Anda di halaman 1dari 16

AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA April 2012 BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Istilah kosmetik telah dikenal manusia sejak berabad-abad lalu. Adapun tujuan pemakaian kosmetik selain untuk kecantikan juga digunakan untuk kesehatan, selain itu kosmetik juga merupakan salah satu produk yang sangat diperlukan oleh manusia baik lakilaki maupun perempuan, digunakan dan dipakai secara berulang-ulang setiap hari diseluruh tubuh mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bila ditinjau dari jenis dan fungsinya kosmetik dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu kosmetik pembersih, kosmetik pelembab, dan pelindungA, serta kosmetik dekoratif. Tujuan penggunaan kosmetik pembersih ialah untuk membuat badan, kulit, rambut, dan gigi menjadi lebih bersih, sedangkan kosmetik pelembab dan pelindung digunakan setelah memakai kosmetik pembersih yang merupakan urutan dalam langkah perawatan dan tata rias kulit. Pada penggunaan kosmetik dekoratif bertujuan semata-mata untuk mengubah penampilan agar nampak lebih cantik dan dapat menutupi noda-noda atau kelainan pada kulit, sebab dalam kosmetik dekoratif sangat besar perannya berupa zat pewarna dan zat pewangi serta dalam pemakaiannya lebih mengedepankan alasan psikologi daripada kesehatan kulit. Kosmetik dekoratif dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu kosmetik dekoratif yang efeknya mendalam dan biasanya dalam waktu lama baru luntur, seperti pemutih kulit, cat rambut, pengriting rambut, dan preparat penghilang rambut yang kedua adalah kosmetik yang hanya menimbulkan efek pada permukaan dan pemakaian yang hanya sebentar misalnya bedak, lipstick, pemerah pipi, eye shadow dan lain-lain. Eye shadow merupakan salah satu jenis dari preparat dekoratif yang memerlukan bahan yang sangat aman dan cara pemakaian yang hati-hati karena dikenakan pada kulit dekat mata, biasanya pada kelopak mata atas. Warna-warnanya mulai dari gray-blue, gray green sampai olive green. Penggunaan eye shadow dapat digolongkan berdasarkan kalangan usia mulai dari remaja sampai dewasa dan ibu-ibu. Hal ini disebabkan karena struktur kulit dan tujuan penggunaan yang berbeda. Penggunaan kosmetik dekoratif eye shadow pada remaja umumnya dibuat dengan warna yang tidak terlalu mencolok sehingga akan menimbulkan kesan penampilan yang sesuai usia dan tujuan dari penggunaan jenis kosmetik tersebut. Untuk mengaplikasikan dari tujuan pembuatan kosmetik yang dikehendaki, diperlukan kejelian dalam menentukan zat warna dari sediaan yang akan diproduksi. Kombinasi dan eksperimen perlu dilakukan demi mendapatkan sebuah komposisi warna yang menarik harus

dilakukan dengan seteliti mungkin, agar bisa diperoleh hasil warna yang bila dipakai akan mengaplikasikan tujuan dari pembuatan kosmetik dekoratif eye shodow pada kaum remaja. 1.2 Tujuan Mengetahui persiapan dan cara pembuatan sediaan kosmetik dalam formulasi teknologi sediaan emulsi eye shadow. Membuat dan memformulasikan sediaan kosmetik dalam bentuk sediaan emulsi eye shadow. 1.3 Manfaat Dapat bereksperimen dan menentukan warna kosmetik dekoratif eye shadow dengan mengedepankan kesan penampilan yang tetap alami dan natural. Dapat memproduksi suatu sediaan kosmetik dekoratif eye shadow dengan konsumen dan pengguna utama yaitu pada para kaum remaja. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Kosmetik Kosmetik berasal dari bahasa yunani kuno kosmetikos yang berarti ketrampilan menghias dan mengatur. Definisi kosmetik dalam peraturan Menteri Kesehatan RI No. 445/Menkes/Permenkes/1998 adalah sebagai berikut : Kosmetik adalah sediaan aau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku,bibir, dan organ kelamin bagian luar), gigi, dan rongga mulut untuk kebersihan, menambah daya tarik, mengubah penampilan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit. Sementara itu obat adalah bahan, zat, atau benda yang dipakai untuk diagnose, pengobatan, dan pencegahan suatu penyakit atau yang dapat mempengaruhi struktur dan faal dalam tubuh. Tujuan utama penggunaan kosmetik pada masyarakat modern adalah untuk kebersihan pribadi, meningkatkan daya tarik melaui make up, meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan tenang, melindungi kulit dan rambut dari kerusakan sinar uv, polusi dan factor lingkungan yang lain, mencegah penuaan, dan secara umum membantu seseorang lebih menikmati dan menghargai hidup. 1.2Penggolongan Kosmetik Kosmetik dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok yaitu : a. Menurut peraturan Menteri Kesehatan RI, kosmetik dibagi kedalam 13 kelompok : 1. Preparat untuk bayi, misalnya minyak bayi, bedak bayi, dll. 2. Preparat untuk mandi, misalnya sabun mandi, dll. 3. Preparat untuk muka, misalnya mascara, eye shadow, dll. 4. Preparat wangi-wangian, misalnya parfum, toilet water, dll. 5. Preparat untuk rambut, misalnya cat rambut, hair spray,dll.

