Anda di halaman 1dari 14

PERBANDINGAN BENTANG ALAM FLUVIAL DI KALIGARANG DAN BENTANG ALAM STRUKTURAL DI BANYUMENENG DI KOTA SEMARANG, JAWA TENGAH

AN.FADLY 21100112130065 Email : an.fadly@yahoo.co.id JURUSAN TEKNIK GEOLOGI UNIVERSTIAS DIPONEGORO, SEMARANG

ABSTRACT Structural landscape in Banyumeneng landscape formation is controlled by the geological structure of the area. Geological structures in Banyumeneng a secondary structure because the geological structure occurs after the rock was formed. And strktural landscape formed by endogenous processes that work tectonics. This process results in the section on STA 2 is located on the cliffs. While the fluvial landscape in Kaligarang include stadia towards adults because it has the characteristics of cross section U-shaped river, erosion is relatively small, emerging branches of the river, effective lateral erosion Keyword : Banyumeneng, Kaligarang, Structural landscape and fluvial landscape.

PENDAHULUAN Pengikisan Bentang merupakan alam alam fluvial yang dapat berupa

abrasi, skouring, pendokelan, dan korosi. 2. Proses Transportasi, proses terangkutnya material-

bentang

berasal dari hasil

proses kimia

maupun fisika yang menyebabkan perubahan bentuk muka bumi karena pengaruh permukaan air. Proses fluvial itu sendiri terdiri dari proses : 1. Proses Erosi, proses

material hasil erosi. Proses dapat berupa menggelinding, meloncat, mengambang. traksi dan

terkikisnya batuan karena air.

3. Proses Pengendapan, proses yang terjadi apabila tenaga angkut dari sungai berkurang beban tidak dapat diangkut lagi.

paling

berpengaruh morfologi

terhadap adalah yaitu setelah

pembentukan struktur struktur

geologi yang

sekunder, terbentuk

batuan itu ada. Struktur sekunder biasanya terbentuk oleh adanya

Sungai yang mengalir termasuk air permukaan. Berdasdarkan stadia erosinya, dibedakan menjadi : a. Sungai Muda Penampang berbentuk V Banyak air terjun Tidak terjadi pengendapan Erosi vertikal efektif b. Sungai Dewasa Penampang berbentuk U Erosi relatif kecil Bermunculan cabang Erosi lateral kecil c. Sungai Tua Penampang berbentuk cawan Erosi lateral sangat efektif Anak sungai lebih banyak Bermenader Kemiringan datar

proses endogen yang bekerja adalah proses tektonik. Proses ini mengakibatkan

adanya pengangkatan, pengkekaran, patahan dan lipatan yang tercermin dalam bentuk topografi dan relief yang khas. Bentuk relief ini akan berubah akibat proses eksternal yang berlangsung kemudian. Macam-

macam proses eksternal yang terjadi adalah pelapukan (dekomposisi dan disintergrasi), erosi (air, angin atau glasial) serta gerakan massa

(longsoran, rayapan, aliran, rebahan atau jatuhan). Beberapa kenampakan pada peta topografi yang dapat digunakan dalam penafsiran bentang alam struktural adalah: a. Pola pengaliran. Variasi pola pengaliran biasanya dipengaruhi oleh

Bentang adalah bentang

alam

struktural yang oleh yang

variasi struktur geologi dan litologi pada daerah tersebut. b. Kelurusan-kelurusan (lineament) dari punggungan (ridge), puncak bukit, lembah, lereng dan lain-lain.

alam dikontrol daerah

pembentukannya struktur geologi

bersangkutan. Struktur geologi yang

c. Bentuk-bentuk bukit, lembah dll. d. Perubahan aliran sungai, misalnya secara tiba-tiba, kemungkinan

plain ), adalah dataran yang menempati elevasi lebih dari 500 kaki diatas muka air laut.

