Anda di halaman 1dari 6

Tujuan Mempelajari Hukum Adat Tujuan praktis: Hukum adat masih digunakan dalam lapangan hukum perdata, khususnya

dalam perkara waris. Secara faktual, masih banyak terdapat eksistensi kehidupan indigenous people di pelosok pedalaman nusantara. Tujuan strategis: Hukum adat sebagai hukum asli bangsa merupakan sumber serta bahan potensial untuk pembentukan hukum positip Indonesia dan pembangunan tata hukum Indonesia. B. Unsur Hukum Adat Teori Van der Bergh yaitu reception in complexu (penerimaan bulat atau keseluruhan). Menurut teori ini, Hukum Adat suatu masyarakat, golongan, atau bangsa adalah resepsi seluruhnya dari agama yang dianut oleh golongan, masyarakat atau bangsa tersebut, dengan kata lain hukum (adat) suatu golongan, masyarakat adalah hasil penerimaan bulat-bulat dari hukum (agama) yang dianut oleh golongan, masyarakat yang bersangkutan. Jadi teori reception ini menyamakan Hukum Adat dengan Hukum Agama yang dianut oleh masyarakat yang bersangkutan. Istilah yang mempengaruhi pandangan orang yang menyamakan Hukum Adat dengan Hukum Agama. Teori Van der Bergh ini sama pendapatnya dengan Keyzer. Pendapat Van der Bergh ditentang oleh S. Hurgronye dan Van Vollenhoven. Menurut S. Hurgronye, pendapat Van der Bergh ini tidak semua benar, hanya bagian-bagian tertentu saja dari Hukum Adat yang dapat dipengaruhi oleh hukum agama yang dianutnya. Bagian Hukum Adat yang mudah dipengaruhi itu adalah bagian dari hidup manusia yang sifatnya mesra, yang hubungannya erat dengan kepercayaan dan hidup batin. Bagian itu ialah: hukum keluarga, hukum perkawinan, hukum waris. Menurut Ter Haar, hukum waris itu adalah asli hukum adat Indonesia. Menurut Van Vollenhoven, dari hasil kompromi pertentangan dan perebutan kekuasaan antara kaum Ummayah dan golongan Medinah, bahwa yang termasuk urusan pemerintahan, polisi dan hukum pidana termasuk hukum acaranya diserahkan kepada kebijaksanaan Khalifah di luar tanah Arab, sedangkan halhal mengenai hidup keagamaan, hukum keluarga, hukum perkawinan dan hak waris Berta wakaf termasuk kompetensi golongan Madinah. Hasil kompromi tatkala agama Islam berkembang ke luar tanah Arab,termasuk diantaranya ke Indonesia. C. Definisi Hukum Adat Suatu definisi hanya dapat dipakai sebagai suatu pegangan sementara saja. Para ahli menemui kesulitan dalam menyusun definisi Hukum Adat, karena: 1. Hukum Adat masih dalam pertumbuhan 2. Hukum Adat itu selalu membawa kita kepada dua keadaan (sebagai sifat dan pembawaan Hukum Adat), yaitu: tertulis >< hukum rakyat (sumber) dan lain-lain Ter Haar yang dikenal dengan ajarannya "beslissingenleer" atau teori keputusan. Menurut Ter Haar,