1.1.1 1.1.2

1.1.3 1.1.4

6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. b. 1. 2. c. 1. 2.

Preparat pewarna rambut, misalnya cat rambut dll. Preparat make-up (kecuali mata), misalnya bedak, lipstick dll. Preparat untuk kebersihan mulut, misalnya pasta gigi dll. Preparat untuk kebersihan badan, misalnya deodorant, dll. Preparat kuku, misalnya cat kuku, lotion kuku, dll. Preparat perawatan kulit, misalnya pembersih, pelembab, dll. Preparat cukur, misalnya sabun cukur, dll. Preparat untuk suntan dan sunscreen dll. Penggolongan menurut sifat dan cara pembuatan Kosmetik modern diramu dari bahan kimia dan diolah secara modern (termasuk didalamnya kosmetik) Kosmetik tradisional Betul-betul tradisional Semi tradisional Hanya namanya yang tradisional Penggolongan menurut kegunaannya bagi kulit Kosmetik perawatan kulit Kosmetik untuk membersihkan kulit (eleanser) Kosmetik untuk melembabkan kulit (mousturizer) Kosmetik pelindung kulit Kosmetik untuk menipiskan atau mengamplas kulit (reeling) Kosmetik riasan (dekoratif atau make up) Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit sehingga menampilkan yang lebih menarik.

1.3Eye Shadow Eye shadow adalah salah satu jenis kosmetik yang biasa digunakan untuk mewarnai kelopak mata sehingga terbentuk bayangan yang baik. Eye shadow yang baik memiliki sifat mudah digunakan secara halus dan mempunyai daya adhesi yang bagus untuk kulit, tidak mengalami perubahan warna, tidak menciptakan noda ketika terkena keringat. Selain itu, eye shadow tidak berminyak ketika digunakan. Umumnya eye shadow tersedia dalam bentuk padat, berupa serbuk; stik yang berbasis minyak; atau pensil. Namun, saat ini eye shadow dapat dijumpai dalam bentuk cair pasta yang berbasis minyak maupun berupa emulsi. Bentuk emulsi ini dapat berupa o/w atau w/o, tergantung pada jenis emulsifier yang digunakan. Untuk kecenderungan kebutuhan pemakai, eye shadow tipe w/o lebih dibutuhkan. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan produk yang tahan air, baik itu terhadap keringat, air mata, maupun air hujan. Dengan tipe w/o, fase luar yang bersentuhan dengan kulit adalah fase minyak sehingga kebutuhan ini dapat terpenuhi. Akan tetapi, hingga saat ini, eye shadow yang diproduksi cenderung bertipe o/w.

