Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN TRAUMA KEPALA ERNY PRIAN KUSUMA, 0806457022 MAHASISWA REGULER PROFESI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA

2012

Cidera kepala merupakan salah satu penyebab kematian atau kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas (Masjoer, dkk, 2000). Cidera kepala adalah kejadian traumatik yang mengenai otak yang dapat menyebabkan perubahan fisik, intelaektual, emosi, sosial dan vokasional. Cidera kepala meliputi trauma kulit kepala , tengkorak dan otak, sangat sering terjadi dan merupakan penyakit neorologik dan merupakan proporsi epidemik sebagai hasil kecelakaan jalan raya. (Brunner & Suddarth, 2002). Cedera kepala adalah suatu bentuk trauma yang dapat merubah kemampuan otak dalam menghasilkan keseimbangan aktifitas fisik, intelektual, emosional, sosial, dan pekerjaan atau suatu gangguan traumatik yang dapat menimbulkan perubahan fungsi otak.Cedera kepala menggambarkan perubahan neurologi akibat dari adanya sumbatan suplai darah ke otak . ( Black, 2004). Disfungsi neurologi akut akibat gangguan aliran darah otak mendadak dengan tanda dan gejala sesuai daerah fokal otak yang terkena (WHO, 1989). Cedera kepala yaitu adanya deformitas berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi descelarasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan percepatan, serta rotasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan. Cidera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstiil dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak. Cidera kepala dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu cidera otak primer, kelainan patologi otak yang timbul segera akibat langsung dari trauma. Pada cidera primer dapat terjadi: memar otak, laserasi. Cidera otak sekunder, kelainan patologi otak disebabkan kelainan biokimia, metabolisme, fisiologi yang timbul setelah trauma. Prinsip - Prinsip pada Trauma Kepala Tulang tengkorak sebagai pelindung jaringan otak, mempunyai daya elastisitas untuk mengatasi adanya pukulan. Bila daya/toleransi elastisitas terlampau akan terjadi fraktur. Berat/ringannya cedera tergantung pada : 1. Lokasi yang terpengaruh : Cedera kulit. Cedera jaringan tulang. Cedera jaringan otak. 2. Keadaan kepala saat terjadi benturan.

Masalah utama adalah terjadinya peningkatan tekanan intrakranial (PTIK) TIK dipertahankan oleh 3 komponen : Volume darah /Pembuluh darah ( 75 - 150 ml). Volume Jaringan Otak (. 1200 - 1400 ml). Volume LCS ( 75 - 150 ml). Etiologi Kecelakaan lalu lintas dan industri Jatuh Perkelahian Cidera saat olah raga. Trombosis Emboli Spasme pembuluh darah Pecah pembuluh darah karena aneurisma, hipertensi berat Trauma atau luka akibat persalinan Oleh benda/ serpihan tulang yang menembus jaringan otak. Efek dari kekuatan atau energi yang di teruskan ke otak. Efek percepatan dan perlambatan (akselerasi-deselerasi) pada otak. Cidera kepala terbuka sering oleh peluru atau piasu. Faktor Resiko Non reversible Usia laki-laki 15 s/d 30 tahun, ras, keturunan dan laki-laki 3 kali dari pada wanita. Reversible Hipertensi, penyakit jantung, lipid abnormalitas dan obesitas. Kebiasaan hidup : diet, kebiasaan merokok, alkoholik dan aktifitas, pengendara kendaraan bermotor yang ceroboh tidak menggunakan sabuk pengaman, penggunaaan senjata yang tidak tepat. Faktor Pemberat Terjadinya Cidera Otak 1. Besar kekuatan yang menyebabkan terjadinya trauma (semakin besar kekuatan semakin besar pula kerusakan yang di timbulkannya). 2. Efek sekunder dari cidera otak. Proses-proses fisiologi yang abnormal - Kejang-kejang - Gangguan saluran nafas - Tekanan intrakranial meningkat yang dapat disebabkan karena: Edema fokal atau difusi Hematoma epidural Hematoma subdural Hematoma intraserebral Over hidrasi - Sepsis/septik syok - Anemia

