Anda di halaman 1dari 57

ANALISIS TERMAL HIDROLIK GAS COOLED

FAST REACTOR (GCFR)


Tugas Akhir
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Tugas Akhir
Program Studi Sarjana Matematika
Oleh:
Rizka Zakiah Drajat
NIM. 101 07 026
Program Studi Sarjana Matematika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
2011
ANALISIS TERMAL HIDROLIK GAS COOLED
FAST REACTOR
Tugas Akhir
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Tugas Akhir
Program Studi Sarjana Matematika
Oleh:
Rizka Zakiah Drajat
NIM. 101 07 026
Telah Diperiksa dan Disetujui
Bandung, Juni 2011
Pembimbing Tugas Akhir
Prof. Dr. Edy Soewono Prof. Dr. Zaki Suud
NIP: 19520626 198003 1 003 NIP: 19621212 198703 1 004
Program Studi Sarjana Matematika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
2011
iii
Berbekal keyakinan
Bersama harapan
Berjuang mengejar asa
Segala tantangan ku lewati
Rintangan ku hadapi
Mimpiku kini nyata pasti
"Belajarlah dari kesalahan orang lain.
Anda tak dapat hidup cukup lama
untuk melakukan semua kesalahan itu sendiri." -Martin Vanbee
I want to live my life to the absolute fullest
To open my eyes to be all I can be
To travel roads not taken, to meet faces unknown
To feel the wind, to touch the stars
I promise to discover myself
To stand tall with greatness
To chase down and catch every dream
LIFE IS AN ADVENTURE (Qoute by Nutrilon Royal 3)
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu,
dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih.
(Q.S. Ibrahim:7)
Teruntuk Mama, Ayah, Ade, Ajeng tercinta
Abstrak
Dalamproses perancangan reaktor nuklir ada tiga analisis yang dilakukan yaitu
analisis netronik, analisis termal hidrolik dan analisis termodinamika. Tugas
akhir ini memfokuskan pada analisis termal hidrolik yang memiliki peran yang
sangat penting dalam hal esiensi sistem dan pemilihan desain yang optimal.
Analisis ini dilakukan pada jenis Gas Cooled Fast Reactor (GCFR) yang meng-
gunakan pendingin Helium (He). Panas dari reaksi si nuklir dalam reaktor
nuklir akan didistribusikan melalui proses konduksi pada elemen bahan bakar.
Selanjutnya, panas dihantarkan melalui proses konveksi panas dalam aliran
uida dalam saluran pendingin. Perubahan suhu yang terjadi pada saluran
pendingin menyebabkan penurunan tekanan pada puncak teras reaktor. Model
matematika dibangun di setiap saluran yang terdiri dari keseimbangan massa,
keseimbangan momentum, keseimbangan energi, kekekalan massa dan per-
samaan gas ideal. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk menentukan laju
aliran di setiap saluran sehingga penurunan tekanan di puncak teras reaktor
sama untuk setiap saluran. Masalah ini diselesaikan secara numerik dengan
menggunakan metode algoritma genetik. Pada akhirnya laju alir dan distribusi
temperatur pada setiap saluran dapat diperoleh.
Kata kunci: Teras reaktor, analisis termal hidrolik, distribusi temper-
atur,saluran pendingin, penurunan tekanan (pressure drop)
iv
Abstract
In the design process of nuclear reactor there are three analysis to be done i.e.
analysis of neutronic, thermal hydraulic analysis and thermodynamic analysis.
The focus in this nal project is the thermal hydraulic analysis, which has a
very important role in terms of system eciency and the selection of the opti-
mal design. This analysis is performed in a type of Gas Cooled Fast Reactor
(GCFR) using cooling Helium (He). The heat from nuclear ssion reactions in
nuclear reactors will be distributed through the process of conduction in fuel
elements. Furthermore, the heat is delivered through a process of heat convec-
tion in the uid ow in cooling channel. Temperature changes that occur in
the cooling channels cause a decrease in pressure at the top reactor core. The
governing equations in each channel consist of mass balance, momentum bal-
ance, energy balance, mass conservation and ideal gas equation. The problem
is reduced to nding ow rates in each channel such that the pressure drops
at the top of the reactor core are all equal. The problem is solved numerically
with the genetic algorithm method. Flow rates and temperature distribution
in each channel are obtained here.
Keywords: Reactor core, thermal hydraulic analysis, temperature distri-
bution, cooling channel, pressure drop
v
Variabel dan Parameter
No Lambang Keterangan
1 j viskositas uida
2 c
p
panas jenis uida pendingin (J,/q
0
C)
3 \
teras
volume teras reaktor (c:
3
)
4
000
ratarata
kerapatan daya rata-rata (\ctt,c:
3
)
5 \
t
daya termal total teras reaktor (\ctt)
6

(,)c cross section makroskopik si (,:)


7 1
f
energi yang dilepaskan pada satu reaksi si (Jon|c)
8 , bilangan fanning
9
0
densitas power linear (\ctt,:)
10
000
densitas power volumetrik (\ctt,:
2
)
11 Re Bilangan Reynolds
12 /
p
koesien konveksi panas coolant (pendingin) (\ctt,:
0
C)
13 /
c
konduktivitas thermal clad (\ctt,:
0
C)
14 /
g
koesien konveksi panas gap (\ctt,:
0
C)
15 G uks laju alir massa (/q,:
2
:)
16

