. HASIL PENGAMATAN 1. M.K.P (Mono Kalsium Phosphate)

a. Sifat Fisik Bentuk Ukuran butir Higroskopisitas Warna : kristal : mikro : kurang baik : putih

b. Sifat Kimia
Senyawa Kimia P2O5 K2O Komposisi (%) 52 34

c. Kemasan Produsen Tanggal pembuatan Tanggal kadaluwarsa : CV. Saprotan Utama - Semarang ::-

d. Aplikasi Dapat diaplikasikan lewat tanah, daun, dan hidroponik dengan dosis pada beberapa jenis tanaman sebagai berikut:
Jenis tanaman Kentang Dosis 40 gr/ lt air Waktu aplikasi Mulai saat pembentukan umbi, 3 kali semprot, interval 1 minggu Tomat Mangga 30 gr/ lt air 20 gr/ lt air Menjelang berbunga, 2-6 kali semprot, interval 1 minggu Menjelang berbunga, 3 kali semprot,interval 2 minggu

18

2. Pomi

a. Sifat Fisik Bentuk Ukuran butir Higroskopisitas Warna : cair :: baik : cokelat pekat

b. Sifat Kimia
Senyawa Kimia C-Organik Komposisi (%) 15

Keasaman (pH) c. Kemasan Produsen

: 4,5

: PT. INDOACIDATAMA Tbk. :: 02-05-2012

Tanggal pembuatan Tanggal kadaluwarsa

d. Aplikasi 1. Dosis larutan pomi kuning 5 cc/ lt air 2. Untuk 1 tangki sprayer (isi 14 lt) larutkan 8 tutup jerigen pomi kunig 3. Siram larutan pomi kuning secara merata di lahan sebagai pupuk dasar pada 7 hari sebelum tanam sebanyak 5 lt pomi kuning/ha, untuk tanaman yang ditanam pada lubang tanam, siramkan 50 cc larutan pomi kuning pada lubang tanam

19

3. SM Daun

a. Sifat Fisik Bentuk Ukuran butir Higroskopisitas Warna : butiran : mikro : kurang baik : hijau

b. Sifat Kimia
Senyawa Kimia N-Organik Ca & Mg O2 soiltic Mikro fertilizer Komposisi (%) 15 5 5 75

c. Kemasan Produsen Tanggal pembuatan Tanggal kadaluwarsa : CV. Sarana Mulia ::-

d. Aplikasi Dapat digunakan dengan cara dilarutkan, dengan dosis 3-5 gr/ lt air atau 3-5 sendok makan/ ember air (10 lt). dapat digunakan dengan cara semprot, dengan dosis 1-2 gr/ lt air atau 1-2 sendok makan/ tangki semprot (14 atau 17 lt).

20

4. CPN

a. Sifat Fisik Bentuk Ukuran butir Higroskopisitas Warna : granuler : mikro : kurang baik : merah muda

b. Sifat Kimia
Senyawa Kimia N K2O Na B Komposisi (%) 15 14 18 0,05

c. Kemasan Produsen Tanggal pembuatan Tanggal kadaluwarsa : CV. Saprotan Utama - Semarang ::-

d. Aplikasi Dapat diaplikasikan dengan dosis pada beberapa jenis tanaman sebagai berikut:
Jenis tanaman Kentang, tomat, kubis, bawang merah, bawang putih Dosis 50-100 kg/ha Waktu aplikasi 7-35 HST

21

5. Bio Nutrimax Plus

a. Sifat Fisik Bentuk Ukuran butir Higroskopisitas Warna : cair :: baik : kuning kecoklatan

b. Sifat Kimia
Senyawa Kimia N P2O5 K2O Ca Mg S Fe Mn B Mo Cu Zn Cl Co Na Komposisi 4,8 % 0,23 % 0,58 % 1048,01 ppm 128,63 ppm 10,67 ppm 301,8 ppm 178,35 ppm 20,27 ppm 45,01 ppm 9,65 ppm 11,54 ppm 0,87 ppm 0,36 ppm 43,51 ppm

c. Kemasan Produsen : CV. ZALFAGRO INDOPRIMA

22

Tanggal pembuatan Tanggal kadaluwarsa

::-

d. Aplikasi Dapat diaplikasikan melalui penyemprot atau penyiraman dengan dosis pada beberapa jenis tanaman sebagai berikut:
Jenis tanaman Bawang merah Tembakau Dosis 30-40 cc/ 10 lt air 30-40 cc/ 10 lt air Waktu aplikasi 5 hari sekali 2 dan 3 minggu 3 dan 5 minggu

6. Saputra Nutrient

a. Sifat Fisik Bentuk Ukuran butir Higroskopisitas Warna : bubuk : mikro : baik : abu-abu

b. Sifat Kimia
Senyawa Kimia Nitrogen Fosfor Kalium Kalsium Magnesium Trace mineral Komposisi (%) -

23

c. Kemasan Produsen Tanggal pembuatan Tanggal kadaluwarsa : PT. SAPUTRA NUTRIENTS - Indonesia ::-

d. Aplikasi Campuran antara Sputra Nutrient powder dan liquid dan air (1:3:5) yaitu 1 sdm powder, 3 sdm liquid, dan 5 lt air, kemudian disemprotkan ke tanah. Penyemprotan bulan 1 : 1 minggu sekali Penyemprotan bulan 2 : 2 minggu sekali Penyemprotan bulan 3 : 1 bulan sekali

7. Grow Toop-D

a. Sifat Fisik Bentuk Ukuran butir Higroskopisitas Warna : cair :: baik : hijau

b. Sifat Kimia
Senyawa Kimia N P K Fe, Ca, Mn, B + vit B Komposisi (%) 40 15 10 -

24

c. Kemasan Produsen Tanggal pembuatan Tanggal kadaluwarsa :::-

d. Aplikasi Cara: dicampurkan 2 cc Grow Toop-D dengan 1 lt air kemudian disemprotkan ke seluruh bagian tanaman, daun. Pemakaian: 1-2 kali sehari

8. Growmore

a. Sifat Fisik Bentuk Ukuran butir Higroskopisitas Warna : kristal : mikro : kurang baik : biru

b. Sifat Kimia
Senyawa Kimia N P2O5 K2O Ca Mg S B Cu Fe Komposisi (%) 10 55 10 0,05 0,1 0,2 0,02 0,05 0,1

25

Mn Mo Zn

0,05 0,0005 0,05

c. Kemasan Produsen Tanggal pembuatan Tanggal kadaluwarsa :::-

d. Aplikasi Cara pengaplikasian yaitu dengan melarutkan 1-2 gr dalam 1 lt air, kemudian disemprotkan pada bagain tanaman pada pagi dan sore. Lakukan dengan teratur selang 5-10 hari. 9. Super Tonik

a. Sifat Fisik Bentuk Ukuran butir Higroskopisitas Warna : cair :: baik : biru

b. Sifat Kimia
Senyawa Kimia N P2O5 K2O S Mg Komposisi (%) 15 2 0,3 1,25 0,25

26

CaO Mn Al GA

1,6 1,25 0,02 0,25

c. Kemasan Produsen Jatim Tanggal pembuatan Tanggal kadaluwarsa ::: CV. AGRO JAYA OKTAVIANT Sidoarjo,

d. Aplikasi Dapat diaplikasikan lewat tanah, daun, dan hidroponik dengan dosis pada beberapa jenis tanaman sebagai berikut:
Jenis tanaman Coklat, kopi, cengkeh, tebu, apel, jeruk, the Padi Umbi-umbian, ubi-ubian 2-4 cc 1-2 cc Dosis 2-4 cc Interval pemakaian 1-2 minggu setelah tanam Tiap 7-14 hari Tiap 7-14 hari 2-3 minggu setelah tanam

e. Keterangan lain Super Tonik merupakan pupuk daun cair super lengkap Untuk merangsang pertumbuhan dan kesuburan daun, bunga, dan buah

10. Gandasil D.

a. Sifat Fisik Bentuk Ukuran butir : kristal : mikro

27

Higroskopisitas Warna

: kurang baik : putih

b. Sifat Kimia
Senyawa Kimia N P2O5 K2O MgSO4 Komposisi (%) 20 15 15 1

c. Kemasan Produsen Tanggal pembuatan Tanggal kadaluwarsa : PT. KALATHAM ::-

d. Aplikasi Untuk memperoleh hasil yang memuaskan, gunakan Gandasil-D pada tingkat permulaan pertumbuhan tanaman dengan malarutkan 10-30 gr GandasilD dalam 10 lt air dan semprotkan setiap 8-10 hari sekali, tergantung pada keadaan setempat. Gandasil-D dapat dicampur dengan berbagai jenis pestisida, kecuali yang bersifat alkalis.

28

V. PEMBAHASAN Pupuk merupakan suatu bahan yang esensial bagi tanaman karena pupuk berperanan dalam menambah unsur hara bagi tanaman. Pupuk dapat membantu dalam mempertahankan dan meningkatkan produksi pangan. Tanaman menyerap hara terutama dari larutan tanah, sehingga diperlukan menghasilkan pupuk dalam mudah larut. Berdasarkan jumlah hara yang dikandung, pupuk dibedakan menjadi pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu macam unsur hara tanaman saja, misalnya urea hanya mengandung hara N. Sedangkan pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung dua atau lebih unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Nilai dari suatu pupuk ditentukan oleh sifat-sifatnya. Sifat-sifat yang penting untuk penilaian ini adalah kadar unsur, higroskopisitas, kelarutannya, bekerjanya dan keasamannya. a. Kadar unsur Kadar atau kandungan unsur ini adalah ukuran pertama yang digunakan untuk menilai pupuk, karena kadar ini menentukan kemampuan suatu pupuk untuk merubah kesuburan kimiawi secara mutlak (absolut). Pada dasarnya makin tinggi kadar unsurnya makin baik. Kadar unsur dinyatakan sebagai persen (%). Misalnya ZA 21,2% N ini berati tiap kuintal ZA mengandung 21,2 kg N. b. Higroskopisitas Bila kelembapan nisbi udara melebihi batas tertentu, maka pupuk mulai menarik/menyerap air. Dan sifat ini disebut higroskopisitas. Sesudah menarik air ini ada pupuk yang hanya menjadi lembab, ada yang menjadi basah dan melunak dan ada pula yang mencair. Bila kelembaban nisbi turun, maka pupuk mengering kembali dan dapat menjadi bongkah-bongkah keras. Higroskopisitas ini memang secara langsung tidak mempengaruhi nilai pupuk sebagai penambah kesuburan tanah, tetapi mempengaruhi cara penyimpanan dan cara pemakaiannya. Pupuk yang higroskopis harus disimpan ditempat-tempat yang benar-benar kering, sebab kalau sudah menarik air akan memerlukan cara-cara istimewa untuk mempergunakannya.

29

c. Kelarutan Kelarutan pupuk sangat menentukan mudah tidaknya unsur-unsur yang terkandung diambil oleh tanaman. Dengan pasti dapat dikatakan bahwa pupuk pupuk yang sukar larut sukar pula diserap unsur-unsurnya oleh tanaman d. Kemasaman Karena sifat kimiawinya pupuk dapat merubah kemasaman tanah. Ada pupuk yang meningkatkan, ada yang mempertahankan dan ada pula yang mengurangi keasaman. Kemasaman ini dapat mempengaruhi kehidupan tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedang pertanaman umumnya menghendaki tanah dengan kemasaman sedang (netral). Karena itu dianjurkan penggunaan pupuk yang dengan tingkat kemasaman tinggi untuk tanah dengan tingkat kemasaman rendah atau sebaliknya. e. Cara Kerja Yang dimaksud dengan bekerjanya pupuk adalah waktu yang diperlukan hingga pupuk tersebut dapat dihisap tanaman dan memperlihatkan pengaruhnya. Ada yang bekerja cepat, lambat dan sedang. Bekerjanya pupuk ini sangat mempengaruhi waktu dan cara penggunaan pupuk. Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah dokumen yang memuat ketentuan, pedoman dan/atau karakteristik dari suatu kegiatan, barang atau jasa yang dirumuskan secara konsensus oleh pihak terkait dan ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). SNI merupakan satu-satunya standar nasional, yang bertujuan untuk memperlancar transaksi perdagangan dan melindungi kepentingan konsumen. Untuk memperoleh SNI maka dilakukan beberapa tahapan antara lain definisi pupuk itu sendiri, syarat mutu pupuk (kandungan dalam pupuk tersebut), pengambilan sampel, pengujian sampel tersebut (kadar nitrogen, kadar belerang, kadar air, kadar biuret, kadar phospor, kadar asam bebas, dll), syarat pengemasan (tidak menimbulkan reaksi dengan isi, tertutup rapat dan kuat, kedap udara), dan syarat penandaan (setiap kemasan harus dicantumkan nama produk, kadar hara utama, berat bersih, lambang/merk, nama produsen atau penandaan lainnya). Produk dinyatakan lulus uji apabila telah memenuhi seluruh persyaratan dalam standar ini. Terkadang, dalam tahapan pemberian SNI ini dimasukkan beberapa acuan agar memenuhi standar asing

30

(luar negeri) semisal ISO, AOAC, DSM, sehingga dapat meningkatkan daya saing ekspor pupuk.

31

VI. PENUTUP A. Kesimpulan 1. Berdasarkan sifatnya pupuk dibedakan menjadi pupuk organik dan anorganik. 2. Berdasarkan macam haranya pupuk dibagi menjadi tiga yaitu pupuk tunggal, pupuk majemuk, dan pupuk alternatif. 3. Berdasarkan dari pupuk yang dicatat, maka hampir semua pupuk memiliki kandungan unsur hara makro seperti N, P, dan K. 4. Sedangkan untuk unsur hara mikro, kebanyakan mengandung unsur C, H, O, S, Ca, Mg, Mn, Zn, Mo, dan B.. B. Saran 1. Hampir semua pupuk kemasan yang telah dicatat tidak mempunyai keterangan mengenai kemasaman, tanggal pembuatan, dan tanggal kadaluarsa sehingga perusahaan pupuk perlu menambahkan mengenai keterangan tersebut. 2. SNI pupuk bermanfaat untuk memperlancar transaksi perdagangan dan

melindungi kepentingan konsumen sehingga perusahaan pupuk harus memiliki cap SNI di setiap pupuk yang diproduksi.

32

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2011. What are Fertilizer? http://www.fertilizer.org/ifa/HomePage/FERTILIZERS-THEINDUSTRY/What-are-fertilizers> Diakses tanggal 10 November 2012. <

Arafah dan M.P. Sirappa. 2003. Kajian penggunaan jerami dan pupuk N,P dan K pada lahan sawah irigasi. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan 4 : 15 24. Makinde, E.A., L.S. Ayeni, S.O. Ojeniyi, and J.N. Odedina. 2010. Effect of organic, organomineral and NPK fertilizer on nutritional quality of Amaranthus in Lagos, Nigeria. Sciencepub 5 : 91 96. Peni, T., Mardi, dan S. Riyanto. 2008. Pupuk Tunggal vs Pupuk Majemuk < http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=7&aid=1300>. Diakses tanggal 10 November 2012. Sarief, S. 1989. Fisika Kimia Tanah Pertanian. Pustaka Buana, Bandung. Syukur, A dan E.S. Harsono. 2008. Pengaruh pemberian pupuk kandang dan NPK terhadap sifat kimia dan fisika tanah pasir Pantai Samas Bantul. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan 8 : 138-145.

33

LAMPIRAN

34

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH ACARA III CARA PEMUPUKAN

Disusun oleh: Ahmad Khoirudin Asrofi Lathifatul Lailia Nur Kusumastuti Eka Putri D. Siska Ernitawati Golongan Asisten : A3 (Siang) : Basyit Wulan I. (11913) (11938) (11975) (12006) (12066)

LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

35

ACARA III CARA PEMUPUKAN

Abstraksi Praktikum Kesuburan Tanah acara III Cara Pemupukan ini dilaksanakan pada Sabtu, 20 Oktober 2012 di Kebun Fakultas Pertanian, Banguntapan, Bantul. Tujuan dari praktikum ini adalah mengenal berbagai cara pemupukan tanaman dan membuat dokumentasi dalam bentuk digital. Praktikum ini dilakukan secara berkelompok dengan cara membuat dokumentasi cara pemupukan yang dilakukan petani dalam bentuk digital. Pemupukan merupakan salah satu usaha pengelolaan kesuburan tanah. Dengan mengendalikan sediaan hara dan tanah asli saja, tanpa penambahan hara, produk pertanian akan semakin merosot. Hara dalam tanah secara berangsurangsur akan berkurang karena terangkut bersama hasil panen, pelindian, air limpasan permukaan, erosi atau penguapan. Aplikasi pupuk dilakukan dengan teknik broadcasting, ring placement, spot placement, foliar application, dan fertigation. Teknik placement dan broadcasting digunakan untuk pupuk dengan bentuk padat. Sedangkan foliar application dan fertigation untuk pupuk jenis cair. Pemupukan dengan broadcasting yaitu dengan disebar, sedang pada ring plecement dan spot placement dengan cara dibenamkan. Pada teknik foliar application dan fertigation dapat dilakukan dengan cara penyemprotan. Dengan cara pemupukan yang tepat maka akan memberikan tambahan unsur-unsur hara yang dapat digunakan tanaman untuk meningkatkan mutu dan hasil produksinya.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemupukan merupakan salah satu usaha pengelolaan kesuburan tanah. Dengan mengendalikan sediaan hara dan tanah asli saja, tanpa penambahan hara, produk pertanian akan semakin merosot. Hal ini disebabkan ketimpangan antara pasokan hara dan kebutuhan tanaman. Hara dalam tanah secara berangsur- angsur akan berkurang karena terangkut bersama hasil panen, pelindian, air limpasan permukaan, erosi atau penguapan. pemupukan bertujuan untuk menambah persediaan unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman guna meningkatkan produksi dan mutu hasil tanaman. Penempatan yang tepat dan saat pemberian merupakan faktor yang penting dalam pemupukan. Terdapat berbagai cara pemupukan, yaitu broadcasting, ring placement, spot placement, foliar application, dan fertigation. Dengan cara pemupukan yang tepat maka akan memberikan tambahan unsur-unsur hara yang dapat digunakan tanaman untuk meningkatkan mutu dan hasil produksinya. B. Tujuan Mengenal berbagai cara pemupukan tanaman dan membuat dokumentasi dalam bentuk digital. II. TINJAUAN PUSTAKA

36

Menurut pengertian umum, pupuk adalah bahan-bahan yang diberikan kepada komplek tanah tumbuh-tumbuhan supaya langsung atau tidak langsung dapat menambah zat-zat makanan tanaman yang tersedia dalam tanah. Dalam arti kata yang sempit, pupuk ialah bahan-bahan yang ditambahkan pada komplek tanah tumbuhan untuk melengkapi keadaan makanan dalam tanah yang tidak cukup mengandung unsur makanan tanaman. Pemupukan pada umumnya bertujuan untuk memelihara atau memperbaiki kesuburan tanah dengan memberikan zat-zat kepada tanah yang langsung atau tidak langsung dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanaman. Kesuburan tanah itu akan berkurang bila tidak diberi pupuk, sebab bahan-bahan mineral selalu diambil dari tanah, jadi tanah akan kehabisan bahan-bahan tersebut (Sosrosoedirdjo, 1979). Pemupukan menurut pengertian khusus ialah pemberian bahan yang dimaksudkan untuk menyediakan hara bagi tanaman. Umumnya pupuk diberikan dalam bentuk padat atau cair melalui tanah dan diserap oleh akar tanaman. Namun pupuk dapat juga diberikan lewat permukaan tanaman, terutama daun.Tujuan utama pemupukan adalah menjamin ketersediaan hara secara optimum untuk mendukung pertumbuhan tanaman sehingga diperoleh peningkatan hasil panen. Penggunaan pupuk yang efisien pada dasarnya adalah memberikan pupuk bentuk dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, dengan cara yang tepat dan pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pertumbuhan tanaman tersebut. Tanaman dapat menggunakan pupuk hanya pada perakaran aktif, tetapi sukar menyerap hara dari lapisan tanah yang kering atau mampat. Efisiensi pemupukan dapat ditaksir berdasarkan kenaikan bobot kering atau serapan hara terhadap satuan hara yang ditambahkan dalam pupuk tersebut (Nasih, 2010) Penggunaan pupuk yang benar sesuai dengan waktu dan dosisnya sangat berpengaruh baik terhadap kehidupan tanaman karena: dapat memperbaiki struktur tanah sesuai dengan yang dikehendaki oleh tanaman, dapat menggantikan unsur hara yang hilang atau habis, sehingga dapat mempertahankan keseimbangan unsur hara dalam tanah dan kesuburan tanah meningkat, dapat meningkatkan daya ikat terhadap air sehingga kebutuhan tanaman terhadap air dapat tercukupi, dapat mengikat fraksi tanah, dapat mengurangi bahaya erosi karena tanaman menjadi subur, dapat meningkatkan produksi, baik kuantitas maupun kualitas (Lestari et al., 2001).

37

Cara pemberian pupuk ada beberapa macam, yaitu (Rosmarkram dan Yuwono, 2001): A. Bentuk Padatan 1. Penyebaran (broadcasting) Dengan cara ini pupuk ditebarkan pada permukaan tanah, dilakukan sebelum tanam (pada waktu pembajakan/penggaruan/pengolahan tanah terakhir) sebagai pupuk dasar atau sesudah tanam sebagai pupuk susulan, kemudian diinjak-injak agar pupuk terbenam ke dalam tanah. a. Top dressing : pupuk disebarkan merata atau melarut alur sempit. b. Side dressing : pupuk ditebarkan di samping alur benih atau tanaman. 2. Penempatan (placement) Dengan cara ini pupuk ditempatkan secara khusus ke dalam lubang atau alur yang sudah dipersiapkan lebih dahulu. B. Bentuk Cairan 1. Aerial application : pupuk disemprotkan/dikabutkan dengan menggunakan pesawat terbang. Cara ini digunakan pada daerah perbukitan, hutan atau lahan yang luas. Pemberian pupuk dapat dikombinasikan dengan pestisida. 2. Foliar application : pupuk terlarut (cair) disemprotkan pada permukaan daun. 3. Fertigation : penggunaan sistem ini dimaksudkan pemberian air pengairan sekaligus memupuk. Pupuk yang digunakan cairan atau puput padat yang dilarutkan, ditampung dalam tangki, kemudian dialirkan dan disemprotkan dengan pompa. Larutan yang digunakan adalah amonia, asam fosfat dan KCL. Cara ini diterapkan untuk daerah padang pasir atau perkebunan besar dengan lahan berbukit. 4. Injection : cairan disuntikkan ke dalam tanah. Pupuk ammonian bertekanan diinjeksikan pada jeluk 10-20 cm, pupuk tanpa tekanan diinjeksikan dekat permukaan tanah. Pupuk cair mulai banyak digunakan karena mudah aplikasinya terutama untuk sayuran, tanaman hias, buah-buahan tertentu dan diperkirakan yang beredar sudah lebih dari 100 markah (nama dagang), komposisinya terdiri dari gabungan unsur hara primer dengan atau tambahan unsur hara sekunder dan mikro nutrisi, namun sebagian besar belum jelas identitasnya dan merupakan produk impor (Susilowati, 2002).

38

Jumlah pupuk yang diberikan berhubungan dengan kebutuhan tanaman, kandungan unsur hara dalam tanah dan kadar unsur hara pupuk, sedangkan waktu pemupukan berkaitan dengan sifat pupuk dalam melepaskan unsur hara. Pupuk yang bekerjanya cepat sebaiknya diberikan secara bertahap dan sebaliknya pupuk yang bekerjanya lambat diberikan pada awal pertanaman sekaligus (Wuryaningsih, 2000).

39

III. METODOLOGI Praktikum Kesuburan Tanah acara III yang berjudul Cara Pemupukan dilakukan pada hari Sabtu, 20 Oktober 2012 di Kebun Fakultas Pertanian, Banguntapan, Bantul. Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu gayung, ember, dan kamera. Bahanbahan yang digunakan yaitu pupuk Greenfor, dan air. Cara kerja praktikum untuk pemupukan secara fertigation adalah pertama dilarutkan pupuk pada ember sesuai takaran (misal satu sendok pupuk dalam satu liter air). Setelah homogen larutan pupuk tersebut dilarutkan pada media pertanaman. Kegiatan pemupukan ini didokumentasikan menggunakan kamera.

40

IV. HASIL PENGAMATAN Hasil dikumpulkan dalam bentuk video.

41

V. PEMBAHASAN Pemupukan menurut pengertian khusus ialah pemberian bahan yang dimaksudkan untuk menyediakan hara bagi tanaman. Umumnya pupuk diberikan dalam bentuk padat atau cair melalui tanah dan diserap oleh akar tanaman. Namun pupuk dapat juga diberikan lewat permukaan tanaman, terutama daun. Pemberian bahan yang dimaksudkan untuk memperbaiki suasana tanah, baik fisik, kimia atau biologis disebut pembenahan tanah (amandement) yang berarti perbaikan (reparation) atau penggantian (restitution). Bahan-bahan tersebut termasuk mulsa (pengawet lengas tanah, penyangga temperatur), pembenah tanah (soil conditioner, untuk memperbaiki struktur tanah), kapur pertanian (untuk menaikkan pH tanah yang terlalu rendah, atau untuk mengatasi keracunan Al dan Fe), tepung belerang (untuk menurunkan pH tanah yang semula tinggi) dan gipsum (untuk menurunkan kegaraman tanah). Rabuk kandang dan hijauan legum diberikan ke dalam tanah dengan maksud sebagai pupuk maupun pembenah tanah. Pemupukan merupakan salah satu usaha pengelolaan kesuburan tanah. Dengan mengandalkan sediaan hara dari tanah asli saja, tanpa penambahan hara, produk pertanian akan semakin merosot. Hal ini disebabkan ketimpangan antara pasokan hara dan kebutuhan tanaman. Hara dalam tanah secara berangsur-angsur akan berkurang karena terangkut bersama hasil panen, pelindian, air limpasan permukaan, erosi atau penguapan. Pengelolaan hara terpadu antara pemberian pupuk dan pembenah akan meningkatkan efektivitas penyediaan hara, serta menjaga mutu tanah agar tetap berfungsi secara lestari. Tujuan utama pemupukan adalah menjamin ketersediaan hara secara optimum untuk mendukung pertumbuhan tanaman sehingga diperoleh peningkatan hasil panen. Penggunaan pupuk yang efisien pada dasarnya adalah memberikan pupuk bentuk dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, dengan cara yang tepat dan pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pertumbuhan tanaman tersebut. Tanaman dapat menggunakan pupuk hanya pada perakaran aktif, tetapi sukar menyerap hara dari lapisan tanah yang kering atau mampat. Efisiensi pemupukan dapat ditaksir berdasarkan kenaikan bobot kering atau serapan hara terhadap satuan hara yang ditambahkan dalam pupuk tersebut.