- Shock Proses fisiologis yang abnormal ini lebih memperberat kerusakan cidera otak dan sangat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas. Klasifikasi Cidera kepala dapat diklasifikasikan menirit mekanisme, keparahan dan morfologi. a. Berdasarkan mekanisme Cidera Kepala Terbuka (fraktur tengkorak) Kerusakan otak dapat terjadi bila Fraktur tengkorak meliputi robekan durameter----LCS merembes, pembuluh darah dan jaringan otak dan dapat menyebabkan kerusakan pusat vital dan saraf kranial otak. Tanda tanda klinisnya meliputi: - Batle sign: adanya tanda ekimosis pada daerah mastoid. - Perdarah telina, periorbital ekhimosis ( mata berwarna hitam. - Renorrhea dan Otorrhea : cairan otak yang mengalir melalui hidung dan telinga. - Susunan tulang tengkorak dan lapisan kulit kepala membantu menghilangkan tenaga benturan kepala sehingga sedikit kekuatanb yang ditrasmisikan kedalam jaringan otak. - Hemotympanum. - Periorbital echymosis. - Brill hematom Ada dua jenis fraktur tulang tengkorak: - Fraktur tengkorak linier. Disebabkan oleh kekuatan yang amat berlebih terhadap luas area tengkorak tertentu. - Fraktur tengkorak basiller. Hanya terbatas pada dasar tengkorak seperti bagian tulang frontal/temporal. Cidera Kepala Tertutup 1) Comosio Cerebri (gegar otak) biasa disebut Cidera kepala ringan Adalah suatu kerusakan sementara fungsi neorologi yang disebabkan oleh karena benturan kepala. umumnya meliputi sebuah periode tidak sadarkan diri dalam waktu yang berakhir selama beberapa detik sampai beberapa menit, getaran otak sedikit saja hanya akan menimbulkan pusing/berkunang-kunang atau juga dapat kehilangan kesadaran komplet sewaktu gejala. Biasanya tidak merusak struktur tapi menyebabkan hilangnya kesadaran setelah cidera. Dapat timbul lesu, nausea dan muntah. Tatapi biasanya dapat kembali pada fungsi yang normal. Setelah comosio biasanya akan timbul gejala berupa sakit kepala, pusing, ketidak mampuan berkontraksi beberapa minggu sesudak kejadian, gangguan memori sementara, pasif dan peka. Jika terjadi kecelakaan, kesadaran mungkin hanya beberapa detik/menit. Setelahnya pasien mungkin ,mengalami disorientasi dalam waktu yang relatif singkat. Amnesia retrograde (pada beberapa orang). Pingsan kurang dari 10 menit-20 menit Disfungsi neurologis sementara dan dapat pulih kembali.Tanpa kerusakan otak permanen.Tidak ada gejala sisa.MRS kurang 48 jam ---- kontrol 24 jam I , observasi tanda-tanda vital.Tidak ada terapi khusus.Istirahat mutlak ---- setelah

keluhan hilang coba mobilisasi bertahap, duduk --- berdiri -- pulang.Setelah pulang ---- kontrol, aktivitas sesuai, istirahat cukup, diet cukup. 2) Contosio Cerebri (memar otak). Benturan dapat menyebabkan kerusakan struktur dari permukaan otak yang mengakibatkan perdarahan dan kematian jaringan dengan atau tanpa edema. Contosio dapat berupa coup injuri (massa relative diam) dan coup injuri (Kepala dalam kondisi bebas bergerak). Merupakan cedera kepala berat, dimana otak mengalami memar, dengan kemungkinan adanya daerah hemoragi. Pasien berada pada keadaaan tidak sadarkan diri. Gejala muncul lebih khas : Pasien terbaring, kehilangan gerakan, denyut nadi lemah, pernafasan dangkal, kulit dingin dan pucat, defekasi dan berkemih tidak disadari, tekanan darah dan suhu tidak normal Gangguan kesadaran lebih lama.Perdarahan kecil lokal/difus ---- gangguan lokal --- perdarahan.Kelainan neurologik positip, reflek patologik positip, lumpuh, konvulsi.Gejala TIK meningkat.Amnesia retrograd lebih nyata. Perdarahan Intra Kranial pada Cedera Kepala 1. Haematom Epidural. Adalah suatu akumulasi/pengumpulan darah atau bertambahnya perdarahan yang menuju keruang antara tulang tengkorak bagian dalam dan meningen paling luar (durameter). Terjadi karena laserasi atau pecahnya pembuluh darah / cabang cabang dari arteri meningeal tengah/media atau meningeal bagian frontal. Lokasi yang paling sering yaitu dilobus temporalis dan parietalis. Gejala gejalanya : Hilangnya kesadaran ringan diikuti periode leuid (pikiran jernih) tingkat kesadaran cepat menurun menuju bingung dan koma, deserebrasi, pupil an isokor, reflek patologik positip. Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1 2 hari. Jika tidak ditangani akan menyebabkan kematian. ). Nyeri kepala sampai hebat Muntah Hemiparese Pernapasan cepat dalam kemudian dangkal ( reguler ) Penurunan nadi Peningkatan suhu 2. Hematoma Subdural Adalah akumulasi/perdarahn arteri/vena antara durameter dan arakhnoid yang menutup otak. Penyebabnya biasanya robekan pembuluh darah vena yang ditemukan diarea ini Hematom ini terbagi menjadi : Akut : Menunjukkan gejala dalam 24-48 jam setelah cedera. Tanda klinis : TD meningkat dengan frekuensi nadi lambat dan pernafasan cepat sesuai dengan