dikontrol oleh struktur kekar, sesar atau lipatan. Macam-macam Alam Struktural dapat Bentang alam

Kenampakan-kenampakan bentang alam pada kedua

dataran tersebut hampir sama, hanya dibedakan pada reliefnya saja. Pada daerah berstadia muda terlihat datar dan dalam peta tampak pola kontur yang sangat jarang. Pada daerah yang

Bentang

struktural berdasarkan

dikelompokkan struktur Srijono yang (1984, 1984),

mengontrolnya. dikutip

Widagdo,

menggambarkan klasifikasi bentang alam struktural berdasarkan struktur geologi pengontrolnya menjadi 3 kelompok utama, yaitu dataran,

berstadia tua, sering dijumpai dataran yang luas dan bukitbukit sisa(monadnock), yang

sering dijumpai mesa dan butte. Perbedaan mesa dengan butte adalah diameter dibandingkan mesa lebih mempunyai besar dengan

pegunungan lipatan dan pegunungan patahan. Pada dasarnya struktur

geologi yang ada tersebut dapat ditafsirkan keberadaannya melalui pola ataupun sifat dari garis kontur pada peta topografi. 1. Bentang alam dengan struktur mendatar (Lapisan Horisontal). Menurut letaknya(elevasinya)dataran dapat dibagi menjadi dua, yaitu : 1. Dataran rendah, adalah

ketinggiannya . Sedangkan butte sebaliknya. Pola penyaluran

yang berkembang pada daerah yang adalah dikontrol berstruktur dendritik. oleh mendatar Hal ini

adanya

keseragaman resistensi batuan yang ada di permukaan. 2. Bentang Alam dengan Struktur Miring Hampir semua lapisan

dataran yang memiliki elevasi antara 0-500 kaki dari muka air laut. 2. Dataran tinggi(plateau/high

diendapkan dalam posisi yang

mendatar. mempunyai diendapkan

Sedimen kemiringan pada

yang asal dasar

(Thornbury,

1969,

p.133),

sedangkan Stokes & Varnes, 1955 : p.71 sudut kelerengannya kurang dari 200. Cuesta

pengendapan yang sudah miring, seperti pada lereng gunung api dan disekitar terumbu karang. Kemiringan yang lapisan sedimen disebut

memiliki kelerengan fore slope yang lebih curam sedangkan back slopenya relatif landai pada arah sebaliknya sehingga terlihat tidak simetri. Hogback. Pada hogback, sudut antara kedua sisinya relatif

demikian

kemiringan asal dengan sudut maksimum Kebanyakan 350(Tjia, sedimen 1987). yang

memperlihatkan disebabkan

kemiringan, adanya

sama, dengan sudut lereng yang searah perlapisan batuan sekitar 450(Thornbury, 1969, p.133). sedangkan Stokes & Varnes, 1955 : p.71 sudut kelerengannya lebih dari 200. Hogback

karena

proses geologi yang bekerja pada suatu daerah tersebut.

Morfologi yang dihasilkan oleh proses tersebut pola akan yang

memperlihatkan

memiliki kelerengan fore slope dan back slope yang hampir sama sehingga terlihat simetri (lihat gambar IV.2). 3. Bentang alam dengan Stuktur Lipatan Lipatan terjadi karena adanya lapisan kulit bumi yang

memanjang searah dengan jurus perlapisan batuan. Berdasarkan besarnya sudut kemiringan dari kedua lerengnya, terutama yang searah dengan kemiringan

lapisan batuannya, bentang alam ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu: Cuesta. Pada cuesta sudut

mengalami gaya kompresi (gaya tekan). Pada suatu lipatan yang sederhana, bagian punggungan disebut sedangkan dengan bagian antiklin, lembah

kemiringan antara kedua sisi lerengnya tidak simetri dengan sudut lereng yang batuan. kurang dari searah Sudut 450

perlapisan kelerengan

disebut sinklin.