Emulsi yang dibuat dengan emulsifier ini lebih murah, lebih mudah dibuat, lebih enak dipakai karena tidak begitu lengket, lebih cepat menyebar di kulit dan lebih dingin. Jenis emulsifier ini cocok digunakan dalam eye shadow bentuk cair pasta (krim) karena memiliki sifat yang lebih lambat mengeras. Dengan begitu, stabilitas sediaan lebih tinggi (Darijanto et al. , 2007). Untuk menghasilkan warna yang bervariasi, eye shadow menggunakan pigmen. Pigmen yang digunakan dapat berupa pigmen organik ataupun anorganik. Umumnya, pigmen anorganik berupa titanium dioksida yang dilapisi mika banyak digunakan. Ini dibutuhkan untuk memperoleh varian warna yang lebih luas. Proses yang dibutuhkan dalam pembuatan pigmen ini adalah penghalusan titanium dioksida dan mika disertai pengadukan sampai tercipta warna yang homogen (Anonim, 2011). Bahan tambahan berupa pengawet juga diberikan untuk memperpanjang umur simpan produk. Produk eye shadow emulsi mengandung cairan sehingga memiliki risiko tercemari oleh mikroba. Oleh karena itu, cairan emulsi dilindungi oleh pengawet sehingga mikroba tidak tumbuh. Selain itu, terdapat juga penambahan aktioksidan dari fase minyak. Ini memiliki kegunaan mencegah oksidasi dari asam stearat dan pigmen sehingga emulsi stabil dengan warna yang tetap konstan. Proses untuk memproduksi eye shadow tipe emulsi dimulai dengan persiapan masingmasing bahan. Bahan serbuk dicampur hingga homogen. Bahan fase minyak dibuat menjadi larutan pada suhu 75-800C. Sementara, bahan-bahan fase air dibuat pada suhu 70-750C. Bahan serbuk dicampur dengan bahan fase air. Setelah itu, dilakukan pencampuran dengan fase minyak. Umumnya, unit operasi ini dilakukan menggunakan homomixer. Produk emulsi ini diberi perlakuan pendinginan hingga mencapai suhu kamar dan dipress dalam wadah eye shadow (Winanti, 2011). Terdapat beberapa pengujian yang dapat dilakukan dalam produk ini. Uji yang paling utama adalah uji stabilitas emulsi. Uji ini diperlukan untuk mengetahui berapa lama produk ini akan stabil selama penyimpanan. Untuk penggunaannya, dibutuhkan waktu simpan yang panjang karena kecenderungan pemakaian yang lama habis. Oleh karena itu, diperlukan stabilitas yang tinggi. Harapannya, produk eye shadow ini tidak mengalami creaming ataupun koalesen selama penyimpanan. Uji berikutnya yang biasa dilakukan dalam pengujian produk eye shadow adalah uji dispersi pewarna. Uji ini penting dilakukan karena perwarna yang digunakan cenderung lebih banyak dibandingkan dengan jenis produk lainnya. Jika pewarna tidak terdispersi dengan baik, akan muncul garis pada wajah konsumen. Pencetakan pun akan lebih sulit. Uji kesesuaian bayangan juga perlu dilakukan. Uji ini dilakukan untuk memastikan bahwa spesifik bayangan pada setiap batch sama dengan batch sebelumnya. Pada uji ini, dilakukan perbandingan produk dengan produk sebelumnya yang telah diterima sebagai standar bayangan partikular yang diproduksi. Ini harus dilakukan pada tempat dengan cahaya yang standar. Warna bayangan akan terkait dengan dispersi warna dan jumlah minyak. Emulsi eye shadow juga perlu diuji secara mikrobial untuk memastikan tidak ada kontaminasi sepanjang proses produksi. Pengujian ini dilakukan pada sampel produk sebelum pencetakan (Tandiarrang, 2011).

Uji untuk aplikasi eye shadow meliputi uji lekatan dan uji hedonik. Uji lekatan (patch test) merupakan uji iritasi dan kepekaan kulit yang dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan uji pada kulit normal panel manusia untuk mengetahui apakah sediaan tersebut dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak. Sementara, uji kesukaan (hedonic test) adalah pengujian terhadap kesan subyektif yang sifatnya suka atau tidak suka terhadap produk ini. Pelaksanaan uji ini memerlukan dua pihak yang bekerja sama, yaitu panel dan pelaksana. Jumlah panel uji kesukaan yang semakin banyak semakin baik, sebaiknya melebihi 20 orang. Jumlah yang lebih besar akan menghasilkan kesimpulan penerimaan pasar yang lebih valid. Pengembangan yang dapat dikerjakan untuk produk eye shadow adalah pembuatan eye shadowtipe w/o. Ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, sesuai yang telah dijelaskan sebelumnya. Untuk membuat tipe emulsi ini, diperlukan emulsifier w/o. Salah satu jenis yang dapat digunakan adalahpolygliceryl oleat. Emulsifier ini memiliki titik didih >3000F dengan warna kuning, cukup stabil dan tidak berbahaya (Anonim, 2011). Ini merupakan jenis nonionik (netral). Pengembangan lain yang dapat dilakukan adalah variasi warna, misalnya pemberian efek glitter. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan mika mutiara saat pembuatan pigmen dengan titanium dioksida. Jika ingin didapatkan efek warna perak atau keemasan, dapat ditambahkan dengan serbuk metalik seperti aluminum dan perunggu. Selain itu, pengembangan yang dapat dilakukan adalah pembuatan produk kosmetik multifungsi. Karakter dan formulasi eye shadow umumnya tidak berbeda jauh dengan blush on (perona pipi). Oleh karena itu, dapat dibuat produk emulsi berupa krim yang aplikasinya dapat digunakan sebagai eye shadow ataupun blush on. Produk ini akan lebih efisien dan praktis untuk konsumen yang sering bepergian. 1.4Evaluasi dan Uji Standar Nasional Indonesia a. Uji Penampakan Uji penampakan dapat dilakukan dengan cara visual yang meliputi pengujian pada warna, bau, dan daya lekat sediaan. Pengamatan harus dilakukan secara teliti dan bila ada hasil yang kurang sesuai dengan ketentuan maka perlu dilakukan evaluasi ulang dan kemudian melakukan solusi yang tepat. b. Uji pH Penggunaan indikator dalam pengujian dan penetapan kadar untuk menunjukkan kesempurnaan reaksi kimia dalam analisa volumetrik atau untuk menunjukkan kadar ion hydrogen (pH) larutan suatu sediaan. c. Uji Bobot Jenis Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, penetapan bobot jenis hanya berlaku untuk cairan, dan kecuali dinyatakan lain, bobot jenis adalah perbandingan bobot zat di udara pada suhu 25cterhadap bobot air volume sama. Jika zat pada suhu 25c berbentuk padat, tetapkan bobot jenis pada suhu yang tertera dalam manografi dan bandingkan terhadap air pada suhu 25c. d. Uji Viskoitas Viskositas atau kekentalan adalah sifat cairan yang bertalian rapat dengan hambatan untuk mengalir. Ini didefinisikan sebagai tenaga yang diperlukan untuk menggerakan suatu