42

Faktor yang berpengaruh terhadap pemupukan: 1. Tanah: kondisi fisik (kelerengan, jeluk mempan perakaran, retensi lengas dan aerasi), kondisi kimiawi (retensi hara tersedia, reaksi tanah, bahan organik tanah, sematan hara, status dan imbangan hara), kondisi biologis (pathogen, gulma). 2. Tanaman: jenis, umur dan hasil panen yang diharapkan. 3. Pupuk: sifat, mutu, ketersediaan dan harga. 4. Iklim: temperatur, curah hujan, panjang penyinaran dan angin. Cara pemupukan yang dicobakan pada praktikum kali ini ada lima macam yaitu broadcasting, ring placement, spot placement, foliar application dan fertigation 1. Broadcasting Pada pemberian pupuk dengan cara broadcasting atau disebar dapat dilakukan dengan dua cara yaitu top dressing dan side dressing. Pemupukan dengan cara disebar ini biasanya dilakukan sebelum tanam dan sesudah ada tanamanya. Cara ini dilakukan dengan menaburkan pupuk keseluruh areal, dilakukan sebelum tanam sebagai pupuk dasar atau sesudah tanam sebagai pupuk susulan, kemudian diinjak-injak agar pupuk terbenam kedalam tanah. Untuk pupuk organik biasanya dilakukan pada tanaman berumur pendek (semusim). Untuk pupuk anorganik yang mudah larut air, misalnya urea disebar merata dan dapat dibiarkan begitu saja atau dibenamkan tidak terlalu dalam karena peresapannya dibantu oleh air. Sedangkan untuk pupuk yang tidak larut atau sedikit larut air dan bagian utamanya terikat secara kimiawi seperti jenis fosfat (TSP) harus disebar merata kemudian dibenamkan dalam tanah. Metode ini cocok dilakukan untuk lahan sawah atau tanaman dengan jarak tanam yang rapat, perakaran merata pada tanah bagian atas dan pupuk diberikan pada jumlah yang besar. Cara ini mudah dilakukan, hemat biaya dan tenaga serta pemberian pupuk. Metode broadcasting sering digunakan karena dianggap lebih sederhana, hemat tenaga dan praktis. Kelemahan yang muncul dalam cara pemupukan seperti ini adalah antara lain sifatnya yang boros, kadar hara banyak mengalami pencucian dan akan hilang sebelum dimanfaatkan oleh tanaman, penyebaran atau percampuran pupuk tidak merata pada semua lapis olah, harus dalam jumlah yang besar dan pemberiannya terjamin pada saat tanam dengan menggunakan alat penabur pupuk dan benih dan arus menggunakan alat atau tangan. Dilihat dari sisi pertumbuhan gulma pemupukan dengan cara ini akan

43

semakin memacu pertumbuhan gulma dengan cepat dimana pertumbuhan gulma dapat menekan populasi tanaman budidaya. Disamping itu sistem pemupukan ini dapat merusak tanaman yang peka, terutama tanaman di persemaian. Pemberian pupuk sebelum tanam atau pada waktu tanam tidak selamanya disukai petani. Oleh karena itu petani seringkali memberikan tambahan pupuk setelah ada tanaman yang disebut top dressing. Pemberian pupuk N sering dilakukan dengan cara top dressing pada tanaman jagung, tebu, sayur dan padi. Pemberian pupuk P dan K secara top dressing hanya dilakukan pada perumputan yang timbul setelah beberapa bulan. Pemberian pupuk susulan harus digunakan agar daun tanaman tidak basah, sebab jika basah dapat menyebabkan daun terbakar. Bahaya daun terbakar lebih besar pada pemberian pupuk N dan K daripada pupuk P. 2. Ring placement Cara ini dilakukan dengan menempatkan pupuk kedalam parit sedalam 10-15 cm yang menelilingi tanaman selebar tajuk terluar. Parit dibuat sedalam 10-15 cm karena tanah pada lapisan tersebut merupakan penyimpan unsur hara dan pertumbuhan akar paling baik adalah pada kedalaman tersebut. Ring placement dilakukan dengan tujuan menyeimbangkan pertumbuhan akar dengan pertumbuhan tanamannya (batang dan daun). Cara ini umumnya dilakukan pada tanaman yang ditanam secara teratur dengan jarak yang lebih leluasa. Keuntungan cara ini adalah perkembangan akar yang lebih cepat dan kehilangan unsur hara yang mudah menguap lebih dapat diatasi. Metode ini cocok dilakukan pada tanah yang kurang subur, lahan kering, tanaman renggang dengan perakaran sedikit dan pada tanaman tahunan. Keuntungan yang diperoleh dari pemberian pupuk dengan metode ini adalah kontak pupuk dengan tanamna dapat dikurangi, sehingga penyematan hara dapat ditekan, pengambilan hara oleh tanaman lebih mudah, terutama bagi tanaman yang perakarannya terbatas. 3. Spot placement Teknik Pemupukan dengan cara ini yaitu dengan membuat lubang pada baris tanaman sedalam 10-30 cm (tergantung jenis tanaman) yang letaknya persis dibawah tajuk disekitar batang, dengan tugal, kemudian masukan pupuk yang sudah disiapkan tersebut kedalam lubang dan tutup kembali dengan tanah. Pada cara ini pupuk ditempatkan pada suatu titik di kanan atau kiri tanaman. Cara ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa pupuk yang diberikan jumlahnya sedikit

44

sehingga dapat menghindari pengikatan pupuk oleh tanah (pada pemupukan fosfat dan kalium pada tanah kering). 4. Foliar application Pemupukan dengan cara ini dilakukan untuk pupuk yang berbentuk cair. Pupuk cair tadi disemprotkan pada permukaan daun, cara ini dilakukan untuk melengkapi pemberian pupuk melalui tanah untuk segera mengatasi gejala kekahatan yang muncul, terutama hara mikro dan hara yang immobile dalam tubuh tanaman. Unsur hara yang berada dalam pupuk masuk kedalam tanaman melalui mulut stomata secara difusi atau osmosis. Teknik pemupukan dengan cara ini yaitu dengan menyiapkan satu liter larutan pupuk sesuai dengan takaran, kemudian masukan kedalam tabung penyemprotan dan lakukan pemupukan pada daun. Karena medianya daun maka tanaman akan menyerap unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang lebih cepat dan lebih sempurna. Pupuk tersebut sebaiknya disemprotkan pada daun bagian bawah, karena daun bagian bawah ini lebih banyak mengandung stomata sehingga lebih maksimal dalam menyerap pupuk yang diberikan. Banyak petani yang mengembangkan dengan cara ini. penyemprotan pupuk yang lengkap dan tepat pada waktunya akan merangsang tanaman meningkatkan hasil. peningkatan hasil jauh lebi melampaui imbangan dengan hara yang dibutukan oleh tanaman. Cara ini dipandang cukup efektif karena tanaman lebih mudah menyerap pupuk dalam bentuk cair daripada bentuk padat. Beberapa keuntungan pemupukan lewat daun diantaranya ; - Menyuburkan tanaman dalam keadaan kurang air - Menaikkan jumlah dan memperbaiki mutu hasil panen. - Dapat diberikan bersama-sama dengan penyemprotan pestisida yang berarti menghemat tenaga dan biaya atau secara ekonomi menguntungkan. Salah satu kelemahan dari pemupukan dengan cara ini adalah bahwa bila diberikan sendiri tanpa pestisida akan memerlukan jumlah air yang sangat banyak untuk satu areal pertanamannya. Selain itu kerugian dari penggunaan metode ini adalah pupuk akan lebih mudah hilang yang dapat diakibatkan oleh intensitas curah hujan yang tinggi. Pemupukan dengan cara ini banyak diterapkan pada tanaman sayur-sayuran, bungabungaan dan tanaman buah-buahan atau perkebunan.

45

5. Fertigation Cara pemupukan ini merupakan cara yang cepat karena kita tinggal melarutkan pupuk dalam air sesuai takaran kemudian menyiramkannya pada media pertanaman. Biasanya cara pemupukan ini digunakan pada tanaman yang berada di green house. Cara pemupukan ini biasanya digunakan pada tanaman sayuran. Cara seperti ini sangat efektif dan mudah, yang menjadi kekurangan adalah jika pelarutan pupuk tidak sesuai dosis maka akan membahayakan tanaman, selain itu jika diaplikasikan dengan mengikutkannya pada saluran irigasi maka akan menimbulkan pencemaran air.

46

VI. PENUTUP A. Kesimpulan Ada lima cara pemupukan yang dilaksanakan pada praktikum ini yaitu 1. Cara pemupukan broadcasting adalah menyebarkan pupuk ke media tanam secara merata. 2. Cara pemupukan ring placement adalah membuat parit di sekeliling tanaman dan menimbun pupuk di dalam parit. 3. Cara pemupukan spot placement adalah membuat lubang dengan tugal di antara barisan tanaman dan memasukkan pupuk ke dalam lubang tersebut kemudian ditimbun. 4. Cara pemupukan foliar aplication adalah menyemprotkan larutan pupuk pada permukaan daun 5. Cara pemupukan fertigation adalah menyiramkankan larutan pupuk ke dalam media tanam secara merata. B. Saran 1. Pada saat pemutaran video sebaiknya semua cara pemupukan sehingga praktikan dapat menilai secara langsung kelebihan dan kekurangan masing-masing cara pemupukan. 2. Sebaiknya diadakan kegiatan cara pemupukan secara langsung di lahan oleh praktikan setelah dilakukan pemutaran video tentang cara pemupukan.

47

DAFTAR PUSTAKA Lestari, A., S. Murdiyati dan Djumali. 2001. Pengaruh dosis pupuk terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kapas. Jurnal Fakultas Pertanian UMY 5 : 912. Nasih. 2010. Pengertian Pemupukan. <nasih.staff.ugm.ac.id>. Diakses pada 27 Oktober 2012. Rosmarkam, A. dan N.W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta. Sosrosoedirdjo, S dan B. Rifai. 1979. Ilmu Memupuk. Yasaguna. Jakarta. Susilowati. 2002. Komposisi Pupuk Cair dari Berbagai Markah Yang Beredar di Indonesia. <http://www.dprin.go.id/data/industry/abstech/abs0507.htm>. Diakses pada 28 Oktober 2012 Wuryaningsih. 2000. Pengaruh jarak tanam dan dosis pemupukan nitrogen terhadap pertumbuhan dan produksi bunga mawar kultivar Cherry Brandy. Hortikultura 5 : 101.

48

LAMPIRAN

49

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH ACARA IV PEMBUATAN KOMPOS

Disusun oleh: Ahmad Khoirudin Asrofi Lathifatul Lailia Nur Kusumastuti Eka Putri D. Siska Ernitawati Golongan Asisten : A3 (Siang) : Basyit Wulan I. (11913) (11938) (11975) (12006) (12066)

LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

50

ACARA IV PEMBUATAN KOMPOS


Abstraksi Praktikum acara 4 dengan judul Pemuatan Kompos dilaksanakan pada hari Rabu, 17 Oktober 2012 di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tujuan dari praktikum ini adalah unutk mengenal cara pembuatan kompos dan mengamati perombakan kompos dari berbagai sampah organik. Bahan-bahan yang digunakan adalah dedaunan, jerami, kotoran sapi, kotoran kambing, tanah, plastik bening, air, activator EM4, dan kertas label serta alat yang digunakan adalah gunting. Ada 3 perlakuan yaitu: kontrol, ditambahkan tanah, dan ditambahkan activator EM4. Pengamatan dilakukan sampai minggu ke 2 dengan indikator bau, warna, kadar air, dan tingkat perombakan. Dari hasil pengamatan selama 2 minggu tersebut, didapatkan bahwa dengan pada umumnya perlakuan ditambahkan activator EM4 mutunya lebih baik yaitu dilihat dari baunya yang berbau menyerupai humus, warnanya coklat kehitaman, kadar airnya rendah, dan tingkat perombakannya cepat.

I. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Kompos adalah salah satu pupuk yang berguna bagi tanaman. Kompos mempunyai kandungan hara yang tinggi yang dibutuhkan tanaman. Kualitas kompos selain dipengaruhi oleh bahan dasar, iklim dan lingkungan juga dipengaruhi oleh proses pembuatan. Proses pembuatan kompos mempunyai pengaruh yang besar terhadap kualitas kompos yang dihasilkan. Pengomposan merupakan suatu proses biologis oleh mikroorganisme yang mengubah sampah padat menjadi bahan yang stabil menyerupai humus dengan macam-macam teknik. Kegunaan utama kompos adalah sebagai penggembur tanah karena pupuk kompos dapat memperbaiki sifat-sifat tanah dan kemampuannya dalam menyediakan mikronutrient untuk tanaman, yang tidak dimiliki oleh pupuk mineral. Pembuatan kompos ini terdiri dari beberapa langkah. Seperti pencatatan suhu kompos, pengadukan sampai dengan pemanenan. Keberhasilan pembuatan kompos sangat tergantung pada langkah-langkah yang dijalankan. Kesalahan yang terjadi pada salah satu langkah dapat mengakibatkan kegagalan pembuatan kompos. B. Tujuan Mengenal pembuatan kompos dan mengamati perombakan kompos dari berbagai sampah organik.

51

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Kompos menurut Lingga dan Marsono (2002) merupakan hasil dari pelapukan bahan-bahan berupa dedaunan, jerami, alang-alang, rumput, kotoran hewan, sampah kota, dan sebagainya. Sedangkan menurut Sutejo (2002) kompos merupakan zat akhir suatu proses fermentasi tumbuhan sampah atau seresah tanaman dan ada kalanya pula termasuk bangkai tanaman Karena bahan-bahan organik yang dipergunakan bagi pembuatan kompos tidak begitu jauh berbeda dengan bahan-bahan organis pembuat pupuk hijau. Tentunya banyak orang yang menanyakan apakah keuntungan atau kelebihannya antara pupuk hijau dengan kompos. Untuk memberikan kejelasan dapat dikemukakan pertimbangan-pertimbangan mengapa kompos perlu dibuat (Sutejo, 2002): a. Susunan bahan organik yang segar yang dibenamkan kenyataannya masih kasar dan daya ikatnya terhadap air umumnya masih kecil. Jadi terbenamnya bahan-bahan organik dalam tanah, terutama tanah-tanah yang ringan, tanah berpasir dan lain-lain dapat menjadikan keadaan tanah itu lebih terurai, sedang melapuknya bahan-bahan organik itu memerlukan waktu dan air, sehingga apabila hujan turun dengan deras banyak kemungkinan terangkutnya butiran-butiran tanah yang keadaannya telah menjadi ringan atau terurai. b. Dalam tanah yang keadaannya cukup banyak mengandung udara dan air, bahanbahan organik yang telah dibenamkan akan cepat melapuk dan terurai. Sehingga jumlah CO2 dalam tanah akan cepat pula meningkat dan hal ini akan sangat mengganggu pada pertumbuhan tanaman. Selain itu jumlah NO3 dalam tanah akan berkurang karena adanya pengikatan-pengikatan oleh jasad renik pengurai bahanbahan organik tadi. c. Pada pembuatan kompos ternyata biji-biji tanaman pengganggu serta telur larva hama tanaman dan benih penyakit tanaman yang terangkut pada bahan-bahan organik sebagian besar dapat terbunuh atau dilumpuhkan, dikarenakan panas yang timbul dalam tumpukan kompos. d. Seresah atau sisa-sisa bahan organik itu jika dibakar, baik dengan maksud memperoleh abunya (mempercepat proses mineralisasi) atau maksud lain, lebih baik dijadikan kompos:

52

1. Pembakaran tidak akan memperoleh penambahan penambahan humus dan N ke dalam tanah karena habis terbakar ataupun kalau ada jumlahnya relatif sangat sedikit. 2. Jika dijadikan kompos, baik humus dan N akan bertambah. Pupuk kandang merupakan pupuk yang telah lama dikenal manusia dan terbuat dari kotoran padat hewan, urin, dan sisa-sisa tanaman yang dibiarkan membusuk dengan bantuan mikroorganisme tanah yang mampu membusukkan sampah organik kompleks menjadi bahan-bahan yang mudah diserap tanaman. pupuk kandang mempunyai potensi untuk digunakan di lahan pertanian terutama pada lahan yang bahan organiknya rendah seperti lahan pasiran. Pupuk ini digunakan untuk memperbaiki struktur dan tekstur tanah, menambah bahan organik tanah, meningkatkan kapasitas menyimpan air, dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah (Isnawan, 2003). Manfaat penggunaan kompos terhadap tanah adalah menambah kesuburan tanah, memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah dan gembur, memperbaiki sifat kimiawi tanah sehingga unsur hara yang tersedia dalam tanah lebih mudah diserap oleh tanaman, memperbaiki tata air dan udara di dalam tanah sehingga suhu tanah akan lebih stabil, mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara sehingga tidak mudah larut oleh air hujan atau air pengairan dan memperbaiki kehidupan jasat renik yang hidup di dalam tanah (Kaharudin dan Farida, 2010). Pengomposan merupakan proses penguraian senyawa-senyawa yang terkandung dalam sisa-sisa bahan organik dengan suatu perlakuan khusus yang bertujuan agar tanaman lebih mudah memanfaatkannya. Hasil proses inilah yang lazim disebut pupuk kompos. Pengomposan juga merupakan salah satu cara pengolahan limbah yang mengandung bahan organik biodegradable (dapat diuraikan mikroorganisme). Proses perubahan sampah menjadi kompos dilakuakan secara aerobic (memerlukan oksigen). Dari berbagai macam sampah, yang dapat dijadikan kompos antara lain sampah dapur (kupasan sayur), potongan rumput, endapan the atau kopi, sampah kebun, kulit buahbuahan, daun-daunan, sisa hidangan dan kertas serta pupuk kandang (Suprijadi dan Tejaswarwana, 1994). Pengomposan bertujuan untuk merubah bahan yang mempunyai kandungan C/N ratio tinggi menjadi bahan yang mempunyai kandungan C/N ratio rendah, sehingga

53

mendekati C/N ratio tanah. Rasio C/N adalah perbandingan C (karbon) dan N (nitrogen), bila bahan organik yang memiliki rasio C/N tinggi tidak dikomposkan terlebih dahulu (langsung diberikan ke tanah) maka proses penguraiannya akan terjadi di tanah. Ini tentu kurang baik karena proses penguraian bahan segar dalam tanah biasanya berjalan cepat karena kandungan air dan udaranya cukup. Akibatnya, CO2 dalam tanah meningkat sehingga dapat berpengaruh buruk bagi pertumbuhan tanaman. Bahkan, untuk tanah ringan dapat mengakibatkan daya ikatnya terhadap air menjadi kecil serta struktur tanahnya menjadi kasar dan berserat (Lingga dan Marsono, 2002). Pada perombakan bahan-bahan organik selama pengomposan terjadi perubahan secara terus menerus karena aktifitas berbagai kelompok mikrobia. Tahap permulaan keadaan mesofil yang aktif mikrobia kelompok jamur dan bakteri pembentuk asam. Setelah suhu meningkat dari 400 C kegiatan mikrobia pemula digamti oleh kelompok bakteri aktinimycetes dan jamur termofil. Pada tahap selanjutnya setelah suhu mencapai 700 C yang aktif bakteri pembentuk spora. Setelah suhu turun kembali jamur dan bakteri mesofil aktif kembali (Sudasiman, 1980). Pengomposan dapat dipercepat dengan inokulasi menggunakan jasad selulolitik yang sesuai, di samping memperbaiki kandungan nitrogen dan fosfor. Selanjutnya didapatkan bahwa jamur selulolitik mesofil jika digunakan untuk inokulasi dapat mempercepat pengomposan dan memperbaiki kualitas kompos. Pada perombakan selulosa oleh mikrobia berperan ensim kompleks yang disebut selulase. Ensim kompleks ini terdiri atas 3 ensim ialah (Sutejo, 2002): 1. Endo 1,4--D-glukanase yang memecah ikatan -1,4 pada bagian amorf sellulosa, dan menghasilkan potongan rantai panjang dengan gugus bekas. 2. Ekso 1,4--D-glukanase yang merombak struktur kristal selulosa, dan

membebaskan disakarida selubiosa dari rantai ujung selulosa. 3. -glukosidase yang menghidrolisis selubiosa menjadi glukosa.

54

III. METODOLOGI Praktikum Acara IV dengan judul Pembuatan Kompos ini dilaksanakan pada hari Rabu, 17 Oktober 2012 di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bahan-bahan yang digunakan adalah dedaunan, jerami, kotoran sapi, kotoran kambing, tanah, plastik bening, air, activator EM4, dan kertas label. Alat yang digunakan adalah gunting. Cara kerja yang dilaksanakan dalam pembuatan kompos adalah sebagai berikut: pertama-tama kompos dibuat dengan bahan utama seresah (dedaunan, jerami, dan pupuk kandang). Dipotong menjadi ukuran kecil-kecil sekitar < 2 cm, dibuat perlakuan kontrol, ditambahkan tanah, dan ditambahkan activator EM4. Kemudian diaduk sampai merata dan kadar air diatur hingga mencapai sekitar 30%. Lalu dimasukkan kedalam plastik bening, tutup rapat, dan beri label sesuai perlakuan. Diamati setiap minggu (selama 2 minggu) terhadap kenampakan yang terjadi, meliputi pengamatan bau, warna, kadar air, dan tingkat perombakan.

55

IV. HASIL PENGAMATAN

Kenampakan yang terjadi No. Indikator Kontrol 1 2 3 4 Bau Warna Kadar Air Tingkat Perombakan + + + + Dedaunan +Tanah + + + + +EM4 + + + + Kontrol + + ++ + Jerami +Tanah + ++ ++ ++ +EM4 + ++ ++ + Kotoran Kambing Kontrol + + + + +Tanah + ++ ++ ++ +EM4 ++ + + + Kotoran Sapi Kontrol + ++ + + +Tanah ++ ++ ++ + +EM4 ++ + + ++

Tabel 4.1. Tingkat kebaikan mutu kompos pada minggu pertama

Kenampakan yang terjadi No. Indikator Kontrol 1 2 3 4 Bau Warna Kadar Air Tingkat Perombakan + + + + Dedaunan +Tanah + ++ + ++ +EM4 + ++ ++ ++ Kontrol + ++ +++ ++ Jerami +Tanah ++ ++ ++ ++ +EM4 + ++ +++ +++ Kotoran Kambing Kontrol + ++ ++ + +Tanah ++ +++ ++ ++ +EM4 ++ + ++ + Kotoran Sapi Kontrol + + ++ + +Tanah ++ ++ ++ ++ +EM4 ++ + ++ ++

Tabel 4.2. Tingkat kebaikan mutu kompos pada minggu kedua Keterangan: Tanda (+) menunjukkan tingkat kebaikan indikator mutu kompos. Semakin banyak tanda (+) menunjukkan indikator tersebut mendekati indikator mutu kompos yang baik (bau menyerupai humus, warna coklat kehitaman, kadar air rendah, dan tingkat perombakan cepat).