Unsur-unsur yang terdapat pada struktur ini dapat diketahui

apabila yang saling berhadapan adalah back slope/dipslope,

dengan menafsirkan kedudukan lapisan batuannya. Kedudukan lapisan batuan(dalam hal ini arah kemiringan lapisan batuan) pada peta topografi, akan berlawanan arah dengan bagian garis kontur. Kenampakan beberapa bentang alam struktural yang rapat (fore slope/antidip slope), dimana

disebut lembah sinklin. Pola pengaliran yang dijumpai pada lembah antiklin biasanya adalah pola trellis. Sketsa dan contoh pola garis kontur pada

pegunungan lipatan (a) lembah antiklin, b).lembah sinklin. 5. Struktur antiklin dan sinklin menunjam Struktur ini merupakan

garis kontur yang rapat tersebut menunjukkan adanya gawir-

kelanjutan atau perkembangan dari pegunungan lipatan satu arah (cuesta dan hogback) dan dua arah (sinklin dan antiklin). Bila tiga fore slope berhadapan sebagai maka lembah saling disebut antiklin

gawir yang terjal dan memotong lapisan batuan. Arah kemiringan lapisan batuannya searah dengan kemiringan topografinya diperlihatkan landai dari (biasanya dengan

punggungan yang landai/back slope/dipslope). 4. Struktur antiklin dan sinklin. Pada prinsipnya penafsiran pada kedua struktur ini berdasarkan atas kenampakan fore

menunjam. Sedangkan bila tiga back slope saling berhadapan maka disebut sebagai lembah sinklin menunjam. 6. Struktur Kubah. lipatan Bentang tertutup alam ini

slope/antidip slope dan back slope/dipslope yang terdapat

mempunyai ciri-ciri kenampakan sebagai berikut :

secara berpasangan. Bila antidip slope saling berhadapan

1. Kedudukan lapisan miring ke arah luar (fore slope ke arah dalam). 2. Mempunyai pola kontur

(infacing scarp), maka terbentuk lembah antiklin, sedangkan

tertutup 3. Pola penyaluran radier dan berupa bukit cembung pada stadia muda

-Sesar

naik(reverse

fault)

-Sesar geser mendatar (strikeslip fault) - Sesar diagonal (diagonal fault/ oblique-slip -Sesar rotasi fault) (splintery

4. Pada stadia dewasa berbentuk lembah kubah dengan pola

penyaluran Cekungan

annular.

fault/hinge fault) Secara umum bentang alam yang dikontrol oleh struktur patahan sulit untuk menentukan jenis patahannya secara langsung.

Bentang alam ini mempunyai kenampakan sebagai berikut : 1. Kedudukan lapisan miring ke dalam (back slope ke arah dalam) 2. Mempunyai pola kontur

Untuk itu, dalam hal ini hanya akan diberikan ciri umum dari kenampakan morfologi bentang alam struktural patahan, yaitu :

tertutup 3. Pada stadia muda pola

a. Beda tinggi yang menyolok pada b. daerah yang sempit. resistensi yang sangat

penyalurannya annular. 7. Bentang Alam dengan Struktur Patahan Patahan (sesar) terjadi akibat adanya gaya yang bekerja pada kulit bumi, sehingga adanya kedudukan Berdasarakan sesar yaitu: turun

Mempunyai erosi

terhadap

berbeda pada posisi/elevasi yang hampir c. Adanya sama. kenampakan yang sempit

mengakibatkan pergeseran lapisan arah dibagi -Sesar letak

dataran/depresi memanjang.

batuan.