: kecepatan aliran pompa (:,:)
17 1
f
temperatur fuel (C
0
)
18 luas area kanal aliran pendingin (:
2
)
19 1 diameter equivalen kanal pendingin
20 1 tekanan (1c)
vi
VARIABEL DAN PARAMETER vii
21 1
h
diameter ekuivalen saluran (:)
22 1
f
diameter fuel (:)
23 j densitas uida pendingin (/q,:
2
)
24 q percepatan gravitasi (9.8 :,:
2
)
25 j perimeter basah (:)
26 1
g
temperatur gap (C
0
)
27 1
out
temperatur outlet (C
0
)
28 1
c
temperatur clad (C
0
)
29 1 temperatur (C
0
)
30 1
in
temperatur inlet (C
0
)
31 H tinggi teras (:)
32 Hc tinggi ekstrapolasi teras (:)
33 1 jari-jari teras (:)
34 kecepatan aliran pendingin (:,:)
Kata Pengantar
Alhamdulillahirobbil alamiin, puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT, karena atas berkat rahmat, hidayah, karunia dan kuasa-Nya
penulis diberikan kesehatan dan kekuataan lahir serta batin sehingga dapat
mengerjakan dan menyelesaikan tugas akhir ini. Shalawat serta salam tak
lupa penulis curahkan kepada inspirator terbesar Rasulullah SAW, keluarga,
beserta sahabat-sahabatnya.
Terselesaikannya tugas akhir ini tak lepas dari bantuan dan dukungan dari
berbagai pihak. Penulis ingin mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya
kepada segenap pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan tugas akhir
ini dan juga membantu penulis selama menjalani Program Sarjana Program
Studi Matematika Institut Teknologi Bandung. Oleh sebab itu, dengan segala
kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya
kepada:
1. Ibunda tercinta, Siti Syahriah, Ayah, Drajat Sudrajat, dan adik-adikku,
Muhammad Fitrah Abdul Malik dan Ajeng Marissa Hidayah yang selalu
mencurahkan kasih sayang, doa, dukungan, pelajaran hidup dan pengor-
banannya selama ini.
2. Prof. Dr. Edy Soewono dan Prof. Dr. Zaki Suud sebagai dosen pem-
bimbing yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing,
mengarahkan, memberikan saran-saran dengan penuh kesabaran kepada
penulis sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas akhir ini.
3. Dr. Agus Yodi Gunawan dan Dr. Hanni Garminia Y. sebagai dosen pen-
guji yang telah banyak memberikan saran dan kritiknya saat pelaksanaan
viii
KATA PENGANTAR ix
seminar tugas akhir ini.
4. Dr. Iwan Pranoto sebagai dosen wali akademik yang telah memberikan
saran-saran dan pengarahannya kepada penulis selama menempuh studi
di Program Sarjana Matematika Institut Teknologi Bandung.
5. Seluruh dosen Matematika ITB yang telah memberikan ilmu, wawasan
serta pendidikan yang sangat berarti bagi penulis.
6. Semua staf tata usaha Program Studi Matematika, khususnya untuk Ibu
Diah yang selalu memberikan bantuannya dalam semua urusan admin-
istrasi selama berkuliah di ITB.
7. Orang yang mengganggu saya di saat-saat terakhir penyelesaian tugas
akhir yang secara tidak langsung memberikan pengalaman hidup yang
memotivasi saya menjadi pribadi yang lebih dewasa.
8. Kak Imam, Kak Aji, Kak Syeilendra dan kawan-kawan Laboratorium
Fisika Nuklir yang telah memberikan bantuan pada penulis dalam mema-
hami nuklir.
9. Mas Lala Opinet yang telah memberikan bimbingan kepada penulis dalam
mempelajari algoritma genetika.
10. Amie, Ai, Uca sahabat terbaik saat SMA sampai sekarang yang se-
lalu memberikan senyuman, pelajaran dan kasih sayang dalam kondisi
apapun.
11. Teman-teman berbagi cerita : Mba Rini, Pepong, Lia, Alya, Dina, Oi,
teman-teman belajar serta bermain : Ipul, Uu, megong, Aul, Peka, Wida,
Niar, Kacang, dan semua teman-teman kuliah PDP, TKO, Dinpop, dan
mata kuliah lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang selalu
memberikan perhatian dan keceriaan.
12. Teman-teman satu bimbingan Pak Edy : Ririn, Ubey, Game, Natre,
Hasna, Ami, Cicil, Kircon, dan 4 sekawan yang memberikan masukan
dan menemani hari-hari penulis.
KATA PENGANTAR x
13. Teman-teman kostan dago pojok yang selalu memberikan keceriaan di
hari-hari penulis.
14. Teman-teman Matematika 2006, 2007, 2008 dan semua mahasiswa di
Program Studi Matematika ITB serta semua pihak yang tidak mungkin
disebutkan satu persatu atas semangat dan doa, yang selalu bersama dan
berjuang menjalani masa-masa selama di Program Studi Matematika
ITB.
15. Kawan-kawan BPHIMATIKA2010-2011, teman-teman FORMAT, teman-
teman ASGAR MUDA, terimakasih atas pelajaran yang sangat berharga
yang telah penulis dapatkan yang tidak dapat diperoleh di tempat lain.
16. Teman-teman MCM : Fufu, Pange, Rudi, Putra, Indra, Ikbal, Dedew,
Novri, Sari, dan semua yang tidak dapat disebutkan satu persatu, teri-
makasih atas pengalaman berharga yang telah diberikan.
17. Teman-teman G2C dan semua kawan SMA yang masih tetap menjalin
silaturahim dan memberikan semangat.
18. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
membantu terselesaikannya tugas akhir ini.
Semoga Allah SWT senantiasa membalas seluruh kebaikan dan ketulusan
dengan sesuatu yang lebih baik. Amien.
Penulis sangat menyadari bahwa tugas akhir ini masih jauh dari kesem-
purnaan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang mem-
bangun agar lebih baik untuk kedepannya. Semoga tugas akhir ini dapat
memberikan banyak manfaat bagi siapapun yang membacanya.
Bandung, Maret 2011
Penulis
Rizka Zakiah Drajat
Daftar Isi
Abstrak iv
Abstract v
Variabel dan Parameter vi
Kata Pengantar viii
Daftar Isi 2
Daftar Gambar 4
1 Pendahuluan 5
2 Analisis Termal Hidrolik Gas Cooled Fast Reactor (GCFR) 9
2.1 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir . . . . . . . . . . . . . . . . . 9
2.2 Gas Cooled Fast Reactor (GCFR) . . . . . . . . . . . . . . . . . 10
3 Pemodelan Temperatur 17
3.1 Pembangkitan dan Hantaran Panas Pada Teras Reaktor . . . . 17
3.2 Temperatur Fuel Rods . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 20
3.3 Persamaan Aliran Pendingin Helium Satu Fasa . . . . . . . . . 24
3.3.1 Analisis single channel . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 24
3.3.2 Analisis Multi channel . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 27
4 Model Optimisasi dan Metode Perhitungan 30
4.1 Metode Runge Kutta . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30
4.2 Algoritma Genetika . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 32
4.2.1 Operator Algoritma Genetika . . . . . . . . . . . . . . . 32
4.3 Metode Perhitungan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 33
1
Daftar Isi 2
5 HASIL PERHITUNGAN DAN ANALISIS 35
5.1 Data Spesikasi GCFR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 35
5.2 Distribusi Kerapatan Daya . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 35
5.3 Analisis Single Channel . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 38
5.4 Analisis Multi Channel . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 38
5.5 Output . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 39
5.5.1 Laju Alir Hasil Algoritma Genetika . . . . . . . . . . . . 39
5.5.2 Distribusi Temperatur Pada Teras Reaktor . . . . . . . . 39
5.5.3 Perbandingan Temperatur dengan Berbagai Laju Alir
Pompa . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 41
5.5.4 Distribusi Temperatur pada Pusat Bahan Bakar . . . . . 41
5.5.5 Distribusi Temperatur pada Gap . . . . . . . . . . . . . 42
5.5.6 Distribusi Temperatur pada Clad . . . . . . . . . . . . . 42
5.5.7 Perbandingan Temperatur Radial Maksimum pada Ba-
han Bakar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 43
6 Penutup 44
6.1 Kesimpulan dan Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 44
Daftar Pustaka 47
Daftar Gambar
2.1 Skema prinsip kerja PLTN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 10
2.2 Skema Gas Cooled Fast Reactor . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11
2.3 Geometri silinder teras reaktor . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13
2.4 Penampang radial reaktor . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13
2.5 Penampang radial bahan bakar . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14
2.6 Penampang aksial bahan bakar . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14
2.7 Coolant channel . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 15
2.8 Formasi segi tiga . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16
3.1 Distribusi Panas Aksial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 18
3.2 Distribusi uks untuk geometri silinder . . . . . . . . . . . . . . 18
3.3 Simplikasi domain bahan bakar . . . . . . . . . . . . . . . . . . 20
4.1 Penampang pendingin reaktor . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 33
5.1 Distribusi kerapatan linear teras reaktor . . . . . . . . . . . . . 36
5.2 Kerapatan daya volumetrik teras reaktor . . . . . . . . . . . . . 36
5.3 Kerapatan daya linear aksial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 37
5.4 Kerapatan daya linear radial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 37
5.5 Distribusi temperatur aksial pendingin . . . . . . . . . . . . . . 38
5.6 Penurunan tekanan sepanjang sumbu z . . . . . . . . . . . . . . 38
5.7 Distribusi temperatur teras dengan laju alir 200 kg/s . . . . . . 40
5.8 Distribusi temperatur teras dengan laju alir 250 kg/s . . . . . . 40
5.9 Distribusi temperatur teras dengan laju alir 300 kg/s . . . . . . 40
5.10 Distribusi temperatur aksial di r=0 berbagai laju alir . . . . . . 41
5.11 Distribusi temperatur radial di z=H/2 berbagai laju alir . . . . 41
3
Daftar Gambar 4
5.12 Distribusi temperatur pusat bahan bakar pada 200 kg/s . . . . . 41
5.13 Distribusi temperatur gap pada 200 kg/s . . . . . . . . . . . . . 42
5.14 Distribusi temperatur clad pada 200 kg/s . . . . . . . . . . . . . 42
5.15 Distribusi temperatur bahan bakar . . . . . . . . . . . . . . . . 43
5.16 Temperatur radial maksimum bahan bakar . . . . . . . . . . . . 43
Bab 1
Pendahuluan
Ketersediaan energi primer dunia semakin lama semakin menipis. Hal ini akan
menjadi masalah besar karena kondisinya berbanding terbalik dengan kebu-
tuhan manusia akan energi melaju sangat cepat seiring perkembangan zaman
dan peradaban manusia. Disadari atau tidak saat ini manusia dihadapkan
pada kenyataan bahwa kekurangan/ krisis energi sedang mengintip kehidu-
pan umat manusia. Sumber energi dunia saat ini masih bergantung pada
energi tak terbarukan yaitu energi yang berasal dari fosil berupa minyak bumi
yang tidak tersedia selamanya. Hal ini menjadi tantangan besar bagi manu-
sia untuk dapat menemukan/ mengembangkan sumber energi terbarukan yang
ramah lingkungan, menyuplay dalam jangka panjang, dan mempunyai tingkat
esiensi yang cukup tinggi.
Salah satu energi alternatif yang memenuhi kriteria yang masih sangat
mungkin dapat dikembangkan saat ini adalah energi nuklir. Namun nuk-
lir masih dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat Indone-
sia karena dianggap membahayakan. Anggapan itu jelaslah salah karena jika
energi nuklir dirancang dan dikelola dengan benar maka masalah di atas da-
pat diatasi. Penggunaan dan pengembangan teknologi dan sumber energi al-
ternatif sangat terkait dengan perekonomian suatu negara bahkan dunia dan
sangat erat dengan kebijakan politik dunia. Kendalanya adalah di Indonesia
belum banyak ahli dalam bidang nuklr. Oleh karena itu penulis ingin mengam-
bil bagian dalam analisis desain reaktor nuklir dan mengangkat tema nuklir
dalam tugas akhir.
5
BAB 1. PENDAHULUAN 6
Beberapa kelebihan energi nuklir bila dibandingkan dengan sumber energi
lain adalah sebagai berikut :
1. secara teoritis reaksi si nuklir menghasilkan energi dengan orde 10 juta
kali energi yang dihasilkan reaksi pembakaran kimiawi biasa
2. sebuah elemen bahan bakar uranium standar seukuran sekitar 1 cm3,