56

V. PEMBAHASAN Kompos adalah pupuk organik yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari limbah/sisa tanaman, kotoran hewan atau manusia seperti pupuk kandang, pupuk hijau dan humus yang telah mengalami dekomposisi. Kompos dari sisa/limbah tanaman maupun limbah ternak mengandung unsur hara baik mikro maupun makro yang lengkap (N, P, K, Ca, Mg, Fe, Cu, Zn, Mn, B dan S). Pembuatan kompos merupakan proses mikrobiologis yang berlangsung di alam dengan pertolongan jasad selulotik alam. Jadi, pada dasarnya pembuatan kompos merupakan suatu proses dekomposisi sisa-sisa tanaman, sisa makanan, kotoran ternak, urine ternak, sampah dan sebagainya atau suatu usaha untuk merangsang perkembangan bakteri (jasad-jasad renik) untuk melakukan penghancuran bahan-bahan yang dikomposkan tadi sehingga terurai menjadi senyawa lain yang dibantu pula oleh suhu dan air. Hasil terpenting dari penguraian bahan-bahan itu adalah unsur hara yang terikat dalam senyawa organik yang sukar larut diubah menjadi senyawa organik yang larut sehingga berguna bagi tanaman. Pengomposan pada dasarnya merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikrobia yang mampu mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Mikrobia tersebut adalah bakteri, fungi, dan jasad renik lainnya. Cara pembuatan kompos bermacam-macam, tergantung pada keadaan tempat pembuatan, budaya orang, mutu yang diinginkan, jumlah kompos yang dibutuhkan, macam bahan yang tersedia, dan selera pembuat. Yang perlu diperhatikan dalam proses pengomposan adalah sebagai berikut : 1) Kelembaban timbunan bahan kompos. Kelembapan merupakan unsur penting dalam metabolisme mikroba. Kelembapan yang baik adalah 50-60%, terlalu basah (>60%) dapat mengakibatkan muncul bau yang tidak sedap dan aktivitas mikroba menurun, temperatur juga menurun dan jika terlalu kering (<40%) aktivitas mikroba juga menurun. 2) Aerasi timbunan. Aerasi berhubungan erat dengan kelengasan. Apabila terlalu anaerob, mikrobia yang hidup hanya mikrobia anaerob saja, mikrobia aerob mati atau terhambat pertumbuhannya. Sedangkan bila terlalu aerob udara bebas masuk kedalam timbunan bahan yang dikomposkan sehingga menyebabkan hilangnya nitrogen relatif banyak karena menguap berupa NH3. Aerasi udara diperlukan untuk menghindari terjadinya kondisi anaerob yang menimbulkan bau. Pembalikan secara

57

teratur dapat meningkatkan aerasi. Kekurangan udara akan menimbulkan gas metan, aktivitas mikroba menurun dan temperatur menurun. Sebaliknya, kelebihan aerasi menyebabkan bahan kompos menjadi kering dan unsur N hilang (ke udara bebas). 3) Temperatur harus dijaga tidak terlalmpau tinggi (maksimum 60C). temperature ini berpengaruh langsung terhadap kelembaban. Jika suhu tinggi-kelembaban rendah, sebaliknya jika suhu rendah-kelembaban tinggi. Selama pengomposan selalu timbul panas sehingga bahan organik yang dikomposkan temperaturnya naik, bahkan sering temperatur mencapai 60C. Pada temperatur tersebut, mikrobia mati atau sedikit sekali yang hidup. Untuk menurunkan temperatur tersebut, umumnya dilakukan pembalikan timbunan bakal kompos. 4) Suasana keasaman. Proses pengomposan kebanyakan menghasilkan asam-asam organik, sehingga menyebabkan pH turun. Pembalikan timbunan dapat bermanfaat untuk menetralisasi keasaman. 5) Netralisasi keasaman. Netralisasi keasaman juga sering dilakukan dengan menambah bahan pengapuran, misalnya: kapur, dolomit, atau abu. Pemberian abu tidak hanya menetralisasi, tetapi juga menambah hara Ca, K, dan Mg, dalam kompos yang dibuat. 6) Kualitas kompos. Untuk mempercepat dan meningkatkan kualitas kompos, timbunan diberi pupuk yang mengandung hara, terutama P. Perkembangan mikrobia yang cepat memerlukan hara lain, termasuk P. Sebetulnya, P disediakan untuk mikrobia sehingga perkembangan dan kegiatannya menjadi lebih cepat. Pemberian hara ini juga meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan karena kadar P dalam kompos lebih tinggi dari biasa, karena residu P sukar tercuci dan tidak menguap. 7) C/N ratio. Mikroba membutuhkan karbon (C) 20 sampai 25 kali lebih banyak dari nitrogen (N) untuk tetap aktif. Sumber karbon pada pembuatan kompos dapat berasal dari potongan kayu kecil, serbuk gergaji, jerami padi dan bahan lain yang berserat tinggi. Sumber N berasal dari kotoran ternak. C/ N ratio > 25 akan menyebabkan dekomposisi berjalan lamban karena kekurangan N sebaliknya C/N ratio < 20 akan menimbulkan bau. Prinsip yang digunakan dalam pembuatan kompos adalah proses dekomposisi atau penguraian yang merubah limbah organik menjadi pupuk organik melalui aktifitas menyebabkan terjadinya pembentukan gas ammonia sehingga

58

biologis pada kondisi yang terkontrol. Dekomposisi pada prinsipnya adalah menurunkan karbon dan nitrogen (C/N) ratio dari limbah organik sehingga, pupuk organik dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pada proses dekomposisi akan terjadi peningkatan temperatur yang dapat berfungsi untuk membunuh biji tanaman liar (gulma), bakteri-bakteri patogen dan membentuk suatu produk perombakan yang seragam berupa pupuk organik. Beberapa unsur penting yang diperlukan agar proses penguraian dapat berjalan dengan baik yaitu; 1.) Karbon (C) sebagai sumber energi bagi mikroba pengurai dan akan diurai melalui proses oksidasi yang menghasilkan panas, 2.) Nitrogen (N) sebagai sumber protein bagi bakteri untuk bertumbuh dan memperbanyak diri, dan 3.) Oksigen (O) sebagai bahan untuk mengoksidasi unsur karbon melalui proses dekomposisi dan air (H2O) untuk menjamin proses dekomposisi berlangsung baik dan tidak menyebabkan suasana anaerob. Beberapa syarat yang perlu diperhatikan mengenai tempat pembuatan kompos yaitu: 1. Lantai lebih tinggi dari sekitarnya untuk menghindari genangan air. 2. Memiliki atap untuk mengindari sinar matahari langsung atau hujan. Cara pembuatan kompos pada umumnya adalah sebagai berikut. Pertama siapkan bahan-bahan yang diperlukan : kotoran sapi 80 83%, serbuk gergaji 5%, abu sekam 10%, kalsit/Kapur 2%, dekomposer 0,25%. Kemudian proses pembuatan yangumum adalah sebagai berikut: 1.) Kotoran sapi dikumpulkan dan ditiriskan selama satu minggu untuk mengurangi kadar air ( 60%), 2.) Kotoran sapi yang sudah ditiriskan kemudian dicampur dengan bahan-bahan organik seperti ampas gergaji, abu sekam, kapur dan dekomposer. Seluruh bahan dicampur dan diaduk merata, 3.) Setelah seminggu tumpukan dibalik/diaduk merata untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan. Pada tahap ini diharapkan terjadi peningkatan suhu sampai 600 C, dibiarkan lagi selama seminggu dan dibalik setiap minggu, 4.) Pada minggu keempat kompos telah matang dengan warna pupuk coklat kehitaman bertekstur remah tak berbau, untuk mendapatkan bentuk yang seragam serta memisahkan dari bahan yang tidak diharapkan (misalnya batu, potongan kayu, rafia) maka pupuk diayak/disaring, dan 5.) Kompos siap untuk diaplikasikan pada lahan atau tanaman. Indikator mutu kompos adalah sebagai berikut: 1. Struktur remah dan lunak, tidak menggumpal atau melumpur.

59

2. Warna coklat kehitaman, terlalu hitam disebabkan suasana terlalu basah (anaerob), terlalu cerah disebabkan suasana terlalu kering (aerob). 3. Kadar air sekitar 30%, jika diperas dengan tangan tak ada air yang menetes. 4. Aroma menyerupai humus tanah, yakni agak harum (tidak berbau busuk). 5. Reaksi pH sekitar 6-7, terlalu rendah berarti kurang aerasi. 6. Kadar bahan organic 30-60%, nisbah C/N sekitar 15. Manfaat penggunaan kompos terhadap tanah adalah menambah kesuburan tanah, memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah dan gembur, memperbaiki sifat kimiawi tanah sehingga unsur hara yang tersedia dalam tanah lebih mudah diserap oleh tanaman, memperbaiki tata air dan udara di dalam tanah sehingga suhu tanah akan lebih stabil, mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara sehingga tidak mudah larut oleh air hujan atau air pengairan dan memperbaiki kehidupan jasat renik yang hidup di dalam tanah. Salah satu pengujian yang biasanya dilakukan diakhir pembuatan kompos (biasanya pada minggu ke 4) adalah pengujian pH dan DHL (Daya Hantar Listrik). Namun pada pembuatan kompos acara 4 ini, kedua pengujian tidak dilakukan karena pengamatan hanya sampai minggu ke-2. Alasan pengamatan hanya sampai minggu ke-2 adalah karena tujuan praktikum hanya dikhususkan untuk mengetahui tingkat perombakan masing-masing bahan organik pada tiap perlakuan yang diberikan (kontrol, ditambahkan tanah, ditambahkan activator EM4). Melalui nilai DHL dapat diketahui proses penyerapan unsur hara oleh akar. DHL yang tinggi akan menambah kadar garam di dalam tanah sehingga akar sulit untuk menyerap unsur-unsur hari dalam tanah. Nilai DHL ini berkaitan erat dengan adanya pelepasan ion-ion yang ada dalam bahan kompos. Dengan semakin meningkat ion yang dihasilkan maka diikuti oleh semakin besarnya nilai DHL. Sehingga memiliki korelasi yang positif. Namun, nilai DHL ini tidak mempengaruhi kualitas kompos yang dihasilkan. Berikut adalah hasil pengamatan pembuatan kompos selama 2 minggu pada praktikum acara 4 ini: 1. Dedaunan Pengamatan terakhir pada perlakuan dedaunan kontrol, menunjukkan bahwa baunya masih menyerupai seresah dedaunan belum ada perubahan yang berarti,

60

warnanya masih coklat muda belum menunjukkan perubahan kearah kompos matang, kadar airnya masih tinggi, dan tingkat perombakannya masih rendah dilihat dari ukuran dedaunannya masih sama seperti ukuran awal belum terdekomposisi menjadi ukuran yang lebih kecil. Pada perlakuan dedaunan+tanah, baunya belum berbau humus, warnanya sudah lumayan coklat kehitaman, kadar airnya masih tinggi, dan tingkat perombakannya sudah lumayan terlihat dari ukuran dedaunannya yang menjadi lebih kecil dibandingkan ukuran awalnya. Pada perlakuan dedaunan+EM4, baunya belum berbau humus, warnanya lumayan coklat kehitaman, kadar airnya sudah lebih rendah, dan tingkat perombakannya sudah lumayan terlihat dari ukuran dedaunannya yang menjadi lebih kecil dibandingkan ukuran awalnya. Jadi, dilihat secara keseluruhan pada dedaunan yang ditambahkan EM4 proses pengomposan lebih cepat daripada perlakuan kontrol maupun yang ditambahkan tanah. Hal tersebut karena dengan penambahan EM4 artinya mikroorganisme dekomposer lebih banyak dan lebih aktif sehingga secara otomatis akan mempercepat pengomposan. 2. Jerami Pengamatan terakhir pada perlakuan jerami kontrol, menunjukkan bahwa baunya masih menyerupai jerami mentah belum ada perubahan yang berarti, warnanya sudah lumayan coklat kehitaman, kadar airnya sudah cukup rendah, dan tingkat perombakannya sudah lumayan terlihat dari ukuran jeraminya yang menjadi lebih kecil dibandingkan ukuran awalnya. Pada perlakuan jerami+tanah, baunya sudah mulai berbau humus, warnanya sudah lumayan coklat kehitaman, kadar airnya sudah lumayan berkurang, dan tingkat perombakannya sudah lumayan terlihat dari ukuran jeraminya yang menjadi lebih kecil dibandingkan ukuran awalnya. Pada perlakuan jerami+EM4, baunya belum berbau humus, warnanya lumayan coklat kehitaman, kadar airnya sudah rendah, dan tingkat perombakannya terhitung cepat terlihat dari ukuran jeraminya yang menjadi lebih kecil dibandingkan ukuran awalnya.

61

Jadi, dilihat secara keseluruhan pada jerami yang ditambahkan EM4 proses pengomposan lebih cepat daripada perlakuan kontrol maupun yang ditambahkan tanah. Hal tersebut karena dengan penambahan EM4 artinya mikroorganisme dekomposer lebih banyak dan lebih aktif sehingga secara otomatis akan mempercepat pengomposan. 3. Kotoran kambing Pengamatan terakhir pada perlakuan kotoran kambing kontrol, menunjukkan bahwa baunya masih menyerupai kotoran kambing mentah belum ada perubahan yang berarti, warnanya sudah mulai berubah, kadar airnya mulai berkurang, dan tingkat perombakannya masih belum terlihat nyata. Pada perlakuan kotoran kambing+tanah, baunya sudah mulai berbau humus, warnanya sudah tampak coklat kehitaman, kadar airnya sudah lumayan berkurang, dan tingkat perombakannya sudah lumayan terlihat dari tekstur kotoran sapi yang terlihat lebih halus daripada tekstur awalnya. Pada perlakuan kotoran kambing+EM4, baunya sudah mulai berbau humus, warnanya belum berubah, kadar airnya sudah lumayan berkurang, dan tingkat perombakannya masih belum terlihat nyata. Jadi, dilihat secara keseluruhan proses pengomposan kotoran kambing yang ditambahkan tanah lebih cepat daripada perlakuan control maupum yang ditambahkan EM4. Hal tersebut dapat dijelaskan karena pada kotoran kambing sendiri telah banyak mikroorganisme dekomposer, sehingga tanpa penambahan EM4 pun proses pengomposannya hampir sama bahkan leih cepat daripada pengomposan menaggunakan EM4. 4. Kotoran sapi Pengamatan terakhir pada perlakuan kotoran sapi kontrol, menunjukkan bahwa baunya masih menyerupai kotoran sapi mentah belum ada perubahan yang berarti, warnanya belum berubah, kadar airnya mulai berkurang, dan tingkat perombakannya masih belum terlihat nyata. Pada perlakuan kotoran sapi+tanah, baunya sudah mulai berbau humus, warnanya sudah lumayan coklat kehitaman, kadar airnya sudah lumayan berkurang, dan tingkat perombakannya sudah lumayan terlihat dari tekstur kotoran sapi yang terlihat lebih halus daripada tekstur awalnya.

62

Pada perlakuan kotoran sapi+EM4, baunya sudah mulai berbau humus, warnanya belum berubah, kadar airnya sudah lumayan berkurang, dan tingkat perombakannya sudah lumayan terlihat dari tekstur kotoran sapi yang terlihat lebih halus daripada tekstur awalnya. Jadi, dilihat secara keseluruhan proses pengomposan kotoran sapi yang ditambahkan tanah dan yang ditambahkan EM4 hampir sama cepatnya daripada perlakuan kontrol. Hal tersebut dapat dijelaskan karena pada kotoran sapi sendiri telah banyak mikroorganisme dekomposer, sehingga tanpa penambahan EM4 pun proses pengomposannya hampir sama cepat dengan pengomposan menaggunakan EM4.

63

VI. PENUTUP A. Kesimpulan 1. Pengomposan merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikrobia yang mampu mempercepat proses dekomposisi bahan organik. 2. Bahan dasar pembuatan kompos dapat berupa kotoran sapi, kotoran kambing, dedaunan, ataupun jerami. 3. Indikator kompos matang (mutu baik) adalah sebagai berikut: berbau menyerupai humus (harum, tidak bau busuk), warna cokelat kehitaman, kadar air rendah, dan tingkat perombakan cepat. 4. Berdasarkan hasil pengamatan selama 2 minggu, secara umum proses pengomposan dengan penambahan activator EM4 lebih cepat. Kecuali pada bahan kotoran (kambing maupun sapi), penambahan EM4 tidak begitu berpengaruh karena mikroorganisme dekomposer dalam kotoran itu sendiri sudah banyak. B. Saran 1. Ada baiknya pada praktikum ini praktikan juga diajarkan membuat pupuk cair tidak hanya dalam bentuk padat saja seperti kompos.

64

DAFTAR PUSTAKA Isnawan , B. H. 2003. Kajian pemupukan N P K tanaman jagung manis dengan berbagai takaran pupuk kandang di tanah regosol. Jurnal Ilmu- Ilmu Pertanian Agr UMY 9 : 79 . Kaharudin dan S.M. Farida. 2010. Manajemen Umum Limbah Ternak Untuk Kompos dan Biogas. <http://ntb.litbang.deptan.go.id/ind/pu/psds/Limbah.pdf>. Diakses tanggal 11 November 2012. Lingga, P dan Marsono. 2002. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Jakarta. Sudasiman, K.V. 1980. Microbiological Succession during Decommposition of Organik Matter in Heese. P.R. Compost Technology. FAO of UN Proj. Field Doc. 3: 6369. Suprijadi dan R. Tejasarwana. 1994. Prospek pupuk organik dan pengelolaannya pada padi sawah di lahan tadah hujan. Tropika. 5 : 42-49. Sutejo, M.M. 2002. Pupuk Dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.

65

LAMPIRAN

66

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH ACARA V UJI MUTU KOMPOS

Disusun oleh: Ahmad Khoirudin Asrofi Lathifatul Lailia Nur Kusumastuti Eka Putri D. Siska Ernitawati Golongan Asisten : A3 (Siang) : Basyit Wulan I. (11913) (11938) (11975) (12006) (12066)

LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

67

ACARA V UJI MUTU KOMPOS

Abstraksi Praktikum acara VI Uji Mutu Kompos ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 17 Oktober 2012, di Laboratorium Kimia Dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui mutu kematangan kompos dengan metode perkecambahan dan pertumbuhan vegetatif. Perkecambahan adalah proses untuk mencapai pertumbuhan tanaman. Cara kerja yang dilakukan antara lain disiapkan dua wadah diisi dengan tanah pasir dan kompos. Lalu ke dalam masing-masing media dimasukkan 20 biji bayam cabut pada permukaan, ditambahkan air dengan botol semprot, dan lengas dijaga selama percobaan agar media tersebut tetap lembab. Setelah tujuh hari dihitung jumlah biji yang tumbuh. Hasil yang diperoleh yaitu pada kompos sekam memiliki gaya berkecambah paling tinggi serta indeks vigor paling tinggi pula. Dapat dikatakan kompos sekam sudah siap untuk digunakan. Kompos dari kotoran sapi, kotoran kambing, sekam+kotoran kambing, serta kotoran sapi+kotoran kambing tidak menunjukkan gaya berkecambah dan indeks vigor ini menandakan bahwa kompos tersebut masih mentah sehingga biji tidak dapat berkecambah.

I. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Kompos merupakan campuran kotoran hewan, bahan tanaman, dan bahan organik lain yang telah mengalami perombakan atau pembusukan oleh mikroba. Kompos sangat diperlukan oleh petani karena adanya kelangkaan pupuk, meskipun kompos telah ada sejak dahulu. Hasil akhir pengomposan adalah bahan yang mempunyai kandungan C/N ratio rendah dan mendekati C/N ratio tanah. Apabila bahan organik yang memiliki rasio C/N tinggi tidak dikomposkan terlebih dahulu (langsung diberikan ke tanah) maka proses penguraiannya akan terjadi ditanah. Akibatnya, CO2 dalam tanah meningkat sehingga dapat berpengaruh buruk bagi pertumbuhan tanaman. Proses pembuatan kompos mempunyai pengaruh yang besar terhadap kualitas kompos dengan bahan dasar pupuk kandang yang dihasilkan. Keberhasilan pembuatan pupuk kompos sangat tergantung pada proses yang dilakukan untuk pembuatan pupuk kompos. Tingkat kematangan kompos akan cepat berpengaruh pada proses perkecambahan biji. Untuk itu ketika membuat pupuk kompos harus sesuai dengan proses yang ada agar pupuk kompos tersebut dapat diaplikasikan sebagai media penambahan unsur hara tanah.

68

B. Tujuan Tujuan Uji Mutu Kompos adalah untuk mengetahui mutu kematangan kompos dengan metode perkecambahan dan pertumbuhan vegetatif.

69

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Kompos adalah hasil pembusukan sisa-sisa tanaman yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme pengurai. Kualitas kompos sangat ditentukan oleh besarnya perbandingan antara jumlah karbon dan nitrogen (C/N rasio). Jika C/N rasio tinggi, berarti bahan penyusun kompos belum terurai secara sempurna. Bahan kompos dengan C/N rasio tinggi akan terurai atau membusuk lebih lama dibandingkan dengan ber-C/N rasio rendah. Kualitas kompos dianggap baik jika memiliki C/N rasio antara 12-15. kandungan unsur hara di dalam kompos sangat bervariasi. Tergantung dari jenis bahan asal yang digunakan dan cara pembuatan kompos. Kandungan unsur hara kompos adalah sebagai berikut: Nitrogen 0,1-0,6 %, Phospor 0,1-0,4 % , Kalium 0,8-1,5 %, Kalsium 0,8-1,5 % (Novizan,2001). Pupuk kompos merupakan salah satu pupuk yang sangat baik untuk meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk kompos sangat menunjang sistem pertanian organik karena dapat meningkatkan kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah. Penelitian dianggap cukup penting untuk menemukan formulasi pupuk kompos yang terbaik dan bahanbahan limbah yang digunakan. Prinsip dasar dari pengomposan adalah terjadinya penguraian bahan organik oleh sejumlah bersar organisme perombak (Supadma dan Dewa, 2008). Penambahan bahan organik merupakan tindakan perbaikan lingkungan tumbuh tanaman yang yang antara lain dapat meningkatkan efisiensi pupuk. Penggunaan bahan organik seperti sisa-sisa tanaman yang melapuk, kompos, pupuk kandang atau pupuk organik cair menunjukkan pupuk organik dapat meningkatkan produktivitas tanah dan efisiensi pemupukan serta mengurangi kebutuhan pupuk terutama pupuk K (Arafah dan Sirappa, 2003). Pengomposan menjadi salah satu metode pengelolaan sampah organik menjadi material baru seperti humus yang relatif stabil dan lazim. Pengomposan dengan bahan baku sampah domestik merupakan teknologi yang ramah lingkungan, sederhana dan menghasilkan produk akhir yang sangat berguna bagi kesuburan tanah atau tanah penutup bagi landfill (Anonim, 2002). Ada beberapa prinsip cara pengomposan antara lain: (1) ditimbun pada permukaan tanah yang telah dipadatkan (kraal methode), (2) Ditimbun pada galian tanah (50-75 cm), separo di dalam tanah (50-75 cm) dan separo di atas permukaan

70

(Heat & trench methode), (3) Langsung pada bak penampungan kotoran ternak (Bengalore methode), (4) menggunakan kotak pengomposan dari pagar beton yang tertutup (anaerob) selama 18 hari dan seterusnya diberikan aerasi dari lobang-lobang bagian dasar kotak (Baccari-Italia methode) (Rusmarkam, 2001). Proses pengomposan biasanya melibatkan mesofilik, termofilik, dan kemudian mesofilik mikroorganisme dalam suksesi. Tinggi kualitas kompos yang dihasilkan oleh interaksi banyak mikroorganisme yang memiliki sifat cocok untuk bahan kimia, biologi, dan kondisi fisik kompos. Selama proses pengomposan, fase termofilik diperkirakan untuk mempercepat pemecahan senyawa kompleks, dan kenaikan suhu dapat terjadi dengan adanya termofilik mikroorganisme. Sebaliknya hasil, konvensional metode pengomposan di dekomposisi lambat organik bahan karena tindakan biologis yang lambat, lambatnya proses pengomposan juga membutuhkan pupuk besar-depot ruang (Nepal et al., 2011). Efektif menggunakan limbah organik merupakan isu penting dalam negara-negara berkembang. Industri Unggas kini booming di negara-negara, di mana, maka akan dibuang sejumlah besar kotoran unggas, yang mencemari lingkungan. Pupuk mengandung nutrisi penting seperti N, P, K, bahan organik, Ca, Mg, dll. Penggunaan bahan organik seperti di sektor pertanian dapat berkontribusi untuk melestarikan lingkungan serta meningkatkan kesuburan lahan pertanian (Eusuf Zai et. al., 2008). Kematangan kompos adalah tahapan tertentu antara keadaan bahan organik yang mentah dan keadaannya setelah mati. Ciri-ciri kematangan kompos (Anonim, 1992) : 1. Suhu Apabila tingkat kelembaban dan zat asam yang sesuai dapat dipertahankan selama proses pengomposan, suhu tumpukan akan tetap tinggi (45-650C) selama masih terdapat bahan untuk dijadikan kompos. Masa aktif ini dikenal dengan masa termofilik. Setelah beberapa waktu dalam kondisi ini, suhu akan mulai menurun mendekati atau sama dengan suhu ruang. Apabila kelembaban sudah sesuai dan pembalikan tidak menyebabkan meningkatnya suhu, kompos dianggap hampir matang. 2. Bau Ambil dua genggam kompos, lembabkan, lalu masukkan ke dalam sebuah kantung plastik. Tutuplah kantung rapat-rapat, dan biarkan selama kurang lebih 2

71

x 24 jam. Jika kantung plastik menggembung dan panas atau pada waktu dibuka kompos tersebut berbau busuk, maka berarti jasad renik masih aktif. Kompos tersebut belum matang. 3. Rasio C/N Selama proses pengomposan berjalan, jumlah kandungan karbon menurun karena berubah menjadi karbondioksida. Kurang lebih 1/3 dari kandungan karbon berubah bentuk dan menyatu dalam kompos sedangkan 2/3 bagian lainnya menjadi karbondioksida dan tidak bermanfaat lagi bagi lingkungan. Rasio C/N kurang dari 20 : 1 maka kompos tersebut bermutu dan benar-benar matang. 4. Bentuk fisik Pada proses pengomposan yang relatif stabil, sampah sudah berdekomposisi sehingga wujud fisiknya sudah menyerupai tanah.

72

III.

METODOLOGI

Praktikum Acara V mengenai Uji Mutu Kompos dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 2012 di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu pot, tugal, ember label, dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain benih bayam cabut, sekam, pupuk kandang sapi, dan pupuk kandang kambing. Cara kerja dari praktikum ini yaitu pertama disiapkan pot sebanyak 8 buah dan digunakan sebagai 7 macam perlakuan. Pot I diisi dengan sekam + tanah, pot II diisi dengan pupuk kandang sapi + tanah, Pot III diisi dengan pupuk kandang kambing + tanah, pot IV diisi dengan sekam + pupuk kandang sapi + tanah, pot V diisi dengan sekam + pupuk kandang kambing + tanah, gelas plastik VI diisi dengan pupuk kandang sapi + pupuk kandang kambing + tanah, gelas plastik VII diisi dengan sekam + pupuk kandang sapi + pupuk kandang kambing + tanah, pot VIII diisi kontrol (tanah). Setelah pot dengan 7 perlakuan disiapkan, pot ditambah dengan air, kemudian ditanam 10 benih bayam cabut dan pot ditutup. Setelah 7 hari dilakukan pengamatan pertumbuhan biji yang telah ditanam pada setiap pot dan pada hari ke 21 diamati pertumbuhan tanamannya. Selanjutnya, diukur pH dan DHL (daya hantar listrik) kompos pada

nisbah kompos : air = 1:10.