d. Dijumpai sistem gawir yang lurus(pola kontur yang lurus dan rapat). e. Adanya batas yang curam antara perbukitan/ pegunungan dengan dataran yang rendah. f. Adanya kelurusan sungai

gerak

relatifnya, 5, sesar

menjadi normal/

(normal fault)

melalui

zona

patahan, tiba-tiba

dan dan

mm/tahun. Sedangkan curah hujan rata-rata per bulan berdasarkan data dari tahun 1994 - 1998 berkisar antara 58 - 338 mm/bulan, curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Oktober sampai bulan April dengan curah hujan antara 176-338

membelok

menyimpang dari arah umum. g. Sering dijumpai(kelurusan) mata air pada bagian yang naik/terangkat h. Pola penyaluran yang umum dijumpai trellis, modifikasi berupa rectangular, serta ketiganya.

mm/bulan, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Mei sampai bulan September dengan curah hujan antara
0

concorted

i. Adanya penjajaran triangular facet pada gawir yang lurus.

58

131 udara

mm/bulan. Temperatur

berkisar antara 24 C sampai dengan GEOLOGI REGIONAL SEMARANG Secara geografis, wilayah 330 C dengan kelembaban udara rata rata bervariasi antara 62% sampai dengan 84%. Sedangkan kecepatan angin rata rata adalah 5,9 Km/jam. Batas batas Kota Semarang meliputi: Sebelah Utara berbatasan Laut Jawa, dengan panjang garis pantai 13,6 km Sebelah Selatan berbatasan

Kotamadya Semarang, Propinsi Jawa Tengah terletak pada koordinat 1101620 - 110 3029 Bujur Timur dan 6 5534 - 7 0704 Lintang Selatan dengan luas daerah sekitar 391,2 Km2. Wilayah

Kotamadya Semarang sebagaimana daerah lainnya di Indonesia beriklim tropis, terdiri dari musim kemarau dan musim hujan yang silih berganti sepanjang tahun. Besar rata-rata

dengan Kabupaten Semarang Sebelah Timur berbatasan

dengan Kabupaten Demak Sebelah Barat berbatasan

dengan Kabupaten Kendal Secara administrasi, Kota Semarang terdiri dari 16 Kecamatan dan 177 Kelurahan. Letak kota Semarang hampir berada di tengah tengah

jumlah curah hujan tahunan wilayah Semarang utara adalah 2000 - 2500 mm/tahun dan Semarang bagian selatan antara 2500 3000

bentangan

panjang

kepulauan

164,9 km2 (42,36%) dari seluruh daerah Semarang. Dataran rendah membentang sejajar garis pantai Laut Jawa, dengan lebar 2,5 km

Indonesia dari arah Barat ke Timur.

Topografi Daerah Semarang Kota Semarang memiliki

10 km, dengan 10 m di atas permukaan air laut. Daerah ini ketinggian tempat membentuk

ketinggian beragam, yaitu antara 0,75 348 m di atas permukaan laut, dengan topografi terdiri atas daerah pantai/pesisir, dataran dan perbukitan dengan kemiringan lahan berkisar antara 0% 45%.

kawasan luapan banjir pada sisi sungai dengan aluvial hidromorf yang berupa kerikil, pasir, lanau dan lempung. Pertemuan dengan garis pantai, endapan aluvial

Morfologi Daerah Semarang Morfologi daerah Semarang berdasarkan pada bentuk topografi dan kemiringan lerengnya dapat dibagi menjadi satuan morfologi yaitu: a. Dataran rendah Merupakan daerah dataran aluvial pantai dan sungai. daerah bagian barat daya merupakan punggungan lereng perbukitan, bentuk lereng umumnya datar hingga sangat landai dengan

membentuk delta berupa pasir, lanau dan lempung. Akibat

gelombang dan pasang surut air laut, maka endapan tersebut

menyebar ke arah Timur Laut dan Barat Daya, dan membuat garis pantai semakin maju.