Hukum Adat itu dengan mengabaikan bagian-bagiannya yang tertulis yang terdiri dari peraturanperaturan desa, surat-surat perintah raja adalah keseluruhan peraturan yang menjelma dalam keputusankeputusan para fungsionaris hukum (dalam arti luas) yang mempunyai wibawa (macht) serta pengaruh (invloed) dan yang dalam pelaksanaannya berlaku dengan serta merta (spontan) dan dipatuhi dengan sepenuh hati. Inilah definisi Hukum Adat menurut Ter Haar. Keputusan fungsionaris hukum ini bukan hakim saja, tapi juga kepala adat, rapat desa, wali tanah, petugas di lapangan agama dan petugas desa lainnya. Mengabaikan Bagian yang Tertulis Menurut Soepomo, Hukum Adat itu dipakai sebagai sinonim dari hukum yang tidak tertulis di dalam peraturan legislatif (unstatutory law) hukum yang hidup sebagai konvensi di badan-badan negara (parlemen, dewan provinsi, dll), hukum yang timbul karena putusan-putusan hakim oudgemade law), hukum yang hidup sebagai peraturan kebiasaan yang dipertahankan di dalam pergaulan hidup baik di kota-kota maupun di desa (customary law), semua istilah "adat" atau hukum yang tidak tertulis yang disebut oleh pasal 3 ayat 2 UUD Sementara. Syarat kebiasaan (custom) untuk menjadi hukum kebiasaan (customary law) atau, Hukum Adat ada dua, yaitu: 1. Kebiasaan tersebut mesti dilaksanakan terus menerus oleh masyarakat tersebut (syarat materil). 2. Apa yang dilaksanakan terus menerus itu dengan kesadaran bahwa itu dirasakan sebagai kewajiban (tuntutan/hukum atau dengan kata lain: de opium uris necessifat), yang berlangsung terus menerus itu dirasakan sebagai kewajiban hukum (syarat psikologis). Kesimpulan Soepomo tentang Hukum Adat: 1. Menyamakan Hukum Adat dengan hukum tidak tertulis 2. Membagi Hukum Adat atas tiga, yaitu: a. Convention b. Judgemade law c. Customary law 3. Mengabaikan bagian Hukum Adat yang tertulis Kusumadi Pudjosewojo dalam bukunya Pedoman Pelajaran Tata Indonesia menjelaskan arti "adat" dan arti "hukum" sebagai berikut: "adat" adalah tingkah laku yang oleh dan dalam suatu masyarakat (sudah, sedang, akan) diadatkan. Adat itu ada yang tebal, ada yang tipis dan senantiasa menebal dan menipis. Aturan tingkah laku tersebut merupakan aturan adat dan ada pula yang merupakan aturan hukum. Perbedaan adat dan Hukum Adat itu terletak pada pelaksanaannya. Menurut Van Vollenhoven, Hukum Adat ialah keseluruhan aturan tingkah laku positif yang di satu pihak mempunyai sanksi (adalah hukum) dan di pihak lain tidak dikodifikasikan, artinya tidak tertulis dalam bentuk kitab undangundang yang tertentu susunannya. D. Dasar Hukum Berlakunya Hukum Adat Hukum Adat yang merupakan hukum positif, tetapi merupakan hukum yang tidak tertulis. Dasar hukum berlakunya Hukum Adat pada saat ini secara ringkas adalah sebagai berikut: 1. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 2. Pasal II A Peralihan UUD 1945, junto pasal 131 a 2 sub b. 1.5 3. UU No. 14 tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, diperbaharui dengan UU No.

