Anda di halaman 1dari 49

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Penyakit dan gangguan saluran napas masih merupakan masalah terbesar di Indonesia pada saat ini. Angka kesakitan dan kematian saluran napas dan paru seperti infeksi saluran napas akut, tuberculosis, asma dan bronchitis masih menduduki peringkat tertinggi. Infeksi merupakan penyebab tersering (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 1986). Kemajuan dalam bidang diagnostik dan pengobatan menyebabkan turunnya insidens penyakit saluran napas akibat infeksi. Di lain pihak kemajuan dalam bidang industri dan transportasi menimbulkan masalah baru dalam bidang kesehatan yaitu polusi udara. Bertambahnya umur rata-rata penduduk, banyaknya jumlah penduduk yang merokok serta adanya polusi udara meningkatkan jumlah penderita bronchitis kronik. Bronchitis kronik termasuk kelompok penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Di Negara maju penyakit ini merupakan masalah kesehatan yang besar, karena bertambahnya jumlah penderita dari tahun ke tahun. Pada tahun 1976 di Amerika Serikat ditemukan 1,5 juta kasus baru, dan pada tahun 1977 kematian yang disebabkan oleh PPOK berjumlah 45.000 orang. Penyakit ini merupakan penyebab kematian urutan ke-5 (Tockman MS,1985). Penyakit paru obstruktif kronik ialah penyakit saluran napas yang bersifat irreversibel dan progresif. Bila penyakit telah terjadi, maka akan berlangsung seumur hidup dan memburuk dari waktu ke waktu. Perburukan akan lebih cepat terjadi bila timbul fase-fase eksaserbasi akut. Usaha untuk menegakkan diagnosis lebih dini, pencegahan eksaserbasi akut, serta penatalaksanaan yang baik akan bermanfaat memperlambat perjalanan penyakit sehingga penderita dapat hidup lebih baik. 1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari PPOK dan bronkitis? 2. Apakah konsep dasar dari penyakit PPOK dan bronkitis? 3. Apakah konsep dasar dari penyakit PPOK dan bronkitis? 4. Bagaimana penatalaksanaan PPOK dan bronkitis?

5. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan PPOK dan bronkitis?

1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Memahami tentang BronkiPPOK serta apa yang harus dilakukan seorang perawat untuk menangani Bronkitis dan PPOK tersebut. 1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi PPOK dan Bronkhitis 2. Mengetahui Manifestasi klinik PPOK dan Bronkhitis 3. Mengetahui pemeriksaan penunjang pada PPOK dan Bronkhitis 4. Mengetahui Faktor-faktor pencetus apa saja pada PPOK dan

Bronkhitis
5. Mengetahui perjalanan penyakit pada PPOK dan Bronkhitis 6. Mengetahui penatalaksanaan pada PPOK dan Bronkhitis

1.4 Manfaat Mahasiswa dapat membuat asuhan keperawatan pada pasien dengan PPOK dan Bronkhitis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA PPOK 2.1 Definisi PPOK atau penyakit paru obstruksi kronis merupakan suatu keadaan penyakit yang dicirikan oleh terbatasnya aliran udara yang tidak reversible. Keterbatasan aliran udara biasanya bersifat progresif dan berhubungan dengan respon inflamasi abnormal paru terhadap partikel atau gas berbahaya. a. Klasifikasi PPOK yaitu: 1. Asma Suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respons trakea dan bronkus terhadap berbagai terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubahubah secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan (The American Thoracic Society, 1962). 2. Bronkhitis Kronis Adanya batuk produktif yang berlangsung 3 bulan dalam 1 tahun selama 2 tahun berturut-turut (Smeltzer, SC : 2001). 3. Emfisema Emfisema paru didefinisian sebagai suatu distensi abnormal ruang udara diluar bronkiolus terminal dengan kerusakan dinding alveolar (Smeltzer.C.S : 2001). Emfisema paru merupakan perubahan antomis parenkim paru paru yang ditandai oleh pembesaran alveolus dan duktus alveolaris serta destruksi dinding alveolus (Price.S.A : 1996) 4. Bronkhiektasis Bronkhiektasis merupakan kelainan bronkhus di mana terjadi pelebaran atau dilatasi bronkhus lokal dan permanen karena keruskan struktur dinding. Bronkhiektasis merupakan kelainan saluran pernapasan yang serinng kali tidak berdiri sendiri, akan tetapi dapat merupakan bagian dari suatu sindrom atau sebagai akibat (penyulit) dari kelainan paru yang lain. Insiden bronkhiektasis cenderung menurun dengan adanya kemajuan pengobatan antibiotik. Akan tetapi, perlu diingat bahwa insiden ini juga

dipengaruhi oleh kebiasaan merokok, polusi udara, dan kelainan kongenital. 2.2 Etiologi Factor resiko PPOK meliputi:
1. Usia

PPOK jarang menimbulkan gejala klinis sebelum usia 40 tahun. Kasuskasus yang termasuk perkecualaian yang jarang dari pernyataan umum seringkali berhubungan dengan sifat yang terkait dengan defisiensi bawaan dan antisipasi alfa-1. Ketidakmampuan ini dapat menyebabkan seseorang mengalami PPOK dan empisema pada usia sekitar 20 tahun yang akan beresiko dengan kebiasaan merokok. 2. Merokok Merupakan penyebab PPOK yang paling umum dan mencakup dari 80% kasus PPOK penyebab utamanya adalah merokok. Diduga orang dengan kebiasaan merokok 20% akan mengalami PPOK(Doll, 1994) dengan resiko perseorangan meningkat sebanding dengan peningkatan jumlah rokok yang diisapnya. Jumlah yang diisap oleh seseorang diukur dengan istilah pack years Satu pack years=20 rokok perhari selama setahun. 3. Latar belakang genetik dan keluarga Keterkaitan keluarga yang lemah tidak seperti pada asma dimana riwayat asma sebelumnya didalam keluarga sangat dipertimbangkan sebagai factor resiko yang penting. 2.3 Patofisiologi Faktor resiko utama dari PPOK adalah merokok. Komponen-komponen asap rokok merangsang perubahan pada sel-sel penghasil mukus bronkus. Selain itu, silia yang melapisi bronkus mengalami kelumpuhan atau disfungsional serta metaplasia. Perubahan-perubahan pada sel-sel penghasil mukus dan silia ini mengganggu sistem eskalator mukosiliaris dan menyebabkan penumpukan mukus kental dalam jumlah besar dan sulit

dikeluarkan dari saluran napas. Mukus berfungsi sebagai tempat persemaian mikroorganisme penyebab infeksi dan menjadi sangat purulen. Timbul peradagan yang menyebabkan edema jaringan. Proses ventilasi terutama ekspirasi yang memanjang dan sulit dilakukan akibat mukus yang kental dan adanya peradangan. Komponen-komponen asap rokok juga merangsang terjadinya peradangan kronik pada paru. Mediator-mediator peradangan secara progresif merusak struktur-struktur penunjang di paru. Akibat hilangnya elastisitas saluran udara dan kolapsnya alveolus, maka ventilasi berkurang. Saluran udara kolaps terutama pada ekspirasi karena ekspirasi normal terjadi akibat pengempisan paru secara pasif setelah inspirasi. Dengan demikian, apabila tidak terjadi recoil pasif, maka udara akan terperangkap di dalm paru dan saluran udara kolaps. 2.4 Manifestasi Klinis 1. Dispnea Pasien merasa seperti tercekik, harus berdiri (posisi inspirasi maksimal) atau duduk, berusaha penuh mengerahkan tenaga untuk bernafas
2. Percabangan trakeobronkela melebar danmemanjang selama inspirasi

tetapi sulit untuk memaksakan udara keluar dari bronkiolus yg sempit, mengalami edema, dan terisi mukus
3. Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang dibanding inspirasi

mendorong pasien duduk tegak dan menggunakan otot2 aksesori pernafasan


4. Udara terperangkap pada bag distal hiperinflasi progresif paru 5. Turbulensi arsu udara dan getaran ke bronkus Mengi ekspirasi

memanjang
6. Ketidakmampuan mencapai angka aliran udara normal terutama saat

ekspirasi FEV1 rendah 7. Serangan berlangsung selama beberapa menit sampai jam 8. Batuk produktif 9. Sesak napas

10. Batuk kronik, produksi sputum, dengan riwayat pajanangas/partikel berbahaya, disertai dengan pemeriksaan faal paru. Gejala dan tanda PPOK sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala,gejala ringan hingga berat. 11. Wheezing dan peningkatan produksi sputum. 12. Gejala bisa tidak tampak sampai kira-kira 10 tahun sejak awal merokok. Dimulai dengan sesak napas ringan dan batuk sesekali.Sejalan dengan progresifitas penyakit gejala semakin lama semakinberat. Gambaran PPOK dapat dilihat dengan adanya obstruksisaluran napas yang disebabkan oleh penyempitan saluran napaskecil dan destruksi alveoli. 13. Pada penderita dini, pemeriksaan fisik umumnya tidak dijumpaikelainan, sedangkan pada inspeksi biasanya terdapat kelainan,berupa: 14. Pursed-lips breathing (mulut setengah terkatup/mencucut)
15. Barrel chest (diameter anteroposterior dan transversal sebanding)