akan menghasilkan energi setara dengan pembakaran 600 liter minyak,
atau 800 kg batu bara, atau 500 m3 gas
3. energi yang dihasilkan dari pembakaran 1 kg batu bara sebesar 1,6 kWh,
minyak dan gas sekitar 3 -5 kWh, dan uranium 50.000 kWh
4. persentase daya listrik yang benar-benar dihasilkan pembangkit listrik
relatif terhadap potensi daya listrik yang dapat dihasilkan) pembangkit
listrik gas sebesar 15 38%, minyak 29,8%, batu bara 72,6%, dan nuklir
89,3%
5. biaya produksi listrik rata-rata per 2005 adalah 8,09 sen USD/kWh un-
tuk minyak, 7,51 sen USD/kWh untuk gas, 2,21 sen USD/kWh untuk
batu bara, dan 1,72 sen USD/kWh untuk nuklir
6. harga bahan bakar nuklir jauh lebih stabil dibanding bahan bakar fosil
7. saat ini kontribusi energi nuklir terhadap kebutuhan energi primer dunia
baru mencapai 6%, bahkan di Indonesia masih 0% sehingga sangat perlu
untuk dikembangkan lebih lanjut.
8. dengan perancangan yang benar Pembangkit Listrik Energi Nuklir (PLTN)
memiliki standar keamanan yang sangat tinggi dan tingkat polusi yang
paling rendah dibandingkan dengan pembangkit konvensional yang di-
pakai saat ini.
Berdasar alasan-alasan tersebut, PLTNmerupakan sumber energi alternatif
yang menjadi solusi dari keterbatasan cadangan energi dunia. Namun dalam
prosesnya pembangkit nuklir memiliki resiko yang sangat besar menyangkut
BAB 1. PENDAHULUAN 7
aspek keselamatan masyarakat dunia. Contohnya kasus yang baru terjadi yaitu
kasus Tsunami Jepang. Radiasi yang terjadi adalah radiasi akibat ledakan dari
gas Hidrogen yang sengaja dilepas ke udara untuk mengatasi radiasi yang ke-
mungkinan lebih fatal yaitu kebocoran uranium di dalam reaktor karena pen-
ingkatan tekanan akibat gempa dan tsunami. Hal tersebut terjadi karena pada
saat perancangan PLTN, Jepang tidak memasukkan faktor bencana tsunami
padahal sebelumnya kebergantungan Jepang terhadap energi nuklir menca-
pai 40% dari total energi yang digunakan. . Dengan latar belakang tersebut
penulis tertarik dalam pemodelan matematika dalam analisis termal hidro-
lik nuklir karena bagian ini memegang peranan penting dalam desain reaktor
nuklir karena mempunyai batasan taraf aman.
Dalam perancangan PLTN terdapat tiga hal yang menjadi sorotan pent-
ing yaitu analisis neutronik, analisis termal hidrolik, dan analisis termodi-
namik. Analisis neutronik membahas tentang pola distribusi neutron dalam
teras reaktor, analisis termal hidrolik memfokuskan pada desain reaktor dan
pengaturan kecepatan pola aliran pendingin yang optimum agar diperoleh
penurunan tekanan yang merata di seluruh teras yang menghasilkan distribusi
panas yang tidak membahayakan, sedangkan analisis termodinamik bertujuan
untuk menghitung esiensi dan daya listrik yang dihasilkan.
Salah satu jenis reaktor yang sedang dikembangkan adalah Gas Cooled Fast
Reactor (GCFR). GCFR merupakan salah satu konsep dari enam jenis reak-
tor nuklir generasi IV yang dicanangkan akan dioperasikan pada tahun 2025.
Keunggulan dari pemanfaatan penggunaan gas sebagai pendingin, terutama
Helium adalah Helium tidak dapat mendidih serta dapat beroperasi pada tem-
peratur yang tinggi sebagai pendukung produktivitas gas hidrogen sehingga
dapat meningkatkan esiensi dan merupakan reaktor terbaik dari segi keta-
hanan karena mempunyai siklus bahan bakar tertutup.
Ruang lingkup kajian pada tugas akhir ini meliputi mekanisme perpinda-
han panas pada bahan bakar yang meliputi konduksi maupun konveksi dan
analisis termal hidrolik pada reaktor GCFR yang meliputi perhitungan dis-
tribusi densitas, temperatur, kecepatan aliran serta penurunan tekanan (pres-
BAB 1. PENDAHULUAN 8
sure drop) pada uida pendingin.
Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk membuat model dis-
tribusi temperatur pada teras reaktor dan menganalisis aliran pada pendingin
untuk menentukan kecepatan aliran optimal pada kanal teras reaktor sehingga
diperoleh distribusi yang tidak membahayakan.
Tugas akhir ini terdiri dari enam bab. Bab pertama adalah bab pendahu-
luan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, ruang lingkup
kajian, tujuan penelitian dan sistematika penulisan. Bab kedua membahas
mengenai pengenalan prinsip kerja PLTN dan salah satu jenis reaktor GCFR
yang sedang teliti. Bab ketiga membahas model temperatur pada teras reak-
tor. Bab keempat membahas analisis termal hidrolik dan model optimasi.
Bab kelima menjelaskan hasil perhitungan dan analisis. Bab keenam adalah
penutup yang berisi kesimpulan yang penulis peroleh dan saran untuk per-
baikan model dan metode selanjutnya.
Bab 2
Analisis Termal Hidrolik Gas
Cooled Fast Reactor (GCFR)
2.1 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
Prinsip kerja dari pembangkit listrik tenaga nuklir secara umum tidak berbeda
dengan pembangkit listrik konvensional berbahan bakar fosil yaitu meman-
faatkan panas yang dibangkitkan oleh bahan bakar sebagai penghasil uap.
Energi termal yang berasal dari reaksi si berantai pada bahan bakar dikon-
versi menjadi sensible energy berupa kenaikan temperatur coolant. Uap yang
dibangkitkan bertemperatur dan bertekanan tinggi yang digunakan untuk meng-
gerakan turbin. Selanjutnya turbin akan menggerakan generator penghasil
listrik untuk selanjutnya digunakan untuk berbagai keperluan. Perbedaan an-
tara PLTN dengan pembangkit lain adalah dari bahan bakar yang digunakan.
PLTN memanfaatkan reaksi si nuklir yang terjadi di dalam teras reaktor
nuklir untuk menghasilkan energi termal sedangkan pembangkit konvensional
memanfaatkan reaksi pembakaran (proses kimiawi) dari bahan bakar fosil un-
tuk menghasilkan energi termal.
Reaktor nuklir secara umum dapat diklasikasikan berdasarkan perbedaan
spektrum energi neutron. Terdapat 2 jenis reaktor nuklir yaitu reaktor termal
dan reaktor cepat. Proses reaksi si yang terjadi di dalam reaktor termal
berdasarkan neutron termal. Pada reaktor cepat, proses si terjadi pada energi
neutron yang tinggi.
Dalam proses perancangan sebuah reaktor diperlukan 3 tahapan analisis
9
BAB2. ANALISIS TERMAL HIDROLIKGAS COOLED FAST REACTOR (GCFR)10
yaitu analisis neutronik, analisis termalhidraulik termodinamik dan dalam
proses selanjutnya tahapan analisis keselamatan (safety analysis). Analisis
neutronik membahas mengenai reaksi si yang terjadi di dalam elemen bahan
bakar radioaktif. Analisis termalhidrolik termodinamik membahas mengenai
perpindahan energi termal yang dihasillkan dari reaksi si serta esiensi dari
proses pembangkitan panas. Analisis keselamatan membahas mengenai hal-
hal yang berkaitan dengan pembatasan energi termal maupun penembakan
neutron sehingga berada dalam batas aman.Secara skematik cara kerja pem-
bangkit listrik tenaga nuklir dapat digambarkan pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1: Skema prinsip kerja PLTN
2.2 Gas Cooled Fast Reactor (GCFR)
Gas Cooled Fast Reactor (GFR) merupakan salah satu konsep dari enam jenis
reaktor nuklir generasi IV yang dicanangkan akan dioperasikan pada tahun
2025. Keenam konsep ini saat ini masih dalam proses penelitian. Klasi-
kasinya dibedakan atas spesikasi baik berupa penggunaan material maupun
sistem yang berlangsung di dalam reaktor. Setiap jenis reaktor memiliki ke-
unggulan masing-masing. Lima jenis reaktor lainnya yaitu Lead Cooled Fast
Reactor (LFR), Molten Salt Reactor (MSR), Sodium Cooled Reactor (SFR),
Supercritical Water Cooled Reactor (SCWR), Very High Temperature Reac-
tor (VHTR). Perbedaan GFR dengan reaktor lainnya adalah reaktor ini me-
manfaatkan spektrum cepat dari neutron dan menggunakan jenis pendingin
(coolant) berupa Helium (He), Karbondioksida (CC
2
), atau `
2
C
4
. Keung-
BAB2. ANALISIS TERMAL HIDROLIKGAS COOLED FAST REACTOR (GCFR)11
gulan dari pemanfaatan penggunaan gas sebagai pendingin, terutama Helium
adalah Helium tidak dapat mendidih serta dapat beroperasi pada temper-
atur yang tinggi sebagai pendukung produktivitas gas hidrogen sehingga da-
pat meningkatkan esiensi dan merupakan reaktor terbaik dari segi ketahanan
karena mempunyai siklus bahan bakar tertutup.
Gambar 2.2: Skema Gas Cooled Fast Reactor
sumber gambar : http://www.inl.gov/research/gas-cooled-fast-reactor/
BAB2. ANALISIS TERMAL HIDROLIKGAS COOLED FAST REACTOR (GCFR)12
Spesikasi Gas Cooled Fast Reactor (GFR)
No Parameter Spesikasi
1 Power 600 `\t/
2 Power density teras reaktor 100 `\,:
3
3 Power density rata-rata 55 `\,:
3
4 Tekanan pendingin 70 /c:
5 Temperatur inlet 450
0
C
6 Temperatur outlet 850
0
C
7 Temperatur fuel maksimum 1135
0
C
8 Massa alir 330 /q,:
9 Kecepatan alir 40 :,:
10 Volume teras reaktor 10.9 :
3
(H,1~1.7,2.9:)
11 Persentase volume (bahan bakar/He/SiC) 50%/ 40% /10%
12 Ukuran teras reaktor diameter=2 :, tinggi= 2 :
13 Volume teras reaktor 6 :
3
Sama halnya dengan teras reaktor pada umumnya, GCFR terdiri dari
berbagai komponen diantaranya : batang kendali, elemen bahan bakar, mod-
erator, fuel assembly, sensor, dan pendingin.
Geometri teras reaktor pada umumnya berbentuk silinder. Hal ini dise-
babkan karena geometri silinder sampai sekarang ini merupakan bentuk yang
paling optimal jika ditinjau dari faktor kebocoran neutron dan aliran pendin-
gin.
Di dalam sebuah reaktor terdiri
Berikut penampang melintang dari elemen bahan bakar :
Gambar penampang radial fuel rods
Secara singkat geometri tersebut terdiri dari fuel rods dan pendingin.
Prol dari fuel rods dan susunan pendingin :
Elemen bahan bakar (fuel rods) terdiri dari tiga daerah, yaitu :
BAB2. ANALISIS TERMAL HIDROLIKGAS COOLED FAST REACTOR (GCFR)13
Gambar 2.3: Geometri silinder teras reaktor
Gambar 2.4: Penampang radial reaktor
BAB2. ANALISIS TERMAL HIDROLIKGAS COOLED FAST REACTOR (GCFR)14
Gambar 2.5: Penampang radial bahan bakar
Gambar 2.6: Penampang aksial bahan bakar
BAB2. ANALISIS TERMAL HIDROLIKGAS COOLED FAST REACTOR (GCFR)15
1. fuel pellet, berisi bahan bakar radioaktif tempat terjadinya reaksi si
biasanya berupa senyawa UO
2
berbentuk keramik
2. gap, celah sempit di antara fuel pellet dan clading yang berisi gas inert
yang berfungsi untuk mengantisipasi pengembangan volume bahan bakar
selama proses iradiasi di dalam bahan bakar
3. Clading, Selubung logam terbuat dari zirconium alloy yang berfungsi se-
bagai pelindung bahan bakar dan pemisah bahan bakar dengan pendin-
gin
Formasi fuel rods pada fuel assembly dikembangkan berdasarkan formasi
segi empat (rectangular lattice geometry) atau formasi segi tiga (triangular lat-
tice geometry). Setiap formasi mempunyai keunggulan tersendiri, formasi segi
empat mengurangi resiko kebocoran aliran (crosssection), sedangkan formasi
segi tiga mengoptimalkan energi yang dihasilkan terhadap jumlah bahan bakar
yang digunakan. Pendingin mengalir di antara susunan fuel rods yang biasa
disebut coolant channel.
Gambar 2.7: Coolant channel
BAB2. ANALISIS TERMAL HIDROLIKGAS COOLED FAST REACTOR (GCFR)16
Bentuk penampang melintang coolant channel masing-masing formasi, un-
tuk keperluan perhitungan digunakan pendekatan bentuk radial simetri lingkaran.
Didenisikan diameter hidrolik ekuivalen D
h
untuk masing-masing formasi:
1. rectangular lattice geometry
Penampang melintang formasi segi empat dapat digambarkan sebagai
berikut:
1
h
= d
f
_
4
:
_
j
d
f
_
2
1
_
2. triangular lattice geometry
Penampang melintang formasi segi tiga dapat digambarkan sebagai berikut
:
Gambar 2.8: Formasi segi tiga
1
h
= d
f
_
2
2
_
3
:
_
j
d
f
_
2
1
_
Bab 3
Pemodelan Temperatur
3.1 Pembangkitan dan Hantaran Panas Pada
Teras Reaktor
Dalam analisis neutronik distribusi uks neutron (c) dalam teras reaktor dapat
diperoleh selanjutnya distribusi kerapatan daya volumetrik dalam teras reaktor
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan

000
= 1
f

(,)c
Prol distribusi uks pada teras reaktor dapat dilihat pada gambar 3.1 dan
3.2. dengan melihat distribusi uks pada arah . begitu pula berlaku bagi arah
: maka didenisikan sebagai fungsi cosinus terpangkas sebagai berikut:

0
=
0
max
cos
_
::
1
_
cos
_
:.
H
_
1. H dihitung dengan jarak ekstrapolasi.
Daya termal total teras reaktor dapat dinyatakan dalam persamaan
\
t
=
000
ratarata
\
teras
Daya volumetrik dapat dicari dengan cara memodelkan keseimbangan energi
dari suatu volume tertentu dari suatu zat padat. Laju perubahan energi
dinyatakan sebagai perbedaan antara tambahan energi karena sumber panas

000
(:. t) dengan energi yang hilang dalam bentuk transport panas:
J
Jt
(jc1) =
000
(:. t) _
00
(:. t)
17
BAB 3. PEMODELAN TEMPERATUR 18
Gambar 3.1: Distribusi Panas Aksial
Gambar 3.2: Distribusi uks untuk geometri silinder
BAB 3. PEMODELAN TEMPERATUR 19
dimana 1 adalah suhu lokal dalam zat padat, j dan c adalah kerapatan dan
panas spesik. Persamaan ini menggambarkan perubahan energi tiap waktu
yang merupakan selisih dari energi yang bertambah karena adanya sumber
panas
000
(:. t) dengan energi yang hilang karena perpindahan panas.
00
(:. t)
adalah vector uks panas yang dinyatakan sebagai laju aliran panas melewati
suatu permukaan.Dengan aproksimasi difusi, vektor uks panas dapat diny-
atakan sebagai berikut:

