Anda di halaman 1dari 3

LIMA DOKTRIN MUHAMMADIYAH Muhammadiyah, organisasi islam yang sudah berusia 85 tahun berdasarkan kalender Hijriyah.

(atau 85 tahun berdasarkan kalender Masehi) akan bermuktamar ke-43 kalinya di Banda Aceh. Muhammadiyah yang didukung sekitar 28 juta anggota dan simpatisannya ini, terus tumbuh pesat dan mampu menjalankan berbagai amal salih di bidang pendidikan, dakwah, lapangan sosial dan kesehatan, dan yang tak kalah pentingnya pemeliharaan semangat keagamaan lewat beribu-ribu forum pengajian atau majelis taklim lainnya. Muhammadiyah telah menjadi organisasi islam terbesar di muka bumi. Sebagai organisai, jamiyyah persyarikatan dan harakah (gerakan), sejauh yang saya ketahui Muhammadiyah memegang teguh lima doktrin yang sampai sekarang tetap hidup dikalangan warga Muhammadiyah. 1. Tauhid Bendera Muhammadiyah menunjukan dengan jelas betapa seluruh gerakan dan kehidupan Muhammadiyah harus berdasarkan tauhid. Dalam pada itu dalam usaha menegakkan tauhid dalam arti luas, Muhammadiyah menggunakan semangat amar maruf dan nahi munkar sebagai sumber dinamika dan kreafitas. Menyebarkan kebajikan dan mencegah mencegah kebatilan telah menjadi semangat yang built-in dalam perjuangan Muhammadiyah. 2. Pencerahan Umat Doktrin Muhammadiyah berikutnya adalah mencerahkan dan mencerdaskan umat islam dan bangsa indonesia. Lmu pengetahuan adalah barang yang hilang dari kaum Muslimin yang harus direbut kembali. Muhammadiyah membangun sekolah sebanyak mungkin dengan pertimbangan kebodohan telah menjadi musuh terbesar umat islam dan mustahil umat islam dapat membangun masa depan yang lebih baik bilamana kebodohan dan keterbelakangan tetap saja melekat lengket dalam kehidupan mereka. Lewat doktri enlightenment bagi umat islam, Muhammadiyah merintis sekolah umum sebanyak-banyaknya. Muhammadiyah menempuh tiga proses pendidikan sekaligus, yakni talim, tarbiyah, dan tadib. Taklim berusaha mencerdaskan otak manusia, tarbiyah mendidik prilaku yang benar, sedangkan tadib memperhalus adab kesopanan. Berkat usaha pendidikan Muhammadiyah itu, mental image atau citra tentang santri dewasa ini telah berubah sangat positif. Santri adalah sesosok manusia beragama yang makin cerdas dan kritis, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, berwawasan luas dan sangat yakin diri. 3. Menggembirakan Amal Salih

Doktrin iman tanpa amal salih bagaikan pohon tanpa buah Muhammadiyah adalah dimilikinya sebuah amal usaha. Walaupun hanya sebuah madrasah ibtidaiyah atau taman kanak-kanak, fungsi organisaso antara lain adalah untuk memobilisasi atau dalam bahasa Muhammadiyah untuk mengembirakan amal salih kolektif. Setelah Muhammadiyah lahir kemampuan dan semangat beramaldari berbagai individu Muslim dipadukan lewat sebuah organisasi. Muhammadiyah hanya mendirikan sekolah, madrasyah, universitas, rumah sakit, masjid, panti asuhan, pesantren dan sebagainya, tetapi perlu diingat bahwa yang hanya ini dan hanya itu juga memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas lumayan dan sumber daya yang memadai. Muhammadiyah mengasah etos kerja yang tercerminka dalam semboyan sedikit bicara banyak bekerja Kerja keras menghargai waktu, disiplin tinggi adalah butir-butir sikap hidup yang ditanamkan Muhammadiyah. 4. Kerjasama Untuk Kebajikan Bekerjasamalah dalam kebajikan dan taqwa janganlah bekerjasama dalam dosa dan permusuhan {Q.S. al-Madiah (5):2} telah dijadikan doktrin perjuangan Muhammadiyah. Muhammadiyah menghimbau para muballighin dan muballighat-nya untuk selalu dapat bekerjasama dengan semua pihak demi tercapainya tujuan baik bersama. Kerjasama Muhammadiyah itu berdimensi empat Pertama, kerjasama internal Muhammadiyah dengan seluruh organisasi otonomnya dan juga kerjasama antar majelis dan antar lembaga dalam tubuh Muhammadiyah sendiri. Kedua, kerjasama antara Muhammadiyah dengan seluruh organisasi islam dalam rangka memperkokoh ukhuwah islamiyah. Ketiga, kerjasama dengan seluruh kekuatan sosial, termasuk dengan umat beragama lain, untuk mengisi kemerdekaan lewat program program pembangunan nasional seperti tercantum dalam GBHN. Keempat, Muhammadiyah juga selalu membangun kerjasama dengan pemerintah yang syah, Muhammadiyah selalu bersifat kritis-kooperatif dengan pemerintah dan tidak pernah mengambil posisi yang kontradiktif-konfrotatif. 5. Tidak Berpolitik Praktis Muhammadiyah menghindari kegiatan politik praktis, Muhammadiyah membangun masyarakat, mambangun infra-struktur dalam perspektif jangka panjang, Muhammadiyah tidak ingin mengambil short-cut atau jalan pintas politik dengan membangun kekuasaan dan berambisi ikut merebut kekuasaan dengan kekuatan-kekuatan politik yang ada.

Nahdlatul Ulama (NU) merupakam organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang eksistensinya memainkan peran penting bagi kehidupan bangsa. NU didirikan 31 Januari 1926 sebagai gerakan sosial keagamaan (Gersosag). Sebagai organisasi dengan cara pengorganisasian yang diimajinasikan bisa modern didirikan NU tahun 1926 itu untuk menjawab dua tantangan yang saat itu sedang terjadi. Tantangan itu bernama globalisasi yang terjadi dalam dua hal : globalisasi wahhabi dan globalisasi imperialisme. Maksud didirikan NU adalah untuk memegang teguh salah satu dari mazhabnya imam empat; dan mengerjakan apa saja yang menjadi kemaslahatan agama islam. Untuk mencapai maksud itu, diadakan ikhtiar sebagai berikut, 1. Mengadakan perhubungan diantara ulama-ulama yang bermazhab 2. Memeriksa kitab-kitab sebelumnya yang dipakai untuk mengajar, supaya diketahui apakah itu dari kitab-kitab Ahlisunnah Waljamah atau kitab-kitab ahli bidah. 3. Menyiarkan agama islam berdasarkan pada mazhab, dengan jalan apa saja yang baik. 4. Berikhtiar memperbanyak madrasah-madrasah yang berdasarkan agam islam. 5. Memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan masjid-masjid, surau-surau, pondopondok, begitu juga dengan hal-ihwalnya anak-anak yatim, dan orang-orang yang fakir miskin. 6. Dan mendirikan badan-badan untuk memajukan urusan pertanian, perniagaan, perusahaan yang tiada dilarang oleh syarak agama islam.