16. Penggunaan otot bantu napas 17. Hipertrofi otot bantu napas
18. Pelebaran sela iga

19. Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularisdi leher dan edema tungkai 20. Pada palpasi biasanya ditemukan fremitus melemah
21. Pada perkusi hipersonor dan letak diafragma rendah, auskultasisuara

pernapasan vesikuler melemah, normal atau ekspirasimemanjang yang dapat disertai dengan ronkhi atau mengi padawaktu bernapas biasa atau pada ekspirasi paksa. 22. Kelemahan badan 23. Bentuk dada tong (Barrel Chest) pada penyakit lanjut 24. Penggunaan otot bantu pernapasan 25. Suara napas melemah 26. Kadang ditemukan pernapasan paradoksal 27. Edema kaki, asites dan jari tabuh 2.5 Pemeriksaan Diagnostik Diagnosis PPOK dimulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik 6

dan foto toraks dapat menentukan PPOK Klinis. Apabila dilanjutkan dengan pemeriksaan spirometri akan dapat menentukan diagnosis PPOK sesuai derajat penyakit. Berikut adalah pemeriksaan diagnostik untuk mendiagnosa PPOK : (Soeria & Anna, 2003). A. Anamnesis 1) Adanya faktor risiko Faktor risiko yang penting adalah usia (biasanya usia pertengahan),dan adanya riwayat pajanan, baik berupa asap rokok, polusi udara, maupunpolusi tempat kerja. Kebiasaan merokok merupakan satu satunya penyebabkausal yang terpenting, jauh lebih penting dari faktor penyebab lainnya.Dalam pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan apakah pasienmerupakan seorang perokok aktif, perokok pasif, atau bekas perokok.Penentuan derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaituperkalian jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lamamerokok dalam tahun. Interpretasi hasilnya adalah derajat ringan (0-200),sedang (200-600), dan berat ( >600). 2) Gejala klinis Gejala PPOK terutama berkaitan dengan respirasi. Keluhan respirasi ini harus diperiksa dengan teliti karena seringkali dianggap sebagai gejala yang biasa terjadi pada proses penuaan. Batuk kronik adalah batuk hilang timbul selama 3 bulan yang tidak hilang dengan pengobatan yang diberikan. Kadang-kadang pasien menyatakan hanya berdahak terus menerus tanpa disertai batuk. Selain itu, Sesak napas merupakan gejala yang sering dikeluhkan pasien terutama pada saat melakukan aktivitas. Seringkali pasien sudah mengalami adaptasi dengan sesak napas yang bersifat progressif lambat sehingga sesak ini tidak dikeluhkan. Untuk menilai kuantitas sesak napas terhadap kualitas hidup digunakan ukuran sesak napas sesuai skala sesak menurut British Medical Research Council (MRC) (Tabel 1). Tabel 1. Skala Sesak Menurut British Medical Research Council (MRC) Skala Sesak 1 2 3 Keluhan Sesak Berkaitan dengan aktivitas Tidak ada sesak dengan aktivitas berat Sesak mulai timbul jika berjalan cepat atau naik tangga 1 tingkat Berjalan lebih lambat karena merasa sesak

4 5

Sesak timbul jika berjalan 100 meter atau setelah beberapa menit Sesak bila mandi atau berpakaian

B. Pemeriksaan Fisik 1) Inspeksi a. Pursed - lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu) b. Barrel chest (diameter antero - posterior dan transversal sebanding) c. Penggunaan otot bantu napas d. Hipertropi otot bantu napas e. Pelebaran sela iga
f. Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis leher

dan edema tungkai g. Penampilan pink puffer (Gambaran yang khas pada emfisema,penderita kurus, kulit kemerahan dan pernapasan pursed - lipsbreathing) atau blue bloater (Gambaran khas pada bronkitis kronik,penderita gemuk sianosis, terdapat edema tungkai dan ronki basah dibasal paru, sianosis sentral dan perifer) 2) Palpasi Pada emfisema fremitus melemah, sela iga melebar 3) Perkusi Pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil, letak diafragma rendah, hepar terdorong ke bawah 4) Auskultasi a. Suara napas vesikuler normal, atau melemah b. terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau padaekspirasi paksa c. ekspirasi memanjang d. bunyi jantung terdengar jauh

C. Pemeriksaan Penunjang a. Spirometri (VEP1, VEP1 prediksi, KVP, VEP1/KVP) Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi (%) dan atau VEP1/KVP(%). VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilaiberatnya PPOK dan memantau perjalanan penyakit. Apabila spirometri tidaktersedia atau tidak mungkin dilakukan, APE meter walaupun kurang tepat,dapat dipakai sebagai alternatif dengan memantau variabilitas harian pagidan sore, tidak lebih dari 20%. b. Radiologi (foto toraks) Hasil pemeriksaan radiologis dapat ditemukan kelainan paru berupa hiperinflasi atau hiperlusen, diafragma mendatar, corakan bronkovaskuler meningkat, jantung pendulum, dan ruang retrosternal melebar. Meskipun kadang-kadang hasil pemeriksaan radiologis masih normal pada PPOK ringan tetapi pemeriksaan radiologis ini berfungsi juga untuk menyingkirkan diagnosis penyakit paru lainnya atau menyingkirkan diagnosis banding dari keluhan pasien c. Laboratorium darah rutin d. Analisa gas darah e. Mikrobiologi sputum Diperlukan untuk pemilihan antibiotik bila terjadi eksaserbasi

Meskipun kadang-kadang hasil pemeriksaan radiologis masih normal pada PPOK ringan tetapi pemeriksaan radiologis ini berfungsi juga untuk menyingkirkan diagnosis penyakit paru lainnya atau menyingkirkan diagnosis banding dari keluhan pasien. Hasil pemeriksaan radiologis dapat berupa kelainan: a) Paru hiperinflasi atau hiperlusen b) Diafragma mendatar c) Corakan bronkovaskuler meningkat d) Bulla e) Jantung pendulum

Dinyatakan PPOK (secara klinis) apabila sekurang-kurangnya pada anamnesis ditemukan adanya riwayat pajanan faktor risiko disertai batuk kronik dan berdahak dengan sesak nafas terutama pada saat melakukan aktivitas pada seseorang yang berusia pertengahan atau yang lebih tua.

2.6 Penatalaksanaan Penatalaksanaan dari PPOK adalah sebagai berikut : a. Stop merokok Strategi yang dianjurkan : 1. Ask: lakukan identifikasi perokok pada setiap kunjungan 2. Advice: terangkan tentang keburukan/dampak merokok sehingga pasien didesak mau berhenti merokok. 3. Assess: yakinkan pasien untuk berhenti merokok. 4. Assist: bantu pasien dalam program berhenti merokok. 5. Arrange: jadwalkan kontak usaha berikutnya yang lebih intensif, bila usaha pertama masih belum memuaskan. 6. Pasien PPOK yang merokok akan mengalami penurunan VEP1 > 50 ml/tahun (pada orang normal yang tidak merokok, penurunan VEP1 hanya 18 ml/tahun). 7. Saat ini terdapat beberapa usaha berhenti merokok seperti : pemakaian nikotin gum, patch, spray/inhaler. obat-obat klonidin, bupropion. hipnosis, dll. b. Terapi farmakologis 1. Bronkodilator Pengobatan utama PPOK adalah dengan obat bronkodilator. Bronkodilator utama yang sering dipakai adalah : agonis-b, antikolinergik, methyl-xanthin. a) Pemberian secara inhalasi (metered dose inhaler) lebih menguntungkan daripada cara oral atau parenteral karena efeknya cepat pada organ paru dan efek sampingnya minimal. b) Pemberian secara MDI lebih disarankan daripada pemberian cara nebulizer Bronkodilator kerja cepat (fenoterol, salbutamol, terbutalin) lebih menguntungkan daripada yang keja lambat (salmeterol, formeterol), c) Efek bronkodilator kereja cepat sudah dimulai dalam beberapa menit dan efek puncaknya terjadi setelah 15 - 20 menit dan berakhir setelah 4 - 5 jam. d) Sedangkan bronkodilator kerja lambat banyak dipakai secara teratur dan lama, efek puncaknya setelah 30 - 90 menit, tapi ia mempunyai waktu kerja yang sedikit lebih lama yaitu 6 - 8 jam. 10

e) Pemakaian teofilin tidak banyak, karena batas antara dosis terapeutik dan dosis toksiknya terlalu dekat. f) Kombinasi yang terbanyak dipakai untuk PPOK adalah agonis-b kerja cepat (fenoterol, salbutamol), dan antikolinergik (ipratropium) 2. Steroid Terapi PPOK dengan steroid masih kontroversial. Walaupun begitu steroid masih dipakai secara terbatas dan biasanya diberikan setelah terapi bronkodilator masih belum memberikan hasil yang optimal. Pemberian steroid oral jangka panjang tidak direkomendasikan karena tidak terdapat bukti perbaikan dari pemberian steroid jangka panjang, malah terdapat efek samping steroid sistemik seperti miopati yang membuat kelemahan otot sehingga menurunkan fungsi paru dan bisa juga terjadi kegagalan pernapasan pada pasien PPOK lanjut. c. Terapi oksigen Pemberian O2 bertujuan untuk mencegah kerusakan sel-sel atau organ. Oksigen diberikan terutama pada waktu : 1) Keadaan eksaserbasi akut 2) Keadaan waktu beraktivitas terus-menerus (jangka panjang) pada PPOK berat yakni > 15 jam / hari, dosis 1-2 L/m dengan nasal kanul pada keadaan : a. Pa02 < 55 mmHg atau Sa 02 < 88 % b. Pa02 55 - 60 mmHg atau Sa02 89 % di mana terdapat juga hipertensi- pulmonal, edema perifer tanda gagal jantung, dan polisitemia (Ht > 55 %). Target pemberian terapi O2 adalah meningkatkan PaO2 sedikitnya menjadi 60 mmHg (dalam keadaan istirahat pada tempat permukaan laut) dan / atau SaO2 sedikitnya menjadi 90 % tanpa menurunkan PH jadi < 7,25 atau meningkatkan PaCO2 > 10 mmHg. d. Ventilasi mekanik Indikasi penggunaan ventilasi mekanik pada keadaan PPOK adalah bila terdapat gagal napas akut dan atau kronik. 1) Ventilasi mekanik tanpa intubasi dalam bentuk NIPPV (noninvasive intermittent possitive pressure) Jenis yang banyak dipakai saat ini adalah : a. BIPAP (Bilevel Positive Airway Pressure) b.CPAP (Continuous Possitive Airway Pressure). 2) Ventilasi mekanik dengan intubasi Indikasi pemakaian ventilasi mekanik di sini di samping gagal napas, 11