peningkatan hematoma yang cepat sakit kepala, mengantuk, bingung, agitasi, dilatasi dan fiksasai pupil ipsi lateral/Udem pupil, menarik diri, berfikir lambat Sub Akut : Mempunyai gejala klinis dari 2 hari- 2 minggu setelah cedera Awitan gejala klinis lebih rendah dan lebih tidak berbahaya dari pada yang akut Kronis: Terjadi 2 minggu sampai dengan 3-4 bulan setelah cedera awal, hemoragi awal mungkin sangat kecil Dalam satu minggu atau lebih dari hemoragi, bekuan membentuk membrane mukosa yang berbentuk kapsul Gejala umum meliputi sakit kepala, letargi, kacau mental, kejang, kadangkadang disfagia 3. Hematom Intrakranial : Perdarahan intraserebral 25 cc atau lebih. Selalu diikuti oleh kontosio. Penyebab : Fraktur depresi tulang tengkorak, cidera penetrasi peluru, getaran atau gerakan akselerasi - deselerasi mendadak/tiba-tiba. Herniasi merupakan ancaman nyata, adanya bekuan darah, edema lokal. 4. Hematom Intraserebral Adalah berupa perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri, kapiler dan vena/perdarahan kedalam substansi otak yang diakibatkan oleh hipertansi sistemik yang menyebabkan degenerasi dan rupture pembuluh darah, rupture kantung anaerisma, anomaly vaskuler, tumor intracranial, serta penyebab sitemik termasuk gangguan perdarahan ( sperti leukemia, hemofilia, anemia aplastik, trombositopenia dan komplikasi terapi anti koagulan). Biasanya terjadi akibat cidera langsung, sering terjadi pada lobus frontal dan temporal. Gejala gejalanya : 1). Nyeri kepala 2). Penurunan kesadaran 3). Komplikasi pernapasan 4). Hemiplegi kontra lateral 5). Dilatasi pupil 6). Perubahan tanda tanda vital 5. Hematom Subarakhnoid. Adalah perdarahan yang terjadi pada ruang arakhnoid yaitu antara lapisan arakhnoid dengan piameter. Sering kali terjadi karena adanya robekan vena dan bersifat kronik. Perdarahan di dalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak, hampir selalu ada pada cedera kepala yang hebat. Gejala gejalanya : 1). Nyeri kepala