73

IV. No 1 2 3 4 5 Perlakuan 1

HASIL PENGAMATAN Jumlah Biji yang tumbuh hari ke3 4 5 6 0 2 2 3 1 4 4 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 2 0 0 0 0

7 4 6 0 0 3 0 0

Kontrol 0 0 Sekam 0 0 Kotoran Sapi 0 0 Kotoran Kambing 0 0 Sekam+Kotoran 0 0 Sapi 6 Sekam+Kotoran 0 0 0 0 Kambing 7 Kotoran 0 0 0 0 Sapi+Kotoran Kambing 8 Sekam+Kotoran 0 0 0 1 Kambing+Kotoran Sapi Tabel 4.1. Pertumbuhan Biji pada kompos yang berbeda-beda No 1 2 3 4 5 Perlakuan 1 0% 0% 0% 0% 0% 2 0% 0% 0% 0% 0%

Kontrol Sekam Kotoran Sapi Kotoran Kambing Sekam+Kotoran Sapi 6 Sekam+Kotoran 0% 0% Kambing 7 Kotoran 0% 0% Sapi+Kotoran Kambing 8 Sekam+Kotoran 0% 0% Kambing+Kotoran Sapi Tabel 4.2. Gaya Berkecambah (GB) No Perlakuan 1 2 1 Kontrol 0 0 2 Sekam 0 0 3 Kotoran Sapi 0 0 4 Kotoran Kambing 0 0 5 Sekam+Kotoran 0 0 Sapi 6 Sekam+Kotoran 0 0 Kambing

Gaya Berkecambah hari ke3 4 5 6 0% 10% 10% 15% 5% 20% 20% 25% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 10% 10% 10% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%

7 20% 30% 0% 0% 15% 0% 0%

0%

5%

5%

5%

15%

Indeks Vigor hari ke3 4 5 0 0,5 0,4 0,33 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0,5 0,4 0 0 0

6 0,5 0,83 0 0 0,33 0

7 0,57 0,86 0 0 0,43 0

74

Kotoran 0 Sapi+Kotoran Kambing 8 Sekam+Kotoran 0 Kambing+Kotoran Sapi Tabel 4.3. Indeks Vigor (IV) No 1 2 3 4 5 6 7 Perlakuan Kontrol Sekam Kotoran Sapi Kotoran Kambing Sekam+Kotoran Sapi Sekam+Kotoran Kambing Kotoran Sapi+Kotoran Kambing Sekam+Kotoran Kambing+Kotoran Sapi pH 5,94 6,37 6,97 7,47 6,40 8,02 6,78

0,25

0,2

0,167

0,43

DHL 0,5 0,6 0,0 0,5 0,2 0,1 0,3

6,91

0,1

Tabel 4.4. Nilai pH dan Daya Hantar Listrik (DHL)

75

V.

PEMBAHASAN

Praktikum mengenai uji mutu kompos ini bertujuan untuk mengetahui apakah proses pengomposan pada tanah telah selesai atau belum. Pengomposan didefinisikan sebagai proses biokimiawi yang melibatkan jasad renik sebagai agensia (perantara) yang merombak bahan organik menjadi bahan yang mirip dengan humus. Hasil perombakan tersebut disebut kompos. Kompos biasanya dimanfaatkan sebagai pupuk dan pembenah tanah. Kompos ini juga dapat berfungsi sebagai penggembur tanah karena dapat memperbaiki sifat-sifat tanah dan kemampuannya dalam menyediakan mikro nutrien untuk tanaman. Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa biji yang tumbuh terdapat pada sekam, sekam+kotoran sapi, dan sekam+kotoran sapi+kotoran kambing. Pada media tanam sekam terdapat 6 biji bayam cabut yang tumbuh. Pada kotoran sapi tidak terdapat biji yang tumbuh, begitu pula pada kotoran kambing. Biji yang tumbuh pada sekam+kotoran sapi sebanyak 3 buah, sekam+kotoran kambing tidak ada, kotoran sapi+kotoran kambing juga tidak ada, sedangkan pada sekam+pupuk kambing+pupuk sapi 3 buah. Dari hasil pengamatan dapat dilihat bahwa kompos yang sudah matang adalah sekam, dan kompos yang belum matang adalah kompos dari kotoran sapi dan kotoran kambing dimana pada media tanam ini tidak ada satu-pun biji yang berkecambah. Ketidakmatangan kompos dapat terjadi karena berbagai hal seperti tidak cukupnya bahan nitrogen, tidak cukupnya oksigen, yang masuk ke dalam kompos, tidak cukupnya kelembaban dalam tumpukkan kompos atau kompos terlalu padat. Dengan adanya beberapa faktor tersbut maka akan berpengaruh pada aktifitas mikroorganisme yang dapat mengganggu proses dekomposisi. Ada beberapa perlakuan dalam praktikum, yakni sekam, pupuk kandang (sapi dan kambing) dan beberapa kombinasi antara pupuk kandang sapi, kambing dan sekam. Sekam merupakan bagian dari bulir padi-padian (serealia) berupa lembaran yang kering, bersisik, dan tidak dapat dimakan, yang melindungi bagian dalam

(endospermium dan embrio). Sekam yang telah diolah memiliki fungsi mengikat logam berat dan menggemburkan tanah sehingga bisa mempermudah akar tanaman menyerap unsur hara di dalamnya. Pupuk kandang sapi merupakan pupuk padat yang banyak mengandung air dan lender dan juga merupakan pupuk dingin karena perubahan dari bahan yang terkandung dalam pupuk menjadi tersedia dalam tanah berlangsung secara

76

perlahan-lahan dan juga memiliki kandungan nitrogen yang jauh lebih banyak dari unsur kalium. Pupuk kandang kambing memiliki tekstur yang khas karena berbentuk butiran yang agak sukar di pecah sehingga sangat berpengaruh terhadap proses dekomposisi dan proses penyediaan haranya. Pupuk kandang kambing yang baik harus memiliki rasio C/N <20, sehingga harus dikomposkan terlebih dahulu. Dari praktikum diperoleh grafik gaya berkecambah sebagai berikut :

Gaya Berkecambah Bayam Cabut


35% Sekam Kotoran Sapi 25% 20% 15% 10% 5% 0% Sekam+Kotoran Kambing Kotoran Sapi+Kotoran Kambing Sekam+Kotoran Kambing+Kotoran Sapi Kotoran Kambing Sekam+Kotoran Sapi

Gaya Berkecambah (%)

30%

4 5 Hari ke-

Grafik 5.1. Gaya Berkecambah (GB) Tanaman Bayam Cabut Pada berbagai Media Tanam Pupuk Kompos Dari Grafik 5.1. dapat dilihat bahwa gaya berkecambah bayam cabut paling tinggi terjadi pada kompos berbahan pupuk sekam yaitu pada hari ke-7 sebesar 30%, dan gaya berkecambah paling rendah adalah pada pupuk kotoran sapi, pupuk kotoran kambing, pupuk sekam+kotoran kambing, dan pupuk kotoran sapi+pupuk kotoran kambing yaitu sebesar 0%. Dari berbagai presentase gaya berkecambah ada beberapa biji yang tidak tumbuh. Hal itu bisa disebabkan karena adanya pengaruh ketersediaan nitrogen, tidak cukupnya oksigen, tidak tersedianya kelembaban yang cukup dalam tumpukan kompos, atau tumpukan kompos yang terlalu padat. Selain itu, disebabkan pula oleh tingkat kematangan dari kompos itu sendiri. Kotoran kambing yang digunakan pada saat praktikum masih basah sehingga kotoran tersebut belum matang dan sulit digunakan untuk kompos.

77

Dari praktikum diperoleh grafik indeks vigor sebagai berikut :

Indeks Vigor Bayam Cabut


1,2 1 Indeks Vigor 0,8 0,6
Sekam+Kotoran Sapi Sekam Kotoran Sapi Kotoran Kambing

0,4 0,2 0 1 2 3 4 5 Hari ke6 7


Sekam+Kotoran Kambing Kotoran Sapi+Kotoran Kambing Sekam+Kotoran Kambing+Kotoran Sapi

Grafik 5.2. Indeks Vigor Tanaman Bayam Cabut Pada Berbagai Media Tanam Dari Grafik 5.2. dapat dilihat bahwa perkecambahan bayam cabut pada indeks vigor optimal terjadi pada kompos sekam yaitu pada hari ke-4 dan ke-5 sebesar 1. Indeks vigor terendah terjadi pada kompos kotoran sapi, kotoran kambing, sekam+kotoran kambing, serta kotoran sapi+kotoran kambing. Dari grafik indeks vigor tersebut mengalami berbagai peningkatan pada setiap kompos yang berbeda. Hal itu terjadi karena ada kompos yang belum matang atau mentah. Kompos yang masih belum matang berarti mempunyai C/N yang tinggi yang dapat merugikan tanaman. Kompos yang mentah mengandung fitotoksin yang bersifat racun dalam kompos tersebut. Dengan adanya fitotoksin maka benih tidak dapat berkecambah dengan baik atau kalau berkecambah akan segera mati. Pengujian mutu kompos ini berfungsi untuk mengetahui tingkat kematangan kompos apakag telah matang atau belum. Apabila kompos belum matang digunakan dapat menghambat gaya perkecambahan benih dan mampu mematikan tanaman. Selain itu uji mutu kompos berfungsi untuk mengetahui kelayakan kompos untuk diaplikasikan. Kenampakan yang mengindikasikan sejauh mana kelayakan kompos adalah banyaknya benih yang tumbuh dari sejumlah benih yang ditanam dengan kompos tersebut atau disebut gaya berkecambah. Oleh karena itu, harus dilakukan uji

78

mutu kompos sebelum digunakan sebagai media tumbuh atau dicampurkan dengan tanah. Untuk menguji kompos maka dalam praktikum ini digunakan bayam yang ditanam dalam pot yang berisi kompos yang telah dibuat. Alasan penggunaan benih bayam cabut dikarenakan benihnya memiliki masa tumbuh yang pendek dan mudah diperoleh. Lima hari setelah benih ditabur, benih sudah dapat tumbuh. Selain itu benih ini tidak membutuhkan pemeliharaan yang ekstra karena penyiraman dapat sekedar dengan membasahi tanah. Pertumbuhan benih mengindikasikan mutu kompos. Jika 75 % benih berkecambah dan dapat tumbuh dengan baik maka kompos siap untuk digunakan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan kompos, diantaranya adalah : 1. Kelembaban timbunan bahan kompos, berpengaruh terhadap kehidupan mikrobia, agar tidak terlalu kering atau basah dan tergenang. 2. Aerasi timbunan, berhubungan erat dengan kelengasan. 3. Temperatur harus dijaga tidak terlampau tinggi (maksimum 600C), dan juga dilakukan pembalikkan untuk menurunkan temperatur. 4. Suasana, dalam pengomposan menghasilkan asam-asam organik sehingga pH turun, untuk itu diperlukan pembalikkan. 5. Netralisasi keasaman, dapat dilakukan dengan menambah kapur seperti dolomit atau abu. 6. Kualitas kompos, dapat diberi pupuk seperti P untuk meningkatkan kualitas kompos.

79

VI. A. Kesimpulan

PENUTUP

1. Uji mutu kompos dilakukan untuk mengetahui tingkat kematangan kompos. 2. Dari hasil praktikum media pupuk kompos yang sudah matang dan siap untuk diaplikasikan adalah media pupuk kompos sekam, sekam+kotoran sapi, dan sekam+kotoran sapi+kotoran kambing. 3. kompos yang belum bisa untuk diaplikasikan adalah kotoran sapi dan kambing karena pupuk kompos tersebut belum matang dengan gaya berkecambah bayam cabut sebesar 0%. B. Saran 1. Sebaiknya para pembuat kompos mengetahui cara pengujian mutu kompos yang seperti ini agar mereka tahu apakah kompos yang mereka buat sudah matang atau belum. 2. Ada baiknya praktikan dikenalkan cara pengujian mutu kompos yang lainnya.

80

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1992. Panduan Pembuatan Kompos dari Sampah Teori Aplikasi. Center for Policy and Implementation Studies. Jakarta. Anonim. 2002. Pembuatan Kompos Dan Permasalahnnya. <http://www.geocities.com/persampahan/kompas.com>. Diakses tanggal 30 Oktober 2012. Arafah dan M. P. Sirappa. 2003. Kajian penggunaan jerami dan pupuk N, P, dan K pada lahan sawah irigasi. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan 4: 15-24. Eusuf Zai, A. K, Takatsugu H and Tsutomu M. 2008. Effects of compost and green manure of pea and their combinations with chicken manure and rapeseed oil residue on soil fertility and nutrient uptake in wheat-rice cropping system. African Journal of Agricultural Research 3: 633-639. Nepal, A. P, Yasuhiro S, Aya N, Hisato K, Fajri A, Masaaki K, and Chieko M. 2011. Effects of microbial additive on composting process and on Swiss chard growth and nutrient uptake. European Journal of Scientific Research 52: 132-141. Novizan. 2001. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. AgroMedia Pustaka. Jakarta. Rusmarkam, A. 2001. Ilmu Kesuburan Tanah. Jurusan Ilmu Tanah. UGM. Yogyakarta. Supadma, A. N. N. dan Dewa M. A. 2008. Uji formulasi kualitas pupuk kompos yang bersumber dari sampah organik dangan penambahan limbah ternak ayam, sapi, babi, dan tanaman Pahitan. Jurnal Bumi Lestari 8 : 113-121.

81

LAMPIRAN A. Perhitungan Gaya Berkecambah (GB) No Perlakuan 1 2 3 4 5 6 7 Kontrol Sekam Kotoran Sapi Kotoran Kambing Sekam+Kotoran Sapi Sekam+Kotoran Kambing Kotoran Sapi+Kotoran Kambing Sekam+Kotoran Kambing+Kotoran Sapi 1 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 2 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% Gaya Berkecambah hari ke3 4 5 6 0% 10% 10% 15% 5% 20% 20% 25% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 10% 10% 10% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%

7 20% 30% 0% 0% 15% 0% 0%

0%

0%

0%

5%

5%

5%

15%

Rumus : Perhitungan : 1. Kontrol Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7=

2. Sekam Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7 =

82

3. Kotoran Sapi Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7 =

4. Kotoran Kambing Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7 =

5. Sekam+Kotoran Sapi Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7 =

6. Sekam+Kotoran Kambing Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 =

83

Hari ke-7 = 7. Kotoran Sapi+Kotoran Kambing Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7 =

8. Sekam+Kotoran Sapi+Kotoran Kambing Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7 =

Indeks Vigor (IV) No Perlakuan 1 1 2 3 4 5 6 7 Kontrol Sekam Kotoran Sapi Kotoran Kambing Sekam+Kotoran Sapi Sekam+Kotoran Kambing Kotoran Sapi+Kotoran Kambing Sekam+Kotoran Kambing+Kotoran Sapi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2

Indeks Vigor hari ke3 4 5 0 0,5 0,4 0,33 1 0,8 0 0 0 0 0 0 0 0,5 0,4 0 0 0 0 0 0

6 0,5 0,83 0 0 0,33 0 0

7 0,57 0,86 0 0 0,43 0 0

0,25

0,2

0,167

0,43

Rumus = Indeks Vigor Perhitungan : 1. Kontrol

84

Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7 =

2. Sekam Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7 =

3. Kotoran Sapi Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7 =

4. Kotoran Kambing Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7 =

85

5. Sekam+Kotoran Sapi Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7 =

6. Sekam+Kotoran Kambing Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7 =

7. Kotoran Sapi+Kotoran Kambing Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7 =

8. Sekam+Kotoran Sapi+Kotoran Kambing Hari ke-1 = Hari ke-2 = Hari ke-3 = Hari ke-4 = Hari ke-5 = Hari ke-6 = Hari ke-7 =

86

B. FOTO

87

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH ACARA VI KESUBURAN TANAH AKTUAL

Disusun oleh: Ahmad Khoirudin Asrofi Lathifatul Lailia Nur Kusumastuti Eka Putri D. Siska Ernitawati Golongan Asisten : A3 (Siang) : Basyit Wulan I. (11913) (11938) (11975) (12006) (12066)

LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

88

ACARA VI KESUBURAN TANAH AKTUAL


Abstraksi Kesuburan tanah bukan sifat tanah, tetapi mutu tanah sehingga hanya dapat ditaksir. Penaksiran dapat didasarkan atas sifat dan kelakuan fisik, kimia dan biologi tanah yang terukur, terkoreksikan dengan keragaan (performance) tanaman menurut pengalaman atau hasil penelitian sebelumnya, sehingga dapat dipergunakan untuk mengetahui sebab-sebab yang menentukan kesuburan tanah. Di samping itu penaksiran dapat dilakukan secara langsung berdasarkan keragaan tanaman yang teramati (bioassay), cara ini hanya dapat mengungkapkan tanggapan tanaman terhadap keadaan tanah yang dihadapi. Praktikum Kesuburan Tanah yang berjudul Kesuburan Tanah Aktual dilaksanakan pada tanggal 10 Oktober 2012 bertempat di rumah kaca, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kesuburan aktual tanah dari berbagai jenis tanah, yaitu vertisol, ultisol, dan inceptisol. Dilakukan pengamatan kenampakan visual (warna) tanaman jagung yang ditanam pada beberapa jenis tanah, lalu diukur dan dicatat tinggi tanaman-tanaman tersebut. Berdasarkan pengamatan terlihat kenampakan visual (warna daun) yang cenderung sama, tinggi tanaman dan jumlah daun tanaman jagung pada tiap jenis tanah berbeda dengan hasil pada tanah inseptisol yang paling tinggi, sedangkan pada tanah ultisol yang paling rendah, dikarenakan tingkat kesuburan tanah aktualnya yang berbeda.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesuburan tanah adalah mutu tanah untuk bercocok tanam, yang ditentukan oleh sejumlah interaksi sifat fisika, kimia, dan biologi bagian tubuh tanah yang menjadi habitat akar aktif tanaman. Ada dua pengertian kesuburan tanah yang harus dibedakan yaitu kesuburan tanah aktual dan kesuburan tanah potensial. Kesuburan tanah aktual adalah kesuburan tanah alamiah, dan kesuburan tanah potensial adalah kesuburan tanah maksimum yang dapat dicapai dengan masukan teknologi yang mengoptimumkan semua factor. B. Tujuan Mengetahui kesuburan aktual tanah dari berbagai jenis tanah.

89

II. TINJAUAN PUSTAKA Pada prinsipnya tanah subur adalah tanah yang secara konsisten memberikan hasil yang baik tanpa penambahan pupuk. Apabila diperlukan penambahan pupuk maka terjadi tanggapan tanaman dalam bentuk peningkatan hasil yang cukup tinggi terhadap pemupukan kimia ataupun organik serta pemberian air irigasi. Tanah mungkin mempunyai kesuburan asli yang tinggi, tetapi hasil produksinya rendah karena faktor produksi lainnya menghambat pertumbuhan tanaman (Sutanto, 2005). Tanah subur memiliki sifat sebagai berikut (Anonim, 2009):

Kaya nutrisi yang dasar tanaman, termasuk nitrogen, fosfor dan potasium. Cukup mengandung mineral (trace elements) untuk nutrisi tanaman, termasuk

boron, klorin, kobalt, tembaga, besi, mangan, magnesium, molibdenum, sulfur, dan seng.

Mengandung bahan organik tanah yang memperbaiki struktur tanah dan retensi kelembaban tanah.

PH tanah berada dalam kisaran 6,0-6,8. Struktur tanah yang baik, menciptakan tanah kering yang baik. Berbagai mikroorganisme yang mendukung pertumbuhan tanaman. Sering mengandung sejumlah besar lapisan atas tanah. Uji kesuburan tanah diperlukan sebelum mengusahakan lahan pertanian. Dengan

uji ini nantinya diketahui potensi lahan dan kendala yang harus diatasi. Dalam hal ini tanaman dapat digunakan sebagai indikator kesuburan yaitu dengan melihat kenampakan fisik tanaman (Davidescu dan Davidescu, 1982). Terdapat hubungan positif antara kesuburan tanah dengan produktivitas tanah. Tanah yang mempunyai kesuburan tinggi akan mempunyai produktivitas yang tinggi, demikian juga sebaliknya (Wididana, 1995). Kesuburan tanah diberi batasan sebagai mutu kemampuan suatu tanah untuk menyediakan unsur hara pada takaran dan keseimbangan tertentu secara sinambung, untuk menunjang pertumbuhan suatu jenis tanaman pada lingkungan dengan faktor pertumbuhan lainnya dalam keadan menguntungkan. Tanah dikatakan subur bila mampu memacu pertumbuhan dan perkembangan sampai aras yang memungkinkan fungsi-fungsi pertumbuhan dan perkembangan optimum tanaman (Poerwowidodo, 1993).

90

Tanah merupakan sumber makanan bagi tanaman. Kandungan hara yang ada dalam tanah sangat dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan dan pertahanannya. Semakin lama, kandungan hara dalam tanah akan semakin menurun karena digunakan oleh tanaman. Oleh karena itu diperlukan pemeliharaan kesuburan tanah. Pemeliharaan kesuburan tanah dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti pemupukan, pemanfaatan irigasi, pengolahan yang baik, penggunaan pupuk dan pestisida kimia sesuai kebutuhan dan peraturan, serta penggunaan bibit unggul (Yuwono dan Roesmarkam, 2002).

91

III. METODOLOGI Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 10 Oktober 2012 di rumah kaca Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat yang digunakan adalah pot plastik, sedangkan bahan yang diperlukan adalah beberapa jenis tanah (vertisol, ultisol, dan inceptisol), serta benih jagung. Pertama-tama pot plastik volume 10 liter yang berlubang bagian bawahnya diisi dengan tanah lapis olah yang sudah digemburkan. Disertakan label kelompok pada pot plastik, kemudian secara serempak pot plastik tersebut ditanami dengan jagung dengan diberi air secukupnya setiap hari. Selanjutnya diamati kenampakan visual (morfologi dan warna) tanaman pada setiap pot, kemudian diukur dan dicatat tinggi tanamannya serta dihitung jumlah daunnya.

92

IV. No. Jenis Tanah

HASIL PENGAMATAN

Tinggi Tanaman minggu ke- (cm) 1 2 3 1 Ultisol 11,29 29,29 37,23 2 Vertisol 11,87 30,61 40,46 3 Inseptisol 12,88 31,04 45,03 Tabel 4. 1. Rata-rata Tinggi Tanaman

Jumlah Daun minggu ke- (helai) 1 2 3 1 Ultisol 3 4 4 2 Vertisol 2 4 5 3 Inseptisol 3 4 5 Tabel 4.2. Rata-rata Jumlah Daun No. Jenis Tanah

Tingkat Kehijauan Daun minggu ke(helai) No. Jenis Tanah 1 2 3 1 Ultisol + ++ ++ 2 Vertisol + ++ ++ 3 Inseptisol + ++ ++ Tabel 4.3. Rata-rata Tingkat Kehijauan Daun

93

V.

PEMBAHASAN

Kesuburan tanah adalah mutu tanah untuk bercocok tanam, yang ditentukan oleh sejumlah interaksi sifat fisika, kimia, dan biologi bagian tubuh tanah yang menjadi habitat akar aktif tanaman. Ada dua pengertian kesuburan tanah yang harus dibedakan yaitu kesuburan tanah aktual dan kesuburan tanah potensial. Kesuburan tanah aktual adalah kesuburan tanah alamiah, dan kesuburan tanah potensial adalah kesuburan tanah maksimum yang dapat dicapai dengan masukan teknologi yang mengoptimumkan semua faktor (Notohadiprawiro et al., 2006). Pada praktikum acara kesuburan tanah aktual ini digunakan tiga jenis tanah yaitu tanah vertisol, ultisol, dan inceptisol. Penyebab perbedaan kesuburan aktual jenis-jenis tanah tersebut antara lain bahan induknya, proses terjadinya (pedogenesis), kandungan haranya, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi terbentuknya tanah-tanah tersebut. Vertisol adalah tanah mineral berwarna abu-abu kehitaman, tekstur didominasi lempung jenis montmorillonit yang dapat mengembang (pada kondisi basah) dan mengerut (pada kondisi kering), serta pada horizon permukaan sampai kedalaman 50 cm memiliki kandungan lempung sebanyak 30 %. Faktor utama yang mempengaruhi pembentukan vertisol adalah iklim, terutama iklim kering dan batuan yang kaya kation. Vertisol jika digunakan sebagai lahan pertanian akan memberikan banyak masalah terutama masalah kesuburan fisika yang cenderung rendah, namun memiliki kesuburan kimia yang relatif tinggi serta nilai KPK yang tinggi. Untuk mengatasi hal ini, dapat dilakukan dengan memperbanyak penggunaan bahan organik seperti kompos dan pupuk kandang, karena bahan-bahan tersebut bersifat sebagai buffer atau penyangga yang berfungsi untuk mengurangi daya mengembang atau mengkerut tanah. Pengerutan tanah terjadi karena penurunan kadar air sebagai akibat evaporasi pada musim kering. Pengembangan tanah terjadi karena penambahan kadar air pada musim hujan. Peristiwa tersebut akan berlangsung sepanjang tahun seiring dengan adanya perubahan musim. Untuk mengatasi pengembangan dan pengerutan tanah ini dapat dilakukan pengubahan gradasi butir tanah atau dengan menjaga kadar air dalam tanah agar tidak mengalami perubahan.

94

Ultisol adalah tanah berwarna merah-kuning yang melapuk lanjut oleh iklim, dicirikan oleh penampang tanah yang dalam, kenaikan fraksi lempung seiring dengan kedalaman tanah, reaksi tanah masam, dan kejenuhan basa rendah. Pada umumnya tanah ini memiliki tingkat kesuburan kimia yang rendah karena mempunyai potensi keracunan Al dan miskin kandungan bahan organik. Tanah ini juga tergolong tua (berkembang lanjut) sehingga miskin kandungan hara terutama P dan kation-kation dapat ditukar seperti Ca, Mg, Na, dan K (terkait dengan kejenuhan basa/garam alkali), kadar Al tinggi, nilai KPK rendah, dan peka terhadap erosi.

Inceptisol merupakan jenis tanah yang didominasi pasir tetapi lebih berkembang dari entisol, memiliki epipedon umbrik, orchrik, molik atau plagen, juga memiliki horizon kambik. Tanah ini memiliki solum berwarna tanah terang dan seragam dengan batas-batas horizon kabur, remah sampai gumpal, gembur, kejenuhan basa kurang dari 50 %, pH berkisar antara 4,5-5,5 dengan kandungan bahan organik kurang dari 1 %. Secara umum, tanah ini memiliki tingkat kesuburan fisika yang rendah karena tekstur didominasi fraksi pasir sehingga banyak kandungan hara yang mengalami pencucian. Tanah berfungsi sebagai media tumbuh bagi tanaman. Dalam tanah terdapat unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh. Tanaman dapat tumbuh dengan baik jika tumbuh pada tanah yang cukup kuat menopang tegaknya tanaman, tidak mempunyai lapisan penghambat perkembangan akar, aerasi baik, kemasaman disekitar netral, kelarutan garam yang rendah, cukup tersedia unsur hara dan air dalam kondisi seimbang. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh unsur hara yang terdapat di dalam tanah, selain itu juga tergantung pada pemeliharaan tanaman. Unsur hara yang terjerap dan terikat oleh partikel tanah dapat menjadi tersedia bagi tanaman setelah mengalami reaksi tertentu yang berlangsung di dalam tanah. Unsur yang berasal dari mineral ditentukan oleh asal batuan atau bahan induk dari tanah itu sendiri seperti unsur Ca yang banyak dikandung oleh tanah yang berasal dari bahan induk kapur. Pada umumnya unsur hara menjadi tersedia bagi tanaman setelah mineral tanah mengalami pelapukan oleh cuaca. Kesuburan tanah bersifat labil dan dapat berubah sehingga harus dipelihara atau ditingkatkan supaya dapat memproduksi setinggi-tingginya dalam waktu yang selama-lamanya agar tanah menjadi lestari.

