Anda di halaman 1dari 2

Pemijahan Semi Buatan Menurut Gusrina (2008), pemijahan ikan secara semi intensif, yaitu pemijahan ikan yang

terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad, tetapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam. Untuk dapat melakukan pemijahan ikan pada beberapa jenis ikan budidaya maka harus memahami tentang tingkat kematangan gonad dan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap kematangan gonad. Hal ini harus dipelajari karena tingkat kematangan gonad ikan sangat mempengaruhi keberhasilan pemijahan ikan. Walaupun saat ini telah banyak diketemukan hormon hormon perangsang pertumbuhan dan pematangan gonad, namun tetap saja membutuhkan waktu dalam proses pertumbuhan dan pematangannya. Menurut Sari et.al, (2006), Dalam prosesnya, pemijahan dipengaruhi oleh beberapa factor baik internal maupun eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi pemijahan ialah kematangan gonad, genetik, dan kesehatan ikan. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi pemijahan ialah lingkungan, kualitas air, dan musim. Pemijahan dapat dilakukan secara alami, buatan, maupun semi-alami. Pemijahan secara semi-alami dilakukan dengan bantuan hormon, salah satunya ialah ovaprim. Pemijahan Buatan Menutut Gusrina (2008), pemijahan adalah proses perkawinan antara ikan jantan dan betina. Dalam budidaya ikan teknik pemijahan ikan dapat dilakukan dengan 3 macam cara, yaitu: 1. Pemijahan ikan secara alami, yaitu pemijahan ikan tanpa campur tangan manusia, terjadi secara alamiah (tanpa pemberian rangsangan hormon). 2. Pemijahan ikan secara semi intensif, yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad, tetapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam. 3. Pemijahan ikan secara intensif, yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad serta proses ovulasinya dilakukan secara buatan dengan teknik stripping/ pengurutan.

Anhas Penetasan Embrio Dalam perkembangan embrio akan banyak memerlukan oksigen (O2) dan memerlukan gas CO2. Konsentrasi ke-2 gas ini akan sangat mempengaruhi perkembangan embrio ataupun daya tetas. Kandungan O2 diudara yang baik adalah sekitar 21% yang baik bagi perkembangan embrio di dalam penetasan. Penurunan O2 sebanyak 1% akan menurunkan daya tetas sebanyak 5%. Kelebihan O2 didalam udara juga akan menurunkan daya tetas, akan tetapi embrio akan lebih toleran kelebihan O2 dari pada kekurangan. Dengan membuat ventilasi ataupun menggunakan kipas angin, kesegaran udara di dalam penetasan dapat dijamin. Kandungan CO2 dalam penetasan jangan lebih dari 0,5%. Kandungan CO2 sampai 2% akan sangat menurunkan daya tetas dan bila mencapai 5% akan menyebabkan telur gagal menetas (Rasta et.al, 2012). Embriogenesis ialah proses perkembangan telur sampai menjadi larva definitif. Lamanya waktu embriogenesis pada setiap spesies ikan berbeda-beda karena pengaruh faktor internal dan eksternal. Salah satu dari faktor internal ialah genetik ikan tersebut. Sedangkan faktor eksternal meliputi kualitas air, penyakit, dan ketersediaan pakan alami. Embriogenesis akan berlangsung pada saat inkubasi dimulai dari proses pembelahan sel telur (cleavage), morulasi, blastulasi, gastrulasi, dan dilanjutkan dengan organogenesis yang selanjutnya menetas (Sari et.al, 2006).