Anda di halaman 1dari 5

STUDI PEMANFAATAN PLUTONIUM SEBAGAI BAHAN BAKAR PADA MOLTEN SALT REACTOR FUJI-12

Indarta Kuncoro Aji dan Abdul Waris*


Kelompok Keahlian Fisika Nuklir dan Biofisika, Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung *E-mail: awaris@fi.itb.ac.id

ABSTRAK
STUDI PEMANFAATAN PLUTONIUM SEBAGAI BAHAN BAKAR PADA MOLTEN SALT REACTOR FUJI-12. Fuji-12 adalah reaktor nuklir yang berjenis Molten Salt Reactor yang dikembangkan oleh Jepang. Fuji-12 menggunakan garam cair sebagai bahan bakar, memiliki daya termal 350 MWt dan temperatur keluaran 973 K. Pada awalnya reaktor Fuji-12 menggunakan bahan bakar LiF 71.78%, BeF2 16%, ThF4 12% dan 233UF4 0.22%. Pada penelitian ini, digunakan bahan bakar yang berupa garam cair dengan komposisi LiF 71.78%, BeF2 16%, ThF4, dan PuF3. Plutonium yang digunakan dalam komposisi bahan bakar adalah, reactor grade plutonium dan weapon grade plutonium. Pada simulasi perhitungan menggunakan reactor grade plutonium, digunakan tiga kombinasi komposisi ThF4, dan PuF3 secara berturut-turut, yaitu; 8.86%, 9.06% dan 9.86% ThF4 dan 3.36%, 3.16% dan 2.96% PuF4. Sedangkan, simulasi perhitungan menggunakan weapon grade plutonium, digunakan tiga kombinasi komposisi ThF4, dan PuF3 secara berturutturut, yaitu; 10.86%, 11.06% dan 11.26% ThF4 dan 1.36%, 1.16% dan 0.96% PuF4. Dari simulasi perhitungan, diperoleh nilai faktor multiplikasi efektif bernilai diatas satu saat komposisi bahan bakar LiF 71.78%, BeF2 16%, ThF4 8.86%, dan PuF3 3.36% untuk plutonium berjenis reactor grade plutonium, dan komposisi bahan bakar LiF 71.78%, BeF2 16%, ThF4 11.26%, dan PuF3 1.36% untuk plutonium berjenis weapon grade plutonium. Periode refueling adalah lima tahun dengan nilai burn up sebesar 2.6 x 104 MWd/ton. Kata kunci: MSR, Fuji-12, reactor grade Pu, weapon grade Pu, faktor multiplikasi efektif. STUDY ON UTILIZATION OF PLUTONIUM AS A FUEL OF FUJI-12 MOLTEN SALT REACTOR. Fuji-12 is a type of molten salt reactor developed by Japan. Fuji-12 uses molten salt as a fuel with thermal output of 350 MWt and outlet temperature of 973 K. Original Fuji-12 reactor use LiF 71.78%, BeF2 16%, ThF4 12% and 233UF4 0.22% as fuel. In this study, used fuel with a composition of LiF 71.78%, BeF2 16.00%, ThF4, and PuF3. Plutonium while used in the composition of fuel is a reactor grade plutonium and weapon grade plutonium. In case of reactor grade plutonium calculation, three combinations of ThF4 namely 8.86%, 9.06%, 9.26% of ThF4 are used while for PuF3 3.36%, 3.16%, and 2.96% of PuF3 have been employing. For the case of weapon grade plutonium, the combinations ThF4 and PuF3 are 10.86%, 11.06%, 11.26% of ThF4 and 1.36%, 1.16%, 0.96% of PuF3. From the calculations, the value of the effective multiplication factor is above one when the fuel composition is 71.78% LiF, 16.00% BeF2, 8.86% ThF4, and 3.36% PuF3, and 71.78% LiF, 16.00% BeF2, 11.26% ThF4, and 0.96% PuF3 for reactor grade plutonium and plutonium weapon grade, respectively. The refueling time is five years with burn up value of 26.000 MWD/ ton. Keywords: MSR, Fuji-12, reactor grade Pu, weapons grade Pu, effective multiplication factor.