b. Daerah Bergelombang Satuan umumnya punggungan, lembah kaki morfologi ini

merupakan bukit dan

sungai,

mempunyai

kemiringan lereng medan antara 0 - 5% (0-3%), ketinggian tempat di bagian utara antara 0 - 25 m dpl dan di bagian barat daya

bentuk permukaan bergelombang halus dengan kemiringan lereng medan 5 10% (3-9%),

ketinggian tempat antara 25 - 200 m dpl. Luas penyebarannya

ketinggiannya antara 225 - 275 m dpl. Luas penyebaran sekitar

sekitar 68,09 km2. (17,36%) dari seluruh daerah Semarang. c. Daerah Dataran Tinggi Merupakan bagian Satuan Wilayah Sungai Kali Garang yang berhulu di Kaki Gunung Ungaran. Anak sungai berpola meranting, dan masih terus mengikis tegak lurus kebawah kearah hulu

dari

seluruh

daerah

Semarang. Perbukitan Berlereng Agak Terjal Satuan morfologi

ini merupakan lereng dan puncak perbukitan dengan lereng yang agak terjal, mempunyai kemiringan

dengan kuat, membentuk daerah yang mempunyai derajat erosi yang tinggi dan luas. d. Daerah antara, Terletak diantara Daerah rendah dan Daerah Tinggi. ini,

lereng antara 15 - 30%, ketinggian tempat antara 25 445


2

dpl.

Luas sekitar dari

penyebarannya 57,91Km (14,8%)

seluruh daerah Semarang. Perbukitan Berlereng Terjal Satuan morfologi

Morfologi umumnya perbukitan

daerah berupa dengan

antara

daerah kelerengan

ini merupakan lereng dan puncak perbukitan dengan lereng mempunyai yang terjal, kemiringan

yang sedang hingga terjal. Perbukitan Berlereng Landai Satuan morfologi

ini merupakan kaki dan punggungan mempunyai permukaan perbukitan, bentuk bergelombang

lereng antara 30 - 50%, ketinggian tempat antara 40 325 m dpl. Luas

penyebarannya sekitar 17,47 Km2 (4,47%) dari seluruh daerah Semarang. Perbukitan Berlereng Sangat Terjal Satuan morfologi

landai dengan kemiringan lereng 10 - 15 % dengan ketinggian wilayah 25 - 435 m dpl. Luas penyebaran sekitar 73,31 km (18,84%)
2

ini merupakan lereng bukit

dan tebing sungai dengan lereng yang sangat terjal, mempunyai kemiringan

kawasan konservasi.

perkebunan

serta

lereng antara 50 - 70%, ketinggian tempat antara 45 165


2

METODELOGI Pembuatan paper ini didasarkan pada ketentuan dari praktikum

dpl.

Luas

penyebarannya sekitar 2,26 Km (0,58%) dari seluruh daerah Semarang. Perbukitan Berlereng Curam Satuan morfologi ini umumnya merupakan

Geologi Dasar acara geologi struktur dan geomorfologi. Pada praktikum Geologi Dasar acara geologi struktur di Banyumeneng m sebagai bentang alam struktural dan di Kaligarang sebagai bentang alam struktural. Alat yang dibutuhkan untuk kegiatan ini berupa hvs dan alat tulis, jadi jika ada kenampakan-kenampakan yang perlu dicatat maka kita menggunakan alat tulis tersebut. Cara kerja dari kegiatan dimulai dengan deskripsi tempat tersebut dengan mengamati morfologi, bentuk lahan, tingkat pelapukan, vegetasi, tataguna lahan,

tebing sungai dengan lereng yang curam, mempunyai >70%, tempat antara

kemiringan ketinggian

100 - 300 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 6,45 Km (1,65%) dari seluruh daerah Semarang.
2

Tata Guna Lahan Penggunaan lahan di wilayah Kotamadya Semarang terdiri dari wilayah terbangun (Build Up Area) yang terdiri dari pemukiman,

potensi positif dan potensi negatif. Dan hal tersebut dicatat dengan alat tulis yang telah kita bawa. Kemudian setelah itu alangkah baiknya untuk mengambil foto dari tempat yang telah diambil datanya, sebagai bukti bahwa kita bener-bener kelapangan.

perkantoran perdagangan dan jasa, kawasan industri, transportasi.