permukaan bidang melalui permukaan lain dalam kondisi yang ditentukan, jika ruang diantaranya diisi oleh cairan tersebut ini dapat dianggap lebih sederhana sebagai suatu sifat relative dimana air adalah bahan pembanding dan semua kekentalan dinyatakan terhadap kekentalan air murni pada 20c. e. Uji Daya Guna Pengawet Anti Mikroba Pengawet antimikroba ialah zat yang ditambahkan pada bentuk sediaan untuk melindungi dari kontaminasi mikroba. Pengawet digunakan terutama pada wadah pemakaian berganda untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang dapat masuk secara tidak sengaja, selam atau setelah proses pembuatan. Zat antimikroba tidak boleh digunakan semata-mata untuk menurunkan hitungan mikroba yang masih memiliki daya hidup sebagai pengganti cara produksi yang baik. f. Uji Cemaran Mikroba Uji yang pertama adalah melakukan uji bebas staphylococcus aureus dengan menggunakan uji koagulasi, dan uji bebas pseudomonas auruginosa menggunakan uji oksidasi dan pigmen. Uji kedua yang dilakukan adalah uji bebas salmonella dengan menggunakan singkelit dan uji bebas escherichiacolidengan menggunakan singkelit. 1.5 Dasar Teori Krim A. Definisi Krim Menurut Farmakope Indonesia III definisi Cream adalah sediaan setengah padat berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Dan menurut Farmakope Indonesia IV, Cream adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Sedangkan menurut Formularium Nasional Cream adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi kental mengandung air tidak kurang dari 60 % dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Sehingga dapat disimpulkan krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kenta, mengandung air tidak kurang 60% dan mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai seta dimaksudkan untuk pemakaian luar. B. Kelebihan dan Kekurangan Krim a. Kelebihan Adapun kelebihan menggunakan sediaan cream adalah : 1. mudah menyebar rata 2. praktis 3. lebih mudah dibersihkan atau dicuci dengan air terutama tipe m/a ( minyak dalam air ) 4. cara kerja langsung pada jaringan setempat 5. .tidak lengket, terutama pada tipe m/a ( minyak dalam air ) 6. bahan untuk pemakaian topical jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun, sehingga pengaruh aborpsi biasanya tidak diketahui pasien. 7. aman digunakan dewasa maupun anak anak. 8. Memberikan rasa dingin, terutama pada tipe a/m ( air dalam minyak )