1.

PENDAHULUAN

Pada akhir melineum kedua, tepatnya pada tahun 1999, Departemen Energi Amerika Serikat meluncurkan program khusus dengan nama NERI (Nuclear Energy Research Initiative) sebagai program inti Pemerintah Federal Amerika untuk mengembangkan energi nuklir maju. Program ini mengilhami munculnya fajar baru bagi energi nuklir diawal melinium ketiga dengan munculnya konsep reaktor nuklir Generasi IV pada tahun 2001. Sejak itu mulai memfokuskan diri pada pembiayaan riset untuk reaktor Generasi IV. Reaktor yang beroperasi saaat ini sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) adalah reaktor nuklir Generasi II dan III atau III+, yang berjumlah 439 pembangkit listrik tenaga nuklir serta berkontribusi sebesar 17% terhadap pasokan listrik dunia. Hal ini menunjukkan peningkatan yang sangat besar dalam penggunaan reaktor nuklir sebagai penghasil energi listrik. Peningkatan penggunaan reaktor nuklir tidak lain dikarenakan energi listrik yang dihasilkan dari reaktor nuklir memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan pembangkit listrik lainnya. Disamping itu, reaktor nuklir adalah pembangkit listrik yang sangat ramah terhadap lingkungan, karena tidak menghasilkan gas buangan yang dapat mengakibatkan timbulnya efek rumah kaca. Namun, seiring meningkatnya penggunaan reaktor nuklir sebaga penghasil energi listrik, maka limbah berupa radioaktif yang dihasilkan juga akan semakin tinggi. Sehingga dibutuhkan teknologiteknologi nuklir yang lebih maju untuk mengatasi masalah tersebut. Selain itu, masalah lain yang berkaitan dengan energi nuklir adalah jumlah senjata nuklir aktif yang ada di dunia saat ini, yang diperkirakan mencapai 20.000 buah. Juumlah hulu ledak nuklir tersebut perlu dikurang, sebagai upaya pencapaian perdamaian dunia yang telah dicanangkan oleh para pemimpin tinggi dunia. Masalah utama dari hulu ledak ini adalah bagaimana memusnahkannya. Molten Salt Reactor (MSR) yang merupakan salah satu dari enam sistem reaktor Generasi IV. MSR dipilih karena memiliki beberapa kelebihan, yaitu: - dapat membakar limbah nuklir, termasuk hulu ledak nuklir. - dapat menghasilkan listrik yang lebih efisien - memiliki sistem keselamatan pasif - memiliki potensi untuk memproduksi hidrogen karena beoperasi pada suku yang tinggi ( >650 0 C)

- dapat menghasilkan bahan fissile (untuk jangka panjang) Ada beberapa jenis rancangan MSR yang telah/sedang dikembangkan oleh sejumlah negara. Jepang mengembangkan beberapa konsep MSR diantaranya dinamai reaktor FUJI dengan beberapa varian yang diusulkan. Fuji-12 adalah salah satu reaktor nuklir generasi ke IV berjenis MSR dari kelompok FUJI ini. Fuji-12 Memiliki ukuran reaktor yang paling kecil jika dibandingkan dengan reakor nuklir sejenis lainnya, sehingga Fuji-12 dinilai memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan Molten Salt Reactor jenis lainnya. Ukurannya yang kecil membuat Fuji-12 memiliki bentuk yang lebih sederhana, lebih ekonomis karena dapat diproduksi secara masal, tidak membutuhkan lahan yang lebih luas (dapat dibangun didaerah perkotaan yang padat penduduk), serta dapat mengurangi biaya penempatan dan konstruksi.