00
(:. t) = / _1(:. t)
dimana / konduktivitas termal yang dikenal sebagai Fouriers law of thermal
conduction. Maka diperoleh persamaan konduksi panas sebagai berikut:
J
Jt
(jc1) _/ _1(:. t) =
000
(:. t)
Persamaan transport panas yang digunakan di sini tidak bergantung waktu
(steady state), maka diperoleh:
_/ _1(:) =
000
(:)
/ _
2
1(:) =
000
(:)
Laplacian untuk geometri silinder dapat dituliskan sebagai :
\
2
=
1
:
J
J:
_
:
J
J:
_
+
1
:
2
J
2
Jc
2
+
J
2
J.
2
\
2
1 =
1
:
J
J:
_
:
J1
J:
_
+
1
:
2
J
2
1
Jc
2
+
J
2
1
J.
2
.
Diasumsikan panas yang dihasilkan merambat melalui sumbu r (jari-jari) saja
tidak bergantung sumbu z dan sudut azimut. Maka persamaan di atas menjadi
:
\
2
1 =
1
:
J
J:
_
:
J1
J:
_
.
Maka persamaan konduksi panas yang tejadi di dalam reaktor berlaku per-
samaan
1
:
J
J:
/
_
:
J1
J:
_
=
000
(:)
Selanjutnya persamaan ini akan digunakan untuk menghitung gradien tem-
peratur radial pada elemen bahan bakar.
BAB 3. PEMODELAN TEMPERATUR 20
3.2 Temperatur Fuel Rods
Dalam perhitungan gradien temperatur digunakan beberapa asumsi:
konduksi termal arah aksial dapat diabaikan
uks neutron dan daya volumetrik dapat dianggap tetap
energi dari hasil reaksi si terdistribusi merata di seluruh bagian fuel
transfer panas berlangsung dalam keadaan steady state (tidak bergan-
tung waktu)
Untuk memodelkan transfer panas simplikasi masalah menjadi :
Gambar 3.3: Simplikasi domain bahan bakar
1. Temperatur Fuel
Di dalam fuel terjadi reaksi si, oleh karena itu berlaku persamaan
1
:
d
d:
:/
f
d1
d:
=
000
(:)
karena diasumsikan bahwa
000
(:) dianggap tetap untuk sebuah fuel rods
maka
000
tidak bergantung r. Maka persamaan menjadi
1
:
d
d:
:/
f
d1
d:
=
000
d
d:
:/
f
d1
d:
= :
000
_
r
0
d
_
t/
f
d1(t)
dt
_
=
_
r
0
t
000
dt
BAB 3. PEMODELAN TEMPERATUR 21
dan berlaku syarat batas
dT
dr
(0) = 0 (sifat simetri) dan 1(0) = 1
0
<
(belum diketahui namun dapat diperoleh syarat batas pada gap).
:/
f
d1
d:
(:) :/
f
d1
d:
(0) =
:
2
2

000
:/
f
d1 0 =
:
2
2

000
d:
:/
f
d1 =
:
2
2

000
d:
/
f
d1 =
:
2

000
d:
_
r
0
/
f
d1 =
_
r
0

:
2

000
d:
/
f
(1 (:) 1(0)) =
:
2
4

000
/
f
(1 (:) 1
0
) =
:
2
4

000
dari persamaan diatas diperoleh bahwa temperatur pada bahan bakar
adalah
1
f
(:) = 1
0

:
2
4/
f

000
. [:[ _ :
f
. : R
dan 1
0
dapat dicari dengan mensubstitusikan syarat batas kanan 1
f
(:
f
) =
1
g
(:
f
) .
2. Temperatur Gap
Pada gap tidak ada sumber pembangkit panas, maka persamaan kon-
duksi menjadi
1
:
d
d:
:/
g
d1
d:
= 0
dengan meneruskan persamaan panas pada permukaan fuel, maka diper-
oleh syarat batas kiri
/
g
d1
d:
(:
f
) =
00
=

0
2::
f
=

000
::
2
f
2::
f
=

000
:
f
2
= C
BAB 3. PEMODELAN TEMPERATUR 22
dari persamaan konduksi :
1
:
d
d:
:/
g
d1
d:
= 0
d
d:
:/
g
d1
d:
= 0
_
r
r
f
d
_
t/
g
d1(t)
dt
_
= 0
:/
g
d1
d:
(:) :
f
/
g
d1
d:
(:
f
) = 0
:/
g
d1
d:
(:) + :
f
C = 0
/
g
1
1
d1 =
1
:
d:
_
r
r
f
/
g
1
1
d1 =
_
r
r
f
1
:
d:
/
g
1
1
(1(:) 1(:
f
)) = ln
_
:
:
f
_
1(:) = 1(:
f
) +
1
1
/
g
ln
_
:
:
f
_
dengan 1
1
=
q
000
r
2
f
2
dan syarat batas kanan berupa kontinuitas temper-
atur:
1
g
(:
g
) = 1
c
(:
g
)
maka diperoleh
1
g
(:) = 1
f
(:
f
) +
1
1
/
g
ln
_
:
:
f
_
1
g
(:) = 1
0

:
2
f
4/
f

000


000
:
2
f
2/
g
ln
_
:
:
f
_
. [: :
f
[ _ :
g
. : R
3. Temperatur Clad
Pada clading tidak ada pembangkitan panas maka persamaan konduksi
menjadi
1
:
d
d:
:/
c
d1
d:
= 0
d
d:
:/
c
d1
d:
= 0
panas yang diteruskan dari batas gap, maka diperoleh syarat batas kiri
/
c
d1
d:
(:
g
) =
00
=

0
2::
g
=

000
:
g
2
= C
BAB 3. PEMODELAN TEMPERATUR 23
maka
1
:
d
d:
:/
c
d1
d:
= 0
d
d:
:/
c
d1
d:
= 0
_
r
r
g
d
_
t/
c
d1(t)
d:
_
= 0
:/
c
d1
d:
(:) :
g
/
c
d1
d:
(:
g
) = 0
:/
c
d1
d:
(:) + :
g
C = 0
/
c
1
2
d1 =
1
:
d:
_
r
rc
/
c
1
2
d1 =
_
r
rc
1
:
d:
/
c
1
2
(1(:) 1(:
c
)) = ln
_
:
:
c
_
1(:) = 1(:
c
) +
1
2
/
c
ln
_
:
:
c
_
dengan 1
2
=
q
000
r
2
g
2
dan syarat batas kanan yang berupa kontinuitas
temperatur:
1
c
(:
c
) = 1
p
(:
c
)
maka diperoleh
1
c
(:) = 1
g
(:
c
) +
1
2
/
c
ln
_
:
:
c
_
1
c
(:) = 1
0

:
2
f
4/
f

000


000
:
2
f
2/
g
ln
_
:
c
:
f
_


000
:
2
g
2/
c
ln
_
:
:
c
_
. [: :
g
[ _ :
c
. : R
4. Temperatur Pendingin (coolant)
1
p
(:) diperoleh dari hukum kekekalan energi yang akan dijelaskan lebih
lanjut pada pemodelan penurunan tekanan pada subbab selanjutnya.
syarat batas kontinuitas temperatur:
1
c
(:
c
) = 1
p
(:
c
)
Dari penurunan di atas maka diperoleh fungsi temperatur dalam sebuah
BAB 3. PEMODELAN TEMPERATUR 24
fuel rods adalah sebagai berikut :
1(:) =
_

_
1
0

r
2
4k
f

000
. [:[ _ :
f
. : R
1
0

r
2
f
4k
f

000

q
000
r
2
f
2k
g
ln
_
r
r
f
_
. [: :
f
[ _ :
g
. : R
1
0

r
2
f
4k
f

000

q
000
r
2
f
2k
g
ln
_
r
c
r
f
_

q
000
r
2
g
2k
c
ln
_
r
r
c
_
. [: :
g
[ _ :
c
. : R
1
p
(:
c
). : _ :
c
. : R. : _ :
channel
Sifat fungsi 1(:):
Sifat sis menyatakan fungsi kontinu
Monoton tak naik karena
dT
dr
_ 0. [:[ _ :
p
3.3 Persamaan Aliran Pendingin Helium Satu
Fasa
3.3.1 Analisis single channel
Untuk meninjau distribusi temperatur di keseluruhan teras (multi kanal) ter-
lebih dahulu akan dianalisis pada satu kanal. Pada aliran pendingin dalam
reaktor berlaku hukum-hukum sika :
1. Hukum kesetimbangan massa :
JG
J.
= 0
2. Hukum kesetimbangan momentum :
J
J.
_
G
2
j
_
=
J1
J.