9. Bisa digunakan untuk mencegah lecet pada lipatan kulit terutama pada bayi, pada fase a/m ( air dalam minyak ) karena kadar lemaknya cukup tinggi. 10. Bisa digunakan untuk kosmetik, misalnya mascara, krim mata, krim kuku, dan deodorant. 11. Bisa meningkatkan rasa lembut dan lentur pada kulit, tetapi tidak menyebabkan kulit berminyak. b. Kekurangan Di samping kelebihan tersebut, ada kekurangan di antaranya yaitu : 1. .mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m ( air dalam minyak ) karena terganggu system campuran terutama disebabkan karena perubahan suhu dan perubahan komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran 2 tipe crem jika zat pengemulsinya tidak tersatukan. 2. susah dalam pembuatannya, karena pembuatan cream mesti dalam keadaan panas 3. mudah lengket, terutama tipe a/m ( air dalam minyak ) 4. gampang pecah, disebabkan dalam pembuatan formulanya tidak pas. 5. pembuatannya harus secara aseptic C. Penggolongan Krim Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau disperse mikrokristal asam asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk pemakain kosmetika dan estetika. Krim dapat juga digunakan untuk pemberian obat melalui vaginal. Ada 2 tipe krim yaitu krim tipe minyak dalam air (m/a) dan krim tipe air dalam minyak (a/m). Pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang dikehendaki. Untuk krim tipe a/m digunakan sabun polivalen, span, adeps lanae, kolsterol dan cera. Sedangkan untuk krim tipe m/a digunakan sabun monovalen, seperti trietanolamin, natrium stearat, kalium stearat dan ammonium stearat. Selain itu juga dipakai tween, natrium lauryl sulfat, kuning telur, gelatinum, caseinum, cmc dan emulygidum. a. Krim M/A Biasanya digunakan pada kulit, mudah dicuci, sebagai pembawa dipakai pengemulsi campuran surfaktan. Sistem surfaktan ini juga bisa mengatur konsistensi. Campuran Pengemulsi Yang Sering Dipakai : Emulsifying wax BP. Lannette wax (campuran etil & stearil alkohol yang disulfonasi). Cetrimide emulsifying wax. Cetomakrogol emulsifying wax. Asam asam lemak, seperti palmitat, stearat Sifat Emulsi M/A Untuk Basis Cream : Dapat diencerkan dengan air. Mudah dicuci dan tidak berbekas. Untuk mencegah terjadinya pengendapan zat maka ditambahkan zat yang mudah bercampur dengan air tetapi tidak menguap (propilen glikol).

Formulasi yang baik adalah cream yang dapat mendeposit lemak dan senyawa pelembab lain sehingga membantu hidrasi kulit.

b. Krim A/M Konsistensi dapat bervariasi, sangat tergantung pada komposisi fase minyak & fase cair. Cream ini mengandung zat pengemulsi A/M yang spesisifik, seperti : Ester asam lemak dengan sorbitol garam garam dari asam lemak dengan logam bevalensi 2 Adeps lanae. D. Metode Pembuatan Krim 1. Pembuatan sediaan krim meliputi proses peleburan dan proses emulsifikasi. 2. Komponen tidak bercampur dengan air seperti minyak dan lilin dicairkan bersama-sama dipenangas air. 3. Semua larutan berair yang tahan panas. Komponen yang larut dalam air dipanaskan pada suhu yang sama dengan komponen lemak. 4. Larutan berair secara perlahan-lahan tambahkan ke dalam campuran lemak yang cair dan diaduk secara konstan,temperatur dipertahankan selama 5-10 menit untuk mencegah kristalisasi dari lilin/lemak. 5. Campuran perlahan-lahan didinginkan dengan pengadukan yang terus-menerus sampai campuran mengental. 6. Bila larutan tidak sama temperaturna dengan leburan lemak, maka beberapa lilin akan menjadi padat, sehingga terjadi pemisahan antara fase lemak dengan fase cair. E. Evaluasi Sediaan Krim Dibagi dalam tiga kelompok : 1. Evaluasi Fisik. Homogenitas diantara dua lapis film, secara makroskopis : alirkan di atas kaca. Konsistensi, tujuan : mudah dikeluarkan dari tube dan mudah dioleskan. Pengukuran konsistensi dengan pnetrometer. Konsistensi / rheologi dipengaruhi suhu; sedian non newton dipengaruhi oleh waktu istirahat oleh karena itu harus dilakukan pada keadaan yang identik. Bau dan warna untuk melihat terjadinya perubahan fasa. pH, pH berhubungan dengan stabilitas zat aktif, efektifitas pengawet, keadaan kulit. 2. Evaluasi Kimia. Kadar dan stabilitas zat aktif dan lain-lain. 3. Evaluasi Biologi. a. Kontaminasi mikroba. Salep mata harus steril untuk salep luka bakar, luka terbuka dan penyakit kulit yang parah juga harus steril. b. Potensi zat aktif. Pengukuran potensi beberapa zat antibiotik yang dipakai secara topikal.