2). Penurunan kesadaran 3). Hemiparese 4). Dilatasi pupil ipsilateral 5). Kaku kuduk. b. Berdasarkan keparahan atau derajat kesadaran 1. Cidera kepala ringan.(55%) - GCS : 13-15 - Kehilangan kesadaran kurang dari atau sama dengan 30 menit atau kurang dari sama dengan 2 jam. - Tidak ada fraktur tengkorak, contosio/hematom. - Pusing 10 menit, tidak ada deficit neurology - Gambaran scaning otak normal 2. Cidera kepala sedang.(24%) - GCS : 9-12. - Kehilangan kesadran/ Pingsan . > 10 menit sampai 30 menit (bahkan bisa 24 jam atau antara 2-6 jam - Dapat mengalami fraktur tengkorak, disorientasi ringan (bingung) - Terdapat deficit neurology - Gambaran scanning otak abnormal 3. Cidera kepala barat.(21%) - GCS: 3-8 - Kehilanggan kesadaran Pingsan > 6 jam sampai lebih dari 24 jam - Contosio cerebri, laserasi/adanya hematom/edema serebral - Defisit neurology terjadi - Gambaran scaning otak abnormal Catatan: Pada cedera kepala dengan GCS 13-15, pingsan 10 menit, tanpa deficit neurology, tetapi scaning otak menunjukkan adanya perdarahan, maka diagnosa bukan cedera kepala ringan tetapi cedera kepala sedang. c. Berdasarkan Morfologi. 1. Fraktur tengkorak. Kranium: linier, depressi. Basis: dengan/tanpa kebocoran Cairan cerebro spinal dan dengan tanpa kelumpuhan nervus 7 2. Lesi intracranial. Vokal : epidural, subdural, intraserebral. Difus: konklusi ringan dan konklusi klasik. Klasifikasi Cidera Kepala menurut Patofisiologi dibagi menjadi Dua Cidera Kepala Primer Akibat langsung pada mekanisme dinamik ( acceselarsi descelerasi rotasi ) yang menyebabkan gangguan pada jaringan. Pada cidera primer dapat terjadi : Cidera kulit kepala (Sclap injuri). Dapat menimbulkan laserasi, hematoma dan kontosio atau abrasi kulit.

Cidera tengkorak (Skuul injuri) Fraktur dapat terbuka atau tertutup yang dapat merusak jaringan otak yang tergantung dari laserasi kulit kepala atau tekanan dari fraktur. Tipe dan tingkat keparahanya tergantung dari velocity momentum. Komplikasi utamanya adalah infeksi intracranial dan hematoma seperti meningitis dan kerusakan jaringan otak. Geger kepala ringan Memar otak Cedera Kepala Sekunder Cidera yang dapat disebabkan oleh hipoksia, hiperkapnea, hipertensi dan hipertensi cranial. timbul gejala seperti : 1). Hipotensi sistemik 2). Hiperkapnea 3). Hipokapnea 4). Udema otak 5). Komplikasi pernapasan 6). Infeksi komplikasi pada organ tubuh yang lain. Manifestasi klinik. a. Fraktur tulang tengkorak. - Frontal. Expose otak dengan agen yang mengkontaminasi melalui sinis frontal dapat terlihat CSF rinorrhea (kebocoran CSF dari hidung), pneomo cranium. - Orbital Echimosis peri orbital - Temporal Otak temporal menebal karena akstravasai darah, battle sign. - Parietal Tuli, CSF atau otorrhea (kebocoran CSF dari telinga), otak, membrane timpani bengkok karena darah . - Posterior Buta karena memar oksipital, penurunan lapang pandang, atraksia. - Basiler. Otorrhea, membrane timpani membengkak, battle sign, vertigo. b. Komusio. Hilang kesadaran selama 5 menit atau kurang amnesia retrograde post traumatic, pusing, sakit kepala, mual,dan muntah-muntah. c. Kontusio. - Kontosio cerebral * Lobus temporal: agitasi, kebingungan tetapi tetap terjaga. * Lobus frontal: hemi paresis * Froto temporal: apasia. - kontosio batang otak * Terjadi gangguan kesadaran selam beberapa jam, hari/minggu

* Respirasi dapat normal, atraksia, periodic atau sangat cepat. * Pupil biasanya kecil, sama dan reaktif. * Gangguan gerakan bola mata. d. Gangguan kesadaran, konfusi, awitan tiba-tiba deficit neurologist, perubahan tandatanda vital, disfungsi sensori, kejang otot, syok mungkin menunjukkan cedera multi system, suhu tubuh yang sulit dikendalikan, tekanan darah menurun, bradikardia, papil edema, kesadaran makin menurun. Patofisiologi Cidera kepala TIK - oedem - hematom Respon biologi Hypoxemia