G
2
21
h
j
, jq
J1
J.
=
J
J.
_
G
2
j
_

G
2
21
h
j
, jq
dimana besaran-besaran tersebut menyatakan keadaan sis yang terjadi.
Ketika pendingin mengalir masuk ke dalamteras, akan terjadi penurunan
tekanan (pressure drop). Pressure drop disebabkan oleh beberapa faktor,
di antaranya:
friksi dari permukaan bahan bakar (friction factor)
BAB 3. PEMODELAN TEMPERATUR 25
friksi dari struktur penyangga geometri (grids factor)
friksi dari jalur masuk dan keluar coolant di teras reaktor, yaitu
efek ekspansi coolant dan kontraksi coolant (inlet-exit factor)
pengaruh gravitasi (elevasi factor)
Faktor percepatan
_
J1
J.
_
acc
=
J
J.
_
G
2
j
_
Faktor geseran
_
J1
J.
_
f
=
G
2
21
h
j
,
Aliran yang terjadi di dalam reaktor berupa aliran turbulen. Fanning factor
(,) menyatakan faktor geseran yang mengakibatkan aliran bersifat turbulen
atau bersifat laminar. Dengan menggunakan Blassius dan McAdams formula
, =
_
_
_
0.316 Re
0:25
. Re < 30.000
0.184 Re
0:2
. 30.000 < Re < 10
6
di mana Re adalah bilangan Reynolds yang didenisikan sebagai
Re =
j1
h
j
Faktor gravitasi
_
J1
J.
_
el
= jq
3. Hukum kesetimbangan energi
Ditinjau panas yang dibangkitkan pada elemen dz pada saluran bahan
bakar akan sama dengan kenaikan panas dalam uida pendingin(apabila
dianggap tidak ada perubahan fase). Untuk menghitung kenaikan tem-
peratur coolant ketika melalui coolant channel,digunakan persamaan ke-
setaraan energi, dimana energi yang dihasilkan fuel sepanjang dz sama
dengan energi yang diserap coolant ketika mengalir sejauh dz.
Gambar saluran bahan bakar dan uida pendingin

:c
P
d1 =
0
(:. .)d.
BAB 3. PEMODELAN TEMPERATUR 26
maka,
_
T(z)
T
in

:c
P
d1 =
_
z

H
2

0
d.

:c
P
_
T(z)
T
in
d1 =
_
z

H
2

0
d.

:c
P
_
T(z)
T
in
d1 =
0
cos
_
::
1
_
_
z

H
2
cos
_
:.
H
e
_
d.
dan t
f
adalah temperatur uida pendingin pada z=-
H
2
sampai z. Hasil
integrasinya sebagai berikut :
1(.) = 1
in
+

0
cos
_
r
R
_
H
e

:c
P
:
_
sin
_
:.
H
e
_
+ sin
_
:H
2H
e
__
untuk jarak ekstrapolasi diabaikan (H
~
= H
e
) maka,
1(.) = 1
in
+

0
cos
_
r
R
_
H

:c
P
:
_
sin
_
:.
H
_
+ 1
_
Massa jenis bergantung pada temperatur, maka dalam perhitungan di-
gunakan asumsi bahwa gas yang dipakai adalah gas ideal
Jj(.)
J1
= /j
0
. / 0
_
(z)

0
Jj =
_
T(z)
T
in
/j
0
J1
j(.) j
0
= / (1(.) 1
in
)
j(.) = j
0
/j
0
(1(.) 1
in
)
dengan mensubstitusikan persamaan yang telah diperoleh sebelumnya,
maka
j(.) = j
0
/j
0
__
1
in
+

0
cos
_
r
R
_
H

:c
P
:
_
sin
_
:.
H
_
+ 1
_
_
1
in
_
= j
0
/j
0
_

0
cos
_
r
R
_
H

:c
P
:
_
sin
_
:.
H
_
+ 1
_
_
= j
0
_
1 /
_

0
cos
_
r
R
_
H

:c
P
:
_
sin
_
:.
H
_
+ 1
_
__
BAB 3. PEMODELAN TEMPERATUR 27
Maka
J1
J.
=
J
J.
_
G
2
j
_

G
2
21
h
j
, jq
=
G/
0
cos
_
r
R
_
cos
_
z
H
_
j
0
_
1
kHq
0
cos
(
r
R
)(
sin(
z
H
)+1
)
GAc
p
_
2
c
p

,G
2
2dj
0
_
1
kHq
0
cos
(
r
R
)(
sin(
z
H
)+1
)
GAc
p
_
qj
0
_
1
/H
0
cos
_
r
R
_ _
sin(
z
H
) + 1
_
:Gc
p
_
dan
1(.) = 1
in
+

0
cos
_
r
R
_
H

:c
P
:
_
sin
_
:.
H
_
+ 1
_
3.3.2 Analisis Multi channel
Analisis ini adalah pengembangan dari analisis sebelumnya. Analisis multi
channel merepresentasikan keadaan teras reaktor yang sebenarnya.
gambar penampang transfer antar channel
1. Hukum kesetimbangan massa :
JG
i
J.
= 0
dengan G
i
: mass uks channel ke-i (kg/m
2
:)
2. Hukum kesetimbangan momentum :
J
J.
_
G
2
i
j
i
_
=
J1
i
J.

G
2
i
21
h
j
, j
i
q
J1
i
J.
=
J
J.
_
G
2
i
j
i
_

G
2
i
21
h
j
i
, j
i
q
dengan :
G
i
:mass uks ke-i (kg/m
2
:)
j
i
: massa jenis zat ke-i (kg/m
3
)
1
i
: tekanan ke-i (Pa)
BAB 3. PEMODELAN TEMPERATUR 28
Seperti halnya yang telah dijelaskan pada analisis single channel untuk
model penurunan tekanan.
3. Hukum kesetimbangan energi
Ditinjau panas yang dibangkitkan pada elemen dz pada saluran bahan
bakar akan sama dengan kenaikan panas dalam uida pendingin(apabila
dianggap tidak ada perubahan fase).
Untuk menghitung kenaikan temperatur coolant ketika melalui coolant
channel,digunakan persamaan kesetaraan energi, dimana energi yang
dihasilkan fuel sepanjang dz sama dengan energi yang diserap coolant
ketika mengalir sejauh dz.
gambar saluran bahan bakar dan uida pendingin

:c
P
d1 =
0
(:. .)d.
maka,
_
T(z)
T
in

:c
P
d1 =
_
z

H
2

0
d.

:c
P
_
T(z)
T
in
d1 =
_
z

H
2

0
d.

:c
P
_
T(z)
T
in
d1 =
0
cos
_
::
1
_
_
z

H
2
cos
_
:.
H
e
_
d.
dan t
f
adalah temperatur uida pendingin pada channel i antara . =

H
2
sampai .. Diperoleh
1(:. .) = 1
in
+

0
cos
_
r
R
_
H
e

:c
P
:
_
sin
_
:.
H
e
_
+ sin
_
:H
2H
e
__
.
Untuk jarak ekstrapolasi diabaikan (H
~
= H
e
) maka,
1(:. .) = 1
in
+

0
cos
_
r
R
_
H

:c
P
:
_
sin
_
:.
H
_
+ 1
_
4. Hukum kekalan massa
n

i=1
G
i


: = 0
BAB 3. PEMODELAN TEMPERATUR 29
Representasi persamaan gas ideal :
Jj(:. .)
J1
= /j
0
. / 0
_
(r;z)

0
Jj =
_
T(r;z)
T
in
/j
0
J1
j(:. .) j
0
= / (1(:. .) 1
in
)
j(:. .) = j
0
/j
0
(1(:. .) 1
in
)
dengan mensubstitusikan persamaan yang telah diperoleh sebelumnya,
maka
j(:. .) = j
0
/j
0
__
1
in
+

0
cos
_
r
R
_
H

:c
P
:
_
sin
_
:.
H
_
+ 1
_
_
1
in
_
= j
0
_
1 /
__

0
cos
_
r
R
_
H

:c
P
:
_
sin
_
:.
H
_
+ 1
_
___
artinya bahwa pada channel i
j(:
i
. .) = j
0
_
1 /
__

0
cos
_
r
i
R
_
H

:
i
c
P
:
_
sin
_
:.
H
_
+ 1
_
___
sehingga diperoleh untuk channel ke-i
J1
i
J.
=
J
J.
_
G
2
i
j
i
_

G
2
i
21
h
j
i
, j
i
q
J1
i
J.
=
G
i
/
0
cos
_
r
i
R
_
cos
_
z
H
_
j
0
_
1
kHq
0
cos
(
r
i
R
)(
sin(
z
H
)+1
)
G
i
Ac
p
_
2
c
p

,G
2
i
2dj
0
_
1
kHq
0
cos
(
r
i
R
)(
sin(
z
H
)+1
)
G
i
Ac
p
_
qj
0
_
1
/H
0
cos
_
r
i
R
_ _
sin(
z
H
) + 1
_
:G
i
c
p
_
dan
1(:
i
. .) = 1
in
+