1.4 Monografi Bahan 1. Asam Stearat Pemerian : Zat padat, keras, mengkilat, menunjukkan susunan hablur putih atau kuning pucat mirip lemak lilin. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 30 bagian etanol (95%)P, dalam 2 bagian kloroform P, dan dalam 3 bagian eter P. Khasiat : Zat tambahan emulsifying agent. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. Kadar : 1-20% 2. Triaetanolaminum Pemerian : Cairan kental tidak berwarna hingga kuning pucat, bau lemah mirip amoniak, higroskopik. Kelarutan : Mudah larut dalam air dan dalam etanol (90 0/0) larut dalam kloroform pekat Khasiat : Zat tambahan sebagai emulgator Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik Kadar : 2 0/0 4 0/0 3. Vaselin Album Pemerian : Putih atau kekuningan pucat, masa berminyak transparan dalam lapisan tipis setelah didinginkan pada suhu 00 Kelarutan : Tidak larut dalam air, sukar larut dalam etanol dingin atau panas, dan dalam etanol mutlak dingin, mudah larut dalam benzene, dalam karbon disulfide, dalam kloroform, larut dalam heksana, dan dalam sebagian besar minyak lemak, dan minyak atsiri. Khasiat : Zat tambahan sebagai bahan dsar salep atau basis lemak Kadar : 10 0/0 - 300/0 4. Propylan Glycol Pemerian : Cairan kental, jernih tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak berbau, menyerap air pada udara lembab. Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dengan aseton, dan dengan kloroform, larut dalam eter dan dalam beberapa minyak esensial, tetapi tidak dapat bercampur dalam minyak lemak. Khasiat : Zat tambahan sebagai bahan pengawet Kadar : 5 0/0 - 80 0/0 5. Lanolin Anhidrat (Adeps lanae) Adeps lanae yang mengandung 25% air digunakan sebagai pelumas dan penutup kulit Pemerian : Massa seperti lemak , lengket warna kuning bau khas Kelarutan : Tidak larut dalam air, dapat bercampur dengan air lebih kurang dua kali beratnya, agak sukar larut dalam etanol dingin, lebih larut dalam etanol panas mudah larut dalam eter dan dalam kloroform Khasiat : Zat tambahan sebagai basis lemak, fase minyak juga sebagai emulgator. Kadar : 100 bagian adeps menyerap 200 bagian air 6. Aquadest

Pemerian : cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. 7. Iron Oxide Functian : Colorants, opacifier Appearanc : Yellow, red, black, or brown powder. The color depends on the particle size, shape, and the amount of combined water.

1.5 Alasan Pemilihan Bahan a. Asam Stearat Asam stearat dengan konsentrasi 1-20% pada sediaan krim digunakan sebagai zat emulgator yang juga sebagai bahan dasar krim atau basis lemak. Triaethanilamina Triaethanolamina dengan konsentrasi 2-4% pada sediaan krim digunakan sebagai zat emulgator yang berfungsi sebagai zat yang mendispersikan antara fase air dengan fase minyak dari sediaan krim tersebut. Vaselin Album Vaselin album dengan konsentrasi 10-30% pada sediaan krim digunakan sebagai bahan dasar krim dan basis lemak atau fase minyak. Propylane Glicol Propilane glycol dengan konsentrasi 5-80% pada sediaan krim digunakan sebagai bahan pengawet anti mikrobakterium yang juga dapat digunakan sebagai fase air pada sediaan krim tersebut. Lanolin Lanolin adalah adeps lanae yang mengandung 25% air, dan dalam sediaan itu digunakan sebagai pelumas dan penutup kulit, selain itu lanolin juga dapat digunakan sebagai basis lemak dan zat emulgator dari suatu sediaan emulsi dank rim. Pigmen mutiara, mika berfungsi untuk menghasilkan efek berkilau. Antioksidan ditambahkan untuk melindungi pigmen dari proses oksidasi yang menyebabkan perubahan warna eyeshadow. Parfum digunanakan sebagai pemberi aroma yang khas pada produk.

b.

c.

d.

e.

BAB III FORMULASI DAN METODE PEMBUATAN 3.1 Formulasi

Rancangan Formulasi I R/ Asam stearat Trietanolamina Vaselin halus Lanolin anhidrat Propilenglkol Air Iron Oxide Perhitungan Bahan 1. Asam Stearat 2. Trietanolamina 3. Vaselin Album 4. Lanolin Anhidrat 5. Propilane Glycol 6. Air 7. Iron oxide

20 4 30 5 10 31 q.s

: 20 g = 4 g : 20 g = 0,8 g : 20 g = 6 g : 20 g = 1 g : 20 g = 2 g : 20 g = 6,2 g : qs