bisa juga pada keadaan sakit lain yang mengancam jiwa seperti : asidosis berat a. hipoksemia berat (PaO2 < 40 mmHg) atau hiperkapnia berat (PaCO2 > 60 mmHg) b. Penurunan kesadaran, syok, septicemia kegagalan pada pemakaian NIPPV. e. Rehabilitasi Program rehabilitasi di sini bertujuan : 1. mengurangi keluhan dan gejala 2. meningkatkan kualitas hidup 3. meningkatkan toleransi aktivitas fisis dan psikis Terdapat beberapa aktivitas rehabilitasi : (1) Latihan Fisik a. Latihan peningkatan kemampuan otot-otot pernapasan. Otot pernapasan pasien PPOK banyak yang lelah, sehingga perlu ditingkatkan untuk mendapatkan nilai ventilasi yang maksimal b. Latihan endurance.. Latihan berjalan kaki banyak dipakai tapi latihan naik tangga, bersepeda dll juga dapat dilakukan. (2) Latihan pernapasan Tujuannya adalah bernapas yang efektif dengan memakai otot pernapasan (diafragma dan otot dada) seoptimal mungkin, sehingga ventilasi lebih baik, Latihan pernapasan [pursed-lip breathing dan diaphragmatic breathing. a. Pursed-lip breathing 1. duduk tegak dengan otot leher dan bahu dalam keadaan rileks. 2. Tarik napas secara perlahan melalui hidung selama 2 hitungan. 3. Hembuskan napas secara perlahan melalui mulut Anda [dengan gerakan seperti meniup lilin] selama 4 hitungan atau lebih. b. Diaphragmatic breathing 1. duduk atau berbaring dalam posisi nyaman dengan kepala bersandar dan lutut ditekuk. 2. Otot leher dan bahu dalam keadaan rileks. 3. Tempatkan salah satu tangan di uluhati dan tangan lainnya di dada. 4. Tarik napas secara perlahan melalui hidung selama 2 hitungan. 5. Lakukan dengan cara yang benar sampai Anda merasakan otot uluhati dalam keadaan rileks dan mengembang dan posisi dada tidak berubah. 6. Kencangkan otot uluhati dan hembuskan napas melalui mulut 4 hitungan. Anda akan merasa otot uluhati mengempis.

12

7. Perkusi dada, untuk membantu mengeluarakan dahak/lendir yang berlebihan dari paru. Dengan cara : rapatkan kelima jari tangan Anda membentuk mangkuk lalu tepuk-tepuk dada dan punggung [dengan atau tanpa bantuan orang lain] secara lembut. (3) Rehabilitasi psikososial Pasien PPOK sering mengalami depresi dan banyak kehilangan waktu untuk kerja, sehingga perlu terapi psikologis dan nasihat untuk aktivitas sosialnya. Jika diperlukan, pasien dapat diberikan obat-obat anti depresi. f. Nutrisi 1. Pemberian nutrisi hendaknya seimbang berdasarkan kalori yang dibutuhkan 2. Di samping itu porsi makanan yang disajikan hendaknya kecil saja tapi lebih sering. 3. Komponen nutrisi lain yang juga dianjurkan adalah rendah Na, dan tinggi pada Mg, vitamin C, vitamin E. 4. Makanan sebaiknya segar (natural) dan disertai dengan buah serta sayuran. g. Pembedahan Biasanya dilakukan pada PPOK berat dan tindakan operasi diambil bila diyakini dapat memperbaiki fungsi paru atau gerakan mekanik paru. h. Vaksinasi 1. Vaksinasi terhadap influenza 2. Vaksinasi terhadap pneumokokus. i. Edukasi Pasien dengan batuk kronik dan sesak napas yang pregresif perlu mengetahui tentang: 1) 2) 3) 4) 5) keadaan status kesehatannya (tingkat penyakit dan pengobatannya) bagaimana dapat melakukan aktivitas yang terbatas jadi lebih optimal bagaimana mencegah perburukan penyakit (eksaserbasi akut) bagaimana cara berhenti merokok atau menjauhi polusi udara menerangkan tentang penyakit PPOK secara keseluruhan (patofisiologi, terapi, penatalaksanaan sendiri terhadap sesak napas, cegah eksaserbasi, kapan minta bantuan, dll) dan target pengobatan yang diberikan.

Dengan hasil edukasi ini pasien lebih menyadari tentang penyakitnya, sehingga akan mengurangi rasa takut dan cemasnya. Edukasi juga diberikan kepada keluarga pasien supaya menyadari keadaan sakit pasien, sehingga pasien mendapat dukungan penuh secara moril. Edukasi diberikan pada setiap kali kunjungan dan dilakukan secara menyeluruh oleh tim yang terkait seperti

13

dokter, perawat, fisioterapi, nutrisionis, psikoterapis; pekerja sosial, dan lainlain. 2.7 Komplikasi 1. Hipoxemia Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55mmHg, dengan nilai saturasi Oksigen <85%. Pada awalnya klien akanmengalami perubahan mood, penurunan konsentrasi dan pelupa. Padatahap lanjut timbul cyanosis. 2. Asidosis Respiratory Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO (hiperkapnia). Tanda yangmuncul antara lain : nyeri kepala, fatique, lethargi, dizzines, tachipnea. 3. Infeksi Respiratory Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksimukus, peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edemamukosa. Terbatasnya aliran udara akan meningkatkan kerja nafas dantimbulnya dyspnea. 4. Gagal jantung Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru),harus diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat.Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan bronchitis kronis,tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini. 5. Cardiac Disritmia Timbul akibat dari hipoxemia, penyakit jantung lain, efek obat atauasidosis respiratory 6. Status Asmatikus Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthmabronchial. Penyakit ini sangat berat, potensial mengancam kehidupandan seringkali tidak berespon terhadap therapi yang biasa diberikan.Penggunaan otot bantu pernafasan dan distensi vena leher seringkaliterlihat 2.8 Prognosis

14

Indikator : umur dan keparahan Jika ada hipoksia dan cor pulmonale prognosis jelak Dyspnea, obstruksi berat saluran nafas, FEV1 < 0,75 L (20 %) -. angka kematian meningkat, 50 % pasien berisiko meninggal dalam waktu 5 tahun

15

2.9 Web of Causation Polusi bahan iritan (asap) atau rokok, riwayat kesehatan ISPA Iritasi jalan nafas Hiperekskresin lendir dan inflamasi peradangan

Peningkatan sel-sel goblet

Penurunan silia

Peningkatan produksi sputum

Bronkiales menyempit dan tersumbat

PPOK
Batuk tidak efektif

Nafsu makan

BB

drastis

Nafas pendek Gangguan pola nafas Pola nafas tidak efektif

Obstruksi alveoli Alveoli kolaps Ketidakefektifan bersihan jalan nafas Penurunan ventilasi paru Kerusakan camp.gas Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Hipoksemia Gang.pertukaran gas

ADL dibantu Kelelahan Intoleransi aktivitas

16

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian 1) Identitas Klien Klien PPOK sering dijumpai pada laki-laki usia 30-40 tahun. Penyakit ini lebih sering ditemui pada laki-laki dibandingkan wanita. 2) Riwayat Kesehatan a. Keluhan utama Sesak nafas yang sudah berlangsung lama sampai bertahun-tahun dan semakin berat setelah beraktivitas. Keluhan lainnya adalah batuk kronis, dahak berwarna hijau, dan badan lemah. b. Riwayat kesehatan sekarang Klien dengan serangan PPOK datang mencari pertolongan terutama dengan keluhan sesak nafas, kemudian diikuti dengan gejala-gejala lain seperti wheezing, penggunaan otot bantu pernafasan, terjadi penumpukan sekret, dan sekresi yang sangat banyak sehingga menyumbat jalan nafas. c. Riwayat kesehatan dahulu Pada PPOK dianggap sebagai penyakit yang berhubungan dengan interaksi genetik dengan lingkungan. Misalnya pada orang yang sering merokok, polusi udara dan paparan di tempat kerja. d. Riwayat kesehatan keluarga Kelainan alergi menunjukkan suatu predisposisi keturunan tertentu. 3) Pemeriksaan Fisik a. Review of System (1) Inspeksi Pada klien dengan PPOK, terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan, serta penggunaan otot bantu nafas (sternokleidomastoid). Pada saat inspeksi, biasanya dapat terlihat klien mempunyai bentuk dada barrel chest akibat udara yang terperangkap, penipisan massa otot, bernafas dengan bibir yang dirapatkan, dan pernapasan abnormal yang tidak efektif. Pada tahap lanjut, dispnea terjadi pada saat beraktifitas, bahkan pada beraktivitas kehidupan sehari-hari seperti makan dan mandi. Pengkajian produk produktif dengan sputum purulen mengindikasikan adanya tanda pertama infeksi pernafasan.