95

Grafik Tinggi Tanaman


50 Tinggi Tanaman (cm) 40 30 Ultisol 20 10 0 1 2 Minggu ke3 Vertisol Inseptisol

Gambar 5. 1. Grafik Tinggi Tanaman pada 3 Jenis Tanah Pertambahan tinggi tanaman jagung pada tanah inseptisol adalah yang paling tinggi, sedangkan pertambahan tinggi tanaman jagung pada tanah ultisol adalah yang paling rendah. Hal ini terjadi karena tanah ultisol memiliki kesuburan kimia yang cenderung rendah. Inceptisol seharusnya memiliki kandungan hara yang rendah karena tekstur dominan pasir sehingga proses pencucian bahan organik lebih besar, namun data menunjukkan hasil yang berbeda. Hal ini dapat disebabkan karena sebelum tanah diambil, terlebih dahulu tanah tersebut dipupuk.

96

Histogram Jumlah Daun


Jumlah Daun (helai) 5 4

3
2 1 0

Ultisol Vertisol Inseptisol

2 Minggu ke-

Gambar 5. 2. Histogram Jumlah Daun pada 3 Jenis Tanah Histogram jumlah daun di atas menunjukkan pada awal hingga akhir pengamatan inceptisol memiliki jumlah daun yang paling banyak, kemudian vertisol dan yang paling sedikit jumlah daunnya adalah ultisol. Hal ini menandakan bahwa kandungan hara yang terkait dengan pertumbuhan daun pada inceptisol lebih besar dibanding jenis tanah yang lain. Secara teori, kandungan bahan organik pada inceptisol lebih rendah dibanding yang lain, namun data menunjukkan hasil yang berbeda. Hal ini mungkin disebabkan karena sebelum diambil sampel tanah, terlebih dahulu inceptisol dipupuk oleh petani (lokasi pengambilan tanah).

97

VI. A. Kesimpulan

PENUTUP

1. Kenampakan visual (warna daun) yang cenderung sama, tinggi tanaman dan jumlah daun tanaman jagung pada tiap jenis tanah berbeda dengan hasil pada tanah inseptisol yang paling tinggi, sedangkan pada tanah ultisol yang paling rendah, dikarenakan tingkat kesuburan tanah aktualnya yang berbeda. 2. Dari ketiga jenis tanah ini, secara umum vertisol merupakan jenis tanah dengan kesuburan kimia yang paling tinggi karena memiliki nilai KPK yang tinggi serta memiliki kandungan unsur hara yang beragam. 3. Vertisol dan inceptisol perlu dikelola kesuburan fisikanya agar tidak menjadi faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman. Vertisol perlu dikelola

pengairannya agar tidak terlalu mengembang dan lengket saat basah serta tidak terlalu mengkerut dan keras saat kering. Inceptisol juga perlu dikelola pengairan dan pemupukan agar tidak kekurangan air dan unsur hara akibat pencucian. 4. Ultisol perlu dikelola dengan menambah bahan organik serta pemberian pupuk yang dapat menambah unsur hara, terutama hara dari garam alkali seperti Ca, Mg,
Na, dan K.

B. Saran 1. Sebaiknya tanah yang digunakan tidak hanya tiga jenis minimal satu kelompok satu jenis tanah yang berbeda.

98

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2009. Fertility (soil). <http://en.wikipedia.org/wiki/Fertility_(soil)>. Diakses tanggal 29 Oktober 2012. Anonim. 2010. Kesuburan Tanah. <http://id.wikipedia.org/wiki/Kesuburan_tanah>. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2012. Davidescu, D. and V. Davidescu. 1982. Evaluation of Fertility by Plant and Soil Analysis. Abacus Press, England. Poerwowidodo. 1993. Telaah Kesuburan Tanah. Penerbit Angkasa, Bandung. Sutanto, R. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah : Konsep dan Kenyataan. Kanisius. Yogyakarta. Wididana, G. N.1995. Peranan efektif mikroorganisme 4 dalam meningkatkan kesuburan dan produktifitas tanah. Azolla 5:1-9. Yuwono, N dan A. Roesmarkam. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta.

99

LAMPIRAN Pada Tanah Vertisol

Gambar 1. Tanaman Minggu ke 0

Gambar 2. Tanaman Minggu ke 1

Gambar 3. Tanaman Minggu ke 2

Gambar 4. Tanaman Minggu ke 3

100

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH ACARA VII PENGARUH PEMUPUKAN

Disusun oleh: Ahmad Khoirudin Asrofi Lathifatul Lailia Nur Kusumastuti Eka Putri D. Siska Ernitawati Golongan Asisten : A3 (Siang) : Basyit Wulan I. (11913) (11938) (11975) (12006) (12066)

LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

101

ACARA VII PENGARUH PEMUPUKAN


Abstraksi Pemupukan sangat berpengaruh terhadap kesuburan tanah yang nantinya akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Praktikum kesuburan tanah acara VII yang berjudul Pengaruh Pemupukan dilakukan pada hari Rabu, tanggal 10 Oktober 2012 di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah dan rumah kaca, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Praktikum acara VII ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk terhadap kesuburan tanah. Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain ember dan paku untuk melubangi ember, sedangkan bahan yang digunakan adalah NPK, pupuk organik, tanah, air dan benih jagung (Zea mays). Pada praktikum ini diambil tanah lapis olah di lahan pertanian kemudian diberi perlakuan [a] tanpa pupuk, [b] + NPK 0.5 sendok teh, [c] + pupuk organik 100 g, [d] + NPK 0.5 sendok teh + pupuk organik 100 g dan ditanami benih jagung. Tinggi tanaman dan jumlah daun menunjukkan perbedaan pada masing-masing perlakuan karena unsur hara yang tersedia berbeda-beda pula pada setiap perlakuannya. Hal ini dipengaruhi oleh kebutuhan hara yang tercukupi sehingga pertumbuhan tanamannya paling baik.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemupukan merupakan usaha memasukkan usaha zat hara kedalam tanah dengan maksud memberikan/menambahkan zat tersebut untuk pertumbuhan tanaman agar didapatkan hasil (produksi) yang diharapkan. Disamping itu pupuk dapat diberikan melalui batang atau daun sebagai larutan. Pupuk diperlukan apabila tanah sudah miskin akan zat hara, karena telah lama diusahakan. Pemupukan sangat penting untuk dilakukan karen berpengaruh terhadap kondisi atau keadaan tanah yang nantinya akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman yang hidup ditempat tersebut. Pertumbuhan tanaman yang baik terjadi bila terdapat komposisi hara yang baik di dalam tanah, ketersediaan dan

kesetimbangan/proporsi hara yang sesuai dan dibutuhkan pada waktu yang tepat pada masing-masing periode pertumbuhan sangatlah menentukan. Hal ini sangat penting mengingat akar tanaman tidak dapat mengambil hara dari tanaman secara selektif, tetapi akar akan mengambil dari apa yang telah tersedia. B. Tujuan Mengetahui pengaruh pupuk terhadap kesuburan tanah.

102

II. TINJAUAN PUSTAKA Banyak dari unsur kimia yang telah diketahui, terdapat di dalam tubuh tanaman, sehingga dinamakan unsur hara tanaman. Unsur-unsur tersebut hampir seluruhnya berasal dari tanah diserap oleh akar tanaman. Sebagian dari unsur hara tersebut ada yang diperlukan agar tanaman dapat tumbuh dengan normal, tetapi sebagian yang lain kalaupun tidak tersedia, tanaman tidak terganggu pertumbuhannya (Miller and Donahue, 1990) Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Pupuk dapat juga diartikan sebagai zat yang ditambahkan ke dalam media tanam atau tanaman guna mencukupi kebutuhan hara yang tidak bisa dipenuhi oleh tanah tempat tumbuhnya. Dilihat dari kandungannya, disebut pupuk tunggal ketika hanya mengandung satu unsur hara, sementara pupuk yang memiliki lebih dari satu unsur hara hingga 13 unsur hara esensial disebut pupuk majemuk (Anonim, 2011). Pemupukan adalah tindakan memberikan tambahan unsur-unsur hara pada komplek tanah, baik langsung maupun tidak langsung dan dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanaman. Tujuannya untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertumbuhan tanaman. Pemupukan yang efektif dan efisien akan tercapai apabila diketahui terlebih dahulu kondisi kesuburan lahan dan jenis tanaman, kemudian dibuatkan susunan hara (formula) berdasar kepentingan spesifik lokasi kebun tertentu (Welch et al., 2000). Menurut Indranada (1989), pemupukan yang efektif melibatkan persyaratan kuantitatif dan kualitatif. Persyaratan kuantitatifnya adalah dosis pupuk. Sementara persyaratan kualitatifnya meliputi paling tidak empat hal, yaitu : 1. Unsur hara yang diberikan dalam pemupukan relevan dengan masalah nutrisi yang ada 2. Waktu pemupukan dan penempatan pupuk tepat 3. Unsur hara yang berada pada waktu dan tempat yang tepat dapat diserap oleh tanaman 4. Unsur hara yang diserap digunakan oleh tanaman untuk meningkatkan produksi dan kualitasnya.

103

Pupuk kandang segar mempunyai nisbah C/N = 25. Bila langsung dipupuk ke dalam tanah, jasad renik akan menarik N dari dalam tanah. Pupuk kandang di dalam tanah mempunyai pengaruh yang baik terhadap sifat fisis tanah. Penguraian-penguraian yang terjadi mempertinggi kadar bunga tanah (humus). Seperti yang kita ketahui humus sangat berpengaruh baik terhadap sifat fisis tanah, mempertahankan struktur tanah, menjadikan tanah mudah diolah (ringan pengolahannya) dan terisi oksigen yang cukup. Pupuk kandang dianggap sebagai pupuk lengkap karena selain menimbulkan tersedianya unsur-unsur hara bagi tanaman, juga mengembangkan kehidupan mikroorganisme (jasad renik) di dalam tanah (Sutedjo, 1995). Takaran pupuk yang digunakan untuk memupuk satu jenis tanaman akan berbeda untuk masing-masing jenis tanah, hal ini dapat dipahami karena setiap jenis tanah memiliki karakteristik dan susunan kimia tanah yang berbeda. Ada beberapa hal penting yang perlu dicermati untuk mendapatkan efisiensi dalam pemupukan, antara lain : jenis pupuk yang digunakan, sifat dari pupuk itu sendiri, waktu pemupukan dan syarat pemberian pupuk serta cara atau metode pemupukan (Tisdale et al., 1986). Pemberian pupuk secara terpisah pada tanaman yang mempunyai kadar liat dan kapasitas kation rendah akan memberikan efisiensi pemupukan lebih tinggi daripada pemberian sekaligus sebagai pupuk dasar. Tetapi pada tanah yang berkadar liat dan kapasitas tukar kation yang tinggi, pemberian secara terpisah tidak akan lebih baik dari pada pemberian sekaligus pada waktu sebelum tanam (Prawirasumantri et al., 2002). Pada umumnya suplai unsur hara memegang peran penting untuk membangun tubuh tanaman. Nitrogen, Fosfor, dan Kalium adalah unsur makro yang sangat penting bagi kehidupan tanaman. Unsur N dapat mempercepat pertumbuhan dan memberikan hasil yang lebih besar, mendorong pertumbuhan vegetatif seperti daun, batang dan akar yang mempunyai peranan penting dalam beberapa tanaman. Unsur P sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman, yaitu berfungsi dalam metabolisme sel, menstimulir pertumbuhan, perkembangan perakaran tanaman, memperbaiki kualitas hasil, dan mempercepat masa pematangan. Unsur K bagi tanaman berperan dalam metabolisme air tanaman, mempertahankan turgor, dan membentuk batang yang kuat (Abidin et al., 2002).

104

III. METODOLOGI Praktikum kesuburan tanah acara VII yang berjudul Pengaruh Pemupukan dilakukan pada hari Rabu, tanggal 10 Oktober 2012 di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain ember dan paku untuk melubangi ember. Bahan yang digunakan yaitu NPK, pupuk organik, tanah, air, dan benih jagung (Zea mays). Cara kerja pada praktikum ini pertama-tama diambil tanah olah ultisol di lahan pertanian, digemburkan, dan dimasukkan ke dalam ember plastik yang bagian bawahnya telah dilubangi dengan paku. Tanah dalam ember diberi perlakuan sebagai berikut: a. tanpa pupuk

b. + NPK 0.5 sendok teh c. + pupuk organik 100 g d. + NPK 0.5 sendok teh + pupuk organik 100 g Masing-masing perlakuan kemudian ditanami dengan 3 benih jagung, setelah tumbuh dipilih 1 tanaman yang terbaik untuk dipelihara dan diamati. Selanjutnya ditambahkan air secukupnya (dijaga kapasitas lapang sekitar) setiap hari supaya tanaman tumbuh dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap minggu meliputi : tinggi tanaman, kenampakan visual (morfologi dan warna) selama 3 minggu. Data yang telah diperoleh dibuat grafik tinggi tanaman dan histogram jumlah daun.

105

III. HASIL PENGAMATAN Tinggi Tanaman minggu ke- (cm) 1 2 3 1 Tanpa Perlakuan 5 30,5 35,6 2 NPK 0,5 Sendok Teh 19 49,1 54,6 3 Pupuk Organik 100 gr 17,2 45,1 48,2 4 NPK + Pupuk Organik 8,5 22,6 34,2 Tabel 4.1 Rata-Rata Tinggi Tanaman (cm) No. Jenis Perlakuan

Jumlah Daun minggu ke- (helai) 1 2 3 1 Tanpa Perlakuan 2 4 4 2 NPK 0,5 Sendok Teh 4 5 5 3 Pupuk Organik 100 gr 3 5 4 4 NPK + Pupuk Organik 4 4 5 Tabel 4.2 Rata-Rata Jumlah Daun (helai) No. Jenis Perlakuan

Warna Daun minggu ke1 2 3 1 Tanpa Perlakuan ++ ++ ++ 2 NPK 0,5 Sendok Teh ++ ++ ++ 3 Pupuk Organik 100 gr ++ ++ ++ 4 NPK + Pupuk Organik ++ ++ ++ Tabel 4.3 Warna (Kenampakan Visual Tanaman) No. Jenis Perlakuan

Keterangan : Semakin banyak (+), maka warna daun semakin hijau.

106

IV. PEMBAHASAN Pupuk merupakan suatu bahan yang disediakan atau ditambahkan ke dalam tanah atau media tanam dengan maksud untuk memberikan atau mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan oleh tanaman untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Pemberian pupuk ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesuburan tanah sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman yang ditanam pada tanah tersebut. Pemupukan adalah tindakan memberikan tambahan unsur-unsur hara pada komplek tanah, baik langsung maupun tidak langsung dan dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanaman. Tujuannya untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertumbuhan tanaman. Pemupukan memiliki manfaat bagi tanah maupun tanaman yang hidup di tempat tersebut. Manfaat pemupukan untuk tanah yaitu memperbaiki kesuburan tanah karena unsur hara dalam tanah akan bertambah. Bagi tanaman pemupukan bermanfaat menambah dan menyediakan unsur hara tanah, sehingga kebutuhan unsur hara untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan tercukupi. Aplikasi pupuk organik pada tanah sangat baik karena memiliki banyak keuntungan, diantaranya memperbaiki kemampuan tanah untuk menahan lengas dan hara, meningkatkan kandungan hara makro dan mikro, memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, serta meningkatkan produktivitas tanah. Pupuk organik mengandung berbagai macam unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sehingga pemupukan dengan pupuk organik ini akan lebih efektif. Selain itu pupuk organik tidak dapat membunuh mikrobia yang bermanfaat namun justru dapat memberikan tambahan mikrobia efektif ke dalam tanah. Pupuk organik mempunyai sangat banyak kelebihan namun juga memiliki kekurangan bila dibandingkan dengan pupuk buatan atau kimia (anorganik). Kekurangannya diantaranya, kandungan unsur hara jumlahnya kecil sehingga jumlah pupuk yang diberikan harus relatif banyak bila dibandingkan dengan pupuk anorganik. Jumlah yang banyak mengakibatkan tambahan biaya operasional untuk pengangkutan dan implementasinya, dalam jangka pendek apalagi untuk tanah-tanah yang sudah miskin unsur hara, pemberian pupuk organik yang membutuhkan jumlah besar sehingga menjadi beban biaya bagi petani, sementara itu reaksi atau respon tanaman terhadap

107

pemberian pupuk organik tidak sespektakuler pemberian pupuk buatan. Keunggulan pupuk organik yaitu pupuk organik mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro, kondisi ini tidak dimiliki oleh pupuk buatan (anorganik), kemudian pupuk organik mengandung asam-asam organik, antara lain asam humic, asam fulfic, hormon dan enzim yang tidak terdapat dalam pupuk buatan yang sangat berguna baik bagi tanaman maupun lingkungan dan mikroorganisme, selain itu pupuk organik mengandung makro dan mikro organisme tanah yang mempunyai pengaruh yang sangat baik terhadap perbaikan sifat fisik tanah dan terutama sifat biologis tanah, pupuk organik dapat memperbaiki dan menjaga struktur tanah, menjadi penyangga pH tanah, menjadi penyangga unsur hara anorganik yang diberikan, membantu menjaga kelembaban tanah, aman dipakai dalam jumlah besar dan berlebih sekalipun karena tidak merusak lingkungan. Selain pupuk organik juga ada pupuk kimia atau anorganik. Seperti pada pupuk organik, pupuk kimiapun memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Kelebihan pupuk kimia diantaranya karena unsur yang terkandung cepat terurai, lebih cepat terserap oleh tumbuhan, pemupukan relatif mudah dilakukan, pemupukan intensif untuk tumbuhan lebih mudah, karena pupuk kimia telah dikonsentrasikan pada jenis unsur tertentu. Sedangkan kekurangannya yaitu karena cepat terurai di alam, sehingga untuk mendapatkan efisiensi pemupukan yang optimal harus dengan dosis yang tepat, waktu pemupukan harus sering karena pupuk tidak tersimpan lama dalam media tanam, ketersediaan pupuk tergantung pihak lain, misal pabrik dan distributor, dapat menyebabkan ketidakseimbangan unsur hara dalam tanah karena pemupukan yang tidak berimbang, dalam pemakaian jangka panjang dapat menurunkan PH tanah. Menurut Sutedjo (1995), pupuk NPK disebut sebagai pupuk majemuk lengkap atau complete fertilizer. Pemakaian pupuk ini tentunya harus melalui penyelidikan terlebih dahulu sehingga dapat dipilih mana yang sesuai persentase kandungan N, P, K nya untuk kepentingan tanah itu, dengan demikian maka ekonomis, efektifitas dan efisiensi penggunannya dapat terjamin. Beberapa Unsur hara yang terkandung dalam pupuk NPK adalah sebagai berikut : Nitrogen Nitrogen keberadaannya mutlak ada untuk kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan tanaman dan dibutuhkan dalam jumlah yang banyak. Tanaman

108

menyerap N sebagian besar dalam bentuk ion NO3- dan NH4+, sedikit berupa Urea melalui daun, dan sebagian kecil berupa asam amino larut dalam air. Tanaman yang mengandung cukup N akan menunjukkan warna daun hijau tua yang artinya kadar klorofil dalam daun tinggi. Sebaliknya apabila tanaman kekurangan atau defisiensi N maka daun akan menguning (klorosis) karena kukarangan klorofil. Pertumbuhan tanaman lambat, lemah dan tanaman menjadi kerdil, dan tanaman cepat masak juga bisa disebabkan kekurangan N. Defisiensi N dapat meningkatkan kadar air biji dan menurunkan produksi dan kualitas. Kelebihan N akan meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman, tetapi akan memperpendek masa generatif, yang akhirnya justru menurunkan produksi atau menurunkan kualitas produksi tanaman. Tanaman yang kelebihan N menunjukkan warna hijau gelap sukulen, yang menyebabkan tanaman peka terhadap hama, penyakit dan mudah roboh. Apabila N tersedia didalam tanah hanya atau sebagian besar dalam bentuk amonium, dapat menyebabkan keracunan pada tanaman dan akhirnya dapat mengakibatkan jaringan vascular pecah dan berakibat pada terhambatnya serapan air. P (Fosfor) Tidak ada unsur lain yang dapat menggantikan fungsinya dalam tanaman, sehingga tanaman harus mendapatkan atau mengandung P secara cukup untuk pertumbuhannya secara normal. Fungsi penting fosfor di dalam tanaman yaitu dalam proses fotosintesis, respirasi, transfer dan penyimpanan energi, pembelahan dan pembesaran sel serta proses-proses di dalam tanaman lainnya. Pada umumnya kadar P di dalam tanaman di bawah kadar N dan K yaitu sekitar 0,1 hingga 0,2%. Di Indonesia pupuk P sangat bermasalah, karena selain efisiensi pemupukan P rendah juga tambang P di Indonesia jarang, beragam dan berkadar rendah. Hal ini mengakibatkan untuk mencukupi kebutuhan P harus import. Tanaman menyerap sebagian besar unsur hara P dalam bentuk ion ortofosfat primer (H2PO4-). Sejumlah kecil diserap dalam bentuk ion ortofosfat sekunder (HPO4-2). pH tanah sangat besar pengaruhnya terhadap perbandingan serapan ion-ion tersebut, yaitu makin masam H2PO4- makin besar sehingga makin banyak yang diserap tanaman dibandingkan dengan HPO4-2. Fosfor di dalam tanaman mempunyai fungsi sangat penting yaitu dalam proses fotosintesis, respirasi, transfer dan penyimpanan

109

energi, pembelahan dan pembesaran sel serta proses-proses di dalam tanaman lainnya. Fosfor meningkatkan kualitas buah, sayuran, biji-bijian dan sangat penting dalam pembentukan biji. P juga sangat penting dalam transfer sifat-sifat menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Fosfor membantu mempercepat perkembangan akar dan perkecambahan, dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air, meningkatkan daya tahan terhadap penyakit yang akhirnya meningkatkan kualitas hasil panen. Gejala pertama tanaman yang kekurangan P adalah tanaman menjadi kerdil. Bentuk daun tidak normal dan apabila defisiensi akut maka ada bagian-bagian daun, buah dan batang yang mati. Defisiensi P juga dapat menyebabkan penundaan kemasakan, juga pengisian biji berkurang. Kalium Kalium di dalam jaringan tanaman ada dalam bentuk kation dan bervariasi sekitar 1,7 2,7% dari berat kering daun yang tumbuh secara normal. Ion K di dalam tanaman berfungsi sebagai aktivator dari banyak enzim yang berpartisipasi dalam beberapa proses metabolisme utama tanaman. Kalium sangat vital dalam proses fotosintesis. Apabila K defisiensi maka proses fotosintesis akan turun, akan tetapi respirasi tanaman akan meningkat. Kejadian ini akan menyebabkan banyak karbohidrat yang ada dalam jaringan tanaman tersebut digunakan untuk mendapatkan energi untuk aktivitas-aktivitasnya sehingga pembentukan bagianbagian tanaman akan berkurang yang akhirnya pembentukan dan produksi tanaman berkurang. Fungsi penting K dalam pertumbuhan tanaman adalah pengaruhnya pada efisiensi penggunaan air. Proses membuka dan menutup poripori daun tanaman, stomata, dikendalikan oleh konsentrasi K dalam sel yang terdapat di sekitar stoma. Kadar K tidak cukup (defisien) dapat menyebabkan stomata membuka hanya sebagian dan menjadi lebih lambat dalam penutupan. Gejala kekurangan K ditunjukkan dengan tanda-tanda terbakarnya daun yang dimulai dari ujung atau pinggir, bercak-bercak nekrotik berwarna coklat pada daun-daun dan batang yang tua.

110

Grafik Tinggi Tanaman


60
Tinggi Tanaman (cm) 50 Kontrol NPK Pupuk Organik NPK + Pupuk Organik 1 2 Minggu ke3

40
30 20 10 0

Gambar 5.1. Grafik tinggi tanaman pada berbagai perlakuan Dari grafik tersebut terlihat bahwa tinggi tanaman berbeda-beda karena dipengaruhi oleh unsur hara yang tersedia dari perlakuan yang dilakukan. Tinggi tanaman menggambarkan pertumbuhan dari tanaman tersebut, dengan demikian dapat dikatakan semakin tinggi tanamannya maka pertumbuhan tanaman semakin baik. Pada grafik tanaman paling tinggi didapatkan pada penambahan NPK, sedangkan yang terendah adalah pada penambahan NPK + Pupuk Organik. Ultisol merupakan tanah
yang memiliki tingkat kesuburan kimia yang rendah karena mempunyai potensi keracunan Al dan miskin kandungan bahan organik. Tanah ini juga tergolong tua (berkembang lanjut) sehingga miskin kandungan hara terutama P dan kation-kation dapat ditukar seperti Ca, Mg, Na, dan K (terkait dengan kejenuhan basa/garam alkali), kadar Al tinggi, nilai KPK rendah, dan peka terhadap erosi. Tanah ultisol membutuhkan masukan unsur hara yang ,ebih

banyak agar dapat mendukung pertumbuhan. Pada grafik di atas, tidak sesuai dengan teori. Pertumbuhan tinggi tanaman yang paling baik adalah pada perlakuan penambahan NPK, sedangkan pertumbuhan tinggi tanaman yang paling buruk adalah pada perlakuan penambahan NPK + Pupuk Organik. NPK dan pupuk organik yang digunakan memiliki peranan masing-masing sehingga dapat saling mendukung untuk pertumbuhan tanaman. Pupuk organik (memiliki kandungan hara beraneka ragam) ditambahkan pada awal sebelum penanaman dengan tujuan untuk menyuburkan tanah. Sementara NPK ditambahkan setelah tanaman berumur 1 minggu untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Adanya hasil yang tidak sesuai dengan teori tersebut dapat diakibatkan oleh

111

beberapa faktor, salah satunya adalah kandungan air. Selain hara, air juga sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman. Jadi meskipun kebutuhan hara oleh tanaman tersebut terpenuhi, namun kadar airnya rendah, maka pertumbuhannya pun kurang maksimum.