35 tahun 1999. 4. Pasal yang penting dalam UU No. 14 tahun 1970 sebagai landasan hukum berlakunya Hukum Adat adalah: a. Pasal 23 (1) yang isinya hampir sama dengan pasal 17 UU No. 19 tahun 1964 yang berbunyi: Segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan-alasan dan dasar-dasar putusan itu, juga harus memuat pula pasalpasal tertentu dari peraturan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadilinya. b. Pasal 27 (1) hampir sama dengan pasal 20 (1) UU No. 19 tahun 1964 yang berbunyi: Hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali, mengikuti dan memahami m1al-nifal hukum yang hidup dalam masyarakat. Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945: Segala badan negara dan peraturan yang ada, masih langsung berlaku selama belum diadakan yang barn menurut UUD ini. Menurut ketentuan I.S. (Indische Staatregeling) yang merupakan dasar perundang-undangan berlakunya Hukum Adat yang, berasal dari zaman kolinial, masih tetap berlaku, yaitu bagi golongan hukum Indonesia asli (pribumi) dan golongan Timur Asing berlakunya Hukum Adat mereka, tetapi bila kepentingan sosial mereka membutuhkannya, maka pembuat ordonanse dapat menentukan bagi mereka: a. Hukum Eropa b. Hukum Eropa yang telah diubah c. Hukum bagi beberapa golongan bersama-sama 5. Sejak UUD45 di amandemenkan 4 kali, maka ada dalam pasal 18 B. terutama ayat 2, yang mengakui keberadaan masing-masing hukum adat dengan hak tradisionalnya (lihat pasal tersebut dalam UUD 1945 yang sudah di amandemen). E. Hukum Adat Merupakan Salah Satu Aspek Kebudayaan Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu budhayah, bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Maka kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal. Menurut Koentjaraningrat, sebagai konsep, kebudayaan dapat diartikan sebagai keseluruhan gagasan dan karya yang harus dibiasakannya dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi dan harapannya itu. Dalam bahasa Inggris "cult-are" yang berarti sebagai segala daya dan usaha manusia untuk merubah alam. Itu salah satu definisi kebudayaan, diantara sekian banyak definisi lainnya. Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan itu memiliki paling sedikit tiga wujud, yaitu: 1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturanperaturan, dan sebagainya (wujud ideal). 2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat (wujud sistem sosial). 3. Wujud kebudayan sebagai benda-benda hasil karya (wujud fisik). Hukum Adat termasuk bagian wujud ideal dari kebudayaan, menurut hasil penelitian Van Vollenhoven dan para sarjana lainnya, Hukum Adat tersebut tidak hanya terbatas pada daerah hukum Republik Indonesia dan dipertahankan kita dan bersemayam di hati nurani dari gugusan kepulauan Pilipina dan Taiwan di sebelah utara, sampai di Pulau Malagasi di sebelah barat, di sebelah timur sampai kepulauan paska. Cicero (106-43 SM) menyatakan "ubi societas, ibi ius" yang berarti dimana ada masyarakat di sana ada hukum (adat). Ini merupakan kenyataan umum. Hukum yang berlaku dalam masyarakat mencerminkan

cara berpikir masyarakat tersebut. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan sendiri dengan corak dan sifat sendiri, hukum dari masing-masing masyarakat mempunyai corak dan sifat yang berlainan mengikuti jiwa/semangat rakyat (volksgeist). Menurut Von Savigny hukum mengikuti volksgeist dari masyarakat tempat hukum (adat) itu berlaku. Sebagaimana halnya dengan semua sistem hukum di bagian lain di dunia ini, maka Hukum Adat itu senantiasa tumbuh dari suatu kebutuhan hidup yang nyata, cara hidup dan pandangan hidup yang keseluruhannya merupakan kebudayaan masyarakat tempat Hukum Adat itu berlaku. Suatu hal yang total, manakala suatu hukum dipaksakan berlaku pada suatu masyarakat yang tidak sesuai dengan rasa keadilan dan bertentangan