17

(2) Palpasi a. Ekspansi dada meningkat b. Taktil fremitus biasanya menurun c. Sela iga melebar (3) Perkusi a. Didapatkan suara normal sampai hipersonor pada seluruh lapang paru b. Diafragma mendatar c. Peranjakan hati mengecil d. Batas paru hati lebih rendah e. Pekak jantung berkurang (4) Auskultasi a. Sering didapatkan adanya suara nafas ronkhi dan wheezing sesuai tingkat keparahan obstruktif pada bronkhiolus b. Suara nafas vesikuler melemah c. Ekspirasi memanjang 4) Pemeriksaan Penunjang a. Airway 1. kaji dan pertahankan jalan napas 2. lakukan head tilt, chin lift jika perlu 3. gunakan bantuan jalan napas jika perlu 4. pertimbangkan untuk segera merujuk ke ahli anaestesi b. Breathing 1. kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter 2. lakukan pemeriksaan arterial gas darah untuk mengkaji pH, PaCO2 and PaO2
3. jika pH arteri <7.2, pasien lebih menguntungkan menggunakan non-

invasive ventilation (NIV) dan rujukan harus dibuat sesuai dengan kebijakan setempat 4. kontrol terapi oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen >92% 5. monitoring secara ketat PaCO2 6. berikan nebuliser salbutamol 5 mg dan ipratropium 500 mcg melalui oksigen

18

7. berikan prednisolone 30 mg per oral atau hydrocortisone 100 mg IV setiap 6 jam. 8. Catat temperature 9. Lakukan pemeriksaan untuk mencari tanda: a. Sianosis b. Clubbing c. pursed lip breathing d. kesimetrisan pergerakan e. retraksi interkosta f. deviasi trachea 10. Dengarkan adanya: a. Wheezing b. Crackles c. Penurunan aliran udara d. Silent chest 11. Lakukan pemeriksaan torak untuk melihat a. Pneumothorak b. Konsolidasi c. Tanda gagal jantung d. Jika ada bukti infeksi biasanya disebabkan oleh bakteri pathogen diantaranya: e. streptococcus pneumoniae f. haemophilus influenzae g. moraxella catarrhalis c. Circulation 1. kaji heart rate dan ritme 2. catat tekanan darah

19

3. periksa EKG 4. lakukan intake output, dan pemeriksaan darah lengkap 5. lakukan pemasangan IV akses 6. jika potassium rendah maka berika cairan potassium 7. lakukan pembatasan cairan 8. pertimbangkan pemberian heparin subkutan 9. Disability
10. Kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU 11. Penurunan kesadaran menunjukan pasien membutuhkan pertolongan

medis dengan segera dan dikirim ke ICU 12. Exposure


13. Jika pasien stabil lakukan pemeriksaan riwayat kesehatan dan

pemeriksaan fisik lainnya 3.2 Diagnosa Keperawatan Prioritas keperawatan 1. Mempertahankan patensi jalan napas. 2. Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas. 3. Mencegah komplikasi, memperlamnbat memburuknya kondisi. 4. Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan retensi CO2,

peningkatan sekresi, peningkatan pernapsan, dan proses penyakit. 2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan adanya bronkhokonstriksi, akumulasi sekret jalan napas, dan menurunnya kemampuan batuk efektif. 3. Risiko tinggi infeksi pernapasan (pneumonia) yang berhubungan dengan akumulasi sekret jalan napas dan menurunnya kemampuan batuk efektif. 4. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan nafsu makan.

20

5. Gangguan ADL (Activity Daily Living) yang berhubungan dengan

kelemahan fisik umum dan keletihan. 6. Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan kurangnya sosialisasi, kecemasan, depresi, tingkat aktivitas rendah, dan ketidakmampuan untuk bekerja. 7. Defisit pengetahuan tentang prosedur perawatan diri yang akan dilakukan di rumah. 3.3 Intervensi dan Rasional Gangguan pertukaran gas b.d. retensi CO2, peningkatan sekresi, peningkatan pernapsan, dan proses penyakit. Tujuan: Dalam 3 x 24 jam setelah diberikan intervensi pertukaran gas membaik. Kriteria hasil: Frekuensi napas 16-20 x/menit. Frekuensi nadi 70-90 x/menit. Warna kulit normal. Tidak nada dyspnea. GDA dalam batas normal. Intervensi Kaji keefektifan jalan napas. Rasional Bronkhospasme didengar dengan pembekuan mengi mukus

dideteksi saat

ketika

diauskultasi Peningkatan dengan

stetoskop.

sejalan

penurunan aksi mukosilaris menunjang penurunan lebih lanjut diameter bronchi dan mengakibatkan penurunan aliran udara serta penurunan pertukaran gas, yang diperburuk oleh kehilangan daya Kolaborasi untuk elastisitas paru. pemberian Terapi aerosol membantu

bronkodilator secara aerosol.

mengencerkan sekresi sehingga dapat dibuang. Bronkodilator yang dihirup sering ditambahkan ke dalam nebulizer

21

untuk memberikan aksi bronkodilator langsung pada jalan napas, dengan demikian memperbaiki pertukaran gas. Tindakan inhalasi atau aerosol harus diberikan sebelum waktu makan untuk memperbaiki ventilasi paru dan dengan demikian mengurangi keletihan yang Lakukan fisioterapi dada. menyertai aktivitas makan. Setelah inhalasi bronkodilator nebulizer, meminum klien air disarankan putih sekret. untuk untuk lebih

mengencerkan

Kemudian

membatukkan dengan ekspulsif atau postural drainase akan membantu dalam pengeluaran sekresi. Klien dibantu untuk melakukan hal ini dengan cara yang tidak membuatnya keletihan. Kolaborasi untuk pemantauan analisis Sebagai bahan evaluasi setelah gas arteri. Kolaborasi nasal. pemberian oksigen melakukan intervensi. via Oksigen diberikan ketika kemanjuran terapi oksigen terjadi dan

hipoksemia. Perawat harus memantau memastikan bahwa klien patuh dalam menggunakan alat pemberi oksigen. Klien diinstruksikan tentang penggunaan oksigen yang tepat dan tentang bahaya peningkatan laju aliran oksigen tanpa ada arahan yang eksplisit dari perawat.

Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. adanya bronkhokonstriksi, akumulasi sekret jalan napas, dan menurunnya kemampuan batuk efektif. Tujuan: Dalam Waktu 3 X 24 Jam Setelah Diberikan Intervensi Jalan Napas Kembali Efektif Ditandai Dengan Berkurangnya Kuanttas Dan Viskositas Sputum

22

Untuk Memperbaiki Ventilasi Paru Dan Pertukaran Gas. Kriteria hasil: Dapat menyatakan dan mendemonstrasikan batuk efektif. Tidak ada suara napas tambahan. Wheezing (-). Pernapsan klien normal (16-20 x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu napas. Intervensi Rasional Kaji warna, kekentalan, dan jumlah Karakteristik sputum dapat sputum. Atur posisi semifowler. Ajarkan cara batuk efektif. menunjukkan berat ringannya obstruksi. Menigkatkan ekspansi paru. Batuk yang terkontrol dan efektif dapat memudahkan pengeluaran dari sekret Bantu klien latihan napas dalam. yang melekat di jalan napas. Ventilasi maksimal membuka lumen jalan napas dan meningkatkan gerakan sekret ke dalam jalan napas besar untuk dikeluarkan. Pertahankan intake cairan sedikitnya Hidrasi yang 2500 ml/hari kecuali tidak mengencerkan mengefektifkan napas. Alasan lain untuk adalah memperbanyak kecenderungan air. dapat intakecairan meningkatkan membantu, diindikasikan. adekuat sekret pembersihan membantu dan jalan

klien bernapas melaliu mulu, yang kehilangan uap ini Menghirup air yang diuapkan juga karena melembabkan percabangan bronkhial. Lakukan fisioterapi dada dan teknik Postural drainase dengan perkusi dan postural drainase, perkusi, dan fibrasi vibrasi menggunakan bantuan gaya dada. gravitasi untuk membantu menaikkan serkesi sehingga dapat dikeluarkan atau diisap dengan mudah. Terapi yang dapat mendilatasi bronkhiolus seperti

23

terapi

aerosol,

bronkodilator

aerosolisasi, atau tindakan pernapasan tekanan positif intermiten (IPPB), harus diberikan sebelum postural drainase karena sekresi yang akan mengalir lebih mudah setelah bernapas percabangan Klien batuk dan trakeobronkhial diinstruksikan berdilatasi.

efektif untuk membantu mengeluarkan sekresi. Postural drainase membuang terkumpul sekresi sepanjang yang malam biasanya telah dan dilakukan kerika klien bangun, untuk

sebelum istirahat, untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hidup. Kolaborasi pemberian obat: Bronkodilator Nebulizer (via inhalasi) dengan Pemberian bronkodilator via inhalasi golongan terbulatine 0,25 mg, fenoterol akan langsung menuju area bronkhus HBr 0,1% solution, orciprenaline sulfur yang mengalami spasme sehingga lebih 0,75 mg. Agen mukolitik dan ekspektoran. cepat berdilatasi. Agen mukolitik menurunkan

kekentelan dan perlengketan sekret paru untuk memudahkan pembersihan. Agen ekspektoran akan memudahkan sekret lepas dari perlengketan dari jalan Kortikosteroid. napas. Kortikosteroid berguna dengan

keterlibatan luas pada hipoksemia dan menurunkan reaksi inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronkhus. Risiko tinggi infeksi pernapsan (pneumonia) b.d. akumulasi sekret jalan napas dan