Rancangan Formulasi II R/ Asam stearat Trietanolamina Vaselin halus Lanolin anhidrat Propilenglkol Air Iron Oxide Perhitungan Bahan 1. Asam Stearat 2. Trietanolamina 3. Vaselin Album 4. Lanolin Anhidrat 5. Propilane Glycol 6. Air 7. Iron oxide

10 2 15 5 5 63 q.s

: 20 g = 2 g : 20 g = 0,4 g : 20 g = 3 g : 20 g = 1 g : 20 g = 1 g : 20 g = 12,6 g : qs

Rancangan Formula III R/ Asam stearat Trietanolamina Vaselin halus Lanolin anhidrat Propilenglkol Air Iron Oxide

16 4 25 5 5 45 q.s.

Perhitungan Bahan 1. Asam Stearat : 20 g = 3,2 g 2. Trietanolamina : 20 g = 0,8 g 3. Vaselin Album : 20 g = 5 g 4. Lanolin Anhidrat : 20 g = 1 g 5. Propilane Glycol : 20 g = 1 g 6. Air : 20 g = 9 g 7. Iron oxide : qs 3.2 Alat dan Bahan Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi mortir, stemper, timbangan, anak timbangaan, beaker glass, gelas ukur, batang pengaduk, sudip, cawan penguap, thermometer, kaki tiga, bunsen, asbes, kemasan, pinset, dan sendok tanduk. Sedangkan bahan-bahan yang akan digunakan antara lain asam stearat, triaetanolamina, vaselin album, lanolin, propilenglikol, iron oxide, aquadest, kertas perkament, sertaa kain kasa. 3.3 Prosedur Kerja Prosedur kerja dari ketiga resep tersebut tidak memiliki perbedaan yang jauh, perbedaan hanya pada proses penimbangan, elain dari itu tidak ada lagi, sehingga sehingga ketiganya haanya ditulis dalam satu prosedur. 1. Disiapkan alat dan bahan 2. Ditimbang asam staerat, vaselin dan lanolin. 3. Dimasukkan asam stearat, vaselin dan lanolin kedalam cawan penguap. 4. Dilelehkan campuran asam stearat, vaselin dan lanolin menggunakan cawan penguapdiatas tangas air hingga melebur 5. Dipanaskan campuran triaethanolamina, propilane glikol dan aquadest dalam beaker glas. 6. Dipindahkan hasil leburan asam stearat, vaselin dan lanolin dalam mortir pana s 7. Dimasukkan campuran triaethanolamina, propilane glikol, dan aquadest yang telah dipanaskan dalam mortir panas yang berisi leburan, aduk ad homogen. 8. Ditambahkan zat warna iron oxide, aduk ad homogen. 9. Dimasukkan dalam wadah.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Resep Resep I Resep II Warna Merah bata tua Merah bata muda Merah bata Bentuk Krim Krim Bau Vaselin Vaselin Homogenitas pH Homogen Homogen 6 7 Konsistensi Daya Lekat Krim padat Krim lembek Krim semi padat Lengket dan berminyak Kurang lengket Lengket dan hanya sedikit berminyak

Resep III

Krim

Vaselin

Ada zat warna iron oxide yang kurang homogen

4.1 Pembahasan Pada praktikum formulasi teknologi sediaan kosmetik eyeshadow dibuat tiga formula dalam bentuk sediaan krim. Dari ketiga formula tersebut digunakan bahan yang sama namun