0
cos
_
r
i
R
_
H
G
i
c
P
:
_
sin
_
:.
H
_
+ 1
_
Bab 4
Model Optimisasi dan Metode
Perhitungan
Reaktor yang diteliti adalah reaktor GCFR yang telah dijelaskan sebelumnya
dengan geometri square lattice untuk menghindari terjadinya crossow
1
yang
berlebihan. Hal yang ingin dicari adalah harga dari mass uks dari tiap channel
dengan memenuhi syarat batas bahwa pressure drop di puncak teras untuk
masing-masing channel haruslah sama.
1. Single Channel
Perhitungan untuk singe channel adalah mencari solusi persamaan difer-
ensial tekanan terhadap sumbu . dengan menggunakan metode Runga Kutta.
Terlebih dahulu akan dibahas mengenai metode Runge Kutta.
4.1 Metode Runge Kutta
Dalam analisis termal hidrolik, yang ingin dicari adalah penurunan tekanan
dari awal (z=-H/2) hingga puncak (z=H/2). Masalah di atas dipandang se-
bagai masalah nilai awal (MNA) :
J1
i
J.
= 1(.. G
i
)
dengan i adalah suatu channel yang dihitung, untuk single channel nilai
G =

m
A
sehingga nilai G konstan, jadi F fungsi satu peubah. Maka
J1
J.
= 1(.. G)
1
aliran yang tidak hanya berjalan vertikal tetapi diiringi dengan aliran horizontal dan
sebaliknya, akibatnya terjadi aliran turbulen yang cukup kacau.
30
BAB 4. MODEL OPTIMISASI DAN METODE PERHITUNGAN 31
1(
H
2
) = 1
0
MNA di atas dapat diselesaikan dengan menggunakan metode Runge Kutta
orde empat. Skema numerik untuk mencari solusi persamaan diferensial di atas
untuk menghampiri nilai tekanan pada tinggi .
1
= .
0
+ / adalah
1(.
1
) = 1(.
0
) +
/
1
+ /
2
+ /
3
+ /
4
6
dengan
/
1
= /1(.
0
)
/
2
= /1(.
0
+
h
2
)
/
3
= /1(.
0
+
h
2
)
/
4
= /1(.
0
+ /)
dengan prosedur yang sama, diperumum menjadi
1(.
i
) = 1(.
i1
) +
k
1
+k
2
+k
3
+k
4
6
. i = 2. 3. ...
2H
h
dengan
/ = .
i
.
i1
/
1
= /1(.
i1
)
/
2
= /1(.
i1
+
h
2
)
/
3
= /1(.
i1
+
h
2
)
/
4
= /1(.
i1
+ /)
Ahhirnya diperoleh suatu nilai tekanan di puncak untuk suatu channel..
2. Multi Channel
Permasalahan ini dapat dibawa ke dalam optimisasi. Denisikan fungsi
objektif
min 1(G
1
. G
2
. .... G
n
) =
n1

i=1
[1
i
1
i+1
[
Terhadap
1
i
= 1(
H
2
. :
i
) 1(
H
2
. :
i
)

