Anda di halaman 1dari 1

PATOFISIOLOGI DIABETES MELITUS GESTASIONAL

Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu. Insulin ibu tak dapat mencapai janin, sehingga kadar gula ibu yang mempengaruhi kadar pada janin. (Price SA, Wilson LM. 1994. Buku II. Edisi IV. hal : 1109-1112) Pengaturan fisiologis kadar glukosa darah sebagian besar tergantung dari : 1. Ekstrasi glukosa 2. Sintesis glikogen 3. Glikogenoksis dalam hati Sedangkan pengendalian kadar gula terutama dipengaruhi oleh insulin, disamping beberapa hormon lain : estrogen, steroid dan plasenta laktogen. (Wiknjosastro H. 1999. Edisi III. hal : 518-525) & (Price SA, Wilson LM. 1994. Buku II. Edisi IV. hal :1109-1112 ) Hormon yang dapat meningkatkan kadar glukosa darah antara lain : 1. Glukagon yang disekresi oleh sel-sel alfa pulau langerhans 2. Epinefrin yang disekresi oleh medula adrenal dan jaringan kromatin. 3. Glukokortikoid yang disekresi oleh korteks adrenal. 4. Growth Hormone yang disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. Glukogen, epninefrin, glukokortikoid, dan GH membentuk suatu mekanisme Counterregulator yang mencegah timbulnya hipoglikemi akibat pengaruh insulin pasif. Akibat lambatnya resorpsi makanan maka terjadi hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin. Menjelang aterm kebutuhan insulin meningkat sehingga mencapai 3 kali dari keadaan normal. Hal ini disebut tekanan diabetogenik dalam kehamilan. Secara fisiologik telah terjadi resistensi insulin yaitu bila ia ditambah dengan insulin eksogen ia tak mudah menjadi hipoglikemia. Tetapi bila seorang ibu tak mampu meningkatkan produksi insulin, sehingga ia relatif hipoinsulin yang mengakibatkan hiperglikemi atau diabetes kehamilan (diabetes yang timbul hanya dalam kehamilan). Resistensi insulin juga disebabkan oleh adanya hormon estrogen, progresteron, kortisol, prolaktin, dan plasenta laktogen. Hormon tersebut mempengaruhi reseptor insulin pada sel sehingga mengurangi afinitas insulin. (Noer S. 1997. Jilid I. Edisi III. hal : 675-679).