24

menurunnya kemampuan batuk efektif. Tujuan: Infeksi bronkhopulmonal dapat dikendalikan untuk menghilangkan edema inflamasi dan untuk memungkinkan penyembuhan aksi siliaris normal. Infeksi pernapasan minor yang tidak membrikan dampak pada individu yang memiliki paru normal, dapat berbahaya bagi klien dengan PPOK. Kriteria hasil: Frekunsi napas 16-20 x/menit. Frekuensi nadi 70-90 x/menit. Kemampuan batuk efektif dapat optimal. Tidak ada tanda peningkatan suhu tubuh. Intervensi Rasional Kaji ekmampuan batuk klien. Batuk yang berkaitan dengan infeksi bronkhial melalui siklus yang ganas dengan trauma dan kerusakan pada paru lebih lanjut, kemajuan bronkhospasme, lebih lanjut gejala, dan terhadap dan gagal peningkatan peningkatan mengganggu merupakan Monitor adanya perubahan

kerentanan infeksi bronkhial. Infeksi fungsi penyebab paru umum

napas pada klien dengan PPOK. yang Klien diinstruksikan untuk melaporkan perubahan warna, karena pengeluaran sputum purulen atau perubaha karakter, warna, atau jumlah adalah tanda dari infeksi. Segala gejala yang emmburuk di dada, (peningkatan kesesakan

mengarah pada tanda-tanda infeksi dengan segera ika sputum mengalami pernapasan.

penngkatan dyspnea, dan keletihan) juga menandakan infeksi dan harus dilaporkan. Infeksi virus sangat berbahaya bagi klien ini karena infeksi

25

ini terlalu sering disertai oleh infeksi yang disebabkan oleh organism seperti S. Pneumoniae dan H. Influenzae. Ajarkan latihan bernapas dan training Latihan bernapas, sebagian besar pernapasan. individu dengan PPOK bernapas dalam dari dada bagian atas dengan cara yang tepat dan tidak efesien. Jenis bernapas dengan dada atas ini diubah menjadi bernapas diafragmatik dengan latihan. Training pernapasan frekuensi diafragmatiuk pernapasan, mengurangu

meningkatkan ventilasi alveolar, dan kadang membantu mengeluarkan udara sebanyak mungkin selama ekspirasi. Bernapas dengan bibir yang dirapatkan melambatkan ekspirasi, mencegah kolaps unit paru, dan membantu klien untuk mengendalikan frekuensi serta kedalaman pernapasan dan untuk rileks, yang memungkinkan klien untuk mencapai kontrol terhadap dispnea dan perasaan panik. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d. peningkatan metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan sekunder terhadap demam. Batasan karakteristik: mengatakan anoreksia, makan kurang 40% dari yang seharusnya, penurunan BB dan mengeluh lemah. Kriteria hasil: Klien mendemonstrasikan intake makanan yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan dan metabolisme tubuh. Intake makanan meningkat, tidak ada penurunan Bb lebih lanjut, menyatakan perasaan sejahtera. Intervensi Rasional Pantau: presentase jumlah makanan Mengidentifikasi

kemajuanatau

26

yang dikonsumsi setiap kali makan, penyimpangan timbang Bb tiap hari, hasil pemeriksaan diharapkan.

dari

sasaran

yang

protein total, albumin, dan osmolalitas. Berikan perawatan mulut tiap 4 jam Bau yang tidak menyenangkan dapat jika sputum berbau busuk. Pertahankan emmpengaruhi nafsu makan. kesegaran ruangan. Rujuk kepada ahli diet untuk emmbantu Ahli diet adalah spesialisasi dalam ilmu memilih panas. makanan yang dapat gizi yang dapat membantu kalori dan klien dan berat memenuhi kebutuhan gizi selama sakit memnuhi sakitnya, Dukung klien untuk kebutuhan usia, tinggi,

kebutuhan gizi sesuai dengan keadaan badannya. mengonsumsi Peningkatan suhu tubuh meningkatkan metabolisme, intake protein, vitamin, mineral, dan kalori yang adekuat penting untuk aktivitas anabolik dan

makanan tinggi kalori tinggi protein.

sintesis antibodi. Berikan makanan dengan porsi sedikit Mekanan porsi sedikit tapi sering tapi sering dan mudah dikunyah jika memerlukan lebih sedikit energi. ada sesak napas berat. Gangguan ADL (Activity Daily Living) b.d. kelemahan fisik umum dan keletihan. Tujuan: Infeksi bronkhopulmonal dapat dikendalikan untuk menghasilkan edema inflamasi dan untuk memungkinkan penyembuhan aksi siliaris normal. Infeksi pernapasan minor yang tidak memberikan dampak pada individu yang memiliki paru normal, dapat berbahaya bagi klien dengan PPOK. Kriteria hasil: Frekunsi napas 16-20 x/menit. Frekuensi nadi 70-90 x/menit. Kemampuan batuk efektif dapat optimal. Tidak ada tanda peningkatan suhu tubuh. Intervensi Rasional Kaji kemampuan klien dalam Menjadi data dasar dalam melakukan melakukan aktivitas. intervensi selanjtnya. Atur cara beraktivitas klien sesuai Klien dengan PPOK mengalami

27

kemampuan.

penurunan toleransi terhadap olahraga pada periode yang pasti dalam satu hari. Hal ini terutama tampak nyata pada saat bangun di pagi hari, karena sekresi bronkhial dan edema menumpuk dalam pau selama malam hari ketika indidu berbaring. Klien sering tidak dapat mandi Aktivitas dan mengenakan yang pakaian. membutuhkan

mengangkat lengan ke atas setinggi thoraks dapat menyebabkan keletihan dan distress pernapasan. Aktivitas ini mungkin dapat ditoleransi lebih baik setelah klien bangun dan bergerakgerak sekitar setengah jam atau lebih. Karena keterbatasan ini, klien harus ikut serta dalam perencanaan aktivitas perawatan diri dengan perawat dan dalam menentukan waktu yang paling tepat untuk mandi dan berpakaian. Minuman hangat saat bangun tidur, dibatrengi mengeluarkan dengan sekresi pernapasan dan akan diafragmatik akan membantu untuk mempersingkat periode kesulitan yang Ajarkan latihan otot-otot pernapasan. dialami saat bangun pagi. Setelah klien mempelajari pernapasan diafragmatik, suatu program pelatihan otot-otot pernapasan dapat diberikan untuk membuat menguatkan otot-otot yang digunakan ini dalam bernapas. klien Program mengharuskan

bernapas terhadap suatu tahanan selama 28

10-15 menit setiap hari. Resisten secara bertahap ditingkatkan dan otot-otot pernapsan membutuhkan waktu yang lama dank lien diinstruksikan untuk melanjutkan latihan dirumah. Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan kurangnya sosialisasi, kecemasan, depresi, tingkat aktivitas rendah, dan ketidakmampuan untuk bekerja. Tujuan: Mendapatkan mekanisme koping yang efektif dan ikut serta dalam program rehabilisasi paru. Intervensi Rasional Mengadopsi sikap yang penuh harapan Suatu perasaan dan memberikan semangat ditujukan pada klien. Dorong aktivitas sampai dikerjakan dan

harapan

atau

yang memberikan klien sesuatu yang dapat bukan sikap yang merasa kalah tidak berdaya. tingkat Aktivitas mengurangi ketegangan dan mengurangi tingkat dispnea sejalan dan

toleransi gejala.

dengan klien menjadi terkondisi. Ajarkan teknik relaksasi atau berikan Relaksasi mengurangi stress rekaman untuk relaksasi bagi klien. Daftarkan klien pada mengatasi ketidakmampuannya. program Program rehabilitasi paru menunjukkan dapat

ansietas serta membantu klien untuk telah

rehabilitasi pulmonari bila tersedia.

meningkatkan

perbaikan subjektif status dan harga diri pasien juga meningkatkan toleransi latihan serta mengurangi hospitalisasi. Sarankan konseling vokasional untuk Modifikasi pekerjaan mungkin harus menggali kesempatan alternatif dibuat dan sumber-sumber yang sesuai digunakan untuk mencapai tujuan ini. pekerjaan (jika memungkinkan).

Defisit pengetahuan tentang prosedur perawatan diri yang akan dilakukan di rumah. Tujuan: klien dan keluarga mengetahui intervensi mandiri dalam melakukan perawatan di rumah.

29

Kriteria hasil: klien dan keluarga mampu mengulang apa yang telah diajarkan. Intervensi Rasional Kaji tingkat pengetahuan klien dan Menjadi data dasar bagi perawat untuk keluarga tentang perawatan rumah. Tetapkan tujuan yang realistik. menjelaskan sesuai tigkat pengetahuan yang dimiliki. Klien dengan PPOK dapat memperbaiki kualitas hidupnya dengan mengetahui tentang proses penyakit yang dialaminya. Salah satu faktor-faktor penyuluhan utama adalah penjelasan tentang pentingnya penetapan; dan penerimaan tujuan jangka pendek da jangka panjang yang realistik. Jika klien sangat fungsi mungkin. toleransi Tujuan kesulitan, paru Jika objektif dari dan ringan, pengobatan adalah untuk memulihkan sebelumnya penyakitnya dan perkiraan menghilangkan gejala-gejala sebanyak objektifnya adalah untuk meningkatkan latihan dari mencegah tentang dan kehilangan fungsi paru lebih lanjut. pengobatan harus dibicarakan

direncanakan bersama klien. Klien dan mereka yang memberikan perawatan Hindari perubahan suhu yang ekstrem. harus sabar untuk mencapai tujuan ini. Klien diinstruksikan untuk menghindari panas atau dingin yang ekstrem. Panas meningkatkan suhu tubuh, karenanya meningkatkan kebutuhan oksigen tubuh; dingin cenderung meningkatkan bronkhospasme. Anjurkan agar klien untuk berhenti Merokok menekan aktivitas sel-sel merokok. pemangsa (makrofag) dan

30

mempengaruhi mekanisme perubahan siliaris dari saluran pernapsan, yaitu fungsi untuk menjaga saluran pernapasan bebas dari iritan, baktri, dan benda asing lainnya yang terhirup. Fungsi ini merupakan salah satu mekanisme pertahanan utama tubuh. Jika mekanisme pembersihan ini rusak karena merokok, aliran udara mejadi tersumbat dan udara menjadi terjebak dibalik jalan napas yang tersumbat. Distensi alveoli sangat melebar dan kapasitas paru menghilang. Merokok juga mengiritasi sel-sel goblet dan kelenjar paningkatan mukosa, menyebabkan lender. akumulasi

Akumulasi lender menyebabkan iritasi lebih lanjut, infeksi, dan kerusakan pada paru.