Sedangkan wilayah tak terbangun terdiri dari tambak, pertanian, dan

DATA LAPANGAN Data lapangan yang diperoleh di Banyumeneng. Morfologi Bentuk lahan Litologi gamping Tingkat pelapukan Vegetasi :sedang :semak-semak, : tebing : perbukitan : batuan

Data lapangan yang diperoleh di Kaligarang. Morfologi point bar, channel bar Bentuk lahan Tingkat pelapukan Vegetasi :sungai :sedang :semak-semak, : meander,

paku-pakuan, dan rumput Potensi positif penelitian Potensi negatif banjir : longsor dan :tempat

paku-pakuan, dan rumput Potensi positif penelitian Potensi negatif banjir Morfogenesa :bentang :longsor dan :tempat

Morfogenesa alamnya adalah

:bentang fluvial karena

terdapat pada daerah sungai. Bentuk lahan pada tempat ini adalah sungai, dan morfologinya meander, point bar, channel bar. Di sana terdapat point bar yaitu adanya tumpukantumpukan material sedimentasi yang terdapat pada tepi sungai, sedangkan channel bar yaitu adanya tumpukantumpukan cenderung material pada sedimen

alamnya adalah struktural karena terbentuknya di kontrol oleh struktur geologi. Bentuk lahan pada tempat ini adalah perbukitan yang dapat disebabkan oleh hujan, lereng yang terjal ataupun tanah yang kurang padat. Di sana banyak batuan

gamping karena mungkin jaman dahulu daerah ini berupa lautan. Hal ini dibuktikan adanya kandungan kalsit dalam batuan tersebut dan secara kasap mata jika dilihat lebih teliti lagi, pada batuan ini terdapat sedimentasi karang-karang.

tengah-tengah

sungai serta menader yaitu lekunganlengkungan sungai. yang terdapat pada

PEMBAHASAN PERBANDINGAN BENTANG ALAM FLUVIAL DI KALIGARANG DAN BENTANG ALAM STRUKTURAL DI BANYUMENENG

Lebih banyak sedimentasi daripada erosi berkembang di daerah hilir Banyak terbentuk sungai meander, danau tapal kuda dan tanggul alam Terjadi pelebaran lembah walaupun sangat lembat Terdapat point bar dan channel bar. Meander adalah kelokan yang

terdapat pada sungai yang terbentuk oleh endapan material lepas sedimen akibat proses transportasi yang di alaminyayang dapat di lihat dipeta Pada bentang alam fluvial yang berada dikaligarang berdasarkan secara jelas, juga terdapat danau tapal kuda atau oxbow lake yang di sebabkan oleh memotong air sungai dan yang

pengamatan yang di dapat bahwa terdapat sebuah bentuk lahan yang berupa bentang alam fluvial yang merupakan yang proses erat satuan geomorfologi dengan fluviatil

kemudian

meninggalkan jejak air atau tubuh air yang berbentuk seperti tapal

hubungannya Proses

kuda,tetapi di sini tidak terdapat penampakan dari danau tapal kuda tersebut,begitu juga tanggul alam yaitu adalah tanggul yang terbentuk secara alamiah, hasil pengendapan luapan banjir dan terdapat pada tepi sungai sebelah menyebelah. Material pembentuk tenggul alam berasal dari material hasil transportasi sungai saat banjir dan diendapkan di luar saluran sehingga membentuk tanggul-

fluviatil.