Kelainan metabolisme Cidera otak primer Kontusio Laserasi Cidera otak sekunder

Kerusakan cel otak

Gangguan autoregulasi Aliran darah keotak

rangsangan simpatis tahanan vaskuler Sistemik & TD

Stress katekolamin sekresi asam lambung

O2 ggan metabolisme

tek. Pemb.darah Pulmonal

Mual, muntah

Asam laktat

tek. Hidrostatik

Asupan nutrisi kurang

Oedem otak

kebocoran cairan kapiler

Ggan perfusi jaringan Cerebral

oedema paru cardiac out put Difusi O2 terhambat Ggan perfusi jaringan

Gangguan pola napas hipoksemia, hiperkapnea Patofisiologi Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi, energi yang dihasilkan di dalam sel sel syaraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg % karena akan menimbulkan koma, kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan tubuh, sehingga bila kadar oksigen plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala gejala permulaan disfungsi cerebral. Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolisme anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan oksidasi metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis metababolik. Dalam keadaan normal Cerebral Blood Flow (CBF) adalah 50 60 ml / menit 100 gr. Jaringan otak yang merupakan 15 % dari cardiac output. Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktifitas atypical myocardial, perubahan tekanan vaskuler dan udema paru. Perubahan otonim pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P aritmia, fibrilasi atrium dan ventrikel serta takikardi. Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler akan menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi. Pengaruh persyarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar. Mekanisme terjadinya cidera Cedera kepala disebabkan oleh adanya suatu kekuatan yang mendadak terhadap kepala, hasilnya sangat kompleks Mekanisme cidera dapat menentukan berat ringanya cidera kepala. a. Akselerasi. Kepala yang diam dihantam oleh benda yang bergerak seperti trauma akibat pukulan atau lemparan benda tumpul. b. Deselerasi. Kepala yang bergerak menghantam benda yang diam, missal kepala menghantam setir mobil. c. Akselerasi dan deselerasi (coup-counter coup). Terjadi ketika benda yang bergerak menghantam benda yang diam dan kemudian kepala menghantam banda yang diam (otak bergeser dalam tengkorak, injuri otak terjadi peda sisi yang terbentur dan pada sisi yang berlawanan. d. Deformasi. Deformasi adalah injury yang dihasilkan oleh suatu kekuatan yang menyebabkan terjadinya perubahan bentuk dan kerusakan dari bagian tubuh. ( Joyce. M. Black, 1997). Menyebabkan deformitas dan mengganggu integritas akibat adanya bagian kepala yang patah.

Misanya fraktur tulang tengkorak yang dapat merobek jaringan otak dan rusaknya struktur otak lain seperti pembuluh darah dan saraf terjadi hematom dan mengakibatkan kerusakan otak yang luas. e. Kelainan dapat berupa cedera otak fokal/difus dengan atau tanpa fraktur tulang tengkorak f. Cedera otak fokal dapat menyebabkan memar otak, hematom epidural, sub dural, dan intracerebral g. Cedera difus dapat menyebabkan gangguan fungsional atau cedera structural yang difus h. Dari tempat benturan, gelombang kejut disebarkan keseluruh arah, bila tekanan cukup besar makan akan terjadi kerusakan jaringan otak di tempat benturan (coup) atau di tempat yang berseberangan dengan daerah benturan (contracoup) Pengaruh Trauma Kepala Sistem pernapasan Sistem kardiovaskuler. Sistem Metabolisme. Sistem Pernapasan : TIK meningkat Hipoksemia, hiperkapnia Meningkatkan rangsang simpatis

Peningkatan hambatan difusi O2 - Co2.

Edema paru

Meningkatkan tahanan vask. sistemik dan tek darah

Meningkatkan tek, hidrostatik Kebocoran cairan kapiler

Sistem pembuluh darah pulmonal tek. rendah. Karena adanya kompresi langsung pada batang otak ---- gejala pernapasan abnormal : Chyne stokes. Hiperventilasi. Apneu. Sistem Kardiovaskuler : 1. Trauma kepala --- perubahan fungsi jantung : kontraksi, edema paru, tek. Vaskuler. 2. Perubahan saraf otonoom pada fungsi ventrikel : - Disritmia. - Fibrilasi. - Takikardia.

3. Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis --- terjadi penurunan kontraktilitas ventrikel. ---- curah jantung menurun --- menigkatkan tahanan ventrikel kiri --- edema paru. Sistem Metabolisme : Trauma kepala --- cenderung terjadi retensi Na, air, dan hilangnya sejumlah nitrogen. Dalam keadaan stress fisiologis. Trauma ADH dilepas Retensi Na dan air Out put urine menurun Konsentrasi elektrolit meningkat

Normal kembali setelah 1 - 2 hari. Pada keadaan lain : Fraktur Tengkorak

Kerusakan hipofisis Atau hipotalamus Diabetes Mellitus

Penurunan ADH Ginjal Ekskresi air

Dehidrasi

Hilang nitrogen meningkat ------------ respon metabolik terhadap trauma. Trauma

Tubuh perlu energi untuk perbaikan

Nutrisi berkurang Penghancuran protein otot sebagai sumber nitrogen utama. Pengaruh Pada G.I Tract. : 3 hari pasca trauma --- respon tubuh merangsang hipotalamus dan stimulus vagal. Lambung hiperacidi Hipotalamus ------ hipofisis anterior Adrenal