31

BAB IV BRONKHITIS 4.1 Definisi Bronchitis adalah suatu peradangan pada bronkus (saluran udara ke paruparu). Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna. Tetapi pada penderita yang memiliki penyakit menahun (misalnya penyakit jantung atau penyakit paru-paru). Pada usia lanjut, bronkitis bisa bersifat serius. 4.2 Etiologi
1. Bronchitis infeksiosa disebabkan oleh virus, bakteri, dan organism yang

menyerupai bakteri (Myocoplasma pneumonia dan Chlamydia). Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paruparu dan saluran pernafasan menahun. Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari: 2. Sinusitis kronis yaitu peradangan rongga hidung bagian atas
3. Bronkiektasis yaitu merupakan kelainan morfologis yang terdiri dari

pelebaran bronkus yang abnormal dan menetap disebabkan kerusakan komponen elastis dan muscular dinding bronkus ( Soeparman & Sarwono, 1990)
4. Alergi yaitu dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh. Normalnya sistem

kekebalan tubuh dirancang untuk melawan bakteri, jamur, virus dan benda asing lainnya. Namun dalam kenyataannya sistem kekebalan tubuh menimbulkan reaksi yang berlebihan pada benda asing. Reaksi yang berlebihan oleh sistem kekebalan tubuh terhadap benda asing ini menimbulkan alergi. 5. Pembesaran amandel dan adenoid pada anak-anak.
6. Bronkitis iritatif bisa disebabkan oleh:

a. Berbagai jenis debu b. Asap dari asam kuat, amonia, beberapa pelarut organik, klorin, hidrogen sulfida, sulfur dioksida dan bromin

32

c. Polusi udara yang menyebabkan iritasi ozon dan nitrogen dioksida d. Tembakau dan rokok lainnya 4.3 Patofisiologi Bronkitis adalah hipertropi kelenjar mukosa bronkus dan peningkatan jumlah sel goblet dengan infiltrasi sel-sel radang dan oedema pada mukosa sel bronkus. Pembentukan mukosa yang meningkat mengakibatkan gejala khas yaitu batuk produktif. Produksi mukus yang terus menerus mengakibatkan melemahnya aktifitas silia dan faktor fagositosis dan melemahkan mekanisme pertahanannya sendiri. Faktor etiologi utama adalah virus dan zat polutan. Padapenyempitan bronkial lebih lanjut terjadi akibat perubahan fibrotik yang terjadi dalam jalan napas. Pada waktunya mungkin terjadi perubahan paru yang menetap yang mengakibatkan empisema dan bronkhietaksis. 4.4 Manifestasi klinis 1.Batuk berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan) 2.Sesak nafas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan 3.Sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu) 4.Bengek 5.Lelah 6.Pembengkakan pergelangan kaki, kaki dan tungkai kiri dan kanan 7.Wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan 8.Pipi tampak kemerahan 9.Sakit kepala 10.Gangguan penglihatan 11.Sedikit demam. 12.Dada merasa tidak nyaman. 4.5 Pemeriksaan Diagnostik 1. Pemeriksaan Penunjang a.Foto Thorax : Tidak tampak adanya kelainan atau hanya hyperemia. b.Laboratorium : Leukosit > 17.500.

33

2. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan: a.Tes fungsi paru-paru b.Gas darah arteri c. Rontgen dada. d. Pemeriksaan sputum selama 3x berturut-turut selama 3 hari pada pagi hari sesudah bangun tidur. 4.6 Penatalaksanaan Untuk terapi disesuaikan dengan penyebab, karena bronkitis biasanya disebabkan oleh virus maka belum ada obat kausal. Obat yang diberikan biasanya untuk mengatasi gejala simptomatis (antipiretika, ekspektoran, antitusif, roburantia). Bila ada unsur alergi maka bisa diberikan antihistamin. Bila terdapat bronkospasme berikan bronkodilator. Penatalaksanaannya adalah istirahat yang cukup, kurangi rokok (bila merokok), minum lebih banyak daripada biasanya, dan tingkatkan intake nutrisi yang adekuat. Bila pengobatan sudah dilakukan selama 2 minggu tetapi tidak ada perbaikan maka perlu dicurigai adanya infeksi bakteri sekunder dan antibiotik boleh diberikan. Pemberian antibiotik adalah 7-10 hari, jika tidak ada perbaikan maka perlu dilakukan thorak foto untuk menyingkirkan kemungkinan kolaps paru segmental dan lobaris, benda asing dalam saluran pernafasan dan tuberkulosis. Penatalaksanaan Keperawatan dan Medis
1. Penatalaksanaan

umum

pada

bronkhitis

kronik

bertujuan

untuk

memperbaiki kondisi tubuh penderita, mencegah perburuan penyakit, menghindari faktor resiko dan mengenali sifat penyakit secara lebih baik. Disamping itu tujuan utama pengobatan adalah untuk menjaga agar bronkiolus terbuka dan berfungsi, sehingga memudahkan pembuangan sekresi bronkhial, mencegah infeksi dan kecacatan. Perubahan pola sputum (sifat, warna, jumlah dan ketebalan) dan pola bentuk merupakan hal yang perlu diperhatikan.infeksi bakteri tambuh diobati dengan terapi antibiotika berdasarkan hasil pemeriksaan kultur dan sensitifitas.

34

2. Terapi bronkodilator berguna untuk menghilangkan bronkospasmo dan mengurangi obstruksi jalan nafas sehingga oksigen lebih banyak didistribusikan keseluruh bagian paru dan fentilasi alveolar diperbaiki.dreinasepostular dan perkusi dada setelah pengobatan biasanya sangat membantu terutama jika terdapat bronkiektasis.
3. Pemberian cairan peroral maupun parenteral jika terjadi bronkospasme

berat merupakan tindakan sangat penting. pemberian terapi cairan sangat menbantu dalam mengencerkan sekresi sehingga mudah dikeluarkan dengan membatukkan. pemberian kortikos teroit diberikan jika tidak ada tanda-tanda yang konserfatif. klien menunjukkan keberhasilan terhadap pengobatan harus berhenti merokok, karena rokok dapat

menyebabkan bronkokontriksi, melumpuhkan silia yang berperan dalam membuang partikel yang mengiritasi serta menginaktifkan surfaktan yang berfungsi untuk mengembangkan paru. perokok juga lebih rentang terhadap infeksi bronchial (manurung, 2008). 4.7 Komplikasi Komplikasi bronchitis dapat berupa terjadinya korpulmonale, gagal jantung kanan dan gagal pernapasan (manurung, 2008). Beberapa komplikasi yang ditemukan pada bronkhitis adalah: 1. Emfisema Emfisema adalah akibat dari pelebaran sebagian atau seluruh bagian dari asinus alveoli yang disertai dengan kerusakan dari sel pernapasan. 2. Kor pulmonale Kor pulmonale didefinisikan sebagai suatu disfungsi dari ventrikel kanan yang dihubungkan dengan kelainan fungsi paru atau struktur paru atau keduannya. 3. Polisitemia Adanya batuk,sputum,dan tanda-tanda hipoksemia pada blublotter.eksaserbasi akut disebabkan oleh infeksi.pada auskultasi terdapat ronki basah,baik pada ekspirasi maupun inspirasi.sesak nafas dan weizing atau mengi merupakan tanda utama dari bronkhitis. bila sudah

35

terdapat komplikasi kor pulmonale,maka proknosis dari penyakit ini sudah buruk (Rab,1996). 4.8 Prognosis a. Bronkitis akut biasanya sembuh total, dengan prognosis yang bagus.
b. Pasien dengan bronkitis kronik dan didiagnosa asma, penyakit struktur

saluran napas, atau imunodefisiensi perlu pengawasan secara teratur untuk meminimalkan kerusakan paru dan perkembangan menjadi penyakit paru kronik yang ireversibel.