Histogram Jumlah Daun


Jumlah Daun (helai) 5 4 3 2 1 0 Tanpa NPK 0,5 Perlakuan Sendok Teh Pupuk Organik 100 gr Perlakuan NPK + Pupuk Organik

Gambar 5.2. Histogram jumlah daun pada berbagai perlakuan Pada histogram jumlah daun terlihat bahwa terdapat perbedaan jumlah daun pada berbagai perlakuan . Dapat dilihat dari histogram bahwa pada pengamatan minggu ke-3, rata-rata jumlah daun yang paling banyak yaitu pada perlakuan + NPK. Sementara ratarata jumlah daun paling sedikit yaitu pada perlakuan kontrol. Pada perlakuan + NPK tanaman hanya mendapatkan tambahan unsur hara N, P, dan K saja yang unsur tersebut belum terlalu mencukupi untuk mendukung pembentukan daun. Namun hasil pengamatan tidak menunjukan hal demikian. Hal ini dapat dikarenakan faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman tidak mendukung pertumbuhannya. Selain unsur hara, tanaman juga memerlukan air dalam pertumbuhannya. Kekurangan air akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, begitu pula dengan pertumbuhan daun. Jadi ketidaksesuaian hasil praktikum dengan teori yang seharusnya bisa dikarenakan oleh faktor air yang kurang selama pengamatan dilakukan.

112

VI. PENUTUP A. Kesimpulan 1. Pertumbuhan tinggi tanaman pada perlakuan kontrol tidak lebih baik dari perlakuan penambahan pupuk, karena pada perlakuan kontrol tanaman hanya mendapat unsur hara yang berasal dari tanah saja. 2. Pertumbuhan tinggi tanaman yang paling maksimal yaitu pada perlakuan dengan pupuk organik. 3. Perpaduan penggunaan pupuk organik dan kimia dengan jumlah sesuai dengan kebutuhan tanaman dapat mengoptimalkan pertumbuhan tanaman. B. Saran 1. Perlu ditimbang juga berat basah dan berat kering tanaman yang ditanam pada berbagai perlakuan.

113

DAFTAR PUSTAKA Abidin, Z., N. Nurtika dan Suwandi. 2002. Pengaruh Pengapuran dan Pemupukan NPK terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bayam Cabut. Buletin Penelitian Hortikultura 18 : 48-54. Anonim, 2011. Pupuk dan Pemupukan. <http://www.pemupukan.info/>. Diakses Tanggal 1 November 2012. Indranada, H. K. 1989. Pengelolaan Kesuburan Tanah. Bina Aksara, Jakarta. Miller, R. W and R. L. Donahue. 1990. Soils. An Introduction to Soils and Plant Growth. Prentice-Hall, New Jersey. Prawirasumantri, J. A. Sofyan dan M. Sujadi. 2002. Penilaian pada tingkat petani terhadap penggunan beberapa bentuk pupuk urea dan cara pemberiannya untuk pada sawah di Jawa. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. Departemen Pertanian Badan Penelitian dan pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian Tanah Bogor :35-38. Sutedjo, M., M. 1995. Pupuk Dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta. Tisdale, S. L., W. L. Nelson and J. D. Beaton. 1986. Soil Fertility and Fertilizers. MacMillan Pub, New York. Welch, L.F., Johnson, O.E. Mc Kibben, L.V. Boone, dan J.W. Pendleton. 2000. Relative efficiency of broadcast versus banded potassium for corn. Agronomy Journal 58 : 618 621.

114

LAMPIRAN Perlakuan Ditambah Pupuk Organik 100 gr

Gambar 1 Tanaman Minggu ke 0

Gambar 2 Tanaman Minggu ke 1

Gambar 3. Tanaman Minggu ke 2

Gambar 4. Tanaman Minggu ke 3

115

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH ACARA VIII MANAJEMEN KESUBURAN TANAH

Disusun oleh: Ahmad Khoirudin Asrofi Lathifatul Lailia Nur Kusumastuti Eka Putri D. Siska Ernitawati Golongan Asisten : A3 (Siang) : Basyit Wulan I. (11913) (11938) (11975) (12006) (12066)

LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

116

ACARA VIII MANAJEMEN KESUBURAN TANAH


Abstraksi Praktikum Manajemen Kesuburan Tanah dilakukan pada hari Sabtu tanggal 06 Oktober 2012 di Dusun Sumberan, Desa Sumber Agung, Kecamatan Moyudan, Sleman, Yogyakrta. Pengamatan dilakukan secara langsung ke lahan pertanian di daerah Moyudan dengan cara mewawancarai petani dan melengkapi data yang telah tersedia di buku panduan Praktikum Kesuburan Tanah. Berdasarkan hasil pengamatan dari data yang telah diperoleh dari salah satu petani di daerah Moyudan diketahui tanah yang diamati adalah jenis tanah vertisol yang sifatnya lempung. Manajemen kesuburan tanah yang diterapkan oleh petani telah sesuai yaitu dengan melakukan pemupukan yang tepat dan benar untuk menambah dan memperbaiki unsur hara baik mikro maupun makro dalam tanah, pengolahan tanah yang baik, irigasi yang digunakan dengan semi teknis, hanya pola penanaman secara monokultur saja yang sedikit bermasalah karena dapat menyebabkan pelonjakan jumlah hama di lahan pertanian.

I. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah untuk dapat menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup dan berimbang untuk pertumbuhan dan hasil tanaman. Kesuburan tanah ditentukan oleh ketersediaan unsur hara yang cukup dan berimbang, ketersediaan air, dan kondisi mikrobia tanah yang baik. Apabila ketiga hal ini terpenuhi kondisi tanah dapat terjaga kesuburannya sehingga lahan dapat digunakan menjadi lahan produktif. Peningkatan potensi lahan tergantung pada faktor tanah, topografi atau kemiringan, cuaca atau iklim, dan lingkungan lainnya seperti sosial budaya. Faktor topografi dan iklim relatif tidak dapat diubah karena sudah ada sejak jaman dahulu. Sedangkan sifat-sifat tanah seperti sifat fisik, kimia, dan biologi tanah dapat diubah pada tingkat tertentu untuk penggunaan dan komoditi tanaman yang akan diusahakan. Faktor manajemen terkait dengan cara kebiasaan yang akan dilakukan masyarakat mengelola tanah juga menjadi faktor yang lebih mudah diubah. Faktor manajemen menjadi sangat penting ketika faktor-faktor lainnya sulit mendukung pertumbuhan tanaman budidaya. Tanah produktif harus mempunyai kesuburan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman karena tanah sebagai media tumbuh harus dapat menyediakan unsur hara yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Oleh sebab itu, upaya yang paling mudah untuk memperbaiki produktivitas tanah dengan melakukan manajemen kesuburan tanah yang tepat. Usaha tersebut dapat dilakukan dengan melakukan manajemen yang

117

tepat bagaimana pengolahan lahan, pemberian pupuk, dan penggunaan pestisida secara tepat.

B. Tujuan Mengetahui cara memelihara kesuburan tanah yang dilakukan oleh petani

118

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Tanah merupakan sumber makanan bagi tanaman. Kandungan hara yang ada di dalam tanah sangat dibutuhkan oleh tanaman. Keberadaan kandungan hara bagi tanaman ini tentunya akan semakin menurun seiring dengan pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, tanah memerlukan pemeliharaan yang cukup agar kesuburanya dapat terjaga dengan baik. Pemeliharaan yang dapat dilakukan antara lain dengan pemupukan, pemanfaatan irigasi, pengolahan yang baik, penggunaan pupuk dan pestisida yang teratur dan dengan menggunakan bibit yang unggul (Yuwono dan Roesmarkam ,2002). Dalam mempelajari manajemen kesuburan tanah, kita harus mampu memadukan pengetahuan tentang ilmu kima tanah, ilmu fisika tanah, ilmu biologi, dan ilmu budidaya pertanian. Pengkajian tentang manajemen kesuburan tanah dilihat dari seluruh aspek yang melekat dalam usahatani itu sendiri, baik dilihat dari tempat tumbuhnya tanaman (tanah, kesuburan tanah, iklim, topografi, curah hujan, irigasi), faktor yang mendukung atau modal (sarana produksi, biaya operasional, dan teknologi), faktor tenaga kerja (keahlian, jumlah, dan kontinuitas/ketersediaan), dan faktor manajemen (planning, organizing, actuating, dan controlling) dari setiap sisi aktivitas usaha petani (Djamali, 2000). Manajemen kesuburan tanah bertujuan untuk memelihara kesuburan tanah sehingga kesuburanya dapat terjaga yang akan menghasilkan produk pertanian yang handal baik dalam kualitas maupun kuantitasnya (Hardjodimono, 1970). Sifat fisik yang dapat mempengaruhi tingkat kesuburan tanah adalah warna tanah, struktur, dan kelengasan. Keadaan lingungan sekitar yang dapat ikut mempengaruhi tingkat kesuburan antara lain dapat berupa jenis tanaman pada lahan, pola penanaman, iklim di wilayah tersebut, dan sebagainya. Sedangkan sifat kimia seperti pH, KTK, koloid tanah dan organik, dan lain-lain tidak dibahas dalam hasil praktikum ini karena tidak dijadikan point utama (Davidescu dan Davidescu, 1982). Untuk mencukupi kebutuhan hara tanaman, maka upaya peningkatan kesuburan tanah secara alami melalui daur ulang nutrisi tanaman, harus dioptimalkan dengan mengandalkan perbaikan aktivitas biologis, serta fisik dan kimia tanah dengan prinsip (Anonim, 2011): 1. Mengembalikan hara atau nutrisi yang terangkut panen dengan menambahkan pupuk organik dari berbagai sumber (pangkasan tanaman, pupuk kandang), secara periodik ke dalam tanah baik dalam bentuk segar atau kompos,

119

2. Mengembalikan sisa-sisa panen serta serasah ke lahan untuk mengembalikan hara terangkut tanaman, 3. Menanam tanaman legum sebagai tanaman pagar (hedgerow) yang bermanfaat sebagai sumber pupuk organik, pakan ternak, dan di sisi lain berfungsi sebagai perangkap inang/predator, 4. Mengintegrasikan ternak dalam kebun organik, selain kotoran yang dihasilkan digunakan sebagai pupuk, daging ternak dapat dikonsumsi sebagai produk daging organik, 5. Menambahkan bahan amelioran alami seperti kapur dan fosfat alam, bila terjadi kahat hara Ca dan P pada tanah yang tidak dapat diatasi dengan pupuk organik (bahan-bahan amelioran yang diizinkan. Pemberian bahan organik mampu meningkatkan hasil gabah padi kering panen secara nyata. Dalam meningkatkan produksi padi perlu dilakukan pelesarian lingkungan produksi, termasuk mempertahankan kandungan bahan organik tanah dengan memanfaatkan jerami padi. Penambahan bahan organik merupakan suatu tindakan perbaikan lingkungan tumbuh tanaman yang antara lain dapat meningkatkan efisiensi pemupukan (Iqbal, 2008). Kontribusi limbah organik untuk hasil panen dan kesuburan tanah mungkin dipengaruhi oleh komposisi dan jenis tanah. 6-yr ini studi (2001-2006) mengevaluasi efek penambahan ulang pupuk mineral (MF), pabrik kertas bercampur lumpur (PMS) (18, 36, dan 54 Mg ha-1), pupuk kandang sapi perah (DCM) ( 36 Mg ha-1) atau dengan pengurangan pupuk mineral (60% NPK) (RMF) dan kontrol pada tanah. Aplikasi PMS dan DCM meningkat terutama N mineralisasi dan hasil panen di tanah liat berpasir daripada di tanah lempung. Namun, meningkatkan C isi tanah, air dan agregat stabil MWD berikut aplikasi mereka lebih tinggi di tanah lempung daripada di tanah liat berpasir. DCM efek pada perubahan sifat tanah itu kurang besar daripada PMS. Kecuali di tahun pertama, pada tingkat aplikasi PMS dari 36 dan 54 Mg ha-1 tanpa NPK, dan PMS diterapkan pada tingkat 18 Mg ha-1 dengan 60% NPK, menghasilkan hasil panen tertinggi di kedua tanah dan sebanding dengan yang diperoleh dengan MF. Peningkatan hasil DCM berikut tambahan (36 Mg ha-1) adalah lebih rendah daripada yang diperoleh dengan PMS. (Adrien, 2009).

120

III.

METODOLOGI

Praktikum Acara VIII yang berjudul Manajemen Kesuburan Tanah dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 06 Oktober 2012 yang dilakukan di Dusun Sumberan, Desa Sumber Agung, Kecamatan Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Alat dan bahan yang dipersiapkan untuk melakukan praktikum ke lahan pertanian yang telah ditentukan adalah alat tulis, kuesioner yang terdapat pada Buku Panduan Praktikum Kesuburan Tanah dan kamera digital untuk dokumentasi. Praktikum dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung ke lahan petani di daerah yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu di Dusun Sumberan, Desa Sumber Agung, Kecamatan Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Pengamatan dilakukan dengan cara mewawancarai salah satu petani di daerah tersebut dan mengisi lembar pengamatan dan melengkapi data kuesioner yang telah disiapkan. Selanjutnya mewawancarai petani mengenai lahan pertanian di daerah tersebut, varietas yang ditanam, pupuk yang digunakan dan cara memelihara kesuburan tanahnya.

121

IV.

HASIL PENGAMATAN

Hasil yang diperoleh dari wawancara : Identitas Petani Nama : Slamet Riyanto Umur : 42 tahun Alamat : Sumberan, Sumberagung, Moyudan, Sleman, Yogyakarta Umum Hari Dusun Kecamatan : Sabtu Tanggal : 06 Oktober 2012 : Sumberan : Sumberagung Waktu : 11.00-12.00 WIB

Sketsa Lokasi :

Altitude (ketinggian tempat) : 7.77306 LS dan 110.25373 BT Kelerengan Fisiografi Topografi Erosi Landuse Irigasi Cuaca : 8-15 : Dataran : Datar : Ringan : Sawah : teknis : Terang

Jeluk mempan : 0-20 Jenis tanah : Vertisol

Petak yang diamati

122

Panjang

: 100 m , Lebar : 1 km

: 20 m

Jarak lahan dari jalan aspal Akses ke jalan besar Pematang

: Bagus

Lebar : 40 cm , Tinggi : 30 cm, Panjang : 100 m x 20 m Tanaman di pematang : Pisang , tinggi 150 cm, jarak tanam : 200 cm, fungsi : konsumsi

Keadaan tanah permukaan (top soil) Tekstur (rabaan) Warna tanah Struktur Kelengasan Tidak ada tanaman Ditanam : bulan Mei : 25 cm Dipanen: bulan Agustus Jarak rumpun : 20 x 20 cm : Halus : Coklat : Gumpal : Kering

Tinggi sisa jerami Terdapat :

Gundukan jerami Bekas jerami yang dibakar mengumpal Ditumbuhi gulma jenis rumputan

Jerami dimanfaatkan untuk pupuk dan pakan sapi Pola tanam : Monokultur : Padi

Produktivitas MT I bulan : Desember 2011, hasil : 9 kw/ ha gabah basah MT II bulan : April 2012, hasil : 9 kw/ ha gabah basah MT III bulan : Agustus 2012, hasil : 9 kw/ ha gabah basah

123

V.

PEMBAHASAN

Tanah mempunyai arti penting bagi tanaman. Dalam mendukung kehidupan tanaman, tanah memiliki fungsi untuk memberikan unsur hara, menyediakan air, sebagai tempat menyediakan udara untuk respirasi akar dan sebagai tempat bertumpunya tanaman. Tanah yang dikehendaki tanaman adalah tanah yang subur. Tanah yang subur adalah tanah yang mampu menyediakan unsur hara yang sesuai dengan tanaman, dalam jumlah yang cukup, dalam keseimbangan yang tepat dan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan suatu tanaman. Menurut Hardjowigeno (1992) terdapat 10 ordo tanah dalam sistem Taksonomi Tanah USDA 1975 dengan disertai singkatan nama ordo tersebut, adalah sebagai berikut: Sistem klasifikasi tanah terbaru ini memberikan Penamaan Tanah berdasarkan sifat utama dari tanah tersebut. Menurut Hardjowigeno (1992) terdapat 10 ordo tanah dalam sistem Taksonomi Tanah USDA 1975 (Hardjowigeno, 1992): 1. Alfisol Tanah yang termasuk ordo Alfisol merupakan tanah-tanah yang terdapat penimbunan liat di horison bawah (terdapat horison argilik) dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari 35% pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah. Liat yang tertimbun di horison bawah ini berasal dari horison di atasnya dan tercuci kebawah bersama dengan gerakan air. Padanan dengan sistem klasifikasi yang lama adalah termasuk tanah Mediteran Merah Kuning, Latosol, kadangkadang juga Podzolik Merah Kuning. 2. Aridisol Tanah yang termasuk ordo Aridisol merupakan tanah-tanah yang mempunyai kelembapan tanah arid (sangat kering). Mempunyai epipedon ochrik, kadangkadang dengan horison penciri lain. Padanan dengan klasifikasi lama adalah termasuk Desert Soil. 3. Entisol Tanah yang termasuk ordo Entisol merupakan tanah-tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan dalam perkembangan. Tidak ada horison penciri lain kecuali epipedon ochrik, albik atau histik. Kata Ent berarti recent atau baru.

124

Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial atau Regosol. 4. Histosol Tanah yang termasuk ordo Histosol merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur liat). Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Kata Histos berarti jaringan tanaman. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Organik atau Organosol. 5. Inceptisol Tanah yang termasuk ordo Inceptisol merupakan tanah muda, tetapi lebih berkembang daripada Entisol. Kata Inceptisol berasal dari kata Inceptum yang berarti permulaan. Umumnya mempunyai horison kambik. Tanah ini belum berkembang lanjut, sehingga kebanyakan dari tanah ini cukup subur. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial, Andosol, Regosol, Gleihumus. 6. Molisol Tanah yang termasuk ordo Mollisol merupakan tanah dengan tebal epipedon lebih dari 18 cm yang berwarna hitam (gelap), kandungan bahan organik lebih dari 1%, kejenuhan basa lebih dari 50%. Agregasi tanah baik, sehingga tanah tidak keras bila kering. Kata Mollisol berasal dari kata Mollis yang berarti lunak. Padanan dengan sistem kalsifikasi lama adalah termasuk tanah Chernozem, Brunize4m, Rendzina. 7. Oxisol Tanah yang termasuk ordo Oxisol merupakan tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit. Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK) rendah, yaitu kurang dari 16 me/100 g liat. Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida Al. Berdasarkan pengamatan di lapang, tanah ini menunjukkan batas-batas horison yang tidak jelas. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Latosol (Latosol Merah & Latosol Merah Kuning), Lateritik, atau Podzolik Merah Kuning. 8. Spodosol Tanah yang termasuk ordo Spodosol merupakan tanah dengan horison bawah terjadi penimbunan Fe dan Al-oksida dan humus (horison spodik) sedang, dilapisan

125

atas terdapat horison eluviasi (pencucian) yang berwarna pucat (albic). Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzol. 9. Ultisol Tanah yang termasuk ordo Ultisol merupakan tanah-tanah yang terjadi penimbunan liat di horison bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35%. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzolik Merah Kuning, Latosol, dan Hidromorf Kelabu. 10. Vertisol Tanah yang termasuk ordo Vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih dari 30%) di seluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Kalau kering tanah mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras. Kalau basah mengembang dan lengket. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Grumusol atau Margalit. Tanah vertisol atau grumosol merupakan tanah mineral yang memiliki sifat khusus yaitu mempunyai sifat vertik hal ini disebabkan terdapat mineral liat tipe 2:1 yang relatif banyak, sehingga dapat mengerut (shrinking) jika dalam keadaan kering dan mengmbang (swelling) jika jenuh air Hal ini menyebabkan tanah sulit diolah. Tanah vertisol termasuk tanah yang subur karena tanah tersebut relatif kaya akan hara dengan kapasitas tukar kation tinggi dan pH netral hingga alkali. Tanah vertisol di Indonesia terbentuk pada tempat-tempat yang berketinggian tidak lebih dari 300 meter diatas permukaan laut, temperatur tahunan rata-rata 25 C dengan curah hujan kurang dari 1500 mm/tahun dan topografi datar sampai daerah yang berlereng curam. Sifat Fisik Tanah Vertisol Tanah vertisol pada umumnya mempunyai tekstur liat, kandungan liat berkisar antara 35 % sampai 90 % dari total tanah. Komposisi mineral liat tanah vertisol selalu didominasi oleh mineral tipe 2:1, biasanya montmorilonit. Tanah vertisol dapat mengembang bila basah dan mengkerut jika kering, karena didominasi mineral liat tipe 2:1 (montmorillonit). Montmorillonit yaitu mineral yang sifatnya hidrofil dan mempunyai daya pertukaran basa yang tinggi sehingga mineral ini berkemampuan mengembang dan mengerut yang besar. Pada umumnya tanah vertisol pada bagian permukaannya berwarna hitam dan melalui oksidasi yang berkepanjangan, warna hitam akan teredusir namun warna

126

tersebut tidak akan hilang sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa pada tanah tersebut kandungan bahan organiknya tinggi. Semakin banyak bahan organik yang tersedia di dalam tanah maka populasi mikroba tanah termasuk Rhizobium akan semakin banyak. Bahan organik dalam tanah berperan dalam penyedia unsur-unsur hara dan tenaga maupun pembentuk tubuh mikroba tanah. Sifat Kimia Tanah Vertisol Secara kimiawi tanah vertisol tergolong tanah yang kaya akan unsur hara karena mempunyai kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang tinggi. KTK pada tanah mineral liat montmorillonit antara 80-150 me/g liat. Tanah dengan KTK tinggi lebih mampu menyediakan unsur hara bagi tanaman dibandingkan dengan KTK rendah. Derajat keasaman atau pH pada tanah vertisol adalah netral berkisar antara 5,5 hingga 7,4. Tanah dengan keadaan pH netral menunjukan bahwa konsentrasi H+ dan OH dalam tanah tersebut seimbang. Apabila konsentrasi H + dan OH dalam tanah seimbang maka unsur hara mudah larut dalam air sehingga pada pH netral unsur hara mudah diserap. Selain itu dalam keadaan netral dipastikan tanah tidak terdapat unsur Fe, Mn, Zn, Cu dan Co seperti pada tanah dengan pH masam karena unsur tersebut merupakan zat racun bagi tanaman. Pada tanah dengan pH netral maka mikroorganisme juga mudah berkembang. Seperti bakteri Rhizobium yang hanya dapat berkembang dengan baik pada pH > 5,5. Kandungan bahan organik pada tanah vertisol beragam tergantung pada bahan induknya. Faktor yang mempengaruhi kesuburan tanah antara lain : Kemampuan tanah menyediakan unsur hara dalam jumlah dan waktu dibutuhkan Keanekaragaman mikroba tanah Faktor iklim seperti suhu, curah hujan, dan kelembaban Faktor nutrisi Sifat fisik yang mempengaruhi perkembangan sistem perakaran (aerasi, drainase dan karakteristik pengikatan air) Tanaman yang dibudidayakan adalah padi dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Varietas yang ditanam adalah padi ciherang. Lahan yang diamati memiliki luas 2000 m dan berada tidak jauh dari jalan aspal yaitu kurang lebih 1 km, sehingga akses untuk mencapai jalan besar termasuk bagus. Lahan yang satu dengan lahan yang lainnya dipisahkan oleh pematang dengan lebar 40 cm , tinggi 30 cm, dan panjang 100 m x 20

127

m. Dalam pematang tersebut terdapat tanaman pisang dengan tinggi 150 cm dan jarak tanam 200 cm. Fungsinya hanya sebagai tanaman untuk dikonsumsi. Pematang atau galengan sawah yang sangat sederhana ini memegang peranan penting di dalam persawahan. Sebab tanpa galengan pada tanah yang datar padi tak dapat ditanam secara basah. Oleh sebab itu pematang sawah harus dibuat kokoh dan dirawat baik, sehingga air selalu dapat tertahan di petakan sawah. Pematang sawah juga dapat dimanfaatkan sebagai jalan. Pada lahan tersebut ditumbuhi gulma jenis rerumputan yang berfungsi sebagai penahan erosi dan penutup tanah dan jika ada jerami yang tersisa dimanfaatkan untuk makan ternak dan pupuk. Pola tanam yang digunakan monokultur. Pola tanam monokultur merupakan pola penanaman satu jenis varietas pada satu area lahan. Pola penanaman monokultur memudahkan dalam perawatan. Dalam setahun satu lahan sawah hanya ditanami padi, tanpa variasi apapun. Akibatnya populasi hama atau penyakit melonjak dan dapat menyerang tanaman pada periode penanaman berikutnya. Oleh karena itu, pertanian pada masa kini biasanya menerapkan monokultur spesial dimana lahan ditanami oleh tanaman lain untuk musim tanam berikutnya. Hal ini bertujuan untuk memutus siklus hidup Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sekaligus menjaga kesehatan tanah. Usaha menjaga kesuburan tanah yang dilakukan oleh petani diantaranya melalui pengolahan tanah dengan penggemburan tanah melalui traktor dan pemupukan. Pemupukan yang dilakukan adalah dengan menggunakan pupuk urea, pupuk TS, pupuk cair, dan pupuk alami sisa jerami. Dalam hal irigasi, petani menerapkan irigasi teknis. Sistem pengairan secara teknis adalah air dapat diatur dalam sistem, tetapi yang dapat diukur hanya sebagian saja. Bangunan irigasi primer sudah permanen dan yang bagian sekunder belum permanen. Bangunan bendungan irigasi dan saluran primer pada

umumnya sudah permanen dan dibangun oleh pemerintah melalui Dinas Pekerjaan Umum dari Pusat atau daerah setempat. Sedangkan saluran sekunder umumnya belum permanen dan yang membangun serta memlihara adalah pemerintah daerah atau masyarakat atau petani setempat.