Steroid Peningkatan sekresi asam lambung Hiperacidi Trauma Stress Perdarahan lambung

Katekolamin meningkat. Komplikasi Hemoragik Edema pulmonal. Akibat dari ciddera pada otak yang menyebabkan adanya reflek cusshing. Perubahanpermeabilitas pembuluh darah berperan dalam proses dengan kemungkinan cairan berpindah dalam alveolus. Infkeksi Diabetes insipidus Edema cerebral Kejang Merembesnya cairan serebrospinal Hipertermia Hipovolemia Immobilisasi Epilepsi GI Tract : Sering ditemukan gastritis erosive/lesi GI 10-14% Kelainan fokal karena kelaianan akut mukosa GI atau karena kelaianan patologis atau karena cedera cerebral. Umumnya terjadi karena hiperaciditas , hiperfungsi kelenjar adrenal yang ditandai dengan hiperkolesterolemia Kelainan Hematologis Anemia, trombositopenia, hiperagregasi trombosit, hiperkoagulitas atau disseminated intrakoagulopati (DIC) sifatnya sementara tetapi perlu penanganan segera Gelisah yang dapat disebabakan oleh kandung kemih yang full, usus halus yang pecah, frakur, TIK meningkat, emboli paru Sesak nafas Akut akibat aspirasi, odema pulmonal, tromboemboli atau emboli lemak ke arteri pulmonal Tromboemboli pulmonal berasal dari trombosis vena dalam di tungkai dll Emboli lemak karena patah tulang Gejala lainnya seperti dispnea, hipotensi dan syok Aspirasi

Dapat terjadi daerah-darerah infark, alveoli paru tertutup, odema dan perdarahan di dalam paru Pemeriksaan Diagnostik a. CT scan (tanpa/dengan kontras) Mengidentifikasi adanya SOL, hemoragik, menetukan ukuran ventrikuler, pergeseran jaringan otak, adanya nyeri kepala, mual, muntah, kejang, penurunan kesadaran. Pemeriksaan berulang mungkin diperlukan karena pada iskemia/infark mungkin tidak terdeteksi dalam 24-72 jam pasca trauma. b. MRI. Mengidentifikasi patologi otak atau perfusi jaringan otak, misalnya daerah yang mengalami infark, hemoragik. Digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif. c. Angiografi cerebral. Menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran caiaran otak akibat edema, perdarahan, dan trauma. d. EEG Memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya gelombang patologis e. Sinar X-Ray Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang tengkorak (fraktur), pergeseran srtuktur dari garis tengah (kerena perdarahan, edema), adanya fragmen tulang. f. BAER (Brain Auditori Evoked Respon) Menentukan cortek dan batang otak/otak kecil g. PET (Positron Emission Tomografi) Menunjukkan perubhan aktivitas metabolisme pada otak h. Punksi lumbal dapat menduga kemungkin adanya perdarahan sub araknoid, dan menganalisa cairan otak. i. GDA Mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenisasi yang akan dapat meningkatkan TIK. j. Kimia/elektrolit darah Mengetahui ketidakseimbangan cairan/ elektrolit yang berperan dalam meningkatkan TIK / perubahan mental. k. Perubahan/Screen toksikologi Untuk mendeteksi obat yang memungkinkan menimbulkan terhadap penurunan kesadaran. l. Kadar anti konfulsan darah Mengetahui tingkat terapi yang cukup efektif untuk mengatasi kejang. m. ABGs: Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenisasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial Laboratorium AGD untuk mengetahui adanya masalah ventilasi perfusi atau oksigenasi yang dapat meningkatkan TIK