dengan kemauan orang terbanyak masyarakat yang bersangkutan, singkatnya bertentangan dengan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan, maka hukum itu akan mendapat tantangan dari masyarakat itu, atau tidak diikuti oleh mereka. Oleh sebab itu, dalam meninjau Hukum Adat Indonesia tidak bisa lepas dari volksgeist masyarakat, dari suatu cara berfikir yang khas orang Indonesia yang terjelma dalam Hukum Adat. singkatnya, untuk mengerti benar-benar Hukum Adat itu sebagai penjelmaan kepribadian Indonesia, maka perlu diketahui struktur berpikir, corak dan sifat masyarakat indoensia khsusnya yang berhubungan dengan bidang hukum. Bagaimana struktur berpikir, corak dan sifat masyarakat Indonesia itu? Sesudah kita mengetahui bahwa Hukum Adat adalah suatu segi kebudayaan Indonesia, adalah pancaran dari jiwa dan struktur masyarakat Indonesia, dari mentalitet orang dan masyarakat Indonesia. F.D. Holleman, guru besar Hukum Adat di Leiden dalam pidato inaugurainya yang berjudul "De Commune trek in het Indonesia rechtsleven" (corak kegotongroyongan di dalam kehidupan hukum Indonesia) menyimpulkan adanya 4 sifat umum Hukum Adat Indonesia yang hendaknya dipandang sebagai suatu kesatuan, yaitu: 1. Sifat religio magis 2. Sifat komun (commune) 3. Sifat kontan (tunai) 4. Sifat konkret (visual) Sifat religio magis adalah pembulatan/perpaduan kata yang mengandung unsur beberapa sifat atau cara berikir seperti prelogis, animisme, pantangan, ilmu gaib dan lain-lain. Sifat komun di dalam cara berfikir komunal menurut Hukum Adat berarti bahwa kepentingan individual selalu diimbangi oleh kepentingan umum, bahwa hak-hak individu dalam Hukum Adat diimbangi hak-hak umum. Dalam mentalitas cara berfikir tersebut segala penilaian pembuatan keputusan clan tekanan dalam Hukum Adat terletak dalam tangan masyarakat adat desa. Keseluruhan masyarakat adalah yang kuat, yang kuasa, menentukan segala, memberi arch kepada segala tindak tanduk. Penilaian terletak pada masyarakat atau pendapat umum. Sifat kontan (tunai), sifat kontan ini mengandung pengertian bahwa dengan suatu perbuatan nyata, suatu perbuatan simbolis atau suatu pengucapan, tindakan hukum yang dimaksud telah selesai seketika itu juga dengan serentak bersama waktunya tatkala berbuat atau mengucapkan yang diharuskan oleh adat. Dalam Hukum Adat, segala sesuatu yang terjadi sebelum dan sesudah timbang terima secara kontan itu adalah di luar akibat-akibat hukum clan memang tidak bersangkut pant menurut hukum. Contoh dalam Hukum Adat tentang perbuatan kontan adalah: jual beli lepas, perkawinan jujur, melepaskan hak atas tanah, adopsi, dan lain-lain. Sifat konkret (visual). Sifat konkret artinya bahwa dalam berfikir yang tertentu senantiasa dicoba dan

diusahakan supaya hal-hal yang dimaksud, dengan ini, dikehendaki atau akan dikerjakan ditransformasi atau diberi wujud suatu benda, diberi tanda yang kelihatan, balk berupa langsung maupun hanya menyerupai objek yang dikehendaki (tumbal, benda yang magis, dan lain-lain). Contohnya: panjar dalam jual beli atau memindahkan hak atas tanah, paningset, panyangcang dalam pertunangan atau dalam membalas dendam dengan membuat patung atau boneka atau benda, lalu barang tersebut dihancurkan. Jadi konkretnya itu adalah dengan bertindak atau berbuat sesuatu secara visual, kelihatan, biarpun hanya menyerupai objek yang dikehendaki. BAB III MASYARAKAT HUKUM ADAT Kalau hendak mengetahui tentang berbagai lembaga hukum yang ada dalam suatu masyarakat, seperti lembaga: Hukum tentang perkawinan Hukum tentang pewarisan Hukum tentang jual beli barang Hukum tentang milik tanah, dll Hukum tentang kekeluargaan Harus mengetahui struktur masyarakat yang bersangkutan. Struktur masyarakat menentukan sistem hukum yang berlaku pada masyarakat tersebut. Model: Ranidar Darwis, 1987 Menurut Ter Haar, Persekutuan