Gambar 1. Skema Fuji-12

Untuk tipe reaktor FUJI yang lain, studi tentang penggunaan plutonium sudah dilakukan, misalnya untuk reaktor FUJI dengan daya termal 450 MW, sudah ada studi untuk pemnafaatan plutonium dengan nama FUJI-Pu1 dan FUJI-Pu2. Dalam studi ini, FUJI-12 yang semula hanya berbahan bakar Th dan 233U diganti dengan bahan bakar baru yang terdiri dari Th dan Pu. Ada dua jenis Pu yang telah diselidiki, yaitu reactor grade plutonium dan weapon grade plutonium. 2. METODE PENELITIAN

Temperatur keluar Periode Refueling Average power density

973 K 5 tahun 7 KWt/ liter

Tabel 1. Spesifikasi Fuji-12

Gbr 1 menunjukkan skema dari Fuji-12, sedangkan spesifikasi Fuji-12 dapat dilihat pada Tabel 1. Reaktor Fuji-12 memiliki tinggi 5.4 meter dan diameter 5.2 meter yang dibagi kedalam empat region, yaitu teras aktif (core), reflektor, absorber dan saluran bahan bakar (fuel duct). Teras aktif terdiri dari beberapa assembly yang berbentuk hexagonal dengan ukuran pitch diameter sebesar 0.2 meter (Gbr 2). Sedangkan reflektor terbuat dari grafit dengan ketebalan 0.4 meter dan berfungsi untuk untuk merefleksikan neutron. Absorber sendiri terbuat dari boron karbit dan berfungsi sebagai penyerap neutron sekaligus pelindung pada reaktor.

Perhitungan nilai multiplikasi efektif dilakukan dengan menggunakan SRAC-PIJ dan JENDL 3.2 sebagai data library. Serta dilakukan kombinasi komposisi bahan bakar untuk memperoleh nilai multiplikasi efektif yang paling baik. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 2 dan Tabel 3 menunjukkan komposisi bahan bakar Reactor Grade PlutoniumThorium dan Weapon Grade Plutonium-Thorium yang dilakukan dalam perhitungan. Tabel 2. Komposisi Bahan Bakar Reactor Grade Plutonium

Tabel 3. Komposisi Bahan Bakar Weapon Grade Plutonium

Gambar 2. Skema Horizontal Assembly Gbr 3 menampilkan nilai multiplikasi efektif yang diperoleh dari hasil perhitungan dengan menggunakan Reactor Grade Plutonium-Thorium sebagai bahan bakar. Tampak bahwa reaktor mencapai kondisi kritis pada saat komposisi bahan bakar Reactor Grade Plutonium-Thorium sebesar 71.78% LiF, 16% BeF2, 8.86% ThF4 dan 3.36% PuF3, dengan nilai multiplikasi efektif lebih besar dari satu dan nilai burn up mencapai 2.694 x 104 MWd/ton selama 5 tahun operasional. Nilai multiplikasi efektif yang diperoleh dari hasil perhitungan dengan menggunakan Weapon Grade Plutonium-Thorium sebagai bahan bakar ditampilkan pada Gbr 4. Dari ketiga grafik tersebut, diketahui bahwa komposisi bahan bakar Weapon Grade Plutonium-Thorium sebesar 71.78% LiF, 16%

Parameter Daya (termal) Geometri Teras Bentuk Tinggi Dimensi (diameter) Bahan Bakar Jenis Komposisi Temperatur masuk

Spesifikasi 350 MWt silinder 400 cm 400 cm molten salt LiF, BeF2, ThF4, PuF3 833 K

BeF2, 10.86% ThF4 dan 1.36% PuF3 adalah yang paling efektif jika dibandingkan dengan dua grafik lainnya. Ini dikarenakan nilai multiplikasi efektif grafik tersebut yang tepat di atas satu hingga nilai burn up mencapai 2.694 x 104 MWd/ton dengan waktu operasional selama 5 tahun. Dari Gbr 3 dan Gbr 4, tertera bahwa Weapon Grade Plutonium-Thorium hanya membutuhkan komposisi Pu sebesar 1.36% untuk mencapai titik kritis. Sedangkan untuk Reactor Grade Plutonium-Thorium dibutuhkan komposisi Pu sebesar 3.36% untuk mencapai titik kritis. Ini dipengaruhi oleh komposisi bahan bakar fisil yang terdapat pada kedua jenis bahan bakar tersebut. Tabel 4.