36

4.9 Web Of Caution

BRONKITIS

Alergen Aktivasi IG.E pelepasan histamin Edema mukosa sel goblet memproduksi

Invasi kuman ke jalan napas Fenomena infeksi Iritasi mukosa bronkus Penyebaran bakteri/virus ke seluruh tubuh. Bakterimia/Viremia Hipertermia Demam Peningkatan laju metabolisme tubuh umum Malaise Intoleransi aktivitas

Bersihan jalan napas Batuk produktif Nyeri Ggg.rasa nyaman Tidak nafsu makan Ggg. Nutrisi kurang dr keb. tubuh

akumulasi sekret Penyempitan jalan napas Shortness of breath Penggunaan otot napas Ggg.pola napas

Ggg.keseim bangan cairan

Nyeri pd retros ternal

37

BAB V ASUHAN KEPERAWATAN 5.1 Pengkajian 1. Keluhan Utama Keluhan utama pada klien dengan bronkitis meliputi batuk kering dan produktif dengan sputum purulen, demam dengan suhu tubuh dapat mencapai >40C dan sesak nafas. 2. Riwayat penyakit masa lalu Pada pengkajian ini sering kali klien mengeluh pernah mengalami infeksi saluran nafas bagian atas dan adanya riwayat alergi pada pernafasan atas. Perawat harus memperhatikan dan mencatatnya baik-baik. 3. Riwayat Penyakit saat ini Riwayat penyakit saat ini pada klien dengan bronkitis bervariasi tingkat keparahan dan lamanya. Bermula dari gejala batuk-batuk saja, hingga penyakit akut dengan manifestasi klinis yang berat. Sebagai tanda terjadinya toksemia klien dengan bronkitis sering mengeluh malaise, demam, badan terasa lemah, banyak berkeringat, takikardia dan takipnea. Sebagai tanda terjadinya iritasi, keluhan yang didapatkan terdiri atas batuk, ekspektorasi dan rasa sakit dibawah sternum. Penting ditanyakan oleh perawat tentang obat-obatan yang telah atau biasa diminum oleh klien untuk mengurangi keluhannya dan mengkaji kembali apakah obat-obatan tersebut masih relevan untuk dipakai. 4. Pengkajian Psiko-Sosio-Spiritual Pada pengkajian klien dengan bronkitis didapatkan klien sering mengalami kecemasan sesuai dengan keluhan yang dialaminya dimana adanya keluhan batuk, sesak nafas, dan demam merupakan stresor untuk terjadinya cemas. Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang pengobatan yang diberikan. Pengobatan nonfarmakologi seperti olahraga secara teratur serta mencegah kontak dengan alergen dan iritan. 5. Pemeriksaan fisik a. Keadaan umum dan TTV

38

Hasil pemeriksaan TTV pada klien biasanya didapatkan adanya peningkatan suhu lebih dari 40C, frekuensi nafas meningkat, nadi meningkat. Biasanya tidak ada peninmgkatan tekanan darah. b. Pernafasan Klien biasanya mengalami peningkatan usaha dan frekuensi bernafas ditemukan penggunaan otot bantu pernafasan. Pada bronkitis kronis sering didapatkan bentuk dada barrel/tong. Gerakan masih simetris, didapatkan batuk produktif dengan sputum purulen berwarna kuning kehijauan sampai hitam kecoklatan karena bercampur darah. Taktil fremitus biasanya normal, didapatkan bunyi resonan pada lapang paru. Jika abses terisi penuh dengan cairan pus akibat drainase yang buruk, maka suara nafas melemah. Jika bronkus paten dan drainasenya baik ditambah dengan adanya konsolidasi disekitar abses maka akan terdengar suara nafas bronkial dan ronki basah. Gejala : Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari selama minimun 3 bulan berturut turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun, episode batuk hilang timbul. Tanda : Pernafasan biasa cepat, penggunaan otot bantu pernafasan, bentuk barel chest, gerakan diafragma minimal, bunyi nafas ronchi, perkusi hyperresonan pada area paru, warna pucat dengan cyanosis bibir dan dasar kuku, abu abu keseluruhan. c. Sirkulasi Sering didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum. Denyut nadi takikardi. Tekanan darah normal. Bunyi jantung tambahan biasanya tidak didapatkan. Batas jantung tidak mengalami pergeseran. Gejala : Pembengkakan pada ekstremitas bawah. Tanda : Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, Distensi vena leher, Edema dependent, Bunyi jantung redup, Warna kulit/membran mukosa normal/cyanosis, Pucat, dapat menunjukkan anemi. d. Neurosensori

39

Tingkat kesadaran klien biasanya compos mentis apabila tidak ada komplikasi penyakit serius. e. Eliminasi Pengukuran intake dan output, monitor adanya oligouria yang merupakan salah satu tanda awal syok. f. Makanan, cairan Gejala : Mual/muntah, nafsu makan buruk/anoreksia, ketidakmampuan untuk makan, penurunan berat badan, peningkatan berat badan. Tanda : Turgor kulit buruk, edema dependen, berkeringat, penurunan berat badan, palpitasi abdomen. g. Aktivitas/istirahat Gejala : Keletihan, kelelahan, malaise, Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari hari, Ketidakmampuan untuk tidur, Dispnea pada saat istirahat. Tanda : Keletihan, Gelisah, insomnia, Kelemahan umum/kehilangan massa otot. h. Integritas Ego Gejala
i.

Peningkatan

faktor

resiko,

Perubahan

pola

hidup

Tanda : Ansietas, ketakutan, peka rangsang. Hygiene Gejala j. : Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan Tanda : Kebersihan buruk, bau badan. Keamanan Gejala : Riwayat reaksi alergi terhadap zat/faktor lingkungan, adanya / berulangnya infeksi. k. l. Seksualitas Interaksi social Gejala : Penurunan libido Gejala : Hubungan ketergantungan, kegagalan dukungan/terhadap pasangan/orang dekat, penyakit lama/ketidakmampuan membaik. Tanda :Ketidakmampuan untuk mempertahankan suara karena distress pernafasan

40

Keterbatasan mobilitas fisik, kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain. 5.2 Diagnosa Keperawatan 1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan sekresi mukus yang kental, kelemahan, upaya batuk buruk, dan edema trakheal/faringeal. 2. Hipertermi yang berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme sekunder dari bakteremia/viremia. 3. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan sekunder terhadap demam. 4. Intoleransi akltivitas yang berhubungan dengan kelelahan dan kelemahan fisik umum. 5. Cemas yang berhubungan dengan kondisi sakit, prognosis penyakit yang berat. 6. Kurangnya pemenuhan informasi yang berhubungan dengan ketidakjelasan sumber informasi. 5.3 Intervensi Keperawatan Ketetidakefektifan bersihan jalan napas b.d dan sekresi mukus yang kental, kelemahan, upaya batuk buruk, dan edema trakheal/faringeal. Tujuan: dalam waktu 3 x 24 jam setelah diberikan intervensi bersihan jalan napas kembali efektif. Kriteria hasil: Klien mampu melakukan batuk efektif. Pernapsan klien normal (16-20 x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu napas. Bunyi napas normal. Pergerakan pernapasan normal. Intervensi Rasional Kai fungsi pernapasan (bunyi napas, Penurunan bunyi napas menunjukkan kecepatan, irama, kedalamn, dan atelektasis, ronkhi menunjukkan penggunaan otot bnatu napas). akumulasi seekret dan ketidakefektifan

41

pengeluaran sekresi yang selanjutnya dapat menimbulkan penggunaan otot bantu napas dan peningkatan kerja pernapasan. Kaji kemmpuan klien mengeluarkan Pengeluaran sulit biula sekret sangat sekresi. Lalu catat karakter dan volume kental (efek infeksi dan hidrasi yang sputum. tidak adekuat). Berikan posisi semi/fowler tinggi dan Posisi fowler memaksimalkan ekspansi bantu klien latihan napas dalam dan paru dan menurunkan upaya bernapas. batuk yang efektif. Ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret ke jalan napas besar untuk dikeluarkan. Pertahankan intake cairan sedikitnya Hidrasi yang 2500 ml/hari kecuali tidak mengencerkan mengefektifkan diindikasikan. adekuat sekret pembersihan dan membantu dan jalan aspirasi.

napas. Bersihan sekret dari mulut dan trachea, Mencegah

obstruksi

bila perlu lakukan pengisapan (suction). Pengisapan diperlukan bila klien tidak Kolaborasi pemberian oabt mampu mengeluarkan sekret. sesuai Pengobatan antibiotic yang bakteri sehingga Agen mukolitik. terhadap lebih jenis mudah ideal

indikasi obat antibiotik.

berdasarkan pada tes uji resistensi antibiotic mengobatu menurunkan

pneumonia. Agen mukolitik

kekentelan dan perlengketan sekret paru untuk memudahkan pembersihan. Bronkodilator; jenis aminophilin via Bronkodilator meningkatkan diameter intravena. lumen percabangan trakheobronkhial sehingga menurunkan tahanan terhadap Kortikosteroid. aliran udara. Kortikosteroid berguna pada

keterlibatan luas dengan hipoksemia dan bila reaksi inflamasi mengancam 42

kehidupan.

Hipertermi b.d. peningkatan laju metabolisme sekunder dari bakteremia/viremia. Tujuan: Suhu tubuh kembali ke batas normal. Kriteria hasil: Suhu tubuh dan tekanan darah dalam batas normal. Denyut nadi dan pernapasan dalam batas normal. Intervensi Rasional Monitor status suhu tubuh secara Mengidentifikasi periosik. Berikan kompres dingin di penyimpangan

kemajuan dari sasaran

atau yang

area kepala dan lipat ketiak. diharapkan. Berikan perawatan mulut tiap 4 jam Bau yang tidak menyenangkan dapat jika sputum berbau busuk. Pertahankan emmpengaruhi nafsu makan. kesegaran ruangan. Rujuk kepada ahli diet untuk membantu Ahli diet adalah spesialisasi dalam ilmu emmilih memenuhi demam. makanan kebutuhan yang gizi dapat gizi yang dapat membantu kalori dan klien dan berat selama memnuhi sakitnya, Dukung klien untuk kebutuhan usia, tinggi,

kebutuhan gizi sesuai dengan keadaan badannya. mengonsumsi Peningkatan suhu tubuh meningkatkan metabolisme, intake protein, vitamin, mineral, kalori yang adekuat penting untuk aktivitas anabolik dan sintesis

makanan tinggi kalori tinggi protein.

antibody. Berikan makanan dengan porsi sedikit Makanan ada sesak napas berat.

porsi

sedikit

api

serng

tapi sering dan mudah dikunyah jika memerlukan lebih sedikit energi.

Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d. peningkatan metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan sekunder terhadap demam. Batasan karakteristik: mengatakan anoreksia, makan kurang 40% dari yang seharusnya, penurunan BB dan mengeluh lemah. Kriteria hasil:

43

Klien mendemonstrasikan intake makanan yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan dan metabolisme tubuh. Intake makanan meningkat, tidak ada penurunan Bb lebih lanjut, menyatakan perasaan sejahtera. Intervensi Rasional Pantau: presentase jumlah makanan Mengidentifikasi yang dikonsumsi setiap kali makan, penyimpangan timbang Bb tiap hari, hasil pemeriksaan diharapkan. protein total, albumin, dan osmolalitas. Berikan perawatan mulut tiap 4 jam Bau yang tidak menyenangkan dapat jika sputum berbau busuk. Pertahankan emmpengaruhi nafsu makan. kesegaran ruangan. Rujuk kepada ahli diet untuk emmbantu Ahli diet adalah spesialisasi dalam ilmu memilih panas. makanan yang dapat gizi yang dapat membantu kalori dan klien dan berat memenuhi kebutuhan gizi selama sakit memnuhi sakitnya, Dukung klien untuk kebutuhan usia, tinggi, dari

kemajuanatau sasaran yang

kebutuhan gizi sesuai dengan keadaan badannya. mengonsumsi Peningkatan suhu tubuh meningkatkan metabolisme, intake protein, vitamin, mineral, dan kalori yang adekuat penting untuk aktivitas anabolik dan

makanan tinggi kalori tinggi protein.

sintesis antibodi. Berikan makanan dengan porsi sedikit Mekanan porsi sedikit tapi sering tapi sering dan mudah dikunyah jika memerlukan lebih sedikit energi. ada sesak napas berat. Intoleransi akltivitas b.d. kelelahan dan kelemahan fisik umum. Batasan karakteristik: menyatakan sesak napas dan lelah dengan aktivitas normal, diafrosis, takipnea, dan takikardi pada aktivitas minimal. Kriteria hasil: Klien mendemonstrasikan peningkatan toleransi terhadap aktivitas. Klien dapat melakukan aktivitas, dapat berjalan lebih jauh tanpa mengalami napas tesengal-sengal, sesak napas, dan kelelahan. Intervensi Rasional

44

Monitor frekuensi nadi dan napas Mengidentifikasi sebelum dan sesudah aktivitas. penyimpangan

kemajuan dari sasaran

atau yang

diharapkan. Tuda aktivitas jika frekuensi nadi dan Gejala-gejala tersebut merupakan tanda napas meningkat secara cepat dan klien adanya intoleransi aktivitas. Konsumsi mengeluh sesak napas dan kelelahan, oksigen untuk meningkatkan toleransi. Bnatu klien dalam meningkat jika aktivitas tingkatkan aktivitas secara bertahap meningkat dan daya tahan tubuh klien dapat bertahan lebih lama jika ada waktu istirahat di antara aktivitas. melaksanakan Membantu menurunkan kebutuhan yang meningkat akibat

aktivitas sesuai dengan kebutuhannya. oksigen diganggu berbagai aktivitas. Pertahankan terapi oksigen aktivitas dan lakukan

Beri klien waktu beristirahat tanpa peningkatan aktivitas. selama Aktivitas fisik meningkatkan kebutuhan tindakan oksigen dan sistem tubuh akan berusaha

pencegahan terhadap komplikasi akibat menyesuaikannya. Keseluruhan sistem imbobilisasi jika klien dianjurkan tirah berlangsung dalam tempo lebih lambat baring lama. saat tidak ada aktivitas fisik (tirah baring). Tindakan perawatan spesifik dapat meminimalkan komplikasi imobilisasi. Konsultasikan dengan dokter jika sesak Hal tersebut dapat merupakan tanda napas tetap ada atau bertambah berat awal dari komplikasi khususnya gagal saat bertmabah. napas.

Kecemasan b.d. prognosis penyakit, misinterpretasi informasi Tujuan: Dalam waktu 1 x 24 jam pasien secara subjektif melaporkan rasa cemas berkurang. Kriteria hasil: Psien mampu mengungkapkan perasaanya kepada perawat. Pasien dapat mendemostrasikan keterampilan pemecahan masalahnya dan perubahan koping yang digunakan sesuai situasi yang dihadapi. Pasien dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakuatan di bawah standar. Pasien dapat tidur dan rileks/ istirahat dengan baik.

45

Intervensi Monitor respons kelemahan, kesesuaian

fisik, tanda verbal

Rasional seperti Digunakan dalam vital, derajat/tingkat ketika

mengevaluasi melakukan

perubahan respons

kesadaran/konsentrasi,

gerakan yang berulang-ulang, catat khususnya nonverbal selama komunikasi. Anjurkan apsien dan keluarga untuk Memberikan mengungkapkan dan mengekspresikan berkonsentrasi, rasa takutnya. Kolaborasi: beri anticemas berlebihan. sesuai Meningkatkan

dan komunikasi verbal. kesempatan kejelasan dari untuk rasa

takut, dan mengurangi cemas yang relaksasi dan

indikasi contohnya diazepam. menurunkan kecemasan. Catat reaksi dari pasien/keluarga. Anggota keluarga dengan responnya Berikan kesempatan untuk pada apa yang dapat terjadi dan mendiskuksikan masa depan. Kurangnya pemenuhan informasi yang berhubungan dengan ketidakjelasan sumber informasi. Tujuan : Klien mampu untuk mengetahui tentang pengertian / informasi PPOM. Kriteria hasil: Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan tindakan. Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala yang ada dari proses penyakit dan menghubungkan dengan faktor penyebab Intervensi Rasional Jelaskan / kuatkan penjelasan proses Menurunkan penyakit individu. menimbulkan kecemasannya disampaikan

perasaan/konsentrasinya dan harapan kepada perawat.

ansietas perbaikan

dan

dapat

partisipasi

pada rencana pengobatan Instruksikan / kuatkan rasional untuk Nafas bibir + nafas abdominal / latihan nafas, batuk efektif dan latihan diafragmatik kondisi umum. kolaps jalan menguatkan nafas individu kecil arti otot dan untuk pernafasan, membantu meminimalkan memberikan

mengontrol dispnea. Latihan kondisi

46

umum meningkatkan toleransi aktivitas, Diskusikan obat pernafasan, kekuatan otot dan rasa sehat. efek Pasien ini sering mendapat pernafasan banyak sekaligus obat yang

samping + reaksi yang tak diinginkan.

mempunyai efek samping hampir sama + potensial interaksi obat, penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping mengganggu dan efek samping merugikan. Tekankan pentingnya perawatan oral / Menurunkan pertumbuhan bakteri pada kebersihan gigi. Diskusikan meningkatkan terlalu kering, faktor individu mis: mulut, dimana dapat menimbulkan infeksi saluran nafas atas. yang Faktor lingkungan ini udara menimbulkan iritasi peningkatan dapat bronkial produksi

kondisi angin,

lingkungan menimbulkan

dengan suhu ekstrem, serbuk, asap sekret dan hambatan jalan nafas tembakau, sprei aerosol, polusi udara. Diskusikan pentingnya mengikuti Pengawasan proses penyakit untuk perawatan medik, foto dada periodik membuat dan kultur sputum program terapi untuk memenuhi perubahan kebutuhan dan dapat membantu mencegah komplikas

47

BAB IV PENUTUP 6.1 Kesimpulan


1. Penyakit paru obstruktif kronik ialah penyakit saluran napas yang

bersifat ireversibel dan progresif sedangkan bronchitis adalah peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-paru). 2. Prognosis Bronkitis akut biasanya sembuh total, dengan prognosis yang bagus sedangkan Pasien dengan bronkitis kronik dan didiagnosa asma, penyakit struktur saluran secara napas, teratur atau untuk imunodefisiensi perlu pengawasan

meminimalkan kerusakan paru dan perkembangan menjadi penyakit paru kronik yang ireversibel.
3. Prognosis pada PPOK sesuai dengan Indikator : umur dan

keparahan. Jika ada hipoksia dan cor pulmonale prognosis jelak Dyspnea, obstruksi berat saluran nafas, FEV1 < 0,75 L (20 %) -. angka kematian meningkat, 50 % pasien berisiko meninggal dalam waktu 5 tahun
6.2 Saran

Penulis menyarankan agar pembaca mampu memahami tentang bronchitis dan PPOK agar mampu mengatasi atau mencegah penyebab terjadinya sehingga mengurangi resiko kematian atau prognosis buruk penyakit.

48

DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta: EGC Davey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta : Erlangga Francis, caia.2011.Respiratory Care.Jakarta:Penerbit Erlangga Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika Price, Sylvia A, Lorraine M. Wilson. 1995. Patofisiologi, Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Jakarta : EGC http://bronkitis-bronkiolitis.blogspot.com diakses pada tanggal 19 Oktober 2012 pukul 14.28 WIB http://www.scribd.com/doc/84450762/6/MANIFESTASI-KLINIS-PPOK diakses pada tanggal 19 Oktober 15.31 WIB

49