n
i=1
G
i


: = 0
0 < G
i
<
m
0
A
i
. i = 1. 2. ..:.dengan : menyatakan jumlah channel yang dihi-
tung.
BAB 4. MODEL OPTIMISASI DAN METODE PERHITUNGAN 32
Metode yang digunakan untuk mencari solusi dari permasalahan optimasi
di atas dengan menggunakan program runge kutta untuk menyelesaikan penu-
runan temperatur di dalam algoritma genetika untuk mencari solusi dari harga
G
i
.
4.2 Algoritma Genetika
Algoritma genetika adalah metode pencarian nilai dalam masalah optimasi
berdasarkan mekanisme seleksi alam dan genetika alam. Beberapa istilah yang
digunakan dalam algoritma genetika antara lain:
1. populasi yaitu himpunan awal dari solusi acak yang dibangkitkan
2. kromosom yaitu individu dalam sebuah populasi yang merepresentasikan
sebuah solusi dari masalah yang sedang dikerjakan
3. gene yaitu satuan terkecil dari kromosom (binary (1/0), real, dan lain-
nya)
4. nilai kebugaran (tness) adalah nilai yang merepresentasikan kebaikan
atau kebugaran dari masing-masing kromosom atau solusi
4.2.1 Operator Algoritma Genetika
Dalam algoritma genetika sederhana terdapat operasi yang sering digunakan
yaitu:
1. operasi genetika : persilangan (crossover) dan mutasi
2. operasi evolusi : seleksi.
Algoritma genetika merupakan algoritma matematika yang memiliki tingkat
paralel yang tinggi yang mentransformasikan individu dalam sebuah populasi
ke dalam fungsi tness sebagai kriteria untuk membentuk populasi baru meng-
gunakan operator genetika. Metode ini memiliki kriteria yang sangat cocok un-
tuk menyelesaikan masalah optimasi dengan kombinasi solusi yang kompleks
BAB 4. MODEL OPTIMISASI DAN METODE PERHITUNGAN 33
tetapi algoritma genetika bersifat heuristik yaitu diakui bahwa hasilnya opti-
mal tetapi belum ada cara membuktikan bahwa hasil algoritma ini optimal.
Prinsip dari algoritma genetika sederhana dapat dituliskan sebagai berikut:
1. mengkodekan solusi dari sebuah permasalahan matematika
2. membangkitkan nilai acak pada setiap populasi awal suatu generasi seba-
gai calon solusi dengan melalui proses crossover, mutasi maupun seleksi
3. mengklasikasikan solusi berdasarkan nilai tness, dan mengevaluasi ni-
lai tness sebagai acuan untuk mencari individu pada iterasi selanjutnya
4. memilih individu-individu yang memiliki nilai tness paling baik
4.3 Metode Perhitungan
Gambar 4.1: Penampang pendingin reaktor
Algoritma perhitungan
1. mencari nilai fuks massa untuk tiap channel (G
1
. G
2
. G
3
. .... G
j1
. G
j
. G
j+1
. .
..G
J
) dengan menggunakan algoritma genetik yang menghasilkan pres-
sure drop di puncak teras sama untuk setiap channel yang memenuhi
hukum kekekalan massa
BAB 4. MODEL OPTIMISASI DAN METODE PERHITUNGAN 34
2. fungsi objektifnya berupa total pressure drop yang dihitung menggu-
nakan metode runge kutta orde empat untuk menyelesaikan persamaan
diferensial penurunan tekanan secara numerik
3. fungsi kendalanya berupa batas-batas untuk setiap nilai uks massa dan
hukum kekekalan massa
4. setelah diperoleh nilai-nilai uks massa tiap channel, digunakan un-
tuk mencari distribusi temperatur untuk masing-masing channel dan
distribusi temperatur untuk bahan bakar secara konduksi yang berada
dalam batas aman
5. selanjutnya setelah distribusi masing-masing channel telah diketahui,
dibuat distribusi temperatur untuk teras reaktor secara keseluruhan
6. Akan ditentukan sebuah kebijakan untuk mendapatkan esiensi yang pal-
ing optimal.
Bab 5
HASIL PERHITUNGAN DAN
ANALISIS
5.1 Data Spesikasi GCFR
No Parameter Spesikasi
1 Power 600 `\t/
2 Power density teras reaktor 100 `\,:
3
3 Power density rata-rata 55 `\,:
3
4 Tekanan pendingin 70 /c:
5 Temperatur inlet 450
0
C
6 Temperatur outlet 850
0
C
7 Temperatur fuel maksimum 1135
0
C
8 Massa alir 330 /q,:
9 Kecepatan alir 40 :,:
10 Volume teras reaktor 10.9 :
3
(H,1~1.7,2.9:)
11 Persentase volume (bahan bakar/He/SiC) 50%/ 40% /10%
12 Ukuran teras reaktor diameter=2 :, tinggi= 2 :
13 Volume teras reaktor 6 :
3
5.2 Distribusi Kerapatan Daya
Dari hasil simulasi diperoleh nilai maksimum dari kerapatan linear adalah
20000 \,: Nilai maksimum ini diperoleh di tenagh-tengah teras reaktor.
Sedangkan untuk kerapatan daya linear terhadap sumbu z diperoleh kerap-
35
BAB 5. HASIL PERHITUNGAN DAN ANALISIS 36
atan daya maksimum sebesar 40 \,c:. yang digambarkan pada Gambar 5.1,
5.2, 5.3, 5.4.
Gambar 5.1: Distribusi kerapatan linear teras reaktor
Gambar 5.2: Kerapatan daya volumetrik teras reaktor
hasil dari kerapatan daya ini dipakai selanjutnya dalam perhitungan ter-
malhidrolik yaitu untuk mencari distribusi temperatur pendingin dan bahan
bakar reaktor nuklir.
BAB 5. HASIL PERHITUNGAN DAN ANALISIS 37
Gambar 5.3: Kerapatan daya linear aksial
Gambar 5.4: Kerapatan daya linear radial
BAB 5. HASIL PERHITUNGAN DAN ANALISIS 38
5.3 Analisis Single Channel
Dari hasil perhitungan kerapatan daya linear selanjutnya digunakan untuk
analisis single channel dan multi channel. Pada analisis single channel dihitung
distribusi temperatur arah aksial pendingin yang ditampilkan pada Gambar 5.5
dapat dilihat bahwa temperatur inlet 450
0
C menghasilkan temperatur outlet
Gambar 5.5: Distribusi temperatur aksial pendingin
sebesar 839.2741086210714
0
C. Temperatur naik searah z, ini dikarenakan daya
yang dibawa pendingin semakin naik sampai di puncak teras.
Hasil dari simulasi Runge-Kutta penurunan tekanan untuk salah satu nilai
r=0 dengan 1(H,2) = 7000000 `,:
2
diperoleh 1(H,2) = 6385611. 39291415
`,:
2
Gambar 5.6: Penurunan tekanan sepanjang sumbu z
5.4 Analisis Multi Channel
Akan dibandingkan hasil pencarian solusi dari G
i
di tiap channel tanpa meng-
gunakan optimasi(G
i
dibuat sama rata) dan dengan menggunakan algoritma
genetika dengan menggunakan perbandingan laju alir pompa yang bervariasi.
BAB 5. HASIL PERHITUNGAN DAN ANALISIS 39
5.5 Output
5.5.1 Laju Alir Hasil Algoritma Genetika
Hasil laju alir tiap channel yang dihitung dengan algoritma genetika
5.5.2 Distribusi Temperatur Pada Teras Reaktor
Setelah diperoleh laju alir untuk masing-masing channel hasil algoritma genetika
selanjutnya dihitung distribusi temperatur di teras reaktor untuk masing-
masing laju alir pompa yang diberikan.
BAB 5. HASIL PERHITUNGAN DAN ANALISIS 40
Gambar 5.7: Distribusi temperatur teras dengan laju alir 200 kg/s
Gambar 5.8: Distribusi temperatur teras dengan laju alir 250 kg/s
Gambar 5.9: Distribusi temperatur teras dengan laju alir 300 kg/s
BAB 5. HASIL PERHITUNGAN DAN ANALISIS 41
5.5.3 Perbandingan Temperatur dengan Berbagai Laju
Alir Pompa
Gambar 5.10: Distribusi temperatur aksial di r=0 berbagai laju alir
Gambar 5.11: Distribusi temperatur radial di z=H/2 berbagai laju alir
5.5.4 Distribusi Temperatur pada Pusat Bahan Bakar
Gambar 5.12: Distribusi temperatur pusat bahan bakar pada 200 kg/s
laju alir 200 kg/s dihasilkan temperatur outlet maksimumsebesar 1008. 634555
0
C dan temperatur maksimum bahan bakar 1127.183097
0
C
BAB 5. HASIL PERHITUNGAN DAN ANALISIS 42
5.5.5 Distribusi Temperatur pada Gap
Gambar 5.13: Distribusi temperatur gap pada 200 kg/s
laju alir 250 kg/s dihasilkan temperatur outlet maksimumsebesar 917.0244673
0
C dan temperatur maksimum bahan bakar 1035.57301
0
C
5.5.6 Distribusi Temperatur pada Clad
Gambar 5.14: Distribusi temperatur clad pada 200 kg/s
laju alir 300 kg/s dihasilkan temperatur outlet maksimum sebesar 839.2741
0
C dan temperatur maksimum bahan bakar 957. 8226428
0
C
BAB 5. HASIL PERHITUNGAN DAN ANALISIS 43
5.5.7 Perbandingan Temperatur Radial Maksimumpada
Bahan Bakar
Gambar 5.15: Distribusi temperatur bahan bakar
Gambar 5.16: Temperatur radial maksimum bahan bakar
Bab 6
Penutup
6.1 Kesimpulan dan Saran
1. Analisis termal hidrolik dalam keadaan steady state (tidak memperhi-
tungkan perubahan terhadap waktu) telah dilakukan pada reaktor Gas
Cooled Fast Reactor (GCFR). Geometri teras reaktor berbentuk silinder
dengan diameter aktif 2 m dan tinggi 3 m. Formasi sel yang digunakan
adalah formasi segi empat (square lattice geometry). Pendingin yang
digunakan yaitu gas Helium (He).
2. Pemodelan temperatur radial pada bahan bakar maupun penurunan
tekanan (analisis single channel maupun multi channel ) untuk mendap-
atkan distribusi temperatur pada pendingin telah berhasil dilakukan.
3. Suatu simulasi perhitungan laju alir optimal pada channel reaktor telah
dapat dilakukan dengan menggunakan prosedur algoritma genetika se-
hingga lebih menggambarkan kondisi sebenarnya dengan hasil :
laju alir 200 kg/s dihasilkan total pressure drop minimum untuk
50 channel sebesar 197.145906 dalam rentang besarnya tekanan 0-
7.000.000 N/m
2
laju alir 250 kg/s dihasilkan total pressure drop minimum untuk
50 channel sebesar 205.058083 dalam rentang besarnya tekanan 0-
7.000.000 N/m
2
44
BAB 6. PENUTUP 45
laju alir 300 kg/s dihasilkan total pressure drop minimum untuk
50 channel sebesar 225.021995 dalam rentang besarnya tekanan 0-
7.000.000 N/m
2
4. Laju alir tiap channel hasil simulasi algoritma genetika dipakai untuk
menghitung distribusi temperatur pada tiap channel selanjutnya digu-
nakan untuk menghitung distribusi temperatur pada teras reaktor. Den-
gan kondisi temperatur inlet sebesar 450
0
C disimulasikan untuk berba-
gai laju alir pompa dengan hasil :
laju alir 200 kg/s dihasilkan temperatur outlet maksimum sebesar
1008. 634555
0
C dan temperatur maksimumbahan bakar 1127.183097
0
C
laju alir 250 kg/s dihasilkan temperatur outlet maksimum sebesar
917.0244673
0
C dan temperatur maksimumbahan bakar 1035.57301
0
C
laju alir 300 kg/s dihasilkan temperatur outlet maksimum sebesar
839.2741
0
C dan temperatur maksimum bahan bakar 957. 8226428
0
C
5. Distribusi temperatur pendingin berbanding terbalik dengan laju alir
massa, semakin besar laju alir massa yang diberikan maka temperatur
maksimum outlet semakin kecil, dan sebaliknya. Temperatur di outlet
menyatakan tingkat esiensi sistem, dengan kondisi inlet yang sama di-
inginkan temperatur outlet maksimum paling besar. Dengan demikian
dipilih suatu laju alir yang menghasilkan temperatur outlet paling besar.
Tetapi hal ini dibatasi oleh suatu kondisi di mana material reaktor mem-
punyai batasan temperatur yang tidak membahayakan. Dari hasil sim-
ulasi diperoleh bahwa dipilih laju alir sebesar 200 kg/s karena diperoleh
temperatur outlet paling besar dibawah batas aman yang diperbolehkan.
Beberapa saran untuk perbaikan analisis termal hidrolik pada GCFR ini
di antaranya :
BAB 6. PENUTUP 46
1. Model dikembangkan menjadi lebih realistis yaitu dengan memperhi-
tungkan waktu (keadaan transien).
2. Dari hasil yang diperoleh bahwa temperatur outlet teras beragam sesuai
dengan kedudukannya di teras sehingga panas akan terpusat di tengah
puncak (: = 0. . = H,2). Keadaan ini cukup merugikan dari segi
esiensi termodinamika. Disarankan tugas akhir ini dilanjutkan kem-
bali dalam hal mengoptimalkan temperatur di outlet diinginkan seragam
terhadap r. Masalah ini biasa diatasi dengan jalan membuat saluran
(pompa) tambahan yang biasa dikenal dengan istilah oricing. Hal yang
menjdi pertanyaan berikutnya adalah di mana letak pompa tersebut,
berapa banyaknya dan berapa besarnya laju alir yang diberikan namun
masih dalam batas aman.
Daftar Pustaka
[1] Waltar,Alan E. and Albert B. Reynolds, 1981. Fast Breeder. Washington:
Pergamon Press.
[2] Duderstadt, James J. dan Louis J. Hamilton. 1976. Nuclear Reactor Anal-
isis. New York: John Wiley & Sons, Inc.
[3] Todreas, Neil E. dan Mujid S. Kazimi. 1993. Nuclear System I. United
States of America.: Taylor & Francis.
[4] Ridwan, Mohammad., Prayoto., Marsongkohadi., Jasif Ilyas., Roes-
tan Roekmantara., Haryoto Djojosubroto. 1978. Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi Nuklir. Jakarta: BATAN.
[5] http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0894177799000242
[6] http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/0029549368900654
[7] http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0306454904000428
[8] http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/002954939090391A
[9] http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0306454907001557
[10] http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0029549309001502
[11] http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0029549309000971
47