128

129

VI. A. Kesimpulan

PENUTUP

1. Cara memelihara kesuburan tanah yang dilakukan oleh petani adalah melalui pengolahan tanah dengan cara penggemburan tanah melalui traktor dan pemupukan. Pemupukan yang dilakukan adalah dengan menggunakan pupuk urea, pupuk TS, pupuk cair, dan pupuk alami sisa jerami. 2. Manajemen kesuburan tanah dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah sehingga dapat digunakan sebagai media tumbuh yang baik bagi tanaman. 3. Dalam melakukan manajemen kesuburan tanah perlu memperhatikan lingkungan dan jenis tanah agar kondisi tanah dapat terjaga dengan baik. B. Saran Saran yang dapat kelompok kami berikan atas manajemen yang telah dilakukan oleh Bapak Slamet Riyanto terkait dengan sistem rotasi padi-padi-padi adalah sebagai berikut: sebaiknya sistem rotasi yang dilakukan jangan hanya padi sepanjang musim. Hal ini terkait banyak hal yang merugikan di antaranya melonjaknya populasi hama-penyakit dan menurunnya kesuburan lahannya. Kesuburan lahan pertanaman tersebut akan cenderung menurun karena unsur-unsur yang sama (yang dibutuhkan oleh tanaman padi) terserap secara terus-menerus sepanjang musim dan akan berakibat degradasi unsur hara pada lahan tersebut. Untuk mengatasi permasalahan ini, selain melakukan pergiliran tanaman lain famili juga dapat dilakukan dengan penambahan bahan organik mengingat bahwa tanah vertisol bermasalah juga dalam hal tesktur tanahnya yang liat sehingga unsur hara akan terserap dengan baik oleh tanaman jika tektur liat tersebut dapat diperbaiki sehingga aerasi, KPK, maupun faktor lainnya kondusif untuk tanaman. Terkait dengan irigasi dan pemupukan, usaha yang dilakukan Bapak Slamet Riyanto sudah cukup bagus.

130

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2011. Pengelolaan Kesuburan Tanah.<http://balittanah.litbang.deptan.go.id/ balittanahupdate/produk/publikasi/pub/leaflet/pukorganik.pdf.>.Diakses tanggal 28 Oktober 2012. Adrien, N. 2009. Soil properties and crop yields in response to mixed paper mill sludges, dairy cattle manure, and inorganic fertilizer application. Agronomi Journal 101: 826 - 835. Davidescu, D. dan V. Davidescu. 1982. Evaluation of Fertility by Plant and Soil Analysis. Abacus Press, England. Djamali, R. A. 2000. Manajemen Usaha Tani. Politeknik Pertanian Negeri Jember, Jember. Hardjodimono, S. 1970. Cara Memupuk. Bina Cipta. Bandung. Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah. Edisi Ketiga. PT Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta. Iqbal, Achmad. 2008. Potensi kompos dan pupuk kandang untuk produksi padi organik di tanah inceptisol. Akta Agrosia 11: 13 -18. Yuwono, N dan A. Roesmarkam. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta.

131

LAMPIRAN

Lahan sawah

Pematang ditanami pohon pisang

Sisa pembakaran jerami

Dokumentasi Kelompok dengan Petani

132

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH ACARA IX PENCUPLIKAN TANAH

Disusun oleh: Ahmad Khoirudin Asrofi Lathifatul Lailia Nur Kusumastuti Eka Putri D. Siska Ernitawati Golongan Asisten : A3 (Siang) : Basyit Wulan I. (11913) (11938) (11975) (12006) (12066)

LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

133

ACARA 1X PENCUPLIKAN TANAH


Abstraksi Pencuplikan tanah merupakan pengambilan contoh tanah pada suatu areal tertentu. Pencuplikan tanah dapat digunakan untuk menganalisis tanah tertentu. Metode pengambilan sampel untuk mengetahui kesuburan tanah yang digunakan dalam praktikum ini dengan sistem composite tanah yaitu menggabungkan tanah yang telah diambil diberbagai contoh lokasi pada berbagai lahan yang dikehendaki. Praktikum ini dilakukan pada hari minggu, 29 Oktober 2012 pada pukul 10.00 WIB di Sumberan, Sumberagung, Moyudan, Sleman. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara mengambil cuplikan tanah untuk uji kesuburan tanah. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat tulis, karung, cangkul, dan kamera. Adapun bahan yang diperlukan adalah tanah lapis olah. Pada praktikum ini dilakukan pengambilan contoh / cuplikan tanah pada kedalaman 0-20 cm kemudian secara komposit (gabungan) dari sub cuplikan sejumlah 16-20 titik yang diambil secara zig-zag memotong lahan. Diketahui bahwa tanah di areal yang diamati adalah jenis tanah vertisol.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah merupakan hasil pelapukan batuan bercampur dengan sisa bahan organik dari organisme (vegetasi atau hewan) yang hidup di atasnya atau di dalamnya. Komponen penyusun lainnya adalah udara dan air yang secara bersama-sama akan membentuk kualitas tanah terkait kemampuannya untuk menyokong pertumbuhan tanaman. Kesuburan tanah berbeda-beda tergantung faktor pembentuk tanah yang merajai di lokasi tersebut, yaitu: bahan induk, iklim, relief, organisme, atau waktu. Tingkat kesuburan tanah suatu lahan dapat diketahui dengan melakukan analisis kesuburan tanah. Tanah merupakan media pertanaman yang sangat penting bagi tanaman. Tanah merupakan tubuh alam yang terus mengalami perubahan kehidupan organisme di dalam serta pengaruh lingkungan yang menghasilkan pengaruh berbeda untuk masing-masing tempat. Dalam program uji tanah pengambilan contoh tanah merupakan tahapan yang cukup penting. Hasil analisis pencuplikan tanah dapat dipergunakan untuk mengukur kadar hara, menetapkan status hara dan digunakan sebagai petunjuk penggunaan pupuk dan kapur secara efisien, rasional, dan menguntungkan. Namun, hasil uji tanah tidak berarti apabila contoh tanah yang diambil tidak mewakili areal yang dimintakan rekomendasinya dan tidak dengan cara benar. Oleh karena itu pengambilan contoh tanah merupakan tahapan terpenting di dalam program uji tanah. B. Tujuan Untuk mengetahui cara mengambil cuplikan tanah untuk uji kesuburan tanah

134

II. TINJAUAN PUSTAKA Tanah adalah bangunan alam tersusun atas horison-horison yang terdiri atas bahan mineral dan organiknya, biasanya tak padu mempunyai tebal yang berbeda-beda dan berbeda pula dengan bahan induk yang di bawahnya dalam hal morfologi, sifat dan susunan fisik, kimia dan biologi (Darmawijaya, 1997). Kemampuan tanah sebagai media tumbuh tanaman yang dicirikan dengan ketersediaan hara yang cukup seimbang, kemudahan tanaman menyerap hara, tidak adanya senyawa racun, adanya aktivitas biologis yang mendukung, sehingga disebut dengan kesuburan tanah (Suryanto, 1995). Dalam analisis tanah pengambilan contoh tanah merupakan hal penting. Contoh tanah yang diambil harus mewakili suatu areal tertentu. Contoh tanah yang dianalisis untuk suatu jenis hara hanya memerlukan beberapa gram saja. Oleh karena itu kesalahan dalam pengambilan contoh tanah tanah menyebabkan kesalahan dalam evaluasi dan interpretasi. Pengambilan contoh tanah untuk mengetahui status hara (kesuburan tanah) digunakan sistem composite sample yaitu percampuran contoh (susunan contoh) yang diambil dari areal yang dikehendaki. Contoh itu mewakili areal yang relatif agak seragam dalam hal jenis tanah, tofografi, kemiringan dan bahan induk. Seperti halnya dalam analisis tanah, pengambilan contoh dalam analisis jaringan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hasilnya. Penyebaran hara dalam tanaman tidak merata artinya suatu unsur kadar pada daun tidak sama dengan kadar unsur tersebut dalam tangkai daun atau pada kayu. Seperti pengambilan contoh tanah pengambilan contoh tanaman untuk dianalisis perlu mendapat perhatian. Dari berbagai pustaka disebutkan setiap hara tanaman memerlukan suatu organ tanaman tertentu yang cocok untuk contoh. (Nasih, 2010) Uji kesuburan tanah diperlukan sebelum mengusahakan lahan pertanian sehingga dapat diketahui potensi lahan dan kendala yang harus diatasi. Dalam hal ini tanaman dapat digunakan sebagai indikator kesuburan yaitu dengan melihat kenampakan fisik tanaman (Davidescu , 1982). Sebelum dilakukan pengambilan contoh tanah, perlu diperhatikan keseragaman areal/hamparan dan intensitas pengelolaannya, misalnya diamati terlebih dahulu keadaan kemiringan lahan, tekstur, drainase, warna tanah, dan kondisi tanaman.

135

Berdasarkan pengamatan di lapangan dan informasi yang diperoleh, ditentukan satu hamparan lahan yang kurang lebih seragam (homogen). Contoh tanah komposit (campuran 5-8 anak contoh tunggal) diambil dari tanah yang hampir seragam pada suatu hamparan lahan sawah. Untuk hamparan lahan sawah yang kurang lebih seragam, satu contoh tanah komposit dapat mewakili 3-5 ha lahan sawah (Anonim, 2006). Setelah dilakukan deskripsi tentang tanah maka diambil sampel untuk dianalisis di laboratorium. Dalam pengambilan sampel tanah sebaiknya dari lapisan yang terbawah kemudian disusul lapisan di atasnya. Sampel yang diambil sebaiknya di plastik tertutup dan diberi notasi sesuai kode profil dan lapisannya. Mengenai macam unsur dianalisis tergantung untuk tujuan studi (Purwanto, 2005). Metode pengambilan contoh tanah yaitu cara diagonal, zig-zag, sistematik dan cara acak. Berdasarkan pengamatan di lapangan dan informasi yang diperoleh, ditentukan satu hamparan tanah yang kurang lebih seragam (homogen). Contoh tanah komposit (campuran 5-8 anak contoh tunggal) diambil dari tanah yang hamper seragam pada suatu hamparan lahan sawah. Untuk hamparan lahan sawah yang kurang lebih seragam, satu contoh tanah komposit dapat mewakili 3-5 ha lahan sawah (Suryana, 2005).

136

III. METODOLOGI Praktikum Kesuburan Tanah acara IX dengan judul Pencuplikan Tanah dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 Oktober 2012 di Dusun Sumberan, Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat tulis, karung, cangkul, dan kamera. Adapun bahan yang diperlukan adalah tanah lapis olah. Pada praktikum ini telah ditentukan bahwa lahan yang akan diamati kesuburannya adalah areal lahan di Sumberan, Sumberagung, Moyudan. Cuplikan tanah diambil pada tanah lapis olah (0-20 cm) secara komposit (gabungan) dari sub cuplikan sejumlah 1620 titik yang diambil secara zig-zag memotong lahan. Selanjutnya, tanah disatukan dan diambil sekitar 20 kg dimasukkan ke dalam wadah. Cuplikan tanah yang telah dikomposit ini dibawa di laboratorium untuk keperluan analisis. Selama proses

pencuplikan, dibuat dokumentasi digital.

137

IV. HASIL PENGAMATAN Umum Hari Tanggal Waktu Dusun Desa Kecamatan Kabupaten Altitude Kelerengan Fisiografi Topografi Erosi Landuse Irigasi Cuaca Jeluk mempan Jenis tanah : Minggu : 29 Oktober 2012 : 11 13.00 WIB : Sumberan : Sumberagung : Moyudan : Sleman : 250 m dpl : 0-2 % : dataran : datar : ringan : lapangan : setengah teknis : Cerah : 20-50 cm : Vertisol

138

V. PEMBAHASAN Pengambilan contoh tanah merupakan tahapan terpenting di dalam program uji tanah. Analisis kimia dari contoh tanah yang diambil diperlukan untuk mengukur kadar hara, menetapkan status hara tanah dan dapat digunakan sebagai petunjuk penggunaan pupuk dan kapur secara efisien, rasional dan menguntungkan. Namun, hasil uji tanah tidak berarti apabila contoh tanah yang diambil tidak mewakili areal yang dimintakan rekomendasinya dan tidak dengan cara benar. Oleh karena itu pengambilan contoh tanah merupakan tahapan terpenting di dalam program uji tanah. Contoh tanah dapat diambil setiap saat, tidak perlu menunggu saat sebelum tanam namun tidak boleh dilakukan beberapa hari setelah pemupukan. Keadaan tanah saat pengambilan contoh tanah pada lahan kering sebaiknya pada kondisi kapasitas lapang (kelembaban tanah sedang yaitu keadaan tanah kira-kira cukup untuk pengolahan tanah). Sedang pengambilan pada lahan sawah sebaiknya diambil pada kondisi basah. Secara umum, contoh diambil sekali dalam 4 tahun untuk sistem pertanaman dilpangan. Untuk tanah yang digunakan secara intensif, contoh tanah diambil paling sedikit sekali dalam 1 tahun. Pada tanah-tanah dengan nilai uji tanah tinggi, contoh tanah disarankan diambil setiap 5 tahun sekali. Contoh tanah untuk uji tanah sebaiknya merupakan contoh tanah komposit yaitu contoh tanah campuran dari contoh- contoh tanah individu. Contoh tanah komposit harus mewakili bentuk lahan yang akan dikembangkan atau digunakan untuk tujuan pertanian. Contoh tanah individu diambil dari lapisan olah atau lapisan perakaran. Satu contoh komposit mewakili hamparan yang homogen 10-15 ha. Untuk lahan miring dan bergelombang 1 contoh tanah komposit terdiri dari campuran 10-15 contoh tanah individu. Sebelum pengambilan contoh tanah, perlu diperhatikan keseragaman areal/ hamparan. Areal yang akan diambil contohnya diamati dahulu keadaan topografi, tekstur, warna tanah, pertumbuhan tanaman, input (pupuk, kapur, bahan organic, dan sebagainya), dan rencana dapat ditentukan 1 hamparan yang sama (homogen/ mendekati sama). Hamparan tanah yang homogen tidak mencirikan perbedaan- perbedaan yang nyata, antara lain warna tanah dan pertumbuhan tanaman kelihatan sama. Contoh tanah komposit diambil diambil pada tanah yang homogen dan dominant pada suatu hamparan.

139

Dalam pengambilan cuplikan tanah terdapat empat metode, yaitu: Metode Linier, Metode Zig-zag, Metode Diagonal, dan Metode Random. 1. Metode Linier: dilakukan dengan cara mengambil cuplikan tanah tiap baris secara sejajar. Kelebihan metode ini yaitu dapat dilakukan pada semua bentuk lahan. Kekurangannya yaitu lebih sulit karena kita harus menentukan jarak antar baris untuk mewakili suatu areal tertentu. 2. Metode Zig-zag: dilakukan dengan cara mengambil cuplikan tanah secara zig-zag membentuk huruf Z. Cara pengambilan contoh tanah ini dilakukan dengan

menentukan titik-titik yang akan digunakan sebagai tempat pengambilan contoh tanah. Persyaratan dan cara pengambilan contoh tanah ini sama seperti pada sistem diagonal, hanya saja berbeda dalam penentuan tempat pengambilan contoh tanah. Kelebihan metode ini yaitu kita mendapat sampel yang akurat seperti metode diagonal. Kelemahan metode ini yaitu hanya dapat dilakukan pada lahan yang berbentuk persegi karena agar dapat menentukan titik pusat pada bagian sudut petak lahan. 3. Metode Diagonal: dilakukan dengan cara mengambil cuplikan tanah secara diagonal menyilang. Cara pengambilan contoh tanah dengan metode diagonal yaitu satu titik ditetapkan sebagai titik pusat yaitu pada bagian sudut. Kemudian ditentukan juga titik-titik disekelilingnya sampai sudut berikutnya sehingga titiktitik tersebut membentuk garis diagonal. Contoh tanah yang diambil dari tiap titik disebut contoh tanah individu. Kelebihan dari metode ini yaitu pengambilan cuplikan tanah menjadi lebih terorganisir sehingga memudahkan dalam pengambilan contoh tanah. Metode ini juga memungkinkan untuk mendapat sampel tanah yang lebih akurat karena cuplikan yang diambil berasal dari bagian pinggir kemudian menjangkau bagian tengah lahan. Sedangkan kekurangannya yaitu hanya dapat dilakukan pada lahan yang berbentuk persegi karena agar dapat menentukan titik pusat pada bagian sudut petak lahan sampai sudut berikutnya. 4. Metode Random: dilakukan dengan cara mengambil cuplikan tanah secara acak. Pengambilan contoh tanah secara acak dilaksanakan dengan menentukan titik-titik pengambilan contoh tanah secara acak, tetapi menyebar diseluruh bidang tanah yang diwakili. Kelebihan metode ini yaitu mudah dilaksanakan karena kita tidak perlu menentukan titik sample secara terorganisir. Metode ini juga dapat dilakukan pada

140

berbagai bentuk lahan terutama lahan yang berada pada daerah perbukitan karena bentuk lahan pada daerah tersebut biasanya berbeda-beda. Kelemahannya yaitu

cuplikan tanah yang didapat kurang akurat karena sampel tanah yang diambil kurang mewakili suatu areal tertentu. Dalam praktikum pencuplikan tanah ini contoh tanah yang diambil dengan metode pengambilan zig zag. Pengambilan contoh tersebut mewakili areal yang relatif agak seragam dalam hal jenis tanah, topografi, kemiringan, dan bahan induk. Penyebab
utama dari contoh yang tidak representatif ialah: (1) kontaminasi, dan (2) jumlah contoh yang terlalu sedikit untuk daerah yang variabilitas kesuburannya tinggi. Bahaya

kontaminasi biasanya berasal dari tempat atau alat pengambilan contoh dan lain-lain. Menghadapi contoh yang tidak representatif, yang disebabkan oleh keragaman kesuburan tanah, maka persoalannya menjadi lebih sulit. Untuk itu haruslah diketahui sifat dan sumber-sumber keragaman. Hal ini dapat didekati secara statistika tetapi tidak sesederhana itu, karena sebaran data tidak selalu normal. Dengan cara ini diperlukan contoh yang banyak sehingga sering dinilai tidak praktis. Oleh sebab itu keragaman lapangan dapat didekati cukup melalui : Penilaian lapangan secara khusus Pengetahuan yang baik tentang tanah Sistem bercocok tanam yang diterapkan petani Program-program pemupukan yang berlaku di daerah itu, Teknologi pengelolaan tanah-tanaman lainnya yang diterapkan petani Lain- lain Dengan mengetahui variabilitas ini, dapat ditentukan teknik pengambilan contoh yang lebih representatif. Makin besar variabilitas tanah (bentuk lahan, jenis tanah, dll.) makin banyak contoh/lokasi pengamatan yang dibuat

Jenis tanah yang diambil adalah vertisol. Tanah Vertisol memiliki kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang tinggi. Reaksi tanah bervariasi dari asam lemah hingga alkalin lemah; nilai pH antara 6,0 sampai 8,0. pH tinggi (8,0-9,0) terjadi pada Vertisol dengan ESP yang tinggi. Vertisol menggambarkan penyebaran tanah-tanah dengan tekstur liat dan mempunyai warna gelap, pH yang relatif tinggi serta kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang juga relatif tinggi. Vertisol tersebar luas pada daratan dengan iklim tropis dan subtropics. Dalam perkembangan klasifikasi ordo Vertisol, pH tanah dan pengaruhnya tidak cukup mendapat perhatian. Walaupun hampir semua tanah

141

dalam ordo ini mempunyai pH yang tinggi, pada daerah-daerah tropis dan subtropis umumnya dijumpai Vertisol dengan pH yang rendah. Dalam menilai potensi Vertisol untuk pertanian hendaknya diketahui bahwa hubungan pH dengan Al terakstraksi berbeda disbanding dengan ordo lainnya. pH dapat tukar nampaknya lebih tepat digunakan dalam menentukan nilai pH Vertisol masam dibanding dengan kelompok masam dari ordo-ordo lainnya. Perbedaan tersebut akan mempunyai implikasi dalam penggunaan tanah ini untuk pertumbuhan tanaman. Batas-batas antara antara kelompok masam dan tidak masam berkisar pada pH 4,5 dan sekitar 5 dalam air. Pada umumnya Vertisol juga defisiensi P. Setelah N, unsur P merupakan pembatas hara terbesar pada Vertisol. Kekurangan unsure P jika kandungan P kurang dari 5 ppm. Ini berpengaruh pada pemupukan P yang cukup kecil jika produksi tanaman pada musim berikutnya rendah. P menjadi nyata jika tanaman yang tumbuh pada kondisi irigasi yang baik, jika produksinya tinggi maka dianjurkan untuk mencoba menambah pemakaian pupuk N. Pengambilan contoh yang dilakukan pada praktikum ini adalah tanah pada 16-20 titik yang berbeda secar zig zag. Ini dimaksudkan untuk mengupayakan sebisa mungkin pengambilan contoh yang dilakukan dapat merepresentasikan kondisi tanah secara keseluruhan pada areal yang diamati. Pada dasarnya pengambilan sampel tanah akan semakin baik bila jumlah titik pengambilan sampel semakin banyak. Namun, faktor keterbatasan biasanya menjadi alasan yang mendasari dibatasinya jumlah titik yang diambil. Tanah diambil pada jeluk sekitar 0-20 cm, yaitu jeluk di mana zona perakaran tanaman ada di sana. Pada kedalaman di mana terdapat zona perakaran maka dapat diprediksikan bahwa kemungkinan besar keberadaan unsur hara yang maksimal tersedia ada di sana pula. Dengan demikian, contoh tanah yang terambil untuk uji kesuburan tanah nanti diharapkan akan memberikan hasil uji yang menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

142

VI. PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa : 1. Pengambilan contoh tanah merupakan tahapan terpenting di dalam program uji tanah. Analisis kimia dari contoh tanah yang diambil diperlukan untuk mengukur kadar hara, menetapkan status hara tanah dan dapat digunakan sebagai petunjuk penggunaan pupuk dan kapur secara efisien, rasional dan menguntungkan. 2. Metode pengambilan contoh tanah meliputi Metode Linier, Zig-zag, Diagonal, dan Random. Pemilihan metode pengambilan contoh mempengaruhi tingkat representasi contoh untuk keseluruhan tanah pada lahan yang diamati. 3. Tanah vertisol merupakan tanah dengan kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang tinggi. Reaksi tanah bervariasi dari asam lemah hingga alkalin lemah; nilai pH antara 6,0 sampai 8,0. pH tinggi (8,0-9,0) terjadi pada Vertisol dengan ESP yang tinggi. B. Saran 1. Setiap kelompok sebaiknya mencuplik jenis tanah yang berbeda minimal satu kelompok satu jenis tanah. 2. Ada baiknya asisten memberikan keterangan yang jelas mengenai kriteria tanah yang harus dicuplik.

143

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2006. Petunjuk Penggunaan Perangkat Uji tanah Sawah (Paddy Soil Test Kit). <www.pustaka.litbang.deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp09036.pdf.> Diakses 14 November 2012 . Darmawijaya, M. I. 1997. Klasifikasi Tanah : Dasar Teori Bagi Peneliti Tanah dan Pelaksana Pertanian di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Davidescu, D. dan V. Davidescu. 2002. Evaluation of Fertility by Plant and Soil Analysis. Abacus Press. England. Nasih. 2010. Pengambilan contoh tanah dan tanaman <http://nasih.wordpress.com/2010/11/01/pengambilan-contoh-tanah-dantanaman/> diakses tanggal 13 November 2012 pukul 21.00 WIB

Purwanto, B. H. 2005. Hand Out Mata Kuliah Kesuburan Tanah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Suryana, A. 2005. Perangkat Uji Tanah Sawah (Paddy Soil Test Kit). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor. Suryanto..1995.Tanah.dan Lingkungan. Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

144

LAMPIRAN

145

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH ACARA X UJI CEPAT TANAH

Disusun oleh: Ahmad Khoirudin Asrofi Lathifatul Lailia Nur Kusumastuti Eka Putri D. Siska Ernitawati Golongan Asisten : A3 (Siang) : Basyit Wulan I. (11913) (11938) (11975) (12006) (12066)

LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

146

ACARA X UJI CEPAT TANAH

Abstraksi Praktikum Kesuburan Tanah mengenai Uji Cepat Tanah ini dilaksanakan pada tanggal 24 Oktober 2012 di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Ilmu tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) adalah suatu alat untuk analisis kadar hara tanah secara langsung di lapang dengan relatif cepat, mudah, murah, dan cukup akurat. PUTS dirancang untuk mengukur kadar N, P, K, dan pH tanah. Percobaan dilakukan untuk jenis tanah basah dan tanah kering. Jenis tanah yang kering yakni Inceptisol dan Ultisol. Sedangkan untuk tanah yang basah yakni Inseptisol dan Vertisol. Praktikum ini dilakukan dengan pengujian yang sesuai dengan buku petunjuk dalam PUTS dan PUTK yaitu dengan membandingkan warna dari hasil uji dengan bagan di dalam PUTS dan PUTK.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) merupakan alat untuk analisis kadar hara tanah secara langsung di lapangan dengan relatif cepat, mudah, murah, dan cukup akurat. PUTS ini dirancang untuk mengukur kadar N, P, K, dan pH tanah. Satu unit PUTS terdiri dari : (1) satu paket bahan kimia dan alat untuk ekstraksi kadar N, P, dan K; (2) bagan warna untuk penetapan kadar pH, N, P, dan K; (3) Buku petunjuk Penggunaan serta Rekomendasi Pupuk untuk padi sawah; (4) Bagan Warna Daun (BWD). Rekomendasi pemupukan pada berbagai kelas status hara tanah yang diberikan mengacu pada hasil kalibrasi uji tanah. Prinsip kerja PUTS ini adalah mengukur kadar hara N, P, dan K tanah dalam bentuk tersedia, yaitu hara yang larut dan atau terikat lemah dalam kompleks jerapan koloid tanah. Kadar atau status hara N, P, dan K dalam tanah ditentukan dengan cara mengekstrak dan mengukur hara tersedia di dalam tanah. B. Tujuan Mengenal penggunaan perangkat uji tanah sawah secara cepat untuk menentukan kebutuhan pupuk N, P, dan K

147

II. TINJAUAN PUSTAKA Pada kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman, kadang keadaan tanah menjadi faktor pembatas utama peningkatan produksinya, misalnya adanya kekahatan atau keracunan hara. Oleh karena itu, perlu dipantau sedini mungkin, sehingga dapat diatasi agar tidak merugikan usaha pertanian. Dalam hal ini uji kesuburan tanah diperlukan sebelum memulai suatu usaha, sehingga dapat diketahui potensi lahan dan kendala yang harus diatasi (Yuwono, 2000). Rekomendasi pemupukan berimbang harus didasarkan atas penilaian status dan dinamika hara dalam tanah serta kebutuhan tanaman, agar pemupukan efektif dan efisien. Pemupukan berimbang tidak harus memberikan semua unsur makro atau mikro yang dibutuhkan, tetapi memberikan unsur yang jumlahnya tidak cukup tersedia untuk tanaman. Penambahan hara yang sudah cukup tersedia justru menyebabkan masalah pencemaran lingkungan (tanah dan perairan), terlebih bila status hara tanah sudah sangat tinggi. Sebagai contoh pemupukan P terus menerus pada sawah intensivikasi menyebabkan kejenuhan P dan ketidak seimbangan hara didalam tanah. Pemupukan P tidak lagi memberikan peningkatan hasil tanaman yang nyata. Efisiensi pemupukan menjadi rendah, dan kemungkinan unsur hara lain seperti Zn menjadi tidak tersedia (Leiwakabessy, 2002). Penerapan pemupukan berimbang berdasar uji tanah memerlukan data analisa tanah. Di sisi lain daya jangkau (aksesibilitas) pengguna, penyuluh dan petani untuk menganalisis contoh tanah rendah karena : (1) biaya analisa tanah relatif mahal, (2) laboratorium uji tanah di sekitar wilayah pertanian masih sangat terbatas, dan (3) sosialisasi yang belum menyeluruh ke tingkat pengguna. Hal ini menyebabkan rekomendasi pupuk untuk padi sawah masih bersifat umum dan seragam untuk seluruh Indonesia (Cate, 2001). Untuk mengatasi kesenjangan penerapan teknologi pemupukan berimbang ini, Balai Penelitian Tanah telah membuat satu perangkat alat bantu untuk menentukan kandungan atau status hara tanah yang dapat dikerjakan di lapangan disertai dengan rekomendasi pupuknya. Alat bantu ini dinamakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Penggunaan PUTS ini diharapkan mampu membantu petani menigkatkan ketepatan pemberian dosis pupuk N, P dan K untuk padi sawah dengan produktifitas padi setara IR-64 (Setyorini, 2006).