Hukum (Masyarakat hukum) adalah: Kesatuan manusia yang teratur Menetap di suatu daerah tertentu Mempunyai penguasa-penguasa Mempunyai kekayaan yang berwujud atau tidak berwujud, dimana para angota kesatuan masing-masing mengalami kehidupan dalam masyarakat sebagai hal yang wajar menurut kodrat alam dan tidak seorangpun di antara para anggota itu mempunyai pikiran atau kecenderungan untuk membubarkan ikatan yang telah tumbuh itu atau meninggalkannya dalam arti melepaskan diri dari ikatan itu untuk selamalamanya. Masyarakat hukum adat yang strukturnya bersifat genealogic (darah) ialah masyarakat hukum adat yang anggota-anggotanya merasa terikat dalam suatu ketertiban berdasarkan kepercayaan bahwa mereka semua berasal dari satu keturunan yang sama. 1. Masyarakat Unilateral Masyarakat unilateral ialah masyarakat hukum adat dimana para anggotanya menarik garis keturunan melalui satu pihak, pihak ibu atau pihak bapak. Masyarakat unilateral (kebapaan atau keibuan) terdiri dari kesatuan-kesatuan yang kecil dan. Perkawinannya dilakukan secara exogam. a. Masyarakat keibuan (matriachat) Masyarakat keibuan ialah masyarakat hukum adat dimana para anggotanya menarik garis keturunan melalui ibu (perempuan). b. Masyarakat kebapaan (patriachat)

Masyarakat kebapaan ialah masyarakat hukum adat dimana para anggotanya menarik garis keturunan melalui bapak (laki-laki). 2. Masyarakat Bilateral (parental = keibu-bapaan) Masyarakat bilateral ialah masyarakat hukum adat dimana para anggotanya menarik garis keturunan melalui ibu dan bapak a. berdasarkan keluarga b. berdasarkan rumpun 3. Masyarakat Altenerend Masyarakat altenerend ialah masyarakat hukum adat yang para anggotanya menarik garis keturunan berganti-ganti secara bergiliran melalui ayah atau melalui ibu sesuai dengan bentuk perkawinan yang dialami oleh orang tua (jujur atau sumendo) (Rejang). 4. Masyarakat dubbel-unilateral Masyarakat dubbel-unilateral adalah masyarakat hukum adat dimana para anggotanya menarik garis keturunan melalui garis ayah clan garis ibu jalin menjalin tergantung pada jenisnya, laki-laki atau perempuan (Timor). Masyarakat hukum adat yang strukturnya bersifat teritorial ialah masyarakat hukum adat yang susunannya berazaskan lingkungan daerah, yaitu masyarakat hukum adat yang para anggotanya merasa bersatu, oleh sebab itu merasa bersama-sama merupakan kesatuan masyarakat hukum adat yang bersangkutan, karena ada ikatan antara mereka masing-masing dengan tanah tempat tinggal mereka. Jadi mereka merasa bersatu karena ada ikatan dengan tanah yang didiaminya sejak lahir secara turun temurun dari nenek moyangnya. 'u Ada tiga jenis masyarakat hukum adat yang strukturnya bersifat teritorial, yaitu: 1. Masyarakat hukum desa 2. Masyarakat hukum wilayah (persekutuan desa) 3. Masyarakat hukum serikat desa Masyarakat hukum desa adalah sekumpulan orang yang hidup bersama berasaskan pandangan hidup, cara hidup dan sistem kepercayaan yang sama yang menetap pada suatu tempat kediaman bersama dan oleh sebab itu merupakan suatu kesatuan, suatu tata susunan tertentu. baik keluar maupun ke dalam (Sunda, Jawa, Madura) Masyarakat hukum wilayah adalah suatu kesatuan sosial yang teritorial yang melingkupi beberapa masyarakat hukum desa yang masing-masingnya tetap merupakan kesatuan-kesatuan yang berdiri sendiri. Masing-masingnya merupakan Yang tak terpisahkan dari masyarakat hukum wilayah sebagai kesatuan sosial teritorial yang lebih tinggi. Contoh: Kurya dengan huta-hutanya di Angkola dan mandailing,marga dengan dusun-dusunya di Sumatera Selatan Masyarakat hukum serikat desa, adalah suatu kesatuan sosial yang teritorial, yang dibentuk atas dasar ker asarna dalam: berbagai lapangan untuk kepentingan bersama masyarakat hukum desa yang tergantung dalam masyarakat hukum serikat desa tersebut. Contoh: Subak di Bali.