adalah semua proses yang terjadi di alam, baik fisika maupun kimia yang mengakibatkan adanya perubahan bentuk permukaan bumi, yang

disebabkan oleh aksi air permukaan dapat di lihat sungai tersebut

merupakan sungai utama. Sungai tersebut di lihat dari peta tersebut kali serang tersebut berstadia tua dengan berikut: di ciri-cirikan sebagai

tanggul sepanjang aliran tapi juga tidak tampak di peta,dari data-data di

atas dapat kita simpulkan sungai ini letak nya lebih ke arah hilir dari pada hulu di karenakan oleh adanya ciriciri di atas,lalu dapat di lihat dari morfometri satuan kontur rapat,di sini setelah melihat Channel Bar adalah endapan sungai yang terdapat pada tengah alur sungai. Sedangkan point

Bentang alam struktural yang ada di Banyumeneng mempunyai morfologi Sedangkan berupa bentuk perbukitan. lahannya

perbukitan. Dan pada tempat ini mempunyai tingkay pelapukan

sedang. Litologi pada tempat ini adalah batuan sedimen yang berupa batu gamping. Batu gamping itu sendiri mengandung kalsit karena kemungkinan besar pada saat dilaut tersebut

bar merupakan proses sedimentasi yang dominan di dalam alur sungai. Pada bentang fluvial ini terdapat morfologi berupa perbukitan dan sungai dengan aliran yang cukup deras, dengan bentuk lahan point bar dan chanel bar, dan mempunyai tingkat pelapukan sedang. Ditempat ini mempunyai vegetasi pohon

pembentukannya karena dalam

terdapat batuan

dibuktikan masih

adanya

karang-karang Sedangkan

terlihat

jelas.

vegetasinya adalah tumbuhan pakupakuan, rerumputan dan semaksemak. Tataguna lahannya adalah sebagai perbukitan. Potensi

bambu, pohon jati, rumput, semaksemak, putri mau dan pohon ketela. Tatguna lahannya sebagai MCK, persawahan dan perairan. Potensi positif dari tempat ini adalah perairan dan persawahan. Sedangkan potensi negatifnya adalah banjir dan erosi. Fakta singkapan yang ada adalah adanya point bar sekitar 20m dan channel bar sekitar 10m. Dan stadia dari sungai ini adalah menuju dewasa karena sudah ada anakan sungai.

positifnya sebagai tempat penelitian, sedangkan potensi negatifnya dalah banjir dan erosi karena bentang alam ini berdekatan dengan aliran sungai. Dan stuktur grologi berupa sesar turun karena pada sesar ini hanging wallnya yang turun. Jika kita bandingkan bentang alam fluvial di Kaligarang dengan bentang alam struktural yang di Banyumeneng sangatlah berbeda

jauh jika kita bandingkan karena

kedua tempat ini mempunyai bentang alam sendiri-sendiri. Jika bentang alam fluvial ini merupakan bentang alam yang berasal dari hasil proses kimia maupun fisika yang bentuk pengaruh REFERENSI http://aryadhani.blogspot.com/2009/0 5/bentang-alamdenudasional.html (diakses pada tanggal 18 November 2012

menyebabkan muka bumi

perubahan karena

pukul 23.51 WIB)

permukaan air, sedangkan bentang alam strktural ini terjadi karena adanya dikontrol oleh struktur http://alfaruka.wordpress.com/ (diakses pada tanggal 19

geologi daerah yang bersangkutan.

November 2012 pukul 12.15 WIB)

KESIMPULAN Bentang dikaligarang alam yang ada http://samuelmodeon.blogspot.com/2 011/04/geologi-regional-kotasemarang.html

merupakan

bentang

alam fluvial karena bentang alam yang berasal dari hasil proses kimia maupun fisika yang menyebabkan perubahan bentuk muka bumi karena pengaruh permukaan air. Dan stadia sungai ini adalah menuju sedang dengan dibuktikan adanya anakan sungai. Dan pada bentang alam fluvial yang ada di Kaligarang ini terdapat point bar, channel bar dan meander. Bentang alam struktural yang ada di Banyumeneng adalah berupa struktur geologi sesar turun, karena hangingwallnya yang turun. Dan hal ini dipengaruhi oleh gaya tektonik