Kimia Darah untuk melihat keseimbangan cairan dan elektrolit yang berperan dalam peningkatan TIK dan perubahan status mental Pemeriksaan Toksikologi untuk mendeteksi obat yang mungkin menimbulkan penurunan kesadaran Kadar anti konvulsan darah untuk mengetahui keefektifan terapi untuk mengatasi kejang Penatalaksanaan a. Jika terdapat luka pad kulit kepala, diusahakan ditutup, dan control perdarahan yang terjadi. b. Luka pada kulit kepala yang tidak diatas fraktur, segera dianastesi local, dibersihkan dan dijahit. c. Pada depresi tengkorak dilakukan pembedahan untuk menata kembali fragmen tulang dalan lapisan durameter yang robek. d. Pembedahan : - Kraniotomy Membuka tengkorang untuk mwngangkat bekuan darah atau tumor, menghentikannperdarahan intra cranial, memperbaiki jaringan otak, atau pembuluh darah yang rusak. - Kraniaektomy Mengangkat bagian tulang tengkorak. - Kranioplasty Memperbaiki tulang tengkorak dengan logam, lempeng plastic, untuk menutup area yang terbuka dan memperkuat area kerudakan tulang. e. Pembedahan. Trepanasi melakukan evakuasi terhadap perdarahan yang timbul dan menghentikan perdarahan. f. Konservatif: Memperbaiki keadaan umum, pemberian vasodilator, mengurangi edema cerebri. Bedrest total Pemberian obat-obatan Observasi tanda-tanda vital (GCS dan tingkat kesadaran) Pengobatan. Anti Seuzure ( serangan tiba-tiba), seperti phenitoin Antagonis, histamine untuk mengurangi resiko stress ulcer. Analgetik : acenaminoven, kodein Diuretic untuk menurunkan TIK Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisillin) atau untuk infeksi anaerob diberikan metronidasol Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai dengan berat ringanya trauma. Terapi hiperventilasi (trauma kepala berat), untuk mengurnagi vasodilatasi. Pengobatan anti edema dnegan larutan hipertonis yaitu manitol 20 % atau glukosa 40 % atau gliserol 10 %.

Makanan atau cairan, Pada trauma ringan bila muntah-muntah tidak dapat diberikan apa-apa, hanya cairan infus dextrosa 5 %, amnifusin, aminofel (18 jam pertama dari terjadinya kecelakaan), 2 - 3 hari kemudian diberikan makanan lunak. Pada trauma berat. Karena hari-hari pertama didapat penderita mengalami penurunan kesadaran dan cenderung terjadi retensi natrium dan elektrolit maka hari-hari pertama (2-3 hari) tidak terlalu banyak cairan. Dextosa 5 % 8 jam pertama, ringer dextrosa 8 jam kedua dan dextrosa 5 % 8 jam ketiga. Pada hari selanjutnya bila kesadaran rendah makanan diberikan melalui nasogastric tube (2500 - 3000 TKTP). Pemberian protein tergantung nilai ure nitrogennya. Pasien dalam keadaan sadar (GCS 15) dengan : Simple head injury bila tanpa deficit neurology - Dilakukan rawat luka - Pemeriksaan radiology - Pasien dipulangkan dan keluarga diminta untuk observasi bila terjadi penurunan kesadran segera bawa ke rumah sakit Kesadaran Terganggu Sesaat - Pasien mengalami penurunan kesadaran sesaat setelah trauma dan saat diperiksa sudah sadar kembali - Lakukan foto kepala dan perawatan luka - Pulangkan dan bila kesadaran menurun di rumah, segera bawa ke rumah sakit Pasien Dengan Penurunan Kesadaran 1. CKR (GCS 13-15) Perubahan orientasi tanpa disertai deficit fokal cerebral - Lakukan pemeriksaan fisik, perawatan luka, foto kepala, istirahat baring dengan mobilisasi bertahap sesuai dengan kondisi pasien disertai terapi simptomatis - Observasi minimal 24 jam di rumah sakit untuk menilai kemungkinan hematom intracranial seperti sakit kepala, muntah, kesadaran menurun, gejala lateralisasi (pupil anisolor, refleks patologis positif) - Jika dicurigai adanya hematom, lakukan scaning otak 2. CKS (GCS 9-12) Pada kondisi ini, pasien dapat mengalami gangguan kardiopulmoner, urutan tindakan sebagai berikut: - Periksa dan atasi gangguan nafas (ABC) - Lakukan pemeriksaan kesadaran, pupil, tanda fokal cerebral dan cedera organ - Foto kepala dan bila perlu bagian tubuh lainnya - Scaning otak bila dicurigai hematoma intracranial - Observasi TTV, kesadaran, pupil dan deficit fokal cerebral lainnya 3. CKB ( GCS 3-8) - Biasanya disertai cidera multiple - Bila dicurigai fraktur cervical pasang kolarneck - Bila ada luka terbuka dan ada perdarahan dihentikan dengan balut tegas untuk pertolongan pertama - Observasi kelainan cerebral dan kelainan sistemik - Hipokapnia, hipotensi, dan hiperkapnia akibat gangguan cardiopulmonal