148

Sasaran uji tanah adalah untuk menyediakan

pedoman bagi pengelolaan

kesuburan tanah dengan memanfaatkan hubungan-hubungan yang ditetapkan secara eksperimental antara ciri-ciri kimia tanah dengan pertumbuhan tanaman. Hubunganhubungan seperti ini harus didefinisikan secara cukup luas untuk dapat

diaplikasikan ke banyak kondisi lapangan, namun harus cukup spesifik untuk diaplikasikan ke individu lapangan. Pekerjaan menyusun rekomendasi pupuk dari uji tanah memerlukan pengetahuan yang komprehensif tentang disiplin ilmu tanah dan ilmu tanaman. Keputusan yang terlibat dalam menyusun rekomendasi pupuk atas dasar uji tanah memerlukan pemahaman tentang kimia tanah, kesuburan tanah, mineralogi, klasifikasi dan sifat fisika tanah serta respon tanaman terhadap pupuk dan aspek ekonomi yang terlibat (Anonim, 2009). Rekomendasi pemupukan berimbang harus didasarkan atas penilaian status dan dinamika hara dalam tanah serta kebutuhan tanaman, agar pemupukan efektif dan efisien. Pemupukan berimbang tidak harus memberikan semua unsur makro/mikro yang dibutuhkan, tetapi memberikan unsur yang jumlahnya tidak cukup tersedia untuk tanaman. Penambahan hara yang sudah cukup tersedia justru menyebabkan masalah pencemaran lingkungan (tanah dan perairan), terlebih bila status hara tanah sudah sangat tinggi. Sebagai contoh pemupukan P terus menerus pada sawah intensifikasi menyebabkan kejenuhan P dan ketidakseimbangan hara di dalam tanah. Pemupukan P tidak lagi memberikan peningkatan hasil tanaman yang nyata. Efisiensi pemupukan menjadi rendah, dan kemungkinan unsur hara lain seperti Zn menjadi tidak tersedia (Subiksa dan Diah., 2008). Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) terdiri dari satu set alat dan bahan kimia untuk analisis kadar hara tanah sawah yang dapat digunakan di lapangan dengan relatif cepat, mudah, murah dan cukup akurat. PUTS ini dirancang untuk mengukur kadar N, P, K dan pH tanah. Hasil pengukuran kadar hara N, P dan K tanah dengan PUTS di kategorikan menjadi tiga kelas status hara mengacu pada hasil penelitian uji tanah, yaitu : status rendah (R), sedang (S) dan tinggi (T) (Getarawan, 2006).

149

III. METODOLOGI Praktikum Kesuburan Tanah acara X yang berjudul Uji Cepat Tanah dilakukan pada hari Rabu, 24 Oktober 2012 di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat-alat yang dibutuhkan adalah seperangkat perangkat uji tanah sawah (PUTS) dan perangkat uji tanah kering (PUTK). Bahan-bahan yang digunakan adalah sampel tanah vertisol, ultisol dan inceptisol Cara kerja pada praktikum kali ini yaitu 1. PUTS a. Penetapan status N tanah Sebanyak sendok spatula contoh tanah uji diambil dengan spet dimasukkan dalam tabung reaksi. Lalu ditambah 2 ml pereaksi N-1 kemudian diaduk hingga homogen dengan pengaduk kaca. Ditambahkan lagi 2 ml pereaksi N-2, dikocok sampai rata. Ditambahkan lagi 3 tetes pereaksi N-3 dikocok sampai rata. Kemudian tambahkan 5-10 butir peraksi N-4 dikocok sampai rata. Didiamkan selama 10 menit kemudian bandingkan warna larutan dengan bagan warna N. b. Penetapan status P tanah Sebanyak sendok spatula contoh tanah uji diambil dengan spet dimasukkan dalam tabung reaksi. Lalu ditambah 3 ml pereaksi P-1 kemudian diaduk hingga homogen dengan pengaduk kaca.. Kemudian tambahkan 5-10 butir peraksi P-2 dikocok selama satu menit. Didiamkan selama 10 menit kemudian bandingkan warna larutan dengan bagan warna P. c. Penetapan status K tanah Sebanyak sendok spatula contoh tanah uji diambil dengan spet dimasukkan dalam tabung reaksi. Lalu ditambah 2 ml pereaksi K-1 kemudian diaduk hingga homogen dengan pengaduk kaca. Ditambahkan lagi 1 tetes pereaksi K-2, dikocok selama 1 menit. Ditambahkan lagi 1 tetes pereaksi K-3 dikocok sampai rata.. Didiamkan sselama 10 menit kemudian bandingkan warna larutan dengan bagan warna K d. Penetapan pH tanah Sebanyak sendok spatula contoh tanah uji diambil dengan spet dimasukkan dalam tabung reaksi. Lalu ditambah 2 ml pereaksi pH-1 kemudian diaduk hingga

150

homogen dengan pengaduk kaca. Ditambahkan lagi 2 ml pereaksi pH-1 dikocok sampai rata. Lalu didiamkan selama 3 menit. Kemudian ditambahkan lagi 1-2 tetes pereaksi pH-2 Didiamkan selama 10 menit kemudian bandingkan warna larutan dengan bagan warna pH. 2. PUTK a.. Penetapan status P tanah Sebanyak sendok spatula contoh tanah uji diambil dengan spet dimasukkan dalam tabung reaksi. Lalu ditambah 3 ml pereaksi P-1 kemudian diaduk hingga homogen dengan pengaduk kaca.. Kemudian tambahkan 5-10 butir peraksi P-2 dikocok selama satu menit. Didiamkan selama 10 menit kemudian bandingkan warna larutan dengan bagan warna P. b. Penetapan status K tanah Sebanyak sendok spatula contoh tanah uji diambil dengan spet dimasukkan dalam tabung reaksi. Lalu ditambah 4 ml pereaksi K-1 kemudian diaduk hingga homogen dengan pengaduk kaca dan didiamkan selama 5 menit. Ditambahkan lagi 2 tetes pereaksi K-2, dikocok dan didiamkan 5 menit lagi. Ditambahkan lagi 2 ml pereaksi K-3 secara perlahan melalui dinding tabung dan dibiarkan sebentar lalau amati endapan putih yang terbentuk. c. Penetapan C-Organik tanah Sebanyak sendok spatula contoh tanah uji diambil dengan spet dimasukkan dalam tabung reaksi. Lalu ditambah 1 ml pereaksi C-1 kemudian diaduk hingga homogen dengan pengaduk kaca. Ditambahkan lagi 3 tetes pereaksi C-2 setelah itu jangan diaduk. Setelah 10 menit amati ketinggian busa yang terbentuk di lapisan atas.

151

1V. HASIL PENGAMATAN\


NO 1 Tanah Inceptisol Uji N Hasil Sedang Rekomendasi 250 kg ura Foto

Tinggi

50 kg SP-36/ha

Tinggi

50 kg KCl/ha

pH

Agak masam

Sistem drainase konvensional, pupuk N dalam bentuk urea

Vertisol

Rendah

250 kg urea//ha

152

Tinggi

50 SP-36/ha

Sedang

50 kg KCL/ha

pH

Netral (6-7)

Sistem drainase konvensional, pupuk N dalam bentuk urea

Tabel 4.1. Kandungan N, P, K dan pH pada tanah sawah2. PUTK


NO 1 Tanah Inceptisol Uji C organik Hasil Rendah Rekomendasi Bahan organik yang ditambahkan 2 ton/ha Foto

Tinggi

100 kg SP36/ha (jagung, kedelai, dan padi gogo)

pH

Netral

153

Kapur

<4

1000 kg /ha kapur (kedelai), 500 kg/ha kapur (jagung)

Tinggi

50kg KCL/ha (jagung, kedelai, dan padi gogo)

Ultisol

C organik

Rendah

Bahan organik yang ditambahkan 2 ton/ha

Rendah

250 kg SP36/ha (jagung, kedelai), 200 kg SP36/ha(padi gogo)

pH

Agak masam

Kapur

<4

1000 kg /ha kapur

154

(kedelai), 500 kg/ha kapur (jagung) K Tinggi 50kg KCL/ha (jagung, kedelai, dan padi gogo)

Tabel 4.2. Tabel kandungan C organik, P, K, pH dan Kapur pada tanah kering

155

V. PEMBAHASAN Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) merupakan alat untuk analisis kadar hara tanah secara langsung di lapangan dengan relatif cepat, mudah, murah, dan cukup akurat. PUTS ini dirancang untuk mengukur kadar N, P, K dan pH tanah. Satu Unit Perangkat Uji Tanah Sawah itu terdiri dari : (1) satu paket bahan kimia dan alat untuk ekstraksi kadar N, P, K dan pH, (2) bagan warna untuk penetapan kadar pH, N, P, dan K, (3) Buku Petunjuk Penggunaan serta Rekomendasi Pupuk untuk padi sawah, dan (4) Bagan Warna Daun (BWD). Rekomendasi pemupukan pada berbagai kelas status hara tanah yang diberikan mengacu pada hasil kalibrasi uji tanah. Prinsip kerja dari PUTS yaitu mengukur kadar hara N, P, dan K tanah dalam bentuk tersedia, yaitu hara yang larut dan atau terikat lemah dalam kompleks jerapan koloid tanah. Kadar atau status hara N, P, dan K dalam tanah ditentukan dengan cara mengekstrak dan mengukur hara tersedia di dalam tanah. Oleh karena itu, pereaksi atau bahan kimia yang digunakan dalam alat uji tanah ini terdiri atas larutan pengektrak dan pembangkit warna. Menurut Setyorini (2006), bentuk hara yang diekstrak dengan PUTS untuk nitrogen (N) adalah NO3-N dan NH4-N, untuk fosfat (P) adalah orthoposphate (PO4
3-

, HPO4-, dan H2PO4-) dan kalium (K) adalah K+. Pengukuran kadar hara

dilakukan secara semi kuantitatif dengan metode colorimetri (pewarnaan) hasil analisis N, P, dan K tanah selanjutnya digunakan sebagai kriteria penentuan rekomendasi pemupukan N, P, dan K spesifik lokasi untuk tanaman padi sawah dengan produktifitas setara IR-64. Perangkat Uji Tanah Sawah ini bermanfaat antara lain untuk menguji kadar hara N, P, K dan pH tanah, kemudian menetapkan kadar hara N, P, dan K tanah dikelompokkan menjadi 3 kelas status yaitu rendah (R), sedang (S), tinggi (T), menentukan dosis rekomendasi pemupukan N, P, K untuk padi sawah berdasarkan kelas status hara tanah, memilih jenis pupuk N yang sesuai dengan kondisi kemasaman tanah, memberi gambaran penambahan unsur-unsur serta cara pengelolaan lahan yang tepat sesuai kondisi sawah, serta teknologi untuk mengatasi keracunan besi (Fe) yang umumnya terjadi di lahan sawah bukaan baru. Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK) adalah suatu alat untuk analisis kadar hara tanah lahan kering, yang dapat digunakan di lapangan dengan cepat, mudah, murah dan cukup akurat. PUTK dirancang untuk mengukur kadar P, K, C-organik, pH dan

156

kebutuhan kapur. Prinsip kerja PUTK adalah mengukur hara P, dan K tanah yang terdapat dalam bentuk tersedia secara semi kuantitatif. Penetapan P dan pH dengan metode kolorimetri (pewarnaan). Hasil analisis P dan K tanah selanjutnya digunakan sebagai dasar penentuan rekomendasi pemupukan P dan K spesifik lokasi untuk tanaman jagung, kedelai dan padi gogo. Satu Unit Perangkat Uji Tanah Kering terdiri dari: (1) satu paket bahan kimia dan alat untuk penetapan P, K, bahan organik, pH, dan kebutuhan kapur, (2) bagan warna P dan pH tanah; bagan K, kebutuhan kapur dan Corganik tanah, (3) Buku Petunjuk Penggunaan PUTK serta rekomendasi pupuk untuk jagung, kedelai dan padi gogo. Nitrogen diserap oleh tanaman dalam bentuk anion NO3- dan kation NH4+ yang keduanya terutama berasal dari perombakan bahan organik. Ketidak tersediaan nitrogen dapat disebabkan oleh kurangnya kandungan bahan organik dalam tanah atau nitrogen masih dalam bentuk struktur sel bahan organik tersebut (protein) atau asamasam/senyawa amino. Ketersediaan nitrogen merupakan perombakan dari bahan organik melalui proses: (1) aminisasi, yaitu perombakan/mineralisasi bahan organik melalui hidrolisis secara enzimatik (kegiatan biologi tanah) dengan membentuk senyawa amino; (2) amonifikasi, yaitu perubahan komponen amino oleh kegiatan mikrobiologi tanah menjadi amoniak (NH3-) yang secara cepat menjadi ammonium (NH4+); (3) nitrifikasi, yaitu transformasi ammonium (NH4+) menjadi nitrat (NO3-) oleh kegiatan mikroorganisme nitrifikasi yang menggunakan sumber karbon lain dan energi dari oksidasi ammonium menjadi nitrat. Unsur N merupakan unsur makro essensial terbesar yang dibutuhkan oleh tanaman. Disebut makro essensial karena unsur ini harus tersedia dan dalam jumlah yang banyak. Nitrogen atau N dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar, umumnya menjadi faktor pembatas pada tanah-tanah yang tidak di pupuk. Unsur N sangat mobile dalam jaringan tanaman, dialih tempatkan dari daun yang tua ke daun yang muda. Gejala kekahatan klorosis muncul pada daun di bagian bawah yaitu daun yang lebih tua. Jika kelebihan N akan merangsang pertumbuhan vegetatif, laju fotosintesis tinggi, penggunaan CH2O juga tinggi, akibatnya menghambat kematangan tanaman, jaringan menjadi sukulen, tanaman rendah, dan mudah terserang penyakit. Unsur N dalam kehidupan memegang peran vital karena digunakan sebagai penyusun asam amino, protein, dan pertumbuhan sel. Nitrogen atau N mempunya

157

berbagai macam fungsi tergantung bentuknya. Berupa asam amino, amida, dan amin yang berfungsi sebagai kerangka (building bloks) dan senyawa antara (intermediary compounds). Berupa protein atau enzim yang berfungsi mengatur reaksi biokimia, klorofil yang berfungsi pada proses fotosintesis, dan asam nukleat sebagai bahan dasar DNA atau RNA. Status unsur N dapat pula dipengaruhi oleh besarnya aktifitas mikroorganisme yang mampu melakukan fiksasi nitrogen. Mikroorganisme penambat N seperti Rhizobium dapat berasosiasi dengan N-bebas yang berasal dari tumbuhan jenis Leguminosa termasuk Trifollum spp, Gylicene max (soybean), Viciafaba (brand bean), Vigna sinensis (cow-pea), Piscera sativam (chick-pea), dan Medicago sativa (lucerna). Macam-macam pupuk Nitrogen (N) antara lain kalium nitrat (KNO3), amonium sulfat [(NH4)3PO4], urea (NH2CONH2), kalsium sianida [(NH4)2SO4], amonium sulfat [(NH4) 2SO4], anhidrous amonia (NH3), amonium klorida (NH4Cl), dan amonium nitrat (NH4NO3). Unsur fosfor (P) sifatnya mobile dalam tanaman, mudah dipindahkan dari bagian daun yang tua ke titik tumbuh. Gejala kekahatanya tanaman kerdil, pertumbuhan akar buruk, kedewasaan terlambat, warna daun hijau kelam, muncul warna keunguan misalnya pada jagung. Jika P berlebihan meskipun tidak secara langsung meracuni tanaman, akan menyebabkan merangsang pertumbuhan organisme perairan,

mempercepat eutrofikasi, P tanah yang berlebih meningkatkan pengangkutan P dalam sedimen air limpasan. Fungsi P didalam jaringan tanaman adalah P dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang relatif besar sedikit lebih kecil di bawah N dan K serta setara dengan S, Ca, Mg. Dalam bentuk fosfat unsur P sangat reaktif di alam ditemukan dalam bentuk gugus fosfat dalam bentuk ATP digunakan dalam tranfer energi. Bentuk NADP unsur P digunakan untuk fotosintesis. Bentuk asam nukleat unsur P sebagai bahan DNA dan RNA, sedangkan dalam bentuk lemak fosfat (phospholipid) digunakan untuk membran sel dan organ dalam sel. Macam-macam pupuk fosfat atau P antara lain enkel superfosfat [Ca(H2PO4) 2 + CaSO4], double superfosfat (DS) yang mengadung gypsum, dan tripel superfosfat atau TSP [Ca(H2PO4)] yang sekarang berganti nama menjadi SP-36.

158

Unsur K dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang besar, yaitu terbesar kedua setelah hara N. Pada tanah yang subur kadar K dalam jaringan hampir sama dengan N. K tidak menjadi komponen struktur dalam senyawa organik, tetapi bentuknya ionik, K+ berada dalam larutan atau terikat oleh muatan negatif dari permukaan jaringan misalnya R-COO-K+. Fungsi utama K adalah mengaktifkan enzim-enzim dan menjaga air sel. Enzim yang diaktifkan antara lain sintesis pati, pembuatan ATP, fotosintesis, reduksi nitrat, translokasi gula ke biji, buah umbi atau akar. Pengaturan air sel yaitu K+ mengatur potensial air sel dan osmosis, Na+ dapat menggantikan fungsi K+ pada sebagian spesies. Macam-macam pupuk Kalium antara lain Muriate (KCl), KNO3, kalium sulfat (K2SO4), kalium magnesium sulfat (K2SO4.2MgSO4) dan kalium nitrat atau niter. pH adalah tingkat keasaman atau kebasaan suatu benda yang diukur dengan menggunakan skala pH antara 0 hingga 14. Sebagai contoh, jus jeruk dan air aki mempunyai pH antara 0 hingga 7, air laut dan cairan pemutih mempunyai sifat basa dengan nilai pH antara 7 hingga 14, dan air murni yang bersifat netral mempunyai pH 7. pH larutan tanah sangat penting karena larutan tanah mengandung unsur hara seperti Nitrogen (N), Kalium (K), dan Fosfor (P) dimana tanaman membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang dan bertahan terhadap serangan penyakit. Jika pH larutan tanah meningkat hingga di atas 5,5 maka nitrogen (dalam bentuk nitrat) menjadi tersedia bagi tanaman. Di sisi lain fosfor akan tersedia bagi tanaman pada pH antara 6,0 hingga 7,0. pH yang optimum untuk ketersediaan hara tanaman adalah pH 6,5. Pada pH tanah yang rendah atau masam perlu dilakukan tindakan untuk meningkatkan pH tanah yaitu dengan penambahan bahan amelioran yang bersifat basis atau kapur sehingga akan terjadi peningkatan pH. Adapun pada pH tanah yang tinggi atau bersifat basis perlu dilakukan tindakan untuk menurunkan pH tanah yaitu dengan menambahkan bahanbahan organik yang bersifat masam. Pratikum uji cepat tanah ini dilakukan untuk menguji kandungan hara tanah sawah dan tanah kering. Tanah yang digunakan yaitu tanah inceptisol dan vertisol untuk PUTS dan tanah inceptisol dan ultisol untuk PUTK. Berdasarkan praktikum uji PUTS menunjukkan bahwa tanah inceptisol memiliki kandungan N yang sedang, kandungan unsur P dan K tinggi dan memiliki pH agak masam. Dengan demikian rekomendasi

159

yang dapat diberikan yaitu pemberian pupuk urea sebanyak 250 kg/ha, pemberian pupuk SP 36 sebanyak 50 kg/ha dan pupuk KCl sebanyak 50 kg/ha. Berbeda dengan tanah vertisol, berdasarkan praktikum tanah ini memiliki kandungan N yang rendah, P yang tinggi dan K yang sedang sehingga rekomendasi yang dapat diberikan yaitu pemberian pupuk urea sebanyak 250 kg/ha, permberian pupuk SP 36 sebanyak 50 kg/ha dan pupuk KCl sebanyak 50 kg/ha. Berdasarkan uji pada tanah kering didapatkan hasil bahwa kebutuhan pupuk untuk tanah inceptisol yaitu pemberian pupuk KCl sebanyak 50 kg/ha jika ditanami jagung, kedelai atau padi gogo, pupuk SP 36 sebanyak 100 kg/ha jika ditanami jagung, kedelai atau padi gogo, tambahan bahan organik sebanyak 2 ton/ha dan tambahan kapur sebanyak 1000 kg/ha jika ditanami kedelai atau 500 kg/ha jika ditanami jagung. Berbeda dengan tanah ultisol, rekomendasi yang dapat diberikan adalah pemberian pupuk KCl sebanyak 50 kg/ha jika ditanami jagung, kedelai atau padi gogo, pupuk SP 36 sebanyak 250 kg/ha jika ditanami jagung atau kedelai tetapi jika ditanami padi gogo pemberian pupuk SP 36 sebanyak 200 kg/ha, tambahan bahan organik sebanyak 2 ton/ha dan tambahan kapur sebanyak 1000 kg/ha jika ditanami kedelai atau 500 kg/ha jika ditanami jagung

160

VI. PENUTUP A. Kesimpulan 1. Hasil analisis uji tanah dapat digunakan sebagai dasar rekomendasi pemupukan dan bahan amelioran (misalnya kapur) secara efisien, rasional dan

menguntungkan. 2. Rekomendasi untuk tanah sawah inceptisol dan vertisol adalah pemberian pupuk N 250 kg/ha, pupuk P 50kg/ha dan pupuk K 50kg/ha. 3. Rekomendasi untuk tanah kering inceptisol adalah pemberian pupuk P 50kg/ha dan pupuk K 50kg/ha. 4. Rekomendasi untuk tanah kering ultisol adalah pemberian pupuk P 1000kg/ha jika ditanami kedelai atau 200kg/ha jika ditanami jagung dan pupuk K 50kg/ha. B. Saran 1. Diharapkan sarana PUTS ini dapat digunakan oleh para petani dan diaplikasikan langsung di lapangan. 2. Untuk perkembangan selanjutnya PUTS dapat digunakan tidak hanya untuk uji lahan sawah tetapi dapat digunakan pada lahan lainnya seperti lahan rawa, lahan kering, dan lain-lain.

161

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2009. Cara Cepat Menguji Status Hara dan Kemasaman Tanah. <http://kafein4u.wordpress.com/2009/05/22/cara-cepat-menguji-status-hara-dankemasaman-tanah/>. Diakses pada 10 November 2012 Cate, R.B., J and L. A. Nelson. 2001. A Rapid Method for Cornelation of Soil Test Analysis with Plant Response Data. North Carolina State University, Raleigh. Getarawan, E. 2006. Inovasi efisiensi pemupukan padi. Warta 12 : 1-4. Leiwakabessy, F., dan O. Koswara. 2002. Penetapan uji P tersedia dalam tanah sawah. Communicationes Agricultureae 3 : 31-39 . Setyorini, D. 2006. Buku Petunjuk Penggunaan Perangkat Uji Tanah Sawah V.01. Balai Penelitian Bogor, Bogor. Subiksa, L. R. W. and S. Diah. 2008. Paddy Soil Test Kit.<http://www.dpi.nsw.gov.au/data/assets/pdf file/007/199456/Ses3-Paddysoils-test-kits.pdf>. Diakses pada 10 November 2012.

Yuwono, N. W. 2000. Pupuk dan Kesuburan Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

162

LAMPIRAN

163