berbeda dalam konsentrasi dari masing-masing bahan yang digunakan sehingga tiap formula dipastikan akan memiliki hasil yang berbeda-beda pula. Dari hasil yang berbeda-beda ini maka dapat diketahui sedian mana yang memenuhui standar formulasi yang terbaik. Evaluasi yang dilakukan mengacu pada Standar Nasional Indonesia Kosmetika yang meliputi organoleptis, homogenitas, pH, konsistensi, daya lekat, viskositas, dayaguna pengawet dan uji cemaran mikroba, tiap-tiap formulasi sediaan diketahui memiliki hasil evaluasi yang berbeda-beda sesuai dengan konsentrasi bahan yang digunakan. Namun dalam evaluasi ini tidak semuanya dapat dilakukan seperti, viskositas, uji dayaguna pengawet, serta uji cemaran mikroba. Alasan tidak melakukan uji viskositas karena sediaan yang dibuat hanya sebanyak 10 g, sedangkan untuk melakukan uji tersebut butuh sekitar 50 g sediaan. Sedangkan alasan tidak dilakukannya uji daya pengawet serta uji cemaran mikroba karena dalam pembuatan sediaan ini lebihdiutamakan kepada mencari konsentrasi formulasi yang terbaik dari tiga resep yang digunakan. Formula pertama yang menggunakan asam stearat dengan konsentrasi 20%, trietanolamina 4%, vaselin album 30%, lanolin anhidrat 5%, propilenglikol 10%, air 31%, serta nipagin 0,1 %, memiliki homogenitas yang cukup baik sebab pada proses pembuatannya sudah sesuai dengan prosedur kerja. Sedangkan pH yang dihasilkan adalah 6, karena pH pada kulit mata manusia sekitar 6-9, maka pH dapat dikatakan memenuhi standar. Sementara daya lekat yang dihasilkan adalah lengket dan berminyak sehingga kurang layak bila digunakan khususnya pada kaum remaja. warna yang dihasilkannya pun cenderung lebih mencolok hal ini disebabkan karena memiliki konsentrasi air yang terlalu sedikit yaitu hanya 31% dari total sediaan. Karena pada formulasi pertama yang menggunakan persentase terendah dari konsentrasi sediaan memiliki hasil yang kurang menguntungkan bila dipakai, maka dibuat formulasi yang kedua dengan mengacu pada persentase tertinggi dari konsentrasi masingmasing bahan yaitu asam stearat 10%, triaetanolamina 2%, vaselin album 15%, lanolin anhidrat 5%, propilenglikol 5%, aquadest 63%, serta nipagin 0,1%, dengan konsentrasi air yang lebih banyak diharapkan dapat menghasilkan warna yang tidak begitu mencolok, serta dengan konsistensi yang lebih lembek. Akan tetapi dari formulasi ini sediaan yang dihasilkan justru memiliki daya lekat yang kurang lengket, dan inipuun kurang baik bila akan diganakan oleh kaum remaja. Karena belum menemukan rancangan formula terbaik maka dibuat rancangan formulasi resep ketiga dengan mempertimbangkan konsentrasi maksimum dan minimum dari kedua resep tersebut yaitu dengan asam stearat 16%, trietanolamina 4%, vaselin halus 25%, lanolin anhidrat 5%, propilenglikol 5%, air 45%, serta nipagin 0,1% memiliki homogenitas yang kurang homogen pada zat pewarna iron oxide yang digunakan, hal ini disebabkan karena pada saat proses pembuatan, iron oxide yang seharusnya dilarutkan terlebih dahulu dalam air sebelum dicampur dengan basis, namun dari segi formulasi diketahui memiliki daya lekat yang cukup baik dan dengan warna yang sesuai keinginan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dari hasil praktikum pembuatan sediaan eyeshadow dengan konsentrasi tiga resap yang berbeda dapat diambil suatu kesimpulan yaitu pertama praktikan telah mengetahui segala persiapan dan cara pembuatan sediaan kosmetik dalam formulasi teknologi sediaan emulsi eye shadow yang baik dan benar. Dan yang kedua adalah praktikan telah dapat membuat dan memformulasikan sediaan kosmetik dalam bentuk sediaan emulsi eye shadow, dengan tiga formuasi yang telah dirancang dan formulasi ketigalah yang memiliki hasil evaluasi terbaik. 5.2 Saran Dalam memformulasikan dan memproduksi suatu sediaan kosmetik krim eyeshadow warna merupakan hal yang terpenting dalam kegunaan kosmetik dekoratif tersebut, bereksperimen dalam menentukan kombinasi serta konsentrasi zat pewarna yang tepat tentu akan sangat menentukan tingkat keberhasilan dari rancangan formula tersebut. Selain warna hal lain yang tidak kalah pentingnya yaitu pH dari sediaan tersebut apakah sesuai dengan pH kulit pada mata yang tentu memiliki kadar pH lebih tinggi dari pH kulit biasa.

BAB VI DAFTAR PUSTAKA

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI press Anonim. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Anonim. 1995. Farmakope Indonesia ediai IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Pharmacopee Ned edisi V Soetopo dkk. 2002. Ilmu Resep Teori. Jakarta : Departemen Kesehatan Voigt. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : UGM Press Lachman dkk. 1994. Teori Dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta : UI Press Departemen Kesehatan RI. 1978. Formularium Nasional edisi II. Jakarta Van Duin. 1947. Ilmu Resep. Jakarta : Soeroengan Anonim. Farmakope Herbal Anief. 2006. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM Pres Darijanto, Sasanti T et al. Pengembangan Sediaan Kosmetika Asam Glikolat dalam Bentuk Krim dan Gel serta Uji Stabilitas Sediaan. Jurnal Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXXII, No. 1, Maret 2007.