Gambar 3. Grafik Nilai Multiplikasi Efektif Untuk Beberapa Macam Komposisi Bahan Bakar Reactor Grade Plutonium-Thorium.

Gambar 5. Grafik Nilai Multiplikasi Efektif Untuk Beberapa Macam Komposisi Bahan Bakar 233UThorium. Jika dibandingkan dengan MSR berbahan bakar 233UTh, maka MSR yang berbahan bakar 233U-Th jauh lebih efisien jika dibandingkan dengan bahan bakar Pu-Th yang berasal dari Reactor Grade maupun Weapon Grade. Gbr 5 menjelaskan bahwa MSR berbahan bakar 233U-Th hanya membutuhkan komposisi bahan bakar sebesar, 71.78% LiF, 16% BeF2, 12% ThF4 dan 0.36% UF4 yang berarti hanya membutuhkan 233U sebesar 0.36%. KESIMPULAN Reactor Grade Plutonium dan Weapon Grade Plutonium mengandung bahan fertil yang bersifat menyerap neutron, sehingga penggunaan 233 U-Th sebagai bahan bakar menghasilkan nilai multiplikasi efektif yang lebih tinggi terhadap penggunaan Pu-Th yang berasal dari Reactor Grade maupun Weapon Grade. Penggunaan Reactor Grade Plutonium dan Weapon Grade Plutonium sebagai bahan bakar lebih efektif karena tidak diperlukan reaktor nuklir 4.

Gambar 4. Grafik Nilai Multiplikasi Efektif Untuk Beberapa Macam Komposisi Bahan Bakar Wepon Grade Plutonium-Thorium. Tabel 4. Komposisi Tiga Jenis Bahan Bakar

berbahan bakar Thorium untuk memproduksi 233U. Selain itu, hal ini lebih efektif dalam mengurangi jumlah limbah plutoium dan senjata nuklir berbahan bakar plutonium. Penggunaan Weapon Grade Plutonium sebagai bahan bakar menghasilkan nilai multiplikasi efektif lebih tinggi jika dibandingkan dengan penggunaan Reactor Grade Plutonium sebagai bahan bakar. Karena Weapon Grade Plutonium memiliki komposisi bahan bakar fisil yang lebih tinggi dan komposisi bahan fertil yang lebih rendah. DAFTAR PUSTAKA [1] [2] DOE, 2001, NERI Annual Report 2001 Colonna, Nicola, 2009. Generation IV Nuclear Energy Systems and The Need of Accurate Nuclear Data. Journal of Physics (Institute of Physics), Conference Series 168 012024 Benes, O., etc., 2009. Assesment of Liquid Salts for Innovation Applications. Europian Commission Under The Euratom Research and Training Program. Cochran, Robert G., Tsoulfanidis Nicholas, 1999. The Nuclear Fuel Cycle: Analysis and Management. Illonois: American Nuclear Society

[5]

[6]

[7]

[8]

[9]

[10]

[3]

[11]

[4]

Duderstad, James J., Hamilton, Louis J., 1976. Nuclear Reactor Analysis. New York: JOHN WILEY & SONS Inc Hirakawa N., Mitachi K., Misawa T., 1997. Molten Salt Reactor Benchmark Problem to Constrain Plutonium. Journal of NUCLEAR SCIENCE of TECHNOLOGY : 198-206 JAERI. 2002. SRAC (Ver. 2002); The Comperhensive Neutronics Calculation Code System, Volume I. Departement of Nuclear Energy System (JAERI) Jevremovic, Tatjana, 2009. Nuclear Principles in Engineering, Second Edition. New York: Springer Stacey, Weston M., 2001. Nuclear Reactor Physics. New York: JOHN WILEY & SONS Inc Suzuki N., Shimazu Y., 2008. ReactivityInitiated-Accident Analysis without Scram of a Molten Salt Reactor. Journal of NUCLEAR SCIENCE of TECHNOLOGY, (Vol. 45, No. 6): 575-581 Yamamoto T., Mitachi K., Suzuki T., 2005. Steady State Analysis of Small Molten Salt Reactor. JSME International Journal,

Series B (Vol. 48, No. 3): 610-617