Asuhan Keperawatan: 1. Pengkajian Aktivitas/ istirahat Gejala :Merasa lemah, lelah, kaku, hilang keseimbangan Tanda :Perubahan kesadaran, letargi Hemiparese, ataksia, cara berjalan tidak tegap Cedera ortopedi, kehilangan tonus otot, otot spastik Sirkulasi Gejala :Perubahan tekanan darah atau normal (hipertensi) Perubahan frekuensi jantung ( bradikardi, takikardi yang diselingi dengan bradikardi, disritmia) Integritas ego Gejala :Perubahan tingkah laku atau kepribadian (tenang atau dramatis) Tanda :Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung, depresi, dan impulsif Eliminasi Gejala :Inkotinensia kandung kemih/ usus atau mengalami gangguan fungsi Makanan/ cairan Gejala :Mual, muntah dan mengalami perubahan selera Tanda :Muntah (mungkin proyektil) Gangguan menelan (batuk, air liur keluar, disfagia) Neurosensori Gejala :Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian. Vertigo, sinkop, tinitus, kehilangan pendengaran, baal pada ekstremitas. Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajaman, diplopia, kehilangan sebagian lapang pandang, fotopobia. Gangguan pengecapan dan penciuman. Tanda :Perubahan kesadaran bisa sampai koma Perubahan status mental ( orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi, tingkah laku dan memori). Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri), deviasi pada mata, ketidakmampuan mengikuti. Kehilangan pendengaran, penciuman, dan pengecapan. Wajah tidak simetris Genggaman lemah, tidak seimbang Reflek tendon dalam tidak ada, atau lemah Apraksia, hemiparese Postur ( dekortikasi, desebrasi), kejang Sangat sensitif tehadap sentuhan dan gerakan Kehilangan sensasi sebagian tubuh Kesulitan dalam menentukan posisi tubuh Nyeri/ keamanan Gejala :Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang berbeda, biasanya lama

:Wajah menyeringai, respon menarik pada rangsangan nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa beristirahat, merintih. Pernapasan Tanda :Perubahan pola napas ( apneu yang diselingi hiperventilasi), napas berbunyi, stridor, tersedak. Ronki, mengi positif ( kemungkinan karena aspirasi). Keamanan Gejala :Trauma baru, trauma karena kecelakaan Tanda :Fraktur, dislokasi Gangguan penglihatan Kulit: laserasi, abrasi, perubahan warna seperti racoon eye, tanda Batle disekitar telinga ( merupakan tanda adanya trauma), adanya aliran cairan dari telinga, hidung (CSS). Gangguan kognitif Gangguan rentang gerak, tonus otot hilang, kekuatan secara umum mengalami paralisis Demam, ganggaun regulasi suhu tubuh. Interaksi sosial Tanda :Afasia motorik atau sensorik, bicara tanpa arti, bicara berulang0ulang, disartria, anomia. Penyuluhan/ pembelajaran Gejala :Penggunaan alkohol, obat lain Rencana pemulangan :Ambulasi, transportasi, membutuhkan bantuan pada perawatan diri, menyiapkan makan, pengobatan, tugas-tugas rumah tangga, perubahan tata ruang atau penempatan fasilitas lainnya di rumah. 2. Prioritas Keperawatan a. Memaksimalkan perfusi atau fungsi serebral b. Mencegah/ meminimalkan komplikasi c. Mengoptimalkan fungsi otak d. Menyokong proses koping dan pemulihan keluarga e. Memberikan informasi mengenai prognosis penyakit, rencana tindakan dan sumber daya yang ada. Daftar Pustaka Black, J.M. & Hawks, J.H. (2004). Medical surgical nursing : clinical management for positive outcomes. 7th Edition. USA : Elseiver Sauders Brunner & Suddarth. (2002). Buku ajar keperawatan medIikal bedah. Edisi 8. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC (Alih bahasa : Waluyo, Agung, dkk). Mansjoer, dkk. (2000). Kapita selekta kedokteran. Jilid 2. Edisi Ketiga. Jakarta : Media Aesculapius

Tanda